Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA BERMAIN

Mewarnai
Rumah Sakit Umum Mitra Delima

Oleh
Kelompok 18

1. Susanti (1830052)
2. Fitria (1830020)
3. Nuanzha Wulan (1830038)
4. Vira Ambarwati (183002004)
5. Periyanto (1830046)

PROGAM STUDI S1 KEPERAWATAN NERS


STIKes KEPANJEN
TA 2018/2019
SATUAN ACARA BERMAIN
Pokok Bahasan : Terapi Bermain
Sub pokok bahasa : Mewarnai
Sasaran : Anak usia pra-sekolah (3-5 Tahun)
Pelaksana : Mahasiswa Profesi Ners STIKES KEPANJEN
Waktu Pelaksanaan : Sabtu, 03 Februari 2019
Tempat : Poli Anak Rumah Sakit Umum Mitra Delima

A. LATAR BELAKANG
Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan di Rumah Sakit dan dapat
menimbulkan trauma dan stres pada klien yang baru mengalami rawat inap di Rumah
Sakit. Hospitalisasi adalah suatu proses oleh karena suatu alasan yang berencana atau
darurat mengharuskan anak untuk tinggal di Rumah Sakit menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Jovan, 2011). Sumaryoko (2008) ,
menyatakan prevalansi kesakitan anak di Indonesia diirawat di Rumah Sakit cukup tinggi
yaitu sekitar 35 per 100 anak, yang ditunjukan dengan selalu penuhnya ruangan anak
baik di Rumah Sakit pemerintah ataupun Rumah Sakit swasta rata-rata anak mendapat
perawatan selama enam hari. Selama membutuhkan perawatan yang spesial disbanding
pasien lain. Waktu yang dibutuhkan untuk merawat anak-anak 20-45% lebih banyak
daripada waktu untuk merawat orang dewasa (Mc Cherty dan Murniasih, 2010).
Wright (2008) dalam penelitiannya tentang efek hospitalisasi pada perilaku anak
menyebutkan bahwa reaksi anak pada hospitalisasi secara garis besar adalah sedih, takut
dan rasa bersalah karena menghadapi suatu yang belum pernah dialami sebelumnya, rasa
tidak aman, rasa tidak nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang bisa dialami dan
sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Anak usia prasekolah memandang hospitalisasi
sebagai sebuah pengalaman yang menakutkan. Ketika anak menjalani perawatan di
Rumah Sakit, biasanya ia akan dilarang untuk banyak bergerak dan harus banyak
beristirahat. Hal tersebut akan mengecewakan anak sehingga dapat meningkatkan
kecemasan pada anak (Samiasih, 2011).
Reaksi anak usia prasekolah yang menjalani stres akibat hospitalisasi disebabkan
karena mereka belum beradaptasi dengan lingkungan di Rumah Sakit, masih merasa
asing sehingga anak tidak dapat mengontrol emosi dan mengalami stres, reaksinya
berupa menolak makan, sering bertanya, menangis, dan tidak kooperatif dengan petugas
kesehatan. Banyak metode menurunkan stres hospitalisasi pada anak. Perawat harus peka
terhadap kebutuhan dan reaksi klien untuk menentukan metode yang tepat dalam
melaksanakan intervensi keperawatan dalam menurunkan tingkat kecemasan (Kozier,
2010). Respon secara umun yang terjadi pada anak yang dirawat inap antara lain
mengalami regresi, kecemasan perpisahan, apatis, ketakutan, dan gangguan tidur,
terutama terjadi pada anak dibawah usia 7 tahun (Hockkenberry dan Wilson, 2010).
Kecemasan merupakan perasaan yang paling umum dialami oleh pasien anak yang
mengalami hospitalisasi. Kecemasan yang sering dialami seperti menangis, dan takut
pada orang baru. Banyaknya stresor yang dialami anak ketika menjalani hospitalisasi
menimbulkan dampak negatif yang menggangu perkembangan anak. Lingkungan Rumah
Sakit dapat merupakan penyebab stres dan kecemasan pada anak (Utami, 2014).
Kecemasan hospitalisasi pada anak dapat membuat anak menjadi susah makan, tidak
tenang, takut, gelisah, cemas, tidak mau bekerja sama dalam tindakan medikasi sehingga
menggangu proses penyembuhan anak (Stuart,2007).
Salah satu cara independent untuk menurunkan stres akibat hospitalisasi pada anak
usia prasekolah adalah terapi bermain. Terapi bermain adalah suatu aktivitas bermain
yang dijadikan sarana untuk menstimulasi perkembangan anak, mendukung proses
penyembuhan dan membantu anak lebih kooperatif dalam program pengobatan serta
perawatan. Bermain dapat dilakukan oleh anak sehat maupun sakit. Walaupun anak
sedang dalam keadaan sakit tetapi kebutuhan akan bermainnya tetap ada. Melalui
kegiatan bermain, anak dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya dan
relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan (Evism, 2012).
Bermain dapat dilakukan oleh anak yang sehat maupun sakit. Walaupun anak sedang
mengalami sakit, tetapi kebutuhan akan bermain tetap ada (Katinawati, 2011). Bermain
merupakan salah satu alat komunikasi yang natural bagi anak-anak. Bermain merupakan
dasar pendidikan dan aplikasi terapeutik yang membutuhkan pengembangan pada
pendidikan anak usia dini (Suryanti, 2011). Bermain dapat digunakan sebagai media
psiko terapi atau pengobatan terhadap anak yang dikenal dengan sebutan terapi bermain
(Tedjasaputra, 2007).
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak secara
optimal. Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap
dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengn kondisi anak. Pada saat dirawat rumah
sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti
marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari
hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada
dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukkan permainan anak akan terlepas
dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukkan permainan anak
akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah sakit pada
prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan secara
optimal, mengembangkan kretifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan anak seperti
kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit
atau anak di rumah sakit (Wong, 2012).

Mewarnai dapat menjadi salah satu media bagi perawat untuk mampu mengenali
tingkat perkembangan anak. Dinamika secara psikologis mnggambarkan bahwa selama
anak bermain dengan sesuatu yang diwarnai sesuai dengan imajinasi anak, akan
membantu anak untuk menggunakan tangannya secara aktif sehingga merangsang
motorik halusnya. Oleh karena sangat pentingnya kegiatan bermain terhadap tumbuh
kembang anak dan untuk mengurangi kecemasan akibat hospitalisasi, maka akan
dilaksanakan terapi bermain pada anak usia toddler dengan cara membuat kreasi dengan
mewarnai gambar.

B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan terapi bermain selama kurang lebih 30 menit diharapkan anak
dapat terstimulasi kemampuan motorik dan kreativitasnya.
2. Tujuan Instruksional Khusus
a. Anak dapat melakukan interaksi dan bersosialisasi dengan dengan teman
sesamanya
b. Menurunkan perasaan hospitalisasi.
c. Dapat beradaptasi dengan efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat
d. Meningkatkan latihan konsentrasi
e. Mengurangi rasa takut dengan tenaga kesehatan.
f. Melanjutkan perkembangan ketrampilan motorik halus.

C. SASARAN
Yang menjadi sasaran dalam terapi bermain adalah anak yang sedang menjalani
perawatan di Poli Anak Rumah Sakit Umum Mitra Delima usia prasekolah (3-6 tahun).
D. SARANA DAN MEDIA
1. Sarana:
a. Ruangan tempat bermain.
b. Lantai untuk anak dan orang tua.
2. Media:
a. Crayon
b. Kertas
c. Jam / pengukur waktu
E. MATERI
Terlampir
F. SUSUNAN ACARA

Waktu Kegiatan perawat Kegiatan peserta


a. Mengucapkan salam a. Membalas salam
b. Memperkenalkan diri b. Mendengarkan penjelasan
5 Menit
c. Menjelaskan tujuan dan peraturan c. Mendengarkan penjelasan
Pembukaan d. Mendengarkan penjelasan
kegiatan
(perkenalan) d. Menjelaskan media yang akan
dijadikan media permainan
a. Mengumpulkan klien yang telah a. Ikut berkumpul
b. Memperkenalkan diri dan
diseleksi
b. Meminta kepada setiap anak untuk bersalaman dengan peserta
menyebutkan namanya masing- yang lainnya
c. Mendengarkan penjelasan
masing dan bersalaman dengan
d. Mulai bersiap-siap untuk
20 Menit semua peserta yang lain
memulai mewarnai gambar
Permainan c. Menjelaskan kembali tentang
permainan beserta alat-alatnya
d. Meminta anak-anak untuk bersiap-
siap memulai mengambil kertas
bergambar dan mewarnai dengan
kreasi masing-masing
5 Menit a. Memberikan kesimpulan permainan a. Mendengarkan
b. Mengucapkan salam penutup b. Menjawab salam penutup
Penutup
(Terminasi )

G. SKEMA TERAPI BERMAIN


1. Deskripsi tugas Terapis
Leader
a. Memimpin jalannya acara bermain
b. Membuka perkenalan
c. Membuat dan mengatur setting tempat dan waktu
d. Menutup kegiatan bermain
Fasilitator
a. Mendampingi / membantu peserta dalam bermain
Observer
a. Mengobservasi jalannya acara permainan
b. Memberikan sekilas penilaian
c. Memberikan kritik dan saran setelah acara selesai
d. Mengevaluasi dan memberikan feedback pada leader
2. Setting Tempat

Keterangan :
: Mahasiswa
: Pasien

H. EVALUASI
Yang dievaluasi dalam kegiatan ini adalah
Persiapan
a. Kesiapan alat-alat permainan dan ruangan untuk bermain
b. Kesiapan peserta dalam mengikuti permainan
c. Ketepatan waktu
Proses.
a. Kemampuan leader memimpin permainan
b. Kemampuan fasilitator dalam memfasilitasi anak
c. Respon anak selama bermain (kontak mata, kehadiran penuh, antusiasme anak selama
bermain
Hasil
a. Kesan –kesan anak setelah melakukan terapi bermain
Lampiran Materi

TERAPI BERMAIN PADA ANAK YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT

1. Pengertian
Bermain merupakan cara ilmiah bagi seorang anak untuk mengungkapkan konflik
yang ada dalam dirinya yang awalnya anak belum sadar bahwa dirinya sedang
mengalami konfik.
Menurut Foster dan Pearden bermain didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang
dilakukan oleh seorang anak secara sungguh- sungguh sesuai dengan keinginannya
sendiri / tanpa paksaan dari orang tua maupun lingkungan dimana dimaksudkan semata
hanya untuk memperoleh kesenangan dan kepuasan.
Dengan bermain seorang anak dapat mengekspresikan pikiran, perasaan, fantasi, serta
daya kreasi dengan tetap mengembangkan kreatifitasnya dan beradaptasi lebih efektif
terhadap berbagai sumber stress. Bermain dapat membuat anak mengungkapkan isi hati
melalui kata- kata , anak belajar dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
objek bermain, waktu, ruang dan orang.
2. Variasi dan Keseimbangan Dalam Aktivitas Bermain
Variasi dan keseimbangan dalam aktivitas bermain (Sujono Riyadi dan Sukarmin,
2009), antara lain :
a. Bermain aktif
Adalah kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri, seperti:
1) Bermain mengamati/ menyelidiki (exploratory play)
Perhatian anak pada aat bermain aalah memeriksa alat permainan tersebut. Anak
memperhatikan alat permainan, mengocok- ngocok apakah ada bunyinya, mencium,
meraba, menekan dan kadang berusaha untuk membongkar.
2) Bermain konstruksi (Constuction play)
Pada anak umur 3 tahun misalnya dengan menyusun balok- balok menjadi rumah-
rumahan, dll.
3) Bermain drama (dramatic play)
Misalnya bermain sandiwara boneka,main rumah- rumahan
4) Bermain bola, tali dan sebagainya.

b. Bermain pasif
Dalam hal ini anak berperan pasif, seperti dengan melihat atau mendengar. Bermain
pasif ini adalah ideal, apabila anak sudah lelah bermain aktif dan membutuhkan
sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh:
1) Melihat gambar- gambar dibuku/ majalah
2) Mendengarkan cerita atau musik
3) Menonton tv,dll
3. Fungsi Bermain Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Fungsi bermain terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak , (Alice Zellawati, 2011)
antara lain :
a. Perkembangan sensori motorik
Permainan akan membantu perkembangan gerak halus dan pergerakkan kasar anak
dengan cara memainkan suatu objek yang sekiranya anak merasa senang.
b. Perkembangan kognitif
Membantu anak untuk mengenal benda- benda yang ada disekitarnya. Misalnya
mengenalkan anak dengan warna dan bentuk.
c. Kreatifitas
Mengembangkan kreatifitas pada anak bisa dengan cara memberikan balok- balok
yang banyak kemudian biarkan anak untuk menyusunnya menajdi bentuk- bentuk
yang dia inginkan, kemudian tanyakan bentuk apa yang sudah dia buat.
d. Perkembangan sosial
Dapat dilakukan dengan mengajari anak berinteraksi dengan orang lain ataupun teman
sebayanya.
e. Kesadaran diri (self awareness)
Dengan bermain anak sadar akan kemampuannya sendiri, kelemahannya dan tingkah
laku terhadap orang lain
f. Perkembangan moral
Dapat dipeoleh dari orang tua,orag lain yang ada disekitar anak.
g. Komunikasi
Bermain merupakan alat komunikasi terutama pada anak yang masih belum dapat
menyatakan perasaannya secara verbal.
4. Faktor yang mempengaruhi pola bermain pada anak
Faktor yang mempengaruhi pola bermain pada anak (Sujono Riyadi dan Sukarmin,
2009), antara lain :
a. Tahap perkembangan. Setiap perkembangan mempunyai potensi/keterbatasan dalam
permainan. Anak umur 3 tahun alat permainannya berbeda dengan anak yang berumur
5 tahun.
b. Status kesehatan. Pada anak yang sedang sakit kemampuan psikomotor/kognitif
terganggu. Sehingga ada saat-saat anak sangat ambisius pada permaiannya dan ada
saat-saat dimana anak sama sekali tidak punya keinginan untuk bermain.
c. Jenis kelamin. Pada saat usia sekolah biasanya anak laki-laki enggan bermain dengan
anak perempuan, mereka sudah bisa membentuk komunitas tersendiri, dimana anak
wanita bermain sesama wanita dan anak laki-laki bermain sesama laki-laki. Tipe dan
alat permainanpun akan berbeda, misalnya anak laki-laki suka main bola, pada anak
perempuan suka main boneka.
d. Lingkungan. Lokasi dimana anak berbeda sangat mempengaruhi pola permainan
anak. Dikota-kota besar anak jarang sekali yang bermain layang-layangan, paling-
paling mereka bermain game karena memang tidak ada/jarang ada tanah
lapang/lapangan untuk bermain, berbeda dengan didesa yang masih banyak terdapat
tanah-tanah kosong.
e. Alat permainan yang cocok. Disesuaikan dengan tahap perkembangannya sehingga
anak menjadi senang untuk menggunakannya.
5. Karakteristik dan Klasifikasi Bermain
Karakteristik dan klasifikasi bermain (Sujono Riyadi dan Sukarmin, 2009), antara lain :
a. Solitary play
Bermain sendiri, walaupun disekitarnya ada orang lain. Contoh: pada bayi dan todler,
anak akan asik dengan mainannya sendiri tanpa menghirauka oran lain.
b. Paralel play
Bermain sejenis, anak bermain dengan kelompoknya, pada masing- masing anak
mempunyai mainan yang sama tetapi tidak ada interaksi diantara mereka, mereka
tidak ketergantungan satu sama lain.
c. Associative play
Bermain dalam kelompok, dalam suatu aktivitas yang sama tetapi masih belum
terorganisir, tidak ada pembagian tugas, mereka bermain sesuai degan keinginannya.
d. Cooperative play
Anak bermain secara bersama- sama, permainan sudah terorganisir dan terencana,
didalamnya sudah ada aturan main.

e. Social afective play


Anak mulai belajar memberikan respon melaui orang dewasa dengan cara merajuk/
berbicara sehingga anak menjadi senang dan tertawa.
f. Sense of peasure play
Anak mendapat kesenanga dari suatu objek disekelilingnya.
g. Skill play
Memperoleh ketrampilan sehingga anak akan melaksanakannya secara berulang-
ulang.
h. Dramatic play
Melakukan peran sesuai dengan keinginannya atau dengan apa yang dia lihat atau
dengar, sehingga anak akan membuat fantasi dari permainan itu.
6. Tahap Kerja Terapi Bermain Anak Usia 3-5 Tahun
Tahap Kerja Terapi Bermain Anak Usia 3-5 Tahun (Sujono Riyadi dan Sukarmin, 2009),
antara lain :
a) Stimulasi Sosial
Anak bermain bersama teman-temannya, tetapi tidak ada tujuan. Contoh: bermain
pasir bersama-sama.
b) Stimulasi Keterampilan
Mengetahui kemampuan keterampilan yang ada pada anak sehingga dapat
mengetahui bakat anak. Contoh: Menggambar, bernyanyi, menari.
c) Stimulasi Kerjasama
Anak mampu bekerjasama dalam permainan. Contoh: anak-anak bermain menyusun
puzzle, bermain bola.
7. Bermain Untuk Anak Yang Dirawat Dirumah Sakit

Lingkungan rumah sakit sendiri merupakan penyebab stress bagi anak dan orang
tuanya, baik lingkungan fisik rumah sakit ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan
itu sendiri.
Untuk itu, anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan perasaan tersebut
dan mampu bekerja sama dengan petugas kesehatan selama dalam perawatan. Media
yang paling efektif adalah melalui kegiatan permainan. Aktivitas bermain yang dilakukan
perawat pada anak di rumah sakit akan memberikan keuntungan sebagai berikut :
1) Meningkatkan hubungan antara klien ( anak keluaarga ) dan perawat karena bermain
merupakan alat komunikasi yang elektif antara perawat dan klien.
2) Perawatan dirumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas
bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak.
3) Permainan pada anak dirumah sakit tidak hanya akan memberikan rasa senang pada
anak, tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas,
takut, sedih, tegang, dan nyeri.
4) Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk
mempunyai tingkah laku yang positif.
5) Permainan yang memberikan kesempatan pada beberapa anak untuk berkompetisi
secara sehat, akan dapat menurunkan ketegangan pada anak dan keluarganya.
Prinsip – prinsip permainan pada anak di rumah sakit :
1) Permainan Tidak boleh bertentangan dengan terapi dan perawatan yang sedang
dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang
dapat dilakukan ditempat tidur.
2) Tidak membutuhkan energy yang banyak, singkat dan sederhana. Pilih jenis
permainan yang tidak melelahkan anak (misalnya, menggambar / mewarnai, dan
membaca buku cerita).
3) Harus mempertimbangkan keamanan anak. Pilih alat permainan yang aman untuk
anak, tidak tajam, tidak merangsang anak untuk berlari – lari dan bergerak secara
berlebihan.
4) Dilakukan pada kelompok umur yang sama. Misalnya, permainan mewarnai pada
kelompok usia prasekolah.
5) Melibatkan orang tua dan kelarga. Perawat hanya bertindak sebagai fasilitator
sehingga apabila permainan diinisiasi oleh perawat, orang tua harus terlibat secara
aktif dan mendampingi anak dari awal permainan sampai mengevaluasi permainan
anak bersama dengan perawat dan orang tua anak lainnya.

Lampiran Mewarnai
(mewarnai bebek)
(mewarnai kelinci)
DAFTAR PUSTAKA

Wong, Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Wong’s Essentials of Pediatric
Nursing). Terjemahan oleh Andry Hartono. Jakarta: EGC.

Whaley dan Wong. 2004. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Supartini, Y. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak, Cetakan 1, Jakarta : EGC.

Foster and Humsberger, 1998, Family Centered Nursing Care of Children. WB sauders
Company, Philadelpia USA.