Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II

“HEAT EXCHANGER”

Disusun Oleh:

Nama/ NPM :
1. Beta Cahaya Pertiwi /1631010086
2. Ludira Lindra /1631010104
3. Farhan Muhammad /1531010048
Paralel/ Grup : C/ I
Tanggal Percobaan : 27 September 2018

LABORATORIUM RISET DAN OPERASI TEKNIK KIMIA

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

SURABAYA

2018
HEAT EXCHANGER

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA II

“HEAT EXCHANGER“

GRUP C :

1. FARHAN MUHAMMAD ( 1531010048 )


2. BETA PERTIWI ( 1631010086 )
3. LUDIRA LINDRA ( 1631010120 )

Telah diperiksa dan disetujui oleh:

Kepala Laboratorium
Operasi Teknik Kimia II Dosen Pembimbing

Ir. Caecilia Pujiastuti, MT Ir. Ketut Sumada, MS


NIP. 19630305 198803 2 001 NIP. 19620118 198803 1 001

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


i
HEAT EXCHANGER

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Operasi Teknik
Kimia II ini dengan judul “Heat Exchanger”.

Laporan Resmi ini merupakan salah satu tugas mata kuliah praktikum
Operasi Teknik Kimia II yang diberikan pada semester V. Laporan ini disusun
berdasarkan pengamatan hingga perhitungan dan dilengkapi dengan teori dari
literatur serta petunjuk asisten pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 27
September 2018 di Laboratorium Operasi Teknik Kimia.

Laporan hasil praktikum ini tidak dapat tersusun sedemikian rupa tanpa
bantuan baik sarana, prasarana, pemikiran, kritik dan saran. Oleh karena itu, tidak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada:

1. Ir. Caecilia Pujiastuti, MT selaku Kepala Laboratorium Operasi Teknik


Kimia.
2. Ir. Ketut Sumada, MS selaku dosen pembimbing.
3. Kakak Indah yang telah menjadi kakak pembimbing yang setia
mendengarkan kesedihan penulis.
4. Rekan – rekan mahasiswa yang membantu dalam memberikan masukan-
masukan dalam praktikum.
Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada sesuatu yang sempurna, kecuali
yang Maha Sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat menyadari dalam
penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan. Maka dengan rendah hati,
penulis selalu mengharapkan kritik dan saran, guna kesempurnaan laporan ini.
Penulis berharap penyusun mengharapkan semua laporan praktikum yang telah
disusun ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi mahasiswa Fakultas
Teknik khususnya jurusan Teknik Kimia.
Surabaya, 29 September 2018

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


ii
HEAT EXCHANGER

Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................I

KATA PENGANTAR..............................................................................II

DAFTAR ISI ............................................................................................III

INTISARI .................................................................................................V

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang .......................................................................................... 1

I.2 Tujuan ....................................................................................................... 2

I.3 Manfaat ...................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum ................................................................................ 3

II.2 Sifat Bahan .................................................................................. 12

II.3 Hipotesa ...................................................................................... 13

II.4 Diagram Alir ................................................................................ 14

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan yang Digunakan ................................................................. 15

III.2 Alat yang Digunakan .................................................................. 15

III.3 Gambar Alat ............................................................................... 15

III.4 Rangkaian Alat ........................................................................... 16

III.5 Prosedur Percobaan .................................................................... 17

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


iii
HEAT EXCHANGER

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan ..................................................................... 17

IV.2 Tabel Hasil Perhitungan ............................................................. 19

IV.3 Grafik ......................................................................................... 20

IV.4 Pembahasan ............................................................................... 22

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan .................................................................................. 24

V.2 Saran ............................................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

APPENDIX .....................................................................................................

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


iv
HEAT EXCHANGER

INTISARI

Percobaan heat exchanger ini bertujuan untuk menentukan nilai koefisien


perpindahan panas dari hasil percobaan dengan menggunakan alat penukar panas
yang tersedia yaitu single pass double pipe exchanger.

Percobaan dimulai dengan memanaskan air dalam tangki hingga bersuhu


700C terlebih dahulu. Kemudian pompa air yang telah panas dan buka gate valve
air panas dan air dingin secara bersamaan dengan variabel tertentu tampung volume
air yang keluar dari pipa pemanas. Tampung volume keluar dan amati tekanan serta
suhu air dingin dan panas yang masuk beserta yang keluar. Mengukur volume air
yang keluar dari tangki dengan menggunakan gelas ukur, dan mengukur suhu air
masuk dan keluar. Kemudian mengulangi percobaan dengan menggunakan bukaan
gate valve yang mana dapat memvariasi besaran laju alir.

Dari percobaan yang telah dilakukan, data-data yang diperolah tidak sesuai
dengan teori yang ada. Hal ini disebabkan oleh terjadinya kebocoran pada pipa air
dingin sehingga panas yang berpindah memiliki nilai yang fluktuatif. Nilai
koefisien panas yang berpindah semakin besar, berbanding lurus dengan besar
bukaan kran atau laju alir air panas. UD pada tiap bukaan sebesar 50.481; 80.435l
55.1; 88.637; 62.922; 63.756; 71.45; 149.827; dan 159.369. Rata-rata UD sebesar
86.886. Sehingga dapat disimpulkan, semakin besar bukaan kran, akan semakin
besar pula laju alir air panas, dan semakin besar UD semakin besar pula panas yang
bertukar antara air dingin dan air panas.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


v
HEAT EXCHANGER

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Heat exchanger merupakan alat penukar kalor yang sangat penting dalam
proses industri. Prinsip kerja heat exchanger adalah perpindahan panas dari
fluida panas menuju fluida dingin. Heat exchanger dapat digunakan untuk
memanaskan dan mendinginkan fluida. Sebelum fluida masuk ke reaktor,
biasanya fluida dimasukan terlebih dahulu ke dalam alat penukar kalor agar suhu
fluida sesuai dengan spesifikasi jenis reaktor yang digunakan. Di dunia industri,
heat exchanger merupakan unit alat yang berperan dalam berbagai unit operasi,
misalnya dalam industri obat-obatan farmasi, industri perminyakan, industri
makanan-minuman dan lain-lain

Pada percobaan ini, hal pertama yang harus dipersiapkan ialah


memanaskan air dalam tangki penampung air panas dengan temperature tertentu
dan mengisi pipa air dan menghilangkan gelembung-gelembung udara dari pipa
manometer, mengalirkan air melalui bagian dalam pipa pada laju alir yang
diinginkan. Mengalirkan air panas kedalam bagian shell pada tekanan tertentu
dan setelah itu mengamati aliran dan temperature konstan (tercapai keadaan
steady), lakukan pengamatan dengan variable putaran kran air pendingin dan
putaran air panas untuk data volume air masuk dan keluar, pembacaan
manometer, temperature, dan tekanan air panas. Ulangi percobaan dengan
variasi laju alir , dan hitung koefisien perpindahan panas nya.

Tujuan percobaan kali ini adalah untuk megenal peralatan Heat


Exchanger dalam skala laboratorium, untuk mengetahui salah satu jenis dari
Heat Exchanger dan untuk menghitung koefisien perpindahan panas nya.
Percobaan dalam skala kecil (skala laboratorium) ini dimaksudkan agar
praktikan lebih memahami tentang kecepatan transfer panas, keefektifan, jenis
dan berbagai macam hal yang menyangkut heat exchanger agar ilmu
pengetahuan ini dapat diterapkan pada skala yang lebih besar, yaitu skala
industri.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


1
HEAT EXCHANGER

I.2 TUJUAN PERCOBAAN

1. Untuk mengenal perangkat perangkat dalam satu alat Heat Exchanger dalam
skala laboratorium
2. Praktikan mengetahui pengaplikasian alat heat exchanger khususnya dalam
bidang industri.
3. Untuk menghitung harga koefisien perpindahan panas keseluruhan pada
proses pendinginan air

I.4 MANFAAT

1. Agar praktikan dapat mengamati mekanisme perpindahan panas secara


konveksi.
2. Mahasiswa dapat mengaplikasikan proses perpindahan panas
3. Mahasiswa dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi dalam
perpindahan panas

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


2
HEAT EXCHANGER

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. SECARA UMUM


Alat penukar panas (Heat Exchanger) adalah suatu peralatan dimana terjadi
perpindahan panas dari suatu fluida yang mempunyai temperatur yang lebih tinggi
ke fluida lain yang temperaturnya lebih rendah, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Dalam hal ini heat exchanger digunakan sebagai pemanas pendahuluan
sebelum crude oil masuk dalam furnace dengan menggunakan residu sebagai media
pemanasnya. Heat exchanger yang digunakan adalah tipe shell and tube, dimana
shell dilalui oleh fluida panas (residu) sedangkan tube di lalui oleh fluida dingin
(crude oil). Heat exchanger ini juga bisa berfungsi untuk menurunkan temperature
dari solar sebelum masuk ke cooler. Apabila heat exchanger tersebut telah
dioperasikan beberapa waktu, maka akan terjadi penurunan unjuk kerja dari alat
tersebut. Penurunan unjuk kerja bisa jadi disebabkan oleh terbentuknya kerak,
korosi, kebocoran, maupun aliran fluida yang menyebabkan friksi terhadap dinding
alat. Penurunan kinerja ini bisa dilihat dari parameter-parameter seperti pressure
drop tinggi, serta dirt factor (Rd) melebihi harga yang diizinkan.
II.1.1. Proses Perpindahan Panas
Perpindahan panas adalah proses pertukaran panas yang terjadi antara
benda panas dan benda dingin yang masing-masing disebut source and receiver
(sumber dan penerima).

Gambar 1. Perpindahan Panas

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


3
HEAT EXCHANGER

Ada 3 macam cara perpindahan panas, dan ilustrasinya digambarkan pada Gambar
1, diantaranya yaitu :
A. Perpindahan panas secara konduksi
Mekanisme perpindahan panas yang terjadi pada Gambar 1, dengan suatu
aliran atau rambatan proses dari suatu benda yang bertemperature lebih
tingginke benda yang bertemperature lebih rendah atau dari suatu benda ke
benda lain dengan kontak langsung.
B. Perpindahan panas secara konveksi
Mekanisme perpindahan panas yang terjadi pada Gambar 1, dari satu benda
ke benda yang lain dengan perantaraan benda itu sendiri. Perpindahan panas
konveksi ada 2 macam Konveksi alami adalah perpindahan molekul dalam zat
yang dipanaskan karena perbedaan densitas. Konveksi paksa yaitu perpindahan
panas konveksi yang berlangsung dengan bantuan tenaga lain.
C. Perpindahan panas secara radiasi
Mekanisme perpindahan panas yang terjadi pada Gambar 1 , perpindahan
panas dari suatu benda ke benda lain dengan bantuan gelombang
elektromagnetik, dimana tenaga ini akan diubah menjadi panas jika tenaganya
diserap oleh benda yang lain.
(Setyoko, 2008)

II.1.2 Heat Exchanger


Penukar kalor merupakan peralatan yang sangat penting dan banyak
digunakan dalam industri pengolahan, sedemikian rupa sehingga rancangannya pun
sudah sangat berkembang. Standar-standar yang telah di susun dan diterima oleh
Standards of the Turbulen Exchangers Manufactures Association (TEMA). Sudah
ada dan meliputi perancangan dan dimensi dari penukar kalor.
(McCabe,1994)

II.1.3 Klasifikasi Penukar Kalor


Klasifikasi penukar kalor berdasarkan susunan aliran fluida yang dimaksud
dengan susunan aliran fluida disini adalah berapa kali fluida mengalir sepanjang

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


4
HEAT EXCHANGER

penukar kalor sejak saat masuk hingga meninggalkannya serta bagaimana arah
aliran relatif antara kedua fluida (apakah sejajar atau paralel, berlawanan arah atau
counter, serta bersilangan atau cross).
a) Pertukaran Panas dengan Aliran Searah (Co-current/Parallel Flow)
Yaitu apabila arah aliran dari kedua fluida di dalam penukar kalor adalah
sejajar, artinya kedua fluida masuk pada sisi yang satu dan keluar dari sisi yang
lain mengalir dengan arah yang sama.

Gambar 2. Grafik Co-current


b) Pertukaran Panas dengan Aliran Berlawanan Arah (Counter-current Flow)
Yaitu bila kedua fluida mengalir dengan arah yang saling berlawanan dan
keluar pada sisi yang berlawanan. Pada tipe ini masih mungkin terjadi bahwa
temperatur fluida yang menerima panas (temperatur fluida dingin) saat keluar
penukar kalor lebih tinggi dibanding temperatur fluida yang memberikan kalor
(temperatur fluida panas) saat meninggalkan penukar kalor.

Gambar 3. Grafik Counter-current

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


5
HEAT EXCHANGER

c) Pertukaran Panas dengan Aliran Silang ( Cross Flow )


Yaitu artinya arah aliran kedua fluida saling bersilangan.

Gambar 4. Grafik Cross-flow

(o, 2015)
Karakteristik umum untuk mayoritas alat-alat penukar kalor adalah
perpindahan panas dari bahan yang bersuhu tinggi ke bahan yang bersuhu rendah
sementara kedua bahan tersebut dipisahkan oleh sebuah pembatas padat.
A. Penukar Kalor Pipa Rangkap (Double-Pipe Heat Exchanger)
Bentuk yang paling sederhana dari alat penukar kalor adalah penukar kalor pipa
rangkap. Pada dasarnya alat ini terbentuk dari dua pipa konsentris dengan satu
fluida mengalir melalui bagian dalam pipa sementara fluida yang lain mengalir
secara searah atau berlawanan arah dalam ruang yang berbentuk cincin. Pemakaian
penukar kalor pipa rangkap tidak terbatas pada pertukaran kalor cairan-cairan saja
tetapi juga memungkinkan pertukaran kalor untuk gas-cairan dan untuk gas-gas.

Gambar 4. Alat Penukar Kalor Pipa Rangkap


(Foust, 1960)

II.1.4 Aplikasi Heat Exchanger pada Industri

Penukar Panas, merupakan peralatan yang banyak dipergunakan di


berbagai bidang industri, seperti perminyakan, petrokimia, energi dan lain

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


6
HEAT EXCHANGER

sebagainya. Fungsi alat penukar panas, sebagaimana namanya, adalah untuk


memindahkan panas dari satu fluida ke fluida yang lainnya dengan tujuan untuk
merubah temperatur baik itu menurunkan suhu ataupun menaikan suhu. Salah satu
tolak ukur yang menentukan pemilihan suatu jenis penukar panas adalah
kemampuannya untuk memindahkan panasyang bai, yang pada umumnya disebut
efektivitas dan elisiensi energi supaya tidak banyak membuang dan
menghamburkan waktu. Untuk satu ukuran penukar panas yang digunakan, maka
efektivitas dan efisiensi energi yang tinggi akan menunjukkan semakin banyaknya
fluks panas dan waktu yang digunakan akan lebih efisiens dan panas yang dapat
dipindahkan per satuan massa fluida akan bagus. Sehingga upaya untuk
mengembangkan suatu rancangan penukar panas yang memberikan efektivitas
perpindahan panas tinggi senantiasa menjadi lebih baik dan menjadi sebuah topik
litbang di berbagai lembaga riset, universitas ataupun industri dunia

Heat Exchanger biasa digunakan pada dunia industry seperti mislnya


digunakan untuk :
1. Pemanas ruangan
2. mesin pendingin
3. pembangkit tenaga listrik
4. pabrik kimia
5. pabrik petrokimia
6. kilang minyak bumi
7. pengolahan limbah
Contohnya :

l. Telah dilakukan desain sebuah penukar kalor jenis pipa ganda (double pipe heat
exchanger) untuk memanaskan air. Alat ini didesain untuk dipergunakan sebagai
alat uji laboratorium fenomena dasar mesin.

2. Mesin internal dimana air sebagai pendingin yang mengalir dalam sebuah pipa,
sehingga air mendinginkan mesin, dan memanaskan udara yang masuk.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


7
HEAT EXCHANGER

II.1.5 Analisa Perhitungan pada Heat Exchanger

A. Neraca Panas
Untuk mengetahui besarnya panas yang dapat ditransfer dari fluida panas ke
fluida dingin pada HE dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus:

Q = m Cp ∆T (1)

Dengan : Q = laju perpindahan kalor (Btu/jam)


m = massa air (lb/jam)
Cp = kapasitas panas (Btu/lb.oF)
∆T = selisih suhu (oF)
B. Beda Temperatur Rata-rata Logaritma (LMTD)
Untuk menghitung suhu rata – rata dari suatu fluida yang mengalir dalam HE ,
pola aliran dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar 3, yang kemudian dapat
dihitung dengan rumus:

(2)

Dengan : ∆th = selisih suhu fluida panas (oF)


∆tc = selisih suhu fluida dingin (oF)
C. Faktor Koreksi (FT) untuk perhitungan ∆TLMTD
FT dihitung karena di dalam tube terjdi perubahan arah aliran. Sebagai
contoh untuk 1-2 exchanger, lewatan merupakan gabungan antara aliran
searah dan lawan arah. Dengan demikian dalam 1-2 exchanger tersebut jika
dihitung LMTD untuk countercurrent maka harus dihitung faktor koreksi FT
nya.
a) Untuk 1-2 exchanger FT > 0,75. jika FT pada 1-2 Exchanger < 0,75 maka
gunakan 2-4 Exchanger.
b) Untuk 2-4 exchanger FT > 0,9 untuk removable longitudinal baffle. FT 0,85
untuk welded longitudinal baffle.
Untuk menentukan perbedaan temperatur yang sebenarnya (Δt) :

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


8
HEAT EXCHANGER

Δt = Δt LMTD x FT (3)
(Wibawa, 2014)
Nilai faktor koreksi (FT) untuk jenis 1-2-exchanger digambarkan dalam
Grafik 18 dengan S dan R sebagai parameternya.

(4)

Gambar 5. Grafik Faktor Koreksi LMTD untuk 1-2-Exchanger


(Kern, 1983)
D. Luas Penampang perpindahan panas
Luas penampang perpindahan panas dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
A=πDL (5)
Keterangan:
A = Luas penampang perpindahan panas (ft2)
D = Diameter inner pipe (ft)
L = Panjang pipa heat exchanger (ft)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


9
HEAT EXCHANGER

E. Koefisien Perpindahan Panas pada Pipa Kotor (UD)


(6)
Keterangan:
UD = Koefisien perpindahan panas pada pipa kotor (Btu ft2 oF/jam)
Q = Laju perpindahan kalor (Btu/jam)
A = Luas penampang perpindahan panas (ft2)
Δt = perbedaan temperatur yang sebenarnya (ᵒF)
Penukar kalor yang baik adalah penukar kalor yang memiliki nilai koefisien
perpindahan panas (U) yang besar. Saat penukar kalor telah digunakan cukup
lama, maka akan terbentuk kotoran di bagian dalam dan di bagian luar pipa.

Setelah diketahui nilai UD yang didapat dari hasil perhitungan, maka nilai ini
dibandingkan dengan nilai standar UD yang terdapat di Tabel 8 halaman 840 buku
“Process Heat Transfer” oleh D. Q. Kern untuk mengetahui apakah rancangan alat
tersebut sudah tepat.

Gambar 6. Tabel UD Standar oleh Kern

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


10
HEAT EXCHANGER

F. Penurunan Tekanan (Pressure Drop)


Pressure drop adalah penurunan tekanan maksimal yang diperbolehkan dalam
HE apabila suatu fluida melaluinya. Penurunan tekanan ini semakin besar
dengan bertambahnya fouling factor pada heat exchanger. Umumnya besarnya
pressure drop yang diperbolehkan untuk setiap aliran fluida untuk satu kali
proses adalah 5 sampai 10 psi.
(Kern,1983)
G. Faktor Pengotor (Dirt Factor)
Dirt factor adalah hambatan perpindahan panas karena adanya endapan –
endapan didalam HE. Fouling factor ini dipengaruhi oleh bebrapa hal antara
lain: jenis fluida, temperatur, jenis material tube, kecepatan aliran serta
lamanya operasi.
Rd = Rdi + Rdo (7)
Dengan :

Rd = Faktor pengotor total

Rdi = Faktor pengotor untuk inner pipe pada inside diameter dari inner pipe

Rdo = Faktor pengotor untuk annulus pada outside diameter dari inner pipe

(Setyoko, 2008)

II.1.6 Faktor yang mempengaruhi panas berpindah secara konveksi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Perpindahan Kalor Secara Konveksi

1. Koefisien Konveksi Q, nilainya bergantung pada bentuk dan kedudukan


permukaan
2. Luas permukaan A, makin besar luas permukaan makin cepat perpindahan
kalor
3. Beda Suhu, makin besar beda suhu makin cepat perpindahan kalor
(Tiwi, 2013)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


11
HEAT EXCHANGER

II.2 SIFAT BAHAN


1. Air
a. Sifat fisika
 Cairan
 Tidak berbau
 Tidak berwarna
b. Sifat kimia
 Rumus molekul H2O
 Massa molar 18,0153 g/mol
 Densitas 0,998 g/cm3
 Titik lebur 0OC
 Titik didih 100oC
(Anonim, 2013 .“MSDS water)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


12
HEAT EXCHANGER

II.3 Hipotesa

Pada praktikum heat exchanger ini menggunakan jenis single pass double
pipe. Dengan pada percobaan ini suhu yang berbeda secara signifikan akan
menghasilkan hasil yang maksimal. Semakin besar variasi laju alir maka semakin
besar pula koefisien perpindahan panas yang didapatkan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


13
HEAT EXCHANGER

II.4 Diagram Alir

Panaskan air dalam tangki penampung air panas hingga


suhu 70 0C

Nyalakan pompa air panas dan air dingin

Buka kran air panas dan air dingin secara bersamaan


dengan variabel yang sudah ditentukan

Tampung volume yang keluar dan amati tekanan serta


suhu air dingin dan air panas yang masuk dan keluar.

Hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan dari data


setiap putaran kran.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


14
HEAT EXCHANGER

BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN

III.1 Bahan yang Digunakan


1. Air

III.2 Alat yang Digunakan

1. Thermometer
2. Stopwatch
3. Gelas Ukur
4. Serangkaian alat Heat Exchanger

III.3 Gambar Alat

Stopwatch Thermometer Gelas Ukur

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


15
HEAT EXCHANGER

III.4 Rangkaian Alat

III.5 Prosedur Percobaan


SINGLE PASS DOUBLE PIPE HEAT EXCHANGER
1. Panaskan air dalam tangki penampung air panas sehingga temperature
tertentu
2. Isi pipa air dan hilangkan gelembung – gelembung udara dari pipa
manometer,alirkan air melalui bagian dalam pipa pada laju alir yang
diinginkan.
3. Alirkan air panas kedalam bagian shell pada tekanan tertentu.
4. Setelah aliran dan temperature konstan ( tercapai keadaan steady),
lakukan pengamatan dengan variabel putaran kran air pendingin dan
putaran air panas untuk data – data berikut selama waktu 5 detik :
a. Volume air dingin yang keluar
b. Pembacaan manometer.
c. Temperature air pendingin atau air panas masuk dan keluar.
d. Tekanan air panas.
5. Ulangi percobaan dengan variasi laju alir dan temperature umpan air
panas.Hitung koefisien perpindahan panas keseluruhan dari data setiap
run.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


16
HEAT EXCHANGER

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


17
HEAT EXCHANGER

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


18
HEAT EXCHANGER

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1. Tabel Hasil Pengamatan


Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Suhu dan Tekanan

Bukaan Manometer (cmHg) Manometer Suhu Panas (oC) Suhu air pendingin (ᵒC)
Rata-rata
Panas Dingin P1 P2 P3 (cmHg) T1 T2 t1 t2
1.5 1 3.5 3.4 3.5 3.4667 56 55 37 39.3
1.75 1.25 3.4 3.3 3.5 3.4000 55.5 54 37 39.5
2 0.75 3.5 3.2 3.3 3.3333 55 54 37 39.5
2.25 1.25 3.2 3.4 3.2 3.2667 54.5 53 37 40
2.5 0.75 3.4 3.2 3.3 3.3000 54 53 37 40
2.75 0.75 3.5 3.4 3.3 3.4000 54 53 37 40
3 0.5 3.5 3.5 3.5 3.5000 53 52 37 41
3.25 1.5 3.4 3.4 3.5 3.4333 53 51 37 41
3.5 1 3.2 3.5 3.5 3.4000 53 51 37 42
Tabel 4.2. Hasil Pengamatan Laju Alir Fluida

Laju Volume Air


Bukaan Kran Manometer Volume air dingin (ml) Laju Alir
Waktu volumepanas Alir air Dingin
Rata-rata air dingin
(s) (mL) panas Rata-rata
(cmHg) (cm3/s)
(cm3/s) (ml)
Panas Dingin V1 V2 V3
1.5 1 5 3.46666667 2570 514 1120 1113 1118 1117 223.4
1.75 1.25 5 3.4 2596.666667 519.333 1430 1120 1300 1283.333333 256.6666667
2 0.75 5 3.33333333 2626.666667 525.333 1100 1100 950 1050 210
2.25 1.25 5 3.26666667 2643.333333 528.667 1320 1620 1026 1322 264.4
2.5 0.75 5 3.3 2766.666667 553.333 920 934 912 922 184.4
2.75 0.75 5 3.4 2803.333333 560.667 940 942 920 934 186.8
3 0.5 5 3.5 2820 564 705 710 700 705 141
3.25 1.5 5 3.43333333 2853.333333 570.667 1520 1331 1430 1427 285.4
3.5 1 5 3.4 2910 582 1140 1240 1110 1163.333333 232.6666667
IV. 2 Tabel Perhitungan
Tabel 4.3. Perhitungan Koefisien Perpindahan Panas

Bukaan Kran Suhu Air Panas (ᵒF) Suhu Air Pendingin (ᵒF) Cp Air CpAir Debit Air Debit Air
Panas Dingin Panas Dingin
Panas Dingin T1 T2 t1 t2 (Btu/lbm.ᵒF) (Btu/lbm.ᵒF) (cuft/s) (cuft/s)
1.5 1 132.8 131 98.6 102.74 1 1 0.1814934 0.07888254
1.75 1.25 131.9 129.2 98.6 103.1 1 1 0.1833766 0.090629
2 0.75 131 129.2 98.6 103.1 1 1 0.1854952 0.074151
2.25 1.25 130.1 127.4 98.6 104 1 1 0.1866722 0.09335964
2.5 0.75 129.2 127.4 98.6 104 1 1 0.195382 0.06511164
2.75 0.75 129.2 127.4 98.6 104 1 1 0.1979714 0.06595908
3 0.5 127.4 125.6 98.6 105.8 1 1 0.1991484 0.0497871
3.25 1.5 127.4 123.8 98.6 105.8 1 1 0.2015024 0.10077474
3.5 1 127.4 123.8 98.6 107.6 1 1 0.2055042 0.0821546

m Air m Air ∆T Q Air Q Air Ud


Panas dingin LMTD R S FT ∆T (ᵒF) Dingin Panas A (ft) (Btu/jam.
(lbm/jam) (lbm/jam) (ᵒF) (Btu/jam) (Btu/jam) ft2.˚F)
4,079.439 1,773.047 31.215 0.435 0.121 0.970 30.279 7,340.414 7,342.990 4.804 50.481
4,121.734 2,473.059 29.691 0.600 0.135 0.970 28.800 11,128.766 11,128.681 4.804 80.435
4,169.354 1,666.697 29.229 0.400 0.139 0.970 28.352 7,500.134 7,504.837 4.804 55.100
4,195.841 2,098.449 27.428 0.500 0.171 0.970 26.605 11,331.626 11,328.770 4.804 88.637
4,391.611 1,463.518 26.960 0.333 0.176 0.970 26.151 7,902.995 7,904.900 4.804 62.922
4,449.813 1,482.566 26.960 0.333 0.176 0.970 26.151 8,005.854 8,009.664 4.804 63.756
4,476.269 1,119.066 24.200 0.250 0.250 0.970 23.474 8,057.272 8,057.284 4.804 71.450
4,529.180 2,265.119 23.354 0.500 0.250 0.970 22.653 16,308.856 16,305.046 4.804 149.827
4,619.129 1,846.593 22.392 0.400 0.313 0.970 21.720 16,619.340 16,628.864 4.804 159.369
HEAT EXCHANGER

IV.3. Grafik

Debit air dingin vs ∆T LMTD


35.000

30.000

25.000
∆T LMTD (ᵒF)

20.000

15.000

10.000

5.000

0.000
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Debit air dingin (cuft/jam)

Grafik 1. Q Air Pendingin Vs Log Mean Temperature Difference

Debit air dingin vs Ud


180.00
160.00
Ud (Btu/jam. ft2.˚F)

140.00
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12
Debit air dingin (cuft/jam)
Grafik 2. Q Air Pendingin Vs Koefisien Perpindahan Panas Pipa Kotor

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


20
HEAT EXCHANGER

Debit air panas vs ∆T LMTD


35.000

30.000

25.000
∆T LMTD (ᵒF)

20.000

15.000

10.000

5.000

0.000
0.18 0.185 0.19 0.195 0.2 0.205 0.21
Debit air panas (cuft/jam)

Grafik 3. Debit Air Panas Vs Log Mean Temperature Difference

Debit air panas vs Ud


180.00
160.00
Ud (Btu/jam. ft2.˚F)

140.00
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
0.18 0.185 0.19 0.195 0.2 0.205 0.21
Debit air panas (cuft/jam)

Grafik 4. Debit Air Panas Vs Koefisien Perpindahan Panas Pipa Kotor

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


21
HEAT EXCHANGER

IV. 4. Pembahasan
Heat exchanger adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan proses
pertukaran kalor antara dua fluida (cair maupun gas), dimana fluida ini mempunyai
suhu yang berbeda. Dalam percobaan ini digunakan alat single pass double-pipe
heat exhanger dengan variabel laju alir air panas yang berbeda yaitu 514; 519.33;
525,333; 528,6667; 553,33; 560,667; 564; 570,667; dan 582 cm3/s. Pengamatan
yang dilakukan yaitu besarnya debit aliran fluida, selisih tekanan yang ditunjukkan
oleh manometer, dan suhu yang tertera pada thermometer. Pengamatan air dingin
dilakukan tiga kali untuk masing-masing laju alir air panas dengan laju alir air
dingin yang di rata-rata dari kesembilan laju alir air panas yaitu 223.4; 256.6667;
210.0000; 264.4000; 184.4000; 186.8000; 141.0000; 285.4000; 232.6667 cm3/s.
Berdasarkan hasil percobaan, debit air yang keluar selama 5 detik akan
meningkat seiring dengan besarnya bukaan kran. Hal ini dibuktikan dengan
semakin banyaknya volume air yang keluar saat bukaan kran ditingkatkan atau
dinaikkan . Sehingga semakin banyak volume air yang keluar, maka debit air juga
akan semakin besar. Saat kran dibuka, manometer akan menunjukkan perbedaan
tekanan antara kedua aliran fluida. Dalam hipotesis dituliskan bahwa pada
percobaan heat exchanger suhu yang berbeda secara signifikan akan menghasilkan
hasil yang maksimal. Semakin besar variasi laju alir maka semakin besar pula
koefisien perpindahan panas yang didapatkan, dimana laju alir dan koefisien
perpindahan panas (Ud) akan berbanding lurus. Setelah dilakukan pengamatan dan
perhitungan untuk menentukan nilai Ud hasil yang didapatkan tiap bukaan air panas
yaitu, 50.481; 80.435; 55.1; 88.637; 62.922; 63.756; 71.450; 149.827; dan 159.367
(Btu/jam. ft2.˚F). Apabila teori dibandingkan dengan data percobaan, laju alir air
panas dan air dingin tidak berbanding lurus dengan Ud yang ditunjukkan dengan
laju air panas dan dingin meningkat bersamaan dengan besarnya bukaan kran
sedangkan hasil Ud fluktuatif terhadap bukaan. Pada teori disebutkan bahwa fluida
air panas dan air dingin berada pada 250 sampai dengan 590 (Kern, table 8).
Berdasarkan hasil perhitungan pada percobaan, didapatkan nilai Ud yang dibawah
standar, sehingga dapat disimpulkan bahwa alat yang digunakan overdesign, dan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


22
HEAT EXCHANGER

panas yang dilepas maupun yang diterima terlalu kecil sehingga alat tersebut tidak
efisien.
Faktor yang menyebabkan Ud terlalu kecil salah satunya adalah nilai Delta
T dan Delta t keduanya, dimana delta T pada tiap bukaan tidak konstan sehingga
mempengaruhi perhitungan Ud. Terjadinya variasi pada delta T disebabkan oleh
alat heat exchanger yang digunakan terjadi kebocoran. Hal tersebut juga dapat
dilihat dari panas yang diserap maupun yang dilepas. Untuk itu alat heat exchanger
ini seharusnya dilakukan perawatan maupun pembersihan agar tidak terjadi
kesalahan pada perhitungan Ud dan temperature.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


23
HEAT EXCHANGER

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
1. Nilai koefisien perpindahan panas (UD) bergantung pada laju
perpindahan panas (Q)
2. Koefisien perpindahan panas pada pipa kotor (UD) pada debit air panas
4.079 – 4.619 lbm/jam berkisar antara 50.481- 159.369 (Btu/jam.
ft2.˚F)
3. Percobaan ini tidak memenuhi nilai UD karena nilai UD tertinggi
dibawah range (250 – 500). Kecilnya nilai UD berarti alat tersebut
overdesign, sehingga alat tersebut dapat digunakan untuk melakukan
pertukaran panas yang lebih besar dari pada panas yang bertukar saat
pengamatan. Untuk memperbesar panas, maka alat perlu dilakukan
pembersihan dan perawatan agar panas yang bertukar lebih efektif.

V.2. Saran
1. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam pembacaan manometer,
thermometer dan skala gelas ukur agar hasil percobaan akurat.
2. Sebaiknya air yang digunakan pada percobaan ini adalah air yang
bersih. Karena jika yang digunakan adalah air yang kotor, maka akan
menimbulkan kerak-kerak pada dinding pipa yang akan mengurangi
keakuratan hasil pengamatan.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


24
HEAT EXCHANGER

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. “Air”. (sciencelab.com/msds?931281). Diakses pada tanggal 16


September 2018 pukul 18.30 WIB
Foust, Alan S. 1960. “Principles of Unit Operations 2nd Edition”. Canada: John
Wiley & Sons Inc.
Kern, D.Q. 1983. “Process Heat Transfer”. New York: McGraw Hill Book
Company
McCabe. 1994. “Unit Operation of Chemical Engineering”. New York: McGraw-
Hill.
Nisfi, Rahma. 2015. “Alat Penukar Kalor”. (http://rahmanisfi.blogspot.co.id/
2015/04/alat-penukar-kalor_10.html). Diakses pada tanggal 16 September
2018 pukul 14.00 WIB.
Setyoko, Bambang. 2008. “Evaluasi Kinerja Heat Exchanger dengan Metode
Fouling Faktor”. (ejournal.undip.ac.id/index.php/teknik/article/download/
1931/1691). Diakses pada tanggal 16 September 2018 pukul 14.16 WIB.
Tiwi, Tika. 2013. “Perpindahan Kalor secara Konveksi” . (tikatiwiberbagitentang
fisika.blogspot.com/2013/06/perpindahan-kalor-secara-konveksi_7). Diak-
ses pada tanggal 26 September 2018 pukul 18.01 WIB.
Wibawa, Indra. 2014. “Algortima Heat Exchanger”. (https://indrawibawads.files.
wordpress.com/2014/09/algoritma-heat-exchanger.pdf). Diakses pada 16
September 2018 pukul 08.30 WIB

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


25
HEAT EXCHANGER

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


26
HEAT EXCHANGER

APPENDIX

Diketahui:
a) Diameter pipa luar 2” (OD) = 2,38 in = 0,1983 ft
b) Diameter pipa dalam 1,25” (OD) = 1,66 in = 0,1382 ft
(Data diambil dari Tabel 11 Kern)
c) Panjang pipa (L) = 305 cm = 3,05 m = 10 ft
𝑇1+ 𝑇2 132.8+131
d) Suhu rata-rata air panas (Tav) = = = 131.215℉, maka
2 2
Cp air panas = 1 Btu/lb.ᵒF
𝑡2+ 𝑡1 102.74+98.6
Suhu rata-rata air pendingin (tav) = = = 100.67 ℉,
2 2
maka
Cp air pendingin = 1 Btu/lb.ᵒF
(Data diambil dari Grafik 2 Kern)
e) Diameter inner pipe
𝐷𝑜−𝐷𝑖 0,198− 0,115
D = ln 𝐷𝑜/𝐷𝑖 = = 0,153 𝑓𝑡
ln(0,198/0,115)

f) Luas Penampang pada pipa


A=𝛑.D.L
= 3,14 . 0,153 . 10
= 4,804
g) Densitas air
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑖𝑠𝑖−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
ρ air = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
21.3419−11.1228
=
10
𝑔𝑟 𝑙𝑏𝑚
= 1,02191 𝑚𝑙 = 62.428 𝑐𝑢𝑓𝑡

Perhitungan untuk bukaan kran air panas 1.5 dan kran air dingin 1 :
1. Debit air
Volume rata-rata air panas yang ditampung selama 5 detik = 2570 ml
𝑉 2570 ml
Q = = = 514 detik =65.346 𝑐𝑢𝑓𝑡/𝑗𝑎𝑚
𝑡 5

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


HEAT EXCHANGER

Volume air dingin yang ditampung selama 5 detik = 1117 ml


𝑉 1117 ml
Q= = = 223.4 detik = 28.4014 𝑐𝑢𝑓𝑡/𝑗𝑎𝑚
𝑡 5

2. Massa air yang masuk HE


𝑐𝑢𝑓𝑡 𝑙𝑏𝑚 𝑙𝑏𝑚
Air panas : m = Q . ρ =28.4014 𝑗𝑎𝑚 𝑥 62.428 𝑐𝑢𝑓𝑡 =4,079.439 𝑗𝑎𝑚

𝑐𝑢𝑓𝑡 𝑙𝑏𝑚 𝑙𝑏𝑚


Air dingin : m = Q . ρ = 65.346 𝑗𝑎𝑚 𝑥 62.428 𝑐𝑢𝑓𝑡 =1,773.047 𝑗𝑎𝑚

3. Laju perpindahan kalor (Q)


Air panas:
Q = M.Cp.(T1-T2)
𝑙𝑏𝑚 Btu
= 4,079.439 𝑥 1 𝑥 (132.8 − 131)ᵒF =7,342.99jam
𝑗𝑎𝑚

Air dingin:
Q = m.Cp.(t2-t1)
𝑙𝑏𝑚 Btu
= 1,773.047𝑗𝑎𝑚 𝑥 1 𝑥 (102.74 − 98.6)ᵒF =7,340.414 jam

T1 - t 2  T2 - t 1  ( 132.8−102,74)−(131−98.6)


∆TLMTD= = =31.21 ℉
ln T1 - t 2  /T2 - t 1  ln(( 132.8−102,74)/(131−98.6))

4. Faktor koreksi (FT) untuk ∆T LMTD


𝑇1−𝑇2 132.8−313
R = = = 0.435
𝑡2−𝑡1 102.74−98.6
𝑡2−𝑡1 102.74−98.6
S = 𝑇1−𝑡1 = = 0.121
132.8−98.6

FT = 0,97
5. Selisih suhu
∆𝑡 = ∆𝑇𝐿𝑀𝑇𝐷 𝑥 𝐹𝑇 = 31.21 𝑥 0,97 = 30.279 ℉
6. Koefisien perpindahan panas pipa kotor
Btu
𝑄 7340.41 jam
𝑈𝐷 = = = 50.481 𝐵𝑡𝑢 𝑓𝑡 2 ℉/𝑗𝑎𝑚
𝐴 𝑥 ∆𝑡 4,804 𝑓𝑡 2 𝑥 30.279 ℉

Hasil perhitungan UD tidak memenuhi syarat UD standar pada literatur buku


“Process Heat Transfer” Tabel 8 oleh Kern. Karena pada literatur UD terpenuhi
apabila mencapai 250 sampai dengan 500.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II