Anda di halaman 1dari 9

Tersedia online di www.sciencedirect.

com

ScienceDirect
Procedia Economics and Finance 31 (2015) 206 - 212
2212-5671 © 2015 Para Penulis. Diterbitkan oleh Elsevier BV Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-NC-ND
(http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/). Peer-review di bawah tanggung jawab Universiti Teknologi MARA Johor
doi: 10.1016 / S2212-5671 (15) 01222-8 KONFERENSI

INTERNASIONAL AKUNTANSI DAN BISNIS 2015, IABC 2015

Pengaruh Konflik Peran, Efikasi Diri, Sensitivitas Etis Profesi pada


Auditor erformance dengan Emotional Quotient sebagai Variabel
Moderasi
Ulfa Afifah a, Ria Nelly Saria, Rita Anugeraha, Zuraidah Mohd Sanusib
! "# $%! &% '() *) +, -, - &&)) +)
bstract
Penelitian ini meneliti pengaruh konflik peran, self-efficacy, sensitivitas etika profesional untuk kinerja auditor dengan
kecerdasan emosional sebagai variabel moderating. Responden dalam hal ini penelitian adalah auditor yang bekerja untuk kantor
akuntan publik di e * anbaru, Batam, dan Medan, Indonesia, sampel dalam penelitian ini adalah 145 auditor dari 29 kantor
akuntan publik. Metode sampling urposive digunakan untuk menentukan sampel, sedangkan regresi berganda dan analisis regresi
moderat digunakan untuk menguji hipotesis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap kinerja auditor. SelfYefficacy dan sensitivitas etika profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja auditor. Analisis lebih lanjut menemukan bahwa kecerdasan emosional memediasi hubungan antara konflik peran. ,
selfYefficacy dan sensitivitas etika profesional pada kinerja auditor.
© (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/). Peer-review © eerYreview 2015 2015 The The under Authors. Penulis. di
bawah tanggung jawab tanggung jawab Diterbitkan oleh oleh Universiti Elsevier Elsevier Universiti BV Teknologi BV
Te * nologi Ini adalah MARA sebuah MARA membuka Johor
akses Johor.
artikel di bawah lisensi CC BY-NC-ND
. / konflik peran; self-efficacy; sensitivitas etika propesional; kecerdasan emosional; kinerja auditor
1. Pendahuluan
Sejalan dengan tujuan akuntansi, salah satu layanan yang diberikan oleh akuntan publik adalah untuk melakukan pemeriksaan
atas laporan keuangan perusahaan dan kemudian memberikan pendapat atas laporan keuangan ini. Publik sebagai pengguna
laporan keuangan berharap akuntan telah memenuhi tanggung jawabnya dengan baik sehingga laporan keuangan yang telah
diperiksa dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu untuk memberikan layanan yang
berkualitas, akuntan harus melakukan pekerjaan mereka dengan integritas, objektivitas, dan profesionalisme.
207 Ulfa Afifah et al. / Procedia Economics and Finance 31 (2015) 206 - 212
Akuntan sebagai auditor harus terus menunjukkan dedikasinya untuk mencapai kinerja berkualifikasi tinggi. Buruknya kinerja
auditor memiliki implikasi besar bagi komunitas bisnis. Skandal akuntansi yang terjadi seperti kasus Enron Corporation,
WorldCom, Tyco International, Kanebo Ltd., dan American International Group (AIG) adalah beberapa contoh kasus yang
disorot ke dunia karena kinerja akuntan publik yang buruk. Di Indonesia, The Accountants and Appraisers Supervisory Centre (di
Indonesia disebut AJYusat embinaan A * untan dan Jasa enilai), Kementerian Keuangan melaporkan bahwa pada tahun 2010 satu
akuntan publik telah dihukum dengan pencabutan izin dan 17 cabang Perusahaan Akuntansi telah dihukum dengan lisensi
suspensi (www.ppajp.dep * eu.go.Id / san * si2010) karena kinerja auditor yang buruk. Kondisi ini masih belum membaik, karena
pada bulan Juli 2015, The Accountants dan Appraisers Supervisory Centre juga melaporkan satu Kantor Akuntan Publik yang
telah dihukum dengan penangguhan lisensi (www.ppajp.dp * eu.go.id).
Berdasarkan uraian di atas, akuntan dan perusahaan akuntansi perlu mempelajari faktor-faktor apa yang berkontribusi pada
kinerja auditor. Beberapa faktor yang mungkin meningkatkan atau menurunkan kinerja auditor adalah tingginya konflik peran,
self efficacy, dan kepekaan terhadap etika profesional auditor. Selain itu, kecerdasan emosional diharapkan untuk memperkuat
atau memoderasi hubungan antara konflik peran, self-efficacy dan sensitivitas etika profesional pada kinerja auditor (Cartwrigh
dan appas, 2007; Hanafi, 2010; Surya, 2004).
Penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama, untuk menguji pengaruh konflik peran, self-efficacy dan sensitivitas etika
profesional pada kinerja auditor, dan kedua untuk menguji pengaruh moderasi kecerdasan emosional pada hubungan antara
konflik peran, self-efficacy dan sensitivitas profesional pada kinerja auditor. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman kita tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditor sehingga kinerja auditor dapat ditingkatkan. Sisa dari
makalah ini disusun sebagai berikut. Bagian selanjutnya membahas pengembangan hipotesis. Bagian ketiga menjelaskan metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Bagian keempat melaporkan dan membahas hasil penelitian dan bagian terakhir
memberikan kesimpulan, implikasi, batasan, dan saran untuk penelitian selanjutnya.
2. Literature Review and Hypotheses Development
)) &
Role conflict adalah konflik yang muncul dari mekanisme kontrol birokrasi organisasi yang tidak sesuai dengan norma,
aturan, etika, dan kemandirian profesional. Kondisi ini biasanya terjadi karena dua perintah yang berbeda diterima secara
bersamaan, dan pelaksanaan satu perintah saja akan menyebabkan pesanan lain diabaikan (Robin dan Hakim, 2009).
Auditor dihadapkan oleh potensi konflik peran dalam menjalankan tugasnya. Konflik peran muncul karena ketidakcocokan
antara harapan yang disampaikan dalam individu di dalam organisasi dengan orang lain di dalam dan di luar organisasi (Tsai dan
Shis, 2005; Koo dan Sim, 1997). Potensi dampak konflik peran sangat sensitif, baik untuk individu maupun organisasi dalam arti
konsekuensi emosional, seperti tekanan tinggi, ketidakpuasan kerja, dan kinerja yang lebih rendah (Fanani, 2008).
Konflik peran dapat menyebabkan ketidaknyamanan di * dan menurunkan motivasi auditor. Kondisi ini akan menghasilkan
dampak negatif pada auditor dan akan menurunkan kinerja auditor secara keseluruhan. Diskusi ini mengarah pada hipotesis
pertama:
H1: Peran konflik mempengaruhi kinerja auditor
)5
SelfYefficacy adalah persepsi atau keyakinan selfYreliance (Bandura, 1997). Self-efficacy dapat dianggap sebagai faktor
personal yang membedakan satu individu dengan yang lain dan perubahan self efficacy dapat menyebabkan perubahan dalam
perilaku, terutama dalam penyelesaian tas dan tujuan (hilip dan Gully, 1997 dalam bahasa Inggris, 2006). Individu yang memiliki
tingkat self efficacy yang tinggi akan dapat menyelesaikan pekerjaan atau mencapai tujuan tertentu, dan mereka juga akan
mencoba untuk menetapkan tujuan lain yang lebih tinggi. Individu yang memiliki self efficacy yang tinggi dalam situasi tertentu
akan mencurahkan seluruh upaya dan perhatian mereka di
208 Ulfa Afifah et al. / Procedia Ekonomi dan Keuangan 31 (2015) 206 - 212
sesuai dengan tuntutan situasi dalam mencapai tujuan dan kinerja yang telah ditentukan (Hakim dan Bono, 2001).
Nadhiro (2010) menemukan bahwa self-efficacy mempengaruhi kinerja auditor dalam membuat penilaian audit. Dapat
disimpulkan bahwa individu dengan self-efficacy tinggi akan memiliki pola pikir yang baik dan motivasi mereka lebih tinggi
sehingga mereka akan selalu berusaha untuk mencapai tujuan yang akan berdampak pada peningkatan kinerja. Berdasarkan
diskusi di atas hipotesis kedua diusulkan:
H2: SelfYefficacy mempengaruhi kinerja auditor.
$) 1 & 6
Kepekaan etika profesional didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali sifat etika dalam situasi di mana auditor harus
mengambil keputusan (Hunt dan Vitell, 1986 dalam Aziza, 2008). Dalam menjalankan profesinya sebagai auditor, auditor
diharapkan lebih peka dalam memahami masalah etika profesi. Auditor harus menerapkan standar etika dan mendukung tujuan
norma profesional yang merupakan salah satu aspek dari komitmen kepada profesional. Komitmen tinggi tercermin dalam tingkat
kepekaan yang tinggi terhadap isu-isu yang berkaitan dengan etika profesional. Pemahaman etis ini akan mendorong sikap,
perilaku, dan tindakan auditor untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Dalam studi yang dilakukan oleh Ariyanto dan Jati (2010), ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat sensitivitas etika
profesional auditor, semakin produktif auditor akan. Temuan ini juga didukung oleh Choiriah (2013), yang telah membuktikan
bahwa etika profesional secara positif dan signifikan mempengaruhi kinerja auditor. Dengan memahami kode etik atau perilaku,
auditor akan mengarahkan sikap, perilaku, dan tindakan mereka dalam melaksanakan tugas dan kewajiban mereka dan berusaha
untuk mempertahankan kualitas *. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sensitivitas etika profesional di antara auditor
akan mengarahkan sikap, perilaku, dan tindakan auditor dalam mencapai hasil yang lebih baik, atau dengan kata lain, dapat
meningkatkan kualitas * para auditor. Berdasarkan diskusi di atas, yang berikut ini diusulkan:
H3: Kepekaan etika profesional mempengaruhi kinerja auditor.
, * &) 7 &) & !. ))
Konflik peran terjadi ketika seseorang berada dalam situasi tekanan untuk melakukan tas yang berbeda dan tidak konsisten
pada saat yang sama. Konflik peran yang terjadi pada seseorang akan menyebabkan stres yang dapat merusak dan merugikan
pencapaian tujuan seseorang. Ketika stres terjadi terus menerus dan berkepanjangan, itu akan mengurangi prestasi pribadi (lac *
of selfYachievement), dan akhirnya akan mengarah pada rendahnya tingkat kepuasan kerja dan keinginan rendah untuk terus
bekerja di perusahaan. Konflik peran dapat menyebabkan ketidaknyamanan di tempat * dan dapat mengurangi motivasi untuk
bekerja * karena memiliki dampak negatif pada perilaku individu.
Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, untuk memotivasi
diri kita sendiri dan untuk mengelola emosi kita dengan baik dan untuk mengelola emosi kita dalam hubungan dengan orang lain
(Golemen, 2002). Diharapkan bahwa seseorang yang menghadapi konflik peran masih dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik, karena mereka memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mengelola konflik
sehingga mereka dapat bernegosiasi dan menyelesaikan perselisihan untuk mendapatkan tujuan yang sama. Kecerdasan
emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, untuk memotivasi diri kita sendiri
dan untuk mengelola emosi kita dengan baik dan untuk mengelola emosi kita dalam hubungan dengan orang lain. Diharapkan
bahwa seseorang yang menghadapi konflik peran masih dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, karena mereka memiliki
kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mengelola konflik sehingga mereka dapat
bernegosiasi dan menyelesaikan perselisihan untuk mendapatkan tujuan yang sama.
Rahmawati (2011) menemukan bahwa konflik peran secara signifikan mempengaruhi kinerja auditor dan kecerdasan
emosional memoderasi hubungan antara konflik peran dan kinerja auditor. Jadi, disimpulkan bahwa kecerdasan emosional dapat
mempengaruhi hubungan antara konflik peran dan kinerja auditor. Berdasarkan diskusi di atas, hipotesis keempat diajukan:
H4: Kecerdasan emosi memoderasi hubungan antara konflik peran dan kecerdasan emosional
* &) 7 &) & !.) 5
209 Ulfa Afifah et al. / Procedia Economics and Finance 31 (2015) 206 - 212
SelfYefficacy adalah kondisi motivasi seseorang berdasarkan apa yang mereka percayai daripada apa yang secara obyektif
benar (Bandura, 1997). Persepsi pribadi seperti memainkan peran penting dalam pengembangan niat seseorang mengenai
peluangnya dalam berhasil mencapai tas tertentu. Ketika seorang karyawan memiliki kepercayaan diri untuk menyelesaikan tas *
dalam situasi tertentu, keberhasilan dalam menyelesaikan tas * semakin tinggi. Probabilitas keberhasilan tas akan meningkat jika
disertai dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (self-efficacy). Kepercayaan diri yang tinggi dapat diperoleh dari faktor-faktor
khusus seperti empati, self-disiplin dan inisiatif, yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri seseorang; faktor * nown sebagai
Emotional Quotient (EQ). Di sisi lain, kecerdasan emosional dapat mempengaruhi hubungan antara selfy efficacy pada kinerja
auditor. Dengan demikian, dihipotesiskan bahwa;
H5: Emosional quotient memoderasi hubungan antara self-efficacy dan kinerja auditor.
8 * &) 7 &) & !. ) &

Prinsip-prinsip dalam kode perilaku profesional yang dikeluarkan oleh AICA menyatakan bahwa profesi tersebut mengakui
tanggung jawabnya kepada publik, klien dan kolega di mana masing-masing pihak memiliki kepentingan yang berbeda.
Tanggung jawab bisa menimbulkan dilema yang akhirnya bisa membawa alasan untuk melakukan sesuatu atau tidak. Dalam
aspek ini, etika profesional adalah upaya untuk menemukan cara untuk menyelesaikan dilema dengan mempertimbangkan
keputusan paling etis dalam menyelesaikan suatu masalah. Oleh karena itu, dalam menjalankan profesinya, auditor diharapkan
lebih peka dalam memahami masalah etika profesi. Auditor harus menerapkan standar etika dan mendukung tujuan norma
profesional yang merupakan salah satu aspek dari komitmen profesional. Komitmen tinggi tercermin dalam tingkat sensitivitas
yang tinggi juga. Memupuk rasa kepekaan dibutuhkan dalam kendali emosi, yang dikenal sebagai kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional (kecerdasan emosi) dikaitkan dengan kemampuan mengendalikan impuls dalam pengendalian diri dan
empati (Goleman, 2002). SelfYcontrol berhubungan dengan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, untuk tidak
kehilangan kendali diri sehingga menyebabkan selfYdefeating, sementara empati menganggap kemampuan untuk memahami
orang lain untuk menghindari tindakan yang merugikan orang lain. Dengan kendali diri dan empati, keputusan etis dapat
diperoleh. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional akan mempengaruhi hubungan antara sensitivitas
etika profesional dan kinerja auditor.
H6: Emosional quotient memoderasi hubungan antara sensitivitas etika profesional dan kinerja auditor.
3. Metode Penelitian
$))
Populasi penelitian ini adalah auditor independen yang bekerja untuk Kantor Akuntan Publik di tiga kota di Pulau Sumatera,
Indonesia, yaitu e * anbaru, Batam dan Medan, Indonesia. Sampel terdiri dari total 145 auditor dari 29 kantor akuntan publik
yang ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Kuesioner dikirim langsung ke responden yang ditargetkan
dan 90 tanggapan kemudian dianalisis.
$+
Penelitian ini mempelajari lima variabel yaitu konflik peran, self-efficacy, sensitivitas etika profesional, kecerdasan emosional
dan kinerja auditor. Variabel-variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen yang sudah dikembangkan dan digunakan
dalam penelitian sebelumnya; yaitu instrumen untuk kinerja auditor dari Yuresta (2011), konflik peran dari Fanani et al., (2008).
SelfYefficacy dari Chen et al (2001), sensitivitas etika profesional dari Aryanto dan Mutia (2010) dan Emotional Quotient (EQ)
dari Rahmawati (2011).
210 Ulfa Afifah et al. / Procedia Economics and Finance 31 (2015) 206 - 212
4. Hasil dan Diskusi
,
Sebanyak 145 kuesioner dibagikan dan 100 kuesioner dikembalikan (68,97%). Karena nilai yang hilang hanya 90 tanggapan
yang kemudian dianalisis (62,07%). tabel 1 menyajikan rincian demografi responden
tabel 1. Rincian demografi Responden Demografis Variabel Klasifikasi Frekuensi% Jenis Kelamin Laki-laki
Perempuan
48 42
53,33 46,67 Pendidikan Diploma
Sarjana Master
5 82 3
5,56 91,11 3,33 Wor * Pengalamantahun
1Y3K3Y5
49 19
54,44 21,11 K5Y7 9 10 K7 13 14.44 Osition saat ini Auditor Junior Senior Auditor Supervisor Manager artner
43 35 8 3 1
47.78 38.89 8.89 3.33 1.11,!
)
Tabel 2 menunjukkan statistik deskriptif variabel.
Tabel 2. Statistik Deskriptif Variabel
Rentang teoritis Rentang Aktual Berarti Standar Konflik Peran Deviasi 7Y35 16Y35 26.47
3.995 SelfYEfficacy 8Y40 19Y40 31.12 4.300 Kepekaan etika profesional 10Y50 29Y50 41.74 4.696 Emotional Quotient 14Y70
28Y60 46.32 6.906 Auditorà erformance 12Y60 28Y50 46.93 7.274
, $)
Sebelum pengujian hipotesis yang diajukan, validitas dan pengujian reliabilitas dilakukan untuk memastikan validitas dan
reliabilitas instrumen. Berdasarkan uji validitas dan reliabilitas, semua variabel valid dan reliabel (rK 0,207; Cronbach Alpha K
0,7).
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis regresi. hasilnya ditunjukkan pada tabel 3 di
bawah ini:
tabel 3. Hasil uji hipotesis
B tYvalue Sig H1 pengaruh konflik peran pada
kinerja auditor Y Y0.305 Y3.002 .003 H2 efek selfy efficacy pada kinerja à ¢ à ¢ à ¢ â 0.9¬Â 0.966 6.525 .000 H3 pengaruh
sensitivitas etika profesional terhadap kinerja auditor 0.940 7.158 .000 H4 efek moderasi dari kecerdasan emosional pada
hubungan antaraperan
konflikdan kinerja auditor
Y0.059 Y2.264 .026
H5 efek moderasi dari kecerdasan emosional pada hubungan antara diri sendiri Y
keberhasilan dan kinerja auditor
0.067 3.110 .003
H6 efek moderasi dari kecerdasan emosional pada hubungan antara
sensitivitas etika profesional dan kinerja auditor
0,064 3.350 .001
211 Ulfa Afifah et al. / Procedia Economics and Finance 31 (2015) 206 - 212
Berdasarkan tabel 3, kita dapat menyimpulkan bahwa konflik peran berpengaruh negatif terhadap kinerja auditor (βN Y0.305,
tYvalueN Y3.002 pN0.003). Oleh karena itu, H1 diterima. ini menunjukkan bahwa konflik peran, yang merupakan gejala
psikologis yang dialami oleh auditor muncul dari dua set tuntutan yang saling bertentangan, menyebabkan ketidaknyamanan di
tempat-tempat * sehingga menurunkan kinerja keseluruhan auditor.
Tabel 1. menunjukkan bahwa self-efficacy dan sensitivitas etika profesional berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja auditor (βN0.966, tYvalueN 6.525, pN .000 dan βN 0.940, tYvalue N 7.158, pN .000). Oleh karena itu, H2 dan H3
diterima. kepercayaan diri mampu memungkinkan auditor untuk bekerja lebih keras dan menerapkan upaya terbaik. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa self-efficacy meningkatkan kinerja auditor. data penelitian ini juga membuktikan bahwa
pemahaman terhadap kode etik atau perilaku, mengarahkan auditor pada sikap, perilaku, dan tindakan untuk melaksanakan tugas
dan kewajibannya dengan menjaga kualitas, citra dan martabat auditor. sehingga meningkatkan kinerja auditor.
hasil analisis regresi moderat menemukan bahwa kecerdasan emosional memoderasi hubungan antara konflik peran dan
kinerja auditor (βN Y0.059, tYvalueN Y2.264, pN.026), hubungan antara kinerja self-efficacy dan auditor (βN 0,067, tYvalueN
3,110, pN .003) dan sensitivitas etis profesionalKinerja hubungan auditor (βN0.064, tYvalueN 3.350 pN .001). Oleh karena itu,
H4, H5 dan H6 diterima.
data penelitian ini membuktikan bahwa auditor yang memiliki kecerdasan emosional yang baik mampu mengelola emosi
mereka lebih baik sehingga mereka mampu menyelesaikan konflik peran yang ada. Memiliki kecerdasan emosi yang baik,
auditor mampu mempertahankan kinerja yang baik karena didukung oleh kemampuan untuk bertahan bahkan dalam situasi yang
tidak nyaman.
Kecerdasan emosional meningkatkan empati auditor, self-disiplin dan inisiatif yang mempengaruhi kepercayaan diri
seseorang. Dengan demikian hubungan antara selfy efficacy dan kinerja auditor diperkuat oleh kecerdasan emosional. melalui
kecerdasan quotient emosional mampu mengendalikan impuls selfycontrol dan empati. SelfYcontrol berhubungan dengan
kemampuan untuk memahami diri sendiri agar tidak kehilangan kendali diri yang dapat menyebabkan selfYdefeating, sementara
empati yang terkait dengan kemampuan untuk memahami orang lain untuk menghindari tindakan yang dapat merugikan orang
lain. Dengan kontrol diri dan empati, keputusan etis dapat diperoleh.
5. Kesimpulan
penelitian ini dilakukan untuk 140 auditor dari 29 kantor akuntan publik di tiga kota di Indonesia. data terakhir terdiri dari 90
tanggapan yang kemudian digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Studi ini menemukan bahwa self-efficacy dan
sensitivitas etika profesional memiliki efek positif pada kinerja auditor sementara konflik peran memiliki efek negatif pada
kinerja auditor. Temuan menunjukkan bahwa auditor dengan tingkat self-efficacy tinggi dan tingkat sensitivitas etika profesional
akan menghasilkan kinerja tinggi. Sebaliknya, konflik peran akan menurunkan kinerja auditor. Selain itu, data penelitian ini
membuktikan peran mediasi kecerdasan emosional pada hubungan antara konflik peran, self-efficacy dan sensitivitas etika
profesional pada kinerja auditor.
studi ini menambahkan hingga pemahaman kita tentang peran moderasi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosi dapat
meningkatkan kinerja auditor bahkan dalam situasi yang tidak nyaman. Sebagai kecerdasan emosional dapat ditingkatkan melalui
pelatihan dan pengalaman (Goleman, 2002; Abdolvah et al., 2012) penting bagi kantor akuntan publik untuk terus meningkatkan
kinerja auditor melalui pelatihan kecerdasan emosional.
Referensi
Abdolvah, Z., Bagheri, S., Haghighi, S., Karimi, F., 2012. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan SelfYEfficacy dalam
Kursuskursus raktis di
-antara guru-guru Pendidikan jasmani. Universitas Islam, Iran. European Journal of experimental Biology. 2 (5): 1778Y1784.
Ariyanto, D. Jati, AM, 2010. engaruh Mandiri, Kompetensi dan Sensitivitas Eti * a rofesi terhadap rodu * tifitas Kerja Auditor E
* sternal.
Jurnal A * untansi dan Bisnis, 52, 157Y168. Aziza, N., Salim, AA, 2008. engaruh Orientasi Eti * a pada Komitmen dan
Sensitivitas Eti * a Auditor. Jurnal dan rosiding SNA XI Bandura, 1997. Teori Pembelajaran Sosial. rectice Hall Inc, New Jersey.
Cartwright, S., appas, A., 2007. Kecerdasan Emosional, Pengukuran dan Implikasinya untuk tempat Wor *. International Journal
of
Management Ulasan 10 (2), 149Y171. Chen, G., Gully, SM, Eden, D., 2001. Validasi Skala Efikasi Diri Umum Baru. Metode
Penelitian Organisasi 4 (1), 62-83.
212 Ulfa Afifah et al. / Procedia Ekonomi dan Keuangan 31 (2015) 206 - 212
Eng * o, C., 2006. Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Individu dengan SelfYefficacy dan Self Esteem sebagai Variabel
Modertaing. Jurnal
Bisnis dan A * untansi 10 (1), 1Y12. Fanani, Z, Hanif, RA, Subroto, B., 2008. engaruh Stru * tur Audit, Konfli * eran, dan
Ketida * jelasan eran terhadap Kinerja Auditor. Jurnal
A * untansi dan Keuangan Indonesia 5 (2), 139Y155. Goleman, D., 2002. Emotional IntelligenceYKecerdasan Emosional.
Gramedia, Ja * arta. Hanafi, R., 2010, Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional dan kinerja Auditor. Jurnal A * untansi 14
(1), 29Y40. Hakim, tA, Bono, JE, 2001. Hubungan dari sifat-sifat Self-valuation Inti Diri SendiriYEsteem, Generalized
SelfYEfficacy, Locus of Control, dan
Emotional StabilityYY dengan Kepuasan Kerja dan Job erformance: A MetaYAnalysis. Jurnal sychology terapan 86,
80Y92. Koo, CM, Sim, H., S., 1997. Tentang Peran Konflik Auditor di Korea. Akuntansi, Audit, & Akuntabilitas Jurnal 12 (2),
206Y219 Nadhiro, SA, 2010. Komple * sitas tugas, Orientasi tugas, dan SelfYefficacy terhadap Kinerja Auditor dalam
embuatan Audit
Judgment. Tolaklah skripsi, Universitas Diponegoro. ontiana *, Indonesia, 1Y26 Rahmawati, 2011. engaruh Role Stress terhadap
Kinerja Auditor dengan Emotional Quotient sebagai Variabel Moderating. Tolaklah skripsi,
Universitas Syarif Hidayatullah Ja * arta. Rapina. 2008. Hubungan Supervisi, te * ana eran (Role Stress) dengan Kinerja dan
Kejadian pada Kantor A * untan ubli * di DKI
Ja * arta. Jurnal Ilmiah A * untansi 7 (1), 40Y70. Robbins, S.., Hakim, tA ,. 2009. Perilaku Organisasi. earson Autralias
Group ty Ltd, Australia Surya, R., 2004. engaruh Emotional Quotient Auditor terhadap Kinerja Auditor di Kantor A * untan ubli
*. Jurnal E * onomi embangunan,
Manajemen, dan A * untansi. 9 (1), 33Y40. tsai, M. t., Shis, CM, 2005. Pengaruh Etika Organisasi dan Etika Pada Konflik
Peran Di Antara Manajer Marjeting:Empiris
Investigasi. Jurnal Manajemen Internasional 22 (1), 54Y62. Yuresta, D., 2011. Analisis uas Motivasi, Stres, Reward dan Re *
a Kerja terhadap Kinerja auditor di Kantor A * untan ubli *. Tolaklah
tesis, Universitas Gajah Mada.