Anda di halaman 1dari 59

A.

SEJARAH BIMBINGAN KONSELING DI INDONESIA DAN AMERIKA

1. SEJARAH BIMBINGAN KONSELING DI INDONESIA

Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia pada dekade ini diawali dari
dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting
sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil
Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian
menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 – 24 Agustus 1960.

Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan
jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada
dekade ini :

a. Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar pendidikan nasional


b. Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru 1964
c. Lahirnya kurikulum 1968
d. Lahirnya jurusan bimbingan dan konseling di IKIP tahun 1963

Keadaan di atas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbingan dan


konseling disekolah.

Dalam dekade ini bimbingan di upayakan aktualisasi nya melalui penataan legalitas
sistem, dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan terutama diarahkan kepada
pemecahan masalah utama pendidikan yaitu :

1. Pemerataan kesempatan belajar,


2. Mutu,
3. Relevansi, dan
4. Efisiensi.

Pada dekade ini, bimbingan dilakukan secara konseptual, maupun secara operasional.
Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana
bimbingan dan konseling.

Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP
yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang,
IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan

1
Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun “Pola Dasar Rencana dan
Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan “pada PPSP.

Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman
Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA
Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru
Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan
guru BP dari tamatan S1 Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru
Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA
Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal
diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka
Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di
dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan
penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di sekolah masih belum jelas seperti
pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan membantu peserta didik untuk
mencapai tujuan pendidikan mereka.

2. SEJARAH LAHIRNYA BK DI AWALI DI AMERIKA

Menengok sejarah perkembangannya, bimbingan konseling berawal di Amerika


Serikat yang dipelopori oleh seorang tokoh besar yaitu Frank Parson melalui gerakan yang
terkenal yaitu guidance movement (gerakan bimbingan). Awal kelahiran gerakan ini
dimaksudkan sebagai upaya mengatasi semakin banyaknya veteran perang yang tidak
memiliki peran. Oleh karena itu, Frank Person berupaya memberi bimbingan vocational
sehingga veteran-veteran tersebut tetap dapat berkarya sesuai kondisi mereka. Selanjutnya,
gerakan ini berkembang tidak semata pada bimbingan vocational, tapi meluas pada bidang-
bidang lain yang akhirnya masuk pula dalam pendidikan formal.

Dalam pendidikan formal, bimbingan (dan konseling) ini dimaksudkan sebagai upaya untuk
membantu siswa (peserta didik) mencapai titik optimal perkembangan mereka. Pencapaian-
pencapaian itu dilakukan oleh petugas yang (di Indonesia) dikenal dengan sebutan guru
pembimbing atau guru BK (bimbingan dan konseling), di Amerika Serikat dikenal dengan
sebutan konselor sekolah. Dalam mencapai tujuan tersebut guru pembimbing melakukan

2
berbagai upaya. Salah satu upaya yang sekaligus menjadi ujung tombak dari keseluruhan
kegiatan bimbingan adalah kegiatan konseling.

Kegiatan konseling tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Dalam arti untuk melakukan
kegiatan ini dibutuhkan kemampuan (keterampilan) khusus tentang praktik konseling, karena
kegiatan konseling bukan kegiatan menasihati, memarahi, atau sekadar obrolan ”omong
kosong”. Pelatihan-pelatihan konseling yang diberikan pada (bimbingan konseling) sedikit
banyak memecah kekacauan pandangan dan tindakan tentang tugas-tugas pembimbing
bahkan keberadaan bimbingan konseling itu sendiri.

Karakteristik seperti itu menjadikan guru pembimbing atau guru bimbingan dan konseling
memiliki tipe kerja tersebut, yang seandainya disamakan dengan guru-guru bidang studi lain
akan jauh berbeda. Sebenarnya antara guru pembimbing dengan guru-guru bidang studi
memiliki kesamaan yaitu dalam visi dan misi pendidikan.

Sementara strategi yang ditempuh yang menjadikan mereka tampak berbeda. Guru bidang
studi banyak berinteraksi dengan peserta didik di ruang kelas, melaksanakan semua
instrumen kegiatan belajar mengajar. Sementara guru pembimbing lebih banyak
berkecimpung dalam proses konseling yang semuanya itu dilakukan tidak secara klasikal
dengan memakai ruang kelas. Guru pembimbing lebih akan memakai pendekatan yang
bersifat individual dan”santai”.

Keberadaan ini yang menuntut kejelian serta ”kecerdasan” kita dalam memaknai bimbingan
konseling. Akan sangat berat bila pikiran kita dipaksa untuk menyamakan bimbingan
konseling dari kaca mata tugas-tugas guru bidang studi biasa. Tampaknya, bila ditarik dari
sisi pesimis, munculnya sikap diskriminatif berpangkal dari tafsir bahwa bimbingan dan
konseling hanya sisipan atau pelengkap ”penderita” dari keseluruhan pendidikan formal,
kalau memang tidak karena sikap kita dari semula telah diskriminatif ataupun korup (?). Tak
berlebihan bila akhirnya kondisi ini yang memicu lahirnya tindakan-tindakan diskriminatif
pada petugas-petugas bimbingan konseling di lapangan.
Di Amerika Serikat sendiri —tanpa bermaksud membandingkan apalagi menjiplak—
bimbingan konseling terus berkembang dan telah berperan sebagaimana keberadaannya.
Kondisi Indonesia tentu lain, sekali lagi, surat pembaca di atas menjadi contoh bagaimana
keterbatasan pengetahuan pada apa yang disebut dengan imbingan konseling telah
melahirkan tindakan-tindakan yang perlu terus dikoreksi.

3
Ada beberapa langkah bijak yang perlu dilakukan, yaitu sebagai berikut:
Pertama, tentunya kemauan kita memahami guliran ilmu-ilmu di muka bumi ini yang terus
berkembang yang melahirkan cabang-cabang ilmu baru dan cabang-cabang profesi baru.
Kedua, adalah kemauan menerima semua itu sebagai sebuah realita.
Ketiga, mau hidup berdampingan dengan ilmu-ilmu yang menurut telinga kita baru.
Terakhir, mau berkolaborasi dengan hal-hal baru tersebut sehingga terwujud apa yang
dicita-citakan oleh pendidikan formal kita.

B. LATAR BELAKANG BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Pengertian Bimbingan

a. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu


memahami diri dan lingkungannya. (Shertzer dan Stone, 1971)
b. Bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan
secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya,
sehingga dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai
dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan
kehidupan pada umumnya. (Rochman Natawidjaja,1987)
c. Bimbingan diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus
dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian
dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam
mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan
lingkungannya. (M.Surya, 1988)
d. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah
dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta
didik dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan
masa depan”.
e. Bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai perkembangan
optimal. (Sunaryo Kartadinata, 1998)

2. Pengertian Konseling

4
a. ASCA (American School Counselor Association) mengemukakan bahwa Konseling
adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan
dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan
pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-
masalahnya. (dalam Syamsu Yusuf, 2009)
b. Konseling merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun
sebagai tehnik. Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan
dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara pribadi. Montensen (1964:301)
mengatakan bahwa,”Counseling is the heart of the guidance program” . Dan Ruth
Strang (1958) menyatakan bahwa, “Guidance is broader: Counseling is a most
important tool of guidance” . Jadi konseling merupakan inti dan alat yang paling
penting dalam keseluruhan system dan kegiatan bimbingan.

Jadi bimbingan dan konseling merupakan suatu proses yang berkesinambungan,


sistematis, berencana yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Bimbingan merupakan
bantuan atau pertolongan dalam membantu individu mengambil keputusannya sendiri,
pembimbing hanya bertindak sebagai fasilitator. Keseluruhan proses kegiatan atau layanan
kepada individu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dan
didalamnya terdapat Konseling yang merupakan inti dari kegiatan Bimbingan.

3. Ragam Bimbingan dan konseling

Dilihat dari masalah individu ada empat jenis bimbingan yaitu:

a. Bimbingan Akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para


individu dalam menghadapi masalah-masalah akademik seperti pengenalan
kurikulum, pemilihan jurusan/konsentrasi, cara belajar dsb. Bimbingan akademik
dilakukan dengan cara mengembangkan suasana belajar- mengajar yang kondusif agar
terhindar dari kesulitan belajar. Dalam bimbingan akademik pembimbing berupaya
memfasilitasi individu dalam mencapai tujuan akademik yang diharapkan.
b. Bimbingan Sosial-Pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu
dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi. Contohnya: masalah sosial
pribadi adalah hubungan sesama teman, dengan dosen, serta staf, pemahaman sifat

5
dan kemampuan diri penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat
tempat mereka tinggal dan penyelesaian konflik.
c. Bimbingan Karir, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan,
pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir seperti: pemahaman terhadap
jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri dsb.
d. Bimbingan Keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu
sebagai pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang
utuh dan harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan
menyesuaikan diri dengan norma keluarga, serta berperan/berpartisipasi aktif dalam
mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

4. Tujuan Bimbingan dan Konseling

Tujuan pemberian layanan bimbingan ialah agar individu dapat :

a. Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, serta kehidupannya


di masa yang akan datang
b. Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin
c. Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta
lingkungan kerjanya
d. Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan
lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Untuk mencapai tujuan, individu harus mendapatkan kesempatan untuk :

a. Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya


b. Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya
c. Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian
tujuan tersebut.
d. Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri.
e. Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga
tempat bekerja, dan masyarakat.
f. Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya
g. Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal

5. Fungsi Bimbingan dan Konseling

6
a. Fungsi Pemahaman, yaitu membantu individu agar dapat memahami dirinya sendiri
(potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,dan norma agama).
b. Fungsi Fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada individu dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh
aspek dalam diri konseli.
c. Fungsi Penyesuaian, yaitu membantu individu agar dapat menyesuaikan diri dengan
diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
d. Fungsi Penyaluran, yaitu membantu individu dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler,
jurusan, atau program studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang
sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
e. Fungsi Adaptasi, yaitu membantu para pelaksana pendidikan, kepala
Sekolah/Madrasah dan staf, konselor dan guru untuk menyesuaikan program
pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan
individu.
f. Fungsi Pencegahan, yaitu memberikan bimbingan tentang cara menghindarkan diri
dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
g. Fungsi Penyembuhan, yaitu pemberian bantuan kepada individu yang mengalami
masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
h. Fungsi Pemeliharaan, yaitu menfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi
yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri.
i. Fungsi Pengembangan, yaitu kerjasama antara konselor dengan personil sekolah
dalam merumuskan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan
berkesinambungan dalam upaya membantu siswa mencapai tugas-tugas
perkembangannya.

6. Prinsip Bimbingan dan Konseling

a. Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu


b. Bimbingan bersifat individualisasi
c. Bimbingan menekankan hal yang positif
d. Bimbingan merupakan usaha bersama
e. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan
f. Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan

7
C. KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN TUJUAN BIMBINGAN DAN
KONSELING

Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.
Pendidikan tidak pernah dapat dideskripsikan secara gamblang hanya dengan mencatat
banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan fasilitas yang dimiliki.
Pendidikan memang menyangkut hal itu semua, namun lebih dari itu semuanya. Pendidikan
merupakan proses yang esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu
(siswa).

Siswa merupakan unsur utama dalam pendidikan. Siswa sebagai individu sedang
berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah
kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kemandirian tersebut, siswa memerlukan
bimbingan, karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya
dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya.

Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan pengajaran dengan


mengabaikan bidang bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan
terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam
aspek psikososiospiritual.

Ketiga bidang utama pendidikan di atas lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:

1. Bidang Administrasi dan Kepemimpinan


Bidang ini menyangkut kegiatan pengelolaan program secara efisien. Pada bidang ini terletak
tanggung jawab kepemimpinanan (kepala sekolah dan staf administrasi lainnya) yang terkait
dengan kegiatan perencanaan organisasi, deskripsi jabatan atau pembagian tugas,
pembiayaan, penyediaan fasilitas atau sarana prasarana (material), supervisi, dan evaluasi
program.
2. Bidang intruksional dan kurikuler
Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan sikap. Pihak yang bertanggung jawab secara
langsung terhadap bidang ini adalah para guru.
3. Bidang Pembinaan Siswa (Bimbingan dan Konseling)
Bidang ini terkait dengan program pemberiaan layanan bantuan kepada peserta didik (siswa)
dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui interaksi yang sehat dengan

8
lingkungannya. Personel yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bidang ini
adalah guru pembimbing atau konselor.

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan persekolahan,


layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan
strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar
dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif. Untuk
membantu siswa dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
pribadi agar dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Dalam kaitan ini para
pembimbing diharapkan untuk:

a. Mengenal danmemahami setiap siswa baik secara individual maupu kelompok,


b. Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar,
c. Memberi kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan
karakter istik pribadinya,
d. Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang
dihadapinya,
e. Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.

Berkenaan dengan hubungan antara bimbingan dan pendidikan tersebut di atas,


Rochma Natawidjaja (1990: 16) Memberikan penjelasan sebagai berikut:

“...bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci dalam pendidikan di sekolah,
yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah dalam bidang pengajaran dan perkembangan
intelektual siswa dalam bidang menangani ihwal sisi sosial pribadi siswa..”

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa bimbingan dan konseling memiliki fungsi


memberikan bantuan kepada siswa dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan
pendidikan, yaitu membantu meratakan jalan menuju ALLAH Swt.; berguna bagi manusia,
dan bermanfaat bagi kesejahteraan dan pembangunan bangsa, negara, dan umat manusia

D. VISI MISI, PARADIGMA BIMBINGAN KONSELING, TRILOGI PROFESI


PENDIDIK SERTA KESALAHPAHAMAN DALAM LAYANAN BIMBINGAN
DAN KONSELING

9
1. Visi Bimbingan dan Konseling

Visi pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan


yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan
perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal,
mandiri dan bahagia.

2. Misi Bimbingan dan Konseling

Dalam Pelaksanaannnya Bimbingan dan Konseling mempunyai beberapa misi yang sangat
penting, diantaranya sebagai berikut :

a) Misi Pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik


melaluipembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan
masadepan.
b) Misi Pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dankompetensi
peserta didik di dalam lingkungan sekolah, keluarga danmasyarakat.
c) Misi Pengentasan Masalah, yaitu memfasilitasi pengentasanmasalah peserta didik
mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

3. Paradigma Bimbingan Konseling

Paradigma konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya.


Artinya pelayanan Konseling berdasarkan kaidah-kaidah ilmudan teknologi pendidikan
serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan konseling yang diwarnai oleh
budaya lingkungan peserta didik.

Pada intinya Paradigma bimbingan dan konseling meliputi hal berikut :

1) BK merupakan pelayanan psikopaedagogis dalam bingkai budayaIndonesia dan


religius.
2) Arah Bimbingan Konseling mengembangkan kompetensi siswa untuk mampu
memenuhi tugas-tugas perkembangannya secara optimal.
3) Membantu siswa agar mampu mengatasi berbagai permasalahan yangmengganggu
dan menghambat perkembangannya.

Pelayanan bimbingan dan konseling adalah salah satu bagian integral daripelayanan
pendidikan di sekolah yang harus selalu dikembangkan. Untuk efektivitas pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah perlu dilakukanpendekatan individual, kelompok, dan

10
klasikal secara terpadu. Untuk itulahdukungan sarana dan prasarana serta pembinaan dari
instansi terkait dipandangsangat urgent guna mengubah paradigma bahwa layanan bimbingan
dan konselingtidak hanya mengatasi masalah saja, melainkan lebih pada optimalisasi potensi.

4. Trilogi Profesi Pendidik

Dalam UU No.20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat 2 dan UU No.14 Tahun 2005Pasal 1
Butir 4 dijelaskan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional”, dan“profesional adalah
pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang danmenjadi sumber penghasilan kehidupan
yang memerlukan keahlian, kemahiran,atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau
norma tertentu sertamemerlukan pendidikan profesi”

Dalam peraturan tersebut seorang pendidik dituntut untuk bekerja secaraprofesional.


Untuk menjadi seorang pendidik yang profesional, ataupunprofesional dalam bidang apapun,
seseorang harus menguasai dan memenuhiketiga komponentrilogi profesi, yaitu :

1). Komponen dasar keilmuan

Komponen dasar keilmuan, memberikan landasan bagi calon tenagaprofesional dalam


wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikapberkenaan dengan profesi yang
dimaksud.

2). Komponen substansi profesi

Komponen substansi profesi, membekali calon profesional apa yang menjadifokus


dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya.

3). Komponen praktik profesi

Komponen praktik profesimengarahkan calon tenaga profesional untuk


menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara
tepat dan berdaya guna.

5. Kesalahpahaman Dalam Layanan Bimbingan Konseling

11
Ada beberapa penyebab timbulnya kesalahpahaman dalam layanan BK diantaranya adlaah
sebagai berikut :

1. Kesalahpahaman-kesalahpahaman diatas diakibatkan karena bidang BK masih


tergolong baru dan merupakan produk impor sehingga menyebabkan para
pelaksanaannya dilapangan belum terlalu mengetahui BK secara menyeluruh
(Prayitno: Dasar-dasar bimbingan dan konseling, 2004).
2. Penyebabnya dari konselor itu sendiri. Banyak yang bukan dari tamatan BK itu
sendiri yang menjadi pelaksanan BK, sehingga tidak efesiennya pelaksanaan BK
dilapangan, dan juga pelaksanaan yang belum efesin dari guru BK itu sendiri, tidak
jelasnya program yang akan dijalankan, baik program harian, mingguan, bulanan
maupun semesteran, walaupun dia dari tamatan BK itu sendiri.
3. Masih belum disepakatinya penggunaan istilah Bimbingan dan Konseling itu sendiri,
di Indonesia masih ada yang menggunakan istilah pelayanan BP, BK, dan konseling,
dan ini juga mempengaruhi persepsi masyarakat tentang pelayanan yang dilakukan
oleh petugas BK dilapangan.

Melihat hal tersebut, maka tak heran bila dalam kenyataannya masih banyak terjadi
kesalahpahaman tentang bimbingan dan konseling. Kesalahpahaman yang sering diumpai di
lapangan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Bimbingan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari
pendidikan
a. Bimbingan dan konseling sama saja dengan pendidikan. Paradigma ini
menganggap bahwa pelayanan khusus bimbingan dan konseling tidak disekolah.
Akibatnya sekolah cenderung mengutamakan pengajaran dan mengabaikan aspek
aspeklain dari pendidikan serta serta tidak melihat sama sekali pentingnya
bimbingan dan konseling.
b. Pelayanan bimbingan dan konseling harus benar benar dilaksanakan secara
khusus oleh tenaga yang benar benar ahli dengan perlengkapan (alat, tempat dan
sarana) yang benar benar memenuhi syarat. Untuk menjadi konselor yang baik,
seseorang perlu menguasai keterampilan dasar, bai kerampilan pribadi dalam
memberikan konseling maupun kematangan dalam penyusunan program
bimbingan dan konseling disekolah.
2. Konselor disekoalah dianggap sebagai polisi sekolah
Konselor ditugaskan mencari mencarisiswa yang bersalah dan diberi wewenang untuk
mengambil tindakan bagi siswa-siswi yang bersalah.konselor didoronguntuk mencari

12
bukti-bukti atau berusaha agar siswa mengaku bahwa ia telah berbuat sesuatu yang
tidak pada tempatnya atau kurang wajar, atau merugikan. Berdasarkan pandangan itu ,
wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena menganggap bahwa
dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan aib, ia mengalami
ketidakberesan tertentu, ia tidak dapat berdiri sendiri, ia telah berbuat salah, atau
predikat-predikat negative lainnya. Pada hal, sebaliknya dari segenap anggapan yang
merugikan itu disekolah konselor haruslah menjadi teman dan kepercayaan siswa
serta tempat pencurahan kepentingan siswa

3. Bimbingan dan konseling semata mata sebagai proses pemberian nasihat.


Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat.
Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan
dan konseling. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan
klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Disamping
memerlukan pemberian nasihat, pada umumnya klien sesuai dengan masalah yang
dialaminya, memerlukan pula pelayanan lain seperti pemberian informasi,
penempatan dan penyaluran, konseling, bimbingan belajar, pengalihtangan kepada
petugas yang lebih ahli dan berwenang, layanan kepada orang tua siswa dan
masyarakat dan lain sebagainya.

4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani yang bersifat incidental.
Pada hakikatnya pelayanan itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih luas,
yaitu yang lalu, sekarang dan yang akan datang. Maka petugas BK harus terus
memasyarakatkan dan membangun suasana bimbingan dan konseling serta mempu
melihat hal hal tertentu yang perlu diolah ditanggulangi, diarahkan, dibangkitkandan
secara umum diperhatikandemi perkembangan individu.

5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien klien tertenntu saja.
Bimbingan dan konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau
siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja, namun bimbingan dan konseling harus
dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Caunseling For All). Setiap siswa berhak
mendapatkan kesempatan pelayanan yang sama, melalui berbagai bentuk pelayanan
bimbingan dan konseling yang tersedia.

6. Bimbingan dan konseling melayani orang sakit atau kurang normal


Bimbingan dan konseling tidak melayani orang sakit atau kurang normal karena
bimbingan dan konseling hanya melayani orang-orang yang normal yang mengalami
masalah. Malalui bantuan psikologi yang diberikan konselor diharapkan orang
13
tersebut dapat terbebas dari masalah yang menghadapinya. Jika seseorang mengalami
keabnormalan tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk
penyembuhannya

7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri.


Pelayanan bimbingan dan konseling bukan proses yang terisolasi, melainkan proses
yang sarat dengan unsur-unsur budaya, sosial, lingkungan. Oleh karnanya pelayanan
bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Konselor perlu berkerja sama
dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang
sedang dihadapi klien. Meisalnya, Disekolah masalah-masalah yang dihadapi siswa
tidak berdiri sendiri. Masalah itu sering kali terkait dengan orang tuan, guru, dan
pihak-pihak lain, terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah, sekolah dan
masyarakat sekitar.

8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif.


Sesuai dengan asas kegiatan, disamping konselor yang bertindak sebagai pusat
penggerak bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien harus secara
langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Jika kegiatan yang pada dasarnya
bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini
konselor maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat atau bahkan tidak
berjalan sama sekali.

9. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling da[at dilakukan siapapun.


Pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja, jika dianggap
sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran saja. Tapi jika
pekerjaan bimbingan dan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prisip keilmuan
(mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain
dilaksanakan secara professional, maka pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh
sembarang orang.

10. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dengan melihat gejala-
gejala atau keluhan awal yang disampaikan oleh klien. Namun demikian, jika
permasalahan itu dilanjutkan, dialami, dan dikembangkan, sering kali ternyata bahwa
masalah yang sebenarnya lebuh jauh, lebih luas dan lebih pelik apa yang sekedar
tampak atau disampaikan itu. Konselor tidak boleh terpukau oleh keluhan atau
masalah yang pertama yang disampaikan oleh klien. Konselor harus mampu
menyelami sedalam-dalamnya masalah klien yang sebenarnya.
14
11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau
psikiater.
pekerjaan bimbingan dan konseling tidak lah persis sama dengan pekerjaan dokter
atau psikiater. Dokter atau psikiater berkerja dengan orang sakit, sedangkan konselor
berkerja dengan orang yang normal(sehat namun sedang mengalami masalah). Cara
penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian
obat, serta teknis medis lainnya, sementara bimbingan dan konseling memberikan
cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi
pribadi, penguatan mental / psikis, modifikasi perilaku, teknik-teknik khas bimbingan
dan konseling.

12. Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan koseling harus segera dapat dilihat.
Usaha-usaha bimbingan dan konseling bukanlah hal yang instant, tapi menyangkut
aspek-aspek psikologi/mental dan tingkah laku yang kompleks. Maka proses ini tidak
bisa didesak-desakkan agar cepat matang dan selesai. Pendekatan ingin mencapai
hasil segera justeru dapat melemahkan proses itu sendiri. Ini bukan berarti bahwa
usaha bimbingan dan konseling boleh santai-santai saja menghadapi masalah klien,
karena proses bimbingan dan konseling adalah hal yang serius dan penuh dinamika,
maka harus wajar dan penuh tanggung jawab.

13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien.


Segala cara yang dipakai untuk mengatasi masalah harus disesuaikan dengan pribadi
klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. Tidak semua masalah bisa diselesaikan
dengan cara yang sama, bahkan masalah yang sama sekalipun.

14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi
bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap
lainnya).
Perlu diketahui bahwa perlengkapan dan sarana utama yang pasti ada dan dapat
dikembangkan pada diri konselor ialah keterampial pribadi. Dengan kata lain, ada dan
digunakan instrument (tes, inventori, angket, dan sebagainya itu) hanyalah sekadar
pembantu. Ketiadaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, ataupun
melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.

15. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya mengenai masalah masalah yang ringan
saja

15
Ukuran berat-ringanya suatu masalah memang menjadi relative, seringkali masalah
seseorang dianggap sepele, namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu
sangat kompleks dan berat. Begitu pula sebaliknya, suatu masalah dianggap berat
namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Terlepas berat
ringan yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara
cermat dan tuntas.

E. FUNGSI BIMBINGAN KONSELING

Bimbingan dan konseling memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi Pemahaman.

yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman
terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma
agama). Berdasarkan pemahaman ini, konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi
dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan
konstruktif. Dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Pemahaman tentang klien


Sebelum konselor atau pihak lain memberikan layanan terhadap seorang klien, maka
terlebih dahulu memahami individu yang perlu dibantu tersebut. Pengenalan bukan
saja tentang diri klien, namun lebih jauh lagi yaitu menyangkut latar belakang klien,
kekuatan dna kelemahannya serta kondisi lingkungannya.

b) Pemahaman tentang masalah klien


Untuk menangani klien, maka perlu pemahaman terlebih dahulu tentang maslaah
klien. Hal ini menyangkut jenis masalah, intensitas masalah, sangkut pautnya, sebab-
sebabnya dan kemungkinan berkembangnya (kalau tidak segera diatasi).

c) Pemahaman tentang lingkungan yang “lebih luas”


Lingkungan yang dimaksud adalah meruakan kondisi sekitar individu yang secraa
langsung mempengaruhi individu tersebut, seperti keadaan rumah, tempat tinggal,
keadaan sosio ekonomi dan sosio emosional keluarga, keadaan hubungan antar
tetangga dan teman sebaya dan sebagainya.

16
2. Fungsi Preventif.

yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi
berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak
dialami oleh konseli. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada konseli
tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan
dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi, informasi, dan
bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli
dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya :
bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan
pergaulan bebas (free sex).

3. Fungsi Pengembangan.

yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi
lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel
Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau
bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan
berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas
perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan
informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room,
dan karyawisata.

4. Fungsi Penyembuhan.

yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat
dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah, baik
menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan
adalah konseling, dan remedial teaching.

5. Fungsi Penyaluran.

17
yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan
ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau
jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam
melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam
maupun di luar lembaga pendidikan.

6. Fungsi Adaptasi.

yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,
konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli. Dengan menggunakan informasi
yang memadai mengenai konseli, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam
memperlakukan konseli secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi
Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan
pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli.

7. Fungsi Penyesuaian.

yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan
diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

8. Fungsi Perbaikan.

yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat
memperbaiki kekeliruan dalam berfikir, berperasaan dan bertindak (berkehendak).
Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki
pola berfikir yang sehat, rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat
mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif.

9. Fungsi Fasilitasi.

Yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan


perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri
konseling.

18
10. Fungsi Pemeliharaan.

Yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga
diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. Fungsi ini
memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan
penurunan produktivitas diri. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-
program yang menarik, rekreatif danfakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli.

F. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN KONSELING

1. Prinsip berkenaan dengan sasaran pelayanan

a) Bimbingan konseling melayani semua individu, tanpa memandang umur, jenis


kelamin, suku, bangsa, agama dan status ekonomi
b) Bimbingan konseling berurusan dengan sikap dan tingkah laku individu yang
terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik
c) Untuk mengoptimalkan pelayanan BK sesuai dengan kebutuhan individu itu sendiri
perlu dikenali dan dipahami keunikan setiap individu
d) Setiap aspek pola kepribadian yang kompleks seorang individu mengandung factor-
faktor yang secara potensial mengarah kepada sikap dan pola tingkah lakunya yang
seimbang
e) Meskipun individu yang satu dan yang lainnya adalah serupa dalam berbagai hal
perbedaan individu harus dipahami dan dipertimbangkan dalam rangka upaya yang
bertujuan memberikan bantuan atau bimbingan

2. Prinsip berkenaan dengan masalah individu

a) Meskipun pelayanan BK menjangkau setiap tahap dna bidang perkembangan serta


kehidupan individu, namun bidang bimbingan pada umumnya dibatasi hanya pada
hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental dan fisik individu terhadap
penyesuaian diri.
b) Keadaan sosial, ekonomi dan politik yang kurang menguntungkan merupakan factor
salah satu pada diri individu dan hal itu semua menuntut perhatian seksama dari para
konselor dalam mengentaskan masalah klien

19
3. Prinsip berkenaan dengan program pelayanan

a) Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan
pengembangan, maka harus disusun dan dipadukan sejalan dengan program
pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh.
b) Program BK harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu
c) Program BK disusun dan diselenggarakan secara berkesinambungan kepada anak-
anak sampai dengan orang dewasa
d) Terhadap pelaksanaan BK hendaknya diadakan penilaian yang teratur untuk
mengetahui sejauhmana hasil dan manfaat yang diperoleh serta mengetahui
kesesuaian antara program yang direncanakan dan pelaksanaannya

4. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan pelaksanaan pelayanan

a) Pelayanan bimbingan dan konseling mengarah pada pengembangan klien agar mampu
menghadapi setiap kesulitannya
b) keputusan yang diambil klien merupakan kehendak dan kemauannya sendiri bukan
desakan konselor
c) Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga ahli dalam
bidang yang relevan
d) Bimbingan dan konseling adalah pekerjaan pofesional. Oleh sebab itu dilaksanakan
oleh tenaga ahli yang telah memperoleh pendidikan dan latihan khusus dalam bidang
bimbingan dan konseling
e) Guru dan orangtua memiliki tanggungjawab yang berkaitan dengan pelayanan
bimbingan dan konseling
f) Guru dan konselor berada dalam satu kerangka upaya pelayanan. Oleh karena itu
keduanya harus mengembangkan peran yang saling melengkapi
g) untuk mengelola pelayanan bimbingan dan konseling dengan baik dan sejauh
mungkin memenuhi tuntutan individu
h) Organisasi program bimbingan hendaknya fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan
individu dengan lingkungannya
i) Tanggung jawab pengelolaan program bimbingan dan konseling hendaknya
diletakkan dipundak seorang pimpinan program yang terlatih dan terdidik secara
khusus.
j) Penilaian periodik perlu dilakukan terhadap program yang sedang berjalan.

5. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling di sekolah


a) Konselor harus memulai kariernyabsejak awal dengan program kerja yang jelas, dan
memiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan program tersebut; konselor juga

20
memberikan kesempatan kepada seluruh personal sekolah dan siswa untuk
mengetahui program – program yang hendak dijalankan itu.
b) Konselor harus selalu mempertahankan sikap professional tanpa menganggu
keharmonisan hubungan antara konselor dan personal lainnya dan siswa.
c) Konselor bertanggung jawab untuk memahami peranannya sebagai konselor
professional dan menerjemahkan peranannya ke dalam kegiatan nyata. Konselor juga
harus mampu menjelaskan dengan siapa ia bekerjasama dengan tujuan yang hendak
dicapai.
d) Konselor bertanggung jawab kepada semua siswa; baik siswa yang gagal, yang
menimbulkan gangguan, yang kemungkinan putus sekolah; yang mengalami kesulitan
belajar, dll.
e) Konselor memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa –
siswa yang mengalami masalah cukup parah, dan siswa yang mengalami gangguan
emosional.
f) Konselor harus mampu bekerjasama secara efektif dengan kepala sekolah
memberikan perhatian dan peka terhadap kebutuhan, harapan dan kecemasan –
kecemasan.

G. AZAS-AZAS BIMBINGAN DAN KONSELING

1. Azas Kerahasiaan
Azas-azas kerahasiaan yaitu menuntun dirahasiakannya segenap data dan keterangan
peserta didik yang menjadi sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh
dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam
kegiatan bimbingan konseling, kadang-kadang konseling harus menyampaikan hal-hal
yang pribadi/rahasia kepada konselor. Oleh karena itu konselor harus menjaga
kerahasiaan data yang diperolehnya dari konselinya. Sebagai konselor berkewajiban
untuk menjaga rahasian data tersebut, baik data yang diperoleh dari hasil wawancara atau
konseling, karena hubungan menolong dalam bimbingan dan konseling hanya dapat
berlangsung dengan baik jika data informasi yang dipercayakan kepada konselor atau
guru pembimbing dapat dijamin kerahasiannya. Segala sesuatu yang dibicarakan klien

21
(peserta didik) kepada konselor (guru pembimbing) tidak boleh disampaikan kepada
orang lain, atau lebih-lebih hal atau keterangan yang tidak boleh atau tidak layak
diketahui oleh orang lain.
Jika azas ini benar-benar dilaksanakan, maka penyelenggara atau pemberi bimbingan
akan mendapat kepercayaan dari semua pihak, terutama penerima bimbingan klien,
sehigga mereka akan mau memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling dengan sebaik-
baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang azas kerahasiaan dengan baik,
maka hilanglah kepercayaan klien, sehingga akibatnya pelayanaan bimbingan tidak dapat
tempat dihati klien dan para calon klien.

2. Azas Kesukarelaan
Azas kesukarelaan yaitu azas bimbingan konseling yang menghendaki adanya kesukaan
dan kerelaan konseling mengikuti atau menjalankan layanan atau kegiatan yang
diperuntukan baginya. Azas ini mengandung arti bahwa bimbingan bukan merupan
paksaan, akan tetaoi merupakan suatu binaan. Oleh karena itu dalam kegiatan bimbingan
dan konseling diperlukan adanya kerjasama yang demokratis antara konselor/guru
pembimbing enga konselinya. Kerjasama akan terjalin bilamana konseli dapat dengan
suka rela menceritakan serta menjelaskan masalah yang dialami kepada konselor. Klien
diharapkan secara sukarela dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa terpaksa
menyampaikan masalah yang dihadapinya serta mengungkapkan segenap pakta, data,
dan seluk beluk berkenaan dengan masalahnya itu kepada konselor. Konselor hendaknya
dapat memberika pengetahuan denga tidak terpaksa, atau dengan kata lain konselor
memberikan bantuan dengan ikhlas.

3. Azas Keterbukaan
Azas keterbukaan yaitu azas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta
didik yang menjadi sasaran layanan atau kegiatan bersikap terbuka dan tidak berpura
pura, baik didalam memberika keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam
menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi dirinya. Azas
keterbukaan merupakan azas yang sangat penting bagi konselor/guru pembimbing,
karena hubungan tatap muka antara konselor dan konseli merupakan pertemuan batin.
Denga adanya keterbukaan ini dapa ditimbulkan kecenderungan pada konseli untuk
membuka dirinya, untuk membuka kedok hidupnya yang penghalang bagi perkembangan
psikisnya. Konselor yang sukses adalah konselor yang bisa memudahkan konseli untuk
membuka dirinya dan berusaha memahami lebih jauh tentang dirinya sendri. Azas ini
menghendaki atas konseling bersifat terbuka dan tidak berpura pura dalam memberikan

22
keterangan maupun informasi. Dalam hal ini konselor/guru pembimbing berkewajibpan
mengembakangkan keterbukaan konseli. Agar konseli dapat terbuka, guru pembimbing
terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.

4. Azas Kekinian
Azas kekinian yaitu azas bimbingan yang menghendaki agar obyek sasaran layanan BK
permsalahan peserta didik dalam kondisi masa sekarang. Layanan yang berkenan masa
depan/masa lampau dilihat dampak atau kaitan dengan kondisi yang ada dan apa yang
didapat diperbuat sekarang. Pada umumnya pelayanan bimbingan dan konseling bertitik
tolak dan masalah yang dirasakan konseli saat kini atau sekarang, namun pada dasarnya
pelayanan bimbingan dan konseling itu sendiri menjangkau dimensi waktu yang lebih
luas, yaitu masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Azas kekinian juga
mengandung pengertian bahwa konselor tidak boleh menunda-nunda pemberian bantuan.
Jika diminta bantuan klien atau jelas-jelas terlihat misalnya adanya siswa yang
mengalami masalah, maka konelor hendaklah memberikan bantuan, konselor tidak
selayaknya menunda-nunda member bantuan dengan berbagai dalih. Konselor harus
memberikan kepentingan klien dari pada yang lain-lain. Jika dia benar-benar memiliki
alasan yang kuat untuk tidak memberikan bantuannya kini, maka konselor dapat
mempertanggungjawabkan bahwa penundaan yang dilakukan itu justru untuk
kepentingan klien.

6. Azas Kemandirian
Azas kemandirian yaitu azas BK yang menunjukkan pada tujuan umum BK, yaitu:
peserta didik sebagai sasaran layanan BK diharapkan menjadi individu-individu yang
mandiri dengan cirri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,
mampu menggambil keputusan mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Salah satu
tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling adalah agar konselor berusaha
menghidupkan kemandirian didalam diri konseli. Cirri-ciri kemandirian tersebut yaitu
mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu menggambil keputusan,
mengarahkanserta mewujudkan diri sendiri. Guru pembimbing hendaknya mampu
mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling diselenggarakannya bagi
berkembangnnya kemandirian konseli. Agar dapat tumbuh sikap kemandirian tersebut,
maka konselor harus memberikan respon yang cermat terhadap konseli atas keluhan-
keluhan yang diungkapkan. Individu yang dibimbing setelah dibantu diharapkan dapat
mandiri dengan cirri-ciri pokok mampu: mengenal diri sendiri dan lingkungan
sebagaimana adanya, menerima diri sendiri secara positif dan dinamis, mengambil
23
keputusan untuk dan oleh diri sendiri, mengarahkan diri sesuai dengan keputusan itu,
mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat,dan kemampuan-
kemampuan yang dimilikinya.

7. Azas Kegiatan
Azas kegiatan yaitu azas bimbingan konseling yang menghendaki agar peserta didik
yang menjadi sasaran layanan berpartisi pasi secara aktif didalam penyelenggarakan
pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling. Azas ini menghendaki agar konseli
bisa berpaartisipasi secara aktif atas kegiatan terselenggarakan oleh konselor. Dipihak
lain konselor harus berusaha/mendorong agar konsli mampu melaksanakan kegiatan
yang telah ditetapkan tersebut. Azas kegiatan merujuk pada pola konseling
“multidimensional” yang tidak hanyan mengandalkan transaksi verbal antara klien denga
konselor. Dalam konseling yang berdimensi verbal pun azas kegiatan masih harus
terselenggara, yaitu klien mengalami proses konseling dan aktif pula melaksanakan atau
menerapkan hasil-hasil konseling.

8. Azas Kedinamisan
Azas kedinamisan yaitu azas bimbingan dan konseling menghendaki agar isi layanan
terhadap sasaran layanan yang sama kehendaknya selalu bergerak maju , tidak monoton,
dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai denga kebutuhan dan tahap
perkembangannya dari waktu ke waktu. Keberhasilahn usaha pelayanan bimbingan dan
konseling ditandai dengan terjadinya perubahan sukap dan perilaku konseli kearah yang
lebih baik. Ubtuk mewujudkan terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku itu
membutuhkan proses dan waktu tertentu seseuai dengan keadalaman dan kerumitan
masalah yang dihadapi konseli. Isi layanan bimbingan dan konseling dari azas ini adalah
selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang dan berkelanjutan sesuai
denga kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu kewaktu. Konselor dan pihak-
pihak lain diminta untuk memberikan kerjasama sepenuhnya agar pelayanan
bimbimbingan dan konseling yang diberikan dapat denga cepat menimbulkan perubahan
dalam sikap dan tingkah laku konseli.

9. AzasKeterpaduan
Azas keterpaduan yaitu azas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai
layanan dan kegiatan BK, baik yang dilakukan oleh guru BK/konselor maupun pihak
lain, saling menunjang harmonis dan terpaduan. Pelayanan bimbingan dan konseling
menghendaki terjalin keterpaduan berbagai aspek dari individu yang dibimbing. Untuk
itu konselor perlu bekerjasama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu
24
penanggulangan masalah yang dihadapi konseli. Dalam hal ini peranan guru, orang tua,
dan siswa-siswa yang lain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai
menjalin kerjasama yang saling mengerti dan saling membantu demi terbentuknya
konseling yang mengalami masalah. Azas bimbingan dan konseling ini menghendaki
agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan
guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan terpadu. Untuk
ini kerjasama antara konselor dan pihak-pihak yang berperan dakam penyelenggaraan
pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Kordinasi segenap
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

10. Azas Kenormatifan


Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku, baik ditinjau dari norma agama,norma adat,norma hokum/Negara, norma ilmu,
maupun kebiasaan sehari-hari. Azas kenormatifan ini diterapkan terhadap isi maupun
proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Seluruh isi dan layanan harus sesuai
dengan norma yang ada. Demikian pula prosedur, teknik, dan peralatan yang dipakai
tidak menyimpang dari norma-norma yang dimaksudkan. Bukanlah layanan atau
ekgiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan jika isi dan
pelaksanaanya tidak berdasarkan norma-norma yang dimaksudkan itu.

11. Azas Keahlian


Azas keahlian yaitu azas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar layanan dan
kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah
professional. Untuk menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, para
petugas harus mendaptkan pendidikan dan latihan yang memadai. Pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kepribadianyang ditampilkan oleh konselor/guru pembimbing
akan menunjang hasil konseling. Pendek kata bahwa para pelaksana layanan bimbingan
dan konseling ini harus benar-benar ahli dibidang bimbingan dan konseling, atau dalam
istilah lain adalah professional. Azas kahlian selalu mengacu kepada kualifikasi konselor
(misalnya pendidikan sarjana bidang bimbingan dan konseling, juga kepada pengalaman
teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. Oleh karena itu, seorang
konselor ahli harus benar-benar menguasai teori dan praktek konseling secara baik.
Keprofesionalan konselor harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis
pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan
dan konseling.

25
12. Azas Alih Tangan
Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, azas alih tangan jika konselor sudah
mengerahkan kemampuannya untuk membantu individu, tetapi individu, tetapi individu
kepada petugas atau badan yang lebih ahli. Disamping itu azas ini juga mengisyaratkan
bahwa pelayanan bimbingan konseling hanya mengenai masalah-masalah individu sesuai
dengan kwewnangan petugas yang bersangkutan dan setiap masalah ditangani oleh ahli
yang berwenang untuk itu. Hal yang terakhir itu secara langsung mengacu kepada
bimbingan dan konseling hanya memberikan kepada individu-individu yang pada
dasarnya normal (tidak sakit jasmani maupun rohani dan bekerjadengan kasus-kasus
yang terbebas dri masalah-masalah criminal maupun perdata. Konselor dapat menerima
alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain, dan demikian pula guru
pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran /praktik dan
lain-lain.

13. Azas Tut Wuri Handayani


Azas tut wuri handayani, yaitu azas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang
mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, meberikan
rangsangan dan dorongan, serta kesempatan yang seluas-luasnya kepada klien ntuk maju.
Demikian juga segenap layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang
diselenggarakan hendaknya disertai dan sekaligus dapat membangun suasana
pengayoman, keteladanan, dan dorongan seperti itu. Azas ini menujuk pada suasana
umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor
dank lien. Lebih-ebih dilingkungan sekolah, azas ini makin dirasakan keperluannya, dan
bahkan perlu di lengkapi dengan “ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun kurso”.
Azas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dirasakan pada
waktu klien mengalami masalah dan menghadap pada konselor saja, tetapi diluar
hubungan proses bantuan bimbingan dan konseling pun hendaknya dirasakan adanya
manfaat layanan bimbingan dan konseling itu.

H. LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING YANG DISINERGI DENGAN


RESPONSIVE GENDER

26
1. Landasan Bimbingan dan Konseling

Landasan Bimbingan dan Konseling pada dasarnya merupakan faktor-faktor yang harus
diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor slaku pelasana utma dalam
mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuat bangunan, untuk dapat
berdiri tegak dan kokh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lam. Apabila
bangunan tersebut tidak memiliki faundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah
goyah atau bahkan ambruk.

a) Landasan Filosofis
Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: philos berarti cinta dan
shopos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaa.sikun
pribadi mengartikan filsafat sebagi suatu “usaha manusia untuk memperoleh
pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia
dialam semesta ini”. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu
bahwa:
1) Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan
2) Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri
3) Denag berfilsafat dapat mengurangi salah faham dan konflik, dan
4) Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selaluberubah.
Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasn atau cakrawala pemikiran
yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J. Pietrofesa et. al.
(1980) mengemukakan pendapat James Cribin tentang prinsip-prinsip filosofis
dalam bimbingan sebagi berikut:
1) Bimbingan hendaknya didasarkan kepada pengakuan akan kemuliaan dan
harga diri individu dan hak-hanknya untuk mendapat bantuannya.
2) Bimbingan merupakan proses yang berkeseimbangan.
3) Bimbingan harus Respek terhadap hak hak klien
4) Bimbingan bukan prerogatif kelompok khusus profesi kesehatan mental.
5) Focus bimbingan adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi
diri
6) Bimbinga merpakan bagian dari pendidikan yang bersifat individualisasi dan
sosialisasi.

Para penulis Barat (Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson &
Rudolph, dalam Prayitno , 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia
sebagi berikut:

1) Manusia adalah makhluk rasional

27
2) Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan
dirinya sendiri khususnya melalu pendidikan.
3) Manusia dilahirkan denga potensi untuk menajdi baik dan buruk
4) Manusia memiliki dimensi fisik, psikologisndan spiritual
5) Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya
6) Manusia adalah unik
7) Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk
membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perilaku kehidupannya sendiri.

Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan
konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri.
Seoarng konselor dalam berinteraksi denga kliennya harus mampu melihat dan
memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.

b) Landasan Religius

Dalam landasan religious BK diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:

1) Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam adalah makhluk Tuhan.


2) Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan
kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
3) Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara
optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai
dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan
pemecahan secara inividu.

Landasan Religius berkenaan dengan:

1. Manusia sebagai Makhluk Tuhan


Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan.
Wujud ketakwaan manusia pada Tuhan hendak seimbang dan lengkap,
mencangkup hubungan manusia dengan Tuhan maupun hubungan manusia
dengan manusia diduniannya. Tetapi, karna kasih sayang, kemurahan dan
keadilan-Nya, Tuhan tidak mau mutlak-mutlakan. Wujud ketakwaan yang
tidak seimabng dan tidak lengkap pun diberi-Nya ganjaran yang setimpal.
Biar sekecil apapun, suatu wujud ketakwaan akan diberikan ganjaran manis
yang sepadan.
2. Sikap Keberagaman
Menyeimbangkan anatar kehidupan dunia dan akhirat menajdi isi dari sikap
keberagaman. Sikap keberagaman tersebut pertamana difokuskan pada

28
agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam
hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi
peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimabng kehidupan dunia
dan akhirat.

3. Peranan Agama
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak
dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan
berhak mengambil keputusna sendiri, sehingga agama dapat berperan
positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup yang
memiliki fungsi:

a) Memelihara fitrah
b) Memelihara jiwa
c) Memelihara akal
d) Memelihara keturunan

Landasan religious dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin


menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaan
kemanusiaannya menjadi focus netral upaya bimbingan dan konseling.
Tetapi, karena didalan masyarakat agama itu banyak macamnya, maka
konselor harus sangat dengan hati-hati dan bijaksana menerapkan landasan
religius itu terhadap klien yang berlatar belakang agama yang berbeda.

c) Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku
individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangan penting karena bidang
garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku
yang perlu diubah atau dikembangkan untk mengatasimasalah yang dihadapi.
Untuk keperluan bimbingan dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang
psikologis perlu dikuasai, yaitu tentang:
1) Motif dan Motivasi
2) Pemabawaan dasar dan lingkungan
3) Perkembangan individu
4) Belajar, Balikan dan Penguatan
5) Kepribadian

d) Landasan Sosial dan Budaya


Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman
kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai

29
faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Kegagalan dalam
memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari
lingkungannya.
Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor
dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan
budaya yang berbeda. Perdeson dalam prayitno (2003) mengemukakan lima
macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan
penyesuain diri antar budaya, yaitu: (a) perbedaan bahasa; (b) komunikasi non
verbal; (c) stereotype; (d) kecenderungan menilai; dan (e) kecemasan. Agar
komunikasi sosial antar konselor dan kilen daoat terjalin harmonis, maka kelima
hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonseia, Moh, Surya (2006)
mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa
bimbingan dan konseling dengan pendekatan multicultural sangat tepat untuk
lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling
dilaksanakan dengan landasan sangat Bhineka Tunggal Ika, yaitu kesamaan diatas
keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada
nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang
harmoni dalam kondisi pluralistik.

e) Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)


Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki
dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori maupun prakteknya.
Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis
degan menggunakan berbagai metode, seperti: pengamatan, wawancara, analisis
dokumen, prosedur tes, yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku
teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.
Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”.
Beberapa ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan dan
praktek bimbingan dan konseling, seperti: psikologi, ilmu pendidikan, statistic,
evaluasi, biologi, filsafat, sosiologi,antroplogi, ilmu ekonomi, manajemen, ilmu
hukun dan agama. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk
kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling, baik dalam pengembangan
teori maupun prakteknya. Pengembangan tori dan pendekatan bimbingan dan
konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli, juga dihasilkan
melalui berbagai bentuk penelitian.
30
Sejalan dengan perkembangan tekenologi, khususnya teknologi informasi berbasis
computer,sejak tahun 1980-an peranan computer telah banyak dikembangkan
dalam bimbingan dan konseling. Menurut Gausel (Prayitno, 2003) bidang yang
telah banyak mmanfaatkan jasa computer ialah bimbingan karir dan bimbingan
konseling pendidikan. Moh Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan
perkembangan teknologi computer interaksi antara konselor dengan individu yang
dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukuan melalui hubungan tatap muka tetap
dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melaui internet,
dalam bentuk “cyber counseling”. Dikemukakan pula, bahwa perkembangan dalam
bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam
penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling dengan
adanya landasan ilmiah dan teknologi ini, maka peran konselor didalamnya
mencangkup pula sebagai ilmuan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel
(Prayitno,2003) bahwa konselor adalah ilmuan. Sebagai ilmuan, konselor harus
mampu mengembangkan kemampuan dan teori tentang bimbingan dan konseling,
baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk
kegiatan penelitian.

f) Landasan Pedagogis
Bimbingan dan konseling indentik dengan pendidikan. Artinya, ketika seseorang
melakukan praktik bimbingan dan konseling berate ia sedang mendidik, dan begitu
pula sebaliknya. Pendidikan itu merupakan salah satu lembaga sosial yang
universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial (Budi Santoso, 1992).
Landasan pendagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga
segi, yaitu:
i. Pendidikan sebagai upaya pengembangan individu
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan, bagi
manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan
dimensi keindividualannya, kesosialisasinya, kesosislaannya dan
keberagamaannya.
ii. Pendidikan sebagi inti prosese bimbingan dan konseling
Terdapat dua cirri pokok dalam menandai bahwapendidikan sebagai inti
proses bimbingan dan konseling; yakni peserta didik yang terlibat
didalamnya menjalani proses belajar, dan kegiatan tersebut bersifat
normative.
iii. Pendidikan lebih lanjut sebagi inti tujuan bimbingan konseling

31
Pendidikan merupakan suatu upaya berkelanjutan, apabila suatu kegiatan
atau program pendidikan selesai, individu tidak hanya berhentin disana, ia
maju terus dengan kegiatan dan program pendidikan lainnya. Proses
pendididan yang berhasil setaip kali memperkaya peserta didik menuju
manusia seutuhnya.

2. Sinergi Landasan BK dan Responsive Gender

Dalam kamus KBBI Responsive Gender adalah suatu kebijakan, program, kegiatan,
dan penganggaran yang memperhatikan perbedaan kebutuhan, pengalaman dan aspirasi-
asprasi laki-laki dan perempuan.

Dalam pemabahasan makalah dibatasi pada masalah responsive gender di sekolah.


Sekolah berperan dalam menyediakan materi ajar yang responsive gender yang member
pelatihan bagi guru agar memahami kesetaraan dan keadilan gender sekolah perlu
menyusun, melaksanakan, dan memonitor peraturan-peraturan sekolah yang diperlukan
untuk mengembangkan lingkungan sekolah yang nyamam bagi laki-laki dan perempuan
menyediakan SDM yang diperlukan untuk melaksankan pengelolaan sekolah
berwawasan gender. Sekolah perlu meyakinkan orang tua untuk memeberikan peran dan
tanggung jawab penugasan (misalnya kepanitiaan) yang lebih seimbang antara laki-laki
dan perempuan. Pemabgian peran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam
komite soklah atau madrasah integrasi keadilan dan kesetaraan dan keadilan gender
dapat diintegrasikan melalui tuga dan fungsi (tupoksi) sekolah dalam menerapkan MBS
yang meliputi komponen-komponen sebagai berikut: pengelolaan proses belajar
mengajar, perncanaan, evaluasi, dan supervise, pengelolaan kurikulum dan pembelajaran,
pengeloalan ketenagaan, pengelolaan fasilitas, pengelolaan keuangan, pelayanan siswa,
peran serta masyarakat, pengelolaan budaya sekolah.

Analisis gender mengidentifikasi isu-isu gender yang disebabkan karena adanya


pembedaan peran serta hubungan sosial antara perempuan dan laki-laki. Pemebedaan-
pembedaan ini bukan hanya menyebabkan adanya pembedn diantara keduanya dalam
pengalaman, kebutuhan, pengetahuan, pehatian, tetapi juga berimplikasi pada antara
keduannya dalam memperoleh akses dan manfaat dari hasil pembagunan; berpartisipasi
dalam pembangunan serta penguasaan terhadap sumber daya. Analisis gender merupakan
langkah awal dalam langkah penyusunan program dan kegiatan yang responsive gender.

32
Untuk analisis gender diperlukan data gender, yaitu data kuantitif maupun kualitif yang
sudah terpilah antara perempuan dan laki-laki. Data gender ini kemudian disusun
menjadi indicator gender.

Fungsi Layanan Responsif :


a) Membantu dan mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan layanan
bimbingan dan konseling serta mengumpulkan dat peserta didik tersebut
b) Mengalihtangankan peserta didik yang memerlukan layanan responsive
bimbingan dan konseling
c) Memberikan kemudahan bagi peserta didik yang memerlukan layanan
responsive BK
d) Berpartisipasi dalam kegiatan penaganan peserta didik, seperti: konfefensi kasus
dan membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka evaluasi
layanan bimbingan dan konseling, upaya tindak lanjut

Pengarusutamaan gender (PUG) adalah strategi yang dilakukan secara rasional dan
sistematis untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam aspek kehidupan
manusia melalui kebijakan program yang memperhatikan pengalaman-pengalaman,
aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki(dan orang lanjut usia,
anak-anak dibawah umur, orang-orang dengan kebiasaan berbeda / difable, serta orang-
orang yang tidak mampu secara ekonomi) untuk memberdayakan perempuan dan laki-
laki mulai dari tahap perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dari
seluruh kebijakan, program, kegiatan di berbagai bidang kehidupanpembangunan
nasional dan daerah.

I. Orientasi, Ruang lingkup dan Faktor Pendukung

1. Orientasi Bimbingan dan Konseling

Orientasi yang dimaksudkan disini ialah “pusat perhatian” atau “Titik Berat
Pandangan”. Misalanya, seseorang yang berorientasi ekonomi dalam ekonomi dalam
pergaulan, maka ia akan menitik beratkanpandangan atau memusatkan perhatiannya pada
perhitungan untung rugi yang dapat ditimbulkan oleh pergaulan yang ia adakan dengan orang

33
lain, sedangkan orang yang berorientasi agama akan melihat pergaulan sebagai lapangan
tempat dilangsungkannya ibadah menurut ajaran agama. Layanan orientasi yaitu layanan
Bimbingan dan Konseling yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapt
memberikan pengaruh besar terhadap peserta didik (terutama orang tua) memahami
lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan
memperlancar berperannya peserta didik dilingkungannya yang baru ini.

1. Orientasi perseorangan
Misalnya seorang konselor memasuki sebuah kelas, didalam itu ada sejumlah orang
siswa. Apakah yang menjadi titik berat pandangan konselor berkenaan dengan sasaran
layanan, yaitu siswa-siswa yang hendaknya memperoleh layanan bimbingan dan
konseling. Semua itu secara keseluruhan masing-masing siswa seorang demi seorang?
“orientasi perorangan” Bimbingan dan Konseling menghendaki agar konselor menitik
beratkan pandangan pada siswa secara individual, satu persatu siswa harus dapat
diperhatian. Pemahaman konselor yang baik terhadap keseluruhan siswa sebagai
kelompok dalam kelas itu penting juga, tetapi arah pelayanan dan kegiatan bimbingan
ditunjukkan kepada masing-masing siswa. Kondisi keseluruhan (kelompok) siswa itu
konfigurasi (bentuk keseluruhan) yang dampak positif dan negatifnya terhadap siswa
secara individual harus diperhitungkan.

Berkenaan dengan isu ”kelompok” atau “individual”, konselor memilih individu sebagai
titik berat pandangannya. Dalam hal ini individu diutamakan dan kelompok dianggap
sebagai lapangan yang dapat memberi pengaruh tertentu terhadap individu dengan kata
lain, kelompok dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kepentingan kebahagiaan individu,
dan bukan sebaliknya. Pemutusan terhadap individu itu sama sekali tidak berarti
mengabaikan kepentingan kelompok, dalam hal ini kepentingan kelompok diletakkan
dalam kaitannya hubungan timbal balik yang wajar antar individu dan kelompoknya.
Kepentingan Kelompok dalam arti misalnya keharuman nama citra kelompok, keseriaan
pada kelompok, kesejahteraan kelompok, dan sebagainya tidak akan terganggu oleh
pemutusan pada kepentingan dan kebahagiaan individu yang menjadi anggota kelompok
itu. Kepentingan kelompok justru dikembangkan dan ditingkatkan melalui terpenuhinya
kepentingan dan tercapainya kebahagiaan individu, apabila secara individual para
anggota kelompok itu dapat terpenuhi kepentingannya dan merasa bahagia dapat
diharapkan kepentingan kelompok pun akan terpenuhi pula. Lebih lebih lagi, pelayanan
Bimbingan dan Konseling yang berorientasikan individu itu sama sekali tidak boleh

34
menyimpang ataupun bertentangan dengan nilai-nilai yang berkembang didalam
kelompok sepanjang nilai-nilai itu sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku.

Sejumlah Kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam Bimbingan dan
Konseling dapat dicatat sebagai berikut :
a) Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan Bimbingan dan
Konseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendir setiap individu
yang menjadi sasaran layanan.
b) Pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan
individu untuk memahami kebutuhan – kebutuhan, motivasi – motivasinya, dan
kemampuan-kemampuan potensionalnya, yang semuanya unik, serta untuk
membantu individuagar dapat menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya
itu kearah pengembangan yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar –
besarnya bagi diri dan lingkungannya.
c) Setiap Klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara
individual (Rogers, Dalam McDaniel, 1956)
d) Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan,
dan perasaan klien serta untuk menyesuaikan program- program pelayanan
dengan kebutuhan klien setepat mungkin. Dalam hal itu, penyelanggaraan
program yang sistematis untuk mempelajari individu merupakan dasar yang tak
terelakkan bagi berfungsinya program bimbingan.

2. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam Bimbingan dan Konseling lebih menekankan lagi
pentingnya peranan perkembangan yang terjadi dan hendaknya di terjadikan pada
individu. Bimbingan dan Konseling memutusakan perhatiannya pada keseluruhan proses
perkembangan itu. Ivey dan Rigazio Digilio (Dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa
orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang menajdi inti gerakan
bimbingan. Perkembangan merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan
dari segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa, praktek
bimbingan dan konseling tidak lain adalah memberikan kemudahan yang berlangsung
perkembangan yang berkelanjutan. Permasalahan yang dihadapi individu harus diartikan
sebagai terhalangnya perkembangan, dan hal itu semua mendorong konselor dan klien
bekerjasama untuk menghilangkan penghalang itu serta mempengaruhi lajutnya
perkembangan klien.

35
3. Orientasi Permasalahan
Ada yang mengatakan bahwa hidup dan berkembang itu mengandung resiko. Perjalanan
kehidupan dan proses perkembangan sering kali ternyata tidak mulus, banyak mengalami
hambatan dan rintangan. Pada hal tujuan umum bimbingan dan konseling, sejalan
dengan tujuan hidup dan perkembangan itu sendiri, ialah kebahagiaan. Hambatan dan
rintangan dalam perjalanan hidup dan perkembangan pastilah menggangu tercapainya
kebahagiaan itu. Agar tujuan hidup dan perkembangan, yang sebagainya adalah tujuan
bimbingan dan konseling, itu dapat tercapai dengan sebaik-baiknya, maka resiko yang
mungkin menimpa kehidupan dan perkembangan itu harus selalu diwaspadai.
Kewaspadaan terhadap timbulnya hambatan dan rintangan itulah yang melaharikan
konsep orientasi masalah dalam pelayanan bimbingan dan konseling.

2. Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling

Ruang lingkup bimbingan dan konseling disekolah mencakup upaya bantuan yang
meliputi bidang bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar, dan bimbingan
karier.
a) Bidang bimbingan pribadi dan Sosial
Dalam bimbingan pribadi, membantu siswa menemukan dan mengembangkan
pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, mantap dan
mandiri serta sehat jasmani dan rohani. Dalam bidang bimbingan social, membantu
siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan social yang dilandasi budi
pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan. Bimbingan pribadi –
social berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi
pergumulan-pergumulan dalam dirinya sendiri di bidang kerohanian, perawatan
jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya, serta
bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama diberbagai
lingkungan (Pergaulan Sosial).
Dalam bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut:
1) Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan alam
beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa.
2) Pemantapan pemahaman tentang kekuatan diri dan mengembangkannya
untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif, baik dalam kehidupan
sehari-hari maupun peranan dimasa depan.

36
3) Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran
dan mengembangkannya melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan
produktif.
4) Pemantapan pemahan tentang kelemahan diri dan usaha-usaha
penanggulangan.
5) Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
6) Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang
telah diambilnnya.
7) Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat, baik
secara rohaniah maupun jasmaniah.

Dalam bidang Bimbingan social, bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok
berikut:

1) Pemantapan kemampuan berkomunikasi, baik melalui lisan maupun tulisan


secara efektif. Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan
pendapat berargumentasi secara Dinamis, kreatif dan produktif.

2) Pemantapan kemampuan bertingkah laku dalam hubungan social,baik di


rumah, di sekolah, maupun di masyarakat lausa dengan menjunjung tinggi
tata karma, sopan santun, serta nilai-nilai agama, adat, hukum, ilmu, dan
kebiasaan yang berlalu.

3) Hubungan yang Dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya, baik
di sekolah yang sama, di sekolah yang lain, di luar sekolah, maupun di
masyarakat pada umumnya.

4) Pemantapan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah serta upaya


pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggungjawab.

5) Orientasi tentang hidup berkeluarga.

b) Bidang Bimbingan Belajar


Dalam bidang bimbingan belajar, membantu siswa mengembangkan diri, sikap dan
kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan serta
menyiapkan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Bimbingan belajar atau
akademik ialah bimbingan dalam menemikan cara belajar yang tepat dalam
memilih ptogram studi yang sesuai dan dalam mengatasi kesukaran-kesukaran

37
yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu instansi
pendidikan.
Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok berikut :

1) Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efesien serta
produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar,
bersikap terhadap guru dan naeasumber lainnya, mengerjakan tugas
mengembangkan keterampilan dan menjalani program penilaian.

2) Pemantapan system belajar dan berlatih baik secara mandiri maupun


berkelompok.

3) Pemantapan pengeuasaan materi program belajar di sekolah sesuai dengan


perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.

4) Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, social, dan budaya


yang ada dilingkungan sekitar dan masyarakat untuk perkembangan
pengetahuan dan keterampilan dan perkembangan diri.

5) Orientasi di perguruan tinggi.

c) Bidang Bimbingan Karir

Bimbingan karir ialah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia


pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabatan/profesi tertentu serta
membekali dirinya supaya siap memangku jabatan itu, dan menyesuaikan diri
dengan berbagai tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.

Dalam bidang bimbingan karier membantu siswa merencanakan dan


mengembagkan masa depan karier. Bidang ini dapat dirinci menjadi pokok-pokok
berikut:

1) Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang


hendak dikembangkan.

2) Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya, khususnya karier


yang dikembangkan.

38
3) Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

4) Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi. Khususnya


sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.

3. Faktor – Faktor Pendukung Bimbingan Konseling

Agar layanan bimbingan dan konseling di sekolah dapat berjalan efektif dan mencapai
hasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka diperlukan kegiatan-kegiatan pendukung
bimbingan dan konseling. Kegiatan-kegiatan pendukung pelayanan bimbingan konseling
tersebut adalah sebagai berikut:

a) Aplikasi instrumentasi

Aplikasi instrumentasi adalah upaya penggungkapan melalui pengukuran dengan


memakai alat ukur atau instrumen tertentu. Hasil aplikasi ditafsirkan, disikapi dan
digunakan untuk memberikan perlakuan terhadap klien dalam bentuk layanan
konseling agar diperoleh data tentang kondisi tertentu atas diri klien (siswa). Data
tersebut kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penyelenggaraan
bimbingan dan konseling.

b) Himpunan data

Merupakan suatu upaya penghimpunan, penggolongan-penggolongan, dan


pengemasan data dalam bentuk tertentu. Bertujuan untuk memperoleh pengertian yang
lebih luasm lebih lengkap dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik
dan membantu siswa memperoleh pemahaman diri sendiri.

c) Konferensi kasus

Merupakan forum terbatas yang dilakukan oleh pembimbing atau konselor guna
membahas suatu permasalahan dan arah pemecahannya bertujuan
untukmengumpulkan data secara lebih luas dan akurat serta menggalang komitmen
pihak-pihak yang terkait dengan kasus yang terkait dengan kasus dalam rangka
pemecahan masalah.

39
d) Kunjungan rumah

Merupakan upaya mendeteksi kondisi keluarga dalam kaitannya dengan permasalahan-


permasalahan individu atau siswa yang menjadi tanggung jawab pembimbing atau
konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Kunjungan dilakukan apabila
data siswa untuk kepentingan layanan BK belum atau tidak diperoleh melalui
wawancara dan angket. Tujuannya untuk menggalang komitmen Antara orang tua dan
anggota keluarga lainnya dengan pihak sekolah yang berkenaan dengan pemecahan
masalah siswa.

e) Alih tangan kasus

Merupakan upaya mengalihkan atau memindahkan tanggungjawab memecahkan


masalah atau kasus-kasus tertentu yang dialami siswa kepada orang lain yang lebih
mengetahui dan berwenang. Bertujuan untuk memperoleh pelayanan yang optimal dna
pemecahan masalah klien secara lebih tuntas.

J. Layanan BK Pola 17 plus dan BK Komprehensif

1. Layanan BK Pola 17 Plus

A. Bidang BK Pola 17 Plus antara lain :

1) Bidang Kehidupan Pribadi


bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, dan
mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, sesuai dengan karakteristik
kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
2) Bidang Kehidupan Sosial.
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta
mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman
sebaya, anggota keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
3) Bidang Kegiatan Belajar
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar
dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri.

40
4) Bidang Perencanaan, pelaksanaan dan pemantapan Karir.
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai
informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.
5) Bidang Kehidupan Berkeluarga.
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam merencanakan kehidupan
keluarga, dan keragaman persoalan persiapan membentu keluarga.
6) Bidang Kehidupan Keberagamaan.
Bidang pelayanan yang membantu peserta didik untuk mementapkan diri dalam
memahami dan melaksanakan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan pribadi dan
sosial.

Bagan BK Pola 17 Plus


B. Layanan Bimbingan dan Konseling Pola 17 Plus

Layanan bimbingan dan konseling pola 17 plus meliputi:


1) Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan
siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. Hasil
yang diharapkan dari layanan orientasi adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa

41
terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan belajar dan kegiatan lain yang mendukung
keberhasilan siswa. Fungsi utama layanan orientasi ialah fungsi pemahaman dan
pencegahan.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan orientasi ada berbagai macam, yaitu
meliputi:
1. Orientasi umum sekolah yang baru dimasuki
2. Orientasi kelas baru dan semester baru
3. Orientasi kelas terakhir
Penyelenggaraan layanan orientasi dapat diselenggarakan melalui ceramah, tanya
jawab dan diskusi selanjutnya dapat dilengkapi dengan peragaan, selebaran, tayangan
foto, film, video, dan peninjauan ketempat-tempat yang dimaksud (ruang kelas,
laboratorium, perpustakaan dll). Materi orientasi dapat diberikan oleh konselor,
Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru Mata pelajaran, atau
personil lain. Namun seluruh kegiatan itu direncanakan dan dikoordinasikan oleh
konselor sekolah.

Layanan orientasi dapat diselenggarakan baik dalam bentuk pertemuan umum,


pertemuan klasikal, maupun pertemuan kelompok. Materi orientasi dapat disampaikan
oleh konselor sekolah, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Wali Kelas, Guru Mata
pelajaran, atau personil lain. Layanan orientasi diselenggarakan pada awal mulainya
kegiatan pada satu jenjang atau periode pendidikan tertentu.

2) Layanan Informasi
Bertujuan untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman
tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan
mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
Fungsi utama layanan informasi ialah fungsi pemahaman dan pencegahan.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan informasi ada berbagai macam, yaitu
meliputi:
1. Informasi pengembangan pribadi;
2. Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar;
3. Informasi pendidikan tinggi;
4. Informasi jabatan;
42
5. Informasi kehidupan keluarga, sosial-kemasyarakatan, keberagaman, sosial-
budaya, dan lingkungan.
Materi informasi dapat diberikan berbagai nara sumber baik dari sekolah sendiri, dari
sekolah lain, dari lembaga-lembaga pemerintah, maupun dari berbagai kalangan di
masyarakat dapat diundang untuk memberikan informasi kepada siswa. Namun
seluruh kegiatan itu harus direncanakan dan dikoordinasikan oleh konselor sekolah.
Layanan informasi dapat diberikan kapan saja pada waktu yang memungkinkan.
Topik yang diberikan dipilihkan yang sedang hangat menyangkut kebutuhan siswa
dalam cakupan yang besar.

3) Layanan Penempatan dan Penyaluran


Kemampuan, bakat, dan minat bila tidak disalurkan secara tepat dapat mengakibatkan
siswa yang bersangkutan tidak dapat berkembang secara optimal. Layanan
penempatan dan penyaluran memungkinkan siswa berada pada posisi dan pilihan
yang tepat yaitu berkenaan dengan penjurusan, kelompok belajar, pilihan
pekerjaan/karier, kegiatan ekstra kurikuler, program latihan dan pendidikan yang lebih
tinggi sesuai kondisi fisik dan psikisnya. Fungsi utama layanan penempatan dan
penyaluran ialah fungsi pencegahan dan pemeliharaan.

Materi yang dapat diangkat melalui layanan penempatan dan penyaluran ada berbagai
macam, yaitu:
1. penempatan di dalam kelas berdasar kondisi dan ciri pribadi dan hubungan
sosial siswa serta asas pemerataan;
2. penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar berdasarkan
kemampuan dan kelompok campuran;
3. penempatan dan penyaluran di dalam program yang lebih luas.
Pengungkapan pelaksanaan layanan penempatan dan penyaluran dapat dilakukan
melalui pengamatan langsung, analisis hasil belajar, dan himpunan data,
penyelenggaraan instrumentasi, wawancara dengan siswa, analisis laporan (wali kelas,
guru mata pelajaran, guru praktek, diskusi dengan personil sekolah). Konselor sekolah
perlu memiliki catatan lengkap tentang penempatan dan penyaluran seluruh siswa
asuhannya. Kemana siswa itu ditempatkan, pada posisi mana di dalam kelas,
kelompok mana, berapa lama direncanakan berada pada posisi kelompok itu, dan

43
kapan penempatan dan penyaluran itu dievaluasi dan diperbarui. Catatan ini amat
diperlukan untuk tindak lanjut layanan penempatan dan penyaluran.

4) Penguasaan Konten
Yaitu layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama
kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga,
dan masyarakat.
Materi umum layanan penguasaan konten ditujukan konseli dapat memiliki konten
dalam:
1. Ketrampilan teknik belajar
2. Ketrampilan cara belajar yang efektif dan efisien
3. Melatih kebiasaan belajar
4. Melatih efisiensi waktu sehari-hari
Contohnya:
 Mengatur jadwal kegiatan sehari-hari: di rumah, di sekolah, di luar
rumah/sekolah,

 Menggunakan waktu senggang,

5) Layanan Konseling Perorangan/individu


Tujuan dan fungsi layanan konseling perorangan dimaksudkan untuk memungkinkan
siswa mendapatkan layanan langsung, tatap muka dengan konselor sekolah dalam
rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya. Fungsi utama bimbingan yang
didukung oleh layanan konseling perorangan ialah fungsi pengentasan.

Konselor sekolah tidak boleh sekedar menunggu kedatangan siswa saja, sebaiknya
harus aktif mengupayakan agar siswa yang bermasalah menjadi sadar bahwa dirinya
bermasalah, menjadi sadar bahwa mereka memerlukan bantuan untuk memecahkan
masalahnya. Upaya ini dilakukan dengan ceramah, tanya jawab terkait dengan
layanan konseling perorangan sehingga yakin bahwa layanan konseling perorangan
itu benar-benar bermanfaat dan diperlukan siswa. Upaya lain adalah memanggil siswa
didasari oleh analisis yang mendalam tentang perlunya siswa dipanggil berdasar
analisis belajar, hasil instrumen, hasil pengamatan, laporan pihak tertentu dengan

44
dalih menawarkan diri untuk membantu siswa dan memberikan kesempatan bahwa
pertemuan itu untuk kepentingan siswa.

6) Layanan Bimbingan Kelompok


Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana
kelompok (Gazda dalam Prayitno dan Erman, 2008).

Tujuan dan fungsi layanan konseling kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan


siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari konselor sekolah.
Layanan bimbingan kelompok, siswa diajak bersama-sama mengemukakan pendapat
tentang topik-topik yang dibicarakan dan mengembangkan bersama permasalahan
yang dibicarakan pada kelompok. Sehingga terjadi komunikasi antara individu di
kelompoknya kemudian siswa dapat mengembangkan sikap dan tindakan yang
diinginkan dapat terungkap di kelompok. Fungsi utama bimbingan yang didukung
oleh layanan bimbingan kelompok ialah fungsi pemahaman dan pengembangan.

Materi layanan bimbingan kelompok dapat dibahas berbagai hal yang amat beragam
yang berguna bagi siswa. Materi layanan bimbingan kelompok meliputi;
1. Pemahaman dan pemantapan kehidupan beragama dan hidup sehat;
2. Pemahaman dan penerimaan diri sendiri dan orang lain sebagaimana adanya
(termasuk perbedaan individu, sosial, budaya serta permasalahannya);
3. Pemahaman tentang emosi, prasangka, konflik, dan peristiwa yang terjadi di
masyarakat serta pengendalian/pemecahannya;
4. Pengaturan dan penggunaan waktu secara efektif untuk belajar, kegiatan sehari-
hari, dan waktu senggang;
5. Pemahaman tentang adanya berbagai alternatif pengambilan keputusan dan
berbagai konsekuensinya,
6. Pengembangan sikap kebiasaan belajar, pemahaman hasil belajar, timbulnya
kegagalan belajar, dan cara penanggulangannya;
7. Pengembangan hubungan sosial yang efektif dan produktif;
8. Pemahaman tentang dunia kerja, pilihan dan pengembangan karier serta
perencanaan masa depan;

45
9. Pemahaman tentang pilihan dan persiapan memasuki jurusan/program studi dan
pendidikan lanjutan.

Manfaat dan pentingnya bimbingan kelompok bagi siswa adalah;


1. Diberi kesempatan yang luas untuk berpendapat dan membicarakan yang terjadi
di sekitarnya. Semua pendapat yang positif maupun negatif disinkronkan dan
diluruskan sehingga memantapkan siswa;
2. Memiliki pemahaman yang obyektif, tepat, pandangan luas dan pemahaman
obyektif sehingga diharapkan;
3. Menimbulkan sikap positif terhadap keadaan diri dan lingkungan seperti
(menolak hal yang salah/buruk/negatif dan menyokong hal yang
benar/baik/positif. Sikap positif diharap merangsang siswa untuk;
4. Menyusun program-program kegiatan untuk mewujudkan penolakan terhadap
yang buruk dan sokongan yang baik, dengan harapan;
5. Melaksanakan kegiatan nyata dengan membuahkan hasil.

7) Layanan Konseling Kelompok


Tujuan dan fungsi layanan konseling kelompok memungkinkan siswa memperoleh
kesempatan bagi pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami melalui
dinamika kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan layanan konseling
yang diselenggarakan dalam suasana kelompok. Fungsi utama bimbingan yang
didukung oleh layanan konseling kelompok ialah fungsi pengentasan.
Hal-hal yang perlu ditampilkan dalam kegiatan kelompok adalah;
1. membina keakraban kelompok;
2. melibatkan diri secara penuh dalam suasana kelompok;
3. bersama-sama mencapai tujuan kelompok;
4. membina dan mematuhi aturan kegiatan kelompok;
5. ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok;
6. berkomunikasi secara bebas dan terbuka;
7. membantu anggota lain dalam kelompok;
8. memberikan kesempatan kepada anggota lain dalam kelompok;

46
9. menyadari pentingnya kegiatan kelompok.

8) Layanan Konsultasi
Layanan konsultasi adalah bantuan dari konselor ke klien dimana konselor sebagai
konsultan dan klien sebagai konsulti, membahas tentang masalah pihak ketiga. Pihak
ketiga yang dibicarakan adalah orang yang merasa dipertanggungjawabkan konsulti,
misalnya anak, murid atau orangtuanya. Jika konselor tidak mampu mengatasi
masalah yang dihadapi oleh konsulti maka direferalkan kepada pihak lain yang lebih
pakar. Layanan konsultasi bisa berubah menjadi konseling perorangan jika
permasalahan ternyata disebabkan oleh konsulti, dan konseling keluarga karena
berkaitan dengan pihak keluarga.

9) Layanan Mediasi
Mediasi berasal dari kata “media” yang artinya perantara atau penghubung. Layanan
mediasi adalah layanan yang dilaksanakan oleh konselor terhadap dua pihak atau
lebih yang sedang mengalami keadaan tidak hamonis (tidak cocok).

Tujuan umum: tercapainya kondisi hubungan yang positif dan kondusif diantara para
klien, yaitu pihak-pihak yang berselisih. Tujuan khusus: difokuskan kepada perubahan
atau kondisi awal menjadi kondisi baru dalam hubungan antara pihak-pihak yang
bermasalah.

C. Kegiatan Pendukung BK Pola 17 Plus

Kegiatan Penunjang
1.Aplikasi Instrumentasi
Tujuan dan Fungsi aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling bermaksud
mengumpulkan data dan keterangan peserta didik baik secara individual maupun
kelompok, keterangan tentang lingkungan yang termasuk di dalamnya informasi
pendidikan dan jabatan.. Pengumpulan data dan keterangan ini dilakukan dengan berbagai
instrumen baik tes maupun non-tes. Fungsi utama bimbingan yang diemban oleh kegiatan
penunjang aplikasi instrumenasi ialah fungsi pemahaman.
Materi umum aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling meliputi;
1. kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang maha Esa.

47
2. kondisi mental dan fisik siswa, pengenalan terhadap diri sendiri
3. kemampuan pengenalan lingkungan dan hubungan sosial
4. tujuan, sikap, kebiasaan, keterampilan dan kemampuan belajar
5. informasi karier dan pendidikan
6. kondisi keluarga dan lingkungan

2.Himpunan Data (Cumulative Record)


Tujuan dan fungsi himpunan data bimbingan dan konseling bermaksud menghimpun
seluruh data dan keterangan peserta yang relevan dengan keperluan pengembangan siswa
dalam berbagai aspeknya. Data yang terhimpun merupakan hasil dari upaya aplikasi
instrumentasi dan apa yang menjadi isi himpunan data dimanfaatkan sebesar-besarnya
dalam kegiatan layanan bimbingan. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh
penyelenggaraan himpunan data ialah fungsi pemahaman.

Materi umum himpunan data meliputi pokok-pokok data/keterangan tentang berbagai hal
sebagaimana menjadi isi dari aplikasi instrumentasi tersebut juga memuat berbagai karya
tulis, atau rekaman kemampuan siswa, catatan anekdot, laporan khusus dan informasi
pendidikan dan jabatan.

Penyelenggaraan himpunan data umumnya menjadi isi yang dianggap penting dalam
himpunan data. Lebih dari itu himpunan data juga dapat meliputi hasil wawancara,
konferensi kasus, kunjungan rumah, analisis hasil belajar, pengamatan dan hasil upaya
pengumpulan bahan lainnya yang relevan dengan pelayanan bantuan kepada siswa.
Keseluruhan data yang dikumpulkan itu dapat dikelompokkan menjadi:
1) Data Pribadi, menyangkut diri masing-masing siswa secara perorangan, yang
dilakukan setiap siswa, bersifat berkelanjutan. Data/keterangan yang masih relevan
sajalah yang perlu di pertahankan.
2) Data Kelompok, menyangkut aspek dari sekelompok siswa seperti gambaran
menyeluruh hasil belajar siswa satu kelas, hasil sosiometri kelas, laporan
penyelenggaraan dan hasil diskusi/belajar kelompok. Data kelompok perlu
digabungkan dengan data pribadi begitu pula sebaliknya. Data/keterangan kelompok
yang masih relevan sajalah yang perlu di pertahankan.

48
3) Data Umum, adalah data yang tidak menyangkut diri siswa baik secara
pribadi/perorangan ataupun kelompok. Data ini berasal dari luar diri siswa seperti
informal pendidikan dan jabatan, informasi lingkungan fisik-sosial-budaya. Data
dihimpun dapat dalam bentuk buku, kumpulan leaflet tentang informasi pendidikan,
jabatan, informasi sosial budaya. Yang perlu diperhatikan bahwa data ini dijaga
ketepatannya, kebaruan, kemanfaatannya. Dan data yang sudah kadaluarsa tidak perlu
dipertahankan lagi.

Kegiatan Khusus
3.Konferensi Kasus
Diselenggarakan untuk membicarakan suatu kasus di sekolah, konferensi kasus biasanya
diselenggarakan untuk membantu permasalahan yang dialami oleh seorang siswa.
Pembahasan permasalahan yang menyangkut siswa tertentu dalam forum diskusi yang
dihadiri oleh pihak terkait seperti (konselor sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran,
kepala sekolah dan tenaga ahli lainnya) dan diharap dapat memberikan data keterangan
lebih lajut serta kemudahan-kemudahan bagi terentaskannya permasalahan siswa.
Konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup, konferensi kasus juga bermaksud upaya
pengentasan masalah. Fungsi utama bimbingan yang diemban oleh penyelenggaraan
konferensi kasus ialah fungsi pemahaman dan pengentasan.

Penyelenggaraan konferensi kasus dilaksanakan hanya untuk penanganan suatu masalah


siswa yang diperlukan tambahan masukan dari berbagai pihak tertentu yang diyakini dapat
membantu penanganan masalah siswa seperti orang tua murid, wali kelas, guru mata
pelajaran, kepala sekolah dan pihak-pihak lain yang bersangkutan. Hasil penyelenggaraan
konferensi kasus diintegrasikan kedalam himpunan data pribadi siswa.

4.Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah tidak perlu dilakukan untuk seluruh siswa, hanya untuk siswa yang
permasalahannya menyangkut dengan kadar yang cukup kuat peranan rumah atau orang
tua sajalah yang memelukan kunjungan rumah. Tujuan kunjungan rumah dalam bimbingan
dan konseling mempunyai tujuan pertama untuk memperoleh berbagai keterangan/data
yang diperlukan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan siswa. Kedua untuk
pembahasan dan pengentasan permasalahan siswa. Fungsi utama bimbingan yang diemban
oleh kunjungan rumah ialah fungsi pemahaman dan pengentasan.

49
Materi kunjungan rumah akan diperolehnya berbagai data dan keterangan tentang
berbagai kemungkinan permasalahan siswa. Data/keterangan ini meliputi :
1. kondisi rumah tangga dan orang tua
2. fasilitas belajar yang ada di rumah
3. hubungan antara anggota
4. sikap dan kebiasaan siswa dirumah
5. berbagai pendapat orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan anak
dan pengentasan masalah siswa
6. komitmen orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam perkembangan siswa dan
pengentasan masalah siswa

Pembimbing perlu persiapan berupa:


1. pembicaraan dengan siswa yang bersangkutan tentang rencana kunjungan rumah
2. rencana yang matang mencakup waktu kunjungan, hal yang akan dibicarakan, hal
yang akan diobservasi komitmen akan dimintakan pada orang tua
3. pemberitahuan kepada orang tua yang akan dikunjungi

Dalam keadaan tertentu kunjungan rumah dapat diganti dengan pemanggilan orang tua ke
sekolah. Persiapan dan prosedur pemanggilan data dasarnya sejalan dengan persiapan dan
prosedur kunjungan rumah.

5.Alih Tangan Kasus


Alih tangan meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor (menerima klien “kiriman”
klien dari pihak-pihak lain) dan jalur dari konselor (“mengirimkan” klien yang belum
tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain. Secara khusus materi yang alih tangan ialah bagian
permasalahan yang belum tuntas ditangani konselor sekolah dan materi itu di luar bidang
keahlian ataupun kewenangan konselor sekolah. Materi alih tangan kasus dalam bidang-
bidang bimbingan mencakup segenap bidang bimbingan; bidang bimbingan bidang
pribadi, sosial, belajar, dan karier. Dalam alih tangan kasus perlu mempertimbangkan
terlebih dahulu kecocokan antara inti materi permasalahan yang dialihtangankan itu
dengan bidang keahlian tempat alih tangan yang dimaksud.

50
Penyelenggaraan alih tangan kasus hanya dilakukan apabila konselor sekolah menjumpai
kenyataan bahwa sebagian atau keseluruhan inti permasalahan siswa berada di luar
kemampuan/kewenangan konselor sekolah. Dengan demikian tidak semua masalah
memerlukan alih tangan kasus.

6.Tampilan Kepustakaan
Tampilan kepustakaan berupa bantuan layanan untuk memperkaya dan memperkuat diri
berkenaan dengan permasalahan yang dialami klien. Layanan ini memandirikan klien
untuk mencari dan memanfaatkan sendiri bahan-bahan yang ada di pustaka sesuai dengan
kebutuhan.
Tujuan tampilan kepustakaan:
1. Melengkapi subtansi layanan berupa bahan-bahan tertulis dan rekaman yang ada
dalam layanan tampilan kepustakaan.
2. Mendorong klien memanfaatkan data yang ada untuk mengentaskan masalah
3. Mendorong klien memanfaatkan pelayanan konseling secara langsung dan berdaya
guna

2. Bimbingan Layanan Komprehensif

1) Pengertian

Bimbingan komprehensif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik melalui


layanan dasar bimbingan, layanan responsive, layanan perencanaan individual dan dukungan
system sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

2) Tujuan

Secara umum tujuan dari pola bimbingan 17+ dan bimbingan komprehnsif adalah
sama, yaitu membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta
memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier
yang sesuai dengan tuntutan kerja. Secara khusus bertujuan untuk membantu peserta didik
agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan serta memberikan arah kerja atau sebagai

51
acuan dan evaluasi kerja bagi guru BK / konselor. Akan tetapi bimbingan komprehensif juga
bertujuan untuk meengembangkan pola 17+ yang ada sekarang.

3) Fungsi

 Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang akan dapat menghasilkan pemahaman
tentang diri siswa yang dapat digunakan dalam rangka pengembangan siswa.

 Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan yang bermaksud agar siswa tidak
mengalami sesuatu kesulitan.

 Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu sisiwa untuk dapat
menyesuaikan diri denagn lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

 Fungsi pemecahan, yaitu fungsi bimbingan yang membantu memecahkan masalah


dengan cara mengumpulkan data tentang latar belakang timbulnya masalah.

4) Layanan dan strategi

 Layanan dasar bimbingan

 Layanan dasar bimbingan adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu


seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan meningkatkan ketrampilan-
ketrampilan hidupnya. Isi layanan dasar bimbingan sebagai berikut :

a) Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME.


b) Kerja sama dalam kelompok dan .
c) Peranan soaial laki-laki dan poerempuan .
d) Penerimaan keadaan diri dan penggunanannya secara efektif.
e) Pengembangan sikap dan perilaku emosional yang mantap.
f) Persiapan diri kearah kemandirian ekonomi.
g) Pemilihan dan persiapan kerja.
h) Pengembangan sikap positif terhadap perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
i) Pengembangan ketrampilan intelektual dan pemahaman konsep-konsep yang.
diperlukan untuk menjadi warga Negara yang baik.
j) Pengembangan sikap dan perilaku social yang bertanggung jawab.
k) Pemahaman nilai-nilai dan etika hidup bermasyarakat.

 Strategi, teknik, dan manajemen

a) Bimbingan klasikal

52
b) Bimbingan kelompok
c) Kolaborasi konselor guru
d) Kolaborasi orang tua
e) Teknik lainnya

Layanan Responsif

a) Layanan responsive adalah layanan bimbingan yang bertujuan membantu memenuhi


kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh siswa pada saat ini. Layanan ini lebih
preventif atau mungkin kuratif. Isi layanan responsive adalah :

1) Bidang pendidikan
2) Bidang belajar
3) Bidang social
4) Bidang pribadi
5) Bidang disiplin
6) Bidang narkotika
7) Bidang perilaku seksual

b) Strategi, teknik, dan manajemen

1) Konsultasi
2) Konseling individu
3) Konseling krisis
4) Rujukan
5) Bimbingan teman sebaya
6) Teknik lainnya

Layanan Perencanaan Individual

a) Layanan perencanaan individual adalah upaya bimbingan yang bertujuan membantu


seluruh siswa membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karier, dan
kehidupan social pribadinya. Isi dari layanan perencanaa individual adalah :

1) Bidang pendidikan
2) Bidang karier
3) Bidang social pribadi

b) Strategi, teknik, dan manajemen

a) Penilaian Individu/Kelompok
b) Bantuan Individu/Kelompok

53
c) Teknik lainnya

Dukungan Sistem

 Dukungan system adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk


memantapkan, memelihara, serta meningkatkan program bimbingan .

 Srategi, teknik, dan manajemen

a) Pengembangan Profesi Konsultasi, Kolaborasi


b) Sistem manajemen
c) Kesepakatan
d) Evaluasi akuntabiliti

Bimbingan Komprehensif

Bimbingan pribadi, yaitu bidang layanan pengembangan kemampuan mengatasai


masalah-masalaah pribadi dan kepribadian, berkenaan dengan aspek-aspek intelektual,
afektif dan motorik.

 Bimbingan soaial, yaitu bidang layanan pengembangan kemampuan dalam


mengatasi masalah-masalah social, dalam kehidupan keluarga, disekolah, maupuin
di masyarakat juga upaya dalam berinteraksi dengan masyarakat.

 Bimbingan karier, yaitu layanan yang merencanakan dan mempersiapkan masa


depan karier peserta didik.

 Bimbingan belajar, yaitu layanan untuk mengoptimalkan perkembangan dan


mengatasi masalah dalam proses pembelajaran.

Kegiatan pendukung

 Aplikasi instrumentasi, yaiitu kegiatan pendukung berupa pengumpilan data dan


keterangan tentang peserta didik dan lingkungan yang lebih luas yang dilakukan baik
dengan tes maupun non tes.

 Himpunan data, yaitu kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang
relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik.

54
 Konferensi kasus, yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk membahas permaslahan
yang dialami oleh peserta didik dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai
pihak yang diharapkan dapat meberikan penyelesaian.

 Kunjungan rumah, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh data, keterangan,
kemudahan, dan komitmen bagi pemecaha masalah yang dialami peserta didik melalui
kunjungan rumahnya.

 Alih tangan kasus, yaitu kegiatan bimbingan dan konseling untuk mendapatkan
penanganan yang lebih tepat dan tuntas terhadap masalah yang di alami peserta didik
dengan memindahkan penanganan ke pihak yang lebih kompeten dan berwenang.

 Terapi kepustakaan. Yaitu kegiatan pemecahan masalah dengan buku.

Tempat Kegiatan

Dapat dilaksanakan baik di dalammaupun di luar kelas.

Volume Kegiatan

 Layanan dasar (30-40%)

 Layanan responsive (15-25%)

 Layanan perencanaan individual (25-35%)

 Dukungan system (10-15%)

K. Persamaan Dan Perbedaan Layanan Pola 17 Plus dan Layanan


Komprehensif

No Aspek
Pola 17 Plus Komprehensif Persamaan Perbedaan
pembanding
1. Pengertian Progam bimbingan Suatu progam Sama-sama Bentuk atau cara

55
dan konseling atau dengan proses pemberian pemberian layanan
pemberian bantuan menggunakan bantuan yang yang berbeda.
kepada peserta kerangka pikiran ditujukan kepada
didik melalui, 6 dan kerja utuh peserta didik.
bidang bimbingan, progam layanan
9 layanan, dan 6 bimbingan
layanan pendukung konseling dalam
yang sesuai dengan jalur pendidikan
norma yang kepada peserta
berlaku. didik melalui
layanan dasar
bimbingan, layanan
responsive, layanan
perencanaan
individual dan
dukungan system
sesuai dengan
norma yang berlaku
di masyarakat.

2. Tujuan membantu peserta Memberikan arah Sama-sama Bimbingan


didik mengenal kerja / sebagai Membantu komprehensif
bakat , minat , dan acuan dan evaluasi peserta didik mengembangkan
kemampuannya, kerja bagi guru untuk mengenal pola 17+
serta memilih dan BK / dirinya
menyesuaikan diri konselor.membantu
dengan peserta didik
kesempatan, mengenal bakat ,
pendidikan, dan minat , dan
merencanakan kemampuannya,.
karier yang sesuai Serta
dengan tuntutan mengembangkan
kerja. pola 17+

3. Fungsi  Pemahaman  Pemahaman Sama-sama Pada bimbingan


 Pencegahan  Pencegahan memiliki fungsi : komprehensif tidak
 Perbaikan  Penyesuaian
 Pemeliharaan  Pemecahan Pemahaman, ada fungsi

56
 Pengembangan pencegahan, perbaikan,
 Penyaluran penyesuaian, pemeliharaan,
 Penyesuaian
 Adaptasi pemecahan pengembangan,
penyaluran,
penyesuaian, seta
adaptasi
Sementara pola 17+
tidak punya fungsi
pemecahan
4. Jenis Layanan  Orientasi  Layanan dasar Tidak ada Berbeda jenis
 Informasi persamaan layanannya
bimbingan
 Penempatan dan  Layanan
penyaluran responsive
 Pembelajaran /  Layanan
penguasaan perencanaan
konsep individual
 Konseling  Dukungan sistem
individu /
perorangan
 Bimbingan
kelompok
 Konseling
kelompok
 Konsultasi
 Mediasi
5. Bidang  Pribadi  Pribadi Mempunyai Tidak ada
Bimbingan  Social  Social bimbingan yang perbedaanya
 Karier  Karier
 Belajar  Belajar sama
 Keberagamaan  Keberagamaan
 Keberkeluargaan  Keberkeluargaan
6. Kegiatan  aplikasi  aplikasi Mempunyai Tidak ada
pendukung instrumentasi instrumentasi kegiatan perbedaanya
 himpunan data  himpunan data pendukung yang
 konferensi kasus  konferensi kasus
 kunjungan rumah  kunjungan rumah sama
 alih tangan kasus  alih tangan kasus
 terapi  terapi
kepustakaan kepustakaan
7. Tempat Dapat dilaksanakan Dapat dilaksanakan Mempunyai Tidak ada
kegiatan diluar maupun diluar maupun tempat kegiatan perbedaanya
didalam kelas didalam kelas yang sama
8. Volume  Layanan orientasi  Layanan dasar Tidak ada Pola 17+:

57
kegiatan (4-6%) (30-40%) kesamaanya, Layanan orientasi
 Layanan  Layanan berbeda dari (4-6%)
informasi (10- responsive (15- Layanan informasi
semua volume
12%) 25%) (10-12%)
kegiatan
 Layanan  Layanan Layanan
penempatan/peny perencanaan penempatan/penyal
aluran (5-8%) individual (25- uran (5-8%)
 Layanan Layanan
35%)
pembelajaran  Dukungan pembelajaran (12-
(12-15%) system (10-15%) 15%)
 Layanan Layanan konseling

konseling perorangan (12-

perorangan (12- 15%)


Layanan bimbingan
15%)
 Layanan kelompok (15-

bimbingan 20%)
Layanan konseling
kelompok (15-
kelompok (12-
20%)
 Layanan 15%)
Aplikasi
konseling
instrumentasi (4-
kelompok (12-
8%)
15%) Himpunan data (4-
 Aplikasi
8%)
instrumentasi (4- Konferensi kasus
8%) (5-8%)
 Himpunan data Kunjungan rumah
(4-8%) (5-8%)
 Konferensi kasus Alih tangan kasus
(5-8%) (0-2%)
 Kunjungan
Bimbingan
rumah (5-8%)
 Alih tangan kasus komprehensif:
(0-2%)
Layanan dasar (30-
40%)
Layanan responsive
(15-25%)
Layanan
perencanaan
individual (25-35%)
Dukungan system

58
(10-15%)

DAFTAR ISI

A. SEJARAH BIMBINGAN KONSELING DI INDONESIA DAN AMERIKA.....................................................1


B. LATAR BELAKANG BIMBINGAN DAN KONSELING..............................................................................4
C. KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN TUJUAN BIMBINGAN DAN KONSELING............................................8
D. VISI MISI, PARADIGMA BIMBINGAN KONSELING, TRILOGI PROFESI PENDIDIK SERTA
KESALAHPAHAMAN DALAM LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING............................................10
E. FUNGSI BIMBINGAN KONSELING.....................................................................................................17
F. PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN KONSELING........................................................................................20
G. AZAS-AZAS BIMBINGAN DAN KONSELING.......................................................................................23
H. LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING YANG DISINERGI DENGAN RESPONSIVE GENDER.........28
I. Orientasi, Ruang lingkup dan Faktor Pendukung............................................................................36
J. Layanan BK Pola 17 plus dan BK Komprehensif...............................................................................42
K. Persamaan Dan Perbedaan Layanan Pola 17 Plus dan Layanan Komprehensif...............................58

59