Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia
secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005
Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia,
Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing
perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah.
Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami
ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah).
Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya.
Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi
dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.
Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan
bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat
terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan.
Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan
terjadinya kecelakaan kerja. Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT
yang akan berlaku tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja
merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi
perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh
negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut
serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan
Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan,
yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya.
Di Indonsia sendiri, data dari Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia (2015) total kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia pada tahun
2014 sebanyak 24.910 kasus. Kecelakaan kerja menjadi salah satu masalah

1
urgen di lingkungan rumah sakit. Hal ini diakibatkan karena rumah sakit
merupakan suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan pada
semua bidang dan jenis penyakit. Oleh sebab itu rumah sakit dituntut untuk dapat
menyediakan dan menerapkan suatu upaya agar semua sumber daya manusia
yang ada di rumah sakit dapat terlindungi, baik dari penyakit maupun kecelakaan
akibat kerja (Ivana, Widjasena & Jayanti, 2014).
Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kecelakaan kerja
di rumah sakit, salah satunya dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor
23 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang penerapan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja di rumah sakit (Kepmenkes RI, 2010, p.8).
National Safety Council (dalam Kepmenkes RI, 2007, p.4) menyebutkan
bahwa terjadinya kecelakaan di rumah sakit 41% lebih besar dari pekerja di
industri lain, selain itu Annizar (2012, p.3) menyatakan bahwa secara umum
sebanyak 80-85 % kecelakaan kerja disebabkan oleh perilaku yang tidak aman.
Data dan fakta Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) secara
global yang dipaparkan oleh WHO (dalam Kepmenkes RI, 2010, p.10)
menyebutkan bahwa dari 35 juta petugas kesehatan, 3 juta terpajan patogen
darah dan lebih dari 90% terjadi di negara berkembang.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja
menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha,
tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?
2. Apa saja tujuan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?
3. Apa saja ruang lingkup K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?
4. Bagaimana manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)?

2
5. Apa konsep perawat sebagai tenaga kesehatan?
6. Bagaimana peran perawat dalam meningkatkan K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja)?
7. Apa fungsi dan tugas perawat dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)?
8. Apa landasan hukum peraturan dan perundang-undangan di Indonesia?
9. Apa saja masalah yang terjadi pada K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).
2. Untuk mengetahui tujuan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).
3. Untuk mengetahui ruang lingkup K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).
4. Untuk mengetahui manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
5. Untuk mengetahui konsep perawat sebagai tenaga kesehatan.
6. Untuk mengetahui peran perawat dalam meningkatkan K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja).
7. Untuk mengetahui fungsi dan tugas perawat dalam K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja).
8. Untuk mengetahui landasan hukum peraturan dan perundang-undangan di
Indonesia.
9. Untuk mengetahui masalah yang terjadi pada K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja).

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)


Menurut WHO / ILO (1995) Kesehatan Kerja memiliki tujuan untuk
peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang
setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap
gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan,
perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang
merugikan kesehatan, dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu
lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya.
Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit adalah Upaya untuk
memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para
pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja,
pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan
rehabilitasi. Manajemen K3 Rumah Sakit adalah Suatu proses kegiatan yang
dimulai dengan tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengendalian yang bertujuan untuk membudayakan K3 di Rumah Sakit. Tujuan
diadakannya K3 Rumah Sakit adalah untuk menciptakan cara kerja, lingkungan
kerja yang sehat, aman, nyaman dan dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan karyawan Rumah Sakit. Manfaat diberlakukannya K3 Rumah Sakit
adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, mempertahankan
kelangsungan operasional Rumah Sakit (pendapatan meningkat dan
meningkatkan citra Rumah Sakit secara keseluruhan).
Bagi Karyawan Rumah Sakit adalah melindungi karyawan dari
terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan mencegah terjadinya terjadinya
Kecelakaan Akibat Kerja (KAK). Bagi pasien dan pengunjung adalah
Mendapatkan Mutu layanan yang baik dan kepuasan dan kenyamanan pasien
dan pengunjung.

4
B. Tujuan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan
kesehatan kerja adalah sebagai berikut :
1. Agar setiap pegawai/tenaga kerja mendapat jaminan keselamatan dan
kesehatan
2. kerja baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
3. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya.
4. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
5. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
gizi pegawai/tenaga kerja.
6. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
7. Agar tehindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
8. Agar setiap pegawai/tenaga kerja merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
Menurut buku keputusan menteri kesehatan tentang standar kesehatan
dan keselamatan kerja dirumah sakit menjelaskan bahwa Tujuan kesehatan dan
keselamatan kerja di rumah sakit ialah :
1. Tujuan Umum
Terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat dan produktif untuk SDM
Rumah Sakit aman dan sehat bagi pasien, pengunjung pengantar pasien,
masyarakat dan lingkungan sekitar Rumah Sakit sehingga proses pelayanan
Rumah Sa kit berjalan baik dan lancar.
2. Tujuan Khusus
a. Terwujudnya organisasi kerja yang menunjang tercapainya K3RS.
b. Meningkatnya profesionalisme dalam hal K3 bagi manajemen, pelaksana
dan pendukung program.
c. Terpenuhi syarat-syarat K3 di setiap unit kerja.
d. Terlindunginya pekerja dan mencegah terjadinya PAK (Penyakit Akibat
Kerja) dan KAK (Kecelakaan Akibat kerja).
e. Terselenggaranya program K3RS secara optimal dan menyeluruh.
f. Peningkatan mutu, citra dan produktivitas Rumah Sakit.

5
C. Ruang Lingkup K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Ruang lingkup hyperkes dapat dijelaskan sebagai berikut (Rachman, 1990) :
1. Kesehatan dan keselamatan kerja diterapkan di semua tempat kerja yang di
dalamnya melibatkan aspek manusia sebagai tenaga kerja, bahaya akibat
kerja dan usaha yang dikerjakan.
2. Aspek perlindungan dalam hyperkes meliputi :
a. Tenaga kerja dari semua jenis dan jenjang keahlian
b. Peralatan dan bahan yang dipergunakan
c. Faktor-faktor lingkungan fisik, biologi, kimiawi, maupun sosial.
d. Proses produksi
e. Karakteristik dan sifat pekerjaan
f. Teknologi dan metodologi kerja
3. Penerapan Hyperkes dilaksanakan secara holistik sejak perencanaan hingga
perolehan hasil dari kegiatan industri barang maupun jasa.
Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/perusahaan ikut bertanggung
jawab atas keberhasilan usaha hyperkes.

D. Manajemen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)


Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah ditentukan
sebelumnya, dengan mempergunakan bantuan orang lain. Hal tersebut
diharapkan dapat mengurangi dampak kelalaian atau kesalahan (malprektek)
serta mengurangi penyebaran langsung dampak dari kesalahan kerja. Untuk
mencapai tujuan tersebut, dimembagi kegiatan atau fungsi manajemen tesebut
menjadi :
1. Planning (Perencanaan)
Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan kegiatan yang
akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam hal ini adalah keselamatan dan kesehatan kerja di rumah
sakit dan instansi kesehatan. Perencanaan ini dilakukan untuk memenuhi
standarisasi kesehatan pacsa perawatan dan merawat (hubungan timbal balik

6
pasien-perawat/dokter, serta masyarakat umum lainnya). Dalam perencanaan
tersebut, kegiatan yang ditentukan meliputi:
a. Hal apa yang dikerjakan
b. Bagaiman cara mengerjakannya
c. Mengapa mengerjakan
d. Siapa yang mengerjakan
e. Kapan harus dikerjakan
f. Dimana kegiatan itu harus dikerjakan
g. hubungan timbal balik ( sebab akibat).

2. Organizing/ (Organisasi)
Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja rumah sakit / instansi
kesehatan dapat dibentuk dalam beberapa jenjang, mulai dari tingkat rumah
sakit / instansi kesehatan daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau
nasional. Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini baik secara langsung
atau tidak langsung sangat diperlukan. Pemerintah dapat menempatkan
pejabat yang terkait dalam organisasi ini di tingkat pusat (nasional) dan
tingkat daerah (wilayah), di samping memberlakukan Undang-Undang
Keselamatan Kerja. Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional)
perlu dibentuk Komisi Keamanan Kerja rumah sakit / instansi yang tugas dan
wewenangnya dapat berupa :
a. Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja rumah sakit/instansi
kesehatan.
b. Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana- an keamanan
kerja rumah sakit/instansi kesehatan.
c. Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja rumah sakit/instansi
kesehatan.
d. Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin
rumah sakit/instansi kesehatan.
e. Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu rumah
sakit/instansi kesehatan.

7
3. Actuating (Pelaksanaan)
Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan mendorong
semangat kerja, mengerahkan aktivitas, mengkoordinasikan berbagai
aktivitas yang akan menjadi aktivitas yang kompak (sinkron), sehingga semua
aktivitas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit/instansi
kesehatan sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan sehat. Untuk itu
setiap individu yang bekerja maupun masyarakat dalam rumah sakit /instansi
kesehatan wajib mengetahui dan memahami semua hal yang diperkirakan
akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja dalam rumah sakit/instansi
kesehatan, serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk
melaksanakan pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja tersebut.
Kemudian mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani
berbagai spesimen reagensia dan alat-alat. Jika dalam pelaksanaan fungsi
penggerakan ini timbul permasalahan, keragu-raguan atau pertentangan,
maka menjadi tugas semua untuk mengambil keputusan penyelesaiannya.
a. Controlling (Pengawasan)
Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar
pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan
atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu
diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu :
1) Adanya rencana
2) Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan.
Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi
tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan
kerja bersama di rumah sakit/instansi kesehatan. Sosialisasi perlu
dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan bahaya yang
bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan. Dalam
rumah sakit /instansi kesehatan perlu dibentuk pengawasan rumah sakit
/instansi kesehatan yang tugasnya antara lain :
a) Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek- praktek rumah
sakit/instansi kesehatan yang baik, benar dan aman.

8
b) Memastikan semua petugas rumah sakit /instansi kesehatan
memahami cara- cara menghindari risiko bahaya dalam rumah
sakit/instansi kesehatan.
c) Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya
atau kecelakaan.
d) mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang
keamanan kerja rumah sakit /instansi kesehatan.
e) Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya
dan mencegah meluasnya bahaya tersebut.

E. Konsep Perawat sebagai Tenaga Kesehatan


Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam
bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau ketermpilan melalui
pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan
kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan, baik berupa pendidikan gelar-
D3, S1, S2 dan S3-; pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus
kejuruan khusus seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan keahlian. Hal inilah
yang membedakan jenis tenaga ini dengan tenaga lainnya. Hanya mereka yang
mempunyai pendidikan atau keahlian khusus-lah yang boleh melakukan
pekerjaan tertentu yang berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta
lingkungannya.
Dalam hal ini, perawat memegang peranan yang cukup besar dalam
upaya pelaksanaan dan peningkatan K3. Sedangkan dalam pelaksanaannya,
perawat tidak dapat bekerja secara individual, perawat perlu untuk berkolaborasi
dengan pihak-pihak lintas profesi maupun lintas sektor.

F. Peran Perawat dalam Meningkatkan K3 (Kesehatan dan Keselamatan


Kerja)
Pelayanan kesehatan kerja memerlukan pula ilmu terapan berbagai
disiplin seperti kesehatan masyarakat, toksikologi industri, psikologi kerja, gizi,
ergonomik, hygiene perusahaan dan peraturan mengenai ketenagakerjaan.
Perawat yang melayani pelayanan kesehatan kerja, memiliki kebebasan

9
professional dalam melaksanakan tugasnya, bebas memasuki tempat kerja untuk
melakukan pemeriksaan dan mendapatkan keterangan yang diperlukan.
Secara umum perawat perlu mengenal dan mengetahui proses produksi,
peralatan dan bahan yang digunakan dalam produksi, system dan cara kerja di
perusahaan, lingkungan kerja serta beberapa aspek lainnya.Tugas yang
dilakukan oleh seorang perawat dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja
antara lain berupa tugas administrasi dan pelaporan, tugas pemeliharaan dan
perawatan kesehatan serta tugas penyuluhan/pelatihan/pendidikan kesehatan,
keselamatan kerja yang diberikan kepada seluruh tenaga kerja. Perawat
memberikan keterangan tentang pelaksanaan pelayanan kesehatan kerja kepada
pegawai pengawas keselamatan dan kesehatan kerja bila diperlukan.
Disamping itu perawat perlu mengetahui arah dan tujuan perusahaan
secara umum, merencanakan dan menerapkan program beserta evaluasinya, dan
dapat mengembangkan kemampuan menajerialnya, selaras dengan pengetahuan
kedokteran yang telah dimilikinya. Dengan demikian, perawat yang memimpin
suatu unit pelayanan kesehatan kerja harus mampu menjalin kerja sama dengan
pihak pengurus perusahaan, tenaga kerja, dinas atau instansi terkait dan tetap
berpedoman pada etika profesinya.
Peranan perawat pada program Kesehatan dan Keselamatan Kerja bisa
dikatakan sangat bermakna, mengingat tugas fungsional perawat dalam K3
begitu luas. Bisa dikatakan bahwa fokus utama perawatan kesehatan kerja adalah
kesehatan dan keselamatan kerja bagi tenaga kerja dengan penekanan pada
pencegahan terjadinya penyakit dan cidera, hal ini senada dengan tujuan K3.
Hanya saja perawatan kesehatan kerja di Indonesia belum seperti yang
diharapkan. Hal ini terjadi antara lain karena perkembangan yang sangat pesat
dari industri di Indonesia dan perkembangan
fasilitas pendidikan di bidang kesehatan dan keselamatan kerja yang ada di
Indonesia. Pengaruh lain adalah hambatan jenjang pendidikan dasar perawat
yang berbeda-beda. Peranan profesi dalam mengembangkan tingkat
profesionalisme belum terlihat bermakna.

10
G. Fungsi dan Tugas Perawat dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
Fungsi perawat dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut
Simamora, Roymond H. 2009 yaitu mengkaji masalah kesehatan, menyusun
rencana asuhan keperawatan pekerja, melaksanakan pelayanan kesehatan dan
keperawatan tehadap pekerja dan melakukan penilaian terhadap asuhan
keperawatan yang telah dilakukan. Adapun tugas perawat dalam K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menurut Simamora Roymond H. 2009 yaitu
mengawasi lingkungan pekerja, memelihara fasilitas kesehatan rumah sakit,
membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja, membantu melakukan
penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja, merencanakan dan melaksanakan
kunjungan rumah dan perawat di rumah kepada pekerja dan keluarga pekerja
yang mempunyai masalah kesehatan, ikut berperan dalam penyelenggaraan
pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja (k3) terhadap pekeja, ikut berperan
dalam usaha keselamatan kerja, memberikan pendidikan kesehatan mengenai
KB terhadap pekerja dan keluarganya, membantu usaha penyelidikan kesehatan
pekerja dan mengoordinasi dan mengawasi pelaksaan keselamatan dan
kesehatan kerja (k3)

H. Landasan Hukum Peraturan dan Perundang-undangan di Indonesia


Di indonesia, terdapat undang- undang khusus yang memang sengaja
dibuat untuk membahas menegenai kesehatan dan keselamatan kerja yaitu
Undang-undang No.13 Tahun 2003: UU tentang Ketenaga Kerjaan, dalam Pasal
87 ayat 1 mengamanatkan bahwa: Setiap Perusahaan wajib menerapkan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang terintegrasi dengan
Sistem Manajemen Perusahaan. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja, yang memuat ketentuan-ketentuan pokok mengenai
penerapan dan pelaksanaan syarat-syarat K3. Peraturan Pemerintah RI No.50
Tahun 2012, tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja. Dalam Pasal 5 ayat 1 dan ayat 2 menyatakan bahwa: Setiap Perusahaan
wajib menerapkan SMK3 bagi Perusahaan Mempekerjakan pekerja / buruh
paling sedikit 100 (seratus) orang atau Mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi.

11
Permenaker No.5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja (SMK3) Dengan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) organisasi dapat mengelola Kesematan dan Kesehatan
Kerja dengan mengontrol setiap kegiatan bisnis organisasi. Sebuah sistem yang
praktis dan masuk kedalam struktur organisasi, aktifitas perencanaan, tugas dan
tanggung jawab, proses dan sumber daya yang dikembangkan, penerapan,
pencapaian, peninjauan dan pemeliharaan Kebijakan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja organisasi. Ada beberapa peraturan perturan tetang kesehatan
kerja :
1. Undang-undang Nomor 01 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
2. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan
3. Undang-undang nomor 13 tahun 2003 Tentang Ketenagaan Kerjaan
4. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 3 (tiga)
dan pasal 8 (delapan).
5. Peraturan Menteri Perburuhan no 7 Tahun 1964 tentang Syarat-Syarat
Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan di Tempat Kerja.
6. Permenaker No 2 Tahun 1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja
dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
7. Permenaker No 1 Tahun 1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat
Kerja.
8. Permenaker No 3 Tahun 1983 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja.

I. Masalah yang Terjadi pada K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)


Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan
merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja,
beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada
pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat
kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila
terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa
penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan
produktivitas kerja.
1. Kapasitas Kerja

12
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya
belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa
30-40% masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia
gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini
tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas
yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja
yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non
kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam
melakukan tugasnya mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut
masalah PAHK dan kecelakaan kerja.
2. Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat
teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan
kesehatan pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan
tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan
kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama
tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat
gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif rendah, yang
berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja tambahan secara berlebihan.
Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan stres.
3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat
mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja
(Occupational Accident), penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan
kerja.

J. Pengendalian Melalui Jalur Kesehatan (Medical Control)


Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) yaitu upaya
untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal
(Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada
setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya
gangguan yang sudah ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap

13
orang disekitarnya. Dengan deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus menjadi
lebih cepat, mengurangi penderitaan dan mempercepat pemulihan kemampuan
produktivitas masyarakat pekerja. Disini diperlukan system rujukan untuk
menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-
treatment). Pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan
kesehatan pekerja yang meliputi :
1. Pemeriksaan Awal adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum
seseorang calon/pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai
melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh
gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah
calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan
pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya. Anamnese umum pemerikasaan
kesehatan awal ini meliputi:
a. Anamnese pekerjaan.
b. Penyakit yang pernah diderita.
c. Alrergi.
d. Imunisasi yang pernah didapat.
e. Pemeriksaan badan.
f. Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu yaitu tuberkulin test
dan psiko test.
2. Pemeriksaan Berkala adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan
secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya
resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak
waktu antar pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi
pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal
dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan
resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.
3. Pemeriksaan Khusus yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada
khusus diluar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada
atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai
unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern
laboratorium kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga

14
harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di
sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan preventif. Misalnya untuk
mengamankan limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau
masyarakat disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe
act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan sebagainya.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun
pengusaha, kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat
menjadi upaya preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit
akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali
dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan
kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi
hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi
biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat
hubungan kerja.
Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja
adalah menjadi melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui
pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi pemeriksaan awal,
pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya
kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan
tentang kesehatan dan keselamatan kerja.
Peranan perawat pada program Kesehatan dan Keselamatan Kerja bisa
dikatakan sangat bermakna, mengingat tugas fungsional perawat dalam K3
begitu luas. Bisa dikatakan bahwa fokus utama perawatan kesehatan kerja
adalah kesehatan dan keselamatan kerja bagi tenaga kerja dengan penekanan
pada pencegahan terjadinya penyakit dan cidera, hal ini senada dengan tujuan
K3.

B. Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam
pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian
ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan
dan keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga
kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

16
DAFTAR PUSTAKA

Allen, carol Vestal, 1998, Memahami Proses keperawatan dengan pendekatan


latihan , alih bahasa Cristantie Effendy, Jakarta : EGC

Depkes RI, 1991, pedoman uraian tugas tenaga keperawatan dirumah


sakit, Jakarta.:Depkes RI

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 1996)

Nazirah, R., & Yuswardi, Y. (2017). PERILAKU PERAWAT DALAM


PENERAPAN MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN
KERJA (K3) DI ACEH. Idea Nursing Journal, 8(3). Tersedia:
http://jurnal.unsyiah.ac.id/INJ/article/view/9578 (diakses pada tanggal 31
Juli 2018, pukul 19.10)

Simamora, Roymond H. 2009. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan . Jakarta:


EGC

http://macrofag.blogspot.com/2013/02/makalah-keselamatan-dan-kesehatan-
kerja.html (diakses pada tanggal 29 Juli 2018, pukul 20.00)
http://putrianjelisitumeang.blogspot.com/2017/12/peran-perawat-dalam-
pelaksanaan.html (diakses pada tanggal 29 Juli 2018, pukul 20.45)
https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-k3.html (diakses pada tanggal
29 Juli 2018, pukul 21.00)
http://shellahandayani.blogspot.com/2017/12/makalah-peran-perawat-dalam.html
(diakses pada tanggal 29 Juli 2018, pukul 21.25)

17