Anda di halaman 1dari 14

Acara IV

FIKOSIANIN
PEWARNA ALAMI DARI “BLUE
GREEN MICROALGAE” SPIRULINA

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:
Jessica Christianti Purwadi
14.I1.0020
C4

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG

2016
1. MATERI METODE

1.1. Materi
1.1.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sentrifuge, timbangan analitik,
erlenmeyer, spektrofotometri, pengaduk/stirrer, alat pengering (oven), dan plate stirrer.

1.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah biomassa Spirulina basah atau
kering, aquades, dan dekstrin.

1.2. Metode

8 gram biomasa Spirulina dimasukkan dalam Erlenmeyer

Dilarutkan dalam 80 ml aquades (biomasa : aquades = 1 : 10)

Diaduk dengan stirrer selama ± 2 jam

1
2

Disentrifugasi 5000 rpm selama 10 menit hingga diperoleh


endapan dan supernatan (cairan berisi fikosianin)

Diukur kadar fikosianinnya dengan spektrofotometri


menggunakan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm

8 ml supernatan ditambah dekstrin (supernatan : dekstrin = 1 : 1)

Dicampur rata dan dituang ke wadah


3

Dioven pada suhu 50ºC hingga kadar air ± 7%

Diperoleh adonan kering yang gempal

Dihancurkan dengan alat penumbuk hingga berbentuk powder

Rumus :
OD615 – 0,474 (OD652 ) 1
Konsentrasi Fikosianin / KF (mg/ml) = x 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 (10−2 )
5,34

KF × Vol (total filtrat)


Yield (mg/g) = g (berat biomassa)
2. HASIL PENGAMATAN

Hasil pengamatan fikosianin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Pengamatan Fikosianin

Berat Jumlah aquades Total filtrat Warna


KF Yield
Kel biomassa yang ditambahkan yang diperoleh OD615 OD652 Sebelum Sesudah
(mg/ml) (mg/g)
kering (g) (ml) (ml) Dioven Dioven
C1 8 80 55 0,1264 0,0558 1,81 12,44 +++ +
C2 8 80 55 0,1096 0,0475 1,68 11,55 +++ ++
C3 8 80 55 0,1090 0,0480 1,67 11,48 +++ ++
C4 8 80 55 0,1073 0,0461 1,63 11,21 +++ +
C5 8 80 55 0,1273 0,0555 1,82 12,51 +++ +++
Keterangan :
Warna :
+ : hijau muda
++ : hijau tua
+++ : hijau sangat tua

Pada Tabel 1., dapat dilihat bahwa nilai OD yang berbeda menghasilkan KF, yield, dan warna yang berbeda pula. Nilai KF berbanding
lurus dengan nilai yield. Nilai KF dan yield tertinggi pada kelompok C5 berturut-turut 1,82 mg/ml dan 12,51 mg/g sedangkan nilai terendah
pada kelompok C4 sebesar 1,63 mg/ml dan 11,21 mg/g. Sebagian besar kelompok menghasilkan warna hijau yang lebih muda setelah
dioven, kecuali pada kelompok C5 yang tidak mengalami perubahan warna.

4
3. PEMBAHASAN

Berdasarkan teori Steinkraus (1983), warna adalah indikator yang berdampak pada
penampilan bahan pangan sekaligus sebagai pertimbangan konsumen dalam
mengkonsumsi atau membeli. Terdapat 2 jenis pewarna makanan, yatu pewarna buatan
dan pewarna alami. Pewarna buatan memiliki kelebihan seperti murah, mudah
didapatkan, dan cenderung stabil, namun tidak aman. Pewarna alami bersifat aman
namun stabilitasnya rendah (Syah, et al., 2005). Menurut Chaiklahan, et al., (2012),
ketidakstabilan pigmen alami seperti fikosianin karena pigmen tersebut mewarisi sifat
protein diantaranya adalah sensitif terhadap suhu tinggi, mudah terpresipitasi, serta
warna birunya mudah pudar sehingga perlu distabilkan dengan gula dan polihidrat
alkohol. Selain itu, fikosianin juga mudah mengalami aggregasi dan disosiasi monomer
dan oligomer sehingga perlu ditambahkan glukosa, sukrosa, serta NaCl sebagai
penstabil. Beliau juga menambahkan bahwa fikosianin sangat stabil pada pH dan suhu
tertentu, yaitu pH 6-7 dan suhu sekitar 370C. Yan, et al., (2011) juga menambahkan
bahwa fikosianin tidak stabil pada suhu diatas 500C, pH dibawah 4, serta intensitas
cahaya dan asam berlebihan.

Pewarna alami dapat berasal dari ganggang, tumbuhan, maupun buah-buahan. Spirulina
adalah ganggang multiseluler golongan Cyanobacteria yang berwarna hijau kebiruan
akibat kandungan fikosianin dan klorofilnya. Karakteristik Spirulina adalah berwujud
filamen tak bercabang, memiliki membran sel yang tipis, dan berukuran 3-10 mikron.
Spirulina mengandung protein sekitar 60%, beta-karoten, fruktosa, vitamin B12, ribosa,
manosa, dan vitamin E. Spirulina mengandung klorofil sebesar 1,7%, karotenoid dan
xantofil 0,5%, dan fikosianin 20%. Pengekstrakan dan perusakan dinding sel alga
tersebut dapat dilakukan dengan tekanan tinggi, penggilingan, pemanasan, atomisasi,
serta lisis enzimatik (Tietze, 2004).

Spirulina platensis mengandung membran tilakoid tempat terdapatnya fikobilisom yang


di dalamnya terdapat fikobiliprotein untuk absorbsi cahaya dan mencegah oksidasi pada
pigmen. Fikobiliprotein bersifat larut air dan fluorescence. 2 Pigmen utama dalam
fikobiliprotein adalah pigmen allofikosianin dan C-fikosianin. Hal yang membedakan

5
6

keduanya adalah struktur gugus prostetik tetrapirolnya. Allofikosianin berada pada


bagian inti sel. C-fikosianin adalah pigmen fotosintesis golongan fikobiliprotein yang
berwarna biru (Moraes, et al., 2010). Fikosianin merupakan pigmen dengan struktur
tetraphyrroles terbuka yang mampu mendonorkan hidrogen pada C-10. Berat molekul
pigmen ini sekitar 140 kDa hingga 250 kDa. Pigmen ini juga mampu memancarkan
warna merah. Selain itu, penyimpanan menyebabkan warna pudar, sedangkan
penyimpanan sekitar 15 hari menyebabkan warna bening (Romay, et al., 1998). Diaa, et
al., (2013) menambahkan bahwa faktor yang mempengaruhi jumlah fikosianin dalam
Spirulina adalah jumlah nitrogen dan tekanan dari luar sehingga terjadi kerusakan
oksidatif. Selain itu pH, nutrien, agitasi, cahaya, dan suhu juga mempengaruhi biomassa
alga tersebut.

Habitat Spirulina sp. adalah pada lingkungan kondisi alkali (pH sekitar 8) dengan suhu
hangat yang memiliki kandungan karbonat-bikarbonat dalam jumlah banyak. Spirulina
juga banyak ditemukan di kolam yang dangkal beriklim tropis. Kondisi maksimal pH
untuk tumbuhnya Spirulina adalah pH 10 (Diaa, et al., 2013). Pernyataan ini juga
didukung teori Morases, et al. (2010) yang juga mengungkapkan bahwa Spirulina
banyak terdapat di air tawar yang basa dan hangat. Chang Seo, et al. (2013)
menambahkan bahwa alga tersebut memanfaatkan energi solar, CO2, dan mineral untuk
berkembang biak. Spirulina mengandung banyak manfaat. Selain diaplikasikan dalam
bidang pangan sebagai pewarna pada produk susu, permen karet, serta agar, menurut
Moraes, et al. (2010), fikosianin yang dihasilkan Spirulina plantesis juga dimanfaatkan
sebagai substansi antitumor, anti peradangan, serta sebagai penangkal radikal bebas
dikarenakan adanya rantai tetrapirol yang terbuka. Spirulina plantesis juga mengandung
zat gizi yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk farmasi, kosmetik, penelitian
biotek, bahan neutraseutikal. Kandungan bioaktifnya seperti sterol berfungsi
menghambat pertumbuhan mikroba seperti bakteri Bacillus substilis. Polisakarida
polisulfat pada Spirulina berfungsi sebagai antivirus untuk mencegah Measles virus dan
HIV, sedangkan kandungan asam lemak tak jenuhnya mampu meningkatkan HDL.
Fikosianin juga mampu sebagai pelindung organ saraf dan hati (Sharma, et al., 2014).
Tidak hanya itu, Antelo, et al. (2010) juga menambahkan bahwa fikosianin dapat
7

sebagai penanda fluorescence dalam bidang biomedis. Fikosianin juga telah terbukti
mampu sebagai bahan terapi antikanker (Chaiklahan, et al., 2011).

Praktikum ini dilakukan dengan metode ekstraksi yang berdasarkan teori Baum &
Bowen (1972) merupakan unit operasi untuk memisahkan suatu substansi dari
campurannya dengan tambahan pelarut. Beliau juga mengungkapkan bahwa untuk
memperoleh fikosianin bisa dilakukan dengan cara lain, seperti pengendapan dengan
ammonium sulfat maupun kromatografi. Mula-mula biomasa Spirulina ditimbang 8
gram dan dimasukkan ke erlenmeyer, kemudian ditambahkan 80 ml aquades
(perbandingan biomassa : aquades=1:10). Menurut Fox (1991) aquades sebagai pelarut
murni yang tidak mengubah sifat substansi yang dilarutkannya. Penggunaan Spirulina
tidak lepas dari kemampuannya dalam menghasilkan fikosianin dalam waktu yang
singkat (Tri Panji, et al., 1996). Hal ini karena menurut Syah, et al., (2005), fikosianin
larut dalam aquades karena aquades merupakan salah satu senyawa polar. Kemudian
campuran larutan tersebut diaduk dengan stirrer sekitar 2 jam. Andarwulan & Koswara
(1992) menyatakan pengadukan bertujuan untuk memisahkan fikosianin dari Spirulina.
Terlebih lagi, beliau juga menambahkan bahwa pengadukan berfungsi
menghomogenkan aquades dengan fikosianin sehingga mempermudah pengekstraksian.
Selanjutnya larutan disentrifugasi 5000 rpm dalam jangka waktu 10 menit agar
diperoleh supernatant & endapannya. Berdasarkan teori dari Silveira, et al., (2007)
sentrifugasi bertujuan memisahkan substansi menurut berat jenis molekul dengan
bantuan gaya sentifugal. Pada proses ini, molekul berberat jenis tinggi (endapan) yang
merupakan Spirulina akan berada di bagian bawah tabung, sedangkan substansi dengan
berat jenis ringan (supernatant) yang merupakan cairan mengandung fikosianin akan
berada di bagian atas.

Langkah selanjutnya adalah supernatant diukur kadar fikosianinnya dengan


spektrofotometer dengan panjang gelombang 615 nm dan 652 nm. Sebelumnya, larutan
diencerkan hingga pengenceran 10-2. Menurut Fox (1991), pengenceran bertujuan agar
larutan tidak terlalu pekat sehingga absorbansinya dapat diukur. Panjang gelombang ini
sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Sharma, et al. (2014) dan Antelo, et al.
(2010). Menurut Saranraj & Sivasakthi (2014) pada spektrofotometer, cahaya
8

diteruskan ke klorofil dengan dibantu keberadaan c-phycocyanin. Beliau juga


menyatakan bahwa pada panjang gelombang tersebut, akan teramati warna hijau biru,
sehingga cocok untuk megamati warna fikosianin yang dominan biru. Kemudian 8 ml
supernatant dicampurkan dengan 8 gram dekstrin hingga rata. Berdasarkan teori
Reynold (1982), dekstrin (C6H10O5)n merupakan karbohidrat dengan ikatan 1,6 alfa
glukosidik dan juga 1,4 alfa glukosidik, berwarna putih kekuningan dengan berat
molekul dan kelarutan yang tinggi yang berfungsi melindungi pigmen dari suhu tinggi,
memicu berjalannya proses pengeringan, mencegah oksidasi, dan meningkatkan yield.
Dekstrin dapat diproduksi dari pemecahan pati dengan bantuan asam, panas, serta
enzim. Murtala (1999) juga menambahkan prinsip kerja dekstrin adalah sebagai bahan
pengisi serta struktur spiralnya mampu melakukan enkapsulasi substansi yang mudah
larut, seperti flavor. Fennema (1985) menambahkan bahwa sifat dekstrin yang stabil
pada pemanasan membuatnya cocok diaplikasikan sebagai penstabil fikosianin.
Kemudian adonan dituang ke loyang untuk dikeringkan dengan cara dimasukkan ke
oven suhu 50ºC hingga kering. Hal ini akan membuat adonan berbentuk kering dan
gempal. Suhu pengeringan ini sesuai dengan teori Desmorieux & Dacaen (2006) karena
suhu pengeringan lebih dari 60oC akan menyebabkan degradasi fikosianin. Tidak hanya
itu, suhu yang berlebih juga memicu terjadinya reaksi maillard. Beliau juga
mengungkapkan bahwa pengeringan dengan oven dinilai lebih baik dibanding dengan
cahaya matahari yang dapat menimbulkan kontaminasi. Adonan yang kering serta
gempal harus dihancurkan hingga berbentuk serbuk. Hal ini didukung oleh pernyataan
Suhartono (2000), bahwa fikosianin lebih baik berwujud serbuk. Hal ini dikarenakan
pigmen cair mengandung banyak air bebas sehingga memungkinkan bakteri
berkembang biak di dalamnya dan berdampak pada umur simpan pigmen yang tidak
lama.

Menurut Fox (1991), analisa spektrofotometri adalah perbandingan absorbansi sampel


terhadap larutan standar. Faktor yang mempengaruhi nilai OD adalah konsentrasi
larutan, tebal cuvet, dan intensitas penyinaran. Kepekatan larutan berbanding lurus
dengan nilai OD, sedangkan pengenceran akan menurunkan kepekatan. Perbedaan nilai
OD berdampak pada nilai konsentrasi fikosianin & yield yang berbeda pula setiap
kelompoknya. Nilai KF dan yield tertinggi pada kelompok C5 berturut-turut 1,82 mg/ml
9

dan 12,51 mg/g sedangkan nilai terendah pada kelompok C4 sebesar 1,63 mg/ml dan
11,21 mg/g. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai KF, akan menghasilkan
nilai yield yang semakin tinggi pula. Moraes, et al. (2010) menyatakan bahwa yield
didefinisikan sebagai perbandingan mg hasil ekstraksi fikosianin dengan berat biomassa
keringnya. Seharusnya hasil yang diperoleh semua kelompok tidak terpaut banyak
karena metode yang dilakukan sama tanpa ada perbedaan perlakuan. Selain itu, menurut
Chaiklahan, et al. (2011), fikosianin menempati porsi 20% dari berat kering Spirulina.
Penyimpangan hasil pada setiap kelompok menurut teori dari Pomeranz & Meloan
(1987) dapat disebabkan karena adanya debu pada kuvet yang mempengaruhi intensitas
absorbsi cahaya, kesalahan memposisikan kuvet, kurang mahirnya dalam menggunakan
spektrofotometer, serta adanya kesalahan pengenceran. Selain itu, Chaiklahan, et al.
(2011) menambahkan bahwa ketidaksesuaian hasil dapat disebabkan karena yield
dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti metode ekstraksi, kualitas bahan baku, dan
tingkat kemurnian.

Dari segi hasil pengamatan warna, dapat dilihat bahwa semua kelompok memperoleh
warna hijau sangat tua sebelum dioven dan sebagian besar kelompok menghasilkan
warna hijau yang lebih muda setelah dioven. Hal ini sesuai dengan teori Moraes, et al.
(2010) yang menyatakan bahwa Spirulina kaya akan pigmen fikosianin dan klorofil
yang berwarna hijau kebiruan. Warna hijau terjadi karena warna klorofil lebih dominan
dibandingkan fikosianin itu sendiri. Terlebih lagi, warna itu karena ikatan kovalen pada
tetrapirol terbuka dengan cincin fikobillin (Saranraj & Sivasakthi, 2014). Warna yang
lebih muda setelah pengovenan menurut Angka & Suhartono (2000) disebabkan adanya
dekstrin berlebih yang mampu memudarkan warna bubuk. Penurunan warna juga sesuai
dengan teori dari Chaiklahan, et al. (2011), yang mengatakan bahwa pengovenan dapat
menurunkan kadar fikosianin karena pigmen tersebut terletak di sekeliling tilakoid
sehingga sensitif dengan temperatur saat pengovenan, sehingga warna hijau dari klorofil
akan lebih tampak. Namun pada kelompok C5 tidak menunjukkan perubahan warna.
Hal ini karena menurut Suparti (2000), dekstrin mampu melakukan enkapsulasi
fikosianin sehingga pigmen warna tidak banyak hilang. Kesalahan juga karena uji ini
dilakukan secara sensoris dimana menurut Sutisna (2001), uji sensoris bersifat
subyektif, serta hasilnya dipengaruhi kondisi fisik & mental panelis.
4. KESIMPULAN

 Fikosianin didefinisikan sebagai pewarna alami biru yang bersumber dari Spirulina
yang mudah larut serta sensitif terhadap suhu dan pH karena merupakan senyawa
protein.
 Spirulina adalah ganggang bersel banyak, berbentuk filamen, berwarna hijau
kebiruan, serta tumbuh optimal pada air tawar dengan kondisi basa dan bersuhu
hangat.
 Spirulina selain sebagai pewarna alami juga digunakan sebagai zat antioksidan,
antivirus, antikanker, anti peradangan, dan lain sebagainya.
 Dekstrin adalah golongan karbohidrat berwarna putih kekuningan yang berguna
sebagai bahan enkapsulasi komponen yang mudah larut serta sebagai bahan pengisi.
 Nilai OD berbanding lurus dengan kepekatan suatu larutan.
 Semakin tinggi konsentrasi fikosianin, akan semakin tinggi pula yield yang
diperoleh.
 Warna hijau sangat tua pada fikosianin yang memudar disebabkan karena
pengovenan menurunkan kandungan fikosianin, serta sebagai akibat dari keberadaan
dekstrin.

Semarang, 07 November 2016


Praktikan Asisten Dosen
- Ichlasia Ainul F.
- Anindita Putri A.

Jessica Christianti Purwadi


14.I1.0020

10
5. DAFTAR PUSTAKA

Andarwulan, N & S. Koswara. (1992). Kimia Vitamin. CV Rajawali. Jakarta.

Angka, S. I. & Suhartono M. T. (2000). Bioteknologi Hasil-Hasil Laut. Bogor : PKSPL-


IPB.

Antelo, F., Andreia A., Jorge A., & Susana J. (2010). Extraction and Purification of C-
phycocyanin from Spirulina platensis in Conventional and Integrated Aqueous
Two-Phase Systems. J. Braz. Chem. Soc. 21(5):921-926.

Baum, S.J. & W.R. Bowen. (1972). Exercise in Organic and Biological Chemistry. The
Macmillan Company. New York.

Chaiklahan, R., Nattayaporn C., Veara L., Suvit T., & Boosya B. (2011). Separation and
Purification of Phycocyanin from Spirulina sp. using a Membrane Process.
Bioresource Technology. 102:7159-7164.

Chaiklahan, R., Nattayaporn C., & Boosya B. (2012). Stability of Phycocyanin


Extracted from Spirulina sp.: Influence of Temperature, pH, and Preservatives.
Process Biochemistry. 47:659-664.

Chang Seo, Y., Seok Choi W., Ho Park J., Oh Park J., Hwan Jung K., & Yong Lee H.
(2013). Stable Isolation of Phycocyanin from Spirulina platensis Associated
with High-Pressure Extraction Process.

Desmorieux H & Dacaen N. (2006). Convective drying of Spirulina in thin layer.


Journal Of Food Engineering. 77:64-70.

Diaa A.M., Mohamed M.N., Yousef Y.S., Zakaria Y.D., & Aziz M.H. (2013). Impact of
Culturing Media on Biomass Production and Pigments Content of Spirulina
platensis. International Journal of Advanced Research. Volume 1 Issue 10: 951-
961.

Fennema, D. R. (1985). Food Chemistry, Third Edition. Marcel Dekker Inc. New York.

Fox, P.F. (1991). Food Enzymology Vol. 2. Elsevier Applied Science. London.

Moraes, C., Janaina, F., & Susana, J. (2010). C-phycocyanin Extraction Process for
Large Scale Use. Journal of Food Biochemistry. 34:133-148.

Murtala, S.S. (1999). Pengaruh Kombinasi Jenis dan Konsentrasi Bahan Pengisi
Terhadap Kualitas Bubuk Sari Buah Markisa Siul (Passiflora edulis F. Edulis).
Tesis. Pasca Sarjana Universitas Bawijaya Malang.

Pomeranz,Y. & C.E. Meloan. (1987). Food Analysis: Theory and Practice. Van
Nostrand Reinhold Company. New York.

11
12

Reynolds, James E.F. (1982). Martindale The Extra Pharmacopolia, Edition Twenty
Eigth. The Pharmacentical Press. London.
Romay C, Ledon N, & Gonzalez R. (1998). C-phycocyanin: A Biliprotein with
Antioxidant, Anti-inflammatory and Neuroprotective Effects. Current Protein
and Peptide Science. 4: 207-216.

Saranraj & Sivasakthi. (2014). Spirulina platensis – Food For Future: A Review. Asian
Journal of Pharmaceutical Science and Technology. 4(1): 26-33.

Sharma, G., Manoj K., Mohammad I., & Nakuleshwar D. (2014). Effect of Carbon
Content, Salinity, and pH on Spirulina platensis for Phycocyanin,
Allophycocyanin, and Phycoerythrin Accumulation. J. Microb Biochem
Technol. 6(4):202-206.

Silveira, S. T.; Burkert, J. F. M.; Costa, J. A. V.; Burkert, C. A.V.; & Kalil, S.J. (2007).
Optimization of Phycocyanin Extraction from Spirulina platensis Using
Factorial Design. Bioresour. Technol.; 98(8):1629-1634.

Steinkraus, H. (1983). Indigenous Fermented Food. Marcel Dekker. New York.

Suhartono T.S. (2000). Bioteknologi Hasil Laut. Pusat, Kajian Sumber Daya Pesisir dan
Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Suparti, W. (2000). Pembuatan Pewarna Bubuk dari Ekstrak Angkak: Pengaruh Suhu,
Tekanan dan Konsentrasi Dekstrin. Tesis. Program Pascasarjana. Universitas
Brawijaaya. Malang.

Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. PT. Remaja


Rosdakarya. Bandung.

Syah, Dahrul; S. Utama & Z. Mahrus. (2005). Manfaat dan Bahaya Bahan Tambahan
Pangan. Himpunan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.

Tietze, H. W. (2004). Spirulina Micro Food Macro Blessing.Ed ke-4. Australia: Haralz
W Tietze Publishing.
Tri Panji, S. Achmadi, & E. Tjahjadarmawan. (1996). Produksi Asam Gammalinolenat
dari Ganggang Mikro Spirulina platensis menggunakan Limbah Lateks Pekat.
Menara Perkebunan, 64 (1), 34-44

Yan, S., Zhu LP, Su HN, Zhang XY, Chen XL, Zhou BC, & Zhang YZ. (2011). Single-
Step Chromatography for Simultaneous Purification of C-Phycocyanin and
Allophycocyanin with High Purity and Recovery from Spirulina (Arthrospira)
platensis. J. Appl. Phycol. 23: 1-6.
6. LAMPIRAN

6.1. Perhitungan
Rumus:
OD615 – 0,474 (OD652 ) 1
Konsentrasi Fikosianin / KF (mg/ml) = x 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟𝑎𝑛 (10−2 )
5,34

KF × Vol (total filtrat)


Yield (mg/g) = g (berat biomassa)

Kelompok C1 = 1,67 mg/ml


0,1264−0,474 (0,0558) 1 1,67 ×55
KF = ×10−2 Yield =
5,34 8
0,1264−0,03 1 = 11,48 mg/g
= ×10−2
5,34

= 1,81 mg/ml
1,81 ×55
Kelompok C4
Yield = 0,1073−0,474 (0,0461) 1
8
KF = ×10−2
5,34
= 12,44 mg/g
= 1,63 mg/ml
1,63 ×55
Kelompok C2 Yield = 8
0,1096−0,474 (0,0475) 1 = 11,21 mg/g
KF = ×10−2
5,34

= 1,68 mg/ml
1,68 ×55
Kelompok C5
Yield = 0,1273−0,474 (0,0555) 1
8
KF = ×10−2
5,34
= 11,55 mg/g
= 1,82 mg/ml
1,82 ×55
Kelompok C3 Yield = 8
0,1090−0,474 (0,0480) 1 = 12,51 mg/g
KF = ×10−2
5,34

6.2. Laporan Sementara

6.3. Diagram Alir

6.4. Abstrak Jurnal

13