Anda di halaman 1dari 32

USULAN KEGIATAN

TUGAS AKHIR

PERENCANAAN EKOWISATA BURUNG


KABUPATEN XXXX PROVINSI XXXX

LATISHA RACHMANIA

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017

USULAN KEGIATAN
USULAN KEGIATAN
TUGAS AKHIR

PERENCANAAN EKOWISATA BURUNG


KABUPATEN XXXX PROVINSI XXXX

LATISHA RACHMANIA

Usulan Kegiatan Tugas Akhir Ekowisata


Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya
pada Program Keahlian Ekowisata
Program Diploma Institut Pertanian Bogor

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
Judul Laporan : Perencanaan Ekowisata Burung di Kabupaten
XXXX Provinsi XXXX
Nama Mahasiswa : Latisha Rachmania
NIM : J3B114021
Program Keahlian : Ekowisata

Diketahui Oleh,

Bedi Mulyana, SHut, MPar, MoT.


Koordinator Program Keahlian

Disetujui Oleh,

Insan Kurnia, S.Hut, M.Si


Dosen Pembimbing

Tanggal Pengesahan:
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat Rahmat
dan Hidayahnya penulis dapat menyelesaikan usulan kerja dengan tema Perencanaan
Ekowisata Burung di Perkebunan Kelapa Sawit PT XXXX Kecamatan XXXX
Kabupaten XXXX.

Bogor, ------ 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL

Halaman

DAFTAR GAMBAR
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Burung merupakan anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata)


yang memiliki bulu dan sayap, secara taksonomi hewan ini termasuk kedalam kelas
aves. Diperkirakan terdapat ± 8.800- 10.200 spesies burung di seluruh dunia.
(Sulistiadi, 2010). Lembaga pelestarian burung yaitu Burung Indonesia juga mencatat
keragaman jenis burung di Indonesia sampai tahun 2014 meningkat menjadi 1666
jenis. Status burung di Indonesia paling terancam punah di dunia, perhimpunan
pelestarian burung liar Indonesia (burung Indonesia) mencatat, 122 jenis burung di
Indonesia terancam punah dan tergolong langka IUCN (International Union for
Conservation of Nature). Rinciannya adalah 18 jenis berstatus kritis, 31 jenis genting,
sementara 73 jenis tergolong rentan. Indonesia memiliki 1.594 jenis dari 10.000 jenis
burung di dunia, Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai pemilik burung urutan
ke-5 terbanyak di dunia.
Burung merupakan salah satu satwa yang mudah ditemukan pada setiap tipe
habitat. Burung mempunyai peran penting dalam ekosistem dan merupakan salah satu
kekayaan satwa yang hidup di Indonesia. Jenis burung sangat beranekaragam,
masing-masing jenis memiliki nilai keindahan tersendiri. Burung memerlukan
beberapa syarat untuk keberlangsungan hidupnya antara lain, kondisi habitat yang
sesuai dan aman dari segala macam gangguan.
Burung merupakan kekayaan hayati yang perlu dilestarikan. Keanekaragaman
jenis burung dapat mencerminkan tingginya keanekaragaman hayati pada suatu
tempat. Artinya burung dapat dijadikan sebagai indikator kualitas hutan. Berbagai
jenis burung dapat dijumpai pada berbagai tipe habitat. (Ayat, 2012). Burung
memiliki peran penting dalam ekosistem, bahkan, ada kepercayaan bahwa jenis-jenis
burung tertentu dapat menjadi indikator terhadap adanya kejadian alam. Secara teori,
keanekaragaman jenis burung dapat mencerminkan tingginya keanekaragaman hayati
kehidupan liar lainnya (Peterson, 1980).
Kelapa sawit adalah tumbuhan industri/perkebunan yang berguna sebagai
penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (Lina Arliana Nur
Kadim, 2014: 49). Perkebunan kelapa sawit dapat menghasilkan keuntungan besar
sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversikan menjadi perkebunan
kelapa sawit. Indonesia menjadi salah satu penghasil Kelapa Sawit terbesar di di
dunia setelah Malaysia. Penyebaran kelapa sawit di Indonesia berada di pulau-pulau
besar di Indonesia, salah satunya Kalimantan.
Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan unggulan dan utama di
Indonesia. Tanaman yang produk utamanya terdiri dari minyak sawit (CPO) dan
minyak inti sawit (KPO) ini memiliki ekonomis tinggi dan menjadi salah satu
penyumbang devisa negara terbesar dibandingkan dengan komoditas perkebunanya
lainnya. Minyak kelapa sawit juga menghasilkan berbagai produk turunan yang kaya
akan manfaat sehingga dapat dimanfaatkan di berbagai industri. Salah satunya adalah
dari segi pariwisata.
Perkebunanan kelapa sawit merupakan suatu habitat baru bagi burung selain hutan
alam dan hutan tanaman. Habitat ini memiliki potensi wisata yaitu ekowisata burung.
Ekowisata burung sendiri merupakan kegiatan ekowisata yang memanfaatkan burung
sebagai daya tarik utama. Kemudahan dalam menemukan suatu jenis burung dan
keragaman jenis burung yang terdapat di kelapa sawit menjadikan ekowisata burung
sebagai wisata baru yang menarik untuk wisatawan.
B. Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapang dan Tugas Akhir yaitu:

1. Mengidentifikasi keanekaragaman jenis burung.


2. Mengidentifikasi dan mengetahui karakteristik, persepsi dan kesiapan
masyarakat terhadap kegiatan perencanaan ekowisata burung
3. Mengidentifikasi dan mengetahui karakteristik, persepsi dan kebiajakan
pengelola terhadap kegiatan perencanaan ekowisata burung
4. Mengetahui karakteristik, persepsi dan motivasi wisatawan
5. Merancang program ekowisata alam berdasarkan keanekaragaman jenis burung.
6. Merancang media promosi dalam bentuk xxx

C. Manfaat
Kegiatan Praktik Kerja Lapang dan Tugas Akhir yang dilakukan diharapkan
memiliki manfaat bagi beberapa pihak antara lain bagi pengelola, masyarakat dan
wisatawan. Manfaat kegiatan Praktik Kerja Lapang dan Tugas Akhir yaitu sebagai
berikut:
1. Masyarakat mendapatkan informasi mengenai potensi ekowisata satwa
burung.
2. Meningkatkan aktivitas masyarakat lokal untuk berperan aktif dalam
perencanaan ekowisata satwa burung sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dari segi ekonomi dan non ekonomi.
3. Memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman di bidang perencanaan
ekowisata satwa burung.
4. Membangun kesadaran bersama akan pentingnya menjaga dan melestarikan
lingkungan untuk kehidupan satwa burung.

D. Kerangka Berpikir

Perencanaan ekowisata burung di XXX didasarkan pada keanekaragaman


jenis burung yang terdapat di kawasan tersebut, sehingga dapat dijadikan sebagai
obyek dan daya tarik wisata. Berdasarkan hal tersebut, terdapat permasalahan
yang muncul dari penyusununan perencanaan ekowisata burung dan permasalahan
ini pun digunakan untuk memunculkan variable permasalahan seperti sumberdaya
wisata, masyarakat, wisatawan dan pengelola.
Selanjutnya yaitu inventarisasi dengan cara observasi langsung. Observasi
dilakukan untuk mengetahui jenis, jumlah, waktu penemuan, lokasi penemuan,
aktivitas dan penyebaran vertikal dan horizontal burung. Metode yang digunakan
dalam observasi langsung yaitu metode Index point of abundance (IPA). Hasil
inventarisasi berupa keanekaragaman jenis burung di kawasan tersebut bertujuan
untuk mengetaui jalur-jalur yang berpotensi dijadikan untuk melihat aktivitas
burung yang nantinya dapat dijadikan sebagai jalur ekowisata.
Inventerisasi dan identifikasi variabel pengelola dan masyarakat menggunakan
kuesioner dengan metode close ended yang disebarkan dengan metode simple
random sampling. Variabel pengelola diukur melalui tiga parameter ukur
penilaian yang terdiri dari karakteristik, persepsi, dan kesiapan pengelola.
Variabel masyarakat diukur melalui tiga parameter ukur penilaian terdiri dari
karakteristik, kesiapan, dan persepsi masyarakat akan obyek ekowisata burung.
Parameter terpilih yang telah dikaji kemudian diidentifikasi dan diinventarisasi
dengan menggunakan metode observasi lapang yang bersifat partisipatif,
wawancara menggunakan teknik simple random sampling yaitu teknik pemilihan
responden dengan menggunakan koin dan menanyakan kesediaannya untuk
diwawancarai. Metode pengambilan sampel tersebut sangat efektif dilakukan
dalam penentuan responden. Hal tersebut dikarenakan simple random sampling
cukup sederhana. Pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara
acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.
Data hasil pengamantan keanekaragaman burung akan dinilai menggunakan
indikator penilaian yaitu keunikan, kelangkaan, keindahan, sesionalitas,
sensitifitas, aksesibilitas, dan fungsi sosial Avenzora (2008). Penilaian dalam
keanekaragaman burung yaitu menggunakan indikator angka satu sampai tujuh
yang menyatakan sangat tidak setuju sampai sangat setuju. Penilaian ditentukan
untuk mengetahui dan menentukan daya tarik unggulan. Penentuan sumberdaya
wisata tersebut digunakan untuk pembuatan suatu progam ekowisata yang
didasarkan pada sumberdaya unggulan.
Hasil penilaian sintesa yang telah diperoleh, akan di analisis secara
menyeluruh menjadi sebuah kajian rancangan ekowisata burung. Data yang
terkumpul akan menghasilkan sebuah Output/luaran berupa desain media promosi
XXX.
Kebutuhan rekreasi

Mengapa ekowisata burung

Perkebunan Kelapa sawit

Variable Essensial

Sumberdaya Wisata : Wisatawan : Pengelola :


Masyarakat :
1. Habitat Burung 1. Karakteristik 1. Karakteristik
1. Karakteristik
2. Keanekaragaman 2. Persepsi 2. Persepsi
2. Persepsi
jenis burung 3. Motivasi 3. Kesiapan
3. Etno satwa 3. Kesiapan 4. Preferensi

Inventarisasi dan Identifikasi


Umpan Balik

Observasi :
Wawancara: Kuesioner :
1. Index point of
Panduan Wawancara 1. Close Ended
abundance
2. Simple Random
(IPA)
Sampling
2. McKinnon

Sumber Daya Wisata Burung

Penilaian Uji Kelayakan Nilai Potensi Wisata Burung


(Avenzora 2008, 270-271)

Analisis Data

Rancangan Program Ekowisata Burung

Output atau Luaran

XXX

XXX XXX
Semua Kalangan

Gambar 1. Kerangka Berpikir


II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Perencanaan

Upaya hal yang akan terjadi di masa yang akan dating merupakan pengertian dari
perencanaan (Marpaung & Bahar, 2002). Perencanaan memiliki eleme-elemen yang
sangat prediktabel. Hal itu terjadi dikarenakan upaya itu dilaksanakan untuk mencoba
menganalisa hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Perencanaan secara
bentuk umum dapat dipraktikan dalam perencanaan pembangunan ekonomi,
perencanaan pemakaian fisik tanah, perencanaan prasarana dan pengangkutan jasa,
perencanaan fasilitas social, perencanaan konservasi, serta perencanaan usaha kota
dan wilayah. Kekuarangan perencanaan dapat berpengaruh dalam sebuah organisasi.
Ada beberapa pengaruh yang saling terkait meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Pengaruh Fisik
a. Sekitar fisik mengalami kerusakan atau perubahan tetap
b. Sejarah maupun kebudayaan mengalami kerusakan atau perubahan
tetap
c. Sekitar fisik mengalami kekumuhan dan keterbatasan
d. Sekitar fisik mendapatkan polusi
e. Sekitar fisik mengalami masalah-masalah lalu lintas
2. Pengaruh Manusia
a. Para turis dikecewakan karena penerimaan yang kurang dalam
pelayanan dan atraksi-atraksi lokal
b. Para turis merasa ketidak sesuaian terhadap bagian tempat tinggal
c. Budaya kehilangan identitasnya
d. Pendidikan para pekerja kepariwisataan dalam hal keterampilan dan
penerimaan tamu semakin berkurang
e. Daerah tujuan wisata kekurangan kesadaran akan keuntungan
pariwisata
3. Pengaruh Organisasi
a. Suatu pendekatan pemasaran dan pengembangan pariwisata semakin
lemah
b. Kerjasama antara operator semakin berkurang
c. Keterkaitan pariwisata tidak selaras dengan gambarannya
d. Pejabat daerah kurang memberikan dorongan
e. Ketertarikan masyarakat tidak ada tindakan atas isu-isu penting,
masalah-masalah, dan kesempatan umum.
4. Pengaruh Lain
a. Ketidakselarasan dimulai dari isyarat-isyarat
b. Kurang mencukupi dari atraksi dan event-event wisata
c. Dimulai dari pendeknya jangka tinggal dan musim yang tinggi
d. Kualitas mulai ditekankan dari fasilitas dan pelayanan

B. Wisata, Pariwisata, Ekowisata

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang
dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya
tarik wisat (Musanef 1995). Selain itu kegiatan wisata adalah berpindah tempat ke
tempat lainnya sekama 24 jam tidak mencari nafkah atau pekerjaan dan hanya
menghabiskan waktu luas.
Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu,
yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lainnya meninggalkan tempatnya
semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha mencari
nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan
pertamsya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
(Marpaung dan Bahar, 2000).
Ekowisata adalah bentuk baru dari perjalanan bertanggungjawab ke area alami
dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood 1999).
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekaran koservasi,
apabila ekowisata pengelolaan alam dan budaya masyarakat yang menjamin
kelestarian dan kesejahteraan mendatang.

C. Wisatawan

Damanik dan Weber (2006) menyatakan bahwa wisatawan adalah konsumen dan
pengguna produk dan layanan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
kepariwisataan disebutkan bahwa masyarakat adalah orang yang melakukan wisata.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka berdampak langsung
pada kebutuhan wisata, yang dalam hal ini permintaan wisatawan.
Wisatawan merupakan unsur utama dalam pariwisata hal ini dikarenkan
wisatawan adalah konsumen dari kativitas wisata yang dutawarkan (Wardiyanta
2006). Unsur yang lain adalah obyek wisata dan sarana serta prasarana pariwisata.
Terlaksananya kegiatan pariwisata tergantung pada adanya interaksi antara wisatawan
dan obyek wisata, yang di dukung dengan berbagai sarana daan prasarana pariwisata.
Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi. Sebuah obyek wisata akan dikatakan
menarik jika banyak dikunjungi wisatawan. Sebaik apa pun suatu obyek wisata, jika
tidak ada yang mengunjungi, tidak akan dikatakan menarik perhatian wisatawan.
Pelaku perjalanan akan disebut wisatawan ketika mereka melakukan kegiatan wisata
atau kegiatan yang bersifat rekreatif untuk menikmati suatu obyek wisata.
Wisatawan merupakan konsumen atau pengguna dari setiap produk wisata baik
barang ataupun jasa, dalam kegiatan wisata setiap wisatawan memiliki beragam
motif, minat ekspektasi, karakteristik sosial, ekonomi dan budaya (Avenzora 2008).
Wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan untuk berlibur, berobat,
berbisnis, berolahraga serta menuntut ilmu dan mengunjungi tempat-tempat yang
indah atau sebuah negara tertentu. Organisasi Wisata Dunia (WTO), menyebut
wisatawan sebagai pelancong yang melakukan perjalanan pendek. Menurut organisasi
ini, wisatawan adalah orang yang melakukan perjalanan ke sebuah daerah atau negara
asing dan menginap minimal 24 jam atau maksimal enam bulan di tempat tersebut.
Syarat-syarat menjadi seorang wisatawan yaitu:
a) Memiliki tanda bukti diri, disebut sebagai passport yang dikeluarkan oleh
pejabat Negara dimana wisatawan tersebut berdomisili atau menetap
b) Memiliki ijin meninggalkan negaranya dan bepergian ke luar negeri atau
disebut sebagai ijin keluar
c) Memiliki surat ijin untuk memasuki negara tujuan wisata dan tinggal di negra
tersebut. Surat ini disebut sebagai visayang dikeluarkan oleh pejabat kedutaan
atau kantor perwakilan negara yang akan dikunjungi
d) Memiliki surat keterangan bebas dari penyakit tertentu yang ditunjukan
dengan kartu bukti kesehatan yang disebut sebagai kartu kuning. Ketentuan ini
bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada penduduk dari bahaya
penularan penyakit yang dibawa wisatawan
e) Tiba di wilayah lintas batas dua Negara, wisatawan tersebut akan diepriksa leh
petugas bea cukai di pelabuhan udara, pelabuhan laut dan pos-pos penjagaan
perbatasan, baik di Negara asalnya maupun di Negara tujuannya

D. Motivasi dan Persepsi

Mulyana (2007) mendefinisikan persepsi merupakan inti komunikasi yang


melakukan penyandian dalam proses komunikasi. Persepsi harus akurat jika tidak
maka komunikasi tidak terjalin dengan efektif. Persepsi menentukan dalam memilih
suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Adanya kesamaan presepsi antar
individu makan semakin mudah dalam berkomunikasi sehingga membuat kelompok
budaya dan kelompok identitas dengan segala konsekuensinya.
Persepsi manusia terbagi menjadi dua yaitu persepsi terhadap lingkungan dan
persepsi terhadap manusia. Persepsi terhadap manusia lebih sulit dan kompleks atau
disebut persepsi social. Persepsi terhadap lingkungan fisik berbeda dengan persepsi
terhadap lingkungan social. Perbedaan tersebut mencakup hal-hal berikut:
1. Persepsi terhadap obyek melalui lambing-lambang fsik sedangkan persepsi
terhadap orang melalui lambing-lambang verbal dan non verbal
2. Persepsi terhadap obyek menanggapi sifat-sifat luar namun manusia
menanggapi sifat-sifat dari luar dan dalam
3. Obyek tidak bereaksi sedangkan manusia bereaksi
Pitana dan Gayatri (2005) menyebutkan bahwa motivasi merupakan pemicu dari
proses perjalanan wisata walaupun motivasi itu sering tidak disadari oleh wisatawan
itu sendiri. Motivasi perjalanan seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Secara intrinsik motivasi terbentuk karena adanya kebutuhan atau
keinginan dari orang itu sendiri. Konsep Maslow tentang hierarki kebutuhan yang
dimulai dari kebutuhan fisiologis, kebutuhan kemanan, kebutuhan social, kebutuhan
prestis dan kebutuhan aktualisasi diri. Motivasi eksternal adalah motivasi yang
terbentuknya dipengaruhi oleh keluarga, norma social dan situasi kerja.

E. Masyarakat

Undang-undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan


Pulau-pulau Kecil menyebutkan bahwa masyarakat adalah yang terdiri dari
masyarakat adat dan masyarakat local yang bermukim di wilayah pesisisr dan pulau-
pulau kecil. Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat pesisir yang secara turun
temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal-usul
leluhur, adanya yang kuat dengan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta
adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, social dan hukum.
Masyarakat local adalah kelompok masyarakat yang menjalankan tata kehidupan
sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang
berlaku umum tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada sumber daya pesisir dan
pulau pulau kecil tertentu. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya pemberian
fasilitas, dorongan atau bantuan kepada masyarakat pesisir agar mampu menentukan
pilihan yan terbaik dalam memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
secara lestari.
F. Sumber Daya Wisata

Sumber daya wisata merupakan segala sesuatu yang memmiliki potensi baik
sumberdaya wisata alami maupunnon alami. Sumberdaya wisata memiliki peranan
yang penting karena dapat mendukung kegiatan wisata baik secara langsung maupun
tidak langsung. Sumberdaya wisata dapat dikatagorikan menjadi beberapa jenis yaitu
aktraksi wisata, fasilitas, sarana dan prasarana wisata, dan sumberdaya alam baik
gejala alam maupun flora dan fauna.
Sumber daya manusia juga termasuk dalam atribut pariwisata yang memiliki
komponen vital dalam pembangunan pariwisata. Sumber daya manusia merupakan
faktor penentuan eksistensi pariwisata yang termasuk dalam industri jasa, sikap, dan
kemampuan pegawai yang akan membawa dampak pada kenyamanan, kepuasan, dan
kesan pelayanan pada kegiatan wisata yang dilakukan oleh para pengunjung atau
wisatawan. Selain itu juga terdapat sumber daya budaya yang tidak hanya mencakup
pada seni dan sastra, melainkan mencakup semua hal yang berhubungan dengan
keseluruhan cara hidup yang dipraktikkan manusia pada kehidupan sehari-hari.

G. Keanekaragaman Jenis Burung

Keanekaragaman merupakan sesuatu yang berbeda antara jenis yang satu dengan
yang lainnya. Keragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyak jenis, tetapi
juga kemerataan suatu individu tiap jenis (Odum, 1993)
Keragaman merupakan sifat komunitas yang menunjukkan tingkat
keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya. Menurut Krebs (1978)
keragaman (diversity) yaitu banyaknya jenis yang biasanya diberi istilah kekayaan
jenis (species richnes). Keragaman jenis tidak hanya berarti kekayaan atau banyaknya
jenis, tetapi juga kemerataan (evenness) dari kelimpahan individu tiap jenis.
Krebs (1978) menyebutkan ada enam faktor yang saling berkaitan yang
menentukan naik turunnya keragaman jenis suatu komunitas yaitu: waktu,
heterogenitas ruang, persaingan, pemangsaan, kestabilan lingkungan dan
produktivitas. Selain ke enam faktor tersebut, bahwa keanekaragaman jenis tidak
hanya ditentukan oleh banyaknya jenis, tetapi ditentukan juga oleh banyaknya
individu dari setiap jenis. Keanekaragaman jenis burung berbeda dari suatu tempat ke
tempat lainnya, hal ini tergantung pada kondisi lingkungan dan faktor yang
mempengaruhinya. Distribusi vertikal dari dedaunan atau stratifikasi tajuk merupakan
faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis burung. Keanekaragaman
merupakan khas bagi suatu komunitas yang berhubungan dengan banyaknya jenis dan
jumlah individu tiap jenis sebagai komponen penyusun komunitas. Keanekaragaman
jenis menyangkut dua hal yaitu kekayaan dan sebaran keseragaman.
Indeks keanekaragaman merupakan tinggi rendahnya suatu nilai yang
menunjukkan tinggi rendahnya keanekaragaman dan kemantapan komunitas.
Komunitas yang memiliki nilai keanekaragaman semakin tinggi maka hubungan antar
komponen dalam komunitas akan semakin kompleks. Nilai indeks keanekaragaman di
Indonesia dapat dikatakan tinggi jika nilainya lebih dari 3,5 (Seorianegara 1996).
Keanekaragaman burung dapat didefinisikan sebagai jumlah jenis burung beserta
kelimpahannya masing-masing di suatu area. Sukmantoro et al. (2007) membuat
daftar burung Indonesia dan telah mencatat 1598 jenis burung untuk wilayah
Indonesia. Dari jumlah tersebut, 372 jenis (23,28 %) diantaranya adalah jenis burung
endemic dan 149 jenis (9,32 %) adalah burung migran.

H. Burung

Burung merupakan salah satu satwa yang mudah dijumpai di setiap tempat dan
mempunyai posisi yang penting sebagai salah satu kekayaan alam di Indonesia. Jenis
burung sangat beranekaragam dan masing-masing jenis memiliki nilai keindahan
tersendiri. Untuk hidup burung memerlukan syarat-syarat tertentu, antara lain kondisi
habitat yang cocok dan aman dari segala macam gangguan (Wisnubudi, 2009).
Burung menurut Mackinon (1993) merupakan salah satu diantara lima kelas hewan
bertulang belakang, burung berdarah panas dan berkembang biak dengan bertelur.
Burung berkerabat dengan reptil yang berevolusi mulai 135 juta tahun yang lalu. Sisik
burung berubah menjadi bulu. Tubuhnya tertutup bulu dan memiliki bermacam-
macam adaptasi untuk terbang. Menurut Suparman (2003) Burung sudah ada di dunia
ini kurang lebih sejak 150 juta tahun yang lalu. Karekteristik utama dari burung
adalah: berdarah panas seperti mamalia, bertelur seperti reptilian dan amphibian,
sebagain besar memiliki kemampuan untuk terbang seperti serangga dan kelelawar,
adapula yang memiliki kemampuan untuk berenang seperti ikan, tetapi ciri yang
paling utama dari burung adalah bulu. Bulu pada burung sangat kuat dan ringan,
membuat aerodinamis sehingga dapat terbang. Bulu tersebut juga tersusun sangat rapi
membungkus tubuhnya menjadi bagian yang tahan air.
Burung mengembangkan pola hidup yang membuat mereka dapat hidup pada
semua habitat dimana terdapat makanan, tempat yang aman untuk beristrirahat dan
membesarkan anaknya. Beberapa jenis burung hidup pada daerah gunung yang sangat
tinggi, ada pula yang hidup di daerah lautan yang luas. Burung dapat terbang lebih
dari 7000 meter diatas permukaan laut, dan menyelam sampai keladaman kurang
lebih 300 meter di bawah permukaan laut, adapula burung yang hidup di daerah
kutub.
Burung diterangkan oleh Fachrul (2007) merupakan plasma nutfah yang
memiliki keunikan dan nilai yang tinggi baik nilai ekologi, ilmu pengetahuan, wisata
dan budaya. Penelitian tentang burung merupakan hal yang sangat penting karena
burung bersifat dinamis dan mampu menjadi indikator perubahan lingkungan yang
terjadi pada tempat burung tersebut berada. Hal ini dikarenakan burung merupakan
vertebrata yang mudah terlihat secara umum, mudah diidentifikasi, persebaran yang
luas, namun dalam pengelolaan dan konservasi cenderung tidak banyak dilakukan di
wilayah yang kelimpahan burungnya tinggi termasuk Indonesia.
Senada dengan penjelasan tersebut, Fachrul juga menjalaskan tentang burung
yang juga merupakan salah satu penghuni ruang yang cukup baik, dilihat dari
keberadaan dan penyebarannya secara horizontal dapat diamati melalui tipe habitat
yang dihuni oleh burung. Selain itu, keberadaan dan penyebaran burung juga dapat
dilihat secara vertikal dari stratifikasi profil hutan yang dimanfaatkan. Keberadaan
jenis burung dapat dibedakan menurut perbedaan strata, yaitu semak, strata antara
semak, pohon dan strata tajuk. Setiap jenis strata memiliki kemampuan untuk
mendukung kehidupan jenis-jenis burung. Penyebaran vertikal terbagi dalam
kelompok burung penghuni atas tajuk dan kelompok burung pemakan buah.

I. Burung Sebagai Sumber Daya Wisata

Burung memiliki posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa Indonesia,
masing-masing memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Selain itu burung
merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki nilai tinggi, baik ditinjau dari
segi ekologis, ilmu pengetahuan maupun seni. Burung merupakan salah satu satwa
yang dijumpai di setiap tempat sehingga keberadaannya sangat sulit dipisahkan
dengan manusia. Keanekaragaman burung berbeda dari suatu wilayah dengan wilayah
yang lainnya. Indonesia memiliki 1.598 jenis burung, jumlah tersebut menunjukkan
bahwa Indonesia merupakan negara nomor empat di dunia terkaya akan jumlah
spesies burungnya setelah Columbia, Peru dan Brazil (Sukmantoro dkk, 2007).
MacKinnon (1992) menulis bahwa di Jawa dan Bali memiliki avifauna yang kaya,
terdapat hampir 500 jenis avifauna yang mewakili setengah dari suku burung di dunia.
Sumberdaya wisata menurut Avenzora (2008) adalah segala sesuatu yang
memiliki elemen-elemen ruang tertentu dan batasan-batasan tertentu yang dapat
memberikan manfaat dan kepuasan bagi wisatawan yang berkunjung ke suatu
kawasan. Pitana (2005) menyebutkan bahwa sumberdaya dalam konteks pariwisata
diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki potensi untuk dikembangkan guna
membantu dan mendukung pariwisata baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sumberdaya tersebut dapat dikategorikan menjadi fasilitas, sarana dan prasarana
wisata serta sumberdaya wisata buatan dan sumberdaya alam ataupuin wisata budaya.
Menurut Hakim (2004) burung dapat dengan mudah diamati saat pagi, siang dan sore
hari dengan lokasi di tengah-tengah padang rumput atau di atas pohon.

J. Etno-Ornitologi

Etno-Ornitologi menurut Silviyanti Et al. (2016) merupakan suatu pemanfaatan


jenis burung yang menunjukkan adanya interaksi hubungan masyarakat pada
lingkungan sekitarnya, terutama saat menggunakan sumber alam yang berada di
sekelilingnya. Studi ilmiah yang yang mempelajari tentang etnis, suku, atau
masyarakat lokal serta budaya yang ada pada masyarakat disebut etnologi yang
berasal dari kata etnis yang berarti suku dan logos yang berarti ilmu, sedangkan
biologi yaitu studi tentang hidup dan organisme hidup. Etnobiologi diartikan sebagai
studi ilmiah pada dinamika hubungan diantara masyarakat, biota, dan lingkungan dari
dulu dan hingga saat ini. Selain itu etnobiologi merupakan studi tentang bagaimana
interaksi masyarakat tertentu (etnis) pada seluruh aspek lingkungan alami. Studi
ilmiah yang mengkaji interaksi yang terjadi antara burung dan masyarakat tertentu
(etnis) di masa lampau dan masa kini disebut etnoornitologi, yang merupakan
subdisiplin ilmu dari etnobiologi.
Etno-ornitologi secara terminologi dapat dipahami sebagai hubungan antara
burung yang terkait dengan etnik (kelompok masyarakat) diberbagai belahan bumi,
dan masyarakat umumnya. Etno-ornitologi dimanfaatkan sebagai salah satu alat untuk
mendokumentasikan pengetahuan masyarakat tradisional, yang telah menggunakan
berbagai jasa jenis burung untuk menunjang kehidupannya, misalnya sebagai sumber
pangan, pengobatan tradisional, ritual adat, kerajinan, keagamaan, serta kehidupan
sosial.
Burung-burung di Indonesia memiliki aneka ragam fungsi bagi kehiduapan sosial
ekonomi dan budaya masyarakat. Fungsi tersebut terwujud dalam cerita atau dongeng
rakyat, inspirasi penciptaan lagu, inspirasi lukisan, nama tempat, bentuk arsitektur
bangunan dan rumah, peribahasa, bahan pangan protein hewani dan bahan
perdagangan. Selain itu, terdapat juga burung-burung yang dianggap sebagai hama
yang merugikan dan burung yang dapat menguntungkan. Burung yang dianggap hama
biasanya merusak lahan pertanian masyarakat dan burung yang dianggap
menguntungkan manusia adalah jenis burung yang membantu dalam penyerbukan
jenis-jenis tumbuhan, dan penyebaran biji dari buah-buahan tertentu. Selain itu juga,
burung dapat menjadi indikator kualitas lingkungan seperti indikator kejadian
bencana alam.
K. Kelapa Sawit

Tanaman Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tumbuhan tropis


golongan palma yang termasuk tanaman tahunan. Industri minyak sawit merupakan
kontributor penting dalam produksi di Indonesia dan memiliki prospek
pengembangan yang cerah. Perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia
mengalami kemajuan yang pesat, terutama peningkatan luas lahan dan produksi
kelapa sawit. Perkembangan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama
sepuluh tahun terakhir meningkat dari 2.2 juta ha pada tahun 1997 menjadi 4.1 juta ha
pada tahun 2007 atau meningkat 7.5%/tahun (Sunarko, 2009).
Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan unggulan dan utama di
Indonesia. Tanaman yang produk utamanya terdiri dari minyak sawit (CPO) dan
minyak inti sawit (KPO) ini memiliki ekonomis tinggi dan menjadi salah satu
penyumbang devisa negara terbesar dibandingkan dengan komoditas perkebunanya
lainnya. Minyak kelapa sawit juga menghasilkan berbagai produk turunan yang kaya
akan manfaat sehingga dapat dimanfaatkan di berbagai industri. Industri tersebut
mulai dari makanan, farmasi samapai industri kosmetik. Limbah dari kelapa sawit pun
dapat dimanfaatkan sebagai industri mebel, oleokimia hingga pakan untuk ternak.
Tanaman kelapa sawit adalah penghasil minyak nabati yang terefesien di dunia.
Kelapa sawit adalah suatu komoditas non migas yang memberikan kontribusi cukup
besar dalam pembentukan devisa dan perolehan pajak, baik saat ini maupun masa
yang akan datang.

L. Promosi

Promosi merupakan suatu aspek penting dalam memasarkan suatu produk,


sebagai proses lebih lanjut. Devinisi dari promosi menurut Swastha (2002), adalah
arus informasi atau persuasi yang dibuat untuk mengarahkan seseorang kepada
tindakan pertukaran dalam pemasaran. Arti penting dari promosi adalah sebagai alat
penyebaran keberadaan suatu produk. Selain itu juga promosi berfungsi untuk
memperkenalkan, memberitahukan, menciptakan kesan, memuaskan keinginan dan
bahkan membujuk konsumen agar bersedia membeli produk yang ditawarkan.
Promosi memiliki beragam kegiatan yang umum dilakukan, sperti periklanan,
promosi, pemasaran, personal selling serta hubungan dengan masyarakat publik.
Kegiatan promosi diperlukan sebagai media dalam menyampaikan pesan kepada
masyarakat. Media promosi dapat berbentuk cetakan maupun elektronik, seperti
booklet, leaflet maupun siaran radio dan iklan di televisi (Fuad et al. 2000).
Promosi menurut Soekadijo (1996) adalah suatu kegiatan intensif dalam waktu
yang relatif singkat. Promosi diadakan sebagai usaha untuk memperbesar daya tarik
produk dan disesuaikan dengan permintaan konsumen. Senada dengan pendapat
tersebut, Soekadijo menjelaskan menganai publikasi yaitu suatu usaha menciptakan
permintaan dengan cara menonjolkan kesesuaian produk wisata dengan permintaan.
Tujuan dari publikasi adalah memancing reaksi pasar, menggerakkan calon konsumen
agar mencari produk yang ditawarkan
Promosi ekowisata adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan agar para
pengunjung atau wisatawan mengetahui adanya produk-produk ekowisata berupa
barang dan jasa yang ditawarkan, kemudian pengunjung atau wisatawan dapat
membeli produk-produk ekowisata tersebut. Peran promosi pada ekowisata antara
lain:
1. Untuk merangsang pembelian produk-produk ekowisata oleh para pengunjung
atau wisatawan dan meningkatkan efektifitas penjualan pada waktu yang relatif
singkat.
2. Pengelola kawasan ekowisata berusaha menawarkan produk-produk dan
berusaha menarik calon pengunjung atau wisatawan baru, baik dari dalam
maupun luar negeri

M. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling


insidental, purposive sampling, sampling jenuh atau sensus, dan snowball sampling.
Berikut pembahsana mengenai masing-masing teknik:
1. Sampling Sistematis
Pengertian Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan
urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya, anggota
populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu diberi
nomor urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil
nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan
dari bilangan lima. Oleh karena itu, nomor urut yang diambil sebagai sampel adalah
1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.
2. Sampling Kuota
Pengertian sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari
populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan.
Misalnya, pada penelitian tentang karies gigi, jumlah sampel yang ditentukan adalah
500 orang, jika pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka
penelitian dipandang belum selesai. Apabila pengumpulan data dilakukan secara
kelompok yang terdiri atas lima orang pengumpul data, maka setiap anggota
kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau lima orang
tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
3. Sampling Insidental
Pengertian sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan
peneliti dapat digunakan sebagai sampel, dengan pandangan bahwa bila orang yang
kebetulan ditemui tersebut memang cocok sebagai sumber data.
4. Purposive Sampling
Pengertian purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Misalnya, pada penelitian tentang kualitas makanan, maka
sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok
digunakan untuk penelitian deskriptif kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan
generalisasi.
5. Sampling Jenuh atau Sensus
Pengertian Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi
relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi
dengan kesalahan yang sangat kecil.
6. Snowball Sampling
Pengertian Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian membesar seperti bola salju yang menggelinding dan
lama-lama menjadi besar. Langkah pertama dalam penentuan sampel ini adal
memilih satu atau dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum
merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang
dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang
sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak.
Penelitian deskriptif kualitatif biasanya juga banyak menggunakan sampel ini.

N. Burung Sebagai Indikator Lingkungan

Keanekaragaman burung telah dapat diterima sebagai indikator yang baik bagi
keanekaragaman suatu komunitas secara keseluruhan. Burung dapat menjadi
indikator yang baik bagi keanekaragaman hayati dan perubahan lingkungan (Bibby et
al. 2000). Hal tersebut disebabkan karena satwa burung terdapat hampir di seluruh
habitat daratan pada permukaan bumi ini dan bersifat sensitif pada kerusakan
lingkungan. Pengetahuan taksonomi dan sebaran burung relatif banyak diketahui, dan
lebih baik dibandingkan biota yang berukuran besar dan kelas-kelas lainnya.
Penggunaan burung sebagai indikator nilai keanekaragaman hayati merupakan satu
jalan tengah yang terbaik antara akan kebutuhan informasi ilmiah yang akurat dengan
keterbatasan waktu yang yang ada bagi aksi konservasi. Ada beberapa jenis burung
yang memiliki kepekaan tertentu terhadap kesehatan lingkungan habitatnya, salah
satu diantaranya sebangsa burung raja udang (Sozer et al. 1999).

O. Nilai Konservasi Tinggi Perkebunan Kelapa Sawit

High Conservation Value atau Nilai Konservasi Tinggi adalah nilai-nilai yang
terkandung di dalam sebuah kawasan baik itu lingkungan maupun sosial, seperti
habitat satwa liar, daerah perlindungan resapan air atau situs arkeologi (kebudayaan)
dimana nilai-nilai tersebut diperhitungkan sebagai nilai yang sangat signifikan atau
sangat penting secara lokal, regional atau global (Konsorsium Revisi HCV Toolkit
Indonesia, 2008).
HCV dikembangkan pertama kali oleh the Forest Stewardship Council (Badan
Sertifikasi Dalam Pengelolaan Hutan Bertanggung Jawab), sebagai bagian dari
standar pengelolaan hutan. Pengelolaan hutan dilakukan dengan memperhatikan
hukum, tanggung jawab, hak penduduk asli, hubungan dengan masyarakat dan hak
pegawai, keuntungan yang diperoleh dari hutan, dampak lingkungan, rencana
manajemen (pengelolaan), pemantauan dan pendataan (monitoring and assessment),
pemeliharaan hutan dengan nilai konservasi tinggi, perkebunan yang akhirnya
tertuang dalam Prinsip-Prinsip FSC (Forest Stewardship Council, 1999):

1. Mengikuti hukum yang berlaku dan Prinsip-Prinsip FSC


2. Jangka waktu dan hak guna dan tanggung jawab
3. Hak masyarakat pribumi
4. Hubungan dengan masyarakat dan hak pekerja
5. Keuntungan yang diperoleh dari hutan
6. Dampak terhadap lingkungan
7. Rencana pengelolaan
8. Pemantauan dan pendataan
9. Pemeliharaan hutan dengan nilai konservasi tinggi
10. Perkebunan

Enam tipe HCV melingkupi nilai-nilai keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, sosial
dan budaya.

1. Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati yang Penting

1.1 Kawasan yang Mempunyai atau Memberikan Fungsi


Pendukung Keanekaragaman Hayati Bagi Kawasan Lindung dan / Konservasi.
1.2 Spesies Hampir Punah.
1.3 Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Populasi Spesies
yang Terancam, Penyebaran Terbatas atau Dilindungi yang Mampu Bertahan
Hidup (Viable Population).
1.4 Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Spesies atau Sekumpulan Spesies
yang Digunakan Secara Temporer.

2. Kawasan Bentang Alam yang Penting Bagi Dinamika Ekologi Secara Alami

2.1 Kawasan Bentang Alam Luas yang Memiliki Kapasitas


untuk Menjaga Prosesdan Dinamika Ekologi
2.2 Kawasan Lansekap yang Berisi Dua atau Lebih Ekosistem dengan Garis
Batas yang Tidak Terputus (berkesinambungan)
2.3 Kawasan yang Mengandung Populasi dari Perwakilan Spesies Alami

3. Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam Punah


4. Kawasan Yang Menyediakan Jasa-jasa Lingkungan Alami

4.1 Kawasan atau Ekosistem yang Penting Sebagai Penyedia Air dan
Pengendalian Banjir bagi Masyarakat Hilir
4.2 Kawasan yang Penting Bagi Pengendalian Erosi dan Sedimentasi
4.3 Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk
Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan atau Lahan

5. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan


Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal
6. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas
Budaya Tradisional Masyarakat Lokal

Salah satu prinsip dasar dari konsep HCV adalah bahwa wilayah-wilayah
dimana dijumpai atribut yang mempunyai nilai konservasi tinggi tidak selalu harus
menjadi daerah di mana pembangunan tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, konsep
HCV mensyaratkan agar pembangunan dilaksanakan dengan cara yang menjamin
pemeliharaan dan/atau peningkatan HCV tersebut. Dalam hal ini, pendekatan HCV
berupaya membantu masyarakat mencapai keseimbangan rasional antara
keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang
III. METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Lokasi

Kegiatan Tugas Akhir (TA) [judul TA] dilaksanakan selama – bulan (-- hari),
dimulai pada bulan ----- sampai dengan bulan ----- 2017. Kegiatan Tugas Akhir
dilaksanakan di ----, Kecamatan ----, Kabupaten -----, Provinsi -----.
Tabel Tata Waktu Pelaksanaan Tugas Akhir
November Desember Januari Februari Maret April Mei
Kegiatan
1 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
Penyusunan
Proposal
Studi Literatur
Pengumpulan
Data
Pengolahan,
Analisis Data
Revisi Data
Penyusunan
Laporan Tugas
Akhir

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan Tugas Akhir (TA) merupakan
media yang dipergunakan untuk membantu dalam kegiatan Tugas Akhir, alat dan
bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
Alat
No Alat Fungsi
1 Kamera Mengambil gambar (foto) dan merekam (video) objek.
2 Binokuler Memperbesar objek yang jauh sehingga mudah dalam diidentifikasi.
3 Alat tulis Mencatat data yang diperoleh
4 Peta kawasan Mengetahui letak kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT xxx dan
memudahkan menentukan jalur pengamatan burung
5 Tali/Meteran Mengukur kawasan yang diidentifikasi.
6 Buku panduan Mengidentifikasi dan menganalisis objek pengamatan burung
lapangan
MacKinnon
7 Busur derajat Mengukur sudut orientasi profil vegetasi
8 Stopwatch Mengetahui waktu perjumpaan dengan burung
9 Alat perekam merekam suara responden yang diwawancarai dan merekam suara
suara (Tape satwa yang seringkali sulit dijumpai secara langsung.
recorder)
10 Kompas mengetahui arah mata angin (timur, barat, selatan, utara).
11 Thermometer Mengukur suhu lingkungan dan kelembaban
12 Laptop Mengolah data menjadi informasi dalam bentuk laporan
13 GPS (Global Merekam posisi koordinat geografis objek.
Position
Systems)
14 Panduan Untuk memandu wawancara dengan responden (pengunjung,
Wawancara masyarakat setempat, pengelola dan assesor) secara langsung sehingga
menjadi lebih jelas, tertata dan terarah.
15 Tallysheet Untuk mencatat dan mentabulasi data hasil observasi di lapangam
Obyek yang diperlukan dalam kegiatan Tugas Akhir Ekowisata Burung yang
dilakukan di PT XXXX meliputi:
a. Kuisioner: Untuk memandu wawancara dengan responden (pengunjung,
masyarakat setempat, pengelola dan assesor) secara tidak langsung dengan
mengisi pilihan yang telah ditentukan.
b. Panduan Wawancara: Untuk memandu wawancara dengan responden
(pengunjung, masyarakat setempat, pengelola dan assesor) secara langsung
sehingga menjadi lebih jelas, tertata dan terarah.
c. Tallysheet: Untuk mencatat dan mentabulasi data hasil observasi di lapangan.
d. Pengelola : untuk mengetahui kondisi umum secara keseluruhan mengenai
kawasan perkebunan kelapa sawit.
e. Masyarakat : untuk mengetahui mengetahui karakteristik masyarakat dalam
perencanaan ekowisata burung
f. Pengunjung : untuk mengetahui permintaan wisatawan dalam perencanaan
ekowisata burung.

C. Jenis Data

Penelitian mengenai burung, mencangkup beberapa data yang harus diambil


secara langsung dan tidak langsung. Data yang diambil dalam pelaksanaan ekowisata
burung ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu data burung, data pengelola, dan data
masyarakat. Data burung yang diambil meliputi habitat burung, jenis burung dan
perilaku burung.
Tabel – Jenis Pengambilan Data
No Jenis Data Data yang diambil Metode Sumber Data Analisis Data
1. Sumber Daya
Wisata
a. Burung - Jenis Metode IPA dan Data Deskripsi
- Jumlah individu daftar Lapangan Kualitatif
- Waktu penemuan jenis
- Lokasi ditemukan MacKinnon
- Aktivitas satwa
- Penyebaran
vertikal dan
horizontal satwa

b. Habitat Kondisi biotik Dekripsi Data Deskripsi


Burung - Vegetasi Kondisi Habitat, Lapangan Kualitatif
- Satwa lain Profil Vegetasi,
Kondisi fisik Jalur Transek,
- Suhu, udara dan dan Pengukuran
air Langsung
- Kelembaban
- Ketinggian

c. Keterkaitan Karakteristik, Kuisioner Deskripsi


burung oleh persepsi, motivasi Kualitatif
masyarakat dan preferensi
terhadap
lokal
perkebunan kelapa
sawit PT...
2. Pengunjung/ Karakteristik, Kuisioner Pengunjung/ Deskripsi
wisatawan persepsi, motivasi Wisatawan Kualitatif
dan preferensi
No Jenis Data Data yang diambil Metode Sumber Data Analisis Data
terhadap
perkebunan kelapa
sawit PT...
3. Pengelola Karakteristik, Wawancara dan Pengelola Deskripsi
persepsi, pengelola kuisioner Kualitatif
terhadap
perencanaan
ekowisata
birdwatching
4. Masyarakat Karakteristik, Wawancara dan Masyarakat Deskripsi
Lokal persepsi, kuisioner Kualitatif
masyarakat sekitar
terhadap
perencanaan
ekowisata
birdwatching

D. Metode Pengambilan Data

1. Sumber Daya Wisata

a. Data Burung
Pencatatan jenis burung dilakukan dengan kombinasi langsung dan tidak langsung,
dengan pencatatan secara langsung dilakukan dengan bantuan Buku Panduan
Lapangan Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Mac Kinnon et al
(1998) dan secara tidak langsung dengan didasarkan pada sarang dan jejak
burungnya. Metode yang dipakai untuk memperoleh data burung ini adalah metode
IPA (Index Point Of Abundance) atau titik hitung dan Daftar Jenis Mac Kinnon.
Metode IPA atau titik hitung (Bibby et al 2000) merupakan metode untuk
mengetahui kelimpahan dari jenis burung yang ada di suatu habitat. Pengamatan
dilakukan pada titik yang telah dipilih secara sistematik dan telah ditentukan
sebelumnya, dengan mencatat dan mengidentifikasi jenis dan jumlah individu
setiapjenis yang dijumpai baik secara langsung (visual) maupun secara tidak langsung
(suara) (Helvoort 1981). Bentuk unit contoh dalam pengamatan burung dengan
menggunakan metode IPA ialah dengan jarak antara titik tengah 20 m. Jarak antar
titik pusat plot yangsatu dengan yang lainnya minimal sejauh 40 m. Hal ini bertujuan
agar setiap plot tidak terjadi tumpang tindih area pengamatan yang dapat
mengakibatkan pengulangan pencatatan burung yang sudah ada di plot sebelumnya
yang berdekatan.
Pengamatan dilakukan pada periode pagi pukul 05.30 WIB dan berakhir pukul
09.00 WIB. Pengamatan periode sore hari dilakukan mulai pukul 14.30 WIB sampai
pukul 18.00 WIB. Lokasi pengamatan burung dengan menggunakan metode ini
adalah pada masing-masing tipe habitat, dibuat enam titik pengamatan dengan
pengulangan sebanyak empat kali pada masing-masing tipe habitat, pengamatan ini di
mulai dari tepi jalan sampai tepian sungai dengan waktu pengamatan untuk setiap titik
yaitu selama 10 menit (Gambar)
Gambar .... Ilustrasi Jalus Dengan Metode IPA.
Data jenis burung diperoleh dengan melihat dan mencocokkan burung dengan
buku panduan. Data aktivitas burung diperoleh dengan mengamati aktivitas burung
pada saat ditemukan dalam pengamatan dengan metode IPA dan daftar jenis
MacKinnon. Aktivitas yang diamati adalah setiap gerakan dan prilaku burung yang
dilakukan pada saat pengamatan pagi dan pengamatan sore. Data aktivitas burung
yang diamati seperti berdiam dipohon, posisi diam, makan, minum, berkicau, dan
aktivitas lainnya. Sementara itu, pengamatan perilaku burung dilakukan diluar waktu
pengamatan aktivitas burung. Pengamatan perilaku burung dilakukan secara intensif
dan berkala dengan cara mengamati suatu spesies burung yang telah ditentukan
sebelumnya.
Pengamatan yang dilakukan, semua hasilnya dari mulai jenis, aktivitas dan
perilaku burungdi habitatnya, kemudian dicatat sebagai bahan informasi untuk
selanjutnya dilakukan identifikasi burung. Selanjutnya, data yang diperoleh dari hasil
identifikasi jenis, aktivitas dan perilaku burung, kemudian diolah menjadi data yang
baik dan mudah dipahami untuk dijadikan informasi bagi pembaca. Data strata
perjumpaan burung mengikuti Van Balen (1984). Data pemanfaatan habitat oleh
burung diambil dengan mencatat seluruh aktivitas dan perilaku burung yang terlihat
saat perjumpaan (Tabel ..).
Tabel Interval Penyebaran Burung secara Vertikal
No Posisi Ketinggian (meter)
1 Lantai/Tanah 0,00-0,15
2 Semak-semak rendah 0,15-0,60
3 Semak-semak sedang 0,60-1,80
4 Semak-semak tinggi 1,80-4,50
5 Pohon dibawah tajuk 4,50-15,00
6 Pohon diatas tajuk >15,00
Data pemanfaatan ruang vegetasi oleh burung secara umum dibagi menjadi dua
bagian, tajuk dan batang. Pembagian tajuk ada tiga bagian menurut Mardiastuti et al.
(2000) yaitu puncak, tengah, dan tepi. Batasan bagian puncak tajuk adalah 1/3 bagian
atas daritinggi total tajuk. Bagian tepi tajuk adalah 1/3 bagian dari tepi sedangkan
tengah tajuk adalah selain yang termasuk bagian puncak dan tepi tajuk. Pada bagian
pemanfaatan batangg terbagi menjadi dua bagian yaitu, bagian atas dan bagian bawah.
Bagian bawah batang dibatasi pada ketinggian 0,15 m sesuai dengan ketinggian lantai
atau tanah. Untuk pembagian ruang pada semak sama seperti pembagian ruang pada
tajuk namun dihilangkanpada bagian batangnya (Gambar --).
Gambar Pembagian Pemanfaatan Ruang Vegetasi Oleh Burung pada kondisi pohon
vegetasi pohon kiri : (a) Vegetasi Pohon; (b) Vegetasi Semak
Ekologi dan estetika satwa mengkaji mengenai lingkungan hidup satwa dan
nilai keindahan dari satwa. Keanekaragaman jenis burung dapat menjadi sumberdaya
wisata yang dapat menarik pengunjung untuk datang. Data yang dibutuhkan dalam
pengamatan burung adalah nama jenis burung, jumlah burung, jenis vegetasi atau
substrat, aktivitas satwa, serta nilai estetika burung yang diamati. Pengamatan burung
dilakukan pada --- lokasi, yaitu di Jalur ---, ---, dan ---. Data pengamatan burung
kemudian dicatat pada tallysheet. Pengamatan burung diagonal, tepi, tengah di blok
penanaman kelapa sawit.

(a) (b) (c)


Gambar – Blok Penanaman Kelapa Sawit (a) Diagonal; (b) Tengah; (c) Tepi.
b. Data Habitat Burung
Data habitat burung yaitu data kondisi biotik. Data biotik terbagi menjadi dua
macam, yaitu data vegetasi dan data satwa-satwa lain yang ada dalam satu tipe
habitat. Letak satwa-satwa lain dalam habitat burung dapat menjadi sumber pakan
bagi jenis burung-burung yang tergolong dalam jenis karnivora atau insektivora.
Data vegetasi diperoleh dengan metode profil vegetasi pada sampel plot
berukuran 50x10 meter untuk di setiap daerah yang mewakili tipe habitat. Kegiatan
ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan yang mendominasi dalam suatu
kawasan hutan serta ekosistem yang yang menjadi habitat burung dengan cara
mendeskripsikan setiap sampel plot dari profil vegetasi yang telah digambar (Gambar
---).
Gambar --- Ilustrasi Plot Profil Vegetasi.
Keanekaragaman vegetasi diambil dengan cara analisa vegetasi sederhana, yaitu
dengan metode transek. Panjang jalur transek untuk setiap plot adalah 50 meter dan
lebar plot adalah 10 meter dan jumlah plot yang akan diambil yaitu 6 plot. Dalam
setiap plot akan dicatat seluruh jenis pohon yang ada dengan mengukur tinggi, lebar
tajuk, tinggi bebas cabang pada setiap pohon yang ditemukan.
c. Data Keterkaitan Burung oleh Masyarakat Lokal
Data keterkaitan burung olah masyarakat lokal dilakukan dengan metode
wawancara oleh masyarakat lokal yang mengerti dan mengatahui mengenai jenis-
jenis burung yang terdapat di perkebunan kelapa sawit PT XXXX. Keterkaitan
tersebut dapat dilihat pada nilai ekologis, ekonomi dan sosial budaya. Hal-hal yang
diperhatikandalam keterkaitan burung dalam kehidupan masyarakat adalah
pemanfaatan dalam budidaya burung, bahan pangan, simbol-simbol yang memiliki
arti penting, perhiasan dan acsesoris, pakaian tradisional, dan mitos.
No Kelompok Pemanfaatan
1 Burung sebagai obat
2 Burung penghasil pangan
3 Burung ritual adat dan keagamaan
4 Burung pemberi pertanda

2. Data Pengelola
Data dari pengelola meliputi karakteristik, persepsi, dan kesiapan pengelola atas
pengembangan ekowisata burung dan habitatnya yang akan dilakukan di kawasan
perkebunan kelapa sawit PT XXXX. Pengambilan data kepada pihak pengelola
dilakukan dengan cara wawancara, dan mengajukan kuisioner untuk kemudian
selanjutnya dilakukan observasi terhadap informasi yang diperoleh dari hasil data
kuisioner. ----
3. Pengunjung
Data mengenai pengunjung atau wisatawan yang diperlukan dalam kegiatan
penelitian TA meliputi data motivasi, karakteristik dan persepsi mengenai
perencanaan ekowisata burung. Data tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan
penyebaran daftar pertanyaan (kuesioner) dan metode observasi langsung. Metode
observasi dilakukan dengan mendatangi pengunjung secara langsung di kawasan
perkebunan kelapa sawit PT ....... Stelah dilakukan observasi selanjutnya
menyebarkan kuisioner dengan menggunakan tehnik sample random sampling.
Daftar pertanyaan (kuesioner) disusun dengan menggunakan pola close ended
(pilihan ganda), yaitu pengunjung atau wisatawan dapat mengisi kuisioner sesuai
dengan pilihan yang telah tersedia. Kuisioner tersebut akan di sebarkan kepada 30
responden dengan menggunakan teknik simple random sampling. Teknik random
sampling yaitu teknik pemilihan responden dengan menggunakan koin dan
menanyakan kesediaan responden untuk di wawancarai. Pengambilan sample tersebut
sangat efektif dalam penentuan responden dikarenakan metode yang dilakukan cukup
sederhana. Pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut
4. Data Masyarakat
Data dari masyarakat meliputi karakteristik, persepsi, dan kesiapan masyarakat
dan keterlibatan masyarakat atas pengembangan ekowisata birdwatching dan
habitatnya yang akan dilakukan di kawasan perkebunan kelapa sawit PT XXXX.
Pengambilan data kepada masyarakat dilakukan melalui penyebaran kuisioner yang
bersifat close endedyaitu kuisioner dengan pilihan jawaban yang telah disediakan
pada lembar kuisioner.
E. Analisis Pengelolahan Data

1. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif merupakan teknik menganalisa dengan cara menjelaskan dan
menguraikan secara detail data yang didapat di lapangan dengan kondisi aktual yang
diketahui pada saat pengamatan obyek. Dalam analisa kualitatif terdapat analisis
deskriptif. Analisis dilakukan terhadap aktivitas dan perilaku khususnya burung serta
ekosistem yang merupakan habitat burung. Penyajian data dokumentasi burung
meliputi nama latin, nama lokal, dan status IUCN. Penamaan setiap jenis burung
berdasarkan tata nama dalam buku Mackinnon et al. (2010).
2. Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitatif adalah teknik menganalisa data untuk mengambil keputusan


melalui perhitungan dari data primer yang didapat saat pengamatan obyek. Data yang
diolah secara analisis kuantitatif seperti indeks dominansi atau kelimpahan jenis
dalam suatu habitat. Data ini digunakan untuk mengetahui jenis spesies yang
mendominasi dalam suatu daerah atau habitat burung. Penyajian hasil analisis
kuantitatif dapat dibuat dalam bentuk bagan, diagram maupun grafik dengan tujuan
mempermudah dalam memahami informasi data yang diperoleh. Berikut ini adalah
data-data yang dianalisa menggunakan analisis kuantitatif:
a. Indeks Kekayaan Jenis (Pi)
Indeks kekayaan jenis dicari agar dapat mengetaui keanekaragam jenis disuatu
kawasan. Indeks kekayaan jenis satwadidapatkan dengan menggunakan rumus Van
Balen (1984) sebagai berikut:

b. Indeks Keanekaragaman jenis (H’)


Indeks Keanekaragaman jenis memiliki pengaruh terhadap perencaan ekowisata
satwa. Hal ini disebabkan satwa adalah obyek inti dalam kegiatan ekowisata satwa.
Indeks keanekaragaman jenis menggunakan rumus Shannon-Wiener sebagai berikut:

Hasil nilai indeks keanekaragaman jenis diklasifikasikan menurut Shannon-


Wiener (Tabel ---).
Tabel --- Klasifikasi Nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
Nilai Indeks Kategori
>3 Keanekaragaman tinggi, penyebaran jumlah individu tiap spesies tinggi dan
kestabilan komunitas tinggi
1-3 Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap spesies sedang dan
kestabilan komunitas sedang
<1 Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap spesies rendah dan
kestabilan komunitas rendah

c. Pertemuan Jenis Satwa


Tingkat pertemuan jenis dicari agar dapat mengetaui tingkat pertemuan setiap
jenis individu. Tingkat pertemuan jenis dapat menggunakan rumus Van Balen (1984)
sebagai berikut:

Nilai persentasi TPJ kemudian disesuaikan dengan nilai frekuensi pertemuan


satwadan skala urutan untuk mengetahui kategori tinggat pertemuan suatu jenis
(Tabel 5).
Tabel 5Katagori Frekuensi Tingkat Pertemuan Jenis
Tingkat pertemuan jenis (%) Nilai Frekuensi Skala Urutan
0-9,9 1 Sangat sulit
10-19,9 2 Sulit
20-39,9 3 Jarang
40-59,9 4 Umum
60-79,9 5 Sering
80-100 6 Mudah

d. Indeks Kemerataan Jenis


Untuk mengetahui penyebaran individu burung diukur dari nilai keseragaman
antar jenis burung (Odum 1993), sebagai berikut:
E=H'
LnS
Keterangan:
E : nilai keseimbangan antar jenis
S : banyaknya jenis burung tiap plot

e. Sebaran Burung
Sebaran burung dapat dianalisa dengan mengunakan rumus:
Frekuensi Jenis (Fj) = Jumlah plot ditemukan suatu jenis burung
Jumlah seluruh plot contoh

Frekuensi Relatif (FR) = Frekuensi suatu jenis 100%


Frekuensi seluruh jenis

f. Dominansi Jenis Burung


Burung dikatakan dominan dalam suatu habitat apabila kerapatan relatifnya
lebih besar dari 5%, memiliki kerapatan sedang apabila kerapatan relatifnya 2-5%
dan dikatakan tidak dominan jika kerapatan relatifnya kurang dari 2 % (Helvoort,
1981). Nilai kerapatan relatif didapatkan dari rumus:
Kerapatan Jenis (Kj) = Jumlah suatu jenis
Luas plot contoh
Kerapatan Relatif (KR) = Kerapatan suatu jenis 100%
Kerapatan seluruh jenis

g. Indeks Kesamaan Jenis Burung


Kesamaan jenis burung di tiap lokasi dapat dilihat dengan indeks kesamaan
jenis (similarity index) dengan melakukan analisis dendrogram. Indeks yang
digunakan adalah indeks kesamaan jenis Jaccard (1901) diacu dalam Krebs (1978).
Similarity Index (SI) = a
a+b+c
Keterangan:
a = Jumlah jenis yang umum di komunitas A dan B
b = Jumlah jenis yang ada di komunitas A tapi tidak ada di komunitas B
c = Jumlah jenis yang ada di komunitas B tapi tidak ada di komunitas A

h. Indikator Penilaian Sumberdaya Wisata (Avenzora 2008)


No Indikator
1 Indikator Keunikan Burung
a. Bentuk dan ukuran dimensi burung tersebut sangat berbeda dengan burung sejenis
pada umumnya.
b. Warna-warna burung tersebut sangat berbeda dengan warna-warna burung sejenis
pada umumnya.
c. Aroma-aroma yang timbul pada burung tersebut sangat berbeda dengan aroma-aroma
burung sejenis pada umumnya.
d. Morfologi atau fisiologi burung tersebut sangat berbeda dengan morfologi atau
fisiologi burung sejenis pada umumnya.
e. Tempat dan ruang tumbuh burung sangat berbeda dengan tempat dan ruang tumbuh
burung sejenis pada umumnya.
f. Waktu beraktivitas burung tersebut sangat berbeda dengan waktu beraktivitas burung
sejenis pada umumnya.
g. Jaring-jaring ekologi burung tersebut dangat berbeda dengan jaring-jaring ekologi
burung sejenis paa umumnya.
2 Indikator Kelangkaan Burung
a. Burung tersebut telah masuk dalam daftar kelangkaan internasional.
b. Burung tersebut telah masuk dalam daftar kelangkaan nasional.
c. Burung tersebut tidak terdapat di provisi lain.
d. Burung tersebut tidak terdapat di kabupaten lain.
e. Burung tersebut endemik dan tidak terdapat di kecamatan lain.
f. Masa berkembangbiak burung tersebut maksimal hanya 3 tahun sekali.
g. Proses penangkaran burung tersebut, baik secara alami maupun buatan, sangat sulit
untuk dilakukan dan sulit mencapai keberhasilan hidup.
3 Indikator Keindahan Burung
a. Keindahan komposisi dan nuansa dari morfologi burung tersebut.
b. Keindahan komposisi dan nuansa warna dari burung tersebut.
c. Keindahan komposisi dan nuansa suara burung tersebut.
d. Keindahan komposisi dan nuansa dinamika fisiologi dari burung tersebut.
e. Keindahan komposisi dan nuansa aroma secara totalitas dari tumbuhan tersebut.
f. Kepuasan psikologi pengunjung dari komposisi dan nuansa burung tersebut.
g. Keindahan komposisi dan nuansa afirmatif dari tegakan atau komunitas burung
tersebut.
4 Indikator Seasonality Burung
a. Burung tersebut hanya muncul dan dapat dinikmati beberapa saat saja pada hari
tertentu dalam tahun tertentu.
b. Burung tersebut hanya muncul dan dapat dinikmati pada hari-hari tertentu dalam
periode minggu kejadian.
c. Dinamika prilaku burung tersebut hanya muncul dan dan dapat dinikmati pada
beberapa jam saja dalam periode masa kawinnya.
d. Burung tersebut hanya dapat dinikmati pada kondisi bulan tertentu dalam 1 tahun.
e. Burung tersebut hanya dapat dinikmati dalam bulan tertentu dalam suatu 1 tahun.
f. Burung tersebut hanya muncul dan dapat dinikmati pada bulan tertentu dalam suatu
periode tahun tertentu
g. Burung tersebut hanya dapat dinikmati dalam kurun jam yang singkat pada periode
maksimal 3 tahun sekali.
5 Indikator Sensitifitas Burung
a. Kemunculan burung tersebut tidak terpengaruh oleh kehadiran sedikit atau banyak
pengunjung yang melihat dari jarak optimal
b. Kualitas morfologi burung tersebut tidak terpengaruh oleh kehadiran sedikit atau
banyak Pengunjung yang melakukan physical contact dengan tumbuhan tersebut.
c. Kualitas generatif S burung tersebut tidak terpengaruh oleh kehadiran sedikit atau
banyak pengunjung yang melakukan physical contact dengan tumbuhan tersebut.
d. Kehadiran pengunjung untuk menikmati burung tersebut pada jarak pandang optimal
ataupun bersentuhan tidak mempengaruhi terjadinya dinamika ekologi burung tersebut
dengan jaring-jaring ekologinya.
e. Kehadiran pengunjung untuk menikmati burung tersebut pada jarak pandang optimal
ataupun bersentuhan tidak mempengaruhi kualitas kejadian fenomena alam lain di
sekitarnya.
f. Kehadiran pengunung untuk menikamti S burung tersebut dalam bentuk physical-
contact tidak mempengaruhi pola prilakunya.
g. Daya dukung fisik dan ekologis maupun psikologis lokasi S burung tersebut tidak
terganggu karena penggunaan areal tersebut oleh pengunjung sebagai tempat berbagai
kegiatan rekreasi dan wisata yang diijinkan di tempat itu.
6 Indikator Aksesibilitas Burung
a. Lokasi burung tersebut dapat dijangkau dengan kendaraan umum dalam waktu
maksimal 2 jam dari ibu kota kabupaten.
b. Lokasi burung tersebut dapat dijangkau dengan kendaraan umum dalam waktu
maksimal 1 jam dari ibu kota kecamatan.
c. Lokasi burung tersebut dapat dijangkau oleh semua jenis kendaraan roda empat.
d. Pengunjung dapat menjangkau lokasi burung tersebut tanpa harus melanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki melebihi 2 kilometer.
e. Untuk menjangkau lokasi burung tersebut tersedia kendaraan umum yang beroperasi
setidaknya 16 jam dalam 1 hari.
f. Lokasi burung tersebut dapat dijangkau pengunjung dalam segala cuaca.
g. Pada musim penghujan, lokasi fauna tersebut hanya dapat dijangkau dengan
kendaraan tersebut.
7 Indikator Fungsi Sosial
a. Burung tersebut diyakini dan dipercaya oleh masyarakat setempat mempunyai sejarah
yang sangat kuat dengan cikal bakal dan perkembangan berkehidupan komunitas
masyarakat setempat.
b. Burung tersebut hingga saat ini masih digunakan sebagai salah satu sumber elemen
kehidupan sosial budaya keseharian masyarakat setempat.
c. Burung tersebut hingga saat ini masih digunakan sebagai salah satu sumber elemen
budaya pada berbagai upcara budaya dalam dinamika budaya masyarakat setempat.
d. Burung tersebut hingga saat ini hanya digunakan sebagai salat satu sumber elemen
budaya pada upacara budaya tertentu saja dalam dinamika sosial budaya masyarakat
setempat.
e. Burung tersebut hingga saat ini digunakan sebagai salah satu sumber elemen ekonomi
utama bagi kehidupan sosial ekonomi keseharian masyarakat setempat.
f. Burung tersebut hingga saat ini digunakan hanya sebagai salah satu sumber elemen
ekonomi bagi kehidupan sosial ekonomi keseharian masyarakat setempat.
g. Burung tersebut hingga saat ini hanya sebagai salah satu identitas regional bagi
masyarakatsetempat.

F. Metode Penyusunan Program

Output dari perencanaan ekowisata burung dan habitatnya di perkebunan kelapa


sawit PT.... Kabupaten....Provinsi ... yaitu berupa program wisata yang di susun dalam
pembentukan program harian, bermalam serta tahunan. Perencanaan program akan di
susun bedasarkan dengan sumberdaya yang terdapat pada lokasi pengamatan burung
dan melihat daya dukung masyarakat yang dimiliki oleh kawasan tersebut

G. Metode Pembuatan Output Media Promosi

Output atau keluaran yang dihasilkan dari perencanaan ekowisata Birdwatching


di ----, Kecamatan ----, Kabupaten -----, Provinsi -----, yaitu berupa -----. Rancangan
dilakukan pada ----
Perencanaan program ekowisata burung tersebut dimaksudkan sebagai bentuk
promosi aktivitas wisata di perkebunan kelapa sawit. Promosi wisata tersebut
dianalisa berdasarkan dua penilaian yaitu menggunakan indikator penilaian menurut
Avenzora (2008) diantaranya keunikan, kelangkaan, keindahan, seasonalitas,
sensitifitas, aksesibilitas dan fungsi sosial. Objek pengamatan diberikan berbagai
kriteria agar dapat memperoleh objek yang dinilai paling menarik, sehingga
menimbulkan tingkat kepuasan (satisfaction) yang maksimal bagi pengunjung atau
wisatawan.
DAFTAR PUSTAKA

Avenzora, R. 2008. Pembangunan Ekowisata Pada Kawasan Hutan


Konservasi. Avenzora, R. Ekoturisme Teori dan Praktik. BPR NAD &
Nias. Banda Aceh.

Alikodra, H. S. 2002. Pengelolaan Satwa Liar. Bogor. Yayasan Penerbit


Fakultas Kehutanan IPB.
Ayat, A. 2011. Burung-burung Agroforest Di Sumatra. Bogor. ICRAF Asia
Tenggara.

Damanik dan Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi.


Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM dan Andi Yogyakarta. Yogyakarta.

Epler WM. 1999. Ecotourism Priciples Practices dan Policies for


Sustainibility. Paris : The International Ecotourism Society [EN]

Fuad M, Christine H, Nurlela, Sugiarti, Paulus YEF. 2000. Pengantar Bisnis.


Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hakim L. 2004. Dasar-dasar Ekowisata. Cetakan Pertama. Jawa Timur:


Banyumedia Publishing.

Kamal, S. 2013. Keanekaragaman Jenis Burung Pada Perkebunan Kopi Di


Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten
Bener Meriah Provinsi Aceh.
Jurnal Biotik Vol. 1, No. 2. Hal 67-136

Marpung dan Bahar. 2002. Pengantar Pariwisata. Alfabeta. Bandung.

Musanef. 1995. Manajemen Pariwisata di Indonesia. Jakarta : PT. Toko


Gunung Agung [IN]

Mulyana D. 2007. Ilmu Komunikasi. Ilmu Komunikasi. Bandung: Pt Remaha


Rodakarya

Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Peterson, R.T. 1980. Burung. Edisi kedua. Diterjemahkan oleh Kamil, T.W.
dan pustaka, T. Jakarta. Pustaka Alam.

Pitana Ig. Diarta Iks. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Suryanto Fis (Ed.),
Yogyakrta: Penerbit Andi Yogyakarta

Sunarko. 2009. Budi Daya Dan Pengelolaan Kebun Kelapa sawit dengan
system Kemitraan. Cetakan Pertama.Jakarta: Agromedia Pustaka.

Silviyanti N, Nurdjali B, Kartikawati SM. 2016. Studi Etno-Ornitologi Burung


Sebagai Bentuk Kearifan Lokal Masyarakat di Desa Pematang Gadung
Kabupaten Ketapang. Pontianak: Fakultas Kehutanan Universitas
Tanjungpura.

Soekadijo RG. 2000. Anatomi Pariwisata Memahami Pariwisata

Sukmantoro W, Irham M, Novarino W, dkk. 2007. Daftar Burung Indonesia


No. 2. Indonesian Ornithologists Union. Bogor.

Sulistiadi, E. 2010. Kemampuan Kawasan Nir Konservasi dalam Melindungi


Kelestarian Burung Endemik Dataran Rendah Pulau Jawa Studi Kasus di
Kabupaten Kebumen. Jurnal Biologi Indonesia 6(2): 237-253.

Swastha B. 2002. Azas-azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.

Wisnubudi, G. 2009. Penggunaan Strata Vegetasi Oleh Burung Di Kawasan


Wisata Taman Nasional Gunung Halimun-salak. Vol 02 No 2.