Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

BAYI DENGAN MECONIUM ASPIRATORY SINDROME (MAS)


DI RUANG NEONATUS
RS DR. HARYOTO LUMAJANG

I. Definisi
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) merupakan sekumpulan gejala yang
diakibatkan oleh terhisapnya cairan amnion mekonial ke dalam saluran pernafasan bayi.
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) adalah salah satu penyebab yang paling sering
menyebabkan kegagalan pernapasan pada bayi baru lahir aterm maupun post-term.
Kandungan mekonium antara lain adalah sekresi gastrointestinal, hepar, dan pancreas janin,
debris seluler, cairan amnion, serta lanugo. Cairan amnion mekonial terdapat sekitar 10-15%
dari semua jumlah kelahiran cukup bulan (aterm), tetapi SAM terjadi pada 4-10% dari bayi-
bayi ini, dan sepertiga diantara membutuhkan bantuan ventilator. Adanya mekonium pada
cairan amnion jarang dijumpai pada kelahiran preterm. Resiko SAM dan kegagalan
pernapasan yang terkait, meningkat ketika mekoniumnya kental dan apabila diikuti dengan
asfiksia perinatal. Beberapa bayi yang dilahirkan dengan cairan amnion yang mekonial
memperlihatkan distres pernapasan walaupun tidak ada mekonium yang terlihat dibawah
korda vokalis setelah kelahiran. Pada beberapa bayi, aspirasi mungkin terjadi intrauterine,
sebelum dilahirkan (Gomella, 2009)

II. Etiologi
Etiologi terjadinya sindroma aspirasi mekonium adalah cairan amnion yang
mengandung mekonium terinhalasi oleh bayi. Mekonium dapat keluar (intrauterin) bila
terjadi stres / kegawatan intrauterin. Mekonium yang terhirup bisa menyebabkan
penyumbatan parsial ataupun total pada saluran pernafasan, sehingga terjadi gangguan
pernafasan dan gangguan pertukaran udara di paru-paru. Selain itu, mekonium juga
berakibat pada iritasi dan peradangan pada saluran udara, menyebabkan suatu pneumonia
kimiawi (Clark, 2010)
efek
inflamasi mediator
dan (sitokin,
edema eikosanoid disfungsi
alveolar ) surfaktan
dan
parenkima
perubahan l
daya elastis
kebocoran
paru
protein ke
(peningkatan
dalam
resisten,
jalan nafas
penurunan
kompli ens) SA
M toksisitas
langsung
sumbatan
jalan nafas oleh
unsur
mekonium
efek hipoksemia
dalam intra vasokonstrik
uterin si pulmoner
(perubahan perubahan oleh karena
bentuk vaskuler komponen
reaktivitas
pulmonal, mekonium
pembuluh
perubahan darah paru
parenkimal paru)

Bagan 2.1 Etiologi Sindroma Aspirasi Mekonium (Clark, 2010)

III. FAKTOR RESIKO


Faktor resiko yang terkait kejadian SAM antara lain adalah kehamilan post-term,
pre-eklampsia, eklampsia, hipertensi pada ibu, diabetes mellitus pada ibu, bayi kecil masa
kehamilan (KMK), ibu yang perokok berat, penderita penyakit paru kronik, atau penyakit
kardiovaskular (Clark, 2010).

IV. PATOFISIOLOGI SINDROMA ASPIRASI MEKONIUM


Keluarnya mekonium intrauterine terjadi akibat dari stimulasi saraf saluran
pencernaan yang sudah matur dan biasanya akibat dari stres hipoksia pada fetus. Fetus yang
mencapai masa matur, saluran gastrointestinalnya juga matur, sehingga stimulasi vagal dari
kepala atau penekanan pusat menyebabkan peristalsis dan relaksasi sfingter ani, sehingga
menyebabkan keluarnya mekonium. Mekonium secara langsung mengubah cairan amniotik,
menurunkan aktivitas anti-bakterial dan setelah itu meningkatkan resiko infeksi bakteri
perinatal. Selain itu, mekonium dapat mengiritasi kulit fetus, kemudian meningkatkan
insiden eritema toksikum. Bagaimanapun, komplikasi yang paling berat dari keluarnya
mekonium dalam uterus adalah aspirasi cairan amnion yang tercemar mekonium sebelum,
selama, maupun setelah kelahiran. Aspirasi cairan amnion mekonial ini akan menyebabkan
hipoksia melalui 4 efek utama pada paru, yaitu: obstruksi jalan nafas (total maupun parsial),
disfungsi surfaktan, pneumonitis kimia dan hipertensi pulmonal(Clark, 2010)

Obstruksi jalan nafas


Obstruksi total jalan nafas oleh mekonium menyebabkan atelektasis. Obstruksi
parsial menyebabkan udara terperangkap dan hiperdistensi alveoli, biasanya termasuk efek
fenomena ball-valve. Hiperdistensi alveoli menyebabkan ekspansi jalan nafas selama
inhalasi dan kolaps jalan nafas di sekitar mekonium yang terinspirasi di jalan nafas,
menyebabkan peningkatan resistensi selama ekshalasi. Udara yang terperangkap
(hiperinflasi paru) dapat menyebabkan ruptur pleura (pneumotoraks), mediastinum
(pneumomediastinum), dan perikardium (pneumoperikardium) (Clark, 2010)

Disfungsi surfaktan
Mekonium menonaktifkan surfaktan dan juga menghambat sintesis surfaktan.
Beberapa unsur mekonium, terutama asam lemak bebas (seperti asam palmitat, asam oleat),
memiliki tekanan permukaan minimal yang lebih tinggi dari pada surfaktan dan
melepaskannya dari permukaan alveolar, menyebabkan atelektasis yang luas. (Clark, 2010)

Pneumonitis kimia
Mekonium mengandung enzim, garam empedu, dan lemak yang dapat mengiritasi
jalan nafas dan parenkim, mengakibatkan pelepasan sitokin (termasuk tumor necrosis factor
(TNF)-α, interleukin (IL)-1ß, I-L6, IL-8, IL-13) dan menyebabkan pneumonitis luas yang
dimulai dalam beberapa jam setelah aspirasi. Semua efek pulmonal ini dapat menimbulkan
gross ventilation-perfusion (V/Q) mismatch. (Clark, 2010)
Hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir
Beberapa bayi dengan sindroma aspirasi mekonium mengalami hipertensi pulmonal
persisten pada bayi baru lahir (persistent pulmonary hypertension of the newborn [PPHN])
primer atau sekunder sebagai akibat dari stres intrauterin yang kronik dan penebalan
pembuluh pulmonal. PPHN lebih lanjut berperan dalam terjadinya hipoksemia akibat
sindrom aspirasi mekonium (Clark, 2010)

V. PATHWAY

VI. GAMBARAN KLINIS


Di dalam uterus, atau lebih sering, pada pernapasan pertama, mekonium yang kental
teraspirasi ke dalam paru, mengakibatkan obstruksi jalan napas kecil yang dapat
menimbulkan kegawatan pernapasan dalam beberapa jam pertama setelah kelahiran dengan
gejala takipnea, retraksi, stridor, dan sianosis pada bayi dengan kasus berat. Obstruksi
parsial pada beberapa jalan napas dapat menimbulkan pneumothoraks atau
pneumomediastinum, atau keduanya. Pengobatan tepat dapat mencegah kegawatan
pernapasan, yang dapat hanya ditandai oleh takikardia tanpa retraksi. Pada kondisi gawat
nafas, dapat terjadi distensi dada yang berat yang membaik dalam 72 jam. Akan tetapi bila
dalam perjalanan penyakitnya bayi memerlukan bantuan ventilasi, keadaan ini dapat
menjadi berat dan kemungkinan mortalitasnya tinggi. Takipnea dapat menetap selama
beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Foto radiografi dada bersifat khas ditandai
dengan bercak-bercak infiltrat, corakan kedua lapangan paru kasar, diameter anteroposterior
bertambah, dan diafragma mendatar. Foto x-ray dada normal pada bayi dengan hipoksia
berat dan tidak adanya malformasi jantung mengesankan diagnosis sirkulasi jantung
persisten. PO2 arteri dapat rendah pada penyakit lain, dan jika terjadi hipoksia, biasanya ada
asidosis metabolik (Arvin, 2000)

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Rontgen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter antero
posterior, hiperinflation, flatened diaphragm akibat obstruksi dan terdapatnya
pneumothorax ( gambaran infiltrat kasar dan iregular pada paru )
2. Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik
dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2

VIII. DIAGNOSIS SINDROME ASPIRASI MEKONIUM


Diagnosis ditegakkan berdasarkan keadaan berikut:
1. Sebelum bayi lahir, alat pemantau janin menunjukkan bradikardia (denyut jantung
yang lambat)
2. Ketika lahir, cairan ketuban mengandung mekonium (berwarna kehijauan)
3. Bayi memiliki nilai Apgar yang rendah.
4. Dengan bantuan laringoskopi, pita suara tampak berwana kehijauan.
5. Dengan bantuan stetoskop, terdengar suara pernafasan yang abnormal (ronki kasar).
6. Pemeriksaan lainnya yang biasanya dilakukan: (1) Analisa gas darah (menunjukkan
kadar pH yang rendah, penurunan pO2 dan peningkatan pCO2); (2) Rontgen dada
(menunjukkan adanya bercakan di paru-paru).

IX. DIAGNOSA BANDING SINDROMA ASPIRASI MEKONIUM


a) Transient tachypnea of the newborn (TTN)
Gambaran radiografi sering menunjukkan patchy opacities yang disebabkan oleh
cairan pada paru yang dalam proses resorpsi. Foto radiografi kontrol akan menunjukkan
infiltrate yang menghilang, berbeda dengan sindrom aspirasi mekonium atau pneumonia.
b) Pneumonia neonatus
Terdapat patchy opacities yang berupa konsolidasi dan efusi pleura yang
ditemukan pada 2/3 kasus. Volume paru normal namun lapangan paru mungkin dapat
terjadi hyperinflated.
c) Respiratory distress syndrome
Pada gambaran radiologis, ditemukan gambaran radiopaque yang seragam,
ground-glass dan penurunan volume paru karena terjadi kolaps alveolus. Gambaran air
bronchogram juga dapat dilihat namun efusi pleura jarang terjadi. Sindrom ini biasanya
terjadi pada bayi preterm yang berbeda dengan sindroma aspirasi mekonium (Clark,
2010)

Untuk membedakan antara gambaran TTN, RDS, dan SAM, dapat dilihat pada
tabel dibawah:
Pembeda TTN RDS SAM
Etiologi Cairan paru persisten Defisiensi surfaktan Iritasi dan obstruksi
Paru belum paru
berkembang
sempurna
Waktu Kapan saja Preterm Aterm atau post-
persalinan term
Faktor resiko Section cessarea, jenis kelamin laki- Cairan amnion
makrosomia, jenis laki, diabetes pada mekonial, kelahiran
kelamin laki-laki, ibu, kelahiran post-term
asma pada ibu, preterm
diabetes pada ibu
Gambaran Takipneu, sering kali Takipneu, hypoxia, Takipneu, hipoxia
klinis tanpa hipoksia sianosis
maupun sianosis
Temuan infiltrat pada infiltrat homogenus, Patchy atelectasis,
radiologis parenkim, ”siluet air bronchogram, konsolidasi
toraks basah” di sekeliling penurunan volume
jantung, paru,
penumpukan cairan
intralobar
Terapi Suportif, oksigen Resusitasi, oksigen, Resusitasi, oksigen,
jika terjadi hipoksia ventilasi, surfaktan ventilasi, surfaktan
Pencegahan Kortikosteroid Kortikosteroid Jangan menunda
prenatal sebelum prenatal jika ada suctioning setelah
operasi sesar jika resiko kelahiran kelahiran,
usia kehamilan 37- preterm (usia amnioinfusi tidak
39 minggu kehamilan 24-34 bermanfaat
minggu)
Keterangan :
TTN = takipneu transien pada neonatus (transient tachypnea of the newborn = TTN);
SDR = sindroma distres respirasi (RDS = respiratory distress syndrome); SAM =
sindroma aspirasi mekonium (MAS = meconium aspiration syndrome)
Tabel 2.2 Perbedaan TTN, SDR, dan SAM (Clark, 2010)

X. PENATALAKSANAAN MEDIS
Tergantung pada berat ringannya keadaan bayi, mungkin saja bayi akan dikirim ke
unit perawatan intensif neonatal (neonatal intensive care unit [NICU]). Tata laksana yang
dilakukan biasanya meliputi :
1. Umum
Jaga agar bayi tetap merasa hangat dan nyaman, dan berikan oksigen.
2. Farmakoterapi
Obat yang diberikan, antara lain antibiotika. Antibiotika diberikan untuk mencegah
terjadinya komplikasi berupa infeksi ventilasi mekanik.
3. Fisioterapi
Yang dilakukan adalah fisioterapi dada. Dilakukan penepukan pada dada dengan
maksud untuk melepaskan lendir yang kental.
4. Pada SAM berat dapat juga dilakukan:
a. Pemberian terapi surfaktan.
b. Pemakaian ventilator khusus untuk memasukkan udara beroksigen tinggi ke
dalam paru bayi.
c. Penambahan nitrit oksida (nitric oxide) ke dalam oksigen yang terdapat di dalam
ventilator. Penambahan ini berguna untuk melebarkan pembuluh darah sehingga
lebih banyak darah dan oksigen yang sampai ke paru bayi.
Bila salah satu atau kombinasi dari ke tiga terapi tersebut tidak berhasil, patut
dipertimbangkan untuk menggunakan extra corporeal membrane oxygenation
(ECMO). Pada terapi ini, jantung dan paru buatan akan mengambil alih sementara
aliran darah dalam tubuh bayi. Sayangnya, alat ini memang cukup langka.

XI. ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN
PENGKAJIAN FISIK
 Riwayat antenatal ibu
Stress intra uterin
 Status infant saat lahir
1. Full-term, preterm, atau kecil masa kehamilan
2. Apgar skor dibawah 5
3. Terdapat mekonium pada cairan amnion
4. Suctioning, rescucitasi atau pemberian therapi oksigen
 Pulmonarry
1. Disstress pernafasan dengan gasping, takipnea (lebih dari 60 x pernafasan per
menit), grunting, retraksi, dan nasal flaring
2. Peningkatan suara nafas dengan crakles, tergantung dari jumlah mekonium dalam
paru
3. Cyanosis
4. Barrel chest dengan peningkatan dengan peningkatan diameter antero posterior
(AP)

PENGKAJIAN BEHAVIORAL
Disminished activity

STUDY DIAGNOSTIK

Rontqen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter antero


posterior, hiperinflation, flatened diaphragma dan terdapatnya pneumothorax.

DATA LABORATORIUM

Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik


dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Gangguan pertukaran gas
3. Risiko infeksi

3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


No Dx Keperawatan NOC NIC
1. Bersihan Jalan nafas tidak NOC : NIC :
efektif  Respiratory status : Airway suction
Ventilation  Pastikan kebutuhan oral /
 Respiratory status : tracheal suctioning
Airway patency  Auskultasi suara nafas
 Aspiration Control sebelum dan sesudah
suctioning.
Kriteria Hasil :  Informasikan pada klien
 Mendemonstrasikan dan keluarga tentang
batuk efektif dan suara suctioning
nafas yang bersih, tidak  Minta klien nafas dalam
ada sianosis dan dyspneu sebelum suction
(mampu mengeluarkan dilakukan.
sputum, mampu bernafas  Berikan O2 dengan
dengan mudah, tidak ada menggunakan nasal
pursed lips) untuk memfasilitasi
 Menunjukkan jalan nafas suksion nasotrakeal
yang paten (klien tidak  Gunakan alat yang steril
merasa tercekik, irama sitiap melakukan
nafas, frekuensi tindakan
pernafasan dalam rentang  Anjurkan pasien untuk
normal, tidak ada suara istirahat dan napas dalam
nafas abnormal) setelah kateter
 Mampu dikeluarkan dari
mengidentifikasikan dan nasotrakeal
mencegah factor yang  Monitor status oksigen
dapat menghambat jalan pasien
nafas  Ajarkan keluarga
bagaimana cara
melakukan suksion
 Hentikan suksion dan
berikan oksigen apabila
pasien menunjukkan
bradikardi, peningkatan
saturasi O2, dll.

Airway Management
 Buka jalan nafas,
guanakan teknik chin lift
atau jaw thrust bila perlu
 Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
 Identifikasi pasien
perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan
 Pasang mayo bila perlu
 Lakukan fisioterapi dada
jika perlu
 Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
 Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
 Lakukan suction pada
mayo
 Berikan bronkodilator
bila perlu
 Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl
Lembab
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan
status O2

2. Gangguan pertukaran gas NOC : NIC :


 Respiratory Status : Gas Airway Management
exchange  Buka jalan nafas,
 Respiratory Status : guanakan teknik chin lift
ventilation atau jaw thrust bila perlu
 Vital Sign Status  Posisikan pasien untuk
Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
 Mendemonstrasikan  Identifikasi pasien
peningkatan ventilasi perlunya pemasangan
dan oksigenasi yang alat jalan nafas buatan
adekuat  Pasang mayo bila perlu
 Memelihara kebersihan  Lakukan fisioterapi dada
paru paru dan bebas dari jika perlu
tanda tanda distress  Keluarkan sekret dengan
pernafasan batuk atau suction
 Mendemonstrasikan  Auskultasi suara nafas,
batuk efektif dan suara catat adanya suara
nafas yang bersih, tidak tambahan
ada sianosis dan  Lakukan suction pada
dyspneu (mampu mayo
mengeluarkan sputum,  Berika bronkodilator bial
mampu bernafas perlu
dengan mudah, tidak
 Barikan pelembab udara
ada pursed lips)
 Atur intake untuk cairan
 Tanda tanda vital dalam
mengoptimalkan
rentang normal
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan
status O2

Respiratory Monitoring
 Monitor rata – rata,
kedalaman, irama dan
usaha respirasi
 Catat pergerakan
dada,amati kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan
intercostal
 Monitor suara nafas,
seperti dengkur
 Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
 Catat lokasi trakea
 Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
 Auskultasi suara nafas,
catat area penurunan /
tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
 Tentukan kebutuhan
suction dengan
mengauskultasi crakles
dan ronkhi pada jalan
napas utama
 auskultasi suara paru
setelah tindakan untuk
mengetahui hasilnya

3. Risiko infeksi NOC : NIC :


 Immune Status Infection Control (Kontrol
 Knowledge : Infection infeksi)
control  Bersihkan lingkungan
 Risk control setelah dipakai pasien
Kriteria Hasil : lain
 Klien bebas dari tanda  Pertahankan teknik
dan gejala infeksi isolasi
 Mendeskripsikan  Batasi pengunjung bila
proses penularan perlu
penyakit, factor yang  Instruksikan pada
mempengaruhi pengunjung untuk
penularan serta mencuci tangan saat
penatalaksanaannya, berkunjung dan setelah
 Menunjukkan berkunjung
kemampuan untuk meninggalkan pasien
mencegah timbulnya  Gunakan sabun
infeksi antimikrobia untuk cuci
 Jumlah leukosit dalam tangan
batas normal  Cuci tangan setiap
 Menunjukkan perilaku sebelum dan sesudah
hidup sehat tindakan kperawtan
 Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat
pelindung
 Pertahankan lingkungan
aseptik selama
pemasangan alat
 Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
 Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
 Tingktkan intake nutrisi
 Berikan terapi antibiotik
bila perlu

Infection Protection
(proteksi terhadap infeksi)
 Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
 Monitor hitung
granulosit, WBC
 Monitor kerentanan
terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
 Partahankan teknik
aspesis pada pasien yang
beresiko
 Pertahankan teknik
isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
 Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka /
insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai
resep
 Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
 Ajarkan cara
menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan
infeksi
 Laporkan kultur positif

DAFTAR PUSTAKA
1. Arvin, B.K. diterjemahkan oleh Samik wahab. 2000. Nelson : Ilmu Kesehatan Anak. Vol.
1 Edisi 15. ECG : Jakarta. Halaman 600-601.
2. Clark, M.B. 2010. Meconium Aspiration Syndrome. www.medscape.com/ http:// portal
neonatal.com.br/outras-especialidades /arquivos/ Meconium Aspiration Syndrome.pdf
3. Gomella. 2009. Neonatology : Management Procedures Call Problems Sixth Edition.
Lange Clinical Science : New York.
4. Johnson, M.,et all, 2002, Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition,
IOWA Intervention Project, Mosby.
5. Mansjoer, A. (2001). Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta : Media Aesculapius FKUI
6. Mc Closkey, C.J., Iet all, 2002, Nursing Interventions Classification (NIC) second
Edition, IOWA Intervention Project, Mosby.
7. NANDA Internasional NURSING DIAGNOSES Definition & Classification 2012-2014.
. United States of America, Blackwell Publishing. 2012.