Anda di halaman 1dari 21

ACARA II

PENYELIDIKAN SIFAT KEADITIFAN DARI ABSORBANS KOMPONEN-


KOMPONEN CAMPURAN DAN PENETAPAN KONSENTRASI MASING-MASING
KOMPONEN TANPA PEMISAHAN

A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum
Melihat sifat keaditifan absorbans suatu campuran dan menentukan konsentrasi masing-
masing komponen (Co2+ dan Cr3+ ).
2. Waktu Praktikum
Kamis, 27 Oktober 2018
3. Tempat Praktikum
Lantai II, Laboratorium Kimia Dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spectrometer
dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang
gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan
atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energy secara relatif
jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang
gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang
dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini diperoleh dengan alat pengurai seperti prisma,
grating ataupun celah optis. Pada spektrofotometer, panjang gelombang yang benar-benar
terseleksi dapat diperoleh dengan bantuan alat pengurai cahaya seperti prisma (Khopkar,
2014:225).
Prinsip kerja oleh spektrofotometer UV-Vis adalah penyerapan cahaya oleh molekul-
molekul. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV-Vis (tampak) karena
mereka mengandung elektron, baik berpasangan maupun sendiri yang dapat dieksitasi ke
tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang bila mana absorpsi itu terjadi, tergantung
pada kekuatan elektron tersebut terikat dalam molekul. Elektron dalam ikatan kovalen tunggal
terikat dengan kuat dan diperlukan radiasi berernegi tinggi atau panjang gelombang rendah
untuk eksitasinya (Underwood, 2001: 365).
Teknik spektrofotometri ultraviolet tampak digunakan secara umum dilaboratorium
analisi kimia, baik untuk tujuan analisis kualitatif maupun untuk analisis kuantitatif.
Popularitas teknik spektrofotometri ultraviolet tampak (UV-Vis) disebabkan oleh cara
penggunaannya yang mudah dan cara analisisnya yang cepat. Konsentrasi sampel dapat
dihitung dari data absorbansi spectra UV-Vis menggunakan hokum Lambert-Beer.
Percobaan-percobaan secara spektrofotometri UV-Vis sangat mudah untuk dilakukan.
Meskipun demikian, seorang analisis harus paham pentingnya kinerja spektrofotometer UV-
Vis sehingga dihasilkan data yang dapat dipercaya. Persyaratan-persyaratan kinerja
spektrofotometer bervariasi bergantung pada sifat uji dan desain instrumen. Karakteristik
suatu kinerja tertentu akan memengaruhi kinerja instrumen secara keseluruhan. Suatu
instrumen dengan desain berkas sinar ganda pada umumnya akan memberikan resolusi dan
stabilitas yang lebih baik disbanding instrumen dengan desain berkas sinar tunggal (Rohman,
2014:159).
Peralatan spektrofotometeer UV-Vis sangat beragam dari yang manual sampai
seperti spektronik 20 sampai yang telah digital atau dihubungkan dengan peralatan computer
(komputerisasi). Biasanya peralatan spektrofotometer UV disatukan dengan tampak (visi),
sehingga pemakaiannya sesuai peruntukannya. Secara umum komponen-komponen
spektrofotometer baik yang sinar tunggal (single beam) maupun sinar ganda (double beam)
adalah sumber radiasi (sinar), monokromator, sel (tempat) sampel dan detektor yang
dihubungkan dengan printer (komputerisasi) (Sitorus, 2009:25).
Ultraviolet dan spektrometer tampak telah digunakan secara umum selama 35 tahun
terakhir dan selama periode ini telah menjadi alat analisis yang paling penting di laboratorium
modern. Kebijakan Thermo Spectronic untuk terus menambah jajaran dokumentasi ini untuk
perincian lebih lanjut, sekarang telah tersedia. Spektrofotometri umumnya lebih disukai
terutama oleh industri skala kecil karena biaya peralatan lebih sedikit dan masalah
peawatannya rendah. Metode analisis didasarkan pada pengukuran penyerapan cahaya oleh
senyawa tidak berwarna di dekat jalur spektrum ultraviolet (200-380) nm. Analisis farmasi
terdiri dari prosedur untuk menentukan identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian senyawa
tersebut. Ini juga termasuk analisis bahan baku dan zat antara selama proses pembuatan obat.
Diketahui bahwa konstata disosiasi merupakan parameter yang lebih penting dalam
pengembangan formulasi yang efektif (Shah, dkk., 2015).
Kalibrasi spektrofotometer sinar UV dilakukan untuk mengoptimalkan kinerjanya.
Metode kalibrasi normal diadopsi dan plot Ringbom-Ayre digunakan untuk mengkonfirmasi
ketepatan. Dari hasil, diamati bahwa penyesuaian kurva untuk kalibrasi Normal memberikan
hasil menggunakan model kalibrasi dengan nilai kuadrat terkecil yang dipilih sebagai ukuran
kinerja (R2). Model linier memberikan R-kuadrat terkecil (0,997) yang minimal
membandingkan jumlah rentang residu sehingga mengkonfirmasikan keakuratan hasil
sehingga mengkonfirmasi fungsionalitas instrument (Adeeyinwo, dkk., 2013).
Syarat senyawa yang dapat diukur serapannya dengan alat spektrofometer UV-Vis
adalah senyawa organik yang dapat memberikan serapan yaitu senyawa yang memiliki gugus
kromofor. Gugus kromofor adalah gugus fungsional tidak jenuh yang memberikan serapan
pada daerah ultraviolet atau cahaya tampak. Oleh karena itu pada proses pengukuran sampel
direaksikan dengan pereaksi yang dapat memberikan spektrum serapan bewarna dengan
formaldehid yaitu pereaksi Nash yang terdiri dari ammonium asetat, asam asetat glasial dan
asetil aseton. Campurannya dengan formalin dapat memberikan warna kuning terang.
Formalin dengan penambahan pereaksi Nash di sertai pemanasan 30 menit akan
menghasilkan warna kuning yang menetap sehingga dapat diukur serapannya dengan
menggunakan spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 400-800 nm (Sari,
dkk., 2017).
Kurva kalibrasi merupakan suatu garis yang diperoleh dari titik-titik yang
menyatakan suatu konsentrasi terhadap absorbansi yang diserap setelah dilakukan analisa
regresi linier. Konsentrasi besi secara spektrofotometri UV-Vis ditentukan berdasarkan
kurva kalibrasi yang dibuat dengan mengukur absorbansi larutan standar besi dengan
variasi 0-5 ppm. Salah satu syarat sampel yang dapat diukur oleh spektrofotometer UV-Vis
adalah berbentuk liquid (cair), maka dari itu padatan oksida yang dihasilkan ditambah
dengan HCl dan aqua DM agar semua padatan oksida tersebut larut. Larutan ini
kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Absorbansi yang
didapat yakni 0,156 dan 0,160 sehingga absorbansi rataratanya 0,158. Setelah melalui
perhitungan didapatkan bahwa kedelai mengandung sebanyak 7,082 mg zat besi. Nilai ini
kemudian dipakai sebagai acuan kadar total besi dalam kedelai untuk pengukuran selanjutnya
(Harisman dan Djarot, 2014).
Pemeriksaan kadar zat aktif merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk
menjamin kualitas sediaan obat, untuk melakukan penetapan kadar obat dibutuhkan suatu
metode yang telah divalidasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan validitas dan
menentukan kadar asam mefenamat dalam sediaan tablet menggunakan metode
spektrofotometri UV. Tujuan penentuan panjang maksimum agar mengetahui daerah serapan
yang dapat dihasilkan berupa absorbansi dari larutan baku asam mefenamat yang dilarutkan
dengan metanol kemudian diukur serapannya menggunakan alat spektrofotometer UV pada
rentang panjang gelombang 200-400 nm. Setelah dilakukan pengukuran panjang gelombang
maksimum berada pada 284,50 nm dengan ini diketahui hasil yang diperoleh terjadi
pergeseran panjang gelombang dari literatur yakni 285 nm, namun masih dalam kisaran
daerah serapan optimum asam mefenamat karena nilai pergeseran tidak lebih dari 3% panjang
gelombang maksimum dalam literatur sehimgga dapat dikatakan hasil pengukuran yang
dilakukan memenuhi syarat penggunaannya untuk analisis (Uno, dkk., 2015).

C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


1. Alat-alat Praktikum
a. Alat spektrofotometer UV-Vis
b. Gelas kimia 50 mL
c. Kertas label
d. Kuvet
e. Labu takar 10 mL
f. Pipet tetes
g. Pipet volume 1 mL
h. Pipet volume 2 mL
i. Pipet volume 10 ml
j. Rubber bulb

2. Bahan-bahan Praktikum
a. Aquades (H2O)(l)
b. Larutan kobalt (II) nitrat (Co(NO3)2) 0,2256 M
c. Larutan kromium (III) nitrat (Cr(NO3)3) 0,06 M

D. SKEMA KERJA

1. Sifat Aditif dari Absorbansi untuk Campuran Larutan Cr(III) dan Co(II)
Larutan Cr(NO3)3 0,06 M
 Diencerkan hingga 10 mL dengan konsentrasi 0,025 M
 Dimasukan dalam kuvet
 Diukur absorbansinya pada rentang panjang gelombang 500-
600 nm dengan interval 10 nm
Hasil
Larutan Co(NO3)2 0,2256 M
 Diencerkan hingga 10 mL dengan konsentrasi 0,1 M
 Dimasukan kedalam kuvet
 Diukur absorbansinya pada rentang panjang gelombang 500-
600 nm dengan interval 10 nm
Hasil

3 mL larutan Co(NO3)2 0,1 M + 3 mL larutan Cr(NO3)3 0,025 M


 Dimasukkan kedalam labu takar 10 mL
 Diencerkan sampai tanda batas
 Diukur absorbansinya pada λmaks dari percobaan 1 (pada
Cr(III) dan Co(II))
Hasil

2. Penentuan Nilai K dari Larutan Cr(III) dan Co(II)


Larutan Cr(NO3)3 0,05 M
 Diencerkan masing-masing 10 ml dengan konsentrasi 0,01
M, 0,02 M, 0,03 M, 0,04 M,dan 0,05 M
 Masing-masing diukur absorbannya pada panjang gelombang
maksimum dari percobaan 1
Hasil

Larutan Co(NO3)2 0,2256 M


 Diencerkan masing-masing 10 ml dengan konsentrasi 0,02
M, 0,04 M, 0,06 M, 0,08 M, dan 0,1 M
 Masing-masing diukur absorbannya pada panjang gelombang
maksimum dari percobaan 1
Hasil
E. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Absorbansi Larutan Cr(NO3)3 0,025 M dan Larutan Co(NO3)2 0,1 M
a. Untuk larutan Cr(NO3)3 0,025 M
Panjang gelombang (λ) (nm) Absorbansi (A)
500 0,08
510 0,09
520 0,13
530 0,17
540 0,21
550 0,25
560 0,28
570 0,29
580 0,30
590 0,29
600 0,26

λmax (nm) larutan Cr(NO3)3 0,05 M adalah pada 580 nm dengan nilai absorbansi sebesar
0,30 A.
b. Untuk larutan Co(NO3)2 0,2256 M
Panjang gelombang (λ) (nm) Absorbansi (A)
500 0,14
510 0,16
520 0,15
530 0,13
540 0,11
550 0,08
560 0,05
570 0,04
580 0,03
590 0,03
600 0,02

λmax (nm) larutan Co(NO3)2 0,2256 M adalah pada 510 nm dengan nilai absorbansi
sebesar 0,16.
2. Penentuan Nilai K dari Larutan Cr(III) dan Co(II)
a. Larutan Cr(NO3)2(pada λmax Cr(III) (580 nm))
Konsentrasi (M) Absorbansi (A)
0,01 0,09
0,02 0,21
0,03 0,33
0,04 0,48
0,05 0,60
b. Larutan Cr(NO3)2(pada λmax Cr(III) (510 nm))
Konsentrasi
Absorbansi (A)
(M)
0,02 0,02
0,04 0,04
0,06 0,10
0,08 0,14
0,10 0,19

c. Larutan Co(NO3)2(pada λmax Co(II) (580 nm))


Konsentrasi
Absorbansi (A)
(M)
0,01 0,15
0,02 0,26
0,03 0,39
0,04 0,49
0,05 0,62

d. Larutan Cr(NO3)2(pada λmax Co(II) (510 nm))


Konsentrasi
Absorbansi (A)
(M)
0,02 0,06
0,04 0,07
0,06 0,09
0,08 0,10
0,10 0,14

3. Tabel Absorbansi Campuran Larutan Cr(NO3)2 0,025 M dan Co(NO3)2 0,1 M


Panjang gelombang max Cr (II)(nm) Absorbansi (A)
580 0,21

Panjang gelombang max Co (II)(nm) Absorbansi (A)


510 0,31

F. ANALISIS DATA

1. Sifat Aditif dari Absorbansi untuk Campuran Larutan Cr(NO3)2 dan Co(NO3)2
a. Perhitungan volume Cr(III) sebelum pengenceran
Dik: V2 = 10 mL
M1 = 0,06 M
M2 = 0,025 M
Penyelesaian :
𝑀2 . 𝑉2
𝑉1 =
𝑀1
0,025 𝑀𝑥 10 𝑚𝐿
=
0,06 𝑀
= 4,1667 mL
b. Perhitungan volume Co(II) sebelum pengenceran
Dik: V2 = 10 mL
M1 = 0,2256 M
M2 = 0,1 M
Penyelesaian :
𝑀2 . 𝑉2
𝑉1 =
𝑀1
0,1 𝑀𝑥 10 𝑚𝐿
=
0,2256 𝑀
= 4,4326 mL
Sifat Aditif dari Absorbansi untuk Campuran Larutan Cr(NO3)3 dan Co(NO3)2
a) Kurva untuk larutan Cr (III)

Grafik Hubungan Absorbansi (A) dan Panjang


Gelombang (λ)
0.35
0.3 y = 0.0023x - 1.0464
R² = 0.836
0.25
Absornasi

0.2
0.15 Absorbansi (A)
0.1 Linear (Absorbansi (A))
0.05
0
450 500 550 600 650
Panjang Gelombang

Dari grafik tersebut, nilai panjang gelombang maksimum untuk Cr(III) adalah 580
nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,30.
b) Kurva untuk Larutan Co(II)

Grafik Hubungan Absorbansi (A) dengan


Panjang Gelombang (λ)
0.18
0.16
0.14
0.12
Absorbansi

0.1
0.08 Absorbansi (A)
0.06
Linear (Absorbansi (A))
0.04
y = -0.0016x + 0.9455
0.02
R² = 0.9251
0
450 500 550 600 650
Panjang Gelombang

Dari grafik tersebut, nilai panjang gelombang maksimum untuk Co (III) adalah
510 nm dengan nilai absorbansi sebesar 0,16.

2. Pembuatan Kurva Kalibrasi untuk Menentukan Nilai K


a. Untuk Larutan Cr(III)
Pembuatan variasi konsentrasi larutan
M1 x V1 = M2 x V2
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1

M1 = 0,06 M
V2 = 10 mL
 Untuk M2 = 0,01 M
𝑀2 . 𝑉2
𝑉1 =
𝑀1
0,01𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑉1 =
0,06 𝑀
= 1,7 mL
 Untuk M2 = 0,02 M
𝑀2 .𝑉2
𝑉1 = 𝑀1

0,02 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑉1 = 0,06 𝑀

= 3,3 mL
 Untuk M2 = 0,03 M
𝑀2 .𝑉2
𝑉1 = 𝑀1

0,03 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑉1 = 0,06 𝑀

= 5 mL
 Untuk M2 = 0,04 M

𝑀2 .𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,04 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑉1 = 0,06 𝑀

= 6,7 mL
 Untuk M2 = 0,05 M
𝑀2 .𝑉2
𝑉1 = 𝑀1

0,05 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
𝑉1 = 0,06 𝑀

= 8,3 mL

M1 (M) V1 (mL) M2 (M) V2 (mL)


0,06 1,7 0,01 10
0,06 3,3 0,02 10
0,06 5 0,03 10
0,06 6,7 0,04 10
0,06 8,3 0,05 10

 Tabel Analog Antara Konsentrasi dengan Absorbansi pada panjang gelombang λmax
(nm) larutan Cr (III) (580 nm)
Konsentrasi (M) Absorbansi (A)
0,01 0,09
0,02 0,21
0,03 0,33
0,04 0,48
0,05 0,60
Kurva untuk larutan Cr (III) hubungan antara absorbansi (A) dengan Konsentrasi (M)
pada panjang gelombang (λmax) Cr(III) (580 nm)

Grafik Hubungan Konsentrasi (M) dan


Absorbansi (A)
0.8
0.6 y = 12.9x - 0.045
Absorbansi

R² = 0.9984
0.4 Absorbansi (A)

0.2
Linear (Absorbansi
0 (A))
0 0.02 0.04 0.06
Konsentrasi

Jika A= kC,dengan kurva y = 12,9x -0,045, maka nilai k = 12,9.


 Tabel Analog Antara Konsentrasi dengan Absorbansi pada panjang (λmax) Cr(III) (510
nm)
Konsentrasi
Absorbansi (A)
(M)
0,02 0,02
0,04 0,04
0,06 0,10
0,08 0,14
0,10 0,19
Kurva untuk larutan Cr (III) hubungan antara absorbansi (A) dengan Konsentrasi (M)
pada panjang gelombang (λmax) Cr(III) (510 nm)

Grafik Hubungan Absorbansi (A) dan


Konsentrasi (M)
0.2
y = 2.2x - 0.034
Absorbansi

0.15
R² = 0.9837 Absorbansi (A)
0.1
0.05
Linear (Absorbansi
0
(A))
0 0.05 0.1 0.15
Konsentrasi

Jika A= kC,dengan kurva y = 2,2x -0,034, maka nilai k = 2,2.


b. Untuk Larutan Co(II)
Pembuatan Variasi Konsentrasi Larutan Co(II)
Diketahui : 𝑀1 𝑉1 = 𝑀2 𝑉2
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1

M1 = 0,2256 M
V2 = 10 mL
 Untuk M2 = 0,02 M
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,02 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
= 0,2256 𝑀

= 0,9 mL
 Untuk M2 = 0,04 M
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,04 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
= 0,2256 𝑀

= 1,8 mL
 Untuk M2 = 0,06 M
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,06 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
= 0,2256 𝑀

= 2,7 mL
 Untuk M2 = 0,08 M
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,08 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
= 0,2256 𝑀

= 3,6 mL

 Untuk M2 = 0,1 M
𝑀2 𝑉2
𝑉1 = 𝑀1
0,1 𝑀 𝑥 10 𝑚𝐿
= 0,2256 𝑀

= 4,4 mL
M1 (M) V1 (mL) M2 (M) V2 (mL)
0,2256 0,9 0,02 10
0,2256 1,8 0,04 10
0,2256 2,7 0,06 10
0,2256 3,6 0,08 10
0,2256 4,4 0,1 10

 Tabel Analog Antara Konsentrasi dengan Absorbansi pada panjang gelombang λmax
(nm) larutan Co (II) (580 nm)
Konsentrasi (M) Absorbansi (A)
0,02 0,06
0,04 0,07
0,06 0,09
0,08 0,10
0,1 0,14
Kurva untuk larutan Co (II) hubungan antara absorbansi (A) dengan Konsentrasi (M)
pada panjang gelombang (λmax) Co(II) (580 nm)

Grafik Hubungan Absorbansi (A) dan


Konsentrasi (M)
0.7
0.6 y = 11.7x + 0.031
R² = 0.9986
0.5
Absorbansi

0.4
0.3 Absorbansi (A)
0.2 Linear (Absorbansi (A))
0.1
0
0 0.02 0.04 0.06
Konsentrasi

Jika A= kC,dengan kurva y = 11,7x +0,031, maka nilai k = 11,7.


 Tabel Analog Antara Konsentrasi dengan Absorbansi pada panjang gelombang λmax
(nm) larutan Co (II) (510 nm)
Konsentrasi (M) Absorbansi (A)
0,02 0,15
0,04 0,26
0,06 0,39
0,08 0,49
0,1 0,62
Kurva untuk larutan Co (II) hubungan antara absorbansi (A) dengan Konsentrasi (M)
pada panjang gelombang (λmax) Co(II) (510 nm)

Grafik Hubungan Antara Absorbansi (A) dan


Konsentrasi (M)
0.16
0.14 y = 0.95x + 0.035
0.12 R² = 0.9304
Absorbansi

0.1
0.08
Absorbansi (A)
0.06
0.04 Linear (Absorbansi (A))
0.02
0
0 0.05 0.1 0.15
Konsentrasi

Jika A= kC,dengan kurva y = 0,95x +0,035, maka nilai k = 0,95

3. Penentuan kadar Co(II) dan Cr (III) dalam campuran larutan Cr(NO3)2 0,025 M dan
Co(NO3)2 0,1 M
Tabel Absorbansi Campuran Larutan Cr(NO3)2 0,025 M dan Co(NO3)2 0,1 M
Panjang gelombang max Cr (II)(nm) Absorbansi (A)
580 0,21

Panjang gelombang max Co (II)(nm) Absorbansi (A)


510 0,31

A = k.C
Nilai k pada masing-masing larutan yaitu :
a. Untuk Cr (III) pada (λmax) 580 nm, nilai k = 12,9
b. Untuk Cr (III) pada (λmax) 510 nm, nilai k = 2,2
c. Untuk Co (II) pada (λmax) 580 nm, nilai k = 11,7
d. Untuk Co (II) pada (λmax) 510 nm, nilai k = 0,95
Maka :
A1 = (kCr x C1) + (kCo x C2)……………….(λ) = 580 nm
A2 = (kCr x C1) + (kCo x C2)……………….(λ) = 510 nm
Penyelesaian :

Eliminasi persamaan 1 dan 2


0,31 = (12,9 x C1) + (11,7 x C2) x 0,95
0,21 = (2,2 x C1) + (0,95 x C2) x 11,7

0,2945 = (12,255 C1) + (11,115 C2)


2,457 = (25,74 C1) + (11,115 C2)

-2,1625 = -13,485 C1
−2,1625
C1 =
−13,485

= 0,1604 M

Sehingga,

A1 = (kCr x C1) + (kCo x C2)


0,31 = (12,9 x 0,16040) + (11,7 C2)
0,31 = (2,06916) + (11,7 C2)
0,31 + 2,06916 = 11,7 C2
2,37916
C2 =
11,7

= 0,2033 M

Jadi, kadar Cr(III) dan Co(II) adalah 0,1604 M dan 0,2033 M.

G. PEMBAHASAN
Spektrofotometer merupakan alat untuk mengukur trasmitan (T atau %T) atau
absorbansi (A) suatu cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometri UV-
Vis merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan tampak. Alat ini menggunakan dua
buah sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya tampak.
Larutan yang dianalisis diukur serapan sinar UV atau sinar tampaknya. Konsentrasi larutan
yang dianalisis akan sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat
dalam larutan tersebut. Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis mengacu pada hukum Lambert-
Beer. Apabila cahaya monokromatik melalui suatu media (larutan), maka sebagian cahaya
tersebut akan diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan dipancarkan. Alat ini
dapat digunakan untuk analisis dua komponen pada campuran yang tidak saling berinteraksi.
Pada campuran yang komponen penyusunnya tidak saling berinteraksi, apabila diukur
absorbansinya, absorbansi dari campuran tersebut merupakan penjumlahan dari absorbansi
masing-masing komponen yang terdapat pada campuran. Ini merupakan sifat keaditifan suatu
larutan yaitu keseluruhan absorbansi larutan pada panjang gelombang tertentu adalah jumlah
dari absorban komponen-komponen yang terdapat dalam larutan. Dengan mengukur
absorbansi campuran pada panjang gelombang tertentu masing-masing komponen, maka
konsentrasi masing-masing dapat diketahui.
Sinar Uv digunakan pada spektroskopi Uv untuk analisis senyawa yang
mengandung gugus kromofor (diena dan ketene/enon terkonyugasi). Sinar Uv akan
menyebabkan transisi elektron dari keadaan bonding ke anti bonding (*). Analog dengan sinar
Uv maka sinar Tampak digunakan untuk analisis senyawa berwarna atau dapat dijadikan
kompleks berwarna juga menyebabkan transisi elektronik. Sumber sinar tampak pada
spektroskopi tampak biasanya adalah filamen tungsten yang dialiri arus listrik. Semua
molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah Uv-tampak karena mereka mengandung
elektron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasikan ke tingkat energi yang
lebih tinggi. Panjang gelombang pada absorspi itu terjadi, bergantung pada betapa kuat
elektron itu terikat dalam molekul itu. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal terikat
dengan kuat, dan diperlukan radiasi berenergi tinggi atau panjang gelombang pendek, untuk
eksitasinya.
Pada praktikum ini yaitu penyelidikan sifat keaditifan dari komponen-komponen
campuran dan penetapan konsentrasi masing – masing komponen tanpa pemisahan, dilakukan
penentuan kadar sampel dengan metode simultan, kadar larutan campuran dua zat dapat
ditentukan dengan metode spektrofotometri tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat
harus memiliki panjang gelombang yang tidak berhimpit. Dari pengukuran tersebut diperoleh
suatu kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang, selain itu juga diperoleh
panjang gelombang maksimum dari masing-masing zat. Panjang gelombang maksimum
adalah panjang gelombang yang memberikan nilai absorban paling besar.
Prinsip dasar dalam praktikum ini adalah bahwa dua macam kromofor yang
berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pada satu panjang
gelombang tertentu sehingga diperoleh persamaan hubungan antara absorbsi dengan
konsentrasi pada dua panjang gelombang. Akibatnya konsentrasi masing – masing komponen
dapat dihitung. Absorban masing – masing komponen bersifat aditif apabila komponen –
komponennya tidak saling bereaksi.
Percobaan pertama, sifat aditif dari absorbansi untuk campuran larutan Cr(III) dan
Co(II). Tujuan dari digunakannya Cr(III) dan Co(II) adalah karena kedua unsur ini merupakan
unsur yang bersifat adiktif, yaitu tidak terjadi reaksi antara pelarut dengan unsur tersebut pada
panjang gelombang optimumnya. Selain itu, digunakan kedua senyawa tersebut karena
meemiliki warna yang khas yang membedakanya dengan unsur yang lainnya, serta pada
Cr(III) maupun Co(II) memiliki daya absorbansi pada panjang gelombang yang saling
berdekatan sehingga memungkinkan adanya pemisahan untuk menentukan konsentrasi dari
larutan tersebut dalam campuran. Dalam percobaan ini, diukur panjang gelombang
maksimum dari larutan Cr(NO3)3 dan Co(NO3)2 pada panjang gelombang 500-600 nm dengan
interval 10 menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Dilakukannya pengukuran pada
rentang panjang gelombang tersebut dikarenakan pada panjang gelombang tersebut kedua
unsur tersebut yaitu Cr(III) dan Co(II) terjadi penyerapan intensitas cahaya yang optimal.
Akan tetapi pada rentang panjang gelombang tersebut belum diketahui secara jelas panjang
gelombang maksimum dari kedua unsur tersebut. Untuk itulah perlu adanya pengukuran nilai
absorbsi agar dapat menentukan nilai dari panjang gelombang dari masing-masing unsur.
Panjang gelombang maksimum adalah panjang gelombang dimana suatu larutan zat uji
memiliki serapan maksimum. Tujuan dari penentuan panjang gelombang maksimum adalah
pada panjang gelombang maksimum, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang
gelombang tersebut perubahan absorbansi yang terjadi setiap satuan konsentrasi adalah yang
paling besar. Sehingga dapat meminimalisir terjadinya error pada pengukuran absorbansi
sampel yang akan diukur selanjutnya. Penggunaan Cr(III) dan Co(II) pada percobaan ini
karena keduanya tidak saling bereaksi jika dicampurkan. Sebelum pengukuran, dilakukan
pengenceran larutan Cr(NO3)3 0,06 M menjadi 0,025 M dan larutan Co(NO3)2 0,2256 M
menjadi 0,1 M. Panjang gelombang maksimum ditunjukkan dengan nilai absorbansi tertinggi
dari larutan. Absorbansi maksimum larutan Cr(NO3)3 terukur pada panjang gelombang 580
nm yaitu sebesar 0,30. Panjang gelombang maksimum untuk larutan Co(NO3)2 adalah 510 nm
dengan absorbansi 0,16. Panjang gelombang maksimum ini digunakan dalam percobaan
kedua yaitu penentuan konsentrasi komponen-komponen dalam campuran tanpa melakukan
pemisahan. Adanya perbedaan panjang gelombang dari kedua komponen tersebut
menunjukkan perbedaan daya serap dari kedua unsur yang disebabkan oleh sifat dan
penampakan (dalam hal intensitas warna) yang berbeda. Panjang gelombang maksimum ini
digunakan dalam percobaan kedua yaitu penentuan konsentrasi komponen-komponen dalam
campuran tanpa melakukan pemisahan. Kenapa panjang gelombang maksimum yang dipilih,
hal ini karena di sekitar panjang gelombang maksimum tersebut, bentuk kurva serapan adalah
datar sehingga hukum Lambert-Beer akan terpenuhi dengan baik sehingga kesalahan yang
ditimbulkan pada panjang gelombang maksimum dapat diperkecil.
Percobaan kedua yaitu, penentuan nilai k dari larutan Cr(III) dan Co(II). Percobaan
ini dilakukan dengan mengencerkan masing-masing larutan Cr(NO3)3 dan Co(NO3)2 dalam
berbagai konsentrasi. Selanjutnya masing-masing larutan dalam berbagai konsentrasi tersebut
diukur absorbansinya dengan menggunakan panjang gelombang maksimum yang telah
didapat pada percobaan sebelumnya. Pada larutan Cr(NO3)3 dengan panjang gelombang 580
nm didapat absorbansi masing-masing konsentrasi 0,01 M; 0,02 M; 0,03 M; 0,04 M dan 0,05
M adalah 0,09; 0,21; 0,33; 0,48; dan 0,60. Pada larutan Cr(NO3)3 dengan panjang gelombang
510 nm didapat absorbansi masing-masing konsentrasi 0,01 M; 0,02 M; 0,03 M; 0,04 M dan
0,05 M adalah 0,02; 0,04; 0,10; 0,14; dan 0,19. Sedangkan pada larutan Co(NO3)2 dengan
panjang gelombang 580 nm didapat absorbansi masing-masing konsentrasi 0,02 ; 0,04 ; 0,06 ;
0,08 dan 0,10 M adalah 0,15; 0,26; 0,39; 0,49; dan 0,62. Dan pada larutan Co(NO3)2 dengan
panjang gelombang 580 nm didapat absorbansi masing-masing konsentrasi 0,02 ; 0,04 ; 0,06 ;
0,08 dan 0,10 M adalah 0,06; 0,07; 0,09; 0,10; dan 0,14. Hal ini sesuai dengan hukum
Lambert-Beer dimana konsentrasi berbanding lurus dengan nilai absorbansi, sehingga
semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula nilai absorbansinya. Selanjutnya
berdasarkan data pengamatan tersebut, didapatkan kurva kalibrasi hubungan antara absorbansi
dengan konsentrasi. Dengan menghubungkan nilai konsentrasi dengan absorbansi sampel
dalam suatu kurva, maka diperoleh nilai slope yang merupakan nilai k. Sehingga berdasarkan
kurva yang telah dibuat kita dapat menentukan nilai k dari larutan Cr(III) dan Co(II).
Didapatkan nilai k pada larutan Cr(III) dengan panjang gelombang 580 nm yakni 12,9 dan
pada panjang gelombang 510 nm yaitu 2,2. Sedangkan k pada larutan Co(II) dengan panjang
gelombang 580 nm yakni 11,7 dan pada panjang gelombang 510 nm yaitu 0,95. Nilai k yang
didapatkan pada percobaan ini akan digunakan untuk menghitung kadar atau konsentrasi dari
campuran Cr(III) dan Co(II). Diperolehnya nilai slope yang lebih besar pada analisis Cr,
disebabkan daya serap dari Cr jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Co.
Percobaan selanjutnya adalah penentuan konsentrasi masing- masing komponen
pada campuran larutan Cr(NO3)3 0,025 M dan Co(NO3)2 0,1 M. Larutan Cr(NO3)3
dicampurkan dengan larutan Co(NO3)2. Masing–masing sebanyak 3 ml lalu diencerkan
hingga 10 ml. Pada percobaan ini dilakukan pengukuran untuk nilai absorbansi campuran
pada panjang gelombang 580 nm dan 510 nm. Diperoleh nilai absorbansi sebesar 0,21 untuk
panjang gelombang 510 nm dan pada panjang gelombang 580 nm didapatkan nilai absorbansi
sebesar 0,31. Dari hasil pengukuran absorbansi tersebut dan berdasarkan data nilai k yang
telah didapatkan pada percobaan sebelumnya, kita dapat menentukan kadar Cr(III) dan Co(II)
𝐴
dalam campuran. Dengan menggunakan rumus A = kxC,didapatkan 𝐶 = 𝑘 , dan dengan

menggunakan metode eliminasi. Berdasarkan teori, bahwa konsentrasi tersebut kita dapat
digunakan untuk melihat sifat keaditifan dari Cr(III) dan Co(II) dimana dalam menentukan
sifat keaditifan suatu komponen dapat dilihat dari konsentrasi larutan pada kondisi homogen
dan setelah pencampuran akan mempunyai konsentrasi yang konstan atau sedikit bergeser
sebelum dan sesudah pencampuran. Dari perhitungan analisa data didapat komponen
Cr(NO3)3 lebih aditif dibandingkan dari Co(NO3)2, yang mana larutan Cr(NO3)3 memiliki
konsentrasi 0,025 M sebelum bercampur dan 0,1604 M setelah bercampur, sedangkan larutan
Co(NO3)2 memiliki konsentrasi 0,1 M sebelum bercampur dan 0,2033 M.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang didapatkan pada praktikum ini,
dapat disimpulkan bahwa keaditifan suatu komponen dapat dilihat dari konsentrasi larutan
tersebut pada kondisi homogen dan setelah percampuran (heterogen). Komponen yang
memiliki konsentasi konstan atau bergeser sedikit sebelum dan setelah pencampuran adalah
komponen yang memiliki sifat aditif. Suatu absorben dikatakan aditif apabila dalam suatu
campuran komponen–komponennya tidak saling berinteraksi satu sama lain. Dari perhitungan
analisa data didapat komponen Cr(III) lebih aditif dibandingkan dari Co(II). Berdasarkan
kurva yang telah dibuat kita didapatkan nilai k dari larutan Cr(III) dan Co(II). Nilai k pada
larutan Cr(III) dengan panjang gelombang 580 nm yakni 12,9 dan pada panjang gelombang
510 nm yaitu 2,2. Sedangkan k pada larutan Co(II) dengan panjang gelombang 580 nm yakni
11,7 dan pada panjang gelombang 510 nm yaitu 0,95. Sedangkan didapatkan nilai konsentrasi
Cr (III) adalah 0.1604 M dan konsentrasi Co (II) adalah 0,2033 M.

.
DAFTAR PUSTAKA

Adeeyinwo, C. E., Okorie N. N., dan Idowu, G. O., 2013, Basic Calibration of UV/Visible
Spectophotometer, International Journal of Science and Technology, 3(2): 247-251.
Harisman F. R dan Djarot S., 2014, Pengaruh Waktu Penggilingan Terhadap Kadar Zat Besi
dalam Ampas Sari Kedelai Menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, Jurnal Sains dan
Seni Pomits, 3(2): 2337-3520.
Khopkar, S.M., 2014, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta: UI-Press.
Rohman, A., 2014, Validasi dan Penjamin Mutu Metode Analisis Kimia, Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada Press.
Sari, T. M., Dira, dan Shinta, 2017, Analisis Formalin pada Ikan Asin Kembung di Beberapa
Pasar di Kota Padang dengan Metode Spektrofotometer UV-VIS, UNES Journal of
Scientech Research, 2(2): 160-166.
Shah, R. S., Rutuja R. S., Rajashri B. P., dan Pranit P. G., 2015, UV-Visible Spectroscopy,
International Journal of Institutional Pharmacy and Life Sciences, 5(5): 490-505.
Sitorus, M., (2009), Spektroskopi Elusidasi Struktur Molekul Organik, Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Underwood A.L. dan R. A Day, 2001, Analisis Kimia Kuantitatif, Jakarta: Erlangga.
Uno, N. R., Sri S., dan Widya A.L., 2015, Validasi Metode Analisis untuk Penetapan Kadar
Tablet Asam Mefenamat Secara Spektrofotometri Ultraviolet, Jurnal Ilmiah Farmasi
– UNSRAT, 4(4): 156 – 171.
LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM
ANALISIS INSTRUMEN
ACARA II
PENYELIDIKAN SIFAT KEADITIFAN DARI ABSORBANS KOMPONEN-
KOMPONEN CAMPURAN DAN PENETAPAN KONSENTRASI MASING-MASING
KOMPONEN TANPA PEMISAHAN

DISUSUN OLEH
NAMA : ZELLA YAUMIN NASRY
NIM : G1C 016 049

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MATARAM
2018

Anda mungkin juga menyukai