Anda di halaman 1dari 39

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 GIGI

Gigi merupakan salah satu organ pengunyah, yang terdiri dari

gigi-gigi pada rahang atas dan rahang bawah, lidah, serta saluran-

saluran penghasil air ludah (Tarigan, 1992).

2.1.1 Proses pembentukan gigi

Pembentukan gigi telah dimulai sejak janin berumur satu setengah

bulan dalam kandungan ibu, vitamin dan mineral pada khususnya kalsium

dan fosfor yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan

gigi bayi diambil secara otomatis dari aliran darah ibu, oleh karena

penting bagi kesehatan ibu dan bayi (Rahmadhan, 2010).

Bahan makanan yang banyak mengandung kalsium dan fosfor

anatara lain susu, keju, daging, ikan telur. Akan tetapi apabila konsumsi

dalam makanan sehari-hari dirasa kurang, dapat ditambahkan dengan

mengkonsumsi obat yang mengandung yang diberikan dengan

pengawasan dokter (Rahmadhan, 2010).

2.1.2 Bentuk gigi

1) Gigi seri (insisivus)

Gigi seri ada 4 buah di atas dan 4 buah di bawah, seluruhnya

ada 8. Tugasnya yaitu memotong dan menggiling makanan.

9
10

2) Gigi taring (kaninus)

Gigi taring ada 4 buah, di atas 2 dan di bawah 2. Terletak di sudut

mulut, bentuk mahkota meruncing, berfungsi untuk merobek makanan.

3) Gigi geraham kecil (premolar)

Geraham merupakan pengganti gigi geraham sulung, letak gigi ini di

belakang gigi taring, berjumlah 8, 4 di atas dan 4 di bawah, yaitu 2

kanan dan 2 kiri. Fungsinya membantu bersama dengan

geraham besar menghaluskan makanan.

4) Gigi geraham Besar (molare)

Gigi geraham besar terletak di belakang gigi geraham kecil,

jumlahnya 12 buah, atas 6 dan bawah 6, masing-masing 3 buah

(permukaan tebal dan bertonjol- tonjol), berfungsi untuk menggiling

makanan (Machfoedz ; Zein, 2005).

Gambar 2.1.2
Bentuk gigi (ramadhan, 2010)
11

Gambar 2.1.2
Bentuk gigi manusia (Anonim, 2009).

2.2 KARIES GIGI

2.2.1 Definisi

Karies berasal dari kata “ker” yang dalam bahasa Yunani artinya

kematian, sedangkan dalam bahasa Latin artinya kehancuran. Karies gigi

merupakan pembentukan lubang pada permukaan gigi yang disebabkan

oleh kuman (Srigupta, 2004). Karies gigi merupakan kerusakan pada

jaringan keras gigi yang ditandai dengan dimulainya proses demineralisasi

atau pelarutan pada lapisan luar gigi (email). Kerusakan yang terjadi pada

gigi tersebut akibat adanya bakteri dalam mulut. Bila tidak dirawat, maka

proses karies akan terus berjalan dan dapat menjadi sumber infeksi (fokal

infeksi) baik untuk jaringan sekitar gigi maupun organ-organ tubuh

lainnya misalnya ginjal, jantung, dll, karies gigi ini dapat mengenai semua

kelompok dalam masyarakat (Kemenkes, 2012). Karies gigi adalah


12

kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam yang ada dalam

karbohidrat melalui perantara mikroorganisme yang ada dalam saliva

(Irma, Intan, 2013 : 18).

2.2.2 Faktor Penyebab

Terdapat 4 faktor yang dapat menimbulkan karies, yaitu host (gigi

dan saliva), agent (mikroorganisme), substrat, dan waktu (Edwina, 1991 :

1-18 ; Benerjee dkk, 2011).

Gambar 2.2.3
Faktor penyebab karies gigi (Heyman dkk, 2013)

1) Host (Gigi dan Saliva)

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan resistensi

gigi terhadap karies meliputi usia gigi, kandungan fluoride, morfologi

gigi, dan pemeliharaan yang dilakukan oleh individu secara

keseluruhan (Heyman et all, 2013). Plak yang mengandung bakteri

merupakan awal terbentuknya karies. Oleh karena itu, daerah gigi yang

memudahkan perlekatan plak sangat mungkin diserang karies.

Terdapatnya gigi berjejal sangat berpengaruh pada sering terjadinya

retensi makanan, sehingga faktor ini menjadi salah satu yang


13

meningkatkan kerentanan gigi terhadap karies. Daerah yang mudah

diserang oleh karies adalah area pit dan fisura pada gigi posterior yang

disebabkan kedalaman fisura sehingga makanan dan debris dapat

dengan mudah terselip pada fisura (Depkes, 2007 ; Edwina, 1991:1-8).

Dalam keadaan normal, gigi geligi selalu dibasahi oleh saliva.

Saliva mengandung ion kalsium dan fosfat sehingga dapat membantu

dalam proses remineralisasi pada karies yang masih dini. Saliva juga

berperan dalam menurunkan akumulasi plak, membantu pembersihan

dari sisa-sisa makanan, dan mempunyai sifat antibakteri karena

kandungan IgA, lisosim, laktoferitin dan laktoperoxida. Dengan

demikian jika aliran saliva berkurang atau menghilang maka risiko

karies gigi dapat meningkat (Edwina, 1991 : 1-8 ; Heyman dkk, 2013).

2) Agent (Mikroorganisme)

Plak gigi merupakan faktor utama penyebab terjadinya karies.

Komposisi mikroorganisme di dalam plak berbeda-beda, bakteri yang

paling banyak dijumpai yaitu Streptopcoccus mutans dan

Lactobacilli.Streptococcus mutans diketahui sebagai bakteri yang

paling berperan dalam proses terjadinya karies, namun setelah

terbentuk kavitas Lactobacilli menjadi lebih dominan. Karies dianggap

sebagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang

memodifikasi karbohidrat. Bakteri ini bersifat asidofilik yang dapat

mensintesa asam secara cepat dari gula dan memproduksi polisakarida


14

ekstra selular yang lengket dimana membantu bakteri lain melekat

pada gigi (Edwina, 1991 : 1-8 ; Heyman et dkk, 2013).

3) Substrat

Substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena

membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang

ada pada permukaan enamel dan dapat mempengaruhi metabolisme

bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan

untuk memproduksi asam serta bahan yang aktif yang menyebabkan

timbulnya karies. Makanan dan minuman yang mengandung gula,

akan menurunkan pH plak dengan cepat sehingga menyebabkan

demineralisasi enamel. Sintesa polisakarida ekstra sel dari sukrosa

lebih cepat dibandingkan glukosa, fruktosa, dan lakotsa. Oleh karena

itu, sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik karena banyak

dikonsumsi sehingga sukrosa merupakan penyebab karies gigi utama

(Edwina, 1991 : 1-8 ; Heyman dkk, 2013).

4) Waktu

Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada

manusia yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun.

Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi

suatu kavitas cukup bervariasi diperkirakan 6-48 bulan (Chemiawan,

2004).
15

2.2.3 Faktor lain

Selain keempat faktor diatas, terdapat juga faktor-faktor lain yang

berpengaruh terhadap pembentukan karies yang mungkin tidak sama pada

semua orang. Faktor-faktor tersebut adalah

a. Jenis Kelamin

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh Joshidi India dari total

populasi anak usia 7-14 tahun sebanyak 150 orang, diperoleh kejadian

karies lebih tinggi pada laki-laki yaitu 80% sedangkan perempuan

20%. Hal ini terjadi karena perempuan lebih memiliki keinginan untuk

menjaga kebersihannya (Joshi dkk, 2005 : 138-140).

b. Usia

Penelitian epidemiologis menunjukan terjadi peningkatan

prevalensi karies sejalan dengan bertambahnya umur. Gigi yang paling

akhir erupsi lebih rentan terhadap karies. Kerentanan ini meningkat

karena sulitnya membersihakan gigi yang sedang erupsi sampai gigi

tersebut mencapai dataran oklusal dan beroklusi dengan gigi

antagonisnya. Anak mempunyai resiko karies yang paling tinggi ketika

gigi mereka baru erupsi (Marya,2011).

c. Tingkat Sosial Ekonomi

Weinstein menjelaskan bahwa ada hubungan antara keadaan sosial

ekonomi dan prevalensi karies. Anak dari keluarga dengan tingkat

sosial ekonomi rendah mengalami jumlah karies gigi yang lebih

banyak dan kecenderungan untuk tidak mendapatkan perawatan gigi


16

lebih tinggi dibanding anak dengan tingkat sosial ekonomi tinggi.

Kemiskinan pada golongan minoritas juga meningkatkan risiko

kesehatan mulut yang buruk (Pintauli 2009 : 4-6).

d. Kebiasaan Makan

Anak dan makanan jajanan merupakan dua hal yang sulit untuk

dipisahkan. Anak yang memiliki kegemaran mengkonsumsi jenis

jajanan secara berlebihan sehingga beberapa bakteri penyebab karies di

rongga mulut akan mulai memproduksi asam yang menyebabkan

terjadi demineralisasi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah

makan. Diantara periode makan, saliva akan bekerja menetralisasi

asam dan membantu proses remineralisasi. Namun, apabila makanan

jajanan terlalu sering dikonsumsi, maka enamel gigi tidak akan

mempunyai kesempatan untuk melakukan remineralisasi dengan

sempurna sehingga terjadinya karies (Marya, 2011).

e. Menggosok Gigi

Menggosok gigi adalah membersihkan gigi dari sisa sisa

makanan, bakteri dan plak. Kebiasaan menggosok gigi yang baik

merupakan cara paling efektif untuk mencegah karies gigi. Menggosok

gigi dapat menghilangkan plak dan deposit bakteri lunak yang melekat

pada gigi yang menyebabkan karies gigi (Ratna, 2008 ; Wong dkk,

2008).
17

2.2.4 Klasifikasi

Gambar 2.2.6
Gigi sehat dan gigi karies

Klasifikasi karies menurut G.V Black ( Baum Phillips, 1997 ) :

 Kelas 1 : Kavitas pada semua pit dan fissure gigi, terutama pada

premolar dan molar.

 Kelas 2 : Kavitas pada permukaan approksimal gigi posterior yaitu

pada permukaan halus / lesi mesial dan atau distal biasanya berada di

bawah titik kontak yang sulit dibersihkan . Dapat digolongkan sebagai

kavitas MO (mesio-oklusal) , DO (disto-oklusal) dan MOD (mesio-

oklusal-distal).

 Kelas 3: Kavitas pada permukaan approksimal gigi- gigi depan juga

terjadi di bawah titik kontak, bentuknya bulat dan kecil.

 Kelas 4 : Kavitas sama dengan kelas 3 tetapi meluas sampai pada sudut

insisal.

 Kelas 5 : kavitas pada bagian sepertiga gingival permukaan bukal atau

lingual,lesi lebih dominan timbul dipermukaan yang menghadap ke


18

bibir/pipi dari pada lidah. Selain mengenai email,juga dapat mengenai

sementum.

 Kelas 6: Terjadi pada ujung gigi posterior dan ujung edge insisal

incisive. Biasanya pembentukkan yang tidak sempurna pada ujung

tonjol/edge incisal rentan terhadap karies.

Gambar 2.2.5.2
Klasifikasi karies menurut G.V Black

2.2.5 Jenis-jenis

Menurut Widya (2008), jenis karies gigi berdasarkan tempat terjadinya:

a. Karies Insipiens

Merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi

(lapisan terluar dan terkaras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya

ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email.

b. Karies Superfisialis

Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan

kadang-kadang terasa sakit.


19

c. Karies Media

Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin (tulang

gigi) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar

pulpa. Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin,

makanan asam dan manis.

d. Karies Profunda

Merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah

mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya

terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun. Apabila tidak

segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk

perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-

karies lainnya.

2.2.6 Pencegahan

Klasifikasi pelayanan pencegahan dibagi menjadi 3 yaitu

pencegahan primer, sekunder dan tersier :

A. Pencegahan primer

Menurut Alpers (2006) mencegah pembusukan dengan tindakan

pencegahan sebagai berikut :

1) Memilih makanan dengan cermat

Makanan yang mengandung karbohidrat juga berfenmentasi

termasuk gula dan tepung kemudian akan diolah menjadi roti dan

keripik kentang. Karena karbohidrat merupakan sumber makanan

penting sehingga jangan mengurangi karbohidrat yang akan di


20

konsumsi. Mengatur kebiasaan makan anak dengan sebagai

berikut :

a) Menghindari makanan yang lengket dan kenyal seperti snack.

Usahakan untuk membersihkan gigi dalam waktu 20 menit

setelah makan. Apabila tidak menyikat gigi maka berkumurlah

dengan air putih.

b) Memilih snack dengan cermat.

Makan snack setiap hari memungkinkan bakteri terus

membentuk asam yang merusak gigi. Jangan makan makanan

manis terus menerus. Jika ingin menguyah permen dengan

memilih produk yang tidak mengandung gula karena

mengandung xylitol atau aspartam dapat mengurangi bakteri

pembuat lubang pada gigi.

2) Pemeliharaan gigi

Mulut tidak bisa dihindarkan dari bakteri, tetapi mencegah bakteri

dengan membersihkan mulut dengan teratur. Ajarkan anak untuk

menyikat gigi > 2 kali sehari. Menganjurkan untuk melakukan

pemeriksaan gigi tiap 6 bulam sekali.

3) Pemberian flour

Membubuhkan flour dalam air minum yang kekurangan flour

untuk mencegah karies gigi. Tambahan tersebut dapat berupa

tetes atau tablet. Obat ini biasanya dikumurkan dalam mulut sekitar

30 detik kemudian dibuang. Anak rentan terhadap gigi berlubang


21

sehingga pemberian flour secara topikal termasuk pasta gigi yang

mengandung flour sangat bermanfaat.

B. Pencegahan sekunder

1) Penambalan gigi, kerusakan gigi biasanya dihentikan dengan

membuang bagian gigi yang rusak dan diganti dengan tambalan

gigi. Jenis bahan tambalan yang digunakan tergantung dari lokasi

dan fungsi gigi. Geraham dengan tugas mengunyah memerlukan

bahan yang lebih kuat dibandingkan gigi depan. Perak amalgam

digunakan pada gigi belakang. Tambalan pada gigi depan dibuat

tidak terlihat dan mirip dengan email. Resin komposit adalah

bahan yang sering digunakan pada gigi depan dan belakang bila

lubangnya kecil dan merupakan bahan yang warnanya sama dengan

warna gigi. Jika saraf gigi telah rusak dan tidak dapat diperbaiki

maka gigi perlu dicabut.

2) Dental sealant, perawatan untuk mencegah gigi berlubang dengan

menutupi permukaan gigi dengan suatu bahan. Dental sealant

dilakukan pada permukaan kunyah gigi premolar dan molar. Gigi

dicuci dan dikeringkan kemudian memberi pelapis pada gigi

(Lithin, 2008).

C. Pencegahan tersier, gigi dengan karies yang sudah dilakukan

pencabutan terhadap rehabilitasi dengan pembuatan gigi palsu.

2.2.7 Pengukuran Keaktifan Karies Gigi

Dalam mempelajari setiap penyakit, ahli epidemiologi akan melihat


22

baik prevalensi maupun insidennya, prevalensi adalah bagian dari suatu

kelompok masyarakat yang terkena suatu penyakit atau suatu keadaan

dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan insiden adalah pengukuran

tingkat kemajuan suatu penyakit, oleh karena itu untuk mengukur insidens

dibutuhkan dua pemeriksaan yaitu satu pada pemulaan dan satu pada

akhir kurun waktu tertentu. Dengan demikian insidens adalah peningkatan

atau penurunan jumlah kasus baru yang terjadi pada suatu kelompok

masyarakat pada suatu kurun waktu tertentu.

Sebelum insidens dan prevalensi dapat di ukur, di perlukan

pengukuran kuantitatif lebih dahulu yang akan mencerminkan besarnya

penyebaran penyakit pada suatu populasi.

Pada kasus karies pengukuran akan meliputi :

a. jumlah karies gigi yang tidak di obati (D)

b. jumlah karies gigi yang tidak di cabut (M)

c. jumlah karies gigi yang di tambal (F)

Pengukuran ini di kenal sebagai indeks DMF dan merupakan indeks

aritmatika penyebaran karies yang kumulatif pada suatu kelompok

masyarakat. DMF (T) digunakan untuk mengemukakan gigi karies, hilang

dan di tambal, DMF (S) menyatakan gigi karies hilang dan permukaan

gigi yang ditambal pada gigi permanen, sehingga jumlah pengukuran gigi

yang terserang karies harus diperhitungkan. Indeks yang sama bagi gigi

sulung adalah def (s) dimana e menunjukan jumlah gigi yang dicabut

(bukan hilang karena tangal secara alamiah) dan f menunjukan gigi atau
23

permukaan gigi yang ditambal (Kidd, 2005 : 12-3).

Rumusan yang digunakan untuk menghitung DMF-T :

DMF-T = D + M + F

Jumlah D+M+F
DMF-T rata-rata =
Jumlah orang yang diperiksa

Kategori DMF-T menurut WHO :

a. Sangat rendah = 0,0 – 1,1

b. Rendah = 1,2 – 2,6

c. Sedang = 2,7 – 4,4

d. Tinggi = 4,5 – 6,5

e. Sangat tinggi = > 6,6

2.3 MAKANAN KARIOGENIK

2.3.1 Definisi

Makanan kariogenik adalah makanan yang dapat

menyebabkan terjadinya karies gigi. Sifat makanan kariogenik adalah

banyak mengandung karbohidrat, lengket dan mudah hancur di dalam

mulut. Hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan terjadinya karies

gigi ada kaitannya dengan pembentukan plak pada permukaan gigi. Plak

terbentuk dari sisa-sisa makanan yang melekat di sela-sela gigi dan

pada plak ini akhirnya akan ditumbuhi bakteri yang dapat mengubah

glukosa menjadi asam sehingga pH rongga mulut menurun sampai

dengan 4,5. Pada keadaan demikian maka struktur email gigi akan

terlarut. Pengulangan konsumsi karbohidrat yang terlalu sering


24

menyebabkan produksi asam oleh bakteri menjadi lebih sering lagi

sehingga keasaman rongga mulut menjadi lebih asam dan semakin

banyak email yang terlarut (Rahmadhan, 2010).

Frekuensi makan dan minum tidak hanya menimbulkan erosi,

tetapi juga kerusakan gigi atau karies gigi. Konsumsi makanan manis

pada waktu senggang jam makan akan lebih berbahaya daripada saat

waktu makan utama. Terdapat dua alasan, yaitu kontak gula dengan

plak menjadi diperpanjang dengan makanan manis yang

menghasilkan pH lebih rendah dan karenanya asam dapat dengan

cepat menyerang gigi. Kedua yaitu adanya gula konsentrasi tinggi

yang normal terkandung dalam makanan manis akan membuat plak

semakin terbentuk (Rahmadhan, 2010).

1. Makanan Kariogenik Penyebab Karies Gigi

Kariogenitas suatu makanan tergantung dari :

a. Bentuk fisik

Karbohidrat dalam bentuk tepung atau cairan yang bersifat

lengket serta mudah hancur di dalam mulut lebih memudahkan

timbulnya karies dibanding bentuk fisik lain, karbohidrat seperti

ini misalnya kue-kue, roti, es krim, susu, permen dan lain-lain.

Diet karbohidrat cenderung mempunyai lebih banyak

karies. Jenis karbohidrat yang paling kariogenik adalah gula

atau sukrosa karena mempunyai kemampuan untuk menolong

pertumbuhan bakteri kariogenetik. Mikroorganisme yang aktif


25

menyebabkan karies gigi adalah Streptococcus mutans,

Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius. Oleh

mikroorganisme ini gula diubah menjadi asam yang berperan

untuk terjadinya permulaan karies gigi.

Karbohidrat yang dapat menyebabkan karies dentis bersifat :

1) Ada dalam diet dalam jumlah yang berarti

2) Siap difermentasikan oleh bakteri kariogenik

3) Larut secara perlahan-lahan dalam mulut.

Karbohidrat yang memenuhi ke tiga syarat tersebut adalah

Starch (polisakharida), Sukrosa (disakharida) dan Glukosa

(monosakharida).

b. Jenis : Karbohidrat yang berhubungan dengan proses karies

adalah polisakarida, disakarida, monosakarida dan sukrosa

terutama mempunyai kemampuan yang lebih efisien terhadap

pertumbuhan mikroorganisme asidogenik dibanding karbohidrat

lain. Sukrosa dimetabolisme dengan cepat untuk menghasilkan zat-

zat asam. Makanan manis dan penambahan gula dalam minuman

seperti air teh atau kopi bukan merupakan satu-satunya sukrosa

dalam diet seseorang.

c. Frekuensi konsumsi : Frekuensi makan dan minuman tidak hanya

menentukan timbulnya erosi tetapi juga kerusakan karies.

Banyaknya intake gula harian lebih besar korelasinya dibanding

dengan frekuensi makan gula. Hubungan gula dalam makanan


26

dengan karies lebih besar dari total diet karena makanan ringan lebih

sering dimakan dalam frekuensi tinggi. Hal-hal yang dapat

meningkatkan karies gigi adalah sebagai berikut :

1) Komposisi gula yang meningkat akan meningkatkan

aktivitas karies.

2) Kemampuan gula dalam menimbulkan karies akan bertambah

jika dikonsumsi dalam bentuk yang lengket

3) Aktivitas karies juga meningkat jika jumlah konsumsi

makan makanan yang manis dan lengket ditingkatkan

4) Aktivitas karies akan menurun jika ada variasi makanan

5) Karies akan menurun jika menghilangkan kebiasaan

makan- makanan manis yang lengket dari bahan makanan.

2. Frekuensi makanan kariogenik

Mengonsumsi makanan kariogenik dengan frekuensi yang

lebih sering akan meningkatkan kemungkinan terjadinya karies

dibandingkan dengan mengonsumsi dalam jumlah banyak tetapi

dengan frekuensi yang lebih jarang (Arisman, 2002). Terlalu sering

ngemil akan membuat saliva dalam rongga mulut tetap dalam

suasana asam akibatnya gigi akan semakin rentan terhadap karies.

Beberapa hasil penelitian menganjurkan supaya makanan dan

minuman yang bersifat kariogenik jangan dikonsumsi sepanjang hari

tetapi sebaiknya dikonsumsi pada tiga waktu makan utama, hal ini

dapat mengurangi resiko karies. (Houwink, 1993).


27

2.3.2 Macam-macam makanan kariogenik

Bahan makanan dari jenis kariogenik tinggi yang paling sering

dikonsumsi oleh responden adalah susu (80,5%), sedangkan bahan

makanan dari jenis kariogenik sedang yang paling sering dikonsumsi

adalah sirup (76,4%), dan bahan makanan dari kariogenik rendah adalah

gorengan (72,2%). Waktu konsumsi makanan kariogenik yang paling

sering dilakukan adalah makanan atau minuman berada di dalam mulut

lebih dari 3 menit dan dikonsumsi sebelum jam makan utama, bahan

makanan yang dikonsumsi dengan waktu ini adalah permen (70,8%), es

krim (69,5%) dan buah kering (57%) (ulfah, 2013).

Gambar 2.3.2
Makanan kariogenik

2.3.3 Makanan berdasarkan potensi menyebabkan karies

Berdasarkan potensi menyebabkan karies, makanan dapat dibedakan

atas, makanan dapat dibedakan berpotensi tinggi, sedang, rendah, tidak

berpotensi menyebabkan karies, dan makanan yang mampu menghambat

karies (Jamil, 2011). Dapat dilihat pada tabel 2.3.3


28

Tabel 2.3.3 Makanan Berdasarkan Potensi Penyebab Karies


Potensi Jenis Makanan

Tinggi Buah kering, permen, kue, chip


dan crackers..
Sedang Jus buah, manisan, buah kaleng,
minuman ringan, dan roti.
Rendah Sayur, buah, dan susu.

Tidak berpotensi karies Daging, ikan unggas, dan minyak.

Mampu mengahambat Keju, xilitol, dan kacang


karies

2.4 MENGGOSOK GIGI

2.4.1 Definisi

Menggosok gigi adalah membersihkan gigi dari sisa sisa makanan, bakteri

dan plak. Kebiasaan menggosok gigi yang baik merupakan cara paling

efektif untuk mencegah karies gigi. Menggosok gigi dapat menghilangkan

plak dan deposit bakteri lunak yang melekat pada gigi yang menyebabkan

karies (Ratna, 2008 ; wong, 2008).

2.4.2 Alat menggosok gigi (E-jurnal ; Mira, 2013).

1. Sikat gigi
a. Sesuaikan ukuran sikat gigi dengan rongga mulut, terutama untuk

bagian yang sulit di jangkau. Selain itu, dengan memiliki sikat gigi

yang sesuai dengan rongga mulut, dapat mengoptimalkan tingkat

fleksibilitas yang lebih tinggi. Terutama bagi yang memiliki


29

struktur gigi cukup kecil, disarankan menggunakan ukuran sikat

gigi yang berukuran kecil. Ukuran sikat gigi menurut American

Dental Asssociation adalah untuk orang dewasa maksimal

29x10mm, sikat gigi anak maksimal 24x8mm (bila gigi molar

kedua telah erupsi), maksimal 20x7mm setelah gigi molar muncul,

sikat gigi anak balita maksimal 18x7mm.

b. Pilih yang bulu sikatnya lembut tapi cukup kuat untuk melepas

kotoran di gigi. Hal ini berguna untuk melindungi gusi dari

kemungkinan terluka ketika menyikat gigi. Bulu sikat yang terlalu

kasar dapat merusak lapisan gusi sehingga menyebabkan gigi

menjadi sensitif. Sedangkan bulu sikat yang terlalu halus

menyebabkan kebersihan gigi menjadi kurang optimal.

c. Sikat gigi dengan pegangan yang cukup lebar dapat membantu

untuk menggenggam dengan lebih kuat walaupun dalam keadaan

basah. Pada tangkai sikat gigi anak-anak tangkai harus relatif agak

panjang, sehingga orang tua atau perawat juga dapat berpegang

pada sikat gigi atau minimal 14cm.

d. Jika menggunakan jenis sikat gigi yang memiliki penutup kepala

sikat, pastikan penutup sikat memiliki lubang ventilasi udara.

Dengan demikian proses tumbuhnya bakteri akibat tingkat

kelembaban uang tinggi di kepala sikat dapat dihindari.

e. Pilih sikat gigi dengan permukaan bulu rata (permukaan zig-zag

belum tentu pas dengan lekuk gigi sehingga tidak efektif) dengan
30

ujung bulu yang membulat. Panjang bulu sikat untuk orang dewasa

maksimal 10x12mm, sikat gigi anak-anak 8x10mm dan sikat anak

balita 7x8mm.

f. Keefektifan dalam menyikat gigi juga tergantung pada sikat.

Ketika bulu tidak efektif untuk membersihkan sikat gigi harus

diganti. Warna penujuk bulu sikat gigi dianjurkan yang dapat

berubah warna, jadi apabila bulu sikat sudah tidak efektif lagi maka

warna bulu sikat akan berubah warna. Batas pemakaian sebuah

sikat gigi adalah 3 bulan, jika digunakan lebih dari tempo yang

ditentukan maka berpotensi melukai gusi ketika proses penyikatan

berlangsung.

g. Jangan meminjamkan sikat gigi karena mengandung banyak

bakteri yang dapat berpindah walaupun sudah dibersihkan.

2. Pasta gigi

Pasta gigi yang baik adalah pasta gigi yang mengandung fluor,

karena dapat menguatkan gigi dari karies atau gigi berlubang.

Penggunaan pasta gigi akan membantu peoses penyikatan, biasanya

berbau enak dan sering mendorong orang untuk menggosok gigi,

terutama di kalangan anak-anak.

3. Gelas kumur

Gelas kumur digunakan untuk kumur-kumur pada saat

membersihkan setelah penggunaan sikat gigi dan pasta gigi. Diajurkan


31

air yang digunakan adalah air matang, tetapi paling tidak air yang

digunakan adalah air yang bersih dan jernih.

4. Cermin

Cermin digunakan untuk melihat permukaan gigi yang tertutup plak

pada saat menggosok gigi. Dengan cermin kita dapat melihat bagian

mana yang belum bersih.

2.4.3 Frekuensi menggosok gigi (Fatarina, 2010).

Makanan yang menempel pada gigi, seperti permen memerlukan

waktu relatif lama untuk membersihkan. Selama waktu inilah, yaitu segera

sesudah makan sebagian besar kerusakan gigi terjadi oleh bakteri. Maka

waktu yang ideal untuk menggosok gigi adalah sesudah makan dan

minum.

Para ahli berpendapat bahwa dalam menggosok gigi 2 kali sehari

sudah cukup, karena pembersihan sisa-sisa makanan kadang-kadang tidak

sempurna, dan ada kemungkinan bahwa bila ada yang terlewat pada pagi

hari, pada waktu malam hari dapat dibersihkan. Waktu terpenting

menggosok gigi adalah yang terakhir malam hari sebelum tidur, karena

aliran ludah tidak seaktif siang hari dimana bakteri berkembang biak dari

sisa makanan, menggosok gigi pertama kali dilakukan pada pagi hari

karena bakteri berkumpul dalam mulut. Frekuensi menggosok gigi

sebaiknya dibersihkan 3 kali dalam sehari, setiap sesudah makan dan

sebelum tidur malam. Dalam praktek anjuran tersebut tidak selalu dapat
32

dilakukan, terutama bila siang hari seseorang mempunyai kesibukan dalam

pekerjaan.

2.4.4 Prosedur atau langkah-langkah menggosok gigi

Langkah-langkah menggosok gigi yang benar adalah sebagai berikut

(Farida, 2010):

a. Sikat gigi dan gusi dengan posisi kepala sikat membentuk sudut 45

derajat di daerah perbatasan antara gigi dengan gusi.

b. Gerakan sikat dengan lembut dan memutar. Sikat bagian luar

permukaan setiap gigi atas dan bawah dengan posisi bulu sikat 45

derajat berlawanan dengan garis gusi agar sisa makanan yang

mungkin masih menyelip dapat dibersihkan.

c. Gunakan gerakan yang sama untuk menyikat bagian dalam permukaan

gigi.

d. Gosok semua bagian permukaan gigi yang digunakan untuk

mengunyah. Gunakan hanya ujung bulu sikat gigi untuk

membersihkan gigi dengan tekanan ringan sehingga bulu sikat tidak

membengkok. Biarkan bulu sikat membersihkan celah-celah gigi.

Rubah posisi sikat gigi sesering mungkin.

e. Untuk membersihkan gigi depan bagian dalam, gosok gigi dengan

posisi tegak dan gerakkan perlahan ke atas dan bawah melewati garis

gusi.

f. Sikat lidah untuk menyingkirkan bakteri dan agar napas lebih segar.

g. Pilihlah sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut karena yang keras
33

dapat membuat gusi terluka dan menimbulkan abrasi pada gigi, yaitu

penipisan struktur gigi terutama di sekitar garis gusi. Abrasi dapat

membuat bakteri dan asam menghabiskan gigi karena lapisan keras

pelindung enamel gigi telah terkikis.

h. Ganti sikat gigi jika bulu sikat sudah rusak dan simpan di tempat yang

kering sehingga dapat mengering setelah dipakai.

i. Jangan pernah meminjamkan sikat gigi kepada orang lain karena sikat

gigi mengandung bakteri yang dapat berpindah dari orang yang satu

ke yang lain meski sikat sudah dibersihkan.

j. Gunakan sikat gigi elektrik untuk si kecil agar lebih mudah digunakan.

Sikat gigi jenis ini sebenarnya dapat membersihkan lebih baik

daripada sikat gigi manual, namun sebaiknya konsultasikan terlebih

dulu soal penggunaannya dengan dokter gigi.

Gambar 2.4.2
Cara menggosok gigi yang benar
34

2.5 SINDROM DOWN

2.5.1 Definisi

Sindrom down didefinisikan pertama kali oleh John Langdon

seorang dokter dari Inggris pada tahun 1866. Esquirol tahun 1838 dan

Seguin tahun 1846 melaporkan seorang anak yang memiliki tanda-tanda

sepertisindrom down yang mempunyai bentuk mata khas seperti bangsa

mongol yang disebut dengan mongoloid, namun istilah mongoloid tidak

digunakan lagi karena dapat menyinggung perasaan suatu bangsa

(Soetjiningsih, 1995 : 211).

Sindrom down bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan

kelainan genetik yang dapat terjadi pada pria dan wanita. Sindrom down

ditandai dengan berlebihnya jumlah kromosom 21 yang seharusnya 2 buah

menjadi 3 buah, sehingga jumlah seluruh kromosom menjadi 47 buah.

Normal jumlah kromosom manusia adalah 23 pasang kromosom.

Kelebihan kromosom 21 mengakibatkan adanya perubahan karakteristik

fisik dan kemampuan intelektual. Anak yang mengalami kelainan Sindrom

down biasanya memiliki kecerdasan (IQ) rendah yaitu di bawah 30

(Sudiono, 2008 : 84-91 ; Soetjiningsih, 1995 : 221).

2.5.2 Etiologi

Sindrom down disebabkan oleh kesalahan dalam pembelahan sel

yang disebut nondisjunction yang menyebabkan embrio memiliki tiga

salinan kromosom 21. Nondisjunction adalah Kegagalan dua kromosom


35

homolog untuk memisahkan sel-sel yang membelah selama divisi meiosis

1 atau 2 kromatid sebuah kromosom untuk memisahkan sel-sel yang

membelah selama mitosis atau divisi meiosis II sebagai akibatnya, satu sel

anak mempunyai satu kromosom tambahan dan yang lain mempunyai satu

kromosom. Salah satu faktor penting yang berperan dalam terjadinya

nondisjunction adalah usia ibu saat hamil dan melahirkan (Situmorang,

2011 : 96-101 ; Soetjiningsih, 1995 :221).

2.5.3 Karakteristik

Kecepatan pertumbuhan fisik anak sindrom down lebih rendah

apabila dibandingkan dengan anak normal. Penderita sindrom down

mempunyai banyak karakteristik gambaran klinis dan manifestasi sistemik

yang bervariasi (situmorang, 2011 : 96-101 ; Soetjiningsih, 1995 : 221).

Gambaran klinis sindrom down pada umunya dengan mudah dapat

diketahui, yaitu wajah penderita sindrom down bentuk bulat (rounded

face) dengan kepala mendatar (brachycephaly) yang terlihat pada Gambar

2.5.3 Rambut terlihat jarang dan halus, tulang oksipital datar dan dahinya

menonjol agak rendah. Selain itu, tubuh dan leher penderita down sindrom

pendek dan bungkuk, hipotonia (otot lemah) yang menyebabkan

pertumbuhan terganggu sehingga lambat dalam belajar berjalan dan

berbicara (Sudiono, 2008 : 84-91 ; Astuti dkk : 1-4 ; Soetjiningsih, 1995 :

221).

Mata berbentuk almond dengan fisura palpebra miring ke arah

atas,ada bercak brushfield (bercak kecil putih) pada iris mata yang terlihat
36

pada Gambar 2.5.3 Pangkal hidung lebar dan datar, telinga pendek dan

letak agak rendah yang terlihat pada Gambar 2.5.3. Telapak tangan down

sindrom hanya memiliki satu garis tangan melintang dengan jari pendek

dan lebar yang dinamakan Simian Crease, dapat dilihat pada Gambar 2.5.3

(Sudiono, 2008 : 84-91 ; Astuti dkk : 1-4 ; Soetjiningsih, 1995 : 221).

Gambar 2.5.3
Wajah rounded face (Sudiono, 2008 : 84-91)

Gambar 2.5.3
Brushfield spot dan lipatan epikantus (Sudiono, 2008 : 84-91)
37

Gambar 2.5.3
Telinga pendek dan epikantus (Sudiono, 2008 : 84-91)

Gambar 2.5.3
Simian Crease (Sudiono, 2008 : 84-91)

Sindrom down juga memiliki manifestasi sistemik yang bervariasi,

sehingga memerlukan perhatian khusus dan penanganan medis, yaitu

dalam hal pendengaran. 70-80% sindrom down dilaporkan terdapat

gangguan pendengaran, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan sejak awal

serta dilakukan tes pendengaran oleh ahli THT. 30-40% sindrom down

disertai dengan penyakit jantung bawaan, gangguan penglihatan atau

katarak serta gangguan nutrisi yaitu terjadi gangguan pertumbuhan,


38

obesitas pada masa remaja atau setelah dewasa, sehingga diperlukan kerja

sama dengan ahli gizi (Sudiono, 2008 : 84-91 ; Soetjiningsih, 1995 : 221).

Selain mengakibatkan gangguan dalam kesehatan fisik, kelainan

perkembangan pada sindrom down dapat mempengaruhi kondisi psikis

yaitu terjadinya keterbelakangan mental.Sindrom down juga mengalami

gangguan artikulasi seperti perubahan bunyi dan penghilangan bunyi yang

akan terlihat ketika melafalkan bunyi-bunyi vokal, konsonan, maupun

semi vokal, karena besarnya ukuran lidah, bibir tebal, rongga hidung

sempit, dan posisi rahang yang tidak sempurna (Irdawati, 2009 : 47-50 ;

Maryamatussalamah dkk, 2013).

2.5.4 Rongga Mulut Anak Down Sindrom

Terdapat beberapa karakteristik keadaan rongga mulut yang ada pada

sindrom down, yaitu protrusi lidah dan makroglossia, lidah berfisur dan

hipertrofi dorsum lidah, langit-langit yang melengkung, mikrognasia,

maksilari yang asimetris, gigitan terbuka, bernafas melalui mulut, angular

cheilitis, maloklusi, bruksism, oral higene yang jelek, insiden karies, gigi

yang berjarak, lambat erupsi, tinggi prevalensi dalam penyakit

periodontal, malformasi gigi, mikrodonsia, berbentuk konus,

hipodonsia, supernumerary teeth, taurodonsia dan enamel hipoplasia.

Dental anomaly pada penderita sindrom down merupakan suatu yang biasa

terlihat pada gigi desidui maupun permanen dimana dental anomaly terjadi

lima kali lebih besar berbanding populasi normal.


39

Tabel 2.5.4 Keadaan Rongga Mulut pada Penderita Sindrom Down


(Dessai SS, 1997)

Area Kondisi

Palatum "Stair palate" dengan bentuk "v" pada langit-


langitnya
Palatum lunak yang tidak sempurna

Lidah Bentuk scallop dan berfissured


Protrusi dan lidah yang terdorong (karena rongga
mulut yang kecil)
Makroglossia (karena kavitas rongga mulut yang
kecil)
Lidah yang kering (karena bernafas dari mulut)

Dental Mikrodonsia
Hypodonsia
Anodonsia
Supernumerary teeth
Spacing Taurodontism
Crown variants
Agenesis
Hypoplasia dan hypocalcification
Resiko karies gigi yang tinggi Erupsi
yang terlambat

Periodontal Peningkatan resiko penyakit periodontal

Oklusi Malalignment
Frequent malocclusions
Frequent temporomandibular joint dysfunction
Platybsia
Brukism
40

1. Lidah

Sindrom down mempunyai lidah berukuran makroglosia serta

berfisura pada permukaan dorsal 2/3 anterior yang terlihat pada

Gambar 2.5.4 Lidah sindrom down mempunyai panjang dan

kedalaman yang bervariasi. Permukaan dorsal lidah biasanya kering

dan tepi lidah mempunyai pola cetakan gigi yang dinamakan scalloped

tongue. Lidah makroglosia (pembesaran lidah yang tidak normal)

menyebabkan bibir kering, pecah-pecah, mulut terbuka, gangguan

mastikasi, kesulitan berbicara, dan lengkungan langit-langit tinggi

berbentuk V yang terlihat pada Gambar 2.6 (Jaccarico, 2009 ; Cheng

dkk, 2011).

Gambar 2.5.4
Lidah makroglosia dan berfisur (Sudiono, 2008 : 84-91)
41

Gambar 2.5.4
Langit-langit tinggi berbentuk V (Cheng dkk, 2011)

2. Kelainan Gigi

Sindrom down memiliki kelainan gigi meliputi ukuran, bentuk,

dan jumlah gigi. Kelainan dalam ukuran gigi biasanya berupa

mikrodonsia (gigi dengan ukuran yang lebih kecil dari ukuran normal)

yang terlihat pada Gambar 2.5.4 kelainan dalam bentuk gigi adalah

konus, kelainan dalam hal jumlah adalah anodonsia sebagian dan gigi

supernumerary. Sindrom down sering mengalami keterlambatan erupsi

gigi, baik erupsi (munculnya tonjol gigi atau tepi insisal gigi

menembus gingiva) gigi sulung maupun permanen, hal ini dipengaruhi

oleh faktor genetik dan hipotonia (otot lemah). Aktivitas otot

menyebabkan gangguan pada pertumbuhan rahang sehingga erupsi

gigi terganggu (Astuti dkk : 1-4 ; Maryamatussalamah dkk, 2013 ;

Jaccarico, 2009 ; Cheng dkk, 2011).


42

Gambar 2.5.4
Mikrodonsia (Cheng dkk, 2011)

Gambar 2.5.4
Anodonsia, Oligodonsia, Hypodonsia
43

Gambar 2.5.4 Supernumerary

Gambar 2.5.4 Maloklusi

Gambar 2.5.4 Bruxism


44

3. Karies gigi

Karies gigi merupakan penyakit yang ditandai dengan adanya

kerusakan jaringan dimulai dari permukaan gigi dan dapat meluas ke

pulpa gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organik yang dapat

menyebabkan rasa ngilu sampai rasa nyeri (Kidd, 2005). Menurut

sebagian besar para peneliti, anak sindrom down memiliki tingkat

karies gigi yang lebih sedikit dibandingkan dengan anak-anak dan

orang dewasa yang normal karena terdapatnya keterlambatan erupsi

gigi dan mikrodonsia sehingga terdapat jarak diantara gigi geligi yang

menyebakan plak mudah dibersihkan (Sudiono, 2008 : 84-91 ; Astuti

dkk ; 1-4 ; Cheng, 2011).

Gambar 2.5.4 Karies tahap awal berupa white spot lesion


45

Gambar 2.5.4
Karies tahap moderate lesion

Gambar 2.5.4
karies tahap lanjut (advance lesion)

4. Bernafas melalui Mulut

Anak dengan sindrom down memiliki kebiasaan bernafas

melalui mulut, hal ini disebabkan oleh bentuk hidung yang kecil dan

datar, sinus maksilaris sempit dan protusi lidah (Sudiono, 2008 : 84-91

; Astuti dkk ; 1-4 ; Cheng, 2011).


46

2.6 Kerangka Teori

Konsumsi makanan kariogenik

Menggosok gigi Makanan yang


yang buruk melekat pada gigi dan
mudah hancur

Pembentukan plak  Metabolisme


Email ditutupi oleh sukrosa dan
lapisan organik amorf glukosa
(glikoprotein), sifatnya
lengket dan melekatkan
bakteri.

Kalkulus

Streptokokkus mutans (mengeluarkan gel ekstra-sel yang


lengket & akan menjerat bakteri lain)

Proses peragian

Membentuk asam

pH plak ↓ sampai dengan < 5

Demineralisasi email

Karies gigi

Gambar 2.6 Kerangka Teori Penelitian

Kidd dan Bechal (2005)


47

2.7 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka

hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui

penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo,2002). Berdasarkan kerangka

teori yang ada, maka kerangka konsep yang digunakan sebagai berikut :

Variabel Independent

Konsumsi
makanan
kariogenik Variabel Dependent

Karies gigi

Kebiasaan
menggosok
gigi

Gambar 2.7 Kerangka Konsep Penelitian (Notoatmojo, 2002).

Berdasarkan kerangka konsep di atas, peneliti akan melakukan

penelitian tentang hubungan konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan

menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak sindrom down di

SLB Dharma Bakti Dharma Pertiwi Tahun 2017.

2.8 Hipotesa

Ha : Ada hubungan konsumsi makanan kariogenik dan kebiasaan

menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak sindrom down di

Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Bakti Dharma Pertiwi Tahun 2017.