Anda di halaman 1dari 11

PATHWAY

Trauma kompresi
anteroposterior dari rongga
thorax

Lengkung iga akan lebih


melengkung lagi kearah lateral

Fraktur iga multiple segmental


Krepitasi
(Flail Chest) Saat inspirasi, rongga
dada mengembang

Gangguan pergerakan Gerakan fragmen costa yang


dinding dada patah menimbulkan gesekan
antara ujung fragmen dengan
jaringan lunak sekitar
Gerakan napas paradoksal

Stimulasi saraf
Fungsi ventilasi menurun

O2 menurun, CO2
Nyeri dada
meningkat

Kompensasi takikardi Sesak napas


Saturasi O2
Ketidakefektifan
pola nafas Sianosis
LAPORAN PENDAHULUAN

FLAIL CHEST

A. Pengertian Flail Chest

Flail chest adalah istilah medis yang menggambarkan beberapa patah


tulang rusuk,ketika tulang rusuk yang patah atau dislokasi di lebih dari satu
tempat dan tidak ada lagi sepenuhnya terhubung ke tulang rusuk lainnya.

Flail chest adalah suatu keadaan apabila dua iga berdekatan atau lebih
mengalami fraktur pada dua tempat atau lebih. Bila fraktur terjadi pada dua sisi
maka stabilitas dinding dada lebih besar dan kurang mengancam ventilasi
daripada bila terjadi pada satu sisi.

Flail Chest adalah area toraks yang "melayang" (flail) oleh sebab adanya
fraktur iga multipel berturutan (3 iga), dan memiliki garis fraktur = 2 (segmented)
pada tiap iganya. Akibatnya adalah terbentuknya area "flail" yang akan
bergerak paradoksal (kebalikan) dari gerakan mekanik pernapasan dinding
dada. Area tersebut akan bergerak masuk saat inspirasi dan bergerak keluar
pada ekspirasi. (Brunner & Suddarth. 2000)

B. Etiologi
Flail Chest berkaitan dengan trauma thorak, yang dapat disebabkan
oleh:
1. Trauma Tumpul
Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur
costa antara lain: Kecelakaan lalulintas, kecelakaan pada pejalan kaki, jatuh
dari ketinggian, atau jatuh pada lantai yang keras atau akibat perkelahian.
2. Truma Tembus
Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa: Luka
tusuk dan luka tembak
3. Disebabkan bukan trauma
Yang dapat mengakibatkan fraktur costa adalah terutama akibat
gerakan yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau
oleh karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur,seperti
pada gerakan olahraga: Lempar martil, soft ball, tennis, golf. (Dorland, W. A.
Newman. 2002)

C. Patofisiologi
Flail chest, adanya pertahanan pada dua segmen koste atau lebih akan
mengganggu keseimbangan dalam pernafasan. Bila segmen thorak
mengembang bebas, maka akan terdorong bebas ke dalam oleh tekanan
atmosfer biasa yang mengurangi kemampuan paru untuk berekspansi pada
saat inspirasi.
Akibatnya oksigen yang masuk dalam paru akan mengalami penurunan,
jika hal ini terjadi, selanjutnya peredaran oksigen dalam darah akan menurun,
pada saat ekspirasi, tekanan paru yang meningkat akan mendorong udara
keluar paru, tapi segmen hasil yang telah kehilangan integrasinya akan
menonjol keluar sehingga kesanggupan sangkar toraks mendorong udara
keluar dari paru akan berkurang.
Hal ini juga disebabkan karena sebagian karbondioksida pada paru
yang tidak mengalami trauma, masuk kedalam paru yang menonjol pada
daerah flail chest.Karbon dioksidapun terakumulasi pada bagian yang fraktur
dan volume udara ekspirasi berkurang.Terakumulasinya karbondioksida pada
paru mengakibatkan suatu keadaan asidosis respiratori. Pada pasien flail
chest,pada saat inspirasi, paru-paru akan menggencet jantung, membatasi
pompa hjantung sehingga CO menurun dan aliran darah ke seluruh tubuh
menjad berkurang. (Smeltzer, Suzanne C. 2007)
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang biasanya tampak untuk menegakkan diagnosa flail
Chest adalah:
1. Tampak adanya gerakan paradoksal segmen yang mengambang, yaitu
pada saat inspirasi ke dalam, sedangkan pada saat ekspirasi keluar.
Keadaan ini tidak akan tampak pada klien yang menggunakan ventilator.
2. Sesak nafas
3. Takikardi
4. Sianosis
5. Akral dingin
6. Wajah pucat
7. Nyeri hebat di bagian dada karena terputusnya integritas jaringan
parenkim paru. (Tambunan, Elvina S., dkk. 2011)

E. Komplikasi
1. Iga: fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada
2. Pleura,paru-paru, bronchi: hemopneumothoraks, empisema
3. Jantung: tamponade jantung, rupture jantung, rupture otot papilar, ruptur
klep jantung.
4. Pembuluh darah besar: hematothoraks
5. Esofagu: mediastinitis
6. Diafragma: herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal.
7. Gagal napas yang disebabkan oleh adanya ineffective air movement (Tidak
efektifnya pertukaran gas), yang seringkali diperberat oleh edema/kontusio
paru, dan nyeri. (Tambunan, Elvina S., dkk. 2011)

F. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan yang dibutuhkan adalah :
1. Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun
a. Pa Co2 kadang kadang menurun
b. Pa 02 menurun
c. Saturasi O2 menurun
2. Hemoglobin mungkin menurun
3. Rontgen Standar
a. Rontgen thorak anteroposterior dan lateral dapat menunjukkan jumlah
dan tipe costae yang mengalami fraktur
b. Pada pemeriksaan foto thorak pada pasien dewasa dengan trauma
tumpul thoraks, adanya gambaran hematothoraks, pneumotoraks, dan
kontusio pulmo menunjukkan hubungan yang kuat dengan gambaran
fraktur kosta.
4. EKG
5. Monitor laju nafas
6. Pulse Oksimetri.
(Somantri, Iman. 2009)

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Konservatif
a. Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri di dada
b. Pemasangan plak/plester yang menahan fraktur costae bergerak keluar
c. Jika perlu antibiotika
d. Fisiotherapy
2. Penatalaksanaan Operatif / invasif
a. Pemasangan Water Seal Drainage (WSD)
b. Pemasangan alat bantu nafas
c. Chest tube
d. Aspirasi (thoracosintesis)
e. Operasi (bedah thoraxis)
f. Tindakan untuk menstabilkan dada:
a) Miringkan pasien pada arah daerah yang terkena.
b) Gunakan bantal pasien pada daerah dada yang terkena
g. Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif,
didasarkan pada kriteria:
a) Gejala contusio paru
b) Syok atau cedera kepala berat
c) Fraktur delapan atau lebih tulang iga
d) Umur diatas 65 tahun
e) Riwayat penyakit paru-paru kronis
f) Oksigen tambahan
(Somantri, Iman. 2009)

H. Asuhan Keperawatan
Pengkajian

1. Identitas
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien
tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan
dan jadi penanggung jawab klien selama perawatan, data yang
terkumpul meliputi nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan
dengan klien dan alamat.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien
saat pengkajian. Biasanya pasien akan mengeluh nyeri pada dada saat
bernafas.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui
metode SOCRATES adalah Site (lokasi), Onset, Character (tajam,
diremas, ditekan), Radiation (menjalar ke leher, lengan dan rahang ?),
Association (terkait dengan rasa mual, pusing, atau palpitasi), Timing
(apakah bervariasi waktunya dalam satu hari?) , Exacerbating and
relieving factor (factor pencetus dan pereda : apakah mereda atau
memburuk dengan bernafas atau perubahan postur ?). Severity
(keparahan) : apakah mempengaruhi aktivitas harian atau tidur ?
3. Riwayat kesehatan yang lalu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di
riwayat sebelumnya.
4. Pengkajian pasien dengan pendekatan per sistem dengan meliputi:
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.\
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardia, disritmi, irama jantunng gallops, nadi apical
berpindah, tanda Homman, hipotensi/hipertensi ; DVJ.
c. Integritas ego
Tanda : ketakutan atau gelisah.
5. Makanan dan cairan
Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.
6. Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan,
tajam dan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam,
kemungkinan menyebar ke leher, bahu dan abdomen.
Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi,
mengkerutkan wajah.
7. Pernapasan
Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma,
penyakit paru kronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial
menyebar, keganasan ; pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.
Tanda : Takipnea ; peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak
ada ; fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada
tidak sama ; kulit pucat, sianosis, berkeringat, krepitasi subkutan ;
mental ansietas, bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi
mekanik tekanan positif.
8. Keamanan
Gejala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk keganasan.

9. Penyuluhan /pembelajaran
Gejala : riwayat factor risiko keluarga, TBC, kanker ; adanya bedah
intratorakal/biopsy paru.
10. Pengkajian Sistem
(Somantri, Iman. 2009)

Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot
sekunder.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan
ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
5. Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme
sekunder terhadap trauma. (Nuratif & Kusuma. 2013)

Intervensi Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang
tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
a. Tujuan
Klien akan mendemontrasikan pola nafas efektif
b. Kriteria hasil
a) Frekuensi nafas yang efektif dan perbaikan pertukaran gas pada paru
b) Menyatakan faktor penyebab dan cara adaptif mengatasi faktor-faktor
tersebut
c. Rencana tindakan
a) Monitor frekuensi, irama dan kedalaman pernafasan
b) Posisikan klien dada posisi semi fowler
c) Alihkan perhatian individu dari pemikiran tentang keadaan ansietas dan
ajarkan cara bernafas efektif
d) Minimalkan distensi gaster
e) Kaji pernafasan selama tidur
f) Yakinkan klien dan beri dukungan saat dipsnea

2. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot
sekunder.
a. Tujuan
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
b. Kriteria hasil
1. Klien menyatajkan nyei berkurang
2. Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam
aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
3. Tekanan darah normal
4. Tidak ada peningkatan nadi dan RR
c. Rencana Tindakan
1. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
3. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk
melakukan aktivitas hiburan
4. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
5. Jelaskanprosedu sebelum memulai
6. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
7. Dorong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi,
latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
8. Observasi tanda-tanda vital
9. Kolaborasi : pemberian analgetik

3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik


a. Tujuan
Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
b. Kriteria hasil
1. Penyembuhan luka sesuai waktu
2. Tidak ada laserasi, integritas kulit baik
c. Rencana Tindakan
1. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau
drainae
2. Monitor suhu tubuh
3. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang
menonjol
4. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
5. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
6. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
7. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
8. Kolaborasi pemberian antibiotik.

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan


ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
a. Tujuan
Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan
keperawatan
b. Kriteria hasil
1. Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
2. Mempertahankan posisi fungsinal
3. Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
4. Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas
c. Rencana Tindakan
1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
2. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
3. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas
yang sakit dan tak sakit
4. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur
ketika bergerak
5. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
6. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup
keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan
daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas
7. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi. (Nuratif & Kusuma. 2013
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC


Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC
Nuratif & Kusuma. 2013. Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis NANDA
NIC-NOC Jilid 2. Yogyakarta: Mediaction
Smeltzer, Suzanne C. 2007. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 .
Jakarta : EGC.
Somantri, Iman. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika
Tambunan, Elvina S., dkk. 2011. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi Kemahasiswaan
Keperawatan.Jakarta. Salemba Medika.