Anda di halaman 1dari 10

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi dengan rekomendasi
pemberian ASI yaitu setelah bayi lahir hingga usia dua tahun, tetapi tidak semua
bayi dapat disusui selama periode tersebut. Kesmas berpendapat bahwa bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif di Indonesia hanya 15,3% (seperti dikutip dalam
Riskesdas, 2010). Dari beberapa data yang menunjukkan masih rendahnya angka
pemberian ASI pada ibu yang bekerja dan karena pemberian ASI merupakan
intervensi yang sangat penting untuk mengurangi angka mortalitas pada bayi dan
untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Namun pada
kenyataannya pekerja perempuan tidak mempunyai waktu cuti yang cuku untuk
memberikan ASI pada bayinya sesuai dengan program ASI ekslusif oleh
pemerintah. Rata-rata perempuan hanya memiliki waktu cuti tiga bulan untuk
menyusui bayinya dan harus kembali bekerja setelahnya, sehingga untuk
memberikan ASI ekslusif pada bayinya selama enam bulan merupakan tantangan
berat bagi ibu menyusui sekaligus bekerja. Dari permasalahan yang timbul tersebut,
diperlukan solusi untuk mengatasinya, dimana ibu yang bekerja tetap bisa
memberikan ASI ekslusif pada bayinya.
Penyediaan fasilitas khusus ibu menyusui di tempat kerja menjadi salah satu
solusi dari permasalahan tersebut. Pemerintah juga telah menetapkan dasar hukum
mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus ibu menyusui dan memerah air
susu ibu sehingga diharapkan program ASI ekslusif dapat tercapai. Dengan adanya
latar belakang tersebut, kami bermaksud untuk mengkaji efektifitas penyediaan
ruang khusus ASI di tempat kerja dalam upaya menyukseskan program ASI ekslusif
pada ibu pekerja.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa pengertian dari ruang ASI?

1.2.2 Apa tujuan dan manfaat pembuatan ruang ASI?

1.2.2 Apa syarat pembuatan ruang ASI?

1
1.2.4 Bagaimana efektifitas ruang ASI?

1.2.5 Apa keuntungan dan kerugian dari Ruang ASI?

1.2.6 Apa Legal Etik dalam penyediaan ruang ASI?

1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari ruang ASI.

1.3.2 Untuk mengetahui tujuan dan manfaat pembuatan ruang ASI.

1.3.3 Untuk mengetahui syarat pembuatan ruang ASI.

1.3.4 Untuk mengetahui efektifitas penyediaan ruang ASI.

1.3.5 Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian ruang ASI.

1.3.6 Untuk mengetahui Legal Etik dalam penyediaan ruang ASI.

1.4 Manfaat

1.4.1 tulisan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Ruang
ASI

1.4.2 tulisan ini dapat dijadikan media informasi mengenai manfaat Ruang ASI.

1.4.3 tulisan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pembacanya.

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian ASI dan ASI Eksklusif

ASI adalah makanan optimal untuk bayi karena memiliki kombinasi nutrisi
yang sempurna dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Menyusui
membantu membangun hubungan yang aman dan penuh kasih sayang antara sang
ibu dan bayinya. Dengan ini menawarkan banyak manfaat positif lainnya. Untuk
alasan ini, menyusui dengan pemberian ASI eksklusif harus dipromosikan secara
aktif dan didukung sepenuhnya oleh kebijakan yang tepat sebagai metode
pemberian makanan bayi yang paling sempurna.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa
tambahan cairan ataupun makanan lain. Dulu, rekomendasi WHO tentang ASI
eksklusif hanya diberikan hingga usia bayi 4 bulan. Namun, kini WHO
merekomendasikan ASI diberikan secara eksklusif hingga usia bayi 6 bulan. Waktu
yang direkomendasikan WHO untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
bukan tanpa alasan. Dalam kajian WHO, melakukan penelitian menunjukan bahwa
ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi. Sejalan dengan WHO, Menteri
kesehatan melalui kepmenkes RI No. 450/MENKES/IV/2004 akhirnya menetapkan
perpanjangan pemberian ASI secara Eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan.
Sebaikna pemberian ASI dilakukan minimal 6 bulan dan boleh dilakukan lebih dari 6
bulan.

2.2 Ringkasan Jurnal

Dalam jurnal yang ditulis oleh Bono E. D. dan Pronzato C. D. mengenai


ketersediaan fasilitas menyusui di tempat kerja dengan probabilitas bagi ibu
menyusui untuk kembali bekerja dan tetap menyusui. dalam penelitian ini,
menganalisis peran fasilitas menyusui dan praktik kerja atau family- friendly pada
probabilitas gabungan antara bekerja dan menyusui. Tujuan utama penelitian ini
adalah untuk menyelidiki apakah pengusaha yang menyediakan fasilitas menyusui
di tempat kerja atau dengan kebijakan family-friendly yang memperoleh manfaat
lapangan kerja yang meningkat.

3
Hasil utama yang ditemukan dari penelitian ini adalah ketersediaan fasilitas
menyusui secara positif berkaitan dengan kemungkinan ibu untuk bekerja pada 4-6
bulan setelah kelahiran anak, sehingga durasi untuk cuti hamil lebih singkat. Hal ini
berlaku pada wanita yang berpendidikan tinggi, sementara kita tidak menemukan
hubungan yang signifikan untuk kelompok ibu yang berpendidikan rendah. Hasil
penelitian mendukung klaim bahwa menyediakan akses terhadap fasilitas menyusui
akan menguntungkan pengusaha, karena hasil secara signifikan akan
mempersingkat cuti hamil pada ibu yang berpendidikan tinggi.

2.3 Pengertian Ruang ASI

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 15


tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan Memerah
Air Susu Ibu, Fasilitas Khusus Menyusui dan Memerah ASI yang selanjutnya disebut
dengan Ruang ASI adalah ruangan yang dilengkapi dengan prasarana menyusui
dan memerah ASI yang digunakan untuk menyusui bayi, memerah ASI, menyimpan
ASI perah, dan konseling menyusui ASI.

2.4 Tujuan dan Manfaat Ruang ASI

Tujuan pembuatan Ruang ASI menurut Permenkes RI no. 15 tahun 2013


adalah :

a. Memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif dan


memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI eksklusif.
b. Meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, dan Pemerintah
daerah terhadap pemberian ASI eksklusif.

Manfaat Ruang ASI menurut Permenkes RI no. 15 tahun 2013 adalah


meningkatan kesehatan ibu dan anak,peningkatan produktifitas kerja, peningkatan
rasa percaya diri ibu, keuntungan ekonomis dan higienis, dan penundaan kehamilan.

4
2.5 Syarat Pembuatan Ruang ASI

Dalam Permenkes RI nomor 15 tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan


Fasilitas Khusus Menyusui dan Memerah Air Susu Ibu, disebutkan persyaratan dari
Ruang ASI, yaitu:

a. Ruang ASI dibuat pada bangunan yang permanen, dapat terpisah


ataumerupakan bagian dari tempat pelayanan kesehatan yang ada di tempat
kerja atau sarana umum.
b. Tersedianya ruangan khusus dengan ukuran minimal 3x4 m^2 dan
disesuaikan dengan jumlah pekerja perempuan yang sedang menyusui.
c. Ada pintu yang dapat dikunci, yang mudah dibuka ditutup.
d. lantai keramik/semen/karpet.
e. memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang cukup. Bebas potensi bahaya di
tempat kerja termasuk bebas polusi
f. lingkungan cukup tenang jauh dari kebisingan
g. Kelembapan berkisar antara 30-50%, maksimum 60%
h. Tersedia wastafel dengan air mengalir untuk cuci tangan dan mencuci
peralatan.
i. Peralatan yang tersedia minimal terdiri dari peralatan menyimpan ASI (lemari
pendingin, tas untuk membawa ASI perahan, sterilizer
j. botol ASI) dan peralatan pendukung (meja, kursi dengan sandaran,konseling
kit, media KIE tentang ASI, lemari penyimpan alat, dispenser dingin dan
panas, alat cuci botol, tempat sampah dan penutup, penyejuk ruangan,
nursing apron kain pembatas untuk memerah ASI, waslap untuk mengompres
payudara, tisu atau lap tangan dan bantal untuk menopang saat menyusui).

2.6 Efektifitas Ruang ASI

Menurut Indriani N. (2012) dalam Detik Health, minimnya ketersediaan ruang


ASI membuat ibu pekerja harus mencari tempat memompa ASI yang jauh dari
kesan nyaman seperti gudang, ruang rapat dan toilet. Hasil penelitian yang
dilakukan Dr. Ray Basrowi dalam media Kompas Health, tidak tersedianya fasilitas
memerah ASI diyakini berkolerasi dengan rendahnya pemberian ASI ekslusif.
Sebanyak 72.3% responden menganggap tempat bekerja tidak menyediakan

5
tempat representatif untuk memerah ASI. Ketidaknyamanan membuat para ibu
ragu memerah ASI di lokasi tempatnya bekerja (Widiyani, R, 2013).

Menurut Pramudiarja, U. dan Indarini, N. (2012) dalam Detik Health, salah


satu ruang ASI atau Nursing Room yang disediakan di Kantor Pertamina pusat
dirasa sangat nyaman oleh para ibu yang menggunakan ruangan tersebut. Fasilitas
yang disediakan lengkap dan penataan ruangan yang dilengkapi dengan berbagai
poster tentang menyusui. Pada artikel Pramudiarja, U. (2012) dalam Detik Health
juga disebutkan beberapa nursing room yang tersedia di mall, dimana menurut
penggunanya nursing room dirasa nyaman untuk menyusui ataupun memerah ASI
dan pada beberapa tempat juga dilengkapi dengan tempat mengganti popok.
Banyak ibu-ibu menyusui yang mengapresiasi mulai disediakannya nursing room di
sejumlah tempat umum dan tempat kerja.

Menurut Lianawaty Suwono dalam media Detik Health, dengan menyediakan


ruang menyusui tentu akan membantu ibu tersebut secara emosional dan juga fisik
sebab dapat mengurangi kecemasan terhadap anak dan membuat mereka lebih
produktif. Penyediaan ruang menyusui dan pemberian edukasi pada karyawan
mengenai pentingnya ASI ekslusif akan memberikan dampak yang baik bagi
perusahaan.

Selain penyediaan fasilitas ruang ASI, ada juga metode penyimpanan ASI di
lemari pendingin dan Jasa kurir ASI. Kedua metode tersebut saling berhubungan
dengan ketersediaan fasilitas ruang ASI. Banyak ibu yang telah menyiapkan ASI
bagi bayinya sebelum berangkat kerja dan kemudian disimpan di lemari pendingin.
Namun ASI yang disimpan itu masih belum mencukupi kebutuhan bayi selama
ditinggal bekerja. Karena itu, ibu pekerja perlu menambah persediaan ASI bagi
bayinya dengan cara memerah ASI di tempat kerja yang kemudian diantarkan pada
bayinya. untuk mengantarkan ASI tersebut terdapat juga jasa kurir ASI yang telah
memiliki standar untuk mengantarkan ASI pada bayi klien dan memastikan kualitas
ASI tetap terjamin. ASI yang diperah oleh ibu bisa langsung diantarkan oleh kurir
ASI ke bayi atau dapat disimpan terlebih dahulu di lemari pendingin yang disediakan
di ruang ASI. Adanya metode penyimpanan ASI di lemari pendingin, jasa kurir ASI
dan fasilitas ruang ASI tersebut mempermudah ibu pekerja untuk tetap memberikan
ASI ekslusif pada bayinya.

6
2.7 Keuntungan dan Kerugian Ruang ASI

A. keuntungan

a. Adanya fasilitas ruang atau tempat menyusui di tempat kerja membuat ibu-
ibu pekerja tetap bisa memberikan ASI ekslusif pada bayinya baik dengan
menyusui secara langsung ataupun memerah ASI yang kemudian dapat
disimpan ataupun diantarkan pada bayinya dengan menggunakan jasa
kurir ASI.

b. Tempat menyusui tersebut lebih efektif dan efisien, sehingga ibu pekerja
tidak harus memerah ASI di tempat-tempat yang dirasa tidak nyaman
seperti gudang, ruang rapat ataupun toilet.

c. Dapat meningkatkan peran keluarga, pemerintah dan masyarakat dalam


program pemberian ASI ekslusif 6 bulan.

B. Kerugian

a. Pengetahuan ibu yang kurang mengenai pentingnya pemberian ASI


eksklusif sehingga lebih memilih memberikan susu formula pada bayinya
saat ditinggal bekerja dibandingkan harus tetap memberi ASI dengan
alasan lebih praktis.

b. Tidak semua negara memiliki dasar hukum yang mengatur mengenai


penyediaan ruang ASI di tempat kerja dan tempat umum.

c. Tidak semua perusahaan mampu menyediakan ruangan khusus untuk


menyusui sesuai dengan standar yang ditentukan.

2.8 Legal Etik

Banyak solusi yang muncul ketika seorang ibu bisa tetap memberikan ASI
meski saat bekerja. Salah satu solusi tersebut adalah penyediaan fasilitas ditempat
kerja untuk ibu memberikan ASI kepada bayinya dan memerah ASI yang kemudiaan
diantarkan pada bayinya menggunakan jasa kurir ASI. Tentunya ada pihak yang
mendukung isu ini dan ada juga yang kurang setuju,terutama bagi perusahaan yang

7
akan dibebankan untuk menyediakan ruang ASI sesuai dengan standar yang
berlaku. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengkajian / tinjauan pada penyediaan
ruang ASI dari segi legal dan etiknya, apakah bertentangan dengan prinsip-prinsip
legal etik atau malah menguntungkan.

a. otonomi
dilihat dari sudut pandang ibu pekerja yang yang sedang menyusui, seorang
ibu berhak memilih untuk memberikan ASI ekslusif selama enam bulan,memberikan
susu formula atau memberikan keduanya secara bergiliran
b. Benefisiensi
Penyediaan fasilitas pemberian ASI dapat membantu ibu pekerja tetap
menyusui bayinya secara ekslusif mengingat banyaknya manfaat ASI,menjalankan
program pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas hidup anak, dan tetap
memberikan keuntungan bagi perusahaan agar kariawannya tetap produktif.
c. Keadilan
Tentunya dengan adanya fasilitas ruang ASI semua pihak akan diuntungkan,
dimana ibu pekerja tetap bisa memberikan ASI kepda anaknya, tetap bekerja dan
memperoleh penghasilan, perusahaan tidak kehilangan pekerja yang berkualitas
dan tidak mengganggu produksi.
d. Nonmalefience
Adanya fasilitas ruang ASI ini akan sangat membantu para ibu untuk
memenuhi kebutuhan ASI eklusif bayinya.
e. Nilai dan norma masyarakat
Keberadaan fasilitas ini memberikan privasi bagi ibu untuk menyusui yang
hanya diperuntukan bagi ibu dan bayinya dan mengurangi kekhawatiran akan ada
orang lain yang masuk saat menyusui dan memerah ASI.

8
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi dengan
rekomendasi usia setelah lahir hingga usia dua tahun. namun karena faktor
pekerjaan, Adapun solusinya yang pengadaan fasilitas ruangan yang dikhususkan
untuk Ibu menyusui atau memerah ASI bagi bayi mereka. Keuntungan dari fasilitas
ini diantaranya terpenuhinya pemberian ASI ekslusif pada bayi, dengan pemberian
ASI langsung pada bayi, memberikan rasa nyaman pada Ibu-ibu, dan meningkatkan
peran keluarga, pemerintah dan masyarakat. Sedangkan kelemahan diantaranya
kurang pengetahuan ibu mengenai pentingnya ASI, sehingga susu formula diangap
lebih efektif dan tidak semua perusahaan mampu menyediakan ruangan khusus
untuk menyusui sesuai dengan standar yang di tentukan. Dari segi legal dan etik,
masih menjadi pro dan kontra dari pihak-pihak tertentu. Jika fasilitas pengadaan
ruangan khusus untuk menyusui dan memerah ASI dapat terealisasi, maka kualitas
gizi dan kesehatan bayi, balita, dan anak-anak yang memiliki Ibu pekerja dapat
meningkat. Dengan memahami pengertian dan makna ASI Ekslusif ini diharapkan
para bunda lebih menyayangi sang bayi dengan memberikan secara penuh selama
6 Bulan dan tidak menggantinya dengan susu formula.

3.2 Saran

3.2.1 Bagi Perusahan

Diharapkan bagi perusahan untuk memiliki ruang ASI karena peraturan untuk
memiliki ruang ASI bagi perusahaan sudah tertuang dalam undang-undang.

3.2.2 bagi Ibu

Diharapkan dengan adanya ruang ASI ini, dapat memudahkan ibu untuk
memberikan ASI eksklusif kepada bayinya serta dapat meningkatkan
pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI ekslusif pada bayi.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2018. ASI adalah yang terbaik, Moms! Ini alasannya, (Online),
(https://m.kumparan.com/@kumparanmom/asi-adalah-yang-terbaik-moms-
ini-alasannya, diakses 25 Januari 2019, 12.45)

Indonesia. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia nomor 15 tahun 2013, (Online),
(http://www.gizikia.depkes.go.id , diakses 25 januari 2019, 13.40)

Indriani, N. 2012. Ruang ASI untuk karyawati, tak harus mewah yang penting
nyaman, (Online), ( http://www.health.detik.com , diakses 25 Januari 2019,
13.40)

Mufdlilah. 2017. Kebijakan Pemberian ASI Eksklusif: Kendala dan Komunikasi.


Yogyakarta : Nuha Medika

Pramudiarja, A. & Indriani,N. 2012. Wuih! Nyamannya memerah ASI di kantor


pertamina, (Online), (http://www.health.detik.com , diakses 25 januari 2019,
12.42)

Rachmawati, Amelia. Werdani, Estu Kusuma. Kusumawati, Yuli. Persepsi Ibu


Pekerja Terhadap Pentingnya Ketersediaan Pojok Laktasi di Lingkungan
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Jurnal kesehatan Masyarakat.
September 2016.

Sinulingga, E. 2012. Ruang Laktasi di Tempat Kerja Bisa Bikin Karyawati Makin
Produktif, (Online), (http://www.health.detik.com , diakses 25 januari 2019,
12.42)

Widiyani, R. 2013. Ruang Laktasi tak layak persulit program ASI eksklusif. Harian
kompas, (Online), (http://www.health.kompas.com , diakses 25 januari 2019,
12.42)

10