Anda di halaman 1dari 17

Fitri Rahmawati

A062181012

DRAMATURGI

A. Latar Belakang Teori Dramaturgi

Teori dramaturgi bila disimpulkan secara singkat, memandang bahwa


kehidupan manusia itu sebagai sebuah panggung sandiwara, dimana manusia
memainkan peran yang ia dapat sebaik mungkin agar audience mampu mengapresiasi
dengan baik pementasan tersebut. Teori dramaturgi Erving Goffman ini tidak lepas
dari pengaruh George Herbert Mead dengan konsep The Self. Dramaturgi itu sendiri
merupakan sumbangan Goffman bagi perluasan teori interaksi simbolik. Menurut
Mead dalam (Ritzer, 2012:636) menyatakan bahwa konsep diri pada dasarnya terdiri
dari jawaban individu atas pertanyaan mengenai “siapa aku” untuk kemudian
dikumpulkan dalam bentuk kesadaran diri individu mengenai keterlibatannya yang
khusus dalam seperangkat hubungan sosial yang sedang berlangsung.

Oleh karena teori dramaturgi ini banyak di ilhami oleh perspektif interaksi
simbolik, maka sebelum menguraikan teori dramaturgi ini perlu diulas terlebih dahulu
tentang inti dari interaksi simbolik itu sendiri. Esensi interaksi simbolik adalah suatu
aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yaitu komunikasi atau pertukaran simbol
yang diberi makna. Pada dasarnya interaksi manusia menggunakan simbol- simbol,
cara manusia menggunakan simbol, merepresentasikan apa yang mereka maksudkan
untuk berkomunikasi dengan sesamannya. Itulah interaksi simbolik dan itu pulalah
yang mengilhami perspektif dramaturgis, maka hal tersebut banyak mewarnai
pemikiran-pemikiran dramaturgis Erving Goffman. Pandangan Goffman agaknya harus
dipandang sebagai serangkaian tema dengan menggunakan berbagai teori. Ia
memang seorang dramaturgis, tetapi juga memanfaatkan pendektan interaksi
simbolik, fenomenologis Schutzian, formalisme Simmelian, analisis semiotic, dan
bahkan fungsionalisme Durkhemian.
B. Konsep dan Asumsi Dasar Teori Dramaturgi
1. Konsep Teori Dramaturgi
a. Dramaturgi bukan memandang pada apa yang orang lakukan, bukan
apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan,
melainkan bagaimana mereka melakukannya. Bila melihat terhadap
pandangan Kenneth Burke bahwa pemahaman yang layak atas perilaku
manusia harus bersandar pada tindakan, dramaturgi menekankan
dimensi ekspresif/impresif aktivitas manusia. Burke melihat tindakan
sebagai konsep dasar dalam dramatisme. Burke memberikan
pengertian yang berbeda antara aksi dan gerakan. Aksi terdiri dari
tingkah laku yang disengaja dan mempunyai maksud, gerakan adalah
perilaku yang mengandung makna dan tidak bertujuan. Masih menurut
Burke bahwa seseorang dapat melambangkan simbol-simbol.
Seseorang dapat berbicara tentang ucapan-ucapan atau menulis
tentang kat-kata, maka bahasa berfungsi sebagai kendaraan untuk
aksi. Karena adanya kebutuhan sosial masyarakat untuk bekerja sama
dalam aksi-aksi mereka, bahasapun membentuk perilaku.
b. Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif dan impresif aktivitas
manusia, bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka
mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga
ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah maka
perilaku manusia bersifat dramatik.
c. Pendekatan dramaturgis Goffman berintikan pandangan bahwa ketika
manusia berinteraksi dengan sesamanya, ia ingin mengelola pesan
yang ia harapkan tumbuh pada orang lain terhadapnya. yaitu teknik-
teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu
dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk itu,
setiap orang melakukan pertunjukan bagi orang lain. Kaum
dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas
panggung yang sedang memainkan peran-peran mereka.
Menurut Goffman dalam (Ritzer, 2012:638) menyatakan bahwa kehidupan
sosial itu dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu panggung depan (front stage)
dan panggung belakang (back stage).

1. Panggung Depan (Front Stage).

Panggung depan adalah bagian dari sandiwara yang secara umum


berfungsi dengan cara-cara formal yang agak baku untuk mendefinisikan
situasi bagi orang-orang yang mengamati sandiwara itu. Di dalam panggung
depan, Goffman membedakan lebih lanjut bagian depan latar (setting front)
dan bagian depan pribadi (personal). Latar mengacu kepada tempat atau
situasi (scene) fisik yang biasanya harus ada jika para aktor hendak
bersandiwara. Tanpa itu, biasanya aktor tidak dapat melakukan sandiwara.
Contohnya, seorang dokter ahli bedah pada umumnya memerlukan suatu
ruang operasi, seorang supir taksi memerlukan taksi, dan guru membutuhkan
sekolah. Sedangkan, bagian depan pribadi (personal) terdiri dari item-item
perlengkapan ekspresif yang diidentifikasi oleh audience dengan para pemain
sandiwara dan mengharapkan mereka membawa hal-hal itu ke dalam latar.
Contohnya, seorang ahli bedah diharapkan mengenakan jubah medis atau
membawa stetoskop untuk mencirikan bahwa ia adalah seorang dokter atau
peralatan lainnya. Goffman kemudian memecah bagian depan pribadi menjadi
penampilan dan sikap. Penampilan, meliputi item-item yang menceritakan
pada kita status sosial pemain sandiwara itu (misalnya, jubah medis sang ahli
bedah). Sikap, menceritakan kepada audience jenis peran yang diharapkan
dimainkan pemain sandiwara di dalam situasi itu (contohnya, penggunaan
kebiasaan fisik atau kelakuan. Suatu gaya yang kasar dan gaya yang lembut
menunjukkan jenis-jenis pemain sandiwara yang sangat berbeda. Pada
umumnya, kita mengharapkan penampilan dan sikap agar konsisten.
Wawasan Goffman yang paling menarik terletak pada ranah interaksi.
Dia berargumen bahwa karena orang pada umumnya berusaha menyajikan
suatu gambaran diri yang di idealkan di dalam sandiwara mereka dipanggung
bagian depan, mau tidak mau mereka merasa bahwa mereka harus
menyembunyikan berbagai hal didalam sandiwara mereka. Pertama, para aktor
mungkin ingin menyembunyikan kesenangan-kesenangan rahasia (misalnya,
meminum alkohol), turut serta sebelum sandiwara dilakukan atau dikehidupan
masa silam (misalnya, sebagai pecandu alkohol). Kedua, para actor mungkin
ingin menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang telah mereka buat didalam
persiapan sandiwara dan juga langkah-langkah yang telah diambil untuk
mengoreksi kesalahan-kesalahan itu. Contohnya seorang pengemudi taksi
mungkin menyembunyikan fakta bawa ia menyetir dengan arah yang keliru.
Ketiga, para aktor mungkin merasa perlu menunjukkan produk-produk akhir
saja, dan menyembunyikan proses yang dilalui dalam menghasilkannya.
Contohnya, para profesor mungkin menghabiskan waktu beberapa jam
mempersiapkan suatu kuliah, tetapi mereka ingin bersikap seakan-akan mereka
selalu menguasai bahan. Keempat, mungkin perlu bagi para aktor
menyembunyikan dari audience bahwa “pekerjaan kotor” telah dilakukan
untuk membuat produk-produk akhir. Pekerjaan kotor mungkin termasuk
tugas-tugas yang “secara fisik tidak bersih, semi legal, kejam, dan merendahkan
martabat dan cara-cara lain”. Kelima, dalam memberikan sandiwara tertentu,
para aktor mungin terpaksa membiarkan standar-standar lain melenceng,
Akhirnya, para actor mungkin merasa perlu menyembunyikan setiap
penghinaan, perendahan, atau perjanjian-perjanjian yang dibuat agar
sandiwara dapat terus berlangsung. Pada umumnya, para aktor mempunyai
kepentingan dalam menyembunyikan fakta-fakta itu dari para audiensnya.

Aspek-aspek lain dramaturgi dipanggung depan ialah bahwa para aktor


sering berusaha menyampaikan kesan bahwa mereka lebih dekat dengan
sudiens dari pada yang sebenarnya. Contohnya, para aktor mungkin berusaha
menumbuhkan kesan bahwa sandiwara yang melibatkan mereka pada saat itu
adalah satu-satunya sandiwara mereka atau setidaknya sandiwara merekalah
yang paling penting. Untuk melakukan hal itu, para aktor harus yakin bahwa
audiens mereka terpisah sehingga kepalsuan sandiwara itu tidak dapat
diungkap.

Teknik lain yang juga digunakan oleh aktor dalam memainkan


sandiwaranya adalah mistifikasi. Para aktor sering memistifikasi sandiwara
mereka dengan membatasi kontak antara pemain aktor tersebut dengan para
audiens. Dengan menghasilkan jarak sosial antara pemain sandiwara dengan
para audiens, mereka mencoba menciptakan suatu rasa kagum pada audiens.
Hal itu, sebaliknya tidak lagi mempertanyakan audiens tentang sandiwara itu.
Sehingga kesan yang didapat oleh audiens adalah kesan yang memang murni
peran dalam sandiwara.

Menurut Goffman dalam (Ritzer, 2012:641), “seorang pemain sandiwara


dan audiens adalah sejenis tim”. Tetapi, Goffman juga berbicara tentang
sekelompok pemain sandiwara sebagai tim dan audiens sebagai tim lainnya.
Selain tu, Goffman juga berargumen bahwa suatu tim juga dapat berupa
individu tunggal.

2. Panggung Belakang (Back Stage)

Dalam asumsi dasar dari dramaturgi ini, Goffman memandang bahwa


panggung belakang atau back stage merupakan tempat dimana fakta-fakta
ditindas di panggung depan. Panggung belakang merupakan panggung yang
berdekatan dengan panggung depan. Suatu sandiwara akan sulit dilakukan
apabila ada audiens yang memasuki panggung belakang tersebut, disinilah
aktor harus mampu mencegah audiens memasuki panggung belakang itu.
C. Karakteristik Teori Dramaturgi
1. Tidak bersifat makro dan mikro
Dramaturgi hanya menekankan pada bagaimana actor melakukan perannya.
Tidak menekankan pada faktor-faktor lain diluar selain hal tersebut.

2. Tidak menekankan sebab – akibat


Fokus pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan
apa yang ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan
bagaimana mereka melakukannya. Berdasarkan pandangan Kenneth Burke
bahwa pemahaman yang layak atas perilaku manusia harus bersandar pada
tindakan, dramaturgi menekankan dimensi ekspresif/impresif aktivitas
manusia. Burke melihat tindakan sebagai konsep dasar dalam dramatisme.

3. Cenderung pada Positivisme


Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham ini
menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan.
Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh
atau tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut

4. Dramaturgi hanya dapat berlaku di Institusi lokal

Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter


dihambakan oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari
individual yang terkait dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku
sebagai sub-ordinat yang mana sangat tergantung kepada organisasi dan
orang yang berwenang atasnya. Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan
oleh kekuasan (hegemoni) dan memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah
asrama yang masih menganut paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp
konsentrasi (barak militer), institusi pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi
(termasuk didalamnya rumah sakit jiwa, biara, institusi pemerintah, dan lainnya.

Dramaturgi dianggap dapat berperan baik pada instansi-instansi


yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki adanya
“pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial akan
lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario
semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori
ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.

D. Tokoh

Ketika kita bicara teori dramaturgi, maka kita tentu tidak akan lepas
dari nama Erving Goffman. Beliau adalah orang yang membidani lahirnya
teori dramaturgi. Untuk mengenal lebih jelas mengenai dramaturgi, maka
mengenal tokohnya adalah sebuah hal yang penting agar kita bias
memahami secara menyeluruh tentang teori ini.

Erving Goffman, lahir di Alberta, Canada pada 11 Juni 1922 (Ritzer,


2010:296). Goffman mendapat gelar Bachelor of Arts (B.A) dari Universitas
Toronto pada tahun 1945, gelar Master of Arts tahun 1949 menerima gelar
doctor dari Universitas Chicago pada tahun 1953. Goffman pernah menjadi
professor dijurusan sosiologi Universitas California Barkeley serta ketua liga
Ivy Universitas Pennsylvania. Pada tahun 1970 diangkat menjadi anggota
Committee for Study of Incarceration dan tepat di tahun 1977 ia memperoleh
penghargaan Guggenheim. Goffman meninggal pada tahun 1982 pada usia
60 tahun, setelah sempat menjabat sebagai Presiden dari American
Sociological Association meskipun belum sempat memberikan pidato
pengangkatannya karena sakit (Ritzer, 2010:296).

Jika Aristoteles mengungkapkan dramaturgi dalam artian seni. Maka


Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi. Goffman menggali segala
macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita
sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan
cara seorang actor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah
pertunjukan drama. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan
yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan. Goffman mengacu pada
pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk
memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi
“Diri” dari Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Bila
seorang actor berhasil, maka penonton akan melihat actor sesuai sudut yang
memang ingin diperlihatkan oleh actor tersebut. Aktor akan semakin mudah
untuk membawa penonton untuk mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut.
Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi
sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Bila dalam komunikasi
konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera
verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi, agar orang
lain mengikuti kemauan kita. Maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan
adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga
dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat, dramatugis
mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan
bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi
memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku
yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud
interaksi social tersebut. Bermain peran merupakan salah satu alat yang dapat
mengacu kepada tercapainya kesepakatan tersebut. Pernyataan paling
terkenal Goffman tentang teori dramaturgis adalah berupa buku Presentation
of Self in Everyday Life yang diterbitkan tahun 1959. Buku ini merupakan karya
terpenting tentang diri dalam interaksionisme simbolik. Menurut Goffman,
diri bukanlah milik actor tetapi lebih sebagai hasil dari interaksi dramatis antar
actor dan audiens. Konsep diri atau citra diri Goffman sangat dipengaruhi
oleh pemikiran Mead, khususnya mengenai diskusinya mengenai ketegangan
antara diri spontan, tercermin dalam pendapatnya yang disebut
“ketaksesuaian antara diri manusia kita dan diri kita sebagai hasil dari proses
sosialisasi”. Ketegangan ini timbul ketika adanya perbedaan antara apa yang
ingin kita lakukan dengan apa yang orang lain harapkan untuk kita lakukan.

Goffman mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi,


mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain.
Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan pesan” (impression
management), yaitu teknik-teknik yang digunakan actor untuk memupuk
kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.
Percakapan antara “aku” dengan “yang lain” pada titik ini, konsepsi tentang
“aku” itu sendiri merupakan konsepsi orang lain terhadap individu tersebut.
Atau dengan kalimat singkat, individu mengambil pandangan orang lain
mengenai dirinya seolah-olah pandangan tersebut adalah “dirinya” yang
berasal dari “aku.”

Pada pandangan Goffman, kesadaran diri adalah hasil adopsi dari


ajaran- ajaran Durkheim. Dan bagi Goffman, struktur social merupakan
countless minor synthesis (sintesis-sintesis kecil yang tak terbilang), dimana
manusia –ini menurut Simmel- merupakan atom-atom atau partikel-partikel
yang sangat kecil dari sebuah masyarakat yang besar. Dan ide serta konsep
Dramaturgi Goffman itu sendiri, menolong kita untuk mengkaji hal-hal yang
berada di luar perhitungan kita (hal-hal kecil yang tak terbilang tersebut),
manakala kita menggunakan semua sumber daya yang ada di bagian depan
dan bagian belakang (front and back region) dalam rangka menarik perhatian
orang-orang yang disekeliling kita

Pengembangan diri sebagai konsep oleh Goffman tidak terlepas dari pengaruh
gagasan Cooley tentang the looking glass self. Gagasan diri ala Cooley ini terdiri
dari tiga komponen.
1. Kita mengembangkan bagaimana kita tampil bagi orang lain;
2. Kita membayangkan bagimana peniliaian mereka atas penampilan kita;
3. Mengembangkan sejenis perasaan-diri, seperti kebanggaan atau malu,
sebagai akibat membayangkan penilaian orang lain tersebut.

Lewat imajinasi, kita mempersepsi dalam pikiran orang lain suatu gambaran
tentang penampilan kita, perilaku, tujuan, perbuatan, karakter teman-teman
kita dan sebagainya, dan dengan berbagai cara kita terpangaruh olehnya.

Konsep yang digunakan Goffman berasal dari gagasan-gagasan Burke, dengan


demikian pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian interaksionisme simbolik
yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksisosial,
yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara
sosial yang dimainkan seseorang suatu situasi untuk memberikan citra tertentu kepada
khalayak yang hadir. Bagaimana sang actor berperilaku bergantung kepada peran
sosialnya dalam situasi tertentu. Fokus dramaturgis bukan konsep-diri yang dibawa
sang actor dari situasi kesituasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu,
melainkan diri yang tersituasikan secara sosial yang berkembang dan mengatur
interaksi-interaksi spesifik. Menurut Goffman diri adalah “suatu hasil kerjasama”
(collaborative manufacture) yang harus diproduksi baru dalam setiap peristiwa
interaksi sosial.

Menurut Manning dalam Ritzer (2010:296) Erving Goffman disebut-sebut


sebagai salah satu anggota aliran sosiologi Chicago dan sebagai teoritisi
interaksionalisme simbolik. Namun, ketika ditanya tak lama sebelum meninggal apakah
ia seorang interaksionalisme simbolik, ia menjawab bahwa nama itu terlalu samar
untuk memungkinkannya menepatkan dirinya pada kategori itu. Kenyataannya sulit
untuk memasukan karyanya kedalam kategori tunggal manapun. Dalam menciptakan
perspektif teoritisnya, Goffman menggunakan berbagai sumber dan menciptakan
sebuah orientasi khusus.

Collins dalam Ritzer (2010:297) lebih menghubungkan Goffman dengan


antropologi social dibandingkan dengan interaksionisme simbolik. Menurutnya, sejak
belajar S1 di Toronto Goffman sudah belajar pada seorang antropolog yang bernama
W.L Warmer. Selain itu, Collins juga menyatakan, setelah dia memeriksa kutipan dalam
karya awal Goffman menunjukan hasil bahwa ia dipengaruhi oleh antropologi social
dan jarang mengutip imteraksionisme simbolik. Namun Goffman dipengaruhi oleh
studi deskriptif yang dihasilkan di Chicago dan menyatukan hasil deskriptif itu dengan
hasil studi antropologi social untuk menciptakan perspektif khususnya sendiri. Jadi
pakar interaksionisme simbolik memperhatikan bagaimana cara actor menciptakan
atau merembukan citra diri mereka, sebaliknya Goffman memperhatikan bagaimana
cara masyarakat memaksa orang untuk menampilkan citra tertentu mengenai diri
mereka sendiri, karena masayarakat memaksa itu berpindah-pindah diantara berbagai
peran yang kompleks maka kita menjadi selalu agak tidak jujur, tak taat asas dan tidak
hormat.

Namun tak bisa disangkal, bentuk-bentuk interaksi, komunikasi tatap muka,


dan pengembangan konsep-konsep sosiologi, merupakan sumbangan Goffman bagi
interaksionis simbolik. Dengan demikian, boleh dikatakan bahwa Goffman mempunyai
pengaruh besar terhadap interaksionisme simbolik, meskipun ia mempunyai perspektif
sendiri dalam mengembangkan teorinya. Selain interaksionisme simbolik, Goffman
juga mempengaruhi tokoh-tokoh di luar interaksionisme simbolik, karena Goffman
juga punya andil besar terbentuknya etnometodologi. Sebenarnya tokoh penting dari
etnometodologi (Sackes, Schegloff) semula sama-sama belajar dari Goffman di
Barkeley.

E. Kritik Terhadap Teori Dramaturgi

Dramaturgis dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham


ini menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan.
Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau tidak
dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut. Dramaturgis dianggap
masuk ke dalam perspektif obyektif karena teori ini cenderung melihat manusia
sebagai makhluk pasif (berserah). Meskipun, pada awal ingin memasuki peran tertentu
manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (kemampuan untuk memilih)
namun pada saat menjalankan peran tersebut manusia berlaku objektif, berlaku
natural, mengikuti alur.

1. Dramarturgi hanya dapat berlaku di institusi total


Institusi total maksudnya adalah institusi yang memiliki karakter dihambakan
oleh sebagian kehidupan atau keseluruhan kehidupan dari individual yang terkait
dengan institusi tersebut, dimana individu ini berlaku sebagai sub-ordinat yang
mana sangat tergantung kepada organisasi dan orang yang berwenang atasnya.
Ciri-ciri institusi total antara lain dikendalikan oleh kekuasan (hegemoni) dan
memiliki hierarki yang jelas. Contohnya, sekolah asrama yang masih menganut
paham pengajaran kuno (disiplin tinggi), kamp konsentrasi (barak militer), institusi
pendidikan, penjara, pusat rehabilitasi (termasuk didalamnya rumah sakit jiwa,
biara, institusi pemerintah, dan lainnya. Dramaturgi dianggap dapat berperan baik
pada instansi-instansi yang menuntut pengabdian tinggi dan tidak menghendaki
adanya “pemberontakan”. Karena di dalam institusi-institusi ini peran-peran sosial
akan lebih mudah untuk diidentifikasi. Orang akan lebih memahami skenario
semacam apa yang ingin dimainkan. Bahkan beberapa ahli percaya bahwa teori
ini harus dibuktikan dahulu sebelum diaplikasikan.

2. Menihilkan “kemasyarakatan”
Teori ini juga dianggap tidak mendukung pemahaman bahwa dalam tujuan
sosiologi ada satu kata yang seharusnya diperhitungkan, yakni kekuatan
“kemasyarakatan”. Bahwa tuntutan peran individual menimbulkan clash bila
berhadapan dengan peran kemasyarakatan. Ini yang sebaiknya dapat
disinkronkan.

3. Dianggap condong kepada Positivisme


Dramaturgi dianggap terlalu condong kepada positifisme. Penganut paham ini
menyatakan adanya kesamaan antara ilmu sosial dan ilmu alam, yakni aturan.
Aturan adalah pakem yang mengatur dunia sehingga tindakan nyeleneh atau
tidak dapat dijelaskan secara logis merupakan hal yang tidak patut.
Aplikasi Teori Dramaturgis
Teori dramaturgi sering di gunakan untuk menganalisis berbagai bentuk praktik
komunikasi, terutama aplikasi interpersona. Selain itu, juga bisa diterapkan dalam strategi
pembelajaran, seperti yang dilakukan John F. Freie dalam pengajaran ilmu politik. Berikut
beberapa contoh aplikasi teori dramaturgi.
Dramaturgi Sebagai Pendekatan dalam Pembelajaran
Selain di gunakan untuk menganalisis sebuah peristiwa, dramaturgi juga di pakai
sebagai sebuah strategi pembelajaran. Seperti yang di paparkan John F. Freie, dramatugi
bisa digunakan dalam pengajaran ilmu politik, atau ilmu-ilmu yang lain. Singkatnya, metode
ini dilakukan dengan menggunakan kelas sebagai panggung sebuah drama. Pemeranya
adalah para siswa, dengan sutradara pengajar yang akan mengarahkan adegan-adegan
sesuai dengan scenario yang telah di persiapkanya. Sedangan siswa yang lain berposisi
sebagai audien. Skenario tak lain adalah bahan pengajaran dengan fokus-fokus materi yang
ingin di sampaikan.
Misalnya ketika ingin menyampaikan materi tentang kepresidenan dan kehidupan politik,
setting drama di atur sedemikian rupa. Siswa yang mendapat peran tertentu, diharuskan
mempelajari peran tersebut dan harus menuliskanya dlam sebuah paper. Sehingga, mau tak
mau dia harus melakukan riset bagaimana gaya bicara sang tokoh, keyakinan politiknya, atau
juga media apa saja yang biasa dipakai sebagai referensi. Sang professor mengatur dan
mengarahka gaya, sehingga fokus pada materi.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian. Karena tujuan utama dari penelitian ini adalah mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang
memenuhi standar yang ditetapkan (Sugiyono, 2010). Berdasarkan jenis datanya, data
terbagi menjadi dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan
data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Data primer dapat berupa opini subjek
(orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik),
kejadian atau kelompok dan hasil pengujian. Data primer dapat diperoleh melalui survei dan
metode observasi.
Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung.
Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun
dalam arsip (data dokumenter) yang telah dipublikasikan dan tidak dipublikasikan. Data ini
dapat membantu peneliti untuk mendapatkan bukti maupun bahan yang akan diteliti
sehingga peneliti dapat menyelesaikan suatu penelitian dengan baik, didukung oleh data-
data yang mendukung.
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi:
A. Observasi
Peneliti sebelum melakukan penelitian ini telah melakukan observasi yaitu peneliti langsung
terjun ke lapangan dan menjadi seorang pemain. Peneliti juga telah melakukan observasi
data dengan cara melihat dan mengamati secara langsung milik subyek. Selain itu, subyek
juga memperlihatkan bagaimana mereka bermain peneliti mewawancarai subyek. Hal ini
dilakukan agar peneliti mendapat hasil data yang tepat dan benar.
Dalam observasi yang dilakukan peneliti, peneliti mengamati bagaimana situasi bermain
subyek di dalam dunia permainan. Subyek juga menunjukkan percakapaannya dengan
pemain kepada peneliti.
B. Wawancara
Essenberg dalam buku Sugiyono Memahami Penelitian Kualitatif, mendefinisikan wawancara
merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab,
sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2010).
Peneliti telah melakukan wawancara dengan subyek di rumah dan di kampus tempat subyek
berkuliah. Hal ini peneliti lakukan agar subyek tidak perlu repot-repot jauh-jauh datang
hanya untuk wawancara. Dengan begitu, subyek juga akan lebih nyaman ketika melakukan
wawancara dengan peneliti. Peneliti melakukan wawancara dengan menggunakan bahasa
yang santai karena subyek tergolong anak muda. Peneliti melakukan cara ini agar subyek
tidak merasa canggung dengan peneliti untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
peneliti ajukan. Cara ini juga efektif agar subyek merasa memiliki kedudukan yang sama
dengan
peneliti.
C. Dokumentasi
Hasil dari wawancara ini telah di rekam oleh peneliti melalui handphone. Hal ini dilakukan
agar peneliti dapat mendengarkan kembali dan bisa menganalisis dengan mudah data
pernyataan dan jawaban subyek tentang pertanyaan yang peneliti ajukan.
Peneliti juga telah mengumpulkan informasi berupa data-data yang berkaitan dengan
bagaimana konsep diri pengguna melalui Twitter. Hal ini bertujuan untuk memperkuat data
yang didapat dari penelitian.
Teknik Analisis Data
Nasution dalam buku Memahami Penelitian Kualitatif (Sugiyono, 2010) menyatakan “Analisis
telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan
berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan teknik analisis data dramaturgi milik Erving Goffman. Dimana Erving Goffman
menyatakan bahwa dunia ini merupakan sebuah panggung sandiwara bagi setiap orang.
Peneliti akan menggunakan model dramaturgi yang menyatakan bahwa dunia adalah
panggung dan setiap manusia mempersiapkan penampilannya. Disini peneliti akan
menggunakan 6 elemen Impression Management milik Erving Goffman yaitu:
1. The Definition if The Situation (Definisi situasi) yaitu bagaimana pemain mampu
mengartikan (mendefinisikan, menginterpretasikan) situasi dalam bermain
2. Expression and Impression (Pembentukan kesan dalam bermain yaitu tujuan pemain
bermain lebih baik dan bagaimana upaya pemain dalam membentuk kesan serta
bagaimana pemain membedakan dirinya dengan pemain yang lain.
3. Front Stage dan Back Stage yaitu bagaimana pemain mempersiapkan perannya dan
bagaimana perbedaan sifat dan karakteristik pemain ketika mereka memainkan
permainan ini dan ketika mereka berada di dunia nyata.
4. Accounts: Excuses & Justification yaitu upaya bagaimana pemain menghindari suatu
konflik agar tidak terjadi pada dirinya.
5. Self Enhancement dan Ingratiation yaitu perbaikan diri pemain dan bagaimana
pemain mampu mengatasi konflik yang terjadi pada dirinya
6. Self Awareness, Slef Monitoring, dan Self Disclosure yaitu bagaimana pemain
mengatur kesadaran dirinya, mengatur pengamatan dirinya, dan mengatur
penyingkapan dirinya.
Dari setiap elemen, nantinya akan di analisis kembali oleh peneliti guna
mendapatkan data yang benar-benar valid dan data yang dibutuhkan oleh peneliti
agar mampu menjawab pertanyaan penelitian skripsi.
KESIMPULAN

Teori dramaturgi bila disimpulkan secara singkat, memandang bahwa


kehidupan manusia itu sebagai sebuah panggung sandiwara, dimana manusia
memainkan peran yang ia dapat, sebaik mungkin agar audience mampu
mengapresiasi dengan baik pementasan tersebut. Pertunjukan yang terjadi di
masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Teori dramaturgi
menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap
identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri, identitas
manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Manusia
adalah actor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan
kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”

Pada dasarnya, Teori Dramaturgi merupakan teori yang mempelajari proses


dari perilaku dan bukan hasil dari perilaku. Dimana teori ini menggambarkan sebuah
sandiwara saat seseorang ataupun sekelompok orang tersebut berperan bukan
berdasarkan kepribadiannya melainkan berdasarkan kondisi yang ada dan
memanfaatkan peranan yang ia miliki. Yang didukung oleh front dan back region
yang ada. Front-nya mencakup setting, personal front (penampilan diri), expressive
equipment (peralatan untuk mengekspresikan diri). Sedangkan back-nya mencakup
semua kegiatan yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan acting atau
penampilan diri yang ada pada front.

Dramaturgi itu sendiri merupakan sumbangan Goffman bagi perluasan teori


interaksionisme simbolik. Dimana Mead menyatakan konsep bahwa individu
mengambil pandangan orang lain mengenai dirinya seolah-olah pandangan tersebut
adalah “dirinya” yang berasal dari “aku”. Jadi dalam Dramaturgi, seseorang akan
berperan menjadi orang lain untuk mengetahui bagaimana penilaiannya terhadap
tokoh yang ia perankan.