Anda di halaman 1dari 74

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PEMBANGUNAN TUBUH BENDUNGAN PROYEK BENDUNGAN


LEUWIKERIS
(Pekerjaan Grouting Test Untuk Perbaikan Pondasi Bendungan)
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Akademik
di Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Siliwangi Commented [IR1]: Lihat pedoman (spasinya berapa?)
Commented [A2R1]: Spasi single sesuai pedoman

OLEH:
AGIL FAUZAN HIDAYATULLOH
147011066

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2018 Commented [IR3]: Spasi..?(single)
Commented [A4R3]: Sudah dibuat single pak sesuai
pedoman
LEMBAR PENGESAHAN

PEMBANGUNAN TUBUH BENDUNGAN PROYEK BENDUNGAN


LEUWIKERIS Commented [IR5]: Samakan dengan cover
Commented [A6R5]: Sudah disamakan pak
(Pekerjaan Grouting Test Untuk Perbaikan Pondasi Bendungan)

Oleh:

AGIL FAUZAN HIDAYATULLOH

147011066

Mengetahui,

Ketua Jurusan Teknik Sipil, Pembimbing,

H. Herianto, S.T., M.T. Pengki Irawan, S.TP., M.Si.


NIDN. 0429077002 NIDN. 0016118601

i
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang mana atas rahmat
dan karunia-Nya Laporan Kerja Praktek ini dapat selesai. Sholawat serta salam
semoga tetap terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Laporan Kerja Praktek yang berjudul “Pembangunan Tubuh Bendungan


Proyek Bendungan Leuwikeris” ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan
akademik di Jurusan Teknik Sipil Universitas Siliwangi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bimbingan dan do’a Laporan


Kerja Praktek ini tidak dapat di selesaikan tepat pada waktunya. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada :

1. Orang tua dan keluarga yang senantiasa memberikan kasih sayang motivasi,
doa, arahan dan bimbingan, serta dukungan moril maupun materiil.

2. Bapak Pengki Irawan, S.TP., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek
yang telah memberikan bimbingan dan banyak masukan kepada penulis.

3. Bapak Agus Widodo, Ir.,MM., selaku Dosen Wali yang selalu memberikan
semangat dan motivasi kepada penulis.

4. Bapak Budi Prasetya, S.T., dan Bapak Edwin,S.T.,M.Eng., selaku PPK dan
Direksi Pekerjaan di Proyek Bendungan Leuwikeris Paket 1 yang telah
mengijinkan penulis melakukan Kerja Praktek di proyek ini.

5. Seluruh staff PP – BBN KSO di Proyek Bendungan Leuwikeris Paket 1 yang


telah memberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis selama Commented [IR7]: Satu halaman saja

melaksanakan Kerja Praktek ini. Commented [A8R7]: Sudah dihapus beberapa

Akhir kata penulis memohon kritik dan saran untuk penyempurnaan laporan,
semoga Laporan Kerja Praktek ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Tasikmalaya, Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL Commented [IR9]: Hnaya sampai heading 2 saja

LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... i Commented [A10R9]: Sudah disetting hanya sampai


heading 2
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. vii
1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1Latar belakang
1
1.2Maksud dan tujuan
2
1.3Ruang lingkup Kerja Praktek
2
1.4Teknik pengumpulan data
2
1.5Sistematika Pelaporan
3
2 GAMBARAN UMUM PROYEK ........................................................ 5
2.1Deskripsi Proyek
5
2.2Data Proyek
9
2.3Rencana Pelaksanaan
12
3 PERENCANAAN TEKNIS ............................................................... 18
3.1Landasan Teori
18
3.2Analisis Kondisi
42
4 PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN PROYEK ...................... 50
4.1Pelaksanaan Proyek
50
4.2Pekerjaan Persiapan
50

iii
4.3Pelaksanaan Pekerjaan
53
4.4Pengawasan Pekerjaan
62
5 SIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 65
5.1 .............................................................................................Simpulan
65
5.2 ................................................................................................... Saran
65
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 66

DAFTAR TABEL Commented [IR11]: Judul tabel jangan panjang


Commented [A12R11]: Caption setiap table sudah
diringkas

Tabel 3.1 Hubungan nilai Lugeon dan rasio material grout ........................ 41
Tabel 3.3 Hubungan nilai Lugeon dan rasio material grout ........................ 41
Tabel 3.5 Besar tekanan pada setiap tahap wpt ........................................... 46
Tabel 3.6 Campuran Grouting ..................................................................... 48
Tabel 3.7 Rincian injeksi semen dan air CH1 21 - 26 m ............................. 49
Tabel 4.1 Alat-alat clearing dan grubbing ................................................... 54
Tabel 4.2 Alat-alat pekerjaan galian ............................................................ 56
Tabel 4.3 Alat-alat grouting test .................................................................. 60

iv
DAFTAR GAMBAR Commented [IR13]: Judul gambar jangan panjang
Commented [A14R13]: Caption setiap gambar sudah
diringkas

Gambar 2.1 Peta Lokasi Proyek Bendungan Leuwikeris .............................. 6


Gambar 2.2 Site Plan ..................................................................................... 7
Gambar 2.3 Potongan melintang bendung..................................................... 8
Gambar 2.4 Struktur organisasi proyek ....................................................... 10
Gambar 3.1 Klasifikasi bendungan urugan ................................................. 20
Gambar 3.2 Perbaikan Pondasi metode cut off ............................................ 23
Gambar 3.3 Jenis-jenis metode cut off......................................................... 24
Gambar 3.4 Pondasi batuan ......................................................................... 25
Gambar 3.5 Pondasi tanah lembek/lunak .................................................... 25
Gambar 3.6 Berbagai fungsi dari grouting .................................................. 28
Gambar 3.7 Pola lubang grouting................................................................ 35
Gambar 3.8 Urutan grouting di bendungan Ukai, Gujarat, India ................ 35
Gambar 3.9 Pola grouting konsolidasi ........................................................ 36
Gambar 3.10 Urutan pelaksanaan grouting ................................................. 37
Gambar 3.11 Lubang grout baris ganda ...................................................... 38
Gambar 3.12 Grout tirai dua baris dengan metode split-spacing ................ 39
Gambar 3.13 Penentuan jenis aliran dan Nilai Lugeon ............................... 42
Gambar 3.14 Geologi bendungan Leuwikeri Error! Bookmark not defined.
Gambar 3.15 Metode grouting .................................................................... 44
Gambar 3.16 Pola grouting bendungan Leuwikeris .................................... 45
Gambar 3.17 Aransemen titik grouting test bendungan Leuwikeris ........... 46

v
Gambar 4.1 Direksi keet .............................................................................. 51
Gambar 4.2 Los kerja besi ........................................................................... 51
Gambar 4.3 Gudang penyimpanan .............................................................. 52
Gambar 4.4 Pagar proyek ............................................................................ 52
Gambar 4.5 Parkiran alat berat .................................................................... 53
Gambar 4.6 Base camp staff proyek ............................................................ 53
Gambar 4.7 Pekerjaan clearing dan grubbing ............................................. 54
Gambar 4.8 Pekerjaan galian ....................................................................... 56
Gambar 4.9 Pekerjaan grouting test ............................................................ 58
Gambar 4.10 Pekerjaan soil nailing test ...................................................... 62

vi
DAFTAR LAMPIRAN

vii
1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang
kehidupan. Kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti minum, MCK dan bercocok
tanam akan sulit terpenuhi jika ketersediaan air kurang. Kondisi sperti ini dapat Commented [IR15]: Tambahkan kalimatnya

diatasi bila dilakukan pengendalian air dengan dibangunnya sebuah bendungan. Commented [A16R15]: Kalimatnya sudah dilengkapi

Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar merupakan


salah satu dari sekian banyak daerah yang mengalami krisis ketersediaan air,
terutama air baku dan air irigasi. Dalam rangka memenuhi kebutuhan air untuk
mengisi Daerah Irigasi Lakbok Utara Kabupaten Ciamis seluas 6.600 ha,
pengembangan areal irigasi Dataran Banjar seluas 850 ha, areal irigasi Cikembang
dan Ciseel seluas 6.000 ha, pengembangan irigasi lainnya dan pengendalian banjir,
maka pemerintah melalui BBWS Citanduy memandang perlu untuk membangun
Bendungan Leuwikeris. Disamping untuk memenuhi kebutuhan air irigasi tersebut,
Bendungan ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk PLTA, Penyediaan Air Baku
dan lain-lain.

Pada suatu bendungan perlu diperhatikan secara khusus kondisi batuan


dibawah permukaan tubuh bendung agar tidak menimbulkan permasalahan serius
pasca pembangunan. Kondisi geologi di daerah pembangunan bendungan
Leuwikeris terdiri dari satuan batuan breksi volkanik porous. Air akan mengisi Commented [IR17]: perbaiki

celah dibawah permukaan tubuh bendung ketika bendungan mulai terisi air, kondisi Commented [A18R17]: sudah ditambah konisi geologi

ini dapat diminimalisir dengan adanya perbaikan pondasi.

Pada pembangunan tubuh bendung terdapat pekerjaan grouting test guna


mendukung rencana perbaikan pondasi yang efektif dan efisien dengan metode
grouting. Pekerjaan ini sesuai dengan minat penulis, maka dari itu Proyek
Bendungan Leuwikeris Paket 1 ini dipilih sebagai tempat untuk melaksanakan kerja
praktek.

1
2

1.2 Maksud dan tujuan


Adapun maksud dan tujuan Proyek dan Kerja Praktek, antara lain :

1. Membangun bendungan untuk mengairi daerah irigasi seluas 11.216 Ha,


menyediakan air baku disekitar kota Banjar, Kab. Tasikmalaya, kab. Ciamis
sebesar 854 liter/detik, mereduksi banjir periode 25 tahun sebesar 11,7%, Commented [IR19]: diringkas dalam bentuk tujuan
Proyek dan tujuan KP
menghasilkan daya listrik sebesar 20 megawatt dan meningkatkan potensi
Commented [A20R19]: tujuan proyek sudah dibuat dalam
pariwisata 1 poin

2. Memahami, dan mengamati secara langsung proses pelaksanaan dan


pengawasan pekerjaan grouting test.

3. Memahami ilmu tentang quality control terhadap pekerjaan grouting test.

4. Berlatih membuat dan mempresentasikan laporan sebelum menyusun Tugas


Akhir.

1.3 Ruang lingkup Kerja Praktek


Lamanya Kerja Praktek pada proyek Pembangunan Tubuh Bendungan
Proyek Bendungan Leuwikeris berlangsung dari 30 November 2017 sampai 30
Maret 2018. Adapun item pekerjaan yang diamati selama kerja praktek berlangsung
meliputi:

a) Metode pelaksanaan grouting test

b) Pemboran (drilling)

c) Pengujian air bertekanan (water preasure test)

d) Grouting test

1.4 Teknik pengumpulan data


Melengkapi laporan Kerja Praktek mahasiswa diharuskan melengkapi data-
data yang diperlukan dalam penyusunan laporan dari tahap persiapan sampai
pelaksaaan proyek tersebut dimulai. Ada pun data-data yang diperlukan diperoleh
dari :

a) Konsultasi
3

Konsultasi atau diskusi dilakukan di lapangan secara langsung melihat kegiatan


pekerjaan ataupun dilakukan di ruang direksi keet, dengan media alat bantu
white board, shop drawing, dokumen instruksi kerja, dan photo atau video
pekerjaan.

b) Pengamatan di Lapangan/Observasi

Mengamati dan mempelajari mekanisme pekerjaan secara langsung terutama


pada pelaksanaan konstruksinya.

c) Dokumentasi dari Gambar/Foto

Mempelajari rencana kerja (metode konstruksi), syarat-syarat teknis pekerjaan,


keselamatan kerja dan melakukan pengambilan gambar pekerjaan yang sedang
berlangsung dengan media kamera secara langsung di setiap pekerjaan yang
penting.

d) Buku-buku Literatur

Mencari dan mempelajari buku-buku literatur mengenai mekanika tanah dan


perencanaan pekerjaan jalan.

1.5 Sistematika Pelaporan


BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini membahas latar belakang proyek,


maksud dan tujuan kerja praktek, ruang lingkup kerja
praktek, metode pengumpulan data, dan sistematika
penyusunan.

BAB II : GAMBARAN UMUM PROYEK


Pada bab ini diuraikan mengenai gambaran umum
proyek seperti deskripsi proyek yang isi nya memaparkan
identifikasi proyek, persiapan proyek, struktur organisasi,
dan nilai proyek.

BAB III : PERENCANAAN TEKNIS


4

Pada bab ini berisi tentang landasan teori dan analisis


mengenai lingkup kerja praktek.
BAB IV : PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN
Pada bab ini menguraikan tentang pelaksanaan dan
pengawasan proyek seperti pengawasan bahan, alat, dan
sumber daya manusia.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penyusun mencoba memberikan
kesimpulan dan saran-saran yang seobjektif mungkin
terhadap kegiatan proyek pembangunan Bendungan
Leuwikeris. Juga disertakan daftar pustaka, lampiran-
lampiran untuk memudahkan pembaca dalam menelaah isi
laporan kerja praktek ini.
2 GAMBARAN UMUM PROYEK

2.1 Deskripsi Proyek Commented [IR21]: ditambahkan gambar kerja dari lokasi
KP
Proyek Bendungan Leuwikeris secara geografis terletak pada koordinat
Commented [A22R21]: peta lokasi diperbaharui dan
108 23’43’’ BT dan 07o21’42’’LS. Secara administratif, lokasi berada di wilayah
o sudah ditambakan site plan bendungan leuwikeris

Kecamatan Cimaragas dan Kecamatan Cijeungjing,Kabupaten Ciamis, dan


Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya dengan batas-batas sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Desa Ciharalang, Kecamatan Cijeunjing


 Sebelah Timur : Desa Cimaragas, Kecamatan Cimaragas
 Sebelah Selatan : Desa Beber, Kecamatan Cimaragas
 Sebelah Barat : Desa Madiasari, Kecamatan Cineam
Adapun peta lokasi proyek dapat dilihat pada Gambar 2.1 Commented [A23]: diberikan penjelasan mengenai
gambar yang bersangkutan

5
6

Commented [A24]: Peta lokasi sudah dibuat landscape

Gambar 2.1 Peta Lokasi Proyek Bendungan Leuwikeris


7

Gambar 2.2 Site Plan


8

Gambar 2.3 Potongan melintang bendung


2.2 Data Proyek
Nama Proyek : Pembangunan Bendungan Leuwikeris
Paket 1
Lokasi Proyek : Sungai Citanduy, Desa Ancol, Kecamatan
Cineam, Kabupaten Tasikmalaya
Owner : Direktorat Jendral Sumber Daya Air, Balai
Besar Wilayah Sungai Citanduy
Konsultasi/Perencana : PT. Aditya Engineering Consultant
Konsultasi/Supervisi : PT. Virama Karya (Persero)
Kontraktor : PT PP – BBN KSO (Persero)
Jenis Bangunan : Bendungan Utama
Tipe Bendungan : Zona dengan Inti Lempung Tegak
Tinggi maksimum : 84,57 m
Tampungan efektif : 30,30 juta m3
Waktu Pelaksanaan : 1560 hari kalender (23 November 2016 s/d
01 Maret 2021)
Waktu Pemeliharaan : 365 hari kalender (02 Maret 2021 s/d
01 Maret 2022)
Usia Guna Waduk : 50 tahun
Nilai Kontrak : Rp. 867.000.000.000,-

9
Gambar 2.4 Struktur organisasi proyek

10
2.2.1 Pemilik Proyek (Owner)
Pemilik proyek atau pemberi tugas atau pengguna jasa adalah orang/badan
yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan atau menyuruh memberikan
pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut.
Penggunaan jasa dapat berupa perseorang, badan/lembaga/instansi pemerintah
maupun swasta.

Pada Mega Proyek Bendungan Leuwikeris pihak yang berperan sebagai Owner
adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai
Citanduy.

2.2.2 Konsultan perencana


Konsultan Perencana merupakan orang atau badan yang membuat
perencanaan bangunan secara lengkap baik arsitektur, sipil dan bidang lain yang
melekat erat membentuk sebuah system bangunan. Konsultan perencana dapat
berupa persorangan/perseorangan berbadan hokum/badan hokum yang bergerak
dalam bidang perencanaan pekerjaan bangunan.

Pada Mega Proyek Bendungan Leuwikeris paket 1 pihak yang berperan sebagai
konsultan perencana adalah PT Aditya Engineering consultant.

2.2.3 Konsultan Pengawas/Konsultan Manajemen


Konsultan Pengawas merupakan suatu badan usaha atau perseorangan yang
ditunjuk oleh pemilik proyek untuk membantu mengelola pelaksana pekerjaan
pembangunan dari awal pelaksanaan proyek hingga proyek tersebut selesai.

Pada Mega Proyek Bendungan Leuwikeris paket 1 pihak yang berperan sebagai
Konsultan Supervisi adalah PT. Virama Karya (Persero).

2.2.4 Kontraktor
Kontraktor adalah orang/badan yang menerima pekerjaan dan
menyelenggarakan pelaksanaan pekerjaan sesuai biaya yang telah ditetapkan
berdasarkan gambar rencana dan peraturan serta syarat-syarat yang ditetapkan.
Kontraktor dapat berupa perusahaan perseorangan yang berbadan hukum atau
sebuah badan hukum yang bergerak dalam bidang pelaksanaan pekerjaan.

11
12

Pada Mega Proyek Bendungan Leuwikeris paket 1 pihak yang berperan sebagai
kotraktor adalah PT PP – BBN KSO (Persero).

2.3 Rencana Pelaksanaan

2.3.1 Data Finansial Proyek


2.3.1.1 Proses Pelelangan Commented [IR25]: ditambahkan

Pelelangan atau tender adalah suatu proses kegiatan penawaran pekerjaan Commented [IR26]: ikuti konsolidasi kepress yang
terbaru
yang ditawarkan oleh pemilik pembangunan (owner) kepada rekanan (penyedia Commented [A27R26]: proses lelang sudah ditambahkan
jasa konstruksi), yang bertujuan untuk memilih salah satu pelaksana pekerjaan yang
memenuhi syarat.

Pelaksanaan tender pada suatu pembangunan merupakan salah satu proses


untuk pemilihan penyedia jasa konstruksi dalam pelaksanaan pekerjan. Pelelangan
dapat dilaksanakan setelah semua persiapan pembuatan rencana kerja telah selesai
dikerjakan.

Melalui kegiatan ini diharapkan akan didapat biaya pelaksanaan seminimal


mungkin serta hasil pelaksanaan pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan dan
tidak merugikan kedua belah pihak.

Dalam tender terdapat dua pihak terkait, yaitu:

1. Pihak Owner sebagai pihak yang melelangkan. Commented [IR28]: perbaiki

2. Penyedia jasa konstruksi sebagai pihak yang mengikuti Commented [A29R28]: sudah diperbaiki

pelelangan/tender.
Pelelangan berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No.4 Tahun
2015, dibagi menjadi beberapa cara, antara lain:

1. Pelelangan Umum
Pelelangan umum adalah metode pemilihan Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang
dapat diikuti oleh semua penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya yang memenuhi syarat.

2. Pelelangan Terbatas
Pelelangan terbatas adalah metode pemilihan Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi untuk Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah
13

Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan


yang kompleks.

3. Pelelangan Sederhana
Pelelangan sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa
Lainnya untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,-
(lima miliar rupiah)

4. Pemilihan Langsung
Pemilihan langsung adalah metode pemilihan Penyedia Pekerjaan
Konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 5.000.000.000,-
(lima miliar rupiah)

Adapun prosedur pelelangan yaitu:

a) Pengumuman dari pemberi tugas pada rekanan untuk ikut prakualifikasi.


Pengumuman tersebut berisi antara lain nama, lokasi dan jenis proyek serta
jadwal prakualifikasi melalui surat kabar nasional atau di tempat-tempat
penting yang biasa diketahui khalayak ramai.
b) Perusahaan yang berminat mendaftarkan diri dan melakukan permohonan
untuk mendapatkan dokumen prakualifikasi yang berisi antara lain struktur
organisasi rekanan, pengalaman, sarana yang dimiliki, keadaan keuangan,
dan lain-lain.
c) Bila dokumen prakualifikasi sudah diisi oleh rekanan dan dikembalikan
pada pemberi tugas, kemudian dianalisis oleh pemberi tugas dan ditentukan
rekanan yang lulus prakualifikasi dan diadakan pengumuman pada rekanan
yang lulus prakualifikasi.
d) Perusahaan yang dinyatakan lulus pada proses prakualifikasi memberikan
Berita Acara Penjelasan Pekerjaan(Aanwijzing) yang berisi surat undangan
lelang, syarat-syarat mengikuti pelelangan, syarat-syarat umum kontrak,
spesifikasi, jadwal, informasi tambahan, gambar-gambar rencana, daftar
volume pekerjaan, daftar isian tender dan lain-lain.
e) Penjelasan pekerjaan berupa rapat penjelasan dan peninjauan lapangan.
14

f) Evaluasi atas penawaran yang dimasukan oleh penawar dan keputusan


tersebut diumumkan ke seluruh penawar yang turut serta dalam proses
pelelangan.
g) Setelah didapat satu pemenang tersebut diberikan Surat Perintah Kerja
(SPK) dan Surat Pelaksanaan Lapangan (SPL).
2.3.1.2 Sistem Kontrak
Elemen yang paling penting dalam suatu proses kerjasama antara berbagai
pihak untuk mewujudkan suatu sistem tertentu yang telah disepakati adalah
kontrak.

Kontrak kerja konstruksi dibuat secara terpisah sesuai tahapan dalam


pekerjaan yang terdiri dari kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan perencanaan,
kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan pelaksana, dan kontrak kerja konstruksi
untuk pekerjaan pengawasan.

Pemilihan kontak yang sesuai untuk suatu proyek konstruksi lebih


didasarkan dari karakteristik dan kondisi pembangunan itu sendiri. Ditinjau dari
sudut pandang pemilik pembangunan (owner), hal ini erat kaitannya dengan
antisipasi dan penanganan resiko yang ada pada pembangunan tersebut.

Jenis kontrak berdasarkan penggantian biaya :

1. Kontrak Harga Satuan (Unit Price Contract)


Merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk
setiap satuan pekerjaan dengan spesifikasi tertentu, dengan volume
pekerjaan didasarkan pada hasil pengukuran yang benar-benar telah
dilaksanakan. Penentuan harga satuan ini harus mengakomodasi semua
biaya yang mungkin terjadi seperti biaya overhead, keuntungan, biaya-
biaya tak terduga dan biaya mengantisipasi resiko.

2. Kontrak Biaya plus Jasa (Cost Plus Free Contract)


Merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu, dimana jenis-jenis pekerjaan dan volumenya belum
diketahui dengan pasti. Pembayaran dilakukan berdasarkan pengeluaran
15

biaya yang meliputi pembelian barang, sewa peralatan, upah pekerja dan
lain-lain, ditambah imbalan jasa yang telah disepakati oleh kedua pihak.

3. Kontrak Biaya Menyeluruh (Lumpsum Fixed Price)


Merupakan kontrak jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu dengan jumlah harga yang pasti dan tetap serta semua
resiko dalam penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia
jasa sepanjang gambar dan spesifikasi tidak berubah.

2.3.1.3 Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi


1. Tahun Tunggal
Tahun Tunggal adalah pekerjaan yang pendanaan dan pelaksanaannya
direncanakan selesai dalam 1 tahun.

2. Tahun Jamak
Tahun Jamak adalah pekerjaan yang pendanaan dan pelaksanaannya
direncanakan lebih dari 1 tahun.

2.3.1.4 Sumber Pendanaan Proyek Pemerintah


1. Internasional Competitive Bidding (ICB) yaitu pinjaman luar negeri
melibatkan kontraktor internasional.
2. Local Competitive Bidding (LCB) yaitu pinjaman luar negeri, melibatkan
kontraktor lokal.
3. APBN dan APBD, yaitu dana yang berasal dari anggaran negara dan
anggaran daerah, melibatkan Instansi BUMN dan BUMD
2.3.1.5 Data Finansial Proyek Bendungan Leuwikeris Paket 1
1. Prosedur Pelelangan pada proyek Bendungan Leuwikeris bersifat
pelelangan umum. Dari hasil pelelangan tersebut, berdasarkan kriteria
kecakapan, kemampuan teknis, dan segi keuangan yang paling
menguntungkan, maka Direktorat Jendral Sumber Daya Air Balai Besar
Wilayah Sungai Citanduy selaku pemilik proyek ini memutuskan PP -
Bahagia Bangunnusa KSO sebagai pelaksana proyek struktur paket 1
meliputi pembangunan fasilitas uum dan bendungan utama. PT. Aditya
Engineering Consultant sebagai konsultan perencana, PT. Virama Karya
sebagai konsultan supervisi.
16

2. Sistem Kontrak yaitu sistem kontrak harga satuan (Unit Price Contract),
dimana penyelesaian seluruh pekerjaan dalam jangka waktu tertentu
berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap satuan pekerjaan
dengan spesifikasi tertentu, dengan volume pekerjaan didasarkan pada hasil
pengukuran yang benar-benar telah dilaksanakan.
3. Sumber dana proyek pembangunan Bendungan Leuwikeris berasal dari
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan melibatkan Instansi
BUMN.

2.3.2 Rencana Anggaran Biaya (RAB)


Untuk menentukan biaya yang diperlukan pada suatu proyek perlu
mengetahui komponen – komponen pembentuk biaya tersebut yang terdiri atas :

1. Biaya Material/Bahan
Material adalah seluruh bahan yang digunanakan dalam proyek yang pada
akhirnya merupakan bagian dari akhir proyek. Biaya material diperoleh
berdasarkan harga satuan yang dikalikan dengan besarnya volume pekerjaan.
Bila data kuantitas diperoleh dari gambar, maka data kualitas diperoleh dari
spesifikasi. Umumnya harga tersebut berasal dari produsen maupun distributor.

2. Biaya Upah
Biaya upah buruh terdiri dari upah langsung dan upah tidak langsung.
Upah langsung merupakan upah yang dibayarkan kepada buruh pada tiap
periode tertentu. Upah tidak langsung meliputi asuransi dan berbagai macam Commented [IR30]: ikuti format ini

tunjangan. Untuk menentukan upah buruh dapat dihitung dengan menentukan


banyak pekerja berdasarkan volume pekerjaan dan produktivitas buruh. Upah
buruh dapat ditentukan berdasarkan pengalaman/proyek terdahulu dengan
berbagai penyesuaian, sehingga bisa dihitung total biaya upah.

3. Biaya Peralatan
Penentuan jumlah dan jenis alat disesuaikan dengan volume pekerjaan
dan kondisi lapangan. Harga pada umumnya berbeda sesuai dengan jenis dan
mutunya (termasuk sumber daya manusia). Selain itu, dipengaruhi oleh keadaan
perekonomian nasional serta kebijaksanaan pemerintah. Dari sisi ekonomi
17

harga dapat berfluktuasi sesuai dengan supply dan demand. Yang perlu
diperhatikan adalah kemungkinan kenaikkan biaya pada saat konstruksi.

2.3.3 Jadwal Pelaksanaan (Time Schedule)


Jadwal pelaksanaan ( Time Schedule ), kurva S atau Hanumm Curve atau Bar
chart adalah suatu alat pengendalian prestasi pelaksanaan proyek secara
menyeluruh agar pelaksanaan proyek tersebut berjalan dengan lancar.

Fungsi dari time schedule ini adalah :

1. Sebagai pedoman kontraktor untuk melaksanakan suatu pekerjaan dan sebagai


pedoman direksi untuk mengontrol apakah suatu pekerjaan berlangsung sesuai
jadwal atau tidak.
2. Sebagai pedoman untuk mengevaluasi suatu pekerjaan yang telah diselesaikan.
3. Sebagai pedoman untuk mengatur kecepatan suatu pekerjaan.
4. Untuk menentukan tahap-tahap pekerjaan sesuai dengan urutan waktu
pelaksanaan.
5. Untuk memperkirakan biaya yang harus disediakan dalam jangka waktu
tertentu, serta untuk memperkirakan jumlah tenaga kerja, jumlah dan macam
peralatan, serta material yang digunakan.
Pembuatan jadwal pelaksanaan (Time Schedule) harus memperhatikan
beberapa faktor :

1. Kondisi/keadaan lapangan
2. Macam dan volume pekerjaan
3. Metode pelaksanaan dan peralatan yang digunakan
4. Jumlah dan kualitas sumber daya yang tersedia
5. Perkiraan iklim dan cuaca

2.3.4 Volume Pekerjaan


Macam atau jenis alat pekerjaan ditentukan oleh konsultan perencana pada
tahap perancangan. Macam pekerjaan diuraikan dengan berpedoman dari
spesifikasi gambar rencana, dalam spesifikasi dijelaskan tentang metoda
pelaksanaan dan mutu material yang digunakan, serta syarat-syarat yang harus
dipenuhi.
3 PERENCANAAN TEKNIS

3.1 Landasan Teori

3.1.1 Pengertian Bendungan


Bendungan (dam) adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air
dari sebuah aliran sungai, maupun saluran air menjadi sebuah tempat penampungan
bervolume cukup besar menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi sehingga lokasi
tersebut tergenang oleh air. Seringkali bendungan juga digunakan sebagai sumber
energi non-hidrokarbon dengan mengalirkan air ke sebuah Pembangkit Listrik
Tenaga Air yang memiliki turbin dan generator.

3.1.2 Bendungan Urugan Commented [A31]: Sudah ditambahkan teori bendungan


urugan
Suatu bendungan yang dibangun dengan cara menimbunkan bahan-bahan
seperti: batu, krakal, kerikil, pasir dan tanah pada komposisi tertentu dengan fungsi
sebagai pengempang atau pengangkat permukaan air yang terdapat di dalam waduk
disebut bendungan tipe urugan atau “bendungan urugan".

Didasarkan pada ukuran butiran dari bahan timbunan yang digunakan, secara
umum dapat dibedakan 2 type bendungan urugan, yaitu:

 Bendungan urugan batu (rock fill dam) disingkat dengan istilah “Bendungan
batu”.
 Bendungan urugan tanah (earth fill dam) disingkat dengan istilah “Bendungan
tanah".
Selain kedua jenis tersebut, terdapat pula bendungan urugan campuran, yaitu
terdiri dari timbunan batu di bagian hilirnya yang berfungsi sebagai penyangga,
sedang bagian udiknya terdiri dari timbunan tanah yang disamping berfungsi
sebagai penyangga tambahan, terutama berfungsi sebagai tirai kedap air.

Di dalam kegiatan-kegiatan baik perencanaannya, maupun pelaksanaan


pembangunannya, kedua tipe bendungan tersebut mempunyai banyak persamaan-
persamaan yang cukup nyata.

18
19

3.1.3 Klasifikasi Bendungan Urugan


Sehubungan dengan fungsinya sebagai pengempang air atau pengangkat
permukaan air di dalam suatu waduk, maka secara garis besarnya tubuh bendungan
merupakan penahan rembesan air ke arah hilir serta penyangga tandonan air
tersebut.

Ditinjau dari penempatan serta susunan bahan yang membentuk tubuh


bendungan untuk dapat memenuhi fungsinya dengan baik, maka bendungan urugan
dapat digolongkan dalam 3 (tiga) tipe utama, yaitu:

 Bendungan urugan homogen (bendungan homogen).


 Bendungan urugan zonal (bendungan zonal).
 Bendungan urugan bersekat (bendungan sekat).
Untuk dapat membedakan ketiga tipe tersebut, maka skema serta uraian
singkatnya tertera pada Gambar 3.1

a) Bendungan homogen
Suatu bendungan urugan digolongkan dalam tipe homogen, apabila
bahan yang membentuk tubuh bendungan tersebut terdiri dari yang hampir
sejenis dan gradasinya (susunan ukuran butirannya) hampir seragam.

(2) Bendungan zonal

Bendungan urugan digolongkan dalam type zonal, apabila timbunan


yang mem-bentuk tubuh bendungan terdiri dari batuan dengan gradasi
(susunan ukuran butiran) yang berbeda-beda dalam urutan-urutan pelapisan
tertentu (Gambar 3.1).
20

Gambar 3.1 Klasifikasi bendungan urugan

3.1.4 Sifat – sifat Batuan


Ada 6 sifat-sifat batuan yang sangat penting untuk merencanakan pondasi
dengan baik yaitu : gaya pecah, gaya geser, elastisitas, perubahan bentuk, gaya
tektonik dan kelulusan air.

3.1.4.1 Gaya pecah (crushing strength)


Ini sangat mempengaruhi daya dukung yang dapat ditahan oleh batuan. Daya
dukung batuan sebagai pondasi bendungan tergantung pada:

- Kualitas batuan (quality) yaitu ada tidaknya atau banyak sedikitnya retakan,
celah, rekahan, patahan/sesar dan bahan pengisi yang terdapat di antara
lubang-lubang.

- Derajat pelapukan (degree of weathering).

- Persentase retakan yang sangat kecil (percentage of micro cracks) yang


terdapat di daerah tersebut.

Untuk menentukan besamya gaya pecah, dapat diukur dengan pengujian gaya tekan
tak terbatas (unconfined compression test) dengan mengambil contoh di lapangan.
21

3.1.4.2 Gaya geser (shearing strength).


Gaya geser batuan tergantung pada sudut gesekan dalam (angle of internal
friction) yang merupakan angka dari tangens sudut yang bersangkutan menurut
rumus :

f = tg 8

Keterangan: f = koefisien gaya geser.

8 = sudut gesekan dalam.

Dalam hal ini angka yang diberikan oleh Dr. Varshney sama dengan angka yang
diberikan Henry Thomas.

3.1.4.3 Elastisitas batuan (elasticity of rock).


Merupakan angka yang diperoleh berdasar pengujian di laboratorium, jadi
hanya dipakai untuk perkiraan sementara.

3.1.4.4 Perubahan bentuk batuan (deformation of rock).


Menurut standar yang diterbitkan oleh The Japanese National Com-mittee on
Large Dams, dianggap bahwa modulus elastisitas batuan (modulus of elasticity of
rock) sama dengan modulus deformasi atau modulus perubahan bentuk batuan
(modulus of deformation of rock).

Sedang menurut standar yang berlaku di beberapa negara Eropa, Amerika Serikat
dan Australia ada perbedaan.

Adapun perbedaannya adalah modulus elastisitas diukur di laboratorium sedangkan


modulus deformasi diukur di lapangan sehingga hasilnya kadang- kadang sangat
berlainan. Hal ini sebagai akibat terdapatnya retakan, celah dan rekahan di lapangan
yang apabila dilakukan di laboratorium, contoh tanahnya tidak dapat mencakup
secara keseluruhan. Angka yang diukur di lapangan biasanya lebih rendah
dibandingkan dengan yang diukur di laboratorium.

3.1.4.5 Gempa tektonik


Gempa tektonik adalah gempa yang terjadi sebagai akibat gerakan bumi yang
jauh dari kulit bumi. Gerakan-gerakan ini ada yang ringan tetapi ada pula yang
sangat dahsyat. Yang ringan hanya dapat diketahui dengan alat yang peka
(scismogral) sedangkan yang dahsyat dapat dirasakan oleh manusia. Gerakan-
22

gerakan ini terjadi karena adanya gaya tektonik. Dengan adanya gerakan-gerakan
ini maka akan terjadi patahan/sesar. Apabila hal ini terjadi pada batuan pondasi
bendungan dapat menyebabkan terjadinya retakan, hal ini dapat menimbulkan
terjadinya lubang sehingga tegangan geser yang mempertahankan stabilitas
konstruksi menjadi berkurang. Pada akhimya dapat menyebabkan runtuhnya
bendungan.

Hal ini tentu saja harus dihindarkan dengan cara mempertinggi angka
keamanan apabila membangun di tempat yang banyak terjadi gempa bumi.

3.1.4.6 Kelulusan air (permeabilitas, permeability).


Sesudah bendungan selesai dibangun maka waduk mulai dioperasikan
dengan demikian akan selalu terisi air antara Permukaan Air Penuh (FSL) dengan
Permukaan Air Terendah untuk Operasi (MOL).

Air akan menekan bendungan dan ada kecenderungan mencari lubang-


lubang biar bagaimana kecilnya untuk dilewati. Hal ini dapat menyebabkan
terjadinya bahaya gejala pembuluh.

Untuk pencegahan maka harus disediakan filter yang memenuhi gradasi tertentu
(filter halus dan filter kasar).

3.1.5 Perbaikan Pondasi


Untuk dapat mengadakan perbaikan pondasi harus diketahui terlebih dahulu
jenis dan sifat-sifat batuan yang ada.

Adapun tujuan dari perbaikan pondasi adalah :

a. Agar tegangan tanah yang timbul sebagai akibat berat sendiri dari bendungan,
tekanan air, gaya gempa, dan muatan-muatan yang bekerja padanya tidak
melebihi daya dukung tanah pondasi bendungan (di bawah) maupun di tebing
kiri dan kanannya (abutmen).

b. Agar rembesan air yang timbul di bawah pondasi bendungan dan di abutmen
bendungan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan.
23

Hal ini tidak hanya yang berbatasan dengan bendungan (masih termasuk pondasi)
tetapi adakalanya juga jauh dari bendungan baik di sekitar waduk maupun di daerah
yang agak jauh dari waduk.

Cara yang dipakai untuk mengatasinya ada 2, yaitu :

1) Menghilangkan terjadinya rembesan sama sekali.

Hal ini dipakai apabila jumlah debit rembesan relatif tidak besar.

2) Mengontrol debit rembesan.

Hal ini dipakai apabila debit rembesan sangat besar sehingga untuk
menghilangkan sama sekali memerlukan biaya yang sangat besar dan tidak
ekonomis lagi.

3.1.5.1 Perbaikan pondasi batuan


Ada 2 cara yang dapat di pakai, yaitu :

1) Dengan injeksi (grouting).

2) Dengan dinding penyekat beton dangkal (shallow concrete cut off walls).

Digunakan untuk memperpanjang aliran air yang merembes di bawah


pondasi sehingga dapat mengurangi rembesan air.

Gambar 3.2 Perbaikan Pondasi metode cut off


Untuk bendungan urugan dapat diletakkan di bawah kaki sebelah hulu atau di
bawah lapisan kedap air. Untuk bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air
di muka, diletakkan di bawah kaki sebelah hulu. Untuk bendungun beton dapat
diletakkan di bawah kaki sebelah hulu atau dengan membuat lapisan beton
bertulang di sebelah hulu (apron) lalu dinding penyekat diletakkan di bawahnya.
Apabila akan di pakai sementasi tirai, maka beton (apron) ini dapat pula dipakai
sebagai beton penyangga sementasi (grouting cap).
24

Gambar 3.3 Jenis-jenis metode cut off


a) Untuk bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air miring.

b) Untuk bendungan urugan batu dengan lapisan kedap air dimuka.

c) Untuk bendungan beton berdasar berat sendiri.

Cara ini cukup baik dengan biaya relatif tidak mahal. Pelaksanaannya juga mudah
asal disediakan pompa air secukupnya agar daerah kerja dapat kering.

3.1.5.2 Perbaikan pondasi lulus air


3.1.5.2.1 Terhadap bahaya rembesan
Apabila rembesan air tidak besar, cara yang dipakai adalah menahan atau
menghilangkan sama sekali rembesan tersebut. Akan tetapi apabila rembesannya
besar cara ini kadang-kadang tidak mudah atau kalaupun bisa biayanya sangat besar
sehingga tidak ekonomis lagi. Dalam hal ini cara yang dipakai adalah mengurangi
sampai mencapai batas tertentu dan kemudian mengadakan pemeriksaan secara
teratur dan mengadakan penyempurnaan seperlunya.

Untuk menentukan sampai sejauh mana batas yang diperkenankan tergantung


tujuan pembangunannya, volume waduk dan biaya pemeliharaannya.

Apabila bendungan akan digunakan untuk penyediaan air minum dengan


volume waduk yang relatif kecil maka harus diupayakan agar rembesan air sekecil-
kecilnya, bahkan bilamana memungkinkan tidak ada rembesan sama sekali.
Sebaliknya apabila direncanakan untuk pengendalian banjir dengan volume waduk
yang sangat besar, rembesan air tidak menjadi masalah, asal tidak membahayakan
keamanan bendungannya.

Pada umumnya apabila sesuatu konstruksi direncanakan sangat baik dengan


angka keamanan yang tinggi, biaya pembangunannya relatif mahal akan tetapi
biaya pemeliharaannya murah. Sebaliknya apabila perencanaan konstruksinya
cukup baik dengan angka keamanan cukup, biaya pembangunannya relatif murah
akan tetapi biaya pemeliharaannya relatif lebih mahal.
25

Cara yang dapat dipakai untuk mengatasi bahaya rembesan :

1) Dengan injeksi (grouting).

2) Dengan dinding penyekat beton.

3) Dengan dinding penyekat dari baja dipancang (steel sheet piling cut off).

3.1.5.2.2 Terhadap bahaya liquefaction.


Karena penyebabnya adalah butir-butiran yang tanahnya lepas maka butir-
butiran tersebut harus dibuat homogen dan bersatu (cemented) yaitu dengan
sementasi konsolidasi

3.1.5.3 Perbaikan pondasi tanah lembek/lunak.


Ada 2 cara yang dapat dipakai, yaitu :

- Memperlebar pondasi bendungan.

Dengan cara ini luas pondasi menjadi bertambah besar sehingga tegangan tanah
yang timbul mengecil dan masih lebih kecil dibandingkan dengan daya dukung
tanah yang ada.

Gambar 3.4 Pondasi batuan

Gambar 3.5 Pondasi tanah lembek/lunak


- Menambah sementasi konsolidasi.
26

3.1.5.4 Perbaikan pondasi yang merupakan gabungun antara dua atau lebih
jenis tanah.
Karena keadaan geologi di sebagian daerah di negara kita relatif masih muda
maka kebanyakan sifat batuannya agak kompleks yaitu terdapatnya bermacam-
macam batuan yang tidak sama. Misalnya sebagian pondasi bendungan terletak di
batuan andesit atau basal yang keras, tetapi sebagian lagi terlelak di batuan breksi
yang sebagian keras tetapi lainnya lunak. Pada batuan yang keras kadang-kadang
terdapat celah-celah yang mudah dilewati air, hal ini dapat diperbaiki dengan cara
sementasi, demikian pula untuk batuan yang lunak dapat diperbaiki pondasinya
denga cara ini, jadi dengan sementasi dapat mengatasi banyak masalah.

3.1.6 Pengertian Grouting


Grouting merupakan metode perbaikan tanah, batuan, beton, dan struktur
bangunan dengan cara menyuntikan slurry material dengan tekanan tertentu untuk
mengisi rekahan pada batuan, tanah, beton, struktur bangunan dan material sejenis
yang berfungsi untuk memadatkan dan memperbaiki kerusakan (Warner, 2004).

3.1.7 Sejarah Metode Grouting pada Bendungan


Kebanyakan bangunan bendungan yang dibangun sebelum abad XX
dirancang tanpa pengkajian geologi karena dibangun pada pondasi yang bagus
(excellent). Pada awal abad XX teijadi kehancuran beberapa bendungan,
diantaranya Bendungan Austin, Texas, USA pada tahun 1900, Bendungan Austin,
Pasadena, USA pada tahun 1911, Bendungan St. Francis, Los Angeles, USA pada
tahun 1926 dan Bendungan Molare di Itali pada tahun 1935. Setelah tahun 1933
tidak ada bendungan besar yang dibangun tanpa penilaian geologis pada tapak
bendungan (Varshney, 1978). Seiring dengan kebutuhan akan bendungan besar
pada lokasi yang kurang baik, teknik perbaikan pondasi (foundation treatment)
menjadi andalan dan diregistrasi/dibakukan sejak tahun 1930.

Teknologi pemboran (drilling) dan penyuntikan semen bertekanan (pressure


grouting) terbukti dapat mereduksi rembesan dan memperbaiki daya dukung
batuan. Metode grouting (grouting) yang semula banyak dipakai untuk teknologi
pemboran minyak bumi, kemudian banyak diterapkan untuk teknik sipil.Grouting
adalah penyuntikan bahan semi kental (slurry material) ke dalam material
27

tanah/batuan dengan bertekanan dan melalui lubang bor spesial, dengan tujuan
menutup diskontinuitas terbuka, rongga-rongga dan lubang-lubang pada
lapisan/strata yang dituju. Istilah grouting (cementation) sebenamya semula dipakai
untuk bahan Portland cement, apakah semen Portland saja atau dicampur pasir.
Namun perkembangan lebih lanjut dengan penambahan lempung, bentonit aspal
dan bahan kimia lainnya, istilah grouting menjadi lebih tepat (Legget, 1988).

Menurut Rudolf Glossop, seorang insinyur pondasi Inggris, proses grouting


ditemukan di Perancis tahun 1802 untuk memperbaiki pasangan batu. Pada tahun
1840, Leman William Denison, seorang perwira pada British Royal Engineers,
melaporkan sistem injeksi secara gravitasi sederhana dipakai pada tahun 1830
untuk pasangan batu pada pintu kanal Rideau di Kanada.

Tokoh perintis grouting modern adalah W.R. kinipple, seorang insinyur


Inggris, mengeterapkan teknis grouting untuk memperbaiki pondasi bendungan di
sungai Nil, Mesir. Pemakaian Portland cement grouting pertama kali oleh Thomas
Hawksley, seorang insinyur Inggris, pada tahun 1876 untuk perkuatan pondasi
bendungan urugan tanah di Waduk Tunstall, Inggris. Di Amerika Serikat,
pemakaian grouting untuk perbaikan pondasi bendungan dirnulai pada tahun 1893
di Waduk Croton yang berfimgsi untuk penyedia air bersih kota New York.

Di Indonesia mengenal grouting tercatat pada proyek bendungan pampasan


Jepang, yaitu Bendungan K-3 (Karangkates, Kali Konto dan Riarn Kanan) pada
tahun 1962.Bendungan Jatiluhur merupakan bendungan besar di Indonesia yang
dibangun tahun 1958, tanpa perbaikan pondasi dengan grouting karena tapak
bendungan berada pada formasi batu lempung yang kedap dan berstruktur geologi
sinklinorium yang stabil.Bendungan besar buatan zaman Belanda dan diawal
Republik Indonesia, seperti Penjalin, Malahayu, Prijetan, Cacaban, Darma dan
Pacal dirancang tanpa perbaikan pondasi dengan grouting karena berdiri pada
pondasi yang sudah kokoh dan kedap.

Perbaikan pondasi (foundation treatment) terutama dibawah tubuh


bendungan utama adalah semen tirai (curtain grouting), disusul dengan grouting
blanket (blanket grouting) dan grouting konsolidasi (consolidation grouting).
Tercatat bendungan Wlingi dengan tinggi 47 m yang dibangun di aliran Kali
28

Brantas, karena jeleknya batuan pondasi adalah paling banyak volume atau jumlah
kedalamam groutingnya mencapai 110.000 m dengan bahan portland cement dan
bahan kimia (sodium silikat dan acrylamide).

Mengingat pembangunan waduk besar masih dibutuhkan di Indonesia,


sementara kondisi geologi yang baik makin langka, sehingga teknologi grouting
akan terus diperlukan. Beberapa waduk yang telah selesai dibangun dan dalam
tahap operasi dan pemeliharaan ternyata perlu tambahan perawatan (remedial
work), diantaranya harus dilakukan pekerjaan grouting tambahan.

3.1.8 Fungsi dan tujuan Grouting


3.1.8.1 Fungsi grouting
Grouting atau injeksi, suatu proses pemasukan suatu cairan dengan tekanan
kedalam rongga atau pori rekahan dan kekar pada batuan yang dalam waktu tertentu
cairan tersebut akan menjadi padat dan keras secarah fisika maupun kimiawi,
dengan tujuan :

- menurunkan permeabilitas, meningkatkan kuat geser dan mengurangi


kompresibilitas

- mengurangi potensi erosi internal, terutama pada pondasi alluvial.

Gambar 3.6 Berbagai fungsi dari grouting


29

(a) Penembusan / penetrasi (b) Pemadatan / kompaksi (c) Rekah


hidrolik / hydrofracturing.
(a) Penetrasi atau penembusan (permeation / penetration), dimana grouting
mengalir kedalam rongga tanah dan lapisan tipis batuan dengan pengaruh
minimum terhadap struktur asli. Berfungsi untuk menurunkan permeabilitas
dan meningkatkan kuat geser.
(b) Kompaksi atau pemadatan (compaction / controlled displacement), dimana
massa grout dengan konsistensi sangat kental dipompakan kedalam tanah
sehingga mendorong dan memadatkan (densification). Berfungsi memadatkan
tanah berbutir halus dan meningkatkan daya dukung.
(c) Rekah hidrolik (hydraulic fracturing / uncontrolled displacement), apabila
tekanan grouting lebih besar dari kuat tarik batuan atau tanah yang digrouting,
akhimya material pecah dan grouting dengan cepat menembus zona rekahan.
Berfungsi untuk mengurangi kompresibilitas dan menurunkan permeabilitas
massa tanah atau batuan yang di grout.
3.1.8.2 Tujuan Grouting
Tujuan dilakukan grouting pada bendungan yaitu :

1. Untuk memperkuat formasi dari lapisan tanah dan sekaligus menjadikan Commented [IR32]: perbaiki

lapisan tanah tersebut menjadi padat, sehingga mampu untuk mendukung Commented [A33R32]: sudah diperbaiki

beban bangunan yang direncanakan. Tanah selalu mempunyai lubang-lubang,


retak-retak, celah-celah. Rongga ini harus diisi dengan bahan pengisi yang
kuat, sehingga lapisan tanah dibawah rencana bangunan akan menjadi bagian
dari pondasi yang kuat.

2. Untuk menahan aliran air, misalnya pada bangunan dam, agar air tidak Commented [IR34]: perbaiki

mengalir melalui bawah bangunan dam. Air yang mengalir di bawah bangunan Commented [A35R34]: sudah diperbaiki

dam secara bertahun-tahun akan membawa partikel tanah, yang akan


mengakibatkan terjadinya rongga-rongga di bawah bangunan, dan hal ini dapat
membahayakan kestabilan dam tersebut, grouting pada dam ini biasa disebut
tirai sementasi, guna tirai sementasi ini untuk menghambat laju air, sehingga
aliran air semakin panjang, karena aliran semakin panjang maka air akan
mengalami kehilangan energi.
30

3.1.9 Jenis Grouting pada Bendungan


Berdasarkan posisi dan fungsi terhadap konstruksi bendungan, jenis grouting
dapat dibagi menjadi:

a. Grouting Tirai
Menunjukkan posisi atau lokasi dari grouting yang merupakan zona
memanjang dalam tampak atas (plan) dibanding lebamya dan biasanya lebih
dalam dibanding lebamya. Umumnya bermanfaat mereduksi permeabilitas
dari tanah (ground) dibawah bendungan atau pada pinggiran waduk sebagai
rim grouting (grouting sisi).

Sesuai dengan namanya sebagai konstruksi penyekat atau tabir, berfungsi


penghalang (cut-off atau barrier) dari rembesan air dalam pondasi bendungan
yang cenderung membesar atau bocor setelah pengisian waduk. Pelaksanaan
grouting dapat dilakukan secara terbuka pada ruang terbuka dengan udara
bebas atau tertutup di dalam lorong grouting (grouting gallery). Jadwal
pelaksanaan bervariasi sesuai tipe bendungan dan tempat kerja operasi
grouting, apakah harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum dilanjutkan
penimbunan atau pembetonan, atau bersamaan laju penimbunan dan
pembetonan, melalui atau tanpa grouting gallery atau belakangan melalui
lorong grouting (grouting gallery)

b. Grouting Blanket
Menunjukkan zona yang digrout adalah relatif luas (ekstensi) dalam panjang
serta lebar pada tampak atas, namun secara umum relatif dangkal
kedalamannya di bawah muka tanah. Umumnya bermanfaat meningkatkan
kekuatan dan daya dukung tanah (ground).

Grouting blanket (grouting penutup=selimut=karpet), mempunyai


kemampuan sama dengan grouting konsolidasi, hanya berbeda dalam
fungsinya yakni mereduksi gaya angkat dibawah atau di belakang struktur
karena tekanan hidrostatik. Dalam beberapa bendungan beton dilaksanakan
pula dibagian hulu bendungan didalam waduk. Pada bendungan urugan yang
berpondasi pada pondasi pasir dan kerikil (sand-gravel foundation) dibawah
concrete pad akan dilengkapi beberapa baris grouting dangkal yang berfungsi
31

sebagai blanket grouting. Pelaksanaan mirip consolidation grouting


mempakan grouting dangkal dengan kedalaman berkisar 5 hingga 15 m, jarak
spasi lubang 5 hingga 10 m, berpola primer-sekunder dan dilaksanakan
dengan tekanan maksimum 3,5 kg/cm2.

Disamping pola grid dalam penentuan titik, perlu justifikasi dilapangan


berkaitan rekahan yang muncul serta sumber air tanah pada galian pondasi.
Titik-titik grout perlu digeser terhadap fragmen-fragmen batuan yang keras
dan memanfaatkan sebagai grout cap atau dibantu dengan pemasangan grout
pipe/grout nipple.

c. Grouting Konsolidasi
Merupakan metode grouting dimana bahan grout kental dan lekat diinjeksikan
kedalam tanah yang kompresif sehingga membentuk bodi grout dengan
perpindahan (displasemen) sebagai kebalikan dari penetrasi dengan tujuan
memadatkan tanah dan mereduksi kompresibilitas. Istilah ini juga
dipergunakan untuk mengisi rongga dengan metode injeksi serupa.

Grouting konsolidasi (consolidation grouting, area grouting) dalam pondasi


bendungan utama, dipergunakan untuk menutup lubang, celah dan rekahan
yang ada dibawah pondasi bendungan sehingga menjadi lebih kuat dan
menambah modulus deformasi batuan. Pondasi yang mengalami pecah-pecah
akibat digali, baik dengan alat berat atau peledakan perlu direkondisi seperti
sebelum digali dengan grouting konsolidasi. Pada bendungan beton perlu
kesatuan utuh (monolith) antara konstraksi beton dengan pondasi serta
sandaran yang ditunjang dengan grouting konsolidasi- Dari sudut pandang
mekanika batuan berfungsi pertama mereduksi bagian tidak pulih
(unrecoverable) dari deformasi dan kedua menambah modulus elastisitas
batuan. Suatu rekahan dengan bukaan 0,2 mm dan lebar 1.0 m akan
memberikan nilai permeabilitas 50 Lugeon unit atau K=5xl0^ cm/sec sesuai
arah rekahan (Sabarly, 1968). Bukaan terkecil untuk semen grout adalah 0,2
mm, untuk rekahan batuan yang sangat halus, bahan grout kimiawi seperti gel
silica dan resin sintetik.
32

Kedalaman grouting konsolidasi berkisar 3 hingga 15 m degan pola lubang


grout system grid pada spasi 6 hingga 30 m dengan pola tipikal.

3.1.10 Pola Grouting


3.1.10.1 Grouting Tirai
Pola dan kedalaman lubang grout ditentukan terutama oleh persyaratan
desain dan sifat alami batuan. Bila kegunaannya untuk konsolidasi, lubang ditata
pada pola teratur pada seluruh daerah permukaan yang perlu diperkuat dan
kedalaman ditentukan oleh penyebaran batuan yang terpecah belah (broken rock)
sesuai persyaratan struktural mengenai deformabilitas dan kekuatan pondasi. Bila
kegunaan untuk kekedapan, lubang grout harus ditata dalam satu sen barisan
membentuk tirai menuju tegak luras arah rembesan. Kedalaman lubang tergantung
pada pertimbangan desain, juga kedalaman batuan lulus air dan konfigurasi zona
strata yang relatif kedap air.

Ukuran lubang grout umumnya kurang penting dibanding biaya lubang grout
dan kontrol inklinasi. Untuk grouting dengan semen lubang berdiameter 38 mm
umumnya yang dipakai. Lubang lebih besar diperlukan untuk grouting dengan
material lebih kasar atau kasus spesial ketika laju injeksi yang abnormal tinggi
diperlukan. Pada lubang panjang, diameter pada puncak lubang haruslah lebih besar
dibanding diameter akhir pada dasar lubang agar observasi teleskopik atau
memungkinkan untuk mengganti mata bor.

a. Grout tirai baris tunggal adalah efektif pada batuan yang mempunyai jaringan
diskontinuitas cukup teratur dengan ukuran bukaan yang dinilai seragam. Pada
kasus tersebut, tirai yang cukup lebar dapat diatasi dengan grouting berbaris
lubang tunggal. Pada batuan masif dengan rekahan halus, kontrol uplift
dilakukan terutama dengan drainase dan grout tirai dipergunakan sebagai
tindakan suplemen untuk menghilangkan konsentrasi rembesan yang melebihi
kapasitas sistem drainase. Tirai baris tunggal dapat diterapkan pada tujuan
terbatas pada formasi batuan yang tergolong kompak.
Pada tirai baris tunggal, biasanya pemboran berspasi lebar dari lubang primer,
kemudian diikuti lubang sekunder dan tersier yang bertahap dengan spasi lebih
pendek. Satu kriteria untuk penentuan spasi primer adalah panjang intekoneksi
33

antar lubang grout. Bila area sangat terbatas faktor waktu pembekuan grout
penting, sehingga tidak dikehendaki membor terlalu dekat dengan lubang yang
baru selesai digrout. Sebelum tekanan grouting dimulai, lubang bor harus
selesai mencapai 20 m lebih dulu dari lubang yang digrout. Praktek biasanya
adalah memisah spasi dari fase primer ke sekunder dan sekunder ke tersier.
Spasi awal (dari lubang primer) biasanya bervariasi 6 m hingga 12 m, tetapi
pemilihan spasi bergantung kondisi geologi dan pengalaman (Mistiy, 1965).
Pada setiap fase dari operasi grouting perbandingan hasil test perkolasi dan data
absorpsi grout dengan lubang sebelumnya adalah berfaedah. Bila tidak ada
peningkatan berarti yang tercatat apakah dalam hal penurunan absorpsi grout
atau perkolasi air, pengecekan hati-hati haras dibuat dari kenampakan batuan,
sifat batuan hubungannya dengan pola lubang. Kadang-kadang lebih berguna
membor baris lain dari lubang pada sudut berbeda dan orientasi dari pada
memisah spasi (split spacing) lanjutan. Spasi dibawah 1 (satu) meter jarang
diperlukan dan permintaan spasi lebih rapat dari 1 (satu) meter menunjukkan
orientasi dan inklinasi lubang yang tidak cocok. Kemungkinan baris ganda
(multiple line) curtain diperlukan.
Berdasarkan investigasi awal dan kondisi strata, spasi lubang primer ditetapkan.
Bila lubang primer berspasi lebih besar 6 m, lubang sekunder haras dibor dan
digrout. Pada penyelesaian lubang primer lebih rapat dari 6 m atau lubang
sekunder, test perkolasi harus dilakukan pada beberapa lubang test untuk
memastikan apakah grouting lanjutan pada area tersebut diperlukan atau apakah
perlu perlakuan sekunder atau tersier, apakah seluruh area atau bagian khusus
saja dimana batuan jelek. Hal serupa lubang tersier apakah dilakukan di seluruh
area atau seluruh kedalaman pada penampang yang memerlukan. Sebagai
tambahan terhadap grouting yang sistematik, lubang primer, sekunder dan
tersier, mungkin diperlukan pemboran dan grout pada lubang tambahan untuk
perbaikan pada kenampakan geologi khusus, seperti sesar, zona geser dan
perlapisan batuan lapuk.
b. Grout tirai baris ganda: Pada batuan dengan ukuran bukaan dengan kisaran
lebar, gua dan diskontinuitas, dimana juga menyebar tidak teratur, tirai dengan
baris tunggal tidak efektif. Bukaan yang lebih besar mengabsorpsi volume grout
34

yang berlebih bila digunakan tekanan tinggi dan grout yang encer. Sebaliknya
grout yang lebih kental (1:1 atau lebih kental atau dengan isian) dipergunakan
menutup lubang yang lebih besar, mungkin menutup semua sisi dari lubang dan
menahan penetrasi dari retakan yang lebih halus.
Dalam hal ini, kelebihan tirai baris ganda adalah terdiri baris lebih luar dimana
dibor dan digrout awal dengan grout kental. Kadang-kadang sukar
memperlakukan baris lubang bor lebih besar hingga mengalir balik (refusal) dan
grouting diberhentikan setelah penyuntikan dengan volume grout terbatas.
Setelah penyelesaian grouting lubang terluar, baris tengah atau lubang lain
dibor dan digrout pada tekanan lebih dan lebih encer.
Grouting dari baris terluar, dimana dikerjakan lebih awal memberikan
pembatasan dari grout dan menjadikan perlakuan berikutnya efektif untuk
retakan yang lebih halus pada tekanan yang lebih tinggi melalui baris tengah
atau barisan lubang-lubang spasi final dari baris lebih dalam dan luar dapat
berbeda pada pola baris ganda, spasi masing-masing baris ditentukan oleh sifat
diskontinuitas batuan yang diperlakukan dengan baris spesial. Dalam kasus lain,
pada baris tengah metode pisah-spasi (split spacing) harus diikuti hingga derajat
kekedapan yang diinginkan tercapai.
Pada gambar berikut adalah pola tipikal lubang grout yang dibor di Bendungan
Ukai, Gujarat, India.
Pola grouting yang diangkat meliputi :
a) Tiga (3) baris digenjang oleh spasi sama dari baris luar pada jarak 6
m dan spasi tengah pada bans tengah.
b) Tiga (3) baris digenjang dengan spasi sama pada jarak 6 m
c) Tiga (3) baris digenjang pola persegi dan spasi sama pada jarak 4,2
m.
Jarak masing-masing baris pada (a) dan (b) adalah 1,50 m, sedang pada (c)
diangkat 2,10 m.
35

Gambar 3.7 Pola lubang grouting


Urutan grouting yang diterapkan pada gambar dapat dilihat bahwa pola
persegi dengan check hole pada garis tengah lebih efektif dari pada pola dengan
genjang (staggered pattern).

Gambar 3.8 Urutan grouting di bendungan Ukai, Gujarat, India


3.1.10.2 Grouting Konsolidasi
Pilihan dari pola lubang untuk grouting konsolidasi tergantung pada apakah
perlu mencuci dan memancar (jet) lubang secara sistematik.
36

Gambar 3.9 Pola grouting konsolidasi


Bila pencucian harus dilakukan, pola hexagonal adalah lebih dipilih karena
memungkinkan untuk aliran balik (reversal). Bila pencucian dan pemancaran
dilakukan untuk menghilangkan material lunak pada lapisan-lapisan tipis,
umumnya tidak perlu lubang primer dan sekunder. Bila diinginkan test keberhasilan
grouting konsolidasi dengan membandingkan absorpsi grout pada lubang primer
dan sekunder, pola bujur sangkar atau persegi lebih dipilih. Hal ini kasus umum
bila kekar-kekar tak beraturan dan relatif bebas dari pengisian didalam (in-filling)
atau tidak perlu menghubungkan material pengisi kekar-kekar.

3.1.11 Urutan Pelaksanaan Grouting Berkaitan Pola Lubang


Bersamaan pelaksanaan operasi grouting, perlu memastikan bahwa tidak ada
lubang dibor demikian dekat dengan lubang yang di-grout sehingga interkoneksi
terjadi. Spasi antara lubang-lubang primer diseleksi agar tidak terjadi hal diatas.
Kadang-kadang satu situasi terjadi, ketika pemboran tahap di atas dari lubang
sekunder beijalan sejajar dengan grouting distep bawahnya dari lubang primer.
Dalam kasus, interkoneksi hanya dapat dihindari, bila terdapat cukup selubung
batuan antara bagian yang digrout dan zona dimana pemboran lubang sekunder
berjalan. Sebagai aturan, pemboran lubang sekunder pada setiap zona pondasi tidak
boleh dilakukan sampai grouting dari lubang primer selesai.
37

Gambar 3.10 Urutan pelaksanaan grouting


Pada tirai baris ganda urutan relatif dari baris luar dan dalam harus juga diikuti
secara cermat seperti diuraikan dalam pasal di atas. Pada metode pisah-spasi (split
spacing) atau merapat (closer), lubang grout yang diketahui sebagai lubang primer
dilakukan paling awal pada interval terpanjang. Kemudian setelah lubang digrout
dengan baik, lubang sekunder dilakukan diantaranya.
38

Gambar 3.11 Lubang grout baris ganda


Pada gambar 3.10 lubang grout baris tunggal diperlihatkan sepanjang galian
parit halang. Lubang grout primer no. 1 dan no.2 digrouting lebib awal. Setelah
selesai di-grouting dengan baik, lubang ditengah no.3 atau lubang sekunder
memperlihatkan kehilangan perkolasi lebih kecil dibanding lubang sebelumnya.
Kalau kehilangan perkolasi lebih kecil daripada batas spesifik, dianggap bahwa
grouting yang dilakukan dilubang primer akan ditentukan dengan pengujian
perkolasi dilubang tersier. Bila permeabilitas pre-grouting lebih besar daripada
yang diizinkan, lubang-lubang di-grout dan test perkolasi dilakukan lagi di check
hole no.3 dan kalau sudah dipengaruhi segera oleh lubang grout no 4 dan no 5,
kemudian no 3 juga di-grout. Dua lubang 6 dan 7, kemudian diantara lubang no 1
dan no 4 serta lubang 5 dan 2 berurutan dilakukan test perkolasi dan di-grouting.

Disini bagaimana grouting akan dilakukan dengan metode perapatan (closer


method). Bila adukan semen akan dipompa langsung ke dalam lubang di bawah
tekanan, beijalan lewat rongga, kekar dan bukaan lain di batuan diluasan sekitar
lubang yang di-grouting sebagai zona pengaruh lubang dibawah tekanan.

Sehingga bila tekanan diterapkan dengan cukup perlahan, grouting akan


berjalan ke semua bukaan dan lubang berikutnya didekatnya, menghasilkan
grouting efektif dan fonnasi penghalang kedap yang baik. Dengan tekanan lebih
tinggi, karenanya lebih sedikit lubang yang diperlukan untuk memperoleh derajat
sama dalam kekedapan.

Dalam hal kehilangan perkolasi pada lubang cek (sekunder atau tersier, dll)
berlanjut perlahan tinggi, lubang cek selanjutnya diperlukan diantara lubang
sekunder dan juga primer agar grout efektif, dan bukaan tidak ter-grout oleh lubang
sekunder. Nilai permeabilitas yang tinggi biasanya mendorong lubang cek lebih
rapat ke lain lubang grout pada baris tunggal. Zona pengaruh dari masing-masing
lubang akan menjadi agak kecil, menghasilkan lebar efektif yang sempit dari tirai.
39

Dalam saru kasus dan bila kondisi geologi heterogen dan tidak seragain, harus
dipikirkan grouting baris -ganda.

Grouting dapat dilakukan pada dua atau lebih baris dengan prinsip sama
dengan pisah-spasi persegi atau digenjangkan. Sebelum masuk ke dalam pekerjaan
grouting seluruhnya di batuan, dianjurkan program grouting pilot sesuai panjang
dari bendungan, tergantung formasi batuan, pola kekar, dll. Grout tirai dengan 2
atau 3 baris menghasilkan tirai yang lebih tebal dari yang diperoleh dengan cara
grouting baris tunggal dan memberikan kontrol rembesan yang lebih baik.

Gambar 3.12 Grout tirai dua baris dengan metode split-spacing


Pada grouting dua baris dengan metode split-spacing, checkhole biasanya
pada perpotongan diagonal dari bujur sangkar atau persegi atau jajaran genjang dari
lubang yang berdampingan (Gambar 3.12)
Bila lubang cek lanjutan diperlukan, akan berada di sepanjang garis yang
dibentuk oleh satu titik yang menghubungkan titik-titik potong dari diagonal seperti
pada Gambar 3.12. Cara ini dipakai apabila 3 baris.

Panjang galian parit halang dibagi ke dalam kompartemen/blok yang cukup


panjang berisi 10 hingga 15 lubang masing-masing. Dua baris umumnya berspasi 1
hingga 3 meter jarak. Pemboran lubang nomor 1 dilakukan pertama, kemudian
mesin bor dipindahkan ke lubang nomor 2. Grouting lubang no. 1 sekarang
dikerjakan sampai komplit dan tidak diperbolehkan melakukan pemboran dilubang
no. 3 karena tekanan dilubang no. 1 mungkin demikian besar sehingga
menyebabkan grout mengalir ke lubang no. 3 dan menutup rongga pada lubang
tersebut pada tekanan sisa yang rendah, sehingga menyebabkan lubang tidak
berguna lagi. Karena itu lubang no. 3 dibor dan di-grout setelah lubang grout no 1
selesai. Hal serupa, lubang no. 4 dibor setelah grouting di lubang no. 3 selesai.
Lubang no. 5 dan 6 adalah lubang cek untuk 2 baris lubang 1 - 2 dan 3 - 4, karenanya
40

dilakukan berurutan dan bila memperlihatkan bahwa grouting diperlukan lagi,


tergantung pada kehilangan perkolasinya dan lubang pada serial no. 7,8,9, dan 10
harus dikerjakan.

Dalam hal ini, pekerjaan dilaksanakan menurut sistem pisah-spasi (split


spacing). Ini adalah sistem Eropa, dimana dispesifikasikan bahwa lubang yang di-
grout adalah lubang yang dibor. Selanjutnya dalam sistem ini tidak ada pencucian
lubang karena akan merusak material isian dalam kekar-kekar dan membuka keluar
ruang didalamnya. Tekanan tinggi dilakukan agar memperoleh zona pengaruh yang
lebih besar dan juga membantu memecah rekahan lemah untuk menerima grout
lebih baik.

Berlawanan terhadap praktik cara Eropa, praktik cara Amerika adalah


membor dan mencuci semua lubang dalam satu blok sehingga semua interkoneksi
diantaranya dapat berkembang. Selanjutnya grouting dilaksanakan dengan tekanan
rendah untuk menutup semua kekar-kekar. Diskontinuitas adalah efektif
berhubungan dengan tekanan yang dipakai grouting, pola tertentu, uni tan dan
kedalaman lubang.

3.1.12 Kedalaman Grouting Tirai


Kedalaman suatu tirai (curtain) ditentukan dari pertimbangan karakteristik
rembesan pondasi. Bila pola rekahan sangat tidak teratur dimana analisa rasional
tidak mungkin, kedalaman pada batuan sering ditetapkan dengan prosedur empirik.
Kedalaman dirumuskan sama dengan 0,5H hingga 1,5H atau 0,33H+C, dimana
H=tinggi pada pondasi dan C adalah konstanta sama 25 ft (7,5 m) pada batuan utuh
dan 35 ft (10,5 m) pada batuan rekah-rekah.

Dalam mencari basemen dari grouting tirai biasanya diambil lebih dalam atau
sama tinggi terhadap head (H) permukaan, tetapi pada pondasi dimana
permeabilitas melebihi permeabilitas tirai yang diinginkan, kedalaman dimana tirai
harus diambil dengan banyak pertimbangan. Analisa teoritis dapat dikemukakan
bahwa pilihan grouting pada hal ini tidak berguna dalam mereduksi rembesan dan
grouting mungkin dapat dihilangkan. Dalam sejumlah kasus aktual
memperlihatkan bahwa grouting terbukti berguna apabila dilakukan kebawah pada
suatu kedalaman sama dengan tinggi atau sekitar 2/3 dari tingginya.
41

3.1.13 Uji Lugeon


Uji lugeon bertujuan untuk mengetahui nilai lugeon dari batuan. Nilai lugeon
merupakan suatu angka yang menunjukkan berapa liter air yang dapat merembes
ke dalam formasi batuan sepanjang beberapa satuan meter (sesuai yang diinginkan) Commented [IR36]: perbaiki

selama satu menit dengan tekanan standar 10 Bar atau 10 kg/cm2 (Naudts dkk, Commented [A37R36]: sudah diperbaiki

2003)

Nilai lugeon ini kemudian digunakan untuk menentukan perbandingan


campuran semen dan air serta volume material yang dapat diinjeksikan kedalam
batuan atau tanah tersebut (Warner, 2004; Udiana, 2013). Menurut SNI 03-2393-
1991 campuran material semen untuk grout disesuaikan dengan nilai lugeon dari
hasil uji permeabilitas (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Hubungan nilai Lugeon dan rasio material grout

Nilai Campuran Awal Perubahan Campuran


Lugeon Injeksi Berikutnya
Lu<5 1:6 ( 1 : 4 ), ( 1 : 2 ), ( 1 : 1 )
5<Lu<10 1:4 ( 1 : 2 ), ( 1 : 1 )
Lu>10 1:2 (1:1)

Tabel 3.2 Hubungan nilai Lugeon dan rasio material grout

Lugeon Classification Hydraulic Condition Reporting


Range Conductivity of Rock Mass Precision
Range (cm/sec) Discontinuities (Lugeons)

<1 Very Low < 1x10-5 Very tight <1


1-5 Low 1 x 10-5 - Tight ±0
6 x 10-5
5-15 Moderate 6 x 10-5 - Few partly ±1
2 x 10-4 open
2 x 10-4 - Some
15-50 Medium ±5
6 x 10-4 open
6 x 10-4 - Many Commented [IR38]: font tidak sama
50-100 High 1 x 10-3 open ± 10
Commented [A39R38]: font dalam table sudah disamakan
Open
>100 Very High > 1x10-3 closely spaced >100
or voids
42

Gambar 3.13 Penentuan jenis aliran dan Nilai Lugeon


3.2 Analisis Kondisi

3.2.1 Geologi Regional

Gambar 3.14 Geologi bendungan Leuwikeris


Berdasarkan peta geologi bersistem, Jawa, Lembar: Tasikmalaya, skala
1:100.000, tahun 1986 oleh: T. Budhitrisna; daerah pembangunan bendungan Commented [IR40]: tambahakan analisa peta geologi

Leuwikeris didominasi terbentuk oleh batuan sedimen yang berumur Plistosen- Commented [A41R40]: anilisis peta geologi sudah
ditambah
Kuarter berupa breksi gunung api, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit
sampai basal dari Gunung Sawal.
43

3.2.1.1 Endapan Permukaan dan Batuan Gunung Api


a. Hasil Gunung Api Tua (Qtv)
Breksi gunung api, breksi aliran, tufa dan lava bersusunan andesit sampai Commented [IR42]: cari literatur batuan penyusun ini dan
sidat fisik batuan
basal
b. Aluvium (Qa)
Lempung, lanau, pasir, bongkah diendapkan di daerah sungai banjir besar.
c. Hasil Gunung Api Muda (Qv)
Breksi gunung api, lahar dan tufa bersusunan andesit sampai basal dari
Gunung Galunggung.
3.2.1.2 Batuan Sedimen
a. Formasi Bentang (Tmpb)
Batupasir, tufaan, batupasir gampingan, konglomerat, breksi gunung api,
tufa, batu lempung, tufaan, breksi tufa, breksi gampingan, batu gamping,
batu lempung, sisipan lignit. Formasi ini berumur Miosen.
b. Formasi haling (Tmph)
Formasi ini berumur Miosen berupa turbidit terdiri dari peselingan
batupasir, batulempung dan batulanau dengan sisipan breksi dan
batugampingan.
c. Formasi Jampang
Formasi ini berumur miosen berupa breksi gunung api, lafva dan tufa
bersusunan andesit basal, batupasir tufaan dengan sisipan batupasir,
batulanau, batulempung dan batugamping.

3.2.2 Geologi Lapangan


Berdasarkan pengamatan terhadap singkapan-singkapan batuan di lokasi
rencana tubuh bendungan dan bangunan pelengkapnya, terdapat satuan batuan yaitu
satuan batuan breksi volkanik.

Satuan breksi volkanik Satuan ini tersebar di seluruh wilayah peta, kecuali di
sepanjang aliran Sungai Citanduy di mana batuan ini ditutupi oleh alluvial.
Singkapan batuan ini ditemukan terutama di tebing sungai, di jalan setapak dan
pada saluran-saluran air. Satuan Ini pada umumnya berwarna abu-abu sampai abu-
abu kecoklatan, terdiri dari fragmen-fragmen batuan andesit abu-abu, berukuran 1
-50cm, menyudut-menyudut tanggung, tertanam dalam massa dasar tuf pasir,
44

kemas terbuka, kompak, apabila lapuk lanjut batuan berwama coklat, bersifat agak
rapuh.

3.2.3 Metode Pelaksanaan Grouting Test


Metode grouting yang digunakan pada bendungan Leuwikeris dengan
melihat pertimabangan geologi diatas adalah metode downstage dimana mulai dari
proses pemboran sampai injeksi campuran grouting dilakukan bertahap setiap stage
dari atas sampai mencapai kedalaman yang direncanakan.

Gambar 3.15 Metode grouting


Metode ini diambil untuk menghindari terjadinya kebocoran grout sepanjang
kedalaman rencana grouting. Metode ini juga berguna untuk strata yang heterogen.
Disini pengulangan grouting perlu dilakukan untuk mencapai stage berikutnya,
lubang dibor lagi, cuci dan di-grout, dimana meningkatkan biaya grouting. Tetapi
45

metode ini dibawah kondisi geologi bendungan Leuwikeris dapat memberikan


output yang bagus karena setiap stage dapat diperlakukan secara individual.

3.2.3.1 Drilling
Drilling atau pemboran berfungsi untuk membuat lubang yang akan
digunakan saat grouting. Kedalaman pemboran ini bervariasi sesuai dengan jenis
grouting yang akan dilakukan, misalnya untuk blanket grouting pemboran
dilakukan sampai kedalaman 5 meter, untuk sub-curtain pemboran dilaksanakan
sampai kedalaman 15 meter, dan sampai kedalaman 40 meter pada curtain
grouting.

Kedalaman pemboran pada lokasi grouting test sandaran bendungan Leuwikeris


sisi Ciamis dan Tasikmalaya adalah 40 meter dan untuk check hole 45 meter,
sedangkan untuk di lokasi sungai 80 meter.

3.2.3.2 Aransemen Titik Grouting Test


Grouting pada bendungan Leuwikeris direncanakan dengan pola baris ganda
dengan jarak spasi antar lubang adalah 2 meter.

Gambar 3.16 Pola grouting bendungan Leuwikeris


Untuk memperoleh rencana grouting yang efektif dan efisien maka pada
sandaran bendungan sisi kanan dan kiri dilakukan grouting test menggunakan pola
gabungan antara segitga dan bujursangkar, sedangkan untuk lokasi sungai
menggunakan gabungan dua buah segitiga.
46

Gambar 3.17 Aransemen titik grouting test bendungan Leuwikeris


Urutan grouting test dilakukan sebagai berikut :

KGT-1 --- KGT-3 --- KGT-2 --- KGT-4 --- KGT-5 --- CH-1 --- CH-2

Prosedur pelaksanaan pada setiap lubang sementasi :

 Pemboran

 Pencucian

 Pengujian kelulusan air

 Injeksi bubur semen

Untuk lubang check hole dan pilot hole dilakukan pengambilan sample core yang
kemudian dimasukan kedalam core box.

3.2.4 Nilai Lugeon


Untuk mengetahui berapa nilai lugeon pada setiap tahap titik grouting maka
dilakukan pengujian air bertekanan dengan ketentuan tekanan sebagai berikut :

Kedalaman (m) Tahap Tekanan (kg/cm2)


1-5 1 0,5 - 1 - 1,5 - 1 - 0,5
6 - 10 2 0,5 - 1 - 2 - 1 - 0,5
11 - 15 3 0,5 - 1,5 - 2,5 - 1,5 - 0,5
16 - 20 4 1-2-3-2-1
21 - 25 5 1-2-3-2-1
26 - 30 6 1-2-3-2-1
31 – 35 7 1-2-3-2-1
36 - 40 8 1-2-3-2-1
Tabel 3.3 Besar tekanan pada setiap tahap wpt
47

Perhitungan dilakukan berdasarkan pengujian terhadap lubang CH1 pada


kedalaman 21 – 26 m dengan data sebagai berikut :

= 21 –
Kedalaman
26 m
Panjang stage (L) = 5m
Kedalaman muka air tanah = 23.5
(h1) m
= 1
Tekanan (P)
kg/cm2
= 40
Debit (Q)
lt/menit
Tinggi manometer (h2) = 0.7

Tinggi hidrostatik : hg = h1 + h2

Keterengan :

Hg = tinggi hidrostatik

H1 = tinggi manometer

H2 = tinggi muka air tanah

Hg = h1 + h2

= 0,7 + 23,5

= 24,2 m

Tinggi Total : H’ = P + 0,1 x hg

Keterangan :

H’ = tinggi total

P = Tekanan

Hg = tinggi hidrostatik

H’ = P + 0,1 + hg

= 1 + 0,1 + 24,2
48

= 3,42

LU = 10 Q / L H

Keterangan :

LU = nilai lugeon

Q = debit (lt/menit)

L = panjang stage

H = tinggi total

LU = 10 Q / L H

= 10 x 40 / 5 x 3,42

= 23,39

3.2.5 Campuran Grouting


Injeksi dimulai dari encer berangsur-angsur menjadi kental sesuai kriteria
berikut :

Jumlah yang terinjeksi


Campuran
dalam kurun waktu 5-30 menit
1:4 maksimal 200 liter
1:3 maksimal 200 liter
1:2 maksimal 200 liter
1:1 sampai selesai
Tabel 3.4 Campuran Grouting

Selesai grout apabila dalam 30 menit bubur semen sudah tidak masuk lagi
atau lebih kecil 20 liter.

Pada lubang CH1 kedalaman 21 – 26 m diperoleh nilai Lugeon sebesar 23.39

Karena nilai Lugeon cukup besar maka grouting dilakukan langsung dengan
campuran semen dan air 1 : 1.
49

Camp Persia Terinj S Persia Terinj


uran pan eksi isa pan eksi
(
C:W (ltr) ( ltr ) ( Kg ) ( Kg )
Kg ) Commented [IR43]: tidak ada spasi antara tanda kurung

1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
1:1 65 65 0 50 50
2
1:1 65 65 50 34
0
2
20 0 16 0
0
Tabel 3.5 Rincian injeksi semen dan air CH1 21 - 26 m Commented [IR44]: Nama Tabel di atas

Air dengan berat jenis 1 maka 1 kg = 1 liter, Semen dengan berat jenis 3,14
maka 1 kg = 0,318 liter, sehingga 1 sak (50 kg) = 15,92 liter.

Peninjeksian dilakukan 10 kali sampai campuran tidak dapat masuk lagi


dengan air terinjeksi 585 liter dan semen 434 kg, total volume campuran dalam liter Commented [IR45]: Atur penyajian dengan baik

yaitu 723,21 liter.


4 PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN PROYEK

4.1 Pelaksanaan Proyek


Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi diperlukan suatu metode untuk
menyelesaikan pekerjaan lapangan. Khususnya pada saat menghadapi kendala–
kendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan
sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai
kondisi lapangan, akan sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi
tersebut.

Oleh sebab itu metode pelaksanaan sangat diperlukan untuk mengatasi


masalah-masalah dalam pembangunan konstruksi tersebut. Metode pelaksanaan
tidak hanya membahas mengenai satu item pekerjaan saja, namun membahas secara
umum pelaksanaan pekerjaan lain yang ada di proyek pembangunan Bendungan
Leuwikeris Paket 1.

4.2 Pekerjaan Persiapan


Pada pekerjaan persiapan ada beberapa pekerjaan meliputi persiapan lokasi
proyek serta penyediaan sarana dan prasarana. Pekerjaan persiapan bertujuan untuk
mengatur letak bangunan-bangunan penunjang sehingga pelaksanaan pekerjaan
dapat berjalan dengan efisien, lancar, aman, dan sesuai rencana kerja yang telah
dibuat.

Sebelum dilaksanakannya konstruksi, maka diperlukan pekerjaan persiapan.


Adapun pekerjaan persiapan meliputi:

4.2.1 Direksi Keet


Kantor Proyek dibangun sebagai tempat bekerja bagi para staf baik staf dari
kontraktor, pengawas, maupun pemilik proyek di lapangan. Pembuatan Direksi
Keet tidak dibangun secara permanen karena sifat bangunan tersebut hanya
sementara, namun tetap mengutamakan kenyamanan yang mengacu pada
spesifikasi teknis dokumen pelelangan.

50
51

Gambar 4.1 Direksi keet

4.2.2 Los Kerja Besi


Los kerja merupakan tempat atau pabrikasi untuk memotong maupun
membengkokan besi sesuai gambar.

Gambar 4.2 Los kerja besi

4.2.3 Gudang penyimpanan


Gudang merupakan tempat penyimpanan material, alat, dan bahan bakar.
52

Gambar 4.3 Gudang penyimpanan


1. Pagar Proyek

Kontruksi pagar proyek dibuat dengan menggunakan dinding seng dan


diperkuat dengan menggunakan tiang-tiang besi atau kayu dan diikat dengan
paku/baut pengikat dengan jarak tertentu. Sehingga konstruksinya kuat dan sesuai
dengan fungsi yakni untuk menjamin keamanan pekerja dalam lingkungan proyek.

Gambar 4.4 Pagar proyek


2. Parkiran Alat Berat

Parkiran ini khusus digunakan untuk alat berat saja diantaranya excavator,
ripper dan dozer.
53

Gambar 4.5 Parkiran alat berat


3. Pembuatan base camp staf proyek

Pembangunan base camp atau biasa disebut dengan mess sebagai sarana bagi
para staf untuk beristirahat dari kesibukan kerja. Mess dibangun harus
mementingkan keamanan dan kenyamanan.

Gambar 4.6 Base camp staff proyek


4.3 Pelaksanaan Pekerjaan
Pada proyek pembangunan Bendungan Leuwikeris Paket 1 melaksanakan
pekerjaan sebgai berikut:
54

4.3.1 Pekerjaan Clearing dan Grubbing

Gambar 4.7 Pekerjaan clearing dan grubbing


Pekerjaan ini dilaksanakan untuk membuang lapisan tanah permukaan dan
membersihkan tumbuh-tumbuhan di dalam area kerja sesuai dengan dokumen
kontrak.

No Tenaga Alat

1 Operator Excavator

Dumptruck

Dozer

2 Surveyor Total Station

3 Mandor
Tabel 4.1 Alat-alat clearing dan grubbing

Tahapan Kerja :
55

Mulai

Pekerjaan Persiapan
-Pengukuran
-Mobilisasi alat

Inventori tanaman yang di


clearing & grubbing

Clearing & grubbing

Pembuangan hasil clearing


& grubbing dengan
dumptruck

a. Surveyor menetapkan batas-batas pekerjaan sesuai dengan elevasi yang


disyaratkan dan direncanakan.
b. Penempatan dan persiapan alat yang akan digunakan
c. Memisahkan jenis tanaman yang akan di clearing dan grubbing
d. Pembersihan lahan dengan alat berat
e. Membuang hasil pembersihan lahan dengan dumptruck
56

4.3.2 Pekerjaan Galian

Gambar 4.8 Pekerjaan galian


Pekerjaan galian tanah pada umumnya dilaksanakan untuk menghilangkan
lapisan tanah atas (top soil) sampai menemukan elevasi yang sesuai kemudian
dibuang ke disposal. Namun pada bagian pondasi dan sandaran galian tanah dan
galian batu harus sampai menemukan lapisan batu keras.

No Tenaga Alat

1 Operator Excavator

Ripper

Dumptruck

Dozer

2 Surveyor Total Station

3 Mandor
Tabel 4.2 Alat-alat pekerjaan galian

Tahapan kerja :
57

Mulai

Pekerjaan Persiapan
-Pengukuran
-Mobilisasi alat

Galian

Selesai

a. Surveyor menetapkan batas-batas pekerjaan sesuai dengan elevasi


yang disyaratkan dan direncanakan
b. Penempatan dan persiapan alat yang akan digunakan
c. Menggali sesuai elevasi yang disyaratkan
d. Membuang hasil galian dengan dumptruck.
58

4.3.3 Pekerjaan Grouting Test

Gambar 4.9 Pekerjaan grouting test


Sebuah bendungan dibangun melintang pada daerah aliran sungai. Sering kali
batuan yang merupakan bagian dari fondasi bendungan dan bangunan
pelengkapnya tidak memenuhi kriteria kekuatan dan juga sifat kelulusan airnya.
Sehingga diperlukan sementasi atau grouting. Untuk mendapatkan rencana
grouting yang efektif dan efisien maka dilakukan terlebih dahulu pekerjaan
grouting test.

Berikut adalah alat-alat yang digunakan dalam pelaksanaan grouting test:

No Alat Gambar

1. Mesin Bor
59

2. Mata bor

3. Tabung penginti

4. Pengukur debit dan tekanan

5. Pompa air
60

6. Karet packer

7. Mixer

8. Pompa grout

9. Core box

Tabel 4.3 Alat-alat grouting test


61

Tahapan kerja:

Pemboran
(drilling)

Pencucian lubang bor


(washing)

Pemasangan packer

Pengujian air
(water pressure test)

Penyuntikan semen
(grouting)

Penyumbatan lubang grout


(plugging)

a. Juru bor melakukan pemboran dengan cara rotary method pada titik yang
telah ditentukan dalam pola grouting test.
b. Melakukan pencuian lubang bor dengan air untuk menghilangkan sisa-sisa
pemboran.
c. Pemasangan packer.
d. Pengujian air bertekanan dengan tekanan yang sudah ditentukan untuk
setiap stage-nya, dan mengukur jumlah debit yang masuk.
e. Setelah test diatas dilakukan grouting sesuai dengan nilai lugeon yang
diperoleh.
62

f. Menutup lubang grouting.

4.3.4 Pekerjaan Soil Nailing Test

Gambar 4.10 Pekerjaan soil nailing test


Pekerjaan soil nailing test dilakukan untuk menguji kekuatan tarik dari tiga
jenis nail/besi pancang pada penggunaan macmat sebagai perbaikan stabilitas
lereng.
Adapun jenis besi yang di test diantaranya:
i. Besi polos
ii. Besi dengan mata sirip
iii. Besi dengan mata payung
Alat-alat yang digunakan adalah:
1. Pompa hidrolik
2. Pressure gauge
4.4 Pengawasan Pekerjaan
Suatu pembanguan sebuah proyek, akan dinyatakan berhasil apabila berjalan
dan memperoleh hasil akhir pekerjaan yang sesuai dengan rancana awal proyek
tersebut. Dalam hal ini proyek memerlukan pengawasan supaya dapat berjalan
dengan baik, dan juga sebagai acuan supaya apa yang dikerjakan sesuai dengan
yang direncanakan. Jadi dalam pengawasan tindakan yang dilakukan bersifat aktif
dalam arti apabila dalam pelaksanaan ditemukan suatu kesalahan maka pengawas
akan langsung menegur untuk diadakan perbaikan, oleh sebab itu pengawasan
63

dilakukan selama dan setelah pekerjaan dilaksanakan. Dalam hal ini pengawasan
dalam bidang teknis ini menyangkut masalah pekerjaan.

Di Proyek Bendungan Leuwikeris Paket 1 ini pekerjaan proyek diawasi oleh


pihak owner dan pihak konsultan supervisi. Adapun beberapa tugas dan tanggung
jawab pengawas pekerjaan dari pihak owner:

1. Memberikan bimbingan teknis kepada penyedia jasa sesuai arahan

Pejabat Pembuat Komitmen;

2. Melaksanakan Pengawasan dan Pengendalian Pekerjaan yang

dilaksanakan Penyedia Jasa baik terhadap kualitas, kuantitas maupun

waktu pelaksanaan pekerjaan;

3. Melaksanakan pengawasan pengukuran di lapangan dan menerapkan

hasil pengukuran dalam gambar, baik pengukuran awal (MC 0%) dan

pengukuran akhir (MC 100%);

4. Melaksanakan perhitungan-perhitungan volume pekerjaan dan

laporan pengukuran;

5. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap dimensi

(ukuran) bangunan yang dilaksanakan oleh penyedia jasa;

6. Memeriksa Laporan Harian, Mingguan, Bulanan dan Dokumentasi

pelaksanaan mulai 0%-50% sampai dengan 100% yang dibuat oleh

Penyedia Jasa;

7. Menandatangi laporan harian dan mingguan dan bertanggungjawab

atas kebenaran laporan tersebut;

8. Memberikan laporan dan usulan penyelesaian kepada Pejabat

Pembuat Komitmen apabila dijumpai hal-hal yang menyimpang

diluar rencana.
64

Tugas pengawasan konsultan supervisi tidak jauh berbeda dengan tugas


pengawasan pihak owner, yang membedakannya konsultan supervisi ada setiap hari
dan mengawasi setiap item perkerjaan yang dikerjaan kontraktor. Sumber daya
manusianya memiliki kompetensi diberbagai bidang keahlian dan disebar untuk
mengawasi pekerjaan sesuai dengan kompentensi yang dimiliki pekerja. Tugas
intinya yaitu monitoring pekerjaan serta mengendalikan mutu dan waktu pekerjaan
sesuai dengan kontrak, jika ada masalah teknis yang menyimpang dari spesifikasi
rencana dan hal-hal diluar pengendalian kualitas dan kuantitas dirapatkan dengan
pihak direksi untuk mendapat solusi yang aman dan efisien, tapi tentunya tidak
menyimpang dari kontrak dan speksifikasi. Konsultan Supervisi memakai atribut
alat pelindung diri berwarna biru dan ada disetiap item pekerjaan yang sedang
dikerjakan di lapangan.
5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Setelah melakukan kerja praktek selama 4 bulan di proyek pembangunan
Bendungan Leuwi Keris Paket 1 disimpulkan bahwa :

1. Pelaksanaan pekerjaan galian tanah dan batu dilakukan sampai menemui


lapisan keras.
2. Pelaksanaan grouting test dilakukan dengan metode downstage pada tiga Commented [IR46]: Sesuaikan dengan tujuan

lokasi yaitu sandaran kanan, sandaran kiri dan sungai. Kesimpulan menjawab tujuan

3. Dengan jarak spasi 2 meter pada pola grouting test sandaran kanan dan
sandaran kiri setelah dilakukan evaluasi ternyata setiap titik kurang begitu
saling berkaitan sehingga masih terdapat nilai lugeon yang tinggi di
beberapa titik.
5.2 Saran
Berikut ini adalah saran yang bisa dilakukan pada proyek pembangunan
Bendungan Leuwi Keris, yaitu :

1. Memaksimalkan alternatif metode kerja sehingga ketika terjadi suatu


kendala dapat diatasi dengan baik.
2. Koordinasi antara pihak yang bersangkutan dalam satu item pekerjaan
sebaiknya lebih dimaksimalkan, sehingga hasil yang didapat akan lebih
baik.

65
66

DAFTAR PUSTAKA