Anda di halaman 1dari 96

DIFTERI PADA ANAK

dr. Taufik Rahman


Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui Pos
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC),
telah dipaparkan Mapping KLB (Kejadian Luar Biasa) Difteri sampai dengan minggu ke- 44 di
bulan November 2017. Dari data tersebut, ditemukan sejumlah kasus Difteri di hampir
seluruh provinsi di Indonesia.
Read more at https://kumparan.com/andarinovianti/kematian-akibat-difteri-terjadi-
karena-gerakan-menolak-imunisasi#SLAzv7U5517bWqgF.99
POKOK BAHASAN
• Definisi
• Patogenesis
• Bagaimanan mendiagnosis &
diagnosis banding
• Membedakan difteri atau bukan
• Tata laksana
• Pencegahan
• KLB
DEFINISI DAN ETIOLOGI
A
Difteri adalah suatu infeksi akut yang
diakibatkan oleh bakteri gram positif
Corynebacterium diphteriae yang
terutama menyerang saluran pernafasan
• batang gram positif bagian atas.
• tidak bergerak, pleomorfik
dan tidak berkapsul, Penularannya melalui droplet dan ditandai
• tidak membentuk spora, dengan terbentuknya eksudat yang
berbentuk membran pada tempat infeksi,
• mati pada pemanasan 60ºC,
diikuti oleh gejala-gejala umum yang
• tahan dalam keadaan beku ditimbulkan oleh eksotoksin yang
dan kering diproduksi oleh basil ini.
• Kuman tumbuh secara aerob,
tumbuh baik dalam media yang
mengandung K-tellurit atau Masa inkubasi antara 2-5 hari
media Loeffler dengan perjalanan penyakit bersifat
• kemampuannya memproduksi insidious (perlahan-lahan)
eksotoksin baik in vivo
maupun in vitro
Klasifikasi Difteri

• Suspected diphtheria
• Probable diphtheria
• Confirmed diphtheria
• Carrier diphtheria
• Suspek Difteri adalah orang dengan gejala
faringintis, tonsilitis, laringitis, trakeitis, atau
kombinasinya disertai demam tidak tinggi dan
adanya pseudomembran putih keabu-abuan
yang sulit lepas, mudah berdarah apabila
dilepas atau dilakukan manipulasi
• Probable Difteri adalah orang dengan
suspek difteri ditambah dengan salah satu
gejala berikut:
a. Pernah kontak dengan kasus (<2 minggu).
b. Imunisasi tidak lengkap, termasuk belum
dilakukan booster.
c. Berada di daerah endemis Difteri.
d. Stridor, Bullneck.
e. Pendarahan submukosa atau petechiae pada kulit.
f. Gagal jantung toxic, gagal ginjal akut.
g. Myocarditis.
h. Meninggal.
• Kasus konfirmasi laboratorium adalah kasus
suspek Difteri dengan hasil kultur positif
Corynebacterium diphtheriae strain toxigenic
atau PCR (Polymerase Chain Reaction) positif
Corynebacterium diphtheriae yang telah
dikonfirmasi dengan Elek test.
Diagnosis Difteri
• Usually made on the basis of clinical
presentation (to begin presumptive therapy
quickly)
• Isolation of C. diphtheriae by bacteriological
culture or PCR are essential for confirming
diphtheria
• Elek’s test (toxicity test)
• Should be performed appropriate laboratory
tests to rule out other causes
Suspected diphtheria
• Tanpa demam atau subfebris
• Gejala faringitis, tonsilitis,
laringitis, trakeitis (atau kombinasi)
• Terdapat pseudomembran putih keabu-
abuan/ kehitaman pada salah satu atau
kedua tonsil yang berdarah bila
terlepas dan dilakukan manipulasi
• 94% kasus difteri mengenai tonsil dan
farings
Probable diphtheria
• Gejala suspected diphtheria
• Ditambah salah satu dari
– Pernah kontak dengan kasus (< 2 minggu)
– Status imunisasi tidak lengkap,
termasuk belum dilakukan booster
– Stridor dan bullneck
– Perdarahan submukosa atau petekie
pada kulit
– Gagal jantung toksik, gagal ginjal akut
– Miokarditis dan/ atau kelumpuhan motorik
1 s/d 6 minggu setelah onset
– Meninggal
Confirmed Diphtheria
• Gejala probable diphtheria
• Dikonfirmasi dengan
– biakan atau PCR dengan hasil
Corynebacterium diphtheriae positif
– Elek’s test untuk uji toxisitas
Carrier diphtheria
• Seseorang yang mengandung
kuman difteri di tenggorokannya,
– Namun yang bersangkutan tidak sakit
– Tetap menular ke sekitarnya
– Perlu diberikan pengobatan untuk
menghilangkan Corynebactrium
diphtheriae dari tenggorokannya
– Masa penularan dari karier berlangsung
hingga 6 bulan
Differential Diagnosis
• Other pathogens can cause a membrane
of the throat and tonsils, including
– Streptococcus
– Epstein-Barr virus and cytomegalovirus
(both of which cause infectious
mononucleosis syndrome)
– Candida albicans
– Anaerobic organisms (Vincent’s angina)
– Some viruses
Patogenesis Difteri
Mortimer E.A.and Wharton M., in Vaccines, 1999.
Atkinson W. et al., in Epidemiology and Prevention of Vaccine-
preventable Diseases, 1996d.
Patogenesis Difteri
Kuman hidup dan
berkembang biak pada
saluran nafas bagian atas,
vulva, telinga dan kulit
Membentuk
Melepaskan
pseudomembra
eksotosin
n

Bullneck Lokal Jaringan

Menjalar dari Paralisis otot


Nyeri faring, laring
pernapasan,
dan saluran
jantung dan
napas atas
palatum
Gangguan mole/durum
Obstruksi jalan Risiko aspirasi,
nutrisi
napas AV blok jantung

Trakeostomi
Perjalanan
penyakit Difteri
Penularan difteria
Masa inkubasi (2–5 hari)
Gejala awal
● Demam tidak tinggi
● Lesu, kurang beraktifitas
● Tampak pseudomembran selaput keabuan di farings
Days to months

2–3 hari Toksin menyebar melalui


pb darah dan limfe
Gejala akut
● Selaput keabuan menebal tebal, membentuk membran menutupi farings
● Pembesaran kelenjar leher, lunak dalam perabaan
● Tanda peradangan, udem sekitar farings dan jaringan lunak (‘bull-neck’)
● Nadi cepat
Komplikasi
• Obtruksi larings
7 hari • Miokarditis
Selaput secara bertahap menghilang • Neuritis
Kematian 5%–10%
14-21 hari 1. Wharton & Vitek 2004, In: Vaccines (Ch 13)
Penyembuhan 2. CDC Pink Book. 2008:59–70
Antibiotik
Bakteri×
Corynebacterium diphtheriae

Toksin Anti Difteri Serum (ADS)

Masuk dalam ×
darah Komplikasi
peredarahan

Kematian
Diphtheria Exotoxin
• Binds to a receptor on the surface
Exotoxin B of the susceptible host cell
• Proteolytically cleaves to the
fragment membrane lipid layer
enabling segment A to enter

• Inhibits an amino acid transfer


from RNA translocate to the
Exotoxin A ribosomal amino acid chain
fragment • Inhibiting protein synthesis
is required for normal host
cell functioning
Mengapa terjadi KLB Difteri
Risk factors of
transmission

immunocompro Overcrowding
mised states

Karier

Incomplete
Poor health
immunization

• Tempat jauh
• Ibu sibuk
Substandard
• Takut efek samping
living conditions
• Menolak imunisasi
WHO, 2009
MANIFESTASI KLINIS

Tidak terlalu
tinggi
MANIFESTASI KLINIS
Difteri tonsilofaring • Eritema faring dengan pseudomembran
menebal, melekat, warna kehijauan
(Faucial diphtheria,
hingga abu-abu
Diphtheritic • Limfadenitis servikalis dengan edema
diphtheria) jaringan sekitarnya (bull neck)

Difteria laring • Stridor pada inspirasi,


• Sesak yang progresif hingga gelisah
(Croupous (air hunger) sampai sianosis dan
diphtheria) • Pseudomembran tampak pada laring

• Pseudomembran pada konkha nasi dan


Difteria Difteria septum nasi dengan gejala sekret hidung
hidung serosanguinus atau mukopurulen,
umumnya unilateral, disertai banyak krusta
• Kulit: ulkus dangkal dengan tepi yang
meninggi tertutup pseudomembran (tropical
ulcers, desert ulcers), atau mirip impetigo,
ektima, piodermia seperti gigitan serangga,
Difteria kulit, luka kering bersisik
genital dan • Genital: ulkus dengan pseudomembran,
edema dan pembesaran kelenjar regional pada
konjungtiva penis, vulva dan vagina
• Konjungtiva: Radang kataral atau purulen,
psudomembran, ulkus kornea, disertai
pembesaran kelenjar preaurikuler
Masalah klinis dalam perjalanan
difteri • Kelainan denyut
jantung • Penyembuha
• Mudah tersedak n
• Suara sengau • Istirahat
• Kelainan Mgg IV
denyut jantung
• Monitor EKG Mgg III
• Lengkapi
• Demam Mgg II • Miokarditis imunisas
• Nafas • Neuritis i
berbunyi (kelumpuhan syaraf
• Pembesaran • Obtruksi jalan perifer)
Mgg I
kel leher nafas
• Miokarditis Angka kematian
• anak <5 tahun: 5%-10%
• Obtruksi jalan • dewasa > 40 tahun : 20%
nafas
• Kematian
karena hipoksia
(sufokasi)
Prinsip Pengobatan
• Pengobatan dilakukan
berdasarkan diagnosis klinis
• Tanpa menunggu hasil biakan
• Jika terdapat keraguan: perlakukan
sebagai difteri sampai terukti bukan
Tatalaksana penyakit difteri pada
anak terdiri dari beberapa hal :
1. Isolasi
2. ADS
3. Antibiotika
4. Suportif dan simtomatis
5. Follow-up / tindak lanjut
6. Penanganan Kontak
• Tatalaksana tidak boleh menunggu hasil kultur
• Penatalaksanaan bisa hanya berdasarkan
kecurigaan klinis karena pertimbangan
waktu dan besarnya resiko
• Sekalipun hasil kultur negatif tatalaksana
tetap dilaksanakan asalkan kondisi klinis
memang ke arah difteri
• Semua kasus probable-confirmed akan
mendapat tatalaksana yang sama
Tata laksana
Umum
• Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui (2-3 minggu)
• Stabilisasi jalan nafas, pastikan airway, breathing dan circulation
aman
• Biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali berturut-turut dengan
jarak 24 jam.
• Dilakukan pemeriksaan EKG dan neurologis untuk
mengetahui komplikasi.

Khusus
• Berikan anti difteri serum (ADS)
• Berikan antibiotik selama 14 hari
• Kortikosteroid
• Trakheostomi
• Pengobatan kontak/karier
Contact Tracing, Vaccination, and Prophylaxis for Contacts

07/01/2018
SRH24/12/17
Contact Tracing, Vaccination, and Prophylaxis for Contacts

TRIAGE (2)
Dosis pemberian ADS
Tipe difteri Dosis ADS (IU) Cara pemberian

Difteri kulit 20.000 intravena


Difteri hidung 20.000 intravena
Difteri tonsil 40.000 intravena
Difteri farings 40.000 intravena
Difteri larings 40.000 intravena
Difteri nasofarings 60.000 intravena
Kombinasi lokasi tanpa melibatkan nasal 80.000 intravena

Difteri + penyulit dan/atau bullneck 80.000-100.000 intravena

Terlambat berobat >72 jam, lokasi dimana saja 80.000-100.000 intravena

Ref. CDC ptotocol 03/26/2014, revised from Krugman 1992 (dengan modifikasi)
Perhatian dalam pemberian ADS
• Sediakan adrenalin 1:1000 dalam semprit
• Lakukan uji kulit 0,1 ml ADS dalam NaCl
0,9% 1:1.000 secara intrakutan. Positif jika,
– dalam 20 menit terjadi indurasi >10 mm
– berikan ADS dengan cara desensitisasi (Besredka)
• ADS + dalam larutan garam fisiologis atau 100
ml glukosa 5% dalam 1-2 jam
• Monitor efek samping obat
– anafilaksis sekitar (0,6%) terjadi dalam beberapa
menit
– demam (4%) setelah 20 menit -1 jam
– serum sickness (8,8%) 7-10 hari kemudian.
Tata laksana khusus
Kortikosteroid
• Diberikan pada difteri + obstruksi saluran napas bagian
atas (ada/tidak bullneck) dan miokarditis
• Prednison 2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu, diturunkan
bertahap
• Terdapat pendapat yang kontroversial
Trakeostomi
• Indikasi: obstruksi larings difteri lebih dini daripada
penyebab lain
Antibiotik

• Penisilin prokain 25.000 - 50.000


U/kgBB/hari (max 1,2 juta U/hari), i.m,
selama14 hari

• Bila terdapat riwayat hipersensitivitas


penisilin diberikan eritromisin 40
mg/kgBB/hari (max 2 g/hari) dibagi 4 dosis,
interval 6 jam, selama14 hari.
Panduan PP IDAI 2017
Balitbangkes Kemkes RI, 2017
Kontak difteri
• Periksa gejala difteri serta awasi setiap
hari selama 7 hari dari tanggal terakhir
kontak dengan kasus
• Buat biakan dari swab hidung dan farings,
untuk mengetahui penularan atau karier
– Berdasarkan hasil biakan berikan antibiotik
– Perlu biakan ulang untuk memastikan eradikasi
difteri
• Tanyakan status imunisasi dan segera
lengkapi imunisasi sesuai umur
Siapa Kontak?
• Siapapun yang kontak erat dengan
kasus dalam 7 hari terakhir dianggap
berisiko tertular.
• Kontak erat penderita dan karier meliputi
– Anggota keluarga serumah
– Teman, kerabat, pengasuh yang secara
teratur mengunjungi rumah
– Kontak cium / seksual
– Teman di sekolah, teman les, teman
mengaji, teman sekerja
– Petugas kesehatan di lapangan dan di rumah
sakit
Pilihan antibiotik
untuk kontak/karier
• Eritromisin, selama 7 hari
– Anak 40 mg/kg BB/hari dibagi 4 dosis
– Dewasa: 1 g/hari dibagi dalam
4 dosis
• Azitromisin, single dose, selama
7 hari
– Anak 10-12 mg/kgBB, maksimal 500
mg
Catatan: Buat biakan swab tenggorok sebelum dan setelah pemberian antibi
• Jika biakan–Dewasamasihpositif,500lanjutkanmg antibiotik 7 hari lagi;
• Jika biakan tetap positif, ganti antibiotik yang sesuai dengan uji resistensi
Alur Monitor Kontak
MENGENAL, MEMBEDAKAN
DIFTERI ATAU BUKAN
• Kecurigaan difteri berawal dari bercak putih
• Jika ada kecurigaan difteri bedakan 2 situasi :
- Curiga lebih ke arah bukan difteri
- Curiga lebih ke arah difteri
CURIGA LEBIH KE ARAH BUKAN
DIFTERI
• Misalnya pada :
- Pseudomembran hanya di 1 tonsil
- Pseudomembran putih bersih
• Maka :
- Berikan eritromisin 50mg/kgBB/hari, dibagi 3-4 kali
per hari, selama 2x24 jam
• Pasien diminta datang kembali
untuk dievaluasi setelah 2x24 jam
CURIGA LEBIH KE ARAH BUKAN
DIFTERI
• Jika saat evaluasi pseudomembran
membaik atau hilang bukan difteri
• Jika saat evaluasi tetap atau memburuk
di perlakukan sebagai difteri
CURIGA LEBIH KE ARAH BUKAN
DIFTERI
• Alternatif antibiotika :
- Azitromisin
- Penisilin oral
CURIGA LEBIH KE ARAH DIFTERI
• Perlakukan sebagai difteri
• Masuk rumah sakit
BERCAK YANG MUNGKIN DIFTERI
• Putih abu-abu – kotor, kecoklata
• Jika dilepas dari dasarnya akan berdarah
• Lokasi biasanya menyatu, terutama di
tonsil-faring
• Ditunjang status imunisasi yang kurang baik
ADA BERCAK TAPI MUNGKIN
BUKAN DIFTERI
• Putih bersih
• Lokasi tersebar, ukuran kecil-kecil
• Dilepas tidak berdarah
• Di tonsil, namun hanya terbatas 1 tonsil
• Imunisasi ?
• Tergantung daerah domisili ?
DIAGNOSIS BANDING
• Kesamaan : bercak putih
• Perbedaan :
– Situasi dan kondisi bercak
– Gejala dan tanda lain yang menyertai
• Diagnosis banding dibuat menurut lokasi
difteri
FARINGITIS OK STREPTOKOKUS
FARINGITIS OK STREPTOKOKUS
FARINGITIS OK STREPTOKOKUS
FARINGITIS OK STREPTOKOKUS
FARINGITIS OK STREPTOKOKUS
STOMATITIS
KANDIDIASIS ORAL
GINGGIVO STOMATITIS
KANDIDIASIS ORAL
PSEUDO MEMBRAN DIFTERI
PSEUDO MEMBRAN DIFTERI
PSEUDO MEMBRAN DIFTERI
BULLNECK
BULLNECK
BUKAN, ERI DULU
ERI DULU
ERI DULU
BEBERAPA CONTOH KASUS DIFTERI
AV BLOCK
CONFIRM VAR GRAVIS
SAAT DATANG
24 JAM KEMUDIAN
Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, melalui Pos
Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC),
telah dipaparkan Mapping KLB (Kejadian Luar Biasa) Difteri sampai dengan minggu ke- 44 di
bulan November 2017. Dari data tersebut, ditemukan sejumlah kasus Difteri di hampir
seluruh provinsi di Indonesia.
Read more at https://kumparan.com/andarinovianti/kematian-akibat-difteri-terjadi-
karena-gerakan-menolak-imunisasi#SLAzv7U5517bWqgF.99
KLB
1
Penyakit sebelumnya tidak ada
 ada
Peningkatan kejadian kesakitan 2
terus menerus selama 3 kurun
waktu
Peningkatan kejadian kesakitan 2 3
KLB: Timbulnya atau
x atau lebih dibandingkan
meningkatnya kejadian periode sebelumnya
kesakitan dan atau kematian Jumlah penderita baru dalam perode 4

yang bermakna secara waktu 1 bulan menunjukkan


epidemiologis pada suatu kenaikan dua kali atau lebih
dibandingkan dengan periode
daerah dalam kurun waktu
sebelumnya
tertentu dan merupakan Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per 5
keadaan yang dapat menjurus bulan selama 1 tahun menunjukkan
pada terjadinya wabah, dengan kenaikkan dua kali atau lebih dibanding
salah satu kriteria ini. periode sebelumnya
CFR meningkat 50% atau lebih dalam 6
1 kurun waktu tertentu
Proportional rate penderita baru 7
meningkat 2 x atau lebih
JADWAL IMUNISASI DASAR

Umur Sasaran Jenis

0-12 Jam Hepatitis B, Polio 0

1 bulan BCG, Polio 1


DPT-HB-Hib 1, Polio 2
DPT-HB-Hib 2, Polio 3
DPT-HB-Hib3, Polio4, IPV
9
JADWAL IMUNISASI LANJUTAN

Interval minimum setelah


Umur Sasaran Jenis Imunisasi
imunisasi dasar
DPT-HB-Hib 12 bulan dari DPT-HB-Hib 3
18 bulan* 6 bulan dari Campak dosis
Campak
pertama

Sasaran Imunisasi Waktu Pelaksanaan

Campak Agustus
Kelas 1 SD
DT November

Kelas 2 SD Td November

Kelas 5 SD* Td November

*Sesuai dengan revisi Permenkes No.42 Thn 2013


• UNTUK MENCEGAH DIFTERI  PERLU
KEKEBALAN MASYARAKAT YG TINGGI
• CARANYA : TINGKATKAN KEKEBALAN
MENYELURUH (ANAK, REMAJA, DEWASA)
• JENIS VAKSIN DISESUAIKAN DG UMUR :
– DTwP, DTaP  > 6 minggu – 5 TH
– DTaP atau DT  5-7 TH
– Td atau Tdap  > 7 TH -DEWASA
• Sasaran ORI adalah anak
ORI usia 1 tahun sampai
dengan < 19 tahun tanpa
memandang riwayat
imunisasi .
• ORI dengan menyuntikkan
vaksin DPT atau DT atau Td
sesuai usia, sebanyak 3 kali.
Suntikan pertama pada 0
bulan, suntikan berikutnya
berjarak 1 bulan dan
suntikan ketika diberikan 1
kali berjarak 6 bulan dari
suntikan kedua, diberikan
secara intramuscular di
deltoid dengan dosis 0,5 ml.
Kesimpulan
• Diagnosis difteri dalam situasi KLB
harus ditangani sesegera mungkin
• Pengobatan berdasarkan temuan klinis
tidak menunggu hasil laboratorium, sampai
terbuti bukan
• Tata laksana terdiri dari antibiotik, ADS,
monitor komplikasi (obstruksi larings,
miokarditis dan kelumpuhan syaraf)
• Pemantauan kontak serumah
• Pemberian imunisasi pada kasus dan
kontak/karier
07/01/2018 SRH24/12/17
ALUR PENANGANAN DIFTERI
ANAK RSUP SANGLAH
Nyeri menelan
Gejala infeksi saluran napas atas
Demam (+/-)
Malaise (+/-)
(Petugas kesehatan menggunakan APD
dan memeriksa tenggorok)
Iya
Terlihat
pseudomembran
atau limfadenopati
Pseudomembran berdarah yang luas
Iya

dan/Tanda bahaya : Stridor, Napas Pseudomembr


cepat, Retraksi dinding dada, an tidak
Letargi, CRT memanjang, Bull neck, mudah lepas
Takikardia, ekstremitas dingin dan dan berdarah
sianosis sentral
Iya tidak
Probabl
e Difteri

Stabilisasi (Pastikan Airway, Probabl Suspek


Breathing dan Circulation e Difteri Difteri
aman)

TATALAKSANA 1 TATALAKSANA 2
ALUR PENANGANAN DIFTERI ANAK
TATALAKSANA

TATALAKSANA 1: RSUP SANGLAH


Isolasi
Stabilisasi (Pastikan Airway, Breathing dan TATALAKSANA 2:
Circulation aman) Isolasi
Berikan anti difteri serum sesegera mungkin antibiotik oral selama 14 hari.
Antibiotik penicilline procaine (PP) 25.000 U/kg tiap Eritromisin 10 mg/kg tiap 6
6 jam (IM atau IV) selama 14 hari diberikan pada jam. Maksimum 500 mg
pasien dengan tanda bahaya , ketika pasien sudah per kali.
mampu menelan, dapat diubah ke antibiotik oral Azitromisin 10 mg/kg tiap
hingga hari ke-14. 24 jam.
Eritromisin 10 mg/kg tiap 6 jam. Maksimum Lakukan SWAB tenggorok
500 mg per kali s/d hari 14  Isolasi dilakukan minimal 48
Azitromisin 10 mg/kg tiap 24 jam s/d hari 14. jam setelah pemberian
Lakukan SWAB tenggorok antibiotika.
• Pasien dirawat selama 2-3 minggu, apabila klinis
penderita setelah terapi baik (selesai masa  Setelah pengobatan tetap
pengobatan 10 hari), maka dapat pulang tanpa dilakukan pengambilan
menunggu hasil kultur laboratorium. Evaluasi kultur pada Penderita
kembali swab tenggorok setelah 2 minggu  (sebaiknya pada hari ke 8
pemberian antibiotika. dan ke 9 pengobatan)
• Setelah pulang, Penderita tetap dipantau oleh  Setelah pulang, Penderita
Dinas Kesehatan setempat sampai mengetahui tetap dipantau oleh Dinas
hasil kultur terakhir negatif. Kesehatan setempat sampai
• Semua Penderita setelah pulang harus mengetahui hasil kultur
melengkapi imunisasi nya sesuai usia. terakhir negatif.
 Semua Penderita setelah
pulang harus melengkapi
imunisasi nya sesuai usia.
TATALAKSANA KONTAK
Definisi kontak:
Orang serumah dan teman
bermain; kontak dengan sekret
nasofaring; individu seruang
dengan penderita dalam waktu ≥
4 jam selama 5 hari berturu-turut
atau > 24 jam dalam seminggu
(teman sekelas)
Tatalaksana kontak
• Identifikasi semua kontak dekat dengan
pasien.
• anak-anak: profilaksis antibiotik eritromisin
dengan dosis 40 mg/kg/hari selama 10 hari untuk
atau azitromisin 10-12 mg/kg sekali sehari
maksimal 500 mg/hari selama 10 hari.
• Dewasa : eritromisin sebanyak 1 gram/hari
dibagi 4 dosis selama 10 hari, atau azitromisin
500 mg sekali sehari selama 10 hari.
• Semua yang kontak dekat dengan pasien
diobservasi selama 10 hari untuk
pengawasan kemungkinan munculnya gejala.
TATALAKSANA

Sebelum pemberian ADS harus dilakukan uji kulit atau uji mata terlebih
dahulu karena dapat terjadi reaksi anafilaktik. siapkan larutan adrenalin
1:1000 dalam semprit. Uji kulit dilakukan dengan penyuntikkan 0,1 ml
ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1.000 secara intrakutan. Hasil positif
bila dalam 20 menit terjadi indurasi >10 mm. Uji kepekaan pada mata
dengan pemberian 1 tetes antitoksin
BESREDKA