Anda di halaman 1dari 23

Konsep

Patofisiologi
Ns. Wirda Faswita, M.Kep.
Defenisi
 Patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang
perubahan fisiologi yang diakibatkan oleh proses
patologis
 Gangguan dalam proses seluler normal mengakibatkan
perubahan adaptif atau letal
 Perbedaan anatara sel yang sanggup beradaptasi
dengan sel yang cedera adalah pada dapat atau
tidaknya sel itu mengikuti dan mengatasi atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah
dan merusak itu.
 Sel cedera menunjukkan perubahan-perubahan yang
dapat mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh dan
bermanifestasi sebagai penyakit.
SEL
 Sel adalah unit struktural dan fungsional dari tubuh
yang memberikan dasar untuk kehidupan.
 Semua proses patofisiologis menunjukkan perubahan
pada fungsi normal seluler.
 Sel merupakan unit struktural yang membentuk jaringan
 Sel bervariasi dalam ukuran dan isinya sesuai dengan
fungsinya yang bervariasi pula
 Pada dasarnya, semua sel terdiri dari membran sel,
sitoplasma, nukleus dan nuklelolus.
 Sel-sel menyusun unit-unit jaringan, organ dan sistem
tubuh manusia.
 Tubuh manusia mengandung lebih dari 75 triliun sel,
yang masing-masing menjalankan fungsi khusus.
 Fungsi-fungsi ini ditentukan oleh diferensiasi genetik
dan dikendalikan oleh sistem informasi khusus yang
sangat tinggi yang mengarahkan aktivitas organel
seluler.
Stimulus pnyebab cedera
atau adaptasi seluler
 Karena sel secara konstan mengadakan penyesuaian
terhadap perubahan dan lingkungan yang mengganggu,
beberapa agens secara kuat dapat menyebabkan cedera
atau adaptasi seluler.
 Stimulus yang dapat mempengaruhi tubuh manusia
dikategorikan sebagai agens fisik, agens kimiawi,
mikroorganisme, hipoksia, defek genetik,
ketidakseimbangan nutrisi dan reaksi imunologis.
Perubahan intraseluler dan
ekstraseluler akibat atau cedera
seluler
 Akumulasi intraseluler sering diakibatkan oleh perubahan
lingkungan atau ketidakmampuan sel untuk memproses material
 Substasi normal atau abnormal yang tidak dapat dimetabolisme
dapat terakumulasi di dalam sitoplasma
 Substansi ini dapat berupa endogen (dihasilkan dalam tubuh) atau
eksogen (dihasilkan oleh lingkungan), dan substansi ini disimpan
oleh sel yang pada awalnya normal.
 Contoh substansi eksogen: partikel karbon, partikel silika, partikel
logam yang ditimbun dan diakumulasi karena sel tidak dapat
menghancurkan atau memindahkannya ke tempat lain.
 Perubahan umum di dalam dan di sekitar sel mencakup
pembengkakan, akumulasi lipid dalam organ, penyebaran radikal
bebas, penimbunan glikogen, pigmentasi, kalsifikasi dan infiltrasi
hialin. Perubahan ini dapat membaik atau menjadi permanen.
Pembengkakan seluler

 Pembengakan seluler hidpropik adalah akibat gangguan


metabolisme seluler. Keadaan ini paling sering terjadi
pada hipoksia selular, yang merusak kemampuan sel
untuk mensintesis trifosfat (ATP)
 Air di dalam sitoplasma bertambah , sehingga sel-sel itu
membengkak dan organ yang bersangkutan dapat
membengkak
 Keadaan yang lebih berat disebut degenerasi hidropik.
 Pembengkakan seluler sering bersifat reversibel bila
oksigen yang cukup diberikan pada sel dan sintesis ATP
kembali normal.
Akumulasi Lemak

 Akumulasi lemak merupakan proses perubahan yang terjadi di


dalam sitoplasma sel parenkim organ tertentu (mis: hati, jantung,
ginjal).
 Keadaan ini dapat mengakibatkan atau merangsang terjadinya
nekrosis, fibrosis dan pembentukan parut pada organ yang
bersangkutan.
 Ini dapat mengganggun fungsi organ yang bersangkutan. Yang
berhubungan dengan akumulasi lipid intraseluler adalah infiltrasi
lemak intrestisial, suatu kondsi yang terjadi pada obesistas.
 Akumulasi sel lemak di antara sel-sel parenkin suatu organ,
,kemungkinan sebagai akibat dari transformasi sel jaringan
penyambung intersitisial ke dalam sel lemak.
 Kondisi ini jarang mempengaruh fungsi organ dan paling sering
terdapat pada jantung dan pankreas pada individu yang sangat
gemuk.
Penimbunan glikogen

 glikogen adalah bentuk simpanan glukosa yang diproduksi


dan disimpan dalam hati
 Normalnya, glikogen dapat dengan cepat dipecah menjadi
bentuk glukosa untuk membentuk energi
 Penimbunan glikogen berlebihan dalam jaringan dan organ
terjadi pada penyakit penimbunan glikogen akibat kelainan
genetik resesif autosom
 Satu kelompok gangguan, yang disebut glikogenoses oleh
defisiensi enzim khusus
 Bentuk lain dari akumulasi glikogen terdapat di dalam otot
rangka dan jantung, serta pada hati dan ginjal
 Gangguan glikogen juga terjado pada pasien diabetes
melitus (DM) , gangguan ini dihubungkan dengan defisiensi
hormon pankreas, insulin.
Pigmentasi

 Pigmen adalah substansi yang mempunyai warna dan


terakumulasi di dalam sel.
 Pigmen sering digabarkan berdasarkan sumber atau
asalnya: eksogen (berasalah dari luar tubuh) atau
endogen (dihasilkan di dalam tubuh).
 Pigmen eksogen paling umum berasal dari inhalasi
partikel karbon organik
 Partikel ini terakumulasi di dalam makrofag dan
lomfonodus jaringan paru, yang menghasilkan
penampilan kehitaman pada paru yang disebut
anthracosis.
 Pigmentasi disebabkan penimbunan pigmen di dalam
sel. Pigmentasi lipofucsin pada kulit umu terjadi pada
lansia. Juga pada otak, hati, jantung dan ovarim.
Pigmen ini agaknya tidak mengganggu fungsi.
Perkapuran

 Perkapuran patologik dapat timbul di kulit, jaringan


lunak, pembuluh darah, jantung dan ginjal.
 Normalnya perkapuran hanya terjadi di tulang dan gigi
 Perkapuran dapat juga terjadi di daerah radang
menahun atau daerah jaringan mati yang
berdegenerasi: perkapuran di daerah yang
penyembuhan yang terganggu disebut kalsifikasi
distrofik
 Bila ada kelebihan Kalsium yang beredar, disertai
adanya gangguan keseimbangan Ca, Fosfor dapat terjadi
kalsifikasi metastatik (dalam ginjal pembuluh darah,
jaringan ikat)
Infiltrasi hialin

 Kata hialin adalah untuk menunjukkan


perubahan khas di dalam sel atau ruang
ekstraseluler, yang pada sediaan histologi
tampak homogen, seperti kaca dan merah
muda.
 Karena hialin tidak menunjukkan pola
akumulasi khusus, mekanisme
pembentukan intraseluler dan
ekstraseluler berbeda
 Perubahan hialin intraseluler dapat
mencakup kelebihan jumlah protein,
kumpulan imunoglobulin, nukleoprotein
Perubahan selular akibat
stimulus berbahaya
 Pada beberapa keadaan, sel mengalami perubahan
nyata untuk berdaptasi pada agens berbahaya.
Perubahan ini sering dimanifestasikan sebagai atrofi,
displasia, hipertorfi, hiperplasia dan metaplasia serta
displasia. Adaptasi ini adalah metode yang digunakan
oleh sel-sel untuk tetap hidup dan menyesaikan beban
kerja dengan kebutuhan.
Atrofi

 Atrofi menunjukkan adanya penciutan ukuran sel akibat


kurang aktif, terputusnya saraf pemasok, pengurangan
pemasokan darah, kekurangan nutrisi atau hilangnya
rangsangan hormonal.
 Secara fisiologis terjadi akibat proses penuaan pada
banyak tempat.
 Contoh atrofi fisiologi terlihat pada tims pada remaja
dan uterus sesudah menopause.
 Disuse atrophy umumnya terjadi pada tungkai yang
diimobilisasi dengan gibs (karena fraktur). Penurunan
beban kerja pada otot yang sakit mengakibatkan
penurunan ukuran seluruh otot itu. Bila beban kerja
dikembalikan lagi, otot ini sering membesar pada
ukurannya sebelum cedera. Atrofi dapat juga terjadi
pada kelaparan, kehilangan stimulus saraf atau endokrin
atau iskemia seluler.
 Pada kelaparan, atrofi seluler terihat terutama pada
otot rangka dan pada sel yang tidak vital untuk
kelangsungan hidup organisme.
 Kehilangan suplai saraf dapat menyebabkan atrofi
muskular, seperti pada cedera medula spinalis yang
dapat mengehntikan stimulasi saraf ke otot di bawah
bagian yang cedera.
 Otot ini secara bertahap mengalami atrofi dan akhirnya
muskulatur digantikan oleh jaringan fibrosa. Atrofi otot
dapat juga terlihat pada penyakit iskemik menahun
ekstremitas bawah.
 Penurunan suplai darah merusak metabolisme di dalam
sel dan atrofi terjadi sebagai mekanisme perlindungan
untuk mempertahankan aktivitas jaringan.
Displasia

 Displasia menunjukkan adanya pembesaran masing-


masing sel, yang berakibat membesarnya massa jaringan
seluruhnya, tanpa menambah jumlah selnya.
 Biasanya terjadi sebagai respons organ tertentu
terhadap peningkatan kerja jaringan tersebut.
 Contoh hipertofi fisiologis adalah membesarnya otot-
otot akibat latihan. Hipertofi juga dapat disebabkan
oleh kebutuhan fungsi yang meningkat seperti
hipertensi sistemik, dimana miokard harus memompa
dengan tekanan yang lebih besar dan ukuran sel otot
miokard meningkat.
Hiperplasia

 Pada hiperplasia, pembesaran massa jaringan disebabkan oleh


bertambahnya sel-sel yang menyusunnya. Apakah yang terjadi itu
hiperplasia atau hipertofi tergantung kemampuan regenerasi sel-sel
yang menyusunnya
 Hiperplasi fisiologis terjadi pada pubertas dan kehamilan .
Hiperplasia kompensatorik terjadi pada organ yang sanggup
memulihkan jaringan yang hilang (mis:hati). Hiperplasia patologis
terjadi pada organ dengan sel-sel yang dapat beregenerasi, yang
dirangsang abnormal (mis: tiroid dan paratiroid).
 Hiperplasia diakibatkan oleh stimulus yang tidak diketahui dan
hampir selalu berhenti setealh stimulus dihilangkan.
 Reproduksi yang terkontrol ini adalah gambaran yang membedakan
hiperplasia dari neoplasia
 Terdapat hubungan yan erat antara hiperplasia patologis tertentu
dan keganasan (malignansi)
Metaplasia

 Metaplasia adalah perbahan yang reversibel, yaitu satu


jenis sel diganti oleh jenis sel lain
 Biasanya terdapat pada bronkitis menahun pada
perokok: epitel bertingkat silindris bersel goblet diganti
oleh epitel berlapis gepeng, yang lebih tahan terhadap
asap rokok
 Metaplasia sering merupakan awal dari proses
keganasan.