Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

American Diabetes Association (ADA) mendefinisikan diabetes mellitus


(DM) sebagai suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia karena
adanya kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Perkeni, 2015).
Diabetes Mellitus ditandai dengan peningkatan glukosa dalam darah melebihi
normal (70 – 140 mg/dL). Gejala lain yang sering dirasakan penderita diabetes
antara lain polifagia (sering merasa lapar), polidipsi (rasa haus yang berlebihan),
poliuri (sering kencing) (Kemenkes, 2014). Diabetes mellitus dibagi menjadi
menjadi dua kategori utama, yaitu diabetes mellitus tipe 1 (Insulin Dependent
Diabetes Mellitus) akibat kurangnya produksi insulin dan diabetes mellitus tipe 2
(Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus) yang disebabkan karena gangguan
insulin yang kurang efektif oleh tubuh (Kemenkes, 2014).
Diabetes mellitus telah menjadi masalah kesehatan utama di dunia dengan
angka kejadian dan kematian yang masih sangat tinggi. Prevalensi dan insiden
penyakit ini meningkat secara drastis di negara-negara industri maju dan sedang
berkembang termasuk Indonesia. Estimasi terakhir International Diabetes
Federation (IDF), terdapat 382 juta orang yang hidup dengan diabetes di dunia
pada tahun 2013. Pada tahun 2035 jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat
menjadi 592 juta orang. Diperkirakan dari 382 juta orang tersebut, 175 juta
diantaranya belum terdiagnosis, sehingga terancam berkembang progresif menjadi
komplikasi tanpa disadari dan tanpa dicegah (Kemenkes RI, 2014)..
Prevalensi diabetes mellitus di Jawa Tengah pada tahun 2017 menempati
urutan ke-2 setelah penyakit hipertensi dengan presentase 16,42% atau sebanyak
110.702 orang (Dinkes Jateng, 2017). Sedangkan prevalensi diabetes mellitus di
Kabupaten Pati menempati urutan ketiga dengan jumlah sebanyak 5.220 orang.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pati tahun 2017, diabetes mellitus
berada pada urutan ke dua dari 10 penyakit utama pada pasien rawat jalan di rumah
sakit di Pati, cakupan pasien rawat jalan diabetes mellitus yaitu sebesar 19,33%
atau 184.272 orang. Sedangkan menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Pati tahun
2015, prevalensi DM di kabupaten Pati dibagi menjadi dua, yaitu DM tidak
tergantung insulin 20,42 % ( 5.604 kasus ) dan DM tergantung insulin 1,6 % ( 440
kasus ).
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak dapat
disembuhkan, namun dengan pengendalian melalui terapi diabetes mellitus dapat
mencegah terjadinya kerusakan dan kegagalan organ dan jaringan. Menurut
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) tahun 2015, terapi
pengendalian dan penanganan diabetes mellitus dapat dilakukan dengan beberapa
cara yaitu edukasi, latihan jasmani, terapi nutrisi medis dan terapi farmakologi.
Penderita DM masih tetap memiliki harapan untuk memperbaiki tingkat kesehatan
yang lebih baik yaitu dengan melaksanakan dan patuh terhadap empat komponen
penatalaksanaan terapi diabetes tersebut.
Keberhasilan suatu terapi dan pengobatan diabetes mellitus sangat
dipengaruhi oleh kepatuhan penderita. Kepatuhan terapi atau pengobatan adalah
tingkat pasien melaksanakan rangkaian terapi/pengobatan dan perilaku sesuai saran
dari dokter atau oleh tenaga medis yang lain (Prayogo, 2013). Kepatuhan terapi
DM pada pasien DM sangat berperan penting untuk menstabilkan kadar glukosa
darah, sedangkan kepatuhan itu sendiri merupakan suatu hal yang penting untuk
dapat mengembangkan rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam
mengikuti terapi. Pasien yang tidak patuh dalam menjalankan terapi menyebabkan
kadar gula yang tidak terkendali. Kepatuhan membutuhkan faktor-faktor yang
mendukung agar kepatuhan dapat berhasil. Faktor pendukung tersebut adalah
dukungan keluarga, pengetahuan, dan motivasi agar menjadi biasa dengan
perubahan yang dilakukan dengan cara mengatur untuk meluangkan waktu dan
kesempatan yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri. Selain itu, lama seseorang
menderita DM juga berpengaruh terhadap kepatuhan pasien dalam pengobatan
( Iswanti, 2013).
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting dalam tindakan
penderita diabetes melitus, perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih
mudah dilaksanakan dari pada yang tidak didasari oleh pengetahuan. Notoatmodjo
mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya perilaku seseorang. Perilaku baru dari sesorang dimulai pada domain
kognitif dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa
materi objek yang menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap kemudian objek
yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon
lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan terhadap stimulus atau objek, sehingga
pengetahuan merupakan langkah awal dari sesorang untuk menentukan sikap dan
perilakunya (Juniarti et al, 2014). Pengetahuan tentang kesehatan dapat membantu
individu untuk beradaptasi dengan penyakitnya, mencegah komplikasi dan
mematuhi program terapi dan belajar untuk memecahkan masalah ketika
menghadapi situasi baru. Pengetahuan sesorang tentang penyakitnya sangat
menunjang kepatuhan pasien terhadap segala sesuatu yang disarankan petugas
kesehatan demi kesembuhan penyakitnya (Ismail et al, 2013).
Dukungan keluarga merupakan salah satu dari faktor yang memiliki
kontribusi yang cukup berarti dan sebagai faktor penguat yang mempengaruhi
kepatuhan pasien diabetes mellitus. Dukungan keluarga merupakan dukungan
berarti yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya, sehingga seseorang
akan tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan, menghargai, dan
mencintainya. Dukungan keluarga menjadikannya mampu dalam meningkatkan
kesehatan dan adaptasi mereka dalam kehidupan (Sasih, 2015). Begitu pula bagi
penderita diabetes mellitus. Disadari atau tidak, saat seseorang mengalami diabetes
mellitus maka mereka akan mengalami masa-masa sulit. Mereka harus mulai
berbenah diri, mulai mengontrol pola makan, disiplin dalam terapi pengobatan dan
aktivitas. Hal tersebut pasti sangat membutuhkan bantuan dari orang sekitar
terutama keluarga, dengan menceritakan kondisi pada orang terdekat, maka akan
membantu dalam kontrol diet dan program pengobatan (Wardani, et al, 2014). Oleh
karena itu, keluarga dapat mengingatkan ataupun mengontrol manajemen diri
penderita diabetes.
Niven (2012) mengemukakan bahwa lamanya waktu pasien menderita
penyakit tertentu akan mendapat nasihat dan informasi yang diberikan selama sakit
akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pasien dalam pengobatan yang dijalani.
Semakin lama penderita menderita diabetes mellitus, maka penderita akan
mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam manajemen atau terapi
DM sehingga akan patuh terhadap terapi yang dijalaninya. Menurut Sukmadinata
(2014) seseorang yang lama menderita penyakit akan mampu merespon penyakit
tersebut dengan rajin mengikuti pengobatan.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti merasa bahwa studi mengenai
hubungan antara pengetahuan, dukungan keluarga dan lama menderita DM
terhadap kepatuhan terapi DM pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di rawat jalan
RSUD RAA Soewondo Pati perlu dilakukan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas dapat disusun rumusan masalah
sebagai berikut, yaitu :
1. Apakah terdapat hubungan pengetahuan pasien dengan kepatuhan dalam
menjalankan terapi diabetes mellitus?
2. Apakah terdapat hubungan dukungan keluarga pasien dengan kepatuhan dalam
menjalankan terapi diabetes mellitus?
3. Apakah terdapat hubungan lama menderita DM tipe 2 dengan kepatuhan dalam
menjalankan terapi diabetes mellitus?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara
pengetahuan, dukungan keluarga dan lama menderita DM terhadap kepatuhan
terapi diabetes mellitus pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di rawat jalan
RSUD RAA Soewondo Pati
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan pasien Diabetes Mellitus tipe
2 di rawat jalan RSUD RAA Soewondo Pati
b. Mengetahui distribusi frekuensi dukungan keluarga pasien Diabetes
Mellitus tipe 2 di rawat jalan RSUD RAA Soewondo Pati
c. Mengetahui distribusi frekuensi lama menderita DM pasien Diabetes
Mellitus tipe 2 di rawat jalan RSUD RAA Soewondo Pati
d. Mengetahui distribusi frekuensi kepatuhan terapi DM pasien Diabetes
Mellitus tipe 2 di rawat jalan RSUD RAA Soewondo Pati
e. Mengetahui hubungan antara pengetahuan pasien dengan kepatuhan terapi
diabetes mellitus pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di rawat jalan RSUD
RAA Soewondo Pati
f. Mengetahui hubungan antara dukungan keluarga pasien dengan kepatuhan
terapi diabetes mellitus pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 di rawat jalan
RSUD RAA Soewondo Pati
g. Mengetahui hubungan antara lama menderita penyakit DM tipe 2 pasien
dengan kepatuhan terapi diabetes mellitus pada pasien Diabetes Mellitus
tipe 2 di rawat jalan RSUD RAA Soewondo Pati

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pasien Diabetes Mellitus
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi mengenai diabetes
mellitus, kepatuhan terapi Diabetes Mellitus tipe 2 sehingga tidak menimbulkan
penyakit degeneratif lain.
2. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini dapat dijadikan tambahan kepustakaan dalam pengembangan
ilmu kesehatan khususnya mengenai diabetes mellitus tipe 2
3. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dalam pemberian pendidikan
kesehatan pada pasien diabetes mellitus agar dapat mencapai keberhasilan
terapi diabetes mellitus tipe 2.
4. Bagi Peneliti
Peneliti dapat mengetahui mengetahui hubungan antara pengetahuan, dukungan
keluarga dan lama DM terhadap kepatuhan terapi diabetes mellitus yang
nantinya diharapkan dapat diaplikasikan di masyarakat.

E. Keaslian Penelitian
Tabel 1. Penelitian yang Relefan dengan Penelitian ini

No Judul Penelitian Nama Tahun dan Rancangan Variabel Hasil


Peneliti Tempat Penelitian Penelitian Penelitian
Penelitian

1. Faktor yang Novi 2008, Cross Variabel Tidak


Berhubungan Hidayati Poliklinik Sectional Bebas : terdapat
dengan Diabetes Pendidikan hubungan
Kepatuhan RSUP Formal, antara
terhadap Kariadi Umur, Jenis tingkat
Manajemen Semarang Kelamin, pendidikan,
Diabetes Pengetahua umur,
Melitus n, Motivasi tingkat
penderita Diri, pendapatan
Diabetes Pendapatan, perkapita,
Mellitus di Pengalaman dan
Poliklinik , Dukungan pengetahua
Diabetes Keluarga, n dengan
RSUP Komunikasi kepatuhan
Kariadi Dokter dan manajemen
Semarang pasien diabetes
2008 mellitus.
Ada
hubungan
antara jenis
kelamin
(p=0,008),
pengetahua
n (p=0,006),
motivasi
diri
(p=0,046
2. Faktor – Ermin 2013, Cross Variabel Ada
faktor yang Sintowat Poliklinik Sectional bebas : hubungan
Berhubungan i Penyakit Status antara status
dengan Dalam RSUP Ekonomi, ekonomi
Kepatuhan De. Soeradji Dukungan (p=0,007)
dalam Tirtonegoro Keluarga, dan
Pengelolaan Klaten Stress dukungan
Diabetes Emosional. keluarga
Melitus pada Variabel (p=0,031)
Penderita Terikat : terhadap
Diabetes Kepatuhan kepatuhan
Mellitus di dalam dalam
Rawat Jalan Pengelolaan pengelolaan
RSUP Dr. Diabetes Diabetes
Soeradji Mellitus Mellitus
Tirtonegoro
Klaten
3 Hubungan Rustima 2011, Ruang Cross Variabel Ada
Tingkat h Rawat Inap sectional bebas: hubungan
Pendidikan RSUD Dr. H. Pengetahua antara
dan Moch Ansari n dan pendidikan
Pengetahuan Saleh Pendidikan (p<0,002)
Variabel
dengan Banjarmasin dan
Terikatan :
Kepatuhan pengetahua
Kepatuhan
Pengobatan n (p<0,009)
Pengelolaan
Diabetes dengan
Terapi DM
Mellitus pada kepatuhan
Penderita Pengelolaan
Diabetes Terapi DM
Mellitus di
Ruang Rawat
Inap RSUD
Dr. H. Moch
Ansari Saleh
Banjarmasin

F. Ruang Lingkup Penelitian


1. Ruang Lingkup Tempat
Lokasi penelitian adalah RSUD RAA Soewondo Pati, Jalan Dr. Soesanto No.
Pati
2. Ruang Lingkup Waktu
Penelitian akan dilakukan pada bulan Maret 2018
3. Ruang Lingkup Keilmuan
Materi dalam penelitian ini mengenai diabetes mellitus, terapi pada penderita
diabetes melitus dan kepatuhan terapi diabetes melitus.