Anda di halaman 1dari 11

PROSES PRODUKSI ACARA MUSIK KERONCONG DI KOMUNITAS

WAROENG KERONCONG TAMAN BUDAYA RADEN SALEH


SEMARANG

Oleh

- Berin D. Prasetya (2501415002)


- Dea Fitri Ardi (2501415092)
- Andre Yuda Bimantara P.(2501415061)

Deaardi97@gmail.com

Universitas Negeri Semarang

Abstrak
Taman Budaya Raden Saleh Semarang merupakan salah satu tempat yang digunakan
sebagai arena berkesenian. Ada banyak kesenian yang di wadahi oleh Dewan Kesenian
Semarang (DEKASE) di Taman Budaya Raden Saleh Semarang dan salah satunya adalah
musik keroncong. Wadah itu diberi nama Waroeng Keroncong, yang merupakan media untuk
para pecinta musik keroncong mengetahui bagaimana memproduksi acara musik keroncong
dan mengapresiasikan musik keroncongnya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah
bagaimanakah proses produksi acara musik keroncong di komunitas Waroeng Keroncong
Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
mendeskripsikan proses Budaya Raden Saleh Semarang. Penelitian ini diharapkan mampu
memberikan gambaran obyektif tentang sebuah produksi acara musik keroncong. Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pengambilan lokasi
komunitas Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Sasaran kajian
penelitian ini adalah proses produksi acara musik keroncong. Sumber data diperoleh dari
narasumber yang diambil dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisa
data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi, kemudian keabsahan
data dilakukan dengan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dalam
proses produksi acara musik keroncong terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu (1)
persiapan sebelum produksi. (2) proses selama pertunjukan yaitu persiapan, menyiapkan
perlengkapan yang digunakan pada saat pertunjukan, proses saat acara berlangsung, (3)
proses setelah produksi yaitu merupakan tindak lanjut setelah kegiatan produksi. Berdasarkan
hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam proses produksi acara musik keroncong di
komunitas Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh Semarang mempunyai tiga
tahapan yaitu persiapan sebelum produksi, proses selama pertunjukan, proses setelah
produksi. Aspek persiapan perlu ada pembenahan lagi yaitu yang berkaitan dengan publikasi
acara musik Waroeng Keroncong.
Kata Kunci : Keroncong, Waroeng Keroncong, Semarang, Taman Budaya
PENDAHULUAN

Musik adalah produk budaya yang cukup tua, klasik, eksotis dan sarat dengan

keindahan. Karena penelusuran historis musik akan memaksa siapapun akan memasuki ruang

eksotika peradaban tua, yang sarat dengan berbagai pelibatan musik sebagai tradisi penuh cita

rasa, musik bahkan telah menjadi sesuatu yang istimewa, disadari tidak hanya sebagai sesuatu

yang mampu menghibur perasaan, melainkan telah pula dihayati sebagai tradisi luhur. (Esthi

Endah, 2008:91)

Kesenian sebagai bagian dari kebudayaan, senantiasa terkaitan dengan aspek-aspek

keagamaan, ekonomi, bahasa, maupun sosial budaya. Musik sebagai salah satu bidang seni

yang merupakan suatu kebutuhan masyarakat baik masa kini maupun masa lampau.

Sepanjang sejarah manusia tidak dapat lepas dari seni, karena seni merupakan hasilcipta, rasa

dan karsa manusia yang mengandung nilai indah (estetis), sedangkan setiap manusia

menyukai keindahan. Musik sengaja dibuat manusia untuk mengungkapkan ide dan berbagai

perasaan. Musik keroncong adalah aliran musik yang sudah lama sekali masuk dan

berkembang di Indonesia dan sempat sangat populer di Indonesia, namun belakangan ini

musik keroncong eksistensinya sedikit demi sedikit cenderung menurun dan kalau kita lihat

di berbagai kesempatan pertunjukan musik keroncong, kebanyaan pemain dan penontonnya

adalah orang dewasa. Musik keroncong hingga saat ini masih tetap ada karena masih banyak

pecinta musik keroncong yang masih setia terhadap musik keroncong. Manusia dalam

memenuhi kebutuhan seninya menjadi sangat mudah. Komunitas musik Waroeng

Keroncongan Taman Budaya Raden Saleh salah satu tempat yang menyajikan musik

keroncong secara langsung, yaitu penonton dapat secara langsung datang untuk menikmati

musik keroncong secara langsung. Dalam perkembangan musik di Indonesia, musik

keroncong adalah jenis musik Indonesia yang memiliki hubungan histori dengan jenis musik
Portugis yang dikenal dengan fodo. Berdasarkan pada situasi tersebut maka timbul keinginan

dari para pecinta musik keroncong untuk menjaga dan melestarikan musik keroncong.

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas, penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui : (1) Bagaimana proses sebelum produksi acara musik keroncong di komunitas

Waroeng Keroncong TBRS Semarang ? (2) Bagaimana proses selama pertunjukan di

komunitas Waroeng Keroncong TBRS Semarang ? (3) Bagaimana proses sesudah produksi

di komunitas Waroeng Keroncong TBRS Semarang ? Manfaat dari penelitian antara lain (1)

Manfaat Teoritis (2) Manfaat Praktis

Proses adalah rentetan suatu perubahan atau peristiwa dalam perkembangan suatu

rangkaian, perbuatan yangg atau pengolah yang menghasilkan suatu produk (Anton Moelino.

1998:701). Menurut national prodictivity roard (NPB), dikatakan bahwa produksi adalah

sikap mental yang mempunyai semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan. Rasio

suatu rangkaian dalam suatu proses kegiatan produksi menurut Indrawati sumberdaya

manusia sebagai berikut : (1) Pengetahuan (2) Pendidikan (3) Kesesuaian bidang pekerjaan

dan tanggung jawab.

Manajemen berasal dari bahasa latin managiare atau dalam bahasa Italia maneggio

yang artinya mengurusi, mengendalikan atau menangani sesuatu (Murgiyanto, 1985:27).

Manajemen adalah ilmu pengetahuan juga dalam artian bahwa manajemen memerlukan

disiplin ilmu-ilmu pengetahuan lain dalam penerapannya : misalnya ilmu ekonomi, statistik,

akutansi dan sebagainya. Atas dasar uraian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pada

dasarnya manajemen dapat didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk

menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan

fungsi dasar manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan

pengawasan.
Pengertian Musik adalah suatu karya bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi yang

mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik (irama, melodi

harmoni, bentuk struktur, dan ekspresi), sebagai satu kesatuan (Jamalus, 1988:1-2).

Sejarah musik keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai

fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16

ke nusantara. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. (1) Alat

Musik Keroncong : dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai,

seperti biola, ukulele, serta selo, perkusi juga kadang-kadang dipakai. (2) Jenis-Jenis

Keroncong. Musik keroncong lebih condong ke progresi akord dan jenis alat yang digunakan.

(a) Keroncong Asli. Keroncong asli memiliki bentuk lahu A-B-C. Lagu terdiri atas 8 baris, 8

baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan prelude 4 birama yang dimainkan

secara instrumental, kemudian disisipi interlude standar sebanyak 4 birama yang dimainkan

secara instrumental juga. (b) Langgam Keroncong. Bentuk lagu langgam ada dua versi. Yang

pertama A-A-B-A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar pop: Verse

A – Verse A – Bridge B – Verse A, panjang 32 birama. (c) Stambul Keroncong. Stambul

merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang dikenal pada

akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama Komedi Stambul.

Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki.

Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi atau kelompok organisme, yang

hidup dan saling berinteraksi didalam daerah tertentu yang hidup pada suatu waktu dan

daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain (Kamus Besar

Bahasa Indonesia 1988:454). Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu

daerah yang sama dan saling berinteraksi, contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan

sungai. Komunitas juga menyangkut partisipasi, tatkala individu-individu bekerja sama,

memasuki aktifitas orang lain dan mengambil peran dalam upaya bersama dan kerja sama,
maka mereka sedang berpartisipasi dalam pengembangan komunitas. Peran interaksi dan

tatap muka dalam pembentukan komunitas tidak bisa digantikan. Karenanya, kita bisa

melanjutkan pendapat ini dengan mengatakan bahwa seiring melemahnya hubungan

(komunikasi) interpersonal, kemampuan sebuah komunitas untuk melanggengkan dirinya

juga berkurang.

Komunitas Waroeng Keroncong adalah sebuah perkumpulan orang-orang yang

menyukai musik Keroncong dan wadah bagi musisi-musisi Keroncong Kota Semarang untuk

berkreatifitas. Komunitas Waroeng Keroncong mempunyai keunikan dalam berorganisasi

dan kegiatan yang diadakannya. Hal unik tersebut ditunjukkan dengan cara mengemas acara

dengan gagasan yang baik dan selalu menarik. Anggota Komunitas Waroeng Keroncong

diantaranya ada grup keroncong, penggemar keroncong, sampai musisi keroncong. Mereka

mempunyai kreativitas dan kegiatan positif di dalam masyarakat. Permasalahan yang dikaji

dalam penelitian ini yaitu bagaimana eksistensi Komunitas Waroeng Keroncong di kota

Semarang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetauhi dan mendeskripsikan eksistensi

Komunitas Waroeng Keroncong di Kota Semarang. Manfaat dari penelitian adalah untuk

memberikan wawasan kepada masyarakat umum tentang eksistensi Komunitas Waroeng

Keroncong. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan

pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan

studi dokumentasi. Data yang diperoleh antara lain rekaman wawancara, foto, video

pertunjukan dan dokumen pribadi Komunitas Waroeng Keroncong. Analisis data yang

digunakan melalui 3 cara yaitu: (1) pengumpulan data;(2) reduksi data;(3) klasifikasi data;

dan verifikasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Hasil

penelitian menunjukan bahwa Komunitas Waroeng Keroncong adalah wadah bagi semua

masyarakat penggemar musik keroncong khususnya masyarakat kota Semarang untuk

menyalurkan kecintaannya dengan musik keroncong.


Komunitas Waroeng Keroncong menjawab keresahan para penggemar musik

keroncong di kota Semarang dengan mengadakan berbagai acara kegiatan. Tidak hanya

pentas musik keroncong secara rutin setiap bakhir bulan, ada juga kegiatan yang mencakup

pada kegiatan sosial, berkecimpung di dunia pendidikan dengan mengajarkan cara bermain

alat musik keroncong pada siswa di sekolah- sekolah dan mahasiswa, dan membantu

perekonomian para anggota khususnya anggota yang mempunyai grup atau orkes keroncong

dalam mencari panggung di restoran atau hotel di kota Semarang untuk mensejahterakan

anggotanya. Komunitas Waroeng Keroncong juga sebagai wadah bersosialisasi bagi para

seniman keroncong Semarang. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberi saran agar

Komunitas Waroeng Keroncong terus memperhatikan perkembangan kesenian dan

melibatkan diri dalam setiap pertunjukan untuk menambah pengetahuan dan kreativitas, serta

merangkul anggota baru dan bekerjasama dengan masyarakat untuk melestarikan musik

keroncong.

METODE PENELITIAN

Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk memecahkan suatu permasalahan

tertentu sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing, guna untuk mencari kebenaran.

Penelitian merupakan suatu proses yang panjang. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan

pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi dilakukannya penelitian ini adalah di

TBRS Semarang Jawa Tengah. Sasaran kajian dari penelitian ini adalah : (1) Bagaimana

proses sebelum produksi acara musik keroncong di komunitas Waroeng Keroncong TBRS

Semarang ? (2) Bagaimana proses selama pertunjukan di komunitas Waroeng Keroncong

TBRS Semarang ? (3) Bagaimana proses sesudah produksi di komunitas Waroeng

Keroncong TBRS Semarang ? Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek atau bahan
yang dapat memberikan informasi mengenai tujuan penelitian. Sumber data yang diperoleh

bersifat tertulis maupun lisan. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain : (1)

Teknik Observasi (2) Teknik Wawancara (3) Teknik Kajian Dokumentasi. Teknik analisis

data yang digunakan antara lain : (1) Reduksi Data (2) Sajian Data (3) Verifikasi. Teknik

keabsahan data yang dilakukan antara lain : (1) Tahap pralapangan (2) Tahap pekerja

lapangan (3) Tahap analisis data (4) Tahap Penulisan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Taman Budaya Raden Saleh dibangun tahun 1998 dan diresmikan pada tanggal 27

Juli 1998 oleh Wali kota madia Semarang Bapak Soetrisno suharto. Taman Budaya Raden

Saleh Semarang beralamat di JL. Sriwijaya No 29 Semarang Jawa Tengah. Taman Budaya

Raden Saleh di bangun oleh Dinas Kebudayaan Dn Pariwisata Kota Semarang, yang

bertujuan untuk mewadahi semua aset budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yang

khususnya adalah semua kebudayaan yang berkembang di Jawa Tengah agar tidak

mengalami kepunahan.

Salah satu komunitas yang menarik perhatian bagi penulis adalah komunitas musik

Keroncong yang diberi nama Waroeng Keroncong, yang menurut bapak Wuryanto berdiri

pada 23 April 2008. Berawal dari rasa keprihatinan tentang kondisi perkembangan musik

keroncong saat itu. Banyak sekali musisi keroncong di kota Semarang dan luar Semarang

yang sangat membutuhkan tempat untuk mengapresiasi musik keroncong. Sehingga timbul

keinginan yang kuat dari pihak waroeng keroncong untuk membuatkan suatu wadah bagi

para musisi keroncong tersebut. Selain itu tujuan lainnya adalah menarik generasi muda

untuk menyukai musik keroncong. Sehingga sajian musik di waroeng keroncong

dikolaborasikan dengan genre-genre lain seperti keroncong pop dan keroncong dangdut.
Terkadang juga lagu-lagu mancanegara seperti lagu latin, jazz, bisa dibawakan dengan genre

keroncong. Unsur tekstual menjelaskan tentang instrumen yang digunakan seperti biola, flute,

gitar, kontra bass, cello, cak, cuk. Aransemennya mengkombinasikan genre-genre lain

dengan keroncong, sedangkan unsur kontekstual terdiri atas tata panggung, yang disajikan di

gazebo taman budaya Raden Saleh. Disanalah tempat disajikannya musik keroncong.

Penggunaan soundsystem masih dari pihak luar dengan cara menyewa. Dijelaskan juga

urutan acara musik di waroeng keroncong mayoritas satu lagu berdurasi kurang lebih 5 menit,

dan dibawakan sampai 15 lagu termasuk penutup.

Alat Musik Keroncong : dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh

musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo, perkusi juga kadang-kadang dipakai. Jenis-

Jenis Keroncong. Musik keroncong lebih condong ke progresi akord dan jenis alat yang

digunakan. (a) Keroncong Asli. Keroncong asli memiliki bentuk lahu A-B-C. Lagu terdiri

atas 8 baris, 8 baris x 4 birama = 32 birama, di mana dibuka dengan prelude 4 birama yang

dimainkan secara instrumental, kemudian disisipi interlude standar sebanyak 4 birama yang

dimainkan secara instrumental juga. (b) Langgam Keroncong. Bentuk lagu langgam ada dua

versi. Yang pertama A-A-B-A dengan pengulangan dari bagian A kedua seperti lagu standar

pop: Verse A – Verse A – Bridge B – Verse A, panjang 32 birama. (c) Stambul Keroncong.

Stambul merupakan jenis keroncong yang namanya diambil dari bentuk sandiwara yang

dikenal pada akhir abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 di Indonesia dengan nama

Komedi Stambul. Nama “stambul” diambil dari Istambul di Turki.

Unsur tekstual menjelaskan tentang instrumen yang digunakan seperti biola, flute,

gitar, kontra bass, cello, cak, cuk. Aransemennya mengkombinasikan genre-genre lain

dengan keroncong. Unsur kontekstual terdiri atas tata panggung, yang disajikan di gazebo

taman budaya Raden Saleh. Disanalah tempat disajikannya musik keroncong. Penggunaan

soundsystem masih dari pihak luar dengan cara menyewa. Dijelaskan juga urutan acara
musik di waroeng keroncong mayoritas satu lagu berdurasi kurang lebih 5 menit, dan

dibawakan sampai 15 lagu termasuk penutup.

Melalui acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat

mempererat persaudaraan antara sesama penyuka musik keroncong. Selain itu juga dapat

dijadikan sebagai ajang bersosialisasi antara sesama penyuka musik keroncong di Semarang

Melalui acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat memberikan

penghasilan tambahan bagi pemain orkes yang orkesnya diminta untuk tampil. Selain itu juga

bagi pemilik sound system yang jasanya dipakai oleh Waroeng Keroncong mendapatkan

penghasilan tambahan dari acara tersebut. Dan juga bagi warga sekitar yang berjualan

disekitar Taman Budaya Raden Saleh mendapat penghasilan tambahan dari acara tersebut.

Acara musik di Waroeng Keroncong dapat dijadikan sebagai salah satu hiburan bagi

warga Semarang untuk menghilangkan penat ataupun untuk mengisi waktu luang. Melalui

acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat dijadikan sebagai

daya tarik untuk menarik wisatawan berkunjung ke Taman Budaya Raden Saleh.

Unsur tekstual menjelaskan tentang instrumen yang digunakan seperti biola, flute,

gitar, kontra bass, cello, cak, cuk. Aransemennya mengkombinasikan genre-genre lain

dengan keroncong. Unsur kontekstual terdiri atas tata panggung, yang disajikan di gazebo

taman budaya Raden Saleh. Disanalah tempat disajikannya musik keroncong. Penggunaan

soundsystem masih dari pihak luar dengan cara menyewa. Dijelaskan juga urutan acara

musik di waroeng keroncong mayoritas satu lagu berdurasi kurang lebih 5 menit, dan

dibawakan sampai 15 lagu termasuk penutup.

Melalui acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat

mempererat persaudaraan antara sesama penyuka musik keroncong. Selain itu juga dapat

dijadikan sebagai ajang bersosialisasi antara sesama penyuka musik keroncong di Semarang
Melalui acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat memberikan

penghasilan tambahan bagi pemain orkes yang orkesnya diminta untuk tampil. Selain itu juga

bagi pemilik sound system yang jasanya dipakai oleh Waroeng Keroncong mendapatkan

penghasilan tambahan dari acara tersebut. Dan juga bagi warga sekitar yang berjualan

disekitar Taman Budaya Raden Saleh mendapat penghasilan tambahan dari acara tersebut.

Acara musik di Waroeng Keroncong dapat dijadikan sebagai salah satu hiburan bagi

warga Semarang untuk menghilangkan penat ataupun untuk mengisi waktu luang. Melalui

acara musik di Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh dapat dijadikan sebagai

daya tarik untuk menarik wisatawan berkunjung ke Taman Budaya Raden Saleh.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam bab sebelumnya, maka simpulan yang

dapat diambil adalah sebagai berikut : Proses produksi acara musik keroncong di komunitas

waroeng keroncong Taman Budaya Raden Saleh Semarang, yaitu meliputi ; proses sebelum

produksi, proses selama produksi atau selama pertunjukan, dan proses sesudah produksi.

Proses sebelum produksi yaitu dengan pemilihan grup keroncong yang akan tampil, dengan

cara menyeleksi terlebih dahulu untuk mengetahui apakah grup tersebut layak untuk

ditampilkan atau tidak pada saat acara musik di waroeng keroncong. Selanjutnya, proses

selama pertunjukan penyusunan acara berdasarkan urutan yang sudah disusun oleh pihak

Waroeng Keroncong yang seluruhnya diarahkan oleh pihak Waroeng Keroncong.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian mengenai proses produksi acara musik keroncong di komunitas

Waroeng Keroncong Taman Budaya Raden Saleh Semarang, maka penulis menyampaikan

saran-saran sebagai berikut. Diharapkan pihak Waroeng Keroncong agar lebih meningkatkan

kualitas acara musik tersebut ataupun kualitas komposisi musik yang disajikan, serta

penambahan pada publikasi pada acara musik di Waroeng Keroncong, misalnya

dipublikasikan lewat radio, media cetak, atau media elektronik.

DAFTAR PUSTAKA

Endah, Esthi. 2008. Cerdas Emosional dengan Musik. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran

Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Yayasan Lentera

Budaya

Murgiyanto. 1985. Manajemen Pertunjukan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.