Anda di halaman 1dari 2

Diagnosis Klinis dan Tatalaksana

Hipoglikemia pada Pasien Diebetes Melitus


Gejala dan Tanda Klinis hipoglikemia pada pasien Diabetes Melitus dibagi menjadi 4 stadium

1. Stadium parasimpatik: lapar, mual, tekanan darah turun


2. Stadium gangguan otak ringan: lemah, lesu, sulit bicara, kesulitan menghitung
sementara
3. Stadium simpatik: keringat dingin pada muka, bibir atau tangan gemetar
4. Stadium gangguan otak berat: tidak sadar (dengan atau tanpa kejang)

Anamnesis pasien diabetes melitus dengan hipoglikemia sebaiknya didapatkan beberapa


informasi berikut

1. Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik oral: perlu ditanyakan dosis terakhir,
waktu pemakaian terakhir, perubahan dosis
2. Waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi
3. Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya
4. Lama menderita DM, komplikasi DM
5. Penyakit penyerta: ginjal, hati, dll.
6. Penggunaan obat sistemik lainnya: penghambat adrenergik beta, dll.

Beberapa hasil pemeriksaan fisik yang mungkin mendukung diagnosis klinis hipoglikemia dan
penting dalam merencanakan tatalaksana di antaranya adalah

1. Pasca pucat diaforesis


2. Kelianan Tekanan darah
3. Frekuensi denyut jantung meningkat
4. Penurunan kesadaran
5. Defisit neurologik fokal transien.

Trias Whipple dapat digunakan pedoman untuk membantu membedakan pasien hipoglikemia
atau penurunan kesadaran akibat etiologi yang lain. Trias whipple yang positif bisa digunakan
sebagai dasar untuk membuktikan adanya hipoglikemia

1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia


2. Kadar glukosa plasma rendah
3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat

Pemeriksaan Penunjang yang perlu diusulkan di antaranya

1. Kadar glukosa darah


2. Tes fungsi ginjal
3. Tes fungsi hati
4. Kadar C-Peptide

Diagnosis banding yang perlu dipikirkan kepada pasien yang dicurigai hipoglikemia adalah

1. Obat:
o Sering: alkohol,
o Kadang: kinin, pentamidine
o Jarang: salisilat, sulfonamid
2. Hiperinsulinisme endogen: insulinoma, autoimun, sekresi insulin ektopik
3. Gagal ginjal, sepsis, starvasi, gagal hati, gagal jantung
4. Defisiensi endokrin: krotisol, growth hormone, glukagon, epinefrin
5. Tumor non-sel: sarkoma, tumor adrenokortikal, hepatoma, leukimia, limfoma, melanoma
6. Pasca-prandial: reaktif (setelah operasi gaster), diinduksi alkohol