Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur tim penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka tim
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ANEMIA PADA IBU
NIFAS”. Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan hambatan
akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, tim
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal
dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Penulisan makalah ini, tim penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki tim
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat di harapkan oleh tim penulis demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tim penulis mengharapkan makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca semua, terutama bagi tim penulis sendiri. Semoga Allah memberkahi
makalah ini sehingga bermanfaat bagi kita semua.

Kediri,23 januari

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di dunia angka kematian ibu dan bayi yang tertinggi adalah di Asia Tenggara.
Laporan awal Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyebutkan Angka
Kematian Ibu (AKI) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu saat ini
masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran
pembangunan Millenium Development Golds/ MDGs (Marisah, dkk, 2011).Ukuran untuk
menilai baik buruknya pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu Negara atau daerah
ialah kematian maternal (maternal mortality) (Prawirohardjo, 2008). Kematian maternal
merupakan masalah besar khususnya dinegara berkembang. Sekitar 98-99% kematian
maternal terjadi di negara berkembang, sedangkan dinegara maju hanya sekitar 1-2%,
sebenarnya sebagian besar kematian dapat dicegah apabila diberi perrtolongan pertama yang
adekuat (Manuaba, 2007).Menurut WHO, 40% kematian ibu Negara berkembang berkaitan
dengan anemia dalam kehamilan kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh
defisiensi zat besi dan pendarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi
(Prawirohardjo, 2008).Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berada di garis
depan, oleh karena itu bidan dituntut untuk lebih professional dalam melaksanakan asuhan
kebidanan terutama asuhan kebidanan dalam masa nifas ini. Asuhan kebidanan harus secara
komprehensif meliputi: promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif serta memenuhi
kebutuhan klien, sehingga masalah yang dialami klien dalam masa nifas dapat teratasi tanpa
menimbulkan komplikasi. Anemia merupakan masalah kesehatan yang berperan dalam
penyebab tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi serta rendahnya produktivitas
kerja, prestasi olahraga dan kemampuan belajar. Oleh karena itu, penanggulangan anemia
menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,
yang telah dilaksanakan pemerintah sejak Pembangunan Jangka Panjang I (Depkes,
1996).Anemia terjadi jika kadar hemoglobin dalam darah rendah. Hemoglobin adalah zat
pembawa oksigen dalam sel darah merah. Jika terjadi dalam system transportasi oksigen
(misalnya anemia) akan menyebabkan tubuh sulit untuk bekerja.Anemia postpartum dapat
didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 10 g/dl, hal ini merupakan masalah yang
umum dalam bidang obstetric. Meskipun wanita hamil dengan kadar besi yang terjamin,
konsentrasi hemoglobin biasanya berkisar 11-12 g/dl sebelum melahirkan. Hal ini diperburuk
dengan kehilangan darah pada saat melahirkan dan masa nifas
.
2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Selesai melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan anemia postpartum, penulis
berharap mendapatkan gambaran umum,, menerapkan asuhan kebidanan dan mampu
mendeteksi sedini mungkin masalah atau kompilkasi yang mungkin terjadi pada ibu nifas
terutama terkait dengan masalah anemia postpartum dan pernulis berharap agar dapat
mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan mencari pemecahan
masalah tersebut.
b. Tujuan Khusus
Penulis berharap mampu untuk menggunakan manajemen Varney dalam memberikan
asuhan kepada ibu nifas yang mengalami anemia (anemia postpartum).

3. Manfaat
a. Manfaat Bagi Penulis
1. Penulis mendapatkan pengetahuan tentang penulisan laporan dan pengetahuan tentang
asuhan kebidanan pada Ibu nifas yang mengalami anemia postpartum.
2. Sebagai media bagi penulis dalam menerapkan pendidikan dan teori yang telah didapatkan
di bangku perkuliahan serta dapat menambah wawasan penulis dalam mempersiapkan,
mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginformasikan apa yang ditemukan.
b. Manfaat Bagi klien
1. Mengingatkan kesadaran terhadap perlunya pengetahuan mengenai tanda-tanda bahaya dan
usaha penanggulangan sehingga diharapkan dapat di cegah secara dini.
2. Klien mendapatkan asuhan kebidanan yang baik.
BAB II
TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan/atau hitung eristrosit lebih rendah dari
harga normal (Arif Mansjoer, 2001).
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr%
(Winkjosastro, 2002).
Anemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein
pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin dan volume pada
sel darah merah (Hematokrit per 100 ml darah).
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin dibawah 11g/dl pada trimester 1 dan 3
atau kadar <10,5g% pada trimester 2 (Sarwono Prawirohardjo, 1998)
Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah
11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002).
Anemia adalah suatu keadaan dimana seseorang ibu sehabis melahirkan sampai dengan kira-
kira 5 minggu dalam kondisi pucat, lemah dan kurang bertenaga (Sarwono, 2000 : 188-189).

2. Fisiologi Hemoglobin
Berwarna merah, mrupakan pigmen pembawa oksigen dalam sel darah merah. Hemoglobin
merupakan protein dengan berat molekul 64.450. hemoglobin terdiri dari 4 subunit. Tiap subunit
mengandung heme yang berikatan dengan koyugat polipeptida. Heme mengandung besi yang
merupakan derivate porvirin. Sedangkan polipeptida disebut dengan globin.
Ada dua bagian polipetida tiap molekul hemoglobin. Pada orang dewasa normal
(hemoglobin A), terdapat dua tipe polipeptida yang disebut dengan rantai α yang mengandung 141
asam amino residu. Kemudian hemoglobin A disebut juga α2β2, tidak semua hemoglobin pada
darah normal orang dewasa adalah hemoglobin A. Sekitar 2.5 % hemoglobin A2 dimana rantai
βdiganti dengan rantai δ (α2δ2) rantai δ juga mengandung 146 asam amino residu, ttapi 10 residu
tunggal berbeda pada asam amino pada rantai β.
Hemoglobin membawa oksigen dalam bentuk oxihemoglobin, oksigen berikatan dengan
Fe2+ didalam heme. Afinitas hemoglobin didalam O2 dipengaruhi oleh pH, suhu, dan konsentrasi
2,3 diphosphogliserat (2,3 DPG). 2,3 DPG dan H+ bersaing dengan O2 untuk membentuk
deoxihemoglobin, dengan menurunkan afinitas hemoglobin terhadap O2 dengan menempati
tempatnya pada keempat rantai.
Karbonmonoksida bereaksi dengan hemoglobin membentuk monoxihemoglobin
(carboxihemoglobin). Afinitas hemoglobin pada O2 jauh lebih rendah dibandingkan dengan CO,
dengan dampak digantikannya O2 yang berikatan dengan hemoglobin, sehingga terjadi penurunan
kapasitas pembawa oksigen oleh darah.
Rata-rata kandungan hemoglobin normal dalam darah adalah 16 g/dl pada laki-laki dan 14
g/dlpada perempuan. Pada tubuh laki-laki dengan berat badan 70 kg, terdapat sekitar 900 g
hemoglobin dan 0,3 g globin dihancurkan dan disintesis kembali setiap jam. Heme dari hemoglobin
diseintesis dari glycine dan succinyl-CoA.
Ketika sel darah merah dihancurkan oleh jaringansistem makrofag. Globin dari molekul
hemoglobin dihancurkan dan heme diubah menjadi biliverdin. Biliverdin kemudian dikonversi
menjadi bilirubin dan diekskrsikan melalui empedu. Besi yang berasal dari heme digunakan
kembali untuk sintesis hemoglobin. Besi merupakan zat esensial untuk sintesis hemoglobin, jika
tubuh kehilangan darah dan defisiensi besi tidak dikoreksi, akan terjadi anemia defisiensi besi.

3. Etiologi
a. Adanya perdarahan sewaktu / sehabis melahirkan.
b. Adanya anemia sejak dalam kehamilan yang disebabkan oleh factor nutrisi dan hipervolemi.
c. Adanya gangguan pembekuan darah.
d. Kurangnya intake zat besi ke dalam tubuh
e. Kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan
f. Adanya gagguan absorbsi di usus
g. Pendarahan akut maupun kronis
Anemia defisiensi besi merupakan penyebab paling sering dari anemia postpartum yang
disebabkan oleh intake zat besi yang tidak cukup serta kehilangan darah selama kehamilan dan
persalinan. Anemia postpartum behubungan dengan lamanya perawatan dirumah sakit, depresi,
kecemasan, dan pertumbuhan janin terhambat.
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan karena kurangnya defisiensi zat besi
dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup yang ditandai dengan
gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (serum iron), dan jenuh
transferin menurun, kapasitas besi total meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta
ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali (Rukiyah, 2010).
Kehilangan darah adalah penyebab lain dari anemia. Kehilangan darah yang signifikan
setelah melahirkan dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia postpartum. Banyaknya cadangan
hemoglobin dan besi selama persalinan dapat menurunkan risiko terjadinya anemia berat dan
mempercepat pemulihan.

4. Patofisiologi
a. Perdarahan sehingga kekurangan banyak unsur zat besi
b. Kebutuhan zat besi meningkat, dengan adanya perdarahan, gemeli, multiparitas, makin tuanya
kehamilan
c. Absorbsi tidak normal / saluran cerna terganggu, misal defisiensi vitamin C sehingga absorbsi
Fe terganggu.
d. Intake kurang misalnya kualitas menu jelek atau muntah terus.

5. Gejala Klinis
a. Anemia ringan Hb : 8 – 10gr%
b. Anemia sedang Hb : 6 – 8 gr%
c. Anemia berat Hb : Kurang dari 6 gr%
Tergantung dari derajat berat atau tidaknya anemia, hal ini dapat berdampak negative bagi
ibu selama masa nifas, kemampuan untuk menyusui, masa perawatan di rumah sakit bertambah,dan
perasaan sehat dari ibu. Masalah yang muncul kemudian seperti pusing, lemas, tidak mampu
menjaga dan merawat bayinya selama masa nifas umumnya terjadi.
Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan anemia postpartum memiliki gejala yang
dapat mengganggu kesehatan ibu dan meningkatkan risiko terjadinya anemia postpartum jika
dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Dampak buruk dari perubahan emosi dan perilaku
ibu dangat mengkhawatirkan karena interaksi ibu dan bayi akan terganggu selama periode ini dan
akhirnya akan berdampak negative terhadap perkembangan bayinya.
Kebanyakan penelitian untuk mengetahui hubungan antara defisiensi besi dengan kognitif
yang difokuskan pada bayi dan anak-anak, dimana ditemukan fakta yang kuat bahwa defisiensi
besi berisiko terjadinya gangguan perkembangan kognitif sekarang dan yang akan datang. Namun
data terbaru menunjukkan defisiensi bsi juga berdampa buruk pada otak orang dewasa. Berbeda
dengan penurunan hemoglobin, defisiensi besi berpengaruh pada kognitif melalui penurunan
aktifitas enzim yang mengandung besi diotak. Hal ini kemudian mempengaruhi fungsi
neurotransmitter, sel, dan proses oksidatif, juga metabolism hormone tyroid.
Para ibu yang masih menderita kekurangan zat besi sepuluh minggu setelah melahirkan
kurang responsive dalam mengasuh bayinya sehingga berdampak pada keterlambatan
perkembangan bayi yang dapat bersifat ireversibel. Untungnya, anemia postpartum bersifat dapat
diobati dan dapat dicegah.
Defisiensi besi dapat menurunkan fungsi limfosit, netrofil, dan fungsi makrofag. Hal ini
kemudian akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi yang merupakan akibat fungsional
defisiensi besi. Memperbaiki status besi tubuh dengan adekuat akan memperbaiki system imun.
Meskipun demikian, keseimbangan besi tubuh penting. Meskipun besi yang dibutuhkan untuk
respon imun yang efektif, jika suplai besi terlalu banyak daripada yang dibutuhkan, invasi mikroba
dapat terjadi karena mikroba dapat menggunakan besi untuk tubuh dan menyebabkan eksaserbasi
infeksi.

6. Diagnosis
Besi merupakan salah satu komponen kunci dari hemoglobin, oleh karena itu tubuh yang
kekurangan besi akan berdampak pada system transformasi oksigen yang akan mengakibatkan
gejala sepert nafas pendek dan lemas yang merupakan dua gejala klasik dari anemia.
Normal kadar hemoglobin pada hari keempat postpartum adalah lebih dari 10 g/dl dengan
kadar eritrosit paling sedikit 3,5 juta/ml. ketika kadar hemoglobin di bawah 10g/dl dan akadar
eritrosit kurang dari 3,5 juta/ml maka dapat didiagnosis anemia, jika kadar hemoglobin diatas 8
g/dl disebut anemia ringan dan jika berada pada level dibawahnya maka disebut anemia berat.

7. Pencegahan
Banyak jenis anemia tidak dapat dicegah. Namun, anda dapat membantu menghindari
anemia kekurangan zat besi dan anemia kekurangan vitamin dengan makan yang sehat, variasi
makanan, termasuk:
a. Besi. Sumber terbaik zat besi adalah daging sapi dan daging lainnya. Makanan lain yang
kaya zat besi, termasuk kacang-kacangan, lentil, sereal kaya zat besi, sayuran berdaun hijau
tua, buah kering, selai kacang.
b. Folat dapat ditemukan di jus jeruk dan buah-buahan, pisang, sayuran berdaun hijau tua,
kacang polong ,roti, sereal dan pasta.
c. Vitamin B-12. Vitamin ini banyak dalam daging dan produk susu.
d. Vitamin C. Makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, melon dan beri,
membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
Makan banyak makanan yang mengandung zat besi sangat penting bagi orang-orang yang
memiliki kebutuhan besi yang tinggi, seperti anak-anak - besi yang diperlukan selama ledakan
pertumbuhan - dan perempuan hamil dan menstruasi.

8. Penanganan
Pada anemia ringan, bisa diberikan sulfas ferosis 3 x 100 mg/hari dikombinasi dengan asam
folat / B12 : 15 –30 mg/hari. Pemberian vitamin C untuk membantu penyerapan. Bila anemi berat
dengan Hb kurang dari 6 gr % perlu tranfusi disamping obat-obatan diatas.
Pengobatan terhadap anemia postpartum tergantung dari derajat anemia dan faktor risiko
maternal atau faktor komorbiditas. Wanita muda yang sehat dapat mengkompensasi kehilangan
darah yang banyak lebih baik dibandingkan wanita nifas dengan gangguan jantung meskipun
dengan kehilangan darah yang tidak terlalu banyak.
Sebagai tambahan, kehilangan darah perlu dilihat dalam hubungannya dengan IMT dan
estimasi total blood volume (TBV). Pertimbangan yang lain yaitu kesalahan yang dilakukan ketika
melakukan estimasi jumlah kehilangan darah. Kehilangan darah selalu sulit untuk diprediksi, yang
mana bisa dibuktikan dengan membandingkan Hb pre-partum dan Hb postpartum.
Pengobatan terhadap anemia meliputi pemberian preparat besi secara oral, besi parenteral,
transfusi darah, dan pilihan lain yaitu rHuEPO (rekombinan human erythropoietin).
Prinsip penatalaksanaan anemia adalah jika di dapatkan hemoglobin kurang dari 10
pertimbangkan adanya defisiensi zat pembentuk hemoglobin, periksa sepintas apakah ada
hemoglobinopati sebelum disingkirkan. Pemberian preparat besi oral sebagai pengobatan lini
pertama untuk anemia akibat defisiensi besi. Besi parenteral diindikasikan jika preparat besi oral
tidak dapat ditolerransi, gangguan absorbsi, dan kebutuhan besi pasien tidak dapat terpenuhi
dengan preparat besi oral.
Penggunaan terapi parenteral biasanya lebih cepat mendapatkan respon dibandingkan
dengan terapi oral. Namun, bagaimanapun hal ini bersifat lebih invasive dan lebih mahal.
Rekombinan Human Eritropoietin (rHuEPO) paling banyak digunakan untuk anemia dengan
penyakit gagal ginjal kronis. Namun rHuEPO tetap dapat diberikan pada anemia dalam kehamilan
maupun postpartum tanpa adanya penyakit gagal ginjal kronis tanpa ada efek samping pada
maternal, fetal ataupun neonatus.Anemia yang terjadi bukan karena defisiensi (misalnya akibat
hemoglobinopati dan sindrom kegagalan sum-sum tulang) harus diatasi dengan transfusi darah
secara tepat dan bekerja sama dengan seorang ahli hematologi.
9. Pengaruh anemia terhadap ibu nifas
Pengaruh anemia pada ibu nifas adalah terjadinya subvolusi uteri yang dapat menimbulkan
perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang dan mudah
terjadi infeksi mamae (Prawirohardjo, 2005). Praktik ASI tidak eksklusif diperkirakan menjadi
salah satu prediktor kejadian anemia setelah melahirkan (Departemen Gizi dan Kesehatan
Masyarakat, 2008).
BAB III
TINJAUAN KASUS

KASUS IBU ANEMIA POST PARTUM

Ny .S umur 37 tahun Melahirkan anak ke-3 di RS. SITI KHADIJAH 1 bulan yang lalu ,pada hasil
pemeriksaan di dapatkan TD : 100/70 mmhg, S : 370C, N : 86 x / mnt, P:22 x / mnt, Hb : 12
gram%,dan kunjungtiva pucat.,lochea merah dan ibu mengganti pembalut 2x sehari,ASI ibu keluar
lancar dan pandangan berkunang-kunang. Karena ibu mengalami Anemia.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Anemia postpartum adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin kurang dari 10 g/dl,
hal ini merupakan masalah yang umum dalam bidang obstetric. Meskipun wanita hamil
dengan kadar besi yang terjamin, konsentrasi hemoglobin biasanya berkisar 11-12 g/dl
sebelum melahirkan.
2. Anemia defisiensi besi merupakan penyebab paling sering dari anemia postpartum yang
disebabkan oleh intake zat besi yang tidak cukup serta kehilangan darah selama kehamilan
dan persalinan. Anemia postpartum behubungan dengan lamanya perawatan dirumah sakit,
depresi, kecemasan, dan pertumbuhan janin terhambat.
3. Pengaruh anemia pada ibu nifas adalah terjadinya subvolusi uteri yang dapat menimbulkan
perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium, pengeluaran ASI berkurang dan
mudah terjadi infeksi mamae (Prawirohardjo, 2005). Praktik ASI tidak eksklusif
diperkirakan menjadi salah satu prediktor kejadian anemia setelah melahirkan (Departemen
Gizi dan Kesehatan Masyarakat, 2008).
B. Saran
1. Perawatan yang dilakukan dengan baik, cermat dan teliti agar lebih ditingkatkan.
2. Apabila di daerah menemukan kasus dengan gejala anemia hendaknya diperiksa ke petugas
kesehatan atau tempat pelayanan kesehatan.
3. Dalam melakukan perawatan anemia hendaknya dengan hati-hati, cermat dan teliti maka
akan mempercepat proses penyembuhan.