Anda di halaman 1dari 155

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR

MATA PELAJARAN FIQIH MELALUI METODE ADVOKASI


(Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas VIII MTs. Al-Huda Bekasi Timur)

Skripsi
Diajukan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Disusun Oleh :

YUSUF KAMIL
NIM. 1110011000143

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
PENGESAHAN SKRIPSI

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN FIQIH


MELALUI METODE ADVOKASI
(Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas VIII MTs. Al-Huda Bekasi Timur)

Skripsi

Diajukan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi


Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :
Yusuf Kamil
NIM: 1110011000143

Di bawah bimbingan

Drs. Ghufron Ihsan, MA


NIP. 19530509 198103 1 006

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015

i
PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI

Skripsi berjudul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqih


Melalui Metode Advokasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas VIII MTs
Al-Huda Bekasi Timur)” disusun oleh Yusuf Kamil, NIM. 1110011000143,
Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan
dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diajukan pada sidang
munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta, Juni 2015

Yang mengesahkan,

Pembimbing

Drs. Ghufron Ihsan, MA


NIP. 19530509 198103 1 006

ii
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Yusuf Kamil
NIM : 1110011000143
Jurusan/prodi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA

Bahwa skripsi yang berjudul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran
Fiqih Melalui Metode Advokasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Kelas VIII
MTs Al-Huda Bekasi Timur) adalah benar hasil karya sendiri di bawah
bimbingan dosen :

Nama Pembimbing : Drs. Ghufron Ihsan, MA.


NIP : 19530509 198103 1 006

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.

Jakarta, Juni 2015


Mahasiswa ybs

Yusuf Kamil
NIM. 1110011000143

iii
ABSTRAK

Yusuf Kamil (1110011000143). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata


Pelajaran Fiqih Melalui Metode Advokasi (Penelitian Tindakan Kelas pada
Kelas VIII MTs Al-Huda Bekasi Timur) Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama
Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam


pembelajaran Fikih dengan menggunakan metode pembelajaran advokasi. Metode
advokasi adalah metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student
centered) yang sering diidentikan dengan proses debat.
Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan
dua siklus. Prosedur pelaksanaanya mengacu pada model yang dikembangkan
oleh Kurt Lewin di mana pada setiap siklusnya terdiri dari empat komponen yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah
siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur tahun ajaran 2014/2015 yang
berjumlah 35 siswa, terdiri dari 19 siswa perempuan, dan 16 siswa laki-laki.
Berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan siswa, diperoleh banyaknya
siswa yang mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Pada siklus I, 29 siswa
atau 85,7% yang mencapai KKM. Dan hasil belajar pada siklus II, 35 siswa atau
100% yang mencapai KKM. Kemudian rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I
mencapai 72,9 dan siklus II terjadi peningkatan lebih baik mencapai 82,6. Dari
hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode advokasi dapat
meningkatkan hasil belajar Fikih siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi.

Kata Kunci : Penelitian Tindakan Kelas, Hasil Belajar Siswa, Metode


Advokasi

iv
ABSTRACT

Yusuf Kamil (1110011000143). Efforts to Improve the learning Outcomes of


Subjects Fiqih Through Advocacy Method (Class Action Research on Class
VIII MTs Al-Huda East Bekasi). Skripsi, Department of Islamic Education at
Faculty of Tarbiyah and Teacher’s Training of State Islamic University Syarif
Hidayatullah Jakarta.

This study aims to improve student learning outcomes in teaching civic


education using learning methods of advocacy. Advocacy method is a method of
student-centered learning (student centered) is often synonymous with the debate
process.
Research is action research (PTK) with two cycles. Implementation
procedure refers to the model developed by Kurt Lewin in which each cycle
consists of four components: planning, implementation, observation, and
reflection. The subjects of the research are the VIII-1 students of the year
2014/2015 at MTs Al-Huda, East Bekasi, amounting to 35 students, consisting of
19 female students and 16 male students.
Based on the results of tests that have been done students, gained more
students who achieve a predetermined KKM is 70. In the first cycle, 29 students or
74.28% to reach KKM. And learning outcomes in the second cycle, 35 students or
100% to reach KKM. Then the average student learning outcomes in the first
cycle and second cycle reached 72.9 better achieve increased 82.6. From these
results it can be concluded that the method of advocacy to improve learning
outcomes in the classroom Fikih the VIII-1 students at MTs Al-Huda, East Bekasi.

Key words:
Classroom Action Research, Students Achievement, Advocacy Method

v
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat beserta salam
selalu tercurah kepada nabi Muhammad SAW.
Dalam pembuatan dan penulisan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan
dorongan semua pihak. Penulis menyadari selama pembuatan skripsi ini banyak
terdapat hambatan dan kendala yang dihadapi baik yang bersifat materil maupun
moril. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih
kepada:
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam
3. Marhamah Saleh, Lc. MA, selaku Seketaris Jurusan Pendidikan Agama Islam.
4. Drs. Ghufron Ihsan, MA selaku Dosen Pembimbing Skripsi, yang telah
memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan skripsi.
5. Dra. Shofiah, M. Ag. selaku Dosen Pembimbing Akademik.
6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Pendidikan Agama Islam
7. Kedua orang tua tercinta, yang senantiasa memberikan do’a, motivasi dan
dukungan baik moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan
skripsi.
8. Ahmad Abdul Khotib S.Pd.I selaku Kepala MTs Al-Huda Bekasi Timur, yang
telah memberikan izin penelitian di madrasah tersebut.
9. Maftuhin Ichsan, S.Pd.I selaku guru Fiqih di MTs Al-Huda Bekasi Timur.
10. Mahbub Jaelani selaku sahabat yang membantu penulisan skripsi
11. Yuli Khusniah selaku sahabat yang membantu penulisan skripsi
12. Dan untuk semua pihak yang berjasa pada penulis baik yang disadari ataupun
tidak sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan skripsi ini dengan baik

vi
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangannya. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan berbagai saran dan kritik sehingga dapat
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemukan dalam penelitian ini.
Demikian, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama
bagi para pengembang produk pendidikan.

Jakarta, Juni 2015

Yusuf Kamil

vii
DAFTAR ISI

PENGESAHAN SKRIPSI .................................................................. i


PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ....................................... ii
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ..................................... iii
ABSTRAK .......................................................................................... iv
ABSTRACT ......................................................................................... v
KATA PENGANTAR ......................................................................... vi
DAFTAR ISI ....................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR........................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................. 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................ 6
C. Pembatasan Masalah ....................................................... 6
D. Perumusan Masalah ........................................................ 6
E. Tujuan Penelitian ............................................................ 6
F. Manfaat Penelitian .......................................................... 6

BAB II KAJIAN TEORI


A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti....................... 8
1. Belajar dan Hasil Belajar ........................................... 8
a. Pengertian Belajar ............................................... 8
b. Pengertian Hasil Belajar ...................................... 12
c. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ............ 14
d. Teori Transfer Hasil Belajar ................................ 15
e. Pengukuran Hasil Belajar .................................... 16
2. Metode Pembelajaran ................................................ 17
a. Pengertian Metode Pembelajaran ......................... 17

viii
b. Metode Pembelajaran Advokasi........................... 18
1) Pengertian Metode Advokasi ......................... 18
2) Tujuan Metode Advokasi ............................... 19
3) Prinsip-Prinsip Belajar Advokasi ................... 20
4) Pelakanaan Belajar Berdasarkan Advokasi ..... 21
3. Mata Pelajaran Fiqih MTs ........................................ 24
a. Pengertian Bidang Studi Fiqih di MTs ................. 24
b. Tujuan Pembelajaran Studi Fiqih di MTs ............. 25
c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih di MTs ...... 25
d. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ......... 26
B. Hasil Penelitian yang Relevan ......................................... 27
C. Hipotesis Tindakan ......................................................... 28
D. Kerangka Berfikir ........................................................... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................... 32
B. Metode dan Rancangan Siklus Penelitian ........................ 32
C. Subjek yang Terlibat dalam Penelitian............................. 34
D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian ....................... 35
E. Tahapan Intervensi Tindakan .......................................... 35
1. Pelaksanaan Tindakan ............................................... 36
a. Siklus I ................................................................ 36
b. Siklus II ............................................................... 37
2. Observasi .................................................................. 37
3. Refleksi ..................................................................... 37
F. Hasil Intervensi Tindakan Yang Diharapkan ................... 38
G. Data dan Sumber Data..................................................... 38
H. Instrumen Penelitian........................................................ 38
1. Instrumen Tes............................................................ 38
2. Instrumen Non Tes .................................................... 39
I. Teknik Pengumpulan Data .............................................. 40

ix
J. Teknik Pemeriksaan Kepercayaan ................................... 40
K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis ................... 41
L. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan ..... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Kondisi Objektif Sasaran Penelitian ................................ 43
1. Sejarah MTs Al-Huda................................................ 43
2. Visi, Misi, dan Tujuan ............................................... 44
3. Tenaga Pendidik dan Kependidikan ........................... 44
4. Data Siswa ................................................................ 45
5. Sarana dan Prasarana ................................................. 45
B. Deskripsi Data Sebelum Tindakan ................................... 45
C. Interpretasi Hasil Analisis ............................................... 47
1. Tindakan Pembelajaran Siklus I ................................ 47
a. Tahap Perencanaan .............................................. 47
b. Tahap Pelaksanaan .............................................. 47
c. Tahap Observasi .................................................. 50
1) Catatan Lapangan .......................................... 50
2) Wawancara .................................................... 50
3) Hasil Belajar .................................................. 51
d. Tahap Refleksi..................................................... 55
e. Keputusan Siklus I ............................................... 56
2. Tindakan Pembelajaran Siklus II ............................... 56
a. Tahap Perencanaan .............................................. 56
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan ............................... 56
c. Tahap Observasi .................................................. 57
1) Catatan Lapangan .......................................... 57
2) Wawancara .................................................... 57
3) Hasil Belajar .................................................. 58
d. Tahap Refleksi..................................................... 62
e. Keputusan Siklus II ............................................. 63

x
D. Pembahasan .................................................................... 63
E. Keterbatasan Peneliti ....................................................... 64

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................... 66
B. Implikasi ......................................................................... 67
C. Saran ............................................................................... 68

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 69


LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................. 71

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 SK-KD Kelas VIII Semester 1 Tingkat MTs

Tabel 2.2 SK-KD Kelas VIII Semester 2 Tingkat MTs

Tabel 3.1 Tahap Intervensi Tindakan pada PTK

Tabel 4.1 Nilai N-Gain Siklus I

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Postest Siklus I

Tabel 4.4 Nilai N-Gain Siklus II

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Postest Siklus II

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir

Gambar 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas

Gambar 4.1 Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus I

Gambar 4.2 Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus I

Gambar 4.3 Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus II

Gambar 4.4 Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus II

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. RPP Siklus I

Lampiran 2. RPP Siklus II


Lampiran 3. Kisi-Kisi Instrumen Test Siklus I
Lampiran 4. Soal Pretest Dan Postest Siklus I
Lampiran 5. Hasil Skor Pretest Siklus I
Lampiran 6. Perhitungan Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I
Lampiran 7. Hasil Skor Postest Siklus I

Lampiran 8. Perhitungan Distribusi Frekuensi Postest Siklus I


Lampiran 9. Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi Siklus I
Lampiran 10. Kisi-Kisi Instrumen Test Siklus II
Lampiran 11. Soal Pretest Dan Postest Siklus II
Lampiran 12. Hasil Skor Pretest Siklus II
Lampiran 13. Perhitungan Distribusi Frekuensi Pretest Siklus II

Lampiran 14. Hasil Skor Postest Siklus II


Lampiran 15. Hasil Nilai Rapor Sementara
Lampiran 16. Perhitungan Distribusi Frekuensi Postest Siklus II
Lampiran 17. Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi Siklus II
Lampiran 18. Lembar Observasi Proses Belajar Mengajar Pra Penelitian
Lampiran 19. Catatan Lapangan Siklus I

Lampiran 20. Catatan Lapangan Siklus II


Lampiran 21. Lembar Pengamatan Proses Belajar Mengajar Siklus I
Lampiran 22. Lembar Pengamatan Proses Belajar Mengajar Siklus II
Lampiran 23. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I
Lampiran 24. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II
Lampiran 25. Wawancara Pra Penelitian Dengan Siswa

xiv
Lampiran 26. Wawancara Guru Bidang Studi Fiqih Pra Penelitian
Lampiran 27. Observasi Instrumen Penelitian Responden Siswa Siklus I
Lampiran 28. Observasi Instrumen Penelitian Responden Siswa Siklus II
Lampiran 29 Data Tabel Guru MTs Al-Huda

Lampiran 30 Data Tabel Siswa MTs Al-Huda


Lampiran 31 Sarana dan Prasarana MTs Al-Huda
Lampiran 32. Uji Referensi
Lampiran 33. Foto-Foto
Lampiran 34. Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 35. Surat Permohonan Izin Penelitian

Lampiran 36. Surat Keterangan Penelitian dari MTs. Al-Huda

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran terhadap manusia
secara terus menerus, agar menjadi pribadi yang baik lahir maupun batin. Karena
itu, jika pendidikan menghasilkan pribadi-pribadi yang lemah, tidak bertanggung
jawab, dan tidak mandiri, maka berarti program pendidikan itu gagal. Kegagalan
tersebut mungkin disebabkan karena adanya kesalahan dalam filosofi maupun
manajemen pendidikan sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tujuan pendidikan
itu sendiri.
Utomo Dananjaya menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Tujuan Pendidikan Nasional secara umum tertuang dalam Undang-
Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yang berbunyi :
Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
agar menjadi manusia yang bertaqwa pada Tuhan YME, berakhlaq mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. 2

Pendidikan Agama Islam salah satu bagian dari materi pendidikan


mempunyai tanggung jawab untuk dapat merealisasikan tujuan pendidikan
nasional tersebut. Di Madrasah, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam terbagi
dalam beberapa bidang studi, antara lain: Al-Qur’an Hadis, Akidah-Akhlak, Fiqih,

1
Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, (Bandung: PT Penerbit Nuansa 2010),
cet-1, hal.40
2
Departemen Pendidikan Nasional, UU Sikdiknas No. 20 : Tahun 2003 (Jakarta: Pusat
Data dan Informasi Pendidikan Balitbang Depdiknas, 2006) h. 8

1
2

dan Sejarah Kebudayaan Islam. Masing-masing bidang studi tersebut pada


dasarnya saling terkait.
Fiqih secara umum merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak
membahas tentang hukum yang mengatur pola hubungan manusia dengan
Tuhannya, antara manusia dengan manusia, dan antara manusia dengan
lingkungannya. Melalui bidang studi fiqih ini diharapkan siswa tidak lepas dari
jangkauan norma-norma agama dan menjalankan aturan syariat Islam.
Kendatipun demikian penting mata pelajaran ini, masih dijumpai
beberapa problematika, yang terjadi di dalam proses pembelajaran. Berdasarkan
hasil wawancara dengan bapak Maftuhin guru MTs Al-Huda beliau mengatakan
bahwa,
Permasalahan yang dialami oleh guru bidang studi fiqih di MTs Al-Huda
Bekasi Timur diantaranya terkait dengan waktu pembelajaran yang kurang
tersedia yaitu hanya 2x40 menit saja dalam seminggu, sedangkan materi yang
harus disampaikan banyak. Hal ini mengakibatkan indikator-indikator dalam
pembelajaran fiqih tidak bisa tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Selain
itu, sarana prasarana sekolah juga menjadi bagian dari suatu permasalahan.
Minimnya alat-alat bantu ketika proses belajar mengajar mengakibatkan
minat belajar siswa menjadi berkurang. Bukan hanya itu, kendala lain
diantaranya adalah latar belakang pendidikan siswa. Mayoritas siswa MTs
Al-Huda berasal dari background pendidikan umum seperti dari Sekolah
Dasar (SD) yang dasar pengetahuan agamanya kurang jika dibandingkan
dengan siswa yang berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang secara umum
cukup banyak mendapat pengetahuan tentang agama. Kendala ini menjadi PR
tersendiri bagi guru fiqih dalam menyeimbangkan pengetahuan agama pada
siswa yang berlatar belakang pendidikan SD dengan MI agar minat belajar
siswa meningkat. Faktor ekonomi serta lingkungan keluarga yang berbeda-
beda juga mempengaruhi minat dan hasil belajar siswa, kebanyakan siswa
MTs Al-Huda ini berasal dari kalangan menengah kebawah dan lingkungan
keluarga yang beragam, ada beberapa siswa yang memang dalam lingkungan
keluarganya memahami betul masalah agama, akan tetapi tidak sedikit
lingkungan keluarga siswa yang masih kurang memahami agama sehingga
sejak dini siswa belum sepenuhnya dikenalkan dengan pengetahuan agama. 3

Berdasarkan hasil pengamatan observer ketika melakukan observasi


sebelum penelitian, rendahnya minat dan hasil belajar siswa MTs Al-Huda Bekasi
Timur kelas VIII terhadap bidang studi fiqih selama ini menandakan bahwa mata

3
Hasil wawancara dengan Bapak Maftuhin guru MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada tanggal
10 Februaru 2015.
3

pelajaran fiqih kurang diminati oleh siswa, karena proses pembelajaran guru
dalam menyampaikan materi pelajaran lebih banyak menggunakan metode
ceramah yang sifatnya monoton dan kurang menarik. Hal ini terlihat ketika
kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung ada beberapa siswa yang
mengantuk, tidur dan berbicara sendiri dengan teman sebangkunya, dan bahkan
ada beberapa siswa yang asik berpindah tempat dari bangku satu ke bangku yang
lain. Sehingga hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang kurang
memuaskan dan harus mengulang ujian lagi. Dengan demikian, minat belajar
siswa MTs Al-Huda pada mata pelajaran fiqih ini masih perlu untuk ditingkatkan
lagi, agar nantinya hasil dari proses KBM siswa meningkat sehingga pengetahuan
agama siswa menjadi bertambah dan siswa mampu melaksanakan ajaran Islam
dengan baik.4
Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu aspek dari proses
pendidikan, karenanya harus didesain sedemikian rupa melalui perencanaan yang
sistematis dan inovatif. Ketika berbicara tentang pembelajaran tidak bisa lepas
dengan peran guru. Menurut Abdul Majid, “Perencanaan pembelajaran dapat
diwujudkan manakala guru mempunyai sejumlah kompetensi”. 5
Sebelum merencanakan suatu pembelajaran hendaknya guru harus
melihat kondisi siswanya. Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno
berpendapat bahwa, “Peserta didik dengan segala perbedaannya seperti motivasi,
minat, bakat, perhatian, harapan, latar belakang sosio-kultural, menyatu dalam
sebuah sistem belajar di kelas dan perbedaan-perbedaan ini harus dikelola oleh
guru untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal”. 6
Pada bidang studi fiqih ini tentu dalam pengajarannya guru dituntut untuk
memiliki kemampuan mengembangkan sistem belajar mengajar secara kreatif,
imajinatif, menguasai materi yang akan disampaikan serta mampu
membangkitkan minat belajar siswa dalam KBM agar tercipta suasana belajar

4
Hasil Observasi Pra Penelitian di MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada tanggal 10 Februari
2015
5
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosda karya, 2011),
Cet. 7, h. 3.
6
Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: PT
Refika Aditama, 2009), Cet. III, h. 116.
4

menarik dan menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan


tercapai sesuai dengan harapan. Ketika melaksanakan pengelolaan pembelajaran
guru juga dituntut untuk membuat perencanaan yang matang dengan
memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada dan memperhatikan taraf
perkembangan intelektual serta perkembangan psikologi belajar siswa. Hal ini
biasanya terkait dengan metode pembelajaran karena metode pembelajaran
merupakan komponen yang mempunyai fungsi penting dalam pembelajaran.
Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran sangat ditentukan oleh
komponen ini, walaupun komponen-komponen lain itu lengkap jika tidak dapat
diimplementasikan melalui metode yang tepat maka komponen-komponen
tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan. Menurut
Hamzah B. Uno, “Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang
dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran, sebab segala kegiatan
pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut”.7
Oleh karena itu, setiap guru perlu memahami secara baik peran dan fungsi
metode dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Jadi tugas guru agama tidak
hanya mengembangkan intelektual siswa saja, akan tetapi juga berupaya untuk
membentuk batin dan jiwa agama sehingga siswa melaksanakan apa yang telah
diajarkan oleh guru dan pada akhirnya kelak siswa diharapkan menjadi seseorang
yang taat kepada agama serta mempunyai pengetahuan hukum agama dan dapat
mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam kegiatan
belajar mengajar. Salah satu metode pembelajaran yang dapat membangkitkan
minat belajar siswa adalah dengan menggunakan metode Advokasi. Metode ini
merupakan salah satu metode pembelajaran aktif yang dapat mengundang minat
belajar dan partisipasi siswa. Menurut M. Dalyono, “Pembelajaran aktif
merupakan salah satu cara atau strategi pembelajaran yang menuntut keaktifan
dan partisipasi siswa seoptimal mungkin, sehingga siswa mampu mengubah
tingkah lakunya secara lebih efektif dan efisien.”8

7
Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 34.
8
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), cet. Ke-3, h.195.
5

Metode advokasi hampir sama dengan metode debat, yang


membedakannya hanyalah jika metode advokasi lebih menekankan pada
kekompakan dan kerja tim pada setiap kelompok dan disampaikan oleh
perwakilan untuk menyampaikan hasil diskusi kelompoknya sebagaimana halnya
seorang pengacara yang mempunyai banyak orang dibelakangnya yang membantu
untuk memecahkan suatu masalah yang sedang dibelanya. Dalam hal ini Oemar
Hamalik menjelaskan bahwa,
Metode advokasi adalah metode mengajar dengan cara pembelajaran
yang berpusat pada peserta didik (student-centered advocacy learning) sering
diidentikkan dengan proses debat. Pembelajaran advokasi dipandang sebagai
suatu pendekatan alternatif terhadap pengajaran didaktis di dalam kelas yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari isu-isu
sosial dan personal melalui keterlibatan langsung dan partisipasi pribadi.
Model pembelajaran advokasi menuntut para peserta didik terfokus pada
topik yang telah ditentukan sebelumnya dan mengajukan pendapat yang
bertalian dengan topik tersebut9.

Jadi pada dasarnya model pembelajaran advokasi sangat berharga untuk


meningkatkan pola pikir dan perenungan, terutama jika peserta didik dihadapkan
untuk mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan mereka sendiri. Hal ini
juga merupakan pembelajaran debat yang secara aktif melibatkan setiap peserta
didik di dalam kelas tidak hanya mereka yang berdebat.
Berpijak dari permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik
mengadakan penelitian tentang “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata
Pelajaran Fiqih Melalui Metode Advokasi (Penelitian Tindakan Kelas Pada
Kelas VIII di MTs Al-Huda Bekasi Timur)”.

9
Oemar Hamalik. Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h.228
6

B. Identifikasi Masalah
Dari uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan
beberapa masalah sebagai berikut:
1. Banyaknya guru yang menggunakan metode pembelajaran dengan ceramah,
sehingga pembelajaran bersifat monoton dan membosankan.
2. Kurang adanya peran aktif siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar.
3. Rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih karena kurangnya
minat belajar.

C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, penulis membatasi permasalahan ruang
lingkup penelitian yakni mengenai upaya peningkatkan hasil belajar mata plajaran
fiqih siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur dengan menggunakan
Metode Advokasi.

D. Perumusan Masalah
Bertitik tolak pada pembatasan masalah tersebut, maka yang menjadi
fokus permasalahan pada penelitian ini adalah :
“Apakah Metode Advokasi dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran fiqih
siswa kelas VIII di MTs Al-Huda Bekasi Timur?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui
apakah ada peningkatan yang signifikan apabila metode adokasi diterapkan dalam
mata pelajaran fiqih.

F. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini secara teoritis diharap mampu memperkaya keilmuan dan
sebagai bahan acuan khususnya dalam meningkatkan hasil belajar Sejarah
Kebudayaan Islam para peserta didik.
7

2. Sedangkan secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan


sumbangan positif kepada semua pihak yang terkait dalam dunia pendidikan,
terutama bagi:
a. Peserta Didik
1) Meningkatkan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar
mengajar.
2) Dengan diterapkannya metode advokasi, memberikan alternatif kepada
peserta didik untuk mempermudah mengingat materi-materi dalam
mata pelajaran fiqih.
3) Meningkatkan minat belajar siswa dengan adanya metode advokasi
b. Guru
1) Meningkatkan kreatifitas guru dalam mengajar.
2) Memberikan wacana untuk menambah variasi mengajar.
3) Mampu menghidupkan suasana kelas dengan strategi pembelajaran
yang diterapkan.
c. Peneliti
1) Memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman mengajar.
2) Memberikan pengalaman cara mendesain materi pembelajaran yang
lebih baik dan tepat.
d. Sekolah,
Memberi masukan bagi sekolah untuk melakukan perbaikan terhadap
proses pembelajaran fiqih pada khususnya dan pelajaran lain pada
umumnya.
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Acuan Teori Area dan Fokus yang Diteliti


1. Belajar dan Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan
lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakuknya. Menurut Winkel
yang dikutip oleh Purwanto, “belajar adalah aktivitas mental/psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.10
Oemar Hamalik berpendapat bahwa, “belajar bukan suatu tujuan tetapi
merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Jadi merupakan langkah-langkah
atau prosedur yang ditempuh”.11 Sedangkan menurut Irwanto dkk,
belajar sebagai proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah
mampu, terjadi dalam jangka waktu tertentu. Perubahan yang terjadi harus
secara relatif bersifat menetap (permanen) dan tidak hanya terjadi pada
prilaku yang saat ini nampak (immediate behavior), tetapi perilaku yang
mungkin terjadi di masa mendatang (potential behavior). Oleh kaena itu,
perubahan-perubahan terjadi karena pengalaman. 12

Islam menganjurkan kepada setiap umat untuk senantiasa belajar. Hal ini
terdapat dalam firman Allah QS. Al-Alaq ayat 1-5 yakni:

 
          (1)      

          
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5)13

10
Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 39
11
Hamalik, op.cit., h. 29
12
Irwanto, Dkk, Psikologi Umum, (Jakarta: PT Prenhallino, 2002), h. 105.
13
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Mekar, 2004), h. 279.

8
9

Pada ayat tersebut terdapat kata “‫ ” اقرأ‬yang berarti "bacalah". Kata ini

mengandung perintah yang berarti mewajibkan kepada seluruh umat untuk


membaca, yang dikonotasikan sebagai kata belajar.
Hal ini senada dengan pendapat Fadhilah Suralaya yang mengatakan
bahwa: “Belajar memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Manusia terlahir sebagai makhluk lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Akan tetapi melalui proses belajar dalam fase perkembangannya, manusia bisa
menguasai berbagai macam pengetahuan”.14
Dalam perspektif keagamaan, belajar merupakan kewajiban setiap orang
beriman agar memperoleh ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan derajat
hidup manusia itu sendiri.
Sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

     


       

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan


orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-
Mujadalah: 11)15

Ayat di atas menjelaskan janji Allah yang akan meninggikan derajat


orang-orang berilmu dan beriman baik di dunia maupun akhirat. Salah satu
usahanya adalah dengan belajar atau mencari ilmu.
Dengan belajar, seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku secara
menyeluruh. Karena dengan belajar, seseorang dari yang belum mengerti menjadi
mengerti dengan ditambah pengalaman-pengalaman yang dapat dijadikan
pelajaran untuk masa yang akan datang. Bukan hanya itu saja ilmu pengetahuan
yang berkembang terus menerus secara pesat menjadikan peranan pendidikan
sangat penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, wajib hukumnya untuk
menuntut ilmu bagi seluruh kaum muslimin baik laki-laki dan perempuan.

14
Fadhilah Suralaya, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Ciputat: UIN Jakarta
Press, 2005), Cet. 1, h. 59.
15
Departemen Agama RI, op. cit., h. 434.
10

Menurut Al-Munawi dalam kitabnya Faydh al-Qadir yang dikutip oleh


Abdul Majid Khon mengatakan “Mencari ilmu wajib walaupun tercapainya ilmu
harus mengadakan perjalanan yang sangat jauh seperti perjalanan ke Cina dan
sangat menderita, bagi orang yang tidak sabar dalam mencari ilmu kehidupannya
buta dalam kebodohan dan orang yang sabar akan meraih kemuliaan dunia dan
akhirat”.16
Hukum mencari ilmu wajib bagi seluruh kaum Muslimin baik laki-laki
dan perempuan, sedangkan masa mencari ilmu itu seumur hidup “long life of
education”. Oleh karena itu, pendidikan mempunyai peranan penting yang tidak
dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. 17
Pendidikan merupakan suatu proses belajar mengajar, yang di dalamnya
terdapat suatu proses interaksi antara guru dan siswa. Dari proses interaksi
tersebut, proses belajar mengajar terikat dengan minat dan perhatian. Dengan
demikian, proses belajar mengajar akan menjadi efektif dan efesien apabila siswa
mempunyai minat terhadap suatu pelajaran.
Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak
dapat dilihat. artinya bahwa proses perubahan setelah belajar dalam diri seseorang
tidak dapat disaksikan, melainkan dapat dilihat dari adanya gejala-gejala
perubahan perilaku yang nampak dari yang belajar, atau dapat dikatakan belajar
ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut Wina Sanjaya belajar pada dasarnya proses perubahan tingkah
laku berkat adanya pengalaman dan sebagai hasil dari interaksi dalam
lingkungannya. Unsur lingkungan yang disebutkan pada hakikatnya berfungsi
sebagai lingkungan belajar seseorang, yakni lingkungan tempat ia tinggal dan
berinteraksi sehingga menumbuhkan kegiatan belajar pada dirinya. 18

16
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi Hadis-Hadis Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2012), h. 143.
17
Ibid., h. 145.
18
Wina Sanjaya, Pembelajran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
(Jakarta: Prenada Media Group, 2008), Cet. 3, H. 90
11

Menurut Agus Suhani ada 4 pilar belajar yang dikemukakan oleh


UNESCO, yaitu sebagai berikut:
1) Learning to Know, yaitu suatu proses pembelajaran yang memungkinkan
peserta didik menguasai tehnik menemukan pengetahuan dan tidak hanya
memperoleh pengetahuan.
2) Learning to do adalah pembelajaran untuk mencapai kemampuan untuk
melaksanakan Controlling, Monitoring, Maintening, Designing, Organizing.
Belajar dengan melakukan sesuatu dalam potensi yang nyata tidak hanya
terbatas pada kemampuan mekanistis, melainkan juga meliputi kemampuan
berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain serta mengelola dan
mengatasi konflik.
3) Learning to live together adalah membekali kemampuan untuk hidup
bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi, saling
pengertian dan tanpa prasangka.
4) Learning to be adalah individu diharuskan untuk mengembangkan aspek
pribadinya secara optimal dan seimbang, untuk menghadapi tantangan
kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks. Tuntutan
perkembangan kehidupan global, tidak hanya menuntut berkembangnya
manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia yang utuh dan
unggul. Keunggulan tersebut diperkuat dengan moral yang kuat.19

Keberhasilan pembelajaran yang untuk mencapai tingkatan ini diperlukan


dukungan keberhasilan dari pilar pertama, kedua, ketiga dan keempat. Empat pilar
tersebut di atas akan membentuk peserta didik yang mampu mencari informasi
dan menemukan ilmu pengetahuan yang mampu menyelesaikan masalah,
bekerjasama, bertenggang rasa, dan toleransi terhadap perbedaan yang ada di
masyarakat. Keempat pilar tersebut yakni learning to know, learning to do,
learning to live together, dan learning to be menumbuhkan rasa percaya diri pada
peserta didik sehingga menjadi manusia yang mampu mengenal dirinya,
berkepribadian mantap dan mandiri, memiliki kemantapan emosional dan
intelektual, serta sosial.
Muhammad Ali yang dikutip oleh Rusyan A.T. menjelaskan bahwa,
Proses belajar mengajar formal di sekolah ialah di dalamnya terjadi
interaksi antara berbagai komponen pengajaran. Komponen-komponen itu
dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu : (1) guru, (2) isi
atau materi pelajaran, dan (3) siswa. Interaksi antara ketiga komponen utama

19
Agus Suhani, Empat Pilar Belajar Menurut UNESCO, artikel diakses pada 24
September 2013 jam 15:30 dari http://agussambeng.blogspot.com/2010/10/empat-pilar-belajar-
menurut-unesco.html
12

melibatkan sarana dan prasarana seperti metode, media, dan penataan


lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi belajar-mengajar yang
memungkinkan tercapainya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
Dengan demikian, guru yang memegang peranan sentral dalam proses belajar
mengajar, setidak-tidaknya menjalankan tiga macam tugas utama, yaitu
merencanakan, melaksanakan pengajaran dan memberikan balikan 20.

Rusyan A.T melanjutkan, bila terjadi proses belajar maka bersama itu
pula terjadi proses mengajar. Hal ini kiranya mudah dipahami, karena bila ada
yang belajar sudah barang tentu ada yang mengajarnya, dan begitu pula
sebaliknya kalau ada yang mengajar tentu ada yang belajar. Kalau sudah terjadi
suatu proses/saling interaksi, antara yang mengajar dengan yang belajar,
sebenarnya berada pada suatu kondisi yang unik, sebab secara sengaja atau tidak
sengaja, masing-masing pihak berada dalam suasana belajar. Jadi guru walaupun
dikatakan sebagai pengajar, sebenarnya secara tidak langsung juga melakukan
belajar.21
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk
memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya yang bersifat relatif permanen.

b. Pengertian Hasil Belajar


Minat terhadap kajian proses belajar dilandasi oleh keinginan untuk
memberikan pelayanan pengajaran dengan hasil yang maksimal. Proses
pembelajaran yang maksimal akan menghasilkan output atau hasil belajar yang
maksimal pula.
Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian baik
evaluasi saat proses, maupun setelah proses pembelajaran yang merupakan tindak
lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi

20
Rusyan A.T, Meningkatkan Mutu Kegiatan dalam proses Belajar Mengajar di Sekolah
Dasar, Cet. 2, (Jakarta: PT. Kartanegara, 1999), hlm. 9
21
Ibid.
13

belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi
juga sikap dan keterampilan. 22
Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang
dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku yang terjadi
pada diri seseorang yang melakukannya. Dimana interaksi individu dalam
lingkungan yang membawa perubahan sifat, tindakan, perbuatan, dan tingkah
laku.
Menurut Purwanto hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua
kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil (product)
menunjukan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses
yang megakibatkan berubahnya input secara fungsional. Dalam siklus input-
proses-hasil, hasil dapat dengan jelas dibedakan dengan input akibat perubahan
oleh proses. Begitu pula dalam kegiatan belajar mengajar, setelah mengalami
belajar siswa berubah perilakunya dibanding sebelumnya. Belajar dilakukan untuk
mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan
perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. 23
Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai
akibat dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Sedangkan Hamalik yang dikutip
oleh Asep Jihad dan Abdul Haris menjelaskan bahwa, “hasil-hasil belajar adalah
pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta
apersepsi dan abilitas”.24
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah
dilakukan proses belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran. Tingkah
laku manusia terdiri dari sejumlah aspek, hasil belajar akan tampak pada setiap
perubahan pada aspek-aspek tersebut. Adapun aspek-aspek itu menurut Oemar
hamalik adalah sebagai berikut:

22
Asep Jihad dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. (Yogyakarta: Multi Pressindo,
2010) h. 15
23
Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 44-45
24
Asep Jihad dan Abdul Haris, Loc.cit.
14

1) Pengetahuan
2) Pengertian
3) Kebiasaan
4) Keterampilan
5) Apersepsi
6) Emosional
7) Hubungan social
8) Jasmani
9) Etis atau budi pekerti
10) Sikap25

Berdasarkan uairan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah


tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, dengan ditandai oleh
perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar sangat bergantung pada
beberapa macam faktor, dan faktor-faktor tersebut menurut Muhibbin Syah dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1) Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal), antara lain:
a) Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai
tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat
mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran
b) Aspek Psikologis
(1). Intelegensi Siswa/Tingkat kecerdasan
(2). Sikap siswa
(3). Bakat siswa
(4). Minat siswa
(5). Motivasi siswa
(6). Perhatian
(7). Pengamatan
(8). Ingatan
(9). Berfikir
2) Faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal), terdiri dari dua macam
yakni:
a) Lingkungan Sosial
Lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa
itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga dapat

25
Hamalik, op.cit., h. 30
15

memberi dampak baik atapun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil
yang dicapai oleh siswa. Lingkungan sekolah speperti para guru, para staf
administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat
belajar seorang siswa. Lingkungan masyarakat merupakan faktor
lingkungan sosial yaitu tetangga dan eman-teman sepermainian di sekitar
perkampungan siswa juga sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
b) Lingkungan Non-sosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung
sekolah dan letaknya, letak rumah tempat itnggal keluarga siswa, alat-alat
belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa juga
dipandang turut menentukan tngkat keberhasilan belajar siswa. 26

d. Teori Transfer Hasil Belajar


Hasil belajar dalam kelas harus dapat dilaksanakan ke dalam situasi-
situasi di luar sekolah. Dengan kata lain, siswa dapat mentransferkan hasil belajar
itu ke dalam situasi-situasi yang sesungguhnya di dalam masyarakat. Menurut
Oemar Hamalik, transfer hasil belajar setidaknya dapat ditemukan 3 teori, yaitu
sebagai berikut :
1) Teori Disiplin Formal (The Formal Discipline Theory)
Teori ini menyatakan bahwa ingatan, sikap, pertimbangan, imajinasi, dan
sebagainya dapat diperkuat melalui latihan-latihan akademis
2) Teori Unsur-Unsur yang Identik (The Identical Elements Theory)
Transfer terjadi apabila di antara dua situasi atau dua kegiatan terdapat unsur-
unsur yang bersamaan (identik). Latihan di dalam satu situasi mempengaruhi
perbuatan tingkah laku dalam situasi yang lainnya. Teori ini banyak
digunakan dalam kursus latihan jabatan, di mana kepada siswa diberikan
respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi kehidupan yang
sebenarnya.
3) Teori Generalisasi (Thr Generalization Theory)
Teori ini merupakan revisi terhadap teori unsur-unsur yang identik. Tetapi
generalisasi menekankan kepada kompleksitas dari apa yang dipelajari.
Internalisasi daripada pengertian-pengertian, keterampilan, sikap-sikap, dan
apresiasi dapat mempengaruhi kelakuan sesorang. Teori ini menekankan
kepada pembentukan pengertian yang dihubungkan dengan pengalaman-
pengalaman lain. Transfer terjadi apabila siswa menguasai pengertian-
pengertian umum atau kesimpulan-kesimpulan umum, lebih dari unsur-unsur
identik.27

26
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar (Jakarta: Logos wacana ilmu, 2001) h. 61
27
Hamalik, Op.Cit., h.34
16

e. Pengukuran Hasil Belajar


Banyak guru yang merasa sukar untuk menjawan pertanyaan yang
diajukan kepadanya mengenai apakah pengajaran yang telah dilakukannya
berhasil, dan apa buktinya? Untuk menjawab pertanyaan itu, terlebih dahulu harus
ditetapkan apa yang menjadi kriteria keberhasilan pengajaran, baru kemudian
ditetapkan alat untuk menaikakan keberhasilan belajar secara teapat. Mengingat
pengajaran merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan yang telah
dirumuskan, maka di sini dapat ditentukan dua kriteria yang bersifat umum.
Menurut Sudjana yang dikutip oleh Asep Jihad dan Abdul Haris kedua kriteria
tersebut adalah:
1) Kriteria ditinjau dari sudut prosesnya.
Kriteria dari sudut prosesnya menekankan kepada pengajaran sebagai
suatu proses yang merupakan interaksi dinamis sehingga siswa sebagai subjek
mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri. Untuk mengukur
keberhasilan pengajaran dari sudut prosesnya dapat dikaji melalui beberapa
persoalan dibawah ini:
a) Apakah pengajaran direncanakn dan dipersiapkan terlebih dahulu oleh
guru dengan melibatkan siswa secara sistematik?
b) Apakah kegiatan siswa belajar dimotivasi guru sehingga ia melakukan
kegiatan belajar dengan penuh kesabaran, kesungguhan dan tanpa paksaan
untuk memperoleh tingkat penguasaan, pengetahuan, kemampuan serta
sikap yang dikendaki dari pengajaran itu?
c) Apakah guru memakai multi media.
d) Apakah siswa mempunyai kesempatan untuk mengontrol dan menilai
sendiri hasil belajar yang dicapainya?
e) Apakah proses pengajaran dapat melibatkan semua siswa dalam kelas?
f) Apakah suasan pengajaran atau proses belajar mengajar cukup
menyenangkan dan merangsang siswa belajar?
g) Apakah kelas memiliki sarana belajar yang cukup kaya, sehingga menjadi
laboratorium belajar?

2) Kriteria ditinjau dari hasilnya


Di samping tinjauan dari segi proses, keberhasila pengajaran dapat dilihat
dari segi hasil. Berikut ini adalah beberapa persoalan yang dapat dipertimbangkan
dalam menetukan keberhasilan pengajaran ditinjau dari segi hasil atau produk
yang di capai siswa:
a) Apakah hasil belajar yang diperoleh siswa dari proses pengajaran nampak
dalam bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh?
b) Apakah hasil belajar yang dicapai siswa dari proses pengajaran dapat
diaplikasikan dalam kehidupan siswa?
17

c) Apakah hasil belajar yang diperoleh siswa tahan lama diingat dan
mengendap dalam pikirannya, serta cukup mempengaruhi perilaku
dirinya?
d) Apakah yakin bahwa perubahan yang ditunjukan oleh siswa merupakan
akibat dari proses pengajaran?. 28

2. Metode Pembelajaran
a. Pengertian Metode Pembelajaran
Menurut Muhibbin Syah, “metode secara harfiah berarti cara, dalam
pemakaian umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau
cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara
sistematis”. 29
Jika dikaitkan dengan pendidikan, menurut Munif Chatib, “metode
(pembelajaran) dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan susunan rencana dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis
agar tujuan pembelajaran tercapai”. 30
Menurut Indrawati dan Wanwan Setiawan pengetahuan tentang metode-
metode pembelajaran sangat diperlukan oleh para pendidik, sebab berhasil atau
tidaknya peserta didik dalam belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya
metode pembelajaran yang digunakan oleh guru. Hal ini sesuai dengan tuntutan
terhadap guru dan tenaga kependidikan dalam undang-undang No. 20 tahun 2000
pasal 40, yang berbunyi sebagai berikut:
Guru dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana
pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis
dan Peraturan Pemerintah No.19 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal
19 ayat 1. Dalam Peraturan Pemerintah No.19 ayat 1 dinyatakan bahwa
proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif, memberi ruang gerak yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan
fisik serta psikologi siswa.31
28
Asep Jihad dan Abdul Haris, Op.Cit., h. 20-21
29
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan pendekatan Baru, (Bandung:
PT.Remaja Rosda Karya, 2011), cetakan ke-17, hlm. 198.
30
Munif Chatib, Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak
Juara, (Bandung: Kaifa, 2013), Cetakan ke-12, hlm.131
31
Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan untuk Guru SD, (Bandung: PPPPTK IPA, 2009), h. 9
18

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang


melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman
bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan
aktifitas belajar mengajar. Metode pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian
metode pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan di atas, metode
pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur
sistematik dalam mengkoordinasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar, yang berfungsi sebagai pedoman guru dalam merancang dan
melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengelola lingkungan pembelajaran dan
mengelola kelas. Dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran diperlukan
perangkat pembelajaran yang dapat disusun dan dikembangkan oleh guru.
Perangkat-perangkat itu meliputi buku pedoman bagi guru dan para peserta didik,
lembar kerja peserta didik, media yang dipakai untuk membantu terlaksanakannya
proses pembelajaran seperti komputer, Over Head Proyektor (OHP), film,
pedoman pelaksanaan pembelajaran, seperti kurikulum dan administrasi
pembelajaran.

b. Metode Pembelajaran Advokasi


1) Pengertian Metode Advokasi
Metode Advokasi merupakan bagian dari metode yang dapat
disinkronisasikan dalam proses pembelajaran. Metode advokasi sering
diidentikkan dengan proses debat
Dalam pandangan Islam proses debat diperbolehkan selama dengan
ketentuan dan cara yang baik, sebagai mana firman Allah SWT, dalam Q.S. An-
Nahl ayat 125 yaitu:
19

  
                 
 

  


  
         
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang
baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan
Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”(Q.S. An-Nahl:
125).32

Sementara itu metode advokasi menurut Menurut Oemar Hamalik yaitu,


Belajar dengan menggunakan metode advokasi menuntut siswa menjadi
advokat dari pendapat tertentu yang bertalian dengan topik yang tersedia.
Para siswa menggunakan keterampilan riset, keterampilan analisis, dan
keterampilan berbicara dan pendengar, sebagaimana mereka berpartisipasi
dalam kelas pengalaman advokasi, mereka dihadapkan pada isu-isu
kontoversial dan harus mengembangkan suatu kasus untuk mendukung
pendapat mereka di dalam perangkat petunjuk dan tujuan-tujuan khusus33.
Masih melanjutkan penjelasan dari Oemar Hamalik, bahwa dalam rangka
belajar advokasi, para siswa berpartisipasi dalam suatu debat antara dua regu,
yang masing-masing terdiri dari dua orang siswa. Tiap regu memperdebatkan
topik yang berbeda dari para anggota kelas lainnya. Karena itu, di dalam
suatu kelas terdiri dari 32 orang siswa akan memperdebatkan 8 buah topik.
Namun guru dapat membuat keputusan lain, misalnya ada suatu topik yang
dianggap penting, guru menunjuk 4 orang siswa untuk menyajikan debat
dalam kelas tersebut. Sebaiknya, topik yang diperdebatkan adalah isu-isu
yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Untuk memenuhi kebutuhan
yang spesifik, guru dapat menunjuk suatu kelompok siswa untuk menyajikan
debat di kelas.34

2) Tujuan Metode Advokasi


Tarmizi Ramadhan mengemukakan bahwa metode advokasi bertujuan
untuk :
a) Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk bertindak sebagai
advokat mengenai pendapat atau pandangan tertentu yang bertalian
dengan suatu topik yang ada.
b) Sebagai sarana untuk mengembangkan keterampilan meneliti,
keterampilan menganalisa dan keterampilan berbicara serta

32
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Mekar, 2004), h. 281
33
Oemar Hamalik, Op.Cit,. h.228
34
Ibid. h.228-229
20

mendengarkan pada waktu mereka berperan serta secara aktif dalam


pengalaman-pengalaman advokasi di dalam kelas.
c) Membisakan diri siswa guna menghadapi masalah - masalah
kontroversi dan mengembangkan kasus untuk mempertahankan
pendapat sesuai dengan petunjuk dan tujuan yang hendak dicapai 35.
Jadi, tujuan metode advokasi ialah meningkatkan kemampuan akademik,
mengaktifkan proses pembelajaran, dan menarik minat peserta didik.

3) Prinsip-Prinsip Pembelajaran Metode Advokasi


Menurut Oemar Hamalik belajar advokasi berdasarkan berbagai prinsip
belajar, prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :
a) Ketika siswa terlibat langsung dalam penelitian dan penyajian debat,
ke-Aku-annya lebih banyak ikut serta dalam proses dibandingkan
dengan situasi ceramah tradisioanal.
b) Proses debat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa karena
hakikat debat itu sendiri.
c) Para siswa terfokus pada suatu isu yang berkenaan dengan diri mereka
dan kadang-kadang yang berkenaan dengan masyarakat luas dan isu-isu
sosial personal
d) Pada umumnya siswa akan lebih banyak belajar mengenai topik-topik
mereka dan topik-topik lainnya bila mereka dilibatkan langsung dalam
pengalaman debat.
e) Proses debat memperkuat penyimpanan (retention) terhadap
komponen-komponen dasar suatu isu dan prinsip-prinsip argumentasi
efektif.
f) Belajar advokasi dapat digunakan baik belajar di sekolah dasar maupun
di sekolah selanjutnya. Berdasarkan tingkatan siswa, model ini dapat
diperluas atau disederhanakan pelaksanaannya.
g) Pendekatan instruksional belajar advokasi mengembangkan
keterampilan-keterampilan dalam logika, pemecahan masalah, berpikir
kritis, serta komunikasi lisan dan tulisan. Selain itu, model ini akan
mengembangkan aspek afektif, seperti konsep diri, rasa kemandirian,
turut memperkaya sumber-sumber komunikasi antarpribadi secara
efektif, meningkatkan rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat,
serta melakukan analisis secara kritis terhadap bahasan dan gagasan yan
muncul dalam debat 36.

35
Tarmizi Ramadhan, Model Pembelajaran Advokasi, 2015. (https://tarmizi.wordpress.com)
36
Hamalik. Op.Cit. h.229
21

4) Pelakanaan Belajar Berdasarkan Advokasi


Langkah-langkah dasar pelaksanaan debat menurut Oemar Hamalik
sebagai berikut.
a) Memilih suatu topik debat berdasarkan pertimbangan dari aspek
kebermaknaannya, tingkatan siswa, relevansinya dengan kurikulum,
dan minat para siswa.
b) Memilih dua regu debat, masing-masing dua siswa tiap regu untuk tiap
topik
c) Menjelaskan fungsi tiap regu kepada siswa
d) Menyediakan petunjuk dan asistensi kepada siswa untuk membantu
mereka menyiapkan debat.
e) Melaksanakan debat. Para audience melakukan fungsi observasi khusus
selama berlangsungnya debat.
f) Melaksanakan diskusi kelas, dilanjutkan dengan pengarahan kembali
setelah debat37.

Melvin L. Silberman menjelaskan bahwa dalam melakukan metode


pembelajaran advokasi ini pastikan untuk mengumpulkan peserta didik dengan
duduk bersebelahan dengan peserta didik yang berasal dari peihak lawan
debatnya. Dilakukan diskusi dalam satu kelas penuh tentang apa yang didapatkan
oleh peserta didik dari persoalan yang telah diperdebatkan. Peserta didik juga
diperintahkan untuk mengenali apa yang menurut mereka merupakan argumen
terbaik yang dikemukakan oleh kedua belah pihak. 38
Suatu debat diawali dari adanya suatu kebijakan, yakni apa yang harus
ada. Kebijakan ini menuntut perlunya suatu perubahan terhadap status quo atau
sistem yang ada, dan merekomondasikan suatu proposisi kebijakan baru yang
hendak dilaksanakan. Jadi, semua proposisi debat siswa sesungguhnya adalah
proposisi-proposisi kebijakan.
Dalam proses debat teradap dua regu, yakni regu yang mendukung suatu
kebijakan (affirmative) dan regu lawannya ialah regu oposisi (negative). Masing-
masing regu menyampaikan pandangan/ pendapatnya disertai dengan
argumentasi, bukti, dan berbagai landasan, serta menunjukkan bahwa pandangan
pihak lawan memiliki kelemahan, sedangkan pandangan regunya sendiri adalah

37
Ibid. h.230
38
Melvin L. Silberman, Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung :
Nusamedia, 2011), h. 141
22

yang terbaik. Tiap regu berupaya meyakinkan kepada para pengamat, bahwa
pandangan/pendapat regunya yang paling baik dan harus diterima. Jadi, tiap regu
bertanggung jawab secara menyeluruh atas posisi regunya, di samping adanya
tanggung jawab dari setiap anggota regu. Proses debat antara dua regu menurut
Oemar Hamalik dapat digambarkan sebagai berikut.
a) Regu pendukung : - menyampaikan suatu topik,
benyajikan garis besar apa yang hendak
dibuktikan oleh regu tersebut,
- berupaya menunjukkan perlunya / kebutuhan
perubahan.
b) Regu oposisi : - berupaya menunjukkan bahwa sistem
yang ada sekarang itu kuat dan efektif.
c) Regu pendukung : - menyajikan suatu rencana,
Berupaya menunjukkan bahwa rencana tersebut
praktis,
- Berupaya menunjukkan bahwa rencana tersebut
adalah rencana yang diinginkan atau sangat
diharapkan
d) Regu oposisi : - berusaha menunjukkan bahwa rencana
tersebut tidak praktis,
-berusaha menunjukkkan rencana tersebut tidak
diinginkan.

Selanjutnya untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai peranan regu


pendukung maupun peranan regu oposisi pada metode pembelajaran advokasi,
Oemar Hamalik memaparkannya sebagai berikut.
a) Peranan Regu Pendukung
Esesnsi regu pendukung (affirmative) adalah menyatakan “ya“ terhadap
proposisi. Pendukung menghendaki perubahan dari status quo dan
merekomendasikan suatu kebijakan untuk diapdosikan. Tanggung jawab dari regu
pendukung ialah mengklarifikasi makna proposisi dengan cara mendefinisikan
istilah-istilah yang samar-samar atau belum jelas, sedangkan istilah yang sudah
dipahami tidak perlu didefinisikan.
Tanggung jawab berikutnya adalah menyajikan prima fasie case bagi
posisi mereka. Pada awal pembicaraan atau penampilan pihak pendukung
menyajikan berbagai alasan dan memberikan bukti-bukti sehingga perubahan
sangat dibutuhkan. prima fasie case ini pada gilirannya merangsang kegiatan
23

debat selanjutnya, jika tidak maka berarti kelompok dianggap menang dan debat
berakhir.
Pada waktu menyampaikan prima fasie case, pendukung perlu
mengisolasikan isu-isu, merumuskannya menjadi masalah yang dipertentangkan,
dan kemudian mensubtansikan masalah tersebut dengan bukti dan logika. Suatu
isu dalam debat merupakan suatu pertanyaan pokok tentang fakta atau teori yang
akan membantu menetapkan keputusan akhir. Isu-isu tersebut adalah esensial
untuk proposisi tergantung pada keputusan yang dibuat. Namun, suatu isu bukan
semata-semata suatu pertanyaan melainkan suatu yang mengandung
ketidaksetujuan dan bersifat krusial.
Standar isu-isu dalam debat yang terkandung dalam proposisi kebijaksaan
adalah :
1) Kebutuhan – adakah kebutuhan bagi perubahan?
2) Pemecahan – adakah metode penunjang perubahan yang dapat dikerjakan?
3) Keuntungan – apakah pemecahan masalah tersebut memberikan dampak
berupa keuntungan (kemanfaatan) dan bukan kerugian?
Langkah selanjutnya adalah merumuskan isu-isu menjadi masalah yang
dipertentangkan (contention). Suatu kontensi adalah suatu pernyataan umum yang
menunjang atau menolak suatu proposisi. Dari kontensi-kontensi tersebut, berarti
kelompok pendukung menyatakan bahwa perlunya perubahan dari status quo,
selanjutnya mereka mengajukan suatu proposal khusus untuk memecahkan
kebutuhan itu. Rencana tersebut tidak perlu terlampau rinci tetapi dapat
dilaksanakan dan menguntungkan dan merupakan suatu rencana yang diinginkan
atau diharapkan untuk pemecahan masalah.
b) Peranan Regu Penentang (oposisi)
Regu penentang (negative team) menentang proposisi atas dasar sistem
yang ada sekarang adalah adekuat dan efektif. Secara esensial mereka berkata
“tidak“ terhadap resolusi yang diajukan oleh kelompok lawannya.
Tidak ada kebutuhan untuk mengadopsi usul yang diusulkan oleh regu
pendukung. Mereka mempertahankan sistem sekarang (status quo), menolak
24

kebutuhan yang diutarakan oleh regu pendukung, menolak rencana yang


diusulkan karena tidak dapat dilaksanakan dan tidak diinginkan. 39

Dari rangkaian penjelasan mengenai metode pembelajaran advokasi, kita


dapat melihat bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-
centered advocacy learning) sering diidentikkan dengan proses debat.
Pembelajaran advokasi dipandang sebagai suatu pendekatan alternatif terhadap
pengajaran didaktis di dalam kelas yang memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mempelajari isu-isu sosial dan personal melalui keterlibatan langsung
dan partisipasi pribadi. Model pembelajaran advokasi menuntut para peserta didik
terfokus pada topik yang telah ditentukan sebelumnya dan mengajukan pendapat
yang bertalian dengan topik tersebut.

Jadi pada dasarnya model pembelajaran advokasi sangat berharga untuk


meningkatkan pola pikir dan perenungan, terutama jika peserta didik dihadapkan
mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan mereka sendiri. Hal ini juga
merupakan pembelajaran debat yang secara aktif melibatkan setiap peserta didik
di dalam kelas tidak hanya mereka yang berdebat.

3. Mata Pelajaran Fiqih di MTs


a. Pengertian Bidang Studi Fiqih MTs
Pada tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), mata pelajaran fiqih
merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang
diarahkan untuk menyiapkan peserta didik agar mereka bisa mengenal.
memahami dan mengamalkan syariat Islam yang kemudian menjadi dasar
pandangan hidupnya dalam bermasyarakat. Fiqih menurut Zakiah Daradjat ialah
“Ilmu yang menerangkan hukum-hukum syariat Islam yang diambil dari dalil-
dalilnya yang terperinci”.40 Di dalam ilmu fiqih ini ada sistem norma yang
gunanya adalah untuk mengatur kehidupan manusia, yakni kehidupan yang

39
Hamalik, Op.Cit, h.231
40
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
1995), h. 78.
25

hubungannya antara manusia dengan Allah, dan antara sesama manusia dengan
makhluk lainnya. Di mana hal tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.
Sedangkan mata pelajaran fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah
merupakan bimbingan untuk mengetahui ketentuan-ketentuan syariat Islam.
Pembelajaran fikih diarahkan untuk mengantarkan peserta didik dapat memahami
pokok-pokok hukum Islam dan tata cara pelaksanaannya untuk diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi muslim yang selalu taat
menjalankan syariat Islam secara kaaffah (sempurna).41

b. Tujuan Pembelajaran Studi Fiqih di MTs


Berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang
Standar Kelulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di
Madrasah, mata pelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah bertujuan untuk:
1) Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur
ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan Allah
yang diatur dalam fiqih ibadah dan hubungan manusia dengan sesama
yang diatur dalam fiqih mu’amalah.
2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar
dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan ibadah sosial. Pengalaman
tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam,
disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi
maupun sosial. 42

c. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Fiqih di MTs


Berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang
Standar Kelulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di
Madrasah, ruang lingkup mata pelajaran fiqih di Madrasah Tsanawiyah meliputi
ketentuan pengaturan hukum Islam dalam menjaga keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan antara hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan
manusia dengan sesama manusia. Adapun ruang lingkup mata pelajaran Fikih di
Madrasah Tsanawiyah meliputi :

41
Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang Standar Kelulusan dan Standar
Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, (Jakarta: Media Pustama Mandiri,
2009), Cet. I, h. 45.
42
Ibid.
26

1) Aspek fikih ibadah meliputi: ketentuan dan tatacara taharah, salat fardu,
salat sunnah, dan salat dalam keadaan darurat, sujud, azan dan iqamah,
berzikir dan berdoa setelah salat, puasa, zakat, haji dan umrah, kurban dan
akikah, makanan, perawatan jenazah, dan ziarah kubur.
2) Aspek fikih muamalah meliputi: ketentuan dan hukum jual beli, qirad,
riba, pinjam-meminjam, utang piutang, gadai, dan borg serta upah.43

d. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


Adapun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Fiqih
di kelas VIII (MTs) meliputi :
1) Semester 1
Tabel 2.1
SK-KD Kelas VIII Semester 1 Tingkat Madrasah Tsanawiyah
STANDAR
KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI
1. Melaksanakan tata cara 1.1 Menjelaskan ketentuan sujud syukur
sujud di luar salat dan tilawah
1.2 Mempraktikkan sujud syukur dan
tilawah

2. Melaksanakan tata cara 2.1 Menjelaskan ketentuan puasa


puasa 2.2 Menjelaskan macam-macam puasa

3. Melaksanakan tata cara 3.1 Menjelaskan ketentuan zakat fitrah


zakat dan zakat maal
3.2 Menjelaskan orang yang berhak
menerima zakat
3.3 Mempraktikkan pelaksanaan zakat
fitrah dan maal

2) Semester 2
Tabel 2.2
SK-KD Kelas VIII Semester 2 Tingkat Madrasah Tsanawiyah
STANDAR
KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI
1. Memahami ketentuan 1.1 Menjelaskan ketentuan-ketentuan
pengeluaran harta di luar shadaqah, hibah dan hadiah

43
Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang Standar Kelulusan dan Standar
Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah, (Jakarta: Media Pustama Mandiri,
2009), Cet. I, h. 91
27

STANDAR
KOMPETENSI DASAR
KOMPETENSI
zakat 1.2 Mempraktikkan sedekah, hibah dan
hadiah

2. Memahami hukum Islam 2.1 Menjelaskan ketentuan ibadah haji


tentang haji dan umrah dan umrah
2.2 Menjelaskan macam-macam haji
2.3 Mempraktikkan tatacara ibadah haji
dan umrah

3. Memahami hukum Islam 3.1 Menjelaskan jenis-jenis makanan


tentang makanan dan dan minuman halal
minuman 3.2 Menjelaskan manfaat mengkonsumsi
makanan dan minuman halal
3.3 Menjelaskan jenis-jenis makanan dan
minuman haram
3.4 Menjelaskan bahaya mengkonsumsi
makanan dan minuman haram
3.5 Menjelaskan jenis-jenis binatang
yang halal dan haram dimakan

B. Hasil Penelitian yang Relevan


Berikut ini adalah hasil kajian (review) dari laporan hasil-hasil penelitian
sebelumnya yang sesuai dengan masalah atau tema pokok yang peneliti ajukan.
1. Keefektifan Metode Debat Aktif dalam Pembelajaran Diskusi pada Siswa
Kelas X SMA Negeri 1 Kotawinangun oleh Nurchabibah, (2012)
Dari hasil uji statistik dapat diperoleh nilai uji-t dan uji scheffe. Hasil
penghitungan uji-t menunjukkan bahwa skor t hitung lebih besar dari t tabel (th :
2,006 > tt : 1,994) pada taraf signifikansi 5% dan db 78 dengan nilai signifikansi
(2-tailed) sebesar 0,048 pada taraf signifikansi 5%. Hasil penghitungan uji scheffe
menunjukkan F hitung lebih besar daripada skor F tabel (Fh : 4,025 > Ft :3, 96)
dengan db 78 dan pada taraf signifikansi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa (1) ada
perbedaan yang signifikan antara keterampilan diskusi siswa yang mendapat
pembelajaran diskusi dengan menggunakan metode debat aktif dengan siswa yang
mendapat pembelajaran diskusi tanpa menggunakan metode debat aktif, dan (2)
28

pembelajaran diskusi dengan menggunakan metode debat aktif lebih efektif


daripada pembelajaran diskusi tanpa menggunakan metode debat aktif. 44
2. Metode Diskusi Debat Teknik Itemized Response untuk Meningkatkan Hasil
Belajar PKN Siswa Kelas X UPW SMK PGRI 1 Singaraja oleh Ni Nyoman
Juliani (2013).
Hasil penelitian ini adalah adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar
PKn siswa dari 66,3 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 68% pada siklus I
menjadi sebesar 76,4 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 91,8% pada siklus
II. Kendala yang dihadapi dalam penerapan metode pembelajaran ini yaitu
sulitnya memilih materi yang didebatkan, kreatifitas siswa dalam memecahkan
masalah pro kontra, jumlah siswa dalam penerapan teknik itemized response.
Solusi yang dilakukan dalam meminimalisir kendala-kendala yang dihadapi
adalah menyiapkan diri dengan baik sebelum mengikuti pelajaran,hanya siswa
yang belum aktif diberikan perlakuan teknik itemized response45.
Kesimpulan pada penelitian ini adalah bahwa metode debat dapat lebih
efektif dan menjadikan siswa lebih aktif, kritis dan kreatif. Maka dari itu penulis
ingin mencoba menggunakan metode advokasi yang mana hampir sama atau
sering di identikan dengan metode debat, yang membedakan hanyalah metode
advokasi lebih menekankan kepada kerja sehingga metode advokasi diharapkan
bisa menjadi nilai lebihnya dan bisa menjadi penyempurna dari metode debat
tersebut.

C. Hipotesis Tindakan
Hipotesis adalah dugaan awal yang bakal terjadi jika suatu tindakan
dilakukan. Jika tindakan dilakukan dengan baik, maka tindakan ini akan
memperoleh suatu pemecahan problem yang baik. Penggunaan kelas, ruangan dan
pengelolaan siswa sekolah yang maksimal dengan metode pembelajaran
“Advokasi” dapat meningkatkan daya fikir kreatif, kritis dan aktif untuk

44
Diakses pada 16 Januari 2015, pukul 11:08 dari http://eprints.uny.ac.id/1242/1/
Nurchabibah_06201241040.pdf
45
Diakses pada 17 Januari 2015, pukul 20:17 dari http://ejournal.undiksha.ac.id/index.
php/JJPP/article/view/400
29

membangun peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran
Fiqih. Berdasarkan uraian di atas dapat dimunculkan hipotesis tindakan yaitu :
Dengan menggunakan metode pembelajaran advokasi dalam
pembelajaran Fiqih dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas VIII-1 di MTs
Al-Huda Bekasi Timur Tahun Pelajaran 2014-2015.

D. Kerangka Berfikir
Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang telah dikemukakan
sebelumnya maka dapat diambil suatu kerangka pemikiran sebagai berikut:
Pembelajaran Fiqih merupakan suatu bidang kajian ilmu mengenai ibadah yang
dilakukan dikehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran Fiqih tidak hanya
berfokus pada kajian materi namun juga persoalan masalah yang terdapat
dikehidupan sehari-hari. Materi – materi yang terdapat didalam pelajaran Fiqih
banyak mengenai teori – teori yang dekat dan nyata dengan kehidupan yang
sesungguhnya. Namun, bagaimana teori tersebut dapat akan dipahami oleh siswa
jika dalam kegiatan pembelajaran tidak dibarengi dengan praktek untuk
menambah wawasan pengetahuan, minat, bakat dan belajar aktif serta kritis. Dan
dapat memberikan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik.
Metode pembelajaran yang disampaikan seorang guru dapat memberikan
pengaruh pada prestasi siswa. Sehingga dalam pengajaran seorang guru harus
dapat memilih metode yang tepat digunakan. Metode pembelajaran yang dapat
digunakan seoarang guru dalam penyampaian materi dapat menggunakan
pembelajara Advokasi. Metode tersebut memberikan pengaruh positif pada siswa
yaitu siswa tidak jenuh dengan pembelajaran yang biasanya dilakukan secara
monoton dan membosankan di dalam kelas. Metode pembelajaran Advokasi
diharapkan siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan dan dapat lebih
aktif serta kreatif.
Proses belajar bukan hanya untuk menguasai materi pengetahuan saja,
akan tetapi perlu terjadi adanya suatu perubahan pada dirinya. adapun perubahan
30

yang dimaksud adalah setelah proses belajar dapat dilihat berbagai macam aspek
diantaranya aspek afektif, kognitif dan psikomotorik.
Pelajaran fiqih merupakan salah satu pelajaran yang kurang diminati
siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur, hal ini dikarenaka oleh berbagai
macam faktor. Salah satu faktornya adalah latar belakang pendidikan siswa kelas
VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur, kebanyakan siswa MTs Al-Huda Bekasi
Timur berasal dari SD (Sekolah Dasar). Selain itu, metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru yakni metode ceramah dan tanya jawab, sehingga proses
belajar mengajar menjadi monoton dan kurang menarik. Proses pembelajaran
yang seperti ini menyebabkan siswa kurang berminat mengikuti mata pelajaran
fiqih, hal tersebut juga berdampak pada hasil belajar siswa yang menurun.
Rendahnya minat belajar siswa ini dipengaruhi karena mereka
beranggapan materi pelajaran fiqih terlalu banyak yang harus difahami, dengan
proses pembelajaran yang kurang interaktif menjadikan mata pelajaran fiqih
terkesan membosankan. Oleh karena itu, agar pelajaran fiqih tidak membosankan
dan mudah dipahami oleh siswa dapat disiasati dengan menerapkan strategi
menggunakan metode advokasi.
Pembelajaran dengan menggunakan metode advokasi ini merupakan salah
satu pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Jadi,
pembelajaran peneliti berharap dengan menggunakan metode advokasi dapat
meningkatkan minat belajar fiqih siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur.
31

Gambar 2.1
Bagan Kerangka Berpikir

Kondisi saat ini Tindakan Tujuan/hasil

 Pembelajaran masih  Memberikan materi  Siswa mampu


monoton dan menjelaskan mempraktekkan
 Belum ditemukan pembelajaran metode advokasi
strategi kooperatif dengan baik
pembelajaran yang  Menjelaskan  Pembelajaran
tepat metode advokasi menjadi ebih aktif,
 Metode yang  Melaksanakan kreatif dan
digunakan pembelajaran menyenangkan
konvensional kooperatif metode  Siswa berfikir lebih
 Rendahnya kualitas advokasi di kelas kritis
proses/ hasil PBM

Diskusi debat Penerapan metode


pemecahan masalah advokasi

Evaluasi akhir
Evaluasi awal Evaluasi efek

Dari hasil tujuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa prorses belajar dengan
menggunakan metode advokasi pada mata pelajaran fiqih, siswa dapat lebih kreatif,
aktif dan mendapatkan hasil yang maksimal dalam memahami pelajaran tersebut.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Tempat penelitian dilaksanakan di MTs Al-Huda Bekasi Timur. Penelitian
tindakan ini dilakukan terhadap seluruh siswa VIII pada tahun ajaran 2014/2015
semester genap. Waktu penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 3 bulan, di mulai
pada bulan Februari-April 2015.

B. Metode dan Rancangan Siklus Penelitian


1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode Penelitian Tindakan Kelas.
Kunandar dalam bukunya yang berjudul Langkah Mudah Penelitian Tindakan
Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru menjelaskan bahwa,
Penelitian Tindakan Kelas atau PTK (Classroom Action Research)
memiliki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan
mutu pembelajaran apabila di implementasikan dengan baik dan benar.
Diimplementasikan dengan baik artinya pihak yang terlibat dalam PTK
(guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam
mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah yang terjadi dalam
pembelajaran dikelas melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat
memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat
mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. 45

Penelitian ini dilakukan secara kolaboratif dengan guru bidang studi


secara bergantian. Observasi dilakukan oleh peneliti dan guru secara bergantian
pula. Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan berdasarkan suatu siklus.
Masing-masing siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan
refleksi. Suatu siklus akan dilanjutkan apabila kriteria keberhasilan yang
diharapkan belum tercapai dan siklus akan berhenti apabila kriteria keberhasilan
telah tercapai.

45
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi
Guru, (Jakarta : PT Rajawali Pers, 2010), h.41.

32
33

Gambar 3.1 Model Penelitian Tindakan Kelas46

Perencanaan

Refleksi Siklus 1 Pelaksanaan

Pengamatan

Perencanaan

Refleksi Siklus 2 Pelaksanaan

Pengamatan

2. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


Prosedur Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dengan
menggunakan beberapa siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap, secara rinci
prosedur penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti merencanakan tindakan berdasarkan tujuan
penelitian. Peneliti membuat rencana untuk mencari tindakan yang akan
dilakukan di kelas sehubungan dengan rendahnya minat belajar siswa.
Rencana ini kemudian dituangkan dalam bentuk rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). Selain itu paada tahap ini juga peneliti menyiapkan
yang tediri dari soal yang harus dijawab oleh siswa, lembar observasi dan
wawancara.
b. Pelaksanaan (Tindakan)
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan
perencanaan pembelajaran yang telah disusun. Tindakan inilah yang
menjadi inti dari PTK, dimana tindakan pelaksaan ini dilakukan dalam
program pembelajaran apa adanya yang terjadi dalam kelas. Langkah

46
Iskandar, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2011), h.114.
34

tindakan harus terkontrol secara seksama dan harus hati-hati dan benar-
benar terencana.47
c. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang
berlangsung. Peneliti dibantu oleh observer yang mengamati segala
aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Pada lembar observasi ini ada
beberapa indikator yang akan diamati yaitu perhatian siswa, keaktifan
siswa, rasa ketertarikan siswa, dan semangat siswa yang dimaksudkan
sebagai kegiatan mengamati, mengenali dan mendokumentasikan semua
gejala atau indikator dari proses ataupun hasil tindakannya.
d. Refleksi
Refleksi menurut Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama adalah
“memikirkan sesuatu atau upaya evaluasi yang dilakukan oleh para
kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK yang
dilaksanakan”. 48 Kegiaan refleksi dilakukan ketika peneliti sudah selesai
melakukan tindakan. Data-data yang diperoleh melalui observasi
dikumpulkan dan dianalisis. Berdasarkan observasi tersebut guru dapat
merefleksi diri tentang upaya meningkatkan minat belajar siswa.
Berdasarkan hasil refleksi ini akan dapat diketahui kelemahan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga dapat digunakan untuk
menentukan tindakan kelas pada siklus berikutnya.

C. Subjek yang Terlibat dalam Penelitian


Subjek dari peneltian ini adalah siswa-siswi kelas VIII Mts. Al-Huda Bekasi
Timur semester genap angkatan 2014/2015. Berdasarkan hasil observasi, kondisi
siswa di kelas VIII pada umumnya mempunyai semangat belajar yang tinggi.
Namun terlihat pula bahwa pelajaran Fiqih di kelas terlalu monoton dan kurang

47
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada, 2010), Cet. V, h. 282.
48
Wijaya Kusuma dan Dedi Dwitagama, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT. Indeks,
2009), h. 40.
35

adanya terobosan kreatif yang dilakukan oleh guru untuk lebih meningkatkan
semangat belajar siswa49.

D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian


Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Fiqih
MTs. Al-Huda Bekasi Timur. Peneliti di sini berperan sebagai perancang metode
belajar dan sebagai pengajar, selain itu peneliti juga berperan sebagai observer.
Sedangkan Guru Fiqih MTs. Al-Huda Bekasi Timur hanya sebagai pembimbing.

E. Tahapan Intervensi Tindakan


Penelitian tindakan kelas ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar
siswa. Adapun tahapan intervensi tindakan sebagai berikut
Tabel 3.1
Tahap Intervensi Tindakan pada PTK
Tahapan Kegiatan
Pendahuluan Melakukan survei lapangan untuk memperoleh
gambaran kondisi sekolah. Survei dilakukan dengan
wawancara kepada guru bidang studi fiqih untuk
mengetahui permasalahan yang ada di sekolah. Survei
juga dilakukan tehadap hasil belajar siswa dan pendapat
siswa tentang pembelajaran fiqih yang selama ini
diterapkan oleh guru fiqih.
Perencanaan - Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran
dengan menggunakan metode Advokasi.
- Menyiapkan instrument (tes pilihan ganda, lembar
observasi, catatan lapangan dan wawancara)
- Melakukan uji coba instrumen.
- Menyusun kelompok belajar siswa.
Tindakan - Melakukan langkah-langkah sesuai rencana

49
Hasil Observasi Pra Penelitian di MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada tanggal 10 Februari
2015.
36

pembelajaran yang telah disusun.


S - Melakukan tes untuk mengetahui kemampuan awal
I siswa.
K - Ketika proses pembelajaran berlangsung, dilakukannya
L obeservasi guru dan siswa.
U - Melakukan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa.
S Pengamatan - Mengumpulkan data penelitian.
- Melakukan diskusi dengan guru fiqih untuk membahas
I tentang kelemahan atau kekurangan proses
pembelajaran yang telah dilakukan.
Refleksi - Menganalisis data yang telah diperoleh untuk
memperbaiki dan menyempurnakan tindakan pada
siklus berikutnya.
- Menganalisis kelemahan dan kelebihan dari proses
pembelajaran yang berlangsung dan
mempertimbangakan langkah selanjutnya.

Siklus II
a) Hasil refleksi dievaluasi, didiskusikan, dan mencari upaya perbaikan untuk
diterapkan pada pembelajaran berikutnya.
b) Mendata masalah dan kendala yang dihadapi saat pembelajaran.
c) Merancang perbaikan II berdasarkan refleksi siklus I.

1. Pelaksanaan Tindakan
Dalam melaksanakan tindakan penelitian penerapan penggunaan metode
advokasi dalam pembelajaran Fiqih, peneliti akan melakukan beberapa tindakan,
yaitu:
a. Siklus I
1) Melaksanakan langkah-langkah sesuai dengan perencanaan di atas.
2) Menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode advokasi
sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia.
37

3) Melakukan pengamatan terhadap setiap langkah-langkah kegiatan


yang dilakukan.
4) Memperhatikan alokasi waktu yang ada dengan banyaknya kegiatan
yang dilaksanakan.
5) Menyiapkan alternatif solusi untuk mengantisipasi timbulnya kendala
dalam melakukan tindakan.
b. Siklus II
1) Melakukan analisis pemecahan masalah.
2) Melaksanakan tindakan perbaikan II dengan memaksimalkan
penerapan pengggunaan metode advokasi dalam pembelajaran Fiqih.

2. Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti selama kegiatan belajar mengajar di
kelas. Terutama, saat pembelajaran dengan menggunakan metode advokasi.
Aspek-aspek yang dinilai dan diamati dalam observasi ini adalah berupa
pengamatan kepada siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Fiqih yang
terdiri atas:
a. Memperhatikan
b. Mengajukan pertanyaan
c. Menjawab pertanyaan
d. Mengerjakan tugas-tugas
e. Kerjasama dalam kelompok.

3. Refleksi
Guru menganalisa proses belajar mengajar yang sudah dilaksanakan
sehingga dapat diketahui sejauh mana tingkat ketercapaian tujuan dari
pembelajaran yang sudah direncanakan dengan menggunakan metode advokasi,
dalam hal ini dapat dilihat melalui hasil belajar mata pelajaran Fiqih siswa-siswi
kelas VIII MTs. Al-Huda Bekasi Timur. Dalam pelaksanaan siklus selanjutnya
(siklus II) tahapan yang harus dilakukan harus sudah melalui tahap
revisi/perbaikan dari siklus sebelumnya (siklus II). Hal ini dilakukan untuk dapat
38

meningkatkan pemahaman siswa-siswi di kelas yang berdampak pada


peningkatan hasil belajar mata pelajaran Fiqih dengan menggunakan metode
advokasi.

F. Hasil Intervensi Tindakan Yang Diharapkan


Dari hasil intervensi tindakan yang diharapkan pada penelitian ini adalah
hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fiqih setelah proses pembelajaran dengan
menggunakan metode advokasi. Adapun ketuntasan belajar yang diharapkan
mencapai 100% dengan nilai KKM 70.

G. Data dan Sumber Data


Sumber data diperoleh dari siswa-siswi MTs. Al-Huda Bekasi Timur
kelas VIII dan data yang diperoleh berupa situasi dan suasna kelas saat proses
pembelajaran berlangsung dan peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti
proses pembelajaran dengan menggunakan metode advokasi.

H. Instrumen Penelitian
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 jenis, yaitu :
1. Instrumen Tes
Tes tertulis ini berupa tes awal (pretes) dan tes akhir (postes). Tes awal
(pretes) adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada
peserta didik, karena itu pertanyaan yang tercantum dalam pokok soal dibuat yang
mudah. Sedangkan tes akhir (postes) adalah bahan-bahan pelajaran yang
tergolong penting, yang telah diajarkan kepada peserta didik dan biasanya naskah
tes akhir ini dibuat sama dengan naskah tes awal.
Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris, “tes merupakan himpunan
pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus
dilaksanakan oleh orang yang dites. Tes digunakan untuk mengukur sejauh mana
seseorang siswa telah mengusai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi
39

aspek pengetahuan dan keterampilan”. 50 Untuk itu tes digunakan untuk


mengetahui hasil belajar siswa. Jenis soal yang digunakan adalah pilihan ganda
sebanyak 10 butir soal baik pada pretes dan postes. Menurut Zurinal dan Wahdi
Sayuti, alasan menggunakan jenis soal pilihan ganda karena soal bentuk pilihan
ganda memiliki banyak keunggulan, antara lain sebagai berikut :
a) Penskoran mudah, cepat dan efektif
b) Dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas
c) Mampu mengungkapkan tingkat kognitif rendah sampai tinggi. 51

Pretes adalah tes yang dilakukan sebelum kegiatan belajar mengajar


menggunakan metode advokasi dilakukan, sedangkan postes adalah tes yang
dilakukan sesudah kegiatan belajar mengajar menggunakan metode advokasi
dilakukan.

2. Instrumen Non Tes


Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris, “Penilaian non tes merupakan
prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat,
sifat, dan kepribadian”.52 Melalui :
a. Lembar Observasi
Lembar observasi disini terbagi menjadi tiga, yaitu lembar
observasi guru dalam mengajar di kelas, lembar aktifitas belajar siswa-
siswi di kelas, dan lembar observasi proses pembelajaran di kelas. Ketiga
lembar observasi tersebut digunakan untuk mencatat kegiatan guru, siswa
dan proses belajar Fiqih dengan menggunakan metode advokasi secara
sistematis. Peneliti disini berperan ganda, sebagai pengajar juga sebagai
peneliti. Guru mata pelajaran sesungguhnya hanya menjadi pengamat saja.

50
Asep Jihad dan Abdul Haris, Op.Cit., h.67.
51
Zurinal dan Wahdi Sayuti, Ilmu Pendidikan Pengantar & Dasar-dasar Pelaksanaan
Pendidikan, (Jakarta : UIN Press, 2006), h.144.
52
Asep Jihad dan Abdul Haris, Op.Cit h.69.
40

b. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan melakukan wawancara biasa,
wawancara dilakukan dengan siswa maupun kolaborator mengenai baik
buruknya proses pembelajaran secara utuh. Kemudian data tersebut diolah
berdasarkan variable yang dibutuhkan dalam penelitian dengan merekap
seluruh hasil wawancara tersebut dan memberikan interprestasi yang tepat.
Dalam hal ini yang menjadi narasumber dalam proses wawancara
adalah siswa kelas VIII dengan nilai Fiqih tertinggi di kelas pada semester
sebelumnya (semester ganjil), siswa kelas VIII dengan nilai Fiqih terendah
di kelas pada semester sebelumnya, dan guru mata pelajaran Fiqih di kelas
VIII. Wawancara disini bersifat terbuka.

I. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan melakukan
observasi terhadap pembelajaran, melalui wawancara, dokumentasi, dan
merekapitulasi nilai hasil belajar yang diperoleh siswa dari hasil tes pada setiap
akhir siklus.
Setelah semua data terkumpul penelitian bersama kolaborator (guru mata
pelajaran) melakukan analisa evaluasi data untuk membuat kesimpulan mengenai
peningkatan hasil belajar siswa serta kelebihan dan kekurangan penelitian
tindakan kelas yang telah dilaksanakan.

J. Teknik Pemeriksaan Kepercayaan


Keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi secara
terus menerus dan triangulasi data. Triangulasi adalah proses memastikan sesuatu,
dari berbagai sudut pandang.53 Trigulasi ini merupakan teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk
keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap suatu data. Keabsahan
data dalam penelitian ini dilakukan dengan trigulasi data dan trigulasi sumber

53
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara,
2004),. h.128
41

data, yaitu menggunakan data dari berbagai suasana, waktu, tempat dan jenis serta
mengambil data dari berbagai nara sumber.

K. Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis


Setelah data terkumpul maka dilakukan teknik analisa data, yaitu peneliti
memberi uraian mengenai hasil penelitian. Menganalisa data merupakan cara
yang digunakan peneliti untuk menguraikan data yang diperoleh agar dapat
dipahami bukan hanya orang yang meneliti, tetapi orang lain yang ingin
mengetahui hasil penelitian. Data yang didapat berupa hasil belajar siswa pada
ranah kognitif, lembar observasi kegiatan siswa dan guru pada proses
pembelajaran serta respon siswa terhadap pelajaran Fiqih dengan menggunakan
metode advokasi.
Dalam menganalisa data hasil belajar pada aspek kognitif atau
penguasaan konsep menggunakan analisa deskriptif dari setiap siklus
menggunakan gain skor. Gain adalah selisih antara nilai postes dan pretes, gain
menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah
pembelajaran yang dilakukan guru.
Untuk mengetahui selisih nilai tersebut, menggunakan Normalized Gain:

skorpostes - skorpretes
Ng =
skorideal - skorpretes

Dengan Kategori :
g tinggi : 0,70 ≤ g < 1,00
g sedang : 0,30 ≤ g < 0,70
g rendah : 0,00 ≤ g < 0,30

L. Tindak Lanjut/Pengembangan Perencanaan Tindakan


Seperti yang telah dikemukakan, bahwa penelitian yang dilakukan peneliti
merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang memiliki tahapan-tahapan
dalam tiap siklusnya. Tahapan tersebut meliputi perencanaan, tindakan,
pengamatan/pengumpulan data dan refleksi. Sedangkan prosedur pelaksanaan
42

perbaikan apabila setelah tindakan siklus I selesai dilakukan dan belum terjadi
peningkatan hasil belajar siswa, maka akan ditindak lanjuti untuk melakukan
tindakan selanjutnya pada siklus II sebagai perbaikan pembelajaran. Jika hasil
penelitian telah mencukupi indikator keberhasilan maka dicukupkan dan dianggap
penelitian tindakan kelas berhasil dilaksanakan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Kondisi Objektif Sasaran Penelitian


1. Sejarah MTs Al-Huda
Berdasarkan hasil dokumentasi yang diperoleh saat penelitian, Madrasah
Tsanawiyah Al-Huda berdomisili di Jl.Bengkong Raya Rt.01/03 No. 53 telp.
(021) 82610716 Kel. Padurenan Kec. Mustikajaya Kota Bekasi, Provinsi Jawa
Barat, yang secara geografis terletak dekat dengan kantor Kelurahan Padurenan,
dan mudah dijangkau dari segala arah melalui banyak sarana transportasi54.
MTs ini merupakan cikal bakal terbentuknya Yayasan Penidikan Al-
Huda, ini dikarenakan MTs. Al-Huda adalah unit sekolah pertama yang berdiri di
antara sekolah-sekolah yang ada di Yayasan Pedidikan Al-Huda. Berdiri kira-kira
pada bulan Agustus tahun 1996, dan kemudian berdirilah sekolah-sekolah yang
lain55.
Yayasan Pendidikan Al-Huda itu sendiri membawahi beberapa sekolah
termasuk didalamnya MTs. Al-Huda, TPQ Al-Huda, dan TPA Al-Huda. Pada
perkembangannya Mts ini cukup bagus dan telah menciptakan lulusan yang
banyak berkompeten di bidangnya masing-masing.
MTs ini merupakan lembaga bernuansakan Islami, sehingga dari jenis
pelajarannya pun cukup padat. Ini dikarenakan agar para siswa mempunyai jiwa
keislaman yang lebih dari sekolah-sekolah umum lainnya. Selain itu
ekstrakulikulernya pun banyak yang bernuansakan keislaman. Contohnya seperti
nasyid, marawis, pidato, hadroh dan jenis-jenis kegiatan keislaman lainnya.
HM. Khotib adalah salah satu pendiri Yayasan Al-Huda, beliau bersama
dengan saudaranya dan anak-anaknya mengembangkan yayasan tersebut hingga
seperti sekarang.

54
Hasil dokumentasi di MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada tanggal 18 Februari 2015
55
Ibid.

43
44

2. Visi, Misi, dan Tujuan


Berdasarkan hasil dokumentasi di MTs Al-Huda, berikut dipaparkan visi,
misi, dan tujuan MTs Al-Huda,
a. Visi
Unggul dalam IPTEK berlandaskan IMTAQ dan akhlakul karimah
b. Misi
1) Meningkatkan Sumber Daya Manusia Indonesia dalam pendidikan
2) Menciptakan suasana agamis dan kekeluargaan dalam lingkungan
sekolah dan masyarakat
3) Meningkatkan peran masyarakat dalam kehidupan berbangsa,
bernegara, dan beragama
c. Tujuan
Mencetak kader bangsa yang berbudi luhur, berakhlakul karimah dan
berkompeten serta siap pakai. 56

3. Tenaga Pendidik dan Kependidikan


Sebagian besar tenaga pengajar ataupun tenaga kependidikan yang ada di
MTs. Al-Huda berlatar belakang pendidikan S1 yang berasal dari Universitas
yang berada di sekitar Jakarta dan Jawa Barat.
Hasil dari dokumentasi saat penelitian, guru Mts. Al-Huda berjumlah 17
orang, seorang staf TU, seorang pustakawan dan seorang penjaga. Karena MTs
banyak memuat mengenai materi yang bermuatan Islam tenaga kependidikannya
pun banyak yang berlatarbelakang jurusan-jurusan Islam. Kepala sekolah ditunjuk
langsung oleh pihak yayasan yang memayungi MTs. Al-Huda. Tenaga pengajar di
MTs ini tidak hanya memegang satu mata pelajaran, dikarenakan kurangnya
tenaga pengajar yang berada di MTs Al-Huda.57
Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan yayasan ini pun sering
melakukan program peningkatan kualitas guru. Ini dilakukan agar meningkatnya
kualitas pengajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Beberapa guru
dalam pengajarannya disini sudah mulai menggunakan metode yang berpusat
pada siswa (Student Center) ini dilakukan agar siswa tidak bosan dalam
melakukan pembelajaran. Hal ini pula dilakukan agar siswa dapat berperan aktif
dalam proses pembelajaran.

56
Ibid.
57
Ibid.
45

Guna menunjang proses pembelajaran yang berlangsung guru-guru di Mts


Al-Huda diwajibkan lulusan S1. Ini sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan
oleh pemerintah, sedangkan dari staf TU sendiri hanya satu dan mereka saling
berkordinasi dengan kantor pusat yaitu Yayasan Pendidikan Al-Huda, maka latar
belakang dari staf tersebut juga masih dalam proses gelar S1.

4. Data Siswa
Siswa-siswi yang bersekolah di Mts. Al-Huda ini berasal dari wilayah
seputar Bekasi, karena letak Madrasah ini yang mudah diakses dari segala arah
transportasi. Siswa mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Dari tahun ke tahun jumlah siswa yang ada di MTs ini mengalami
peningkatan karena semakin baiknya pola pengajaran yang dilakukan oleh guru-
guru. Berikut ini adalah data jumlah siswa MTs. Al-Huda tiga tahun terakhir:

5. Sarana dan Prasarana


Sarana yang ada di sekitaran MTs. Al-Huda cukup memadai untuk
standar sekolah. Tetapi koleksi perpustakaan madrasah ini belum lengkapnya.
MTs Al-Huda hanya mempunyai perpustakaan mini. Berikut adalah data sarana
dan prasarana yang berada di MTs. Al-Huda.

B. Deskripsi Data Sebelum Tindakan


Penelitian ini dimulai dengan melakukan penelitian pendahuluan (pra
penelitian) di MTs Al-Huda. Kegiatan ini dilakukan sebelum peneliti melakukan
proses pembelajaran. Kegiatan pada penelitian ini yaitu melakukan wawancara
dengan guru Mata Pelajaran Fiqih dan siswa MTs Al-Huda, serta melakukan
observasi pada proses pembelajaran Fiqih di dalam kelas. Tindakan ini bertujuan
untuk mengetahui kondisi siswa serta untuk mengetahui gambaran umum
mengenai pelaksanaan pembelajaran dan masalah-masalah yang dihadapi di
sekolah serta tanggapan dan kendala yang dialami ketika proses pembelajaran
terjadi. Sekolah MTs Al-Huda menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
sebesar 70 untuk mata pelajaran Fiqih Kelas VIII.
46

Kelas yang dijadikan objek penelitian di MTs Al-Huda yaitu pada kelas
VIII yang berjumlah 35 siswa, terdiri dari 19 perempuan dan 16 laki-laki. Pada
tanggal 24 februari 2015 peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Maftuhin
Ichsan, S.Pd.I selaku guru Fiqih dan siswa kelas VIII.
Wawancara pada saat observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi
kelas, kondisi siswa, serta untuk mengetahui gambaran umum mengenai
pelaksanaan pembelajaran dan masalah-masalah yang dihadapi di kelas.
Wawancara berisikan tentang tanggapan dan kendala yang dialami ketika proses
pembelajaran terjadi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Fiqih di MTs
Al-Huda diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Sebagian siswa terlihat datar, kurang antusias dan ada beberapa siswa yang
tidak memperhatikan pada proses pembalajaran Fiqih
2. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode konvensional,
ceramah, penugasan, dan tanya jawab
3. Sebagian besar siswa yang mendapatkan nilai atau hasil belajar di bawah
standar KKM sekolah
4. Guru mata pelajaran Fiqih belum pernah mendengar Pembelajaran aktif
model Metode Advokasi.58
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas VIII Mts Al-Huda
diperoleh informasi sebagai berikut:
1. Sebagian besar siswa memang menyukai pelajaran Fiqih namun ada juga
beberapa yang menganggap kalau mata pelajaran fiqih membosankan
karena cara mangajar guru yang monoton
2. Metode yang digunakan guru Mata Pelajaran Fiqih adalah ceramah
kemudian dilanjutkan dengan penugasan.59
Proses belajar mengajar memang mudah mudah sulit, tetapi hanya sedikit
materi yang bisa diingat oleh para siswa.

58
Hasil wawancara dengan Bapak Maftuhin guru MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada
tanggal 24 Februaru 2015.
59
Hasil wawancara dengan salah satu Murid Kelas VIII MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada
tanggal 24 Februaru 2015.
47

Selain dengan wawancara, peneliti melakukan observasi, observasi


dilakukan sebelum penelitian, hasil observasi dicatat dan terlampir. Observasi
proses pembelajaran dilakukan pada bulan Februari 2015 dan diperoleh gambaran
mengenai situasi dan kondisi belajar siswa serta kondisi lingkungan sekolah dan
fasilitas penunjang proses belajar siwa serta kondisi lingkungan sekolah dan
fasilitas penunjang proses belajar yang ada. Observasi dilakukan dengan cara
mengamati langsung keadaan kelas pada saat proses belajar mengajar pada mata
pelajaran Fiqih. Hasil observasi ini dijadikan data tambahan dan data pelengkap
dari data kuantitatif yang berupa hasil Pretest dan Postest.
Adapun hasil observasi pembelajaran Fiqih adalah sebagai berikut:
1. Waktu lebih banyak dihabiskan bercerita yang tidak berkenaan dengan
materi. Sehingga tidak sedikit siswa yang mengingat materi yang telah
diajarkan
2. Banyak siswa yang mengobrol pada saat guru sedang menjelaskan materi. 60
C. Interpretasi Hasil Analisis
1. Tindakan Pembelajaran Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pembelajaran pada siklus I ini terdiri dari 2 kali pertemuan dengan
durasi 2 x 40 menit, menggunakan pembelajaran Metode Advokasi Materi
pembelajaran pada siklus ini adalah mengenai standar kompetensi memahami
hukum Islam tentang makanan dan minuman. Kegiatan yang dilakukan pada
tahap ini adalah peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
lembar observasi untuk setiap pertemuan, dan membuat alat evaluasi berupa
soal untuk masing-masing siswa.

b. Tahap Pelaksanaan
1) Pertemuan Pertama
Pada pertemuan pertama dilakukan pada hari selasa tanggal 3
Maret 2015. Pertemuan berlangsung dalam durasi 2 x 40 menit. Dengan

60
Hasil Observasi Pra Penelitian di MTs Al-Huda Bekasi Timur, pada tanggal 24 Februari
2015
48

jumlah siswa yang hadir 35 siswa. Peneliti bertindak sebagai guru Mata
Pelajaran Fiqih dan guru kolaborator bertugas mengisi lembar observasi
dan mengamati siswa di dalam kelas.
Peneliti yang bertindak sebagai guru terlebih dahulu menjelaskan tujuan
pembelajaran kemudian guru memberikan soal pretest kepada siswa yang harus
mereka kerjakan sebelum penjelasan materi dimulai, ini bertujuan agar
mengetahui kemampuan atau pengetahuan siswa sebelum proses pembelajaran.
Setelah itu peneliti menjelaskan materi pelajaran tentang makanan dan minuman
halal dengan menggunakan model pembelajaran aktif dengan Metode Advokasi.
Kegiatan berikutnya peneliti memberikan penjelasan kepada siswa bahwa
pembelajaran yang akan mereka ikuti dalam 3 pertemuan selanjutnya adalah
merupakan tugas akhir yang harus dilaksanakan oleh peneliti, hal ini dilakukan
agar siswa tidak bingung ketika mereka harus mengulangi lagi materi yang telah
disampaikan oleh guru bidang studi, selain mengutarakan hal tersebut, guru juga
mengemukakan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa dalam
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Pada pertemuan awal siklus I, siswa mulai dibentuk menjadi 6 kelompok,
semua kelompok terdiri dari 5 atau 6 anak, pembagian ini terdiri dari grup oposisi
dan grup pendukung yang disesuaikan dengan indikator pada pembahasan materi.
Para siswa duduk secara melingkar dengan kelompok mereka masing-masing
pengaturan tempat duduk semacam itu untuk memberikan kesan berbeda dengan
hari-hari biasa serta memudahkan mereka untuk berdiskusi dan tidak terganggu
oleh kelompok lain.

Kondisi kelas ketika pembagian kelompok sedikit gaduh karena para


siswa masih kebingungan mencari anggota mereka masing-masing, meskipun
begitu suasana kelas masih dalam kendali guru dan hal tersebut tidak sedikitpun
mengurangi semangat siswa dalam belajar.
Setelah pembagian kelompok selesai, guru mulai membagikan lembar
tugas kepada tiap kelompok, kelompok 1 dan 2 membahas mengenai debat isu
tentang pengertian dan jenis jenis makanan halal dengan posisi kelompok 1
49

sebagai oposisi dan kelompok 2 sebagai pendukung. Kelompok 3 dan 4


membahas mengenai debat isu tentang pengertian dan jenis-jenis minuman halal
dengan posisi kelompok 3 sebagai oposisi dan kelompok 4 sebagai pendukung.
Kelompok 5 dan 6 membahas mengenai manfaat makanan dan minuman halal
dengan posisi kelompok 5 sebagai pendukung dan kelompok 6 sebagai oposisi.
Guru memberikan intruksi kepada siswa untuk menyiapkan debat terkait
materi yang sudah diberikan pada regu pro maupun pada regu kontra. Tugas guru
mengawasi dan menjadi fasilitator dalam debat tersebut. Selanjutnya debat
dilanjutkan dengan memberikan argumen pembuka tentang materi makanan
minuman halal dan dilanjutkan dengan juru bicara yang duduk berhadap hadapan
untuk memberikan argumentasi tandingan.
Ketika debat berlanjut guru memastikan para siswa untuk saling
bergantian menjadi juru bicaraberdasarkan tema masing-masing. Peserta lain
memberikan catatan yang memuat argumen tandingan atau penyanggahan kepada
regu pendukung.
Setelah proses debat selesai, guru memberikan umpan balik kepada
peserta didik dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan, melakukan tanya
jawab dan menyimpulkan materi bersama.
Bagian penutup guru dan siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran
yang telah dilaksanakan, kemudian guru memberikan penialaian terhadap
ketercapaian tujuan pembelajaran dan menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya.

2) Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua, guru dengan peserta didik mereview pelajaran
yang sudah diajarkan pada pertemuan sebelumnya dan melaksanakan
tanya jawab. Kemudian melakukan Postest kepada peserta didik dengan
memberikan soal berupa pilihan ganda yang sudah disiapkan sebelumnya
oleh guru. Guru mengawasi siswa pada saat Postest berlangsung.
50

Setelah siswa selesai mengerjakan soal Postest, guru dan siswa


bersama-sama mengoreksi hasil postest. Untuk bagian penutup
pembelajaran prosesnya sama dengan pertemuan pertama.

c. Tahap Observasi
1) Catatan Lapangan
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada
saat siklus I berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran
advokasi diperoleh catatan lapangan sebagai berikut :
Pada saat pembelajaran kelompok berlangsung, suasana kelas
masih kurang kondusif. Dari pengamatan penulis, ada beberapa siswa yang
tidak membantu teman satu kelompok, jadi pekerjaan kelompoknya masih
mengandalkan teman yang pintar saja. Namun dalam kegiatan, masing-
masing kelompok telah melaksanakan sesuai dengan tahapan metode
pembelajaran advokasi.
Pada saat mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan
menggunakan metode pembelajaran advokasi, siswa masih terlihat
mengandalkan teman sekelompok dan siswa masih terlihat pasif dalam
pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS), siswa juga masih terllihat segan
bertanya kepada guru (Peneliti) bila mengalami kesulitan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan saat
penelitian Siklus I dapat diketahui bahwa tindakan yang diberikan dengan
menerapkan metode pembelajaran advokasi pada siklus I belum sesuai
dengan perencanaan yang dibuat. Hal ini disebabkan siswa bingung karena
belum terbiasa dengan langkah-langkah metode advokasi sehingga belum
menciptakan suasana pembelajaran yang efektif.

2) Wawancara
Wawancara dilakukan kepada 2 orang siswa setelah pelaksanaan
tindakan Siklus I selesai. Berikut hasil wawancara peneliti kepada siswa
yang terlibat dalam pembelajaran menggunakan metode advokasi :
51

a) Siswa masih bingung dengan metode pembelajaran Advokasi, tetapi


meskipun awalnya membingungkan tetapi siswa senang karena ada
metode belajar baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.
b) Sebagian besar siswa senang karena disini mereka menjadi aktif
berdiskusi di kelas.
c) Siswa dapat mengemukan pendapat dan melatih berbicara di depan
kelas serta melatih dalam menyelesaikan masalah.
d) Masih malu-malu dalam debat atau diskusi dan saling tunjuk apabila
menjadi juru bicara dalam kelompok diskusi.
Berdasarkan wawancara dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa
menyukai metode pembelajaran Advokasi. Pembelajaran dengan menggunakan
metode advokasi membuat siswa mampu menganalisis materi kemudian
menyajikannya dalam debat sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara
atau menyampaikan pendapat.

3) Hasil Belajar
Hasil test pada siklus I materi makanan dan minuman halal dengan
diikuti oleh 35 siswa dan menggunakan metode advokasi terdiri dari data
nilai Pretest maupun Postest.
Pretest diperoleh dari hasil test sebelum siswa mempelajari materi
tersebut dan belum diterapkannya metode pembelajaran advokasi,
sedangkan nilai Postest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah
diterapkannya metode pembelajaran Advokasi.
Data nilai Pretest dan Postest tersebut sebagai berikut :
Tabel 4.1
Nilai N-Gain Siklus I
No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi
1 Abdul Rahman 60 70 0.25 Rendah
2 Afrizal 50 70 0.4 Sedang
3 Ahmad Abdan Sykuuron 50 60 0.2 Rendah
52

4 Amelia Salsabila 60 80 0.5 Sedang


5 Arya Jaya Komara 60 70 0.25 Rendah
6 Aryani Astuti 60 60 0 Rendah
7 Bagas Sudjito 60 70 0.25 Rendah
8 Dewi Yulianti 60 70 0.25 Rendah
9 Diaz Erlangga 70 80 0.3 Sedang
10 Erifa Rohana Kholifah 50 70 0.4 Sedang
11 Fahrizki Zulfanur 40 60 0.3 Sedang
12 Hanifah Nurmalasari 70 80 0.3 Sedang
13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah
14 Irvan Fadhillah 70 80 0.3 Sedang
15 Kartika Sapitri 60 70 0.25 Rendah
16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang
17 M.Abdul Khodir 50 70 0.4 Sedang
18 M.Ridwansyah Pramudita H. 60 80 0.5 Sedang
19 Mardiana 70 90 0.67 Sedang
20 Megawati Sapitri 60 70 0.25 Rendah
21 Muhamad Arsyad 50 70 0.4 Sedang
22 Muhammad Fahmi Syahid 60 80 0.5 Sedang
23 Nanang Akkum 60 70 0.25 Rendah
24 Novitasari 60 70 0.25 Rendah
25 Prasasti Suci Rahayu 70 90 0.67 Sedang
26 Puput Fitriyani 40 70 0.5 Sedang
27 Rani Febriani 50 60 0.2 Rendah
28 Riki Setiawan 70 80 0.3 Sedang
29 Safitri 50 70 0.4 Sedang
30 Sekar Faddilah Mahharani 50 70 0.4 Sedang
31 Septiadi Biwa Putra 50 60 0.2 Rendah
32 Sherly Indah Permatasari 60 70 0.25 Rendah
33 Siti Fatimah 70 80 0.3 Sedang
53

34 Sofi Sugiarti 60 80 0.5 Sedang


35 Wanda Maulidia 60 70 0.25 Rendah
Jumlah
2050 2550
Rata-rata
58.6 72.9 0.35 Sedang

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar pada saat
Pretest nilai terbesarnya adalah 70, dan nilai terkecil adalah 40 dengan jumlah
2050, dan nilai rata-rata 58,6. Sedangkan pada saat Postest, nilai terbesar adalah
90, dan nilai terkecil adalah 60 dengan jumlah total 2550, dengan rata-rata 8,45.
Dengan begitu ketuntasan hasil belajar dapat di lihat dari hasil Postest dengan
nilai KKM di atas 70 yang diperoleh pada siklus I adalah 72,9 hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pembelajaran advokasi
mengalami peningkatan. Jika diukur dengan N-Gain, kemampuan rata-rata siswa
sebesar 0,35 dengan kategori sedang. Namun penelitian ini harus dilanjutkan pada
siklus II, karena belum mencapai ketuntasan hasil belajar atau dengan kata lain
siswa di kelas belum 100% mencapai nilai lebih dari 70.
Berikut tabel distribusi frekuensi Pretest pada Siklus I :
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif


1 40 – 45 2 2 ÷ 35 × 100 = 5,7 %
2 46 – 51 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 %
3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 58 – 63 16 16 ÷ 35 × 100 = 45,7 %
5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 70 - 75 8 8 ÷ 35 × 100 = 22,9 %
Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai
40 – 45 sebanyak 2 siswa dengan persentase 5,7 %, nilai 46 – 51 sebanyak 9 siswa
dengan persentase 25,7 %, rentang nilai 58 – 63 sebanyak 16 siswa dengan
54

persentase 45,7 %, Pada rentang 52 – 57 dan rentang 64 – 69 siswa tidak masuk


dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0
%, sedangkan pada rentang nilai 70 - 75 terdapat 8 siswa dengan persentase 22,9
%.
Gambar 4.1
Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus 1

Frekuensi
frekuensi
16
14
12
10
8
6
4
2
0
40 – 45 46 – 51 52 – 57 58 – 63 64 – 69 70 - 75

Berikut tabel distribusi frekuensi Postest pada Siklus I:


Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Postest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif


1 60 – 65 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,3 %
2 66 – 71 18 18 ÷ 35 × 100 = 51,4 %
3 72 – 77 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 78 – 83 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 %
5 84 – 89 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 90 – 95 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 %
Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai
60 – 65 sebanyak 5 siswa dengan persentase 14,3 %, nilai 66 – 71 sebanyak 18
siswa dengan persentase 51,4 %, rentang nilai 78 – 83 sebanyak 9 siswa dengan
55

persentase 25,7 %, Pada rentang 72 – 77 dan rentang 84 – 89 siswa tidak masuk


dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0
%, sedangkan pada rentang nilai 90 - 95 terdapat 3 siswa dengan persentase 8,6
%.
Gambar 4.2
Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus 1

Frekuensi
Frekuensi

18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
60 – 65 66 – 71 72 – 77 78 – 83 84 – 89 90 – 95

d. Tahap Refleksi
Dari hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan
minat belajar siswa yang terlihat dari peningkatan hasil belajar siswa. Tapi,
peningkatan tersebut belum maksimal, sehingga perlu adanya revisi
pembelajaran dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil
observasi yang telah dilaksanakan pada siklus I terdapat beberapa kendala
dalam penerapan pembelajaran kooperatif , diantaranya, yaitu:
1) Siswa masih belum terbiasa menerapkan metode pembelajaran Advokasi.
2) Masih banyak siswa yang kurang mendengarkan dan memerhatikan
ketika penyampaian materi dan peraturan debat karena siswa masih
banyak yang saling bercanda serta mengobrol. Untuk selanjutnya guru
harus lebih tegas terhadap siswa, memerhatikan dan mendengarkan
ketika penyampaian materi.
56

3) Masih belum tercipta pembelajaran yang efektif edukatif, karena siswa


masih dihinggapi rasa takut dalam mengemukakan ide.
4) Alokasi waktu pembelajaran harus dapat di maksimalkan agar di akhir
pembelajaran dapat menyimpulkan materi yang diberikan.
e. Keputusan Siklus I
Peneliti bersama guru mata pelajaran fiqih yang bertugas sebagai
kolaborator dan observer menganalisis sekaligus mengevaluasi proses
pembelajaran pada siklus I, tindakan yang diberikan sudah sesuai atau belum
dengan konsep penelitian. Hasil penelitian siklus I dibandingkan dengan
indikator keberhasilan.
Berdasarkan refleksi, siklus I ini dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar siswa belum mencapai KKM yang ditentukan sebesar 70. Masih
banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM. Nilai rata-rata untuk
Pretest hanya sebesar 58,9, saat Postest nilai rata-rata yang diperoleh siswa
sebesar 72,8. Meskipun mengalami peningkatan pada saat postest namun
masih ada siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Oleh karena itu perlu
dilakukan tindak lanjut untuk memperoleh hasil belajar siswa yang
diharapkan. Penelitian ini dilanjutkan pada siklus II, dengan memperbaiki
desain pembelajaran sebaik mungkin, serta guru (peneliti) harus lebih
berinteraksi dan membimbing siswa lebih baik lagi dalam proses belajar.

2. Tindakan Pembelajaran Siklus II


a. Tahap Perencanaan
Kegiatan pada siklus II, dilaksanakan pada hari selasa, 17 Maret 2015
membahas materi tentang “Makanan dan Minuman Haram”. Perencanaan yang
akan dilaksanakan pada siklus II berdasarkan refleksi pada siklus I.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan


Tahap dalam pelaksanaan tindakan pada Siklus II sebenarnya sama saja
pada tahap pelaksanaan tindakan pada Siklus I, hanya saja materi yang berbeda.
57

Pada Siklus II materi yang dibahas tentang makanan dan minuman haram. Namun
dalam Siklus II ini, sudah terlihat perbaikan-perbaikan dari Siklus I.

c. Tahap Observasi
1) Catatan Lapangan
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada saat
siklus II berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif
metode advokasi, diperoleh catatan lapangan sebagai berikut:
Saat pembelajaran kelompok berlangsung suasana kelas sudah kondusif,
hal ini terjadi karena siswa sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan
pembelajaran Fiqih di kelas dengan menggunakan metode advokasi. Mereka
mulai terlihat saling bergotong royong dalam menyiapkan debat yang
diarahkan oleh guru. Semua siswa dalam satu kelompok saling bergantian
dalam debat sebagai juru bicara dalam kelompok, seluruh siswa telihat aktif
dalam mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS).
Saat proses debat berlangsung, seluruh siswa sudah terlihat percaya
diri dalam melakukan debat atau diskusi, mengemukakan pendapatnya, serta
beradu argument dengan kelompok lawannya.
2) Wawancara
Berdasarkan catatan lapangan pada Siklus II dapat diketahui bahwa
tindakan yang diberikan dengan menerapkan metode pembelajaran advokasi
pada siklus II sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Suasana pembelajaran
dengan menerapkan metode pembelajaran advokasi sudah optimal. Hal ini
dikarenakan siswa sudah memahami langkah-langkah metode pembelajaran
advokasi secara utuh, sehingga dapat menciptakan suasanan pembelajaran
yang efektif.
Setelah pelaksanaan tindakan Siklus II selesai, dilakukan wawancara,
di luar kelas. sama pada halnya Siklus I. Wawancara dilakukan kepada 4
orang siswa. Pencatatan dilakukan oleh peneliti dengan mewawancarai
masing-masing siswa dalam satu kelompok yang dijadikan sebagai sampel
wawancara. Berikut diperoleh data secara garis besar :
58

a) Siswa sudah dapat dengan mudah menerapkan metode pembelajaran


advokasi, meskipun awalnya masih membingungkan menurut
beberapa orang siswa, tetapi siswa merasa senang karena ada metode
belajar baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.
b) Sebagian besar siswa senang beradu argument dalam debat karena
siswa dapat belajar untuk mengemukakan pendapatnya dalam debat
atau diskusi .
c) Siswa merasa senang, karena mereka dapat menganalisis materi
kemudian mempresentasikannya dalam bentuk debat, tanpa harus
membuka buku dan membaca materi satu persatu, karena masing-
masing kelompok mendapatkan satu materi yang nantinya akan
dipelajari oleh seluruh siswa yang mencakup materi keseluruhan.
d) Seluruh siswa sudah aktif dalam tanya jawab pada saat debat atau
diskusi, semua siswa bergantian menjadi juru bicara dalam debat, dan
kelompok yang ditanya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan
dengan baik, dan benar.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 4 orang siswa sebagai
sampel, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa mulai terbiasa dan menyukai
metode pembelajaran advokasi. Dengan metode pembelajaran advokasi siswa
termotivasi untuk memerhatikan penjelasan dari guru dan terbiasa untuk
mengemukakan pendapat di depan kelas serta diharapkan mampu menganalisis
materi kemudian menyajikannya dalam debat.

3) Hasil Belajar
Berdasarkan hasil test (Pretest dan Postest) yang diperoleh pada siklus II,
dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang dalam satu kelas dengan menggunakan
metode pembelajaran advokasi. Data nilai Pretest diperoleh dari hasil test sebelum
siswa mempelajari materi tersebut dan belum diterapkannya metode pembelajaran
advokasi, serta nilai Postest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah
diterapkannya metode pembelajaran advokasi. Adapun data tersebut adalah
sebagai berikut :
59

Tabel 4.4
Nilai N-Gain Siklus II
No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi
1 Abdul Rahman 60 80 0.5 Sedang
2 Afrizal 60 70 0.25 Rendah
3 Ahmad Abdan Sykuuron 60 80 0.5 Sedang
4 Amelia Salsabila 40 70 0,5 Sedang
5 Arya Jaya Komara 70 80 0.33 Sedang
6 Aryani Astuti 60 80 0.5 Sedang
7 Bagas Sudjito 60 90 0.75 Tinggi
8 Dewi Yulianti 60 80 0.5 Sedang
9 Diaz Erlangga 70 80 0.33 Sedang
10 Erifa Rohana Kholifah 50 70 0.4 Sedang
11 Fahrizki Zulfanur 60 80 0.5 Sedang
12 Hanifah Nurmalasari 70 100 1 Tinggi
13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah
14 Irvan Fadhillah 70 80 0.33 Sedang
15 Kartika Sapitri 60 80 0.5 Sedang
16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang
17 M.Abdul Khodir 50 80 0.6 Sedang
18 M.Ridwansyah Pramudita H. 50 100 1 Tinggi
19 Mardiana 70 80 0.33 Sedang
20 Megawati Sapitri 60 90 0.75 Tinggi
21 Muhamad Arsyad 60 80 0.5 Sedang
22 Muhammad Fahmi Syahid 70 80 0.33 Sedang
23 Nanang Akkum 60 70 0.25 Rendah
24 Novitasari 70 90 0.67 Sedang
25 Prasasti Suci Rahayu 70 80 0.33 Sedang
26 Puput Fitriyani 60 90 0.75 Tinggi
27 Rani Febriani 60 80 0.5 Sedang
60

28 Riki Setiawan 70 80 0.33 Sedang


29 Safitri 70 100 1 Tinggi
30 Sekar Faddilah Mahharani 60 80 0.5 Sedang
31 Septiadi Biwa Putra 60 80 0.5 Sedang
32 Sherly Indah Permatasari 70 100 1 Tinggi
33 Siti Fatimah 70 80 0.33 Sedang
34 Sofi Sugiarti 70 90 0.67 Sedang
35 Wanda Maulidia 60 80 0.5 Sedang
Jumlah
2190 2890 18.7
Rata-rata
62.6 82.6 0.53 Sedang

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar pada saat
Pretest nilai terbesarnya adalah 70, dan nilai terkecil adalah 40 dengan jumlah
total 2190 dengan nilai rata-rata 62,6. Sedangkan pada saat Postest, nilai terbesar
adalah 100, dan nilai terkecil adalah 70 dengan jumlah total 2890, dengan rata-
rata 82,6. Dengan begitu ketuntasan hasil belajar dapat di lihat dari hasil Postest
dengan nilai KKM di atas 70 yang diperoleh pada siklus II adalah 82,6 hal ini
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pembelajaran advokasi
mengalami peningkatan. Jika diukur dengan N-Gain, kemampuan rata-rata siswa
sebesar 0,53 dengan kategori sedang.

Berikut tabel distribusi frekuensi Pretest pada Siklus II :


Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif


1 40 – 45 1 1 ÷ 35 × 100 = 2,8 %
2 46 – 51 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 %
3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 58 – 63 17 17 ÷ 35 × 100 = 48,6 %
5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
61

6 70 - 75 14 14 ÷ 35 × 100 = 40 %
Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai
40 – 45 sebanyak 1 siswa dengan persentase 2,8 %, nilai 46 – 51 sebanyak 3 siswa
dengan persentase 8,6 %, rentang nilai 58 – 63 sebanyak 17 siswa dengan
persentase 48,6 %, Pada rentang 52 – 57 dan rentang 64 – 69 siswa tidak masuk
dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0
%, sedangkan pada rentang nilai 70 - 75 terdapat 14 siswa dengan persentase 40
%.
Gambar 4.3
Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus II

Frekuensi Frekuensi

20

15

10

0
40 – 45 46 – 51 52 – 57 58 – 63 64 – 69 70 - 75

Dari gambar di atas, terlihat bahwa frekuensi tertinggi pada nilai pretest
siklus dua terdapat pada rentang nilai 58-63. Selanjutnya, berikut tabel distribusi
frekuensi Postest pada Siklus II:
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Postest Siklus II

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif


1 70 – 75 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,29 %
2 76 – 81 20 20 ÷ 35 × 100 = 57,14 %
3 82 – 87 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
62

4 88 – 93 6 6 ÷ 35 × 100 = 17,14 %
5 94 - 99 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 100 – 105 4 4 ÷ 35 × 100 = 11,43 %
Jumlah 35 100%

Berikut gambaran diagram batang frekuensi nilai postest pada siklus II :


Gambar 4.4
Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus II

Frekuensi

20

15

10

0
70 – 75 76 – 81 82 – 87 88 – 93 94 - 99 100 – 105

Frekuensi

Dari gambar di atas tampak bahwa frekuensi tertinggi terdapat pada


rentang nilai 76-81, ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa pada saat postest
siklus 2 memperoleh skor pada kisaran nilai 76-81. Sedangkan siswa yang
mendapatkan nilai tertinggi berjumlah 4 orang dengan skor 100. Pada postest ini
tidak ada siswa yang mendapat nilai dibawah KKM.

d. Tahap Refleksi
Berdasarkan pengamatan selama penelitian siklus II diperoleh keterangan
bahwa pembelajaran Fiqih di kelas VIII sudah mulai efektif. Siswa mulai terbiasa
menggunakan metode pembelajaran advokasi. Siswa nampak lebih aktif saat
proses pembelajaran sehingga menciptakan keadaan pembelajaran yang lebih
efektif dibandingkan siklus I.
63

Nilai rata-rata untuk Pretest pada siklus II (62,6) lebih meningkat


dibandingkan Pretest Siklus I yang hanya sebesar 58,6. Setelah dilakukan Postest
pun nilai rata-rata hasil postest siklus ke II lebih tinggi jika dibandingkan nilai
Postest Siklus I.
Seluruh siswa sudah memperoleh nilai melebihi standar KKM atau dapat
dikatakan keberhasilan mencapai 100%. Jika dihitung menggunakan rumusan N-
Gain kemampuan siswa setelah belajar menggunakkan metode Advokasi
mengalami peningkatan sebesar 0,53 dan termasuk dalam kategori sedang.

e. Keputusan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh dari hasil belajar dan
aktivitas belajar siswa juga respons siswa yang positif tentang metode
pembelajaran yang digunakan yaitu metode pembelajaran advokasi, hal ini
menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami materi
hukum Islam tentang makanan dan minuman sudah mencapai kriteria yang
diharapkan. Hasil dari siklus II sudah mencapai di atas KKM berarti tindakan
sudah dapat dihentikan dan tidak perlu melanjutkan pada siklus selanjutnya.

D. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan observasi peneliti sebelum menerapkan
metode pembelajaran Advokasi berbagai masalah dalam pembelajaran fiqih siswa
kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur diantaranya adalah metode
pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah ceramah sehingga siswa merasa
bosan dan jenuh. Kelas terlihat pasif karena siswa kurang terlibat dalam proses
pembelajaran, hal inilah yang membuat minat belajar siswa rendah dan membuat
hasil belajar mereka juga menurun.
Saat memberlakukan metode Advokasi di dalam proses pembelajaran
secara keseluruhan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I telah berpusat
pada siswa, siswa lebih aktif dibandingkan guru. Metode pembelajaran advokasi
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, ini dapat terlihat pada nilai
Pretest dan Postest pada siklus I dengan nilai rata-rata pretest 58,6 mengalami
64

peningkatan sebesar 72,9 pada saat postest namun masih ada siswa yang
mendapat nilai di bawah KKM. Sehingga dilanjutkan pada siklus II dengan
perolehan nilai rata-rata pretest sebesar 62,6 yang kemudian nuga mengalami
peningkatan pada saat postest dengan perolehan nilai rata-rata postest sebesar
82,6.
Setelah diterapkannya Siklus I dan Siklus II dapat dilihat ternyata dengan
diterapkannya metode Advokasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih
mengalami peningkatan dibandingkan sebelum diterapkannya metode
pembelajaran advokasi, karena dengan menggunakan metode pembelajaran ini
tiap siswa dapat belajar dengan aktif.
Seperti yang dikatakan oleh Oemar Hamalik, belajar dengan
menggunakan metode advokasi menuntut siswa menjadi advokat dari pendapat
tertentu yang bertalian dengan topik yang tersedia. Para siswa dapat menggunakan
keterampilan riset, keterampilan analisis, dan keterampilan berbicara dan
pendengar, sebagaimana mereka berpartisipasi dalam kelas pengalaman advokasi,
mereka dihadapkan pada isu-isu kontoversial dan harus mengembangkan suatu
kasus untuk mendukung pendapat mereka di dalam perangkat petunjuk dan
tujuan-tujuan khusus. Pada akhir pelajaran pada siklus I, dan siklus II guru
menarik kesimpulan secara bersama-sama dengan siswa untuk menghindari
terjadinya miskonsepsi.

E. Keterbatasan Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti mengalami keterbatasan dalam penelitian
seperti:

1. Penelitian ini hanya ditunjuk pada pelajaran Fiqih pada pokok bahasan
hukum Islam tentang makanan dan minuman, sehingga belum bisa
digeneralisir pada pokok bahasan lain.
2. Kondisi siswa sempat bingung dengan proses pembelajaran menggunakan
metode Advokasi, karena siswa belum terbiasa dengan pembelajaran seperti
itu.
65

3. Alokasi waktu yang kurang sehingga diperlukan kesiapan dan pengaturan


kelas yang baik.
4. Kontrol terhadap subjek penelitian hanya meliputi variable, metode
pembelajaran, dan hasil belajar siswa.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
Fikih dengan metode Advokasi yang dalam pelakasanaanya identik dengan
metode debat, penggunaan media debat sebagai media pembelajaran, media
gambar dan pemetaan kursi duduk siswa mampu meningkatkan hasil belajar siswa
kelas VIII MTs Al-Huda Bekasi Timur. Melalui metode advokasi dengan langkah
dasar pelaksanaan debat yaitu: menganalisis karakteristik siswa dan tujuan
pembelajaran di awal proses akan memudahkan peneliti untuk memilih suatu
topik debat berdasarkan pertimbangan dari aspek kebermaknaannya, tingkatan
siswa, relevansinya dengan kurikulum, dan minat para siswa. Dalam implementasi
metode advokasi, penggunaan media debat dan penggunaan media visual pada
siswa dapat dengan mudah memahami materi tentang arti keputusan bersama
yang berdampak pada hasil belajar yang meningkat, selain itu dapat menarik
perhatian siswa sehingga membuat pembelajaran lebih efektif, efisien, dan
menarik. Siswa terlihat lebih aktif, lebih berani untuk tampil didepan kelas,
menjadikan siswa lebih terampil, kreatif dan mudah untuk memecahkan masalah
dari suatu topik permasalahan. Dengan pemahaman siswa terhadap materi yang
diberikan, siswa juga mampu mengerjakan soal dengan tepat, cermat, dan tepat.
Siswa juga dapat menunjukkan motivasi belajar yang tinggi, serta adanya rasa
senang, kegairahan, dan ketertarikan dalam belajar Fikih lebih antusias.
Kelebihan dari metode advokasi ini diantaranya siswa lebih aktif dan
kreatif dalam menyampaikan pendapat dan dalam mempertahankan pendapat
tersebut, lebih terlihat kerja sama tim dan kekompakan yang baik dari masing-
masing klompok, membiasakan siswa berbicara di depan orang banyak.
Adapun kekurangan dari metode advokasi tersebut diantaranya tidak
semua materi pelajaran bisa dipakai dengan menggunakan metode advokasi, harus
bisa memilih topic yang bisa diperdebatkan, tidak semua siswa bisa aktif untuk

66
67

mengungkapkan pendapat, tidak semua siswa mau ikut serta, memakan waktu
untuk membereskan kursi dan meja sehingga waktu pelajaran menjadi berkurang
karna terpakai untuk itu
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas
VIII-I MTs Al-Huda Bekasi Timur, bahwa metode pembelajaran Advokasi dapat
meningkat hasil belajar fiqih siswa. Hasil belajar fiqih siswa meningkat setelah
diterapkannya metode pembelajaran Advokasi, hal ini dapat dilihat dari nilai hasil
belajar pada postest siklus I dan siklus II. Pada siklus I hasil belajar siswa
mamperoleh rata-rata mencapai 72,9 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar
siswa meningkat menjadi 82,6.
Dengan demikian secara statistik terjadi peningkatan yang signifikan pada
prosentase hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dengan sesudah
dilakukan tindakan tindakan baik pada siklus I dan siklus II.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Advokasi dapat
meningkatkan hasil belajar Fikih pada siswa kelas VIII-I MTs Al-Huda Bekasi
Timur.

B. Implikasi
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa pembelajaran aktif dengan
menggunakan metode Advokasi berpengaruh dalam meningkatkan hasil
pembelajaran siswa MTs Al-Huda Bekasi Timur khususnya pada mata pelajaran
fiqih. Dengan demikian penggunakan metode pembelajaran yang relevan dengan
mata pelajaran yang diberikan kepada siswa menjadi salah satu komponen utama
untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Penerapan metode Advokasi pada proses pembelajaran dapat dijadikan
salah satu solusi untuk mengurangi permasalahan siswa dalam memahami dan
mengingat mata pelajaran Fiqih yang selama ini mereka anggap membosankan,
hal ini juga dapat dimungkinkan untuk diterapkan dalam mata pelajaran lain di
MTs Al-Huda Bekasi Timur dan sekolah lainnya.
Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi, antara lain: (a)
Metode sangat berpengaruh besar dalam pengajaran, dengan metode hasil belajar
68

bisa baik atau bahkan sebaliknya, sering kita jumpai seorang guru menguasai
materi tetapi gagal dalam memberikan pembelajaran kepada siswa karena ia tidak
menggunakan metode yang tepat untuk memberikan pemahaman kepada siswa;
(b) Pembelajaran Fiqih akan lebih menyenangkan jika siswa melibatkan diri
sepenuhnya untuk menggali kreatifitas mereka dalam berbicara dan menganalisis
suatu maslah ketika belajar dengan menggunakan metode Advokasi; (c)
dibutuhkan pelatihan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam menerapkan
metode pembelajaran agar memudahkan dan memotivasi guru-guru guna
mengimplementasikan metode pembelajaran yang sesuai di kelas.

C. Saran
Berdasarkan tindak lanjut dari penelitian ini maka penulis memberikan
beberapa saran, diantaranya sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi para pendidik untuk
dapat menemukan, menerapkan model, strategi, maupun metode
pembelajaran yang tepat untuk dapat diterapkan dalam proses pembelajaran
dan dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan di kelas.
2. Guru yang akan menggunakan pendekatan pembelajaran dengan menerapkan
metode Advokasi sebaiknya memberi pemahaman mengenai cara kerja
metode Advokasi kepada siswa terlebih dahulu supaya mereka dapat
menciptakan kreatifitas belajar dan memperoleh penguasaan materi secara
mudah serta menyenangkan.
3. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, maka disarankan ada
penelitian lanjut yang meneliti tentang pembelajaran dengan menggunakan
metode Advokasi pada pokok bahasan lain atau bahkan subjek yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Surabaya: Mekar, 2004

A.T, Rusyan. Meningkatkan Mutu Kegiatan dalam proses Belajar Mengajar di


Sekolah Dasar, Jakarta: PT. Kartanegara, Cetakan 2, 1999.

Sofyan, Ahmad. dkk. Evaluasai Pembelajaran Ipa Berbasis Kompetensi. Jakarta:


UIN Jakarta Press. Cetakan ke-1. 2006.

Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi revisi), Jakarta:


Bumi Aksara. Cetakan Ke-9. 2009

Chatib, Munif. Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua
Anak Juara, Bandung: Kaifa, cetakan ke-12, 2013.

Dalyono, M. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, cetakan ke-3, 2005.

Dananjaya, Utomo. Media Pembelajaran Aktif, Bandung: PT Penerbit Nuansa,


cetakan ke-1. 2010

Daradjat, Zakiah. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi


Aksara, 1995.

Departemen Pendidikan Nasional, UU Sikdiknas No. 20 : Tahun 2003, Jakarta:


Pusat Data dan Informasi Pendidikan Balitbang Depdiknas, 2006.

Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, Bandung:


PT Refika Aditama, Cetakan ke-3, 2009.

Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif , Kreatif, Efektif, dan


Menyenangkan Untuk Guru SD. Bandung: PPPPTK IPA. 2009.

Irwanto, Dkk, Psikologi Umum. Jakarta: PT Prenhallino, 2002.

Iskandar. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada Press, 2011.

Jihad, Asep dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi


Pressindo, 2010.

Khon, Abdul Majid. Hadis Tarbawi Hadis-Hadis Pendidikan, Jakarta: Kencana


Prenada Media Group, 2012.

Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan


Profesi Guru. Jakarta : PT Rajawali Pers, 2010.

69
70

Kusuma, Wijaya dan Dedi Dwitagama, Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT.
Indeks, 2009.

Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosda karya,


Cetakan ke-7, 2011.

Narbuko, Cholid dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian, Jakarta: Bumi


Aksara, 2004

Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang Standar Kelulusan dan
Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Jakarta:
Media Pustama Mandiri. Cetakan I, 2009.

Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Sanjaya, Wina. Pembelajran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis


Kompetensi, Jakarta: Prenada Media Group, Cet. 3, 2008

Silberman, Melvin L. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung :
Nusamedia, 2011

Sundayana, Rostina. Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2014

Suralaya, Fadhilah. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Ciputat: UIN


Jakarta Press. Cetakan 1. 2005

Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos wacana ilmu, 2001

....................... Psikologi Pendidikan: Dengan pendekatan Baru, Bandung:


PT.Remaja Rosda Karya, cetakan ke-17, 2011

Uno, Hamzah B. Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Zurinal dan Wahdi Sayuti. Ilmu Pendidikan Pengantar & Dasar-dasar


Pelaksanaan Pendidikan. Jakarta : UIN Press, 2006.
71

LAMPIRAN
72

Lampiran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SIKLUS I

Nama Madrasah : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Mata Pelajaran : Fiqih
Kelas/Semester : VIII / 2
Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi

 Memahami hukum Islam tentang makanan dan minuman

B. Kompetensi Dasar

 Menjelaskan jenis-jenis makanan dan minuman halal


 Menjelaskan manfaat mengkonsumsi makanan dan minuman halal
C. Indikator Pencapaian Kompetensi :
1. Menjelaskan pengertian makanan halal
2. Mengklasifikasikan jenis-jenis makanan halal
3. Menjelaskan pengeritan minuman halal
4. Menyebutkan jenis-jenis minuman yang halal
5. Menunjukkan manfaat mengkonsumsi makanan dan minuman halal
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini dengan menggunakan strategi, metode,
langkah-langkah pembelajaran, dan indikator mencapaian kompetensi yang
dipaparkan, Siswa diharapkan mampu menjelaskan jenis-jenis makanan dan
minuman halal serta mampu menjelaskan manfaat mengkonsumsi makanan
dan minuman halal

E. Materi Ajar
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Halal
73

F. Metode Pembelajaran :
1. Advokasi
2. Ceramah
3. Tanya Jawab
4. Diskusi
G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-1
NO LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN WAKTU
1. PENDAHULUAN 10 menit
 Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan
salam dan berdoa (nilai karakter : religius)
 Mengecek kehadiran dan kesiapan murid (nilai karakter:
disiplin)
 Guru menanyakan kabar dan memotivasi murid (nilai
karakter: peduli, semangat)
 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. (nilai karakter: cinta ilmu)
 Guru bertanya pada murid mengenai perkembangan Islam
secara umum. (nilai karakter: cinta ilmu, ingin tahu)
2. KEGIATAN INTI 60 menit
Eksplorasi
 Guru membangun pengetahuan awal murid melalui
pemberian materi secara ringkas sehingga murid
termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
(nilai karakter : cinta ilmu, inovatif) 10 menit
 Guru menciptakan suasana yang memungkinkan
terjadinya interaksi antara murid dengan guru, murid
dengan murid, maupun murid dengan lingkungan dan
sumber belajar melalui kegiatan tanya jawab (nilai
karakter: ingin tahu, demokratif)
Elaborasi
 Guru membentuk kelompok masing-masing beranggota 7
murid yang terdiri dari kelompok oposisi dan kelompok
pendukung kemudian membagikan lembar kerja
kelompok (nilai karakter: kerjasama, komunikatif)
 Guru menyampaikan penjelasan tentang langkah-langkah
74

belajar dengan menggunakan metode advokasi (nilai


karakter : kreatif, inovatif)
 Murid pada kelompok masing-masing menyiapkan
argumen tentang isu yang diperdebatkan sesuai dengan
langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru. (nilai 40 menit
karakter : kreatif, kerjasama, inovatif)
 kelompok pendukung memperesentasikan hasil
argumennya beserta data temuan untuk memperkuat
pendapatnya. (nilai karakter: cinta ilmu, percaya diri)
 Kelompok oposisi diberi kesempatan untuk menyanggah
pendapat dari kelompok pendukung (nilai karakter :
demokrasi, inovatif, percaya diri)
Konfirmasi
 Guru memberikan umpan balik pada peserta didik
dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan (nilai
karakter: cinta ilmu, menghargai karya orang lain)
 Guru bersama siswa melakukan tanya jawab, dan
menyimpulkan materi. (nilai karakter: ingin tahu,
menghargai keberagaman)
10 menit
 Guru memberikan informasi untuk bereksplorasi (nilai
karakter : inovatif, cinta ilmu)
3. PENUTUP 10 menit
 Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap
pembelajaran yang telah dilaksanakan. (nilai karakter:
saling menghargai dan peduli)
 Guru memberikan penilaian terhadap ketercapaian tujuan
pembelajaran (nilai karakter: cinta ilmu)
 Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya. (nilai karakter: cinta ilmu,
disiplin)
 Guru mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dan
mengucapkan salam. (nilai karakter : religius)
Pertemuan ke-2
No Kegiatan Waktu
1 Review pelajaran yang sudah diajarkan 2x40
2 Postest Menit
75

H. Bahan/Sumber/Media Belajar
1. Buku pelajaran Fiqih untuk MTs kelas VIII
2. Buku penunjang yang relevan
3. Projektor
4. Laptop
5. White board
6. Spidol

I. Penilaian
1. Teknik : Tes tertulis (Pretest dan Postest)
2. Bentuk : Tes pilihan ganda dan tugas kelompok
3. Tes lisan

Jakarta, Maret 2015


Guru Mata pelajaran Fiqih Mahasiswa Peneliti

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I Yusuf Kamil


76

Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SIKLUS II

Nama Madrasah : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Mata Pelajaran : Fiqih
Kelas/Semester : VIII / 2
Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi

 Memahami hukum Islam tentang makanan dan minuman

B. Kompetensi Dasar

 Menjelaskan jenis-jenis makanan dan minuman haram


 Menjelaskan bahaya mengkonsumsi makanan dan minuman haram
C. Indikator Pencapaian Kompetensi :
1. Menjelaskan pengertian makanan haram
2. Mengklasifikasikan jenis-jenis makanan haram
3. Menjelaskan pengeritan minuman haram
4. Menyebutkan jenis-jenis minuman yang haram
5. Menunjukkan bahaya mengkonsumsi makanan dan minuman haram
D. Tujuan Pembelajaran
 Setelah mempelajari materi ini dengan menggunakan strategi, metode,
langkah-langkah pembelajaran, dan indikator mencapaian kompetensi
yang dipaparkan, Siswa diharapkan mampu menjelaskan jenis-jenis
makanan dan minuman haram dan mampu menjelaskan bahaya
mengkonsumsi makanan dan minuman haram
E. Materi Ajar
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Haram
77

F. Metode Pembelajaran :
1. Advokasi
2. Ceramah
3. Tanya Jawab
4. Diskusi
G. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan Ke-1
NO LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN WAKTU
1. PENDAHULUAN 10 menit
 Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan
salam dan berdoa (nilai karakter: religius)
 Mengecek kehadiran dan kesiapan murid (nilai karakter:
disiplin)
 Guru menanyakan kabar dan memotivasi murid (nilai
karakter: peduli, semangat)
 Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. (nilai karakter : cinta ilmu)
 Guru bertanya pada murid mengenai perkembangan Islam
secara umum. (nilai karakter : cinta ilmu, ingin tahu)
2. KEGIATAN INTI 60 menit
Eksplorasi
 Guru membangun pengetahuan awal murid melalui
pemberian materi secara ringkas sehingga murid
termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
(nilai karakter : cinta ilmu, inovatif) 10 menit
 Guru menciptakan suasana yang memungkinkan
terjadinya interaksi antara murid dengan guru, murid
dengan murid, maupun murid dengan lingkungan dan
sumber belajar melalui kegiatan tanya jawab (nilai
karakter : ingin tahu, demokratif)
Elaborasi
 Guru membentuk kelompok masing-masing beranggota 7
murid yang terdiri dari kelompok oposisi dan kelompok
pendukung kemudian membagikan lembar kerja
kelompok (nilai karakter : kerjasama, komunikatif)
 Guru menyampaikan penjelasan tentang langkah-langkah
78

belajar dengan menggunakan metode advokasi dan akan


memberikan reward kepada kelompok terbaik. (nilai
karakter : Inovatif, menghargai karya orang lain)
 Murid pada kelompok masing-masing menyiapkan
argumen tentang isu yang diperdebatkan sesuai dengan 40 menit
langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru. (nilai
karakter : kreatif, kerjasama, inovatif)
 kelompok pendukung memperesentasikan hasil
argumennya beserta data temuan untuk memperkuat
pendapatnya. (nilai karakter : cinta ilmu, kerjasama)
 Kelompok oposisi diberi kesempatan untuk menyanggah
pendapat dari kelompok pendukung (nilai karakter :
demokratis, inovatif, percaya diri)
Konfirmasi
 Guru memberikan umpan balik pada peserta didik
dengan memberi penguatan dalam bentuk lisan (nilai
karakter : cinta ilmu)
 Guru memberikan reward pada kelompok terbaik (nilai
karakter : menghargai karya orang lain)
10 menit
 Guru bersama siswa melakukan tanya jawab, dan
menyimpulkan materi. (nilai karakter : ingin tahu,
menghargai keberagaman)
 Guru memberikan informasi untuk bereksplorasi (nilai
karakter : inovatif, cinta ilmu)
3. PENUTUP 10 menit
 Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap
pembelajaran yang telah dilaksanakan. (nilai karakter :
saling menghargai dan peduli)
 Guru memberikan penilaian terhadap ketercapaian tujuan
pembelajaran (nilai karakter: cinta ilmu)
 Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada
pertemuan berikutnya. (nilai karakter : cinta ilmu,
disiplin)
 Guru mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dan
mengucapkan salam. (nilai karakter : religius)
79

Pertemuan ke-2
No Kegiatan Waktu
1 Review pelajaran yang sudah diajarkan 2x40
2 Postest Menit

H. Bahan/Sumber/Media Belajar
1. Buku pelajaran Fiqih untuk MTs kelas VIII
2. Buku penunjang yang relevan
3. Projektor
4. Laptop
5. White board
6. Spidol
I. Penilaian
1. Teknik : Tes tertulis (Pretest dan Postest)
2. Bentuk : Tes pilihan ganda dan tugas kelompok
3. Tes lisan

Jakarta, Maret 2015


Guru Mata pelajaran Fiqih Mahasiswa Peneliti

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I Yusuf Kamil


80

Lampiran 3
Kisi-Kisi Instrumen Test Siklus I

Kelas/semester : VIII (Delapan) / II (Dua)


Mata Pelajaran : Fiqih
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Halal
Standar Kompetensi : Memahami hukum Islam tentang makanan
dan minuman

Kompetensi Nomor
Materi Indikator
Dasar Soal
a. Menjelaskan pengertian
a) Pengertian makanan halal
makanan halal 4,8

b. Mengkalsifikasikan jenis-
b) Jenis-jenis makanan halal
jenis makanan halal 1,5
1. Menjelaskan
jenis-jenis
makanan dan c) Pengertian minuman c. Menjelaskan pengeritan

minuman halal halal minuman halal 3,6

d) Jenis-jenis minuman d. Menyebutkan jenis-jenis


halal minuman yang halal 2,7,10

2. Menjelaskan
e. Menunjukkan manfaat
manfaat e) Manfaat makanan dan
mengkonsumsi makanan
mengkonsumsi minuman halal 9
dan minuman halal
makanan dan
minuman halal
81

Lampiran 4
Soal Pretest dan Postest
Siklus I
Nama :
Kelas :

Beri tanda silang (x) pada jawaban yang paling tepat !

1. Yang termasuk makanan yang halal adalah….


a. Daging ular c. Daging kambing
b. Daging kucing d. Daging buaya
2. Air susu sapi hukumnya….
a. Sunah c. Makruh
b. Haram d. Halal
3. Semua makanan dan minuman yang berada di muka bumi yang bermanfaat
bagi pertumbuhan badan dan jiwa maka hukum asalnya adalah….
a. Manfaat c. Haram
b. Mudharat d. Halal
ِ
4. (168: ‫)البقرة‬..... ‫ض َحالال طَيِّب‬ ْ ‫َّاس ُكلُوا ِمَّا ِِف‬
ِ ‫األر‬ ُ ‫يَا أَيُّ َها الن‬
Ayat di atas menjelaskan tentang...
a. Minuman halal c. Makanan haram
b. Makanan halal d. Minuman haram
5. Dua macam darah yang boleh di makan adalah….
a. Empedu dan darah c. limpa dan darah
b. Hati dan limpa d. hati dan empedu
6. Minuman yang bersih, sehat, tidak mengandung najis, dan tidak merusak
badan hukumnya adalah....
a. Makruh c. Halal
b. Haram d. Sunah
7. Arak yang berubah menjadi cuka hukumnya...
a. Halal c. Makruh
b. Haram d. Sunah
8. Makanan yang dihalalkan menurut surat al-Maidah ayat 96, adalah ....
82

a. Binatang buruan dari laut


b. Daging binatang ternak
c. Bintang buruan bagi yang sedang ihram
d. Darah
9. Salah satu manfaat memakan makanan yang halal, adalah……
a. Badan pasti menjadi gemuk
b. Mencapai ridho Allah SWT
c. Otak menjadi pintar
d. Memiliki akhlak madzmumah
10. Air yang bersih yang turun dari langit hukumnya...
a. Halal c. Makruh
b. Haram d. Mudharat

Kunci Jawaban

1. C
2. D
3. D
4. B
5. B
6. C
7. A
8. A
9. B
10. A
83

Lampiran 5
Hasil Skor Pretest Siklus I

Tabel
Skor Pre Test Siklus I
Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII.1

No Nama siswa Pretest Keterangan


1 Abdul Rahman 60 Tidak Lulus
2 Afrizal 50 Tidak Lulus
3 Ahmad Abdan Syukron 50 Tidak Lulus
4 Amelia Salsabila 60 Tidak Lulus
5 Arya Jaya Komara 60 Tidak Lulus
6 Aryani Astuti 60 Tidak Lulus
7 Bagas Sudjito 60 Tidak Lulus
8 Dewi Yulianti 60 Tidak Lulus
9 Diaz Erlangga 70 Lulus
10 Erifa Rohana Kholifah 50 Tidak Lulus
11 Fahrizki Zulfanur 40 Tidak Lulus
12 Hanifah Nurmalasari 70 Lulus
13 Hardiansyah 60 Tidak Lulus
14 Irvan Fadhillah 70 Lulus
15 Kartika Sapitri 60 Tidak Lulus
16 Leni Sopiani 70 Lulus
17 M.Abdul Khodir 50 Tidak Lulus
18 M.Ridwansyah Pramudita Hasibuan 60 Tidak Lulus
19 Mardiana 70 Lulus
20 Megawati Sapitri 60 Tidak Lulus
21 Muhamad Arsyad 50 Tidak Lulus
22 Muhammad Fahmi Syahid 60 Tidak Lulus
23 Nanang Akkum 60 Tidak Lulus
24 Novitasari 60 Tidak Lulus
84

25 Prasasti Suci Rahayu 70 Lulus


26 Puput Fitriyani 40 Tidak Lulus
27 Rani Febriani 50 Tidak Lulus
28 Riki Setiawan 70 Lulus
29 Safitri 50 Tidak Lulus
30 Sekar Faddilah Mahharani 50 Tidak Lulus
31 Septiadi Biwa Putra 50 Tidak Lulus
32 Sherly Indah Permatasari 60 Tidak Lulus
33 Siti Fatimah 70 Lulus
34 Sofi Sugiarti 60 Tidak Lulus
35 Wanda Maulidia 60 Tidak Lulus

Keterangan :
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) : 70
85

Lampiran 6

Perhitungan Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

Langkah-Langkah :
1. Menghitung rentang
R = Skor terbesar – Skor terkecil
= 70 – 40 = 30
2. Menentukan banyaknya kelas
K = 1 + 3,3 log 35
= 6,095  5
3. Menghitung panjang kelas (P)
𝑅 30
P=𝐾= 5 =6
4. Mencari nilai rata-rata dan Standar Deviasi
a. Menghitung rata-rata dengan menggunakan rumus fungsi AVERAGE pada
Ms.Excel menghasilkan nilai = 58,6
b. Menghitung standar deviasi dengan menggunakan rumus fungsi STDEV
pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 8,45
5. Membuat Tabel Distribusi Frekuensi
No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif
1 40 – 45 2 2 ÷ 35 × 100 = 5,7 %
2 46 – 51 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 %
3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 58 – 63 16 16 ÷ 35 × 100 = 45,7 %
5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 70 - 75 8 8 ÷ 35 × 100 = 22,9 %
Jumlah 35 100%
86

Lampiran 7
Hasil Skor Postest Siklus I

Tabel
Skor Pos Test Siklus I
Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII.1

No Nama siswa Postest Keterangan


1 Abdul Rahman 70 Lulus
2 Afrizal 70 Lulus
3 Ahmad Abdan Syukron 60 Tidak Lulus
4 Amelia Salsabila 80 Lulus
5 Arya Jaya Komara 70 Lulus
6 Aryani Astuti 60 Tidak Lulus
7 Bagas Sudjito 70 Lulus
8 Dewi Yulianti 70 Lulus
9 Diaz Erlangga 80 Lulus
10 Erifa Rohana Kholifah 70 Lulus
11 Fahrizki Zulfanur 60 Tidak Lulus
12 Hanifah Nurmalasari 80 Lulus
13 Hardiansyah 70 Lulus
14 Irvan Fadhillah 80 Lulus
15 Kartika Sapitri 70 Lulus
16 Leni Sopiani 90 Lulus
17 M.Abdul Khodir 70 Lulus
18 M.Ridwansyah Pramudita Hasibuan 80 Lulus
19 Mardiana 90 Lulus
20 Megawati Sapitri 70 Lulus
21 Muhamad Arsyad 70 Lulus
22 Muhammad Fahmi Syahid 80 Lulus
23 Nanang Akkum 70 Lulus
24 Novitasari 70 Lulus
87

25 Prasasti Suci Rahayu 90 Lulus


26 Puput Fitriyani 70 Lulus
27 Rani Febriani 60 Tidak Lulus
28 Riki Setiawan 80 Lulus
29 Safitri 70 Lulus
30 Sekar Faddilah Mahharani 70 Lulus
31 Septiadi Biwa Putra 60 Tidak Lulus
32 Sherly Indah Permatasari 70 Lulus
33 Siti Fatimah 80 Lulus
34 Sofi Sugiarti 80 Lulus
35 Wanda Maulidia 70 Lulus

Keterangan :
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) : 70
88

Lampiran 8

Perhitungan Distribusi Frekuensi Postest Siklus I

A. Langkah-Langkah :
1. Menghitung rentang
R = Skor terbesar – Skor terkecil
= 90 – 60 = 30
2. Menentukan banyaknya kelas
K = 1 + 3,3 log 35
= 6,095  5
3. Menghitung panjang kelas (P)
𝑅 30
P=𝐾= 5
=6
4. Mencari nilai rata-rata dan Standar Deviasi
a. Menghitung rata-rata dengan menggunakan rumus fungsi AVERAGE
pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 72,9
b. Menghitung standar deviasi dengan menggunakan rumus fungsi
STDEV pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 8,2
c. Membuat Tabel Distribusi Frekuensi
No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif
1 60 – 65 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,3 %
2 66 – 71 18 18 ÷ 35 × 100 = 51,4 %
3 72 – 77 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 78 – 83 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 %
5 84 – 89 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 90 – 95 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 %
Jumlah 35 100%
89

Lampiran 9
Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi
Siklus I
1. Rumus :
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑒𝑠 −𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠
 Gain ternormalisasi = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 −𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠

 Skor Ideal = 100


2. Contoh perhitungan siswa nomor 1
70−60
g= = 0,25 (rendah)
100− 60
Tabel
Hasil Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi
No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi
1 Abdul Rahman 60 70 0.25 Rendah
2 Afrizal 50 70 0.4 Sedang
3 Ahmad Abdan Sykuuron 50 60 0.2 Rendah
4 Amelia Salsabila 60 80 0.5 Sedang
5 Arya Jaya Komara 60 70 0.25 Rendah
6 Aryani Astuti 60 60 0 Rendah
7 Bagas Sudjito 60 70 0.25 Rendah
8 Dewi Yulianti 60 70 0.25 Rendah
9 Diaz Erlangga 70 80 0.3 Sedang
10 Erifa Rohana Kholifah 50 70 0.4 Sedang
11 Fahrizki Zulfanur 40 60 0.3 Sedang
12 Hanifah Nurmalasari 70 80 0.3 Sedang
13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah
14 Irvan Fadhillah 70 80 0.3 Sedang
15 Kartika Sapitri 60 70 0.25 Rendah
16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang
17 M.Abdul Khodir 50 70 0.4 Sedang
18 M.Ridwansyah Pramudita H. 60 80 0.5 Sedang
19 Mardiana 70 90 0.67 Sedang
20 Megawati Sapitri 60 70 0.25 Rendah
90

21 Muhamad Arsyad 50 70 0.4 Sedang


22 Muhammad Fahmi Syahid 60 80 0.5 Sedang
23 Nanang Akkum 60 70 0.25 Rendah
24 Novitasari 60 70 0.25 Rendah
25 Prasasti Suci Rahayu 70 90 0.67 Sedang
26 Puput Fitriyani 40 70 0.5 Sedang
27 Rani Febriani 50 60 0.2 Rendah
28 Riki Setiawan 70 80 0.3 Sedang
29 Safitri 50 70 0.4 Sedang
30 Sekar Faddilah Mahharani 50 70 0.4 Sedang
31 Septiadi Biwa Putra 50 60 0.2 Rendah
32 Sherly Indah Permatasari 60 70 0.25 Rendah
33 Siti Fatimah 70 80 0.3 Sedang
34 Sofi Sugiarti 60 80 0.5 Sedang
35 Wanda Maulidia 60 70 0.25 Rendah
91

Lampiran 10
Kisi-Kisi Instrumen Test Siklus II
Kelas/semester : VIII (Delapan) / II (Dua)
Mata Pelajaran : Fiqih
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Haram
Standar Kompetensi : Memahami hukum Islam tentang makanan
dan minuman

Kompetensi Nomor
Materi Indikator
Dasar Soal
a) Pengertian makanan a. Menjelaskan pengertian
haram makanan haram 3,7

b. Mengkalsifikasikan jenis-
b) Jenis-jenis makanan
1. Menjelaskan jenis makanan haram 2,9
haram
jenis-jenis
makanan dan
c. Menjelaskan pengeritan
minuman c) Pengertian minuman
minuman haram 1,8
haram haram

d. Menyebutkan jenis-jenis
d) Jenis-jenis minuman
minuman yang haram 4,5
haram

2. Menjelaskan
e. Menunjukkan bahaya
bahaya e) Bahaya makanan dan
mengkonsumsi makanan
mengkonsumsi minuman halal 5, 10
dan minuman haram
makanan dan
minuman haram
92

Lampiran 11
Soal Pretest dan Postest
Siklus II
Nama :
Kelas :

Beri tanda silang (x) pada jawaban yang paling tepat !


1. Makanan dan minuman yang didapat dengan cara yang dilarang agama
hukumnya….
a. Halal c. Makruh
b. Haram d. Boleh
2. Ayam yang mati tertabrak motor, lalu dimasak untuk di makan, maka
hukumnya….
a. Halal c. Haram
b. Mubah d. Syubhat
3. Dibawah ini yang bukan termasuk jenis makanan yang halal ialah….
a. Makanan yang dapat mendatangkan mudharat
b. Makanan yang baik-baik, tidak kotor
c. Binatang yang hidup di dalam air
d. Tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya
4. Jenis minuman yang haram, kecuali….
a. Minuman yang memabukkan
b. Minuman dari benda yang najis
c. Minuman yang didapat dari cara ynag tidak halal
d. Minuman yang tidak membahayakan bagi kehidupan manusia
5. Akibat negatif terlalu banyak mengkonsumsi makanan dan minuman haram
bagi orang lain adalah….
a. Selalu berbuat sopan
b. Tidak suka berbuat maksiat
c. Menggangu dan meresakan orang lain
d. Berbuat baik kepada orang lain
6. Pak Budi suka mengkonsumsi minuman keras sampai mabuk. Ketika mabuk
di malam hari, dia sering membuat onar dengan berbicara keras
93

dikampungnya. Hal ini merupakan contoh akibat buruk mengkonsumsi


minuman haram bagi….
a. Diri Sendiri c. Keluarga
b. Masyarakat d. Orang lain
7. Sebab diharamkannya suatu makanan haram adalah….
a. Harganya mahal
b. Ditetapkan Oleh Allah dan Rasul-Nya
c. Tidak banyak yang menyukai
d. Rasanya tidak lezat
8. Khamer (arak) adalah minuman yang banyak mengandung alkohol,
diharamkan karena….
a. Menjadikan banyak teman c. Mengandung banyak mudharat
b. Menjadikan badan sehat d. Harganya mahal
9. Mengkomsumsi ganja dan narkoba hukumnya adalah….
a. Halal c. Boleh
b. Haram d. Makruh
10. Akibat buruk dari seringnya mengkonsumsi minuman haram bagi masyarakat
adalah….
a. Menjadikan nama orang tua dan keluarga akan tercemar
b. Mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat
c. Menghilangkan amal baik dan mendapatkan dosa
d. Dapat merusak organ fisik dan jiwa
94

Lampiran 12
Hasil Skor Pra Penelitian Kelas VIII.1

Tabel
Skor Pretest Siklus II
Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII.1

No Nama siswa Pretest Keterangan


1 Abdul Rahman 60 Tidak Lulus
2 Afrizal 60 Tidak Lulus
3 Ahmad Abdan Sykuuron 60 Tidak Lulus
4 Amelia Salsabila 40 Tidak Lulus
5 Arya Jaya Komara 70 Lulus
6 Aryani Astuti 60 Tidak Lulus
7 Bagas Sudjito 60 Tidak Lulus
8 Dewi Yulianti 60 Tidak Lulus
9 Diaz Erlangga 70 Lulus
10 Erifa Rohana Kholifah 50 Tidak Lulus
11 Fahrizki Zulfanur 60 Tidak Lulus
12 Hanifah Nurmalasari 70 Lulus
13 Hardiansyah 60 Tidak Lulus
14 Irvan Fadhillah 70 Lulus
15 Kartika Sapitri 60 Tidak Lulus
16 Leni Sopiani 70 Lulus
17 M.Abdul Khodir 50 Tidak Lulus
18 M.Ridwansyah Pramudita Hasibuan 50 Tidak Lulus
19 Mardiana 70 Lulus
20 Megawati Sapitri 60 Tidak Lulus
21 Muhamad Arsyad 60 Tidak Lulus
22 Muhammad Fahmi Syahid 70 Lulus
23 Nanang Akkum 60 Tidak Lulus
24 Novitasari 70 Lulus
95

25 Prasasti Suci Rahayu 70 Lulus


26 Puput Fitriyani 60 Tidak Lulus
27 Rani Febriani 60 Tidak Lulus
28 Riki Setiawan 70 Lulus
29 Safitri 70 Lulus
30 Sekar Faddilah Mahharani 60 Tidak Lulus
31 Septiadi Biwa Putra 60 Tidak Lulus
32 Sherly Indah Permatasari 70 Lulus
33 Siti Fatimah 70 Lulus
34 Sofi Sugiarti 70 Lulus
35 Wanda Maulidia 60 Tidak Lulus

Keterangan :
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) : 70
96

Lampiran 13

Perhitungan Distribusi Frekuensi Pretest Siklus II

Langkah-Langkah:
1. Menghitung rentang
R = Skor terbesar – Skor terkecil
= 70 – 40 = 30
2. Menentukan banyaknya kelas
K = 1 + 3,3 log 35
= 6,095  5
3. Menghitung panjang kelas (P)
𝑅 30
P=𝐾= 5
=6
4. Mencari nilai rata-rata dan Standar Deviasi
a. Menghitung rata-rata dengan menggunakan rumus fungsi AVERAGE pada
Ms.Excel menghasilkan nilai = 62,6
b. Menghitung standar deviasi dengan menggunakan rumus fungsi STDEV
pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 7,4
5. Membuat Tabel Distribusi Frekuensi
No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif
1 40 – 45 1 1 ÷ 35 × 100 = 2,8 %
2 46 – 51 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 %
3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 58 – 63 17 17 ÷ 35 × 100 = 48,6 %
5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 70 - 75 14 14 ÷ 35 × 100 = 40 %
Jumlah 35 100%
97

Lampiran 14
Hasil Skor Postest Siklus II

Tabel
Skor Pos Test Siklus II
Mata Pelajaran Fiqih Kelas VIII.1

No Nama siswa Postest Keterangan


1 Abdul Rahman 80 Lulus
2 Afrizal 70 Lulus
3 Ahmad Abdan Syukron 80 Lulus
4 Amelia Salsabila 70 Lulus
5 Arya Jaya Komara 80 Lulus
6 Aryani Astuti 80 Lulus
7 Bagas Sudjito 90 Lulus
8 Dewi Yulianti 80 Lulus
9 Diaz Erlangga 80 Lulus
10 Erifa Rohana Kholifah 70 Lulus
11 Fahrizki Zulfanur 80 Lulus
12 Hanifah Nurmalasari 100 Lulus
13 Hardiansyah 70 Lulus
14 Irvan Fadhillah 80 Lulus
15 Kartika Sapitri 80 Lulus
16 Leni Sopiani 90 Lulus
17 M.Abdul Khodir 80 Lulus
18 M.Ridwansyah Pramudita Hasibuan 100 Lulus
19 Mardiana 80 Lulus
20 Megawati Sapitri 90 Lulus
21 Muhamad Arsyad 80 Lulus
22 Muhammad Fahmi Syahid 80 Lulus
23 Nanang Akkum 70 Lulus
24 Novitasari 90 Lulus
98

25 Prasasti Suci Rahayu 80 Lulus


26 Puput Fitriyani 90 Lulus
27 Rani Febriani 80 Lulus
28 Riki Setiawan 80 Lulus
29 Safitri 100 Lulus
30 Sekar Faddilah Mahharani 80 Lulus
31 Septiadi Biwa Putra 80 Lulus
32 Sherly Indah Permatasari 100 Lulus
33 Siti Fatimah 80 Lulus
34 Sofi Sugiarti 90 Lulus
35 Wanda Maulidia 80 Lulus

Keterangan :
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) : 70
99

Lampiran 15

Daftar Hasil Nilai Rapor Sementara


MTs. Al-Huda Kelas VIII.1

No Nama Siswa KKM Nilai


1 Abdul Rahman 70 70
2 Afrizal 70 71
3 Ahmad Abdan Sykuuron 70 60
4 Amelia Salsabila 70 71
5 Arya Jaya Komara 70 67
6 Aryani Astuti 70 60
7 Bagas Sudjito 70 75
8 Dewi Yulianti 70 69
9 Diaz Erlangga 70 70
10 Erifa Rohana Kholifah 70 65
11 Fahrizki Zulfanur 70 60
12 Hanifah Nurmalasari 70 71
13 Hardiansyah 70 75
14 Irvan Fadhillah 70 70
15 Kartika Sapitri 70 70
16 Leni Sopiani 70 69
17 M.Abdul Khodir 70 70
18 M.Ridwansyah Pramudita H. 70 76
19 Mardiana 70 69
20 Megawati Sapitri 70 70
21 Muhamad Arsyad 70 74
22 Muhammad Fahmi Syahid 70 68
23 Nanang Akkum 70 65
24 Novitasari 70 75
25 Prasasti Suci Rahayu 70 67
100

26 Puput Fitriyani 70 71
27 Rani Febriani 70 63
28 Riki Setiawan 70 77
29 Safitri 70 66
30 Sekar Faddilah Mahharani 70 70
31 Septiadi Biwa Putra 70 69
32 Sherly Indah Permatasari 70 65
33 Siti Fatimah 70 72
34 Sofi Sugiarti 70 75
35 Wanda Maulidia 70 70

Guru Mata Pelajaran Observer

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I Yusuf Kamil


Mengetahui
Kepala MTs. Al-Huda

Ahmad Abdul Khotib, S.Pd.I


101

Lampiran 16

Perhitungan Distribusi Frekuensi Postest Siklus II

A. Langkah-Langkah :
1. Menghitung rentang
R = Skor terbesar – Skor terkecil
= 100 – 70 = 30
2. Menentukan banyaknya kelas
K = 1 + 3,3 log 35
= 6,095  5
3. Menghitung panjang kelas (P)
𝑹 𝟑𝟎
P=𝑲= 𝟓
=6
4. Mencari nilai rata-rata dan Standar Deviasi
a. Menghitung rata-rata dengan menggunakan rumus fungsi AVERAGE
pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 82,6
b. Menghitung standar deviasi dengan menggunakan rumus fungsi
STDEV pada Ms.Excel menghasilkan nilai = 8,5
5. Membuat Tabel Distribusi Frekuensi
No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif
1 70 – 75 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,29 %
2 76 – 81 20 20 ÷ 35 × 100 = 57,14 %
3 82 – 87 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
4 88 – 93 6 6 ÷ 35 × 100 = 17,14 %
5 94 - 99 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %
6 100 – 105 4 4 ÷ 35 × 100 = 11,43 %
Jumlah 35 100%
102

Lampiran 17
Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi
Siklus II
A. Rumus :
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑜𝑠𝑡𝑒𝑠 −𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠
 Gain ternormalisasi = 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 −𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑟𝑒𝑡𝑒𝑠

 Skor Ideal = 100


B. Contoh perhitungan siswa nomor 2
70−60
g= = 0,25
100− 60
Tabel
Hasil Perhitungan Uji Gain-Ternormalisasi
No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi
1 Abdul Rahman 60 80 0.5 Sedang
2 Afrizal 60 70 0.25 Rendah
3 Ahmad Abdan Sykuuron 60 80 0.5 Sedang
4 Amelia Salsabila 40 70 0,5 Sedang
5 Arya Jaya Komara 70 80 0.33 Sedang
6 Aryani Astuti 60 80 0.5 Sedang
7 Bagas Sudjito 60 90 0.75 Tinggi
8 Dewi Yulianti 60 80 0.5 Sedang
9 Diaz Erlangga 70 80 0.33 Sedang
10 Erifa Rohana Kholifah 50 70 0.4 Sedang
11 Fahrizki Zulfanur 60 80 0.5 Sedang
12 Hanifah Nurmalasari 70 100 1 Tinggi
13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah
14 Irvan Fadhillah 70 80 0.33 Sedang
15 Kartika Sapitri 60 80 0.5 Sedang
16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang
17 M.Abdul Khodir 50 80 0.6 Sedang
18 M.Ridwansyah Pramudita H. 50 100 1 Tinggi
19 Mardiana 70 80 0.33 Sedang
20 Megawati Sapitri 60 90 0.75 Tinggi
103

21 Muhamad Arsyad 60 80 0.5 Sedang


22 Muhammad Fahmi Syahid 70 80 0.33 Sedang
23 Nanang Akkum 60 70 0.25 Rendah
24 Novitasari 70 90 0.67 Sedang
25 Prasasti Suci Rahayu 70 80 0.33 Sedang
26 Puput Fitriyani 60 90 0.75 Tinggi
27 Rani Febriani 60 80 0.5 Sedang
28 Riki Setiawan 70 80 0.33 Sedang
29 Safitri 70 100 1 Tinggi
30 Sekar Faddilah Mahharani 60 80 0.5 Sedang
31 Septiadi Biwa Putra 60 80 0.5 Sedang
32 Sherly Indah Permatasari 70 100 1 Tinggi
33 Siti Fatimah 70 80 0.33 Sedang
34 Sofi Sugiarti 70 90 0.67 Sedang
35 Wanda Maulidia 60 80 0.5 Sedang
104

Lampiran 18
LEMBAR OBSERVASI PROSES BELAJAR MENGAJAR
PRA PENELITIAN
Tempat : MTs Al-Huda Bekasi Timur
Kelas : VIII-1
Hari/Tanggal : Selasa, 24 Februari 2015

No Hal yang diamati Pengamatan


1 Materi Memahami hukum Islam tentang haji dan umrah
2 Metode Ceramah dan metode tanya jawab
 Menyampaikan materi dengan baik
 Bimbingan kepada setiap siswa kurang
 Kurang humoris sehingga siswa merasa jenuh
3 Aktivitas guru
dalam pembelajaran
 Metode yang digunakan, metode ceramah dan
Tanya jawab
 Kurang serius dalam belajar
 Siswa mayoritas pasif
 Belum memiliki keberanian sehingga jarang
4 Aktivitas siswa
sekali siswa yang bertanya dan
mengungkapkan pendapatnya.
 Motivasi belajar masih rendah
Cukup baik meskipun tidak sedikit siswa yang
Interaksi antara guru
5 terlihat malas belajar, bercanda dan tidak
dan siswa
memerhatikan saat guru menjelaskan materi
6 Evaluasi Mengerjakan LKS

Observer

Yusuf Kamil
105

Lampiran 19
CATATAN LAPANGAN SIKLUS I

Tempat Penelitian : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Hari/Tanggal : Selasa, 3 Maret 2015
Materi : Makanan dan Minuman Halal
Siklus :I

A. Proses Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran diawali dengan melaksanakan pretest dan postest.
Jumlah soal sebanyak 10 butir jenis Pilihan Ganda masing-masing pada soal
pretest dan postest. Tes berlangsung selama 10 menit baik pretest maupun
postest dan diikuti oleh 35 siswa. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi
kelompok dengan menggunakan model Advokasi. Pembelajaran berakhir
pukul 09.40

B. Aktivitas Guru (Peneliti) :


Sebelum pelajaran dimulai, guru (peneliti) memberikan apersepsi, guru
(peneliti) membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri dari 7 orang siswa yang terdiri dari kelompok oposisi dan
kelompok pendukung kemudian membagikan lembar kerja kelompok. Guru
(Peneliti) menjelaskan, serta melakukan evaluasi setelah pembelajaran

C. Aktivtas Siswa :
Siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran Advokasi. Ketika
melakukan debat atau diskusi dengan kelompoknya masing-masing, masih
banyak siswa yang pasif dan kurang mengerti pelaksanaan model
pembelajaran Advokasi, hanya beberapa siswa saja yang terlihat aktif, baik
bertanya maupun mengungkapkan pendapat. Setelah selesai debat, setiap
kelompok melakukan evaluasi sebagai perbaikan pada pembelajaran
berikutnya, sebelum melaksanakan postest.
106

Lampiran 20
CATATAN LAPANGAN SIKLUS II

Tempat Penelitian : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Hari/Tanggal : Selasa, 17 Maret 2015
Materi : Makanan dan Minuman Haram
Siklus : II

A. Proses Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran diawali dengan melaksanakan pretest dan postest.
Jumlah soal sebanyak 10 butir jenis Pilihan Ganda masing-masing pada soal
pretest dan postest. Tes berlangsung selama 10 menit baik pretest maupun
posttest dan diikuti oleh 35 siswa. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi
kelompok. Pembelajaran berakhir pukul 09.40.

B. Aktivitas Guru (Peneliti)


Sebelum pelajaran dimulai, guru (peneliti) memberikan apersepsi, guru
(peneliti) membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri dari 7 orang siswa yang terdiri dari kelompok oposisi dan
kelompok pendukung kemudian membagikan lembar kerja kelompok. Guru
(peneliti) menjelaskan serta memulai debat kemudian mengakhirinya dengan
melakukan evaluasi.

C. Aktivtas Siswa
Siswa sudah mulai terbiasa dengan model pembelajaran Advokasi. Saat debat
atau diskusi dengan kelompoknya masing-masing, siswa sudah banyak
mengerti serta aktif dalam pelaksanaan model pembelajaran Advokasi, banyak
siswa yang bertanya seta mengeluarkan pendapat saat debat berjalan. Setelah
selesai berdiskusi, setiap kelompok melakukan evaluasi, sebelum
melaksanakan posttest
107

Lampiran 21
Pengamatan Proses Belajar Mengajar Siklus I

Nama Sekolah : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Kelas/Semester : VIII/I
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Halal
Siklus :I
Hari/Tanggal : Selasa, 3 Maret 2015

Berilah tanda checklist (√) pada nilai sesuai dengan pengamatan anda
SB : Sangat Baik, B : Baik, C : Cukup, K : Kurang

No Aspek Penilaian Sangat Baik Baik Cukup Kurang


1 Mengkondisikan situasi pembelajaran
dan kesiapan siswa untuk mengikuti √
proses pembelajaran
2 Apersepsi √
3 Membangkitkan minat/rasa ingin

tahu siswa (motivasi)
4 Menyampaikan tujuan/indikator yang

ingin dicapai
5 Penggunaan media/alat pembelajaran
yang sesuai dengan indikator bahan √
ajar
6 Penjelasan model pembelajaran

Advokasi
7 Pemusatan perhatian siswa terhadap

proses belajar
8 Teknik menyampaikan materi √
9 Pengelolaan kegiatan diskusi √
10 Bimbingan kepada kelompok √
11 Pemberian kesempatan kepada siswa

untuk berpikir
12 Pemberian kesempatan kepada siswa √
108

untuk bertanya dan mengungkapkan


pendapat
13 Antusias terhadap jawaban atau

pendapat siswa
14 Mengamati kesulitan atau kemajuan

belajar siswa
15 Keterampilan menerangkan kembali
atau menyimpulkan materi yang √
disampaikan

Guru Mata Pelajaran

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I


109

Lampiran 22
Pengamatan Proses Belajar Mengajar Siklus II

Nama Sekolah : MTs Al-Huda Bekasi Timur


Kelas/Semester : VIII/I
Materi Pokok : Makanan dan Minuman Haram
Siklus : II
Hari/Tanggal : Selasa, 17 Maret 2015

Berilah tanda checklist (√) pada nilai sesuai dengan pengamatan anda
SB : Sangat Baik, B : Baik, C : Cukup, K : Kurang

No Aspek Penilaian Sangat Baik Baik Cukup Kurang


1 Mengkondisikan situasi pembelajaran
dan kesiapan siswa untuk mengikuti √
proses pembelajaran
2 Apersepsi √
3 Membangkitkan minat/rasa ingin

tahu siswa (motivasi)
4 Menyampaikan tujuan/indikator yang

ingin dicapai
5 Penggunaan media/alat pembelajaran
yang sesuai dengan indikator bahan √
ajar
6 Penjelasan model pembelajaran

Advokasi
7 Pemusatan perhatian siswa terhadap

proses belajar
8 Teknik menyampaikan materi √
9 Pengelolaan kegiatan diskusi √
10 Bimbingan kepada kelompok √
11 Pemberian kesempatan kepada siswa

untuk berpikir
12 Pemberian kesempatan kepada siswa √
110

untuk bertanya dan mengungkapkan


pendapat
13 Antusias terhadap jawaban atau

pendapat siswa
14 Mengamati kesulitan atau kemajuan

belajar siswa
15 Keterampilan menerangkan kembali
atau menyimpulkan materi yang √
disampaikan

Guru Mata Pelajaran

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I


111

Lampiran 23
PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA SIKLUS I
Siklus :I
Hari / Tanggal : Selasa, 3 Maret 2015
Kelas / Sekolah : VIII.1 / MTs Al-Huda Bekasi Timur
Waktu : 09.15 s/d Selesai

No Aktivitas Siswa Ya Tidak Jumlah


1 Melaksanakan tes awal ( Pre Test ) 35 0 35
2 Telah mempelajari materi yang diajarkan 20 15 35
Mendengarkan penjelasan materi yang
3 25 10 35
disampaikan oleh guru
4 Melakukan diskusi kelompok 20 15 35
Bekerja sama dalam mengerjakan tugas
5 20 15 35
kelompok
6 Melakukan debating atau debat 20 15 35
7 Aktif mengungkapkan pendapat 10 25 35
8 Aktif menanggapi pendapat 15 20 35
9 Aktif bertanya 10 25 35
Menganalisis dengan Model pembelajaran
10 15 20 35
Advokasi
Siswa memerhatikan saat guru menjelaskan
11 25 10 35
kesimpulan
12 Melaksanakan tes akhir ( Postest ) 35 0 35

Peneliti

Yusuf Kamil
112

Lampiran 24
PENGAMATAN AKTIVITAS SISWA SIKLUS II
Siklus : II
Hari / Tanggal : Selasa, 17 Maret 2015
Kelas / Sekolah : VIII.1 / MTs Al-Huda Bekasi Timur
Waktu : 09.15 s/d Selesai

No Aktivitas Siswa Ya Tidak Jumlah


1 Melaksanakan tes awal ( Pre Test ) 35 0 35
2 Telah mempelajari materi yang diajarkan 30 5 35
Mendengarkan penjelasan materi yang
3 35 0 35
disampaikan oleh guru
4 Melakukan diskusi kelompok 30 5 35
Bekerja sama dalam mengerjakan tugas
5 30 5 35
kelompok
6 Melakukan debating atau debat 30 5 35
7 Aktif mengungkapkan pendapat 28 7 35
8 Aktif menanggapi pendapat 32 3 35
9 Aktif bertanya 28 7 35
Menganalisis dengan Model pembelajaran
10 30 5 35
Advokasi
Siswa memerhatikan saat guru menjelaskan
11 32 3 35
kesimpulan
12 Melaksanakan tes akhir ( Postest ) 35 0 35

Peneliti

Yusuf Kamil
113

Lampiran 25
WAWANCARA PRA PENELITIAN DENGAN SISWA

Hari/Tanggal : Rabu, 25 Februari 2015


Tujuan Wawancara : Untuk mengetahui tingkat aktivitas belajar fiqih siswa dan
permasalahan yang dihadapi siswa terkait dengan pelajaran
fiqih sebelumnya.

1. Bagaimana pendapatmu tentang pembelajaran Fiqih di kelas?


Jawab : Pembelajaran fiqih materinya bagus, tentang ibadah sehari-hari
2. Apakah kamu senang dengan pelajaran Fiqih?
Jawab : ya cukup menyenangkan tapi kadang biasa saja.
3. Apakah kamu puas dengan nilai Fiqih yang kamu peroleh?
Jawab : kurang puas dan saya akan mencoba memperbaikinya
4. Bagaimana pendapatmu tentang cara guru mengajar Fiqih ?
Jawab : santai, tidak menegangkan.
5. Apakah kamu dapat memahami materi yang dijelaskan oleh gurumu?
Jawab : dapat memahami materi meskipun agak sedikit sulit
6. Apakah kamu sudah mengetahui tentang metode pembelajaran Advokasi?
Jawab : belum pernah
7. Apakah menurutmu pelajaran Fiqih membosankan?
Jawab : kadang ada materi yang membosankan dan ada yang tidak
membosankan

Mengetahui
Responden/Siswa Peneliti/Pewawancara

Irvan Fadhillah Yusuf Kamil


114

Lampiran 26
WAWANCARA GURU BIDANG STUDI FIQIH PRA PENELITIAN

Hari/ Tanggal : Selasa, 24 Februari 2015


Nama Responden : Maftuhin Ichsan, S.Pd.i
Tujuan : Untuk mengetahui hasil belajar Fiqih dan permasalahan yang
dihadapi siswa terkait dengan pelajaran Fiqih sebelumnya.
No Pertanyaan Jawaban
Bagaimana dengan nilai hasil Nilai hasil belajar siswa sebagian
1 belajar Fiqih siswa di kelas yang besar masih standar KKM tapi ada
bapak ajarkan? juga yang masih dibawah KKM
Apa yang akan bapak lakukan
Mengadakan remedial, dengan
2 apabila ada salah satu siswa yang
memberikan tugas-tugas tambahan
nilainya kurang bagus?
Saya tidak bisa mengatakan itu
Apakah menurut bapak siswa tergantung pada kepribadian siswa
3
menyukai pelajaran Fiqih dan itu tergantung
pada guru yang mengajarnya juga.
Bervariasi, contohnya seperti
metode ceramah, pemberian tugas,
Metode apa yang bapak terapkan
4 atau
dalam pembelajaran Fiqih?
model-model pembelajaran yang
sudah ditetapkan.
Apakah model pembelajaran
5 Advokasi pernah bapak terapkan Belum pernah
pada proses pembelajaran Fiqih?

Responden Peneliti

Maftuhin Ichsan, S.Pd.I Yusuf Kamil


115

Lampiran 27

Observasi Instrumen Penelitian Responden Siswa


Siklus I

Kelas / Sekolah : VIII-1 / MTs Al-Huda Bekasi Timur


Waktu : 09.15 s/d Selesai
Siklus : I (Satu)

NO. URAIAN A B C D E KET

1. Siswa memerhatikan penjelasan guru 


2. Siswa aktif bertanya 
3. Siswa diam, bertopang dagu, dan melamun 
4. Siswa tidak memahami penjelasan guru 
5. Siswa senang mengerjakan tugas 
6. Siswa terlihat bosan dengan penjelasan guru 
7. Siswa mengantuk saat guru menjelaskan materi 
8. Siswa aktif bekerjasama menyelesaikan tugas dalam

berkelompok debat/Advokasi

Keterangan:
A = Semua
B = Sebagian Besar
C = Sebagian Kecil
D = Ada Beberapa
E = Tidak Ada

Observer

Yusuf Kamil
116

Lampiran 28

Observasi Instrumen Penelitian Responden Siswa


Siklus II

Kelas / Sekolah : VIII-1 / MTs Al-Huda Bekasi Timur


Waktu : 09.15 s/d Selesai
Siklus : II (Dua)

NO. URAIAN A B C D E KET

1. Siswa memerhatikan penjelasan guru 


2. Siswa aktif bertanya 
3. Siswa diam, bertopang dagu, dan melamun 
4. Siswa tidak memahami penjelasan guru 
5. Siswa senang mengerjakan tugas 
6. Siswa terlihat bosan dengan penjelasan guru 
7. Siswa mengantuk saat guru menjelaskan materi 
8. Siswa aktif bekerjasama menyelesaikan tugas dalam

berkelompok debat/Advokasi

Keterangan:
A = Semua
B = Sebagian Besar
C = Sebagian Kecil
D = Ada Beberapa
E = Tidak Ada

Observer

Yusuf Kamil
117

Lampiran 29

Data Tenaga Pendidik dan Kependidikan MTs Al-Huda

Status Pendidikan
No Nama L/P Jabatan
Pegawai Terakhir
1 HM.Khotib L Ka. Yayasan - Ponpes
2 Ahmad Abdul Hotib, S.Pd.I L Guru Non PNS S.1
3 M.Yahya fauzi L Guru Non PNS SLTA
4 Yulianto, S.Kom L Guru Non PNS S.1
5 Karno Setia Nusa, SE L Guru Non PNS S.1
6 Muji Astuti, S.Pd P Guru Non PNS S.1
7 Sajono Yuwono, S.Si L Guru Non PNS S.1
8 Nurhalimah. S.Pd.I P Guru Non PNS S.1
9 Agoes Soesetyo, ST L Guru Non PNS S.1
10 Sulaiman, S.Pd.I L Guru Non PNS S.1
11 Khusnul Khotimah, M.Pd P Guru Non PNS S.2
12 Samsuri, A.Ma L Guru Non PNS D.3
13 Mawardi Yusup, S.Pd L Guru Non PNS S.1
14 Syarifudin, S.Pd L Guru Non PNS S.1
15 Suarifin, S.Pd.I L Guru Non PNS S.1
16 Maftuhin Ichsan, S.Pd L Guru Non PNS S.1
17 Rahmatuloh P Staf Adm Non PNS SLTA
18 Yayah Sobriyah P Staf Adm Non PNS SLTA
19 Suhro Wardi L Guru Non PNS SLTA
20 Seren Solihin, S.Pd.I L Guru Non PNS S.1
118

Lampiran 30

Data Siswa MTs Al-Huda


Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah
Thn Rom- Rom- Rom- Rom-
Siswa Siswa Siswa Siswa
bel bel bel bel
2012/
58 1 69 2 47 1 174 4
2013
2013/
127 3 49 1 73 2 249 6
2014
2014/
164 4 133 3 49 1 346 8
2015
119

Lampiran 31

Sarana dan Prasarana MTs Al-Huda


Kategori Kerusakan
Jmlh Kondisi Kondisi
No Jenis Rusak Rusak Rusak
Ruang Baik Rusak
Ringan Sedang Berat
1 Ruang Kelas 8 5 3 - 2 1
2 Perpustakaan 1 - 1 - - 1
3 R. Lab IPA - - - - - -
4 R. Lab Biologi - - - - - -
5 R. Lab Fisika - - - - - -
6 R. Lab Kimia - - - - - -
7 Lab Komputer 1 1 - - - -
8 R. Lab Bahasa - - - - - -
9 R. Pimpinan 1 1 - 1 - -
10 R. Guru 1 1 - - - -
11 R. Tata Usaha 1 1 - - - -
12 R. Konseling - - - - - -
13 Tempat Ibadah 1 - 1 - 1 -
14 R. UKS 1 - 1 - - 1
15 Jamban 3 1 2 1 1 -
16 Gudang 1 - 1 - 1 -
17 R. Sirkulasi - - - - - -
18 Tempat Olahraga 2 - 2 - 1 1
19 R. OSIS - - - - - -
20 R. Lainnya 1 - 1 - 1 -
120

Lampiran 32
LEMBAR UJI REFERENSI

Nama : Yusuf Kamil


NIM : 1110011000143
Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Judul Skripsi : “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqih
Melalui Metode Advokasi (Penelitian Tindakan Kelas pada
Kelas VIII MTs. Al-Huda Bekasi Timur)”
PARAF
Pembimbing
NO REFERENSI
Drs. Ghufron
Ihsan, MA
Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi Hadis-Hadis
1 Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2012.
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT
2
Remaja Rosda karya, Cetakan ke-7, 2011.
Ahmad sofyan, dkk. Evaluasai Pembelajaran Ipa Berbasis
3 Kompetensi. Jakarta: UIN Jakarta Press. Cetakan ke-1.
2006.
Asep Jihad dan Abdul Haris. Evaluasi Pembelajaran.
4
Yogyakarta: Multi Pressindo, 2010.
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. Metodologi Penelitian,
5
Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.
6
Surabaya: Mekar, 2004
Departemen Pendidikan Nasional, UU Sikdiknas No. 20 :
7 Tahun 2003, Jakarta: Pusat Data dan Informasi Pendidikan
Balitbang Depdiknas, 2006.
Fadhilah Suralaya. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif
8
Islam, Ciputat: UIN Jakarta Press. Cetakan 1. 2005
121

Hamzah B Uno. Perencanaan Pembelajaran, Jakarta:


9
Bumi Aksara, 2011
Indrawati dan Wanwan Setiawan, Pembelajaran Aktif,
10 Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan Untuk Guru SD.
Bandung: PPPPTK IPA. 2009.
Irwanto, Dkk, Psikologi Umum. Jakarta: PT Prenhallino,
11
2002.
Iskandar. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung
12
Persada Press, 2011.
Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas
13 Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : PT
Rajawali Pers, 2010.
M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka
14
Cipta, cetakan ke-3, 2005.

Melvin L. Silberman. Active Learning 101 Cara Belajar


15
Siswa Aktif. Bandung : Nusamedia, 2011
Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan: Dengan pendekatan
16 Baru, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, cetakan ke-17,
2011
Muhibbin Syah. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos wacana
17
ilmu, 2001
Munif Chatib. Gurunya Manusia: Menjadikan Semua
18 Anak Istimewa dan Semua Anak Juara, Bandung: Kaifa,
cetakan ke-12, 2013.
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi
19
Aksara, 2011.
Peraturan Menteri Agama RI No. 02 Tahun 2008 tentang
Standar Kelulusan dan Standar Isi Pendidikan Agama
20
Islam dan Bahasa Arab di Madrasah. Jakarta: Media
Pustama Mandiri. Cetakan I, 2009.
122

Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar


21 Mengajar, Bandung: PT Refika Aditama, Cetakan ke-3,
2009.
Purwanto. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka
22
Pelajar, 2009.
Rostina Sundayana, Statistika Penelitian Pendidikan.
23
Bandung: Alfabeta, 2014
Rusyan A. T, Meningkatkan Mutu Kegiatan dalam proses
24 Belajar Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: PT.
Kartanegara, Cetakan 2, 1999.
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan
25
(Edisi revisi), (Jakarta: Bumi Aksara. Cetakan Ke-9. 2009
Utomo Dananjaya, Media Pembelajaran Aktif, Bandung:
26
PT Penerbit Nuansa, cetakan ke-1. 2010
Wijaya Kusuma dan Dedi Dwitagama, Penelitian Tindakan
27
Kelas. Jakarta: PT. Indeks, 2009.
Wina Sanjaya. Pembelajran Dalam Implementasi
28 Kurikulum Berbasis Kompetensi, Jakarta: Prenada Media
Group, Cet. 3, 2008
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama
29
Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Zurinal dan Wahdi Sayuti. Ilmu Pendidikan Pengantar &
30 Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan. Jakarta : UIN Press,
2006.
123

Lampiran 33
FOTO-FOTO PENELITIAN
124
125