Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Framingham Heart Study merupakan pioner riset di bidang epidemiologi


kardiovaskuler. FHS dapat dipandang sebagai sebuah investigasi klinis pada level
komunitas yang memberikan informasi bagi para dokter untuk berorientasi
pencegahan. Kekayaan data ilmiah yang dihasilkan studi itu selama lebih dari 5
dekade telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengetahuan
dan pencegahan penyakit kardiovaskuler di dunia yang belum diketahui sebelumnya.
Sir Michael Marmot, profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat pada
University College London, mengatakan bahwa Framingham Heart Study merupakan
standar emas (benchmark) bagi studi epidemiologi tentang penyakit kardiovaskuler.

FHS telah membuka pengetahuan baru tentang prevalensi, insidensi, manifestasi


klinis, prognosis, dan faktor risiko predisposisi yang dapat diubah pada penyakit
kardiovaskuler. FHS menghasilkan banyak temuan monumental yang dewasa ini
sudah diketahui umum, seperti efek penggunaan rokok tembakau, diet tak sehat,
inaktivitas fisik, obesitas, kadar kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes,
terhadap penyakit kardiovaskuler. Kini berdasarkan pengetahuan tersebut, semua
negara dapat memusatkan perhatiannya kepada upaya pencegahan yang efektif untuk
menurunkan beban penyakit kardiovaskuler dan penyakit utama non-menular
lainnya. FHS juga telah mengubah dominasi paradigma lama Teori Kuman bahwa
kausasi penyakit bersifat ―one cause one effect‖. FHS memeragakan bahwa etiologi
penyakit non-infeksi bersifat multifaktor yang tidak dapat diterangkan dengan Teori
Kuman. Paradigma baru tentang kausasi yang disebut "multivariate risk"—faktor

1
penyebab penyakit yang bersifat majemuk, telah mempengaruhi perkembangan
desain studi dan metode analisis data

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Framingham Heart Study

Dengan latar belakang masalah meningkatnya kejadian penyakit kronis,


khususnya penyakit kardiovaskuler, Pemerintah AS cq US Public Health Service
menginstruksikan National Heart, Lung, and Blood Institute (pendahulu National
Institute of Health), untuk memulai suatu projek riset yang disebut Framingham Heart
Study (FHS). FHS merupakan sebuah studi kohor multi-generasi yang terlama dan
paling komprehensif di dunia yang dimulai tahun 1948 pada penduduk sebuah kota
kecil dekat Boston, Massachussettes, bernama Framingham. Tujuan studi
epidemiologi ini adalah meneliti aneka faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Pada
awal studi, FHS mengikutsertakan 5,209 subjek dewasa pria dan wanita sehat berusia
30 hingga 60 tahun, dari kota Framingham yang berpenduduk 28,000 jiwa. Hingga
kini studi tersebut telah mengikutsertakan tiga generasi subjek penelitian. Studi
tersebut secara sistematis mencatat data tentang umur, diet, aktivitas fisik, merokok,
riwayat keluarga, dan pemakaian obat. Setiap peserta studi penelitian juga menjalani
pemeriksaan fisik ekstensif dua tahun sekali. Data yang diperiksa mencakup berat
badan, tekanan darah, profil darah, fungsi tiroid, diabetes melitus, dan gout. Riset
tersebut terus berkembang, di kemudian hari memasukkan sejumlah faktor risiko
tambahan

Kota Framingham dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki sejumlah


karakteristik yang menguntungkan untuk studi epidemiologi jangka panjang
(Feinlieb, 1983). Pertama, Framingham memiliki jumlah penduduk yang cukup untuk
memberikan cukup banyak individu untuk studi. Kedua, Framingham memiliki
populasi relatif stabil yang memudahkan follow-up jangka panjang, karena

3
Framingham merupakan kota industri yang menyediakan cukup banyak kesempatan
kerja, sehingga dapat mencegah peserta penelitian untuk berpindah ke luar kota.
Ketiga, penduduk kota itu terdiri atas aneka kelompok sosio-ekonomi dan etnis
sehingga memungkinkan analisis terhadap berbagai kelompok yang berbeda.
Keempat, prevalensi penyakit jantung di Framingham tinggi, merepresentasikan
epidemi penyakit jantung yang tengah terjadi di AS waktu itu. Kelima, Framingham,
seperti kebanyakan kota di Massachusetts, memiliki daftar tahunan penduduk. Staf
kantor statistik kependudukan dan kesehatan membantu memberikan informasi
tentang statistik vital. Keenam, kota itu terletak dekat Universitas Harvard, dengan
sebuah pusat medis dan para ahli kardiologi yang bisa memberikan konsultasi dan
pendidikan staf penelitian yang diperlukan dalam studi. Keenam, dokter dan tenaga
kesehatan profesional di kota itu sangat mendukung tercapainya tujuan studi.
Ketujuh, Framingham memiliki 2 buah rumahsakit yang dapat memberikan
pelayanan medis yang diperlukan, meskipun salah satu di antaranya ditutup tidak
lama setelah dimulai studi. Kedelapan, Framingham dan penduduknya memiliki
pengalaman melakukan studi komunitas sebelumnya, yaitu studi tentang tuberkulosis
selama hampir 30 tahun. Pengalaman itu penting untuk memelihara semangat
partisipasi penduduk dalam studi itu.

Pada 1951 FHS menerbitkan untuk pertama kali laporan hasil studi dari
keseluruhan 2,000 paper yang dipublikasikan pada jurnal. Pada 1957 FHS
menemukan bahwa risiko penyakit jantung meningkat dengan meningkatnya tekanan
darah dan kadar kolesterol. Pada 1958 FHS menemukan bahwa seperempat dari
semua serangan jantung tidak menyebabkan nyeri dada (asimtomatis), dan bahwa
hampir 40% dari penderita diabetes mengalami serangan jantung.

Pada 1961 direktur FHS, Roy Dawber, dan wakil direktur pada waktu itu,
William Kannel, untuk pertama kali mengemukakan terma baru ―faktor risiko‖
dalam sebuah paper tentang etiologi penyakit jantung koroner. Pada 1962 FHS
menemukan, merokok sigaret meningkatkan risiko serangan jantung fatal sebesar

4
lima kali lipat. Lima tahun kemudian Menteri Kesehatan AS mengeluarkan laporan
yang menghubungan merokok dengan penyakit jantung. Pada 1967 FHS menemukan,
aktivitas fisik menurunkan risiko penyakit jantung.

Pada 1971 Framingham Offspring Study mulai merekrut generasi kedua


peserta penelitian, yaitu 5,124 orang yang merupakan anak dari peserta awal studi.
Pada 1974 studi Framingham menemukan, diabetes meningkatkan risiko penyakit
arteri besar sebesar dua kali, dan meningkatkan risiko penyakit vaskuler perifer dan
amputasi.

Pada 1985 FHS menemukan, terapi sulih hormon (hormone-replacement


therapy) pada wanita pascamenopause meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler
sebesar lebih dari 50% dan risiko mengalami serangan jantung meningkat lebih dari
dua kali lipat. Temuan Ini merupakan satu-satunya dari 16 studi serupa yang
menunjukkan efek yang merugikan dari terapi sulih hormon. Pada 1987 mulai
tersedia statin pertama, disebut levostatin, untuk menurunkan kolesterol tinggi.
Sebelum 1979 para dokter mengklasifikasikan seorang dengan kolesterol total kurang
dari 300mg/dl sebagai normal. Tetapi data FHS menunjukkan, 35 persen dari
serangan jantung terjadi pada orang-orang yang berkolesterol total hanya sebesar 150
hingga 200mg/dl.

Gambar : Hubungan antara


kadar trigliserida dan risiko
penyakit kardiovaskuler dari
Framingham Heart Study
(Sumber: Framingham
Heart Study, 2010)

5
Gambar diatas menunjukkan salah satu temuan FHS tentang hubungan dosis-
repons antara kadar trigliserida dan risiko penyakit kardiovaskuler. Kadar trigilserida
200mg/dl pada pria meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler satu setengah kali
lebih besar daripada 100mg/dl. Risiko pada wanita lebih tinggi daripada pria, dan
tampaknya perbedaan itu makin besar dengan meningkatnya kadar trigliserida, suatu
keadaan yang menunjukkan kemungkinan modifikasi efek trigliserida terhadap risiko
penyakit kardiovaskuler oleh jenis kelamin.

Pada 1995 Framingham‘s Omni Study merekrut dan meneliti peserta


penelitian dari kelompok minoritas di AS, dengan tujuan meneliti hubungan antara
ras dan penyakit jantung. Pada 2002 FHS mulai melakukan studi generasi ketiga,
merekrut 4,095 orang yang merupakan cucu dari relawan penelitian pada awal FHS
1948.

Dengan bertambahnya usia peserta studi, berkembangnya berbagai penyakit


yang dialami peserta studi, dan ditemukannya alat-alat diagnostik baru, maka para
peneliti Framingham mengumpulkan data baru dan memperluas studi meliputi
berbagai penyakit lainnya, seperti Alzheimer, osteoporosis, artritis, dan kanker. Pada
2007 FHS memperluas basis penelitiannya, melakukan ―genome-wide association
study‖ (GWAS), meneliti hubungan antara gen dan penyakit, melibatkan 9,300
peserta dari tiga generasi. Jika FHS ―klasik‖ meneliti aneka faktor risiko
―tradisional‖, FHS ―modern‖ memperluas lingkup risetnya untuk meneliti ―variasi
genetik dan biomarker‖ yang melatari tekanan darah, lipid, obesitas, penyakit jantung
koroner, stroke, gangguan darah, densitas tulang, dan demensia. Dewasa ini banyak
terdapat riset tentang gen penyebab penyakit, tetapi hanya sedikit yang menggunakan
populasi berskala besar seperti studi Framingham. Dengan data ribuan DNA peserta
studi dari tiga generasi, studi Framingham memiliki posisi yang unik untuk

6
memberikan kontribusi besar kepada eksplorasi biomedis di masa mendatang untuk
mengungkapkan basis molekuler terjadinya penyakit.

Framingham Heart Study merupakan pioner riset di bidang epidemiologi


kardiovaskuler. FHS dapat dipandang sebagai sebuah investigasi klinis pada level
komunitas yang memberikan informasi bagi para dokter untuk berorientasi
pencegahan. Kekayaan data ilmiah yang dihasilkan studi itu selama lebih dari 5
dekade telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengetahuan
dan pencegahan penyakit kardiovaskuler di dunia yang belum diketahui sebelumnya.
Sir Michael Marmot, profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat pada
University College London, mengatakan bahwa Framingham Heart Study merupakan
standar emas (benchmark) bagi studi epidemiologi tentang penyakit kardiovaskuler
(Richmond, 2006). FHS telah membuka pengetahuan baru tentang prevalensi,
insidensi, manifestasi klinis, prognosis, dan faktor risiko predisposisi yang dapat
diubah pada penyakit kardiovaskuler. FHS menghasilkan banyak temuan
monumental yang dewasa ini sudah diketahui umum, seperti efek penggunaan rokok
tembakau, diet tak sehat, inaktivitas fisik, obesitas, kadar kolesterol tinggi, tekanan
darah tinggi, dan diabetes, terhadap penyakit kardiovaskuler. Kini berdasarkan
pengetahuan tersebut, semua negara dapat memusatkan perhatiannya kepada upaya
pencegahan yang efektif untuk menurunkan beban penyakit kardiovaskuler dan
penyakit utama non-menular lainnya. FHS juga telah mengubah dominasi paradigma
lama Teori Kuman bahwa kausasi penyakit bersifat ―one cause one effect‖. FHS
memeragakan bahwa etiologi penyakit non-infeksi bersifat multifaktor yang tidak
dapat diterangkan dengan Teori Kuman. Paradigma baru tentang kausasi yang disebut
"multivariate risk"—faktor penyebab penyakit yang bersifat majemuk, telah
mempengaruhi perkembangan desain studi dan metode analisis data.

Projek FHS tidak akan ada tanpa inisiasi dan kepemimpinan dari direktur
pertama FHS, Thomas Dawber (1913-2005). Thomas Royal ―Roy‖ Dawber lahir di
Duncan, British Columbia, Kanada. Ayahnya seorang pendeta Methodist Setelah

7
emigrasi ke Kanada, keluarganya beremigrasi kembali ke Philadelphia, AS. Dawber
menyesaikan pendidikan dokter di Harvard Medical School pada 1937. Karirnya
dimulai dengan bekerja selama 12 tahun pada Brighton Marine Hospital, dekat
Boston. Kemudian dia bekerja selama dua dekade untuk US National Heart Institute,
dalam projek riset Framingham Heart Study. Dawber menerima banyak penghargaan
dan dinominasi hadiah Nobel sebanyak tiga kali. Dawber seorang yang bersahaja,
tanpa pamrih, dan tidak suka membanggakan diri dengan prestasinya. Di samping
―menukangi‖ Framingham Heart Study, Dawber seorang tukang kayu (carpenter)
yang terampil, penggemar Elvis, dan memainkan piano. Setelah pensiun di usia 67
tahun, Dawber pindah ke Naples, Florida, di sebuah rumah menghadap teluk, dan
menghabiskan waktunya untuk berlayar. Pada usia 90 tahun dia mengalami penyakit
Alzheimer (kepikunan) dan masuk ke panti jompo (nursing care home), tempat dia
meninggal pada usia 95 tahun (Richmond, 2006). Tentang jasa Thomas Dawber,
mantan direktur FHS lainnya, Dr William Castelli, menyatakan kepada the
Associated Press, "Jika bukan karena Dawber, anda tidak akan pernah mendengar
Framingham Heart Study. Kontribusinya sangat besar sehingga anda akan
menempatkannya di antara para dokter paling terkemuka dalam sejarah AS".

II.2. Risiko gagal jantung FSH

Dari berbagai macam temuan di bidang kardiovaskuler Framingham heart

study membuat penelitian yang meneliti resiko terjadinya gagal jantung, yang dimana

hasil dari penelitian ini dapat dipakai untuk memperkirakan resiko terjadinya gagal

jantung. Penelitian ini dilakukan selama 38 tahun dan mendapatkan subjek 252 pria

dan 234 wanita mengalami gagal jantung yang jelas memenuhi kriteria yang

8
ditetapkan. Risiko gagal jantung meningkat sekitar 37% per dekade pada pria dan

24% per dekade pada wanita.

Pencegahan gagal jantung yang efektif membutuhkan deteksi dini dan koreksi

kondisi predisposisi dan faktor risiko pada orang yang rentan. Tindakan pencegahan

harus dilaksanakan oleh dokter umum dan internis untuk orang yang berisiko tinggi,

asimptomatik dengan hipertensi, penyakit koroner, hipertrofi ventrikel kiri (LVH),

diabetes, dan penyakit katup jantung. Kandidat berisiko tinggi untuk gagal jantung

perlu ditargetkan untuk evaluasi dan pengobatan dengan cara yang hemat biaya.

Evaluasi dan pengobatan mereka harus dirancang untuk menunda timbulnya gagal

jantung,

Untuk memperkirakan resiko terjadinya gagal jantung terdapat predoktor yang

digunakan yakni:

1. Usia

2. Hipertrofi ventrikel kiri

3. Denyut jantung

4. Tekanan darah sistolik

5. Penyakit jantung koroner

6. Penyakit Katup

9
7. Diabetes

8. BMI

9. Vital Capacity

10. Cardiomegaly

Berikut ini merupakan tabel risc score untuk

 Probabilitas Gagal Jantung Kongestif Dalam 4 Tahun untuk Pria Berumur

45 hingga 94 Tahun

Dengan Penyakit Koroner, Hipertensi, atau Penyakit Valvular (LVH

menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri; EKG, elektrokardiogram) termasuk

kapasitas vital dan hasil x-ray dada.

10
11
12
 Probabilitas Gagal Jantung Kongestif Dalam 4 Tahun untuk Pria Berumur

45 hingga 94 Tahun

Dengan Penyakit Koroner, Hipertensi, atau Penyakit Valvular (LVH

menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri; EKG, elektrokardiogram) tanpa kapasitas

vital dan hasil x-ray dada.

13
14
 Probabilitas Gagal Jantung Kongestif Dalam 4 Tahun untuk wanita

Berumur 45 hingga 94 Tahun

Dengan Penyakit Koroner, Hipertensi, atau Penyakit Valvular (LVH

menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri; EKG, elektrokardiogram) termasuk

kapasitas vital dan hasil x-ray dada.

15
16
Sebagai contoh, seorang pria berusia 60 tahun dengan penyakit koroner yang
didokumentasikan yang memiliki kapasitas vital 2,5 L, tekanan darah sistolik 160
mm Hg, denyut jantung 85 detak / menit, EKG LVH, dan pembesaran jantung di
dada x- film ray menerima total skor 31 poin. Jumlah ini dihitung dengan
menambahkan 3 poin untuk usia, 9 poin untuk penyakit koroner, 4 poin untuk
kapasitas vital, 2 poin untuk tekanan darah sistolik, 3 poin untuk detak jantung, 5
poin untuk ECG LVH, dan 5 poin untuk pembesaran jantung. Dalam hal ini, tidak
ada poin tambahan yang ditambahkan untuk murmur jantung atau diabetes, karena
tidak ada kondisi yang muncul dalam subjek ini. Skor 31 poin menunjukkan
probabilitas gagal jantung sebesar 4 tahun sebesar 34%.

17
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Framingham Heart Study merupakan pioner riset di bidang epidemiologi

kardiovaskuler. FHS dapat dipandang sebagai sebuah investigasi klinis pada level

komunitas yang memberikan informasi bagi para dokter untuk berorientasi

pencegahan. Kekayaan data ilmiah yang dihasilkan studi itu selama lebih dari 5

dekade telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap pengetahuan

dan pencegahan penyakit kardiovaskuler di dunia yang belum diketahui sebelumnya.

FHS telah membuka pengetahuan baru tentang prevalensi, insidensi, manifestasi

klinis, prognosis, dan faktor risiko predisposisi yang dapat diubah pada penyakit

kardiovaskuler. Kini berdasarkan pengetahuan tersebut, semua negara dapat

memusatkan perhatiannya kepada upaya pencegahan yang efektif untuk menurunkan

beban penyakit kardiovaskuler dan penyakit utama non-menular lainnya. Salah satu

penemuannya adalah factor resiko yang memprediksi untuk terjadinya gagal jantung.

Untuk memperkirakan resiko terjadinya gagal jantung terdapat predoktor yang

digunakan yakni: Usia, Hipertrofi ventrikel kiri, Denyut jantung, Tekanan darah

18
sistolik, Penyakit jantung koroner, Penyakit Katup, Diabetes, BMI, Vital Capacity,

dan Cardiomegaly.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Blackburn H (2010). Framingham study. www.enotes.com › Encyclopedia of


Public Health Diakses 13 September 2010.
2. Dawber TR, Meadors GF, Moore FE (1951). Epidemiological approaches to heart
disease: The Framingham Study. 41: 279-286
3. Dawber TR (1980). The Framingham Study: The epidemiology of atherosclerosis
disease. Cambridge, MA: Harvard University Press
4. Dawber TR, Moore FE, Mann GV (1957). Coronary heart disease in the
Framingham Study. Am J Public Health, 47: 4-24.
5. Framingham Heart Study (2010). Epidemiological background and design: The
Framingham study. www.framinghamheartstudy.org/about/background.html
Diakses 12 September 2010.
6. Husten L (2005). Thomas R Dawber, Framingham Heart Study pioneer, dead at
92. www. framinghamheartstudy.org/about/tribute.html – Diakses 12 September
2010.
7. Jaquish CE (2007). The Framingham Heart Study, on its way to becoming the
gold standard for Cardiovascular Genetic Epidemiology?BMC Medical Genetics
2007, 8:63:1-3. http://www.biomedcentral.com/1471-2350/8/63. Diakses 13
September 2010.
8. Mendis S (2010). The contribution of the Framingham Heart Study to the
prevention of cardiovascular disease: a global perspective. Prog Cardiovasc Dis.,
53(1):10-4
9. (based on Kannel, D’Agostino, Silbershatz, Belanger, Wilson, Levy. ‘Profile for
Estimating Risk of Heart Failure’ – Arch Intern. Med. 1999)

20