Anda di halaman 1dari 21

MONITORING HEMODINAMIK INVASIF

Oleh:

I Gede Juliarta
dr. I Ketut Wibawa Nada, SpAn KAKV

BAGIAN/SMF ANESTESI DAN REANIMASI

RSUP SANGLAH DENPASAR


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Monitoring tekanan darah arteri ...........................................................................2
2.2 Monitoring tekanan darah vena sentral.................................................................7
2.3 Monitoring tekanan darah arteri pulmonal...........................................................13
BAB III SIMPULAN ..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Hemodinamik adalah aliran darah dalam sistem peredaran tubuh,


baik melalui sirkulasi magna (sirkulasi besar) maupun sirkulasi parva (sirkulasi
dalam paru paru). Dalam kondisi normal, hemodinamik akan selalu
dipertahankan dalam kondisi yang fisiologis dengan kontrol
neurohormonal. Namun, pada pasien-pasien kritis mekanisme kontrol
tidak melakukan fungsinya secara normal sehingga status hemodinamik
tidak akan stabil. Monitoring hemodinamik menjadi komponen yang sangat
penting dalam perawatan pasien-pasien kritis karena status hemodinamik yang
dapat berubah dengan sangat cepat1.
Berdasarkan tingkat keinvasifan alat, monitoring hemodinamik dibagi
menjadi monitoring hemodinamik non invasif dan invasif. Meskipun sudah
banyak terjadi kemajuan dalam teknologi kedokteran, pemantauan secara invasif
masih tetap menjadi gold standard monitoring. Variabel yang selalu diukur dalam
monitoring hemodinamik pasien kritis dengan metode invasif meliputi: tekanan
darah arteri, tekanan vena sentral, tekanan arteri pulmonal1,2.
Monitoring hemodinamik hampir selalu menggunakan kateter
intravaskuler, tranducer tekanan dan sistem monitoring. Adapun tujuan
monitoring hemodinamik secara invasif adalah3 :
1. Deteksi dini : identifikasi dan intervensi terhadap klinis seperti : gagal
jantung dan tamponade.
2. Evaluasi segera dari respon pasien terhadap suatu intervensi seperti
obat-obatan dan dukungan mekanik.
3. Evaluasi efektifitas fungsi kardiovaskuler seperti cardiac output dan
index.
Dengan dilakukannya monitoring hemodinamik secara kontinyu,
perubahan-perubahan pada status hemodinamik pasien akan diketahui sehingga
penanganan akan lebih cepat dilakukan dan menghasilkan prognosis yang lebih
baik1.

1
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Monitoring invasif tekanan darah arteri


2.1.1 Pengertian
Tekanan darah arteri adalah tekanan darah yang dihasilkan oleh ejeksi
ventrikel kiri ke aorta dan ke arteri sistemik 3,4.
Tekanan arteri sistemik terdiri dari3,4:
1. Tekanan sistolik adalah tekanan darah maksimal ketika darah
dipompakan dari ventrikel kiri. Range normal berkisar 100- 130 mmHg
2. Tekanan diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung relaksasi,
tekanan diastolik menggambarkan tahanan pembuluh darah yang harus
dihadapi oleh jantung. Range normal berkisar 60-90 mmHg
3. Mean Arterial Pressure atau tekanan arteri rata-rata selama siklus
jantung. MAP dapat diformulasikan dengan rumus : Sistolik + 2.
Diastolik x 1/3. MAP menggambarkan perfusi aliran darah ke jaringan
Pengukuran tekanan darah arteri secara invasif dilakukan dengan
memasukkan kateter ke lumen pembuluh darah arteri dan disambungkan ke sistem
transducer. Tekanan intra arteri melalui kateter akan dikonversi menjadi sinyal
elektrik oleh tranducer lalu disebar dan diteruskan pada osciloskope, kemudian
diubah menjadi gelombang dan nilai digital yang tertera pada layar monitor3.

2.1.2 Indikasi dan kontraindikasi


Indikasi
1. Monitor tekanan darah invasif diperlukan pada pasien dengan kondisi
kritis atau pada pasien yang akan dilakukan prosedur operasi bedah mayor
sehingga apabila ada perubahan tekanan darah yang terjadi mendadak
dapat secepatnya dideteksi dan diintervensi, atau untuk evaluasi efek dari
terapi obat-obat yang telah diberikan1,3,4.
a) prosedur operasi bedah mayor seperti : CABG, bedah thorax,
bedah saraf, bedah laparotomy, bedah vascular

2 2
b) pasien dengan status hemodinamik tidak stabil
c) pasien yang mendapat terapi vasopressor dan vasodilator
d) pasien yang tekanan intrakranialnya dimonitor secara ketat
e) pasien dengan hipertensi krisis, dengan overdiseksi aneurisma
aorta
2. Pemeriksaan serial Analisa Gas Darah3
a) pasien dengan gagal napas
b) pasien yang terpasang ventilasi mekanik
c) pasien dengan gangguan asam basa (asidosis/ alkalosis)
d) pasien yang sering dilakukan pengambilan sampel arteri
e) secara rutin
Kontra indikasi relatif3
1. Pasien dengan perifer vascular disease
2. Pasien yang mendapat terapi antikoagulan atau terapi trombolitik
3. Penusukan kanulasi arteri kontraindikasi relatif pada area yang mudah
terjadi infeksi, seperti area kulit yang lembab, mudah berkeringat, atau
pada area yang sebelumnya pernah dilakukan bedah vascular

2.1.3 Persiapan alat


1. Sistem flushing yang terdiri dari :
Cairan NaCl 0,9% 500 ml yang sudah diberi heparin 500 UI
(perbandingan NaCl 0,9% dengan heparin 1:1), masukkan dalam pressure
bag dan diberi tekanan 300 mmHg.
2. Basic Element (tranducer holder), tranducer/ pressure cable
3. Monitor, monitoring kit (single, double, triple lumen)
4. Manometer line
5. 3 way
6. Abocath no. 22 – 18
7. Sarung tangan steril
8. Alcohol, betadhine, kassa, lidocain, spuit

3
2.1.4 Lokasi pemasangan kateter arteri
Lokasi penempatan kateter intraarteri meliputi arteri radialis, brachialis,
femoralis, dorsalis pedis, dan arteri axilaris. Pertimbangan penting pada
penyeleksian lokasi insersi kateter meliputi, adanya sirkulasi darah kolateral yang
adekuat, kenyamanan pasien, dan menghindari area yang beresiko tinggi mudah
terjadi infeksi3.

2.1.5 Interpretasi gelombang tekanan darah arteri


Gelombang tekanan arteri dihasilkan dari mulainya usaha untuk membuka
katup aorta, kemudian diikuti dengan peningkatan tekanan arteri sampai tekanan
puncak (maksimum ejeksi ventrikel) tercapai. Tekanan di ventrikel turun secara
cepat sehingga tekanan aorta menjadi lebih tinggi dari tekanan ventrikel kiri.
Perbedaan tekanan tersebut mengakibatkan katup aorta tertutup, penutupan katup
aorta menghasilkan “dicrotic notch” pada gelombang tekanan arteri2,3.
Gelombang tekanan arteri sistolik digambarkan naik turun, hal ini
menyatakan dimulainya usaha pembukaan katup aorta diikuti ejeksi cepat darah
dari ventrikel, kemudian gambaran menurun kebawah, karena adanya penurunan
tekanan sehingga katup aorta tertutup sehingga terbentuk “dicrotic notch”. Periode
diastolik yaitu saat jantung relaksasi digambarkan dengan penurunan untuk
kemudian dimulai periode awal sistolik2,3.

Gambar 1. Gelombang tekanan darah arteri

2.1.6 Teknik pengukuran


1. Cuci tangan
2. Yakinkan kateter arteri tidak tertekuk

4
3. Atur posisi tidur yang nyaman untuk pasien
4. Lakukan kalibrasi
5. Membaca nilai yang tertera di layar monitor, pastikan morfologi
gelombang tidak underdamped atau overdamped
6. Mengkorelasi nilai yang tertera pada monitor dengan kondisi klinis pasien
7. Dokumentasikan nilai tekanan dan laporkan bila ada trend perubahan
hemodinamik

2.1.7 Komplikasi
1. Hematoma
2. Perdarahan
3. Gangguan neurovaskuler
4. Iskemik atau nekrosis pada bagian distal dari pemasangan kateter
5. Emboli
6. Insuffisiensi vaskuler
7. Infeksi

2.1.8 Troubleshooting monitoring tekanan arteri


Tidak selamanya gelombang yang tertangkap di monitor adalah
gelombang yang sempurna. Kelainan bentuk gelombang tekanan darah arteri
dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain letak insersi kateter arteri, cairan dan
sistem flushing bag. Beberapa bentuk gelombang yang sering dijumpai adalah2,3 :

Gambar 2. Kelainan bentuk gelombang tekanan darah arteri

5
Trouble shooting pada gelombang overdamped

6
Trouble shooting pada gelombang underdamped

2.2 Monitoring tekanan vena sentral


2.2.1 Definisi
Tekanan vena sentral merupakan tekanan pada vena besar thorak yang
menggambarkan aliran darah ke jantung. Tekanan vena sentral merefleksikan
tekanan darah di atrium kanan atau vena kava. Pada umumnya jika venous return
turun, CVP turun, dan jika venous return naik, CVP meningkat3,5.

2.2.2 Indikasi pemantauan tekanan vena sentral


Indikasi3,5
1. Mengetahui fungsi jantung
Pengukuran CVP secara langsung mengukur tekanan atrium kanan
(RA) dan tekanan end diastolic ventrikel kanan. Pada pasien dengan
susunan jantung dan paru normal, CVP juga berhubungan dengan tekanan
end diastolic ventrikel kiri.
2. Mengetahui fungsi ventrikel kanan
CVP biasanya berhubungan dengan tekanan (pengisisan) diastolik
akhir ventrikel kanan. Setelah ventrikel kanan terisi, maka katup tricuspid
terbuka yang memungkinkan komunikasi terbuka antara serambi dengan
bilik jantung. Apabila tekanan akhir diastolik sama dengan yang terjadi
pada gambaran tekanan ventrikel kanan, CVP dapat menggambarkan

7
hubungan antara volume intravascular, tonus vena, dan fungsi ventrikel
kiri.
3. Menentukan fungsi ventrikel kiri
Pada orang-orang yang tidak menderita gangguan jantung, CVP
berhubungan dengan tekanan diastolik akhir ventrikel kiri dan merupakan
sarana untuk mengevaluasi fungsi ventrikel
kiri.
4. Menentukan dan mengukur status volume intravascular.
Pengukuran CVP dapat digunakan untuk memeriksa dan mengatur
status volume intravaskuler karena tekanan pada vena besar thorak ini
berhubungan dengan volume venous return.
5. Memberikan cairan, obat obatan, nutrisi parenteral
Pemberian cairan hipertonik seperti KCL lebih dari 40 mEq/L
melalui vena perifer dapat menyebabkan iritasi vena, nyeri, dan phlebitis.
Hal ini disebabkan kecepatan aliran vena perifer relatif lambat dan sebagai
akibatnya penundaan pengenceran cairan IV. Akan tetapi, aliran darah
pada vena besar cepat dan mengencerkan segera cairan IV masuk ke
sirkulasi. Kateter CVP dapat digunakan untuk memberikan obat vasoaktif
maupun cairan elektrolit berkonsentrasi tinggi.
6. Kateter CVP dapat digunakan sebagai rute emergensi insersi pacemaker
sementara.

Kontraindikasi pemasangan kateter vena sentral3,5


1. infeksi pada tempat insersi,
2. renal cell tumor yang menyebar ke atrium kanan, atau
3. large tricuspid valve vegetatious (sangat jarang).

2.2.3 Persiapan alat untuk pemasangan kateter vena sentral


1. Sistem flushing : cairan NaCl 0,9% 500 ml yang sudah diberi heparin
500 UI (perbandingan cairan dengan heparin 1:1), masukkan dalam
pressure bag dan beri tekanan 300 mmHg.
2. Instrumen CVP set (pinset anatomi dan cirurghis, naufooder,duk
lubang, gunting), CVP set (1 – 5 lumen)

8
3. Monitoring kit, monitor
4. Manometer line
5. Tranduser
6. 3 way
7. Benang Mersilk 338, bisturi
8. Sarung tangan steril, gaun steril, tutup kepala, masker, kassa, betadhin,

alcohol, lidokain, spuit 5 cc, spuit 10 cc


Gambar 3. Kateter vena sentral

2.2.4 Penempatan kateter vena sentral


Penempatann kateter vena sentral melalui vena jugularis interna, vena
subklavia, vena jugularis eksternal, dan vena femoralis. Pada umumnya
pemantauan dilakukan melalui vena subklavia3.

9
Gambar 4. Lokasi kateter vena sentral

2.2.5 Interpretasi gelombang CVP


Gelombang atrial biasanya beramplitudo rendah sesuai dengan tekanan
rendah yang dihasilkan atrium. Rata rata RAP berkisar 0 sampai 10 mmHg, dan
LAP kira kira 3 sampai 15mmHg. Tekanan jantung kiri biasanya melampaui
tekanan jantung kanan karena terdapat perbedaan resistensi antara sirkulasi
sistemik dengan sirkulasi paru. Pengukuran secara langsung tekanan atrium kiri
biasanya hanya dilakukan di icu setelah operasi jantung3,5.
Gelombang CVP normal yang tertangkap pada monitor merupakan
refleksi dari setiap peristiwa kontraksi jantung. Kateter CVP menunjukkan variasi
tekanan yang terjadi selama siklus jantung dan ditransmisi sebagai bentuk
gelombang yang karakteristik. Pada gelombang CVP terdapat tiga gelombang
positif (a, c, dan v) yang berkaitan dengan tiga peristiwa dalam siklus mekanis
yang meningkatkan tekanan atrium dan dua gelombang (x dan y) yang
dihubungkan dengan berbagai fase yang berbeda dari siklus jantung dan sesuai
dengan gambaran EKG normal3,5.
1) Gelombang a : diakibatkan oleh peningkatan tekanan atrium pada saat
kontraksi atrium kanan. Dikorelasikan dengan gelombang P pada EKG
2) Gelombang c : timbul akibat penonjolan katup atrioventrikuler ke dalam
atrium pada awal kontraksi ventrikel iso volumetrik. Dikorelasikan dengan
akhir gelombang QRS segmen pada
EKG

10
3) Gelombang x descent : gelombang ini mungkin disebabkan gerakan ke
bawah ventrikel selama kontraksi sistolik. Terjadi sebelum timbulnya
gelombang T pada EKG
4) Gelombang v : gelombang v timbul akibat pengisisan atrium selama
injeksi ventrikel (ingat bahwa selama fase ini katup AV normal tetap
tertutup) digambarkan pada akhir gelombang T pada EKG
5) Gelombang y descendent : diakibatkan oleh terbukanya tricuspid valve
saat diastol disertai aliran darah masuk ke ventrikel kanan. Terjadi
sebelum gelombang P pada EKG.

Gambar 5. Bentuk normal gelombang tekanan vena sentral

2.2.6 Teknik pengukuran tekanan vena sentral


1. Cuci tangan
2. Yakinkan kateter tidak tertekuk/ jika ada cairan yang mengalir, stop
sementara
3. Atur posisi tidur yang nyaman bagi pasien (supine – semi fowler tinggi)
4. Lakukan kalibrasi
5. Perhatikan pada monitor morfologi gelombang hingga nilai tekanan
vena sentral keluar.
6. Perhatikan klinis, nilai tekanan sebelumnya, dan nilai yang ada saat itu
7. Dokumentasikan nilai tekanan vena sentral
8. Cuci tangan

11
2.2.7 Komplikasi
Adapun komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi adalah3,5:
1. Perdarahan
2. Erosi (pengikisan) vaskuler. Cirinya terjadi 1 sampai 7 hari setelah
insersi kateter. Cairan iv atau darah terakumulasi di mediastinum atau
rongga pleura
3. Aritmia ventrikel atau supraventrikel
4. Infeksi local atau sistemik. Biasanya kebanyakan kontaminasi
mikrooorganisme seperti s. avirus, s. epidermidis, gram negative –
positif basil, dan intrococcus.
5. Overload cairan.
6. Pneumothoraks
2.2.8 Trouble shooting monitoring tekanan CVP

12
2.3 Monitoring tekanan arteri pulmonal
2.3.1 Definisi
Pemantauan hemodinamik secara invasif melalui pembuluh vena dengan
menggunakan sistem tranduser tekanan yang digunakan untuk mengetahui
tekanan di arteri pulmonal2,3.
2.3.2 Jenis-jenis kateter arteri pulmonal
Berikut merupakan jenis-jenis kateter arteri pulmonal yang sering
digunakan:3

a. Double lumen kateter arteri pulmonal


Bentuk sederhana ukuran 5 Fr, terdiri dari dua lumen, satu untuk transmisi
tekanan dari ujung kateter dalam arteri pulmonal ke sistem tranduser tekanan,
yang lainnya untuk pengembangan balon.

b. Kateter termodilusi empat lumen


Yang paling sering digunakan untuk dewasa tersedia ukuran 5 dan 7 Fr
• Lumen distal :
Terletak pada ujung kateter : untuk mengukur PAP dan PWP, juga untuk
pengambilan sampel vena campuran. obat dan cairan hiperosmotik tidak
boleh diberikan melalui lumen ini karena dapat mengakibatkan reaksi
lokal vaskuler atau jaringan.
• Balon
Terletak kurang dari 1 cm dari ujung kateter. Inflasi balon dengan volume
balon 0.5 – 1 cc dan deflasi secara pasif.
• Lumen proximal (RA)
Terletak pada 30cm dari ujung kateter . Lumen ini di RA bila ujung arteri
terletak pada ujung arteri pulmonal dapat digunan untuk monitoring
tekanan RA, pemberian cairan intravena, atau elektrolit atau obat-obatan,
sampel darah RA dan menerima cairan injeksi pada pengukuran curah
jantung.
• Termistor
Terletak kira kira 4 – 6 cm dari ujung kateter. Merupakan kawat yang
sensitif terhadap suhu, termistor yang dihubungkan dengan kabel curah

13
jantung akan menentukan “spot”. Pengukuran curah jantung mengikuti
injeksi dari cairan indikator dingin oleh pengukuran besarnya suhu tubuh
yang berubah setiap saat.

c. Fiber Optik Termodilusi Kateter arteri Pulmonal


Seperti standar kateter termodilusi, hanya ada tambahan dua lumen fiber optik.
Berfungsi untuk memantau SVO2 secara terus menerus.

d. Pace maker termodilusi kateter arteri pulmonal


Kateter termodilusi ini memiliki lima elektroda : 2 elektrode intra ventrikuler yang
terletak 18.5 dan 19.5 cm dari ujung kateter dan 3 elektroda intra arterial yang
terletak 28,5 - 31 dan 33,5 cm dari ujung kateter, kateter ini dapat digunakan
untuk pacing atrial, ventricular dan atrio-ventrikular sequential. Indikasi untuk
kateter arteri pulmonal pacing ini meliputi: Blok jantung derajat 2 dan 3, Blok
bivasikuler atau trivasikular, tosixitas digitalis, bradikardia berat, ECG untuk
diagnosis aritmia komplek dan over drive takiaritmia.

Gambar 6. Kateter pulmonal dan lintasan pemasangan kateter pulmonal.

2.3.2 Indikasi pemasangan kateter arteri pulmonal


Indikasi3
1. Pasien dalam resiko tinggi: EF rendah, gagal jantung akut, hipertensi
pulmonal dan instabilitas hemodinamik.
2. Paska operasi bedah jantug secara konservatif.
Kontraindikasi3
1. Tidak ada kontraindikasi absolute

14
2. Kontraindikasi realtif misalnya dengan gangguan koagulasi, prostetik
jantung kanan, pace maker endokardial, penyakit vaskuler berat.

2.3.3 Lokasi kateter


1. Pemasangan kateter dilakukan dengan kanulasi secara perkutan melalui
vena subklavia, batas bila melalui vena subklavia kanan RA 10 cm, RV 20
cm, PA 35 cm, PWP 40 cm. Sedangkan melalui vena subklavia kiri, batas
RA 15 cm RV 25 cm, PA 45 cm, PWP 50 cm.5,6
2. Pemasangan melalui vena julgularis interna kanan batas RA 15 cm, RV
25 cm, PA 40 cm, PWP 45 cm. Bila lokasi pemasangn di vena julgularis
interna kiri batas RA 20 cm, RV 30 cm, PA 45 cm, PWP 50 cm.
3. Lokasi pemasangan kateter bisa melalui vena basilica atau vena
brachialis dilakukan secara cutdown.5,6

2.3.4 Interpretasi gelombang arteri pulmonal (PA)


Terdiri dari sistolik, diastolik dan nilai rata rata. Seiring usia, tekanan
arteri pulmonal meningkat. Usia lebih dari 60 tahun, nilai rata rata tekanan arteri
pulmonal (PA) = 16 •} 3 mmHg. Usia kurang dari 60 tahun nilai rata rata PA =
12 •} 2 mmHg. Sistolik PA menggambarkan aliran darah dari ventrikel kanan
(RV) ke PA dan selama diastole katup mitral terbuka diikuti darah yang dari PA
masuk ke LA dan LV. Gelombang tekanan arteri pulmonal digunakan untuk
diagnose berbagai kondisi jantung yang abnormal3,5.

15
Gambar 6. Perubahan gelombang pada saat pemasangan kateter arteri pulmonal

2.3.5 Teknik pengukuran tekanan arteri pulmonal


Prinsip yang harus diperhatikan saat melakukan pengukuran tekanan arteri
pulmonal yaitu Pengukuran dan pencatatan gelombang PA sebaiknya dilakukan
pada waktu akhir ekspirasi, dikarenakan pada waktu akhir ekspirasi tekanan mitral
polmunal dialveolar adalah 0. Sama dengan tekanan atsmosfer ( 750 mmHg ).
Pengukuran pada inspirasi dipengaruhi oleh venus return karena saat inspirasi
sebagai pompa. Membantu darah kembali masuk kejantung. Pada waktu ekspirasi,
darah lebih banyak dalam pembuluh dikarenakan tidak ada yang membantu
memompa darah ke jantung3,5.
Teknik pengukuran tekanan arteri pulmonal6 :
1. Cuci tangan
2. Atur posisi yang nyaman saat pengukuran. Posisi sampai dengan posisi
tidur lebih tinggi 600. Pengukuran pada posisi duduk tidak dianjurkan.
Pada posisi tidur miring 300 - 900 dapat dilakukan selama prinsip sudut
yang terbentuk dengan posisi miring tersebut diperhatikan.
3. Yakinkan bahwa kateter yang terpasang tidak ada yang terlipat, cairan
yang masuk, berada pada posisi yang tepat.
4. Lakukan kalibrasi

16
5. Perhatikan nilai yang ada pada monitor dan dikorelasikan dengan
morfologi gelombang yang tampak pada monitor dengan klinis pasien.
6. Dokumentasikan data yang ada
7. Cuci tangan

2.3.6 Komplikasi
Berikut merupakan komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi3,6:
1. Kateter arteri pulmonal yang terpasang merupakan wadah yang baik
untuk mikroorganisme. Prinsip close sistem dan perawatan area tusukan
serta steril harus diperhatikan.
2. Kerusakan pembuluh darah oleh kateter yang keras, dan pemasangan
yang lama
3. Aritmia : VES atau SVT, migrasi secara spontan
4. Perdarahan saat pemasangan kateter
5. Tromboemboli oleh bekuan darah pada sebagaian atau seluruh kateter
dan bermigrasi ke tempat lain

17
BAB III
SIMPULAN

Monitoring hemodinamik merupakan hal yang esensial dalam perawatan


pasien-pasien kritis. Monitoring hemodinamik dibagi menjadi monitoring secara
invasif dan non invasif. Variabel yang selalu dievaluasi dalam pemantauan
tekanan darah secara invasif meliputi tekanan darah arteri, tekanan vena sentral,
dan tekanan arteri pulmoner.
Prinsip pengukuran yang digunakan secara umum hampir sama yaitu
dengan memasukkan kateter ke lumen pembuluh darah dan disambungkan ke
system tranduser. Tekanan darah akan melaluli kateter dan akan dikonversi
menjadi sinyal elektrik oleh tranduser yang kemudian akan diteruskan ke
osciloskope dan diubah menjadi gelombang dan nilai digital yang tertera pada
layar monitor.
Tujuan dari monitoring hemodinamik adalah untuk mengidentifikasi
perubahan status hemodinamik secara dini sehingga dapat dilakukan intervensi
segera, untuk evaluasi segera respon pasien terhadap suatu intervensi seperti obat-
obatan dan dukungan mekanik, dan evaluasi efektifitas fungsi kardiovaskuler
seperti cardiac output dan index.

18 18
DAFTAR PUSTAKA

1. Ramsingh et al. Does it matter which hemodynamic monitoring system is


used?. Critical Care 2013, 17:208
2. Vincent et al. Update on hemodynamic monitoring - a consensus of 16. Critical
Care 2011, 15:229
3. Boldt J. Hemodynamic monitoring in the intensive care unit. Critical Care
2002, 6: 6:52-59
4. Scheer et al. Complications and risk factors of peripheral arterial catheters used
for haemodynamic monitoring in anaesthesia and intensive care medicine.
Critical Care 2010, 6:198-204
5. Maqder S. Invasive hemodynamic monitoring. Crit Care Clin 2015
Jan;31(1):67-87
6. Bridges EJ. Pulmonary artery pressure monitoring: when, how, and what else to
use. AACN Adv Crit Care. 2006 Jul-Sep;17(3):286-303.

19