Anda di halaman 1dari 1

Tugas Manajemen Keuangan Syariah

Kelompok 5:
Muh. Agus Syam (186020300111031)
Muhammad Ichsan (186020300111033)
M. Dhanutirto F. Tuwow (186020300111042)

Riset Plan:

Apakah struktur kepemilikan dan permodalan pada perbankan syariah sudah Islami ?
: kajian prinsip syirkah menurut syariah

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dinamika pada hampir


seluruh aktivitas ekonomi dan bisnis. Kemudahan, dan pada saat yang sama, kompleksitas
transaksi bisnis menuntut para pelaku ekonomi untuk mencari cara yang seefisien dan
seefektif mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Faktor resiko adalah salah satu yang
alasan yang menyebabkan dua pihak atau lebih saling meletakkan modalnya ke dalam satu
bentuk usaha tertentu. Dengan kata lain, resiko bisnis tersebut akan lebih “aman” ketika
ditanggung oleh lebih dari satu pelaku usaha.
Pada bentuk usaha konvensional, teori entitas adalah fundamental yang paling
umum diadopsi dalam kepemilikan dan permodalan. Ide utama teori ini adalah memahami
perusahaan sebagai entitas yang terpisah dari pemiliknya. Dampaknya sangat jelas,
kewajiban pemilik modal hanya terbatas sebesar modal yang disertakan olehnya. Sehingga
ketika ada sengketa dalam dan terhadap perseroan, tuntutan kepada masing-masing pemilik
hanya sebatas pada asset yang tersisa dalam perseroan. Sedangkan di sisi lain, intensi
memperoleh laba dalam benak para pemodal yang terwakili oleh entitas perseroan adalah
tidak terbatas. Dalam hal ini, motif ekonomi kapitalis sangat terlihat jelas dalam hal ini,
yakni keuntungan sebesar-besarnya dengan modal (terbatas) sekecil-kecilnya.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap ekonomi Islam mendorong banyak
pelaku bisnis, baik privat maupun swasta, juga mulai menerapkan usaha berlabel syariah
pada produk yang dijual. Padahal fokus syariah tidak cukup pada hilirnya saja, yaitu halal-
haramnya suatu produk, melainkan juga pada akad atau perikatannya, termasuk
permodalan perseroan.
Sebagaimana diwahyukan dalam QS Al-Maidah ayat 3, Islam merupakan agama
sempurna yang telah diridhai oleh Allah SWT, dimana kesempurnaan ini juga mencakup hal
bermuamalah. Aktualisasi nilai-nilai Islam secara menyeluruh di zaman Rasulullah dan
sahabat-sahabat penerusnya adalah bukti nyata kesempurnaan tersebut. Era itu adalah
puncak peradaban umat tidak hanya Islam, namun juga agama-agama lain yang berada di
bawah pemerintahan muslim.

Tujuan
Dari yang telah disebutkan di atas, menurut kami sangat penting untuk mengkaji
kembali persoalan kepemilikan dan permodalan dalam usaha syariah, khususnya sector
perbankan syariah, apakah memang sudah Islami atau selama ini justru masih terjebak
dalam pola pikir kapitalis?. Dengan pemahaman ini diharapkan dapat memberikan
sumbangsih yang bermanfaat untuk menumbuhkan kesadaran syariah Islam yang lebih
komprehensif serta masukan terhadap prinsip kepemilikan dan permodalan usaha syariah.