Anda di halaman 1dari 23

SATUAN ACARA PENYULUHAN

STRUMA

PKRS (PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT)


RSUD Dr. SAIFUL ANWA
R MALANG
2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN(SAP)
STRUMA

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Struma (Gondok)

Sub Pokok Bahasan : Pencegahan pada penyakit gondok

Sasaran : Orang tua dan anak-anak

Waktu : 1 x 30 menit

Tanggal :

Tempat :

I. Latar Belakang
Struma (gondok) atau disebut juga dengan goiter dan penyakit graves
merupakan suatu kondisi yang dapat dideteksi melalui produksi hormon tiroid
yang berlebihan. Hormon tiroid akan mempengaruhi pertumbuhan,
perkembangan, dan berbagai proses-proses di dalam sel. Hormon tiroid yang
abnormal akan mempengaruhi berbagai fungsi pada organ tubuh seseorang
(Martha & Milvita, 2014). Struma (gondok) sering terdapat di daerah-daerah
yang air minumya kurang sekali mengandung iodium. Daerah-daerah di mana
banyak terdapat struma endemik yaitu di negara Eropa, pegunungan Alpen,
pegunungan Andes dan Himalaya yang mana iodinasi profilaksis tidak
menjangkau masyarakat. Di Indonesia, orang yang menderita struma (gondok)
banyak terdapat di daerah Minangkabau, Dairi, Jawa, Bali dan Sulawesi.
Berdasarakan penelitian Juan di Spanyol (2004) terhadap 634 orang yang
berusia 55-91 tahun, setelah diperiksa dan ditemukan 325 orang (51,3 %)
mengalami goiter multinodular non toxic, 151 orang (23,8 %) goiter
multinodular toxic, 27 orang (4,3%) Graves disease, dan 8 orang (1,3 %)
simple goiter.

II. Tujuan Intruksional Umum


Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapkan
keluarga yang tinggal di Desa Pal 5 mampu memahami tentang penyakit struma
(gondok).

III. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 30 menit, diharapakan
klien dapat:
1. Untuk menjelaskan pengertian struma (gondok).
2. Untuk menyebutkan penyebab struma (gondok).
3. Untuk menyebutkan jenis-jenis struma (gondok).
4. Untuk menjelaskan patofisiologi struma (gondok).
5. Untuk menjelaskan tanda dan gejala struma (gondok).
6. Untuk menjelaskan penatalaksanaan struma (gondok).
7. Untuk menjelaskan konsep pencegahan struma (gondok).

IV. Materi
Terlampir

V. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi
VI. Strategi Pembelajaran

Kegiatan Penceramah Kegiatan Responden Waktu Media

1. Mengucapkan salam Menjawab salam -


dan memperkenalkan
diri.
2. Menjelaskan tujuan
umum dan tujuan Mendengarkan penjelasan -
khusus penkes.
3. Melakukan kontrak
waktu dan memotivasi 5 menit
Pendahuluan klien untuk aktif
Memperhatikan penjelasan -
dalam diskusi.
4. Apersepsi tentang
struma (gondok)
kepada klien.

Mengungkapkan Power Point


pemahaman atau istilah (Terlampir)
lain yang klien ketahui

5. Memberikan Mendengarkan dan Power Point


Isi 20 menit
penjelasan tentang
definisi, penyebab, memperhatikan penjelasan (Terlampir)
klasifikasi,
patofisiologi, tanda
dan gejala,
penatalaksanaan, serta
konsep pencegahan
struma (gondok).
6. Memberikan
kesempatan kepada
klien untuk bertanya.
7. Berdiskusi dan tanya
jawab. Bertanya -

Aktif dalam diskusi -

8. Menyimpulkan hasil Memahami kesimpulan -


penkes struma
(gondok).
9. Memberikan
reinforcement positif Mendengarkan penjelasan -
dan memotivasi klien
Penutup 5 menit
untuk menjaga
kesehatan.
10. Menutup kegiatan
dan mengucapkan
salam.
Menjawab salam -
VII. Setting Tempat

Moderator

LCD/Proyektor

Penyuluh
Keterangan :

Peserta

Fasilitator

Observer
VIII. Pengorganisasian
1. Moderator
2. Penyuluh
3. Fasilitator
4. Observer

IX. Evaluasi
1. Jelaskan pengertian struma (gondok)?
2. Sebutkan penyebab-penyebab struma (gondok)?
3. Sebutkan klasifikasi struma (gondok)?
4. Jelaskan patofisiologi struma (gondok)?
5. Jelaskan tanda dan gejala struma (gondok)?
6. Jelaskan penatalaksanaan struma (gondok)?
7. Jelaskan konsep pencegahan struma (gondok)?
STRUMA (GONDOK)

A. DEFINISI
Struma (gondok) disebut juga goiter yang merupakan suatu pembengkakan
pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid
dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya.
Struma (gondok) adalah reaksi adaptasi terhadap kekurangan iodium yang
ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid. (Djoko Moelianto, 1993).

Dampak struma (gondok) terhadap tubuh terletak pada pembesaran


kelenjar tiroid yang dapat mempengaruhi kedudukan organ-organ di sekitarnya.
Di bagian posterior medial kelenjar tiroid terdapat trakea dan esofagus. Struma
(gondok) dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong trakea, esofagus dan
pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia. Hal tersebut akan
berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan
elektrolit. Bila pembesaran keluar maka akan memberi bentuk leher yang besar
dapat asimetris atau tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia
(kesulitan menelan).

B. ETIOLOGI
Berbagai faktor diidentifikasikan sebagai penyebab terjadinya hipertropi
kelenjar tiroid (struma) termasuk di dalamnya terjadi defisiensi iodium,
goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat mensekresi hormon
tiroid) seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi
secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan tumor
(neoplasma).

Struma dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau


hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT
yang rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak
adanya umpan balik negatif oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus.
Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang
rendah disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi
karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Struma
(gondok) yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan
rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.

Penyebab Goiter adalah:


1) Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibody yang menyerang komponen
spesifik pada jaringan tersebut)
Tiroiditis hasimoto’s juga disebut tiroiditis autoimun, terjadi akibat
adanya auto-antibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini
menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat
umpan balik negatif yang minimal, Penyebab tiroiditis otoimun tidak
diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap
penyakit ini. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis
Hashimoto. Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar
dan struma (gondok) terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah
kelenjar yang masih berfungsi.

Penyakit graves yaitu penyakit struma dengan adanya sistem


kekebalan tubuh menghasilkan satu protein, yang disebut tiroid stimulating
imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI merangsang kelenjar tiroid
untuk memperbesar memproduksi sebuah gondok.

2) Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap strumaisme baik


iodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan pembesaran
kelenjar tiroid.
3) Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.
4) Peningkatan Thyroid Stimulating Hormone (TSH) sebagai akibat dari
kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar tiroid
5) Gondok endemik adalah struma (gondok) akibat defisiensi iodium dalam
makanan. Struma (gondok) adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi
iodium terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan
hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap semua iodium yang tersisa dalam
darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi
karena minimnya umpan balik. Kekurangan iodium jangka panjang dalam
makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif
(hipotiroidisme goitrosa).
6) Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid berkurang dan
menyebabkan pembengkakan. Iodium sendiri dibutuhkan untuk membentuk
hormon tiroid yang nantinya akan diserap di usus dan disirkulasikan menuju
beberapa kelenjar. Kelenjar tersebut diantaranya:
 Choroid
 Ciliary body
 Kelenjar mammae
 Plasenta
 Kelenjar air ludah
 Mukosa lambung
 Intenstinum tenue
 Kelenjar gondok
Sebagian besar unsur iodium ini dimanfaatkan di kelenjar tiroid. Jika
kadar iodium di dalam kelenjar tiroid kurang, dipastikan seseorang akan
mengidap penyakit struma (gondok).

7) Beberapa disebabkan oleh tumor (baik ganas maupun jinak)


Multinodular gondok yaitu individu dengan gangguan ini memiliki
satu atau lebih nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan
pembesaran. Hal ini sering terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan
pemeriksaan fisik. Pasien dapat hadir dengan nodul tunggal yang besar
dengan nodul kecil di kelenjar, atau mungkin tampil sebagai nodul
beberapa ketika pertama kali terdeteksi.

Kanker tiroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun kurang


dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul bukan
merupakan resiko terhadap kanker. Karsinoma tiroid dapat terjadi, tetapi tidak
selalu, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. Namun, terapi untuk kanker
yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat
penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk menghancurkan jaringan
tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan struma (gondok). Pajanan
ke radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid.
Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan resiko pembentukan kanker tiroid
karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.

8) Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid
Tiroiditis merupakan peradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat
mengakibatkan pembesaran kelenjar tiroid.
9) Kehamilan
Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu gonadotropin dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid.

C. KLASIFIKASI
1. Berdasarkan Fisiologis
Berdasakan fisiologisnya struma (gondok) dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:

Eutiroidisme
Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang
disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal
sedangkan kelenjar hipofisis menghasilkan TSH dalam jumlah yang
meningkat. Goiter atau struma semacam ini biasanya tidak menimbulkan
gejala kecuali pembesaran pada leher yang jika terjadi secara berlebihan
dapat mengakibatkan kompresi trakea.

Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah kelainan struktural atau fungsional kelenjar tiroid
sehingga sintesis dari hormon tiroid menjadi berkurang. Kegagalan dari
kelenjar untuk mempertahankan kadar plasma yang cukup dari hormon.
Beberapa pasien hipotiroidisme mempunyai kelenjar yang mengalami
atrofi atau tidak mempunyai kelenjar tiroid akibat pembedahan/ablasi
radioisotop atau akibat destruksi oleh antibodi autoimun yang beredar
dalam sirkulasi.

Gejala hipotiroidisme adalah penambahan berat badan, sensitif terhadap


udara dingin, demensia, sulit berkonsentrasi, gerakan lamban, konstipasi,
kulit kasar, rambut rontok, mensturasi berlebihan, pendengaran terganggu
dan penurunan kemampuan bicara.

Hipertiroidisme
Dikenal juga sebagai tirotoksikosis atau penyakit Graves yang dapat
didefenisikan sebagai respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh
metabolik hormon tiroid yang berlebihan. Keadaan ini dapat timbul
spontan atau adanya sejenis antibodi dalam darah yang merangsang
kelenjar tiroid, sehingga tidak hanya produksi hormon yang berlebihan
tetapi ukuran kelenjar tiroid menjadi besar. Gejala hipertiroidisme berupa
berat badan menurun, nafsu makan meningkat, keringat berlebihan,
kelelahan, lebih suka udara dingin, sesak napas. Selain itu juga terdapat
gejala jantung berdebar-debar, tremor pada tungkai bagian atas, mata
melotot (eksoftalamus), diare, haid tidak teratur, rambut rontok, dan atrofi
otot.

2. Berdasarkan Klinis
Berdasarkan pemeriksaan klinis struma (gondok) dapat dibedakan menjadi
sebagai berikut:

Struma Toksik
Struma toksik dapat dibedakan atas dua yaitu struma diffusa toksik dan
struma nodusa toksik. Istilah diffusa dan nodusa lebih mengarah kepada
perubahan bentuk anatomi dimana struma diffusa toksik akan menyebar
luas ke jaringan lain. Jika tidak diberikan tindakan medis sementara
nodusa akan memperlihatkan benjolan yang secara klinik teraba satu atau
lebih benjolan (struma multinoduler toksik).

Struma diffusa toksik (tiroktosikosis) merupakan hipermetabolisme


karena jaringan tubuh dipengaruhi oleh hormon tiroid yang berlebihan
dalam darah. Penyebab tersering adalah penyakit Grave (gondok
eksoftalmik/exophtalmic goiter), bentuk tiroktosikosis yang paling
banyak ditemukan diantara hipertiroidisme lainnya. Perjalanan
penyakitnya tidak disadari oleh pasien meskipun telah diidap selama
berbulan-bulan. Antibodi yang berbentuk reseptor TSH beredar dalam
sirkulasi darah, mengaktifkan reseptor tersebut dan menyebabkan kelenjar
tiroid hiperaktif.

Meningkatnya kadar hormon tiroid cenderung menyebabkan


peningkatan pembentukan antibodi sedangkan turunnya konsentrasi
hormon tersebut sebagai hasil pengobatan penyakit ini cenderung untuk
menurunkan antibodi tetapi bukan mencegah pembentuknya. Apabila
gejala gejala hipertiroidisme bertambah berat dan mengancam jiwa
penderita maka akan terjadi krisis tirotoksik. Gejala klinik seperti adanya
rasa khawatir yang berat, mual, muntah, kulit dingin, pucat, sulit
berbicara dan menelan, koma dan dapat meninggal.

Struma Non Toksik


Struma non toksik sama halnya dengan struma toksik yang dibagi
menjadi struma diffusa non toksik dan struma nodusa non toksik. Struma
non toksik disebabkan oleh kekurangan iodium yang kronik. Struma ini
disebut sebagai simple goiter, struma endemik, atau goiter koloid yang
sering ditemukan di daerah yang air minumya kurang sekali mengandung
iodium dan goitrogen yang menghambat sintesa hormon oleh zat kimia.

Apabila dalam pemeriksaan kelenjar tiroid teraba suatu nodul, maka


pembesaran ini disebut struma nodusa. Struma nodusa tanpa disertai
tanda-tanda hipertiroidisme dan hipotiroidisme disebut struma nodusa non
toksik. Biasanya tiroid sudah mulai membesar pada usia muda dan
berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Kebanyakan
penderita tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipotiroidisme atau
hipertiroidisme, penderita datang berobat karena keluhan kosmetik atau
ketakutan akan keganasan. Namun sebagian pasien mengeluh adanya
gejala mekanis yaitu penekanan pada esofagus (disfagia) atau trakea
(sesak napas), biasanya tidak disertai rasa nyeri kecuali bila timbul
perdarahan di dalam nodul.
Struma non toksik disebut juga dengan gondok endemik, berat
ringannya endemisitas dinilai dari prevalensi dan ekskresi iodium urin.
Dalam keadaan seimbang maka iodium yang masuk ke dalam tubuh
hampir sama dengan yang diekskresi lewat urin. Kriteria daerah endemis
gondok yang dipakai Depkes RI adalah endemis ringan prevalensi gondok
di atas 10 %-< 20 %, endemik sedang 20 % - 29 % dan endemik berat di
atas 30 %

D. PATOFISIOLOGI
Struma (gondok) terjadi akibat kekurangan iodium yang dapat
menghambat pembentukan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid sehingga terjadi
pula penghambatan dalam pembentukan TSH oleh hipofisis anterior. Hal tersebut
memungkinkan hipofisis mensekresikan TSH dalam jumlah yang berlebihan.
TSH kemudian menyebabkan sel-sel tiroid mensekresikan tiroglobulin dalam
jumlah yang besar (kolid) ke dalam folikel, dan kelenjar tumbuh makin lama
makin bertambah besar. Akibat kekurangan iodium maka tidak terjadi
peningkatan pembentukan hormon T4 dan T3, ukuran folikel menjadi lebih besar
dan kelenjar tiroid dapat bertambah berat sekitar 300-500 gram. Selain itu struma
dapat disebabkan kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa
hormon tiroid, penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (goitrogenic agent),
proses peradangan atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves. Pembesaran
yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasma dan penghambatan sintesa hormon
tiroid oleh obat-obatan misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium,
gangguan metabolik misalnya struma kolid dan struma non toksik (struma
endemik).

E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala utama dari penyakit struma (gondok) yaitu sebagai berikut:

1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan
besar, di bagian depan leher tepat di bawah Adam’s apple.
2. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.
3. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, timbul suara mengi (karena
kompresi batang tenggorokan).
4. Kesulitan menelan (disfagia) karena kompresi dari esofagus.
5. Suara serak.
6. Distensi vena leher.
7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala
8. Kelainan fisik (leher tidak simetris)
Dapat juga terdapat gejala lain dari struma (gondok), diantaranya:

1. Peningkatan denyut nadi


2. Detak jantung meningkat
3. Struma (gondok), mual, dan muntah
4. Berkeringat tanpa latihan
5. Agitasi

F. PENATALAKSANAAN
1. Diet untuk pasien struma
 Makanan yang mengandung yodium seperti garam meja (garam dapur),
seafood, supplemen yang mengandung yodium.
 Makanan yang mengandung rendah gula, karena dapat mengontrol
produksi insulin dalam tubuh. Makan makanan seperti ice cream, permen
adalah makanan yang mengandung kadar gula tinggi, tapi tidak hanya itu,
masih ada makanan lain yang mengandung kadar gula tinggi seperti
wortel, jagung, roti, beras putih, kentang.
 Makanan yang rendah protein seperti seafood, daging yang berwarna
putih, dan telur.
 Makanan yang banyak mengandung serat seperti gandum, apel, kacang
merah, dan sayuran berdaun hijau.
 Vitamin dan mineral yaitu zink dan selenium.
Hindari makan kacang-kacangan, karena kacang-kacangan merupakan
makanan yang bersifat goitrogenik, tapi efek tersebut berkurang apabila
kacang tersebut sudah dimasak atau diolah.

2. Farmakologi untuk pasien struma: PTU, anti tiroid, tiroksin, garam


yodium
 Obat jenis asetaminopen
- Pemberian beta-bloker
Propanolol secara intravena dosis yang diberikan adalah 1 mg/menit
sampai beberapa mg hingga efek yang diinginkan tercapai atau 2-
4mg/4jam secara intravena atau 60-80mg/4mg secara oral atau melalui
NGT.
- Pemberian tionamide seperti methimazole 30mg/6jam atau PTU
200mg/4jam secara oral atau NGT untuk memblok sintesis hormon.
 Larutan lugol 10tetes/8jam secara oral
- Glucocorticoid 100mg/8jam secara intravena
 Obat antitiroid: golongan tionamid
Terdapat 2 kelas obat golongan tionamid, yaitu tiourasil dan imidazol.
Tiourasil dipasarkan dengan nama propiltiourasil (PTU) dan imidazol
dipasarkan dengan nama metimazol dan karbimazol. Obat golongan
tionamid lain yang baru beredar ialah tiamazol yang isinya sama dengan
metimazol.
- Mekanisme Kerja
Obat golongan tionamid mempunyai efek intra dan ekstratiroid.
Mekanisme aksi intratiroid yang utama ialah mencegah/mengurangi
biosintesis hormon tiroid T-3 dan T-4, dengan cara menghambat
oksidasi dan organifikasi iodium, menghambat coupling iodotirosin,
mengubah struktur molekul tiroglobulin dan menghambat sintesis
tiroglobulin. Sedangkan mekanisme aksi ekstratiroid yang utama ialah
menghambat konversi T-4 menjadi T-3 di jaringan perifer (hanya
PTU, tidak pada metimazol). Atas dasar kemampuan menghambat
konversi T-4 ke T-3 ini, PTU lebih dipilih dalam pengobatan krisis
tiroid yang memerlukan penurunan segera hormon tiroid di perifer.
Sedangkan kelebihan metimazol adalah efek penghambatan biosintesis
hormon lebih panjang dibanding PTU, sehingga dapat diberikan
sebagai dosis tunggal.
- Dosis
Besarnya dosis tergantung pada beratnya tampilan klinis, tetapi
umumnya dosis PTU dimulai dengan 3×100-200 mg/hari dan
metimazol/tiamazol dimulai dengan 20-40 mg/hari dosis terbagi untuk
3-6 minggu pertama. Setelah periode ini, dosis dapat diturunkan atau
dinaikkan sesuai respons klinis dan biokimia. Apabila respons
pengobatan baik, dosis dapat diturunkan sampai dosis terkecil PTU
50mg/hari dan metimazol/ tiamazol 5-10 mg/hari yang masih dapat
mempertahankan keadaan klinis eutiroid dan kadar T-4 bebas dalam
batas normal. Bila dengan dosis awal belum memberikan efek
perbaikan klinis dan biokimia, dosis dapat dinaikkan bertahap sampai
dosis maksimal, tentu dengan memperhatikan faktor-faktor penyebab
lainnya seperti ketaatan pasien minum obat, aktivitas fisis dan psikis.
- Efek Samping
Meskipun jarang terjadi, harus diwaspadai kemungkinan
timbulnya efek samping, yaitu agranulositosis (metimazol mempunyai
efek samping agranulositosis yang lebih kecil), gangguan fungsi hati,
lupus like syndrome, yang dapat terjadi dalam beberapa bulan pertama
pengobatan. Untuk mengantisipasi timbulnya efek samping tersebut,
sebelum memulai terapi perlu pemeriksaan laboratorium dasar
termasuk leukosit darah dan tes fungsi hati, dan diulang kembali pada
bulan-bulan pertama setelah terapi. Bila ditemukan efek samping,
penghentian penggunaan obat tersebut akan memperbaiki kembali
fungsi yang terganggu, dan selanjutnya dipilih modalitas pengobatan
yang lain seperti operasi. Bila timbul efek samping yang lebih ringan
seperti pruritus, dapat dicoba diganti dengan obat jenis yang lain,
misalnya dari PTU ke metimazol atau sebaliknya.

- Evaluasi
Evaluasi pengobatan perlu dilakukan secara teratur mengingat
penyakit Graves (struma) adalah penyakit autoimun yang tidak bisa
dipastikan kapan akan terjadi remisi. Evaluasi pengobatan paling tidak
dilakukan sekali per bulan untuk menilai perkembangan klinis dan
biokimia guna menentukan dosis obat selanjutnya. Dosis dinaikkan
dan diturunkan sesuai respons hingga dosis tertentu yang dapat
mencapai keadaan eutiroid. Kemudian dosis diturunkan perlahan
hingga dosis terkecil yang masih mampu mempertahankan keadaan
eutiroid, dan kemudian evaluasi dilakukan tiap 3 bulan hingga tercapai
remisi. Parameter biokimia yang digunakan adalah FT-4 (atau FT-3
bila terdapat T-3 toksikosis), karena hormon-hormon itulah yang
memberikan efek klinis, sementara kadar TSH akan tetap rendah,
kadang tetap tak terdeteksi, sampai beberapa bulan setelah keadaan
eutiroid tercapai. Sedangkan parameter klinis yang dievaluasi ialah
berat badan, nadi, tekanan darah, kelenjar tiroid, dan mata.
 Obat Golongan Penyekat Beta
Obat golongan penyekat beta, seperti propranolol hidroklorida,
sangat bermanfaat untuk mengendalikan manifestasi klinis tirotoksikosis
(hyperadrenergic state) seperti palpitasi, tremor, cemas, dan intoleransi
panas melalui blokadenya pada reseptor adrenergik. Di samping efek
antiadrenergik, obat penyekat beta ini juga bias sedikit menurunkan kadar
T-3 melalui penghambatannya terhadap konversi T-4 ke T-3. Dosis awal
propranolol umumnya berkisar 80 mg/hari.
Di samping propranolol, terdapat obat baru golongan penyekat beta
dengan durasi kerja lebih panjang, yaitu atenolol, metoprolol dan nadolol.
Dosis awal atenolol dan metoprolol 50 mg/hari dan nadolol 40 mg/hari
mempunyai efek serupa dengan propranolol.
Pada umumnya obat penyekat beta ditoleransi dengan baik.
Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain nausea, sakit kepala,
insomnia, fatigue, dan depresi, dan yang lebih jarang terjadi ialah
kemerahan, demam, agranulositosis, dan trombositopenia. Obat golongan
penyekat beta ini dikontraindikasikan pada pasien asma dan gagal
jantung, kecuali gagal jantung yang jelas disebabkan oleh fibrilasi atrium.
Obat ini juga dikontraindikasikan pada keadaan bradiaritmia, fenomena
Raynaud dan pada pasien yang sedang dalam terapi penghambat
monoamin oksidase.

G. PENCEGAHAN
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk
menghindari diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang
dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya struma adalah:

1. Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal merubah pola perilaku


makan dan memasyarakatkan pemakaian garam iodium.
2. Mengonsumsi makanan yang merupakan sumber iodium seperti ikan laut.
3. Mengonsumsi iodium dengan cara memberikan garam beriodium setelah
dimasak, tidak dianjurkan memberikan garam sebelum memasak
untuk menghindari hilangnya iodium dari makanan
4. Iodisasi air minum untuk wilayah tertentu dengan resiko tinggi. Cara ini
5. memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan garam karena
dapat terjangkau daerah luas dan terpencil. Iodisasi dilakukan dengan
iodida diberikan dalam saluran air dalam pipa, iodida yang diberikan
dalam air yang mengalir, dan penambahan iodida dalam sediaan air
minum.
6. Memberikan kapsul minyak beriodium (lipiodol) pada penduduk di
daerah endemik berat dan endemik sedang. Sasaran pemberiannya adalah
semua pria berusia 0-20 tahun dan wanita 0-35 tahun, termasuk wanita
hamil dan menyusui yang tinggal di daerah endemis berat dan endemis
sedang. Dosis pemberiannya bervariasi sesuai umur dan jenis kelamin.
7. Memberikan suntikan iodium dalam minyak (lipiodol 40%) diberikan 3
tahun sekali dengan dosis untuk dewasa dan anak-anak di atas 6
tahun 1 cc dan untuk anak kurang dari 6 tahun sebanyak 0,2-0,8 cc.
8. Hindari mengonsumsi secara berlebihan makanan-makanan
yang mengandung goitrogenik glikosida agent yang dapat menekan
sekresi hormon tiroid seperti ubi kayu, jagung, sayur lobak, kangkung, dan
kubis.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah upaya mendeteksi secara dini suatu
penyakit, mengupayakan orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat
progresifitas penyakit yang dilakukan melalui beberapa cara yaitu:

 Inspeksi
Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita
yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher
sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan
beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus
atau noduler kecil), gerakan ada saat pasien diminta untuk menelan dan
palpasi pada permukaan yang mengalami pembengkakan.

 Palpasi
Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk
duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan
meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk
penderita.

 Tes Fungsi Hormon


Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara
tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar
total tiroksin dan triiodotiroin serum diukur dengan radioligand assay.
Tiroksin bebas serum mengukur kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara
metabolik aktif. Kadar TSH plasma dapat diukur dengan assay
radioimunometrik.

Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator fungsi


tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya kadar akan
berada di bawah normal pada pasien peningkatan autoimun (strumaisme).
Uji ini dapat digunakan pada awal penilaian pasien yang diduga memiliki
penyakit tiroid. Tes ambilan iodium radioaktif (RAI) digunakan untuk
mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah
iodida.

 Foto Rontgen Leher


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat struma yang telah
menekan atau menyumbat trakea (jalan napas).

 Ultrasonografi (USG)
Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok
akan tampak di layar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan
kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu
pemeriksaan leher. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG
antara lain kista, adenoma, dan kemungkinan karsinoma.

 Sidikan (Scan) tiroid


Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama

technetium-99m dan iodium125/iodium131 ke dalam pembuluh darah.


Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu kamera canggih tertentu
selama beberapa menit. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah
teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama adalah fungsi bagian-bagian
tiroid.

 Biopsi Aspirasi Jarum Halus


Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu
keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak menyebabkan
bahaya penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan ini dapat
memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. Selain
itu teknik biopsi kurang benar dan pembuatan preparat yang kurang baik
atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.

3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mengembalikan fungsi mental,
fisik dan sosial penderita setelah proses penyakitnya dihentikan. Upaya yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

 Setelah pengobatan diperlukan kontrol teratur/berkala untuk memastikan


dan mendeteksi adanya kekambuhan atau penyebaran.
 Menekan munculnya komplikasi dan kecacatan.
 Melakukan rehabilitasi dengan membuat penderita lebih percaya diri,
fisik segar dan bugar serta keluarga dan masyarakat dapat menerima
kehadirannya melalui melakukan fisioterapi yaitu dengan rehabilitasi
fisik, psikoterapi yaitu dengan rehabilitasi kejiwaan, sosial terapi yaitu
dengan rehabilitasi sosial dan rehabilitasi aesthesis yaitu yang
berhubungan dengan kecantikan.
II. PENGANTAR
Bidang Studi : Keperawatan Medikal
Topik : Diet Dan Nutrisi
Sasaran : Pasien dan Keluarga
Hari/tanggal : Jumat, Desember 2018
Jam : 10.00 WIB
Waktu : 30 menit
Tempat : Ruang penyuluhan

III.TUJUAN UMUM
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan diharapkan keluarga dapat memahami
dan mengerti tentang diet dan nutrisi

IV. TUJUAN KHUSUS


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan anggota keluarga dapat menjelaskan
kembali :
a. Pasien dan keluarga mengetahui dan mampu memehami pengertian diet dan
nutrisi
b. Pasien dan keluarga mengetahui karakteristik status nutrisi
c. Pasien dan keluarga mengetahui Jenis-jenis nutrisi
d. Pasien keluarga mengetahuai penyebab yang terjadi jika kelebihan dan
kekurangan nutrisi

V. MATERI
Terlampir

VI. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

VII. MEDIA
1. Materi SAP
2. Power point

VIII. SETTING TEMPAT


Keterangan :

: Penyuluh : Fasilitator

: Moderator : Observer

: Peserta

IX. Pengorganisasian
1. MODERATOR :
Tugas :
a. Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam.
b. Memperkenalkan diri (Institusi)
c. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
d. Menyebutkan materi yang akan diberikan
e. Memimpin jalannya penyuluhan dan menjelaskan waktu penyuluhan
f. Menulis pertanyaan yang diajukan peserta penyuluhan.
g. Menjadi penengah komunikasi antara peserta dan pemberi materi.
h. Mengatur waktu kegiatan penyuluhan
2. PENYULUH :
Tugas :
a. Mampu memehami pengertian diet dan nutrisi
b. Menjelaskan materi mengenai diet dan nutrisi
c. Menjawab pertanyaan peserta
3. FASILITATOR :
Tugas :
a. Menyiapkan tempat dan media sebelum memulai penyuluhan
b. Mengatur teknik acara sebelum dimulainya penyuluhan
c. Memotivasi keluarga klien agar berpartisipasi dalam penyuluhan
d. Memotivasi masyarakat untuk mengajukan pertanyaan saat moderator
memberikan kesempatan bertanya
e. Membantu pembicara menjawab pertanyaan dari peserta
f. Membagikan leaflet kepada peserta di akhir penyuluhan
4. OBSERVASI :
Tugas :
a. Mengobservasi jalannya proses kegiatan
b. Mencatat perilaku verbal dan non verbal peserta selama kegiatan
penyuluhan berlangsung
5. DOKUMENTASI :
a. Dokumentasi kegiatan penyuluhan.

X. KEGIATAN PENYULUHAN

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


1 5 menit Pembukaan : a) menjawab salam
a. Memberi salam b) Mendengarkan dan
b. Menjelaskan tujuan penyuluhan memperhatikan
2 15 Pelaksanaan: Menjelaskan materi Menyimak dan
menit penyuluhan secara berurutan dan teratur mendengarkan
Materi :
a. pengertian diet dan nutrisi
b. karakteristik status nutrisi
c. Jenis-jenis nutrisi
d. penyebab yang terjadi jika kelebihan
dan kekurangan nutrisi
3 5 menit Evaluasi :
Meminta kepada keluarga untuk Bertanya dan menjawab
menjelaskan kembali atau menyebutkan pertanyaan

a. pengertian diet dan nutrisi


b. karakteristik status nutrisi
c. Jenis-jenis nutrisi
d. penyebab yang terjadi jika kelebihan
dan kekurangan nutrisi
4 5 menit Penutup : Menjawab salam
Mengucapkan terima kasih dan
mengucapkan salam
DAFTAR PUSTAKA

Daucgh, P. (2002). At Glance Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Erlanga Medicine.

Djokomoeljanto, R. (2006). Buku Ajar Penyakit Dalam: Kelenjar Tiroid,


Hipotiroidisme, dan Hipertiroidisme, Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI.
Johan, S. M. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Nodul tiroid, Jilid III Edisi IV.
Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Penyakit Dalam FKUI.

Martha, R.D., & Milvita, D. (2014). Penentuan Biodistribusi Tc99m Perteknetat


Menggunakan Teknik Roi pada Pasien Hipertiroid (Struma Difusa). Jurnal
Fisika Unand, 3(1): 37-40.

Sjamsuhidayat, R. (1998). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Tambayong. (2000). Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.