Anda di halaman 1dari 12

OKSIDENTALISME DALAM PERBANKAN SYARIAH

Ahim Abdurahim

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Email: ahimabdurahim@yahoo.com

Abstract: Occidentalism in Islamic Banking. The paper aims to propose a con-


cept of Islamic banking practices that is in line with Islamic values, and free from
capitalism spirit. Literature study was used as method through reviewing Islamic
bankingregulations and practices, and subsequently analyzing them by using Has-
san Hanafi‘s occidentalism, Max Weber’s capitalism spirit and Asy-Syatibi’s maqa-
shid syariah. The analysis showsthat there areprofit-sharing calculationmodifica-
tion and violation of Sharia provision. These are caused by un-shar’i regulation,
limited human resource capacity and weak supervision of the Sharia Supervisory
Board. Violations of Syariatransaction operational procedures (formally as well as
substantially) result in reporting income from such transactions as “non-halal rev-
enue” in qardhul hasan report.

Abstrak: Oksidentalisme dalam Perbankan Syariah. Artikel ini bertujuan


mengusulkan suatu konsep praktik perbankan syariah yang sesuai nilai-nilai
syariah, bebas dari semangat kapitalisme. Penelitian ini menggunakan studi
literatur: mereviu regulasi dan praktik perbankan syariah, lalu menganalisis-
nya dengan menggunakan metode “oksidentalisme” Hassan Hanafi, “spirit kapi-
talisme” Max Weber dan “maqashid syariah” Asy-Syatibi. Temuan menunjuk-
kan ada modifikasi terhadap metode perhitungan bagi-hasil dan pelanggaran
terhadap ketentuan syariah. Hal tersebut disebabkan oleh regulasi yang belum
sepenuhnya syar’i, keterbatasan sumberdaya manusia dan lemahnya penga-
wasan Dewan Pengawas Syariah. Pelanggaran terhadap prosedur operasional
transaksi syariah (formal maupun substantif) berakibat pendapatan dari tran-
saksi tersebut harus dilaporkan sebagai pendapatan non halal dalam laporan
qardhul hasan.

Kata kunci:oksidentalisme, akad, lembaga keuangan syariah, maqashid sya-


riah, spirit kapitalisme

Pendirian perbankan syariah baik dari praktisi, intelektual, bi-


di Indonesia dimulai pada tahun rokrat maupun masyarakat. Pada
1991, dengan berdirinya Bank saat itu, dalam Peraturan Peme-
Mualamat Indonesia (BMI) yang rintah nomor 72 tahun 1992, per-
diprakarsai oleh MUI, Pemerintah bankan syariah baru dikenal de-
dan eksponen Ikatan Cendeki- ngan sebutan “bank berdasarkan
awan Muslim Indonesia alias prinsip bagi hasil” (Republik_Indo-
ICMI (BMI 2009). Pendirian BMI nesia, 1992) padahal sistem bagi
tersebut dilatarbelakangi luasnya hasil sebenarnya hanya sebagian
pangsa pasar dan dorongan um- dari produk perbankan syariah.
mat Islam terhadap kebutuhan Seiring dengan berjalannya
perbankan berbasis syariah. Pada waktu dan pemahaman terha-
awalnya motivasi tesebut lebih di- dap sistem opersional perbankan
landasi oleh sifat pragmatis dan syariah, motivasi pendirian bank
belum menyentuh esensi tujuan syariah berkembang menjadi le-
penerapan prinsip-prinsip syariah bih luas yaitu menjadikan bank
dalam sistem perekonomian. Hal syariah sebagai pilihan untuk
Jurnal Akuntansi Multiparadigma tersebut sangat dimaklumi, kare- menyelamatkan ekonomi bang-
JAMAL
Volume 4 na mungkin idealisme syariah ma- sa Indonesia dan pengamalan
Nomor 1
Halaman 1-164
sih tabu dinyatakan secara terbu- prinsip-prinsip syariah. Istilah
Malang, April 2013
ISSN 2086-7603
ka pada saat itu, disamping pema- Bank Islam yang menggunakan
haman terhadap sistem perbank- sistem bagi hasil diubah dengan
an syariah masih sangat kurang, sebutan bank syariah yang men-
14
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...15

jalankan kegiatannya sesuai dengan prin- kepatuhan terhadap pemerintah (ulil amri)
sip syariah (Republik-Indonesia 2008). Hal dan fatwa ulama, namun juga mencakup
tersebut menunjukkan legalitas formal yang interaksi (akhlak) perbankan syariah seba-
mengarah pada perubahan yang besar ter- gai institusi terhadap lingkungan dan ma-
hadap perkembangan perbankan syariah. syarakat serta aktifitas dan perilaku pega-
Berubahnya struktur organisasi dalam in- wai didalamnya. Penerapan prinsip-prinsip
ternal Bank Indonesia yang lebih akomodatif syariah harus tercermin dalam kehidupan
terhadap perkembangan perbankan syariah organisasi perbankan syariah (islamic at-
serta dibukanya “kran” perbankan syariah mosphere) yang berbeda dengan nilai-nilai
dalam bentuk konversi dari perbankan kon- bisnis semata (kapitalisme). Cara pandang
vensional serta pembukaan “gerai” syariah organisasi terhadap lingkungan dan ma-
(Unit Usaha Syariah) menjadikan pertumbu- syarakat berdasarkan prinsip-prinsip sya-
han perbankan syariah bak jamur di musim riah berbeda dengan cara pandang nilai-
hujan. Tidak hanya bank konvensional “plat nilai kapitalisme. Demikian pula interaksi
merah” dan swasta dalam negeri yang ber- pegawai didalamnya, baik interaksi dengan
lomba-lomba mendirikan dan membuka unit pihak internal maupun dengan pihak ekster-
usaha syariah, namun juga bank campuran nal semuanya harus mengacu pada prinsip-
yang kepemilikannya jelas-jelas dikenda- prinsip syariah.
likan oleh non-muslim tidak ketinggalan Penelitian di bidang perbankan syariah
untuk ikut berlomba-lomba meraup pangsa memiliki lahan yang masih sangat luas un-
pasar keuangan syariah di Indonesia. tuk dieksplorasi. Hal tersebut karena belum
Pada akhir tahun 2012, terdapat 11 banyak peneliti yang tertarik untuk meneliti
bank umum syariah dan 24 unit usaha sya- di bidang perbankan syariah jika dibanding-
riah (Bank-Indonesia 2012: 3). Pertumbu- kan dengan penelitian pada bidang-bidang
han jumlah perbankan syariah yang pesat lainnya. Penelitian pada perbankan syariah
disatu sisi menunjukkan perkembangan biasanya dilakukan dengan fokus pada ki-
yang positif dari aspek jumlah dan jang- nerja keuangan perbankan syariah, perban-
kauan layanan kepada masyarakat, namun dingan antara perbankan syariah dengan
disisi lain terdapat masalah mendasar yang perbankan konvensional, jumlah pembia-
dihadapi, yaitu idealisme penerapan prin- yaan atau simpanan pada perbankan sya-
sip-prinsip syariah dalam perbankan sya- riah, perilaku nasabah terhadap perbankan
riah. Dari 27 bank syariah dan unit usaha syariah serta topik-topik lainnya yang terkait
syariah sebagian besar adalah bank syariah dengan produk-produk perbankan syariah.
dengan latar belakang perbankan konven- Sebagian besar dari penelitian-penelitian
sional yang dalam proses pendiriannya lebih tersebut merupakan penelitian archival atau
cenderung didorong untuk meraup pangsa penelitian survei yang dilakukan dengan
pasar muslim yang luas. Dominasi kompo- metode penelitian kuantitatif.
sisi latar belakang perbankan syariah dari Dibandingkan dengan penelitian kuan-
perbankan konvensional akan memengaruhi titatif, penelitian kualitatif pada bidang per-
komposisi arah kebijakan dan proses poli- bankan syariah masih jarang dilakukan.
tik dalam menetapkan kebijakan pemerin- Penelitian dengan metode kuantitatif mem-
tah (Bank Indonesia) maupun pertimbangan berikan kontribusi kepada pengelola per-
dikeluarkannya fatwa Dewan Syariah Nasi- bankan syariah untuk melihat aspek-aspek
onal (DSN). Fakta-fakta menunjukkan be- tertentu yang bersifat kuantitatif dan be-
berapa kebijakan bank Indonesia dan fatwa lum banyak menjangkau aspek-aspek yang
DSN seperti produk Sertifikat Bank Syariah bersifat kualitatif. Kontribusi penelitian
Indonesia (SBSI), produk Multijasa, kola- kuantitatif maupun kualitatif sama-sama
teral (agunan) dalam pembiayaan syirkah, dibutuhkan untuk mendorong perkembang-
produk kartu kredit, merupakan instrumen an teori, praktik serta perbaikan kebijakan
dan produk perbankan syariah kontemporer untuk kemajuan perbankan syariah. Pene-
yang cenderung lebih akomodatif terhadap litian dengan metode kualitatif diharapkan
tuntutan pasar apabila dibandingkan de- akan melengkapi hasil penelitian kuantita-
ngan penerapan prinsip-prinsip syariah de- tif dengan memberikan kontribusi kepada
ngan lebih konsisten. pengelola perbankan syariah untuk melihat
Idealisme penerapan prinsip-prinsip aspek-aspek yang bersifat kualitatif.
syariah dalam lingkup perbankan, seha- Selain rendahnya penelitian dengan
rusnya tidak hanya sebatas pada kepatuh- pendekatan kualitatif, fokus penelitian di-
an terhadap aturan-aturan formal seperti bidang perbankan syariah dengan pendekat-
16 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 4, Nomor 1, April 2013, Hlm. 14-25

an kritis juga masih belum banyak dilaku- mendorong industri perbankan untuk saling
kan. Penelitian kualitatif dengan pendekat- berlomba untuk dapat mengakses sebagian
an kritis sangat penting dilakukan untuk besar nasabah.
memberikan “kontrol” terhadap perjalanan Pertumbuhan besar pasar ini apabila
perbankan syariah agar tetap konsisten tidak diatur dan diawasi dengan baik dapat
dengan penerapan prinsip-prinsip syariah menjadikan perbankan syariah bertindak
dengan benar. Adanya kritik dari masyara- secara pragmatis untuk meraih pertumbuh-
kat dan peneliti terkait ketidaksesuaian an dengan mengabaikan koridor syariah dan
prakrik perbankan syariah serta pengukur- kembali kepada praktik perbankan konven-
an kinerja perbankan syariah dengan prin- sional yang berlandaskan pada ekonomi
sip-prinsip syariah perlu disikapi sebagai kapitalisme. Apabila hal tersebut terjadi,
bagian dari rasa memiliki masyarakat terha- maka perbankan syariah akan terjebak de-
dap perbankan syariah. Kritik tersebut sa- ngan praktek yang bersifat pragmatis (kapi-
ngat bermanfaat agar dalam perjalanannya talisme). Situasi tersebut sangat mungkin
tidak bergeser dari prinsip-prinsip syariah terjadi karena beberapa hal, diantaranya:
sebagaimana motivasi utama pendirian per- a) penambahan jumlah perbankan syariah
bankan syariah. yang berasal dari perbankan konvension-
Pertumbuhan perbankan syariah di al, dengan kecenderungan motivasi untuk
Indonesia memiliki perbedaan dengan per- menangkap peluang pasar jika dibandingkan
tumbuhan perbankan syariah di Malaysia. dengan penerapan prinsip-prinsip syariah
Perkembangan perbankan syariah di Malay- dalam ekonomi; b) kurangnya sumberdaya
sia lebih didorong oleh dukungan penuh dari manusia yang memiliki kompetensi sebagai
pemerintah dalam bentuk kebijakan dan praktisi perbankan syariah akan mendorong
pendanaan yang bersumber dari pemerin- praktik syariah bergeser pada praktek yang
tah. Dukungan pemerintah Indonesia terha- bersifat pragmatis (kapitalisme); c) kesadar-
dap perkembangan perbankan syariah tidak an dan pengetahuan masyarakat terhadap
sekuat dukungan pemerintah di negara jiran produk-produk perbankan syariah yang ma-
itu. Contohnya adalah perlakuan pemerin- sih rendah akan menimbulkan dilema dan
tah yang berbeda dalam membantu indus- mendorong sikap adanya pragmatis untuk
tri perbankan dalam menghadapi kesulitan kembali pada praktik bisnis kapitalisme;
keuangan pada saat krisis ekonomi pada d) beberapa instrumen dan peraturan per-
tahun 1997-1998. Bantuan pemerintah bankan syariah yang ditetapkan oleh Bank
lebih terfokus untuk membantu perbank- Indonesia seperti Sertifikat Bank Indonesia
an konvensional jika dibandingkan dengan Syariah, kewajiban menyediakan agunan
membantu perbankan syariah karena per- dan lainya masih mengacu pada sistem per-
timbangan perbankan syariah lebih tahan bankan konvensional dan e) keterbatasan
terhadap krisis. Kondisi tersebut berakitbat para ulama dalam Dewan Syariah Nasional
pada pertumbuhan perbankan syariah di (DSN) dalam memahami bisnis khususnya
Indonesia tidak sepesat pertumbuhan per- perbankan yang dapat menyebabkan proses
bankan syariah di Malaysia. penetapan fatwa DSN cenderung dipenga-
Sebagai negara yang memiliki pen- ruhi oleh penjelasan dari para praktisi per-
duduk muslim lebih dari 220 juta jiwa maka bankan (Asosiasi Perbankan Syariah Indo-
pangsa pasar produk perbankan syariah ter- nesia) yang bias kepentingan bisnis.
buka sangat luas. Terlebih lagi pada tang- Keseluruhan potret perbankan syariah
gal 16 Desember tahun 2003 Majelis Ulama tersebut menunjukkan adanya potensi yang
Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang besar semangat kapitalisme terinternalisasi
haramnya suku bunga bank (Misanam dan dalam praktek bisnis perbankan syariah. In-
Liana 2007). Fatwa tersebut memberikan ternalisasi semangat kapitalisme dalam per-
implikasi peningkatan jumlah minat nasa- bankan syariah apabila tidak segera diatasi
bah pada perbankan syariah. Organisasi ke- akan menjadikan perbankan syariah hanya
masyarakatan Islam seperti Muhammadiyah sebagai label syariah namun senyatanya
juga telah mengeluarkan fatwa haramnya adalah bank kapitalisme yang berlabel sya-
bunga bank konvensional yang ditindaklan- riah atau yang terjadi adalah praktek bisnis
juti dengan kerjasama amal usaha Muham- “Islam kapitalisme”.
madiyah dengan perbankan syariah. Hal ini Pendirian dan perkembangan lembaga
semakin mendorong pertumbuhan perbank- keuangan syariah merupakan realitas yang
an syariah di Indonesia. Pertumbuhan jum- sangat menggembirakan. Perkembangan
lah nasabah berorientasi syariah yang tinggi tersebut harus terus dikawal agar prak-
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...17

tiknya selalu konsisten (istiqomah) dengan nya untuk mencoba mengambil alternatif
tujuan dari nilai-nilai syariah (maqashid lain dengan mendirikan lembaga keuangan
syariah). Perkembangan lembaga keuangan syariah dinegaranya masing-masing.
syariah di negara-negara Islam atau mayori- Secara budaya negara-negara Afrika
tas penduduknya muslim yang mengalami dan Asia tertentu memiliki ciri tradisi ke-
penjajahan oleh negara-negara Eropa memi- Islaman yang kuat, sehingga nilai-nilai barat
liki permasalahan yang unik. Pada satu sisi yang ditanamkan melalui kolonialisasi tidak
negara Islam tersebut telah memiliki tradisi sesuai dengan nilai-nilai lokal. Secara kul-
lokal dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. tural mereka ingin melepaskan diri dari ni-
Namun disisi lain pengaruh kolonialisasi lai-nilai asing tersebut. Namun karena kuat-
barat telah berhasil menanamkan semangat nya internalisasi semangat kapitalisme yang
kapitalisme yang bertentangan dengan nilai- telah melahirkan generasi barat (kapitalisme)
nilai lokal dan nilai-nilai Islam. Hal ini terus dengan wajah lokal, maka lahirlah kelompok
ditanamkan secara masif kedalam urat nadi Islam baru yang lebih menerima semangat
penduduk lokal. kapitalisme dibandingkan dengan kemba-
Semangat kapitalisme tersebut terus li membangkitkan nilai-nilai lokal dengan
merasuk kedalam seluruh aspek kehidup- berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Perte-
an masyarakat muslim, tidak terkecuali di muan antara kelompok aliran ini melahirkan
Indonesia. Keberadaan lembaga keuangan suatu “kesepakatan” dalam penerapan nilai-
syariah di Indonesia tidak terlepas dari nilai Islam yang ambigu, dimana dipermu-
adanya internalisasi semangat kapitalisme kaan nampak jelas formalitas identitas ke-
dalam poses politik, landasan, konsep serta Islaman-nya namun memiliki keterbatasan
praktik di lembaga keuangan syariah. Reali- dalam penerapan nilai-nilai syariah karena
tas tersebut menunjukkan, perlunya upaya masih kuatnya semangat kapitalisme dalam
untuk menjaga nilai lokal dan tradisi Islam praktiknya. Secara formal lembaga keuang-
dan menghilangkan nilai-nilai kapitalisme, an tersebut menggunakan istilah syariah
serta dan mengkreasikan lembaga keuang- sepertiasuransi syariah, perbankan syariah,
an syariah agar lebih fleksibel dan mampu pegadaian syariah, pasar modal syariah, dan
memberikan kesejahteraan serta kemajuan lain sebagainya.
bagi umat manusia (oksidentalisme). Pesatnya pendirian lembaga keuangan
Semangat kebangkitan keberagamaan syariah memiliki dampak sisi positif maupun
merupakan fenomena terkini yang berkem- sisi negatif. Dari sisi positif menunjukkan
bang dihampir seluruh belahan dunia. bahwa nilai-nilai Islam secara muamalah
Perkembangan yang paling pesat dari sisi telah diterima di masyarakat sehingga ter-
kuantitas (jumlah pemeluk) maupun kuali- buka jalan untuk menyebarkan nilai-nilai
tas ditunjukkan oleh perkembangan umat kemaslahatan di masyarakat melalui ke-
Islam termasuk didalamnya wilayah Eropa giatan ekonomi, namun disisi lain terbatas-
dan Amerika (Huntington 2004: 185-204). nya penerapan nilai-nilai syariah telah men-
Khusus di wilayah Asia dan Afrika yang me- gundang berbagai kritik bahkan berdam-
miliki pengalaman sejarah mengalami masa pak kontra produktif terhadap penerimaan
penjajahan dan kolonialisasi serta western- nilai-nilai ekonomi syariah di masyarakat.
isasi oleh bangsa-bangsa barat, setelah Kritik dari masyarakat maupun akademisi
kekuatan kolonial berhasil diusir dari negeri terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip sya-
mereka dan berhasil meraih kemerdekaan riah terkait dengan masih adanya semangat
maka yang masih tersisa untuk dikerjakan kapitalisme (praktik lembaga keuangan kon-
adalah upaya untuk membebaskan diri dari vensional) dalam perbankan syariah.
internalisasi nilai-nilai barat (spirit capital- Pendirian lembaga keuangan syariah
ism) yang tertanam dalam bentuk asusmsi- tidak semata-mata ditujukan untuk kema-
asumsi tipologis yang dibuat oleh para ori- juan ekonomi, namun lebih dari itu, dilanda-
entalis (Hanafi 2003: 219-220; Weber 2005: si dengan keyakinan bahwa syariah adalah
17). Kegagalan ekonomi kapitalisme dalam hukum yang sempurna diturunkan oleh
membangun ekonominya sendiri di Amerika Allah SWT melalui Rasulullah SAW untuk
dan negara-negara Eropa, yang ditunjukkan menciptakan kesejahteraan masyarakat ma-
dengan terjadinya berbagai krisis ekonomi nusia lahir maupun batin. Oleh karena itu,
yang terus berulang, serta ekses-ekses nega- pendirian lembaga keuangan syariah yang
tif yang ditimbulkan sistim ekonomi kapital- hanya dilandasi oleh kepentingan ekonomi
isme (Ritzer 2012: 87-106) mendorong pili- semata (kapitalisme) akan memiliki dampak
han rasional negara-negara Eropa khusus- yang buruk terhadap penciptaan kesejahte-
18 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 4, Nomor 1, April 2013, Hlm. 14-25

raan dan kontraproduktif terhadap nilai-ni- faat kepada beberapa pihak, antara lain bagi
lai syariah itu sendiri. Untuk mengantisipasi para peneliti dan akademisi untuk pengem-
hal tersebut diperlukan suatu model yang bangan teori dan konsep perbankan syariah
mampu mengontrol perilaku bisnis lembaga yang sesuai dengan tujuan diturunkannya
keuangan agar dapat terjaga konsistensinya hukum syariah (maqashid syariah). Bagi
dalam menerapkan prinsip-prinsip syariah praktisi, hasil penelitian ini diharapkan men-
yang selaras dengan tujuan diturunkannya jadi rujukan dalam pengelolaan perbakan
hukum syariah (maqashid syariah). syariah agar sesuai dengan tujuan diturunk-
Pada awalnya pendirian lembaga annya hukum syariah (maqashid syariah).
keuangan syariah dilandasi dengan moti- Terakhir, hasil paper ini diharapkan dapat
vasi idealisme untuk menerapkan prinsip- memberikan manfaat bagi para pengambil
prinsip syariah di bidang ekonomi. Namun kebijakan seperti Ikatan Akuntan Indonesia
seiring dengan semakin luasnya prospek dalam merumuskan Standar Akuntansi Sya-
pangsa pasar bisnis ekonomi syariah (lebih riah, Otoritas Jasa Keuangan dalam mene-
adilnya sistem ekonomi syariah serta lebih tapkan peraturan yang mengatur praktik
tahan terhadap krisis ekonomi) telah men- di lembaga keuangan syariah. Riset ini pun
dorong para praktisi bisnis sekuler maupun diikhtiarkan dapat memberi masukan bagi
non-muslim untuk ikut serta mendirikan Majelis Ulama Indonesia dalam menetap-
lembaga keuangan syariah. Dengan demiki- kan fatwa melalui Dewan Syariah Nasional.
an pendirian lembaga keuangan syariah Harapannya adalah agar standar akuntansi
dewasa ini tidak hanya dilakukan oleh ma- pelaporan, peraturan dan fatwa Dewan Sya-
syarakat muslim atau pemerintah dengan riah Nasional yang dihasilkan mampu men-
penduduk mayoritas muslim, namun juga cakup aspek perilaku secara mendasar agar
didirikan oleh masyarakat non-muslim mau- pelaksanaan akad mudharabah dilakukan
pun oleh pemerintah negara-negara kapital- secara formal maupun substansial.
isme. Hal tersebut akan memiliki implikasi
terhadap idealisme tujuan mendirikan lem- METODE
baga keuangan syariah. Metode penelitian ini menggunakan
Motivasi mendirikan lembaga keuang- studi literatur. Dimulai dengan mereviu lite-
an syariah akan semakin beragam, bahkan ratur regulasi dan praktik perbankan sya-
bisa jadi motivasi lebih didasari atas orien- riah, lantas dilanjutkan dengan menganali-
tasi keuntungan ekonomis belaka (kapital- sis literatur tersebut dengan menggunakan
isme) terlepas dari nilai-nilai kerahmatan metode “oksidentalisme” Hassan Hanafi, kon-
ajaran Islam. Apabila hal tersebut terjadi, sep “spirit kapitalisme” Max Weber dan kon-
maka besar kemungkinan praktik bisnis sep “maqashid syariah” Asy-Syatibi. Metode
lembaga keuangan syariah akan keluar analisis oksidentalisme dilakukan dengan
dari tujuan diturunkannya hukum syariah tiga tahapan yaitu, pertama, melakukan
(maqashid syariah). Sebagai langkah antisi- analisis terhadap praktik perbankan sya-
pasi, diperlukan suatu kerangka atau model riah yang sesuai dengan nilai-nilai syariah.
yang dapat dijadikan sebagai alat kendali Kedua, melakukan analisis terhadap praktik
bagi seluruh lembaga keuangan syariah agar perbankan syariah yang mengandung spirit
tetap konsisten untuk menerapkan prisnip- kapitalisme. Terakhir, melakukan perumus-
prinsip syariah dalam menjalankan setiap an nilai-nilai dan praktik transaksi syariah
kegiatannya. Untuk menjawab hal tersebut, yang lebih utuh dengan mempertahankan
dan khususnya dalam konteks pelaksanaan praktik syariah yang relevan dan melakukan
akad mudharabah oleh lembaga keuangan modifikasi atau mengganti praktik transaksi
syariah, maka penelitian ini berusaha untuk yang mengandung spirit kapitalisme untuk
menjawab pertanyaan tentang bagaimana menghasilkan konsep praktik yang sesuai
konsep praktik perbankan syariah yang se- dengan nilai-nilai syariah.
suai dengan nilai-nilai tujuan hukum sya- Analisis spirit kapitalisme mengguna-
riah (maqashid syariah).
kan konsep semangat kapitalisme yang yang
Penelitian ini bertujuan untuk meng-
dirumuskan oleh Max Weber. Max Weber
hasilkan suatu konsep yang dapat diguna-
mengatakan bahwa esensi spirit kapitalisme
kan sebagai landasan bagi perbankan sya-
adalah dominasi keinginan manusia untuk
riah agar sesuai dengan tujuan diturun-
mendapatkan uang dan mengumpulkannya
kannya hukum syariah (maqashid syariah).
untuk mendapatkan uang yang lebih ba-
Dengan dihasilkannya konsep tersebut,
nyak lagi secara rasional. Dalam upayanya
maka diharapkan dapat memberikan man-
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...19

tersebut, kapitalisme melakukan berbagai produktif, pembiayaan konsumtif (piutang


adaptasi dengan mengabaikan pertimbang- jual beli), ijarah (sewa) serta produk jasa
an etis, sebagaimana yang dikatakan oleh lainnya yang sesuai syariah. Dari keem-
Kurberger: “mereka membuat lilin dari ter- pat jenis pembiayaan tersebut perbankan
nak dan uang dari manusia”. Budaya yang syariah memperoleh pendapatan bagi ha-
tersisa dalam masyarakat sekarang adalah sil dari pembiayaan produktif, memperoleh
tinggal “auri sacra fames” (rakus untuk pendapatan marjin dari piutang murabahah
mendapatkan emas) dan siapa yang kuat dan mendapat penghasilan fee atau komisi
maka dialah yang akan menang (survival of dari usaha sewa serta produk berbasis jasa
the fittest) (Weber 2006: 19-78). perbankan.
Adapun analisis nilai-nilai syariah Untuk memenuhi kebutuhan masyara-
menggunakan konsep maqashid syariah kat terhadap produk-produk yang sesuai
yang dirumuskan oleh Asy-Syatibi. Menurut dengan prinsip syariah, DSN telah mengem-
Asy-Syatibi dalam kitabnya, al Muwafaqat, bangkan berbagai produk bagi perbankan
pada dasarnya syariat itu memiliki tujuan syariah seperti produk pendanaan simpanan
untuk mewujudkan kemaslahatan bagi ke- giro, simpanan tabungan dan simpanan de-
hidupan manusia di dunia dan di akhirat. posito. Produk tersebut memiliki kemiripan
Dalam ungkapan yang lain, asy-Syatibi me- dengan produk perbankan konvensional
ngatakan bahwa hukum-hukum disyariat- namun berbeda karena dalam operasio-
kan untuk meraih kemaslahatan manusia nalnya berlandaskan pada akad (kontrak)
(Bakri 1996: 64). Pendapat tersebut sangat yang sesuai dengan prinsip syariah. Untuk
selaras dengan ucapan Ibnu Qayyim yang produk pembiayaan dikeluarkan produk
menga-takan bahwa dasar utama syariat pembiayaan kemitraan yaitu pembiayaan
adalah kemaslahatan manusia di dunia dan mudharabah dan pembiayaan musyarakah.
akhirat yang mencakup keadilan, rahmat, Dalam produk kemitraan ini disepakati kon-
kemaslahatan dan hikmah (Al-Qardhawi trak kerjasama usaha (kemitraan) antara
2007: 7). Analisis mencakup akad-akad yang perbankan syariah dengan penerima pem-
digunakan serta operasionalisasi transaksi biyaan (pengusaha) dengan sistem bagi ha-
syariah pada produk pendanaan maupun sil atas laba kotor yang dihasilkan. Produk
produk pembiayaan syariah. pembiyaan kemitraan ini hanya diperke-
nankan untuk pembiayaan yang bersifat
HASIL DAN PEMBAHASAN produktif atau yang menghasilkan barang
Keunikan Model Bisnis Perbankan dan jasa, seperti usaha perdagangan, kon-
Syariah. Secara teori, sistem operasional struksi, atau jasa yang didalamnya terdapat
(model bisnis) perbankan syariah berbeda kemungkinan terjadi fluktuasi keuntungan
dengan model bisnis perbankan konvensio- bahkan terjadi kerugian. Dengan menggu-
nal. Kegiatan perbankan syariah diatur oleh nakan produk pembiayaan kemitraan ini,
fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) yang bank syariah akan memperoleh pendapatan
melarang perbankan syariah untuk melaku- bagi hasil yang dihitung berdasarkan pro-
kan kegiatan yang mengandung unsur spe- porsi yang telah disepakati diawal kontrak
kulasi (maisir), ketidakjelasan dalam trans- dengan pengusaha. Proporsi bagi hasil di-
aksi termasuk penipuan (ghoror), riba (sering hitung dari laba kotor yang dihasilkan oleh
dikaitkan dengan bunga perbankan), suap pengusaha (Yaya et.al, 2009:126).
(riswah) serta transaksi yang diharamkan Produk lainnya yang dikembangkan
seperti jual beli minuman keras, narkoba, oleh DSN adalah produk jual beli yaitu jual
babi, serta bisnis lainnya yang secara sya- beli dengan akad murabahah, akad salam
riah menimbulkan dampak kemudharatan. dan akad istishna. Dalam produk muraba-
Selain hal tersebut, semua kegiatan bisnis hah bank syariah melakukan pembelian ter-
perbankan syariah harus berdasarkan pada hadap suatu barang yang tujuannya untuk
aset riil atau aset nyata seperti barang dan dijual kembali kepada pembeli (nasabah), di
jasa serta tidak diijinkan melakukan bisnis mana pembeli melakukan pembayaran se-
pada aset derivatif (DSN dan BI 2006; Per- cara angsuran. Produk murabahah ini mi-
matasari dan Suswinarno 2011:9). rip dengan penjulan barang biasa yang di-
Dalam memberikan pembiayaan, per- lakukan secara kredit. Dalam produk salam,
bankan syariah membedakan pembiayaan bank syariah menerima sejumlah dana dari
kedalam empat kategori, yaitu pembiayaan nasabah sebagai tanda kesepakan untuk
kemitraan (syirkah) untuk bisnis atau usaha menyediakan sejumlah barang atau produk
20 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 4, Nomor 1, April 2013, Hlm. 14-25

yang telah ditentukan jenis, kualitas, ba- balian pendapatan jasa sewa. Sedangkan
han serta waktu penyelesaiannya. Setelah produk pembiayaan multi dengan akad ka-
barang yang diperjanjikan tersedia, nasa- falah bank syariah memberikan jaminan
bah melakukan pelunasan atas sisa pem- kepada nasabah atas kewajibannya terha-
bayaran. Produk jual beli lainnya adalah dap pihak ketiga. Bank Syariah memperoleh
produk istishna yang disediakan bagi nasa- pendapatan dalam bentuk imbalan atau fee
bah untuk memenuhi kebutuhan penyele- (Bank Indonesia 2008; DSN MUI 2004). De-
saian bangunan atau barang. Bank syariah sain produk pembiayaan Multijasa ini cu-
akan memberikan pembiayaan atas penye- kup kompleks untuk dipahami oleh pegawai
lesaian bangunan atau barang yang akan maupun nasabah bank syariah.
dibeli oleh nasabah. Berdasarkan proses pe- Mengingat sistem operasional perbank-
nyelesaian bank syariah memberikan pem- an syariah dan khas dan berbeda dengan
biayaan kepada nasabah dan demikian pula sistem perbankan konvensional, maka hal
nasabah melakukan pembayaran kepada tersebut akan berpengaruh terhadap regu-
bank syariah sesuai dengan tingkat penye- lasi serta praktik akuntansinya. Sistem op-
lesaian barang atau bangunan. Dengan erasional perbankan syariah diatur oleh
menggunakan produk jual beli, bank syariah peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indo-
akan memperoleh pendapatan berupa mar- nesia dan fatwa yang dikeluarkan oleh DSN,
jin, yang dihitung dari harga jual dikurangi sedangkan praktik akuntansi perbankan
harga perolehan barang (Yaya, et al. 2009: syariah diatur oleh Ikatan Akuntan Indone-
186). sia melalui PSAK (Pernyataan Standar Akun-
Produk berikutnya adalah produk pe- tansi Keuangan) Syariah (IAI 2007a). Disini
nyewaan barang (ijarah) oleh bank syariah nampak bahwa terdapat tiga sumber regu-
kepada nasabah. Barang yang disewakan lasi yang mempengaruhi praktik akuntansi
dapat berupa bangunan, mesin atau pera- pada perbankan syariah yaitu, PSAK Sya-
latan. Dengan menggunakan produk ini, riah yang dikeluarkan oleh IAI, Peraturan
bank syariah memperoleh pendapatan Bank Indonesia, serta Fatwa DSN.
berupa pendapatan sewa dari nasabah yang Oksidentalisme. Peradaban barat se-
nilainya bersifat tetap dan ditetapkan di awal lalu ditampilkan sebagai peradaban yang
kontrak. Dalam perkembangan selanjut- superior sedangkan peradaban Timur di-
nya DSN mengembangkan produk sewa ini anggap sebagai inferior (orientalisme). Hal
menjadi dua yaitu produk sewa ijarah (mirip tersebut diperkuat lagi dengan sejarah kolo-
dengan produk operational lease), dan ijarah nialisasi barat terhadap dunia Timur. barat-
muntahiya bit tamlik (mirip dengan produk cenderung dicurigai oleh dunia Timur, yang
capital lease). Produk jasa lainnya yang dike- cenderung arogan dengan penyederhanaan
lola oleh perbankan syariah adalah produk bahwa kolonialisasi barat terhadap Timur
rahn (gadai), kafalah (bank garansi), hiwalah merupakan suatu proyek “modernisasi” per-
(pengalihan pihutang), wakalah (mewaki- adaban Timur oleh barat. Pada perkembang-
li transaksi nasabah seperti L/C, kliring, annya kolonialisme tersebut melahirkan
inkaso, transfer dan jasa pembayaran lain- tatanan masyarakat Timur yang menimbul-
nya). Dari produk jasa tersebut bank syariah kan dominasi oleh masyarakat baratterha-
memperoleh pendapatan yang bersifat tetap dap bidang ekonomi, politik, hukum dan so-
yang ditetapkan oleh bank syariah sendiri. sial. Tatanan baru tersebut bagi masyarakat
Produk pembiayaan yang tergolong ma- Timur yang sebenarnya tidak sesuai dengan
sih baru adalah produk pembiayaan Multi- nilai-nilai dasar dari dunia Timur. Dalam
jasa. Produk ini merupakan pengembangan konteks tersebut Hassan Hanafi mengin-
dari produk ijarah (sewa) dan produk bank troduksi suatu terminologi oksidentalisme
guaranteed, (jaminan dari bank) dengan sebagai upaya untuk menghadapi wester-
menggunakan akad kafalah (Bank Indone- nisasi yang tidak hanya berbahaya terhadap
sia 2012b; Bank Indonesia 2008). Produk budaya dan konsepsi Islam, tetapi juga me-
ini tergolong unik karena pada umumnya ngancam pembebasan peradaban dan ke-
transaksi sewa dilakukan terhadap objek budayaan Islam (Listiyono 2012: 265).
barang, namun dengan produk pembiayaan Komaruddin Hidayat berpendapat,
mutijasa ini yang disewakan adalah jasa, oksidentalisme versi Hassan Hanafi, dicip-
artinya bank membeli suatu jasa, dan jasa takan sebagai alat untuk menghadapi barat
ini disewakan kepada nasabah(Bank Indo- (westernisasi) yang memiliki pengaruh besar
nesia 2008). Bank memperoleh pengem- terhadap kesadaran peradaban Timur. De-
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...21

ngan adanya oksidentalisme ini diharapkan konservatisme dan progresivisme dan antara
posisi dunia Timur yang selama ini dijadi- fundamentalisme dan westernisme, maka ja-
kan sebagai objek kajian dan posisi barat se- lan yang dapat dilakukan adalah memaknai
bagai subjek kajian dapat berubah bentuk landasan kekayaan dari tradisi-tradisi lama
relasinya. Studi atas dunia barat (oksident) yang dimaknai secara dinamis dan kreatif
bukan berarti meninggalkan kajian teo- (Listiyono 2012: 275).
ritis barat, melainkan membedah kerangka Oksidentalisme sebenarnya meru-
epistemologi pemunculan kesadaran eropa pakan agenda kedua dari tiga agenda be-
(barat) berikut kelemahannya serta dengan sar Hanafi yang dinamakan dengan proyek
tetap mengedepankan aspek tradisi dan “tradisi dan pembaruan”. Agenda pertama
pembaruan yang telah melembaga dalam adalah “sikap kita terhadap tradisi lama”,
nilai-nilai normatif Islam (Listiyono 2012: yang membahas berbagai persoalan rekon-
267-268). Oksidentalisme merupakan cara struksi teologis dalam tradisi klasik sebagai
pandang berbeda yang bersifat melawan alat untuk melakukan transformasi sosial
cara pandang orientalisme. Oksidentalisme (Hanafi 2003). Agenda kedua adalah “sikap
sebagai tandingan orientalisme merupakan kita terhadap tradisi barat” yang berusaha
serangan balik terhadap barat yang telah untuk melakukan kajian kritis terhadap per-
melakukan imperialisme dan menyebarkan adaban barat, utamanya pemunculan ke-
spirit kapitalisme. Apabila negara-negara ja- sadaran Eropa melalui studi oksidentalisme
jahan mampu membebaskan tanah airnya (Hanafi 2000). Agenda ketiga adalah “sikap
dari penjajahan fisik, maka oksidentalisme kita terhadap realitas”, melalui pengembang-
adalah suatu upaya untuk membebaskan an teori dan paradigme interpretasi. Keti-
dari penjajahan nilai-nilai barat (spirit kapi- ganya menurut Hanafi merupakan dinamika
talisme) (Hanafi 2000: 31). dan produk dialektika antara ego (al-ana)
Tradisi dan pembaruan yang dikonsep- dan the other (al-akhar). Secara skematik
kan oleh Hanafi menggunakan perspektif proyek tradisi dan pembaruan digambarkan
sosial Marxian untuk memberikan pengua- sebagai berikut:
tan terhadap pemahaman atau pengetahuan Oksidentalisme terhadap Lembaga
masyarakat atas kekayaan tradisi-tradisi Keuangan Syariah. Meskipun secara teori
Islam. Hassan Hanafi berkeyakinan, bahwa dinyatakan bahwa model bisnis perbankan
tradisi agama mempunyai pijakan ideologis syariah dan perbankan konvensional ber-
yang kuat untuk menggerakan perubah- beda, namun cukup banyak kritik yang
an sosial. Dunia Islam, menurut Hassan menunjukkan adanya keraguan terhadap
Hanafi, jika tidak ingin selalu tersobek an- kesesuaian praktik perbankan syariah de-
tara tradisionalisme dan sekularisme, antara ngan prinsip syariah. Terdapat beberapa

Gambar 1. Proyek Tradisi dan Pembaruan


Sumber: (Listiyono 2012: 281)
22 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 4, Nomor 1, April 2013, Hlm. 14-25

kritik dari para peneliti terhadap perbankan yang mengatur secara detail teknis opera-
syariah. Misalkan pendapat Kuran (2004) sional maupun substansi syariah dalam
yang menyatakan bahwa bank syariah dan pelaksanaan perhitungan jumlah angsuran
bank konvensional mungkin berbeda dalam maupun perhitungan nisbah bagi hasil.
bentuk, tetapi serupa dalam substansi. Apabila dalam pelaksanaanya menyimpang
Demikian pula kritik yang dinyatakan oleh dari prosedur operasional tersebut maka
Chong dan Liu (2009), yang menemukan pendapat yang diperoleh harus dikategori-
bahwa di Malaysia hanya sebagian kecil dari kan kedalam pendapatan non halal sehingga
pembiayaan bank syariah berdasarkan pada tidak disajikan kedalam laporan hasil usa-
sistem bagi hasil dan simpanan deposito sya- ha, namun disajikan dalam laporan Qardhul
riah tidak sepenuhnya bebas bunga, karena Hasan.
besaran bagi hasil yang dikaitkan dengan Kritik lainnya adalah adanya permin-
patokan yang digunakan bunga deposito taan agunan oleh lembaga keuangan sya-
konvensional, penemuan tersebut juga telah riah kepada nasabah yang menerima pem-
dikonfirmasi oleh Khan (2010) dengan hasil biayaan mudharabah. Permintaan agunan
yang sama untuk sampel pada bank syariah tersebut disahkan oleh fatwa Dewan Syariah
besar di beberapa negara. Nasional (DSN_MUI 2000), Standar Akun-
Perhitungan jumlah angsuran dalam tansi Keuangan Syariah nomor 105 tentang
pembiayaan murabahah ataupun perhitung- Akuntansi Mudharabah (IAI, 2007b) serta
an bagi hasil dalam simpanan nasabah di Undang-Undang Republik Indonesia nomor
perbankan syariah seharunya tidak memi- 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
liki hubungan dengan sistem bunga yang (Republik-Indonesia 2008). Permintaan agu-
ditetapkan oleh Bank Indonesia (SBI mau- nan oleh lembaga keuangan syariah tersebut
pun SBIS). Perhitungan angsuran dikaitkan bertentangan dengan nilai keadilan dalam
dengan harga pokok dan marjin yang di- penerapan akad pembiayaan mudharabah
sepakati antara nasabah dengan perbankan secara ideal. Meskipun secara regulasi per-
serta jangka waktu angsuran. Sedangkan mintaan agunan dalam pembiayaan syir-
besaran nisbah bagi hasil simpanan nasa- kah (mudharabah dan musyarakah) oleh
bah dihitung dari proporsi bagi hasil terha- perbankan syariah kepada nasabah dapat
dap realisasi hasil usaha. Sehingga apabila dibenarkan, namun apabila dilihat dari
penetapan besaran angsuran pembiayaan sudut keadilan dalam berbisnis, terdapat
murabahah dan nisbah bagi hasil yang me- kondisi yang merugikan bagi nasbah.
ngacu pada suku bunga bank konvensio- Asas kerjasama bisnis (syirkah) dalam
nal, maka cara tersebut tidak sesuai dengan Islam, seharusnya lebih didasarkan asas
maqashid syariah. Hal tersebut karena spirit kerjasama dan kepercayaan (trust) sehingga
yang terkandung dalam sukubunga bank tidaklah patut bagi perbankan syariah untuk
meminta agunan kepada nasabah. Analogi
konvensional adalah spirit kapitalisme, yai-
ketidakadilan tersebut dapat digambarkan
tu semangat memperoleh keuntungan un-
sebagai berikut: Apabila bank syariah ber-
tuk mengumpulkan kapital dengan membe-
hak menuntut agunan kepada nasabah
bankan risiko kepada pihak lain.
pembiayaan, berarti hal yang sama dapat
Penetapan besaran angsuran nasabah
dilakukan oleh nasabah simpanan dengan
pembiayaan murabahah seharusnya menga-
akad mudharabah, nasabah juga berhak me-
cu kepada besaran harga pokok ditambah
minta agunan kepada bank syariah. Sema-
marjin serta jangka waktu pembayaran. Ini
ngat kerjasama bisnis dalam syariah adalah
harusnya benar-benar terlepas dari acuan
kerjasama dan kepercayaan, bukan eksploi-
terhadap suku bunga bank konvensional. tasi untuk memperoleh keuntungan dengan
Penetapan nisbah bagi hasil bagi nasabah memberikan beban tambahan kepada pihak
simpanan didasarkan pada jenis simpanan lain. Apabila hal tersebut terus dipraktikkan
nasabah (yang berpengaruh pada lamanya maka perbankan syariah terjangkiti sema-
dana tersebut tersimpan di bank) serta ra- ngat kapitalisme yang berupaya memperoleh
ta-rata proyeksi return pembiayaan yang di- keuntungan untuk menumpuk modal de-
salurkan. Kegiatan ekonomi syariah harus ngan mengabaikan berlaku adil kepada mi-
didasarkan pada aktifitas sektor riil (barang tra kerjanya.
dan jasa) dan tidak didasarkan pada berlalu- Kritik lainnya menyangkut dasar per-
nya waktu. Untuk mencegah terjadinya ke- hitungan bagi hasil yang digunakan oleh
salahan tersebut maka setiap bank syariah lembaga keuangan syariah. Meskipun dalam
diharuskan memiliki prosedur operasional
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...23

Standar Akuntansi Keuangan Syariah nomor Demikian pula kritik terhadap produk
105 menyebutkan bahwa lembaga keuangan perbankan syariah lainnya, misalnya produk
syariah diberikan alternatif untuk menggu- pembiayaan multijasa. Produk pembiayaan
nakan dasar perhitungan bagi hasil dengan multijasa merupakan pengembangan kare-
menggunaan laba bruto (gross profit) atau na adanya permintaan (demand) dari ma-
laba netto (net profit) (IAI, 2007b). Dalam syarakat yang tidak dapat dipenuhi dengan
praktiknya, Lembaga keuangan syariah peroduk pembiayaan berbasis jual beli dan
menggunakan laba bruto (gross profit) se- bagi hasil. Pembiayaan multijasa biasanya
bagai dasar perhitungan bagi hasil. Praktik diberikan kepada nasabah yang mengalami
lembaga keuangan syariah tersebut difasili- kesulitan dalam menyelesaikan kewajiban
tasi oleh fatwa Dewan Syariah nasional no- pembayaran biaya pendidikan, biaya kese-
mor 15 tahun 2000, yang menyatakan bah- hatan, biaya pernikahan dan sejenisnya yang
wa “kemaslahatan, maka lembaga keuangan memiliki karakteristik kebutuhan yang tidak
syariah dibolehkan menggunakan net reve- berwujud. Pembiayaan multijasa ini sangat
nue sharing yang dihitung dari pendapatan unik karena apabila tidak dicermati pelaksa-
setelah dikurangi modal (DSN MUI 2000). naan transaksi langsung proses maka akan
Meskipun penggunaan laba kotor memenuhi yang terlihat pembiayaan multijasa ini seper-
unsur prinsip bagi hasil, namun dari sisi ti pinjaman pada bank konvensional, karena
peluang untuk menanggung risiko, maka jasa yang di sewa tidak berwujud (berbeda
lembaga keuangan syariah memperoleh ketika bank syariah menyewakan kendara-
kedudukan yang lebih kecil dalam menang- an kepada nasabahnya). Produk multijasa
gung risiko usaha dibanding nasabah pene- ini menggunakan dua alternatif akad yaitu
rima pembiayaan mudharabah. Hal tersebut akad ijarah (sewa) atau akad kafalah (garan-
tentunya kurang memenuhi asas keadilan. si) (Bank Indonesia 2008; DSN MUI 2004).
Perhitungan bagi hasil yang ideal Apabila praktisi pelaksana perbankan sya-
adalah menggunakan dasar Profit and Loss riah tidak menguasai prinsip dasar akad
Sharing (PLS). Dasar PLS tersebut baik bank syariah maka praktik produk multi jasa ini
maupun nasabah pembiayaan memiliki hak
dilapangan akan seperti produk pinjaman
dan kewajiban yang sama dalam mengha-
pada bank konvensional. Apabila hal terse-
dapi ketidak pastian usaha. Dasar perhi-
but terjadi, maka produk multijasa diprak-
tungan bagi hasil yang dilakukan selama ini
tikkan dengan semangat kapitalisme yang
menggunakan dasar revenue sharing yang
dilakukan oleh perbankan konvensional.
dihitung dari pendapatan dikurangi laba ko-
Perbankan syariah harus memiliki
tor (Gross Profit Sharing). Dasar perhitungan
tanggung jawab yang besar dalam melaku-
tersebut tentunya tidak ideal, karena pihak
kan pembinaan dan pemahaman kepada
perbankan tidak memiliki risiko terhadap
ketidakpastian biaya operasional usaha. semua pegawainya agar memiliki kemam-
Padahalsecara hakikat, dengan akad mu- puan yang memadai agar semua akad yang
dharabah maka seluruh usaha bisnis yang disepakati dengan nasabah dalam pelak-
dilakukan dengan modal perbankan terse- sanaannya sesuai dengan akad yang di-
but adalah milik bersama. Sehingga suatu sepakati. Selain itu pula, semua perbankan
hal yang tidak adil apabila sebagian risiko syariah, apapun latar belakangnya (milik
tidak mau diakui oleh bank sebagai pemilik pemerintah, milik masyarakat muslim, mi-
dari usaha tersebut. Penentuan dasar bagi lik masyarakat non-muslim ataupun cam-
hasil dengan menggunakan revenue sha- puran) harus memiliki kesadaran untuk
ring masih dijangkiti oleh semangat kapi- melaksanakan prinsip-prinsip syariah se-
talisme. Perbankan syariah berupaya untuk cara formal maupun substansial.
memaksimalkan keuntungan yang ingin di-
perolehnya dengan mengalihkan sebagian SIMPULAN
risiko kepada nasabah. Padahal risiko terse- Hasil analisis menunjukkan bahwa
but seharusnya menjadi bagian dari risiko dari sebagian besar produk perbankan sya-
bisnis yang dimiliki oleh bank syariah. Oleh riah yang diamati, pada dasarnya sebagian
karena itu perlu dilakukan perubahan ter- besar akad yang digunakan dalam transaksi
hadap dasar perhitungan bagi hasil yang syariah sudah sesuai dengan maqashid sya-
diatur dalam fatwa DSN maupun PSAK sya- riah. Namun masih terdapat beberapa akad
riah, yang sebelumnya menggunakan reve- yang mengalami modifikasi sehingga men-
nue sharing menjadi profit and loss sharing, jadi tidak sesuai dengan maqashid syariah
agar lebih sesuai dengan maqashid syariah. dan terjangkiti semangat kapitalisme. Pe-
24 Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 4, Nomor 1, April 2013, Hlm. 14-25

nyimpangan tersebut terjadi pada praktik Chong, B. S. dan Liu, M.-H. 2009. Islamic
perhitungan besaran angsuran pembiayaan Banking: Interest Free or Interst Based?
murabahah dan perhitungan nisbah bagi ha- Pasific Basin Finance Journal, 17, 125-
sil simpanan nasabah yang mengacu pada 144.
suku bunga bank konvensional. Terdapat DSN dan BI. 2006. Himpunan Fatwa Dewan
inkonsistensi terhadap akad mudharabah, di Syariah Nasional.
mana bank syariah mengharuskan nasabah DSN MUI. 2000. Fatwa Dewan Syariah Na-
penerima pembiayaan mudharabah untuk sional, No.15/DSN-MUI/VII/2000 Ten-
menyediakan agunan kepada bank syariah. tang Prinsip Distribusi Hasil Usaha
Dalam pelaksanaan operasional tran- dalam lembaga Keuangan Syariah.
saksi syariah, meskipun sebagain besar su- DSN MUI. 2004. Fatwa Dewan Syariah Na-
dah sesuai dengan maqashid syariah, na- sional, No.44/DSN-MUI/VII/2004 Ten-
mun masih terdapat pelanggaran terhadap tang Pembiayaan Multijasa.
batasan-batasan syariah sehingga praktik Hanafi, H. 2000. Oksidentalisme: Sikap Kita
transaksi tersebut menjadi tidak sesuai de- Terhadap Tradisi barat (M. N. Buchari,
ngan akad yang dipergunakan untuk tran- Trans.). Jakarta. Paramadina.
saksi tersebut. Hal tersebut sangat terbuka Hanafi, H. 2003. Oposisi Pasca Tradisi (Hu-
terjadi pada pembiayaan multijasa, yang mum al-Fikr al-Watan) (K. Nahdiyyin,
menuntut penguasaan prinsip dasar tran- Trans.). Yogyakarta. Syarikat Indone-
saksi syariah oleh pelaksana perbankan sia.
syariah. Keterbatasan kemampuan pegawai Huntington, S. P. 2004. Benturan Antarp-
perbankan syariah dalam memahami prinsip eradaban dan Masa Depan Politik Du-
dasar transaksi syariah dapat menyebabkan nia (M. S. Ismail, Trans.). Yogyakarta.
penyimpangan dalam praktek pembiayaan Penerbit Qalam.
multijasa tersebut, sehingga kembali terje- IAI. 2007a. Kerangka Dasar Penyusunan dan
bak pada praktik perbankan konvensional. Penyajian Laporan Keuangan Syariah
Semua perbankan syariah dengan ber- (Vol. Kedua). Jakarta: Dewan Standar
bagai latar belakang yang berbeda dituntut Akuntansi Keuangan.
untuk memiliki prosedur operasional yang IAI. 2007b. PSAK 105: Akuntansi Mudhara-
mengatur secara detail pelaksanaan setiap bah (Vol. Kedua). Jakarta: Dewan Stan-
transaksi syariah baik secara formal mau- dar Akuntansi Keuangan.
pun substansi. Apabila terdapat pelangga- Khan, F. 2010. How ‘Islamic’ is Islamic Bank-
ran terhadap prosedur operasional tersebut, ing? Journal of Economic Behavior & Or-
maka pendapatan yang diterima dikategori- ganization, 76 (3), 805-820.
kan sebagai pendapatan non-halal, sehingga Kuran, T. 2004. Islam & Mammon: The Eco-
tidak disajikan kedalam laporan hasil usaha nomic Predicaments of islamism
namun disajikan dalam laporan Qardhul Listiyono, S. 2012. Seri Pemikiran Tokoh:
Hasan. Epistemologi Kiri. Yogyakarta. Ar Ruzz
Media.
Misanam, M., dan L. Liana. 2007. Bunga
DAFTAR RUJUKAN Bank, Bagi hasil dan Relijiusitas: Suatu
Investigasi Loyalitas Nasabah Terha-
Al-Qardhawi, Y. 2007. Fiqih Maqashid dap Perbankan Syariah. Sinergi: Kajian
syariah:Moderasi Islam antara aliran Bisnis dan manajemen, 9, no 1.
tekstual dan Aliran Liberal (pertama Permatasari, I. D. dan Suswinarno. 2011.
ed.). Jakarta. Pustaka Al Kautsar. Akad Syariah (Pertama ed.). Bandung.
Bakri, A. J. 1996. Konsep Maqashid Al-syari- Kaifa.
ah menurut Al-Syatibi. Jakarta. PT Raja Peraturan Pemerintah RI nomor 72 tahun
Grafindo Persada. 1992 Tentang Bank Berdasarkan Prin-
Bank Indonesia. 2012a. Outlook Perbankan sip Bagi Hasil. 1992.
Syariah 2013. Bank Indonesia. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 9/19/
Bank Indonesia. 2008. Kodifikasi Produk PBI/2007 Tentang Pelaksanaan Prin-
perbankan Syariah. sip yariah Dalam kegiatan Penghimpu-
BMI. 2009. Profile Bank Muamalat Indone- nan Dana dan penyaluran dana Serta
sia. Retrieved 8/5/2013, 2013, from Pelayanan jasa Bank Syariah 2012b.
http://www.muamalatbank.com/ Ritzer, G. 2012. teori Sosiologi: Dari Sosiologi
home/about/profile Klasik Sampai Perkembangan Terakhir
Abdurahim, Oksidentalisme Dalam Perbankan Syariah...25

(eight edition ed.). Yogyakarta. Pustaka Weber, M. 2006. Etika Protestan dan Spirit
Pelajar. Kapitalisme (T. Utomo & Y. P. sudiarja,
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor Trans.). Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
21 Tahun 2008, Tentang Perbankan Yaya, R., Martawireja, A. E., dan Abdurahim,
Syariah. 2008. A. 2009. Akuntansi Perbankan Syariah:
Weber, M. 2005. The Protestan Ethic and the teori dan Praktik Kontemporer (Pertama
Spirit of capitalism Max Weber. Peran- ed.). Jakarta. Salemba Empat.
cis: Taylor & Francis e-Library.