Anda di halaman 1dari 4

31

BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil kasus asuhan keperawatan yang dilakukan pada Ny. H dengan
status obstetric G1P0000 partus premature imminens (PPI) usia kehamilan 32 minggu di
Ruang VK (Bersalin) RSD. dr. Soebandi Jember, maka dalam bab ini penulis akan
membahas kesenjangan antara teori dan kenyataan yang diperoleh sebagai hasil
pelaksanaan asuhan. Penulis juga akan membahas kesulitan yang ditemukan dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. H Penyusunan asuhan keperawatan ini
meliputi pengkajian, analisa data, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi dengan uraian sebagai berikut:

A. PENGKAJIAN

Pengkajian menjadi langkah pertama dalam proses asuhan keperawatan yang


dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu anamnesa dan obervasi secara langsung.
Pengkajian akan berjalan dengan baik dengan hasil data yang akurat serta
mendukung dalam proses asuhan apabila dilakukan secara mendalam dan mendapat
dukungan dari berbagai pihak. Kerja sama antara perawat, pasien dan keluarga
sangat diprioritaskan karena akan menghasilkan rasa saling percaya dan saling
terbuka terkait informasi asuhan keperawatan yang akan dilakukan.

Pada kasus Ny. H, pengkajian berjalan dengan baik, meskipun pada fase ini
keadaan pasien berada dalam kondisi menahan sakit akibat kontraksi uterus, Ny. H
mau dianamnesa dan diobservasi sesuai kebutuhan asuhan keperawatan. Tetapi,
pengkajian yang awalnya berjalan dengan baik, menjadi kurang efektif dikarenakan
nyeri yang di rasakan Ny. H semakin meningkat, hal itu berakibat pada
terganggunya proses pengkajian yang dilakukan saat fase ini dilakukan.
32

Data-data yang didapat pada fase ini meliputi data umum dan data
fokus, yaitu terkait identitas diri, pola kesehatan pasien, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang yang didapatkan oleh pasien.

B. ANALISA DATA

Analisa data merupakan pengelompokkan data yang nantinya akan menjadi


sebuah diagnosis. Analisa data dapat bersumber dari anamnesa secara langsung
dari pasien dan juga data objektif yang di lakukan pemeriksaan serta pengamatan
langsung oleh perawat. Kasus Ny. H memunculkan beberapa analisa data yang
akhirnya menjadi tiga diagnosis keperawatan prioritas, yaitu: risiko distress janin
yang berhubungan dengan air ketuban sisa sedikit (oligohidramnion).

Pada diagnosis pertama ditegakkan karena terdapat data mayor yang


mendukung yaitu, pengungkapan tentang keluarnya air ketuban, dan data minor
keluar cairan pervaginam di tes menggunakan lakmus positif air ketuban, hasil
USG oligohidramnion dan bayi letak sungsang, DJJ: 167 x/menit, gerakan janin
aktif, keluar lendir dan darah pervaginam.

Diagnosis tersebut menjadi prioritas penulis karena keluhan yang dirasakan


pasien saat itu dan apabila masalah itu tidak segera ditangani akan menimbulkan
ketidaknyamanan bagi pasien dan dapat mengganggu aktivitas pasien sehingga
akan timbul rasa ketakutan untuk melakukan aktivitas lainnya.

Diagnosis kedua yaitu Ansietas yang berhubungan dengan oligohidramnion


ditandai dengan ibu tampak tegang, dan gelisah serta keluar lendir pervaginam,
menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), ansietas merupakan
kondisi emosi dan pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas
dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan
tindakan untuk menghadapi ancaman.

Pada kasus ini, diagnosis ansietas diangkat karena respon pasien yang
tampak bingung dan cemas karena ketidaktahuan akan kondisinya saat ini.
33

Keluarnya cairan pervaginam yang banyak membuat khawatir dan tidk tahu cara
mengatasinya.

Diagnosis ketiga yaitu, defisit perawatan diri: toileting yang berhubungan


dengan bedrest total ditandai dengan vulva hygine kotor dan terdapat lendir.
Diagnosis ini diangkat karena data objektif yang sangat mendukung pasien
terbaring di tempat tidur, keluar lendir dan cairan pervaginam, vulva vagina
kotor, alas (underpad) sangat kotor dan basah. Hal ini apabila tidak mendapat
perhatian khusus maka akan menyebabkan infeksi yang berakibat fatal pada
janin.

C. PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

1. Risiko distress janin yang berhubungan dengan air ketuban sisa sedikit
(oligohidramnion).

Tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini adalah


mengevaluasi tanda-tanda vital, mengkaji malposisi dengan manuver leopold,
menganjurkan pasien untuk miring ke kiri dan kolaborasi dengan dr.SpOg.
Kekuatan dari tindakan ini adalah bekerja sama dalam mengurangi risiko
distress janin, pada kasus ini, pasien kooperatif untuk diajak kerja sama,
sehingga proses tindakan keperawatan menjadi mudah.

2. Ansietas yang berhubungan dengan oligohidramnion ditandai dengan ibu


tampak tegang, dan gelisah serta keluar lendir pervaginam

Tindakan keperawatan pada diagnosis ini adalah observasi sumber


ansietas pasien, dan berikan motivasi agar ansietas pasien semakin berkurang.
Pada kasus ini, Ny. H kurang kooperatif dalam menerima informasi dan
motivasi, sehingga proses tindakan sedikit terganggu.

3. Defisit perawatan diri: toileting yang berhubungan dengan bedrest total


ditandai dengan vulva hygine kotor dan terdapat lendir. Diagnosis ini
diangkat karena data objektif yang sangat mendukung pasien terbaring di
34

tempat tidur, keluar lendir dan cairan pervaginam, vulva vagina kotor, alas
(underpad) sangat kotor dan basah.

Tindakan pada diagnosis ini adalah mengkaji keluarnya lendir


pervaginam, melakukan vulva hygine agar area vagina bersih dan terhindar
dari infeksi dan melakukan kolaborasi dengan keluarga untuk membantu bak
dan mengganti underpads ketika sudah basah

D. EVALUASI

Secara garis besar, pelaksanaan pada ketiga diagnosis tersebut belum


teratasi, sehingga tindakan pilihan terakhir adalah tindakan sectio caesaria.