Anda di halaman 1dari 15

DISKUSI TOPIK

SYOK HIPOVOLEMIK DAN SYOK OBSTRUKTIF

Oleh :
Dara Agusti Maulidya
I4061162051

PEMBIMBING :
dr. Ranti Waluyan

ILMU KEDOKTERAN KEGAWATDARURATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RSUD DR. ABDUL AZIZ
SINGKAWANG
2019

1
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui Diskusi Topik dengan Judul:

Syok Hipovolemik dan Syok Obstruktif

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Kedokteran Kegawatdarurat

Singkawang, Januari 2019,

Pembimbing,

dr. Ranti Waluyan

2
BAB I
PENDAHULUAN

Syok adalah keadaan kegagalan sirkulasi yang menyebabkan ketidakseimbangan


antara pasokan oksigen jaringan (delivery) dan konsumsi oksigen (demand) yang
mengakibatkan disfungsi organ akhir. Perfusi yang tidak efektif dapat disebabkan oleh
defisiensi pengiriman oksigen secara lokal atau global atau defisiensi penggunaan substrat
suboptimal pada tingkat seluler atau subseluler. Mekanisme yang dapat menyebabkan syok
sering dibagi menjadi empat kategori: (1) hipovolemik, (2) kardiogenik, (3) distributif, dan
(4) obstruktif.1
Di Amerika Serikat, jumlah pasti kasus syok yang terjadi di UGD sulit untuk
dipastikan karena ketidakpekaan parameter klinis, definisi saat ini, dan kurangnya repositori
database pusat. Perkiraan sebelumnya mengusulkan bahwa lebih dari 1 juta kasus syok terjadi
di UGD setiap tahun di Amerika Serikat. Perkiraan ini sebagian besar didasarkan pada asumsi
bahwa hipotensi, yang didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik <90 mm Hg, konsisten
dengan syok pada orang dewasa. Dengan menggunakan definisi ini, insiden pasien dengan
hipotensi yang terjadi pada UGD di Amerika adalah sekitar 5,6 juta kasus per tahun. 2
Pasien datang ke UGD dalam berbagai tahap penyakit kritis dan syok. Tahapan-
tahapan ini dipengaruhi oleh usia, komorbiditas, dan keterlambatan presentasi. Fokus pada
deteksi dini, diagnosis cepat, dan resusitasi empiris sangat penting. Terapi dan stabilisasi
pasien mungkin perlu dilakukan bersamaan dengan saat evaluasi. 1
Syok hipovolemik terjadi ketika penurunan cairan intravaskular atau penurunan
volume darah menyebabkan penurunan preload, stroke volume, dan cardiac output.
Perdarahan masif dapat menyebabkan penurunan oksigenasi miokard, yang menurunkan
kontraktilitas dan cardiac output. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan otonom pada
resistensi vaskular sistemik. Syok hipovolemik juga dapat terjadi karena kehilangan volume
dari etiologi lain. Syok obstruktif disebabkan oleh penurunan aliran balik vena atau cardiac
compliance akibat peningkatan obstruksi aliran ventrikel kiri atau penurunan preload yang
ditandai. Tamponade jantung dan tension pneumotoraks adalah penyebab umum syok
obstruktif.1
Syok bersifat progresif dan terus memburuk jika tidak segera ditangani.
Penatalaksanaan syok dilakukan seperti pada penderita trauma umumnya yaitu primary
survey ABCDE. Tatalaksana syok bertujuan memperbaiki gangguan fisiologik dan
menghilangkan faktor penyebab.3
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Syok


Syok adalah sindrom klinis yang terjadi akibat perfusi jaringan yang tidak
adekuat. Terlepas dari penyebabnya, hipoperfusi yang dipicu ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen dan substrat makanan menyebabkan disfungsi seluler.
Keadaan tersebut juga menyebabkan jejas pada sel yang akan menginduksi produksi dan
pelepasan mediator inflamasi yang akan memperburuk perfusi lewat perubahan
struktural dan fungsional dalam mikrovaskular. Hal-hal tersebut akan menyebabkan
lingkaran setan: gangguan perfusi menimbulkan jejas sel, yang menyebabkan gangguan
distribusi aliran darah mikrovaskular, kemudian makin memperburuk perfusi sel;
perburukan perfusi sel kemudian dapat menyebabkan disfungsi organ, gagal organ dan
bila tidak dihentikan dapat menyebabkan kematian. 4
Syok didefinisikan juga sebagai suatu kondisi volume darah sirkulasi tidak
adekuat yang mengurangi perfusi, pertama pada jaringan nonvital (kulit, jaringan ikat,
tulang, otot) dan kemudian ke organ vital (otak, jantung, paru- paru, dan ginjal). Syok
atau renjatan merupakan suatu keadaan patofisiologis dinamik yang mengakibatkan
hipoksia jaringan dan sel.3,5

2.2 Klasifikasi
Secara umum, syok dapat diklasifikasikan sebagai berikut:3,5
1. Syok Kardiogenik, didefinisikan sebagai kegagalan pompa jantung (pump failure).
Syok ini diakibatkan oleh terjadinya penurunan daya kerja jantung yang berat,
misalnya pada:
a) Penyakit jantung iskemik, seperti infark
b) Obat obat yang mendepresi jantung
c) Gangguan irama jantung
2. Syok Obstruktif disebabkan oleh obstruksi aliran ke sirkulasi sentral, antara lain
terlihat pada tamponade jantung, tension pneumotoraks, atau emboli paru.
3. Syok Distributif, terdiri dari syok septik, syok neurogenik dan syok anafilaktik.
4. Syok Hipovolemik, disebut juga sebagai preload syok yang ditandai dengan
menurunnya volume intravaskular, baik karena perdarahan maupun hilangnya cairan
tubuh. Penurunan volume intravaskular ini menyebabkan penurunan volume
4
interventrikuler kiri pada akhir diastol yang akhirnya menyebabkan berkurangnya
kontraktilitas jantung dan menurunnya curah jantung. Syok hipovolemik dapat
disebabkan oleh :
a) Kehilangan darah, misalnya perdarahan.
b) Kehilangan plasma, misalnya luka bakar.
c) Dehidrasi, cairan yang masuk kurang (misalnya puasa lama), cairan yang keluar
banyak (misalnya diare, muntah-muntah, fistula, obstruksi usus dengan
penumpukan cairan di lumen usus).

2.3 Syok Hipovolemik


Syok hipovolemik dapat didefinisikan sebagai berkurangnya volume sirkulasi
darah dibandingkan dengan kapasitas pembuluh darah total. Syok hipovolemik dapat
disebabkan oleh kehilangan cairan intravaskular yang umumnya berupa darah atau
plasma. Kehilangan darah oleh luka yang terbuka merupakan salah satu penyebab yang
umum, namun kehilangan darah yang tidak terlihat dapat ditemukan di abdominal,
jaringan retroperitoneal, atau jaringan di sekitar retakan tulang. Sedangkan kehilangan
plasma protein dapat diasosiasikan dengan penyakit seperti pankreasitis, peritonitis, luka
bakar dan anafilaksis.6

2.3.1 Etiologi Syok Hipovolemik


Syok hipovolemik merupakan syok yang terjadi akaibat berkurangnya volume
plasma di intravaskuler. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan hebat (hemoragik),
trauma yang menyebabkan perpindahan cairan (ekstravasasi) ke ruang tubuh non
fungsional, dan dehidrasi berat oleh berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat.
Kasus-kasus syok hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh
perdarahan sehingga syok hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik.
Perdarahan hebat dapat disebabkan oleh berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh
atau fraktur yang yang disertai dengan luka ataupun luka langsung pada pembuluh
arteri utama
2.3.2 Patofisiologi
Perdarahan akan menurunkan tekanan pengisian pembuluh darah rata-rata dan
menurunkan aliran darah balik ke jantung. Hal inilah yang menimbulkan penurunan
curah jantung. Curah jantung yang rendah di bawah normal akan menimbulkan
beberapa kejadian pada beberapa organ:7,8
5
1. Mikrosirkulasi
Ketika curah jantung turun, tahanan vaskular sistemik akan berusaha untuk
meningkatkan tekanan sistemik guna menyediakan perfusi yang cukup bagi jantung
dan otak melebihi jaringan lain seperti otot, kulit dan khususnya traktus
gastrointestinal. Kebutuhan energi untuk pelaksanaan metabolisme di jantung dan
otak sangat tinggi tetapi kedua sel organ itu tidak mampu menyimpan cadangan
energi. Sehingga keduanya sangat bergantung akan ketersediaan oksigen dan nutrisi
tetapi sangat rentan bila terjadi iskemia yang berat untuk waktu yang melebihi
kemampuan toleransi jantung dan otak. Ketika tekanan arterial rata-rata (mean
arterial pressure/MAP) jatuh hingga 60 mmHg, maka aliran ke organ akan turun
drastis dan fungsi sel di semua organ akan terganggu.
2. Neuroendokrin
Hipovolemia, hipotensi dan hipoksia dapat dideteksi oleh baroreseptor dan
kemoreseptor tubuh. Kedua reseptor tadi berperan dalam respons autonom tubuh
yang mengatur perfusi serta substrat lain.
3. Kardiovaskular
Tiga variabel seperti; pengisian atrium, tahanan terhadap tekanan (ejeksi)
ventrikel dan kontraktilitas miokard, bekerja keras dalam mengontrol volume
sekuncup. Curah jantung, penentu utama dalam perfusi jaringan, adalah hasil kali
volume sekuncup dan frekuensi jantung. Hipovolemia menyebabkan penurunan
pengisian ventrikel, yang pada akhirnya menurunkan volume sekuncup. Suatu
peningkatan frekuensi jantung sangat bermanfaat namun memiliki keterbatasan
mekanisme kompensasi untuk mempertahankan curah jantung.
4. Gastrointestinal
Akibat aliran darah yang menurun ke jaringan intestinal, maka terjadi
peningkatan absorpsi endotoksin yang dilepaskan oleh bakteri gram negatif yang
mati di dalam usus. Hal ini memicu pelebaran pembuluh darah serta peningkatan
metabolisme dan bukan memperbaiki nutrisi sel dan menyebabkan depresi jantung.
5. Ginjal
Gagal ginjal akut adalah satu komplikasi dari syok dan hipoperfusi, frekuensi
terjadinya sangat jarang karena cepatnya pemberian cairan pengganti. Yang banyak
terjadi kini adalah nekrosis tubular akut akibat interaksi antara syok, sepsis dan
pemberian obat yang nefrotoksik seperti aminoglikosida dan media kontras
angiografi.
6
Secara fisiologi, ginjal mengatasi hipoperfusi dengan mempertahankan garam
dan air. Pada saat aliran darah di ginjal berkurang, tahanan arteriol aferen meningkat
untuk mengurangi laju filtrasi glomerulus, yang bersama-sama dengan aldosteron
dan vasopresin bertanggung jawab terhadap menurunnya produksi urin.

2.3.3 Manifestasi Klinis


Klasifikasi perdarahan berdasarkan persentase volume darah yang hilang:
1. Perdarahan derajat I (kehilangan darah 0-15%)
a. Tidak ada komplikasi, hanya terjadi takikardi minimal.
b. Biasanya tidak terjadi perubahan tekanan darah, tekanan nadi, dan frekuensi
pernapasan.
c. Perlambatan pengisian kapiler lebih dari 3 detik sesuai untuk kehilangan darah
sekitar 10%
2. Perdarahan derajat II (kehilangan darah 15-30%)
a. Gejala klinisnya, takikardi (frekuensi nadi>100 kali permenit), takipnea,
penurunan tekanan nadi, kulit teraba dingin, perlambatan pengisian kapiler, dan
anxietas ringan.
b. Penurunan tekanan nadi adalah akibat peningkatan kadar katekolamin, yang
menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan selanjutnya
meningkatkan tekanan darah diastolik.
3. Perdarahan derajat III (kehilangan darah 30-40%)
a. Pasien biasanya mengalami takipnea dan takikardi, penurunan tekanan darah
sistolik, oligouria, dan perubahan status mental yang signifikan, seperti
kebingungan atau agitasi.
b. Pada pasien tanpa cedera yang lain atau kehilangan cairan, 30-40% adalah
jumlah kehilangan darah yang paling kecil yang menyebabkan penurunan
tekanan darah sistolik.
c. Sebagian besar pasien ini membutuhkan transfusi darah, tetapi keputusan untuk
pemberian darah seharusnya berdasarkan pada respon awal terhadap cairan.
4. Perdarahan derajat IV (kehilangan darah >40%)
a. Gejala-gejalanya berupa takikardi, penurunan tekanan darah sistolik, tekanan
nadi menyempit (atau tekanan diastolik tidak terukur), berkurangnya (tidak ada)
urine yang keluar, penurunan status mental (kehilangan kesadaran), dan kulit
dingin dan pucat.
7
b. Jumlah perdarahan ini akan mengancam kehidupan secara cepat.

2.3.4 Diagnosis
Syok hipovolemik diakibatkan umumnya karena kehilangan darah ataupun cairan
tubuh pada tubuh manusia yang mengakibatkan jantung kekurangan darah untuk
disirkulasi sehingga dapat mengakibatkan kegagalan organ. Kehilangan darah ini dapat
diakibatkan karena trauma akut dan perdarahan, baik secara eksternal ataupun internal.
Gejala-gejala yang dimiliki bergantung pada persentase darah yang hilang dari seluruh
darah yang dimiliki pasien, namun ada beberapa gejala umum yang dimiliki oleh
seluruh penderita hypovolemic shock. Pada umumnya, pasien yang menderita
hypovolemic shock memiliki tekanan darah yang rendah (dibawah 100mmHg) dan suhu
tubuh yang rendah pada bagian-bagian tubuh perifer. Tachycardia (diatas 100 bpm),
brachycardia (dibawah 60 bpm), dan tachypnea juga umumnya terjadi pada pasien-
pasien yang menderita hypovolemic shock. Kandungan hemoglobin yang relatif kurang
(<=6g/l) pada darah juga dapat menjadi pertanda adanya perdarahan dan dapat
membantu dalam mendeteksi hypovolemic shock. Pasien juga umumnya memiliki
kegangguan kesadaran dan mengalami kebingungan/kemarahan yang diakibatkan oleh
gangguan pada sistem saraf akibat kurangnya darah.9
Pasien yang menderita hypovolemic shock dibagi menjadi tiga kategori
berdasarkan persentase volume darah yang hilang dari seluruh tubuh pasien, dan gejala
yang dialami oleh tiap kategori pasien disajikan dalam tabel berikut:10

2.3.5 Prevensi dan Manajemen


Ketika mendapati seseorang yang menunjukan gejala-gejela hipovolemia maka
yang pertama harus dilakukan adalah mencari bantuan medis, sembari menunggu

8
bantuan medis datang. Berikan pertolongan pertama pada penderita hipovolemia, perlu
digaris bawahi bahwa penangan pertama yang tepat pada penderita hipovolemia sangat
dibutuhkan karena dapat menghindari kematian pada penderita. Berikut hal hal atau
langkah langkah untuk memberi pertolongan pertama pada penderita:11
1. Jangan memberi cairan apapun pada mulut penderita, contoh: memberi minum
2. Periksa ABC (airway, breathing, circulation)
3. Buat pasien merasa nyaman dan hangat, hal ini dilakukan untuk mencegah
hipotermia pada pasien
4. Bila ditemukan adanya cedera pada kepala, leher atau punggung jangan
memindahkan posisinya
5. Apabila tampak adanya perdarahan eksternal maka segera lakukan penekanan pada
lokasi perdarahan untuk meminimalisir volume darah yang terbuang
6. Jika ditemukan benda tajam masih menancap pada tubuh penderita jangan dicabut
hal ini ditakutkan akan menyebabkan perdarahan hebat
7. Beri sanggaan pada kaki 45° atau setinggi 30 cm untuk meningkatkan peredaran
darah. Saat akan dipindahkan ke dalam ambulans usahakan posisi kaki tetap sama

2.3.6 Prognosis
Syok hipovolemik dapat disembuhkan jika segera diberikan penanganan atau
tindakan meskipun tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan kematian terhadap
orang tersebut.

2.4 Syok Obstruktif


Syok obstruktif terjadi akibat aliran darah dari ventrikel mengalami hambatan
secara mekanik, diakibatkan oleh gangguan pengisian pada ventrikel kanan maupun kiri
yang dalam keadaan berat bisa menyebabkan penurunan cardiac output. Hal ini biasa
terjadi pada obstruksi vena cava, emboli pulmonal, pneumotoraks, gangguan pada
pericardium (misalnya: tamponade jantung) ataupun berupa atrial myxoma. Gejalanya
sulit dibedakan dengan syok kardiogenik, namun dari riwayat penyakit pasien, syok ini
dapat didiagnosis.12
2.4.1 Etiologi
1. Emboli paru
Emboli Paru adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh suatu

9
embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan
darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang,
pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah
sampai akhirnyamenyumbat pembuluh darah.12
2. Tamponade jantung
Tamponade jantung yaitu pengumpulan cairan di dalam kantong jantung
(kantong pericardium) yang menyebabkan penekanan terhadap jantung dan
kemampuan memompa jantung. Tamponade jantung terjadi secara
mendadak jika begitu banyak cairan terkumpul sehingga jantung tidak dapat
berdenyut secara normal. Sebelum timbulnya tamponade, penderita biasanya
merasakan nyeri samar-samar atau tekanan di dada, yang akan bertambah buruk
jika berbaring dan akan membaik jika duduk tegak. Dasar kelainan: terkumpulnya
banyak cairan dalam kavum perikard. Tamponade jantung merupakan suatu
sindroma klinis akibat penumpukan cairan berlebihan di rongga perikard
yang menyebabkan penurunan pengisian ventrikel disertai gangguan
hemodinamik. Jumlah cairan yang cukup untuk menimbulkan tamponade jantung
adalah 250 cc bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung cepat, dan 100 cc
bila pengumpulan cairan tersebut berlangsung lambat, karena pericardium
mempunyai kesempatan untuk meregang dan menyesuaikan diri dengan volume
cairan yang bertambah tersebut.12

2.4.2 Manifestasi Klinis


Gejala Obyektif13
1. Pernapasan cepat & dangkal
2. Nadi capat dan lemah
3. Akral pucat, dingin & lembab
4. Sianosis: bibir, kuku, lidah & cuping hidung
5. Pandangan hampa & pupil melebar
Gejala Subyektif13
1. Mual dan mungkin muntah
2. Rasa haus
3. Badan lemah
4. Kepala terasa pusing

10
Berikut ini adalah ada empat tanda syok yang paling penting:13
1. Hipotensi terjadi akibat dari berkurangnnya curah jantung. Dikatakan
hipotensi jika tekanan darah systole dibawah 80 mmHg atau tekanan nadi
dibawah 20 mmHg.
2. Takikardi terjadi akibat dari refleks simpatis terhadap keadaan hipotensi. Pada
orang dewasa frekuensi nadi 60-100 kali/menit, jadi dikatakan takikardi jika
frekuensi nadi diatas 100 kali/menit. Pada anak-anak dikatakan takikardi jika
di atas 120 kali/menit.
3. Takipnu terjadi akibat usaha tubuh untuk mengkompensasi hipoksia pada
keadaan syok. Pernapasan di katakana takipneu, jika frekuensinya di atas 24
kali/menit.
4. Penurunan kesadaran terjadi akibat aliran darah ke saraf pusat tidak memadai.
Penurunan kesadaran ini bisa berupa kebingungan, letargia, agitasi dan koma.

2.4.3 Patofisiologi
Menurut patofisiologinya, syok terbagi atas 3 fase yaitu:
1. Fase Kompensasi
Penurunan curah jantung (cardiac output) terjadi sedemikian rupa sehingga
timbul gangguan perfusi jaringan tapi belum cukup untuk menimbulkan gangguan
seluler. Mekanisme kompensasi dilakukan melalui vasokonstriksi untuk menaikkan
aliran darah ke jantung, otak dan otot skelet dan penurunan aliran darah ke tempat
yang kurang vital. Faktor humoral dilepaskan untuk menimbulkan vasokonstriksi dan
menaikkan volume darah dengan konservasi air. Ventilasi meningkat untuk mengatasi
adanya penurunan kadar oksigen di daerah arteri. Jadi pada fase kompensasi ini
terjadi peningkatan detak dan kontraktilitas otot jantung untuk menaikkan curah
jantung dan peningkatan respirasi untuk memperbaiki ventilasi alveolar. Walau aliran
darah ke ginjal menurun, tetapi karena ginjal mempunyai cara regulasi sendiri untuk
mempertahankan filtrasi glomeruler. Akan tetapi jika tekanan darah menurun, maka
filtrasi glomeruler juga menurun.12
2. Fase Progresif
Terjadi jika tekanan darah arteri tidak lagi mampu mengkompensasi
kebutuhan tubuh. Faktor utama yang berperan adalah jantung. Curah jantung tidak
lagi mencukupi sehingga terjadi gangguan seluler di seluruh tubuh. Pada saat tekanan
darah arteri menurun, aliran darah menurun, hipoksia jaringan bertambah nyata,
11
gangguan seluler, metabolisme terganggu, produk metabolisme menumpuk, dan
akhirnya terjadi kematian sel. Dinding pembuluh darah menjadi lemah, tak mampu
berkonstriksi sehingga terjadi bendungan vena, vena balik (venous return) menurun.
Relaksasi sfinkter prekapiler diikuti dengan aliran darah ke jaringan tetapi tidak dapat
kembali ke jantung. Peristiwa ini dapat menyebabkan trombosis kecil-kecil sehingga
dapat terjadi koagulopati intravasa yang luas (DIC = Disseminated Intravascular
Coagulation).
Menurunnya aliran darah ke otak menyebabkan kerusakan pusat vasomotor
dan respirasi di otak. Keadaan ini menambah hipoksia jaringan. Hipoksia dan anoksia
menyebabkan terlepasnya toksin dan bahan lainnya dari jaringan (histamin dan
bradikinin) yang ikut memperjelek syok (vasodilatasi dan memperlemah fungsi
jantung). Iskemia dan anoksia usus menimbulkan penurunan integritas mukosa usus,
pelepasan toksin dan invasi bakteri usus ke sirkulasi. Invasi bakteri dan penurunan
fungsi detoksikasi hepar memperjelek keadaan. Dapat timbul sepsis, DIC bertambah
nyata, integritas sistim retikuloendotelial rusak, integritas mikro sirkulasi juga rusak.
Hipoksia jaringan juga menyebabkan perubahan metabolisme dari aerobik menjadi
anaerobik. Akibatnya terjadi asidosis metabolik, terjadi peningkatan asam laktat
ekstraseluler dan timbunan asam karbonat di jaringan. 12
3. Fase Irevesibel
Karena kerusakan seluler dan sirkulasi sedemikian luas sehingga tidak dapat
diperbaiki. Kekurangan oksigen mempercepat timbulnya ireversibilitas syok. Gagal
sistem kardiorespirasi, jantung tidak mampu lagi memompa darah yang cukup, paru
menjadi kaku, timbul edema interstisial, daya respirasi menurun, dan akhirnya
anoksia dan hiperkapnea.12
Syok obstruktif

Emboli paru Tamponade jantung

Arteri Pulmonalis Cairan terkumpul


Tersumbat jantung didalam kantong

Tekanan arteri pulmonal Jantung tertekan

12
Afterload ventrikel kanan Kompensasi jantung

Ventrikel kanan dilatasi Kerja jantung

Output ventrikel kanan Suplai darah

Output ventrikel kiri Volume sekuncup

Sistem perfusi Curah jantung

Darah dan oksigen di paru

Hiperventilasi

Pola napas tidak efektif

2.4.4 Penatalaksanaan
Pasien diletakkan dalam posisi Trendelenburg atau telentang dengan kaki
ditinggikan. Untuk syok yang tidak terdiagnosis:13
1. Bebaskan jalan napas dan yakinkan ventilasi yang adekuat
2. Pasang akses ke intravena
3. Mengembalikan cairan
4. Pertahankan produksi urine > 0,5 ml/kgBB/jam

13
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Syok merupakan suatu keadaan patofisiologik dinamik yang terjadi, yang mana
aliran darah untuk penghantaran oksigen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
oksigen jaringan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi organ (organ
dysfunction). Oleh karena itu syok membutuhkan manajemen penanganan segera yang
tepat. Syok sendiri secara umum dapat dibagi menjadi syok hipovolemik, syok
obstruktif, syok distributif (syok neurogenik, syok anafilaktik, syok septik) dan syok
kardiogenik.
Secara umum penatalaksanaan syok adalah dengan cara memperbaiki perfusi
jaringan, mencari penyebab, mengatasi penyebab, mengatasi komplikasi dan
mempertimbangkan terapi lanjutan.
Terapi cairan resusitasi pada pasien syok hipovolemik akibat perdarahan
(hemoragik) perlu mendapat perhatian lebih serius untuk menurunkan angka mortalitas
dan morbiditas. Hal-hal yang menjadi bahan pertimbangan antara lain mengetahui
stadium syok hipovolemik dan perubahan patofisiologi terkait, deteksi dini compensated
shock agar cairan bisa diberikan adekuat, mengetahui berapa banyak cairan
kristaloid/koloid diberikan, indikasi transfusi darah, serta bagaimana mengetahui
keberhasilan resusitasi.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Tintinalli JE. 2010. Emergency medicine: a comprehensive study guide. New York:
McGraw-Hill Companies.
2. Nawar EW, Niska RW, Xu J: National Hospital Ambulatory Medical Care Survey:
2005 emergency department summary. Adv Data 386: 1, 2007. [PMID: 17703794]
3. Anderson SP, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit jilid 1,
edisi 4. Jakarta: EGC; 1995.
4. Siti Setiati, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keenam Jilid I. Jakarta:
Interna Publishing; 2014.
5. Sjamsuhidayat, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC; 2005.
6. Lamm, Ruth L., and Coopersmith, Craig M. Comprehensive Critical Care:Adult.
Chapter 10. Illinois: Society of Critical Care Medicine; 2012.
7. Wijaya, IP. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Ed VI. Interna Publishing.
Jakarta. 2014.
8. Worthley. IG, Shock: A Review of pathophysiology and management. Department of
critical care medicine. Flinders medical centre. Adelaide. 2000.
9. Queensland Ambulance Service. Clinical Practice Guidelines: Trauma/Hypovolaemic
Shock. Queensland. 2016.
10. Pascoe S, Lynch J. Management of Hypovolaemic Shock in the Trauma Patient.
11. First Aid Guide and Emergency Treatment Instructions. Saporo fire bureau. Available
at [https://www.city.sapporo.jp]. 2016.
12. Sudoyo Aru. Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi Keenam Jilid III. Jakarta: Interna
Publishing. 2014.
13. Purwadianto, Agus. Kedaruratan Medik Pedoman Penatalaksanaan Praktis. Jakarta :
BINARUPA Aksara Publisher. 2017.

15