Anda di halaman 1dari 21

MATERI TUMBUH KEMBANG

1.1 Pengertian Tumbuh Kembang

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda,

tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan erkembangan. Sedangkan

pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan per

definisi adalah sebagai berikut :

1) Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam

arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel

tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel (IDAI, 2002, dikutip oleh Nursalam

2005:32).

2) Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dan struktur/fungsi tubuh yang

lebih kompleks dalam pola yang teratur, dapat diperkirakan, dan diramalkan sebagai

hasil dari proses diferensiasi sel, jaringan tubuh, organ-organ, dan sistemnya yang

terorganisasi (IDAI, 2002, dikutip oleh Nursalam 2005:33). Meskipun pertumbuhan

dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda, namun keduanya saling

mempengaruhi dan berjalan secara bersamaan. Pertambahan ukuran fisik akan disertai

dengan pertambahan kemampuan anak (Nursalam, 2005).

1.2 Manfaat Pengukuran Tumbuh Kembang Anak

Pengukuran pertumbuhan anak berfungsi mengetahui kecukupan gizi. Sebagai tolak

ukur pertumbuhan normal, digunakan kurva berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala

sesuai usia menurut World Health Organization (WHO). Penting untuk melakukan

penimbangan dan pengukuran tinggi badan setiap bulan di fasilitas kesehatan untuk

mengetahui status gizi anak. Secara normal, pengukuran tersebut bertambah besar seiring

waktu.
Perkembangan anak umumnya diukur dengan tolak ukur tahap perkembangan

(developmental milestone), yaitu kemampuan tertentu yang dimiliki sebagian besar anak

pada periode waktu tertentu. Tolak ukur tahap perkembangan ini berfungsi untuk mengetahui

laju perkembangan anak atau kesesuaian perkembangan dengan usianya. Masing – masing

anak bersifat unik dan dapat mencapai tahap perkembangan lebih cepat atau lebih lambat

daripada tolak ukur.

1.3 Ciri-Ciri Tumbuh Kembang Anak Yang Normal

Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu

mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu :

1) Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai

maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.

2) Dalam periode tertentu terdapat adanya masa percepatan atau masa perlambatan, serta

laju tumbuh kembnag yang berlainan diantara organ-organ.

3) Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak, tetapi kecepatannya berbeda

antara anak satu dengan lainnya.

4) Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf.

5) Aktifitas seluruh tubuh diganti respons individu yang khas.

6) Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.

7) Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum

gerakan volunter tercapai.

8) Perubahan proporsi tubuh yang daat diamati pada masa bayi dan dewasa.

9) Hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru yang ditandai dengan lepasnya gigi

susu dan timbulnya gigi permanen, hilangnya refleks primitif pada masa bayi, timbulnya

tanda seks sekunder dan perubahan lainnya.


10) Kecepatan pertumbuhan tidak teratur yang ditandai dengan adanya masa-masa tertentu,

yaitu masa pranatal, bayi, dan adolesensi, dimana terjadi pertumbuhan cepat dan masa

prasekolah dan masa sekolah, dimana pertumbuhan berlangsung lambat

(Soetjiningsih, 2002, dikutip oleh Nursalam 2005:32-33).

1.4 Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Anak

 Prenatal

 Bayi: 0-11 bulan

 Neonatal (lahir-28 hari)

 Neonatal dini: 0-7 hari

 Neonatal lanjut: 8-28 hari

 Pasca neonatal (29 hari-11 bulan)

 Balita: 12-59 bulan

 Prasekolah: 60-72 bulan

Sigmund Freud, 1930 (Perkembangan Psikoseksual)

 Oral : 0 – 1 th

 Anal : 1 – 3 th

 Phallic : 3 – 6 th

 Latency : 6 – 12 th

 Genital : > 12 th

Erick H. Erikson, 1963 (Perkembangan Psikososial) :

o Percaya vs tidak percaya : 0 – 1 th

o Otonomi vs rasa malu dan ragu : 1 – 3 th

o Inisiatif vs rasa bersalah : 3 – 6 th

o Industri vs inferioritas : 6 – 12 th
o Identitas vs difusi peran : 12 – 18 th

o Intimasi vs isolasi : 18 – 40 th

o Kebangkitan vs kemacetan : 40 – 64 th

o Integritas vs putus asa : >65 th

Jean Piageat, 1969 (Perkembangan Kognitif)

 Tahap I : Sensor motorik (lahir – 2 th)

 Tahap II : pre operasional (2 – 7 th)

 Tahap III : operasional konkret (7 – 11 th)

 Tahap IV : formal operasional (11 th– dewasa)

Proses Merangkak

 Menggerakan kepala

 Mengangkat kepala

 Menahan kepala

 Menopang badan dengan kedua lengan saat tengkurap

 Tengkurap

 Tengkurap dengan keseimbnagan

 Bergerak melata

 Merangkak tanpa koordinasi

 Bangkit untuk duduk dari posisi tengkurap

 Merangkak dengan stabil

Proses Duduk

 Kepala menghadap ke samping kanan kiri seimbang

 Kedua kaki menendang

 Terlentang dapat menahan kepala


 Posisi duduk dapat mempertahankan kepala tegak

 Bila anak diangkat kepala tidak terkulai kebelakang

 Dengan posisi terlentang, apabila ditarik dapat mengangkat kepala

 Kepala tegak bila diposisikan duduk

 Aktif membalik badan

 Duduk sendiri

 Dapat bangun dari posisi terlentang untuk duduk

Proses Memegang

 Telapak mengepal

 Kepalan terbuka

 Mencoba menggerakkan tangan

 Meraih mainan

 Memegang mainan dan menjatuhkan

 Membernturkan kubus

 Memegang benda kecil dengan telunjuk

Proses Bicara

 Menangis

 Menghisap kuat

 Mengeluarkan bunyi a,cha,e,che

 Bersuara spontan

 Mengeluarkan suara rangkaian suku kata dadada, gagaga

 Mengoceh

 Mengulang suku kata depan

 Berdialog

 Melafal suku kata


 Mengutarakan permintaan

Proses Sosialisasi

 Nyaman saat digendong

 Menatap wajah seseorang sejenak

 Memablas senyuman

 Mengenal orang terdekat

 Menampakkan reaksi gembira ‘ciluk ba’

 Menunjukkan rasa canggung/takut ke orang asing

 Menyerahkan benda bila diminta dg gerakan/perkataan

Pada dasarnya manusia dalam kehidupannya mengalami berbagai tahapan tumbuh

kembang dan setiap tahap mempunyai ciri tertentu. Tahapan tumbuh kembang yang paling

memerlukan perhatian adalah pada masa anak-anak (Nursalam, 2005).

Menurut Nursalam (2005), ada beberapa tahapan tumbuh kembang pada masa anak-

anak. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1) Masa Pranatal

Kehidupan bayi pada masa prenatal dikelompokkan menjadi dua periode yaitu :

a) Masa embrio yang dimulai sejak konsepsi sampai kehamilan 8 minggu. Ovum yang

telah dibuahi akan datang dengan cepat menjadi suatu organisme yang

berdeferensiasi secara pesat untuk membentuk berbagai sistem organ tubuh.

b) Masa fetus yang dimulai sejak kehamilan 9 minggu sampai masa kelahiran. Masa

fetus terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah masa fetus dini (usia 9 minggu

sampai trimester dua), dimana terjadi percepatan pertumbuhan dan pembentukan

manusia sempurna serta alat tubuh mulai berfungsi. Yang kedua adalah masa fetus
lanjut (trimester akhir) yang ditandai dengan pertumbuhan tetap yang berlangsung

cepat disertai dengan perkembangan fungsi-fungsi.

2) Masa Neonatal

Masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta

mulai berfungsinya organ-organ tubuh. Saat lahir, berat badan normal dari bayi yang

sehat berkisar antara 2500- 4000 gram, panjang badan berkisar 50 cm dan berat otak

sekitar 350 gram. Selama 10 hari pertama biasanya terdapat penurunan berat badan

sekitar 10% dari berat badan lahir, kemudian berat badan bayi akan berangsur-angsur

mengalami kenaikan.

Masa neonatal ini, refleks-refleks primitif yang bersifat fisiologis akan muncul.

Diantaranya adalah refleks moro, yaitu refleks merangkul, yang akan hilang pada usia 3-

5 bulan, refleks menghisap (sucking refleks); refleks menoleh (rooting refleks); refleks

mempertahankan posisi leher/kepala (tonick neck refleks); refleks memegang (palmar

graps refleks) yang akan menghilang pada usia 6-8 tahun. Refleks-refleks tersebut terjadi

secara simetris dan akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia. Fungsi

pendengaran dan penglihatan juga mulai berkembang.

3) Masa bayi 1-12 bulan

Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara cepat. Pada umur 5 bulan berat

badan anak sudah 2 kali lipat berat badan lahir, sementara pada umur 1 tahun berat

badannya sudah menjadi 3 kali lipat. Sedangkan untuk panjang badan, pada umur 1

tahun sudah menjadi satu setengah kali panjang badan saat lahir. Pertambahan lingkar

kepala juga pesat. Pada 6 bulan pertama, pertumbuhan lingkar kepala sudah mencapai

50%. Oleh karena itu, diperlukan pemberian gizi yang baik, yaitu dengan memperhatikan

prinsip menu gizi seimbang. Pada tiga bulan pertama, anak berusaha mengelola
koordinasi bola mata untuk mengikuti suatu obyek, membedakan seseorang dengan

benda, senyum naluri dan bersuara.

Terpenuhinya rasa aman dan kasih sayang yang cukup mendukung

perkembangan yang optimal pada masa ini. Pada posisi telungkup, anak berusaha

mengangkat kepala. Jika tidur telentang, anak lebih menyukai sikap memiringkan kepala

ke samping. Pada tiga bulan kedua, anak mampu mengangkat kepala dan menoleh ke

kiri-kanan saat telungkup. Setelah usia lima bulan anak mampu membalikkan badan dari

posisi telentang ke telungkup dan sebaliknya, berusaha meraih benda-benda di sekitarnya

untuk dimasukkan ke mulut. Anak mampu tertawa lepas pada suasana yang

menyenangkan, misalnya diajak bercanda, sebaliknya akan menangis pada suasana yang

tidak menyenangkan.

Pada enam bulan kedua, anak mulai bergerak memutar padaposisi telungkup

untuk menjangkau benda-benda di sekitarnya. Sekitar usia sembilan bulan, anak bergerak

merayap atau merangkak dan mampu duduk sendiri tanpa bantuan. Apabila dibantu

berdiri, anak berusaha untuk melangkah sambil berpegangan. Koordinasi jari telunjuk

dan ibu jari lebih sempurna sehingga anak dapat mengambil benda dengan menjepitnya.

Kehadiran orang asing akan membuatnya cemas (stranger anxiety), demikian juga

perpisahan dengan ibunya. Anak suka sekali bermain “ci-luk-ba”.

Pada usia 9 bulan-1 tahun, anak mampu melambaikan tangan, bermain bola,

memukul-mukul mainan dan memberikan benda yang dipegang bila diminta.

Berdasarkan teory psikososial (Erikson), anak berada pada tahap percaya dan tidak

percaya , sehingga lingkungan dalam hal ini orang tua yang memberikan perhatian dan

kasih sayang yang cukup, akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Sedangkan

menurut teori psikoseksual (Sigmund Freud), anak berada pada fase oral, sehingga
segala sesuatu yang dipegangnya cenderung dimasukkan ke dalam mulut. Oleh karena

itu, orang tua harus memperhatikan keamanan dan kebersihan makanan maupun

permainan anaknya. Masa ini merupakan perkembangan interaksi yang menjadi dasar

persiapaan untuk menjadi anak yang lebih mandiri.

Kegagalan untuk memperoleh perkembangan interaksi yang positif dapat

menyebabkan terjadinya kelainan emosional dan sosialisasi pada masa mendatang. Oleh

karena itu diperlukan hubungan yang mesra antara ibu (orang tua) dan anak.

4) Masa Balita (1-3 tahun)

Pada masa ini, pertumbuhan fisik anak relatif lebih lambat dibandingkan dengan

masa bayi, tetapi perkembangan motoriknya berjalan lebih cepat. Anak sering

mengalami penurunan nafsu makan dan anak mulai belajar jalan. Pada mulanya, anak

berdiri tegak dan kaku, kemudian berjalan dengan berpegangan. Sekitar usia 16 bulan,

anak mulai belajar berlari dan menaiki tangga, tetapi masih kelihatan kaku. Oleh karena

itu anak perlu diawasi, karena dalam beraktivitas anak tidak memperhatikan bahaya.

Pada masa ini, anak bersifat egosentris yaitu mempunyai sifat keakuan yang kuat

sehingga segala sesuatu yang disukainya dianggap sebagai miliknya. Apabila anak

menginginkan mainan kepunyaan temannya, sering ia akan merebutnya karena dianggap

miliknya.

Menurut teori Erikson, anak berada pada fase mandiri dan malu/ragu-ragu.

Hal ini terlihat dengan berkembangnya kemampuan anak, yaitu dengan belajar untuk

makan atau berpakaian sendiri. Apabila orang tua tidak mendukung upaya anak untuk

belajar mandiri, maka hal ini dapat menimbulkan rasa malu/rasa ragu akan

kemampuannya, misalnya orang tua yang selalu memanjakan anak dan mencela aktivitas

yang telah dilakukan oleh anak. Pada masa ini, sudah sampai waktunya anak dilatih
untuk buang air besar atau buang air kecil pada tempatnya (toilet training). Anak juga

dapat menunjuk beberapa bagian tubuhnya, menyusun 2 kata, dan mengulang kata-kata

baru. Pada masa ini, anak perlu dibimbing dengan akrab, penuh kasih sayang, tetapi juga

tegas, sehingga anak tidak mengalami kebingungan. Jika orang tua mengenal kebutuhan

anak, maka anak akan berkembang perasaan otonominya sehingga anak dapat

mengendalikan otot-otot dan rangsangan lingkungan.

5) Masa Pra sekolah akhir (3-5 tahun)

Pada masa ini, pertumbuhan gigi susu sudah lengkap. Pertumbuhan fisik relatif

pelan, naik turun tangga sudah dapat dilakukan sendiri. Demikian pula halnya dengan

berdiri satu kaki secara bergantian atau melompat. Anak mulai berkembang superegonya

(suara hati), yaitu merasa bersalah bila ada tindakannya yang keliru.

Menurut teori Erikson, pada usia tersebut anak berada pada fase inisiatif dan

rasa bersalah. Pada masa ini, anak berkembang rasa ingin tahu (courius) dan daya

imaginasinya, sehingga anak banyak bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya

yang tidak diketahuinya. Sedangkan menurut teori Sigmund Freud, anak berada pada

fase phalik, dimana anak mulai mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-

laki. Anak juga mengidentifikasikan figus atau perilaku orang tua sehingga mempunyai

kecenderungan meniru tingkah laku orang dewasa di sekitarnya. Anak juga mulai

mengenal cita-cita, belajar menggambar, menulis mengenal angka serta bentuk/warna

benda (Soetjiningsih, 2002).

1.5 Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak

1) Deteksi Pertumbuhan dan standar normalnya Menurut Nursalam (2005)

Parameter untuk pertumbuhan yang sering digunakan dalam pedoman deteksi tumbuh

kembang anak balita adalah :


a) Ukuran antropometri

1. Berat badan

Pedoman perkiraan berat badan menurut Behrman (1992), yaitu :

 Berat badan lahir rata-rata : 3,25 kg

 Berat badan usia 3-12 bulan, menggunakan rumus :

[Umur (bulan) + 9 ] / 2 = [n + 9] / 2

 Berat badan usia 1-6 tahun, menggunakan rumus :

[Umur (tahun) × 2] + 8 = 2n + 8

*Nb : Keterangan : n adalah usia anak.

2. Tinggi badan

Seperti halnya berat badan, tinggi badan juga dapat diperkirakan berdasarkan

rumus dari Behrman (1992), yaitu:

 Perkiraan panjang lahir : 50 cm

 Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 × panjang badan lahir

 Perkiraan tinggi badan usia 2-12 tahun

= (umur × 6) + 77

= 6n + 77

*Nb : Keterangan : n adalah usia anak dalam tahun, bila usia lebih 6 bulan

dibulatkan ke atas, bila usia anak 6 bulan atau kurang dihilangkan.

3. Lingkar kepala

Secara normal, pertambahan ukuran lingkar pada setiap tahap relatif

konstan dan tidak dipengaruhi oleh faktor ras, bangsa, dan letak geografis. Saat

lahir, ukuran lingkar kepala normalnya adalah 34-35 cm. Kemudian akan

bertambah sebesar ± 0,5 cm / bulan pada bulan pertama atau menjadi ± 44 cm.
pada 6 bulan pertama ini, pertumbuhan kepala paling cepat dibandingkan pada

tahap berikutnya, kemudian tahun pertama lingkar kepala bertambah tidak lebih

dari 5 cm per tahun, setelah itu sampai usia 18 tahun lingkar kepala hanya

bertambah ± 10 cm.

Pengukuran lingkar kepala lebih sulit untuk dilakukan bila dibandingkan

dengan ukuran antropometri lainnya dan jarang dilakukan pada balita, kecuali

apabila ada kecurigaan akan pertumbuhan yang tidak normal. Namun alat yang

dibutuhkan cukup sederhana, yaitu dengan pita pengukuran (meteran).

4. Lingkar lengan atas (Lila)

Ukuran lingkar lengan atas mencerminkan pertumbuhan jaringan lemak

dan otot yang tidak terpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dan berguna untuk

menilai keadaan gizi dan pertumbuhan anak prasekolah. Keuntungan dari

pengukuran lingkar lengan atas adalah murah, mudah, alatnya bisa dibuat sendiri,

dan siapa saja yang melakukannya. Namun, kadangkadang hasil pengukuran

kurang akurat karena sukar untuk mengukur lila tanpa menekan jaringan. Pada

praktiknya, pengukuran lila jarang digunakan kecuali ada gangguan pertumbuhan

atau gangguan gizi yang berat, sehingga pengukuran lila hanya efektif pada usia

di bawah 3 tahun (usia prasekolah).

5. Lipatan kulit

Tebalnya lipatan kulit pada daerah triceps dan subskapular merupakan

refleksi pertumbuhan jaringan lemak di bawah kulit yang mencerminkan

kecukupan energi. Apabila anak mengalami defisiensi kalori, maka lipatan kulit

menipis, lipatan tersebut akan menebal bila anak kelebihan energi.


b) Keseluruhan Fisik

Berkaitan dengan pertumbuhan, hal-hal yang dapat diamati dari pemeriksaan

fisik adalah :

1. Keseluruhan fisik

Dilihat bentuk tubuh, perbandingan kepala, tubuh dan anggota gerak, ada

tidaknya odema, anemia, dan ada tanda gangguan lainnya.

2. Jaringan otot

Dapat dilihat dengan cubitan tebal pada lengan atas, pantat, dan paha untuk

mengetahui lemak subcutan.

3. Jaringan lemak

Diperiksa dengan cubitan tipis pada kulit di bawah triceps dan subskapular.

4. Rambut

Perlu diperiksa pertumbuhannya, tebal / tipisnya rambut, serta apakah akar

rambut mudah dicabut atau tidak.

5. Gigi geligi

Perlu diperhatikan kapan tanggal dan erupsi gigi susu atau gigi permanen.

c) Pemeriksaan laboratorium dan radiologis

Pemeriksaan laboratorium dan radiologis baru dilakukan di klinik apabila

terdapat gejala atau tanda akan adanya suatu gangguan / penyakit, misalnya anemia

atau pertumbuhan fisik yang tidak normal. Pemeriksaan laboratorium yang sering

adalah pemeriksaan darah untuk kadar Hb, serum protein (albumin dan globulin), dan

hormon pertumbuhan. Pemeriksaan radiologis dilakukan terutama untuk menilai umur

biologis, yaitu umur tulang (boneage). Biasanya, hal tersebut dilakukan bila ada
kecurigaan akan adanya gangguan pertumbuhan. Bagian tulang yang biasanya di

rontgen adalah tulang radius sebelah kiri.

2) Deteksi Perkembangan

Menurut Frankerburg (1981) yang dikutip oleh Soetjiningsih (1995), terdapat empat

aspek perkembangan anak balita, yaitu :

a) Kepribadian/tingkah laku social (personal social), yaitu aspek yang

berhubungan dengan kemampuan untuk mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi

dengan lingkungan.

b) Motorik halus (fine motor adaptive), yaitu aspek yang berhubungan dengan

kemampuan anak untuk mengamati sesuatu dan melakukan gerakan yang

melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan otot-otot kecil, memerlukan

koordinasi yang tepat, serta tidak memerlukan banyak tenaga, misalnya

memasukkan manik-manik ke dalam botol, menempel dan menggunting.

c) Motorik kasar (gross motor), yaitu aspek yang berhubungan dengan pergerakan

dan sikap tubuh yang melibatkan sebagian besar tubuh karena dilakukan oleh

otot-otot yang lebih besar sehingga memerlukan cukup tenaga, misalnya

berjalan dan berlari.

d) Bahasa (language), yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk

memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara secara

spontan. Pada masa bayi, kemampuan bahasa bersifat pasif, sehingga

pernyataan akan perasaan atau keinginan dilakukan melalui tangisan atau

gerakan. Semakin bertambahnya usia, anak akan menggunakan bahasa aktif,

yaitu dengan berbicara.

Aspek-aspek perkembangan tersebut merupakan modifikasi dari tes/skrining

perkembangan yang ditemukan oleh Frankerburg, yang dikenal dengan Denver


Development Screening Test (DDST), yaitu salah satu test atau metode skrining yang

sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun.

Perkembangan yang dinilai meliputi perkembangan personal sosial, motorik halus,

motorik kasar dan bahasa pada anak (Nursalam dkk, 2005).

Pada buku petunjuk program BKB (Bina Keluarga dan Balita) perkembangan

balita dibagi menjadi 7 aspek perkembangan, yaitu perkembangan :

a) Tingkah laku sosial

b) Menolong diri sendiri

c) Intelektual

d) Gerakan motorik halus

e) Komunikasi pasif

f) Komunikasi aktif

g) Gerakan motorik kasar

Banyak “milestone” perkembangan anak yang penting dalam mengetahui taraf

perkembangan seorang anak (yang dimaksud dengan “milestone” perkembangan adalah

tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu), misalnya :

a) 4-6 minggu : tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu

kemudian

b) 12-16 minggu: menegakkan kepala, tengkurap sendiri menoleh ke arah suara

memegang benda yang ditaruh di tangannya

c) 20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya

d) 26 minggu : Dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya

Duduk, dengan bantuan kedua tangannya ke depan, makan biskuit sendiri


e) 9-10 bulan : Menunjuk dengan jari telunjuk, memegang benda dengan ibu jari

dan telunjuk, merangkak, bersuara da… da…

f) 13 bulan : berjalan tanpa bantuan, mengucapkan kata-kata tunggal

Dengan mengetahui berbagai “milestone”, maka dapat diketahui apakah

seorang anak perkembangannya terlambat ataukah masih dalam batas-batas normal.

Kalau ada kecurigaan dapat dilakukan tes skrining (deteksi dini) dan intervensi dini agar

tumbuh kembang anak dapat lebih optimal, antara lain dengan DDST (Denver

Development Screening Test) yaitu meliputi :

a) Motorik kasar

 Berdiri pada satu kaki selama 1 detik

 Lompat di tempat

 Naik sepeda roda 3 (tiga)

 Lompatan lebar

 Berdiri pada satu kaki selama 5 detik

b) Motorik halus

 Mencoret sendiri

 Menata dari 4 kubus

 Menata dari 8 kubus

 Meniru garis vertikal dalam batas 300

 Mengeluarkan manik-manik dari botol sendiri

 Mengeluarkan manik-manik dari botol dengan contoh

 Mengikuti membuat +

 Mengikuti membuat O

 Meniru jembatan

 Membedakan garis panjang (3 dari 3 atau 5 dari 6).


c) Personal sosial

 Memakai baju

 Mencuci dan menyeka tangan dengan lap

 Mudah dipisahkan dari ibu

 Bermain dengan anak lain

 Mengancing baju

 Memakai baju dengan pengawasan

 Memakai baju tanpa bantuan

Berdasarkan buku Pedoman Deteksi Tumbuh Kembang yang disusun oleh

Departemen Kesehatan RI, tes perkembangan yang dapat dilakukan adalah Kuesioner

Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Kuesioner Perilaku Anak Prasekolah (KPAP), Tes

Daya Lihat dan tes kesehatan mata (TDL), serta Tes Daya Dengar anak (TDD) (Depkes

RI, 1996).

1.6 Masalah-Masalah Tumbuh Kembang Anak

1) Gangguan bicara dan bahasa.

Kemampuan berbahasa merupakan indikator seluruh perkembangan anak. Karena

kemampuan berbahasa sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem

lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan

sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan

berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.

2) Celebral Palsy.

Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubh yang tidak progresif, yang

disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan

saraf pusat yang sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya.


3) Sindrom Down

Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal dari fenotipnya

dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom

21 yang berlebih. Perkembangannya lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor

seperti kelainan jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau

lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik dan

keterampilan untuk menolong diri sendiri.

4) Perawakan Pendek

Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi mengenai

tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada kurva pertumbuhan yang

berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya dapat karena varisasi normal, gangguan

gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena kelainan endokrin.

5) Gangguan Autisme.

Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang gejalanya muncul

sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi seluruh aspek perkembangan

sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara

mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang

interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.

6) Retardasi Mental.

Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang rendah (IQ < 70)

yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap

tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal.

7) Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)

Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian

yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.


1.7 Kartu Menuju Sehat

Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah kartu yang memuat data

pertumbuhan anak, yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (Depkes

Jawa Timur, 2008).

KMS yaitu kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indikator perkembangan

yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balita setiap bulannya dari

sejak lahir sampai berusia 5 tahun (dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi)

(Nursalam, 2008).

Tujuan penggunaan KMS:

1. Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua untuk memantau tingkat pertumbuhan dan

tingkat perkembangan yang optimal.

2. Sebagai alat bantu untuk memantau dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk

mewujudkan tumbuh kembang yang optimal.

3. Mengatasi malnutrisi di masyarakat secara efektif dengan peningkatan pertumbuhan

yang memadai (promotive) (Nursalam, 2008).

Manfaat / fungsi KMS:

1. Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara

lengkap, meliputi: pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi,

penanggulangan diare, pemberian kapsul vit A, ASI eksklusif, dan makanan

pendamping ASI.

2. Sebagai media penyuluhan bagi orang tua mengenai kesehatan balita.

3. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan

tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita.

4. Sebagai kartu analisis tumbuh kembang balita (Nursalam, 2008).


Penyuluhan balita yang mengacu pada KMS:

1. Jadwal pemberian imunisasi dan manfaatnya.

2. Cara membina pertumbuhan anak yang baik.

3. Pemberian ASI eksklusif ( 0-6 bulan ).

4. Pemberian makanan pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan sampai 2 tahun.

5. Merawat kesehatan gigi dan mulut.

6. Gizi dan pemberian vitamin A untuk balita.

7. Perkembangan anak dan latihan yang perlu diberikan sesuai dengan usia anak.

8. Pertolongan pertama pada anak diare (Depkes Jawa Timur, 2008).

Isi dari KMS antara lain:

1. Tentang pertumbuhan

2. Perkembangan anak/balita

3. Imunisasi

4. Penanggulangan diare

5. Pemberian kapsul vitamin A dan kondisi kesehatan anak

6. Pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI

7. Pemberian makanan anak/Balita dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit.

8. Berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang

kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan

dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil

penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis.Rangkaian garis-garis pertumbuhan

anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak.Pada balita yang sehat, berat badannya

akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Grafik pertumbuhan
dalam KMS terdiri dari garis merah, pita warna kuning, hijau tua dan hijau muda (Depkes RI,

2000).

a) Balita naik berat badannya bila:

 Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau

 Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya.

b) Balita tidak naik berat badannya bila:

 Garis pertumbuhannya turun, atau

 Garis pertumbuhannya mendatar, atau

 Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya

c) Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami

gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk

ke Puskesmas/Rumah Sakit.

d) Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita mengalami

gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit.

e) Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya.

f) Balita sehat, jika: Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau

pindah ke pita warna diatasnya.