Anda di halaman 1dari 48

BAGIAN BEDAH LAPSUS

DESEMBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

OPEN FRACTURE MIDDLE SHAFT RIGHT RADIOULNAR

Disusun Oleh:

Agus Salim Sani S.Ked

10542054413

Pembimbing

dr. W. Supriyadi, Sp.OT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA

BAGIAN ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :


Nama : Agus Salim Sani
NIM : 10542054413
Judul Presentasi Referat : Open Fracture Middle Shaft right Radial et ulnar
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepanitraan klinik Bagian Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar

Makassar, Desember 2018

dr. W. Supriyadi, Sp.OT

i
KATA PENGANTAR

AssalamualaikumWr. Wb. Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat

Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulisan

laporan kasus ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga selalu

tercurahkan kepada Baginda Besar Nabi Muhammad SAW. Laporan kasus

berjudul “ Open Fracture Middle Shaft Right Radial et ulnar ” ini dapat

terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya, sebagai salah satu syarat

untuk dalam menyelesaikan Kepanitraan Klinik di Bagian Ilmu Bedah. Secara

khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada

dr. W. Supriyadi, Sp.OT selaku pembimbing yang telah banyak meluangkan

waktu dengan tekun dan sabar dalam membimbing, memberikan arahan dan

koreksi selama proses penyusunan tugas ini hingga selesai. Penulis menyadari

bahwa penyusunan laporan kasus ini belum sempurna. Akhir kata, penulis

berharap agar referat ini dapat memberi manfaat kepada semua orang.

Makassar, Desember 2018

Penulis

ii
3
BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur adalah terputusnya kuntinuitas struktural tulang. Fraktur dapat

berupa retakan, patah, atau serpihan dari korteks; sering patahan terjadi sempurna

dan bagian tulang bergeser.1Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya

kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis baik bersifat

total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan,

sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat,

mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Trauma yang menyebabkan

tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi

fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan

ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan

ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya

jaringan lunak tetap utuh.2

Fraktur tulang radius ulna terjadi cukup sering. Gaya terpelintir, yang

sering kali akibat lengan yang terjatuh dengam cepat menghasilkan fraktur spiral

dengankerusakan di tempat yang berbeda. Gaya angulasi menyebabkan fraktur

transverse pada tempat yang sama di kedua tulang. Pukulan langsung

menyebabkan fraktur tranvers di salah satu tulang, lebih sering pada ulna.2

1
I. IDENTITAS PASEIN

Nama : An.AB

Umur : 12 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Alamat : Jl.Sirajuddin Rani

Pekerjaan : Pelajar

No.RM : 097160

II. DATA DASAR

A. Data Subjektif

Keluhan Utama : Nyeri pada lengan kanan

Riwayat Penyakit Sekarang :

Seorang pasien masuk ke RS Pelamonia diantar oleh keluarga

pasien dalam keadaan sadar setelah kejadian tangannya tertindis

oleh meja. Pasien mengatakan kejadian tersebut saat sedang duduk

diatas meja dan jatuh dari atas meja akibat kehilangan

keseimbangan dengan ketinggian ½ meter dan tertindis oleh meja

yang pasien duduki saat sedang jatuh yang dialami sejak tadi siang

atau 4 jam SMRS Pelamonia yang merupakan rujukan dari RS

syekh yusuf Gowa. Pasien bercerita bahwa lengan kanannya terasa

nyeri sesaat setelah kejadian. Saat kejadian pasien tidak mengalami

mual ataupun muntah, tapi pasien mengaku nyeri pada luka lecet

ditangan kanannya yang dijatuhi oleh meja tersebut. Pasien tidak

mengalami gangguan BAK dan ataupun BAB.

2
Riwayat Penyakit Terdahulu :

 Riwayat trauma (-)

 Riwayat DM (-)

 Riwayat Hypertensi (-)

 Riwayat Minum Alkohol (-)

 Riwayat Merokok (-)

 Riwayat TBC (-)

 Riwayat operasi sebelumnya (-)

 Riwayat Alergi obat dan makanan (-)

B. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Fisis

a. Primary survey

 Airway : clear, gargling (-), snooring (-), speak


fluently (+), potensial obstruksi (-)
 Breathing : spontan, RR 18 x/menit, vesikuler /
vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
 Circulation : akral hangat kering merah, CRT <2 detik,
TD 110/70 mmHg, N 80 x/menit
 Disability : GCS 15, pupil bulat isokor 2,5 mm/2,5
mm, reflek cahaya +/+, lateralisasi -/-
 Eexposure: T 36,7°C, contusio (+) extremitas atas dextra.
b. Secondary survey

Vital Sign :

 Tekanan darah : 100/70 mmHg

 Nadi : 93 x/menit

3
 RR : 24 x/menit

 Suhu : 36,3oC

1) Kepala-leher

 Kepala : Kesan normal, tanda radang pada kulit

kepala (-), jejas (-)

 Mata : konjungtiva anemis (-/-),sklera ikterus (-/-),

pupil isokor 2,5mm/2,5 mm, refleks pupil (+/+)

 Mulut : bibir sianosis (-)

 Leher : massa (-), pembesaran KGB (-)

2) Thoraks

 Inspeksi : simetris kiri dan kanan, mengikuti gerak

napas, jejas (-)

 Palpasi : tidak ada massa tumor, tidak ada nyeri

tekan, ekspansi dinding dada +/+,

 Perkusi : sonor kedua lapangan paru

 Auskultasi : suara napas vesikuler, tidak

didapatkan suara tambahan

c. Jantung

 Inspeksi : ictus cordis tak tampak,voussure cardiac (-)

 Palpasi : ictus cordis tidak teraba,thrill/fremissment

(-)

 Perkusi : pekak, batas jantung kesan normal (batas

jantung kanan terletak pada linea sternalis kanan, batas

4
jantung kiri terletak pada ICS V-VI linea medial

clavicula kiri)

 Auskultasi : suara jantung I dan II tunggal, reguler,suara

tambahan (-), murmur (-), gallop (-).

d. Abdomen

 Inspeksi : jejas (-), massa (-)

 Auskultasi : peristaltik kesan normal

 Palpasi : soepel, nyeri tekan (-), hepar lien tidak

teraba, massa (-)

 Perkusi : tympani

e. Status lokalis

Regio Antebrachii dextra (Radioulnar Dextra):

 Look : deformitas-shortening (+), Edema (+), hematom (+), luka terbuka

(vulnus laseratm) ukuran kurang lebih 1 cm (+),perdarahan aktif (-

),deformitas (+)

 Feel : kalor (+), nyeri tekan (+), krepitasi (+), pulsasi a.radilis(+), pulsasi

arteri tibialis posterior (+), pulsasi a.dorsalis pedis (+), Sensibilitas baik,

CRT < 2”

 Move : ROM terbatas karena nyeri, thumb extention (+) lemah

2. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan radiologi

5
Pre OP Foto Antebrachii Dextra Posisi AP Lateral

Gambar.1.Kesan : Fraktur pada 1/3 tengah radius at ulna dextra.

Post Op Foto Antebrachii Dextra Posisi Ap/Lateral

6
Gambar.2. Kesan : Masih tampak fraktur pada 1/3 tengah os radius
dan os ulna dextra dengan plate and screw

b. Pemeriksaan Laboratorium

Kimia Darah Hasil Nilai Normal


Glukosa Sewaktu 113 mg/dl 70-200

SGOT 24.0 U/L L <37 P <31


SGPT 17.0 U/L L <42 P <32
Ureum 16.0 mg/dl 10 – 50 mg/dl
Kreatinin 0,6 mg/dl** L 0,7-1,3 P 0,6-
1,1 mg/dl

HbsAg Non Reaktif Non Reaktif

Darah Rutin Hasil Nilai Normal


WBC 14.75x103/uL++ 4.50-13.50

RBC 4.88x106/uL 4.00 – 5.40


HGB 14.0 g/dL 12.0 – 15.0
HCT 38.2 % 35.0-49.0
PLT 282 x 103/uL 150-450

LED 7 mm L 0-10 P 0-20

III. DIAGNOSIS

Diagnosis Kerja : Open Fracture mid shaft Radius Ulna Dekstra

Diagnosis Banding :

7
IV. RENCANA TERAPI

A. Non operatif

1. Medikamentosa

 Ivfd RL 20 tpm

 Cefoperazone 500 mg / IV / 12 jam

 Ketorolac ½ amp / IV / 8 jam

 Ranitidin ½ amp / IV / 12 jam

 Siap I bag PRC

2. Non medikamentosa

 Pemasangan Bidai

B. Operatif

 Open Reduksi Internal Fiksasi : ORIF plate and screw

V. PROGNOSIS

Quo ad vitam :ad bonam

Quo ad functionam :dubia ad bonam

Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

Tanggal Bagian Hasil Pemeriksaan Instruksi

26/11/2018 Orhopedi S/Nyeri Pada  Informed Concent

tangan kanan  Lapor OK

0/Kompos mentis  Konsul Anestesi

8
Regio :  Siap 1 bag PRC

Antebrachii Dextra  Profilaksis Cefoperazone 1

Vulnus Laceratum gr/IV

Uk 1 cm  Puasakan Jam 00:00

Krepitasi  IVFD RL 20 tpm

(+),Perdarahan  Inj.Ranitidin ½ amp/12j/IV


Aktif (-) ROM  Inj.Ketorolac ½ amp/8j/IV
terbatas karena

nyeri.

A/ Open Fraktur

Antebrachii Dextra

P/Pro ORIF Besok

Tgl 27/11/2018

Pukul 09;00

27/11/2018 Orthopedi S/ Nyeri Pada  Operasi Hari ini

lengan kanan  Post OP

O/Kesadaran : CM  Awasi KU dan TTV

Regio : Antebrachii  Elevasi tangan kanan

Dextra  Xray Kontrol Antebrachii dextra


Sensibilitas AP/Lateral
Baik,CRT <2  Inj Cefoperazone 750mg/12j/IV

 Inj.Ketorolac 20 mg/8J/IV
A/POD-0 ORIF
 Inj.Ranitidin 50 mg/12j/IV
Radius et Ulna

9
Dextra

Jam S/Pasien nyeri pada R/ Aff Kateter

17:30 kelaminnya akibat Bila urin tidak keluar pasang ulang

kateter kateter

28/11/2018 Orthopedi S/Nyeri post op  Dexketoprofen ½ amp/12j/IV

O/ Ku: baik, NVD  Cefotaxime 750 mg/12j/IV

baik  Ranitidin 50 mg/12j/Iv

A/ POD 1 ORIF  Besok GV dan Rawat Jalan

antebrachii Dextra

P/Rawat Luka

29/11/2018 Orthopedi S/Nyeri Post Op  Boleh Pulang hari ini

O/ KU baik  Cefixime 200 2x 1

A/ POD 2 ORIF  Ranitidin 150 mg 2x1

Antebrchii Dextra  Asam Mefenamat 500 3x1

10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI FRAKTUR

Fraktur adalah terputusnya kuntinuitas struktural tulang.1 Fraktur

dapat berupa retakan, patah, atau serpihan dari korteks; sering patahan terjadi

sempurna dan bagian tulang bergeser.2 Tulang cukup mudah patah, namun

mempunyai kekuatan dan ketahanan untuk menghadapi stress dengan

kekuatan tertentu. Fraktur berasal dari: (1) cedera; (2) stress berulang; (3)

fraktur patologis.1

B. INSIDEN

Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-

anak, Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada

daerah metafisis tulang radius distal, dan ulna distal sedangkan fraktur

pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick.

Fraktur tulang radius dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah atau 1/3

distal.(1)

C. ANATOMI TULANG RADIUS DAN ULNA

Tulang dalam garis besarnya dibagi atas:

1. Tulang panjang

Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, ulna dan

humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan daerah yang

berdekatan dengan garis efifisis disebut metafisis. Daerah ini

merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya kelainan

atau penyakit, oleh karena daerah ini merupakan daerah metabolic

11
yang aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau

kelainan berkembang pada daerah lempeng efifisis akan menyebabkan

kelainan pertumbuhan tulang.

2. Tulang pendek

Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-

tulang karpal.

3. Tulang pipih

Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang scavula dan

tulang pelvis.(3)

Secara makroskop terdiri dari : (1) substantia compacta dan (2)

substantia spongiosa. Pada os Longum substantia compacta berada di

bagian tengah dan makin ke ujung tulang menjadi semakin tipis. Pada

ujung tulang terdapat substantia spongiosa, yang pada pertumbuhan

memanjang tulang membentuk cavitis medullaris. Lapisan superficialis

tulang disebut periosteum dan lapisan profunda disebut endosteum.

Bagain tengah os longum disebut corpus, ujung tulang berbentuk

konveks atau konkaf, membesar, membentuk persendiaan dengan

tulang lainnya.

Dari aspek pertumbuhan, bagian tengah tulang disebut diaphysis,

ujung tulang disebut epiphysis dibentuk oleh cartilago, dan bagian

diantara keduanya disebut metaphysis, tempat peartumbuhan

memanjang dari tulang (peralihan antara cartilago menjadi osseum). (4)

Tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang

disebut korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk

12
trabekula dan diluarnya dilapisi oleh periostenum. Pada anak lebih

tebal daripada orang dewasa, yang ,memungkingkan penyembuhan

tulang pada anak lebih cepat dibandingkan orang dewasa. (4)

Gambar 3. Contoh tulang pendek, panjang, pipih

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 5)

a. Anatomi Radius

Ujung proximal radius membentuk caput radii (=capitulum radii),

berbentuk roda, letak melintang. Ujung cranial caput radii membentuk

fovea articularis (=fossa articularis) yang serasi dengan capitulum radii.

Caput radii dikelilingi oleh facies articularis, yang disebut circumferentia

articularis dan berhubungan dengan incisura radialis ulnae. caput radii

terpisah dari corpus radii oleh collum radii. Di sebelah caudal collum pada

sisi medial terdapt tuberositas radii. Corpus radii di bagian tengah agak

cepat membentuk margo interossea (=crista interossea), margo anterior

13
(=margo volaris), dan margo posterior. Ujung distal radius melebar ke arah

lateral membentuk processus styloideus radii, di bagian medial

membentuk incisura ulnaris, dan pada facies dorsalis terdapat sulcus-

sulcus yang ditempati oleh tendo. Permukaan ujung distal radius

membentuk facies articularis carpi. (4)

Gambar 4. Tulang Radius

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 5)

b. Anatomi Ulna

Ujung proximal ulna lebih besar daripada ujung distalnya. Hal yang

sebaliknya terdapat pada radius. Pada ujung proximal ulna terdapat

incisura trochlearis (= incisura semiulnaris), menghadap ke arah ventral,

membentuk persendian dengan trochlea humeri. Tonjolan di bagian dorsal

disebut olecranon. Di sebelah caudal incisura trochlearis terdapat

processus coronoideus, dan di sebelah caudalnya terdapat tuberositas

ulnae, tempat perlekatan m.brachialis. di bagian lateral dan incisura

14
trochlearis terdapat incisura radialis, yang berhadapan dengan caput radii.

Di sebelah caudal incisura radialis terdapat crista musculi supinatoris.

Corpus ulnae membentuk facies anterior, facies posterior, facies medialis,

margo interosseus, margo anterior dan margo posterior. Ujung distal ulna

disebut caput ulnae (= capitulum ulnae). Caput ulnae berbentuk

circumferentia articularis, dan di bagian dorsal terdapt processus

styloideus serta silcus m.extensoris carpi ulnaris. Ujung distal ulna

berhadapan dengan cartilago triangularis dan dengan radius. (4)

Gambar 5. Tulang Ulna

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 5)

Kedua tulang lengan bawah dihubungkan oleh sendi radioulnar

yang diperkuat oleh ligamentum anulare yang melingkari kapitulum

radius, dan di distal oleh sendi radioulnar yang diperkuat oleh ligamen

radioulnar, yang mengandung fibrokartilago triangularis. Membranes

interosea memperkuat hubungan ini sehingga radius dan ulna merupakan

satu kesatuan yang kuat. Oleh karena itu, patah yang hanya mengenai satu

15
tulang agak jarang terjadi atau bila patahnya hanya mengenai satu tulang,

hampir selalu disertai dislokasi sendi radioulnar yang dekat dengan patah

tersebut.

Selain itu, radius dan ulna dihubungkan oleh otot antartulang, yaitu

otot supinator, m.pronator teres, m.pronator kuadratus yang membuat

gerakan pronasi-supinasi. Ketiga otot itu bersama dengan otot lain yang

berinsersi pada radius dan ulna menyebabkan patah tulang lengan bawah

disertai dislokasi angulasi dan rotasi, terutama pada radius.(6)

Gambar 6. Anatomi radius dan ulna

(dikutip dari atlas anatomi Sobotta ; referensi 5)

c. Fisiologi

Tulang adalah adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari

tiga jenis sel : osteoblast, osteosit, dan osteoklas. Osteoblast membangun

tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks

tulang atau jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi.

Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblast

16
mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan

penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.

Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan

demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi

indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah

mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang. (6)

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi

mesenkim yang sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi.

Sebagai sel, osteoblas dapat memproduksi substansi organic intraseluler

matriks, dimana klasifikasi terjadi di kemudian hari. Jaringan yang tidak

mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila klasifikasi terjadi pada

matriks maka jaringan disebut tulang. Sesaat setelah osteoblas dikelilingi

oleh substansi organic intraseluler, disebut osteosit dimana keadaaan ini

terjadi dalam lakuna.

Sel yang bersifat multinukleus, tidak ditutupi oleh permukaan

tulang dengan sifat dan fungsi resopsi serta mengeluarkan tulang yang

disebut osteoklas. Kalsium hanya dapat dikeluarkan oleh tulang melalui

proses aktivitas osteoklasin yang menghilangkan matriks organic dan

kalsium secara bersamaan dan disebut deosifikasi.

Struktur tulang berubah sangat lambat terutama setelah periode

pertumbuhan tulang berakhir. Setelah fase ini tulang lebih banyak terjadi

dalam bentuk perubahan mikroskopik akibat aktifitas fisiologi tulang

sebagai suatu organ biokimia utama tulang.

17
Komposisi tulang terdiri atas:

Substansi organic : 35%

Substansi Inorganic : 45%

Air : 20%

Substansi organik terdiri atas sel-sel tulang serta substansi organic

intraseluler atau matriks kolagen dan merupakan bagian terbesar dari

matriks (90%), sedangkan adalah asam hialuronat dan kondroitin asam

sulfur. Substansi inorganic terutama terdiri atas kalsium dan fosfor dan

sisanya oleh magnesium, sodium, hidroksil, karbonat dan fluoride. Enzim

tulang adalah alkali fosfatase yang diproduksi oleh osteoblas yang

kemungkinan besar mempunyai peranan yang paling penting dalam

produksi organic matriks sebelum terjadi kalsifikasi.(6)

Pada keadaan normal tulang mengalami pembentukan dan absorpsi

pada suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanak-

kanak ketika terjadi lebih banyak pembentukan daripada absorpsi tulang.

Pergantian yang berlangsung terus-menerus ini penting untuk fungsi normal

tulang dan membuat tulang dapat berespon terhadap tekanan yang

meningkat dan untuk mencegah terjadi patah tulang. Betuk tulang dapat

disesuaikan dalam menanggung kekuatan mekanis yang semakin meningkat.

Perubahan tersebut juga membantu mempertahankan kekuatan tulang pada

proses penuaan. Matriks organik yang sudah tua berdegenerasi, sehingga

membuat tulang secara relative menjadi lemah dan rapuh. Pembentukan

tulang yang baru memerlukan matriks organik baru, sehingga memberi

tambahan kekuatan pada tulang. (6)

18
D. ETIOLOGI

1. Fraktur yang disebabkan oleh cedera.1

Sebagian besar fraktur disebabkan oeh tenaga berlebihan yang tiba-

tiba, dapat secara langsung ataupun tidak langsung.

Dengan tenaga langsung tulang patah pada titik kejadian;

jaringan lunak juga rusak. Pukulan langsung biasanya mematahkan

tulang secara transversal atau membengkokkan tulang melebihi

titik tupunya sehingga terjadi patahan dengan fragmen (butterfly‖.

Kerusakan pada kulit diluarnya sering terjadi; jika crush

injury terjadi, pola faktur dapat kominutif dengan kerusakan

jaringan lunak ekstensif. Dengan tenaga tidak langsung, tulang

patah jauh dari dimana tenaga dierikan; kerusakan jaringan lunak

pada tempat fraktur jarang terjadi. Walaupun sebagian besar fraktur

disebabkan oleh kombinasi tenaga (perputaran, pembengkokkan,

kompresi, atau tekanan), pola x-ray menunjukkan mekanisme yang

dominan:

19
 Terpelintir mengakibatkan fraktur spiral;

 Kompresi mengakibatkan fraktur oblique pendek;

 Pembengkokan mengakibatkan fraktur dengan fragmen

triangular (butterfly);

 Tekanan cenderung mematahkan tulang kearah

transversal; pada beberapa situasi tulang dapat avulse

menjadi fragmen kecil pada titik insersi ligament atau

tendon.

Deskripsi diatas merupakan deskripsi untuk tulang panjang.

Tulang kecil jika terkena gaya yang cukup, akan terbelah atau

hancur menjadi bentuk yang abnormal.

2. Fatigue atau stress fracture1

Fraktur ini terjadi pada tulang normal yang menjadi subjek

tumpuan berat berulang, seperti pada atlet, penari, atau anggota militer

yang menjalani program berat. Beban ini menciptakan perubahan

bentuk yang memicu proses normal remodeling kombinasi dari esorpsi

tulang dan pembentukan tulang baru menurut hukum Wolff. Ketika

pajanan terjadap stress dan perubahan bentuk terjadi berulang dan

dalam jangka panjang, resorpsi terjadi lebih cepat dari pergantian

tulang, mengakibatkan daerah tersebut rentan terjadi fraktur. Masalah

yang sama terjadi pada individu dengan pengobatan yang mengganggu

keseimbangan normal resorpsi dan pergantian tulang; stress fracture

20
meningkat pada penyakit inflamasi kronik dan pasien dengan

pengobatan steroid atau methotrexate.

3. Fraktur patologis.1

Fraktur dapat terjadi pada tekanan normal jika tulang telah lemah

karena perubahan strukturnya (seperti pada osteoporosis, osteogenesis

imperfekta, atau Paget’s disease) atau melalui lesi litik (contoh: kista

tulang, atau metastasis).

E. MEKANISME FRAKTUR

1. Fraktur Radius Ulna

Mekanisme trauma pada antebrachii yang paling sering adalah

jatuh dengan outstreched hand atau trauma langsung. Gaya twisting

menghasilkan fraktur spiral pada level tulang yang berbeda. Trauma

langsung atau gangguan angulasi menyebabkan fraktur transversal

pada level tulang yang sama. Bila salah satu tulang antebrachii

mengalami fraktur dan menglami angulasi, maka tulang tersebut

menjadi lebih pendek terhadap tulang lainnya. Bila perlekatan dengan

wrist joint dan humerus intak, tulang yang lain akan mengalami

dislokasi (fraktur dislokasi Galeazzi/ Monteggia).5

Terdapat otot biceps dan otot supinator pada sepertiga atas,

pronator teres pada sepertiga tengah, dan pronator quadrates pada

sepertiga bawah. Luka dan bengkak pada kompartemen ini dapat

menyebabkan kerusakan sirkulasi.2

Pemeriksaan Klinis2

Fraktur radius ulna

21
 Deformitas di daerah yang fraktur: angulasi, rotasi (pronasi atau

supinasi) atau shorthening

 Nyeri , Bengkak

 Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi neurovascular dan

pemeriksaan elbow dan wrist. Dan evaluasi kemungkinan adanya

sindrom kompartemen

F. JENIS-JENIS FRAKTUR

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau

tenaga fisik. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu

sendiri, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah

fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi

apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak

melibatkan seluruh ketebalan tulang. (6)

Secara garis besar, fraktur dapat diklasifikasikan menjadi fraktur

komplit dan inkomplit:

Pada fraktur komplit, tulang benra-benar patah menjadi dua

fragmen atau lebih.Fraktur komplet .Pola fraktur pada rontgen dapat

membantu memprediksi tindakan setelah reduksi: jika fraktur transversal

patahan biasanya akan tetap pada tempatnya setelah reduksi; jika fraktu

oblique atau spiral, tulang cenderung memendek dan kembali berubah

posisi walaupun tulang dibidai. Jia terjadi fraktur impaksi, fragmen

terhimpit bersama dan garis fraktur tidak jelas. Fraktur kominutif dimana

terdapat lebih dari 2 fragmen tulang; karena jeleknya hubungan antara

permukaan tulang, cenderung tidak stabil.1

22
Fraktur inkomplit adalah patahnya tulang hanya pada satu sisi saja

atau tidak terbagi dan periosteumnya tatp utuh. Pada fraktur greenstick

tulang membengkok; hal ini terjadi pada anak-anak yn tulangnya lebih

lentur dibandingkan dewasa. Anak-anak juga dapat bertahan terhadap

cedera dimana tulang berubah bentuk tanpa terlihat retakan jelas pada foto

rontgen.1

Fraktur komplit dapat dibagi lagi menjadi fraktur transversa,

oblik/spiral, impaksi, kominutif, dan intra-artikular. Fraktur inkomplit

dapat dibagi menjadi greenstick fracture, yang khas pada anak-anak, dan

fraktur kompresi, yang biasanya ditemukan pada orang dewasa. Fraktur

avulsi terjadi bila suatu fragmen tulang terputus dari bagian tulang sisanya

yang disebabkan oleh tarikan ligamentum atau pelekatan tendon yang kuat

dan biasnya terjadi akibat dari kontraksi otot secara paksa. (7)\

Jenis-jenis fraktur :

 Greenstick : tulang anak bersifat fleksibel, sehingga fraktur dapat

berupa bengkokan tulang di satu sisi dan patahan korteks di sisi

lainnya. Tulang juga dapat melengkung tanpa disertai patahan yang

nyata (fraktur torus).

 Comminuted : fraktur dengan fragmen multiple.

 Avulsi : sebuah fragmen tulang terlepas dari lokasi ligamen atau

insersi tendon.

23
 Patologis : fraktur yang terjadi pada tulang yang memang telah

memiliki kelainan, seringkali terjadi setelah trauma trivial, misalnya

penyakit Paget, osteoporosis, atau tumor.

 Fraktur stres atau lelah : akibat trauma minor berulang dan kronis.

Daerah yang rentan antara lain metatarsal kedua atau ketiga (fraktur

march), batang tibia proksimal, fibula, dan batang femoral (pada

pelari jarak jauh dan penari balet).

 Fraktur impaksi : fragmen-fragmen saling tertekan satu sama lain,

tanpa adanya garis fraktur yang jelas.

 Fraktur lempeng epifisis pada anak di bawah usia 16 tahun. Fraktur

ini dapat dikelompokkan menjadi tipe 1 sampai 5 berdasarkan

klasifikasi Salter Harris.(8)

Gambar 7. Beberapa tipe fraktur

(dikutip dari referensi 9)

24
G. KLASIFIKASI FRAKTUR

Membagi fraktur berdasarkan gambaran yang mirip mempunyai

beberapa keuntungan; hal ini memungkinkan informasi mengenai satu

fraktur diaplikasikan terhadap kelompok lain.2

Klasifikasi tradisional, yang terkadang dinamai oleh penemunya,

hanya dapat diaplikasikan pada satu jenis cedera; bahkan terkadang

istilahnya digunakan secara tidak tepat, seperti pada kasus fraktur Pott,

yang sering digunakan untuk menyatakan fraktur apapun pada daerah

pergelangan kaki walaupun itu bukanlah hal yang dimaksud oleh Sir

Percival Pott pada tahun 1765.1

Sistem universal berdasarkan anatomi memfasilitasi komunikasi

dan pertukaran data di seluruh dnia. Klasifikasi alfanumerik yang

diekmbangkan oleh Muller dan koleganya diadaptasi dan direvisi.

Walaupun klasifikasi ini belum divalidasi sepenuhnya klasifikasi ini

memenuhi syarat komprehensif. Pada sistem ini, digit pertama

menggambarkan tulang (1= humerus, 2=radius/ulna 3=femur

4=tibia/fibula) dan bagian kedua adalah segmen (1=proksimal 2=diafis

3=distal 4=malleolar). Terakhir menggambarkan pola fraktur (untuk

diafisis: A: ekstra-artikular, B=artikular parsial, C=artikular komplet).1

1. Klasifikasi fraktur terbuka Gustilo-Anderson

Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi Gustilo-Anderson,

yang pertama kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun

1984.10

25
Gambar.8. Klasifikasi Fraktur Terbuka berdasarkan Gustilo-Anderson2

2. Klasifikasi Nicol

Klasifikasi The American Society of Internal Fixation, yang

dikembangkan oleh Mller et al telah diterima di seluruh dunia;

klasifikasi ini kemudian dimodifikasi oleh Johner dan Wruhs dengan

menambahkan mekanisme cedera, patahan, dan derajat keparahan

cedera jaringan lunak. Klasifikasi ini digunakan untuk reduksi terbuka

dengan fiksasi plate and screw.2

Gambar.9 Kasifikasi Fraktur berdasarkan Nicol.2

26
H. DIAGNOSIS

Film polos tetap merupakan pemeriksaan penunjang radiologis yang utama


(11)
pada sistem skeletal. Gambar harus selalu diambil dalam dua proyeksi.

Film polos merupakan metode penilaian awal utama pada pasien dengan

kecurigaan trauma skeletal. Setiap tulang dapat mengalami fraktur

walaupun beberapa diantaranya sangat rentan.

Tanda dan gambaran yang khas pada fraktur adalah :

 Garis fraktur : garis fraktur dapat melintang di seluruh diameter tulang

atau menimbulkan keretakan pada tepi kortikal luar yang normal pada

fraktur minor.

 Pembengkakan jaringan lunak : biasanya terjadi setelah terjadi fraktur.

 Iregularis kortikal : sedikit penonjolan atau berupa anak tangga pada

korteks.(10)

Posisi yang dianjurkan untuk melakukan plain x-ray adalah AP

dan lateral view. Posisi ini dibutuhkan agar letak tulang radius dan

tulang ulna tidak bersilangan, serta posisi lengan bawah menghadap ke

arah datangnya sinar (posisi anatomi). Sinar datang dari arah depan

sehingga disebut AP (Antero-Posterior) (12)

Terdapat tiga posisi yang diperlukan pada foto pergelangan

tangan untuk menilai sebuah fraktur distal radius yaitu AP, lateral, dan

oblik. Posisi AP bertujuan untuk menilai kemiringan dan panjang os

radius, posisi lateral bertujuan untuk menilai permukaan artikulasi

distal radius pada posisi normal volar (posisi anatomis).(13)

27
I. PENATALAKSANAAN1

Prinsip penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu Recognition berupa

diagnosis dan penilaian fraktur, Reduction, Retention dengan imobilisasi,

dan Rehabilitation yaitu mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal

mungkin.

1. Terapi fraktur diperlukan konsep ”empat R” yaitu : rekognisi,

reduksi/reposisi, terensi/fiksasi, dan rehabilitasi.

a. Rekognisi atau pengenalan adalah dengan melakukan berbagai

diagnosa yang benar sehingga akan membantu dalam penanganan

fraktur karena perencanaan terapinya dapat dipersiapkan lebih

sempurna.

b. Reduksi atau reposisi adalah tindakan mengembalikan fragmen-

fragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan atau kedudukan

semula atau keadaan letak normal.

c. Retensi atau fiksasi atau imobilisasi adalah tindakan

mempertahankan atau menahan fragmen fraktur tersebut selama

penyembuhan.

d. Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang

menderita fraktur tersebut dapat kembali normal.(14)

Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan imobilisasi fraktur

dengan splint. Status neurologis dan vaskuler di bagian distal harus

diperiksa baik sebelum maupun sesudah reposisi dan imobilisasi. Pada

pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi awal

fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan

28
penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau

dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF.

2. Tujuan pengobatan fraktur :

a. REPOSISI dengan tujuan mengembalikan fragmen keposisi anatomi.

Tehnik reposisi terdiri dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi

tertutup dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau traksi kulit dan

skeletal. Cara lain yaitu dengan reposisi terbuka yang dilakukan

pada pasien yang telah mengalami gagal reposisi tertutup, fragmen

bergeser, mobilisasi dini, fraktur multiple, dan fraktur patologis.

b. IMOBILISASI / FIKSASI dengan tujuan mempertahankan posisi

fragmen post reposisi sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi

yaitu pada pemendekan (shortening), fraktur unstabel serta

kerusakan hebat pada kulit dan jaringan sekitar.

3. Jenis Fiksasi :

a. Ekternal / OREF (Open Reduction External Fixation)

 Gips ( plester cast)

 Traksi

Jenis traksi :

 Traksi Gravitasi : U- Slab pada fraktur humerus

 Skin traksi Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur

sehingga fragmen akan kembali ke posisi semula. Beban

maksimal 4-5 kg karena bila kelebihan kulit akan lepas.

 Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.

29
Traksi ini dipasang pada distal tuberositas tibia (trauma sendi

koksea, femur, lutut), pada tibia atau kalkaneus ( fraktur kruris).

Adapun komplikasi yang dapat terjadi pada pemasangan traksi yaitu

gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, trauma saraf peroneus

(kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat masuknya pin.

Indikasi OREF :

 Fraktur terbuka derajat III

 Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas

 fraktur dengan gangguan neurovaskuler

 Fraktur Kominutif

 Fraktur Pelvis

 Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF

 Non Union

 Trauma multiple

b. Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail.

Keuntungan cara ini adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini

tanpa fiksasi luar.

Indikasi ORIF :

 Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis

tinggi, misalnya fraktur talus fraktur collum femur.

 Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur

avulse dan fraktur dislokasi.

30
 Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan.

Misalnya fraktur Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur

antebrachii, dan fraktur pergelangan kaki.

 Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih

baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.

J. PENYEMBUHAN FRAKTUR

Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :

1. Fase hematoma1

Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil

yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan

pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi

fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan

terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang

terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.

Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah

fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu

daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera

setelah trauma.

2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal1

Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu

reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel

osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus

eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai

aktifitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang

31
hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferensiasi

sel-sel mesenkimal yang tidak berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak.

Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi pertambahan jumlah

dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan yang cepat pada

jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas.

Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan

hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari

fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik.

Pada pemeriksaan radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga

merupakan suatu daerah radiolusen.

3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis) 1

Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen

sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas

membentuk tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks

interseluler kolagen dan perlengketan polisakarida oleh garam-garam

kalsium membentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut

sebagai woven bone. Pada pemeriksaan radiologi kalus atau woven bone

sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya

penyembuhan fraktur.

4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik) 1

Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan

diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang

menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara

bertahap.

32
5. Fase remodeling1

Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian

yang menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis

medularis. Pada fase remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara

osteoklastik dan tetap terjadi proses osteoblastik pada tulang dan kalus

eksterna secara perlahan-lahan menghilang. Kalus intermediat berubah

menjadi tulang yang kompak dan berisi sistem Haversian dan kalus bagian

dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk ruang sumsum.

Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT. Yarsif

Watampone.

33
KOMPLIKASI FRAKTUR

Komplikasi fraktur dapat diakibatkan oleh trauma itu sendiri atau akibat

penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik.

a. Komplikasi umum 1,2

Syok karena perdarahan ataupun oleh karena nyeri, koagulopati diffus dan

gangguan fungsi pernafasan.

Ketiga macam komplikasi tersebut diatas dapat terjadi dalam 24 jam

pertama pasca trauma dan setelah beberapa hari atau minggu akan terjadi

gangguan metabolisme, berupa peningkatan katabolisme. Komplikasi

umum lain dapat berupa emboli lemak, trombosis vena dalam (DVT),

tetanus atau gas gangrene

b. Komplikasi Lokal 1

Komplikasi dini.

Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca

trauma, sedangkan apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma

disebut komplikasi lanjut.

1. Pada Tulang

 Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.

 Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan

operasi pada fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan

delayed union atau bahkan non union .

 Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang

sering terjadi pada fraktur terbuka atau pasca operasi yang

34
melibatkan sendi sehingga terjadi kerusakan kartilago sendi dan

berakhir dengan degenerasi.

2. Pada Jaringan lunak

 Lepuh , Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit

superfisial karena edema. Terapinya adalah dengan menutup kasa

steril kering dan melakukan pemasangan elastik.

 Dekubitus. terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh

gips. Oleh karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada

daerah-daerah yang menonjol.

3. Pada Otot

Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot

tersebut terganggu. Hal ini terjadi karena serabut otot yang robek

melekat pada serabut yang utuh, kapsul sendi dan tulang. Kehancuran

otot akibat trauma dan terjepit dalam waktu cukup lama akan

menimbulkan sindroma crush atau trombus (Apley & Solomon,1993).

4. Pada pembuluh darah

Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus

menerus. Sedangkan pada robekan yang komplit ujung pembuluh

darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti spontan. Pada

jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi bahkan nekrosis.

Trauma atau manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat

menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh darah sehingga dapat

menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut

terlepas dan terjadi trombus. Pada kompresi arteri yang lama seperti

35
pemasangan torniquet dapat terjadi sindrome crush. Pembuluh vena

yang putus perlu dilakukan repair untuk mencegah kongesti bagian

distal lesi (Apley & Solomon, 1993).

Sindroma kompartemen terjadi akibat tekanan intra kompartemen

otot pada tungkai atas maupun tungkai bawah sehingga terjadi

penekanan neurovaskuler sekitarnya. Fenomena ini disebut Iskhemi

Volkmann. Ini dapat terjadi pada pemasangan gips yang terlalu ketat

sehingga dapat menggangu aliran darah dan terjadi edema dalam otot.

Apabila iskhemi dalam 6 jam pertama tidak mendapat tindakan

dapat menimbulkan kematian/nekrosis otot yang nantinya akan diganti

dengan jaringan fibrus yang secara periahan-lahan menjadi pendek dan

disebut dengan kontraktur volkmann. Gejala klinisnya adalah 5 P yaitu

Pain (nyeri), Parestesia, Pallor (pucat), Pulseness (denyut nadi hilang)

dan Paralisis

5. Pada saraf

Berupa kompresi, neuropraksi, neurometsis (saraf putus), aksonometsis

(kerusakan akson). Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan

identifikasi nervus.1

c. Komplikasi lanjut1,2

Pada tulang dapat berupa malunion, delayed union atau non union. Pada

pemeriksaan terlihat deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau

perpanjangan.

36
1. Delayed union

Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara

normal. Pada pemeriksaan radiografi, tidak akan terlihat bayangan

sklerosis pada ujung-ujung fraktur.

Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Bila

lebih 20 minggu dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu

2. Non union

Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan

 Tipe I (hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses

penyembuhan fraktur dan diantara fragmen fraktur tumbuh

jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi untuk union dengan

melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting.

 Tipe II (atrophic non union) disebut juga sendi palsu

(pseudoartrosis) terdapat jaringan sinovial sebagai kapsul sendi

beserta rongga sinovial yang berisi cairan, proses union tidak akan

dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.

Beberapa faktor yang menimbulkan non union seperti disrupsi

periosteum yang luas, hilangnya vaskularisasi fragmen-fragmen

fraktur, waktu imobilisasi yang tidak memadai, implant atau gips yang

tidak memadai, distraksi interposisi, infeksi dan penyakit tulang

(fraktur patologis).

3. Mal union

Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbukan deformitas.

Tindakan refraktur atau osteotomi koreksi.

37
4. Osteomielitis

Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan

operasi pada fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed

union sampai non union (infected non union). Imobilisasi anggota

gerak yang mengalami osteomielitis mengakibatkan terjadinya atropi

tulang berupa osteoporosis dan atropi otot.

5. Kekakuan sendi

Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan

imobilisasi lama, sehingga terjadi perlengketan peri artikuler,

perlengketan intraartikuler, perlengketan antara otot dan tendon.

Pencegahannya berupa memperpendek waktu imobilisasi dan

melakukan latihan aktif dan pasif pada sendi. Pembebasan

periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada penderita

dengan kekakuan sendi menetap.

K. PROGNOSIS
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang, tidak peduli apa yang telah dikerjakan
dokter pada patahan tulang tersebut. Pada permulaan akan terjadi
perdarahan di sekitar patahan tulang, yang disebabkan oleh terputusnya
pembuluh darah pada tulang dan periost yang disebut dengan fase
hematoma, kemudian berubah menjadi fase jaringan fibrosis, lalu
penyatuan klinis, dan pada akhirnya fase konsolidasi.(18)
Waktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat
bergantung pada lokasi fraktur dan umur pasien. Rata-rata masa
penyembuhan fraktur:

38
Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa
Penyembuhan
1. Pergelangan 3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu
tangan
2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu
3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu
4. Pergelangan kaki 5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu
5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu
6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu),


lansia (> 8 minggu).
Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada
tahun 1997.
Tingkat kematian dari fraktur:
 Kematian : 11.696
 Insiden : 1.499.999
 0,78% rasio dari kematian per insiden(19)

39
BAB III

ANALISIS KASUS

Pada kasus ini, pasien mengeluh nyeri dan luka pada lengan kanan bawah sejak 4

jam SMRS Syekh Yusuf Gowa dan kemudian dirujuk ke RS.Pelamonia. Tangan

kanannya juga terdapat luka ,bengkak, kemerahan, nyeri dan sulit

digerakkan.Gejala ini merupakan gejala terjadimnya fraktur.

Fraktur adalah terputusnya kuntinuitas struktural tulang.1 Fraktur dapat

berupa retakan, patah, atau serpihan dari korteks; sering patahan terjadi sempurna

dan bagian tulang bergeser.2 Tulang cukup mudah patah, namun mempunyai

kekuatan dan ketahanan untuk menghadapi stress dengan kekuatan tertentu.

Fraktur berasal dari: (1) cedera; (2) stress berulang; (3) fraktur patologis .1 Pada

kasus ini pasien mengalami fraktur akibat cedera atau trauma oleh tekanan saat

jatuh dari meja dan di tindis oleh meja dengan kondisi permukaan kulit terbuka

dan lecet.

Seluruh pasien dengan trauma bertenaga tinggi harus diperiksa dengan

prinsip trauma. Penilaian awal termasuk ABC. Pada penilaian awal pasien

didapatkan airway: clear, breathing: pasien bernapas spontan, 24x/menit,

circulation: nadi teraba 93 x/menit, isi cukup, akral hangat, tekanan darah 100/90.

Pada secondary survey ditemukan status generalis lain dalam batas normal.

Ekstrimitas ipsilateral dan kontralateral juga harus diperiksa pada pasien trauma.

Hal ini dilakukan untuk menilai adanya fraktur lain. Pada pasien ini ditemukan

kondisi ekstrimitas kontralateralnya normal, tidak mengalami fraktur atau cedera.

Tidak ditemukan kemungkinan fraktur di bagian lain ekstrimitas ipsilateralnya.

40
Pada pemeriksaan status lokalis, ditemukan warna ekstrimitas tidak pucat

dan tidak sianosis, akral hangat, pulsasi teraba, CRT<2 detik. Pada pemeriksaan

look, feel, move didapatkan:

Status lokalis

Regio Antebrachii dextra (Radioulnar Dextra):

 Look : deformitas-shortening (+), Edema (+), hematom (+), luka terbuka

(vulnus laseratum) ukuran kurang lebih 1 cm (+),perdarahan aktif (-

),deformitas (+)

 Feel : kalor (+), nyeri tekan (+), krepitasi (+), pulsasi a.radilis(+), pulsasi

arteri tibialis posterior (+), pulsasi a.dorsalis pedis (+), Sensibilitas baik,

CRT < 2”

 Move : ROM terbatas karena nyeri, thumb extention (+) lemah

Dari hasil pemeriksaan di atas di simpulkan pada pasien terjadi fraktur

terbuka. Terbatasnya gerak jari-jari tangan akibat dari fraktur yang terjadi pada

tulang-tulang di atasnya, yaitu radius dan ulna jika dilihat dari letak luka dan

deformitas.. Untuk memperkuat diagnosis dilakukan foto rontgen.

Dilakukan pemeriksaan foto rontgen forearm dekstra AP dan lateral.

Fraktur atau dislokasi dapat tidak terlihat pada satu film rontgen, sehingga

setidaknya dua posisi harus diambil. Pada foto rontgen didapatkan fraktur terbuka

komplet pada tulang 1/3/medial radius dan ulna kanan.

Pada diagnosis fraktur, harus juga digambarkan berbagai hal lain.. Pada

pasien ditemukan:

1. Fraktur tersebut merupakan fraktur terbuka

2. Ditemukan fraktur pada tulang radius dan ulna

41
3. Tidak melibatkan permukaan sendi

4. Fraktur merupakan fraktur tranvers dan communited

5. Pasien merupakan laki-laki usia 17 tahun yang bekerja sebagai pelajar,

Pada pasien ini dilakukan open reduction and internal fixation dengan

screw dan plate. Tindakan ini adalah traksi skeletal untuk reduksi dan fiksasi. Juga

sebelumnya diberikan antibiotic, dan anti nyeri. Antibiotic karena pasein ini

terdapat luka terbuka untuk menghindari infeksi.

42
DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon L, et al (eds). Apley’s system of orthopaedics and fractures. 9th ed.


London: Hodder Arnold; 2010.
2. Chapman MW. Chapman’s orthopaedic surgery. 3rd ed. Boston: Lippincott
Williams&wilkins; 2001. p 756-804.
3. Rasjad Chairuddin, Struktur dan Fungsi Tulang dalam: Rasjad Chairuddin.
Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Cetakan keenam. Penerbit PT. Yarsif
Watampone. Jakarta. 2009. Hal 6-11.
4. Buranda Theopilus et. al., Osteologi dalam : Diktat Anatomi Biomedik I.
Penerbit Bagian Anatomi FK Unhas. Makassar. 2011. Hal 4-7.
5. Puts R and Pabst R.. Ekstremitas Atas dalam: Atlas Anatomi Manusia
Sobotta. Edisi 22. Penerbit Buku Kedokteran EGC Jilid 1. Jakarta. 2006.
Hal 158, 166, 167, dan 169.
6. Carter Michel A., Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam: Price
Sylvia A, Wilson Lorraine McCarty. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2006.
Hal 1357-1359.
7. Goh Lesley A., Peh Wilfred C. G., Fraktur-klasifikasi,penyatuan, dan
komplikasi dalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2011. Hal 112-121.
8. Patel Pradip R., Trauma Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes
Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 221-
230.
9. Ekayuda Iwan, Trauma Skelet (Rudapaksa Skelet) dalam: Rasad Sjahriar,
Radiologi Diagnostik. Edisi kedua, cetakan ke-6. Penerbit Buku Balai
Penerbitan FKUI. Jakarta. 2009. Hal 31-43.
10. Schmidt AH, Swiontkowski. Musculoskeletal trauma. In: Oxford textbook of
surgery [CD-ROM]. London: Oxford university press; 2002.
11. Patel Pradip R., Sistem Skeletal dalam: Patel Pradip R. Lecture Notes
Radiologi. Edisi kedua. Penerbit Buku Erlangga. Jakarta. 2005. Hal 191-
194.

43
12. Begg James D., The Upper Limb in : Accident and Emergency X-Rays
Made Easy. Publisher Churchill Livingstone. UK. 2005. Page 162-167.
13. Eiff et. al., Radius and Ulna Fractures in : Fracture Management For
Primary Care. Second Edition. Publisher Saunders. UK. 2004. Page 116-
119.
14. Weblog Heri’s. Fraktur dan Fraktur Radius Ulna. Diunduh
dari:http://heriblog.wordpress.com/page/2/.

44