Anda di halaman 1dari 56

Referat

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA ANAK USIA


SEKOLAH (6-12 TAHUN)

Oleh:
Anatharao A/L Subramaniam 1740312421
Khayyirannisa Sitismart 1740312216
Zahara Bunga Hadikusuma 1740312240
Metika Rahmasari 1740312268
Aldian Mulyanto Lokaria 1740312295
Ummu Hani 1740312300
Annisa Fauziah 1840312285
Cut Mutia Indra 1840312015
Chintia Amalia 1840312283

Preseptor:
Dr. dr. Eva Chundrayetti, Sp.A(K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUP DR. M DJAMIL PADANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 2
1.2 Tujuan Penulisan 2
1.3 Batasan Masalah 2
1.4 Manfaat Penulisan 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi 3
2.2 Tumbuh Kembang Normal Anak Usia 6 sampai 12 Tahun 4
2.2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik Anak 5
Usia 6-12 Tahun
2.2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Kognitif, Sosial, 7
dan Moral Anak Usia 6-12 Tahun
2.4 Gangguan Belajar 12
2.4.1 Gangguan Membaca 12
2.4.2 Gangguan Matematika 19
2.5 Gangguan Perkembangan Motorik 24
2.6 Gangguan Perkembangan Bahasa 28
2.7 Gangguan Perkembangan Pervasif 34
2.8 Gangguan Perkembangan Sosial, Emosi dan Perilaku 40
2.9 Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas 43
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 50
DAFTAR PUSTAKA 51

1
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut pasal 1 ayat (1) Undang-Undang nomor 23 tahun 2002, anak adalah
seseorang yang belum berumur 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam
kandungan.1 Anak usia sekolah merupakan anak yang berumur 6-12 tahun.2
Pertumbuhan merupakan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau
dimensi tingkat sel, organ, maupun individu, yang bisa diukur. Sedangkan
perkembangan (development) adalah bertambahanya kemampuan (skill) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.2
Tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi
biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang merupakan hasil
interaksi dari berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik,
lingkungan, biopsikososial, dan perilaku. 2
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada usia sekolah
diantaranya gangguan pertumbuhan, gangguan perkembangan motorik, gangguan
perkembangan bahasa, gangguan belajar, gangguan spektrum autime, serta
gangguan sosial emosi dan perilaku. 3

1.2 Tujuan Penulisan


Penulisan referat ini bertujuan untuk memahami, menambah pengetahuan, dan
mengetahui cara mendeteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada
anak usia sekolah.

1.3 Batasan Masalah


Batasan penulisan referat ini membahas mengenai definisi, klasifikasi,
epidemiologi, etiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis,
penatalaksanaan, pencegahan, komplikasi, dan prognosis gangguan pertumbuhan
dan perkembangan pada anak usia sekolah.

2
1.4 Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan yang
merujuk pada berbagai literatur.

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Usia sekolah (6 – 12 tahun) merupakan periode dimana anak mulai terpisah dari
orang tua dan mencari penerimaan dari guru, orang dewasa lain, dan teman
sebayanya. Pada usia ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada anak.
Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi
saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan ukuran, besar,
jumlah, atau dimensi pada tingkat sel, organ, maupun individu. Pertumbuhan
bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram),
satuan panjang (cm, m), umur tulang, dan keseimbangan metabolik (retensi
kalsium dan nitrogen dalam tubuh). 4,5
Pertumbuhan mempunyai ciri-ciri khusus, yaitu perubahan ukuran, perubahan
proporsi, hilangnya ciri-ciri lama, serta munculnya ciri-ciri baru. Keunikan
pertumbuhan adalah mempunyai kecepatan yang berbeda-beda di setiap kelompok
umur dan masing-masing organ juga memiliki pola pertumbuhan yang berbeda.
Terdapat 3 periode pertumbuhan cepat yaitu masa janin, masa bayi 0-1 tahun, dan
masa pubertas. 5
Perkembangan (development) adalah pertambahan kemampuan struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan menyangkut adanya proses
diferensiasi sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang berkembang sedemikian
rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya.5
Proses perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan, sehingga
setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan merupakan
hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang
dipengaruhinya. Perkembangan fase awal meliputi beberapa aspek kemampuan
fungsional, yaitu kognitif, emosi, sosial, dan bahasa. Perkembangan pada fase
awal ini akan menentukan perkembangan fase selanjutnya. Kekurangan pada
salah satu aspek perkembangan dapat mempengaruhi aspek lainnya. 5

4
2.2 Tumbuh Kembang Normal Anak Usia 6 sampai 12 Tahun
Secara ringkas, milestone normal perkembangan anak usia 6 sampai 12 tahun
terdapat pada tabel 2.1.25
Tabel 2.1 Milestone Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 6 sampai 12
Tahun25
Fisik Kognitif Sosial Emosional
 Pertumbuhan yang  Dapat  Pertemanan mulai  Percaya diri
lambat namun berkomunikasi terbentuk  Dapat membuat
tetap: 7-10 cm tiap dengan orang lain  Mengerti konsep strategi untuk
tahun  5-8 tahun: dapat salah dan benar mengatasi frustasi
 Menggunakan memahami  5-6 tahun: dan mengutarakan
aktifitas fisik untuk perspektif orang mengerti suatu emosi
mengembangkan lain peraturan dapat  Sensitif terhadap
kemampuan  8-10 tahun: dapat diubah opini orang lain
motorik kasar dan mengetahui  7-8 tahun:  6-9 tahun: mulai
halus perbedaan sikap mematuhi suatu ada ketertarikan
 Kemampuan seseorang atau peraturan lebih mengenai topik
motorik dan kemauan seseorang baik reproduksi
perseptual lebih  10-11 tahun: dapat  9-10 tahun:  10-12 tahun: mulai
terintegrasi dengan mengetahui cara negosiasi peraturan ketertarikan
baik pandang orang lain  Mengerti peran kepada lawan jenis
 10-12: mulai  Persepsi akurat: sosial dan dapat
pubertas rasional, logis, beradaptasi dengan
dapat berpikir berbagai situasi
konkrit, dapat  Mengambil
mengetahui tanggung jawab
kesalahan  Lebih banyak
 Mengerti konsep bermain olah raga
ruang, waktu, dan dan lain-lain
dimensi  Moral:
 Dapat mengingat menghindari
hari penting pada hukuman
satu bulan atau
tahun
 Coping yang lebih
baik
 Mengerti
bagaimana
sikapnya dapat
memengaruhi
orang lain

5
2.2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik Anak Usia 6-12 Tahun
Pada masa ini terdapat penambahan berat badan sebesar 3-3,5 kg dan 6-7 cm
pertahun. Pertumbuhan ini terjadi tidak beraturan dan bervariasi masing-
masing individu. Pertumbuhan otak mulai melambat, ditandai dengan
pertambahan lingkar kepala hanya 2-3 cm pada periode ini. Mielinisasi akan
sempurna pada usia 7 tahun. Tubuh anak akan tampak lebih tegap, dimana
anggota gerak lebih panjang dibandingkan batang tubuhnya.4,8 Pada usia 6-8
tahun dimulai sekresi androgen oleh kelenjer adrenal.

Gambar 2.3 Laju Perkembangan Pertumbuhan dan Produksi Hormon Seks8

Stamina, kekuatan otot, dan kemampuan koordinasi anggota tubuh


meningkat dengan progresif sehingga dapat mulai melakukan gerakan-
gerakan sulit seperti menari atau melempar bola, dan lain sebagainya. Namun,
kemampuan ini bervariasi tiap anak, tergantung latihan yang dilakukan oleh
anak tersebut.4,8 Secara bersamaan juga mulai terbentuk akumulasi lemak
atau adiposity rebound yang berbeda antara perempuan dan laki-laki.8
Persepsi terhadap tubuhnya mulai terbentuk pada periode ini. Anak usia 5
atau 6 tahun bahkan sudah mulai merasakan jika ada hal yang tidak
memuaskan pada tubuhnya seperti terlihat lebih gendut atau kurus. Pada akhir
fase ini, tahapan pubertas juga sudah dimulai. Pada tahap ini, organ kelamin

6
tetap belum matur, namun secara emosional, anak mulai merasakan
ketertarikan terhadap lawan jenisnya.4

Tabel 2.2 Perkembangan yang Terjadi pada Usia 6-12 Tahun8


Erupsi molar permanen
Pacu tumbuh menengah, diikuti penurunan
pertumbuhan skeletal
Peningkatan massa otot
Peningkatan adiposa dan body mass index (BMI) atau
Pertumbuhan badan disebut periode adiposity rebound
Mulai tumbuhnya rambut aksila dan adanya bau badan
Peningkatan perbedaan perlemakan tubuh (perempuan
lebih banyak dari laki-laki), kekuatan tulang, dan otot
(laki-laki lebih kuat)
Perbedaan suara berdasarkan jenis kelamin
Mencapai puncak volume otak secara umum
Puncak dari volume substansia grisea
Pertumbuhan otak
Peningkatan menetap dari substansia alba secara
terintegritas
Peningkatan kemampuan motorik kasar (seperti
Kemampuan motorik berjalan, berlari)
dan perseptual Peningkatan kemampuan motorik halus
Perubahan lokal-global dalam proses persepsi visual
Peningkatan kemampuan problem solving
Peningkatan kemampuan pengontrolan diri dan fungsi
eksekutif (seperti inhibisi, atensi, perencanaan)
Kemampuan kognitif Peningkatan kemampuan mentalisasi (misalnya
persepsi multipel, mempunyai target-target tertentu)
Peningkatan kemampuan navigasi (memahami cara
baca peta)
Motivasi dan sikap Memahami norma-norma budaya

7
sosial Penalaran moral yang lebih kompleks
Peningkatan kemampuan pragmatis (seperti
storytelling, debat, dan lain-lain)
Konsolidasi hirarki status atau kekuasaan
Perubahan level agresi
Mulai terbentuk rasa tidak suka atau jijik akan suatu
hal
Perubahan pemilihan makanan
Onset ketertarikan seksual
Peningkatan kesadaran akan perbedaan jenis kelamin
Puncak segregasi seksual
Puncak perbedaan peran menurut jenis kelamin dalam
kehidupan sosial
Peningkatan perbedaan agresi fisik (laki-laki lebih
dibandingkan perempuan)
Munculnya style yang berbeada antara laki-laki dan
perempuan
Onset puncak pertama psikopatologi (ansietas, fobia,
ADHD, dan lain-lain)
Psikopatologi Onset puncak karakter pemujaan
Munculnya perbedaan gangguan sikap antar laki-laki
dan perempuan
Mulai terlibat dalam mengasuh, membantu orang
dewasa, dan lain-lain
Konteks sosial
Ekspektasi sikap yang bertanggung jawab
Adanya keinginan untuk dikenal atau dipuji
Peningkatan kemampuan linguistik dan inteligensi
yang bersifat keturunan
Perilaku genetik Adanya pengaruh genetik baru pada intelegensi secara
umum, kemampuan berbahasa, agresi, dan
kemampuan sosial

8
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya adrenarche terjadi pada masa
ini. Hal ini merupakan suatu hal khusus yang terjadi pada masa ini. Androgen
mulai dibentuk oleh kelenjar adrenal terutama dehydroepiandrosterone
(DHEA) dan dehydroepiandrosterone sulphate (DHEAS). Hormon ini hanya
sedikit memengaruhi perubahan dan perkembangan fisik, namun berdampak
besar pada fungsi otak. Bentuk androgen ini, akan dibentuk menjadi estrogen
atau testosteron di otak.8

2.2.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Kognitif, Sosial, dan Moral Anak


Usia 6-12 Tahun
Periode usia 6 sampai 12 tahun adalah periode dimana anak menjadi lebih
terpapar dengan dunia sosial dan mulai mempelajari skill yang akan berguna
untuk masa dewasanya nanti. Pada masa ini, anak mulai lebih menyadari
norma kebudayaan, aturan, dan hukum-hukum yang ada di masyarakat dan
mulai terjadi perubahan dari hubungan dengan orang tua menjadi hubungan
dengan orang lain dan teman sejawatnya terutama pada usia 12 tahun.4,6,7,8
Stadium ini adalah stadium human juvenility dimana seorang manusia secara
fisik masih imatur, namun sudah mulai tidak bergantung pada orang tuanya
untuk dapat bertahan hidup.8
Kemampuan kognitif dan linguistik yang diperoleh pada masa ini adalah
sebagai berikut:6
a. Dapat mengatur diri sendiri dan selective attention
b. Gist-based memory: dapat memahami apa yang telah dipelajari dan apa
yang terjadi
c. Dapat menggunakan skill untuk meningkatkan daya ingat lebih baik
d. Dapat mengatur waktu dan orientasi ruang
e. Kategorisasi benda-benda
f. Peningkatan kapasitas untuk memahami informasi dari yang didengar
dan yang dilihat
g. Metacognition dimana anak dapat memonitor tindakan dan pikirannya
sendiri
h. Adanya skill berhitung dan bahasa

9
i. Kosakata mencapai 10.000 kata
j. Terdapat peningkatan skill berbahasa
Kemampuan sosial, emosional, dan sikap pada usia ini adalah:6
a. Percaya diri dan mengetahui kelebihan diri sendiri
b. Dapat mengontrol diri lebih baik
c. Menyadari perbedaan jenis kelamin dan perannya masing-masing
d. Adanya peningkatan perkembangan emosional dan kemampuan coping
e. Mulai berempati dan tumbuhnya moral
f. Adanya suasana pertemanan dan mulai mempercayai temannya
g. Mulai terbentuk ketertarikan pada lawan jenis
Menurut Erik Erikson, pada usia 6 hingga 12 tahun sudah harus terbentuk
”sense of industry” dan mulai bekerjasama dengan rekan-rekannya dan orang
dewasa yang ada disekitarnya. Jika hal ini tidak terbentuk, maka anak tersebut
akan mengalami ”sense of inferiority” dimana akan berdampak buruk pada
kecerdasan, emosional, dan interpersonal di masa depan anak tersebut.
Contoh dampak dari sense of inferiority ini adalah ketika seorang anak tidak
memiliki kompetensi di bidang akademik, sosial, ataupun hal lain selama
masa sekolah dasar, anak tersebut akan menjadi depresi dan lebih ingin
menyendiri, serta lebih mudah marah dan cenderung agresi.4,7
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak pada usia 6 sampai 12
tahun memiliki peningkatan kemampuan belajar dan memahami. Mereka
mulai mencontoh pola perilaku orang dewasa disekitarnya dan mendapatkan
serta menempa kemampuan sosial dimana hal-hal yang terjadi di sekitar anak
tersebut menjadi pembelajaran untuk meningkatkan skill yang nantinya dapat
berguna di masa depan. Hal ini menyebabkan anak mulai mengatur
rencananya, mengkoordinasikan aksi, mengevaluasi hal yang telah terjadi,
kemudian mengubah rencana dan strategi berdasarkan evaluasinya.7,8

2.2.2.1 The Developmental Switch


Switch ini terjadi terutama akibat adanya adrenarche. Kejadian ini
dipengaruhi juga oleh lingkungan sekitar seorang anak. Sebagai contoh,
developmental switch akan meregulasi sifat agresi seorang anak dimana anak

10
yang dibesarkan dalam suasana yang aman akan mempunyai sifat agresi yang
lebih rendah dibandingkan anak yang lingkungannya penuh tekanan. Hal ini
dikarenakan organisme secara umum akan berespon terhadap input yang
didapatkan dari lingkungannya. Fenotip keluaran dari developmental switch
ini selain menggambarkan input lingkungan, juga dipengaruhi oleh genetik.

Gambar 2.1 Konsep Developmental Switch8

Developmental switch ini terutama akan menggambarkan perilaku


dewasa seorang anak. Oleh karena itu, input yang didapat pada masa ini
sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Seperti yang
dijelaskan sebelumnya, karakter anak akan dipengaruhi oleh genetik dan
lingkungan tempat seorang anak dibesarkan, termasuk tingkat bahaya
lingkungannya. Suatu contoh umum lain adalah anak yang dibesarkan dalam
situasi berbahaya dan tidak dapat ditebak akan membentuk karakter yang
dapat memecahkan masalah dalam waktu singkat, namun sifat anak lebih
impulsif, suka melakukan hal beresiko, agresif, dan kemungkinan eksploitatif

11
lebih tinggi. Sedangkan anak yang dibesarkan dalam situasi yang aman dan
dapat ditebaknya akan membentuk karakter yang lebih lambat dalam
pemecahan masalah, namun lebih stabil, dapat mengontrol diri, dan prososial.
Karena informasi-informasi lingkungan dan genetik yang didapat seorang
anak akan menentukan perilaku masa depannya nanti, oleh karena itu masa
ini disebut sebagai developmental switch point.

Gambar 2.2 Perkembangan Terintegrasi pada Usia 6-12 Tahun8

2.2.2.2 Perluasan Dunia Sosial


Salah satu hal utama yang mulai terjadi pada usia 6 sampai 12 tahun
adalah mulai berkurangnya supervisi orang tua dan waktu bersama orang tua.1
Pada masa ini akan terjadi interaksi lebih luas dengan lingkungan sekitar,
seperti mulai adanya guru-guru les, pelatih-pelatih olahraga, instruktur,
pimpinan organisasi, dan lain-lain. Hal ini memaparkan anak-anak kepada
perbedaan kebiasaan di suatu kelompok etnis, agama, dan lain-lain. Selain itu,
anak-anak juga mengobservasi orang dewasa yang ada disekitarnya dan
mempelajari bagaimana hubungan interpersonal dan sikap yang diambil oleh
orang tersebut.7
Pada usia ini, dengan banyaknya interaksi dengan rekan-rekan seusianya,
anak-anak mulai memahami esensi pertemanan dan mulai mengatur diri
untuk menumbuhkan pemahaman terhadap temannya dan rasa ingin saling
membantu. Pada saat yang sama, anak-anak mulai merasa ingin diterima oleh
suatu kelompok di sekitarnya.2 Biasanya anak-anak akan membentuk
kelompok berdasarkan kesamaan jenis kelamin.4

12
2.2.2.3 Program Sekolah Formal
Perbedaan usia 6 sampai 12 tahun atau yang disebut middle school year
dengan preschool year adalah ketika anak masuk sekolah, mereka mendapat
kebebasan lebih karena tidak adanya pengawasan orang tua. Namun pada saat
yang sama, mereka harus dapat mengontrol diri sendiri dengan lebih baik.
Selain itu, pada masa ini anak-anak mulai mendapatkan tekanan dari orang
tua dan sekitarnya dimana mereka merasakan tekanan ekspektasi orang tua
dan lingkungan.7

2.3 Gangguan Pertumbuhan Fisik


Bentuk gangguan fisik yang banyak ditemukan pada siswa sekolah dasar
adalahgangguan penglihatan, pendengaran, dan luka tubuh. Gangguan
penglihatan, seringdisebut myopia.21,22,23
Di Amerika Serikat gangguan ini memengaruhi sekitar 25% populasi siswa
sekolah dasar dengan kecenderungan lebih tinggi pada anak perempuan
dibandingkan anak laki-laki, dan dua kali lebih banyak pada anak kulit putih
daripada anak kulit hitam. Diantara faktor pengalaman yang menyebabkan myopia
antara lain adalah seringnya anak membaca (belajar) di bawah lampu yang sangat
terang (silau) atau melihat TV terlalu dekat. Semakin banyak waktu
yangdigunakananak untuk membaca, khususnyadengan jarak yang sangat dekat,
semakin besar peluang mereka terkena gangguan myopia. Jadi, anak-anak yang
senang membaca, renang, atau melukis sangat berpeluang mengalami
myopia.Berkaitan dengan kasus ini para guru dan pembimbing dapat melakukan
upaya-upaya pencegahan untuk menghindarkan anak dari jenis gangguan ini.
21,22,23

Anak-anak sekolah dasar juga sering mengalami gangguan pendengaran.


Gangguan ini seringkali disebabkan karena tabung Eustachian menjadi lebih
panjang dan menyempit sehingga merintangi perjalanan (aliran) cairan dan bakteri
dari mulut ke telinga. Akibatnya telinga seringkali mengalami infeksi. Jika infeksi
ini tak segera diatasi, maka anak akan mengalami gangguan pendengaran yang
permanen. Menurut penelitian, gangguan ini dialami oleh kira-kira 3-4 persen
dari seluruh siswa sekolah dasar, dan banyak dialami oleh anak-anak dari keluarga

13
dengan penghasilan rendah Pemeriksaan secara teratur terhadap penglihatan dan
pendengaran adalah sangat penting sehingga adanya kelainan segera dapat
dikenali dan ditangani sebelum gangguan itu benar-benar menyebabkan kesulitan
belajar yang serius bagi anak. 21,22,23
Beberapa anak usia sekolah dasar juga banyak ditemukan memperlihatkan
pertumbuhan fisik yang lambat, tampak kurus, lemah, dan tak bertenaga.
Kesalahan atau kekurangan nutrisi, atau pemberian makanan yang kurang bergisi
menjadi salah satu faktor penyebab utama dari gangguan ini. Anak-anak sekolah
dasar membutuhkan nutrisi yang baik agar mereka mendapat gisi yang memadai
guna menghasilkan energi yang mencukupi untuk berbagai kegiatan fisik dan
mental. Suplai energi ini sangat penting bagi anak-anak usia sekolah dasar karena
selaras dengan tugas perkembangannya - mereka menyenangi berbagai aktivitas
bermain dan berteman. Sepanjang orang tua dapat pola makan yang sehat pada
anak-anak, kesibukan anak sehari-hari tida akan memberikan dampak negatif pada
perkembangan. Sayangnya, banyak anak-anak di berbagai belahan dunia tidak
memperoleh nutrisi yang mencukupi da kekurangan gizi. Kekurangan nutrisi dan
gizi buruk yang terjadi pada usia sekolah dasar ini sangat potensial menghambat
pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, buruknya koordinsi motorik, dan
kurang perhatian. Ini tentu saja memberikan dampak buruk pada kinerja dan hasil
belajar. Beberapa hasil penelitian telah memberikan bukti- bukti empirik bahwa
pengaturan pola makan (diet ) memberikan pengaruh pada proses neurotransmitter
dalam otak dan ini tentu saja memberikan dampak negatif pada belajar dan
perilaku karena berbagai aktivitas fisik dan mental dikendalikan oleh kerja otak.
21,22,23

2.4 Gangguan Belajar


2.4.1 Gangguan Membaca
Gangguan membaca ditandai oleh gangguan kemampuan untuk
mengenali kata, membaca yang lambat dan tidak tepat, dan pemahaman yang
buruk tanpa adanya kecerdaan yang rendah atau defisit sensorik yang
bermakna. Gangguan masa anak-anak yang relatif sering pada usia sekolah
tampaknya berjalan dalam keluarga dan sering disertai dengan gangguan

14
ekspresi tulisan, gangguan matematika, atau salah satu gangguan komunikasi.
Disamping itu, anak-anak dengan gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas
memiliki risiko tinggi untuk gangguan membaca. Selama bertahun-tahun,
berbagai label telah digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan
membaca, termasuk disleksia, keterbelakangan membaca, ketidakmampuan
belajar, aleksia, dan kebutaan kata perkembangan. Istilah disleksia telah
digunakan secara luas selama bertahun-tahun untuk menggambarkan sindrom
ketidakmampuan membaca yang sering termasuk defisit bicara dan bahasa
dan kebigungan kanan dan kiri (right-left confusion). Saat menjadi jelas
bahwa gangguan membaca sering kali disertai oleh ketidakmampuan dalam
keterampilan akademik lain, pemakaian istilah disleksia dihilangkan, dan
istilah umum seperti gangguan belajar mulai digunakan.12
Pada dasarnya, pencapaian membaca dibawah tingkat yang diharapkan
untuk usia, pendidikan, dan kecerdasan anak, dan gangguan cukup bermakna
mempengaruhi keberhasilan akademik atau aktivitas harian yang melibatkan
membaca. Menurut DSM-IV, jika ditemukan suatu kondisi neurologis atau
gangguan sensorik, derajat ketidakmampuan membaca yang ditunjukkan
adalah memelbihi yang biasanya menyertai kondisi tersebut. 12

2.4.1.1 Epidemiologi Gangguan Membaca


Diperkirakan 4% anak usia sekolah di Amerika Serikat memiliki
gangguan membaca; penelitian prevalensi menemukan angka yang terentang
antara 2-8%. 3-4 kali lebih banyak anak laki-laki dibandigkan anak
perempuan yang dilaporkan memiliki ketidakmampuan membaca di sekolah
dan sampel yang dirujuk secara klinis. Angka untuk anak laki-laki mungkin
meningkat, karena anak laki-laki dengan gangguan membaca condong
duiambil karena kesulitan perilaku yang lebih banyak. Orang dewasa dengan
keterbelakangan membaca atau retardasi membaca tidak menunjukkan
perbedaan jenis kelamin dalam frekuensi gangguan. 12

15
2.4.1.2 Etiologi Gangguan Membaca
Tidak ada penyebab tunggal yang diketahui untuk gangguan membaca
karena banyak disertai gangguan belajar dan kesulitan berbahasa, gangguan
membaca kemungkinan adalah multifaktorial. Satu penelitian terakhir
menemukan adanya hubungan antara disleksia dan kelahiran di bulan Mei,
Juni, dan Juli yang mengarahkan bahwa pemaparan pranatal dengan penyakit
infeksi maternal seperti influenza, dalam musim dingin mungkin berperan
dalam gangguan membaca. 12
Gangguan membaca cenderung lebih menonjol diantara anggota keluarga
orang yang terkena dibandingkan dalam populasi umum,yang menyebabkan
anggapan bahwa gangguan mungkin memiliki asal genetik. Tetapi penelitian
keluarga dan anak kembar tidak melengkapi bukti definitif yang mendukung
teori tersebut. 12
Penelitian tahun 1930-an berusaha untuk menjelaskan ganguan membaca
dengan model fungsi hemisferik serebral, yang menyatakan korelasi positif
gangguan membaca dan tangan kiri, mata kiri, atau lateralitas campuran.
Tetapi penelitian epidemiologis selanjutnya tidak menemukan hubungan
konsisten antara gangguan membaca dan lateralitas tangan dan mata. Tetapi,
kebingungan antara kanan dan kiri (right-left confusion) telah ditunjukkan
berhubungan dengan kesulitan membaca. Pembalikan asimetri serebrl dapat
menyebabkan pemindahan lateralisasi bahasa ke hemisfer serebral yang
kurang berdiferensiasi untuk mengakomodasi fungsi bahasa, dengan
demikian menyebabkan gangguan bahasa. Beberapa penelitian terakhir (CT
Scan, MRI, dan otopsi) telah menunjukkan simetrisitas abnormal pada lobus
temporalis dan parietalis orang dengan gangguan membaca. 12
Banyak yang menghubungkan otak yang cukup matur dan cukup utuh
untuk mengintegrasikan informasi yang datang dari berbagai sistem
pemproses dan menyisihkan stimuli yang mengganggu ke latar belakang.
Disamping itu, membaca memerlukan kebebasan yang cukup dari konflik
untuk memungkinkn penanaman energi dalam pekerjaan dan suatu sistem
sosiokultural yang memandang membaca sebagai dasar untuk bertahan hidup.

16
Insidensi tinggi gangguan membaca cenderung ditemukan pada anak-
anak dengan palsi serebral yang memiliki kcerdasan normal. Insidensi
gangguan membaca yang agak tinggi ditemukan diantara anak epileptik.
Komplikasi selama kehamilan, kesulitan pranatal dan pascanatal termasuk
prematuritas, dan berat badan lahir rendah adalah sering ditemukan dalam
riwayat anak dengan gangguan membaca. 12
Gangguan membaca sekunder mungkin ditemukan pada anak-anak
dengan lesi otak pascanatal di lobus oksipitalis kiri yang menyebabkan
kebutaan lapangan pandang kanan. Gangguan mungkin juga ditemukan pada
anak-anak dengan lesi di splenum korpus kalosum yang menghambat
transmisi informasi visual dari hemisfer kanan yag intak ke area bahasa di
hemisfer kiri. 12
Gangguan membaca mungkin merupaka salah satu manifestasi dari
keterlambatan perkembangan atau keterlambatan maturaional. Peranan
temperamental telah dilaporkan berhubungan erat dengan gangguan
membaca. Dibandingkan dengan anak-anak tanpa gangguan membaca, anak-
anak dengan gangguan membaca seringkali memiliki lebih banyak kesulitan
dalam memusatkan perhatian dan memiliki rentang perhatian yang pendek.
Beberapa penelitian menunjukkan suatu hubungan antara malnutrisi dan
fungsi kognitif. Anak-anak yang kekurangan gizi untuk jangka waktu yang
lama selama masa anak-anak awal menunjukkan kinerja dibawah rata-rata
dalam berbagai tes kognitif. Kinerja kognitifnya adalah lebih rendah dari
sanak saudara mereka yang tumbuh dalam lingkuangan keluarga yang sama
tetapi yang tidak megalami malutrisi dengan derajat yang sama. 12
Gangguan membaca berat seringkali disertai dengan masalah psikiatrik.
Gangguan membaca mungkin merupakan akibat gangguan psikiatrik yang
telah ada sebelumnya atau menyebabkan gangguan emosional dan perilaku,
tetapi tidak selalu mudah untuk memastikan hubungan sebab akibat antara
ganguan membaca dan gangguan psikiatrik yang terjadi bersama-sama.12

17
2.4.1.3 Diagnosis Gangguan Membaca
Ciri diagnostik utama gangguan membaca adalah pencapaian membaca
yang jelas dibawah kapasitas intelektual seseorang. Ciri karakteristik lain
adalah keulitan dalam mengingat, evokasi, dan mengikuti huruf dan kata yang
dicetak, dalam memproses kontruksi tata bahasa yang sulit, dan dengan
membuat kesimpulan. Secara klinis, pengamat terkesan oleh interaksi antara
ciri emosional dan spesifik. Pengalaman kegagalan di sekolah tampaknya
menegakkan keraguan yang ada sebelumnya yang dimiliki beberapa anak
tentang dirinya sendiri. Energi beberapa anak adalah sangat terikat pada
konflik psikologisnya sehingga mereka tidak mampu menggunakan
kemampuan.

Tes Psikoedukasional
Disamping tes kecerdasan baku, tes diagnostik psikoedukasional harus
dilakukan. Kumpulan diagnostik dapat termasuk tes pengejaan baku, menulis
suatu komposisi, memproses dan menggunakan bahasa oral, dan mencontoh
rancangan, suatu pertimbangan keadekuatan penggunaan pensil. Kumpulan
skrining proyektif dapat termasuk menggambar tokoh manusia, tes
mengisahkan gambar, dan melengkapi kalimat. Pemeriksaan harus juga
termasuk pengamata sistematik dari variabel perilaku.

2.4.1.4 Gambaran Klinis Gangguan Membaca


Gangguan membaca biasanya tampak pada usia 7 tahun (kelas 2). Pada
kasus berat, bukti-bukti kesulitan membaca mungkin tampak pada umur 6
tahun (kelas 1). Kadang-kadang gangguan membaca terkompensasi pada
tingkat dasar awal, terutama jika disertai dengan skor tinggi pada tes
kecerdasan. Pada kasus tersebut gangguan mungkin tidak terliat sampai umur
9 tahun (kelas 4) atau lebih lambat.
Anak dengan gangguan membaca membua banyak kesalahan dalam
membaca oralnya. Kesalahan membaca ditandai oleh menghilangkan,
menambahkan, atau penyimpangn kata. Anak-anak tersebut memiliki
kesulitan dalam membedakan antar kerakter dan ukuran huruf yang tercetak,

18
terutama yang dibedakan hanya oleh orientasi ruang dan panjang garis.
Masalah dalam menangani bahasa tercetak atau tertulis mungkin terbatas
pada huruf tertentu, kalimat, dan bahkan seluruh halaman. Kecepatan
membaca anak adalah lambat, sering kali dengan pemahaman yang minimal.
Sebagian besar anak dengan gangguan membaca memiliki kemampuan
menyalin dari tesk tertulis atau tercetak yang sesuai dengan usianya, tetapi
hampir semuanya adalah pengeja yang buruk.
Masalah penyerta adalah kesulitan bahasa, yang terlihat sebagai
gangguan diskriminasi bunyi dan kesulitan dalam mengurutkan kata dengan
tepat. Anak dengan gangguan membaca mungkin memulai huruf di
pertengahan atau pada akhir kalimat yang teretak atau tertulis. Kadang-
kadang anak tersebut memindahkan huruf yang akan dibaca krena buruknya
pencapaian pengurutan kiri ke kanan. Kegagalan dalam mengingat dan
menemukan yang menetap menyebabkan peringatan nama dan bunyi huruf
yang buruk.
Sebagian besar anak dengan gangguan membaca tidak menyukai
membaca dan menulis dan menghindarinya. Kecemasan mereka meningkat
jika mereka dihadapkan dengan tuntutan yang melibatkan bahasa tertulis.
Sebagian besar anak dengan gangguan membaca yang tidak
mendapatkan pendidika pengobatan memiliki rasa malu dan rendah diri
karena kegagalan mereka yang terus menerus dan frustasi. Perasaan tersebut
menjadi semakin kuat dengan berjalannya waktu. Anak yang lebih besar
cenderung marah dan terdepresi dan mereka menunjukkan harga diri yang
buruk.

2.4.1.5 Diagnosis Banding Gangguan Membaca


Defisit dalam bahasa ekspresif dan diskriminasi ucapan biasanya
ditemukan pada gangguan membaca dan mungkin cukup parah sehingga
membutuhkan diagnosis tambahan gangguan bahasa ekspresif atau gangguan
bahasa reseptif/ekspresif campuran. Gangguan ekspresi tulisan seringkali
ditemukan. Pada beberapa kasus terdapat ketidaksesuaian antara skor

19
kecerdasan verbal dan kinerja. Defisit perseptual visual ditemukan hanya
pada kira-kira 10% kasus.
Kesulitan membaca mungkin disebabkan terutama oleh gangguan
menyeluruh dalam fungsi intelektual yang ditemukan pada retardasi mental,
yang dapat diperiksa dengan memberikan tes kecerdasan baku.
Pendidikan sekolah yang tidak adekuat yang menyebabkan keterampilan
membaca yang buruk dapat ditentukan dengan menemukan apakah anak lain
dalam sekolah yang sama memiliki kinerja membaca yang buruk yang serupa
pada tes membaca baku.
Gangguan mendengar dan visual harus disingkirkan dengan tes skrining.
Gangguan membaca seringkali menyertai gangguan emosional dan prilaku
lain, terutama gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas, gangguan konduksi, dan
gangguan depresif, terutama pada anak-anak yang lebih tua dan remaja.

2.4.1.6 Perjalanan Penyakit Dan Prognosis Gangguan Membaca


Kendatipun tanpa bantuan pengobatan, banyak anak dengan gangguan
membaca akan memperoleh sedikit informasi tentang bahasa tercetak selama
2 tahun pertama dalam sekolah dasar. Pada akhir kelas 1, beberapa anak telah
belajar bagaimana membaca beberapa kata. Tetapi, jika tidak diberikan
intervensi pendidikan pengobatan pada kelas tiga, anak tetap terganggu
membacanya. Dalam keadaan yang paling baik, anak diklasifikasikan dalam
risiko untuk mengalami gangguan membaca selama tahun-tahun sekolah
taman kanak-kanak atau pada awal kelas satu.
Jika pengobatan diberikan segera, kadang kadang dapat dihentikan pada
akhir kelas 1 atau 2. Pada kasus yang berat dan tergantung pada pola
kelemahan atau kekuatan, pengobatan dapat dilanjutkan sampai tahun-tahun
sekolah menengah pertama dan atas. Anak-anak yang telah mengompensasi
dengan memuaskan ataupun pulih dari gangguan membaca awal adalah
banyak ditemukan dalam keluarga dengan latar belakang sosioekonomi yang
maju.

20
2.4.1.7 Terapi Gangguan Membaca
Terapi terpilih untuk gangguan membaca adalah pendekatan pendidikan
pengobatan (remedial educational approach), tetapi kemanjuran relatif
berbagai strategi mengajar pengobatan adalah kontroversial.
Satu metoda yang sering digunakan, dikembangkan oleh Samuel Orton,
mendorong perhatian terapeutik untuk menguasai unit fonetik sederhana,
diikuti dengan mencampurkan unit tersebut menjadi kata dan kalimat. Suatu
pendekatan yang secara sistematis menggunakan beberapa indra adalah
dianjurkan. Alasan untuk hal tersebut dan metoda yang serupa adalah bahwa
kesulitan anak-anak dalam menangani huruf dan suku kata adalah dasar dari
kegagalan untuk belajar membaca, dengan demikian jika mereka diajarkan
untuk menghadapi tulian, mereka akan belajar membaca.
Seperti dalam psikoterapi, hubungan ahli terapi dan pasien adalah
penting untuk keberhasilan hasil terapi dalam terapi pendidikan
pengobatan.Anak-anak dengan gangguan membaca harus ditempatkan dalam
kelas yang sedekat mungkin dengan tingkat fungsional sosialnya dan
diberikan tugas pengobatan khusus dalam membaca. Masalah emosional dan
perilaku yang ada bersama-sama harus diobati dengan cara psikoterapi yang
sesuai. Konseling parental mungkin juga menolong.

2.4.2 Gangguan Matematika12


Gangguan matematika sebenarnya adalah suatu ketidakmampuan dalam
melakukan keterampilan aritmetika yang diharapkan untuk kapasitas
intelektual dan tingkat pendidikan seseorang. Keteramplan aritmetika diukur
dengan tes yang dibakukan dan diberikan secara individual. Tidak adanya
kemampuan matematika yang diharapkan mengganggu kinerja sekolah atau
aktivitas hidup sehari-hari, dan gangguan yang ada adalah melebihi dari
gangguan yang menyertai defisit neurologis atau sensorik yang ada.
Gangguan matematika telah dikenali selama banyak dekade, seperti yang
telah ditunjukkan oleh banyaknya istilah yang telah digunakan, tetapi tidak
dikenali sebagai gangguan psikiatrik sampai tahun 1980 dalam DSM III.
Terminologi di masa lalu untuk gangguan ini adalah Sindrom Gerstman,

21
Diskalkulia, gangguan aritmetika kongenital, akalkulia, dan gangguan
aritmetika perkembangan.
Gangguan dalam 4 kelompok keterampilan telah diidentifikasi pada
gangguan matematika: keterampilan linguistik (yang berhubungan dengn
istilah matematika dan mengubah masalah tertulis menjadi simbol
matematika), keterampilan perseptual (kemampuan mengenali dan mengerti
simbol dan mengurutkan kelompok angka), keterampilan matematika
(penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dasar dan urutan
operasi dasar), dan keterampilan atensional (menyalin angka dengan benar
dan mengamati simbol operasional dengan benar).
Gangguan lain sering kali menyertai gangguan matematika, termasuk
gangguan membaca, gangguan koordinasi perkembangan, dan gangguan
bahasa reseptif/ekspresif campuran.

2.4.2.1 EpidemiologiGangguan Matematika


Prevalensi gangguan matematika belum diteliti dengan baik dan dapat
diperkirakan dengan kasar sebesar 6% dari anak-anak usia sekolah yang tidak
mengalami retardasi mental. Besarnya keterbatasan pendidikan
mempengaruhi angka tersebut adalah tidak jelas. Data tidak berarti bahwa
anak dengan gangguan matematika kemungkinan menunjukkan gangguan
belajar atau ketidakmampuan bahasa lainnya. Rasio jenis kelamin gangguan
matematika masih diteliti. Gangguan mungkin lebih sering pada anak
perempuan dibandingkan anak laki-laki.

2.4.2.2 EtiologiGangguan Matematika


Penyebab gangguan matematika adalah tidak diketahui. Suatu teori awal
mengajukan defisit neurologis di hemisfer serebral kanan, terutama di lobus
oksipitalis. Daerah tersebut adalah bertanggung jawab untuk memproses
stimuli visual-spasial yang sebaliknya adalah bertanggung jawab untuk
keterampilan matematika. Tetapi, keabsahan teori tersebut mendapatkan
sedikit dukungan pada penelitian neuropsikiatrik setelahnya.

22
Pandangan sekarang adalah bahwa penyebabnya adalah multifaktorial.
Faktor maturasional, kognitif, emosional, pendidikan, dan sosioekonoi
menyebabkan berbagai derajat dan kombinasi untuk gangguan matematika.
Dibandingkan dengan membaca, kemampuan aritmetika tampaknya lebih
tergantung pada jumlah dan kualitas instruksi.

2.4.2.3 DiagnosisGangguan Matematika


Pada kasus gangguan matematika yang tipikal, pertanyaan yang cermat
tentang riwayat kinerja sekolah anak mengungkapkan kesulitan awal dengan
subjek aritmatika. Diagnosis definitif dapat dibuat hanya setelah anak
mengerjakan tes aritmatika baku yang diberikan secara individual dan
nilainya jelas dibawah tingkat yang diharapkan, dengan mengingat sekolah
dan kapasitas intelektual anak seperti yang diukur dengan tes kecerdasan
baku. Gangguan perkembangan pervasif dan retardasi mental harus
disingkirkan sebelum menegakkan diagnosis gangguan matematika.12

2.3.2.4 ambaran KlinisGangguan Matematika


Sebagian besar anak dengan gangguan matematika dapat diklasifikasikan
selama kelas 2 dan 3 dalam sekolah dasar. Kinerja anak yang terkena dalam
menangani konsep angka dasar, seperti menghitung dan menjumlahkan
bahkan satu angka, adalah lebih rendah secara bermakna dibandingkan aturan
yang diharapkan menurut usianya, tetapi anak menunjukkan keterampilan
intelektual yang normal pada bidang lain. 12
Selama dua atau tiga tahun pertama sekolah dasar, seorang anak dengan
gangguan matematika tampak mengalami kemajuan dalam matematika
dengan menyandarkan pada ingatan hafalan. Tetapi dengan segera, saat
aritmetika berkebang menjadi tingkat yang kompleks yang memerlukan
diskriminasi dan manipulasi hubungan ruang dan numerik, adanya gangguan
menjadi dicurigai.
Beberapa peneliti telah mengklasifikasikan gangguan matematika
menjadi beberapa kategori: (1) kesulitan dalam belajar menghitung dengan

23
arti, (2) kesulitan menguasai sistem kardinal dan ordinal (3) kesulitan
melakukan operasi aritmatika (4) kesulitan dalam membayangkan objek
sebagai kelompok-kelompok. Disamping itu, anak yang terkena mungkin
memiliki kesulitan dalam mengasosiasikan simbol auditorik dan visual,
mengerti arti kuantitas, mengingat urutan tingkah aritmetika, dan memilih
prinsip untuk aktivitas memecahkan masalah. Anak-anak dengan masalah
tersebut dianggap memiliki kemampuan auditorik dan verbal yang baik.12
Gangguan matematika seringkali menyertai gangguan lain yang
mempengaruhi keterampilan berikut ini: membaca, tulisan ekspresif,
koordinasi, dan bahasa ekspresif dan reseptif. Masalah mengeja, defisit daya
ingat, atau perhatian, dan masalah perilaku atau emosional mungkin
ditemukan. Anak-anak dengan kelas yang rendah seringkali datang pertama
kali dengan gangguan belajar lain dan harus diperiksa untuk adanya gangguan
matematika. Anak-anak dengan palsi serebral mungkin memiliki gangguan
matematika dengan kecerdasan keseluruhan yang normal.12
Hubungan antara gangguan matematika dan gangguan komunikasi dan
belajar lainnya adalah masih belum jelas. Walaupun anak-anak dengan
gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran dan ganguan bahasa ekspresif
tidak selalu terkena gangguan matematika, kondisi tersebut sering terjadi
bersama-sama, karena semuanya disertai dengan gangguan proses membaca
sandi (decoding) dan menulis sandi (encoding).

2.4.2.4 Diagnosis BandingGangguan Matematika


Kesulitan aritmetika yang ditemukan pada retardasi mental adalah
disertai dengan gangguan menyeluruh pada fungsi intelektual. Pada kasus
retardasi mental ringan yang jarang, keterampilan aritmetik mungkin secara
bermakna dibawah tingkat yang diharapkan, menurut sekolah, dan tingkat
retardasi mental orang tersebut. Pada kasus tersebut diagnosis tambahan
gangguan matematika harus dibuat, karena terapi kesulitan aritmetik dapat
cukup menolong kesempatan anak untuk bekerja di masa dewasa.12
Sekolah yang tidak adekuat kadang-kadang dapat menyebabkan kinerja
aritmetika anak yang buruk pada tes aritmetika baku. Jika demikian, sebagian

24
besar anak lain dalam kelas yang sama kemungkinan memiliki kinerja
aritmetika yang sama buruknya.12
Gangguan konduksi dan gangguan defisit atensi/hiperaktivitas mungkin
ditemukan bersama dengan gangguan matematika, dan pada kasus tersebut,
kedua diagnosis harus dibuat.12

2.4.2.5 Perjalanan Penyakit Dan PrognosisGangguan Matematika


Gangguan matematika biasanya tampak pada saat anak berusia 8 tahun
(kelas 3). Pada beberapa anak gangguan tampak pada usia 6 tahun (kelas 1)
dan pada anak lain tidak terlihat sampai usia 10 tahun (kelas 5) atau lebih
lambat. Jadi sedikit data penelitian longitudinal tersedia untuk meramalkan
pola perkembangan dan kemajuan akademik yang jelas dari anak-anak yang
diklasifikasikan memiliki gangguan matematika dalam kelas sekolah dasar.
Tetapi anak dengan gangguan matematika sedang yang tidak diobati dan anak
dengan kesulitan aritmetika yang tidak dapat dipecahkan dengan intervensi
pengobatan yang intensif mungkin memiliki komplikasi, termasuk kesulitan
akademik yang terus menerus, konsep diri yang buruk, depresi, dan frustasi.
Komplikasi tersebut selanjutnya dapat menyebabkan keengganan masuk
sekolah, membolos atau gangguan konduksi.

2.4.2.6 TerapiGangguan Matematika


Terapi yang paling efektif sekarang ini untuk gangguan matematika
adalah pendidikan pengobatan. Terdapat kontroversi tentang perbandingan
efektivitas berbagai terapi pendidikan pengobatan. Tetapi konsensus sekarang
ini adalah bahwa metoda dan material terapi digunakan hanya jika cocok
untuk anak tertentu, gangguan, dan keparahan dan mudahnya rencana
pengajaran. Projek MATH, suatu program latihan multimedia “self
instructional” atau “group instructional” telah berhasil untuk beberapa anak
dengan gangguan matematika. Program komputer dapat menolong dan dapat
meningkatkan kepatuhan terhadap usaha pengobatan. Koordinasi yang buruk
dapat menyertai gangguan, sehingga aktivitas terapi fisik dan integrasi
sensorik mungkin menolong.12

25
2.5 Gangguan Perkembangan Motorik
Mulai bersekolah merupakan perubahan yang penting pada semua kehidupan
anak-anak. perkembangan dari fungsi motorik normal memerlukan koordinasi
neurologis dan proses psikologis, meliputi keseimbangan, kekuatan, koaktivasi
muskular, propioseptif, ketangkasan, intergrasi perseptual, serta pengliahan dan
kemampuan visou-motor. Aspek psikologis seperti kognisi, fungsi eksekutif dan
motivasi juga memiliki peran yang krusial seperti faktor fisik dan faktor
lingkungan emosional. Perkembangan motorik berhubungan erat dengan
pembelajaran motorik. Etiologi dari kesulitan perkembangan motorik pada anak
kompleks dan masih belum jelas. Beberapa teori yang dikemukakan seperti
kesulitan perencanaan motorik (dispraksia), kesulitan melakukan suatu
kemampuan motorik, berbagai tipe kesulitan memproses perseptual dan kesulitan
automatisasi.19
Keterlambatan motorik kasar umum ditemukan dan bervariasi dalam tingkat
keparahan dan keluarannya. Beberapa anak dengan keterlambatan motorik kasar
mencapai milestone tertentu pada usia yang lebih tua. Beberapa anak memiliki
cacat motorik permanen, seperti cerebral palsy, yang memiliki prevalensi 3,3 per
1000 anak. Anak lainnya memiliki gangguan perkembangan koordinasi atau
developmental coordination disorder (DCD), yang mempengaruhi hingga 6% dari
populasi dan umumnya menjadi lebih jelas ketika anak-anak masuk TK. Saat
keterlambatan motorik terlihat jelas dan / atau progresif, gangguan neuromuskuler
spesifik lebih mungkin didiagnosis. Keterlambatan motorik dapat merupakan
tanda awal atau atau tanda yang paling jelas dari gangguan perkembangan
global.19
Semakin meningkat status gizi balita, semakin meningkat pula perkembangan
motorik kasarnya. Pada anak stunting didapatkan kemampuan motorik yang
rendah yangmerupakan akibat dari terhambatnya proses kematangan otot sehingga
menyebabkan berkurangnya kemampuan mekanik otot.21
Selain dipengaruhi oleh status gizi, sesuai dengan prinsip perkembangan
dimana semua aspek perkembangan akan mempengaruhi satu sama lain ke arah
hubungan yang positif, perkembangan motorik juga dipengaruhi oleh

26
perkembangan motorik halus. Setiap penambahan satu persen tingkat
perkembangan motorik halus balita, akan menambah tingkat perkembangan
motorik kasar balita sebesar 0,46 persen. Perkembangan motorik kasar juga
mempengaruhi perkembangan motorik halus. Setiap penambahan satu persen
tingkat perkembangan motorik kasar balita, makan akan menambah tingkat
perkembangan motorik halus balita sebesar 0,42 persen.21
Perkembangan motorik kasar dan halus, berkembang secara bersamaan dalam
tingkatan yang bervariasi tergantung dari pengalaman khusus yang dialami anak
dengan lingkungannya. Adanya gangguan pada salah satu sektor perkembangan
seperti pada anak stunting dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan
pada sektor lain, sekaligus menghambat kemampuan anak untuk menghasilkan
kemampuan motorik yang lebih kompleks.21
Penilaian pada anak-anak yang dicurigai mengalami gangguan perkembangan
motorik dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Pada
anamnesis harus ditanyakan mengenai keterlambatan anak dalam mencapai
kemam puan tertentu, gerakan involunter atau gangguan koordinasi, regresi dari
skil anak, serta isu mengenai kekuatan, koordinasi dan daya tahan anak.20
Pemeriksaan disik lengkap dilakukan dengan memberi perhatian lebih pada
pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan penglihatan dan pendengaran. Pada anak
dengan keterlambatan motorik yang berhubungan dengan penyakit sistemik
biasanya dapat dilihat penimpangan dari level interaksi mereka terhadap
lingkungan dan gairah umum. Idealnya, anak-anak harus tenang dan nyaman
untuk pemeriksaan motorneuron. Namun, ketika anak-anak tidak kooperatif,
klinisi masih dapat mendapatkan poin diagnosis penting dengan mengobservasi
kualitas dan kuantitas pergerakan anak.19
Pemeriksaan saraf kranial termasuk gerakan mata, respons terhadap
konfrontasi visual, dan reaktivitas pupil. Meskipun pemeriksaan fundoskopi
mungkin sulit dilakukan, pemeriksaan red reflex harus dapat dideteksi dan
simetris. Kualitas dari pembukaan dan penutupan mata serta ekspresi wajah,
termasuk tersenyum dan menangis, harus diperhatikan. Pergerakan oromotor
dapat diamati dan, pada anak yang lebih tua dapat dites dengan mengamati langit
langit dan gerakan lidah dan, jika mungkin, dengan minum melalui sedotan atau

27
meniupkan ciuman. Pengamatan untuk fasikulasi lidah dan kualitas mengankat
bahu harus dinilai.19
Pada anak yang lebih besar, kesulitan dengan urutan perencanaan motorik,
atau praksis, harus dibedakan dari masalah kekuatan dan ekstrapiramidal.
Dispraksia mengacu pada ketidakmampuan untuk merumuskan, merencanakan,
dan melakukan gerakan kompleks. Penilaiannnya termasuk adanya dan kualitas
keterampilan motorik kasar yang sesuai usia (memanjat tangga, berdiri satu kaki,
melompat, berlari, lewati, dan melempar) dan keterampilan motorik halus
(mengancingkan, menutup resleting, mengikat, memotong, menggunakan benda,
dan menggambar).20
Ketika ditemukan tonus yang rendah sampai normal, terutama dengan disertai
kelemahan, pemeriksaan harus menargetkan penyakit dari lower motor neoron
atau otot. Di antara yang paling umum adalah Duchenne muscular
dystrophy(DMD) yang ditandai dengan kelemahan, hipertrofi betis, dan terkadang
keterlambatan dalam kemampuan kognitif atau sosial. DMD biasa ditemukan
pada usia 2 sampai 4 tahun, tetapi tanda-tanda kelemahan mungkin terlihat lebih
awal. Becker muscular dystrophy bersifat allelic terhadap DMD tetapi biasanya
muncul pada usia lebih tua anak-anak dan dengan fenotip yang lebih ringan. Tes
awal untuk semua anak dengan keterlambatan motorik dan tonus yang rendah bisa
dilakukan dengan mengukur konsentrasi serum creatine phosphokinase (CK).
Konsentrasi CK meningkat secara signifikan dalam DMD, biasanya> 1000 U / L.
Sebagai Gangguan terkait kromosom X, mungkin ada riwayat anggota keluarga
laki-laki di pihak ibu lainnya yang memiliki masalah serupa.20
Kelainan-kelainan yang mana berhubungan dengan keterlambatan motorik
contohnya seperti cerebral palsy, DCD, dan ASD. Cerebral palsy secara klasik
ditandai dengan spastisitas, distonia, atau atetosis, tetapi juga bisa didapatkan
hipotonia. Anak-anak dengan cerebral palsy mungkin memiliki riwayat masalah
saat perinatal dengan kelainan penyerta pada pencitraan otak. Penyebab hipotonia
lainnya harus dipertimbangkan sebelum diagnosis cerebral palsy hipotonik
diberikan pada seorang anak dengan riwayat perinatal dan pencitraan otak yang
normal.20

28
Gambar 2.4 Algoritma penelusuran anak dengan keterlambatan
perkembanganMotorik20

DCD mungkin ada saat kemampuan koordinasi motorik anak jauh di bawah
normal berdasarkan umur dan kecerdasan, tidak terkait dengan kondisi medis
yang dapat didefinisikan yang mempengaruhi fungsi neuromotor (seperti cerebral
palsy, ataksia, atau miopati). Hal tersebut dapat mempengaruhi gaya berjalan,
tulisan tangan, olahraga dan partisipasi akademik, serta keterampilan membantu
diri sendiri. Lebih dari setengah individu dengan DCD tetap memiliki gejala

29
sampai remaja dan dewasa muda. Intervensi, khususnya pendekatan berorientasi
tugas, bisa meningkatkan kemampuan motor.20
Pada kelainan ringan yang tidak ditandai dengan temuan “bendera merah(red
flags)” yaitu suatu kondisi yang membutuhkan rujukan cepat, observasi secara
ketat terhadap perkembangan dapat dilakukan. Namun rencana harus sudah dibuat
untuk mengatasi apabila terdapat perburukan gejala selama observasi. Temuan red
flags tersebut seperti:20
a. Peningkatan kadar CK lebih dari 3 kali kadar normal
b. Fasikulasi
c. Dismorfisme wajah, organomegali, tanda-tanda gagal jantung, dan
kontraktur sendi
d. Abnormalitas pada MRI
e. Insufisiensi respirasi dengan kelemahan umum
f. Kehilangan kemampuan motorik sesuai milestone
g. Keterlambatan motorik yang muncul selama sakit akut.
Semua anak-anak yang dicurigai mengalami keterlambatan pada neuromotor
harus mendapatkan intervensi awal atau mendapatkan pelajaran spesial. Selain itu,
anka juga harus dirujuk ke fisioterapi dan atau terapis okupasi ketika dalam proses
penelusuran diagnosis masih berjalan. Bahkan pada saat diagnosis untuk
gangguan neuromotor tertentu masih belum dapat ditegakkan, anak-anak dengan
keterlambatan perkembangan motorik akan mendapatkan manfaat dari terapi yang
berdasarkan pada educasi dan medis.20

2.6 Gangguan Perkembangan Bahasa


Kemampuan bahasa merupakan kombinasi seluruh sistem perkembangan
anak.Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan motorik, psikologis,
emosional, danperilaku.Gangguan perkembangan berbahasa adalah
ketidakmampuan atau keterbatasan dalam menggunakan simbol linguistik untuk
berkomunikasi secara verbal atau keterlambatan kemampuan perkembangan
bicara dan bahasa anak sesuai kelompok umur, jenis kelamin, adat istiadat, dan
kecerdasannya.26

30
Perkembangan bicara normal melalui beberapa tahapan yaitu munculnya
cooing, babbling, ekolalia, jargon, kata dan kombinasi kata, dan pembentukan
kalimat. Penambahan perbendaharaan kata umumnya masih agak lambat pada
umur 1-2 tahun. Setelah 2 tahun, perbendaharaan kata bertambah dengan cepat.
Penggunaan kemampuan bahasa untuk proses adaptif dan sosialisasi berkembang
dengan pesat setelah anak berumur 2 tahun. Pada anak berumur kurang dari 2
tahun lebih mudah mengenali keterlambatan bicara dibanding keterlambatan
bahasa.28
Tabel. Pola normal pekembangan bahasa dan bicara
Umur Kemampuan reseptif Kemampuan ekspresif
Lahir Bereaksi terhadap suara Menangis
2-4 bulan Berminat terhadap wajah Cooing: “oooo”
Cooing bergantian dengan orang tua
6 bulan Menoleh bila dipanggil Babbling: “bababa, dadada”
namanya
9 bulan Mengerti bahasa verbal yang Menunjuk
rutin diucapkan: “dadah” Bicara: “mama, dada”
12 bulan Mengikuti perintah verbal Jargon: Kata-kata yang sering
diucapkan
Kata pertama
15 bulan Menunjuk ke bagian tubuh Belajar kata-kata baru perlahan-lahan
18-24 Mengerti kalimat Belajar kata-kata baru lebih cepat
bulan Menggunakan kalimat terdiri dari dua
kata
24-36 Menjawab pertanyaan Kalimat dapat dimengerti 50%
bulan Mengikuti perintah dua Kalimat terdiri dari 3 kata
langkah Bertanya “Apa?”
36-48 Mengerti apa yang dikatakan Bertanya “Mengapa?”
bulan orang lain Kalimat dapat dimengerti 75%

Gangguan perkembangan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau


kerusakan pada sistem lain.27Gangguan perkembangan bahasa pada anak usia

31
sekolah dapat diakibatkan berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan
pendengaran, intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan,
maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan bicara juga
dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik, contohnya bibir sumbing dan
serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan perkembangan bahasa
yang dapat disebabkan karena adanya tekanan dari orang tua agar anak bicara
jelas.5Periode kritis bagi perkembangan bicara dan bahasa anak adalah 9-24 bulan
dari awal kehidupan.27
Gangguan bahasa sangat dekat dengan gangguan bicara, dan keduanya
sering juga disebut sebagai gangguan perkembangan bahasa ekspresif.
Kemampuan bahasa meliputi kemampuan bahasa represif dan ekspresif, yaitu
kemampuan menangkap simbol; mengungkapkan kalimat; pemahaman dan
keterampilan berbahasa baik pasif maupun aktif; serta penggunaan kata-kata yang
tepat dan terstruktur. Sedangkan kemampuan bicara adalah suatu kemampuan
mengucapkan bunyi-bunyi bahasa melalui organ-organ artikulasi.5,26
Gangguan bicara merupakan salah satu masalah yang sering terdapat pada
anak-anak. Menurut National Center for Health Statistics (NCHS), berdasarkan
laporan orang tua (di luar gangguan pendengaran serta celah pada palatum), angka
kejadian gangguan bicara 0,9% pada anak di bawah usia 5 tahun, dan 1,94% pada
usia 5-14 tahun. Hasil evaluasi langsung terhadapanak usia sekolah menunjukkan
angka kejadian 3,8kali lebih tinggi daripada hasil wawancara. Berdasarkan hasil
ini, diperkirakan gangguan bicara dan bahasa pada anak adalah sekitar 4-5%.5
Kelainan atau gangguan bahasa merupakan salah satu jenis kelainan dalam
komunikasi dengan gambaran seorang anak mengalami gangguan dalam proses
simbolis. Kesulitan ini mengakibatkan seseorang anak tidak mampu untuk
memberikan simbol atau lambang yang diterima dan sebaliknya tidak mampu
mengubah konsep pengertian menjadi simbol-simbol yang dapat dimengerti oleh
orang lain. Jika seseorang anak tidak dapat berkomunikasi dengan sesamanya
secara sempurna maka mereka dapat dikatakan mengalami gangguan atau
kelainan bahasa.
Gangguan perkembangan bahasa dan bicara dapat disebabkan: 28
1. Gangguan pendengaran

32
2. Retardasi mental
3. Autisme
4. Sebagai bagian dari gangguan perkembangan menyeluruh (global
developmental delay), gangguan neurologis misalnya palsi serebral, atau
deprivasi psikososial
5. Developmental language disorder atau gangguan bahasa dalam masa
perkembangan
a. Reseptif
b. Ekspresif
c. Campuran reseptif-ekspresif
d. Gangguan fonologik-sintaktik
e. Gangguan semantik-pragmatik
6. Gangguan bicara
a. Gangguan artikulasi
i. Apraksia
ii. Disartria
iii. Gangguan fonologi
b. Gangguan suara
i. Resonansi
ii. Fonasi
c. Gangguan kelancaran bicara/ fluency
i. Gagap/ stuttering
Gangguan perkembangan bahasa pada anak usia sekolah sendiri memiliki
bentuk diantaranya keterlambatan dalam perkembangan bahasa dan afasia: 13
1. Keterlambatan dalam Perkembangan Bahasa
Keterlambatan dalam perkembangan bahasa adalah suatu bentuk kelainan
bahasa yang ditandai dengan kegagalan anak dalam mencapai tahapan
perkembangan bahasanya sesuai dengan perkembangan bahasa anak normal
seusianya. Selain adanya gangguan transformasi maupun simbolisasi juga sering
disertai gangguan tingkah laku. Gangguan tingkah laku tersebut sangat
mempengaruhi proses perolehan bahasa diantaranya kurang perhatian dan minat

33
terhadap rangsangan yang ada disekelilingnya, perhatian yang mudah beralih,
konsentrasi yang kurang baik, nampak mudah bingung, cepat putus asa.
2. Afasia
Aadalah satu jenis kelainan bahasa yang disebabkan oleh adanya
kerusakan pada pusat-pusat bahasa di korteks serebri. Adanya lesi di pusat-pusat
bahasa di korteks serebri menyebabkan anak mengalami kesulitan dan atau
kehilangan kemampaun dalam simbolisasi baik secara aktif maupun pasif.
Apabila kita mengkaji afasia tersebut secara klinis, maka dapat dibedakan menjadi
beberapa macam, yaitu afasia sensoria, afasia motoris, afasia konduktif, dan afasia
amnesik.
Gejala gangguan perkembangan bahasa dalam hubungannya dengan
penyebab kelainannya dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:
1. Disaudia
2. Dislogia
3. Distartia
4. Disglosia
5. Dislalia
Berdasarkan milestone perkembangan bicara dan bahasa, dikenal adanya
red flags, yaitu tanda awal saat anak mulai terlihat mengalami keterlambatan
bicara dan bahasa dan memerlukan evaluasi lebih lanjut. Dalam practice
parameter yang diterbitkan oleh American Academy of Neurology, indikasi
mutlak untuk evaluasi lebih lanjut adalah bila dijumpai anak dengan keadaan: 28
 Tidak menunjukkan babbling, menunjuk, atau mimik yang baik pada umur 12
bulan
 Tidak ada kata pada umur 16 bulan
 Tidak ada 2 kata spontan pada umur 2 tahun
 Hilangnya kemampuan bicara atau kemampuan sosial pada umur berapapun.
Tabel. Tanda adanya masalah dalam perkembangan bicara

Usia Kemampuan
Saat lahir dan Tidak memberi respons terhadap suara
seterusnya Tidak ada minat berinteraksi dengan orang lain

34
4 bulan Tidak mempunyai keinginan berkomunikasi
6 bulan Mata tidak melirik dan kepala tidak menoleh pada sumber
suara yang datang dari belakang atau samping
Tidak respons terhadap panggilan namanya
Kehilangan kemampuan mengeluarkan suara
12 bulan Tidak ada jargon atau kata-kata rutin
Tidak mengatakan “ma-ma, pa-pa”
Kehilangan kemampuan bicara yang sudah pernah ada
15 bulan – 18 Tidak ada kata-kata
bulan Tidak mengerti bila diajak berbicara
18 bulan Tidak dapat mengucapkan 10 kata
21 bulan Tidak respons terhadap perintah: duduk, berdiri, kemari

Perkembangan bahasa merupakan salah satu indikator perkembangan


menyeluruh dari kemampuan kognitif anak yang berhubungan dengan
keberhasilan di sekolah. Keterlambatan perkembangan pada awal kemampuan
berbahasa dapat mempengaruhi berbagai fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu mempengaruhi kehidupan personal sosial, juga akan menimbulkan
kesulitan belajar, bahkan kemampuan hambatan dalam bekerja kelak. Identifikasi
dan intervensi secara dini dapat mencegah terjadinya gangguan dan hambatan
tersebut.26
Penanganan gangguan perkembangan bahasa diawali dengan identifikasi
pasein seperti, riwayat kesehatan, kemampuan berbicara, kemampuan mendengar,
kemapuan kognitif, dan kemampuan berkomunikasi. Kemudian penanganan
dilanjutkan dengan diagnosis gangguan yang dialami anak. Setelah hasil diagnosis
didapat, barulah diterapkan terapi yang tepat untuk anak.14

Tata laksana gangguan bahasa bergantung pada diagnosis dan


penyebabnya. Terapi pada anak dengan keterlambatan bicara melibatkan tim yang
terdiri dari dokter, psikolog, terapis, dan orang tua. Sayangnya, sedikit sekali
penelitian randomized controlled trial (RCT) tentang terapi intervensi untuk
gangguan bahasa.28

35
Bila keterlambatan bicara disebabkan gangguan pendengaran, dapat
dipasang alat bantu dengar atau implan koklea sesuai kerusakan organ yang
terjadi. Bila disebabkan disabilitas intelektual, diberikan terapi remedial. Pada
autisme dapat dilakukan terapi sensori integrasi, terapi floor time, terapi okupasi,
terapi perilaku, terapi wicara, dan lain-lain, bergantung pada kebutuhan anak.
Obat-obatan hanya diberikan bila diperlukan. Anak yang menunjukkan perilaku
agresif, tantrum berlebihan, dan menyakiti diri sendiri memerlukan obat untuk
menekan perilaku tersebut. Bila anak sudah mulai berinteraksi cukup baik barulah
diberikan terapi wicara. Pemakaian bahasa di rumah sebaiknya diseragamkan
sehingga dapat membantu anak menguasai satu bahasa terlebih dahulu.
Pengalaman menunjukkan bahwa mengajarkan orang tua untuk bermain dan
berinteraksi dengan anak sangat membantu pada kasus keterlambatan bahasa
ekspresif.28
Hasil terapi biasanya baru terlihat setelah beberapa bulan. Perlu dilakukan
evaluasi setiap 3-6 bulan untuk melihat hasil terapi yang telah diberikan; apakah
program terapi perlu ditambah, dikurangi, atau diubah sesuai dengan keadaan
dankebutuhan anak saat itu.28

2.7 Gangguan Perkembangan Pervasif


2.7.1 DefinisiGangguan Perkembangan Pervasif
Gangguan perkembangan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik
dimana keterampilan interaksi sosial, perkembangan bahasa, dan perilaku
tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal. Pada
umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan,
bermanifestasi pada awal kehidupan, dan menyebabkan disfungsi yang
persisten. Gangguan perkembangan pervasif diantaranya gangguan spektum
autism autism spectrum disorders (ASD).15
2.7.2 KlasifikasiGangguan Perkembangan Pervasif
DSM-IV membagi gangguan perkembangan pervasif menjadi autisme,
Sindrom Rett, Sindrom Asperger, gangguan disintegratif masa kanak, dan
gangguan perkembangan pervasive lainnya. Pada DSM-V terjadi perubahan

36
dimana klasifikasi tersebut dihimpun menjadi gangguan spektrum autisme
atau autism spectrum disorders (ASD).16

2.7.3 EpidemiologiGangguan Perkembangan Pervasif


Autisme dahulu dianggap sebagai kondisi yang relatif jarang. Namun
data CDC tahun 2008 menunjukkan bahwa 1 dari 88 anak di Amerika Serikat
menderita gangguan autisme dan tidak dipengaruhi faktor sosioekonomi dan
ras. Angka kejadian autisme di Amerika Serikat terus mengalami peningkatan
dari 1/150 pada tahun 2002, kemudian menjadi 1/110 pada tahun 2006, dan
1/88 pada tahun 2008. Penelitian di Korea Selatan pada anak-anak usia
sekolah mendapatkan prevalensi autism sebesar 2,6%. Penelitian di Indonesia
menunjukkan gangguan autisme berkisar 11,7/10.000 anak.16
Anak laki-laki lebih sering terkena sebanyak tiga sampai lima kali lipat
lebih banyak daripada anak perempuan. Tetapi anak perempuan yang terkena
umumnya lebih serius dan lebih mungkin memiliki riwayat keluarga dengan
gangguan kognitif dibandingkan anak laki-laki.16

2.7.4 Etiologi dan PatogenesisGangguan Perkembangan Pervasif


Gangguan autistik adalah suatu gangguan perkembangan perilaku.
Walaupun gangguan autistic pertama kali dianggap berasal dari psikologis
atau psikodinamik, banyak bukti-bukti yang terkumpul mendukung adanya
faktor biologis.15
a. Faktor psikodinamika dan keluarga
Tidak ada bukti yang memuaskan yang menyatakan bahwa jenis tertentu
fungsi keluarga yang menyimpang menyebabkan perkembangan
gangguan autistic. Namun demikian, beberapa anak autistic berespon
terhadap stressor psikososial, seperti kelahiran seorang adik atau pindah
ke rumah baru, dengan eksaserbasi gejala.15
b. Kelainan organic-neurologis-biologis
Gangguan autistik dan gejala autistic berhubungan dengan kondisi yang
memiliki lesi neurologis, terutama rubella kongenital dan fenilketonuria.
Anak autistik lebih banyak mengalami komplikasi perinatal dibandingkan

37
anak-anak normal dan anak-anak dengan gangguan lain. Sebanyak 4-32%
penderita autistik memiliki riwayat kejang grand mal pada dan sekitar 20-
25% penderita autistik menunjukkan pembesaran ventricular pada
pemeriksaan tomografi komputer.15
c. Faktor genetika
Pada beberapa penelitian, antara 2-4% sanak saudara anak autistic
ditemukan terkena gangguan autism. Laporan klinis dan penelitian
menyatakan bahwa anggota keluarga non autistik memiliki berbagai
masalah bahasa atau kognitif lainnya yang sama dengan orang autistic
tetapi dengan derajat yang lebih ringan.15
d. Faktor imunologis
Beberapa bukti menyatakan bahwa inkompatibilitas imunologi antara ibu
dan embrio atau janin dapat menyebabkan gangguan autistic. Limfosit
beberapa anak autistic bereaksi dengan antibodi maternal, yang
meningkatkan kemungkinan bahwa jaringan neural embrionik atau
ekstraembrional mengalami kerusakan selama kehamilan.15
e. Faktor perinatal
Selama gestasi, perdarahan maternal setelah trismester pertama dan
mekonium dalam cairan amnion lebih sering ditemukan pada anak
autistic. Anak autistic juga memiliki insidensi tinggi sindroma gawat
pernapasan saat neonatus.15

2.7.5 Karakteristik PerilakuGangguan Perkembangan Pervasif


a. Gangguan kualitatif pada interaksi sosial
Semua anak dengan gangguan perkembangan pervasive gagal
menunjukkan keakraban yang lazimnya terhadap orang tua mereka dan
orang lain. Anak autistic pada usia sekolah sering mengalami kegagalan
untuk bermain dengan teman sebaya, membuat persahabatan, dan
mengembangkan empati.15
b. Gangguan komunikasi dan bahasa
Defisit dan penyimpangan yang jelas dalam perkembangan bahasa adalah
salah satu kriteria utama mendiagnosis gangguan autistic. Jika anak

38
autistic belajar untuk bercakap dengan fasih, mereka tidak memiliki
kompetensi sosial, dan percakapan mereka tidak ditandai oleh saling tukar
yang responsive dan timbal balik.15
c. Perilaku stereotipik
Aktivitas dan permainan anak autistik, jika ada, adalah kaku, berulang, dan
monoton. Pindah ke rumah baru, memindahkan perabotan di dalam
ruangan, dan hal yang berlawanan dengan rutinitas dapat menyebabkan
panic atau temper tantrum. Stereotipik, manerisme, dan seringai paling
sering terlihat jika anak ditinggalkan sendiri dan dapat menurun pada
situasi yang terstruktur.15
d. Ketidakstabilan mood dan afek
Beberapa anak dengan gangguan autistic dapat menunjukkan perubahan
emosional yang tiba-tiba tanpa terlihat alas an dan tidak mengekspresikan
pikiran yang sesuai dengan afek.15
e. Respon terhadap stimulasi sensorik
Anak autistic dapat berespon secara berlebihan atau kurang responsive
terhadap stimuli sensorik. Mereka dapat secara selektif mengabaikan
ucapan yang diarahkan kepada dirinya, sehingga mereka sering disangka
tuli. Akan tetapi, mereka dapat pula menunjukkan minat yang tidak lazim
misalnya terhadap bunyi detik jam tangan.15
f. Fungsi intelektual
Kira-kira 40% anak dengan autism infantile memiliki IQ dibawah 30
sampai 55, 30% memikiki IQ 50-70, dan 30% diatas 70. Nilai IQ anak
autistic cenderung mencerminkan masalah keterampilan verbal dan
abstraksi, bukan dengan keterampilan visuospasial dan daya ingat jauh,
yang menunjukkan peran defek dalam fungsi yang berhubungan dengan
bahasa.15
2.7.6 Kriteria Diagnosis (DSM V)17
A. Defisit yang terus-menerus dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial di
berbagai konteks, sebagaimana dimanifestasikan oleh yang berikut:
a) Defisit dalam timbal balik sosial-emosional, bervariasi, misalnya,
dari pendekatan sosial yang tidak normal dan kegagalan percakapan

39
bolak-balik yang normal; untuk ketidakmampuan untuk berbagi
minat, emosi, atau pengaruh; kegagalan untuk memulai atau
menanggapi interaksi sosial.
b) Defisit dalam perilaku komunikatif nonverbal yang digunakan untuk
interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal yang kurang
terintegrasi; bervariasi seperti kelainan kontak mata dan bahasa tubuh
atau defisit dalam memahami dan menggunakan gerakan; atau
kurangnya ekspresi wajah dan komunikasi nonverbal.
c) Defisit dalam mengembangkan, memelihara, dan memahami
hubungan, bervariasi misalnya, dari kesulitan menyesuaikan perilaku
agar sesuai dengan berbagai konteks sosial; kesulitan dalam berbagi
permainan imajinatif atau dalam berteman; hingga tidak adanya
minat pada teman sebaya.

B. Pola perilaku, minat, atau kegiatan yang berulang dan berulang,


sebagaimana diwujudkan oleh setidaknya dua dari yang berikut ini:
a) Gerakan motorik stereotip atau berulang, penggunaan benda, atau
ucapan (mis., stereotip motorik sederhana, membariskan mainan atau
membalikkan benda, echolalia, frasa istimewa).
b) Preokupasi pada kesamaan, kepatuhan yang tidak fleksibel terhadap
rutinitas, atau pola ritual atau perilaku nonverbal verbal (mis.,
mengalami tekanan ekstrem pada perubahan kecil, kesulitan dengan
transisi, pola pikir kaku, ritual ucapan, perlu menempuh rute yang
sama atau makan makanan setiap hari).
c) Minat yang sangat terbatas, terpaku pada intensitas atau fokus yang
tidak normal (mis., Keterikatan yang kuat atau keasyikan dengan
objek yang tidak biasa, minat yang terlalu terbatas atau minat yang
gigih)
d) Hiper atau hiporeaktif terhadap input sensorik atau minat yang tidak
biasa dalam aspek sensorik lingkungan (misalnya, ketidakpedulian
terhadap rasa sakit / suhu, respons negatif terhadap suara atau tekstur

40
tertentu, berbau atau menyentuh objek, daya tarik visual dengan
cahaya atau gerakan) .
C. Gejala harus ada pada periode perkembangan awal (tetapi mungkin tidak
menjadi nyata sepenuhnya sampai tuntutan sosial melebihi kapasitas
terbatas atau dapat ditutupi oleh strategi yang dipelajari di kemudian hari).
D. Gejala menyebabkan gangguan signifikan secara klinis dalam bidang
sosial, pekerjaan, atau area penting lainnya yang berfungsi saat ini.
E. Gangguan ini tidak lebih baik dijelaskan oleh retardasi mental (gangguan
perkembangan intelektual) atau keterlambatan perkembangan global.17

2.7.7 Gangguan Komunikasi Sosial Pragmatis (Social Pragmatic


Communication Disorder)
Diagnosis yang lain yang berkaitan dengan gangguan interaksi sosial yaitu
gangguan komunikasi sosial pragmatis. Anak yang mengalami defisit yang
bermakna dalam komunikasi sosial namun tidak memenuhi kriteria diagnosis
gangguan spektrum autism, harus dievaluasi untuk gangguan komunikasi
sosial pragmatis.18 Kriteria diagnosis untuk gangguan tersebut berdasarkan
DSM-V adalah:
A. Kesulitan yang persisten dalam komunikasi sosial secara verbal maupun
nonverbal yang ditunjukkan oleh semua hal hal berikut:
a) Defisit dalam melakukan komunikasi untuk tujuan sosial, seperti
menyapa dan berbagi informasi, dengan cara yang sesuai untuk
konteks sosial.
b) Gangguan kemampuan untuk mengubah komunikasi agar sesuai
dengan konteks atau kebutuhan pendengar, seperti berbicara secara
berbeda di ruang kelas dari di taman bermain, berbicara secara berbeda
kepada seorang anak dan kepada orang dewasa, dan mengindari
penggunaan bahasa yang terlalu formal.
c) Kesulitan mengikuti aturan untuk percakapan dan bercerita, seperti
bergiliran dalam percakapan, mengulangi ketika disalahpahami, dan
mengetahui bagaimana menggunakan sinyal verbal dan non verbal
untuk mengantur interaksi.

41
d) Kesulitan memahami apa yang tidak dinyatak secara eksplisit (missal:
membuat kesimpulan) dan bahasa non literal atau ambigu (misal:
idiom, humor, metafora, beragam makna yang bergantung pada
konteks untuk interpretasi).
e) Defisit mengakibatkan keterbatasan fungsional dalam komunikasi
yang efektif, partisipasi sosial, hubungan sosial, prestasi akademik,
atau kinerja pekerjaan.
f) Permulaan gejala adalah pada periode perkembangan awal (tetapi
defisit mungkin tidak nyata sepenuhnya sampai tuntutan komunikasi
sosial melebihi kapasitas yang terbatas).
g) Gejala-gejalanya tidak disebabkan oleh kondisi medis atau neurologis
lain atau kemampuan rendah dalam domain kata atau bahasa, dan tidak
dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan spectrum autism, retardasi
mental, keterlambatan perkembangan global, atau gangguan jiwa
lainnya.18

2.7.8 TatalaksanaGangguan Perkembangan Pervasif


Tujuan terapi adalah menurunkan gejala perilaku dan membantuk
perkembangan fungsi yang terlambat, rudimenter, atau tidak ada, seperti
keterampilan bahasa dan merawat diri sendiri. Metode pendidikan dan
perilaku sekarang dianggap merupakan terapi yang terpilih. Latihan di ruang
kelas yang terstruktur dalam kombinasi dengan metode perilaku adalah
metode terapi yang paling efektif untuk anak autism. Peningkatan dalam
bidang bahasa dan kognisi dan penurunan perilaku maladaptive dicapai
dengan program perilaku yang konsisten. Walaupun tidak ada obat yang
spesifik untuk gangguan autistic, psikofarmakoterapi adalah tambahan yang
berguna bagi program terapi menyeluruh.16

2.8 Gangguan Perkembangan Sosial, Emosi dan Perilaku


Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan
yang terkait dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang
muncul pada anak dan memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh

42
interaksi sosial dan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami
anak adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan
setelah mengalami trauma. Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi
autisme serta gangguan perilaku dan interaksi sosial. 5
Anak dengan gangguan emosi dan perilaku adalah anak yang mengalami
kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-
norma yang berlaku dalam lingkungan kelompok usia maupun masyarakat pada
umumnya, sehingga merugikan dirinya maupun orang lain, dan karenanya
memerlukan pelayanan pendidikan khusus demi kesejahteraan dirinya maupun
lingkungannya. Seseorang dikatakan mengalami gangguan perilaku apabila
memiliki satu atau lebih dari lima karakteristik berikut dalam kurun waktu yang
lama, yaitu:9
a. Ketidakmampuan untuk belajar yang bukan disebabkan oleh faktor
intelektualitas, alat indra maupun kesehatan.
b. Ketidakmampuan untuk membangun atau memelihara kepuasan dalam
menjalin hubungan dengan teman sebaya dan pendidik.
c. Tipe perilaku yang tidak sesuai atau perasaan yang di bawah keadaan normal.
d. Mudah terbawa suasana hati (emosi labil), ketidakbahagiaan, atau depresi.
e. Kecenderungan untuk mengembangkan simtom-simtom fisik atau ketakutan-
ketakutan yang diasosiasikan dengan permasalahan-permasalahan pribadi atau
sekolah.

Gejala gangguan emosi dan perilaku biasanya dibagi menjadi dua macam,
yaitu externalizing behavior dan internalizing behavior.9
a. Externalizing behavior memiliki dampak langsung atau tidak langsung
terhadap orang lain, contohnya perilaku agresif, membangkang, tidak patuh,
berbohong, mencuri, dan kurangnya kendali diri.
b. Internalizing behavior mempengaruhi siswa dengan berbagai macam
gangguan seperti kecemasan, depresi, menarik diri dari interaksi sosial,
gangguan makan, dan kecenderungan untuk bunuh diri. Kedua tipe tersebut
memiliki pengaruh yang sama buruknya terhadap kegagalan dalam belajar di
sekolah.

43
Lebih lanjut, karakteristik anak dengan gangguan perilaku dan emosi, sebagai
berikut:
a) Inteligensi dan Prestasi Belajar9
Beberapa ahli menemukan bahwa anak-anak dengan gangguan ini memiliki
inteligensi di bawah normal (sekitar 90) dan beberapa di atas bright normal.
b) Karakteristik Sosial dan Emosi Agresif, acting-out behavior (externalizing)9
Conduct disorder (gangguan perilaku) merupakan permasalahan yang paling
sering ditunjukkan oleh anak dengan gangguan emosi atau perilaku. Perilaku-
perilaku tersebut seperti: memukul, berkelahi, mengejek, berteriak, menolak
untuk menuruti permintaan orang lain, menangis, merusak, vandalisme,
memeras, yang apabila terjadi dengan frekuensi tinggi maka anak dapat
dikatakan mengalami gangguan. Anak normal lain mungkin juga melakukan
perilaku- perilaku tersebut tetapi tidak secara impulsif dan sesering anak
dengan conduct disorder.
c) Immature, withdrawl behavior (internalizing)9
Anak dengan gangguan ini, menunjukkan perilaku immature (tidak matang
atau kekanak-kanakan) dan menarik diri. Mereka mengalami keterasingan
sosial, hanya mempunyai beberapa orang teman, jarang bermain dengan anak
seusianya, dan kurang memiliki ketrampilan sosial yang dibutuhkan untuk
bersenang-senang. Beberapa di antara mereka mengasingkan diri untuk
berkhayal atau melamun, merasakan ketakutan yang melampaui keadaan
sebenarnya, mengeluhkan rasa sakit yang sedikit dan membiarkan “penyakit”
mereka terlibat dalam aktivitas normal. Di antara mereka ada yang
mengalami regresi yaitu kembali pada tahap-tahap awal perkembangan dan
selalu meminta bantuan dan perhatian, dan beberapa diantara mereka menjadi
tertekan (depresi) tanpa alasan yang jelas.

Ciri perilaku anak dengan gangguan emosi dan perilaku dengan tipe
externalizing behavior setidak-tidaknya memiliki empat ciri, yaitu:9
1) Bersikap membangkang.
2) Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.

44
3) Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
4) Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum

2.9 Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas


Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah suatu kondisi medis yang ditandai
oleh ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas,
yang terjadi pada lebih dari satu situasi, dengan frekuensi lebih sering dan
intensitas lebih berat dibandingkan dengan anak-anak seusianya.10
2.9.1 Epidemiologi
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke-4 yang
direvisi (DSM IV TR) melaporkan prevalensi GPPH sebesar 2-7% diantara
anak usia sekolah.11 Prevalensi GPPH pada anak sekolah berkisar 3-10%.
American Psychiatric Association memperkirakan 3-7 dari 100 anak sekolah
menderita GPPH. 10
Badan Penelitian dan Pengembangan Direktorat Pendidikan Luar Biasa
pada tahun 2006 melaporkan bahwa dari 696 siswa SD yang berasal dari
empat provinsi di Indonesia dengan rata-rata nilai rapor kurang dari 6,
terdapat 33% siswa yang dinyatakan mengalami gangguan emosi dan
perilaku, yang didalamnya termasuk GPPH.9

2.9.2Etiologi dan Faktor Risiko


Penyebab pasti terjadinya GPPH hingga saat ini belum bisa diketahui
Berbagai penelitian menunjukkan penyebab terjadinya gangguan ini meliputi
berbagai faktor yang berpengaruh terhadap fungsi otak.11
1) Faktor Genetik
Anak dengan GPPH sering ditemukan pada keluarga yang memiliki
riwayat GPPH dan kelainan psikiatri lainnya, seperti mood disorder,
conduct disorder, dan anxiety disorder (Mahabbati, 2013). Hal ini selaras
dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa 25% keluarga dekat dari
anak dengan GPPH juga menderita GPPH.10

45
Penelitian genetika molekuler pada anak dengan GPPH menemukan gen
Dopamine Receptor D4 (DRD4) pada salah satu reseptor celah
pascasinaptik yang menimbulkan aktivasi dopamin. Hasil yang sama
didapatkan pada empat penelitian berikutnya. Selain gen DRD4, juga
ditemukan 6 gen lain yang diduga kuat berperan dalam munculnya GPPH
yaitu DRD5, DAT, DBH, 5-HTT, HTR1B, dan SNAP-25. Meskipun
demikian, sampai saat ini belum dapat dibuktikan adanya kromosom
abnormal sebagai penyebab terjadinya gangguan ini.11
2) Faktor Neurologi
Cedera otak yang minimal dan tersamar pada sistem saraf pusat selama
periode janin dan perinatal diperkirakan telah terjadi pada beberapa anak
dengan GPPH. Cedera otak ini diduga disebabkan oleh efek sirkulasi,
toksik, metabolik, mekanik, dan efek merugikan lainnya, serta oleh
kerusakan fisik pada otak yang terjadi setelah anak lahir yang disebabkan
oleh infeksi, peradangan, dan trauma.12
GPPH disebabkan oleh gangguan pada fungsi otak, karena didapatkan
defisit aktivasi yang disebabkan oleh adanya proses patologi di area
prefrontal dan/atau sagital frontal dengan predominansi pada korteks otak.
Kerusakan otak pada janin dan neonatal paling sering disebabkan oleh
kondisi hipoksia.10
3) Faktor Neurotransmiter
Neurotransmiter utama yang berkaitan dengan terjadinya GPPH antara
lain norepinefrin dan dopamin.9 Hal ini selaras dengan hasil berbagai
penelitian farmakologi yang dikemukakan oleh Landau (1997) dan
Biederman (2000) yang memaparkan bahwa gangguan pada sistem
norepinefrin berperan terhadap munculnya gejala GPPH, tetapi tidak
menjadi penyebab tunggal.11
4) Faktor Psikososial
Kejadian fisik yang menimbulkan stres dan kecemasan, permasalahan
dalam keluarga, dan tingkat temperamen anak diduga berperan dalam
muncul atau berlanjutnya GPPH.Namun hingga saat ini tidak ada hasil

46
penelitian yang mendukung bahwa GPPH disebabkan oleh asuhan
orangtua atau lingkungan keluarga yang buruk.12
5) Faktor Lingkungan
Beberapa faktor diduga berperan dalam terjadinya GPPH, seperti
keracunan timbal, aditif makanan, dan reaksi alergi.11

2.9.3 Diagnosis
Kriteria diagnosis GPPH yang saat ini digunakan sebagai pedoman dalam
pendidikan dokter dan praktek klinik adalah kriteria oleh Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorder edisi ke-4 (DSM-IV) (Kementerian
Kesehatan RI, 2011). Berdasarkan DSM IV, gejala harus ditemukan pada
sekurangnya dua keadaan, misalnya di sekolah, di rumah, dan di klinik.
Kriteria diagnosis GPPH menurut DSM-IV adalah sebagai berikut (Kaplan et
al., 2010):
a. Salah satu dari 1). atau 2).
1) Inatensi: terdapatnya enam atau lebih gejala berikut ini selama
paling kurang enam bulan, sampai pada tingkat maladaptif, dan
tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
a) Sering gagal dalam memusatkan perhatian terhadap
perincian atau sering melakukan kesalahan karena tidak
berhati-hati dalam tugas sekolah, pekerjaan, atau aktivitas
lain.
b) Sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan
perhatian terhadap tugas atau aktivitas permainan.
c) Sering tidak tampak mendengarkan jika sedang
berkomunikasi langsung.
d) Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan
tugas sekolah atau pekerjaan, yang bukan disebabkan oleh
perilaku oposisional atau tidak mengerti instruksi.
e) Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas dan
aktivitas.

47
f) Sering menghindari tugas yang memerlukan perhatian yang
lama, seperti tugas sekolah atau pekerjaan rumah.
g) Sering menghindari hal-hal yang diperlukan untuk membuat
tugas, seperti buku, pensil, atau peralatan.
h) Sering teralihkan perhatiannya oleh stimulus dari luar.
i) Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.
2) Hiperaktivitas-Impulsivitas: terdapatnya enam atau lebih gejala
berikut ini selama paling kurang enam bulan, sampai pada tingkat
maladaptif, dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan
anak.Hiperaktivitas:
a) Tangan dan kaki sering gelisah atau sering menggeliat di
tempat duduk.
b) Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam
situasi lain dimana anak diharapkan untuk tetap duduk.
c) Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam
situasi yang tidak tepat.
d) Sering mengalami kesulitan atau tidak tenang dalam
bermain dan melakukan aktivitas.
e) Sering bertindak seakan-akan ‘didorong oleh sebuah motor’.
f) Sering bicara berlebihan.
Impulsivitas:
a) Sering menjawab pertanyaan tanpa berpikir terlebih dahulu
atau sebelum pertanyaan selesai ditanyakan.
b) Sering mengalami kesulitan menunggu giliran.
c) Sering memutus percakapan atau mengganggu orang lain.
b. Beberapa gejala inatensi atau hiperaktif-impulsif yang menyebabkan
gangguan telah ada sebelum usia 7 tahun.
c. Beberapa gangguan akibat gejala ada pada dua atau lebih situasi,
misalnya di sekolah dan di rumah.
d. Terdapat bukti yang jelas akan adanya gangguan yang bermakna secara
klinis dalam fungsi sosial, akademik, atau fungsi pekerjaan.

48
e. Gejala yang terjadi bukanlah bagian dari perjalanan gangguan
perkembangan pervasif, skizofrenia, atau gangguan psikotik lain, dan
tidak memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental lainnya.
Pedoman penggolongan dan diagnosis untuk gangguan ini dan gangguan
psikiatri lainnya di Indonesia adalah Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa edisi ke-3 (PPDGJ-III) yang merupakan terjemahan dari ICD-
10. Berdasarkan PPDGJ-III, gangguan ini disebut dengan gangguan
hiperkinetik yang termasuk dalam kelompok utama gangguan perilaku dan
emosional, dengan onset biasanya pada usia lima tahun pertama, dengan
nomor kode klasifikasi F90.10

Kriteria diagnosis GPPH menurut PPDGJ-III adalah sebagai berikut:


a. Ciri-ciri utama adalah berkurangnya perhatian dan aktivitas berlebihan.
Kedua ciri ini menjadi syarat mutlak dalam menegakkan diagnosis dan
harus didapatkan pada lebih dari satu situasi, misalnya di rumah, sekolah,
dan klinik.
b. Berkurangnya perhatian terlihat jelas dari terlalu dininya anak
menghentikan tugas atau meninggalkan suatu kegiatan sebelum selesai
dikerjakan. Anak seringkali beralih dari satu kegiatan ke kegiatan lain
karena hilangnya minat terhadap tugas yang pertama. Berkurangnya
perhatian ini hanya didiagnosis bila sifatnya berlebihan bagi anak dengan
usia atau IQ yang sama.
c. Hiperaktivitas diartikan sebagai kegelisahan yang berlebihan, khususnya
dalam situasi yang menuntut anak untuk tetap tenang, dibandingkan
dengan anak yang usia dan IQ-nya sama. Perilaku ini tampak secara jelas
dalam situasi yang berstruktur yang menuntut suatu tingkat sikap
pengendalian diri yang tinggi.
d. Gambaran penyerta tidak terlalu dibutuhkan, namun dapat mendukung
dalam menegakkan diagnosis, misalnya kecerobohan dalam hubungan-
hubungan sosial dan sikap yang secara impulsif melanggar tata tertib
sosial.

49
e. Gangguan belajar dan kekakuan motorik sangat sering ditemukan
bersamaan dengan GPPH dan jika ada harus dicatat secara terpisah.

GPPH umumnya memiliki onset pada usia tiga tahun, namun diagnosis
biasanya tidak dibuat hingga anak berada di sekolah dan situasi belajar yang
terstruktur yang mengharuskan pola perilaku yang terstruktur, termasuk
rentang perhatian dan konsentrasi yang sesuai dengan perkembangannya.12

2.9.4 Terapi Psikofarmaka


Psikofarmaka yang menjadi pilihan pertama pada GPPH yaitu golongan
psikostimulan. Terdapat tiga macam obat golongan psikostimulan yaitu :
a. Golongan Metilfenidat
b. Golongan Deksamfetamin
c. Golongan Pemolin
Psikostimulan bekerja dengan meningkatkan dan menyeimbangkan
keadaan neurotransmitter otak, sehingga dapat memperbaiki gejala-gejala
inti. Metilfenidat merupakan satu-satunya obat psikostimulan yang dapat
ditemukan di Indonesia. Salah satu target utama dari metilfenidat adalah
dopamin. Metilfenidat bekerja dengan menghambat protein tertentu dalam
mereabsorpsi dopamin. Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa
metilfenidat dapat menormalkan kembali fungsi neuron di korteks prefrontal,
dimana korteks prefrontal ini merupakan area penting yang mengatur atensi,
impulsivitas, dan pengambilan keputusan.1 Contoh obat Metilfenidat yaitu
Ritalin, Concerta, Metadate, dan Focalin.

Tabel 2.2 Daftar obat golongan Metilfenidat yang beredar di Indonesia1


Jenis Stimulan / Sediaan yang Ada Lama Kerja dengan
Nama Generik
Nama Dagang di Indonesia Dosis Optimal
Ritalin Immediate
Metilfenidat Tablet 10 mg 3-4 jam
Release (IR)
Ritalin Slow
Metilfenidat Tablet 20 mg 4-6 jam, bervariasi
Release (SR)

50
Ritalin Long
Metilfenidat Kapsul 20 mg 6-8 jam
Acting (LA)
Tablet 18 mg dan
Concerta (OROS) Metilfenidat 8-12 jam
36 mg

Efek samping ini umumnya timbul pada saat pemakaian pertama kali
atau jika terjadi peningkatan dosis obat yang diberikan. Gejala efek samping
ini akan hilang dalam beberapa jam hingga beberapa hari setelah obat
dihentikan atau diturunkan dosisnya. Penghentian obat golongan
psikostimulan sebaiknya dilakukan secara bertahap untuk menghindari efek
yang tidak menguntungkan.1

2.9.5 Pendekatan Psikososial


Pendekatan psikososial yang bisa dilakukan untuk menangani anak
dengan GPPH adalah:1
a. Latihan keterampilan sosial bagi anak dengan GPPH yang bertujuan agar
anak dapat lebih mengerti norma-norma sosial yang berlaku, sehingga
mereka dapat berperilaku serta bereaksi sesuai dengan norma yang ada dan
dapat berinteraksi dengan lebih optimal.
b. Edukasi bagi orangtua agar mereka dapat menghadapi perilaku anaknya
dengan lebih baik
c. Edukasi dan pelatihan bagi guru yang bertujuan untuk:
a) Mengurangi terjadinya stigmatisasi pada anak dengan GPPH di
sekolah, sehingga menghindari adanya anggapan buruk terhadap
anak-anak ini, misalnya label sebagai anak nakal, bandel, atau
pemalas.
b) Meningkatkan kemampuan guru dalam berempati terhadap
perilaku dan reaksi emosi anak didik mereka yang mengalami
GPPH .

51
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pertumbuhan merupakan perubahan dalam besar, jumlah ukuran atau
dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur. Sedangkan
perkembangan (development) adalah bertambahanya kemampuan (skill)
dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang
teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
2. Usia 6-12 tahun merupakan usia yang penting, dimana saat tersebut
merupakan developmental switch point yaitu saat yang menentukan
perilaku anak tersebut saat ia telah dewasa nantinya.
3. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia 6-12 tahun ini selain
dipengaruhi oleh genetik, juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia
dibesarkan dan dapat terjadi gangguan pertumbuhan dan perkembangan
yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
4. Beberapa gangguan yang dapat terjadi pada usia sekolah ini adalah
gangguan sosial, emosional, dan moral, gangguan bahasa, gangguan
belajar, gangguan perkembangan pervasive, ganggoan motorik, dan
gangguan fisik.

52
DAFTAR PUSTAKA
1. Setiyaningrum E. Anak Usia 8-11 Tahun. Dalam:Tumbuh Kembang Anak
Usia 0-12 Tahun. Sidoarjo: Indomedia Pustaka;2017.h.131-3.
2. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Dalam:Tumbuh Kembang Anak.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;1995.h.1-3.
3. Irwanto, Suryawan A, Narendra. Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak.
Continuing Education. Surabaya;2006; 3-4.
4. Feigelman S. Middle Childhood. Dalam: Kliegman RM, Stanton BF, Geme
JW, Schor NF, Behrman RE, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics.
Philadelphia:Elsevier Inc;2011(19).h.36-9.
5. Chamidah AN. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Anak. Jurnal Pendidikan Khusus.2009;5(2).h.83-93.
6. Guerra NG, Williamson AA, Lucas-Molina B. Normal Development:
Infancy, childhood, and adolescence. Dalam: Guerra NG, Williamson AA,
Lucas-Molina B, penyunting. Textbook of Child and Adolescent Mental
Health. Geneva: International Association for Child and Adolescent
Psychiatry and Alliad Professions; 2012.h.24-31.
7. Eccles JS. The development of children ages 6 to 14. The Future of Children
When School is Out; 1999; 9 (2).h.30-44.
8. DelGiudice M. Middle childhood: An evolutionary-developmental synthesis.
Dalam: Halfon N, Forrest CB, Lerner RM, Faustman EM, penyunting.
Handbook of Life Course Health Development. Springer;2018. h.95-105.
9. Mahabbati A. Identifikasi Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku di
Sekolah Dasar. JPK.2006 Nov;2(2).h.1-14.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
330/Menkes/Per/II/2011. Pedoman Deteksi Dini Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada Anak serta Penanganannya. 17
Februari 2011. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 107.
Jakarta;2011.
11. Forgey, M. dan S. DeJong. Childhood Disorders That Persist Into
Adolescence and Adulthood. Dalam Psychiatry: Just The Facts. Editor R.C.
Albucher. The Mc-Graw Hill Companies. USA;2008.

53
12. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Gangguan Belajar. Dalam: Wiguna IM,
penyunting. Sinopsis Psikiatri. Tangerang: Binarupa Aksara
Publisher;2010(2).h.713-23.
13. Tarmansyah. Gangguan Komunikasi. Depdikbud: Padang, 1995.
14. Sastra, G. Neurolinguistik: Sebuah Pengantar. Alfabeta: Bandung, 2011.
15. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Gangguan Perkembangan Pervasif. Dalam:
Wiguna IM, penyunting. Sinopsis Psikiatri. Jilid kedua. Tangerang: Binarupa
Aksara Publisher;2010.h.712-27.
16. Fuentes J, Bakare M, Munir K, Aguayo P, Gaddour N, Oner O, Mercadante
M. Autism spectrum disorders. Dalam: In Rey JM, penyunting. IACAPAP E-
Textbook of Child and Adolescent Mental Health. Geneva: International
Association for Child and Adolescent Psychiatry and Allied
Professions;2012.h.1-27.
17. Autism Speaks. DSM-5 Criteria. Didapat dari
https://www.autismspeaks.org/dsm-5-criteria(Diunduh pada 27 Januari
2019).2018.
18. Swineford LB, Thurn A, Baird G, Wetherby AM, Swedo S. Social
(pragmatic) communication disorder: a research view of this new DSM-5
diagnostic category. JNeurodevDisorders 2014; 6(41).h.1-8.
19. Iversen S. Children with developmental problems and disorders: Selected
aspects of motor and multidisciplinary assessment and intervention.
Dissertation. University of Bergen, Norway; 2006.h.13.
20. Noritz GH, Murphy NA. Motor delays: Early identification and evaluation.
Pediatrics;131(6).2013.h.2016-27
21. Hanani R, Syauqy A. Perbedaan perkembangan motorik kasar, motorik halus,
bahasa, dan personal sosial pada anak stunting dan non stunting. JNutr
5(4).2015.h.412-8.
22. Desmita. Psikologi Perkembangan. Bandung;PT Remaja Rosdakarya.2007.
23. Hurlock, E.B. Developmental Psychology. 5 th Ed. New york : McGrow –
Hill, Inc.1980.
24. Mussen, P.H. dan Kagan, J.J.Child Development and Personality, 5 th. Ed.
New York : Harper and Row Publisher.1969.

54
25. The Institute for Human Services for The Ohio Child Walfare Training
Program. Developmental Milestone Chart. Ohio. 2007; 8-9.
26. Hartanto F, Selina H, Zuhriah H, Fitra S. Pengaruh perkembangan bahasa
terhadap perkembangan kognitif anak usia 1-3 tahun. Sari Pediatri; 2011.
12(6). h.386-390.
27. Gunawan G, Destiana R, Rusmil K. Gambaran perkembangan bicara dan
bahasa anak usia 0-3 tahun. Sari Pediatri; 2011. 13(1). h.21-25.
28. Hardiono D. Pusponegoro. What to do when you find a child with speech and
language delay. Dalam: What l Why l How in Child Neurology. UKK
Neurologi IDAI Cabang DKI Jakarta; 2014. h.70-79.

55