Anda di halaman 1dari 26

EKSTRAKSI SAMPEL 2015

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pohon Waru, meskipun jarang ditengok dan dipedulikan orang,

pohon ini sebenarnya banyak tumbuh di pinggir jalan. Sebagai pohon

peneduh di tepi-tepi jalan raya, tepi sungai, pematang hingga berderet

tumbuh di tepi pantai. Waru juga bisa tumbuh liar di hutan dan di ladang.

Bentuknya tinggi, berdaun kasar, tidak menarik untuk di lihat.

Bunganya kuningnya cukup mencolok meski bagi penggemar bunga, pasti

tidak ingin memetiknya. Selain tinggi untuk di capai, juga tidak wangi.

Tapi, mulai saat ini Anda harus peduli karena di balik

ketidakmenarikkannya itu, tersimpan banyak khasiat sebagai pengobatan

herbal. Mulai dari akar, kayu, daun, maupun bunganya.

Pada tanah yang subur, pohon Waru batangnya tumbuh lurus. Tapi

pada tanah yang tidak subur, batangnya tumbuh membengkok,

bercabang, dan daun-daunnya lebih lebar. tingginya 5-15

meter.

Kemampuan bertahannya tinggi karena toleran terhadap kondisi

kering maupun kondisi tergenang. Tumbuhan ini tumbuh baik di daeerah

panas dengan curah hujan 800 - 2000 mm. Waru biasa di temui di daerah

pesisir pantai yang berpasir, hutan bakau, dan juga di wilayah riparian.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

Batang Waru berkayu, bulat, bercabang, dan berwarna cokelat.

Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur,

Pertulangan menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut, abu-abu

rapat. Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah,

berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam, berubah

menjadi kuning merah, dan akhirnya menjadi kemerah-merahan. Buahnya

bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna

cokelat. Biji kecil, berwarna cokelat muda. Waru dapat diperbanyak

dengan biji dan atau stek.

Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat

padat ke dalam pelarut, Komponen-komponen kimia yang terkandung di

dalam bahan organik seperti yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan

sangat dibutuhkan untuk bahan obat-obatan.

Umumnya zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan maupun

hewan lebih mudah tarut dalam petarut organik. Proses terekstraksinya

zat aktif dimulai ketika pelarut organik menembus dinding sel dan masuk

ke dalam rongga set yang mengandung zat aktif, zat aktif akan terlarut

sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam

sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi ke

luar sel, dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan

antara konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

B. Maksud & Tujuan Percobaan

1. Maksud

Adapaun maksud dari percobaan ini adalah untuk melakukan

proses ekstraksi pada sampel daun waru (Hibiscus tiliaceus L).

2. Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan

memahani metode-metode ekstraksi dengan cara maserasi, refluks,

perkolasi dan destilasi uap air pada sampel daun waru (Hibiscus

tiliaceus L).

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Tanaman Waru (Hibiscus tiliaceus L)

1. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Subregnum : Viridiplantae

Infraregnum : Streptophyta

Superdivision : Embryophyta

Division : Tracheophyta

Subdivision : Spermatophytina

Class : Magnoliopsida

Superorder : Rosanae

Order : Malvales

Family : Malvaceae

Genus : Hibiscus

Species : Hibiscus tiliaceus L. (Interagency Taxonomic

Information System, 2015).

Spesifikasi tanaman

Tumbuhan tropis berbatang sedang, terutama tumbuh di

pantai yang tidak berawa atau di dekat pesisir. Waru tumbuhya

liar di hutan dan di ladang, kadang-kadang ditanam di pekarangan

atau di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Pada tanah yang subur,

batangnya lurus, tetapi pada tanah yang tidak subur batangnya

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

tumbuh membengkok, percabangan dan daun-daunnya lebih lebar

(Dalimartha, 2004).

Tinggi pohon sekitar 5-15 m. Batang berkayu, bulat,

bercabang, warnanya coklat. Daun bertangkai, tunggal, berbentuk

jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19 cm. Pertulangan

menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut abu-abu rapat.

Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah,

berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam,

berubah menjadi kuning merah, dan akhirnya menjadi kemerah-

merahan. Buah bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang

sekitar 3 cm, berwarna coklat. Biji kecil berwarna coklat muda

(Dalimartha, 2004).

2. Sifat dan Khasiat

Daun berkhasiat antiradang, antitoksik, ekspektoran, dan

berefek diuretik. Akar berkhasiat sebagai antipiretik dan peluruh

haid (Dalimartha, 2004).

3. Kandungan Kimia

Daun mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol,

sedangkan akarnya mengandung saponin, flavonoid, dan tanin

(Dalimartha, 2004).

4. Nama Daerah

Nama daerah. Enggano : Kloko – Aceh: Siran – Gayo: Baru –

Simalur: Buluh (Tapah) – Nias: Bou – Mentawai: Tobe – Ind : Bauk

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

(Timor), Baru, Beruk (Belitung), Melanding (Bangka) waru – Sunda:

Waru, W. laut, W. lot – Jawa: Waru, W. laut, W.lenga, W. lengis,

W.lisah, W. rangkang, Wande (kr.d.)- Mad: Baru – Bal : Waru – Bima:

Wau – sumba: Baru, Kebaru (tim.), Kawengo (Laura) – Flores; Waru

(Lio), Lago (Sika) – Alor (Pantar): Wau – Sangir: Balebirang – Sulaw.

Ut. Alf: Bahu (bent.), Bagu (bant), Molombahu (Ponos), Wahu (t.b.),

Kelimbaunan (t.I.), Bau dan Kalimbauang (t.t.), Barukh (tonsaw) –

Goront: Molowahu – Buol: Lamagu – Barbee: Molowagu – Mak: Baru

– Bug: Waru – Roti: Bau –Timor: Fau (baf.), Aikfau (tetum) – Wetar:

Hau al – Kai: War – Seram Bar: Papatale (Piru) Haru (Elpaputi), Palu

(Waraka), Faru (Atamano) – Seram Sel : Haaro (Amahai), Fanu

(Nuaulu), Haru (Sepa) – Amb. Alif : Halu (Hila) – Ulias: Haru (Har.),

Kala (Nusa laut, sap.) – Buru: Balo (Kayell) - Halmah. Sel : pa

(Weda) – Ir. Jay. Bar : Kasyanaf (Kalana fat) – Ir. Jay. Sel.: Iwal

(mimika dan sungai-sungai Afrika), Wakati (marind)- Halmah. Ut: Baru,

Bebaru (loda)- Ternate: Baru dowongi - Tidore: id (Heyne, 1987).

B. Uraian Ekstraksi

Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat

padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan

antar muka, kemudian berdifusi ke dalam pelarut dan setelah pelarut

diuapkan maka zat aktifnya akan diperoleh (Adrian, 2000).

Tujuan Ekstraksi yaitu penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif

dari bagian tanaman obat, hewan dan beberapa jenis hewan termasuk

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

biota laut. Komponen kimia yang terdapat pada tanaman, hewan dan

beberapa jenis ikan pada umumnya mengandung senyawa-senyawa yang

mudah larut dalam pelarut organik (Adrian, 2000).

Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman

adalah pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam

rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut

organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan

proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara

konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel (Adrian, 2000).

Macam – macam cairan penyari (Rohman, 2007) :

a. Air

Termasuk yang mudah dan murah dengan pemakaian yang luas,

pada suhu kamar adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat

misalnya : garam-garam alkaloida, glikosida, asam tumbuh-tumbuhan, zat

warna dan garam-garam mineral.

Umumnya kenaikan suhu dapat menaikkan kelarutan dengan

pengecualian misalnya pada condurangin, Ca hidrat, garam glauber dll.

Keburukan dari air adalah banyak jenis zat-zat yang tertarik dimana zat-

zat tersebut meripakan makanan yang baik untuk jamur atau bakteri dan

dapat menyebabkan mengembangkan simplisia sedemikian rupa,

sehingga akan menyulitkan penarikan pada perkolasi.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

b. Etanol

Etanol hanya dapat melarutkan zat-zat tertentu, Umumnya pelarut

yang baik untuk alkaloida, glikosida, damar-damar, minyak atsiri tetapi

bukan untuk jenis-jenis gom, gula dan albumin. Etanol juga menyebabkan

enzym-enzym tidak bekerja termasuk peragian dan menghalangi

perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri. Sehingga disamping

sebagai cairan penyari juga berguna sebagai pengawet. Campuran air-

etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari pada air sendiri.

c. Gycerinum (Gliserin)

Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan

menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak.

Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil

oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin juga larut dalam gliserin. Karena

cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering.

d. Eter

Sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk

pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya

disimpan lama.

e. Solvent Hexane

Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah

kasar. Pelarut yang baik untuk lemak-lemak dan minyak-minyak. Biasanya

dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan, sebelum simplisia

tersebut dibuat sediaan galenik, misalnya strychni, secale cornutum.

f. Acetonum

Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang

baik untuk bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang

enak dan sukar hilang dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan

Capsicum oleoresin (N.F.XI)

g. Chloroform

Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek

farmakologinya. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar,

minyak lemak dan minyak atsiri.

h. Diklorometana

Diklorometana (CH2Cl2) adalah pelarut organik sering menggunakan

untuk mengekstrak senyawa organik dari sampel. Ini adalah racun tapi

lebih sedikit daripada kloroform.

Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan adalah (Tobo,

2001) :

a. Secara panas seperti refluks dan destilasi uap air karena sampel

langsung dipanaskan dengan pelarut; dimana umumnya digunakan

untuk sampel yang mempunyai bentuk dan dinding sel yang tebal.

b. Secara dingin misalnya maserasi, perkolasi, dan soxhlet. Dimana untuk

maserasi dilakukan dengan cara merendam simplisia, sedangkan

soxhlet dengan cara cairam penyari dipanaskan dan uap cairan penyari

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

naik ke kondensor kemudian terjadi kondensasi dan turun menyari

simplisia.

Adapun cara-cara ekstraksi adalah :

1. Maserasi

Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana,

yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan

penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar terlindung dari

cahaya (Adrian, 2000).

Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang

mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,

tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin (Adrian, 2000).

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara

pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah

diusahakan (Adrian, 2000).

Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan

penyariannya kurang sempurna (Adrian, 2000).

Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya (Adrian, 2000):

1. Digesti

Digesti adalah cara maserasi dengan menggunakan

pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40 – 50oC. Cara

maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat

aktifnya tahan terhadap pemanasan. Dengan pemanasan

akan diperoleh keuntungan antara lain kekentalan pelarut

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya

lapisan-lapisan batas, daya melarutkan cairan penyari akan

meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai

pengaruh yang sama dengan pengadukan, koefisien difusi

berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding

terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan

berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat

aktif akan meningkat bila suhu dinaikkan.

2. Maserasi dengan mesin pengaduk

Penggunaan mesin pengaduk yang berputar terus- menerus,

waktu proses maserasi dapat dipersingkat menjadi 6 sampai

24 jam.

3. Remaserasi

Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi

dengan cairan penyari pertama, sesudah dienaptuangkan

dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari

yang kedua.

4. Maserasi melingkar

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar

cairan penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara

ini penyari selalu mengalir kembali secara

berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan

melarutkan zat aktifnya. Keuntungan cara ini :

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

1. Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas.

2. Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam,

sehingga akan memperkecil kepekatan setempat.

3. Waktu yang diperlukan lebih pendek.

5. Maserasi melingkar bertingkat

Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat

dilaksanakan secara sempurna, karena pemindahan massa

akan berhenti bila keseimbangan telah terjadi. Masalah ini

dapat diatas dengan maserasi melingkar bertingkat.

2. Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan

mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah

dibasahi. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain : gaya

berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa,

adesi, daya kapiler dan daya gesekan (friksi) (Tobo, 2001).

Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator,

cairan yang digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau

menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut

sari/perkolat, sedang sisa setelah dilakukannnya penyarian disebut

ampas atau sisa perkolasi(Tobo, 2001).

Cara perkolator lebih baik dibandingkan dengan cara

maserasi karena (Tobo, 2001) :

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

a. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan

yang terjadi dengan larutan yang konsentasinya lebih rendah,

sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.

b. Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk

saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran

kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk

mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan

perbedaan konsentrasi.

Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada

pembuatan sari, maka cara perkolasi diganti dengan cara

reperkolasi. Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan

tidak dalam kadar yang maksimal (Tobo, 2001).

Bentuk perkolator ada 3 macam yaitu perkolator berbentuk

tabung, perkolator berbentuk paruh dan perkolator berbentuk

corong. Pemilihan perkolator bergantung pada jenis serbuk

simplisia yang akan disari. Serbuk kina yang mengandung

sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi

dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera

menjadi pekat dan berhenti mengalir. Pada pembuatan tingtur dan

ekstrak cair, jumlah cairan penyari yang diperlukan untuk

melarutkan zat aktif. Pada keadaan tersebut, pembuatan sediaan

digunakan perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi

(Tobo, 2001).

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

3.Soxhletasi

Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara

berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan hingga menguap,

uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul cairan oleh

pendingin balik dan turun menyari simplisia di dalam klonsong dan

selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah

melewati pipa siphon, proses ini berlangsung hingga proses

penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan beningnya

cairan penyari yang melalui pipa siphon tersebut atau jika

diidentifikasi dengan KLT tidak memberikan noda lagi (Adrian,

2000).

Keuntungannya cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit

dan lebih pekat. Penyarian dapat diteruskan sesuai dengan

keperluan, tanpa menambah volume cairan penyari. Kerugiannya :

larutan dipanaskan terus-menerus, sehingga zat aktif yang tidak

tahan pemanasan kurang cocok (Adrian, 2000).

Metode soxhlet bila dilihat secara keseluruhan termasuk cara

panas namun proses ekstraksinya secara dingin, sehingga metode

soxhlet digolongkan dalam cara dingin (Tobo, 2001).

Keuntungan metode refluks (Adrian, 2000) :

a. Cairan penyari yang diperlukan lebih sedikit dan secara

langsung diperoleh hasil yang lebih pekat.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

b. Serbuk simplisia disari oleh cairan penyari yang murni, sehingga

dapat menyari zat aktif lebih banyak.

Simplisia yang biasa diekstraksi dengan cara ini adalah

simplisia yang mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap

pemanasan dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar,

batang, buah/biji dan herba (Adrian, 2000).

4. Destilasi Uap Air

Destilasi uap dapat dipertimbangkan untuk menyari serbuk

simplisia yang mengandung komponen yang mempunyai titik didih

tinggi pada tekanan udara normal. Pada pemanasan biasa

kemungkinan akan terjadi kerusakan zat aktifnya. Untuk mencegah

hal tersebut maka penyarian dilakukan dengan destilasi uap (Tobo,

2001).

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

BAB III

PROSEDUR KERJA

A. Alat & Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah batang

pengaduk, bejana maserasi, corong kaca, mantel pemanas, perkolator,

seperangkat alat refluks, dan seperangkat alat soxhlet.

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah

etanol, kertas saring, dan serbuk simplisia daun waru (Hibiscus

tiliaceus).

B. Cara Kerja (Anonim, 2015)

1. Maserasi

Maserasi dilakukan dengan cara memasukkan serbuk simplisia

dengan derajat halus tertentu sebanyak 10 bagian kedalam bejana

maserasi (toples), kemudian ditambah 75 bagian cairan penyari,

ditutup dan dibiarkan selama 3 hari pada temperatur kamar terlindung

dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setekah 3 hari, disaring ke

dalam bejana penampung, kemudian ampas diperas dan ditambah

cairan penyari lagi secukupnya dan diaduk kemudian disaring lagi

sehingga diperoleh sari yang maksimal. Sari yang diperoleh

dipekatkan dengan rotavator.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

2. Perkolasi

Simplisia atau bahan yang diekstraksi secara perkolasi

diserbuk dengan derajat halus yang sesuai dan ditimbang kemudian

dimaserasi selama 3 jam, kemudian massa dipindahkan kedalam

perkolator dan cairan penyari ditambahkan hingga selapis diatas

permukaan bahan, didiamkan selama 24 jam. Setelah itu kran

perkolator dibuka dan cairan penyari dibiarkan mengalir dengan

kecepatan 1 ml permenit. Cairan penyari ditambahkan secara kontinyu

hingga penyarian sempurna. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan

dan dipekatkan dengan rotavator kemudian dilakukan pengujian

selanjutnya.

3. Soxhletasi

Simplisia atau bahan yang akan diekstraksi terlebi dahulu

diserbukkan dan ditimbang kedalam klonsong yang telah dilapisi

kertas saring sedemikian rupa (tinggi sample dalam klonsong tidak

boleh lebih tinggi dari pipa siphon). Selanjutnya labu alas bulat diisi

dengan cairan penyari yang sesuai, kemudian ditempatkan diatas

mantel, kemudian klonsong yang telah dilapisi sampel dipasang pada

labu alas bulat yang dikuatkan dengan klem, dan cairan penyari

ditambahkan untuk membasahi sampel yang ada dalam klonsong.

Mantel disambungkan ke sumber arus listrik kemudian di stel pada

suhu yang sesuai. Biarkan cairan penyari tersirkulasi sampai ekstraksi

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

berlangsung sempurna. Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan

dipekatkan pada alat rotavator.

4. Refluks

Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan penyari

dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak

(kondensor lurus), kemudian ditempatkan diatas mantel dan

disambungkan ke sumber arus listrik kemudian di stel pada suhu yang

sesuai sampai mendidih. Cairan penyari akan mengua, uap tersebut

akan dikondensasikan oleh pendingin balik sehingga mengalami

kondensasi menjadi molekul-molekul cairan. Proses ekstraksi

berlangsung secara berkesinambungan. Lakukan 3 kali dan setiap kali

ekstraksi selama 4 jam.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

No. Pengamatan Daun Waru (Hibiscus tiliaceus L)


Metode Maserasi Metode Refluks
1. Bobot sebelum diekstraksi (g) 400 gram 50 gram
2. Bobot ekstrak kering (g) 28,428 gram 23,244 gram
3. Presentase ekstrak (%)/rendamen 56,836 gram` 5,811 gram
4. Jumlah cairan penyari (mL) 1250 mL 500 mL
5. Jumlah ekstrak cair (mL) 640 mL 390 mL
Perhitungan :

1. Metode Refluks

Bobot ekstrak kering = (Bobot capor + sampel) – capor kosong

= 76, 23 – 50,802

= 28, 428 gram

Bobot ekstrak kering


% Rendamen = × 100%
Bobot sebelum diekstraksi

28,428 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100%
50 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 56, 836 %

2. Metode Maserasi

Bobot ekstrak kering = (Bobot capor + sampel) – capor kosong

= 81, 2990 – 58,055

= 23, 244 gram

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

Bobot ekstrak kering


% Rendamen = × 100%
Bobot sebelum diekstraksi

23,244 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100%
400 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 5,811 %

B. Pembahasan

Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat

maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat

mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.

Tujuan Ekstraksi yaitu penyarian komponen kimia atau zat-zat aktif dari

bagian tanaman obat.

Pada pembuatan ekstrak daun waru dengan menggunakan

metode maserasi digunakan serbuk simplisia sebanyak 400 gram dan

digunakan cairan penyari etanol sebanyak 1250 mL. Setelah dimaserasi

selama lebih dari tiga hari diperoleh juga ekstrak cair sebanyak 640 mL.

Setelah ekstrak dikeringkan dan ditimbang ekstrak keringnya 28,428

gram.

Dengan menggunakan metode refluks digunakan serbuk simplisia

sebanyak 50 gram dan cairan penyari metanol sebanyak 500 mL. Setelah

dimaserasi selama lebih dari tiga hari diperoleh juga ekstrak cair sebanyak

390 mL. Setelah ekstrak dikeringkan dan ditimbang ekstrak keringnya 23,

244 gram.

Etanol juga menyebabkan enzym-enzym tidak bekerja termasuk

peragian dan menghalangi perutumbuhan jamur dan kebanyakan bakteri.

Sehingga disamping sebagai cairan penyari juga berguna sebagai

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

pengawet. Campuran air-etanol (hidroalkoholic menstrum) lebih baik dari

pada air sendiri.

Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara

pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan kerugian cara

maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang

sempurna.

Keuntungan metode soxhletasi adalah cairan penyari yang

diperlukan lebih sedikit dan lebih pekat. Penyarian dapat diteruskan

sesuai dengan keperluan, tanpa menambah volume cairan penyari.

Kerugiannya adalah larutan dipanaskan terus-menerus, sehingga zat aktif

yang tidak tahan pemanasan kurang cocok.

Keuntungan dari metode refluks adalah digunakan untuk

mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, dan Tahan

pemanasan langsung. Kerugian dari metode refluks adalah membutuhkan

volume total pelarut yang besar.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada percobaan ini adalah pada metode

maserasi % rendamennya adalah 56, 836 % dan pada metode refluks %

rendamennya adalah 5,811 %

B. Saran

Diharapa kn selama praktikum berlangsung, ketertiban dan

kedisiplinan ditingkatkan agar proses praktikum dapat berjalan dengan

lancar dan tenang.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Rohman., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar,


Yogyakarta.
Adrian, Peyne., 2000, Analisa Ekstraktif Tumbuhan Sebagai Sumber
Bahan Obat, Pusat Penelitian, Universitas Negeri Andalas.

Anonim., 2015, Penuntun dan Buku Kerja Praktikum Fitokmia I,


Laboratorium Bahan Alam Fakultas Farmasi, Makassar.

Dalimartha., 2004, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Trobus Agriwidya :


Bogor.
Heyne., 1987, Tumbuhan berguna Indonesia. Badan Litbang kehutanan :
Jakarta.

Interagency Taxonomic Information System. 2015. ITIS Standart


ReportPage:Culex.http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?
search_topic=TSN&search_value=182359 Diakses pada tanggal
14 oktober 2015.

Sitorus, Marham., 2010, Kimia Organik Umum, Graha Ilmu : Yogyakarta.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

SKEMA KERJA
1. Maserasi

Masukkan serbuk simplisia kedalam bejana maserasi 10 bagian

Ditambah cairan penyari 75 bagian

Ditutup dan dibiarkan 3 hari

Disaring

Ampas disaring

Ditambah cairan penyari lagi

Diaduk dan disaring lagi

Sari dipekatkan

2. Perkolasi

Simplisia ditimbang

dimaserasi selama 3 jam

dipindahkan kedalam perkolator

cairan penyari ditambahkan

didiamkan selama 24 jam.

Setelah itu kran perkolator dibuka dan cairan

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

penyari dibiarkan mengalir dengan kecepatan 1 ml permenit.

Cairan penyari ditambahkan secara kontinyu

Sari dipekatkan

3. Soxhletasi

Simplisia diserbukkan

ditimbang kedalam klonsong yang telah dilapisi kertas saring

labu alas bulat diisi dengan cairan penyari

ditempatkan diatas mantel

klonsong yang telah dilapisi sampel dipasang pada labu alas bulat

cairan penyari ditambahkan

Mantel di stel pada suhu yang sesuai

Biarkan cairan penyari tersirkulasi sampai ekstraksi berlangsung

sempurna

Ekstrak yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan pada alat

rotavator.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106
EKSTRAKSI SAMPEL 2015

4. Refluks

Bahan direndam dengan cairan penyari dalam labu alas bulat

disiapkan kondensor lurus

ditempatkan diatas mantel di stel pada suhu yang sesuai sampai

mendidih

. Cairan penyari akan menguap

uap tersebut akan dikondensasikan oleh pendingin balik sehingga

mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan

Proses ekstraksi berlangsung secara berkesinambungan

Lakukan 3 kali dan setiap kali ekstraksi selama 4 jam.

SUNARTI SYAM NUR REZKY KHAIRUN NISAA., S.Farm


15020130106