Anda di halaman 1dari 13

PERDEBATAN IDEOLOGI PENDIDIKAN

Karti Soeharto
FIP Universitas Negeri Surabaya (e-mail: Karti_unesa@yahoo.com)

Abstract: Debates on Educational Ideologies. The study of educational ideologies


derives from perspective debates between the formal system perspective and the
process perspective. The formal educational ideology has applied the general
philosophical system since 1950, whereas the process or problematic perspective
using the semantic, rational, and empirical methods has refused the former since
1960. Today, this dispute is still going on. Based on O’Neill’s taxonomy, the
educational ideology in Indonesia can be classified as a conservative social
revisionist ideology or liberal compromise ideology.

Keywords: educational ideology, conservative social revisionist ideology, liberal


compromise ideology

PENDAHULUAN nya tentang pengelompokkan ideologi


Berdasarkan penelusuran dan pe- pendidikan dan pandangangannya ten-
ngamatan, kajian tentang pendidikan tang pendidikan. Terakhir, kajian ini
yang bertemakan ideologis atau filosofis menjelaskan posisi ideologi pendidikan
jarang ditemukan di jurnal-jurnal pen- Nasional Indonesia sebagaimana direp-
didikan di Indonesia (Sirozi, 2004:2005). resentasikan dalam UU No 20 Tahun
Beberapa kemungkinan penyebabnya: 2003 tentang Sisdiknas berdasarkan pe-
pertama, masalahnya tidak populis dan ngelompokkan ideologi pendidikan me-
kurang menarik; kedua, para pakar pen- nurut O’Neill (1981) dan pendekatan
didikan lupa akan dua tugas utamanya, dialektik Nelson (1998).
yakni selain menumbuhkembangkan
hal-hal yang bersifat praksis implemen- HASIL KAJIAN
tatif tentu harus yang bersifat substan- Melalui kajian secara historis, per-
sial: teoretik - filosofis – ideologis; dan debatan ideologi pendidikan bermula
ketiga, semakin langkanya jurusan atau dari perdebatan konseptual antara per-
program studi, filsafat pendidikan atau spektif sistem formal dan pespektif pro-
ideologi pendidikan, atau teori pendi- ses empiris. Perdebatan perspektif yang
dikan, meskipun sampai sekarang Fa- terjadi sejak tahun 1960-an itu masih
kultas Ilmu Pendidikan di LPTK-LPTK berkecamuk sampai sekarang. Perspek-
masih eksis. Dengan maksud untuk tif sistem formal yang menerapkan sis-
mengisi kekosongan kajian tersebut, tem filsafat umum ke dalam bidang
dalam tulisan ini dikaji pemikiran-pe- pendidikan menguasai kajian ideologi
mikiran ideologi pendidikan, khusus- pendidikan sejak 1950-an. Perspektif itu

134
135

dimotori oleh Donald Butler melalui 1971), bahkan ada yang lebih dari tiga
bukunya Four Philosopies and Their kelompok, tetapi 6 kelompok: fundamen-
Practice in Education and Religion (1951) talisme, intelektualisme, konservatisme,
dan dilanjutkan oleh Theodore Brameld libealisme, liberasionisme, dan anarkhis-
dengan karyanya Philosophies Education me/radikalisme. (O’Neill, 1981; Freire,
in Cultural Perspective (1955), Toward a dkk., 2003; Giroux & McLaren, 1989).
Reconstructed Philosophy of Education Di antara yang disebutkan di atas,
(1956), dan A Reconstructionist View of yang lebih memiliki kemiripan dan le-
Education (1961). Perspektif proses atau bih relevan dengan kebutuhan dan rea-
problematis dengan metode semantis, litas perkembangan sampai saat ini me-
rasional dan empirisnya melakukan pe- nurut hemat penulis adalah pengkla-
nolakan terhadap perspektif sistem for- sifikasian dari O’Neill dan Freire; yaitu
mal sejak 1960-an. Tokoh utama per- kesamaan jumlah dan nama model ideo-
spektif ini adalah Jonas Scoltis dengan logi pendidikan, yang berjumlah 6
tiga karyanya, yaitu Philosophy of Edu- (enam) model dengan berbagai varian-
cation: Four Dimension (1966a), Seeing, nya, yaitu fundamentalisme, intelektua-
Knowing, and Beliefing: Reading (1966b), lisme, konservatisme, liberalisme, libe-
dan An Introduction to the Analysis of rasionisme, dan anarkhisme/radikalis-
Education Concept (1968). Tokoh yang me. Bedanya, klasifikasi O’Neill (1981)
lain pada perspektif proses ini adalah lebih lengkap dan operasional dituang-
Ricard S. Peters dengan karya berjudul kan dalam peta ideologi pendidikan se-
Etics and Education (1966). Tokoh awal cara rinci, serta dicantumkan tokoh-to-
perspektif ini adalah John S. Brubacher kohnya. Freire dan kawan-kawan (2003)
dengan karya berjudul Modern Philoso- lebih berupa bunga rampai pemikiran
phies of Education (1962) dan Israel tokoh-tokoh pendidikan dari 6 (enam)
Scheffter dengan karyanya Conditions model ideologi pendidikan. Dalam kaji-
Knowledge (1965). Karya tokoh-tokoh itu an tentang ideologi pendidikan nasio-
mengumandangkan kajian ideologi pen- nal Indonesia, penulis menggunakan
didikan dengan sandaran dunia empi- acuan pemetaan ideologi pendidikan
ris. Dengan kata lain, sandaran ideologi O’Neill
pendidikan bukan menerapkan filsafat O’Neill (1981)membagiideologi pen-
umum dalam dunia pendidikan seba- didikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu
gaimana anjuran Donald Butler. pertama ideologi konservatif dan libe-
Perdebatan perspektif ideologis se- ral. Ideologi konservatif meliputi ideo-
perti yang dikemukakan di atas, berim- logi pendidikan fundamentalisme, ideo-
plikasi terhadap adanya perdebatan pe- logi pendidikan intelektualisme, dan
ngelompokkan atau klasifikasi; misalnya ideologi pendidikan konservatisme.
pengklasifikasian ideologi pendidikan Ideologi liberal meliputi ideologi pen-
dikotomis:konvervatif dan liberal; rea- didikan liberalisme, pendidikan libera-
listik dan idealistik; trikotomis: tradisi- sionisme, dan ideologi pendidikan anar-
onal, progresif dan radikal; konservatif, kisme.
liberal dan kritis (Christenson et al.,

Perdebatan Ideologi Pendidikan


136

Fundamentalisme meliputi corak- praktik-praktik politik yang ada, dan


corak konservatisme, yang pada dasar- menjadikannya lebih sempurna relevan
nya bersifat anti-intelektual. Artinya, dengan cita-cita dan gagasan intelektual
mereka ingin meminimalkan pertim- atau kerohanian ideal, yang pada in-
bangan-pertimbangan filosofis dan/atau tinya bersifat dimutlakkan. Misalnya,
intelektual, serta cenderung untuk men- konservatisme intelektual yang terpan-
dasarkan anggapan-anggapannya di tul dalam tulisan-tulisan Plato dan Aris-
atas penerimaan yang relatif tidak kritis toteles dan pemikiran Thomas Aquinas
terhadap kebenaran yang diwahyukan (melandasi pandangan utama Gereja
ataupun kesepakatan sosial yang sudah Katholik Roma). Dalam pendidikan kon-
mapan (akal sehat). Ada dua variasi su- temporer, konservatisme filosofis meng-
dut pandang dalam penerapan ke da- ungkapkan diri, sebagai ideologi pendi-
lam pendidikan: (a) ideologi pendidik- dikan intelektualisme, yang di dalam-
an fundamentalisme religius, sebagai- nya ada dua variasi mendasar: (a) inte-
mana dijumpai dalam berbagai pendi- lektualisme filosofis yang intinya seku-
dikan versi Kristen yang lebih funda- ler tercermin dari karya-karya Robert
mentalistis, yang sangat terikat pada Maynard Hutchins dan M. Adler; (b)
pandangan yang cukup kaku dan hara- intelektualisme teologis, berorientasi re-
fiah mengenai kenyataan yang diwah- ligius seperti tertuang dalam karya-kar-
yukan melalui kewenangan/otoritas Al- ya filosof Katolik Roma: William Mc
kitabiah. Dalam pendidikan dewasa ini, Gucken dan John Donahue (O’Neill,
fundamentalisme religius barangkali pa- 1981:63)
ling bisa diamati dalam berbagai gagas- Ideologi pendidikan konservatisme,
an pendidikan yang dilontarkan dan di- pada dasarnya mendukung ketaatan ter-
jalankan oleh kelompok-kelompok umat hadap lembaga-lembaga dan proses-
Kristen yang menampilkan kepatuhan proses budaya yang sudah teruji oleh
ketat terhadap Sabda Allah, sebagai- waktu, disertai dengan rasa hormat
mana tertuang dalam Alkitab. Pandang- yang mendalam terhadap hukum serta
an ideologi pendidikan fundamentalis- tatanan sosial yang baku, sebagai lan-
me akal sehat yang diwakili oleh tokoh dasan bagi perubahan sosial yang kon-
terkemuka seperti Max Raffery (ketua struktif. Dalam hal pendidikan, kaum
Pengawas Pengajaran Umum di negara konservatif menganggap bahwa sasaran
bagian California), dengan penekanan utama sekolah adalah pelestarian dan
yang kuat terhadap nasionalisme dan penerusan struktur dan sistem sosial
patriotisme. serta pola-pola berikut tradisi-tradisi
Ideologi pendidikan intelektualisme yang sudah mapan. Ada dua variasi
lahir dari ungkapan-ungkapan konser- mendasar di dalam ideologi pendidikan
vatisme politis yang didasari oleh sis- konservatisme: (a) ideologi pendidikan
tem-sistem pemikiran filosofis atau teo- konservatisme religius, menekankan pe-
logis yang relatif kaku dan fundamen- latihan rohani sebagai pusat landasan
talis otoritarian. Secara umum, konser- watak moral yang tepat; (b) ideologi
vatisme filosofis bermaksud mengubah pendidikan konservatisme sekular, pe-

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2


137

duli pada perlunya pelestarian dan pe- pendidikan tradisi-tradisi Protestan, se-
nyaluran keyakinan-keyakinan dan perti Lutheran dan Baptisn; sedangkan
praktik-praktik yang ada sebagai se- yang sekular diwakili oleh para kritisi
buah jalan untuk memastikan pertahan- yang tajam dari pendukung progresi-
an hidup secara sosial sekaligus keefek- visme dan permisivisme pendidikan,
tifan personal. Saat ini, konservatisme seperti pemikiran James Koerner serta
religius paling terwakili dalam orientasi Hyman Rickover ( O’Neill, 1981: 64).

Bagan 1: Ideologi-ideologi Pendidikan Konservatif


(O’Neill, 1981:64-65)
The Conservative Educational Idelogies

MOST LEAST
CONSERVATIVE CONSERVATIVE
INTELLECTUAL
REACTIONARY CONSERVATISM SOCIAL CONSERVATISM
CONSERVATISM (Philosophical and/or Theological (Social and/or Religious
(Anti-intellectual Absolutism) Traditionalism)
Authoritarianism)
Educational Fundamentalism Educational Intellectualism Educational Conservatism

Religious Secular Theological Philosophical Religious Secular


Fundamentalism Fundamentalism Intellectualism Intellectualism Conservatism Conservatism
Christian Teleological Totalitarism St. Thomas Aquinas Plato Based Protestant Traditions Establishment Conservatives
Fundamentalism (Hegelian Totalitarinism) St. Ignatius Loyola Aristotle Protestant Episco palianism (Tory Democracy)
And Related Fascism (and the Jesuits) Rene Descartes Lutheranism Presbyterianism Edmund Burke
Traditions Benito Mussolini Moses Maimonides Matthew Arnold Reformed Calvinism Russell Kirk
Southern Baptist Giovanni Gentile John Henry Newman Dominant Tradition in Nondenominational Evangel William Buckley,
Church of Christ Naziism Dominant Tradition in Western “Liberal Arts” Ical Christian Monements Laissez Faire Conservatives
Many Independent Adolf Hitler Contemporary Roman Orientation Billy Graham Adam Smith, Thomas Malthus
Evangelical Churches Ernst Huber Catholicism Robert Huctchins Campus Crusade for Christ David Ricardo
Many Independent More Extreme Forms of Domaint Tradition in Mortimer Adler Intervarsity Christian m\Milton Friedman, Ayn Rand
Religious Traditions “Civil Religion” in the Contemporary Judaism Jacques Barzan Fellowship Secular Augustinians and
Latter-Day Saints Prophetic Nation-as- Reformtion-based The Great Books rogram Teen Challenge Related Traditions
Seventh-Day Transcedent Tradition Protestant Theology St. John’s College, Theological Augustinians Political Realism
Adventists Religious Nationalism Domaint Tradition in Annapolis St. Augustine of Hippo (Hans Morgenthau)
Jehovah’s Witnesses Robert Welch (John Most “Natural” Major “Establishment” Reinhold Niebuhr Hedonic Naturalism
Mre Extreme Forms Birch Society) Religions (Such an Prep Schools (Andover, Theological Antirationalism (Thomas Hobbes)
of Dan Smoot religion (such as) Choate, etc) And/or Intuitionism Tertullian Political “Conflict of
Civil Religion“ in the (Facts Form) Unitarianism French Ideal of “culture John Duns Scotus Interest” Theories
Prophetic Nation- Clarance Manion Universalism) generale” (as in the lycee) Soren Kierkegaard Thomas Harrington
Under- (Manion Forum) German Mainstream Most “Ethic Religions” John Adams
God Orientation Common Sense“ Academic Tradition (as Hungarian Reformed Church James Madison
Evangelical Populism In the classical Norwegian Evagelical John C. Calhoun
Commitment to Max Rafferty Gymnasium) Lutherans Machiavelli and the Neo Machiavellians
Thomas Harrington, George Wallace British “Great Public Armenians Church of North Social Darwinists
John Adams European Reactionary Schools” (Eton, America (Spencerian Conservatives)
James Madison “Retorationism” Harrow, etc.) Most Forms of “Civil Hebert Spencer
John C. Calhoun Joseph de Maistre Religion” in the Priestly William Graham Summer
Machiavellians Louis de Bonald Nation-Under-God Tradition Lester Ward
Social Darwinists Francois de Qualified Forms of Teological Nationalists
(Spencerian Chateaubriand “Protestant Civic Piety” (Hegelian Conservatives)
Conservatives) Georg W.F. Hegel
Hebert Spencer Auguste Comte
William Graham Emile Durkheim
Sumner Various German Romantic
Lester Ward Idealists (Fichte,Schelling)
Teleological Friedrich Nietzsche
Nationalists Various German Romantic
(Hegelian Idealists (Fichte, Schelling)
Conservatives) Friedrich Nietzsche
Gerg W.F. Hegel Various Crities of Liberal
Auguste Comte Approaches to Education
Emile Durkheim Council for Basic
Various German Education
Romantic Hyman Rickover
Idealists (Fichte, James Koerner
Schelling) Arthur Bestor
Friedrich Neitzsche
Various Crities of
Liberal
Approachches to
Education
Council for Basic
Education
Hyman Rickover
James Koerner
Arthur Bestor
A Nondenominational
Judeo-Christian
Religious
Orientation
“Protestant Civic
Piety”
Edgar Bundy (Church
Billy James Hargis
(Christian Crusade)
Carl Mclntire (The
Cristian Beacon)
The Moral Majority
Cristian Voice

Perdebatan Ideologi Pendidikan


138

Ideologi pendidikan liberal bertuju- ada bukan hanya untuk mengajar anak-
an untuk melestarikan dan memper- anak tentang bagaimana cara berpikir
baiki tatanan sosial yang ada, dengan efektif (rasional-ilmiah), melainkan juga
cara membelajarkan setiap siswa seba- untuk membantu mereka mengenali
gaimana caranya menghadapi persoal- kebijakan yang sifatnya lebih tinggi (su-
an-persoalan dalam kehidupannya sen- perior) yang tak terceraikan dari peme-
diri secara efektif. Ideologi pendidikan cahan-pemecahan masalah secara inte-
liberal ini berbeda-beda dalam hal in- lektual yang paling meyakinkan, sehu-
tensitasnya, dari yang relatif lunak, bungan dengan problem-problem ma-
yakni liberalisme metodik yang di- nusia. Dengan kata lain ideologi pendi-
ajukan oleh teoretisi seperti Maria Mon- dikan liberasionisme didirikan di atas
tessorimo, ke liberalisme direktif (lebih landasan sistem kebenaran yang ter-
mengarahkan) yang sarat dengan muat- buka, yang pada puncaknya merupa-
an filosofi John Dewey hingga ke li- kan sebuah orientasi yang berpusat pa-
beralisme non direktif atau liberalisme da problema sosial. Sekolah memiliki
laissez faire, yang merupakan sudut pan- kewajiban moral untuk mengenali dan
dang A.S. Neill atau Carl Rogers mempromosikan program-program so-
(O’Neill, 1981:66). sial yang konstruktif. Sekolah mesti ber-
Ideologi pendidikan liberasionisme, usaha memajukan pola tindakan yang
menganggap bahwa manusia mesti paling meyakinkan yang didukung oleh
mengusahakan pembaruan/perombakan analisis objektif terhadap fakta-fakta
segera dalam ruang lingkup besar atas yang ada (O’Neill, 1981:66).
tatanan politis yang ada, sebagai jalan Anarkisme yang bersudut pandang
menuju perluasan kebebasan individual pembela penghapusan/pemusnahan/pe-
serta untuk mempromosikan perwujud- lenyapan seluruh kekangan terlembaga
an potensi-potensi personal sepenuhnya. atas kebebasan manusia. Penghapusan
Ideologipendidikan liberasionisme men- kekangan ini diyakini sebagai jalan un-
cakup spektrum pandangan yang luas, tuk menyediakan peluang penuh atas
dari liberasionisme pembaruan yang re- potensi-potensi manusia yang dibebas-
latif konservatif, yang tercermin dalam kan. Dalam pendidikan, sikap anarkis
gerakan-gerakan menuntut hak-hak war- paling terwakili dalam tulisan-tulisan
ganegara (di AS era 60-an) hingga ke tokoh terkenal Ivan Illich dan Paul
komitmen yang mendesak dan bernafsu Goodman (O’Neill, 2002:113). Sudut
terhadap liberasionisme revolusioner, pandang ini meliputi wilayah pandang-
yang kerapkali bernuansa Marxis, de- an yang cukup luas, dari anarkisme tak-
ngan seruannya agar sistem pendidikan tis, yang ingin melebur sekolah demi
segera mengambil peran aktif dalam mendramatisasikan kebutuhan akan
menggulingkan tatanan politik yang ada. adanya sistem sosial yang baru hingga
Bagi kaum ideologi pendidikan libera- ke anarkis utopis yang membayangkan
sionisme, sekolah haruslah objektif (ra- terciptanya sebuah masyarakat bebas
sional-ilmiah), namun tidak sentralistik. tak terbatas dari seluruh kekangan ke-
Sekolah memiliki fungsi ideologis: ia lembagaan apapun. Kaum yang ber-

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2


139

ideologi pendidikan anarkisme, seba- masyarakat dari lembaga-lembaga (de-


gaimana yang liberalis dan liberasionis, institusionalisasi masyarakat). Sejalan
pada umumnya menaati sebuah sistem dengan itu, diyakini bahwa pendekatan
penyelidikan eksperimental yang ter- terbaik terhadap pendidikan adalah
buka (ilmiah-rasional). yang mengusahakan untuk memperce-
Kaum yang berideologi pendidikan pat pembaharuan-pembaharuan huma-
anarkisme lebih menekankan pada ke- nistis yang segera dan berskala besar di
butuhan untuk meminimalkan dan/atau dalam masyarakat, dengan cara meng-
melenyapkan batasan-batasan terlem- hapuskan sistem sekolah secara kese-
baga atas perilaku personal, dan ber- luruhan (O’Neill, 1981:67).
usaha sejauh mungkin membebaskan

Bagan 2: Ideologi-ideologi Pendidikan Liberal


(O’Neill, 1981:64-65)

THE LIBERAL EDUCATIONAL IDELOGIES


LEAST MOST
LIBERAL LIBERAL
LIBERALISM LIBERATIONISM ANARCHISM
(Change wthin the Established (Rapid and Large-Scale Changes in the Basic (Liberation of Mankind from Institutional
Social Order) Nature of the Established Social Order) Restraints)
Educational Liberalism Educational Liberationism Educational Anarchism

METHOD DIRECTIVE NON-DIRECTIVE REFORM RADICAL REVOLU-TIONARY TACTICAL RADICAL UTOPIAN

J. Herbart John Locke Rousseau (Emile) Ethnic and or John Dewey Prerevolutionary Illich Illich Illich
M. Montessori Benjamin . F A.S. Neill Racial George Counts Marxism E. Reimer E. Reimer E. Reimer
J.B. Conant H. Pestalozri Carl Rogers Reform Harold Rug Leninism (to create P. Goodman P. Goodman P. Goodman
E.L. Thorndike (and the F. Fruroel George Leonard Movements Theodore "revolutionan J. Holt J. Holt J. Holt
Standardized Testing Francis W.P (particulary during Brameld consciousness") M. Gandhi M. Gandhi
Movement) John Dowey the early 60s) B. F. Skinner Paulo Freire L. Tolstoi
J. Bruner’s “structure of Kilpatrick and movements (Walden Two) Revolutionary SIDS Marx's Vision
knowledge” approach as John Childs toward Wilhelm Reich (late 60s) of a
applied to curriculum reform Susan Isaacs (Great eliminating Anton Weather Utopian
(the “new math,” PSSC, Britain) discrimination Makarenko Underground "Classless
etc.) Celestin F. (France) based on age, sex (USSR) Third World Society
“Scientific Management” in Community Colleges or sexual Jonathan Kozoi Liberation
Education (PPBS) (U.S.) preference Charles Front
Competency-Based British "Open Black Student Dederich Regis Debray Maoist
Curricula University" British unions (Synanon) "Red Guard
Programmed Instruction "Open Classroom" United Mexican Black Panthers Movement" (China in
(including PSI-The Keller Learning American (Radical early 70s)
Plan) Laboratories Student, Faction)
Teaching Machines Confluent Education Southern Christian Stokely
(G. 1. Brown) Leadership Carmichael
"University Without conference Christian
Walls- approach Brown Berets Marxism
Jean Piaget Black Panthers Israeli Kibbutz
Lawrence Kohlberg Moderate (of the
Values Clarification Faction) secular-socialist
(Louis Raths, Sidney Students' variety)
Simon, etc.) Nonviolent Post-
William Glasser Coordinating Revolutionary
Carl Orff Committee Marxism-
(Orffschulwerk) Women's Right, Leninism (as in
Rudolf Steiner Movements Communist
(Waldorf Schools) (Various) Kuba,
Gay Student Communist
Unions China, etc.)
Gray Panthers Secular Yiddish
Progressive
Schools (c.
19(0-1940)

Perdebatan Ideologi Pendidikan


140

ANALISIS NELSON TENTANG SIS- berdasarkan penolakan pada tesis-tesis


TEM PENDIDIKAN lama. Sebagaimana dikatakan Nelson,
Nelson, dkk. (1996) menawarkan dkk., (1996:20), bahwa:
analisis sistem pendidikan dengan pen- “A basic structure in dialectical reasoning is
dekatan dialetiknya. Pendekatan itu di- to pit one argument (thesis) against another
kemukakan dalam karyanya berjudul (antithesis) to develop an synthesis that is
superior or either. It is an inquiry into im-
Critical Issues in Education: A Dialectic
portant issues that identifies tha main points,
Approach. Pendekatan dialetik Nelson
important evidence, and logical arguments
berangkat dari pandangan bahwa sek- used by each of the proponents of at least two
olah tidak hanya sebagai pusat perse- divergent views of the issue. A dialectical
lisihan, sekolah juga sebagai tempat approach requires critical examination of
yang logis untuk studi perselisihan evidience and argumen from each side of a
yang bijaksana (Nelson, dkk., 1996). dispute, granting eah some credibility in
Studi ini berisi penataan pikiran rasio- order to understand and criticize it. A dia-
nal dan terbuka untuk menemukan isu- lectical approach is also dinamic; a synthesis
from one level of reasoning can become a new
isu sosial penting. Isu-isu sosial penting
thesis at a more sophisticated level, and the
ini ditandai oleh pendapat yang ber-
process of inquiry continues to spiral (Adler,
beda-beda. Isu kritis, dimaknai sebagai Cooper, dan juga Rychlak, dalam Nelson,
suatu perselisihan yang keras. Tentu dkk., 1996: 20).”
saja, debat adalah dasar dari seluruh
definisi kata " isu". Isu kritis mengguna- Pemikiran cara dialektik menya-
kan cara berpikir dialektika. Suatu pen- rankan suatu dialog antargagasan yang
dekatan dialektika adalah suatu format bersaing, tidak mengalahkan yang satu
pemikiran yang melibatkan perselisihan dan menerima lainnya, tetapi untuk
dan opini divergen dalam usaha untuk mempertemukan suatu gagasan yang
sampai pada ide yang lebih baik. Pen- teruji. Pemikiran dialektik sebagai hal
yang optimis, dinamis, dan disputational
dekatan dialektik ini memiliki kerangka
pikir sederhana, jelas, dan relevan un- (dapat diperdebatkan). Seperti di mana
tuk menemukan isu-isu penting dan pun format wacana kehidupan (human
berupaya memperoleh ide yang lebih discourse), pemikiran dialektik tidak
baik. Dengan kelebihan itu, maka pen- serta-merta mendorong ke arah kebe-
dekatan dialektika ini dipergunakan un- naran; dapat pula melulu mengulangi
tuk memahami interpretasi elite pendi- kesalahan dan bias. Begitu juga, dapat
dikan mengenai Undang-Undang No- terjadi mendukung skeptisis yang se-
mor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pen- hat dalam pengujian pertentangan ini
didikan Nasional. (Nelson, dkk., 1996:20). Dengan pertim-
Keberagaman interpretasi elite pen- bangan, bahwa tanpa skeptis, akan de-
didikan mengenai Undang-Undang ngan mudah jatuh masuk ke "penipuan,
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem puas diri, dan dogmatis"; dengan cara
Pendidikan Nasional dimungkinkan demikian pendekatan dialektik, dapat
adanya penemuan tesis-tesis baru un- secara efektif mengembangkan dan
tuk sistem pendidikan nasional mengedepankan penemuan terhadap

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2


141

pengetahuan, yang penerapannya un- dibagi menjadi aspek-aspek seperti ter-


tuk kehidupan praktis, etika, dan po- lihat pada Bagan 3.
litik" (Kurtz, 1992:9). Pemetaan aspek-aspek dalam kom-
Berpikir secara dialektik dengan ponen pendidikan nasional Indonesia
skeptis yang bijaksana, dengan meng- bersumber pada pasal-pasal dalam Un-
gunakan metode inkuiri dapat diterap- dang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
kan terhadap isu-isu di sekolah. Seba- tentang Sistem Pendidikan Nasional
gai lawan dari perspektif idealistik, pen- dan diselaraskan sesuai keperluan pe-
dekatan dialektik merupakan represen- nulisan ini.
tasi, ekspresi, dan perbedaan ide-ide
tentang bagaimana persekolahan dapat KOMPONEN LANDASAN PENDI-
berkembang. Pada akhir abad duapu- DIKAN NASIONAL: KONSERVATIF
luh dan awal abad dua puluh satu, mes- DAN LIBERAL
kipun sekolah dalam keadaan tenang, Komponen landasan pendidikan
isu-isu pendidikan pasti muncul dan di- nasional terdapat 6 aspek meliputi (1)
perdebatkan serta memerlukan sum- dasar pendidikan; (2) fungsi dan tujuan
bangan pemikiran dialektik (Nelson, pendidikan; (3) prinsip-prinsip pendi-
dkk., 1996:21). dikan: pembudayaan dan keteladanan;
Tiga Pertanyaan Dasar dalam Dia- (4) prinsip-prinsip pendidikan: demo-
lektika Nelson, dkk. Nelson, dkk. (1996: kratis dan pemberdayaan partisipasi
27) menggunakan kerangka pikir ber- masyarakat; (5) hak dan kewajiban war-
fokus pada 3 (tiga) pertanyaan utama ga negara; dan (6) hak dan kewajiban
tentang pendidikan. Pertama, what in- negara.
terests should schools serve? Kedua, what Berdasarkan interpretasi Elite Pen-
should be taught? Ketiga, how should didikan Indonesia (Soeharto, 2009), lan-
schools be organized and operated? Perta- dasan pendidikan nasional berdasarkan
nyaan dasar pertama itu mengimplika- persepektif O’Neill, bercirikan ideologi
sikan komponen landasan pendidikan. pendidikan konservatif sosial dan se-
Pertanyaan kedua memberi implikasi kaligus bercirikan ideologi liberal. Di-
pada komponen kurikulum pendidikan. sebut bercirikan ideologi pendidikan
Implikasi kurikulum itu tampak dari in- konservatisme sosial karena di dalam
ti pertanyaan kedua itu, yakni substansi landasan pendidikan berisikan nilai-
isi yang akan diajarkan. Pertanyaan da- nilai agamis dan kultural, pembuda-
sar ketiga mengimplikasikan komponen yaan dan keteladanan, serta masih do-
manajemen pendidikan. Ketiga kompo- minannya peran negara terhadap pen-
nen pendidikan itulah yang menjadi inti didikan. Disebut bercirikan ideologi pen-
gagasan Nelson, dkk. (1996) untuk meng- didikan liberal, karena di dalam kom-
kaji isu-isu pendidikan melalui pende- ponen berisikan pengembangan potensi
katan dialektikanya. peserta didik melalui ilmu pengetahu-
Dalam Undang-Undang Nomor 20 an, kebebasan warganegara secara de-
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan mokratis, pemberdayaan partisipasi ma-
Nasional, ketiga komponen pendidikan syarakat dalam pendidikan.

Perdebatan Ideologi Pendidikan


142

Bagan 3. Aspek-Aspek dalam Komponen Pendidikan menurut Undang-Undang


Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Komponen Landasan Komponen Kurikulum Komponen Manajemen


Dasar Pendidikan Naio- Penetapan Standar Nasional Pen- Pengembangan tenaga pendidik di-
nal Pancasila dan UUD didikan oleh Pemerintah atur dengan undang-undang
1945
Fungsi dan Tujuan Pen- Pengembangan Kurikulum Mang- Penyediaan sarana dan prasarana
didikan Nasional acu SNP oleh satuan pendidikan
Prinsip-Prinsip Pendidik- Diversitas Kurikulum Sesuai Jen- Pendanaan pendidikan menjadi
an Nasional: Pembuda- jang Pendidikan tanggung jawab bersama antara
yaan dan Keteladanan pemerintah, pemerintah daerah,
dan masyarakat
Prinsip-Prinsip Pendidik- Penyusunan Kurikulum dalam Evaluasi pendidikan dilakukan me-
an Nasional: Demokratis Kerangka Negara Kesatuan Repu- lalui akreditasi dan sertifikasi
dan Pemberdayaan Parti- blik Indonesia
sipasi Masyarakat
Hak dan Kewajiban: War- Muatan Wajib Kurikulum Pen- Badan hukum pendirian satuan
ga Negara didikan Dasar dan Menengah pendidikan

Hak dan Kewajiban: Muatan Wajib Kurikulum Pendi- Pengawasan dan penyelenggaraan
Negara dikan Tinggi dilakukan dengan prinsip trans-
paransi dan akuntabilitas diatur
oleh pemerintah
Penetapan Kerangka Dasar dan Sanksi atau ketentuan pidana atas
Struktur Kurikulum Pendidikan pelanggaran diatur pemerintah
Dasar dan Menengah oleh Pe-
merintah
Diversitas Pengembangan Kuriku-
lum Pendidikan Dasar dan Me-
nengah di bawah Koordinasi dan
Supervisi Negara
Pengembangan Pendidikan Tinggi
Mengacu Standar Nasional Pen-
didikan
Pengembangan Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum Pendi-
dikan Tinggi Mengacu Standar
Nasional Pendidikan
Evaluasi Hasil Belajar Dilakukan
oleh Pendidik

KOMPONEN KURIKULUM PENDI- baik isi kurikulum maupun pengelola-


DIKAN NASIONAL: KONSERVATIF annya masih menimbulkan dualisme
DAN LIBERAL yang oposisional. Artinya, di dalam
Menurut interpretasi para Elite Pen- rumusan pasal-pasal dan ayat- ayat
didikan Indonesia (Soeharto, 2009), kom- dalam komponen isi dan pengelolaan
ponen kurikulum pendidikan nasional kurikulum sistem pendidikan nasional

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2


143

terkandung ciri-ciri ideologi pendidikan KOMPONEN MANAJEMEN PENDI-


konservatif dan liberal. Secara rinci ciri- DIKAN: KONSERVATIF DAN LIBE-
ciri tersebut dapat dilihat pada setiap RAL
aspek seperti berikut ini. Menurut interpretasi para Elite Pen-
Aspek penetapan standar nasional didikan Indonesia (Soeharto, 2009)
pendidikan oleh pemerintah bercirikan komponen manajemen pendidikan na-
konservatif, aspek pengembangan kuri- sional sebagaimana termaktub dalam
kulum mangacu SNP bercirikan liberal Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
dan konservatif, aspek diversitas kuri- tentang Sistem Pendidikan Nasional,
kulum sesuai jenjang pendidikan ber- mengandung ciri-ciri ideologi pendidik-
cirikan liberal, aspek penyusunan kuri- an konservatif dan liberal.
kulum dalam kerangka Negara Kesatu- Secara rinci ciri-ciri tersebut dapat
an Republik Indonesia bercirikan kon- dilihat setiap aspek seperti berikut ini.
servatif, aspek muatan wajib kurikulum Aspek pengembangan tenaga pen-
pendidikan dasar dan menengah ber- didik diatur dengan undang-undang
cirikan konservatif, aspek muatan wajib bercirikan konservatif, aspek penyedia-
kurikulum pendidikan tinggi bercirikan an sarana dan prasarana oleh satuan
konservatif aspek penetapan kerangka pendidikan bercirikan liberal, aspek
dasar dan struktur kurikulum pendi- pendanaan pendidikan menjadi tang-
dikan dasar dan menengah oleh peme- gung jawab bersama antara pemerintah,
rintah bercirikan konservatif, aspek di- pemerintah daerah, dan masyarakat
versitas pengembangan kurikulum pen- bercirikan liberal sekaligus konservatif,
didikan dasar dan menengah di bawah aspek evaluasi pendidikan dilakukan
koordinasi dan supervisi negara berciri- melalui akreditasi dan sertifikasi ber-
kan liberal dan konservatif, aspek pe- cirikan liberal dan konservatif, aspek
ngembangan pendidikan tinggi meng- badan hukum pendirian satuan pendi-
acu standar nasional pendidikan, berci- dikan bercirikan konservatif, aspek
rikan liberal dan konservatif, aspek pe- pengawasan dan penyelenggaraan di-
ngembangan kerangka dasar dan stru- lakukan dengan prinsip transparansi
tur kurikulum pendidikan tinggi meng- dan akuntabilitas diatur oleh pemerin-
acu standar nasional pendidikan berci- tah bercirikan liberal dan konservatif.
rikan liberal dan konservatif, dan aspek Dapat disimpulkan, berdasarkan 6
evaluasi hasil belajar dilakukan oleh aspek dalam komponen manajemen
pendidik bercirikan liberal. pendidikan sebagaimana termaktub da-
Berdasarkan 11 aspek dalam kom- lam Undang-Undang Nomor 20 Tahun
ponen kurikulum sebagaimana termak- 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasio-
tub dalam Undang-Undang Nomor 20 nal, komponen manajemen memiliki
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ciri-ciri ideologi konservatif dan liberal.
Nasional, memiliki ciri-ciri ideologi kon-
servatif dan liberal.

Perdebatan Ideologi Pendidikan


144

IDEOLOGI PENDIDIKAN INDONE- landasan pendidikan nasional, kuriku-


SIA: KONSERVATISME SOSIAL lum pendidikan nasional, dan manaje-
REVISIONIS DAN LIBERALISME men pendidikan nasional, sebagaimana
KOMPROMISTIS tertuang dalam Undang-Undang Nomor
Berdasarkan interpretasi Elite Pen- 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendi-
didikan Indonesia terhadap komponen dikan Nasional, berdasarkan perspektif
landasan pendidikan nasional, kuriku- ideologi pendidikan O’Neill, mengan-
lum pendidikan nasional, dan manaje- dung ciri-ciri ideologi pendidikan libe-
men pendidikan nasional, sebagaimana ral, dengan melakukan kompromi be-
tertuang dalam Undang-Undang No- rupa penambahan ciri-ciri ideologi pen-
mor 20 Tahun 2003 tentang Sistem didikan konservatif, atau pengurangan
Pendidikan Nasional, berdasarkan per- “kadar” model liberalisme.
spektif ideologi pendidikan O’Neill de-
ngan menggunakan pendekatan Nel- PENUTUP
son, ideologi pendidikan Indonesia bisa Berdasarkan uraian di atas, dapat
disebut sebagaiideologi pendidikan kon- disimpulkan sebagai berikut.
servatisme sosial revisionis dan sekali-  Perdebatan ideologi pendidikan be-
gus bisa disebut pula ideologi liberalis- rangkat dari perdebatan antara per-
me kompromistik (Soeharto, 2009). Di- spektif sistem formal dan pespektif
sebut demikian karena ideologi pendi- proses atau problematis. Perspektif
dikan Indonesia dapat memasuki di ke- sistem formal yang menerapkan sis-
dua rumpun ideologi pendidikan seba- tem filsafat umum ke dalam bidang
gaimana yang diklasifikasi oleh O’Neill, pendidikan menguasai kajian ideo-
dengan revisi dan kompromi. Disebut logi pendidikan sejak 1950-an. Per-
Ideologi Pendidikan Indonesiatermasuk spektif proses atau problematis de-
konservatisme sosial revisionis, berang- ngan metode semantis, rasional, dan
kat dari interpretasi elit pendidikan In- empirisnya melakukan penolakan ter-
donesia terhadap komponen landasan hadap perspektif sistem formal sejak
pendidikan nasional, kurikulum pendi- 1960-an, dan sampai sekarang masih
dikan nasional, dan manajemen pendi- terjadi.
dikan nasional, sebagaimana tertuang  Rumpun ideologi pendidikan konser-
dalam Undang-Undang Nomor 20 Ta- vatif yang secara substantif memiliki
hun 2003 tentang Sistem Pendidikan kemiripan dalam menginterpretasi
Nasional, berdasarkan perspektif ideo- pendidikan, yaitu aliran fundamenta-
logi pendidikan O’Neill, mengandung lisme, perenialisme, esensialisme, in-
ciri-ciri ideologi pendidikan konservatif telektualisme, dan fungsionalisme.
sosial, dengan melakukan revisi berupa Dalam rumpun ideologi pendidikan
penambahan ciri-ciri ideologi pendidik- liberal, terdapat aliran liberalisme, li-
an liberal. Disebut Ideologi Pendidikan berasionisme, dan anarkhisme. Setiap
Indonesia termasuk liberal kompromis- aliran atau rumpun memiliki inter-
tis, berangkat dari interpretasi Elite Pen- pretasi yang berbeda satu dengan
didikan Indonesia terhadap komponen yang lainnya mengenai hakikat pen-

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2


145

didikan serta implementasinya. Apa A Strategic Approach. London:


yang terdapat di lapangan merupa- Longman.
kan ekspresi dari ideologi pendidik-
Brubacher, S., John. 1978. Modern Philo-
an yang dipakai sebagai sandaran.
sophies of Education. New York:
 Meskipun terdapat keragaman ideo-
Printed in India by Arrangement
logi tidak berarti harus dimaknai de-
with McGraw-Hill, Inc.
ngan memutlakkannya, antara hitam
atau putih. Searah dengan perkem-
bangan dan kebutuhan masyarakat Danim, Sudarwin. 2003. Agenda Pemba-
maka ideologi pendidikan akan se- haruan Sistem Pendidikan. Yogya-
lalu tumbuh dan berkembang secara karta: Pustaka Pelajar.
dinamis
Depdiknas. 2003. Undang Undang Re-
 Menurut interpretasi Elite Pendidik-
publik Indonesia Nomor 20 Tahun
an Indonesia terhadap Ideologi Pen-
2003 tentang Sistem Pendidikan Na-
didikan Nasional Indonesia sebagai-
sional Beserta Penjelasannya. Ban-
mana direpresentasikan dalam Un-
dung: Citra Umbara.
dang-Undang Nomor 20 Tahun 2003,
berdasarkan mengelompokkanr ideo- Fey, J.T. 1985. “System of Education of
logi pendidikan O’Neill dan pende- Federal Republic of Germany”. In
katan analisis Nelson, ideologi pen- Husen, F, and Postlethwaite, N.T.
didikan Indonesia bisa disebut seba- (Eds.), International Encyclopedia of
gai ideologi pendidikan konservatis- Education, New York: Pergamon
me sosial revisionis dan sekaligus Press.
ideologi liberalisme kompromistik.
Freire, Paulo, dkk. 2003. Menggugat
UCAPAN TERIMA KASIH Pendidikan: Fundamentalis, Konser-
Terima kasih diucapkan kepada tim vatif, Liberal, Anarkhis. Yogyakar-
Redaktur dan staf Jurnal Cakrawala Pen- ta: Pustaka Pelajar.
didikan Universitas Negeri Yogyakarta
yang telah memberi kesempatan untuk Freire, Paulo. 2001. Pedagogi Pengharap-
mempublikasikan artikel ini. Mudah- an: Menghayati Kembali Pedagogi
mudahan artikel ini mampu member- Kaum Tertindas. Terj. Yogyakarta:
kan sedikit pencerahan kepada pem- Kanisius.
baca dalam merumuskan kebijakan pen-
didikan di Indonesia. Freire, Paulo. 2004. Politik Pendidikan:
Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembe-
basan. Terj. Yogyakarta: Pustaka
DAFTAR PUSTAKA Pelajar.

Bowles, G. And Fidler B. Eds. 1989. Ef- Giroux, A. Henry and Peter MacLaren.
fective Local Management of Schools: 1989. Critical Pedagogy The State
and Cultural Struggle. New York:

Perdebatan Ideologi Pendidikan


146

State University of New York of Educational Philosophies. Santa


Press. Monica, California: Goodyear
Publishing Company.
Giroux. 1993. Border Crossing: Cultural
Workers and Politics of Education. Sirozi, M. 2004. Politik Kebijakan Pendi-
New York: Routledge, Chapman dikan di Indonesia; Peran Tokoh-
and Hall, Inc. Tokoh Islam dalam Penyusunan UU
Nomor 2/1989. Jakarta INIS.
Haralambos, Michel and Holborn, Mar-
tin. 2000. Sosiology: Themes and _____. 2005. Politik Pendidikan: Dina-
Perspectives (fifth edition). Lon- mika Hubungan antara Kepentingan
don: Harper Collins Publishers Kekuasaan dan Praktik Penyelengga-
Limited. raan Pendidikan. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Illich, Ivan. 2000. Deschooling Society
(terjemahan). Jakarta: Yayasan Soeharto, Karti. 2009. “Politik Pendidik-
Obor. an. Interpretasi Elite Pendidikan
tentang Ideologi Pendidikan In-
_____. 2002. Celebration of Awareness: A donesia dalam Undang-Undang
Call for Institutional Revolution. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
(terjemahan. Yogyakarta: Ikon Te- Sisdiknas”. Disertasi.
ralitera. International Association
for Evaluation Achievement/Iaea, _____. 2010. Ideolodi-Ideologi Pendi-
1991). dikan. Surabaya: Penerbit Unesa
University Press.
O’Neil F., William. 1981. Educational
Ideologies; Contemporary Expressions

Cakrawala Pendidikan, Juni 2010, Th. XXIX, No. 2