Anda di halaman 1dari 17

1

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Penyakit HIV AIDS


2.1.1 Sejarah Singkat Hiv Aids
Virus HIV dikenal secara terpisah oleh para peneliti di Institut Pasteur
Perancis pada tahun 1983 dan NIH yaitu sebuah institut kesehatan nasional di
Amerika Serikat pada tahun 1984. Meskipun tim dari Institute Pasteur Perancis
yang dipimpin oleh Dr. Luc Montagnie, yang pertama kali mengumumkan
penemuan ini di awal tahun 1983 namun penghargaan untuk penemuan virus ini
tetap diberikan kepada para peneliti baik yang berasal dari Perancis maupun
Amerika. Peneliti Perancis memberi nama virus ini LAV atau lymphadenopathy
associated virus. Tim dari Amerika yang dipimpin Dr. Robert Gallo menyebut
virus ini HTLV-3 atau human T-cell lymphotropic virus type-3. Kemudian Komite
Internasional untuk Taksonomi Virus memutuskan untuk menetapkan nama
human immunodeficiency virus (HIV) sebagai nama yang dikenal sampai
sekarang maka para peneliti tersebut juga sepakat untuk menggunakan istilah
HIV. Sesuai dengan namanya, virus ini “memakan” imunitas tubuh.
2.1.2 Definisi
HIV atau ’Human
Immunodeficiency Virus’, adalah virus
yang menyerang dan merusak kekebalan
tubuh pada manusia, sehingga tubuh
tidak bisa melawan infeksi-infeksi yang
masuk ke tubuh. Acquired Immune
Deficiency Syndrome atau yang lebih
dikenal dengan dengan AIDS adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh
virus HIV yaitu: H = Human (manusia),
I = Immuno deficiency (berkurangnya kekebalan), V = Virus.
Maka dapat dikatakan HIV adalah virus yang menyerang dan merusak sel
kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh kehilangan daya tahan dan mudah

1
2

terserang berbagai penyakit antara lain TBC, diare, sakit kulit, dll. Kumpulan
gejala penyakit yang menyerang tubuh kita itulah yang disebut AIDS, yaitu:

A = Acquired (didapat), I = Immune (kekebalan tubuh),D = Deficiency


(kekurangan), S = Syndrome (gejala). Maka, selama bertahun-tahun orang dapat
terinfeksi HIV sebelum akhirnya mengidap AIDS. Namun penyakit yang paling
sering ditemukan pada penderita AIDS adalah sejenis radang paru-paru yang
langka, yang dikenal dengan nama pneumocystis carinii pneumonia (PCP), dan
sejenis kanker kulit yang langka yaitu kaposi’s sarcoma (KS).

Jadi AIDS berarti kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan


sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir dan disebabkan oleh HIV
atau Human Immunodeficiency Virus. AIDS bukan penyakit turunan, oleh sebab
itu dapat menulari siapa saja. Virusnya sendiri bernama Human
Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah
kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan
terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun
penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun
penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

Penyakit ini kadang disebut “infeksi oportunistik”, karena penyakit ini


menyerang dengan cara memanfaatkan kesempatan ketika kekebalan tubuh
menurun sehingga kanker dan infeksi oportunistik inilah yang dapat menyebabkan
kematian. Biasanya penyakit ini baru muncul dua sampai tiga tahun setelah
penderita didiagnosis mengidap AIDS. Orang yang mengidap KS mempunyai
kesempatan hidup lebih lama dibandingkan orang yang terkena infeksi
oportunistik. Akan tetapi belum ada seorang pun yang diketahui benar-benar
sembuh dari AIDS. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat
sakit. Secara fisik dia akan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Apakah
seseorang sudah tertular HIV atau tidak hanya bisa diketahui melalui tes darah.
Oleh karena itu 90% dari pengidap AIDS tidak menyadari bahwa mereka telah
tertular virus AIDS, yaitu HIV karena masa inkubasi penyakit ini termasuk lama
dan itulah sebabnya mengapa penyakit ini sangat cepat tertular dari satu orang ke
3

orang lain. Masa inkubasi adalah periode atau masa dari saat penyebab penyakit
masuk ke dalam tubuh (saat penularan) sampai timbulnya penyakit.
2.1.3 Perbedaannya HIV dan AIDS
Fase HIV adalah fase dimana virus masuk ke dalam tubuh dan tubuh mulai
melakukan perlawanan dengan menciptakan antibodi. Pada fase ini, sebagian
besar orang tidak merasakan gejalanya sehingga disebut fase tanpa gejala.
Fase AIDS, adalah saat tubuh sudah tidak mampu melawan penyakit-
penyakit yang masuk dan menginfeksi tubuh. Biasanya dikatakan fase AIDS
setalah muncul 2 atau lebih gejala. Misal flu yang sulit sembuh diiringi mencret
dan menurunnya berat badan hingga >10%.Untuk memudahkan penjelasannya.
Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) dibagi dalam 4 Stadium perkembangan,
yaitu:
a. Stadium awal infeksi HIV, menunjukkan gejala-gejala seperti : demam,
kelelahan, nyeri sendi, pembesaran kelenjar getah bening. Gejala-gejala ini
menyerupai influenza/monokleosis.
b. Stadium tanpa gejala, yaitu stadium dimana ODHA nampak sehat, namun
dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV. Masa ini bisa mencapai 5
hingga 10 tahun, bergantung dengan kekebalan tubuh dan kesehatan seseorang.
c. Stadium ARC (AIDS Related Complex), memperlihatkan gejala-gejala seperti
demam lebih dari 38oC secara berkala/terus-menerus, menurunnya berat badan
lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan, pembesaran kelenjar getah bening,
diare/mencret secara berkala/terus-menerus dalam waktu yang lama tanpa
sebab yang jelas, kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik,
berkeringat pada waktu malam hari.
d. Stadium AIDS, akan menunjukkan gejala-gejala seperti terdapatnya kanker
kulit yang disebut sarkoma kaposi, kanker kelenjar getah bening, infeksi
penyakit penyerta misalnya : pneumonia yang disebabkan oleh pneumocytis
carinii, TBC, peradangan otak/selaput otak.
2.1.4 Penyebab HIV/AIDS
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya.
tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS
menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan
4

alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit
lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor
yang mungkin berperan di antaranya adalah waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus
memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan
menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-
helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan suatu
peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-sel ini akan
berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem kekebalan tubuh
yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi antibodi yang
menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang berbahaya.
Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-
helper juga memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang
disebut sel T-suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh
untuk menghentikan serangannya. Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-
helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem kekebalan
sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua banding satu. Jika
orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini kebalikannya, yaitu sel-sel T-
suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya, penderita AIDS tidak
hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper untuk
mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel
penolong yang sedang bekerja.
Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita juga
perlu tahu bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah
struktur sel yang diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan
kode genetiknya dengan bahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang
ditulari berubah menjadi pabrik pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam
aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-helper yang lain. Proses ini akan terjadi
berulang-ulang. Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus.
HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi
5

yang dilakukan pada otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan
bahwa virus ini juga menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada
waktu yang bersamaan, peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV
dengan cairan cerebrospinal dari orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala
terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar membuat risau. Sementara para
peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang sistem kekebalan, semua
orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala terjangkit AIDS
atau penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa terbebas dari
kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa
mereka yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita
kerusakan otak dan sistem saraf pusat.
Penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV yang menyerang sel-sel Limfosit
(sel T helper) yang berfungsi melindungi tubuh terhadap terjadinya infeksi
sehingga daya tahan tubuh penderita berkurang dan mudah terinfeksi oleh
berbagai penyakit
2.1.5 Penularan dan Pencegahan HIV/AIDS
Pencegahan tentu saja harus dikaitkan dengan cara-cara penularan HIV
seperti yang sudah dikemukakan. Ada beberapa cara pencegahan HIV/AIDS,
yaitu :
a. Pencegahan penularan melalui hubungan seksual, infeksi HIV terutama terjadi
melalui hubungan seksual, sehingga pencegahan AIDS perlu difokuskan pada
hubungan seksual. Untuk ini perlu dilakukan penyuluhan agar orang
berperilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab, yakni : hanya
mengadakan hubungan seksual dengan pasangan sendiri (suami/isteri sendiri),
kalau salah seorang pasangan anda sudah terinfeksi HIV, maka dalam
melakukan hubungan seksual perlu dipergunakan kondom secara benar,
mempertebal iman agar tidak terjerumus ke dalam hubungan-hubungan seksual
di luar nikah.
b. Pencegahan Penularan Melalui Darah dapat berupa : pencegahan dengan cara
memastikan bahwa darah dan produk-produknya yang dipakai untuk transfusi
tidak tercemar virus HIV, jangan menerima donor darah dari orang yang
6

berisiko tinggi tertular AIDS, gunakan alat-alat kesehatan seperti jarum suntik,
alat cukur, alat tusuk untuk tindik yang bersih dan suci hama.
c. Pencegahan penularan dari Ibu-Anak (Perinatal). Ibu-ibu yang ternyata
mengidap virus HIV/AIDS disarankan untuk tidak hamil.
d. Mencegah Penularan Lewat. Alat-Alat Yang Tercemar Bila hendak
menggunakan alat-alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum
tato, pisau cukur dan lain-lainnya), pastikan bahwa alat-alat tersebut benar-
benar steril. Cara mensterilkan alat-alat tersebut dapat dengan mencucinya
dengan benar. Anda dapat memakai ethanol 70% atau pun pemutih. Caranya,
sedot ethanol dengan jarum suntik tersebut, lalu semprotkan keluar. Hal ini
dilakukan dua kali. Manifestasi AIDS rata-rata timbul 10 tahun sesudah
infeksi.

2.1.6 Virus HIV Tidak Menular Melalui :


1) Keringat, Air liur
2) Makanan,Flu/influenza
3) Berpelukan
4) Makan dengan perabot yang sama
5) Bersalaman
6) Mandi bersama
7) Digigit nyamuk
8) Memakai toilet bersama
9) Berhubungan Seks dengan menggunakan Kondom yang baik.
10) Ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya.
7

2.1.7 Tanda-Tanda Seseorang Tertular Hiv/Aids


Gejala-gejala utama AIDS.

Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus


yang bisa menandai apakah seseorang telah
tertular HIV, karena keberadaan virus HIV
sendiri membutuhkan waktu yang cukup
panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai
masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya
HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang
menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini
disebut masa HIV positif. Bila seseorang
terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian
memeriksakan diri dengan menjalani tes darah,
maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di
dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 -
6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah
tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila
orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau
pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV
melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi
Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang
memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat
infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh
unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum
didapati pada penderita AIDS HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh.
Penderita AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma
Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam,
berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan,
merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang
diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi
tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.
8

2.1.8 Pencegahan HIV/AIDS


Bagi yang belum terinfeksi
Sampai detik ini belum ada vaksin yang sanggup
mencegah atau mengobati HIV AIDS. Namun
bukanlah sesuatu yang mustahil untuk melakukan
pencegahan HIV terhadap diri sendiri dan orang lain.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap proses
penularan merupakan kunci dari pencegahannya.
Disini saya sampaikan tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS
jika anda belum terinfeksi HIV AIDS.
Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika anda belum
terinfeksi HIV AIDS. Yaitu :
 Pahami HIV AIDS dan ajarkan pada orang lain. Memahami HIV AIDS
dan bagaimana virus ini ditularkan merupakan dasar untuk melakukan tindakan
pencegahan
 Ketahui status HIV AIDS patner seks anda. Berhubungan seks dengan
sembarang orang menjadikan pelaku seks bebas ini sangat riskan terinfeksi
HIV, oleh karena itu mengetahui status HIV AIDS patner seks sangatlah
penting.
 Gunakan jarum suntik yang baru dan steril. Penyebaran paling cepat HIV
AIDS adalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang
yang memiliki status HIV positif, penularan melalui jarum suntik sering terjadi
pada IDU ( injection drug user).
 Gunakan Kondom Berkualitas. Selain membuat ejakulasi lebih lambat,
penggunaan kondom saat berhubungan seks cukup efektif mencegah penularan
HIV AIDS melalui seks.
 Lakukan sirkumsisi / khitan. Banyak penelitian pada tahun 2006 oleh
National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang melakukan
khitan memiliki resiko 53 % lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan
sirkumsisi.
 Lakukan tes HIV secara berkala. Jika anda tergolong orang dengan resiko
tinggi, sebaiknya melakukan tes HIV secara teratur, minimal 1 tahun sekali.
9

2.2 Konsep Dasar ISK (Infeksi Saluran Kemih)


2.2.1 Definisis
Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi Cystitis dan Pielonefritis.
Cystitis adalah infeksi kandung kemih, yang merupakan tempat tersering
terjadinya infeksi. Pielonefritis adalah infeksi pada ginjal itu sendiri. Pielonefritis
dapat bersifat akut atau kronik. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi
kandung kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi
hematogen.
Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya
dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks
vesikoureter. Pada pielonefritis kronik, terjadi pembentukan jaringan parut dan
obstruksi tubulus yang luas. Kemampuan ginjal untuk memekatkan urin menurun
karena rusaknya tubulus-tubulus. Glomerulus biasanya tidak terkena, hal ini dapat
menimbulkan gagal ginjal kronik.
Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh
infeksi asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari
uretra kedalam kandung kemih. Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau
sistoskop.
Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi disepanjang saluran kemih,
termasuk ginjal itu sendiri, akibat poliferasi suati mikroorganisme.
Infeksi saluran kemih merupakan suatu keadaan adanya infeksi
mikroorganisme pada saluran kemih.
2.2.2 Etiologi
Bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih adalah jenis bakteri
aerob. Pada kondisi normal, saluran kemih tidak dihuni oleh bakteri atau mikroba
lain, tetapi uretra bagian bawah terutama pada wanita dapat dihuni oleh bakteri
yang jumlahnya makin berkurang pada bagian yang mendekati kandung kemih.
Infeksi saluran kemih sebagian disebabkan oleh bakteri, namun tidak tertutup
kemungkinan infeksi dapat terjadi karena jamur dan virus. Infeksi oleh bakteri
gram positif lebih jarang terjadi jika dibandingkan dengan infeksi gram negatif
Penyebab infeksi saluran kemih ini adalah mikroorganisme yang terdiri dari :
1. Bakteri gram negatif : E. Coli, entherobacter, pseudomonas, serrativa.
10

2. Bakteri gram positif : staphylococcus saprophyt, streptococcus.


3. Virus : jarang ditemukan
4. Jamur : jarang ditemukan
Mikroorganisme tersebut terdapat dalam vesika urinaria yang disebabkan
oleh beberapa faktor yaitu :
 Intake minum yang kurang setiap harinya
 Hygiene yang kurang
1. Jarang mengganti pakaian dalam
2. Pakaian dalam pada wanita yang terbuat dari bahan sintetis, bukan dari
katun
3. Penggunaan jeans yang terlalu ketat.
 Personal hygiene yang salah
Membersihkan perineum saat selesai berkemih dan defekasi dengan gerakan
belakang ke depan dan di bolak-balik
1. Hubungan sex yang berlebihan
2. Urine reflux
3. Trauma urethra
4. Penggunaan instrumen yang tidak steril : pemasangan kateter.
5. Sabun dengan ph yang tidak seimbang dan cenderung ke peningkatan ph
6. Spray hygiene wanita yang dapat menimbulkan reaksi alergi dan iritasi
7. Usia di atas 65 tahun
8. Penyakit diabetes melitus
9. Batu ginjal, yang dapat menyebabkan obstruksi urine.
2.2.3 Patofisiologi
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui:
1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran
kemih yang terinfeksi.
2. Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme patogen yang masuk melalui
darah yang terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang masuk
melalui darah dari suplay jantung ke ginjal.
3. Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang
disalurkan melalui helium ginjal.
11

4. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.


Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan
ascending. Tetapi dari kedua cara ini, ascending-lah yang paling sering terjadi.
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh
yang rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien yang
sementara mendapat pengobatan imun supresif. Penyebaran hematogen bisa juga
timbul akibat adanya infeksi di salah satu tempat misalnya infeksi S.Aureus pada
ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus infeksi dari tulang,
kulit, endotel atau di tempat lain.
Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke kandung
kemih dan menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah. Infeksi ascending
juga bisa terjadi oleh adanya refluks vesico ureter yang mana mikroorganisme
yang melalui ureter naik ke ginjal untuk menyebabkan infeksi.
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces
yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada
permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung
kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk
menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan
cetusan inflamasi.
2.2.4 Manifestasi Klinik
1.Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :
a) Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
b) Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
c) Hematuria
d) Nyeri punggung dapat terjadi
2.Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah :
a) Demam
b) Menggigil
c) Nyeri panggul dan pinggang
d) Nyeri ketika berkemih
e) Malaise
f) Pusing
12

g) Mual dan muntah


2.2.5 Komplikasi
 Gagal ginjal akut
 Ensefalopati hipertensif
 Gagal jantung, edema paru, retinopati hipertensif
2.2.6 Pemeriksaan Radiologis Dan Penunjang Lainnya
Prinsipnya adalah untuk mendeteksi adanya faktor predisposisi infeksi
saluran kemih, yaitu hal – hal yang mengubah aliran urin dan stasis urin, atau hal-
hal yang menyebabkan gangguan fungsional saluran kemih. Pemeriksaan tersebut
antara lain berupa:
a. Foto polos abdomen
Dapat mendeteksi sampai 90% batu radio opak
b. Pielografi intravena (PIV)
Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi
system pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode
infeksi saluran kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat
hipertensi, pielonefritis akut, riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan
kreatinin plasma sampai < 2 mg/dl, bakteriuria asimtomatik pada
kehamilan, lebih dari 3 episode infeksi saluran kemih dalam setahun. PIV
dapat mengkonfirmasi adanya batu serta lokasinya. Pemeriksaan ini juga
dapat mendeteksi batu radiolusen dan memperlihatkan derajat obstruksi
serta dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah
> 6 minggu infeksi akut sembuh, dan tidak dilakukan pada penderita yang
berusia lanjut, penderita DM, penderita dengan kreatinin plasma > 1,5
mg/dl, dan pada keadaan dehidrasi.
c. Sistouretrografi saat berkemih
Pemeriksaan ini dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral,
terutama pada anak – anak.
d. Ultrasonografi ginjal
Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process,
ukuran dan bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada
ginjal.
13

e. Pielografi antegrad dan retrograde


Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive
dan mengandung factor resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu
dilakukan pada refluks vesikoureteral dan pada infeksi saluran kemih
berulang untuk mencari factor predisposisi infeksi saluran kemih.
f. CT-scan
Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada
parenkim ginjal, termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik.
Pemeriksaan ini dapat membantu untuk menunjukkan adanya kista
terinfeksi pada penyakit ginjal polikistik. Perlu diperhatikan bahwa
pemeriksaan in lebih baik hasilnya jika memakai media kontras, yang
meningkatkan potensi nefrotoksisitas.
g. DMSA scanning
Penilaian kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat
dilakukan dengan skintigrafi yang menggunakan (99mTc)
dimercaptosuccinic acid (DMSA). Pemeriksaan ini terutama digunakan
untuk anak – anak dengan infeksi saluran kemih akut dan biasanya
ditunjang dengan sistoureterografi saat berkemih. Pemeriksaan ini 10 kali
lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks ginjal dibanding ultrasonografi.
2.2.7 Pencegahan
 Jaga kebersihan
 Sering ganti celana dalam
 Banyak minum air putih
 Tidak sering menahan kencing
 Setia pada satu pasangan dalam melakukan hubungan
2.2.8 Penatalaksanaan
Tatalaksana umum : atasi demam, muntah, dehidrasi dan lain-lain. Pasien
dilanjutkan banyak minum dan jangan membiasakan menahan kencing untuk
mengatasi disuria dapat diberikan fenazopiridin (pyriduin) 7-10 mg/kg BB hari.
Faktor predisposisi dicari dan dihilangkan. Tatalaksana khusus ditujukan terhadap
3 hal, yaitu pengobatan infeksi akut, pengobatan dan pencegahan infeksi berulang
serta deteksi dan koreksi bedah terhadap kelamin anatamis saluran kemih.
14

1. Pengobatan infeksi akut : pada keadaan berat/demam tinggi dan keadaan


umum lemah segera berikan antibiotik tanpa menunggu hasil biakan urin
dan uji resistensi kuman. Obat pilihan pertama adalah ampisilin,
katrimoksazol, sulfisoksazol asam nalidiksat, nitrofurantoin dan sefaleksin.
Sebagai pilihan kedua adalah aminoshikosida (gentamisin, amikasin, dan
lain-lain), sefatoksin, karbenisilin, doksisiklin dan lain-lain, Tx diberikan
selama 7 hari.
2. Pengobatan dan penegahan infeksi berulang : 30-50% akan mengalami
infeksi berulang dan sekitar 50% diantaranya tanpa gejala. Maka, perlu
dilakukan biakan ulang pada minggu pertama sesudah selesai pengobatan
fase akut, kemudian 1 bulan, 3 bulan dan seterusnya setiap 3 bulan selama 2
tahun. Setiap infeksi berulang harus diobati seperti pengobatan ada fase
akut. Bila relaps/infeksi terjadi lebih dari 2 kali, pengobatan dilanjutkan
dengan terapi profiloksis menggunakan obat antiseptis saluran kemih yaitu
nitrofurantorin, kotrimoksazol, sefaleksi atau asam mandelamin. Umumnya
diberikan ¼ dosis normal, satu kali sehari pada malam hari selama 3 bulan.
Bisa ISK disertai dengan kalainan anatomis, pemberian obat disesuaikan
dengan hasil uji resistensi dan Tx profilaksis dilanjutkan selama 6 bulan,
bila perlu sampai 2 tahun.
3. Koreksi bedah : bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan obstruksi,
perlu dilakukan koreksi bedah. Penanganan terhadap refluks tergantung dari
stadium. Refluks stadium I sampai III bisanya akan menghilang dengan
pengobatan terhadap infeksi pada stadium IV dan V perlu dilakukan koreksi
bedah dengan reimplantasi ureter pada kandung kemih
(ureteruneosistostomi). Pada pionefrosis atau pielonefritis atsopik kronik,
nefrektami kadang-kadang perlu dilakukan
15

BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan
AIDS disebabkan oleh virus yang bernama HIV, Human Immunodeficiency
Virus. Apabila anda terinfeksi HIV, maka tubuh anda akan mencoba untuk
melawan infeksi tersebut. Tubuh akan membentuk “antibodi”, yaitu molekul-
molekul khusus untuk melawan HIV. Tes darah untuk HIV berfungsi untuk
mencari keberadaan antibodi tersebut. Apabila anda memiliki antibodi ini dalam
tubuh anda, maka artinya anda telah terinfeksi HIV. Orang yang memiliki
antibodi HIV disebut ODHA.
Menjadi HIV-positif, atau terkena HIV, tidaklah sama dengan terkena
AIDS. Banyak orang yang HIV-positif tetapi tidak menunjukkan gejala sakit
selama bertahun-tahun. Namun selama penyakit HIV berlanjut, virus tersebut
secara perlahan-lahan merusak sistem kekebalan tubuh. Apabila kekebalan tubuh
anda rusak, berbagai virus, parasit, jamur, dan bakteria yang biasanya tidak
mengakibatkan masalah dapat membuat anda sangat sakit. Inilah yang disebut
“infeksi oportunistik”. Menurut pandangan agama HIV / AIDS itu buruk, karena
penularannya pun terjadi melalui cara yang dilarang oleh agama. Salah satunya
HIV / AIDS ditularkan melalui hubungan seks bebas.
 ISK merupakan suatu infeksi pada saluran kemih yang ditandai dengan adanya
bakteri patogen, yang sering terjadi pada anak dan memberi gejala yang samar
dengan resiko kerusakan ginjal dan komplikasi lain yang berat.
 Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan antara lain USG dan VCUG.
 Pemberian antibiotika yang tepat pada ISK sangat penting untuk mengeradikasi
kuman dan mencegah timbulnya komplikasi yang lebih berat, selain pemberian
terapi simptomatik terhadap gejala lain yang timbul.
3.2 Saran
Agar kita semua terhindar dari AIDS, maka kita harus berhati-hati memilih
pasangan hidup, jangan sampai kita menikah dengan pasangan yang mengicap
HIV / AIDS, karena selain dapat menular kepada diri kita sendiri juga dapat
menular kepada janin dalam kandungan kita. Kita juga harus berhati-hati dalam

15
16

pemakaian jarum suntik secara bergantian dan tranfusi darah dengan darah yang
sudah terpapar HIV.
Pencegahan ISK dapat dilakukan dengan menjaga higiene saluran kemih,
kencing teratur, serta sirkumsisi pada anak laki-laki ataupun perempuan.
17

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Ed.3 Cet.1. Jakarta : Media
Aesculapius
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner
&Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.
Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293
Hepatitis B Mekanisme. (2010). News Medical
Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. Clin.
Microbiol. Rev. 11: 614-627
Sunata, A.(2009). Virus Hepatitis B.Jakarta:Akademi KeperawatanKabupaten
Subang.
Wikipedia. (2013). Pengobatan Hepatitis B. News Medical