Anda di halaman 1dari 10

PERSIAPAN PEMERIKSAAN

 Pada pemeriksaan fistulografi tidak memerlukan persiapan khusus, hanya pada daerah
fistula terbebas dari benda-benda radioopaque yang dapat menganggu radiograf
(Bryan, 1979).
 Apabila pemeriksaan untuk fistula pada daerah abdomen maka saluran usus halus
terbebas dari udara dan fekal material (Ballinger, 1999).
 Alat dan bahan yang harus dipersiapkan sebelum dilakukan pemeriksaan antara lain
(Ballinger, 1999) :
o Pesawat sinar-x yang dilengkapi flluoroskopi
o Film dan kaset sesuai dengan kebutuhan
o Marker R dan L
o Apron
o Sarung tangan Pb
o Cairan saflon
o Peralatan steril meliputi : duk steril, kateter, spuit ukuran 5 ml-20 ml,
korentang, gunting, hand scoen, kain kassa, jeli, abocath, duk lubang.
o Alkohol
o Betadine
o Obat anti alergi
o Media kontras jenis water soluble yaitu iodium.

TEKNIK PEMERIKSAAN

 Sebelum media kontras dimasukkan terlebih dahulu dibuat plan foto dgn proyeksi
Antero Posterior (AP),
 Media kontras dimasukkan dengan kateter atau abocath melalui muara fistula yang
diikuti dengan fluoroskopi.
 Kemudian dilakukan pemotretan pada saat media kontras disuntikkan melalui muara
fistula yang telah mengisi penuh saluran fistula.
 Hal ini dapat dilihat pada layar fluoroskopi dan ditandai dengan keluarnya media
kontras melalui muara fistula (Ballinger, 1995).
 Jumlah media kontras yang dimasukkan tergantung dari luas muara fistula.

TEKNIK PEMASUKAN MEDIA KONTRAS

 Tujuan pemasukan media kontras adalah untuk memperlihatkan fistula pada daerah
perianal.
 Pemasukan media kontras dimulai dengan membersihkan daerah sekitar fistula
dengan betadine.
 Media kontras dimasukkan ke dalam muara fistula kira-kira sedalam 2-3 cm secara
perlahan-lahan melalui kateter yang sudah diberi jeli dan diikuti dengan fluoroskopi.
 Kemudian media kontras disuntikan perlahan-lahan sehingga media kontras masuk
dan memenuhi lubang fistula yang di tandai dengan menetesnya media kontras dari
lubang fistula. (Ballinger, 1995).

PROYEKSI PEMERIKSAAN PADA PERIANAL FISTULA


1. Proyeksi Antero Posterior (AP)
 Posisi pasien supine di atas meja periksaan, kedua tangan diletakkan di atas dada dan
kedua kaki lurus. Pelvis simetris terhadap meja pemeriksaan.
 Kedua kaki endorotasi 15-20 derajat, kecuali jika terjadi fraktur atau dislokasi pada
hip joint.
 Sinar vertikal tegak lurus kaset, central point pada pertengahan kedua krista iliaka
dengan FFD 100 cm.
 Eksposi pada saat pasien tahan nafas.

2. Proyeksi Lateral

 Penderita diatur miring di salah satu sisi yang akan difoto dengan kedua lengan
ditekuk ke atas sebagai bantalan kepala.
 Mid Sagital Plane sejajar meja pemeriksaan, dan bidang axial ditempatkan pada
pertengahan meja pemeriksaan.
 Spina iliaka pada posisi AP sesuai dengan garis vertikal sehingga tidak ada rotasi dari
pelvis.
 Central Point pada daerah perianal kira-kira Mid Axila Line setinggi 2-3 inchi di atas
simfisis pubis, sinar vertikal tegak lurus terhadap kaset dan FFD 100 cm. Eksposi
pada saat pasien tahan nafas.

3. Proyeksi Oblique

 Posisi pasien prone di atas meja pemeriksaan, tubuh dirotasikan ke salah satu sisi
yang diperiksa yang menunjukan letak fistula kurang lebih 45 derajat terhadap meja
pemeriksaan.
 Lengan yang dekat kaset diatur di bawah kepala untuk bantalan kepala sedangkan
lengan yang lain diatur menyilang di depan tubuh. Kaki yang dekat kaset menempel
meja pemeriksaan, kaki yang lain ditekuk sebagai penopang tubuh.
 Pelvis diatur kurang lebih 45 derajat terhadap meja pemeriksaan. Untuk fiksasi, sisi
pinggang yang jauh dari kaset diberi penganjal.
 Sinar diatur vertikal tegak lurus terhadap kaset dan central point pada daerah perianal
kurang lebih 2-3 inchi di atas simfisis pubis, tarik garis 1 inchi tegak lurus ke arah
lateral. FFD diatur 100 cm. Eksposi pada saat pasien tahan nafas.
4. Proyeksi Axial Methode Chassard-Lapine

 Posisi pasien duduk di atas meja pemeriksaan sehingga permukan posterior lutut
menyentuh ujung tepi meja pemeriksaan kemudian kedua tangan lurus ke bawah
menggenggam lutut.
 Pasien membungkukan punggung semaksimal mungkin sampai simfisis pubis
menyentuh meja pemeriksaan, sudut yang dibentuk antara pelvis dgn sumbu vertical
kira-kira 45 derajat.
 Sinar vertikal tegak lurus kaset dengan central point melalui daerah lumboskral
menembus trokhanter mayor. Bila fleksi tubuh terbatas central point diarahkan dari
anterior obyek tegak lurus menuju bidang koronal dari simfisis pubis. FFD diatur 100
cm.

5. Proyeksi Taylor

 Pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan kedua tangan diletakan di atas dada
dan kedua kaki lurus.
 Pelvis diatur sehingga true Antero-Posterior yaitu kedua krista iliaka ka dan ki
berjarak sama terhadap meja pemeriksaan dan Mid Sagital Plane berada di
pertengahan meja pemeriksaan. Sinar menyudut 30o ke cranial, central point pada 2
inchi di bawah batas atas dari simfisis pubis. FFD diatur 100 cm. Eksposi pada saat
pasien tahan nafas.

TUJUAN PEMERIKSAAN
1. Proyeksi Antero Posterior (AP)
Proyeksi AP pre pemasukan media kontras bertujuan untuk melihat struktur anatomi,
persiapan pasien & penentuan faktor eksposi yang tepat. Sedangkan Proyeksi AP post
pemasukan media kontras bertujuan untuk mengetahui arah fistula apakah mengarah ke
kanan atau ke kiri serta untuk melihat penampang fistula dari depan.
2. Proyeksi Lateral
Bertujuan untuk memperlihatkan arah fistula apakah mengarah ke depan atau ke belakang.
3. Proyeksi Oblik
Bertujuan untuk melihat hubungan antara fistula yang satu dengan fistula yang lain jika
kemungkinan terdapat beberapa fistula. Proyeksi ini juga dapat memperlihatkan kedalaman
fistula yang mengarah ke samping.
Perianal imaging of entero-cutaneous fistulae using a 10 MHz ultrasound probe.

usg
Ct scan kontras
Ct kontras
Polos kontras
The red circle refers to the point of penetration of the right side fistula branch to the posterior
vaginal wall

http://www.radiologyassistant.nl/en/p492a8bd748185/rectum-perianal-fistulas.html