Anda di halaman 1dari 5

PROGRAM PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA RASIONAL

RSIA CAHAYA BUNDA CIREBON


PROGRAM
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA RASIONAL

I. PENDAHULUAN
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk
Indonesia. Ditinjau dari asal atau didapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas
(Community acquired infection) atau berasal dari lingkungan rumah sakit (Hospital
acquired infection) yang sebelumnya dikenal dengan istilah infeksi nosokomial.
Dengan berkembangnya sistem pelayanan kesehatan khususnya dalam bidang perawatan
pasien.

Tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang dimaksudkan untuk tujuan
perawatan atau penyembuhan pasien, bila dilakukan tidak sesuai prosedur berpotensi
untuk menularkan penyakit (Hospital acquired infection).

Rumah sakit meneyelenggarakan pengguanaan antibiotik secara rasional yang bertujuan


melindungi pasien dalam mencegah penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan
pedoman pemberian antibiotika rasional dan tidak terindikasi sesuai ketentuan
perundangan yang berlaku agar tidak terjadi ancaman global bagi kesehatan terutama
resitensi bakteri terhadap antibiotik . selain berdampak pada morbiditas dan motralitas,
juga memberi dampak negative terhadap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi.

II. LATAR BELAKANG


Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting,
khususnya di Negara berkembang. salah satu obat andalan untuk mengatasi masalah
tersebut adalah anti mikroba antara lain anti bakteri/antibiotik, anti jamur, antivirus,
antiprotozoa. Antibiotik merupakan obat paling banyak digunakan pada infeksi yang
disebabkan oleh bakteri. berbagai studi menemukan bahwa sekitar 40-62 % antibiotik
digunakan secara tidak tepat antara lain untuk penyakit-penyakit yang sebenarnya tidak
memerlukan antibiotik. pada penelitian kualitan penggunaaan antibiotik di berbagai
bagian rumah sakit di temukan 30% sampai dengan 80% tidak di dasarkan pada indikasi
(Hadi,2009).

Untuk dapat melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi khususnya infeksi rumah
sakit, perlu memiliki pengetahuan mengenai konsep dasar penyakit infeksi. salah satunya
adalah pemakaian antibiotika yang tidak bijaksana menyebabkan timbulnya kuman
yang resisten terhadap berbagai antimikroba.

Intensitas penggunaan antibiotik yang relative tinggi menimbulkan berbagai permasalahan


dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama resitensi bakteri terhadap

46
antibiotik . selain bedampak pada morbiditas dan motralitas, juga memberi dampak
negative terhdap ekonomi dan sosial yang sangat tinggi. pada awalnya resistensi di
tinggkat rumah sakit dan lambat laun bisa jadi di lingkungan masyarakat.

III. TUJUAN
TUJUAN UMUM :
Mencegah terjadinya resistensi kuman atau mikroba terhadap antibiotik tertentu

TUJUAN KHUSUS :
1. Memantau ketepatan penggunaan Antibiotik sesuai dengan uji kultur dan resistensi
test
2. Terlaksananya penggunaan antibotik yang rasional sesuai dengan formularium Farmasi.

IV. KEGIATAN POKOK


1. Melakukan Uji Kultur dan resistensi test terhadap antibiotika setiap 6 bulan sekali
2. Menyampaikan pola resistensi kuman kepada dokter penanggung jawab pasien

V. RINCIAN KEGIATAN
1. Melakukan Uji Kultur dan resistensi test terhadap antibiotika setiap 6 bulan sekali
dengan:
a. Mengidentifikasi pasien yang mendapatkan Antibiotic lebih dari 2 jenis.
b. Melakukan pengambilan sampel dari pasien, kordinasi dengan unit terkait
c. Melakukan tes kultur dan resistensi Antibiotik terhadapa kuman
d. Melakukan analisa hasil kultur penggunaan Antibiotik
2. Menyampaikan pola resistensi kuman kepada dokter penanggung jawab pasien dan
mengusulkan rekomendasi tentang penggunaan Antibiotik berdasarkan hasil kultur
dan resistensi

VI. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


1. Melakukan pencatatan pasien yang menggunakan jenis Antibiotik lebih dari 2
2. Koordinasi dengan unit kerja untuk proses pengambilan sampel dari pasien
3. Melakukan tes kultur dan resistensi Antibiotik terhadap kuman
4. Melakukan analisa hasil kultur penggunaan Antibiotik
5. Menyampaikan pola resistensi kuman kepada dokter penanggung jawab pasien dan
6. Mengusulkan rekomendasi tentang penggunaan Antibiotik berdasarkan hasil kultur
dan resistensi

7. SASARAN
1. Terlaksananya pengujian resistensi antibiotik
2. Terinformasikannya pola resistensi kuman kepada dokter penanggung jawab pasien.
47
8. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

WAKTU

NO NAMA KEGIATAN Oktober 2017 – September 2018

10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Melakukan pencatatan
pasien yang menggunakan
jenis Anti biotic lebih dari 2.
2 Koordinasi dengan unit kerja
untuk proses pengambilan
sampel dari pasien
3 Melakukan tes kultur dan
resistensi Antibiotik
terhadapa kuman
4 Melakukan analisa hasil
kultur penggunaan
Antibiotik
5 Menyampaikan hasil kultur
dan resistensi dan
mengusulkan rekomendasi
tentang penggunaan
Antibiotik
6 Mengusulkan rekomendasi
tentang penggunaan
Antibiotik berdasarkan hasil
kultur dan resistensi

1. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


1. Evaluasi
Evaluasi atas program penggunaan antibiotika yang rasional, dilaksanakan setiap
semester dan tahunan, terkait :
a. Input : Materi praktik menyuntik yang aman, Metode penggunaan
antibiotika yang rasional, personal, biaya dan waktu
b. Proses : Perencanaan, Pengorganisasian, Pengawasan, Implementasi
c. Output : Hasil – hasil sosialisasi penggunaan antibiotika yang rasional,
evaluasi dan laporan

48
2. Pelaporan
Pelaporan dilaksanakan setelah kegiatan penggunaan antibiotika yang rasional,
kemudian diolah menjadi suatu informasi dan disampaikan kepada Kepala Direktur
Rumah Sakit per 6 bulan untuk dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan dan
upaya tindak lanjut serta penyusunan rencana kegiatan selanjutnya.

2. PELAPORAN
Demikianlah program penggunaan antibiotik secara rasional di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Cahaya Bunda Cirebon inii dibuat. Mudah-mudahan dapat terlaksana dengan baik dan
sangat bermanfaat bagi seluruh karyawan dan lingkungan internal RS Ibu dan Anak Cahaya
Bunda Cirebon.

Cirebon, 1 September 2017

Mengetahui
Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Cahaya
Bunda Cirebon

Dr. H. Erwin Didi Purnama, MMRS


Direktur

49