Anda di halaman 1dari 63

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BBLASR DENGAN

PEMBERIAN INTERVENSI TERAPI USAPAN


DI RUANG PERINATOLOGI RSU KABUPATEN TANGERANG

Disusun Oleh :
1. AHMAD HAMBALI NIM : 18315003
2. DAMAN HURI NIM : 18315018
3. DITA ANDRIANI D. SUYADI NIM : 18315035
4. ELIS SULISTIANAWATI NIM : 18315045
5. EPA YOHANTI NIM : 18315050
6. EUIS LAELA BADRIAH NIM : 18315054
7. FIRMAYANI NIM : 18315060
8. M. KURNIAWAN NIM : 18315115
9. SITI QOMARIYAH NIM : 18315157
10. WINDA SWINDYA FITRI NIM : 18315176

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
YATSI TANGERANG
TAHUN 2018

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Penyusunan makalah ini telah disetujui dan diperiksa untuk di presentasikan pada
Stase Anak Program Studi Profesi Ners
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) YATSI
Tangerang

Tangerang, Januari 2018

Menyetujui,

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Ns. Ria Setia Sari, S.Kep.,M.Kep Ns. Eni Prihatini, S.Kep

Mengetahui,
Kaprodi Keperawatan

Ns.Febi Ratnasari, S.Kep.,M.Kep

ii
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN BBLASR


DENGAN PEMBERIAN INTERVENSI TERAPI USAPAN
DI RUANG PERINATOLOGI RSU KABUPATEN TANGERANG

Disusun Oleh :
KELOMPOK PERINATOLOGI

Telah dipertahankan di hadapan Pembimbing

Tangerang, Januari 2018

Menyetujui,

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Ns. Ria Setia Sari, S.Kep.,M.Kep Ns. Eni Prihatini, S.Kep

Mengetahui,
Kaprodi Keperawatan

Ns.Febi Ratnasari, S.Kep.,M.Kep

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan pada pasien BBLASR dengan pemberian Terapi Usapan“
Dalam penulisan makalah ini kami tidak henti-hentinya mengucapkan
banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini, Makalah ini bertujuan memberikan informasi tentang
BBLR.

Kami sadar sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan oleh karenanya kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya kami mengharapkan agar makalah ini dapat berguna bagi


mahasiswa dan dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Tangerang, Januari 2018

Penyusun

iv
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR JUDUL ......................................................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 1
1.3 Tujuan Makalah ....................................................................... 1
1.4 Manfaat Makalah ..................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 4


2.1 Definisi . ................................................................................... 4
2.2 Etiologi .................................................................................... 5
2.3 Manifestasi Klinik ................................................................... 8
2.4 Penatalaksanaan ....................................................................... 9
2.5 Pathway .................................................................................. 12
2.6 Pemeriksaan Penunjang ........................................................... 12
2.7 Asuhan Keperawatan ................................................................ 13
2.8 Diagnosa Keperawatan ............................................................. 17
2.9 Rencana Keperawatan .............................................................. 18
2.10Evaluasi Keperawatan .............................................................. 31

BAB III TINJAUAN KASUS .................................................................... 32


3.1 Pengkajian Keperawatan ......................................................... 32

v
3.2 Analisa Data ........................................................................... 35
3.3 Diagnosa Keperawatan ............................................................ 36
3.4 Rencana Tindakan Keperawatan ............................................. 36
3.5 Implementasi & evaluasi keperawatan .................................... 39

BAB IV PEMBAHASAN .......................................................................... 47


4.1 Aplikasi Jurnal ......................................................................... 47
4.2 Kaitan jurnal dengan aplikasi .................................................. 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 54


5.1 Kesimpulan ............................................................................... 54
5.2 Saran ......................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 56

vi
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Jurnal

LAMPIRAN 2. Bentuk Inovasi dan Dokumentasinya

LAMPIRAN 3. Lembar Konsul

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah
kesehatan yang sering dialami pada sebagian masyarakat yang ditandai
dengan berat lahir kurang dari 2000 gram. Kejadian BBLR pada
dasarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa
kehamilan ibu dan hal ini berhubungan dengan banyak fakttr dan lebih utama
pada masalah perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan
konsumsi makanan pun kurang. Namun kejadian BBLR juga dapat terjadi
tidak hanya karena aspek perekonomian dimana kejadian BBLR dapat
saja terjadi pada mereka dengan status perekonomian . Hal ini dapat
berkaitan dengan paritas jarak kelahiran kadar hemoglobin dan pemanfaatan
pelayanan antenatal BBLR termasuk factor utama dalam peningkatan
mortalitas dan modiabilitas neonates bayi dan anak serta memberikan dampak
jangka panjang terhadap kehidupan dimasa depan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “ bagaimana asuhan keperawatan
bayi berat lahir rendah? “

1.3 TUJUAN MAKALAH


a. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan mampu menerapkan asuhan
keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan pada masalah bayi
berat lahir rendah
b. Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan secara tepat pada bayi
dengan berat badan lahir rendah

1
2. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas
masalah pada bayi dengan berat badan lahir rendah
3. Mampu merumuskan perencanaan asuhan secara tepat pada bayi
dengan berat badan lahir rendah sesuai dengan hasil pengkajian
prioritas masalah keperawatan dan mampu melaksanakan asuhan
keperawatan sehingga dapat mengatasi masalah yang dihadapi pada
bayi dengan berat badan lahir rendah
4. Mampu melakukan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan pemberian
asuhan keperawatan pada bayi dengan bayi berat badan lahir rendah
5. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada bayi dengan
berat badan lahir rendah
6. Mampu mengimplementasikan jurnal terkait

1.4 MANFAAT MAKALAH


Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah:
a. Bagi Rumah Sakit
Di harapkan pihak Rumah Sakit dapat menerapkan terapi usapan
pada BBLASR dibantu oleh keluarga terdekat yang bisa di terapkan
dalam aktivitas perawatan pasien di rumah.

b. Bagi Keluarga
Di harapkan keluarga mampu memahami dan dapat menerapkan
terapi usapan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh perawat sehingga
dapat meningkatkan berat badan bayi.

c. Bagi Perawat Ruangan


Di harapkan perawat dapat menerapkan terapi usapan pada bayi
BBLASR dan mengajarkan keluarga melakukan terapi usapan pada
pasien.

2
d. Bagi STIKes Yatsi
Sebagai bahan masukan dan referensi dalam kegiatan proses
belajar mengajar tentang asuhan keperawatan BBLASR yang dapat
digunakan sebagai acuan bagi praktek mahasiswa keperawatan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Menurut definisi WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum
usia kehamilan minggu ke 37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). Bayi
prematur atau bayi preterm adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu
tanpa memperhatikan berat badan, sebagian besar bayi prematur lahir dengan
berat badan kurang 2500 gram(Surasmi, dkk, 2013). Prematur juga sering
digunakan untuk menunjukkan imaturitas. Bayi dengan berat badan lahir
sangat rendah (BBLSR) yaitu kurang dari 1000 gram juga disebut sebagai
neonatus imatur. secara historis, bayi dengan berat badan lahir 2500 gram atau
kurang disebut bayi prematur (Behrman, dkk, 2010). Umumnya kehamilan
disebut cukup bulan bila berlangsung antara 37-41 minggu dihitung dari hari
pertama siklus haid terakhir pada siklus 28 hari. sedangkan persalinan yang
terjadi sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu disebut dengan
persalinan prematur (Sulistiarini & Berliana, 2016)
Istilah prematuritas telah diganti dengan bayi berat badan lahir rendah
(BBLR) karena terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat
badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena usia kehamilan kurang dari 37
minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup, atau
karena kombinasi keduanya (Maryunani & Nurhayati, 2009). Bayi berat lahir
rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang
dari 2500 gram (sampai dengan 2499 ram). Sejak tahun 1961 WHO telah
mengganti istilah prematur dengan bayi berat lahir rendah (BBLR). Hal ini
dilakukan karena tidak semua bayi yang berat badannya kurang dari 2500
gram pada waktu lahir adalah bayi prematur (Rukiyah & Yulianti, 2012).
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat badan lahir
rendah di bedakan:

4
 Bayi berat lahir rendah (BBLR) : berat lahir 1500 – 2500 gram
 Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) : berat lahir kurang dari 1500
gram
 Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) : Berat lahir kurang dari
1000 gram

2.2 ETIOLOGI
Bayi berat lahir rendah mungkin prematur ( kurang bulan ) mungkin juga
cukup bulan ( dismatur ).
PREMATUR MURNI
Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37
minggu dan mempunyai berat badan yang sesuai dengan masa kehamillan
atau disebut juga neonatus preterm / BBLR / SMK. Faktor Faktor yang
Mempengaruhi Terjadinya Persalinan Prematur atau BBLR adalah
1. Faktor Ibu
 Riwayat kelahiran prematur sebelumnya
 Gizi saat hamil kurang
 Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
 Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat
 Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan
pembuluh darah (perokok)
 Perdarahan antepartum, kelainan uterus, Hidramnion
 Faktor pekerja terlalu berat
 Primigravida
 Ibu muda (<20 tahun)
2. Faktor kehamilan
Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum,
komplikasi hamil seprti preeklamsia, eklamsi, ketuban pecah dini

3. Faktor janin

5
Cacat bawaan, infeksi dalam rahim dan kehamilan ganda., anomali
kongenital.
4. Faktor kebiasaan : Pekerjaan yang melelahkan, merokok
5. Faktor yang masih belum diketahui.

Karakteristik yang dapat ditemukan pada prematur murni adalah :


1. Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm,
lingkar kepala kurang dari 33 cm lingkar dada kurang dari 30 cm
2. Gerakan kurang aktif otot masih hipotonis
3. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
4. Kepala lebih besar dari badan rambut tipis dan halus
5. Tulang tulang tengkorak lunak, fontanela besar dan sutura besar
6. Telinga sedikit tulang rawannya dan berbentuk sederhana
7. Jaringan payudara tidak ada dan puting susu kecil
8. Pernapasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnu
9. Kulit tipis dan transparan, lanugo (bulu halus) banyak terutama pada dahi
dan pelipis dahi dan lengan
10. Lemak subkutan kurang
11. Genetalia belum sempurna , pada wanita labia minora belum tertutup
oleh labia mayora
12. Reflek menghisap dan menelan serta reflek batuk masih lemah

Bayi prematur mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh
masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi
belum sempurna . Oleh karena itu tindakan prefentif sudah dilakukan sejak
antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan prematuritas (BBLR)

DISMATUR
Dismatur (IUGR = Intra Uterine Growth Restiction) adalah bayi lahir dengan
berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan
dikarenakan mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan .

6
IUGR dibedakan menjadi dua yaitu
1. Proportionate IUGR
Janin yang menderita distres yang lama dimana gangguan pertumbuhan
terjadi berminggu-minggu sampai berbulan bulan sebelum bayi lahir
sehingga berat,panjang dada lingkaran kepala dalam proporsi yang
seimbang akan tetapi keseluruhannya masih dibawah masa gestasi yang
sebenarnya. Bayi ini tidak menunjukkan adanya Wasted oleh karena
retardasi pada janin terjadi sebelum terbentuknya adipose tissue
2. Disporpotionate IUGR
Terjadi karena distres subakut gangguan terjadi beberapa minggu sampai
beberapa hari sampai janin lahir. Pada keadaan ini panjang dan lingkar
kepala normal akan tetapi berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Bayi
tampak Wasted dengan tanda tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah
kulit , kulit kering keriput dan mudah diangkat bayi kelihatan kurus dan
lebih panjang

Faktor Faktor yang mempengaruhi BBLR pada Dismatur

1. Faktor ibu : Hipertensi dan penyakit ginjal kronik, perokok, penderita


penyakit diabetes militus yang berat, toksemia, hipoksia ibu, (tinggal
didaerah pegunungan , hemoglobinopati, penyakit paru kronik, gizi
buruk, Drug abbuse, peminum alkohol
2. Faktor utery dan plasenta : Kelainan pembuluh darah, (hemangioma)
insersi tali pusat yang tidak normal, uterus bicornis, infak plasenta,
tranfusi dari kembar yang satu kekembar yang lain, sebagian plasenta
lepas
3. Faktor janin : Gemelli, kelainan kromosom, cacat bawaan, infeksi dalam
kandungan, (toxoplasmosis, rubella, sitomegalo virus, herpez, sifillis)
4. Penyebab lain :Keadaan sosial ekonomi yang rendah, tidak diketahui

7
2.3 MANIFESTASI KLINIS
Menurut Proverawati (2010, h.2) mengatakan bahwa tanda dan gejala dari
BBLR adalah
1. Berat kurang atau sama dengan 2500 gram
2. Panjang kurang dari 45 cm
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm
4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
6. Kepala lebih besar
7. Kulit tipis, transparan, lambut lanugo banyak, lemak kurang
8. Otot hipotonik lemah
9. Pernafasan tak teratur dapat terjadi apnea
10. Kepala tidak mampu tegak, pernafasan 40 – 50x/menit
11. Nadi 100-140x/menit
12. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya
13. Tumit mengkilap, telapak kaki halus
14. Genetalia belum sempurna, labio minora belum tertutup oleh labio
mayora, klitoris menonjol (Bayi perempuan) dan testis belum turun ke
dalam skrotum, pigmentasi pada skrotum kurang (bayi laki-laki)
15. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakan lemah
16. Fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemah
17. Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan
jaringan lemak masih kurang

BBLR menunjukkan belum sempurnanya fungsi organ tubuh dengan keadaan


lemah , yaitu sebagai berikut:
1. Tanda – tanda bayi Kurang Bulan (KB):
a. Kulit tipis dan mengkilap
b. Tulang rawan telinga sangat lunak, karena belum terbentuk dengan
sempurna

8
c. Lanugo (rambut halus/lembut) masih banyak ditemukan terutama pada
punggung
d. Jaringan payudara belum terlihat, putting masih berupa titik
e. Pada bayi perempuan, labia mayora belum menutupi labia minora
f. Pada bayi laki – laki skrotum belum banyak lipatan, testing kadang
belum turun
g. Rajah telapak tangan kurang dari 1/3 bagian atau belum terbentuk
h. Kadang disertai dengan pernafasan tidak teratur
i. Aktifitas dan tangisnya lemah
j. Refleks menghisap dan menelan tidak efektif atau lemah.
2. Tanda – tanda bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
a. Umur bayi dapat cukup,kurang atau lebih bulan, tetapi beratnya kurang
dari 2500 gram
b. Gerakannya cukup aktif, tangis cukup kuat
c. Kulit keriput, lemak bawah kulit tipis
d. Bila kurang bulan, jaringan payudara kecil, putting kecil. Bila cukup
bulan, payudara putting sesuai masa kehamilan
e. Bayi perempuan bila cukup bulan labia mayora menuutupi labia
minora
f. Bayi laki – laki mungkin testis sudah turun
g. Rajah telapak kaki lebih dari 1/3 bagian
h. Menghisap cukup kuat

2.4 PENATALAKSANAAN
Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai kemungkinanan yang
dapat terjadi pada bayi prematuritas maka perawatan dan pengawasan
ditujukan pada pengaturan suhu , pemberian makanan bayi, Ikterus ,
pernapasan, hipoglikemi dan menghindari infeksi
a. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas /BBLR.
Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi
hipotermi karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik

9
metabolisme rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi
prematuritas harus dirawat dalam inkubator sehingga panas badannya
mendekati dalam rahim , apabila tidak ada inkubator bayi dapat dibungkus
dengan kain dan disampingnya ditaruh botol berisi air panas sehingga
panas badannya dapat dipertahankan.

b. Makanan bayi prematur.


Alat pencernaan bayi belum sempurna lambung kecil enzim pencrnaan
belum matang sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110
kal;/kgBB sehingga pertumbuhan dapat meningkat. Pemberian minum
bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului derngan menghisap cairan
lambung , reflek masih lemah sehingga pemberian minum sebaiknya
sedikit demi sedikit dengan frekwensi yang lebih sering. Asi merupakan
makanan yasng paling utama sehingga ASI lah yang paling dahulu
diberikan, bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan
diberikan dengan sendok perlahan lahan atau dengan memasang sonde.
Permulaan cairan yang diberikan 50- 60 cc/kgBB/hari terus dinaikan
sampai mencapai sekitar 200 cc/kgBB/hari

c. Ikterus
Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum
matur dan bilirubin tak berkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien
sampai 4-5 hari berlalu . Ikterus dapat diperberat oleh polisetemia, memar
hemolisias dan infeksi karena hperbiliirubinemia dapat menyebabkan
kernikterus maka warna bayi harus sering dicatat dan bilirubin diperiksa
bila ikterus muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat

d. Pernapasan
Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada
penyakit ini tanda- tanda gawat pernapasan selalu ada dalam 4 jam bayi

10
harus dirawat terlentang atau tengkurap dalam inkubator dada abdomen
harus dipaparkan untuk mengobservasi usaha pernapasan

e. Hipoglikemi
Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan
lahir rendah, harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan
gula darah secara teratur

f. Menghindari Infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan
tubuh masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan
antibodi belum sempurna . Oleh karena itu tindakan prefentif sudah
dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan
prematuritas (BBLR)

11
2.5 PATHWAY

2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.000 -
24.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ).
b. Hematokrit ( Ht ) : 43%-61 % ( peningkatan sampai 65 % atau lebih
menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau
hemoragic prenatal/perinatal ).

12
c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan
anemia atau hemolisis berlebihan ).
d. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari,
dan 12 mg/dl pada 3-5 hari. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6
jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70
mg/dl pada hari ketiga.
e. Pemantauan elektrolit ( Na, K, Cl ) : biasanya dalam batas normal pada
awalnya.
f. Pemeriksaan Analisa gas darah

2.7 ASUHAN KEPERAWATAN


a. Data subyektif terdiri dari
Biodata atau identitas pasien :
Bayi meliputi nama tempat tanggal lahir jenis kelamin
Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan,
pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat
Riwayat kesehatan
Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat antenatal pada
kasus BBLR yaitu:
Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk, merokok
ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus,
kardiovaskuler dan paru.
Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple,
kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.
Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa tetapi tidak
teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas kesehatan.
Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan
postdate atau preterm).
Riwayat natal
Komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan
permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu dikaji :

13
Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta previa.
Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena pemakaian obat
penenang (narkose) yang dapat menekan sistem pusat pernafasan.
Riwayat post natal
Yang perlu dikaji antara lain :
Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS (0-3)
asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia ringan.
Berat badan lahir : Preterm/BBLR ≤ 2500 gram lingkar kepala kurang atau
lebih dari normal (34-36 cm).
Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial aesofagal.
Pola nutrisi
Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi
gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu
diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk
mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengkoreksi
dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat
intravena.
Kebutuhan minum pada neonatus :
Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari
Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari
Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari
Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari
Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 – 200 cc/kg BB/hari
Pola eliminasi
Yang perlu dikaji pada neonatus adalah
BAB : frekwensi, jumlah, konsistensi.
BAK : frekwensi, jumlah

Latar belakang sosial budaya


Kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR kebiasaan ibu merokok,
ketergantungan obat-obatan tertentu terutama jenis psikotropika

14
Kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, kebiasaan ibu melakukan
diet ketat atau pantang makanan tertentu.

Hubungan psikologis
Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan rawat gabung dengan ibu
jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini berguna sekali dimana bayi akan
mendapatkan kasih sayang dan perhatian serta dapat mempererat hubungan
psikologis antara ibu dan bayi. Lain halnya dengan BBLR karena
memerlukan perawatan yang intensif

b. Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui suatu pengukuran dan
pemeriksaan dengan menggunakan standart yang diakui atau berlaku.

Keadaan umum
Pada neonatus dengan BBLR, keadaannya lemah dan hanya merintih.
Keadaan akan membaik bila menunjukkan gerakan yang aktif dan menangis
keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan.
Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada
pembesaran lingkar kepala dapat menunjukkan kondisi neonatus yang baik.

Tanda-tanda Vital
Neonatus post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia
benar, tepat dan cepat. Untuk bayi preterm beresiko terjadinya hipothermibila
suhu tubuh < 36,5 0C dan beresiko terjadi hipertermi bila suhu tubuh > 37,5 0
C. Sedangkan suhu normal tubuh antara 36,5 0C – 37,5 0C, nadi normal antara
120-140 kali per menit respirasi normal antara 40-60 kali permenit, sering
pada bayi post asfiksia berat pernafasan belum teratur
Pemeriksaan fisik adalah melakukan pemeriksaan fisik pasien untuk
menentukan kesehatan pasien

15
Kulit
Warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstrimitas berwarna biru, pada bayi
preterm terdapat lanugo dan verniks.
Kepala
Kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-
ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan
intrakranial.
Mata
Warna conjunctiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjunctiva,
warna sklera tidak kuning, pupil menunjukkan refleksi terhadap cahaya.
Hidung
Terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lendir.
Mulut
Bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
Telinga
Perhatikan kebersihannya dan adanya kelainan
Leher
Perhatikan kebersihannya karena leher nenoatus pendek
Thorax
Bentuk simetris, terdapat tarikan intercostal, perhatikan suara wheezing dan
ronchi, frekwensi bunyi jantung lebih dari 100 kali per menit.
Abdomen
Bentuk silindris, hepar bayi terletak 1 – 2 cm dibawah arcus costaae pada
garis papila mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau
tumor, perut cekung adanya hernia diafragma, bising usus timbul 1 sampai 2
jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI Tract
belum sempurna.
Umbilikus
Tali pusat layu, perhatikan ada pendarahan atau tidak, adanya tanda – tanda
infeksi pada tali pusat.

16
Genitalia
Pada neonatus aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara
uretra pada neonatus laki – laki, neonatus perempuan lihat labia mayor dan
labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
Anus
Perhatikan adanya darah dalam tinja, frekuensi buang air besar serta warna
dari faeses.
Ekstremitas
Warna biru, gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau
adanya kelumpuhan syaraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
Refleks
Pada neonatus preterm post asfiksia berat reflek moro dan sucking lemah.
Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf
pusat atau adanya patah tulang

2.8 DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada neonatus dengan BBLR antara
lain:

1. Pola nafas tidak efektif b/d imaturitas organ pernafasan

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas oleh
penumpukan lendir, reflek batuk
3. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh b/d BBLR, usia kehamilan
kurang, paparan lingkungan dingin/panas.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
ketidakmampuan ingest/digest/absorb
5. Ketidakefektifan pola minum bayi b/d prematuritas
6. Hipotermi b/d paparan lingkungan dingin
7. Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan system kekebalan tubuh
8. PK : Hipoglikemia

17
2.9 RENCANA KEPERAWATAN

N Diagnosa keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi


o Hasil

1 Pola nafas tidak efektif NOC : NIC :


b/d imaturitas organ Respiratory status :
pernafasan Ventilation Airway Management
Respiratory status :
Definisi : Pertukaran Airway patency  Buka jalan nafas,
udara inspirasi dan/atau Vital sign Status guanakan teknik chin
ekspirasi tidak adekuat Kriteria Hasil : lift atau jaw thrust
Mendemonstrasikan bila perlu
Batasan karakteristik : batuk efektif dan  Posisikan pasien
- Penurunan tekanan suara nafas yang untuk
inspirasi/ekspirasi bersih, tidak ada memaksimalkan
- Penurunan pertukaran sianosis dan dyspneu ventilasi
udara per menit (mampu  Identifikasi pasien
- Menggunakan otot mengeluarkan sputum, perlunya pemasangan
pernafasan tambahan mampu bernafas alat jalan nafas
- Nasal flaring dengan mudah, tidak buatan
- Dyspnea ada pursed lips)  Pasang mayo bila
- Orthopnea Menunjukkan jalan perlu
- Perubahan nafas yang paten  Lakukan fisioterapi
penyimpangan dada (klien tidak merasa dada jika perlu
- Nafas pendek tercekik, irama nafas,  Keluarkan sekret
- Assumption of 3-point frekuensi pernafasan dengan batuk atau
position dalam rentang normal, suction
- Pernafasan pursed-lip tidak ada suara nafas
 Auskultasi suara
- Tahap ekspirasi abnormal)
nafas, catat adanya
berlangsung sangat lama Tanda Tanda vital
suara tambahan
- Peningkatan diameter dalam rentang normal
 Lakukan suction
anterior-posterior (tekanan darah, nadi,
pada mayo
- Pernafasan rata- pernafasan)
rata/minimal  Berikan
Bayi : < 25 atau > 60 bronkodilator bila
Usia 1-4 : < 20 atau > 30 perlu
Usia 5-14 : < 14 atau >  Berikan pelembab
25 udara Kassa basah
Usia > 14 : < 11 atau > NaCl Lembab
24  Atur intake untuk
- Kedalaman pernafasan cairan
Dewasa volume tidalnya mengoptimalkan
500 ml saat istirahat keseimbangan.
Bayi volume tidalnya 6-  Monitor respirasi dan
status O2

18
8 ml/Kg
- Timing rasio Oxygen Therapy
- Penurunan kapasitas  Bersihkan mulut,
vital hidung dan secret
trakea
Faktor yang  Pertahankan jalan
berhubungan : nafas yang paten
- Hiperventilasi  Atur peralatan
- Deformitas tulang oksigenasi
- Kelainan bentuk  Monitor aliran
dinding dada oksigen
- Penurunan  Pertahankan posisi
energi/kelelahan pasien
-  Observasi adanya
Perusakan/pelema tanda tanda
han muskulo-skeletal hipoventilasi
- Obesitas
 Monitor adanya
- Posisi tubuh kecemasan pasien
- Kelelahan otot terhadap oksigenasi
pernafasan
- Hipoventilasi
Vital sign Monitoring
sindrom
- Nyeri
 Monitor TD, nadi,
- Kecemasan
suhu, dan RR
- Disfungsi
Neuromuskuler  Catat adanya
- Kerusakan fluktuasi tekanan
persepsi/kognitif darah
- Perlukaan pada  Monitor VS saat
jaringan syaraf tulang pasien berbaring,
belakang duduk, atau berdiri
- Imaturitas  Auskultasi TD pada
Neurologis kedua lengan dan
bandingkan
 Monitor TD, nadi,
RR, sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari
nadi
 Monitor frekuensi
dan irama pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola
pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna,
dan kelembaban kulit

19
 Monitor sianosis
perifer
 Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign

2 Bersihan jalan nafas NOC : NIC :


tidak efektif b/d Respiratory status : Airway suction
obstruksi jalan nafas Ventilation  Auskultasi suara nafas
oleh penumpukan Respiratory status : sebelum dan sesudah
lendir, reflek batuk. Airway patency suctioning.
Aspiration Control  Informasikan pada
Definisi : klien dan keluarga
Ketidakmampuan untuk Kriteria Hasil : tentang suctioning
membersihkan sekresi Mendemonstrasikan  Minta klien nafas
atau obstruksi dari batuk efektif dan dalam sebelum suction
saluran pernafasan suara nafas yang dilakukan.
untuk mempertahankan bersih, tidak ada  Berikan O2 dengan
kebersihan jalan nafas. sianosis dan dyspneu menggunakan nasal
(mampu untuk memfasilitasi
Batasan Karakteristik : mengeluarkan sputum, suksion nasotrakeal
mampu bernafas  Gunakan alat yang
- Dispneu, Penurunan
dengan mudah, tidak steril sitiap melakukan
suara nafas
ada pursed lips) tindakan
- Orthopneu
Menunjukkan jalan  Anjurkan pasien untuk
- Cyanosis
nafas yang paten istirahat dan napas
- Kelainan suara nafas
(klien tidak merasa dalam setelah kateter
(rales, wheezing)
tercekik, irama nafas, dikeluarkan dari
- Kesulitan berbicara
frekuensi pernafasan nasotrakeal
- Batuk, tidak efekotif
dalam rentang normal,
atau tidak ada  Monitor status oksigen
tidak ada suara nafas
- Mata melebar pasien
abnormal)
- Produksi sputum  Ajarkan keluarga
Mampu
- Gelisah bagaimana cara
mengidentifikasikan
- Perubahan frekuensi melakukan suksion
dan mencegah factor
dan irama nafas
yang dapat  Hentikan suksion dan
berikan oksigen
menghambat jalan
Faktor-faktor yang apabila pasien
nafas
menunjukkan
berhubungan:
bradikardi,

20
- Lingkungan : peningkatan saturasi
merokok, menghirup O2, dll.
asap rokok, perokok
pasif-POK, infeksi
- Fisiologis : disfungsi Airway Management
neuromuskular,  Buka jalan nafas,
hiperplasia dinding guanakan teknik chin
bronkus, alergi jalan lift atau jaw thrust
nafas, asma. bila perlu
- Obstruksi jalan nafas  Posisikan pasien
: spasme jalan nafas, untuk
sekresi tertahan, memaksimalkan
banyaknya mukus, ventilasi
adanya jalan nafas  Identifikasi pasien
buatan, sekresi bronkus, perlunya
adanya eksudat di pemasangan alat
alveolus, adanya benda jalan nafas buatan
asing di jalan nafas.  Pasang mayo bila
perlu
 Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
 Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
 Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
 Lakukan suction
pada mayo
 Kolaborasikan
pemberian
bronkodilator bila
perlu
 Berikan pelembab
udara Kassa basah
NaCl Lembab
 Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
 Monitor respirasi dan
status O2

21
3 Risiko NOC : NIC :
ketidakseimbangan Hydration Temperature
temperatur tubuh b/d Adherence Behavior Regulation
BBLR, usia kehamilan Immune Status (pengaturan suhu)
kurang, paparan Infection status  Monitor suhu
lingkungan dingin/panas Risk control minimal tiap 2 jam
Risk detection  Rencanakan
Definisi : Risiko monitoring suhu
kegagalan secara kontinyu
mempertahankan suhu  Monitor TD, nadi,
tubuh dalam batas dan RR
normal.  Monitor warna dan
Faktor factor resiko: suhu kulit
 Monitor tanda-tanda
 Perubahan hipertermi dan
metabolisme hipotermi
dasar  Tingkatkan intake
 Penyakit atau cairan dan nutrisi
trauma yang  Selimuti pasien untuk
mempengaruhi mencegah hilangnya
pengaturan suhu kehangatan tubuh
 Pengobatan
 Ajarkan pada pasien
pengobatan yang
cara mencegah
menyebabkan
keletihan akibat
vasokonstriksi
panas
dan vasodilatasi
 Diskusikan tentang
 Pakaian yang
pentingnya
tidak sesuai
pengaturan suhu dan
dengan suhu
kemungkinan efek
lingkungan
negatif dari
 Ketidakaktifan
kedinginan
atau aktivitas
berat  Beritahukan tentang
 Dehidrasi indikasi terjadinya
 Pemberian obat keletihan dan
penenang penanganan
 Paparan dingin emergency yang
atau diperlukan
hangat/lingkung  Ajarkan indikasi dari
an yang panas hipotermi dan
penanganan yang
diperlukan
 Berikan anti piretik
jika perlu

22
4 Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Nutritional Status : Nutrition Management
kebutuhan tubuh b/d Nutritional Status :  Kaji adanya alergi
ketidakmampuan food and Fluid Intake makanan
ingest/digest/absorb Nutritional Status :  Kolaborasi dengan
nutrient Intake ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi Weight control menentukan jumlah
tidak cukup untuk Kriteria Hasil : kalori dan nutrisi
keperluan metabolisme Adanya peningkatan yang dibutuhkan
tubuh. berat badan sesuai pasien.
dengan tujuan  Anjurkan pasien
Batasan karakteristik : Beratbadan ideal untuk meningkatkan
- Berat badan 20 % atau sesuai dengan tinggi intake Fe
lebih di bawah ideal badan  Anjurkan pasien
- Dilaporkan adanya Mampumengidentifika untuk meningkatkan
intake makanan yang si kebutuhan nutrisi protein dan vitamin
kurang dari RDA Tidk ada tanda tanda C
(Recomended Daily malnutrisi  Berikan substansi
Allowance) Menunjukkan gula
- Membran mukosa dan peningkatan fungsi  Yakinkan diet yang
konjungtiva pucat pengecapan dari dimakan
- Kelemahan otot yang menelan mengandung tinggi
digunakan untuk Tidak terjadi serat untuk
menelan/mengunyah penurunan berat badan mencegah konstipasi
- Luka, inflamasi pada yang berarti
 Berikan makanan
rongga mulut yang terpilih ( sudah
- Mudah merasa dikonsultasikan
kenyang, sesaat setelah dengan ahli gizi)
mengunyah makanan
 Ajarkan pasien
- Dilaporkan atau fakta
bagaimana membuat
adanya kekurangan
catatan makanan
makanan
harian.
- Dilaporkan adanya
 Monitor jumlah
perubahan sensasi rasa
nutrisi dan
- Perasaan
kandungan kalori
ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan  Berikan informasi
- Miskonsepsi tentang kebutuhan
- Kehilangan BB nutrisi
dengan makanan cukup  Kaji kemampuan
- Keengganan untuk pasien untuk
makan mendapatkan nutrisi
- Kram pada abdomen yang dibutuhkan
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdominal Nutrition Monitoring
dengan atau tanpa  BB pasien dalam

23
patologi batas normal
- Kurang berminat  Monitor adanya
terhadap makanan penurunan berat
- Pembuluh darah badan
kapiler mulai rapuh  Monitor tipe dan
- Diare dan atau jumlah aktivitas yang
steatorrhea biasa dilakukan
- Kehilangan rambut  Monitor interaksi
yang cukup banyak anak atau orangtua
(rontok) selama makan
- Suara usus hiperaktif  Monitor lingkungan
- Kurangnya informasi, selama makan
misinformasi  Jadwalkan
pengobatan dan
Faktor-faktor yang tindakan tidak
berhubungan : selama jam makan
Ketidakmampuan  Monitor kulit kering
pemasukan atau dan perubahan
mencerna makanan atau pigmentasi
mengabsorpsi zat-zat
 Monitor turgor kulit
gizi berhubungan
 Monitor kekeringan,
dengan faktor biologis,
rambut kusam, dan
psikologis atau
mudah patah
ekonomi.
 Monitor mual dan
muntah
 Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan
kadar Ht
 Monitor makanan
kesukaan
 Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori dan
intake nuntrisi
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan
cavitas oral.
 Catat jika lidah

24
berwarna magenta,
scarlet

5 Ketidakefektifan pola NOC : NIC :


minum bayi b/d Breastfeeding Breastfeeding
prematuritas Estabilshment : infant assistance
Knowledge :  Fasilitasi kontak ibu
breastfeeding dengan bayi sawal
Breastfeeding mungkin (maksimal
Maintenance 2 jam setelah lahir )
Kriteria Hasil :  Monitor kemampuan
Klien dapat menyusui bayi untuk
dengan efektif menghisap
Memverbalisasikan  Dorong orang tua
tehnik untk mengatasi untuk meminta
masalah menyusui perawat untuk
Bayi menandakan menemani saat
kepuasan menyusu menyusui sebanyak
Ibu menunjukkan 8-10 kali/hari
harga diri yang positif  Sediakan kenyaman
dengan menyusui an dan privasi selama
menyusui
 Monitor kemampuan
bayi untukmenggapai
putting
 Dorong ibu untuk
tidak membatasi bayi
menyusu
 Monitor integritas
kulit sekitar putting
 Instruksikan
perawatan putting
untukmencegah lecet
 Diskusikan
penggunaan pompa
ASI kalau bayi
tidakmampu
menyusu
 Monitor peningkatan
pengisian ASI
 Jelaskan penggunaan
susu formula hanya
jika diperlukan
 Instruksikan ibu
untuk makan

25
makanan bergizi
selama menyusui
 Dorong ibu untuk
minum jika sudah
merasa haus
 Dorong ibu untuk
menghindari
penggunaan rokok
dan Pil KB selama
menyusui
 Anjurkan ibu untuk
memakai Bra yang
nyaman, terbuat dari
cootn dan
menyokong payudara
 Dorong ibu untuk
melanjutkan laktasi
setelah pulang
bekerja/sekolah

6 Hipotermi b/d paparan NOC : NIC :


lingkungan dingin Thermoregulation Temperature
Thermoregulation : regulation
neonate  Monitor suhu
Kriteria Hasil : minimal tiap 2 jam
Suhu tubuh dalam  Rencanakan
rentang normal monitoring suhu
Nadi dan RR dalam secara kontinyu
rentang normal  Monitor TD, nadi,
dan RR
 Monitor warna dan
suhu kulit
 Monitor tanda-tanda
hipertermi dan
hipotermi
 Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
 Selimuti pasien
untuk mencegah
hilangnya
kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien
cara mencegah
keletihan akibat
panas

26
 Diskusikan tentang
pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek
negatif dari
kedinginan
 Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan
penanganan
emergency yang
diperlukan
 Ajarkan indikasi
dari hipotermi dan
penanganan yang
diperlukan
 Berikan anti piretik
jika perlu

Vital sign Monitoring

 Monitor TD, nadi,


suhu, dan RR
 Catat adanya
fluktuasi tekanan
darah
 Monitor VS saat
pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
 Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan
 Monitor TD, nadi,
RR, sebelum,
selama, dan setelah
aktivitas
 Monitor kualitas
dari nadi
 Monitor frekuensi
dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola
pernapasan
abnormal

27
 Monitor suhu,
warna, dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis
perifer
 Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang
melebar, bradikardi,
peningkatan
sistolik)
 Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign

7 Resiko infeksi b/d NOC : NIC :


ketidakadekuatan Immune Status Infection Control
system kekebalan tubuh. Knowledge : Infection (Kontrol infeksi)
control  Bersihkan lingkungan
Definisi : Peningkatan Risk control setelah dipakai pasien
resiko masuknya Kriteria Hasil : lain
organisme patogen Klien bebas dari tanda  Pertahankan teknik
dan gejala infeksi isolasi
Faktor-faktor resiko : Menunjukkan  Batasi pengunjung
- Prosedur Infasif kemampuan untuk bila perlu
- Ketidakcukupan mencegah timbulnya  Instruksikan pada
pengetahuan untuk infeksi pengunjung untuk
menghindari paparan Jumlah leukosit dalam mencuci tangan saat
patogen batas normal berkunjung dan
- Trauma Menunjukkan perilaku setelah berkunjung
- Kerusakan jaringan hidup sehat meninggalkan pasien
dan peningkatan  Gunakan sabun
paparan lingkungan antimikrobia untuk
- Ruptur membran cuci tangan
amnion  Cuci tangan setiap
- Agen farmasi sebelum dan sesudah
(imunosupresan) tindakan kperawtan
- Malnutrisi
 Gunakan baju, sarung
- Peningkatan paparan tangan sebagai alat
lingkungan patogen
pelindung
- Imonusupresi
 Pertahankan
- Ketidakadekuatan
lingkungan aseptik
imum buatan
selama pemasangan
- Tidak adekuat
alat
pertahanan sekunder

28
(penurunan Hb,  Ganti letak IV perifer
Leukopenia, penekanan dan line central dan
respon inflamasi) dressing sesuai
- Tidak adekuat dengan petunjuk
pertahanan tubuh primer umum
(kulit tidak utuh, trauma  Gunakan kateter
jaringan, penurunan intermiten untuk
kerja silia, cairan tubuh menurunkan infeksi
statis, perubahan sekresi kandung kencing
pH, perubahan  Tingkatkan intake
peristaltik) nutrisi
- Penyakit kronik  Berikan terapi
antibiotik bila perlu

Infection Protection
(proteksi terhadap
infeksi)
 Monitor tanda dan
gejala infeksi
sistemik dan lokal
 Monitor hitung
granulosit, WBC
 Monitor kerentanan
terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
 Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
 Pertahankan teknik
isolasi k/p
 Berikan perawatan
kuliat pada area
epidema
 Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
 Ispeksi kondisi luka
/ insisi bedah
 Dorong masukkan
nutrisi yang cukup

29
 Dorong masukan
cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien
untuk minum
antibiotik sesuai
resep
 Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan cara
menghindari infeksi
 Laporkan
kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur
positif

8 PK : Hipoglikemia Tujuan : perawat  Pantau kadar gula


dapat menangani dan darah sebelum
meminimalkan pemberian obat
episode hipoglikemi hipoglikemik dan
atau sebelum makan
dan satu jam sebelum
tidur
 Pantau tanda dan
gejala hipoglikemi
(kadar gula darah
kurang dari 70 mg/dl,
kulit dingin, lembab
dan pucat,
takikardi,peka
terhadap rangsang,
tidak sadar, tidak
terkoordinasi,
bingung, mudah
mengantuk)
 Jika klien dapat
menelan, berikans
etengah gelas jus
jeruk, cola atau
semacam golongan
jahe setiap 15 menit
sampai kadar glukosa
darahnya meningkat
diatas 69 mg/dl

30
 Jika klien tidak dapat
menelan,
berikanglukagon
hidroklorida
subkutan 50 ml
glukosa 50% dalam
air IV sesuai protocol

2.10 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah merupakan langkah akhir dari proses keperawatan
yaitu proses penilaian pencapaian tujuan dalam rencana perawatan, tercapai
atau tidak serta untuk pengkajian ulang rencana keperawatan (Santosa NI,
1995). Evaluasi dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien,
perawat dan petugas kesehatan yang lain. Dalam menentukan tercapainya
suatu tujuan asuhan keperawatan pada bayi dengan post Asfiksia sedang,
disesuaikan dengan kriteria evaluasi yang telah ditentukan. Tujuan asuhan
keperawatan dikatakan berhasil bila diagnosa keperawatan didapatkan hasil
yang sesuai dengan kriteria evaluasi.

31
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN
Data Bayi :
By. Ny. H Jenis kelamin perempuan, lahir 19 desember 2018 dengan BB lahir
950 BB saat di kaji 1110 gram dan PB 37 cm.
Pengkajian Fisik Neonatus :
Reflek moro, menggenggam dan menghisap Ada, Aktivitas aktif, bayi
menangis lemah, Kepala dan wajah simetris, Sutura sagitalis terpisah, mata
bersih, telinga dan hidung simetris. Abdomen lunak, tidak ada kembung
Lingkar perut 24 cm, Toraks simetris, suara paru bersih, kiri kanan sama,
bunyi jantung 135 x/mnt.
Gerakan ekstremitas bebas, gerakan aktif, umbilikus sudah lepas, Genetalia
perempuan normal, anus paten, kulit berwarna kemarahan, bayi berada di
inkubator dengan suhu 33-34 0C. Suhu kulit 36,9 0C, Nadi 135 x/mnt.

DATA IBU
Nama Ibu Ny. H, pekerjaan Ibu Rumah tangga, Nama Ayah Tn H Pekerjaan
Alamat Grand Duta Tangerang
RIWAYAT PRANATAL (ANC)
Ibu merencanakan kehamilan ini, pada saat hamil, ibu memeriksakan
kehamilannya secara rutin ke dokter kandungan. HPHT 8 Mei 2018,
Kenaikan BB selama hamil 6 Kg, Selama hamil ibu tidak pernah dirawat tapi
ibu sering mengalami perdarahan (Flek) sehingga dianjurkan untuk tidak
boleh melakukan aktivitas yang berat dan makan makanan yang sehat, obat-
obatan yang di dapat folamil 1 x 1. ibu tidak pernah di periksa rubella,
hepatitis, Chlamidia, VDRL, GO, Herpes dan HIV hanya pemeriksaan gol
darah yaitu A Rh (-) karena selama hamil ibu tidak mendapat instruksi dari
dokter untuk pemeriksaan tersebut.

32
RIWAYAT PERSALINAN (INTRA NATAL)
Persalinan di mulai tgl 18 Desember 2018 melalui proses induksi, lama kala 2
± ½ jam, lahir pervaginan, normal, di Rumah sakit, tidak ada komplikasi
persalinan.

RIWAYAT POST NATAL


bayi lahir dengan Apgar score 5/6, tidak ada trauma lahir, meconium (+)
RIWAYAT SOSIAL
Struktur keluarga (Genogram)

Keterangan:
: Perempuan
: Laki-laki
: Hubungan keluarga
: Pasien

33
Pasien berasal dari suku Jawa, beragama Islam, Ibu berencana hanya
memberikan ASI pada bayi, ibu dan ayah berkunjungm menyentuh,
memeluk, berbicara, memanggil nama dan kontak mata dengan bayi, orang
tua mengikuti setiap prosedur dari rumah sakit. Bayi memiliki saudara
perempuan dengan riwayat persalinan normal dan riwayat riwayat imunisai
lengkap.

Data tambahan
LAB 19-12-2018
HB 15,5 gr/dl
Leukosit 16,70 /mm3
Hematokrit 47 %
Trombosit 202 Mcl
GDS 24 gr/dl
CRP 0,02

34
3.2 ANALISA DATA

Inisial klien : By. Ny H

Ruangan : Perinatologi Atas

Umur : 20 Hari

MASALAH/ DIAGNOSA
DATA (DS & DO)
KEPERAWATAN

DS : BBLASR
Ibu mengatakan bayinya belum dapat ↓
menghisap puting payudaranya Reflek menghisap lemah
DO : ↓
- Ibu terlihat rutin datang setiap hari Pemenuhan ASI/Intake Kurang
untuk menyusui bayinya ↓
- Ibu membawa ASI untuk di titip di Ketidak cukupan ASI
kulkas RS
- Bayi di berikan ASI 10 x 50 cc

DS : Klien Bayi BBLASR


DO : ↓
- BB lahir 950 gram Pusat pengaturan panas belum
- BBS 1110 gram berfungsi dengan baik
- Kulit bayi tipis ↓
- Suhu 36,9 0C Mudah kehilangan panas
- Suhu inkubator 34 0C ↓
Resiko Hipotermi

35
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakcukupan ASI
2. Risiko Hipotermia

3.4 RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Inisial Klien : By. Ny. H

Diagnosa Medis : BBLASR

Ruangan : Perinatologi Atas

Tanggal : 8 Januari 2019

Diagnosa
keperawatan &
NOC NIC
data penunjang
(DO & DS)
Domain 2: Nutrisi Setelah dilakukan tindakan Domain 1: Fisiologi Dasar
Kelas 1: Makan keperawatan terapi Nutrisi 16-30 Kelas D: Dukungan Nutrisi
Kode 00216: menit diharapkan ketidakcukupan Kode 1160: Terapi Nutrisi
Ketidakcukupan ASI dapat teratasi dengan kriteria - Monitor instruksi diet yang
ASI hasil: sesuai untuk memenuhi
Domain 2: Kesehatan Fisiologi kebutuhan nutrisi (pasien)
Kelas K: Pencernaan dan Nutrisi perhari, sesuai kebutuhan
Kode 1020: Status nutrisi bayi - Pilih suplemen nutrisi sesuai
- 102001 intake nutrisi sebagian kebutuhan
besar adekuat - Berikan nutrisi enteral, sesuai
- 102003 intek cairan lewat kebutuhan
mulut sepenuhnya - Hentikan memberikan makan
- 102006 hidrasi sepenuhnya melalui selang makanan begitu
adekuat pasien mampu mentoleransi
- 102009 hemoglobin aupan
sepenuhnya adekuat - Berikan nutisi yang
- 102013 intake protein dibutuhkan sesuai batas diet

36
sepenuhnya adekuat yang dianjurkan
- 102014 intake lemak - Ciptakan lingkungan yang
sepenuhnya adekuat membuat suasana yang
- 102015 intake karbohirat menyenangkan dan
sepenuhnya adekuat menenangkan
- 102018 intake zat besi - Lakukan terapi komplementer
sepenuhnya adekuat terapi usapan
- 102021 intake makanan lewat
selang sepenuhnya adekuat

Domain 11: Setelah dilakukan tindakan Domain 2 : Fisiologi Kompleks


Keamanan / perawatan hipotermia selama Kelas M : Thermoregulasi
Perlindungan lebih dari 1 jam, diharapkan Kode 3800 : Perawatan hipotermi
Kelas 6 : resiko hipotermi teratasi dengan - Monitor suhu pasien,
Termoregulasi kriteria : menggunakan alat pengukur
Kode 00253 : Domain IV : Pengetahuan tentang dan rute yang paling tepat
Risiko Hipotermia kesehatan perilaku - Bebaskan pasien dari
Kelas T : Kontrol risiko dan lingkungan yang dingin
keamanan - Bebaskan pasien dari pakaian
Kode 1923 : Kontrol risiko yang dingin dan basah
hipotermi - Berikan pemanas pasif
- 192320 : Mengidentifikasi misalnya selimut, penutup
faktor resiko hipotermi kepala dan pakaian hangat
- 192301 : Mengenali factor - Monitor adanya komplikasi
risiko individu terkait yang berhubungan dengan
hipotermi pemanasan ekstra korporeal
- 192302 : Mengidenfikasi tanda - Monitor adanya gejala-gejala
dan gejala hipotensi yang berhubungan dengan
- 192308 : Memodifikasi hipotermi ringan, misalnya
lingkungan sekitar untuk takipneu, menggigil dan
meningkatkan penyimpanan diuresis yang berlebihan

37
panas - Monitor warna dan suhu kulit
- 192309 : Memodifikasi - Identifikasi faktor medis,
aktifitas fisik untuk lingkungan dan faktor lain
mempertahankan suhu tubuh yang memicu hipotermi
- 192313 : Melakukan tindakan - Lakukan terapi kanguru
mandiri untuk mengontrol suhu
tubuh
- 192314 : Memodifikasi asupan
cairan sesuai kebutuhan
- 192315 : Memakai pakaian
yang sesuai untuk melindungi
kulit

38
3.5 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Inisial Klien : By. Ny. H

Ruangan : Perinatologi Atas

Tanggal /
hari/ No.Dx Implementasi Evaluasi Paraf
waktu

8-1-2018/ 1 - Instruksikan orang tua S : Klien Bayi


Selasa untuk memberi makan
14.30 hanya ASI O:
- Menyiapkan ASI yang - bayi bersendawa
telah dihangatkan dan di - bayi terlihat tidur
beri cimilac setelah minum ASI
- Memberikan ASI yang - BB bayi 1110 gram
telah siap untuk di
konsumsi 25 cc per oral A: Masalah pemenuhan
dan 25 cc drip ASI teratasi sebagian
- menyendawakan bayi
setelah minum ASI P: Lanjutkan intervensi
15.00 - memberikan terapi pemberian nutrisi pada
sentuhan/usapan pada bayi
bayi
- memberikan penyuluhan
pada ibu tentang
pemberian ASI Ekslusif
pada bayi selama 6 bulan
18.00 - memberikan terapi
sentuhan/usapan pada
bayi

39
8-1-2018/ 2 - Monitor Suhu setiap 2 S : Klien Bayi
Selasa jam
14.30 - Mengatur suhu inkubator O :
: 34 0 C - Suhu Bayi 36,9 0C
- Melihat ada tidaknya - Suhu incubator: 340 C
tanda dan gejala - Tidak terdapat tanda
hipotermi dan gejala hipotermi
- Ibu melakukan metode A : Masalah resiko
kangguru dengan hipotermi teratasi
didampingi perawat sebagian
P : Lanjutkan observasi
suhu setiap 2 jam

40
Tanggal /
hari/ No.Dx Imlementasi Evaluasi Paraf
waktu

9-1-2018/ 1 - Melepaskan OGT S : Klien Bayi


Rabu - Menyiapkan ASI yang telah
14.30 dihangatkan dan di beri O:
cimilac - bayi bersendawa
- Memberikan ASI yang telah - bayi terlihat tidur
siap untuk di konsumsi 50 setelah minum ASI
cc per oral - bayi mulai
- menyendawakan bayi menunjukkan reflek
setelah minum ASI menghisap (mampu
15.00 - memberikan terapi minum ASI
sentuhan/usapan pada bayi menggunakan cawan
sepenuhnya)
- BB bayi 1140 gram
18.00 - memberikan terapi
sentuhan/usapan pada bayi A: Masalah pemenuhan
ASI teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi
pemberian nutrisi pada
bayi

9-1-2018/ 2 - Monitor Suhu setiap 2 jam S : Klien Bayi


Rabu - Mengatur suhu inkubator :
14.30 34 0 C O:
- Melihat ada tidaknya tanda - Suhu bayi: 37 0 C
dan gejala hipotermi - Suhu incubator : 340 C
- Ibu melakukan metode - N: 140x permenit

41
kangguru dengan - RR: 38x permenit
didampingi perawat - Tidak terdapat tanda
dan gejala hipotermi

A : Masalah resiko
hipotermi teratasi
sebagian

P : Lanjutkan observasi
suhu setiap 2 jam

42
Tanggal /
hari/ No.Dx Implementasi Evaluasi Paraf
waktu

10-1- 1 - Menyiapkan ASI yang S : Klien Bayi


2018/ telah dihangatkan dan di
Kamis beri cimilac O:
15.00 - Memberikan ASI yang - bayi bersendawa
telah siap untuk di - bayi terlihat tidur
konsumsi 60 cc per oral setelah minum ASI
- menyendawakan bayi - bayi mulai
setelah minum ASI menunjukkan reflek
- memberikan terapi menghisap lebih kuat
sentuhan/usapan pada - BB bayi 1160 gram
bayi
A: Masalah pemenuhan
18.00 - memberikan terapi ASI teratasi sebagian
sentuhan/usapan pada
bayi P: Lanjutkan intervensi
pemberian nutrisi (ASI)
pada bayi

10-1- 2 - Monitor Suhu setiap 2 S : Klien Bayi


2018 / jam
Kamis - Mengatur suhu inkubator O :
14.45 : 34 0 C - Suhu bayi : 37 0 C
- Melihat ada tidaknya - Suhu inkubator :
tanda dan gejala 340C
hipotermi - N: 142x permenit
- mendampingi ibu saat - RR: 40x permenit
melakukan metode - Tidak terdapat tanda

43
kangguru dan gejala hipotermi
A : Masalah resiko
hipotermi teratasi
sebagian
P : Lanjutkan observasi
suhu setiap 2 jam

44
Tanggal /
hari/ No.Dx Implementasi Evaluasi Paraf
waktu

11-1- 1 - Melakukan fisioterapi S : Klien Bayi


2018 / pada bayi didampingi
Jumat petugas fisioterapi O:
15.00 - Menyiapkan ASI yang - BB bayi 1190 gram
telah dihangatkan dan di - bayi bersendawa
beri cimilac - bayi terlihat tidur
- Memberikan ASI yang setelah minum ASI
telah siap untuk di - bayi merespon tangan
konsumsi 60 cc per oral terapis, tapi ketika
- menyendawakan bayi dimasukkan jari ke
setelah minum ASI mulut bayi, bayi tidak
- memberikan terapi menghisap jari, hanya
sentuhan/usapan pada menggigit
bayi - bayi menoleh kearah
dimana pipi/daerah
18.00 - memberikan terapi samping bibir disentuh
sentuhan/usapan pada - bayi mulai
bayi menunjukkan reflek
menghisap lebih kuat

A: Masalah pemenuhan
ASI teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi
pemberian nutrisi (ASI)
pada bayi

45
11-1- 2 - Monitor Suhu setiap 2 S : Klien Bayi
2018 / jam
jumat - Mengatur suhu inkubator O :
14.45 : 34 0 C - Suhu bayi : 37 0 C
- Melihat ada tidaknya - Suhu inkubator : 36,8
0
tanda dan gejala C
hipotermi - N: 138x permenit
- mendampingi ibu saat - RR: 40x permenit
melakukan metode - Tidak terdapat tanda
kangguru dan gejala hipotermi
A : Masalah resiko
hipotermi teratasi
sebagian
P : Lanjutkan observasi
suhu setiap 2 jam

46
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Aplikasi Jurnal

Jurnal yang berjudul “ Efektifitas terapi usapan pada bayi premature


terhadap peningkatan berat badan di ruang perinatologi atas instalasi rawat
inap RSU Kabupaten Tangerang Tahun 2014” telah di terapkan pada pasien
By Ny. H. 3 kali dalam satu hari.
Prosedur Pelaksanaan Terapi Usapan :
1. Berikan Salam atau menyapa Ibu
Beritahu ibu tentang tindakan yang akan dilakukan (informed consent)
2. Siapkan alat dan bahan
Alat dan bahan: Alas tidur, Phanthoom bayi, Baby oil disusun secara
ergonomis
3. Lepaskan perhiasan
Pastikan kuku pendek dan perhiasan dilepas
4. Cuci tangan di kran atau air mengalir sebelum melakukan tindakan dan
keringkan
Mencuci tangan sesuai dengan standar pencegahan infeksi
5. Gosok tangan dengan baby oil
Gosokkan tangan hingga hangat
6. Pelaksanaan Rangsangan taktil/usap
Bayi dalam posisi ditengkurapkan
Tiap gerakan dilakukan dalam waktu 2 X 5 detik
Tiap gerakan diulang 6 X
Dikerjakan selama 5 menit

47
Usap kepala bayi
Dengan menggunakan kedua telapak tangan, usap kepala dari puncak
kepala sampai leher, kemudian kembali lagi kepuncak kepala

7. Usap kedua belah bahu bayi


Dengan dua jari tangan kanan dan kiri usap kedua belah bahu bayi dari
pertengahan punggung ke pangkal lengan, kemudian kembali
kepertengahan

48
8. Usap punggung bayi
Dengan dua jari kedua tangan usaplah dari leher ke arah pantat lalu
kembali ke leher

9. Usap kedua kaki


Dengan jari kedua tangan usaplah :Kedua kaki secara bersamaan Dari
pangkal paha ke pergelangan kaki, kemudian kembali lagi ke pangkal
paha

49
10. Usap kedua lengan
Dengan jari kedua tangan usaplah : Kedua lengan secara bersamaan dari
pangkal bahu ke pergelangan tangan, kemudian kembali ke pangkal
bahu.

11. Rangsangan Kinestetik (bersepeda)


Bayi dalam posisi ditelentangkankan
Tiap gerakan dilakukan dalam waktu 2 X 5 detik
Tiap gerakan diulang 6 X
Dikerjakan selama 5 menit
Gerakan pada tiap lengan sebanyak enam gerakan dikerjakan satu persatu
pada tiap lengan : Pegang lengan pada pergelangan tangan, kemudian
tekuklah pada siku.

50
12. Gerakan tiap kaki
Enam gerakan pada tiap kaki, dikerjakan satu persatu pada setiap kaki :
Pegang daerah pergelangan kaki, kemudian tekuk didaerah lutut dan
pinggul

13. Gerakan kedua kaki bersamaan


Enam kali gerakan pada, dikerjakan pada kedua kaki secara bersamaan :
Pegang daerah pergelangan kaki, kemudian tekuk didaerah lutut, tekan
kedua kaki kearah perut

51
14. Tahap Akhir
Periksa keadaan bayi kembali
Bereskan alat
Cuci tangan
Pastikan keadaan umum bayi baik

Pada bayi Ny. H Lamanya terapi usapan yang diberikan adalah 15 menit,
terapi usapan ini dilakukan dengan sentuhan lembut pada daerah bayi dengan
menggunakan alat bantu baby oil .

TANGGAL JAM DURASI KENAIKAN BB


8-1-2019 15.00 15 Menit 1110 gram
9-1-2019 08.00 15 Menit
15.00 15 Menit 1140 gram
18.00 15 Menit
10-1-2019 08.00 15 Menit 1160 gram
15.00 15 Menit
18.00 15 Menit
11-1-2019 08.00 15 Menit 1190 gram
15.00 15 Menit
18.00 15 Menit

4.2 Kaitan Jurnal Dengan Aplikasi


Perubahan berat badan yang sangat cepat terjadi pada masa bayi,
perubahan ini lebih cepat dibandingkan dengan waktu–waktu lain setelah
lahir. Hal ini terjadi baik pada bayi cukup bulan maupun bayi prematur.
Berat badan bayi akan mengalami penurunan secara fisiologis pada tiga
hari pertama kehidupannya. Bayi cukup bulan mengalami penurunan
sebesar 5% dari berat badan lahirnya. Sedangkan bayi prematur mengalami
penurunan sebesar 6%-8% dari berat badan lahirnya. Bayi mengalami

52
peningkatan berat badan sebesar 15-20 gram/kg/hari pada hari-hari awal
kehidupannya.
Pada kasus Bayi Ny. H dengan BBLASR dilakukan terapi usapan
yang bermanfaat untuk meningkatkan Berat badan bayi. Terapi usapan ini
di lakukan bersama dengan metode Kangguru dan pemberian supleman
tambahan Cimilac, sehingga kenaikan BB bayi menjadi lebih optimal. Pada
bayi Ny. H Peningkatan BB terjadi secara signifikan ± 20 gr / hr, tanpa
terjadi penurunan Berat Badan selama 4 hari pemberian terapi Usapan.
Bayi yang mendapatkan terapi usapan merasakan perasaan nyaman dan
menyenangkan dan sentuhan lembut dengan penuh kasih sayang dapat
membuat bayi percaya akan sentuhan yang positif. Sehingga dapat
meningkatkan pengeluaran beta endoprin, aktivitas nervus vagus dan
produksi serotonin, sehingga dapat mempengaruhi mekanisme
pertumbuhan yang akan datang pada bayi.
Pada bayi yang di berikan terapi usapan mengalami peningkatan
tonus nervus vagus (saraf otak ke-10) yang akan menyebabkan peningkatan
kadar enzim penyerapan gastrin dan sekresi insulin, dengan demikian
penyerapan makanan akan menjadi lebih baik, sehingga berat badan bayi
yang mendapatkan terapi usapan yang di kombinasikan dengan metode
kangguru dan pemberian suplemen Cimilac akan meningkat lebih banyak
daripada yang hanya menggunakan metode kangguru dan suplemen cimilac
tanpa medapatkan terapi usapan.

53
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Bayi Ny. H umur 20 Hari BB lahir 950 gram, BB saat di kaji 1110
dan PB 37 cm. Bayi di tempatkan di inkubator dengan suhu 34 0C, suhu bayi
36,9 0 C N 135 x/mnt. Diagnosa keperawatan yang timbul pada bayi Ny. H
adalah Ketidak cukupan ASI dan Resiko Hipotermi. Intervensi Keperawatan
untuk masalah keperawatan ketidakcukupan ASI pada bayi Ny. H adalah
terapi nutrisi dan di tambah dengan terapi komplementer terapi usapan.
Intervensi Keperawatan Resiko Hipotermi adalah dengan perawatan
hipotermi dan metode kangguru.
Metode terapy usapan di lakukan pada bayi Ny. H di gabungkan
dengan metode kangguru sehingga dapat mengoptimalkan kenaikan berat
badan bayi terbukti pada bayi Ny. H terjadi peningkatan BB secara
signifikan ± 20 gr / hr, tanpa terjadi penurunan berat badan selama 4 hari
pemberian terapi Usapan.

5.2 SARAN
a. Rumah Sakit
Di harapkan pihak Rumah Sakit dapat menerapkan terapi usapan
pada BBLASR dibantu oleh keluarga terdekat yang bisa di terapkan
dalam aktivitas perawatan pasien di rumah.

b. Keluarga
Di harapkan keluarga mampu memahami dan dapat menerapkan
terapi usapan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh perawat sehingga
dapat meningkatkan berat badan bayi.

54
c. Perawat Ruangan
Di harapkan perawat dapat menerapkan terapi usapan pada bayi
BBLR dan mengajarkan keluarga melakukan terapi usapan pada pasien .

d. STIKes Yatsi
Sebagai bahan masukan dan referensi dalam kegiatan proses
belajar mengajar tentang asuhan keperawatan BBLASR yang dapat
digunakan sebagai acuan bagi praktek mahasiswa keperawatan.

55
DAFTAR PUSTAKA

Asrining, Surasmi (2013). Perawatan Bayi Resiko Tinggi.Jakarta: EGC


Bulechek, Gloria M., et al. 2013. Nursing Intervention Classification
(NIC). Missouri, USA : Elsevier.
Herdman, T.H dan Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing
Maryunani, Anik dan Nurhayati (2009): Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyulit
Pada Neonatus, Penerbit Buku Kesehatan, Jakarta.
Proverawati, A., Ismawati, 7. 2010. Berat Badan Lahir Rendah.Yogyakarta: Nuha
Medika
Mentari, Sella (2014). Efektifitas usapan pada bayi premature terhadap
peningkatan berat badan di ruang perinatology atas Instalasi rawat inap RSU
Kabupaten Tangerang.Tangerang.
Moorhead, Sue, et al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Missouri,
USA : Elsevier.

56