Anda di halaman 1dari 16

Aluh | 833

PENINGKATAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH


DALAM KEGIATAN SUPERVISI AKADEMIK
MELALUI PENERAPAN PENDAMPINGAN PADA
GUGUS SEKOLAH I DAN III DI KECAMATAN MOJOROTO
KOTA KEDIRI

Oleh
Aluh
E-mail : aluh@gmail.com

ABSTRAK
Pendampingan dari pengawas dirasa sangatlah tepat untuk mengatasi kesulitan
atau permasalahan yang dihadapi para kepala sekolah dalam pelaksanaan rangkaian
kegiatan supervisi. Kesulitan ini apabila dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan
kegiatan supervisi akademik yang harus dilakukan kepala sekolah demi peningkatan
kualitas pembelajaran yang berdampak pada hasil belajar siswa, hanya sebatas ilmu
kira-kira saja, tanpa adanya proses dan penilaian yang obyektif. Dalam penerapan
pendampingan akan diperoleh beberapa permasalahan diantaranya: 1).
bagaimanakah penerapan pendampingan dapat meningkatkan kompetensi kepala
sekolah dalam kegiatan supervisi akademik pada lembaga binaan di Kecamatan
Mojoroto? 2). bagaimanakah persepsi kepala sekolah dalam pelaksanaan
pendampingan untuk meningkatkan kompetensi supervisi akademik? 3). apakah
penerapan pendampingan dapat menambah wawasan pengawas sekolah dalam
penelitian?
Penelitian ini bertujuan untuk : 1). meningkatkan kompetensi kepala sekolah
dalam kegiatan supervisi akademik melaui penerapan pendampingan. 2). mengetahui
persepsi kepala sekolah terhadap pelaksanaan penerapan pendampingan yang
dilakukan pengawas pada kepala sekolah dalam peningkatan kegiatan supervisi
akademik. 3). menambah wawasan pengawas sekolah terhadap penerapan pendam-
pingan dalam penelitian tindakan sekolah.
Melalui penelitian tindakan sekolah yang dilakukan selama 3 siklus, dan
masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi atau pengamatan,
dan refleksi dapat disimpulkan bahwa penerapan pendampingan mampu mening-
katkan kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik pada Gugus
Sekolah I dan III di Kecamatan Mojoroto.

Kata Kunci : Kompetensi, Supervisi Akademik, Pendampingan

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas sangat terkait erat
dengan keberhasilan peningkatan kompetensi dan profesionalisme Kepala sekolah,
Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) tanpa mengabaikan faktor-faktor lainnya
seperti sarana dan prasarana serta pembiayaan. Kepala sekolah merupakan salah satu
834 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

PTK yang posisinya memegang peran sangat signifikan dan strategis dalam
meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah.
Salah satu dimensi kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan
Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah
adalah dimensi kompetensi supervisi. Supervisi yang harus dilakukan kepala
sekolah/madrasah adalah supervisi akademik. Supervisi akademik adalah serangkaian
kegiatan membantu guru mengembangkan kompetensinya mengelola proses
pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran.
Supervisi akademik penting dilakukan oleh seorang kepala sekolah/madrasah
agar mampu menyusun program, melaksanakan, dan melakukan tindak lanjut supervi
seakademik disekolah tempat tugasnya karena Kepala Sekolah/Madrasah adalah orang
yang paling bertanggung jawab atas keberhasilan pembelajaran disekolah. Pelaksanaan
supervisi akademik yang baik akan menghasilkan output yang baik pula. Pembelajaran
yang dilaksanakan dengan baik akan berdampak pada peningkatan prestasi
peserta didik.
Untuk itu, seorang kepala sekolah / madrasah harus mampu menyusun program
supervisi akademik. Program tersebut akan digunakan sebagai pedoman pelaksanan
supervisi akademik. Selain itu, program supervisi akademik juga dapat
mengembangkan kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran secara efektif. Dari
hasil pelaksanaan supervisi akademik, kepala sekolah juga harus mampu memberikan
umpan balik dan melaksanakan tindak lanjut. Hal ini sangat berguna untuk
meningkatkan kualitas baik bagi peserta didik, guru, maupun dirinya yang pada
akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan disekolahnya.
Namun berdasarkan hasil visitasi pada kegiatan akreditasi sekolah dasar maupun
taman kanak-kanak dan hasil kegiatan supervisi dan monitoring didapatkan data bahwa
kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan supervisi di lembaga masing-masing masih
rendah. Meskipun telah banyak kegiatan peningkatan kompetensi baik yang dilakukan
melalui kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di gugus masing-masing, maupun
melalui kegiatan cluster dari kelompok kerja kepala sekolah bermutu, belum mampu
menjawab segala persoalan yang dihadapi oleh kepala sekolah, dalam pelaksanaan
kegiatan supervisi. Hambatan yang dihadapi oleh para kepala sekolah ini juga dialami
oleh para kepala TK dan para kepala SD yang ada di Kecamatan Mojoroto, Kota
Kediri. Mereka meminta pembinaan dan bantuan pada pengawas sekolah atau peneliti
untuk diberikan pendampingan dalam kegiatan supervisi. Dari 12 orang yang terdiri
dari10 orang kepala SD Negeri dan 2 orang kepala SD Swasta tersebut hanya ada
sebagian kecil saja yang pernah menyusun perangkat supervisi.
Ketidakmengertian, serta kebingungan dalam pereencaan, pelaksanaan, analisa
hasil supervisi, pemberian tindak lanjut hasil supervisi, serta penyusunan dan
penggunaan instrumen supervisi menjadi alasan yang banyak disampaikan kepala
sekolah. Oleh sebab itu peneliti yang merupakan salah satu pengawas sekolah
memiliki tanggung jawab memberikan bantuan dengan melakukan pendampingan pada
kepala SD Negeri dan kepala SD Swasta di Gugus Sekolah I dan III Kecamatan
Mojoroto, Kota Kediri.
Aluh | 835

Aspek-aspek yang diamati dalam melaksanakan pendampingan pada kepala SD


Negeri dan kepala SD Swasta untuk meningkatkan kompetensi supervisi akademik
adalah:
a. Kompetensi kepala sekolah dalam penyusunan perencanaan supervisi akademik.
Pada saat observasi dilakukan kompetensi ini hanya dimiliki oleh 0% dari kepala
sekolah yang ada pada sekolah binaan;
b. Kompetensi kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi akademik. Kepala sekolah
yang memiliki kompetensi melaksanakan supervisi sebesar 33% dari kepala sekolah
yang ada pada sekolah binaan;
c. Kompetensi kepala sekolah dalam menganalisa hasil supervisi akademik sebesar
0% dari kepala sekolah yang ada pada sekolah binaan.
d. Kompetensi kepala sekolah dalam melakukan tindak lanjut hasil supervisi akademik
ini belum ada sama sekali yang melakukannya atau 0% dari lembaga binaan.
e. Kompetensi kepala sekolah dalam penggunaan instrumen supervisi akademik. Pada
saat observasi dilakukan kompetensi ini hanya dimiliki oleh 33% dari kepala
sekolah di lembaga binaan.
Dari uraian permasalahan yang ada, maka pendampingan dari pengawas dirasa
sangatlah tepat untuk mengatasi kesulitan atau permasalahan yang dihadapi para
kepala sekolah dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan supervisi. Kesulitan ini apabila
dibiarkan terus-menerus akan mengakibatkan kegiatan supervisi akademik yang harus
dilakukan kepala sekolah demi peningkatan kualitas pembelajaran yang berdampak
pada hasil belajar sisiwa, hanya sebatas ilmu kira-kira saja, tanpa adanya proses dan
penilaian yang obyektif.
Pendampingan merupakan suatu kegiatan yang dapat membantu para kepala
sekolah dalam meningkatkan kompetensi supervisi secara langsung, nyata dan
berkesinambungan. Kepala sekolah dapat bertanya dan berkonsultasi secara periodik
pada pengawas/peneliti. Oleh sebab itu peneliti mengangkat judul “Peningkatan
Kompetensi Kepala Sekolah dalam Kegiatan Supervisi Akademik melalui Penerapan
Pendampingan pada Gugus Sekolah I dan III di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri”

Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penerapan pendampingan dapat meningkatkan kompetensi kepala
sekolah dalam kegiatan supervisi akademik pada Gugus Sekolah I dan III di
Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri?.
2. Bagaimanakah persepsi kepala sekolah dalam pelaksanaan pendampingan untuk
meningkatkan kompetensi supervisi akademik?.
3. Apakah penerapan pendampingan dapat menambah wawasan pengawas sekolah
dalam penelitian?.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian tindakan sekolah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik
melaui penerapan pendampingan.
836 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

2. Mengetahui persepsi kepala sekolah terhadap pelaksanaan penerapan


pendampingan yang dilakukan pengawas pada kepala sekolah dalam peningkatan
kegiatan supervisi akademik.
3. Menambah wawasan pengawas sekolah terhadap penerapan pendampingan dalam
penelitian tindakan sekolah.

Hipotesis Tindakan
Jika Penerapan pendampingan dilakukan maka mampu meningkatkan
kompetensi kepala sekolah dalamkegiatan supervisi akademik pada lembaga binaan di
Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

KAJIAN PUSTAKA
Kompetensi Kepala Sekolah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April
2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah yang mengatur kualifikasi dan
kompetensi kepala sekolah. Kualifikasi kepala sekolah terdiri dari kualifikasi umum
dan kualifikasi khusus.
Kualifikasi umum yang dimaksud adalah a). memiliki kualifikasi akademik
sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau nonkependidikan pada
perguruan tinggi yang terakreditasi; b). pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah
berusia setinggi-tingginya 56 tahun; c). memiliki pengalaman mengajar sekurang-
kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenjang sekolah masing-masing; dan d). Memiliki
pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi non-PNS
disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga
berwenang. Sedangkan kualifikasi khusu kepala sekolah dasar adalah, a). berstatus
sebagai guru SD/MI; b). memiliki sertifikat pendidik sebagai guru SD/MI; dan c).
memiliki sertifikat kepala SD/MI yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan
Pemerintah.
Sementara itu kompetensi kepala sekolah meliputi kompetensi kepribadian,
kometensi kewirausahaan, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi, dan
kompetensi sosial. Pada penelitian ini membatasi pada kompentensi supervisi saja.
Kompetensi supervisi meliputi, a). merencanakan program supervisi akademik dalam
rangka peningkatan profesionalisme guru; b). melaksanakan supervisi akademik
terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat; dan
c). menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan
profesionalisme guru.

Supervisi Akademik
Salah satu ketrampilan utama dari seorang kepala sekolah adalah dengan
memberikan bantuan profesional kepada guru dalam bentuk penyegaran, konsultasi,
bimbingan, dan kegiatan lain yang mungkin dilakukan secara terus menerus untuk
meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas agar
berdampak pada kualitas hasil belajar siswa. Untuk dapat menjamin kualitas layanan
dapat tetap terjaga, maka supervisi akademik menjadi hal yang penting dalam
memberikan bantuan kepada guru. Istilah supervisi pendidikan sudah cukup lama
Aluh | 837

dikenal dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pengertian supervisi pendidikan pada


umumnya mengacu pada usaha perbaikan situasi belajar mengajar.
Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian
kegiatan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan
upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan
pembelajaran. Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali
bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan
membantu guru mengem- bangkan kemampuan profesionalismenya.
Sementara itu Oteng Sutisna dalam dalam Syaiful Sugala, Kemampuan
profesional guru dan tenaga kependidikan (2009:194) menjelaskan bahwa supervisi
adalah ide-ide pokok dalam menggalakkan pertumbuhan profesional guru,
mengembangkan kepemimpinan demokratis, melepaskan energi, memecahkan
masalah-masalah belajar mengajar dengan efektif. Carter Good’s Dictionary of
education menyatakan bahwa konsep supervisi adalah segala usaha dari penjabat
sekolah yang diangkat dan diarahkan pada penyediaan kepemimpinan bagi guru dan
tenaga kependidikan lain dalam perbaikan pengajaran, memberi stimulasi untuk
pertumbuhan jabatan guru yang lebih profesional, seleksi dan revisi tujuan-tujuan
pendidikan, bahan pengajaran, metode-metode pengajaran dan evaluasi pengajaran.
Jadi pada hakekatnya supervisi akademik adalah sebagai bantuan dan bimbingan
profesional bagi guru dalam melaksanakan tugas intruksional guna memperbaiki hal
belajar dan mengajar dengan melakukan stimulasi, koordinasi, dan bimbingan secara
kontinyu untuk meningkatkan pertumbuhan jabatan guru secara individual maupun
kelompok. Pandangan ini memberikan gambaran bahwa supervisi akademik adalah
sebagai bantuan dan bimbingan atau tuntunan ke arah situasi pendidikan yang lebih
baik kepada guru-guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya di bidang
instruksional sebagai bagian dari peningkatan mutu pembelajaran. Sehingga guru
tersebut dapat membantu memecahkan masalah belajar siswa mengacu pada
kurikulum yang berlaku.

Pendampingan
Pendampingan atau bimbingan merupakan suatu proses memberikan bantuan
kepada guru agar guru tersebut mampu memecahkan permasalahan yng dihadapinya.
Pendampingan memberikan dampak positif bagi pengembangan potensi ke arah yang
lebih baik.
Dalam proses pendampingan akan terbentuk situasi informal maupun formal.
Kedua situasi yang terbentuk itu dapat mempengaruhi semangat yang baik terhadap
pihak yang didampingi menuju ke arah yang lebih positif.
Pendampingan tak sama dengan supervisi. Pendampingan atau coaching, terasa
lebih equal. guru dan yang mendampingi merasa sederajat. Pendampingan juga tak
berpengaruh pada appraisal atau penilaian guru. Jika supervisi akademik akan
menghasilkan hasil hitung renumerasi, maka pendampingan akan menghasilkan
perubahan pola pikir dan sikap guru yang didampingi.
838 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

Secara definisi pendampingan adalah upaya membuka jalan bagi sesorang,


sehingga posisinya dapat berkembang maksimal lewat proses belajar. Bukan dengan
mengguruinya, begitu kata Thimothy Gallwey.
Pendampingan diperlukan karena akan meningkatkan kinerja guru dan memberi
efek semangat saling belajar antara pendamping dan yang didampingi. Teknik
pendampingan ditengarai akan meningkatkan kinerja guru empat kali lebih cepat
dibanding training atau pelatihan biasa. Pendampingan memberi solusi pada
keterbatasan, dan membentuk pribadi yang reflektif.
Sedangkan peran pendamping adalah sebagai upaya memecahkan masalah.
Pendamping sebagai pencari solusi. Bukan bagian dari masalah. Untuk tujuan
meningkatkan profesi, pendamping berperan sebagai motivator, fasilitator, dan
pemberi umpan balik.

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang menggunakan bentuk
kolaborasi dengan melibatkan seorang kolaborator, dimana kolaborator berperan
sebagai observer yang bertugas mengobservasi serangkaian kegiatan yang dilakukan
peneliti atau yang dilakukan oleh kepala sekolah. Sedangkan peneliti sebagai
pelaksana tindakan.
Proses pendampingan ini dilakukan dalam tiga kali siklus, pada minggu kedua,
minggu keempat bulan Oktober 2015 dan minggu kedua bulan November 2015. Setiap
siklus terdiri atas empat tahapan mulai dari tahap perencanaan, tahap pelaksanaan
tindakan, tahap observasi yang dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai observer
dan tahap evaluasi serta refleksi

Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian


Penelitian dilakukan selama tiga bulan, dimulai pada awal bulan Oktober hingga
akhir bulan Desember 2015 dengan subyek 10 orang kepala SD Negeri dan 2 orang
kepala SD Swasta pada Gugus Sekolah I dan III yang ada di Kecamatan Mojoroto,
Kota Kediri Tahun Pelajaran 2015-2016. Sedangkan pelaksanaan kegiatan dari
tindakan yang direncanakan adalah minggu kedua, keempat bulan Oktober, dan
minggu kedua bulan November 2015. Adapun lokasi penelitian disepakati di siklus I
sampai siklus III di SDN Sukorame 2 Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Subyek atau populasi dari penelitian ini 12 orang yang terdiri dari 10 orang
kepala SD Negeri dan 2 orang kepala SD Swasta yang ada di Gugus Sekolah I dan III
wilayah kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Metode Pengumpulan Data


Peneliti sebagai pelaksana tindakan dan kolaborator sebagai observer. Observasi
dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pendampingan. Data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini hanya berupa data kualitatif, yang diisi oleh observer berdasarkan
pengamatan di lapangan.
Aluh | 839

Analisis Data
Untuk menghasilkan data kualitatif yang benar dibutuhkan analisis data yang
tepat dengan menggunakan analisis statistik sederhana, di antaranya adalah:
1. Penilaian Kompetensi Kepala sekolah
Peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh para kepala sekolah, selanjutnya
dibagi dengan jumlah aspek yang diamati tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata.
Nilai rata-rata ini di dapat dengan menggunakan rumus:

X 
X
N
Dengan : X = nilai rata-rata
 X = Jumlah semua nilai kepala sekolah
N = Jumlah aspek yang diamati
2. Penilaian pada Peneliti
Kategori indikator keberhasilan, yaitu secara individu. Penerapan pendampingan
dikatakan berhasil meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam pelaksanaan
kegiatan supervisi akademik apabila dari masing-masing aspek pengamatan mencapai
nilai minimal 80% berhasil baik.
Analisis ini dilakukan pada saat tahapan refleksi. Hasil analisis digunakan sebagai
bahan refleksi untuk melakukan perencanaan tindak lanjut dalam siklus selanjutnya.
Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan refleksi dalam memperbaiki rancangan
pembelajaran, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan
tindakan yang tepat.

HASIL PENELITIAN
Hasil Penelitian
Sebelum sampai pada analisis inferensial untuk membuktikan pengaruh variabel
bebas terhadap variable terikatnya, maka perlu diuraikan mengenai karakteristik
responden.

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


Memetakan karakteristik responden sangat penting artinya dalam sebuah
penelitian, karena dengan mengetahui karakteritsik responden maka akan lebih mudah
bagi peneliti untuk menguraikan tentang hasil penelitian khususnya berkaitan dengan
responden.
Tabel 1. Karakteristik Responden
No Jenis Kelamin Jml Persen Lama Kerja Jml Persen
(Tahun)
1 Laki-laki 18 36 % < 25 tahun 0 0.0 %
2 Perempuan 32 64 % 25 ≤ X ≤ 35 0 0.0%
No Pendidikan Jml Persen 35 ≤ X ≤ 45 3 6.0 %
1 SMA / SPG 2 4.0 % 45 ≤ X ≤ 55 44 88.0 %
840 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

Lanjutan Tabel 1. Karakteristik Responden


2 DIPLOMA 18 36.0 % ≥ 55 3 6.5 %
3 S1 (Sarjana) 30 60.0 % Jumlah 50 100%
4 S2 (Pascasarjana) 0 0,0 %
Sumber : Hasil Penelitian Diolah
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa guru di SD Negeri Gempol Sari 1 yang
laki-laki sebanyak 18 orang (36%) dan yang perempuan sebanyak 32 orang (64 %)
dengan demikian dapat dikatakan bahwa di SD Negeri Gempol Sari lebih banyak guru
perempuan dibanding guru laki-laki. Hal ini wajar karena pendidikan dasar
membutuhkan guru yang sabar dan telaten dalam mendidik anak-anak. Sehingga guru
perempuan lebih cocok untuk di pendidikan dasar.
Guru yang berusia kurang dari 25 tahun ada sebanyak 0 orang (0%) , guru yang
berusia antara 25 ≤ X ≤ 35 tahun ada sebanyak 0 orang atau sebesar 0% guru yang
berusia antara 35 ≤ X ≤ 45 tahun ada sebanyak 3 orang atau sebesar 6.0%. Sedangkan
guru yang berusia antara 45 ≤ X ≤ 55 tahun ada sebanyak 44%. Dan guru yang berusia
lebih dari 55 tahun ada sebanyak 3 orang atau sebesar 6.5%.
Pendidikan merupakan factor utama dalam proses pembelajaran, semakin tinggi
tingkat pendidikan guru maka akan semakin luas wawasannya dan akan semakin
banyak ilmu yang diberikan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar guru di SD Negeri Gempol Sari berpedidikan sarjana. Guru yang
berpendidikan SMA/SPG ada sebanyak 2 orang atau sebesar 4.0%. Guru yang
berpendidikan Diploma ada sebanyak 18 atau sebesar 36.0%. Sedangkan guru yang
berpendidikan sarjana ada sebanyak 30 orang atau sebesar 60.0% dan guru yang
berpendidikan pascasarjana belum ada.

Fungsi Kepemimpinan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner kepada responden
diketahui bahwa distribusi fungsi kepemimpinan menurut responden sebagai berikut :
Fungsi pendidik bagi Kepala Sekolah merupakan salah satu aspek penting dalam
menentukan kinerja guru dalam bekerja. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data
tentang tanggapan responden tentang fungsi kepala sekolah sebagai pendidik di
lingkungan sekolah sebagai berikut :
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kepala Sekolah sebagai Pendidik (X1)
Selalu Sering Kadang Jarang Tidak Pernah
No Uraian  %  %  %  %  %
1 Pembinaan 27 55,1 18 36,7 3 6,1 - - 1 2,0
Mental (X11)
2 Pembinaan 38 77,6 7 14,3 2 4,1 - - 2 4,1
Moral (X12)
Aluh | 841

Lanjutan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kepala Sekolah sebagai Pendidik (X1)


3 Memberdayakan 25 51 20 40,8 3 6,1 1 2,0 - -
guru (X21)
4 Mendorong 30 61,2 11 22,4 8 16,3 - - - -
Pendidik (X22)
Sumber : Data Primer Diolah

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Siklus I
Tindakan pada siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 21 Oktober 2015 dilakukan
selama 360 menit. Dalam jangka waktu 360 menit ini kepala sekolah yang berjumlah
12 orang yang terdiri dari 10 orang Kepala SD Negeri dan 2 orang Kepala SD Swasta
melakukan perangkat kegiatan supervisi akademik melalui penerapan pendampingan
pengawas sekolah atau peneliti. Sedangkan peneliti melaksanakan tindakan dan
kolaborator melaksanakan pengamatan terhadap segala aktifitas baik yang dilakukan
oleh kepala sekolah maupun peneliti.
Pada awal hingga akhir proses atau penerapan pendampingan, kolaborator yang
bertindak sebagai observer melakukan observasi guna mengumpulkan berbagai data
yang dibutuhkan sehingga dapat diketahui berbagai kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan pendampingan dan dampak bagi peningkatan kompetensi kepala sekolah
dalam kegiatan supervisi akademik.
Meskipun telah tejadi peningkatan kompetensi beberapa kepala sekolah dalam
kegiatan supervisi akademik, pada siklus I ini, masih jauh dari indikator keberhasilan
yang diharapkan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang konsep, dan
latihan-latihan kegiatan supervisi akademik. Para kepala sekolah dalam kegiatan
supervisi akademik masih belum bisa merencanakan supervisi sesuai dengan tujuan
dan teknik supervisi yang tepat, mereka masih saling bertanya pada teman yang lain,
mereka juga masih terlihat kebingungan dalam menganalisa hasil supervisi yang telah
dilakukan, sehingga berdampak pada pengisian atau penentuan aspek-aspek
pengamatan yang lain. Adapun hasil observasi yang dilakukan observer menghasilkan
data seperti yang tampak pada tabel dibawah ini.
Tabel 3. Hasil Observasi Aspek Penilaian Siklus I
Aspek Yang Diamati Prosentase keberhasilan Rata-rata
Dari 6 Kepala Sekolah keberhasilan
penyusunan perencanaan 50% (6 dari 12 orang) 2,5 (B)
supervisi akademik
pelaksanaan supervisi akademik 50% (6 dari 12 orang) 2,5 (B)
menganalisa hasil supervisi 17% (2 dari 12 orang) 2,2 (C)
akademik
Menetukan tindak lanjut supervisi 17% (2 dari 12 orang) 2,2 (C)
akademik
Menentukan instrumen supervisi 67% (10 dari 12 orang) 2,7 (B)
akademik
Sumber : Hasil Penelitian Diolah (2015)
842 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

Dengan melihat data pada tabel 3 diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan
pendampingan pada kegiatan supervisi akademik belum mampu meningkatkan
kompetensi kepala sekolah pada lembaga binaan di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Hal ini lebih banyak dipengaruhi dari rendahnya pendampingan yang diberikan
pengawas sekolah atau peneliti pada Kepala SD Negeri dan Kepala SD Swasta,
bahkan peneliti pada saat melakukan tindakan juga kelihatan bingung, karena respon
dua arah belum tampak. Dari hasil analisis dan refleksi maka pada siklus berikutnya
dilakukan pembenahan pada peran pengawas sebagai motivator, fasilitator dan
konsultan yang sesuai dengan penerapan pendampingan.
Sementara itu hasil reflekasi yang dilakukan pada peneliti menunjukkan bahwa
secara umum penguasaan dalam memberikan bantuan, bimbingan dan pendampingan
sudah mulai dipahami dan dikuasai. Peneliti mulai bisa memberikan motivasi,
dorongan dan semangat kepada para kepala sekolah sehingga dengan pemikirannya
sendiri dapat mengaktualisasikan dalam bentuk tulis. Sikap pasif dan jenuh, serta
bingung masih tampak pada beberapa kepala sekolah juga mulai dapat diatasi dan
“dipecahkan” oleh peneliti dengan baik. Bahkan peneliti dapat memberikan keyakinan
yang kuat pada para kepala sekolah, bahwa mereka pasti bisa menyelesaikan kegiatan
supervisi akademik dengan cara yang tepat, efektif, dan efisien asal dilandasi dengan
kemauan yang keras dan semangat yang tinggi.

Siklus II
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Senin, 26 Oktober 2015. Dalam jangka
waktu yang sama seperti pada pertemuan pertama, yaitu 360 menit, peneliti
memberikan bantuan dan pendampingan dalam kegiatan supervisi akademik
berdasarkan SAP yang telah disusun bersama dengan kolaborator.
Observasi dilaksanakan secara langsung pada saat kegiatan pada awal hingga
akhir pendampingan. Dalam observasi yang dilakukan pada siklus II ini, terlihat para
kepala sekolah mulai antusias untuk melakukan perbaikan-perbaikan atas saran dari
peneliti. Bahkan pada saat diberi kesempatan untuk presentasi para kepala sekolah juga
mulai ada peningkatan untuk mengetahui kelebihan atau kekurangannya, mereka mulai
sadar akan manfaat presentasi. Demikian juga ketrampilan para kepala sekolah dalam
memberikan tanggapan pada kegiatan presentasi juga tampak ada peningkatan, baik
diamati dari segi sopan santun atau tutur bahasa yang diper-gunakan, atau tata cara
memberi masukan
Dari hasil analisa data yang dilakukan pada para kepala sekolah dalam
penyusunan rencana supervisi, pelaksanaan supervisi, dan penggunaan istrumen
supervisi, sudah ada peningkatan dari siklus sebelumnya, dan telah memenuhi
indikator yang diharapkan sehingga berdampak pada peningkatan kompetensi kepala
sekolah dalam menganalisa dan menentukan tindak lanjut dari hasil supervisi
akademik yang telah dilakukannya. Bantuan atau pendampingan dari peneliti juga
tidak kalah pentingnya dalam peningkatan kompetensi Kepala SD Negeri dan Kepala
SD Swasta dalam kegiatan supervisi akademik, yang bisa dipergunakan sebagai dasar
dalam pelaksanaan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) di lembaganya
masing-masing. Adapun hasil observasi yang dilakukan observer menghasilkan data
seperti yang tampak pada tabel di bawah ini.
Aluh | 843

Tabel 4. Hasil Observasi Aspek Penilaian Siklus II


Aspek Yang Diamati Prosentase keberhasilan Rata-rata
Dari 6 Kepala Sekolah keberhasilan
penyusunan perencanaan 67% (10 dari 12 orang) 3,0 (B)
supervisi akademik
pelaksanaan supervisi akademik 83% (11 dari 12 orang) 2,8 (B)
menganalisa hasil supervisi 67% (10 dari 12 orang) 2,7 (B)
akademik
Menetukan tindak lanjut 50% (6 dari 12 orang) 3,0 (B)
supervisi akademik
Menentukan instrumen supervisi 83% (11 dari 12 orang) 2,8 (B)
akademik
Sumber : Data Primer Diolah (2015)
Dengan melihat data pada tabel 4 diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan
pendampingan pada kegiatan supervisi akademik belum mampu meningkatkan
kompetensi kepala sekolah secara keseluruhan dari masing-masing yang diamati. Hal
ini lebih banyak dipengaruhi oleh pelaksanaan proses kegiatan supervisi akademik
yang dilakukan tidak sesuai petunjuk teknis atau asal-asalan. Misalnya tidak
terbiasanya melaksanakan supervisi dengan langkah-langkah yang tepat, tidak
terbiasanya menganalisa dan menindaklanjuti hasil supervisi yang telah
dilakaukannya. Dari hasil analisis dan refleksi maka pada siklus berikutnya dilakukan
pembenahan pada Kepala SD Negeri dan Kepala SD Swasta adalah perbaikan-
perbaikan dan peningkatan-peningkatan dari semua aspek yang diamati.
Sedangkan hasil reflekasi yang dilakukan pada peneliti menunjukkan bahwa
secara umum penguasaan dalam memberikan bantuan, bimbingan dan pendampingan
pada kegiatan supervisi akademik sudah mulai dipahami dan dikuasai. Peneliti mulai
bisa memberikan motivasi, dorongan dan semangat kepada para kepala sekolah,
sehingga mereka dengan pemikirannya sendiri dapat melakukan perbaikan-perbaikan
yang disarankan peneliti. Sikap pasif dari beberapa peserta juga mulai dapat diatasi
dan “dipecahkan” oleh peneliti dengan baik. Bahkan peneliti dapat mengatasi
kepanikan, kebingungannya sendiri dengan cara yang tepat, efektif, dan efisien dalam
menerapkan pendampingan terhadap para kepala sekolah pada sekolah binaan di
Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Siklus III
Pelaksanaan kegiatan pendampingan kegiatan supervisi akademik pada siklus III
dilakukan pada hari Selasa, 3 November 2015. Dalam waktu 360 menit, peneliti
menerapkan pendampingan untuk memberikan bantuan pada 12 orang kepala sekolah
pada Gugus Sekolah I dan III di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dengan
memperbaiki dan meningkatkan masing-masing aspek yang belum memenuhi
indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu 80% dari masing-masing aspek yang
diamati mempunyai nilai baik (B).
Observasi yang dilaksanakan secara langsung pada saat kegiatan sedang
pendampingan dilakukan yaitu pada awal hingga akhir pendampingan. Dengan
bertambahnya waktu para kepala sekolah bertambah pula dalam memperbaiki
844 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

kekurangan yang dilakukan dalam kegiatan supervisi akademik. Begitu pula


keterampilan yang dimiliki oleh peneliti, baik keterampilan dalam memberikan
bantuan dalam penyelesaian masalah, memberikan motivasi, mengarahkan
perkembangan daya pikir para kepala sekolah, sehingga mampu mengatasi kesulitan
yang ditemukan dalam aktivitas kegiatan supervisi akademik juga semakin dikuasai
serta semakin menunjukkan keberhasilan yang signifikan.
Sedangkan hasil observasi yang dilakukan pada para kepala sekolah juga
menunjukkan peningkatan, para kepala sekolah semakin menikmati dan terampil
dalam kegiatan supervisi akademik. Sehingga keberhasilan dari masing-masing aspek
telah terpenuhi seperti yang terlihat pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5. Hasil Observasi Siklus III
Aspek Yang Diamati Prosentase keberhasilan Rata-rata
Dari 6 Kepala Sekolah keberhasilan
penyusunan perencanaan supervisi 100% (12 dari 12 orang) 3,3 (B)
akademik
pelaksanaan supervisi akademik 100% (12 dari 12 orang) 3,2 (B)
menganalisa hasil supervisi 83% (11 dari 12 orang) 3,0 (B)
akademik
Menetukan tindak lanjut supervisi 83% (11dari 12 orang) 2,8 (B)
akademik
Menentukan instrumen supervisi 100% (12 dari 12 orang) 3,0 (B)
akademik
Sumber : Data Primer diolah (2015)
Dengan melihat data pada tabel 5 diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan
pendampingan telah mampu meningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan
supervisi akademik dari masing- masing aspek pengamatan pada Gugus Sekolah I dan
III di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Hal ini juga terbukti kesuksesan peneliti
dalam menerapkan pendampingan yang dilakukan pada 12 orang kepala sekolah, yang
terdiri dari 10 orang Kepala SD Negeri dan 2 orang Kepala SD Swasta, pada Gugus
Sekolah I dan III di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Sementara itu peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan supervisi
akademik yang dilakukan dari siklus I sampai siklus III dapat dilihat pada tabel 4
Sedangkan peningkatan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam
menerapkan workshop untuk meningkatkan kemampuan tim penilai dari siklus I
samapi siklus II dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:
Tabel 5. Peningkatan Hasil Observasi Siklus I – III
Siklus I Siklus II Siklus III
Aspek yang Prosentase Rata- Prosentase Rata- Prosentase Rata-
Diobservasi Keber- rata Keber rata Keber rata
hasilan Keber- hasilan Keber- hasilan Keber-
hasilan hasilan hasilan
1. Penyusunan 50% 2,5 67% 3,0 100% 3,3 (B)
Perencanaan (6 dari 12 (B) (10 dari (B) (12 dari
Supervisi orang) 12 orang) 12 orang)
Aluh | 845

akademik
2. pelaksanaan 50% 2,5 83% 2,8 100% 3,2 (B)
supervisi (6 dari 12 (B) (11 dari (B) (12 dari
akademik orang) 12 orang) 12 orang)
3. menganalisa hasil 17% 2,2 67% 2,7 83% 3,0 (B)
supervisi (2 dari 12 (C) (10 dari (B) (11 dari
akademik orang) 12 orang) 12 orang)
4. Menetukan 17% 2,2 50% 3,0 83% 2,8 (B)
tindak lanjut (2 dari 12 (C) ( 6 dari (B) (11 dari
supervisi orang) 12 orang) 12 orang)
akademik
5. Menentukan 67% 2,7 83% 2,8 100% 3,0 (B)
instrumen (10 dari 12 (B) (11 dari (B) (12 dari
supervisi orang) 12 orang) 12 orang)
akademik
Sumber : Data Primer diolah (2015)

Pembahasan
Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian
kegiatan untuk membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik merupakan
upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan
pembelajaran. Dengan demikian esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan
menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu
guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.
Sementara itu Oteng Sutisna dalam dalam Syaiful Sugala, Kemampuan
profesional guru dan tenaga kependidikan (2009:194) menjelaskan bahwa supervisi
adalah ide-ide pokok dalam menggalakkan pertumbuhan profesional guru,
mengembangkan kepemimpinan demokratis, melepaskan energi, memecahkan
masalah-masalah belajar mengajar dengan efektif. Carter Good’s Dictionary of
education menyatakan bahwa konsep supervisi adalah segala usaha dari pejabat
sekolah yang diangkat dan diarahkan pada penyediaan kepemimpinan bagi guru dan
tenaga kependidikan lain dalam perbaikan pengajaran, memberi stimulasi untuk
pertumbuhan jabatan guru yang lebih profesional, seleksi dan revisi tujuan pendidikan,
bahan pengajaran, metode pengajaran dan evaluasi pengajaran.
Sedangkan pendampingan atau bimbingan merupakan suatu proses memberikan
bantuan kepada kepala sekolah agar mereka mampu memecahkan permasalahan yng
dihadapinya. Pendampingan memberikan dampak positif bagi pengembangan potensi
ke arah yang lebih baik
Permasalahan yang timbul dalam kegiatan kegiatan supervisi akademik mampu
diakomodir dengan penerapan pendampingan. Dalam penerapan pendampingan ini
peneliti mengarahkan Kepala SD Negeri dan Kepala SD Swasta untuk bertanya dan
berkonsultasi untuk memperbaiki kekurangan yang terdapat kegiatan supervisi
akademik yang telah dilakukan. Selanjutnya peneliti mengarahkan dan membimbing
para kepala sekolah untuk mendapatkan suatu pemecahan dari masalah yang dihadapi.
846 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

Dari pemecahan yang timbul dari jalan pikirannya, maka para kepala sekolah lebih
paham untuk mengatasi persoalannya. Hal ini terbukti dari peningkatan keberhasilan
pendampingan dalam rangkaian kegiatan supervisi akademik yang meliputi aspek
penyusunan perencanaan supervisi akademik, aspek pelaksanaan supervisi akademik
sesuai dengan tujuan, aspek menganalisa hasil supervisi akademik, aspek melakukan
tindak lanjut hasil supervisi akademik, dan aspek penggunaan instrumen supervisi
akademik. Dari 12 kepala sekolah pada Gugus I dan III di Kecamatan Mojoroto, Kota
Kediri, secara keseluruhan dinyatakan berhasil memenuhi indikator keberhasilan yang
telah ditetapkan yaitu ≥ 80% dari masing-masing aspek yang dinilai dengan rata-rata
aspek yang dinilai mempunyai nilai baik (B) pada siklus empat.
Kompetensi yang dimiliki oleh peneliti dalam menerapkan pendampingan pada
para kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik semakin meningkat dari tahap
ke tahap, mulai siklus pertama hingga siklus keempat, seperti yang terlihat pada grafik
berikut ini:

Gambar 1. Prosentase Peningkatan kompetensi Kepala Sekolah dalam


Pelaksanaan Kegiatan Supervisi Pada Aspek-aspek yang Diamati dari Siklus
Pertama hingga Siklus Ketiga
Dari analisa grafik di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan mulai
dari siklus I, II, dan III, dari masing-masing aspek yang diamati. Pada siklus I dari
masing-masing aspek yang diamati belum ada yang memenuhi indikator keberhasilan
yang ditentukan, yaitu ≥ 80% dengan rata-rata nilai baik (B). Pada siklus II hanya ada
dua aspek yang diamati telah memenuhi indikator keberhasilan, yaitu pada aspek
kompetensi kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi akademik sebesar 83%, dan
pada aspek kompetensi kepala sekolah dalam penggunaan instrumen supervisi
akademik sebesar 83% sedangkan pada siklus III dari masing-masing aspek yang
diamati telah memenuhi bahkan melampaui indikator yang ditetapkan. Dari data yang
diperoleh pada siklus III kegiatan pendampingan yang diberikan peneliti pada 10 orang
Kepala SD Negeri dan 2 orang Kepala SD Swasta dapat dikatakan telah mampu
meningkatkan kompetensi Kepala dalam kegiatan supervisi akademik.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Secara umum, berdasarkan data dari hasil penelitan tindakan sekolah yang telah
dilaksanakan mulai dari siklus I, II, dan III, dan berdasarkan seluruh analisis dan
Aluh | 847

pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan pendampingan dapat meningkatkan


kompetensi kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik pada Gugus Sekolah I
dan III di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Atau secara khusus dapat dijabarkan
dalam beberapa kesimpulan bahwa:
1. Peningkatan kompetensi dari tiap aspek pengamatan yang dilakukan kepala sekolah
mulai dari siklus pertama hingga siklus ketiga memperlihatkan bahwa penerapan
pendampingan yang diberikan peneliti telah mampu meningkatan kompetensi
kepala sekolah dalam kegiatan supervisi akademik pada Gugus Sekolah I dan III di
Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
2 Persepsi kepala sekolah terhadap penerapan pendampingan untuk membantu dan
mengatasi kesulitan serta kebingunan dalam kegiatan supervisi akademik pada
Gugus Sekolah I dan III di Kecamatan Mojoroto, dirasa sangatlah tepat.
3 Wawasan pengawas sekolah dalam memberikan bantuan dan bimbingan agar
menarik serta ketepatan pengawas sekolah dalam memberikan motivasi yang positif
bagi kepala sekolah juga semakin meningkat.

Saran
Dengan adanya bukti nyata dari hasil penelitian ini maka peneliti menyarankan
agar para pengawas sekolah mau mencoba untuk menerapkan pendampingan dalam
kegiatan kegiatan supervisi akademik pada lembaga binaan masing-masing. Dalam
menerapkan pendampingan ini diharapkan para pengawas sekolah mempersiapkan
segala sesuatunya dengan baik, sehingga pendampingan yang dilakukan bisa tepat
mengenai sasaran dan tujuan yang diharapkan.
Di samping itu juga peneliti juga menyarankan agar dilakukan penelitian lebih
lanjut. Hal ini dilakukan mengingat adanya perbedaan permasalahan yang terjadi di
masing-masing sekolah binaan dengan subyek yang berbeda pula. Alternatif yang
diberikan dalam melakukan studi penelitian lanjutan adalah dengan menerapkan
pendampingan yang berbeda, sehingga dapat dijadikan pembanding dengan
pendampingan pada kegiatan yang sama, yaitu kegiatan kegiatan supervisi akademik
pada lembaga binaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar Q dan Sugala, H.S, 2004, Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru Sebagai
Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta: Uhamka Pres
Dirjen PMPTK, (2007). Petunjuk Teknis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action
Research) Peningkatan Kompetensi Pengawas Sekolah SMA/SMK. Jakarta:
Ditendik Depdiknas.
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan
Tenaga Kependidikan, 2010, Supervisi Akademik Materi Pelatihan Penguatan
Kemampuan Pengawas Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional
Glickman, C. D. (1981). Developmental supervision : Altenative practices for helping
teachers. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Kasbolah, Dr. Hj. Kasihan.1999. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: IKIP Malang
Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Pres.
848 | e-jurnalmitrapendidikan, Volume 1, Nomor 8, Oktober 2017

Pangaribuan, P. Dkk, (2005). Profesi Kepndidikan; Bahan Perkuliahan Dasar


Kependidikan. Medan: Lembaga Kependidikan Tenaga Kependidikan Unimed,
tidak diperdagangkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 13 Tahun 2007
tentang Standar kepala sekolah/Madrasah.
Sugala H.S., 2009 Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung
Alfabeta
Sugala H.S., 2010 Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan , Bandung
Alfabeta
Supriadi, D. 1988. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Jakarta: Depdikbud.