Anda di halaman 1dari 63

PRAKTIKUM ALAT PENDENGARAN

MARET 23, 2013 BY SKETSAIST


ALAMAT WEB: HTTPS://SKETSAISTJOURNEY.WORDPRESS.COM/2013/03/23/PRAKTIKUM-ALAT-
PENDENGARAN/

A. TUJUAN
1. Mengetahui cara memeriksa ketajaman pendengaran dengan suara
2. Mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi lemah kerasnya suara
yang terdengar
3. Memeriksa ketajaman pendengaran dengan suara
4. Mengetahui beberapa cara memeriksa ketajaman pendengaran dengan
menggunakan garpu tala
5. Memeriksa ketajaman pendengaran dengan menggunakan garpu tala

B. LANDASAN TEORI
Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di
lingkungan eksternal, yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang
terjadi berselang seling mengenai memberan timpani. Plot gerakan-gerakan ini
sebagai perubahan tekanan di memberan timpani persatuan waktu adalah
satuan gelombang, dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara umum
disebut gelombang suara (Ganong, 2005).
Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang
suara dan nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan
waktu). Semakin besar suara semakin besar amplitudo, semakin tinggi
frekuensi dan semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan oleh faktor –
faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi
mempengaruhi kekerasan, karena ambang pendengaran lebih rendah pada
frekuensi dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola
berulang, walaupun masing – masing gelombang bersifat kompleks, didengar
sebagai suara musik, getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan
sensasi bising. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan
frekuensi primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik
yang menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. Variasi timbre
mempengaruhi suara berbagai alat musik walaupun alat tersebut memberikan
nada yang sama (Ganong, 2005).
Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara
di lingkungan eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran. Gelombang
diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakangerakan
lempeng kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam
cairan telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial
aksidi serat-serat saraf (Ganong, 2005).Secara umum telinga manusia menjadi tiga bagian
yaitu:
1. Telinga bagian luar (Auris eksterna)
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang
dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua
sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh
kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah
kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara
dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan
meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput
mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius
eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus
panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka
kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun
atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada
membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula
seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen.
Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan
perlindungan bagi kulit. (Leohard,1998)
2. Telinga bagian tengah (Auris Media)
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di
sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial. Membrana timpani terletak
pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga.
Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara
dan translulen.Telinga tengah adalah rongga berisi udara yang merupakan
rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii
ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian
mastoid tulang temporal (Syaifuddin, 1997).
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus,
inkus, dan stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh persendian,
otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil
(jendela oval dan dinding medial telinga tengah), yang memisahkan telinga
tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval,
di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke
getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana yang sangat tipis, dan
dataran kaki stapes ditahan oleh struktur berbentuk cincin. Anulus jendela bulat
maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari
dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah, kondisi ini dinamakan
fistula perilimfe (Syaifuddin, 1997).
Tuba eustachii memiliki lebar ± 1 mm dan panjang ± 35 mm,
menghubungkan telinga ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup,
namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver
valsalva yakni menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk
sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan
atmosfer (Syaifuddin, 1997).Telinga Bagian dalam (Auris Interna)
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ
untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu
juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis)
semuanya merupakan bagian dari telinga bagian dalam. Koklea dan kanalis
semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Ketiga kanalis posterior,
superior dan lateral terletak membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan
mengandung organ yang berhubungan dengan keseimbangan (Setiadi, 2008).
Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm
dengan dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk
pendengaran, dinamakan organ corti. Di dalam lulang labirin, namun tidak
sempurna mengisinya, labirin membranosa terendam dalam cairan yang
dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal
dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas
utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organ corti.
Labirin membranosa memiliki cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat
keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga
dalam; banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu.
(Setiadi, 2008).

Fisiologi Pendengaran
Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan
gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke
jendela oval. Getaran struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan
limfe yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan
menggerakkan membran reissmer dan menggetarkan cairan limfe dalam
saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfe di dalam saluran tengah
menggerakkan membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan
cairan dalam saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya
membran pada jendela bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan
menggetarkan selaput-selaput basilar, yang akan menggerakkan sel-sel rambut
ke atas dan ke bawah. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan
ion kalium dan ion Na menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang N.VIII
yang kemudian meneruskan ransangan ke pusat sensori pendengaran di otak
melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis (Guyton, 2007).

Proses Kimiawi Pada Fisiologi Pendengaran


Gelombang suara pertama kali ditangkap oleh pinna kemudian
gelombang suara disalurkan ke meatus dan kanalis auditorius externus.
Gelombang suara akan dihantarkan ke membrane timpani yang mempunyai
luas permukaan 55 mm2 , membrane timpani berfungsi sebagai resonator yang
menghasilkan ulang getaran dari sumber suara sebagai respon terhadap
perubahan tekanan yang dihasilkan oleh gelombang suara dipermukaan
luarnya, dibagian tengah membrane timpani menempel manubrium maleus.
Membrane timpani bergerak keluar masuk kemudian disalurkan ke manubrium
maleus, maleus bergoyang pada suatu sumbu melalui taut prosseus panjang &
pendeknya sehingga prosseus pendek menyalurkan getaran ke manubrium
incus yang kemudian akan disalurkan ke kepala stapes. Luas permukaan
stapes sendiri 3,2 mm2, system ini akan meningkatkan gaya pergerakan sekitar
1,3 kali. Selisih luas permukaan sebesar 17 kali dikalikan rasio dari system
pengungkit memungkinkan semua energi gelombang suara yang mengenai
membrane timpani dikerahkan pada stapes yang yang kecil (lempeng kaki
stapes akan berakhir pada foramen ovale) yang akan menyebabkan tekanan
pada cairan koklea (perilimfe dan endolimfe) kira – kira 22 kali besar tekanan
yang ditimbulkan oleh gelombang suara yang mengenai membrane timpani
(Guyton, 2007).
Peningkatan tekanan tersebut untuk menimbulkan gelombang pada
cairan perilimfe dan endolimfe pada telinga bagian dalam, karena cairan
mempunyai inersi yang lebih besar dari pada udara. Gelombang cairan tersebut
akan melalui skala vestibule, skala media dan skala timpani sebelum mencapai
sel-sel rambut yg merupakan reseptor pendengaran. Terdiri dari sel rambut luar
3 baris sebanyak 20.000 (neuron aferen 5-10% dan serat eferen berakhir
disini),1 baris sel rambut dalam (neuron aferen 95%). Sel-sel rambut ini
dirangsang oleh gelombang cairan akibat dari gerakan osikulus auditorius pada
jendela oval yang menghasilkan potensial aksi di serat-serat saraf yg menuju
medula oblongata yang akan diteruskan ke nervus koklearis dan berakhir pada
cortex pendengaran (Guyton, 2007).
Potensial membran sel rambut adalah sekitar – 60mV. Apabila stereosilia
terdorong ke kinosilium, potensial membran menurun menjadi sekitar -50mV.
Sewaktu berkas prosesus terdorong dengan arah yang berlawanan, sel
mengalami hiperpolarisasi. Pergerakan prosesus dengan arah tegak lurus
terhadap sumbu ini tidak menyebabkan perubahan potensial membran, dan
pergerakan prosesus dengan arah di antara keda arah tersebut menimbulkan
depolarisasi atau hiperpolarisasi yang setara dengan besar derajat arah menuju
atau menjauhi kilonosilum. Dengan demikian prosesus rambut membentuk
mekanisme untuk menimbulkan perubahan potensial menbran yang setara
dengan arah pergeseran (Guyton, 2007).
Seperti yang telah diuraikan di atas, prosesus sel-sel rambut menonjol
ke dalam endolimfe, sementara dasarnya teredam dalam perilimfe. Susunan ini
penting untuk pembentukan potensial generator nirmal. Perilimfe terutama
terbentuk dari plasma. Masuknya manitol dan sukrosa dari plasma ke dalam
perilimfe di skaa timpani lebih lambat daripada masuknya ke dalam perilimve di
skala vestibule, dan terdapat perbedaan kecil dalam komposisi antara cairancairan
dalam kedua skala ini, tetapi keduannya mirip dengan cairan
ekstrasel.dipihak lain, endolimfe dibentuk oleh stria vaskularis dan memiliki
konsentrasi K+ yang tinggi dan konsentrasi Na+ yang rendah. Sel-sel di stria
vaskularis memiliki konsentrasi Na+–K+–ATPase yang tinggi. Selain itu,
tampaknya terdapat pompa K elektrogenik yang unik di stria vaskularis yang
merupakan penyebab mengapa skala media sevara elektrik bermuatan positif
sebesar 85 mV, relative terhadap skala vestibuli dan skala timpani (Guyton,
2007).
Ujung rosesus yang halus, disebut tip link, yang mengikat ujung tiap
streosilium dengan tepi sel disebelahnya yang lebih tinggi, dan pada hubungan
ini terdapat kanal kation yang peka terhadap rangsang mekanis, yaitu di
prosesus yang lebih tinggi. Bila sterosila yang lebih pendek didorong ke arah
yang lebih tinggi, kanal lebih lama terbuka. Diduga tegangan tiap kanal
disesuaikan oleh “motor adaptasi” yang dibentuk dari myosin pada sterosilia
yang lebih tinggi. Pergeseran sterosilia kea rah yang berlawanan akan
mempersingkat waktu buka kanal. Sub-unit α kanal netrium epitel mungkin
terlibat karena sub-unit ini dapat membentuk sendiri kanal kation yang relative
tidak selektif, amilorida terikat pad bangunan yang menyerupai taut pada titiktitik
antara temu sterosilia yang pendek dengna yang lebih tinggi. Jadi, karena
kanal kation relative nonspesifik, dan endolimfenya mengandung kadar K+, ion
ini akan masuk ke dalam sel rambut apabila saluran terbuka, dan menimbulkan
depolarisasi. Ca2+ juga masuk ke dalam sel, dan terjadi pelepasan transmitter
sinaps yang menyebabkan depolarisasi neuron aferen atau neuron yang
berkontak dengan sel rambut. Jenis transmitter ini bekku mfikrtahui, tapi
kemungkinan adalah glutamate (Guyton, 2007).K+ yang masuk ke sel rambut melalui
kanal kation peka rangsang
mekanik ini mengalami proses daur ulang. Ion ini masuk sel sustentakular dan
kemudian meuju sel sustentakular lain melalui taut erat di koklea. Ion ini
akhirnya mencapai stria vasklaris dan disekresi kembali kedalam endolimfe,
sehingga siklus daur ulang lengkap (Guyton, 2007).
Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak mengarah
ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding medial adalah
dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak dibawah duramater
pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum.
Aditus antrum mastoid adalah suatu pintu yang besar iregular berasal dari
epitismpanum posterior menuju rongga antrum yang berisi udara, sering
disebut sebagai aditus ad antrum. Dinding medial merupakan penonjolan dari
kanalis semisirkularis lateral. Dibawah dan sedikit ke medial dari promontorium
terdapat kanalis bagian tulang dari n.fasialis. Prosesus brevis inkus sangat
berdekatan dengan kedua struktur ini dan jarak rata-rata diantara organ : n.VII
ke kanalis semisirkularis 1,77 mm; n.VII ke prosesus brevis inkus 2,36 mm :
dan prosesus brevis inkus ke kanalis semisirkularis 1,25 mm. Antrum mastoid
adalah sinus yang berisi udara didalam pars petrosa tulang temporal.
Berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus dan mempunyai sel -sel
udara mastoid yang berasal dari dinding-dindingnya (Nursiah S, 2003).
Prosesus mastoid sangat penting untuk sistem pneumatisasi telinga.
Pneumatisasi didefinisikan sebagai suatu proses pembentukan atau
perkembangan rongga-rongga udara didalam tulang temporal, dan sel-sel
udara yang terdapat didalam mastoid adalah sebagian dari sistem pneumatisasi
yang meliputi banyak bagian dari tulang temporal . Sel-sel prosesus mastoid
yang mengandung udara berhubungan dengan udara didalam telinga tengah.
Bila prosesus mastoid tetap berisi tulang-tulang kompakta dikatakan sebagai
pneumatisasi jelek dan sel-sel yang berpneumatisasi terbatas pada daerah
sekitar antrum. Prosesus mastoid berkembang setelah lahir sebagai tuberositas
kecil yang berpneumatisasi secara sinkron dengan pertumbuhan antrum
mastoid. Pada tahun pertama kehidupan prosesus ini terdiri dari tulang-tulang
seperti spon sehingga mastoiditis murni tidak dapat terjadi. Diantara usia 2 dan
5 tahun pada saat terjadi pneumatisasi prosesus terdiri atas campuran tulangtulang
spon dan pneumatik. Pneumatisasi sempurna terjadi antara usia 6–12
tahun. Luasnya pneumatisasi tergantung faktor herediter konstitusional dan
faktor peradangan pada waktu umur muda. Bila ada sifat biologis mukosa tidak
baik maka daya pneumatisasi hilang atau kurang. Ini juga terjadi bila ada
radang pada telinga yang tidak menyembuh. Maka nanti dapat dilihat
pneumatisasi yang terhenti (pneumatisation shemung arrested
pneumatisation) atau pneumatisasi yang tidak ada sama sekali (teori dari
Wittmack) (Nursiah S, 2003).
Pemeriksaan Pendengaran
1. Test Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara
hantaran tulang dengan hantaran udara pada satu telinga pasien. Ada 2
macam tes rinne , yaitu :
a. Garputala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya tegak lurus pada planum mastoid pasien (belakang
meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar
bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus
eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat
mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat
mendengarnya
b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan
tangkainya secara tegak lurus pada planum mastoid pasien. Segera
pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Kita
menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus
akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus
skustikus eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif jika pasien
mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras.
Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus
akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari
pemeriksa maupun pasien. Kesalahan dari pemeriksa misalnya meletakkan
garputala tidak tegak lurus, tangkai garputala mengenai rambut pasien dan kaki
garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa karena jaringan lemak planum
mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat
bahwa ia sudah tidak mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan
garputala di planum mastoid pasien. Akibatnya getaran kedua kaki garputala
sudah berhenti saat kita memindahkan garputala kedepan meatus akustukus
eksternus.
2. Test Weber
Tujuan dilakukannya tes weber adalah untuk membandingkan hantaran
tulang antara kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu:
membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada
garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengar atau
mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih
keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua
pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti
tidak ada lateralisasi.
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak,
sehingga akan terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan patologis
pada MAE atau cavum timpani misalnya otitis media purulenta pada telinga
kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar,
biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.
3. Test Schwabach
Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa
(normal) dengan probandus.Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah
digetarkan pada puncak kepala probandus. Probandus akan mendengar suara
garputala itu makin lama makin melemah dan akhirnya tidak mendengar suara
garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara garpu tala, maka
penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang yang
diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi pembanding
dua kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak mendengar
suara.
Tabel 1. Macam-macam Uji Pendengaran
Sumber: Ganong, 2005
C. Metode
1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2012 pada pukul
10.00 WIB di Laboratorium Fisiologi, Jurusan Biologi, FMIPA, UNJ.
2. Alat dan Bahan
– Garpu tala

HASIL PENGAMATAN
1) Uji Pendengaran Dengan Suara
No. Nama Usia Uji Suara
Berbisik (jarak 6 meter) Biasa
(jarak 30
meter)
Keras
(jarak 30
meter)
1. Putri 22 Terdengar pada jarak 4
meter
Terdengar Terdengar
2. Fitriani 21 Terdengar pada jarak 5
meter (menggunakan
telinga kanan); terdengar
pada jarak 4 meter
(meggunakan telinga kiri)
Terdengar Terdengar
3. Rezki 20 Terdengar pada jarak 5
meter
Terdengar Terdengar
4. Vera 21 Terdengar pada jarak 4
meter
Terdengar Terdengar
5. Esa 20 Terdengar pada jarak 5
meter
Terdengar Terdengar
6. Atsnah 20 Terdengar pada jarak 3
meter
Terdengar Terdengar
2) Uji Pendengaran Dengan Garpu Tala
No. Nama Rinne Weber Schwabach Bing
1. Al Qorina Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan dan
kiri
2. Nur Baeti. Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan
3. Daniar Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan dan
kiri
4. Singgih Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan dan
kiri
5. Indirasari Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan
6. Rahman Kanan dan
kiri
Normal Normal Kanan
E. PEMBAHASAN
1. Uji Pendengaran Dengan Suara (voice test)
Pada praktikum ini dilakukan pengujian kemampuan OP mendengar
suara berbisik dan suara keras pada lingkungan yang cukup hening. Secara
umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan
nada berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu).
Semakin besar suara semakin besar amplitudo, semakin tinggi frekuensi dan
semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan oleh faktor – faktor lain yang
belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi mempengaruhi
kekerasan, karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi
dibandingkan dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola berulang,
walaupun masing – masing gelombang bersifat kompleks, didengar sebagai
suara musik, getaran apriodik yang tidak berulang menyebabakan sensasi
bising. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi primer
yang menentukan suara ditambah sejumlah getaran harmonik yang
menyebabkan suara memiliki timbre yang khas. (Ganong, 2005).
Dengan pemeriksaan voice test ini praktikan dapat mengetahui
ketajaman pendengaran OP dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi
keras lemahnya suara yang terdengar oleh OP. Telinga OP dihadapkan ke
pemeriksa agar suara yang dipancarkan oleh pemeriksa tidak terhalang oleh
apapun sehingga gelombang suara langsung diterima telinga OP. Penyaluran
suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan
eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran. Gelombang diubah oleh
gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan
lempeng kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan
telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksi di
serat-serat saraf (Ganong, 2005).
Pada pemeriksaan dengan suara berbisik rata-rata OP baru bisa
mendengar suara pada jarak 4-5 meter. Hal ini dapat dikarenakan lingkungan
yang kurang kondusif saat melakukan praktikum. Praktikum ini dilakukan
dilorong laboratorium dan di dalam laboratorium fisiologi. Walaupun suarasuara
pengganggu yang berasal dari praktikan sudah diusahakan seminimal
mungkin untuk meminimalkan gangguan. Namun tetap saja suara dari
lingkungan dapat mengganggu proses pengujian. Suara-suara tersebut dapat
berasal dari ruang lab lain yang agak berisik dan juga suara mesin kullkas
maupun AC. Suara-suara tersebut dapat membuat hilangnya konsentrasi OP
untuk mendengar suara bisikan yang diberikan. Sehingga suara yang
dibisikkan pada jarak 6 meter ke OP tidak dapat tersampaikan dan OP harus
maju lagi beberapa meter agar terdengar dengan jelas.
Pemeriksaan dengan suara biasa dapat dilakukan oleh semua OP
dengan baik. Ini dikarenakan suara biasa yang dibuat cukup keras dan
lingkungan lab yang lebih kondusif dibandingkan pada pengujian sebelumnya,
menjadikan suara tersebut terdengar dengan jelas. Begitupula dengan
pemeriksaan dengan suara keras. Suara yang disampaikan pada OP dapat
terdengar dengan jelas.
2. Pemeriksaan Dengan Garpu Tala
Untuk melihat ada tidaknya gangguan fungsi pendengaran pada OP
adalah dengan menggunakan garpi tala. Test garpu tala digunakan untuk
pengukuran kualitatif, idealnya menggunakan garpu tala dengan frekuensi 512,
1024, dan 2048 Hz. Beberapa tes menggunakan garpu tala yang dilakukan
pada praktikum ini adalah:
– Tes Rinne
Pemeriksaan Tes Rinne menggunakan garpu tala frekuensi 256. Tes
Rinne dilakukan dengan menggetarkan garpu tersebut dan menekankan
gagang penala yang bergetar pada Processus Mastoideus pada telinga yang
diperiksa. Setelah OP menandakan bunyi dengungan menghilang segera
mungkin mendekatkan ujung penala pada telinga yang diperiksa. Jika
terdengar maka R+ dan jika tidak R-. OP dapat mendengar dengan baik suara
yang menghilang saat garpu tala ditempelkan pada Processus Mastoideus dan
mendengar kembali suara tersebut saat didekatkan dengan telinga. Ini terjadi
karena saat suara menghilang di Processus Mastoideus sebenarnya garpu tala
itu masih bergetar, hanya karena intensitas terlalu halus maka tidak dapat
terdengar oleh telinga OP. Sehingga perlu didekatkan ke telinga OP untuk
mndengar suara yang halus itu.
– Tes Webber
Pada pemeriksaan garpu tala dengan tes Weber menggunakan garpu
tala frekuensi 512. Tes ini dilakukan dengan cara menggetarkan garpu tala
tersebut dan menempelkannya pada bagian meridian tepat diatas kepala. Hsil
yang didapat normal jika OP mendengar dengungan sama kuat antara telinga
kiri dan kanan. Dari hasil yang didapat OP mendengar dengungan tersebut
sama kuat pada kedua telinganya. Akan tetapi sebelum dapat mendengar
dengungan ini OP menutup kedua telinganya terlebih dahulu. Ini dilakukan
untuk mencegah suara dari lingkungan seperti suara kipas AC yang dapat
mengganggu gelombang hantaran dari garpu tala tersebut.
– Tes Schwabach
Pada pemeriksaan garpu tala dengan tes Schwabach digunakan garpu
tala dengan frekuensi 128. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggetarkan
garpu tala tersebut dan meletakkannya pada Processus Mastoideus OP.
Setelah bunyi menghilang OP segera member tanda dan pemeriksa
meletakkan garpu tala tersebut pada Processu Mastoideusnya. Tes ini
dianggap normal jika baik OP maupun pemeriksa tidak mendengar lagi suara
setelah OP memberikan tanda suara berhenti. Dari hasil baik pemeriksa
maupun OP tidak mendapatkan lagi suara terdengar dari garpu tala tersebut.
Kondisi schwabach memanjang dan memendek dapat terjadi dikarenakan
kekurang pekaan pemeriksa atau OP dalam mendengar bunyi tersebut.
– Tes Bing
Pada pemeriksaan garpu tala dengan tes Bing digunakan garpu tala
dengan frekuensi 512. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara menggetarkan
garpu tersebut dan menempelkannya pada processus mastoideus. Kemudian
ditanyakan telinga mana yang mendengar paling keras. Dari hasil setelah
diulang beberapa kali tidak terdapat telinga bagian mana yang mendengar
paling keras. Semua telinga mendengar suara sama kuatnya. Pengulangan
yang dilakukan, dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan hasil yang
diakibatkan oleh perbedaan kekuatan saat menggetarkan garpu tala.
F. KESIMPULAN
1. Pemeriksaan ketajaman suara dapat dilakukan dengan berbisik pada
jarak 6 meter dari OP, berbicara biasa pada jarak 30 meter dan
berbicara keras pada jarak 30 meter.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat atau lemahnya suara adalah
nada atau frekuensi, intensitas atau kekuatan, dan warna suara atau
kualitas.
3. Dari hasil suara berbisik terdengar pada jarak antara 3-5 meter
sementara untuk berbicara biasa dan keras dapat terdengar pada jarak
30 meter.
4. Cara pemeriksaan dengan garpu tala yaitu, Tes Rinne, Tes Schwabach,
Tes Weber, dan Tes Bing.
5. Dari hasil OP dapat mendengar dengan normal suara yang dihasilkan
dari tiap uji.
Daftar Pustaka
Ganong, William. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Terjemahan dari: Review of Medical Physiology.
Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-
HillCompanies
Leohard, Helmut. 1998. Atlas Anatomi Manusia. Jakarta: EGC.
Setiadi. 2008. Anatomi Fisiologi Manusia. Jakarta : Gramedia.
Syaifuddin, H. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta : EGC.
Bisa buka link: http://documents.tips/documents/laporan-fisiologi-indra-
pendengaran.html

Bisa buka link: http://dokumen.tips/documents/laporan-resmi-praktikum-fisiologi-organ-


indera.html

Dari alamat: https://www.scribd.com/doc/52908006/LAPORAN-PRAKTIKUM-ANFIS-


pendengaran

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU BIOMEDIK DASAR


PRAKTIKUM VIII

- PEMERIKSAAN PENDENGARAN -

Disusun oleh :
Kelompok 2 Selasa Pagi

1. Aprillia Wulandari (1006683375)


2. Ela Nurlaela Handayani (1006659451)
3. Maria Tyas Hapsari (1006683646)
4. M. Miftahul Huda (1006758035)

PROGRAM S1 REGULER

DEPARTEMEN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

PRAKTIKUM 8

- PEMERIKSAAN PENDENGARAN -

Hari/tanggal praktikum : Jumat, 22 April 2011

Waktu : Pk. 08.15 – 11.15 WIB

Tempat : Laboratorium Farmakologi dan Farmakokinetika

Departemen Farmasi FMIPA UI Depok.

TUJUAN :

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fungsi pendengaran.


ALAT :

1. Penala dengan frekuensi 256 Hz


2. Kapas untuk menyumbat telinga

KERANGKA TEORI

Anatomi Telinga

A. Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga yang berfungsi mengumpulkan dan
menyalurkan bunyi ke liang telinga, liang telinga yang berfungsi mengarahkan
bunyi ke telingasampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan
elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan
pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalamnya terdiri dari
tulang, panjangnya kira-kira 2½ – 3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang
telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat (kelenjar
serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga.
Pada dua pertiga bagian dalam tidak dijumpai kelenjar serumen.
B. Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar membran timpani yang
berfungsi mengubah bunyi menjadi getaran; batas depan tuba eustachius; batas
bawah vena jugularis (bulbus jugularis); batas belakang aditus ad antrum, kanalis
fasialis pars vertikalis; batas atas tegmen timpani (meningen/otak) dan batas
dalam berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis
fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium.
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari
luar ke dalam, yaitu maleus, inkus dan stapes yang berfungsi menghantar getaran
ke telinga dalam. Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling
berhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus
melekat pada inkus, dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap
lonjong yang berhubungan dengan koklea. Hubungan antar tulang-tulang
pendengaran merupakan persendian. Sedangkan tuba eustachius termasuk dalam
telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah.
C. Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan
vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea
disebut helikotrema, menghubungkan perilimf skala timpani dengan skala vestibuli.
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap. Skala vestibuli dan skala
timpani berisi perilimf, sedangkan skala media berisi endolimf. Ion dan garam yang
terdapat di perilimf berbeda dengan endolimf. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar
skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (membran Reissner) sedangkan dasar
skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti.

Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria,
dan pada membran basalis melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel
rambut luar dan kanalis corti, yang membentuk organ corti.

Fisiologi Telinga (Proses Mendengar)

Gelombang suara dikumpulkan oleh telinga luar dan disalurkan ke lubang telinga, dan menuju
gendang telinga. Gendang Telinga bergetar untuk merespons gelombang suara yang
menghantamnya . Getaran ini mengakibatkan tiga tulang (ossicle) di telinga tengah bergerak.
Secara mekanis getaran dari gendang telinga ini akan disalurkan, menuju cairan yang berada di
rumah siput( koklea). Getaran yang sampai di koklea ini akan menghasilkan gelombang,
sehingga rambut sel yang ada di koklea akan bergerak. Gerakan ini mengubah energi mekanik
tersebut menjadi energi elektrik ke saraf pendengaran ( auditory nerve,) dan menuju ke pusat
pendengaran di otak. Pusat ini akan menerjemahkan energi tersebut menjadi suara yang dapat
dikenal oleh otak.

Gangguan Pendengaran

Seseorang dapat saja mengalami gangguan pendengaran, misalnya karena sering


mendengar bunyi yang keras atau adanya infeksi telinga luar atau dalam. Gangguan
(kehilangan) pendengaran, atau ketulian dapat bersifat sementara atau menetap, parsial
atau total. Ketulian diklasifikasikan menjadi dua jenis :

1. Tuli konduktif, terjadi apabila gelombang suara tidak secara adekuat dihantarkan
melalui telinga luar dan tengah untuk mengetarkan cairan di telinga dalam. Pada kasus
ini penderita dapat dibantu dengan alat bantu pendengaran.
2. Tuli sensorineural, terjadi apabila gelombang suara disalurkan ke telinga dalam, tetapi
gelombang tersebut tidak diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang direpresentasikan
oleh otak sebagai sensasi suara.
3. Tuli campuran : campuran antara gangguan pendengaran konduktif dan saraf.

Untuk pencegahan dari gangguan pendengaran, seseorang dapat diperiksa


pendengarannya. Dalam hal ini kami mencoba untuk melakukan tiga pemeriksaan pendengaran
dengan penala, yaitu pemeriksaan cara Rinne, cara Weber, dan cara Schwabach.

CARA KERJA :

- Pemeriksaan Pendengaran dengan Penala -

A. Cara Rinne
1. Digetarkan penala (frekuensi 25 Hz) dengan cara memukulkan salah satu ujung jarinya
ke telapak tangan.
2. Ditekan ujung tangkai penala pada processus mastoideus salah satu telinga orang
percobaan (o.p.).
3. Ditanyakan kepada o.p. apakah ia mendengar bunyi penala berdengung di telinga yang
diperiksa, kemudian o.p. diminta memberi tanda bila dengungan bunyi itu menghilang.
4. Pada saat itu, penala segera diangkat dari processus mastoideus o.p. dan kemudian
ujung jari penala ditempatkan sedekat-dekatnya di depan liang telinga yang sedang
diperiksa.
5. Dicatat hasil pemeriksaan Rinne sebagai berikut :
● Positif : Bila o.p. masih mendengar dengungan secara hantaran aerotimpanal.

● Negatif : Bila o.p. tidak lagi mendengar dengungan secara hantaran aerotimpanal.

B. Cara Weber
1. Digetarkan penala (frekuensi 25 Hz) dengan cara memukulkan salah satu ujung jarinya
ke telapak tangan.
2. Ditekan ujung tangkai penala pada dahi o.p. di garis meridian.
3. Ditanyakan kepada o.p. apakah ia mendengar dengungan bunyi penala sama kuat di
kedua telinganya atau terjadi lateralisasi.
4. Bila pada tidak terdapat lateralisasi, maka untuk menimbulkan lateralisasi secara
buatan, salah satu telinga ditutup dengan kapas dan diulangi pemeriksaannya.

C. Cara Schwabach

1. Digetarkan penala (frekuensi 25 Hz) dengan cara memukulkan salah satu ujung jarinya
ke telapak tangan.
2. Ditekankan ujung tangkai penala pada processus mastoideus salah satu telinga o.p.
3. O.p. disuruh mengacungkan tangannya pada saat dengungan bunyi penala menghilang.
4. Pada saat itu, dengan segera dipindahkan penala dari processus mastoideus o.p. ke
processus mastoideus pemeriksa. Pada pemriksaan ini, telinga si pemeriksa dianggap
normal. Bila dengungan penala setelah dinyatakan berhenti oleh o.p.masih dapat
didengar oleh si pemeriksa, maka hasil pemeriksaan adalah SCHWABACH MEMENDEK.
5. Apabila dengungan penala setelah dinyatakan berhentu oleh o.p. juga tidak dapat
didengar oleh si pemeriksa, maka hasil pemeriksaan mungkin SCHWABACH NORMAL
atau SCHWABACH MEMANJANG. Untuk memastikan hal ini, dilakukan pemeriksaan
sebagai berikut :
Penala digetarkan, ujung tangkai penala mula-mula ditekankan ke processus mastoideus
si pemeriksa sampai tidak terdengar lagi. Kemudian ujung tangkai penala segera
ditekankan ke processus mastoideus o.p. Bila dengungan setelah dinyatakan berhenti
oleh si pemeriksa masih dapat didengar oleh o.p., maka hasil pemeriksaan adalah
SCHWABACH MEMANJANG. Bila Bila dengungan setelah dinyatakan berhenti oleh si
pemeriksa juga tidak dapat didengar oleh o.p., maka hasil pemeriksaan adalah
SCHWABACH NORMAL.

HASIL PEMERIKSAAN

Tabel Hasil Pemeriksaan Pendengaran

Hasil Pemeriksaan

Cara Schwabach
No. Nama
Cara Rinne Cara Weber Keterangan
Dengan Lateralisasi Kiri Kanan
Buatan
1. April + Kiri = kanan normal normal
2. Ella + Kiri = kanan normal normal
3. Huda + Kiri = kanan normal normal
4. Tyas + Kiri = kanan normal normal

PEMBAHASAN

Pada tes dengan cara Rinne, op menunjukkan hasil positif yang menunjukkan bahwa tidak ada
kelainan pada indera pendengar. Jika menunjukkan hasil negatif dimana op tidak mendengar
dengungan secara aerotimpanal, bisa dikatakan op menderita gangguan pendengaran Pada cara
Weber semua op dianggap normal karena tidak adanya lateralisasi. Jika itu terjadi op dapat
didiagnosis menderita gangguan pada indera pendengarannya. Dan dalam cara Schwabach
semua op juga menunjukkan hasil yang normal, jika hasil menunjukkan terjadinya Schwabach
yang memendek atau memanjang dapat dikatakan bahwa op mengalamii gangguan
pendengaran namun harus diperiksa lebih lanjut oleh dokter yang ahli.

KESIMPULAN

Tes Rinne bertujuan untuk membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada telinga
yang diperiksa. Apabila tes Rinne menunjukan hasil yang positif, maka orang yang diperiksa
didiagnosa tidak memiliki gangguan pendengaran atau normal. Sedangkan apabila tes Rinne
menunjukan hasil negatif, bisa dikatakan op memiliki gangguan pendengaran. Pada tes Weber
jika menunjukkan adanya lateralisasi maka orang yang diperiksa didiagnosa memiliki gangguan
pada indera pendengarannya. Tes ini bertujuan untuk mengetahui keseimbangan pendengaran
orang yang diperiksa melalui hantaran tulang. Dan pada pemerikaan dengan menggunakan tes
Schwabach menunjukkan hasil Scwabach normal maka orang yang diperiksa memiliki
pendengaran yang normal. Sedangkan jika hasil tes menunjukkan Schwabach memanjang atau
memendek maka orang yang diperiksa didiagnosa memiliki kelainan pada pendengarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Andrajati, Retnosari dkk. Penuntun Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia. Depok: Departemen
Farmasi FMIPA UI, 2008.

Sherwood. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC, 2001.


Bisa buka link: https://www.scribd.com/doc/178077385/Tugas-Laporan-Fisiologi-Pendengaran-
Enggie-4111002

Bisa buka link: https://www.scribd.com/doc/220503957/Contoh-Laporan-Praktikum-Tes-


Ketajaman-Pendengaran

Dari alamat: http://akukamukitajadidokter.blogspot.co.id/2011/04/pemeriksaan-fungsi-


pendengaran-dan.html

PEMERIKSAAN FUNGSI PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN

LAPORAN

PERCOBAAN 6

PEMERIKSAAN FUNGSI PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN

NAMA : SUDARMAN

NIM : F1E110030

DOKTER PEMBIMBING : Dr. IRFAN IDRIS, M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tinjauan Pustaka


Reseptor untuk 2 modalitas sensorik, pendengaran dan penglihatan, berada di telinga. Telinga
luar, telinga tengah, dan koklea telinga dalam berperan dalam pendengaran. Kanalis
semisirkularis, utrikulus, dan sakulus telinga dalam berperan dalam keseimbangan. Reseptor di
kanalis semisirkularis mendeteksi percepatan rotasional, reseptor di utrikulus mendeteksi
percepatan linear dalam arah vertical. Reseptor untuk pendengaran dan keseimbangan adalah
sel-sel rambut, dan terdapat 6 kelompok sel rambut di setiap telinga dalam; satu dimasing-
masing dari tiga kanalis semisirkularis, satu diturikulus, satu disakulus, dan satu di koklea.

Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara. Dalam manusia danbinatang


bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri
dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Tidak semua suara dapat dikenali oleh semua binatang.
Beberapa spesies dapat mengenali amplitudo dan frekuensi tertentu. Manusia dapat
mendengar dari 20 Hz sampai 20.000 Hz. Bila dipaksa mendengar frekuensi yang terlalu tinggi
terus menerus, sistem pendengaran dapat menjadi rusak.

Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul dilingkungan eksternal,
yaitu fase pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang-seling, mengenai
membrane timpani. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memban timpani
per satuan waktu adalah serangkaian gelombang, dan gerakan semacam itu dalam lingkungan
secara umum disebut gelombang suara. Kecepatan suara meningkat seiring suhu dan ketinggian.

Telinga mengubah gelombang suara dilingkungan eksterna menjadi potensial aksi disaraf
pendengaran. Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran menjadi
gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang dalam cairan
telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti menimbulkan potensial aksi di serat-serat saraf.

Selain untuk pendengaran, organ dalam telinga juga berfungsi untuk keseimbangan. Yang
menjalankan fungsi ini adalah organ vestibular. Struktur vestibular telinga dalam adalah
vestibula (yang tersusun dari utrikel dan sakula) dan tiga saluran semisirkuler. Struktur ini
bekerja seperti tukang kayu (suatu alat digunakan untuk menunjukkan berapa derajat
permukaan horisontal atau vertikal). Sistem ini bekerja dengan menghubungkan saraf
vestibulocochlear dengan pusat vestibular di otak dengan keseimbangan dan posisi
tubuh.(bagian telinga dalam yang disebut cochlea merupakan alat pendengaran). Jadi, sistem
vestibular meliputi vestibula, saluran semisirkuler, cabang vestibular dari saraf
vestibulocochlear, dan pusat vestibular di otak.

Sistem vestibular mengukur gerakan lurus dan berputar. Sejumlah gangguan dapat
menyebabkan sistem ini berhenti bekerja atau memberikan informasi yang tidak tepat.
Gangguan ini meliputi sindrom Meniere, labyrinthitis, benign paroxysmal position vertigo,
infeksi telinga, tumor atau trauma.

1.2 Tujuan Percobaan

1. Mengetahui cara pemeriksaan fungsi pendengaran dengan menggunakan garpu tala.

2. Mengetahui cara pemeriksaan fungsi keseimbangan.


BAB II

METODOLOGI PENELITIAN

2.1. Alat

1. Garpu Tala (256 atau 512 Hz)

2. Tongkat

2.2 Bahan

1. Orang Coba

2.2. Cara Kerja

1. Pemeriksaan fungsi pendengaran

1.1 Tes Rinne

Garpu tala digetarkan, kemudian pangkalnya ditempelkan pada tulang mastoid orang coba.
Orang coba diminta untuk memberitahukan jika bunyi garpu tala tidak terdengar lagi. Lalu
dengan cepat garpu tala dipindahkan sehingga ujungnya yang bergetar berada kira-kira 3 cm di
depan liang telinga. Bila suara masih terdengar maka rinne dinyatakan positif (orang coba
normal tuli sensorineural), sedangkan bila tidak terdengar lagi dinyatakan rinne negatif (orang
coba tuli konduktif).

1.2 Tes Weber

Garpu tala digetarkan di tempatkan di vertex orang coba. Bila suara terdengar leih keras pada
salah atu telinga, misalnya yang kanan, maka disebut lateralisasi ke kanan. Bila ke kiri, maka
disebut lateralisasi ke kiri.

Kemungkinan bila terjadi lateralisasi ke kanan :

Telinga kanan tuli konduktif, kiri normal atau tulu sensorineural

Telinga kanan normal, kiri tuli sensorineural

Keduanya tuli konduktif, kana lebih berat dari kiri

Kedua tuli sensorineural, kiri lebih berat dari kanan


2. Pemeriksaan fungsi keseimbangan

2.1 Tes tongkat

Orang coba memegang tongkat yang difiksir pada lantai sambil menundukkan kepala dan
menggelilingi tongkat tersebut. Setelah itu, orang coba segera diminta berjalan. Perhatikan
bagaimana reaksinya.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan

Tes Pendengaran

Biodata orang coba

Nama : Jeli Angel Worang

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 19 tahun

Tes Rinne

Mastoideus +

Udara (Garpu Tala) +

Tes Weber

Vertex +

Tes Keseimbangan

Biodata Orang Coba

Nama : Aslan Tonapa

Jenis Kelamin : Laki-laki


Umur : 18 tahun

Tes Tongkat

I : putar ke kanan, maka orang coba berjalan ke kanan

II : putar ke kiri, maka orang coba berjalan ke kiri

3.2 Pembahasan

Berdasarkan data hasil percobaan diatas, maka dapat dilihat bahwa kedua orang coba
untuk masing-masing percobaan yaitu tes pendengaran dan tes keseimbangan adalah normal.

Untuk tes pendengaran diperoleh hasil dari tes rinne, yaitu untuk mastoideus dan udara,
dimana mastoideus dimaksudkan untuk ketukan di daerah tulang mastoideus dan udara
dimaksudkan untuk mendengar gesekan udara yang dilakukan oleh jari tangan adalah bernilai
positif (+), artinya orang coba memiliki pendengaran yang normal (tuli sensorineural). Dan untuk
tes selanjutnya yaitu tes weber dimaksudkan untuk mendengar suara ketukan pada daerah
vertex (sutura sagittal) dengan menutup salah satu telinga. Jika telinga kanan yang ditutp berarti
terjadi lateralisasi di telinga sebelah kanan sehingga suara dominan yang terdengar adalah
berada pada telinga kanan, begitu juga ketika hal ini dilakukan pada telinga kiri. Pada orang
coba, hal ini positif (+) didapatkan, artinya untuk tes weber pada tes pendengaran yang dimiliki
oleh orang coba adalah normal.

Kemudian, untuk tes tongkat pada tes keseimbangan, dimana orang coba difiksir pada
lantai sambil menundukkan kepala dan mengelilingi tongkat tersebut. Setelah itu, orang coba
segera diminta berjalan. Untuk tes ini, ketika orang coba melakukan putarannya kearah kanan,
maka diperoleh hasil bahwa orang coba lebih condong untuk berjalan kearah kanan dan apabila
orang coba memutari tongkat kearah kiri, maka diperoleh hasil bahwa orang coba lebih condong
untuk berjalan kearah kiri. Hal ini berarti, orang coba memiliki keseimbangan yang normal.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan percobaan diatas, maka kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai
berikut :

1. Untuk tes fungsi pendengaran digunakan tes rinne dan tes webber.
2. Untuk tes fungsi keseimbangan digunakan tes tongkat.

3. Tes rinne memnggunakan ketukan pada daerah mastoideus dan gesekan jari pada daerah
dekat telinga.

4. Tes webber menggunakan ketukan pada daerah vertex dengan menutup salah satu telinga
untuk mengetahui lateralisasi terjadi ditelinga sebelah mana.

5. Tes tongkat digunakan untuk mengetahui fungsi keseimbangan dengan cara memutari
tongkat ke salah satu arah kanan atau kiri, kemudian orang coba berjalan. Bila puatarn kekanan,
maka arah jalannya akan lebih condong ke kanan

DAFTAR PUSTAKA

Sherwood,Lauralee.2001.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem.EGC

Ganong, William F. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC

Guyton & Hall.2006.Text Book of Medical Phisiology.Elsevisier Saunders

Dari alamat: http://kurniasarisworld.blogspot.co.id/2011/11/laporan-faal-pemeriksaan-


fungsi.html

Laporan Faal Pemeriksaan Fungsi Pendengaran

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pendengaran adalah persepsi terhadap rangsangan bunyi. Organ yang berperan dalam
sistem pendengaran adalah telinga. Telinga merupakan organ pendengaran dan juga
memainkan peran penting dalam mempertahankan keseimbangan. Peran telinga itu sendiri
dalam sistem pendengaran yaitu menerima gelombang suara, membedakan frekuensinya dan
akhirnya mengirimkan informasi suara ke dalam sistem saraf pusat.

Semua bagian-bagian telinga mempunyai peran tersendiri dalam proses mendengar. Telinga
dibagi dalam tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar terdiri
dari pinna atau aurikula (daun telinga) dan meatus akustikus eksternus (liang telinga).

Telinga tengah merupakan sebuah rongga, dinding lateralnya adalah membrana timpani dan
dinding medialnya adalah permukaan luar telinga dalam. Rongga ini dilalui oleh tiga buah tulang
kecil (Osikuli) yaitu malleus, inkus dan stapes, yang membentang dari membrana timpani ke
telinga dalam (foramen ovale). Rongga ini berhubungan dengan nasofaring melalui tuba
eustachius.

Telinga dalam ( disebut juga labirin ) terdiri atas sebuah sistem saluran yang tak beraturan
(labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang). Labirin tulang dibagi dalam tiga
bagian yang secara struktural dan fungsional berbeda, yaitu vestibulum, koklea dan kanalis
semisirkularis. Labirin membranosa terdapat di dalam tulang labirin walaupun ukrannya lebih
kecil. Membran ini meliputi utrikel, sakul, duktus semikular dan duktus koklea. Adapun saraf –
saraf yang berperan dalam sistem ini adalah serabut saraf koklear dari saraf
vestibulokoklear yang bersinapsis dalam medula dan dalam otak tengah untuk berasenden
menuju korteks auditori, yang terletak jauh di dalam fisura lateral hemisfer serebral.

Mekanisme pendengaran terjadi dimulai dari gelombang bunyi yang ditangkap oleh aurikula
kemudian menjalar ke meatus akustikus eksternus. Dari meatus akustikus eksternus gelombang
bunyi diteruskan dan menghasilkan getaran dalam membrana timpani. Getaran ini kemudian
menjalar di sepanjang osikuli menuju fenestra vestibuli, mendorongnya masuk dan membentuk
gelombang tekanan pada prelimfe skala vestibuli yang tidak dapat terkompresi. Vibrasi prelimfe
menyebabkan vibrasi pada endolimfe, sehingga rambut-rambut getar menonjol ke dalam dan
merangsang ujung-ujung saraf pada membran koklea. Saraf membawa rangsang ke dalam pusat
pendengaran di lobus temporal otak, tempat rangsang dinilai dan diinterpretasi.

Gangguan dalam sistem pendengaran atau biasa disebut tuli biasanya terjadi karena beberapa
hal diantaranya yaitu adanya kerusakan pada bagian-bagian telinga yang biasanya terjadi karena
frekuensi bunyi yang didengar terlalu besar sehingga menimbulkan kerusakan bagian telinga.
Faktor lainnya yaitu adanya kerusakan pada saraf-saraf yang berperan dalam pendengaran.

I.2 Tujuan Pembelajaran

1. Mengetahui cara-cara pemeriksaan fungsi pendengaran

2. Menentukan macam-macam ketulian


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Telinga merupakan organ pendengaran dan juga meainkan peran penting dalam
mempertahankan keseimbangan. Bagian-bagian yang berperan dalam pendengaran : bagian
luar, bagian tengah, dan koklea. Bagian-bagian yang berperan dalam keseimbangan : kanal
semisirkular, utrikel, dan sakulus. (Roger watson, 2002 : 102)

Telinga luar terdiri dari atas aurikula (daun telinga) dan liang telinga luar (meatus akustikus
eksternus). Meatus akustikus eksternus terdapat di antara daun telinga dan membrana timpani .
Seluruhnya dilapisi kulit, denan rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar apokrin yang telah
dimodifikasi disebut kelenjar seruminosa. Kelenjar ini mensekresi serumen atau tahi telinga.
Normalnya harus basah, sesuai fungsinya untuk menangkap benda asing dan mencegah
serangga masuk. Telinga luar dipisahkan dari telinga luar oleh membrana timpani. (dr.Jan
Tambayong, Hal.57 : 2001)

Telinga bagian tengah merupakan merupakan ruang kecil dalam tulang temporal, dipisahkan
oleh membran timpani dari telinga bagian luar, dinding selanjutnya dibentuk oleh dinding
bagian lateral telinga dalam. Rongga tersebut dikelilingi membran mukosa dan berisi udara yang
masuk dari faring melalui saluran pendengaran. Hal ini membuat tekanan udara di kedua sisi
membran timpani sama. Telinga tengah terdiri dari tiga tulang tipis, yang disebut osikel, yang
menghantarkan getaran ke membrana timpani melalui telinga dalam. Membran timpani tipis
dan semitransparan dan tempat melekatnya malleus, osikel pertama, melekat dengan kuat ke
permukaan dalam. Inkus berartikulasi dengan malleus dan stapes, bagian dasar osikel, yang
menempel pada fenestra vestibuli dan mengarah ke bagian dalam telinga. Dinding posterior
telinga tengah terbuka tidak beraturan, mengarah ke mastoid antrum dan membelok ke
sekolompok sel udara mastoid, seperti sinus nasal yang terinfeksi. (Roger watson, Hal.103 :
2002)

Telinga dalam (disebut juga labirin) terdiri atas sebuah sistem saluran yang tak beraturan (labirin
membranosa) yang dibatasi oleh tulang (labirin tulang). Labirin tulang dapat dibagi dalam tiga
bagian yang secara struktural dan fungsional berbeda, yaitu vestibulum, koklea dan kanalis
semisirkularis. Labirin tulang ini berisikan prelimfe. Labirin membranosa, yang dikelilingi dan
berenang dalam prelimfe, berisikan endolimfe. (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)

Di dalam vestibulum terdapat dua kantong labirin bermembran, yaitu sakulus dan utrikulus.
Sakulus, yang lebih kecil, berhubungan dengan duktus koklearis melalui saluran kecil, sedangkan
utrikulus berhubungan dengan kanalis semisirkularis. Pada sakulus dan utrikulus terdapat
reseptor keseimbangan yang disebut makula, untuk memantau perubahan posisi kepala. (dr.Jan
tambayong, Hal.58 : 2001)

Terdapat tiga kanalis semisirkularis, yang tersusun dalam tiga bidang berbeda (anterior,
posterior dan lateral). Di dalam kanalis semisirkularis tulang terdapat tiga duktus semisirkularis.
Masing-masing duktus memiliki satu ujung yang melebar disebut ampula, yang berisikan
reseptor keseimbangan disebut krista ampularis. Reseptor ini berespons terhadap gerak anguler
(rotasi) dari kepala. (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)
Koklea adalah saluran tulang berpilin konis (rumah siput). Ia meluas dari bagian anteroir
vestibulum dan berpilin 2 ½ kali mengelilingi tulang yang disebut modiolus. Di dalamnya
terdapat duktus koklearis, yang berakhir buntu di apeks koklea. Di dalam duktus koklearis
terdapat organ corti, reseptor pendengaran. Duktus koklearis bersama lamina spiralis membagi
rongga koklea menjadi tiga bagian (skala) terpisah, yaitu skala vestibuli (atas), skala media atau
duktus koklearis (tengah) dan skala timpani (bawah). (dr.Jan Tambayong, Hal.58 : 2001)

Dua bagian labirin tulang yang terletak di atas dan di bawah skala media adalah skala vestibuli
dan skala timpani. Kedua skala tersebut mengandung cairan prelimfe dan terus memanjang
melalui lubang pada apeks koklea, yang disebut helikotrema. Membran reissner memisahkan
skala media dari skala vestibuli, yang berhubungan dengan fenestra vestibuli. Membran basilar
memisahkan skala media dari skala timpani, yang berhubungan dengan fenestra cochleae. (Ethel
Sloane, Hal.191 : 2004)

Penghantaran Suara

Duktus koklearis atau skala media, yang merupakan bagian labirin membranosa yang terhubung
ke sakulus, adalah saluran tengah yang berisi cairan endolimfe. Skala media berisi organ corti
yang terletak pada membran basilar. Organ corti terdiri dari reseptor, disebut sel rambut, dan
sel penunjang, yang menutupi ujung bawah sel-sel rambut dan berada pada membran basilar.
Membran tektorial adalah struktur gelatin seperti pita yang merentang di atas sel-sel rambut.
Ujung basal sel rambut bersentuhan dengan cabang bagian koklear saraf vestibulokoklear. Sel
rambut tidak memiliki akson dan langsung bersinapsis dengan ujung saraf koklear. (Ethel Sloane,
Hal.191 : 2004)

Telinga mengubah gelombang suara dari dunia luar menjadi potensial aksi dalam nervus
koklearis. Gelombang diubah oleh gendang telinga dan tulang-tulang pendengar menjadi
gerakan papan kaki stapes. Gerakan ini menimbulkan gelombang pada cairan telinga dalam
gelombang pada organ korti sehingga menimbulkan potensial aksi pada serabut-serabut saraf.
(Syaifuddin, Hal.235 : 2009)

Sebagai respons yang ditimbulkan, gelombang suara pada membran timpani bergerak ke dalam
suatu resonator yang menghasilkan getaran dari sumber suara. Gerakan diteruskan pada
manubrium maleus, berayun pada poros melalui batas antara saluran panjang dan pendek, lalu
meneruskan getaran dari manubrium ke inkus lalu dihantarkan ke stapes. (Syaifuddin, Hal.235 :
2009)

Penghantaran suara mengubah resonansi (intensifikasi suara) yang menghasilkan getaran dari
membran timpani menjadi gerakan stapes untuk mengarahkan skala vestibuli koklea yang terisi
dengan prelimfe. Sistem ini dinamakan tekanan suara yang sampai pada jendela lonjong. Hasil
kerja dari maleus dan inkus memperbesar gaya 1,3 kali dari luas membran timpani, jauh lebih
besar dari luas papan kaki stapes, pemborosan energi suara karena resistensi 60 % dari enerfi
suara yang telah sampai pada membran timpani berhasil dihantarkan ke cairan dalam koklea.
(Syaifuddin, Hal.235 : 2009)
1. Refleksi gendang : apabila otot telinga tengah (M.Tensor timpani dan M.Stapedius)
berkontraksi menarik manubrium maleolus ke dalam dan papan kaki stapes keluar. Suara yang
keras menimbulkan refleks kontraksi otot yang dinamakan refleks gendang. Refleks gendang ini
berfungsi untuk melindungi dan mencegah gelombang suara keras yang dapat menyebabkan
perangsangan yang berlebihan pada reseptor pendengar. Akan tetapi, waktu reaksi untuk
refleks adalah 40-160 ms sehingga refleks tidak melindungi dari rangsangan yang sangat singkat
seperti suara tembakan.

2. Penghantaran tulang dan udara

a. Penghantaran gelombang suara ke cairan telinga dalam melalui membran timpani dan
tulang-tulang pendengar yang dinamakan penghantaran tulang telinga tengah.

b. Gelombang suara menimbulkan getaran pada membran timpani sekunder yang menutup
jendela bundar (penghantaran udara)

c. Penghantaran tulang transmisi, getaran dari tulang-tulang tengkorak ke cairan telinga


dalam. Banyak terjadi konduksi tulang bila garpu penala diletakkan langsung pada tengkorak.
Jalan ini memegang peranan penting dalam penghantaran yang sangat keras.

3. Gelombang jalan papan kaki stapes menimbulkan serangkaian gelombang berjalan pada
prelimfe dalam skala vestibuli. Apabila gelombang bergerak ke arah koklea, tinggi gelombang
meningkat sampai maksimum dan kemudian menurun dengan cepat. Jarak dari sapes sampai
ketinggian maksimum berubah-ubah tergantung pada frekuensi getaran. Gelombang suara
dengan nada tinggi akan menimbulkan gelombang yang mencapai tinggi maksimum dekat pada
basis koklea, sedangkan suara nada rendah menimbulkan gelombang yang memuncak dekat
dengan apeks dinding. Tulang dari skala vestibuli menjadi kaku, tetapi membran ini fleksibel.
Membran basilaris tidak dalam keadaan tegang dan dapat dilakukan ke dalam skala timpani oleh
puncak gelombang dalam skala vestibuli. (Syaifuddin, Hal.235-236 : 2009)

Pendesakan cairan dalam skala timpani dilepaskan ke dalam udara pada foramen rotundum.
Suara akan menimbulkan distorsi (pilihan) pada membran basilaris, tempat dimana distorsi ini
maksimum yang ditentukan oleh frekuensi gelombang suara. Ujung-ujung sel rambut pada
organ korti dipertahankan tetap kaku oleh lamina retikularis dan rambut-rambutnya terbenama
dalam membran tektorial. (Syaifuddin, Hal.236 : 2009)

Apabila membran basilaris ditekan, gerakan relatif dari membran tektorial lamina retikularis
akan membengkokkan rambut-rambut. Pembengkokan ini menimbulkan potensial aksi pada
saraf pendengar. (Syaifuddin, Hal.236 : 2009)

Ketulian adalah gangguan hantaran bunyi di dalam telinga luar atau telinga tengah (tuli hantar)
atau kerusakan sel rambut jaras saraf (tuli saraf) atau kerusakan pada kedua bagian itu (tuli
campuran). Penyebab tuli hantar atau biasa juga disebut tuli konduksi adalah sumbatan meatus
akustikus eksternus oleh serumen atau benda asing, perusakan ossikula auditus, penebalan
membran timpani setelah infeksi telinga tengah berulang, dan kekuatan abnormal perlengketan
stapes ke foramen ovale. Tuli saraf disebabkan oleh degenerasi toksin sel rambut, dan
kerusakan pada saraf-saraf yang terlibat dalam sistem pendengaran. Tuli campuran adalah tuli
yang terjadi karena adanya kerusakan pada bagian-bagian telinga dan kerusakan pada syaraf-
syaraf pendengaran. (Syaifuddin, Hal.239 : 2009)

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat dan Bahan

1. Garpu tala (288 atau 512 Hz)

2. Arloji

III.2 Cara Kerja

A. Pemeriksaan fungsi pendengaran

1. Tes Bisik

Tes ini merupakan tes yang sederhana dan walaupun kurang akurat tetapi cukup inovatif bagi
pemeriksaan rutin. Untuk ini memerlukan ruangan sepanjang 6 meter (minimal) dan bersifa
kedap suara sehingga bising tidak mempengaruhi jalannya pemeriksaan. Orang coba duduk
menyamping sehingga telinga yang akan diperiksa menghadap ke mulut pemeriksa. Menutup
telinga yang tidak diperiksa dan kalau perlu menutup mata juga agar orang coba tidak dapat
melihat gerakan bibir pemeriksa. Pemeriksa mengucapkan kata-kata secara berbisik (intensitas
suara halus sekeras bisikan sejauh 30 cm dari telinga), dan orang coba harus dapat
mengulanginya dengna benar. Bila dapat didengar dari jarak :

6 meter berarti normal

5 meter berarti masih dalam batas normal

4 meter berarti tuli ringan

2-3 meter berarti tuli sedang

1 meter atau kurang berarti tuli berat

Dapat pula diketahui bila orang coba menderita gangguan pendengaran dengan frekuensi
rendah atau tinggi. Untuk ini pemeriksa membisikkan kata-kata yang frekuensinya tinggi
misalnya karcis, kikis, tangis dan sebagainya. Sedang kata-kata denga frekuensi rendah misalnya
letup, rendum, beban dan sebagainya.

2. Tes Arloji
Harus menggunakan arloji yang berdetik misalnya arloji saku. Arloji “quarts” tak dapat
digunakan. Pemeriksaan ini kurang cukup untuk menentukan jenis ketulian. Orang coba diminta
mendengarkan detik arloji mula-mula telinga kiri kemudian telinga kanan.

3. Tes dengan garpu tala

a. Tes rinne

Menggetarkan garpu tala kemudian menempelkan pangkalnya pada tulang mastoid orang coba.
Meminta orang coba untuk memberitahukan jika bunyi garpu tala tidak terdengar lagi.
Memindahkan garpu tala sehingga ujungnya yang bergetar berada pada kira-kira 3 cm di depan
liang telinga. Bila suara masih terdengar maka rinne positif, sedang bila tidak dapat terdengar
lagi disebut rinne negatif

Rinne negatif : normal atau tuli sensorineural

Rinne positif : tuli konduktif

b. Tes weber

Menggetarkan garpu tala dan menempatkannya di vertex orang coba. Bila suara terdengar lebih
keras pada salah satu telinga misalnya yang kanan maka ini dusebut lateralisasi kanan,

Ini dapatt disebabkan beberapa kemungkinan :

Telinga kana tuli konduktif, kiri normal atau tuli sensorineural (perseptif)

Telinga kanan normal, kiri tuli perseptif

Keduanya tuli konduktif, kanan lebih berat dari kiri

Keduanya tuli perseptif, kiri lebih berat dari pada kanan.

c. Tes schwabach

Menggetarkan garpu tala dan ditempatkan pada tulang mastoid orang coba. Meminta orang
coba memberitahukan bila tidak dipindahkan ke tulang mastoid pemeriksa. Bila pemeriksa juga
tidak mendengar suara maka prosedur pemeriksaan dibalik. Mula-mula meletakkan garpu tala
pada tulang mastoid pemeriksa dan setelah tak terdengar memindahkannya ke orang coba. Bila
orang coba tidak mendengar lagi berarti telinga orang coba normal.

Schwabach memendek : jika setelah garpu tala dipindahkan pada pemeriksa, masih dapat
didengar getaran. Berarti orang coba tuli perseptif.

Schwabach memanjang : setelah memindahkan pada pemeriksa tidak lagi terdengar getaran,
tetapi bila prosedur dibalik maka setelah pemeriksa tidak lagi mendengar bunyi. Berarti orang
coba tuli konduktif.

Dari alamat: http://snelaisnaenh.blogspot.co.id/2014/07/laporan-pratikum-psikologi-faal-


indera_20.html
1 Percobaan Pendengaran
:
(Penghantar Aerotymponal danCraniotymponal pada
pendengaran)
Nama Percobaan 1.1
: Rine
1.2 Tempat Sumber Bunyi
1.3 Pemeriksaan Ketajaman Pendengaran
Nama Subjek Sanela
: Isnaeni Haka
Percobaan
Tempat Percobaan Laboratorium
: Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan 1.1 Untuk
: membuktikan bahwa tramisi melalui udara
lebih baik dari pada tulang
1.2 Untuk menentukan sumber bunyi
1.3 Untuk memeriksa ketajaman pendengaran
b. Dasar Teori Telinga
: adalah organ penginderaan dengan fungsi
ganda dan kompleks (pendengaran dan
keseimbangan). Indera pendengaran berperan
penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk
perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan
kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
melalui bicara tergantung pada kemampuan
mendengar.
Dasar menentukan suatu gangguan pendengaran
akibat kebisingan adalah adanya pergeseran ambang
pendengaran, yaitu selisih antara ambang
pendengaran pada pengukuran sebelumnya dengan
ambang pendengaran setelah adanya pajanan bising
(satuan yang dipakai adalah desibel (dB). Telinga
manusia terdiri dari 3 bagian:
1. Telinga luar, yang memiliki fungsi menangkap
rangsangan getaran suara atau bunyi dari luar.
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang
telinga luar
2. Telinga tengah atau ruang timpani, berfungsi untuk
menghantarkan suara atau bunyi dari telinga luar ke
telinga dalam. Pada telinga bagian tengah terdapat
tulang-tulang pendengaran yaitumartil, inkus, dan
stapes.
3. Telinga dalam, berfungsi menerima getaran suara
atau bunyi yang disampaikan oleh telinga tengah.
Didalam telinga bagian dalam terdapat kokleaatau
yang biasa dikenal dengan rumah
siput,koklea adalah saluran spiral yang terdiri atas
skala vestibuli terletak dibagian dorsal, skala
media terletak dibagian tengah, dan skala
timpaniterletak dibagian ventral serta berisi
cairanperilimf dan permukaan dalamnya merupakan
tempat bermuara saraf. Ujung saraf terebut peka
terhadap getaran yang ditimbulkan oleh cairan
tersebut. Semua ujung saraf tersebut membentuk
saraf pendengaran. Suara ditimbukan oleh getaran
yang dikenal sebagai gelombang suara yang
kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Proses
penghantaran suara dapat melalui berbagai medium,
yaitu:
a. Pengahantar udara
b. Penghantar suara melalui tulang
c. Penghantar tulang telinga tengah
Reseptor pendengaran dan keseimbangan terdapat
didalam telinga. Reseptor ini berupa sel-sel yang
berbentuk rambut. Suara merupakan gelombang
mekanik yang rambatannya seperti udara, air, dan
benda padat. Manusia dapat mendengar suara pada
frekuensi antara 20-20000 getaran perdetik (Hz) dan
tidak dapat mendengar dibawah 20 Hz dan diatas
20000 Hz. Ketika pada saat percobaan pertama atau
Rine garputala yang digetarkan terdapat urutan
gelombang komprensi dan ekspansi. Jika gapura tala
membuat 100 kali getaran perdetik, maka akan
terdapat gelombang suara dengan 100 komprensi
perdetik (yaitu, 100 Hz). Bunyi yang tekanannya
terkorelasi dengan gelombang sinus disebut nada
murni, bentuk gelombang bunyi apapun (tidak
peduli betapa kompleksnya) dapat dipecah menjadi
serangkaian gelombang sinus yang berbeda dengan
amplitudo yang sesuai. Bila gelombang sinus
tersebut dirambahkan lagi, hasilnya akan sama
dengan bentuk gelombang aslinya.
Pada proses pendengaran terdapat teori mengenal
sumber bunyi, yaitu bunyi yang datang dari suatu
sumber yang ada didalam bidang median yang
melalui tubuh manusia dan terdapat dimuka, diaas
ataupun dibelakangnya akan mencapai telinga dalam
waktu bersamaan. Apabila sumber berada disebelah
kiri, maka telinga kiri yang lebih dulu
mendengaranya. Oleh karena itu timbul kesan
bahwa sumber bunyi itu datang secara terus
menurus pada waktu yang sama pada kedua telinga
kita, kita akan kesulitan untuk menentukan sumber
bunyi.
c. Alat yang Digunakan 1.1
: Garputala
1.2 Pipa karet
1.3 Stopwatch dan meteran
d. Jalannya Percobaan 1.1
: Ketukan garuptala ke suatu benda yang bersifat
besi lalu:
1. Taruh diatas kepada setelah menghilang suaranya
dekatkan ke dekat lubang telinga
2. Taruh dibelakang telinga tidak boleh menyentuh
rambut atau kepala setelah menghilang suaranya
taruh ke dekat lubang telinga
1.2 Pegang pipa karet, lalu pada kedua ujung nya
ditaru didepan lubang telinga. Lalu asisten akan
menekan kanan, kiri, atau tengah secara acak dan
pratikan diminta untuk menjawab
1.3 Asisten menaru stopwatch pada depan lubang
telinga lalu dijauhkan secara perlahan oleh asisten
selama itu pratikan diminta untuk mendengar suara
stopwatch itu sehingga tidak terdengar lagi, jika
sudah tidak terdengar pratikan diminta untuk bilang
stop lalu akan diukur jauhnya ketajaman pratikan
dapat mendengar detakan stopwatch
e. Hasil Percobaan 1.1
: Hasil percobaan Rine:
1. Terdengar suara mendengung dengan frekuensi
kecil
2. Terdengar suara mendengung dengan frekuensi
besar
Hasil sebenarnya:
1. Suara nada garputala yang sudah tidak terdengar
ketika ditempatkan dipuncak kepa masih tetap
terdengar ketika garputala itu di tempatkan di
lubang dekat telinga
2. Suara garputala yang sudah tidak terdengar ketika
ditempatkan dibelakang telinga masih tetap
terdengar ketika garputala itu ditempatkan di depan
lubang telinga
 Semakin besar garputala semakin berat suaranya
 Garputala dan telinga sejajar hantaran suara
bagus
 Pada orang tua, elastisitasmembran
thympany kurang bagus sehingga indra pendengaran
kurang berfungsi dengan baik
 Membran thympany menggetarkanmaleus, incus,
stapes  sehingga terdengar suara
1.2 Hasil percobaan tempat sumber bunyi:
Benar 3 ; Salah 0
Hasil sebenarnya:
 Kalau masih bisa membedakan kanan kiri normal
 Kalau masih bisa membedakan tengah  cukup
sulit
1.3 Hasil percobaan ketajaman pendengaran:
Kanan 58 ; Kiri 56
Hasil sebenarnya:
 Sangat dipengaruhi oleh kebisingan
 Rata-rata diatas 50CM
 Biasanya telinga kanan lebih jauh dari telinga kiri
(pengaruh pada otak kanan dan kiri)
f. Kesimpulan Telinga
: terdapat 3 bagian yaitu bagian luar, tengah,
dan dalam yang masing-masing memiliki fungsinya
masing-masing. Nada selain dihantarkan melalui
udara, dapat dihantarkan melalui tulang. Namun
penghantar pendengaran yang paling baik adalah
udara. Sedangkan ketajaman pendengaran dapat
dipengarahui oleh kebisingan yang ditimbulkan dari
lingkungan. Sumber suara dapat diketahui apabila
dekat dengan tempatnya. Seumber itu akan
dinyatakan diseblah kiri bila jarak antara sumber itu
lebih dekat dengan telingaa
g. Daftar Pustaka Evelyn,
: C. Pearce. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk
Paramedis. Jakarta: PT.Gramedia
Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia untuk
Mahasiswa Keperawatan, Edisi 2. Jakarta: Salemba
Medika
Guyton and Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran.Jakarta:
CV. EGC
Pujianto, Sri. 2008. Menjelajah Dunia Biologi
2.Jakarta: Tiga Serangkai
Bagian Laboratorium Fakultas Psikologi Universitas
Ahmad Dahlan. 1997. Buku Pedoman Pratikum
Psikologi Fa’al II.Fakultas Psikologi Universitas
Ahmad Dahlan
Aryulina, Diah, dkk. 2003. Biologi untuk kelas 2
SMU. Jakarta: Esis
Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard, E.R.
(1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus
Dharman, SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto.
Jakarta. Erlangga.
Plotnik.R.(2005:127). Introductionto psychology 7th
edition. Australia: thomson&wodsworth.

Dari alamat: http://ncanmucan.blogspot.co.id/2010/05/praktikum-indera-pendengaran-


dan.html
Percobaan : Indera B. Indera Pendengaran Dan Keseimbangan

Nama Percobaan : Percobaan Rine

Nama Subjek Percobaan : Diri Sendiri (Niken Pratiwi)

Tempat Percobaan : Laboratorium Psikologi Faal

a. Tujuan Percobaan : Untuk membuktikan bahwa transmisi melalui udara lebih baik
dari pada tulang.

b. Dasar Teori : Pitch dan Loudnes. Suara yang dibedakan tekanannya berkolerasi
dengan gelombang sinus. Suara semacam itu disebut nada murni(pure tone). Siklus gelombang
menuju kompresi dan ekspansi udara seperti suara geombang yang selalu bergerak. Kedua
karakteristik utama gelombang seperti itu adalah frekuensi dan amplitudo. Frekuensi diukur
dengan jumlah getaran perdetik; yaitu beberapa kali perdetik sampai siklus gelombang suara
diulang. Unit Hertz (singkatan Hz) digunakan untuk menunjukkan sikus perderik; yaitu suatu
siklus perdetik sama dengan satu Hz. Amplitudo berhubungan dengan jumlah kompresi dan
ekspansi udara, seperti digambarkan oleh panjangnya gelombang dimulai dari puncak sampai
dasar kurva.

Frekuensi gelombang suara pada dasarnya merupakan penyebab dari


apa yang kita alami sebagai pitch (tingkatan nada). Namun pitch sebuah nada dapat juga
dipengaruhi oleh intensitas. Jadi, 'pitch' pun hanya terkait pada satu atribusi fisik stimulus.
Demikian pula, 'loudness' (kerasnya suara) berkolerasi dengan kuat pada amplitudo gelmbang
atau intensitas suara. Namun demikian, gelombang suara berfrekuensi rendah yang mempunyai
amplitudo sama dengan suara berfrekuensi tinggi tidak selalu menghasilkan suara yang sama
keras.

Manusia dapat mendengar frekuensi anrata 20- 20.000 Hz. Hal diatas
dapat kita buktikan pada bunyi piano yang menghasilkan frekuensi dari lebih kurang 27 sampai
4.200 Hz. Tida semua species dapat mendengar dengan rentang frekuensi yang sama, sebagai
contoh peluit untuk memanggil anjing yang menggunaka nada terlalu tingi frekuensinya bagi
telinga kita.

Kita semua mengetahui, perbedaan antara suara yang keras dan


suara yang lemah, akan tetapi menentukan nilai sekala intensitas tidaklah mudah. Para alhi dari
“the Bell Telephone Laboratories” telah memformasi nit yang mudah untuk mengubah tekanan
fisik pada gendang pendengaran menjadi skala yang dapat dimengerti. Unit ini
disebut decibel yang disingkat db, yang artinya sepersepuluh bel, sesuai dengan nama
penemunya Alexander Graham Bell. Perkiraan kasar tentang apa yang diukur decibel ditentukan
oleh skala suara yang dikenal yang diperlihatkan. Kira-kira pada 120 db, intensitas suara
menyakitkan telinga; kerasnya suara percakapan normal lebih kurang 60db. Mendengarkan
suara dengan intensitas 90db ke atas dalam waktu yang lama dapat menyebabkan ketulian total.
Beberapa musikus rock contohnya, dapat menderita kerusahan pendengaran yang serius. Para
petugas landasan terbang dan operator mesin tekanan angin menggunakan peredam telinga
untuk melindungi diri dari kerusakan telinga. Ambang suara untuk mendengarkan suara yang
berbeda-beda tergantung dari frekuensi stimulus. Decibel-deciel nol secara ambangditentukan
sebagai ambang mutlak untuk mendengar dengan nada 1.000 Hz. Nada antara 800-6.000 Hz
membubuhkan kurang dari 10 db untuk mencapai ambang, sedangkan nada- nada dibawah 100
Hz atau lebih besar dari 15.000 Hz membutuhkan 40db atau lebih untuk mencapai ambang.

Suara Kompeks. Seperti juga dengan warna-warna yang kita lihat,


jarang yang merupakan corak nada murni yang dihasilkan oleh sebuah panji gelombang tunggal,
begitu pula suara yang kita dengar jarang merupakan nada murni yang dihasilkan oleh suara
gelombang suara dari frekuensi tunggal. Misalnya memukul nada C tengah pada piano tidak
hanya akan menghasilkan nada dasar 262 Hz, tetapi juga menghasilkan tambahan beberapa
nada lain (OVER TONES), yang bermacam-macam dari frekuensi itu. Over tones terjadi karena
ketika senar piano brgerak tidak hanya bergetar secara keseluruhan yang menghasilkan nada
dasar 262 Hz, tetapi juga bergetar untuk setengahnya, sepertiganya, seperempatnya,
seperlimanya, dan sebagainya, yang setiap getarannya menghasilkan frekuensinya sendiri. Bunyi
yang terdiri dari sebuah nada dasar ditambah over tones mempunyai pitch yang dominan sesuai
dengan nada dasar. Pitch sesai dengan over tonesbiasanya tidak terdengar, walau pitch yang
lebih rendah pin dapat terdengarjika kita dengarkan benar-benar. Hal ini menimbulkan
pertanyaan: mengapa not-not yang sama pada piano dan terompet menghasilkan bunyi yang
berbeda? Bunyi dari saru alat musik akan berbeda dengan lat musik lainnya disebabkan karena
julahover tones yang dihasilkan. Sebab yang lain ialah konstruksi lat musik yang berbeda-beda
memperkuat (menggemakan) over tonestertentu dan mematikan over tones yang lain. Kualitas
persepsi yang berhubungan dengan pola over tones ini disebut timbre(warna bunyi). Warna
bunyi inilah yang menunjukkan pada kita apakah nada itu dihasilkan dari piano atau klarinet. Jia
semua over tones dihilangkan dengan penggunaan sarinan suara, maka akan sulit menentukan
alat msik apa yang sedang dimainkan. Nada sebuah alat musik mempunyai bentuk gelombang
yang komleks, yang hanya mempertahankan puncak-puncak dan palung-palung yang akan
menentukan pitch dasar; titik-titi tinggi dan rendahya sama, akan tetapi gelombang itu bergerigi
atau tidak rata.

Fenomena penting dari persepsi pitch ialah bila sebuah bunyi yang
hanya terdiri dari over tones nada dasar (sedangkan nada dasarnya sendiri tidak ada), pitch yang
lebih dominan terdengar adalah pitch yang masih sesuai dengan pitch dasarnya. Pitch di
sebut pitch yang hilang dasarnya (missin fundamental). Hal ini merupak topik pembicaraan
penting dalam perdebatan teoritis tentang persepsi pitch. Jika kita membandingkan dimensi
psikologi warna dan nada, kira-kira akan terdapat hubungan sebagai berikut;:

Hue (corak nada)--- Pitch (tingkat nada)

Brightness (terangna suara)--- Loudness (kerasnya nada)

Saturation (kejenuhan/saturasi)--- Timbre (warna nada)

Hue dan pitch merupakan fungsi-fungsi frekuensi gelombang; brightness dan loudness
merupakan fungsi-fungsi amplitudo; saturation dan timbre merupakan suatu hasil campuran.
Tetapi perlu diingat bahwa hal ini hanya sekedar merupakan analogi dan seperti semua analogi,
biasanya terbatas.
Apa yang terjadi bila dua nada diperdengarkan bersamaan? Tidak ada percobaan yang
menunjukkan bahwa hal ini merupakan analogi percampuran warna. Percampuran dua nada
tidak pernah menghasilkan bunyi yang betul-betul serupa. Jika dua nada murni yang telah cukup
dipisahkan dalam frekuensi, kedua pitch terdengar secara simultan sebagai sebuah paduan
nada. Jika dua nada tersebut saling berdekatan, pitch masing-masing tidak akan terdengar dan
bunyi yang dihasilkancenderung akan menjadi tidak selaras (dissonant). Faktor-faktor utama
yang menentukan bagaimana selarasnya (contsonant)not-not musik bila dimainkan bersama
adalah pemberian jarak (spacing) pada over tones-nya. (Roederer 1975). Faktor kultural juga
memainkan peran dalam penentuan bunyi yang bagaimana yang dinamakan selaras.

Noise adalah bunyi yang tersusun dari banyaknya frekuensi yang tidak mempunyai hubungan
yang harmonis antara satu dengan yang lain. Para ali akustik kadang- kadang bericara
tentang bunyi murni (white noise) bilamana menggambarkan suatu bunyi yang tersusun dari
semua frekuensi dalam spektrum suatu tinggat energi atau loundness yang kurang lebih sama.
Bunyi murni dianalogikan pada cahaya putih, yang terdiri dari semua frekuensi dalam spektum
cahaya. Bunyi saluran TV yang kosong atau pancuran air dikamar mandi mendekati suara bunyi
murni. Suara noise dengan energi yang terpusat pada kumpulan-kumpulan frekuensi tertentu
dapat mempunyai suatu pitch yang khas. Misalnya, kita padat menggunakan istilah musik “bass”
untuk menandai bunyi sebuah drum, walau suara drum lebih menyerupai kegaduhan dari pada
suara yang bernada.

Nada murni. Ketika garputala bergetar, terdapat urutan gelombang komprensi dan ekspansi. Jika
gapura tala membuat 100 kali getaran perdetik, maka akan terdapat gelombang suara dengan
100 komprensi perdetik (yaitu, 100 Hz). Bunyi yang tekanannya terkorelasi dengan gelombang
sinus disebut nada murni, bentuk gelombang bunyi apapun (tidak peduli betapa kompleksnya)
dapat dipecah menjadi serangkaian gelombang sinus yang berbeda dengan amplitudo yang
sesuai. Bila gelombang sinus tersebut dirambahkan lagi, hasilnya akan sama dengan bentuk
gelombang aslinya.

Melihat Sinyal Suara. Dengan menggunakan Oscilloscope kita dapat melihat gelombang suara.
Getaran molekul udara dalam suatu gelombang suara dapat ditagkap oleh sebuah mikrifon.
Gerakan ini diubah oleh microfon menjadi arus listrik. Oscilloscope merubah arus itu menjadi
gambar yang bergerak dilayar. Gambar Oscilloscope itu merupakan grafik yang menunjukkan
bagaimana tekanan berubah sesuai dengan waktu.

Skala Decibel. Loundness (kekerasan suara) dan beberapa suara yang sudah dikenal diskalakan
dalam decibel. Lepas landasnya roket Saturn V ke bulan yang diukur pada alas peluncurannya
kurang lebih 180 db. Untuk ikus- tikus percobaan, skala suara 150 db dalam waktu yang cukup
lama menyebabkan kematian. Bahkan band-band rock dapat menimbulkan bunyi dengan 120 db
atau lebih yang menyebebkan kerusakan pendengaran permanen.

Aerotymponal adalah penghantar suara melalui udara, sedangkanCraniotymponal adalah


penghantar suara melalui tulang. Pada orang tua elastisitas membran thympani berkurang,
sehingga terkadang indera pendengarannya kurang berfungsi dengan baik.
Membran thmpani menghantarkan maleus, incus, stapes sehingga terdengar suara.

Anatomi Telinga. Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah,
dan dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi
getaran sampai ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke
kanalis semisirkularis yang berisi cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan
tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis semisirkularis;
adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari gendang telinga.
Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan menghantarkan
rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.

Konduksi Tulang . Konduksi tulang adalah konduksi energi akustik oleh tulang-tulang tengkorak
ke dalam telinga tengah, sehingga getaran yang terjadi di tulang tengkorak dapat dikenali oleh
telinga manusia sebagai suatu gelombang suara. Jadi segala sesuatu yang menggetarkan tubuh
dan tulang-tulang tengkorak dapat menimbulkan konduksi tulang ini. Secara umum tekanan
suara di udara harus mencapai lebih dari 60 dB untuk menimbulkan efek konduksi tulang ini. Hal
ini perlu diketahui, karena pemakaian sumbat telinga tidak menghilangkan sumber suara yang
berasal dari jalur ini.

Respon auditorik. Jangkauan tekanan dan frekuensi suara yang dapat diterima oleh telinga
manusia sebagai suatu informasi yang berguna, sangat luas. Suara yang nyaman diterima oleh
telinga kita bervariasi tekanannya sesuai dengan frekuensi suara yang digunakan, namun suara
yang tidak menyenangkan atau yang bahkan menimbulkan nyeri adalah suara-suara dengan
tekanan tinggi, biasanya di atas 120 dB. Ambang pendengaran untuk suara tertentu adalah
tekanan suara minimum yang masih dapat membangkitkan sensasi auditorik. Nilai ambang
tersebut tergantung pada karakteristik suara (dalam hal ini frekuensi), cara yang digunakan
untuk Cermin Dunia Kedokteran No. 144, 2004 24mendengar suara tersebut ( melalui earphone,
pengeras suara, dsb), dan pada titik mana suara itu diukur ( saat mau masuk ke liang telinga, di
udara terbuka, dsb). Ambang pendengaran minimum (APM) merupakan nilai ambang tekanan
suara yang masih dapat didengar oleh seorang yang masih muda dan memiliki pendengaran
normal, diukur di udara terbuka setinggi kepala pendengar tanpa adanya pendengar. Nilai ini
penting dalam pengukuran di lapangan, karena bising akan mempengaruhi banyak orang
dengan banyak variasi. Pendengaran dengan kedua telinga lebih rendah 2 sampai 3 dB. Jika
seseorang terpajan pada suara di atas nilai kritis tertentu kemudian dipindahkan dari sumber
suara tersebut, maka nilai ambang pendengaran orang tersebut akan meningkat; dengan kata
lain, pendengaran orang tersebut berkurang. Jika pendengaran kembali normal dalam waktu
singkat, maka pergeseran nilai ambang ini terjadi sementara. Fenomena ini dinamakan
kelelahan auditorik.

Kekuatan suara. Kekuatan suara adalah suatu perasaan subjektif yang dirasakan seseorang
sehingga dia dapat mengatakan kuat atau lemahnya suara yang didengar. Kekuatan suara sangat
dipengaruhi oleh tingkat tekanan suara yang keluar dari stimulus suara, dan juga sedikit
dipengaruhi oleh frekuensi dan bentuk gelombang suara. Pengukuran kekuatan suara secara
umum dapat dilakukan dengan cara : 1) pengukuran subyektif dengan menanyakan suara yang
didengar oleh sekelompok orang yang memiliki pendengaran normal dan yang dijadikan patokan
adalah suara dengan frekuensi murni 1000 Hz, 2). Dengan menghitung menggunakan pita suara
2 atau 3 band, 3). Mengukur dengan alat yang dapat menggambarkan respon telinga terhadap
suara yang didengar.

Masking. Karakteristik lain yang cukup penting dalam menilai intensitas suara
adalah masking. Masking adalah suatu proses di mana ambang pendengaran seseorang
meningkat dengan adanya suara lain. Suatu suara masking dapat didengar bila nilai ambang
suara utama melampaui juga nilai ambang untuk suara maskingtersebut.

c. Alat Yang Digunakan : Garputala

d. Jalannya Percobaaan : 1. Subjek diminta memegang bagian bawah pada garputala.

2. Kemudian subjek akan diberikan instruksi untuk memukul atau mengetuk bagian tengah
garputala ke arah kursi.

3. Setelah di pukul kemudian letakkan garputala diatas kepala sampai gelombang atau getaran
menghilang.

4. Lalu letakkan didepan lubang telinga dan memberikan jawaban apakah bunyinya masih
terdengar atau tidak.

5. Kemudian dilanjutkan dengan pengujian yang sama, garputala dipukul atau diketukkan
dikursi.

6. Setelah di pukul kemudian garputala didekatkan kearah belakang telinga (tetapi tidak
menempel ditelinga) sampai gelombang atau getaran menghilang.

7. Lalu letakkan didepan lubang telinga dan memberikan jawaban apakah bunyinya masih
terdengar atau tidak.

e. Hasil Percobaan : 1. Saat garputala diletakkan diatas kepala lalu di arahkan ke depan
lubang telinga hasilnya adalah masih terdengar.

2. Saat garputala di arahkan ke belakag telinga lalu di arahkan ke depan lubang telinga hasilnya
adalah masih terdengar.

f. Kesimpulan : 1. Ketika nada garpu tala tidak terdengar lagi dipuncak kepala,
tetapi ketika diletakkan dilubang telinga nada suara masih terdengar.

2. Ketika nada suara garpu tala tidak tedengar lagi dibelakang telinga, tetapi ketika diletakkan
dilubang telinga nada masih terdegar.

3. Semakin besar garpu tala makin berat suara garp tala sejajar maka hantaran suaranya bagus.

4. Ketika garputala bergetar, terdapat urutan gelombang komprensi dan ekspansi. Bunyi yang
tekanannya terkorelasi dengan gelombang sinus disebut nada murni, bentuk gelombang bunyi
apapun (tidak peduli betapa kompleksnya) dapat dipecah menjadi serangkaian gelombang sinus
yang berbeda dengan amplitudo yang sesuai. Bila gelombang sinus tersebut dirambahkan lagi,
hasilnya akan sama dengan bentuk gelombang aslinya.

5. Prinsip: membandingkan kemampuan pendengaran hantaran tulang dan hantaran udara


penderita.

Hasil : - Tes Rinne (+) bila hantaran udara >> hantaran tulang

- Tes Rinne (-) bila hantaran udara << hantaran tulang.

- Tes Rinne (+): pada pendengaran normal dan K.P.


jenis sensorineural

- Tes Rinne (-): pada K.P. jenis hantaran

g. Daftar Pustaka : Miyoso, D.P,. Mewengkang L.N,. Aritomoyo,


D,. (2010).Diagnosis Kekurangan Pendengaran.http://www.kalbe.co. id/. 06 Maret 2010. 19.50.

NN.(2010). Kebisingan Suara. http://htts.wordpress.com/. 06 Maret 2010. 15.45

Atkinson, R.L,. Atkinson, R.C,. Hilgard, E.R. (1983). Pengantar Psikologi. Editor: Agus Dharman,
SH, M. Ed., Ph.D. & Michael Adryanto. Jakarta. Erlangga.

Dari alamat: static.schoolrack.com/files/24208/470848/praktikum_akustik.doc

Praktikum 1: PEMERIKSAAN FUNGSI INDERA PENDENGARAN

DASAR

Telinga berfungsi untuk merubah gelombang suara menjadi impuls, yang kemudian dijalarkan ke pusat
pendengaran di otak. Walaupun mekanisme mendengar tidak dapat mencakup seluruh gelombang bunyi,
namun keterbatasan ini tidak merupakan hambatan bagi seseorang untuk dapat menanggapi berbagai
macam bunyi yang berasal dari lingkungannya.

TUJUAN

Menguji kepekaan indera pendengar dan jenis ketulian

ALAT

1. garpu tala 112-870 Hz


2. arloji/jam tangan (yang bersuara)
3. mistar
4. kapas

CARA KERJA

Pemeriksaan kepekaan indera pendengar

1. Dua anggota kelompok diminta untuk menjadi naracoba, (naracoba I dan II)
2. Catat data kedua naracoba pada lembar kerja
3. Tutup telinga kanan naracoba I dengan kapas dan tutup kedua matanya
4. Gerakkan jam tangan/arloji mendekati telinga kiri naracoba I, sampai naracoba I mendengar
suara arloji/jam tangan untuk pertama kalinya.
5. Ukur dan catatlah jarak antara arloji/jam tangan dengan telinga kiri naracoba I.
6. Lakukan percobaan yang sama untuk telinga kanan naracoba I
7. Catatlah hasil yang diperloleh pada lembar kerja yang tersedia
8. Bandingkan hasil pemeriksaan telinga kiri dan telinga kanan
9. Lakukan percobaan yang sama kepada naracoba II.
10. Bandingkan hasil pemeriksaan naracoba I dan naracoba II.

Pemeriksaan jenis ketulian

Pemeriksaan jenis ketulian dapat dilakukan dengan 4 macam pemeriksaan, yaitu percobaan Rinne,
percobaan Weber, percobaan Schwabach dan percobaan Bing. Untuk pemeriksaan ini hanya diperlukan
satu naracoba dan pada percobaan Schwabach penguji bertindak sebagai pembanding. Catatlah pada
lembar kerja data naracoba tersebut.

Percobaan Rinne

1. Getarkan garpu tala


2. Letakkan pangkal garpu tala pada prosesus mastoideus naracoba. Mula-mula naracoba akan
mendengar dengan keras suara garpu tala tersebut. Makin lama suara makin lemah dan akhirnya
tak terdengar lagi oleh naracoba.
3. Pada saat naracoba tak mendengar lagi suara garpu tala, segera pindahkan garpu tala ke dekat
atau do depan telinga naracoba
4. Perhatikan dua kemungkinan yang terjadi, yaitu:
a. naracoba akan mendengar suara garpu tala lagi (Rinne positif)
b. naracoba tak mendengar suara garpu tala lagi (Rinne negatif)
5. Ulangi tiga kali percobaan di atas dan catatlah hasilnya pada lembar kerja
6. Ulangi langkah 1 sampai dengan 6 untuk telinga yang lain pada naracoba yang sama
7. Bandingkan hasil percobaan antara telinga kanan dan telinga kiri

Percobaan Weber

1. Getarkan garpu tala


2. Letakkan pangkal garpu tala pada puncak kepala
3. Anjurkan naracoba untuk memperhatikan intensitas suara pada kedua telinga.
4. Perhatikan 3 kemungkinan yang dapat terjadi:
a. suara terdengar sama keras pada kedua telinga naracoba
b. suara terdengar lebih keras pada telinga kiri (lateralisasi ke telinga kiri)
c. suara terdengar lebih keras pada telinga kanan (lateralisasi ke telinga kanan)
8. catatlah hasil yang diperoleh pada lembar kerja yang tersedia

Percobaan Schwabach

Dalam percobaan ini dibandingkan ketajaman/kepekaan pendengaran hantaran tulang naracoba dengan
orang yang sudah diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Dalam hal ini pemeriksa
dapat bertindak sebagai pembanding.

1. Getarkan garpu tala


2. Letakkan pangkal garpu tala pada prosesus mastoideus naracoba. Mula-mula naracoba akan
mendengar dengan keras suara garpu tala tersebut. Makin lama suara makin lemah dan akhirnya
tak terdengar lagi oleh naracoba.
3. Pada saat naracoba mengatakan tak mendengar lagi suara garpu tala, segera pindahkan garpu
tala ke dekat atau do depan telinga pembanding
4. Perhatikan dua kemungkinan yang terjadi, yaitu:
a. Pembanding akan mendengar suara garpu tala lagi (Schwabach positif)
b. Pembanding tak mendengar suara garpu tala lagi (Schwabach negatif)
5. Ulangi tiga kali percobaan di atas dan catatlah hasilnya pada lembar kerja
6. Ulangi langkah 1 sampai dengan 6 untuk telinga yang lain pada naracoba yang sama
7. Bandingkan hasil percobaan antara telinga kanan dan telinga kiri

Percobaan Bing

1. Getarkan garpu tala


2. Letakkan pangkal garpu tala pada puncak kepala
3. Anjurkan naracoba untuk memperhatikan kerasnya suara pada telinga kanan.
4. Sebelum suara menghilang, sumbatlah liang telinga kanan tersebut dengan kapas atau ujung jari
5. Perhatika dua kemungkinan yang dapat terjadi, yaitu
a. suara terdengar semakin keras oleh naracoba (Bing positif)
b. suara yang terdengar tidak mengalami perubahan (Bing indifferent)
9. Ulangi tiga kali langkah ke 1 sampai dengan langkah ke 5.
10. Ulangi percobaan di atas untuk telinga kiri
11. Catatlah hasil pemeriksaan pada lembar kerja yang tersedia
12. Bandingkan hasil yang diperoleh antara telinga kanan dan kiri.
PEMERIKSAAN FUNGSI INDERA PENDENGAR

Golongan : ………………………………………………………………………………….

Nama Praktikan : ………………………………………………………………………………….

Jenis Kelamin : ………………………………………………………………………………….

Tanggal Praktik: ………………………………………………………………………………….

Jam : ………………………………………………………………………………….

Pemeriksaan ketajaman indera pendengar

1. Data naracoba
Identitas Naracoba I Naracoba II

Nama

Umur

Jenis Kelamin

Tinggi badan

Berat badan

2. Naracoba I
Arloji/jam tangan didekatkan dari arah belakang kepala, sura mulai terdengar dari jarak (cm)

No Telinga Kiri Telinga Kanan

3. Naracoba II
Arloji/jam tangan didekatkan dari arah belakang kepala, sura mulai terdengar dari jarak (cm)

No Telinga Kiri Telinga Kanan

2
3

Kesimpulan
PEMERIKSAAN JENIS KETULIAN

1. Data Naracoba
Identitas

Nama

Umur

Jenis Kelamin

Tinggi badan

Berat badan

2. Percobaan Rinne
Telinga Kiri Telinga Kanan

Hantaran Hantaran

Tulang sudah tak Udara: Tulang sudah tak Udara:


mendengar suara mendengar suara
-mendengar -mendengar

-tidak -tidak

Isi dengan Ya atau Tidak

Garpu tala dengan frekuensi: ………… Hz

Pembahasan dan kesimpulan:


3. Percobaan Weber
Telinga kanan dan kiri mendengar suara sama Lateralisasi ke telinga
keras atau tidak?
Kiri Kanan
Garpu tala dengan frekuensi: ………… Hz

Pembahasan dan kesimpulan:

4. Percobaan Schwabach
Naracoba sudak tak mendengar suara Pembanding:

-mendengar suara

-tak mendengar suara

Garpu tala dengan frekuensi: ………… Hz

Pembahasan dan kesimpulan:


5. Percobaan Bing
Telinga Liang telinga ditutup:

-mendengar lebih keras

-tidak ada perubahan

Kiri

Kanan

Garpu tala dengan frekuensi: ………… Hz

Pembahasan dan kesimpulan:


Magetan, ………………………………………………

Pengawas ------------------
Praktikan

-------------------
Dari alamat: http://pemeriksaantespendengaran.blogspot.co.id/

Pemeriksaan Audiometri, Rinne, Weber test dan Scwabach test


LATAR BELAKANG
Suara adalah sensasi yang timbul apabila getaran longitudinal molekul di lingkungan
eksternal, yaitu masa pemadatan dan pelonggaran molekul yang terjadi berselang seling mengenai
memberan timpani. Plot gerakan-gerakan ini sebagai perubahan tekanan di memberan timpani
persatuan waktu adalah satuan gelombang, dan gerakan semacam itu dalam lingukangan secara
umum disebut gelombang suara.
Secara umum kekerasan suara berkaitan dengan amplitudo gelombang suara dan nada
berkaitan dengan prekuensi (jumlah gelombang persatuan waktu). Semakin besar suara semakin
besar amplitudo, semakin tinggi frekuensi dan semakin tinggi nada. Namun nada juga ditentukan
oleh factor - faktor lain yang belum sepenuhnya dipahami selain frekuensi dan frekuensi
mempengaruhi kekerasan, karena ambang pendengaran lebih rendah pada frekuensi dibandingkan
dengan frekuensi lain. Gelombang suara memiliki pola berulang, walaupun masing - masing
gelombang bersifat kompleks, didengar sebagai suara musik, getaran apriodik yang tidak berulang
menyebabakan sensasi bising. Sebagian dari suara musik bersala dari gelombang dan frekuensi
primer yang menentukan suara ditambah sejumla getaran harmonik yang menyebabkan suara
memiliki timbre yang khas. Variasi timbre mempengaruhi mengetahhi suara berbagai alat musik
walaupun alat tersebut memberikan nada yang sama. (William F.Gannong, 1998)
Telah diketahui bahwa adanya suatu suara akan menurunkan kemampuan seseorang
mendengar suara lain. Fenomena ini dikenal sebagai masking (penyamaran). Fenomena ini
diperkirakan disebabkan oleh refrakter relative atau absolute pada reseptor dan urat saraf pada
saraf audiotik yang sebelumnya teransang oleh ransangan lain. Tingkat suatu suara menutupi
suara lain berkaitan dengan nadanya. Kecuali pada lingkungan yang sangat kedap suara, Efek
penyamaran suara lata akan meningkatan ambang pendengaran dengan besar yang tertentu dan
dapat diukir.
Penyaluran suara prosesnya adalah telinga mengubah gelombang suara di lingkungan
eksternal menjadi potensi aksi di saraf pendengaran। Gelombang diubah oleh gendang telinga
dan tulang-tulang pendengaran menjadi gerakan-gerakan lempeng kaki stapes. Gerakan ini
menimbulkan gelombang dalam cairan telinga dalam. Efek gelombang pada organ Corti
menimbulkan potensial aksidi serat-serat saraf. (William F.Gannom,1998)

A. Anatomi system pendengaran (Telinga)

Merupakan organ pendengaran dan keseimbangan.Terdiri dari telinga luar, tengah dan
dalam. Telinga manusia menerima dan mentransmisikan gelombang bunyi ke otak dimana bunyi
tersebut akan di analisa dan di intrepretasikan. Cara paling mudah untuk menggambarkan fungsi
dari telinga adalah dengan menggambarkan cara bunyi dibawa dari permulaan sampai akhir dari
setiap bagian-bagian telinga yang berbeda.

Telinga mempunyai resptor bagi 2 modalitas reseptor sensorik :


1. Pendengaran (N. Coclearis)
Telinga dibagi menjadi 3 bagian :
Telinga luar

 Auricula
Mengumpulkan suara yang diterima
 Meatus Acusticus Eksternus
Menyalurkan atau meneruskan suara ke kanalis auditorius eksterna
 Canalis Auditorius Eksternus
Meneruskan suara ke memberan timpani
 Membran timpani
Sebagai resonator mengubah gelombang udara menjadi gelombang mekanik।

Telinga tengah

Telinga tengah adalah ruang berisi udara yang menghubungkan rongga hidung dan
tenggorokan dihubungkan melalui tuba eustachius, yang fungsinya menyamakan tekanan
udara pada kedua sisi gendang telinga. Tuba eustachius lazimnya dalam keadaan tertutup
akan tetapi dapat terbuka secara alami ketika anda menelan dan menguap. Setelah sampai
pada gendang telinga, gelombang suara akan menyebabkan bergetarnya gendang telinga,
lalu dengan perlahan disalurkan pada rangkaian tulang-tulang pendengaran. Tulang-
tulang yang saling berhubungan ini - sering disebut " martil, landasan, dan sanggurdi"-
secara mekanik menghubungkan gendang telinga dengan "tingkap lonjong" di telinga
dalam. Pergerakan dari oval window (tingkap lonjong) menyalurkan tekanan gelombang
dari bunyi kedalam telinga dalam.

Telinga tengah terdiri dari :

 Tuba auditorius (eustachius)


Penghubung faring dan cavum naso faringuntuk :
 Proteksi: melindungi ndari kuman
 Drainase: mengeluarkan cairan.
 Aerufungsi: menyamakan tekanan luar dan dalam.
 Tuba pendengaran (maleus, inkus, dan stapes)
Memperkuat gerakan mekanik dan memberan timpani untuk diteruskan ke foramen
ovale pada koklea sehingga perlimife pada skala vestibule akan berkembang.
Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari :

 Koklea
 Skala vestibule: mengandung perlimfe
 Skala media: mengandung endolimfe
 Skala timani: mengandung perlimfe
 Organo corti
Memngandung sel-sel rambut yang merupakan resseptor pendengaran di memberan
basilaris.

Telinga dalam dipenuhi oleh cairan dan terdiri dari "cochlea" berbentuk spiral
yang disebut rumah siput. Sepanjang jalur rumah siput terdiri dari 20.000 sel-sel rambut
yang mengubah getaran suara menjadi getaran-getaran saraf yang akan dikirim ke otak.
Di otak getaran tersebut akan di intrepertasi sebagai makna suatu bunyi. Hampir 90%
kasus gangguan pendengaran disebabkan oleh rusak atau lemahnya sel-sel rambut telinga
dalam secara perlahan. Hal ini dikarenakan pertambahan usia atau terpapar bising yang
keras secara terus menerus. Gangguan pendengaran yang diseperti ini biasa disebut
dengan sensorineural atau perseptif. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat menerima
semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk - sebagai contoh mengerti percakapan.
Efeknya hampir selalu sama, menjadi lebih sulit membedakan atau memilah pembicaraan
pada kondisi bising. Suara-suara nada tinggi tertentu seperti kicauan burung menghilang
bersamaan, orang-orang terlihat hanya seperti berguman dan anda sering meminta mereka
untuk mengulangi apa yang mereka katakan. Hal ini dikarenakan otak tidak dapat
menerima semua suara dan frekuensi yang diperlukan untuk sebagai contoh mengerti
percakapan. Contoh kecil seperti menghilangkan semua nada tinggi pada piano dan
meminta seseorang untuk memainkan sebuah melodi yang terkenal. Dengan hanya 6 atau
7 nada yang salah, melodi akan sulit untuk dikenali dan suaranya tidak benar secara
keseluruhan. Sekali sel-sel rambut telinga dalam mengalami kerusakan, tidak ada cara
apapun yang dapat memperbaikinya. Sebuah alat bantu dengar akan dapat membantu
menambah kemampuan mendengar anda. Andapun dapat membantu untuk menjaga agar
selanjutnya tidak menjadi lebih buruk dari keadaan saat ini dengan menghindari sering
terpapar oleh bising yang keras.

Keseimbangan (N. Vestibularis)


a. Canalis Semisirkularis
Canalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselarisasi anguler atau rotasional
kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir balik, atau memutar
kepala. Tiap – tiap telinga memiliki tiga kanalis semesirkularis yang tegak lurus satu sama
lain.
b. Utrikulus
Utrikulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara
kanalis semisirkularis dan koklea. Rambut–rambut pada sel rambut asertif di organ ini
menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya, yang gerakannya menyebabkan
perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut.
Sel-sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linear horizontal, tetapi tidak
memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan.
c. Sacculus
Sacculus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang di antara
kanalis semisirkularis dan koklea. Sacculus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus,
kecuali dia berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi
horizontal (misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap akselerasi atau deselerasi
loner vertical (misalnya melompat atau berada dalam elevator).

Fisiologi Pendengaran
Getaran suara ditangkap ol;eh telinga yang dialirkan ke telinga dan mengenai memberan
timpani, sehingga memberan timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang
pendengaran yang berhhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan perilimfe
dalam skala vestibui kemudian getaran diteruskan melalui Rissener yang mendorong endolimfe
dan memberan basal ke arah bawah, perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga
tingkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.
Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion Na menjadi
aliran listrik yang diteruskan ke cabang N.VIII yang kemudian neneruskan ransangan ke pusat
sensori pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis.
Kelainan /Ganggaun Fisiologi Telinga
1. Tuli konduktif
Karena kelainan ditelinga luaaar atau di telinga tengah
a. Kelainan telingna luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga,
sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumsripta, osteoma liang teling.
b. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan tuba
eustachius, dan dislokasi tulang pensdengaaran.
2. Tuli perseptif
Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system
saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan kemampuan
total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada :
a. Organo corti
b. Saraf : N.coclearis dan N.vestibularais
c. Pusat pendengaran otak
3. Tuli campuran
Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi
skunder (tuli persepsi juga).
Kekurangan Pendengaran
Yang dimaksud dengan kekurangan pendengaran adalah keadaan dimana seorang kurang
dpat mendengar dan mengerti suara atau percakpan yang didengar untuk mendiagnosis kurang
pendengaran. Sebagi dokter umum cukuplah memperhatikan keempat aspek penting berikuta ini :
 Penentuan pada penderita apakah ada kurang pendengaran atau tidak.
 Jenis kurang pendengaran
 Derajat kurang pendengaran
 Menentukan penyebab kurang pendengaran
1. Penentuan pada penderita apakah ada KP atau tidak
Dalam penentuan apakah ada KP atau tidak pada penderita hal penting yang harus
diperhatiakan adalah umur prnderita. Respon manusia terhadap suara atau percakapan
yang didengranya tergantung pada umur pertumbuhannya. Usia 6 tahun diambil sebagai
batas, kurang dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau percakapan berbeda-beda
tergantung umurnya, sedangkan lebih dari 6 tahun respon anak terhadap suara atau
percakapan yang didengar sama dengan orang dewasa karena luasnya aspek diagnostik
KP. Pad kedua golongan umur tersbut, maka dalam makalah ini yang diuraikan hanya
diagnosis KP pada anak-anak umur 6 tahun keatas dan dewasa.
2. Jenis KP
Jenis KP berdasarkan lokalisasi lesi :
a. KP jenis hantaran
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga luar dan atau telinga tengah.
b. KP jenis sensorineural
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga dalam (pada koklea dan N.VIII)
c. KP jenis campuran
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada telinga tengah dan telinga dalam.
d. KP jenis sentral
Lokalisasi gangguan atau lesi terletak pada nucleus auditorius dibatang otak sampai
dengan korteks otak.
e. KP jenis fungsional
Pada KP jenis ini tidak dijumpai adanya gangguan atau lesi organic pada system
pendengaran baik perifer maupun sentral, melainkan berdadasarkan adanya masalah
psikologis atau omosional.
Untuk KP jenis sentral dan fungsional mengingat masih terbatasnya pengetahuan
proses pendengara diwilayah trsebut, disamping masih belum banyak dikenal teknik
uji pendengaran yang dapat dimanfaatkan untuk bahan diagnostik, maka pada
makalah ini akan dibatasi pada diagnosis KP jenis hantaran sensorineural dan
campuran saja.
3. Menentukan penyebab KP
Menetukan penyebab KP merupakan hal yang paling sukar diantara kempat batasan atau
aspek tersebut diatas, untuk itu diperlukan :
a. Anamnesis yang luas dan cermat tentang riwayat terjadinya KP tersebut
b. Pemeriksaan umum dan khusus (telinga, hidung dan tenggorokan ) yang teliti.
c. Pemeriksaan penunjang (bila diperlukan seperti foto laboratorium)
Ada 4 cara yang dapat kita lakukan untuk mengetes fungsi pendengaran penderita,
yaitu :
a. Tes bisik
b. Tes bisik modifikasi
c. Tes garputala
d. Pemeriksaan audiometri

Tes Fungsi Pendengaran


Pemeriksaan audiometri

Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan
nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerphon. Pada sestiap frekuensi ditentukan
intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran
normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai
rentang nada yang paling terpengaruh.
a. Definisi
Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur
(uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman
pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan
anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran.
Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran
seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat
ketajaman pendengaran seseorang da[at dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang
yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu
bidang yang memerlukan ketajaman pendngaran.
Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan
pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :
1) Audiometri nada murni
Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat
menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000,
4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan
disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa
pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui
hntaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan
didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini
kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran
audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar
20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada muri.
Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi
20-20.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami
percakapan sehari-hari.
Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran

Kehilangan dalam Klasifikasi


Desibel

0-15 Pendengaran normal

>15-25 Kehilangan pendengaran kecil

>25-40 Kehilangan pendengaran ringan

>40-55 Kehilangan pendengaran sedang

>55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai berat


>70-90 Kehilangan pendengaran berat

>90 Kehilangan pendengaran berat sekali

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada


stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi yang berbeda-beda.
Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri
dari skala decibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) dan skala
skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan
adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction
menggambarkan SNHL.
2) Audiometri tutur
Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata
terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi,
untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Prinsip audiometri tutur
hampir sama dengan audiometri nada murni, hanya disni sebagai alat uji pendengaran
digunakan daftar kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut
dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan
dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang
diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau
pita rekaman, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur.
Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila
kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan,
pendengar diminta untuk mnebaknya. Pemeriksa mencatata presentase kata-kata yang
ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat
digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang
didengar, sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan
benar. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran
yaitu :
a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang
dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut
persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB).
b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi
(fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai
diskriminasi tutur atau NDT. Satuan pengukuran NDT itu adalah persentasi
maksimal kata-kata yang ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara
barapa saja. Dengan demikian, berbeda dengan audiometri nada murni pada
audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada tingkat nilai
ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya.
Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-kata
yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50% tidak
dapat menirukan kata-kata dengan tepat.
Kriteria orang tuli :
 Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB
 Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB
 Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB
 Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB
Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila
seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat
bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan oleh
ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat
hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena kita
memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada
gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian. Pada audiometri tutur, memng
kata-kata tertentu dengan vocal dan konsonan tertentu yang dipaparkan
kependrita. Intensitas pad pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila
tidak mendengar 40 dB dan seterusnya, bila mendengar intensitas bisa diturunkan
0 dB, berarti pendengaran baik. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja
perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam telinga),
apakah ada kotoran telinga (serumen), apakah ada lubang gendang telinga, untuk
menentukan penyabab kurang pendengaran.
b. Manfaat audiometri
1) Untuk kedokteran klinik, khususnya penyakit telinga
2) Untuk kedokteran klinik Kehakiman,tuntutan ganti rugi
3) Untuk kedokteran klinik Pencegahan, deteksi ktulian pada anak-anak
c. Tujuan
Ada empat tujuan (Davis, 1978) :
1) Mediagnostik penyakit telinga
2) Mengukur kemampuan pendengaran dalam menagkap percakpan sehari-hari, atau
dengan kata lain validitas sosial pendengaran : untuk tugas dan pekerjaan, apakah
butuh alat pembantu mendengar atau pndidikan khusus, ganti rugi (misalnya dalam
bidang kedokteran kehkiman dan asuransi).
3) Skrinig anak balita dan SD
4) Memonitor untuk pekerja-pekerja dinetpat bising.
1. Test Rinne
Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan
hantaran udara pada satu telinga pasien.
Ada 2 macam tes rinne , yaitu :
a. Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada
planum mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak
mendengar bunyinya, segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus
eksternus pasien. Tes Rinne positif jika pasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes
rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya
b. Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak
lurus pada planum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus
eksternus. Kita menanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus
akustikus eksternus lebih keras dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum
mastoid). Tes rinne positif jika pasien mendengar didepan maetus akustikus eksternus
lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien mendengar didepan meatus akustikus
eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.
Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :
1) Normal : tes rinne positif
2) Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)
3) Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :
a) Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.
b) Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)
c) Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang
mendengar justru telinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.
Kesalahan pemeriksaan pada tes rinne dapat terjadi baik berasal dari pemeriksa maupun
pasien. Kesalah dari pemeriksa misalnya meletakkan garputala tidak tegak lurus, tangkai
garputala mengenai rambut pasien dan kaki garputala mengenai aurikulum pasien. Juga bisa
karena jaringan lemak planum mastoid pasien tebal.
Kesalahan dari pasien misalnya pasien lambat memberikan isyarat bahwa ia sudah tidak
mendengar bunyi garputala saat kita menempatkan garputala di planum mastoid pasien.
Akibatnya getaran kedua kaki garputala sudah berhenti saat kita memindahkan garputala
kedepan meatus akustukus eksternus.
2. Test Weber
Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara
kedua telinga pasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala512 Hz
lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana
yang mendengar atau mendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar
lebih keras 1 telinga maka terjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien sama-
sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.
Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan
terdengar diseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani
missal:otitis media purulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum
timpani ini akan bergetar, biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.
Interpretasi:
a. Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai ke
kanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya.
b. Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:
1) Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan.
2) Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat.
3) Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar
sebelah kanan.
4) Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada
sebelah kanan.
5) Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat.
3. Test Swabach
Tujuan :
Membandingkan daya transport melalui tulang mastoid antara pemeriksa (normal) dengan
probandus.
Dasar :
Gelombang-gelombang dalam endolymphe dapat ditimbulkan oleh :
Getaran yang datang melalui udara. Getaran yang datang melalui tengkorak, khususnya osteo
temporale

Cara Kerja :

Penguji meletakkan pangkal garputala yang sudah digetarkan pada puncak kepala
probandus. Probandus akan mendengar suara garputala itu makin lama makin melemah dan
akhirnya tidak mendengar suara garputala lagi. Pada saat garputala tidak mendengar suara
garputala, maka penguji akan segera memindahkan garputala itu, ke puncak kepala orang
yang diketahui normal ketajaman pendengarannya (pembanding). Bagi pembanding dua
kemungkinan dapat terjadi : akan mendengar suara, atau tidak mendengar suara.

Bisa buka link: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/197710132005012-


EUIS_HERYATI/PENGUKURAN_FUNGSI_PENDENGARAN_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf