Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga kami diberikan kesempatan untuk
menyelesaikan makalah ini.Makalah ini disusun sebagai tugas kuliah dan usaha kami dalam
meningkatkan wawasan tentang GERONTIK.
Kami berharap makalah ini dapat digunakan sebaik- baiknya. Setiap pembahasannya
kami uraikan dengan rinci agar mudah dalam memahaminya. Kami berusaha agar makalah ini
dapat dipahami bersama. Semoga melalui makalah ini kita dapat memperluas wawasan kita .
Kami sadari bahwa makalah ini banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.
Walaupun kami telah berusaha dengan maksimal dan mencurahkan segala pikiran, kemampuan
yang kami miliki. Makalah kami masih banyak kekurangan baik dari segi bahasa, pengolahan,
maupun dalam penyusunannya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi tercapainya kesempurnaan.
Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa bantuan teman-teman Kelompok, semoga
makalah sederhana ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………..
Daftar Isi……………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………
A. Latar Belakang……………………………………………………………..
BAB II…………………………………………………………………………..
2.1 Pengertian…………………………………………………………………..
2.2 Penyebab……………………………………………………………………
2.3 Gejala………………………………………………………………………..
2.4 Epidemiologi………………………………………………………………..
2.5 Anatomi Fisiologi……………………………………………………………
2.6 Patofisiologi…………………………………………………………………
2.7 Pathway …………………………………………………………..................
2.8 Pemeriksaan…………………………………………………………………
2.9 Pengobatan………………………………………………………………….
2.10 Alat Bantu Dengar ………………………………………………………..
2.11 Pencangkokan Koklea…………………………………………………….
2.12 Penatalaksanaan………………………………………………………….

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN………………………………………


3.1 Pengkajian Keperawatan……………………………………………………
3.2. Diagnosa Keperawatan…………………………………………………….
3.3. Intervensi Keperawatan…………………………………………………….
BAB IV PENUTUP……………………………………………………………
4.1.Kesimpulan………………………………………………………………….
4.2 Saran…………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti organ-organ yang lain, telinga pun mengalami kemunduran pada usia lanjut.
Kemunduran ini dirasakan sebagai kurangnya pendengaran, dari derajat yang ringan sampai
dengan yang berat. Bila kekurang pendengaran ini berat, akan menimbulkan banyak masalah
bagi penderita dengan orang-orang sekitarnya. Misalnya salah faham dalam komunikasi.
Penderita sering membantah karena mengira orang lain-lain marah-marah kepadanya, tak perduli
kepadanya, atau malah mentertawakannya, mengejeknya atau lain-lain lagi. Dalam perjalanan
mencapai usia lanjut, alat pendengaran dapat mengalami berbagai gangguan, salah satunya
presbikusis.
Presbiskusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut akibat prose degenerasi organ
pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara progresif lambat, dapat
dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang mendasari selain proses
menua secara umum.
Beberapa dari tanda dan gejala yang paling umum dari penurunan pendengaran yaitu
Kesulitan mengerti pembicaraan, Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan
nada tinggi, Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau atau bergumam,
Masalah pendengaran pada kumpulan yang besar, terutama dengan latar belakang yang bising,
Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan, Perubahan kemampuan mendengar
konsonan seperti s, z, t, f dan g, Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u
umumnya relatif diterima dengan lengkap.
Berdasarkan besarnya angka insiden terjadinya presbiakusis dan resiko insiden yang
dapat terjadi, maka pemakalah tertarik membahas masalah Asuhan keperawatan pada klien
dengan presbiakusis.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Berkurangnya Pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu


ataupun kedua telinga. Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat berat. Presbikusis
merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian koklea(striae
vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini
juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor eksternal, seperti
pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik. Presbikusis terbagi
dua menjadi prebiskus perifer dan prebiskus sentral. Presbikusis perifer, di mana para lansia
hanya mampu untuk mengidentifikasi kata. Alat Bantu dengar masih cukup bermanfaat, tetapi
harus diperhatikan untuk menghindari berteriak/berbicara terlalu keras karena dapat membuat
ketidaknyamanan di telinga. Presbikusis sentral, di mana lansia mengalami gangguan untuk
mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat alat bantu dengar sangat kurang.
Oleh karena itu, percakapan dengan para lansia harus sedikit lebih lambat tanpa mengabaikan
irama dan intonasi. Presbikusis ditambah dengan situasi ketika percakapan yang berlangsung
kurang mendukung dapat menyebabkan lansia mengalami gangguan komunikasi. Gangguan
komunikasi ini dapat terjadi akibat : pertama pembicaraan mengalami gangguan karena suara
music, radio, televise, maupun pembicaraan lainnya. Kedua: sumber suara mengalami distorsi
yang berasal dari pengeras suara yang tidak sempurna seperti di terminal, masjid, telepon,
maupun bila diucapkan oleh anak-anak atau pembicara terlalu cepat. Ketiga: kondisi akustik
ruangan yang tidak sempurna seperti didapur, ruang makanrestoran, serta ruang pertemuan yang
mudah memantulkan suara.

2.2 Penyebab

Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh: Suatu masalah mekanis di dalam
saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan

4
fungsi pendengaran konduktif). Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf
pendengaran di otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural). Penurunan fungsi
pendengaran sensorineural dikelompokkan lagi menjadi: Penurunan fungsi pendengaran sensorik
(jika kelainannya terletak pada telinga dalam) Penurunan fungsi pendengaran neural (jika
kelainannya terletak pada saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak).
Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan penyakit keturunan, tetapi mungkin juga
disebabkan oleh:
 Trauma akustik (suara yang sangat keras)
 Infeksi virus pada telinga dalam
 Obat-obatan tertentu
 Penyakit Meniere.
Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh:
 Tumor otak yang juga menyebabkan sekitarnya dan batang otakkerusakan pada saraf-
saraf di
 Infeksi
 Berbagai penyakit otak dan saraf keturunan (misalnya penyakit Refsum). (misalnya
stroke) - Beberapa penyakit

2.3 Gejala

Penderita penurunan fungsi pendengaran bisa mengalami beberapa atau seluruh gejala berikut:
o kesulitan dalam mendengarkan percakapan, terutama jika di sekelilingnya berisik
terdengar gemuruh atau suara berdenging di telinga (tinnitus)
o Tidak dapat mendengarkan suara televisi atau radio dengan volume yang normal
o Kelelahan dan iritasi karena penderita berusaha keras untuk bisa mendengar
o pusing atau gangguan keseimbangan.

5
2.4 Epidemiologi

Gangguan pendengaran adalah kondisi kronis yang paling umum ketiga di negara
Amerika Serikat dan merupakan nomor satu dalam gangguan komunikasi dari usia antara 25-
40% dari penduduk berusia 65 tahun atau lebih tua, dan tuna rungu (19,20). Prevalensi presbikus
meningkat seiring bertambahnya usia, mulai dari 40% sampai 60% pada lansia berusia 75 tahun
dan lebih dari 80% pada pasien berusia 85 tahun (2009)

2.5 Anatomi Fisiologi

Telinga sebagai organ pendengaran dan ekuilibrium terbagi dalam tiga bagian, yaitu
telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga berisi reseptor-reseptor yang menghantarkan gelombang
suara ke dalam impuls-impuls saraf dan reseptor yang berespons pada gerakan kepala.

Perubahan pada telinga luar sehubungan dengan proses penuaan adalah kulit telinga
berkurang elastisitasnya. Daerah lobus yang merupakan satu-satunya bagian yang tidak disokong
oleh kartilago mengalami pengeripu tan, aurikel tampak lebih besar, dan tragus sering ditutupi
oleh rumbai-rumbai rambut yang kasar. Saluran auditorius menjadi dangkal akibat lipatan ke
dalam, pada dindingnya silia menjadi lebih kaku dan kasar juga produksi serumen agak
berkurang dan cenderung menjadi lebih kering.
Perubahan atrofi telinga tengah, khususnya membran timpani karena proses penuaan
tidak mempunyai pengaruh jelas pada pendengaran. Perubahan yang tampak pada telinga dalam

6
adalah koklea yang berisi organ corti sebagai unit fungsional pendengaran mengalami penurunan
sehingga mengakibatkan presbikusis.
Lebih kurang 40% dari populasi lansia mengalami gangguan pendengaran (presbikusis).
Gangguan pendengaran mulai dari derajat ringan sampai berat dapat dipantau dengan
menggunakan alat audiometer. Pada umumnya laki-laki lebih sering menderita gangguan
pendengaran dibandingkan perempuan.
Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian
koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori.
Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor
eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik.
Presbikusis terbagi dua menjadi prebiskus perifer dan prebiskus sentral. Presbikusis
perifer, di mana para lansia hanya mampu untuk mengidentifikasi kata. Alat Bantu dengar masih
cukup bermanfaat, tetapi harus diperhatikan untuk menghindari berteriak/berbicara terlalu keras
karena dapat membuat ketidaknyamanan di telinga. Presbikusis sentral, di mana lansia
mengalami gangguan untuk mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat alat bantu dengar sangat
kurang. Oleh karena itu, percakapan dengan para lansia harus sedikit lebih lambat tanpa
mengabaikan irama dan intonasi.
Presbikusis ditambah dengan situasi ketika percakapan yang berlangsung kurang
mendukung dapat menyebabkan lansia mengalami gangguan komunikasi. Gangguan komunikasi
ini dapat terjadi akibat:
 Pertama, pembicaraan mengalami gangguan karena suara musik, radio, televisi, maupun
pembicaraan lain.
 Kedua, sumber suara mengalami distorsi yang berasal dari pengeras suara yang tidak
sempurna seperti di terminal, masjid, telepon, maupun bila diucapkan oleh anak-anak
atau pembicara yang terlalu cepat.
 Ketiga, kondisi akustik ruangan yang tidak sempurna seperti di dapur, ruang makan
restoran, serta ruang pertemuan yang mudah memantulkan suara.

7
2.6 Patofisiologi

Menurut frekuensi getarannya, tinnitus terbagi menjadi dua macam, yaitu:


 Tinnitus Frekuensi rendah (low tone) seperti bergemuruh
 Tinnitus frekuensi tinggi (high tone)seperti berdenging
Tinnitus biasanya di hubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat juga terjadi karena
gangguan konduksi, yang biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika di sertai dengan
inflamasi, bunyi dengung akan terasa berdenyut (tinnitus pulsasi) dan biasanya terjadi pada
sumbatan liang telinga, tumor, otitis media, dll.
Pada tuli sensorineural, biasanya timbul tinnitus subjektif nada tinggi (4000Hz). Terjadi
dalam rongga telinga dalam ketika gelombang suara berenergi tinggi merambat melalui cairan
telinga, merangsang dan membunuh sel-sel rambut pendengaran maka telinga tidak dapat
berespon lagi terhadap frekuensi suara. Namun jika suara keras tersebut hanya merusak sel-sel
rambut tadi maka akan terjadi tinnitus, yaitu dengungan keras pada telinga yang di alami oleh
penerita.(penatalaksanaan penyakit dan kelainan THT edisi 2 thn 2000 hal 100). Susunan telinga
kita terdiri atas liang telinga, gendang telinga, tulang-tulang pendengaran, dan rumah siput.
Ketika terjadi bising dengan suara yang melebihi ambang batas, telinga dapat berdenging, suara
berdenging itu akibat rambut getar yang ada di dalam rumah siput tidak bisa berhenti bergetar.
Kemudian getaran itu di terima saraf pendengaran dan diteruskan ke otak yang merespon dengan
timbulnya denging.
Kepekaan setiap orang terhadap bising berbeda-beda, tetapi hampir setiap orang akan
mengalami ketulian jika telinganya mengalami bising dalam waktu yag cukup lama. Setiap
bising yang berkekuatan 85dB bisa menyebabkan kerusakan. Oleh karena itu di Indonesia telah
di tetappkan nilai ambang batas yangn di perbolehkan dalam bidang industri yaitu sebesar 89dB
untuk jangka waktu maksimal 8 jam. Tetapi memang implementasinya belum merata. Makin
tinggi paparan bising, makin berkurang paparan waktu yang aman bagi telinga.

8
2.7 Pathway

9
2.8 Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Dengan Garputala

Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala
yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke
telinga.
Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan
adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur
saraf pendengaran di otak.
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung
pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol di
belakang telinga).
Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga
dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf,
yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran.
Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf
pendengaran di otak. Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran
melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.
Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli
sensorineural. Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara
bersamaan.

10
2. Audiometri

Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan
menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian
dan volume tertentu.
Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap
nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.
Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.
Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk
mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang
kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.

3.Audimetri Ambang Bicara

Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa
dimengerti.

11
Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki
aksentuasi yang sama, pada volume tertentu.
Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-
kata yang diucapkan dengan benar.

4. Diskriminasi

Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-


kata yang bunyinya hampir sama. Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang
bunyinya hampir sama.
Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar)
biasanya berada dalam batas normal. Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawah
normal. Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal.

5. Timpanometri

12
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan
terhadap tekanan) pada telinga tengah. Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan
penyebab dari tuli konduktif.
Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan
pada anak-anak. Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus
menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.
Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan
berapa banyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga.
Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa:
 penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan
hidung bagian belakang)
 cairan di dalam telinga tengah
 kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalui
telinga tengah.
Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapedius,
yang melekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga tengah).
Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras/gaduh
(refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi telinga tengah.
Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah atau
menjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat tetap berkontraksi
selama telinga menerima suara yang gaduh.

13
6. Respon Auditoris Batang Otak

Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada
saraf pendengaran. Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi
otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.

7. Elektrokokleografi

Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran.


Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsi
pendengaran sensorineural. Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan
untuk menilai pendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon

14
bawah sadar terhadap suara. Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau
untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).
Beberapa pemeriskaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yang
mengolah pendengaran di otak. Pemeriksaan tersebut mengukur kemampuan untuk:
 mengartikan dan memahami percakapan yang dikacaukan
 memahami pesan yang disampaikan ke telinga kiri menerima pesan yang laintelinga
kanan pada saa
 menggabungkan pesan yang tidak lengkap telinga menjadi pesan yang
bermaknayang disampaikan pada kedua
 menentukan sumber suara pada saat suara telinga pada waktu yang
bersamaan.diperdengarkan di kedua
Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena itu kelainan
pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri.
Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan yang
tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara.

2.9 Pengobatan
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya. Jika
penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau
kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut. Jika
penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan
pencangkokan koklea.

2.10 Alat Bantu Dengar


Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere,
yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan
lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:
 Sebuah mikrofon untuk menangkap suara
 Sebuah amplifier untuk meningkatkan volume suara
 Sebuah speaker utnuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikkan.

15
Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah
penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang
profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi
pendengaran).

Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan
pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan suatu alat bantu
dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan hal-hal berikut:
 kemampuan mendengar penderita
 aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
 keterbatasan fisik
 keadaan medis
 penampilan
 harga.

Alat Bantu Dengar Hantaran Udara


Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran telinga dengan sebuah
penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang terbuka.

Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan

16
Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang paling kuat. Alat
ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat yang
dipasang di saluran telinga. Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena
pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak.

Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga

Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai berat. Alat ini
dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang lain.

CROS (contralateral routing of signals)

17
Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi pendengaran
pada salah satu telinganya.
Mikrofon dipasang pada telinga yang tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada
telinga yang berfungsi melalui sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini.
Dengan alat ini, penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak berfungsi.

BICROS (bilateral CROS)

Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi pendengaran yang
ringan, maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras dengan alat ini.
Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang

Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu dengar hantaran udara,
misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga atau jika dari telinganya keluar cairan
(otore).

18
Alat ini dipasang di kepala, biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis.
Suara dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam.
Beberapa alat bantu dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga.

2.11 Pencangkokan Koklea


Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat
mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar.
Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian:
 Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
 Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang
tertangkap oleh mikrofon
 Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima sinyal dari
prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik
 Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke
otak.
Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi pendengaran yang
normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris kepada penderita tuli dan membantu
mereka dalam memahami percakapan.

Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar.


Alat bantu dengar berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian
telinga dalam yang mengalami kerusakan.
Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi gelombang listrik oleh telinga
dalam. Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak dan kita menerimanya sebagai suara.
Implan koklea bekerja dengan cara yang sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan
bunyi yang berarti dan kemudian mengirimnya ke otak

19
2.12 Penatalaksanaan

Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Pendengaran Lansia


a. Bersihkan telinga, pertahankan komunikasi.
b. Berbicara pada telinga yang masih baik dengan suara yang tidak terlalu keras.
c. Berbicara secara perlahan-lahan, jelas, dan tidak terlalu panjang.
d. Beri kesempatan klien untuk menjawab pertanyaan.
e. Gunakan sikap dan gerakan atau objek untuk memudahkan persepsi klien.
f. Beri sentuhan untuk menarik perhatian sebelum memulai pembicaraan.
g. Beri motivasi dan reinforcement.
h. Kolaborasi untuk menggunakan alat bantu pendengaran.
i. Lakukan pemeriksaan secara berkala.

20
BAB III
ASUHAN KEPERWATAN

A. Pengkajian

 Fokus pengkajian pada klien dengan ganguan pendengaran


 Kaji identitas klien
 Kaji riwayat keperawatan
 Kaji adanya penguanaan obat-obat yang menyebabkan ototoxic dan merusak ssp
serta organ-organ bagian telinga dan keseimbanagan
 Kaji riwayat penguanaan obat-obatan

B. Diagnosa keperawatan

 Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang pendengaran


bagian dalam.
 Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.
 Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.

C. Intervensi keperawatan

a) Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan degenerasi tulang pendengaran


bagian dalam
Tujuan : komunikasi verbal klien berjalan dengan baik
Kriteria Hasil
Dalam 1 hari klien dapat :
o Menerima pesan melalui metode alternatif
o Mengerti apa yang diungkapkan
o Memperlihatkan suatu peningkatan kemampuan untuk berkomunikasi
o Menggunakan alat bantu dengar dengan cara yang tepat

21
Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan klien dalam penerimaan pesan
b. Periksa apakah ada serumen yang mengganggu pendengaran
c. Bicara dengan pelan dan jelas
d. Gunakan alat tulis pada waktu menyampaikan pesan
e. Beri dan ajarkan klien pada penggunaan alat bantu dengar
f. Pastikan alat bantu dengar dapat berfungsi dengan baik
g. Anjurkan klien untuk menjaga kebersihan telinga

b) Harga diri rendah berhubungan dengan penurunan fungsi pendengaran.


Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya
Kriteria Hasil
Secara bertahap klien dapat :
 Mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri
 Berhubungan sosial dengan orang lain
 Mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk
berhubungan dengan orang lain
 Membina hubungan saling percaya dengan perawat
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
b. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab klien tidak mau
bergaul atau menarik diri
c. Diskusi bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang
mungkin
d. Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan
e. Diskusikan tentang keuntungan dari berhubungan dan kerugian dari perilaku menarik
diri
f. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain
g. Beri pujian atas keberhasilan yang telah dicapai klien
h. Bina hubungan saling percaya dengan klien
i. Anjurkan anggota keluarga untuk secar rutin dan bergantian mengunjungi klien

22
j. Beri reinforcement positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga
k. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip hubungan terpeutik

c) Kurang aktivitas berhubungan dengan menarik diri dengan lingkungan.


Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas tanpa kesulitan
Kriteria Hasil
Secara bertahap klien dapat :
 Menceritakan perasaan-perasaan bosan
 Melaporkan adanya peningkatan dalam aktivitas yang menyenangkan.
 Menceritakan metode koping terhadap perasaan marah atau depresi yang
disebabkan oleh kebosanan.
Intervensi :
a. Beri motivasi untuk dapat saling berbagi perasaan dan pengalaman
b. Bantu klien untuk mengatasi perasaan marah dari berduka
c. Variasikan rutinitas sehari-hari
d. Libatkkan individu dalam merencanakan rutinitas sehari-hari
e. Rencanakan suatu aktivitas sehari-hari
f. Beri alat bantu dengar dalam melakukan aktivitas

23
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa
bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf
auditori. Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan
faktor eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit
sistemik.
Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh:
· Suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang
menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif).
· Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak
(penurunan fungsi pendengaran sensorineural).

4.2 Saran

Diharapkan kepada perawat lebih paham pada asuhan keperawatan lansia , Sehingga
dapat mengetahui tentang pengertian, penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahan
terhadap gangguan pendengaran pada lansia.

24
DAFTAR PUSTAKA

Roach sally. Introduktory gerontological Nursing. 2001. Lippinctt: New Yor

Syaifuddin, Anatomi fisisologi. 1997. EGC. Jakarta

Petunjuk praktikum fisiologi I. Tim pengajar fisiologi. 2005. Stikes Aisyiyah Yogyakarta,

Http: // www.pfizer peduli . com / artcel _ detail . aspex. Id : 21

Panduan dianosa keperawatan NANDA

Http: // www. Dokter tetanus . pjnkk. Go. Id / content . view / 249/31

http: // www. Dokter tetanus. WordPress. Com

wahyudi, Nugroho, Keperawatan Gerontik. 2000. EGC : Jakarta.

25