Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kencing batu atau urolithiasis merupakan salah satu masalah kesehatan


yang serius baik di indonesia maupun dunia. Di amerika serikat khususnya bagian
tenggara terdapat area dimana penduduknya memiliki resiko tinggi menderita
kencing batu dan area tersebut disebut “sabuk batu”. Laki-laki akan beresiko
kencing batu 3 kali lebih besar diabndingkan wanita, dengan rentang usia berkisar
30-50 tahun. Penyakit ini umum terjadi di Eropa atau Asia. (Joyce : 2014)
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), sebanyak 10% masyarakat di negara
maju memiliki risiko untuk menderita batu ginjal dan 50% pada mereka yang
pernah menderita, batu ginjal akan timbul kembali di kemudian hari. Di Indonesia
sendiri dicurigai adanya fenomena gunung es dimana jumlah kasus yang tidak
terdeteksi jauh lebih banyak daripada yang terdeteksi akibat kurangnya
pengetahuan masyarakat dan jangkauan pelayanan kesehatan yang masih rendah.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapat dari Untuk itu perlu kita mengetahui
bagaimana konsep dari urolithiasis, dan sebagai perawat kita harus mengetahui
dan mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan pada klien dengan urolithiasis.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa itu Urolithiasis?
1.2.2 Bagaimana Etiologi dari urolithiasis?
1.2.3 Apa saja tipe batu pada urolithiasis?
1.2.4 Bagaimana manifestasi klinis dari urolithiasis?
1.2.5 Bagaimana patofisiologii dari urolithiasis?
1.2.6 Apa saja pemeriksaan penunjang yang digunakan pada urolithiasis?
1.2.7 Apa saja komplikasi dari urolithiasis?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan dari urolithiasis?

1
1.2.9 Bagaimana asuhan keperawatan pada urolithiasis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahuhi dan memahami konsep dari urolithiasis mulai dari
definisi, etiologi, tioe batu, manifestasi klinis, patofisiologi,
pemeriksaan penunjang yang digunakan, komplikasi dari urolithiasis,
penatalaksanaan dari urolithiasis.
1.3.2 Mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan urolithiasis.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Urolithiasis

Batu ginjal adalah batu kuli-kuli di dalam nefron dan keberadaanya dapat
menghambat aliran urin, terjadinya obstruksi, secara perlahan dapat merusak unit
fungsional (nefron ginjal). Selain itu dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa
dan ketidaknyamanan (smeltzer: 2006: 1460).

Joyce (2014) mendefinisikan kencing batu (urolithiasis) adalah kalsifikasi


batu di dalam sistem urine yang terbentuk di dalam ginjal (nefrolitiasis), dapat
pula terbentuk di dalam atau bermigrasi ke sistem urine bawah, dan bersifat
asimtomatis.

Definisi lain dari Nian (2017) urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya
penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal.

Jadi, urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat,


calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal yang dapat menghambat
aliran urin, terjadinya obstruksi yang secara perlahan dapat merusak ginjal.

2.2 Etiologi Urolithiasis


Faktor resiko terjadinya kencing batu, yaitu : (Nian : 2017)
a. Faktor endogen
Faktor genetik pada hypersistinuria, hyperkalsiuria, dan
hiperoksalouria.
b. Faktor eksogen
- Infeksi
Infeksi Saluran Kemih (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan
ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing

3
(BSK). Infeksi bakteri akan memecah urerum dan membentuk
amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.
- Statis dan obstruksi urine
Adanya obstruksi dan statis urine ini akan mempermudah
terjadinya infeksi saluran kencing.
- Jenis kelamin
Lebih banyak terjadi pada laki-laki berusia 30-50 tahun dari pada
wanita dengan perbandingan 3 : 1
- Ras
Penyakit ini umum terjadi pada masyarakat Eropa dan Asia.
- Keturunan
- Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan
mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang
minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine
meningkat (terjadinya supersaturasi). Sering mengkonsumsi air
yang mengandung mineral dalam kadar tinggi.
- Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan
terjadinya batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
Imobilisasi akan menyebabkan statis.
- Suhu
Tempat yang bersuhu tinggi akan menyebabkan banyaknya
mengeluarkan keringkat. Jika tidak dibarengi dengan
mengkonsumsi air putih yang cukup maka akan terjadi dehidrasi
yang menyebabkan terjadinya supersaturasi.
- Makanan
Diet tinggi purin, oksalat, suplemen kalsium dan protein hewani
juga menjadi faktor resiko. (Joyce : 2014)
c. Faktor lain
- Gangguan metabolik yang menyebabkan peningkatan kadar
kalsium atau ion lainnya dalam urine.

4
- Riwayat kencing batu sebelumnya.
- Tinggal di area “sabuk batu” (bagian tenggara Amerika Serikat
dengan penduduk beresiko tinggi menderita kencing batu.
- Pemakaian kateter jangka panjang.
- Penyakit kandung kemih neurogenenik
- Riwayat mutilasi genital pada wanita. (Joyce : 2014)

2.3 Tipe-Tipe Batu


Tipe batu dapat terdiri dari satu jenis kristal tau kombinasidari beberapa
jenis, tipe-tipe batu pada urolithiasis yaitu : (Joyce : 2014)
a. Kalsium

Biasa terbentuk dari klasium fosfat atau kalsium oksalat. Ukuran


bervariasi, dari yang kecil (pasir/kerikil) hingga besar memenuhi
seluruh pelvis ginjal dan meluas hingga klaiks (staghorn).

Hiperkalsiuria ini dapat disebabkan oleh ;


- Peningkatan reabsorbsi tulang yang membebaskan kalsium, seperti
pada penyakit paget, hiperparatiroidisme, Chusing, imobilitas, dan
osteolisis yang disebabkan keganasan payudara, paru-paru dan
prostat.

5
- Penyerapan kalium dalam jumlah besar oleh usus seperti pada
sindrom susu-basa (milk-alkali), sarkoidosis, dan konsumsi vitamin
D berlebihan.
- Terganggunya penyerapan klasium seperti pada kondisi asidosis
tubular renal.
- Kelainan struktural seperti ginjal spon (sponge kidney).
Variasi Hiperkalsiuria ada 2;
1. Peningkatan penyerapan kalsium pada usus atau peningkatan
reabsorbsi tulang. Hal ini menyebabkan tingginya kadar kalsium
dalam darah dan memicu peningkatan filtrasi kalsium pada ginjal
dan supresi hormon paratiroid (PTH). Hal tersebut menyebabkan
penurunan reabsorbsi tubular sehingga meningkatkan konsentrasi
kalsium dalam urin.
2. “kebocoran ginjal” akan kalsium disebabkan defek pada tubular.
Hal ini menyebabkan hipokalsemia yang manstimulasi produksi
PTH, yang kemudian meningkatkan penyerapan kalsium pada usus
sehingga zat terlarut kalsium meningkat (pemboros kalsium).
b. Oksalat

Hal ini berhubungan dengan :


- Penyerapan berlebihan oksalat.
- Reseksi postileal atau operasi bypass usus kecil.
- Overdosis asam asorbik (vit C) yang memetabolisme oksalat.
- Familial oksaluria (oksalat dalam urine).
- Malabsorbsi lemak, yang menyebabkan peningkatan kalsium,
sehingga membebaskan oksalat dari penyerapan.

6
c. Struvit

Dikenal dengan batu infeksi karena terbentuk akibat dari infeksi


saluran kemih. Infeksi ini disebabkan oleh kuman-kuman pemecah
urea atau urea spilitter (proteus spp, klabsiella, serratia, enterobakter,
pseudomonas, dan stapillokokus) menghasilkan enzim urease dan
merubah urine menjadi basa melalui hidrolisis urea menjadi amoniak.
Suasana ini memudahkan garam-garam magnesium, ammonium fosfat,
dan karbonat membentuk batu magnesium ammonium fosfat (MAP).
(Nian : 2017)
d. Asam urat

Faktor terbentuknya asam urat :


- Peningkatan eksresi asam urat, deplesi cairan, dan pH urine yang
rendah.
- Hiperurisuria : kadar asam urat melebihi 850mg/24 jam.
- Konsumsi makanan yang banyak mengandung purin (basa kristal).
- Pengobatan pasien kanker dengan zat yang menyebabkan destruksi
sel-sel secara cepat dapat meningkatkan konsentrasi asam urat di
urine.

7
e. Sistin

Batu ini akibat dari kesalahan metabolik kongenital yang diwariskan


sebagai kelainan autosomal resesif.
f. Xanthine

Batu ini terjadi akibat turunan yang jarang, dimana terdapat defisiensi
xanthine oxidase yang mengendap di urin yang asam.

2.4 Manifestasi Klinis


Dalam Joyce (2014) dikatakan manifestasi klinis dari urolithiasis adalah :
a. Nyeri tajam parah secara tia-tiba disebabkan oleh pergerakan batu dan
iritasi yang timbul
b. Nyeri dapat berupa nyeri kolik renal (berasal dari regio lumbar bagian
dalam menjalar ke sekitardan turun ke testis / kandung kemih) atau
nyeri kolik ureter (menjalar menuju genitalia dan paha).
c. Mual, muntah, pucat, suara napas gemuruh, peningkatan tekanan darah
dan nadi, diaforesis dan cemas.
d. Tekanan pada leher kandung kemih saat berkemih menyebabkan berat
di regio suprapubik, obstruksi berkemih, pengurngan kapasitas
kandung kemih, dan aliran urine yang berselang (tanda batu sudah
berpindah)

8
e. Suhu badan naik, hitung sel darah putih, obstruksi urine yang
menyebabkan hidroureter, hidronefrosis. (Joyce : 2014)

2.5 Patofisiologi
Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan
urolitiasis belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor predisposisi
terjadinya batu antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake
cairan yang kurang dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi
saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk pembentukan batu.
Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan faktor lain
mendukung pembentukan batu meliputi : pH urin yang berubah menjadi asam,
jumlah solute dalam urin dan jumlah cairan urin. Masalah-masalah dengan
metabolisme purin mempengaruhi pembentukan batu asam urat. pH urin juga
mendukung pembentukan batu. Batu asam urat dan batu cystine dapat mengendap
dalam urin yang asam. Batu kalsium fosfat dan batu struvite biasa terdapat dalam
urin yang alkalin. Batu oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium menuju
tulang akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan menambah cairan yang
akan diekskresikan. Jika cairan masuk tidak adekuat maka penumpukan atau
pengendapan semakin bertambah dan pengendapan ini semakin kompleks
sehingga terjadi batu.
Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi, ada batu yang
kecil dan batu yang besar. Batu yang kecil dapat keluar lewat urin dan akan
menimbulkan rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah
dalam urin. Sedangkan batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran
kemih yang menimbulkan dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks
urin dan akibat yang fatal dapat timbul hidronefrosis karena dilatasi ginjal.
Kerusakan pada struktur ginjal yang lama akan mengakibatkan kerusakan
pada organ-organ dalam ginjal sehingga terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal
tidak mampu melakukan fungsinya secara normal. Maka dapat terjadi penyakit
GGK yang dapat menyebabkan kematian

9
2.6 WOC

Supersaturasi urine

↑ zat terlarut

Terjadi proses nukleasi RK urolithiasis

Kurang zat inhibitor ↑ mukoprotein

menempel
Agregasi kristal Matriks berserabut

Agregasi kristal

Terbentuk batu

Nyeri Akut

10
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium:
- Urinalisa : warna urin berubah kning, coklat gelap, berdarah
menunjukan SDM, SDP, Kristal (sistin, as. Urat, kalsium oksalat),
serpihan, mineral, bakteri, pus, pHasam, dan alkalinm
(meningkatkan magnesium, fosfat, ammonium, atau batu kalium
fosfat)
- Urine 24 jam : terjadi peningkatan kreatinin, as. Urat, kalsium,
fosfat, oksalat, ataupun sistin.
- Dapat terjadi indikasi ISK (staphilococus aureus, proteus,
klebsiela, pseudomonas)
- Hitung darah lengkap : SDP mungkin meningkat menunjukan
infeksi/ septicemia
- Hb/ht: abnormal boila pasien dehidrasi nitrat atau polisitemia
terjadi mendorong prespitasi pemadatan ataupun anemia akibat
perdarahan karena disfungsi ginjal.
- Hormone paratiroid mungkin meningkat bila terjaci gagal
ginjal.pth merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang
meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine()
b. Foto polos abdomen
Tujuan pembuatan foto polos abdomen adalah untuk melihat
kemungkinan adanya batu radioopak di saluran kemih. Batu-batu jenis
kalsium oksalat dan kalsiumfosfat bersifat radioopak dan paling sering
dijumpai pada diantara batu-baru jenis lain sedangkan batu asam urat
sifatnya non opak atau radio lusen.
c. Pielografi intravena (IVP)
Tujuannya menilai keadaan anatoni dan fungsi ginjal serta
mendeteksi adanya batu semi opak ataupun batu non opak yang tidak
dapat terlihat oleh foto polos perut. Jika IVP belum dapat menjelaskan
keadaan system kandung kemih akibat adanyapenurunan fungsi ginjal
sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.
d. Ultrasonografi

11
e. Ct scan mengidentifikasi dan menggammbarkan kalkuli dan masa lain :
ginjal, ureter, dan distensi kandung kemih.
f. Sistoureterokopi untuk memvisualisasikan secara langsung kandung kemih
dan ureter dapat menunjukan batu dan atau defek obstruksi.
g. Ultrasound untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu

2.8 Komplikasi
Komplikasi batu ginjal yang dapat terjadi menurut Guyton (1990) dalam
Suzzane :
a. Gagal ginjal
Terjadinya kerusakan neuron yang lebih lanjut dan pembuluh darah
yang disebut kompresi batu pada membrane ginjal oleh karena suplai
oksigen terhambat. Hal ini menyebabkan iskemik ginjal dan jika dibiarkan
menyebabkan gagal ginjal.
b. Infeksi
Dalam aliran urin yang statis merupakan tempat yang baik untuk
perkembangbiakan mikroorganisme. Sehingga akan menyebabkan infeksi
pada peritoneal.
c. Hidronefrosis
Oleh karena aliran urin terhambat menyebabkan urin tertahan dan
menumpuk di ginjal dan lama-kelamaan ginjal akan membesar karena
penumpukan urin
d. Avaskuler iskemia
Terjafi karena aliran darah ke dalam jaringan berkurang sehingga
terjadi kematian jaringan.

2.9 Penatalaksanaan
Tidakan penatalaksanaan kasus urolitiasis bertujuan untu menghilangkan
batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron , mengendalikan infeksi,
dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
1. Pengurangan nyeri

12
Tujuannya adalah untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya
dapat dihilangkan: morphine atau mepedrine diberikan untuk mencegah
syock dan sinkop akibat nyeri luar biasa. Mandi air panas atau hangat
diarea panggul dapat bermanfaat. Cairan diberika kecuali pasien
mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kendisi
lain yang membutuhkan pembatasan cairan hal ini meningkatkan
peningkatan tekanan hidrostatik pada ruang dibelakang batu sehingga
mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjamin
haluaran yang besar.
2. Pengangkatan Batu
Pemeriksaan sistoskopik dan paase kateter uretral kecil untuk
menghilangkan batu yang menyebabkan obstruuksi , akan segera
mengurangi tekanan-tekanan pada ginjal dan mengurangi nyeri.
3. Terapi Nutrisi dan Medikasi
Terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu ginjal.
Masukan cairan yang adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam
diet yang merupakan bahan utama pembentuk batu (misalnya Kalsium)
efektif untuk mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan
ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien dengan batu renal paling sedikit
harus minum 8 gelas/ hari untuk mempertahankan keenceran urin, kecuali
ada kontraindikasi.
4. Lithotripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal (ESWL)
Prosedur noninvasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di
kaliks ginjal. Setelah batu pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir,
sisa batu tersebut dikeluarkan sepontan.
5. Metode Endurologi Pengangkatan Batu
Menggabungkan ketrampilan ahli radiologi dan urologi untuk
mengangkat batu ren tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan
(nefrolitotomi perkutan) dan nefroskopi dimasukan ke traktus perkutan
yang sudah dilebarkan kedalam parenkim ginjal, batu dapat diangkat
dengan forceps atau jating, tergantung dari ukurannya
6. Ureteroskopi

13
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses dengan memasukan
suatu alat ureteroskop melalui sitoskop. Batu dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser litotripsi elektrohidraulik, atau ultrasound kemudian
diangkat.
7. Pelarutan Batu
Infus cairan kemolitik misalnya: agen pembuat basa (alkylating)
dan pembuat asam (acidifying) untuk melarutkan batu dapat dilakukan
sebagai alternatif penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap
terapi lain yang menolak metode lain atau memiliki batu struvit.
8. Pembedahan (Operasi)
Sebelum ada lithotripsi pengangkatan batu ginjal secara bedah
merupakan metode terapi utama. Utuk saat ini bedah dilakukan pada 1-2
% pasien. Intervensi bedah dilakukan jika batu tersebut tidak berespon
terhadap penaganan lain.

14
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas
Secara otomatis ,tidak factor jenis kelamin dan usia yang signifikan
dalam proses pembentukan batu. Namun, angka kejadian urolgitiasis
dilapangan sering kali terjadi pada laki-laki dan pada masa usia
dewasa. Hal ini dimungkinkan karena pola hidup, aktifitas, dan
geografis.
2. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan yang sering terjadi pada klien batu saluran kemih ialah
nyeri pada saluran kemih yang menjalar, berat ringannya tergantung
pada lokasi dan besarnya batu, dapat terjadi nyeri/kolik renal klien
dapat juga mengalami gangguan gastrointestinal dan perubahan.
3. Pola psikososial
Hambatan dalam interaksi social dikarenakan adanya
ketidaknyamanan(nyeri hebat) pada pasien, sehingga focus
perhatiannya hanya pada sakitnya. Isolasi social tidak terjadi karena
bukan merupakan penyakit menular.
4. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Penurunan aktifitas selama sakit terjadi bukan karena kelemahan
otot, tetapi dikarenakan gangguan rasa nyaman (nyeri). Kegiatan
aktifitasrelative dibantu oleh keluarga,misalnya berpakaian,
mandimakan,minum dan lain sebagainya,terlebih jika kolik
mendadakterjadi.
b. Terjadi mual mutah karena peningkatan tingkat stres pasien akibat
nyeri hebat. Anoreksia sering kali terjadi karena kondisi ph
pencernaan yang asam akibat sekresi HCL berlebihan. Pemenuhan
kebutuhan cairan sbenarnya tidak ada masalah. Namun, klien
sering kali membatasi minum karena takut urinenya semakin
banyak dan memperparah nyeri yang dialami.

15
c. Eliminasi alvi tidak mengalami perubahan fungsi maupun pola,
kecuali diikuti oleh penyakit penyerta lainnya. Klien mengalami
nyeri saat kencing (disuria, pada diagnosis uretrolithiasis).
Hematuria (gross/flek), kencing sedikit (oliguaria), disertai vesika
(vesikolithiasis).
5. Pemeriksaan fisik
Anamnese tentang pola eliminasi urine akan memberikan data
yang kuat.Oliguria, disuria, gross hematuria menjadi ciri khas dari
urolithiasis. Kaji TTV, biasanya tidak perubahan yang mencolok pada
urolithiasis. Takikardi akibat nyeri yang hebat, nyeri pada pinggang,
distensi vesika pada palpasi vesika (vesikolithiasis/uretrolithiasis),
teraba massa keras/batu (uretrolthiasis).
a. Keadaan umum
Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai
tanpa kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung
pada letak batu dan penyulit yang ditimbulkan. Terjadi
nyeri/kolik renal klien dapat juga mengalami gangguan
gastrointestinal dan perubahan.
b. Tanda-tanda vital
Kesadaran compos mentis, penampilan tampak obesitas,
tekanan darah 110/80 mmHg, frekuensi nadi 88x/menit,
frekuensi nafas 20 kali/menit, suhu 36,2 C, dan Indeks Massa
Tubuh (IMT) 29,3 kg/m2. Pada pemeriksaan palpasi regio
flank sinistra didapatkan tanda ballotement (+) dan pada
perkusi nyeri ketok costovertebrae anglesinistra (+). (Nahdi :
2013)
c. Pemeriksaan fisik persistem
1) Sistem persyarafan, tingkat kesadaran, GCS, reflex bicara,
compos mentis.
2) Sistem penglihatan, termasuk penglihatan pupil isokor,
dengan reflex cahaya (+) .

16
3) Sistem pernafasan, nilai frekuensi nafas, kualitas, suara dan
jalan nafas. Atau tidak mengeluh batuk atau sesak. Tidak
ada riwayat bronchitis, TB, asma, empisema, pneumonia.
4) Sistem pendengaran, tidak ditemukan gangguan pada
sistem pendengaran.
5) Sistem pencernaan, Mulut dan tenggorokan: Fungsi
mengunyah dan menelan baik, Bising usus normal.
6) Sistem abdomen, adanya nyeri tekan abdomen, teraba
massa keras atau batu, nyeri ketok pada pinggang.
7) Sistem reproduksi tidak ada masalah/gangguan pada sistem
reproduksi.
8) Sistem kardiovaskuler, tidak ditemukan gangguan pada
sistem kardiovaskular.
9) Sistem integumen, hangat, kemerahan, pucat.
10) Sistem muskuluskletal, mengalami intoleransi aktivitas
karena nyeri yang dirasakan yang melakukan mobilitas
fisik tertentu.
11) Sistem perkemihan, adanya oliguria, disuria, gross
hematuria, menjadi ciri khas dari urolithiasis, nyeri yang
hebat, nyeri ketok pada pinggang, distensi vesika pada
palpasi vesika (vesikolithiasis/ urolithiasis, nyeri yang
hebat, nyeri ketok pada pinggang, distensi vesika pada
palpasi vesika (vesikolithiasis/uretrolithiasis), teraba massa
keras/batu (uretrolithiasis). nilai frekuensi buang air kecil
dan jumlahnya, Gangguan pola berkemih.
6. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah lengkap,
kimia darah (ureum, kreatinin, asam urat), dan urin lengkap.
Hasilnya ditemukan peningkatan kadar leukosit 11.700/µl
(normalnya: 5000-10.000/µl); kimia darah tidak ditemukan
peningkatan kadar ureum, kreatinin, maupun asam urat; urin

17
lengkap ditemukan warna keruh, epitel (+), sedimen (+),
peningkatan kadar eritrosit 5-7/LPB (normalnya: 0-1/LPB),
leukosit 10-11/LPB (0-5/LPB).
b. Radiologis
Pada pemeriksaan radiologi dilakukan rontgen Blass Nier
Overzicht(BNO) dan ultrasonografi (USG) abdomen. Hasilnya
pada rontgen BNO didapatkan tampak bayangan radioopaque pada
pielum ginjal setinggi linea paravertebrae sinistra setinggi lumbal
III Ukuran 1,5 x 2 cm; USG didapatkan tampak batu pada ginjal
kiri di pole atas-tengahbawah berukuran 1 cm x 1,2 cm x 1,8 cm;
tampak pelebaran sistem pelvicokaliseal.
1) Foto Polos Abdomen
Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk
melihatkemungkinan adanya batu radiopak di saluran kemih.
Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat
radiopak dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain,
sedangkan batu asama urat bersifat non-opak (radiolusen)
2) Pielografi Intra Vena (PIV)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keadaan anatomi dan
fungsi ginjal. Selain itu PIV dapat mendeteksi adanya batuk
semiopakataupun batu non-opak yang tidak dapat terlihat oleh
foto polos perut. Jika PIV belum dapat menjelaskan keadaan
sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungis ginjal
sebagai gantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.
3) Ultrasonografi
USG dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani
pemeriksaan PIV, yaitu pada keadaan-keadaan : alergi terhadap
kontras, faal ginjal yang menurun, dan pada wanita yang
sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat menilai adanya batu di
ginjal atau di bulibuli, hidronefrosis, pionefrosis.
7. Penatalaksanaan

18
Batu yang sudah menimbulkan masalah pada saluran kemih
secepatnya harus dikeluarkan agar tidak menimbulkan penyulit yang
lebih berat. Indikasi untuk melakukan tindakan/terapi pada batu
saluran kemih adalahjika batu telah menimbulkan : obstruksi, infeksi,
atau harus diambil karena sesuatu indikasi sosial. Obstruksi karena
batu saluran kemih yang telahmenimbulkan hidroureter atau
hidronefrosis dan batu yang sudah menyebabkan infeksi saluran
kemih, harus segera dikeluarkan. Kadang kala batu saluran kemih
tidak menimbulkan penyulit seperti di atas tetapi diderita oleh seorang
yang karena pekerjaannya mempunyai resiko tinggi dapat
menimbulkan sumbatan saluran kemih pada saat yang bersangkutan
sedang menjalakankan profesinya, dalam hal ini batu harus
dikeluarkan dari saluran kemih.
B. Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (biologis, fisik,
psikologis).
Definisi: pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
yang muncul akibat kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa.
Batasan karakteristik: Faktor yang berhubungan :
a. Perubahan selera makan Agen cedera (misalnya
b. Perubahan tekanan darah biologis, fisik, dan psikologis)
c. Perubahan prekuensi jantung ditandai dengan:
d. Perubahan prekuensi a. Keluhan nyeri, colik billiary
pernafasan (frequensi nyeri ).
e. Diaphoresis b. Ekspresi wajah saat nyeri,
f. Prilaku ditraksi prilaku yang hati-hati.
g. Sikap melindungi area nyeri c. Respon autonomik
h. Gangguan tidur (perubahan pada tekanan
darah ,nadi).
d. Fokus terhadap diri yang
terbatas.

19
2. Retensi Urine berhubungan dengan sumbatan dan tekanan ureter
tinggi.
Definisi: pengosongan kandung kemih tidak komplet
Batasan karakteristik: Faktor yang Berhubungan :
a. Tidak ada haluaran urie a. Sumbatan
b. Distensi kandung kemih b. Tekanan ureter tinggi
c. Menetes
d. Disuria
e. Sering berkemih
f. Inkontenensia aliran berlebih
g. Residu urine
h. Sensasi kandung kemih penuh
i. Berkemih sedikit

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi anatomic,


dan penyebab multiple.
Definisi: disfungsi pada eliminasi urine
Batasan karakteristik Faktor yang berhubungan :
a. Dissurya a. Obstopsi anatomic
b. Sering berkemih b. Penyebab multiple
c. Inkontinensia
d. Nokturya
e. Retensi
f. Dorongan
C. Intervensi
Diagnosa NOC NIC
1) Nyeri akut a. Pengendalian a. Manajemen Nyeri
berhubungan nyeri: tindakan Aktivitas :
dengan agen individu untuk - Minta pasien untuk
cedera mengendalikan menilai nyeri atau
(biologis, fisik, nyeri. ketidaknyamanan

20
psikologis Tujuan: pada skala 0 sampai
Memperlihatkan 10 (0=tidak ada nyeri
pengendalian atau
nyeri,yang dibuktikan ketidaknyamanan,
oleh indikator 10=nyeri hebat)
sebagai berikut (1-5; - Gunakan bagan alir
tidak pernah, jarang, nyeri untuk memantau
kadang-kadang, peredaan nyeri oleh
sering, atau analgesik dan
selalu: kemungkinan efek
1) Mengenali awitan sampingnya
nyeri - Lakukan pengkajian
2) Menggunakan nyeri yang
tindakan pencegahan komprehensif meliputi
3) Melaporkan nyeri lokasi, karakteristik,
dapat dilakukan awitan dan durasi,
frekuensi dan kualitas
b. Tingkat nyeri danintensitas atau
keparahan yang keparahan nyeri, dan
dapat di amati faktor presipitasinya
atau dilaporkan - Observasi isyarat
Tujuan : nonverbal
Menunjukkan tingkat ketidaknyamanan,
nyeri, yang khususnya pada
dibuktikan oleh mereka yag tidak
indikator sebagai mampu berkomunikasi
indikator berikut efektif
(sebutkan 1-5; sangat - Berikan informasi
berat, berat, sedang, tentang nyeri , seperti
ringan, penyebab nyeri, berapa
atau tidak ada): lama akan
1) Ekpresi nyeri pada berlangsung, dan

21
wajah antisispasi
2) Gelisah atau ketidaknyamanan
ketegangan otot akibat prosedur
3) Durasi episode - Ajarkan penggunaan
nyeri teknik
4) Merintih dan nonfarmakologis
menangis (misalnyaa, umpan
5) Gelisah balik biologis,
transcutaneus nerve
stimulation (tens)
hipnosis relaksasi,
imajinasi terbimbing,
terapai musik,
distraksi, terapai
bermain, terapi
aktivitas, akupresur,
kompres hangat atau
dingin, dan masase
sebelum atau setelah,
dan jika
memungkinkan selama
aktivitas yang
menimbulkan nyeri ;
sebelum nyeri terjadi
atau meningkat;dan
berama penggunaan
tindakan peredaran
nyeri yang lain.
- Gunakan tindakan
pengendalian nyeri
sebelum nyeri menjadi
lebih berat

22
- Laporkan kepada
dokter jika tindakan
berhasil
- Laporkan kepada
dokter jika tindakn
tidak berhasil atau jika
keluhan saat ini
merupakan perubahan
yang bermakna
daripengalaman nyeri
pasien di maa lalu.
b. Pemberian analgesik
Aktivitas :
- Sertakan dalam
intruksi pemulangan
pasien obat khusus
yang harus di minum,
frekuensi pemberian,
kemungkinan
efeksamping,kemungk
inan interaksi obat,
kewaspadaan khusus
saatmengkonsumsi
oabat tersebut
(misalnya, pembatasan
aktivitasfisik,
pembatasan diet), dan
nama orang yang harus
dihubungi
bilamengalami nyeri
membandel.
- Sesuaikan frekuensi

23
dosis sesuai indikasi
melalui pengkajian
nyeri dan efek
samping

2. Retensi Urine a. Kontinesia a. Perawatan retensi urine


berhubungan urine: pengendalian Aktivitas :
dengan eliminasi urine dari - Pantau penggunaan
sumbatan dan kandung kemih. agens non resep dengan
tekanan ureter Tujuan : antikolinergik atau
tinggi. Menunjukkan agonisalfa.
kontinesia urine, yang - Pantau efek obat resep,
dibuktikan oleh seperti penyekat
indicator berikut saluran kalsium dan
(sebutkan 1-5: selalu, antikolinergik.
sering, kdang-kadang, - Pantau asupan dan
jarang, atau tidak haluaran
pernah ditunjukkan): - Pantau distensi
a. Kebocoran urine kandung kemih melalui
diantara berkemih palpasi dan perkusi.
b. Urine residu pasca- - instruksikan pasien dan
berkemih > 100-200 keluarga untuk
cc mencatat haluaran
b. Eliminasi urine: urine.
pengumpulan dan - rujuk pada spesialis
pengeluaran urine. kontenensia urine.
- Berikan privasi untuk
eliminasi
- Gunakan kekuatan
sugesti dengan
mengalirkan air atau

24
membilas toilet
- Stimulasi reflek
kandung kemih dengan
menempelkan es ke
abdomen menekan ke
bagian dalam paha atau
menagalirkan air
- Berikan cukup waktu
untuk pengosongan
kandung kemih (10
menit)
b. Manajemen eliminasi
urine
Aktivitas :
- Identifikasi dan
dokumentasikan pola
pengosongan kandung
kemih
- Ajarkan pasien tentang
tanda dan gejala
infeksi saluran kemih
yang di laporkan
misalnya: demam,
menggigil, nyeri
pinggang, hematuria,
serta perubahan
konsistensi dan bau
urine.
- Lakukan program
pelatihan pengosongan
kandung kemih
- Bagi cairan dalam

25
sehari untuk menjamin
asupan yang adekuat
tanpa menyebabkan
kandung kemih over-
distensi
c. Kateterisasi urine
Aktivitas :
- Rujuk ke perawat
terapi enterostoma
untuk instruksi
kateterisasi intermiten
mandiri penggunaan
prosedur bersih setiap
4-6 jam padasaat
terjaga
3. Gangguan a. Kontenesia urine: a. Manjemen silminasi
eliminasi urine pengendalian urine: mempertahankan
berhubungan eliminasi urine pola eliminasi urine yang
dengan dari kandung optimum.
obstruksi kemih Aktivitas :
anatomic, dan Tujuan : - Pantau eliminasi urine,
penyebab Tujuan : meliputi frekuensi,
multiple. a. Menunjukkan konsisten, bau,
kontinesia urine, yang volume, dan warna,
di buktikan oleh jika perlu.
indicator berikut - Kumpulkan specimen
(sebutkan 1-5: selalu, urine porsi tengah
sering, kadanf- untuk urinalis.
kadang, jarang, atau - Ajarkan pasien tentang
tidakpernah tanda dan gejala
ditunjukkan): infeksi saluran kemih
1) Infeksi saluran - Instruksikan pasien dan

26
kemih (SDP)[sel keluarga untuk
darah mencatat haluaran
putih]<100.000) urine, bila diperlukan.
2) Kebocoran urine - Instruksikan pasien
diantara berkemih untuk berespons segera
terhadap kebutuhan
b. Eliminasi urine: eliminasi.
pengumpulan dan - Ajarkan pasien untuk
pengeluaran urine minum 200 ml cairan
Tujuan : pada saat makan, di
Menunjukkan antara waktu makan,
kontenesia urine, diantara waktu makan,
yang dibuktikan oleh dan awal petang.
indicator berikut - rujuk ke dokter jika
(sebutkan 1-5:tidak terdapat tanda dan
pernah, jarang, gejala infeksi saluran
kadang-kadang, kemih.
sering, atau selalu di
tunjukkan):
1) Eliminasi secara
mandiri
2) Mempertahankan
pola berkemih yang
dapat diduga.

27
BAB IV

PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Urolithiasis adalah urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya
penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal yang
dapat menghambat aliran urin, terjadinya obstruksi yang secara perlahan dapat
merusak ginjal. Manifestasi klinis utama yang dirasakan klien urolithiasis yaitu
nyeri akut baik terasa tajam maupun tumpul yang disebabkan pergerakan dan
iritasi yang timbul. Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau
dikenal dengan urolitiasis belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa
faktor predisposisi terjadinya batu antara lain : Peningkatan konsentrasi larutan
urin akibat dari intake cairan yang kurang dan juga peningkatan bahan-bahan
organik akibat infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk
pembentukan batu. Penatalaksanaan utama dari urolithiasis ini yaitu mengurangi
nyeri pada klien dengan asuhan keperawatan yang dapat kita berikan yaitu
memanajemen nyeri klien.

28
DAFTAR PUSTAKA

Black, Joyce M, Jane Hokanson Hawks. 2014. Keperawatan Medikal Bedah :


Manajemen Klinis untuk Hasil yang Diharapkan, Ed. 8. Singapura :
Elsevier

Nahdi TF. Jurnal Medula, Volume. 1 Nomor. 4 / Oktober 2013

Nuari, Nian Afriani, Dhina Widayati. 2017. Gangguan pada sistem Perekemihan
dan Penatalaksanaan Keperawatan. Yogyakarta : Deepublish.

Prabowo dan Pranata, 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Purnomo basuki B. 2011. Dasar-dasar urologi. Edisi ke tiga. Jakarta : Sagung


seto.

29