Anda di halaman 1dari 11

Linata

Minggu, 13 Maret 2011

PENERAPAN ETIKA MORAL DALAM KEPERAWATAN

MAKALAH

PENERAPAN ETIKA MORAL DALAM KEPERAWATAN

Disusun oleh:

Jidream Martred Bell 09100035

Kharis Anwaril Hudha 09100036

Kristanto Agung Setiawan 09100037

Linata Wahyuni 09100038

M Fatchurrohman Fanani 09100039

M Lukman Arif 09100040

Mar’atus Sholiha 09100041

Mistriyani 09100042

Murjoko 09100043

Muslichunuri 09100044

Natalia Kristiana Panggabean 09100045


PRODI D III KEPERAWATAN

KATA PENGANTAR

Keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang menjadi bagian integral dari
system pelayanan kesehatan. Dalam menjalankan asuhan keperawatan, perawat selalu mengadakan
interaksi dengan pasien, keluarga, tim kesehatan dan lingkungannya, dimana asuhan-asuhan tersebut
diberikan.

Dalam melaksanakan interaksi dengan klien, maupun dengan tim kesehatan lain perawat mempunyai
peluang untuk berbuat baik atau buruk. Bisa juga timbul konflik selama interaksi terjadi. Perbedaan nilai
maupun berbagai permasalahan etis yang menuntut perawat untuk dapat mengambil keputusan secara
etis, yang tidak melanggar kesepakatan professional yang tertuang dalam standar praktik maupun stndar
etika profesi.

Makalah ini disusun bukan semata-mata untuk memenuhi penugasan mata kuliah Etika Keperawatan,
tetapi juga kami harapkan dapat membantu para mahasiswa keperawatan maupun sedmua pihak yang
terkait dalam memahami dan menerapkan etik-etik keperawatan.

Kritik dan saran membangun sangat kami harapkan karena kami merasa bahwa makalah ini masih sangat
jauh dari kesempurnaan. Akhir kata, rasa terima kasih dan beribu-ribu maaf kami ucapkan kepada
pembaca. Semoga bermanfaat.

Penyusun

Daftar isi
BAB I

PENDAHULUAN

Peningkatan pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dalam segala bidang serta
meningkatnya pengetahuan masyarakat berpengaruh pula terhadap meningkatnya tuntutan masyarakat
akan mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan. Hal ini merupakan tantangan bagi
profesi keperawatan dalam mengembangkan profesionalisme selama memberi pelayanan yang
berkualitas. Kualitas pelayanan yang tinggi memerlukan landasan komitmen yang kuat dengan basis pada
etik dan moral yang tinggi.

Sikap etis profesional yang kokoh dari setiap perawat akan tercermin dalam setiap langkahnya, termasuk
penampilan diri serta keputusan yang diambil dalam merespon situasi yang muncul. Oleh karena itu
pemahaman yang mendalam tentang etika dan moral serta penerapannya menjadi bagian yang sangat
penting dan mendasar dalam memberikan asuhan keperawatan dimana nilai-nilai pasien selalu menjadi
pertimbangan dan dihormati.

BAB II

KONSEP MORAL DALAM KEPERAWATAN

Etika keperawatan mempunyai berbagai dasar penting seperti advokasi, akuntabilitas, loyalitas,
kepedulian, rasa haru, dan menghormati martabat manusia. Di antara pernyataan ini yang lazaim
termaktub dalam standar praktik keperawatan dan telah menjadi bahan kajian dalam waktu lama adalah
advokasi, akuntabilitas, dan loyalitas (Fry, 1991; lih. Creasia, 1991).

1. Advokasi

Pada dasarnya peran perawat sebagai advokat pasien adalah memberi informasi dan memberi bantuan
kepada pasien atas keputusan apa pun yang dibuat pasien. Memberi informasi berarti menyediakan
penjelasan atau informasi sesuai dengan kebutuhan pasien. Memberi bantuan mengandung dua peran,
yaitu peran aksi dan peran nonaksi. Dalam menjalankan peran aksi, perawat memberikan keyakinan
kepada pasien bahwa mereka mempunyai hak dan tanggung jawab dalam menentukan pilihan atau
keputusan sendiri dan tidak tertekan dengan pengaruh orang lain. Sedangkan peran nonaksi
mengandung arti pihak advokat seharusnya menahan diri untuk tidak mempengaruhi keputusan pasien
(kohnke, 1989; lih. Megan, 1991).

2. Akuntabilitas

Mengandung arti dapat mempertanggungjawabkan suatu tindakan yang dilakukan dan dapat menerima
konsekuensi dari tindakan tersebut (Kozier, 1991).

Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua komponen utama, yakni tanggung jawab
dan tanggung gugat. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan,
kode etik dan undang-undang dapat dibenarkan atau absah.

3. Loyalitas

Merupakan suatu konsep yang pelbagai segi, meliputi simpati, peduli, dan hubungan timbal balik
terhadap pihak yang secara professional berhubungan dengan perawat. Ini berarti ada pertimbangan
tentang nilai dan tujuan orang lain sebagai nilai dan tujuan sendiri. Hubungan professional
dipertahankan dengan cara menyusun tujuan bersama, menepati janji, menentukan masalah dan
prioritas, serta mengupayakan pencapaian kepuasan bersama (Jameton, 1984; Fry, lih. Creasia, 1991).
Loyalitas dapat mengancam asuhan keperawatan, bila terhadap anggota profesi atau teman sejawat,
loyalitas lebih penting daripada kualitas asuhan keperawatan.

Untuk mencapai kualitas asuhan keperawatan yang tinggi dan hubungan dengan berbagai pihak yang
harmonis, maka aspek loyalitas harus dipertahankan oleh setiap perawat baik loyalitas kepada pasien,
teman sejawat, rumah sakit maupun profesi. Untuk mewujudkan ini, AR. Tabbner (1981; lih. Creasia,
1991) mengajukan berbagai argumen:

a) Masalah pasien tidak boleh didiskusikan dengan pasien lain dan perawat harus bijaksana bila
informasi dari pasien harus didiskusikan secara professional.

b) Perawat harus menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat.

c) Perawat harus menghargai dan memberi bantuan kepada teman sejawat.

d) Perawat harus loyal terhadap profesi dengan berperilaku secara tepat saat bertugas.
BAB III

PELAKSANAAN ETIK DAN MORAL DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN

Aplikasi dalam praktek klinis bagi perawat diperlukan untuk menempatkan nilai-nilai dan perilaku
kesehatan pada posisinya. Perawat bisa menjadi sangat frustrasi bila membimbing atau memberikan
konsultasi kepada pasien yang mempunyai nilai-nilai dan perilaku kesehatan yang sangat rendah. Hal ini
disebabkan karena pasen kurang memperhatikan status kesehatannya. Pertama-tama yang dilakukan
oleh perawat adalah berusaha membantu pasen untuk mengidentifikasi nilai-nilai dasar kehidupannya
sendiri.

Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan kasus sebagai berikut:

Seorang pengusaha yang sangat sukses dan mempunyai akses di luar dan dalam negeri sehingga dia
menjadi sibuk sekali dalam mengelola usahanya. Akibat kesibukannya dia sering lupa makan sehingga
terjadi perdarahan lambung yang menyebabkan dia perlu dirawat di rumah sakit. Selain itu dia juga
perokok berat sebelumnya. Ketika kondisinya telah mulai pulih perawat berusaha mengadakan
pendekatan untuk mempersiapkannya untuk pulang. Namun perawat menjadi kecewa, karena
pembicaraan akhirnya mengarah pada keberhasilan serta kesuksesannya dalam bisnis. Kendati demikian
upaya tersebut harus selalu dilakukan dan kali ini perawat menyusun list pertanyaan dan mengajukannya
kepada pasien tersebut. Pertanyaannya, “Apakah tiga hal yang paling penting dalam kehidupan bapak
dari daftar dibawah ini ?” Pasien diminta untuk memilih atas pertanyaan berikut.

1. Bersenang-senang dalam kesendirian (berpikir, mendengarkan musik atau membaca).

2. Meluangkan waktu bersama keluarga.

3. Melakukan aktifitas seperti: mendaki gunung, main bola atau berenang.

4. Menonton televisi.

5. Membantu dengan sukarela untuk kepentingan orang lain.


6. Menggunakan waktunya untuk bekerja.

Langkah berikutnya adalah mengajaknya untuk mendiskusikan prioritas yang dibuat berdasarkan nilai-
nilai yang dianutnya, dengan mengikuti klarifikasi nilai-nilai sebagai berikut:

1. Memilih: Setelah menggali aspek-aspek berdampak terhadap kesehatan pasen, misalnya stress yang
berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan dan mengganggu aktifitasnya, maka sarankan kepadanya
memilih secara bebas nilai-nilai kunci yang dianutnya. Bila dia memilih masalah kesehatannya, maka hal
ini menunjukkan tanda positif.

2. Penghargaan: Berikan dukungan untuk memperkuat keinginan pasien dan promosikan nilai-nilai
tersebut dan bila memungkinkan dapatkan dukungan dari keluarganya. Contoh: istri dan anak anda pasti
akan merasa senang bila anda memutuskan untuk berhenti merokok serta mengurangi kegiatan bisnis
anda, karena dia sangat menghargai kesehatan anda.

3. Tindakan: Berikan bantuan kepada pasen untuk merencanakan kebiasaan baru yang konsisten setelah
memahami nilai-nilai pilihannya. Minta kepada pasen untuk memikirkan suatu cara bagaimana nilai
tersebut dapat masuk dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang perlu diucapkan perawat/bidan
kepada pasennya: “Bila anda pulang, anda akan menemukan cara kehidupan yang berbeda, dan anda
menyatakan ingin mulai menggunakan waktu demi kesehatan anda”.

BAB IV

PERILAKU ETIS PROFESIONAL


Perawat memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan yang berkualitas berdasarkan
standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai
dari pendidikan perawat, dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau
teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat mencoba dan mencontoh perilaku
pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan masalah etika. Dalam hal ini, perawat
seringkali menggunakan dua pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan
berdasarkan asuhan keperawatan.

Pendekatan Berdasarkan Prinsip

Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika untuk menawarkan bimbingan untuk
tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994) menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika
biomedik antara lain;

(1) Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas otonomi
setiap orang.

(2) Menghindarkan berbuat suatu kesalahan.

(3) Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala konsekuensinya.

(4) Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi.

Dilema etik muncul ketika ketaatan terhadap prinsip menimbulkan penyebab konflik dalam bertindak.
Contoh; seorang ibu yang memerlukan biaya untuk pengobatan progresif bagi bayinya yang lahir tanpa
otak dan secara medis dinyatakan tidak akan pernah menikmati kehidupan bahagia yang paling
sederhana sekalipun. Di sini terlihat adanya kebutuhan untuk tetap menghargai otonomi si ibu akan
pilihan pengobatan bayinya, tetapi dilain pihak masyarakat berpendapat akan lebih adil bila pengobatan
diberikan kepada bayi yang masih memungkinkan mempunyai harapan hidup yang besar. Hal ini tentu
sangat mengecewakan karena tidak ada satu metoda pun yang mudah dan aman untuk menetapkan
prinsip-prinsip mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan.
Umumnya, pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik, hasilnya terkadang lebih membingungkan.
Hal ini dapat mengurangi perhatian perawat terhadap sesuatu yang penting dalam etika.

Pendekatan Berdasarkan Asuhan

Ketidakpuasan yang timbul dalam pendekatan berdasarkan prinsip dalam bioetik mengarahkan banyak
perawat untuk memandang “care” atau asuhan sebagai fondasi dan kewajiban moral. Hubungan perawat
dengan pasien merupakan pusat pendekatan berdasarkan asuhan, dimana memberikan langsung
perhatian khusus
kepada pasien, sebagaimana dilakukan sepanjang kehidupannya sebagai perawat. Perspektif asuhan
memberikan arah dengan cara bagaimana perawat dapat membagi waktu untuk dapat duduk bersama
dengan pasien atau sejawat, merupakan suatu kewajaran yang dapat membahagiakan bila diterapkan
berdasarkan etika. Karakteristik perspektif dari asuhan meliputi : (1) Berpusat pada hubungan
interpersonal dalam asuhan;

(2) Meningkatkan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat klien atau pasien sebagai
manusia;

(3) Mau mendengarkan dan mengolah saran-saran dari orang lain sebagai dasar yang mengarah pada
tanggung-jawab profesional;

(4) Mengingat kembali arti tanggung-jawab moral yang meliputi kebajikan seperti: kebaikan, kepedulian,
empati, perasaan kasih-sayang, dan menerima kenyataan. (Taylor,1993).

Asuhan juga memiliki tradisi memberikan komitmen utamanya terhadap pasien dan belakangan ini
mengklaim bahwa advokasi terhadap pasien merupakan salah satu peran yang sudah dilegimitasi
sebagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan. Advokasi adalah memberikan saran dalam
upaya melindungi dan mendukung hak-hak pasien. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban moral bagi
perawat, dalam menemukan kepastian tentang dua sistem pendekatan etika yang dilakukan yaitu
pendekatan berdasarkan prinsip dan asuhan. Perawat yang memiliki komitmen tinggi dalam
mempraktekkan keperawatan profesional dan tradisi tersebut perlu mengingat hal-hal sbb:

(1) Pastikan bahwa loyalitas staf atau kolega agar tetap memegang teguh komitmen utamanya terhadap
pasien;

(2) berikan prioritas utama terhadap pasien dan masyarakat pada umumnya;

(3) Kepedulian mengevaluasi terhadap kemungkinan adanya klaim otonomi dalam kesembuhan pasien.
Bila menghargai otonomi, perawat atau bidan harus memberikan informasi yang akurat, menghormati
dan mendukung hak pasien dalam mengambil keputusan.
BAB V

KESIMPULAN

Dalam upaya mendorong profesi keperawatan agar dapat diterima dan dihargai oleh pasien,
masyarakat atau profesi lain, maka mereka harus memanfaatkan nilai-nilai keperawatan dalam
menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran profesionalnya.
Dengan demikian perawat yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan asuhan keperawatan
secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan
advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasien, penghormatan
terhadap hak-hak pasien, akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Priharjo, Robert, Pengantar Etika Keperawatan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta: 1995

www.google.com

linata di 06.58

Berbagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beranda

Lihat versi web

Mengenai Saya

Foto saya

linata

blitar, jatim, Indonesia

Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.