Anda di halaman 1dari 2

Sore yang dingin, tubuhku yang malas membaur dengan bed cover biru favoritku serasa

menjadi satu. Entah bagaimana caranya agar aku bisa bangun dari kemalasan yang melanda
pikiranku. Tapi datang sesuatu yang menjadikanku semangat kembali dan bangkit dari
jurang yang mendalam. Aku bergegas mandi dan berpakaian, ya sesuatu yang sudah
kutunggu sejak lama, uang bulanan.

Aku seorang siswa sekolah menengah di kota terpencil, hidup di sebuah kosan kecil satu
kamar dengan biaya pas pasan membuatku harus menahan segala macam pengeluaran
yagn tak diperlukan. Keajaiban berulang kali menyelamatkan nyawa tak berguna ini dari
kelaparan, mulai dari ibu kos yang baik hati sampai kerjaan mendadak yang menguntungkan.
Sungguh takdir merupakan sesuatu yang misterius.

Untuk seeorang yang tidak bertaqwa sepertiku, ibadah merupakan sesuatu yang kulakukan
untuk pencitraan. Bisa dibilang imanku adalah sesuatu yang musiman, di waktu musim ujian
imanku sampaidi puncaknya, akan tetapi setelahnya aku kembali ke sisi gelap dunia ini,
kembali menjadi sosok yang tidak disayangi oleh Tuhan. Sebenarnya aku ingin selalu
menegakkan tiang ibadahku yang selama ini roboh ditiup angin sepoi sepoi. Akan tetapi
kondisi lingkungan yang buruk membengkalai prosesnya, mulai dari kebiasaan malas sampai
bisikan bisikan setan manusia yang tak mampu kubendung sendiri.

Setelah kurasa cukup kasual, aku langsung berangkat jalan kaki menuju mesin atm di sebuah
minimart dekat kosan yang jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan kaki, tapi apa boleh
buat, isi dompet yang sudah terkuras tak mampu menutup biaya untuk naik ojek. Tapi demi
menyambung hidup karena belum makan sejak pagi membuatku bisa menahan rasa malas
didalam hatiku.

Seperti biasa, entah bagaimana lagi aku harus menahannya, aku yang merupakan seorang
yang kurang bisa bergaul harus pergi ke tempat umum. Pandangan setiap orang terasa
menusuk kulitku, aku tak mampu menahan perasaanku yang malu, padahal tidak ada yang
salah denganku, pikiranku yang melesat entah kenapa merasa ada yang salah denganku.
Celana hitam dan kemeja merupakan pakaian yang umum, tinggi badan sedang, dan
potongan rambut populer menjadikan penampilanku cukup menarik, tapi wajahku yang
kurang pas membautku merasa malu didepan umum. Padahal orang lain tidak perduli
dengan itu, memang otak merupakan sesuatu yang sama misteriusnya dengan takdir,
sesuatu yang tak penting bisa enjadi sesuatu yang sangat penting dalam pikiran.

Setelahmengambil 50 k dari atm,aku bergegas keluar dari minimart, tak kuat menhan rasa
galau dalam hatiku yang selalu menyerang saat terpapar dengan lingkungan sosial.