Anda di halaman 1dari 60

METODE PELAKSANAAN PONDASITIAN

G PANCANG DAN FILE CAPDERMAGA DI P


ELABUHANBATULICIN, KECAMATAN
BATULICIN

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Sebagai Mata Kuliah Wajib


Pada Politeknik Kotabaru

Oleh:

Nama : Aliansya
NIM : 13.22401.017
Jurusan : Teknik Sipil
Program Studi : Diploma III (D3)

POLITEKNIK KOTABARU
2016

.22401.0172, “Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang Dan File Cap Dermaga di Pelabuhan Batulicin,
Kecamatan Batulicin”, Pembingbing Institusi: Dina Heldita, ST, M.Eng. Pembimbing Lapanaga:
Ades. B. Dwiputra, ST

ABSTRAKSI
Pondasi sebagai struktur bawah secara umum dapat dibagi dalam 2 (dua) jenis, yaitu
pondasi dalam dan pondasi dangkal. Pemilihan jenis pondasi tergantung kepada jenis struktur
atas apakah termasuk konstruksi beban ringan atau beban berat dan juga tergantung pada jenis
tanahnya. Untuk konstruksi beban ringan dan kondisi tanah cukup baik, biasanya dipakai pondasi
dangkal, tetapi untuk konstruksi beban berat biasanya jenis pondasi dalam adalah pilihan yang
tepat.
Penulis mengikuti Praktek Kerja Lapangan di salasatu perusahaan yang bergerak
dalam bidang kontruksi yaitu PT. Sukses Gilang Perkasa yang mana perusahaan tersebut
memiliki bebrapa proyek yang mana salasatu proyek tersebut adalah tempat sipenulis mengikuti
PKL, nama proyek tersebut adalah Pembuatan Fillet Untuk Turning Area Di Dermaga Batulicin
Tanah Bumbu – Kalimantan Selatan dan penulis akan mengambil pembahasan laporan yaitu
Metode Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang Dan File Cap Di Dermaga di Pelabuhan Batulicin,
Kecamatan Batulicin.
Bangunan tersebut di bangun di atas laut dengan mengunakan pondasi tiang pancang
yang di bantu dengan alat berat kren yang dipukul dengan hammer diesel, yang mana bangunan
ini mengunakan perancah kayu galam dan menggunakan pengikat Pile Cap untuk mengikat
Pondasi sebelum didirikan balok dan lantai dibagian atasnya.

Kata Kunci : Pondasi Tiang Pancang Pile Cap.

DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................
ii
ABSTRAKSI............................................................................................
........... iii
KATA
PENGANTAR....................................................................................... iv
DAFTAR
ISI.......................................................................................................
v
DAFTAR
GAMBAR.......................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2 Ruang Lingkup Bidang Kegiatan Praktek Kerja Lapangan.......... 2
1.3 Tujuan kegiatan Praktek Kerja Lapangan..................................... 2
1.4 Manfaat kegiatan Praktek Kerja Lapangan .................................. 2
1.5 Waktu pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan................. 3

BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN


2.1 Sejarah Singkat Perusahaan........................................................... 4
2.2 klasifikasi dan Kualifikasi PT. Sukses Gilang Perkasa.................. 4
2.3 Struktur Organisasi PT. Suksek Gilang Perkasa............................ 5
2.3.1 Uraian Jabatan...................................................................... 6
2.4 Aspek kegiatan Perusahaan........................................................... 7

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil kegiatan Praktek Kerja Lapangan…………………………. 8
3.2 Perhitungan Volume Beton Tiang Pancang Dan Pile Cap............. 28
3.2.1 Perhitungan Volume Beton Dan Tulangan Tiang Pancang.. 28
3.2.2 Perhitungan Volume Beton Dan Tulangan Pile Cap……….30

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan...................................................................................
33
4.2 Saran ............................................................................................
33

DAFTAR PUSTAKA........................................................................... 35

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat
dan Hidayah-Nya kepada kita semua sehingga penulisdapat menyelesaikan laporan dari hasil
Praktek Kerja lapangan (PKL) selama 3(Tiga) bulan tanpa kendala yang berarti.
Pada kesempatan PKL ini penulis memilih untuk mengamati dan mempelajari metode
pelaksanaan pemancangan Tiang pancang dan Pile Capyang merupakan proyek dari PT. Sukses
Gilang Perkasa. Selama menjalani program PKL ini penulis tidak lepas dari bimbingan para
tenaga ahli, baik itu dibidang sivil, elektrikal, dan sebagainya. Tidak ada yang dapat saya berikan
selain ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Bapak Ibnu Faozi, S.Sos, M.IP selaku Direktur Politeknik Kotabaru.
2. Bapak Hasbi Assidiq, ST,MT selaku Pembantu Direktur.
3. Ibu Sylvina Permatasari, ST selaku Sekertaris Jurusan Teknik Sipil.
4. Ibu Dina Heldita, ST.M.Eng selaku Dosen Pembinbing PKL.
5. Seluruh dosen pengajar Teknik Sipil.
6. Bapak Sutrisno, ST selaku pimpinan PT. Sukses Gilang Perkasa.
7. Bapak Ades .B. Dwi Putra, ST selaku Pembinbing Lapangan Mahasiswa.
8. Orang Tua yang telah memberikan dukungan moril, material maupun semangat yang tidak
ternilai harganya selama melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan.
9. Seluruh teman-teman dari semua jurusan yang ada di Politeknik Kotabaru, terutama jurusan
Teknik Sipil.
Penulis sangat mengharapkan adanya masukan baik saran maupun kritik yang bersifat
membangun dari semua pihak karena penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih
banyak terdapat kekurangan yang kiranya dapat di maklumi.
Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua serta bagi para peserta Praktek Kerja
Lapangan Politeknik Kotabaru dimasa mendatang, khususnya bagi adik-adik jurusan Teknik
Sipil yang akan menjalani programPraktek Kerja Lapangan.

Kotabaru, Februari 2016


Penyusun

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang PKL


Pembangunan suatu konstruksi, pertama-tama sekali yang dilaksanakan dan dikerjakan
di lapangan adalah pekerjaan pondasi (struktur bawah) baru kemudian melaksanakan pekerjaan
struktur atas. Pembangunan suatu pondasi sangat besar fungsinya pada suatu konstruksi. Pondasi
adalah bagian dari sistem rekayasa yang meneruskan beban yang ditopang oleh pondasi (struktur
atasnya, bagian system yang direkayasa, yang membawa beban ke pondasi (struktur bawah)
melalui bidang antara interface/tanah serta berat sendiri kedalam tanah dan batuan yang terletak
dibawahnya (Braja M. Das, 1941).
Di zaman sekarang semua pekerjaan pembangunan semakin cepat dan cukup mudah
dengan teknologi yang semakin maju dan pemamfaatan sumber daya alam yang ada
disekitarnya, seperti yang terjadi di kota Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu Provensi
Kalimantan Selatan, di Kota ini setiap harinya dan setiap Minggunya banyak kapal-kapal
kontainer maupun kapal penumpang yang masuk di pelabuhan ini dengan mengantar orang-
orang yang ingin bepergian dan mengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat.
Dengan lancarnya pemasukan dan pengiriman barang-barang tersebut maka akan sangat
menguntungkan untuk meningkatkan ekonomi daerah dan menunjang lancarnya perdagangan
antar pulau atau negara serta perkembangan daerah sekitarnya dan untuk mendukung kelancaran
produksi sutau perusahaan atau pabrik.
Untuk lebih melancarkan aktivitas yang di lakukan di pelabuhan tersebut maka akan di
bangun dermaga tambahan yang berada di dekat pelabuhan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar
lebih mempermudah perjalanan masuk dan keluarnya mobil yang akan mengangkut barang yang
masuk atau barang yang akan dikirim.

1.2 Ruang Lingkup Bidang Kegiatan PKL


Ruang lingkup bidang kegiatan Peraktek Kerja Lapangan di PT. Sukses Gilang Perkasa
adalah :
1. Pekerjaan pendahuluan
2. Pekerjaan pemancangan
3. Pekerjaan beton dermaga
4. Pekerjaan penyelesaian

1.3 Tujuan Kegiatan PKL


Adapun tujuan diadakannya Kegitan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah sebagai
berikut :
1. Untuk mengetahui metode pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang.
2. Untuk mengetahui alat-alat apa saja yang dipakai dalam melaksanakan pembangunan Pondasi
Tiang Pancang.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara melaksanakan pembangunan suatu proyek dermaga yang
dibangun diatas permukaan laut.
4. Untuk mengatahui bagaimana bentuk-bentuk dan cara pembuatan tulangan Tiang Pancang dan
Pile Cap.
5. Meningkatkan daya kreasi dan prduktifitas Mahasiswa sebagai persiapan menghadapi atau
memasuki dunia usaha.

1.4 Mamfaat Kegiatan PKL


Adapun mamfaat kegiatan Praktek Kerja Lapangan untuk perusahaan, perguruan tinggi
maupun mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan
a. Membantu mempermudah pekerjaan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
b. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam merekrut calon kariawan yang berkualitas
dan professional dalam dunia kerja.
2. Perguruan Tinggi
Dengan diadakannya kegiatan ini dapat membina hubungan baik dan kerja sama dengan
perusahaan dan perguruan tinggi.
3. Mahasiswa
a. Mahasiswa mendapatkan keterampilan untuk melaksanakan program kerja pada perusahaan.
b. Mendapatkan bentuk pengalaman kerja yang nyata serta permasalahan yang dihadapi di dunia
kerja.
c. Menumbuhkan rasa tanggung jawab, kedisiplinan dan keaktifan dalam bekerja agar dapat
bersaing dalam menghadapi dunia usaha kedepannya.

1.5 Waktu Pelaksanaan PKL


Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan pada PT. Sukses Gilang Perkasa (SGP) di
laksanakan selama kurang lebih 90 ( Sembilan Puluh Hari ), terhitung mulai tanggal 5 Oktober
2015 sampai dengan 7 Januari 2016.

BAB II
GAMBARAN UMUM TEMPAT PRAKTEK KERJA LAPANGAN

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan


Instansi tempat penulis melakukan Peraktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan sebuah
perusahaan pelaksana kontruksi yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), yaitu PT. Sukses
Gilang Perkasa.
PT. Sukses Gilang Perkasa adalah Perusahaan yang berdidri secara sah berdasarkan
badan hukum dengan akta pendirian No. 31 Tanggal 14 Maret 2009 yang di tandatangani oleh
Notaris Kasmuri, SH, berkedudukan Jl. H. Hasan Basri No. 194 Desa Semayap Kec. Pulau Laut
Utara, Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan. Sebagai badan usaha, PT. Sukses Gilang
Perkasa telah memiliki beberapa surat pengesahan antara lain :
1. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dari Dinas Koperasi. UKM Perindustrian dan
Perdagangan.
2. Izin Usaha Jasa Kontruksi (IUJK) dari defartemen pekerjaan umum.

2.2 Klasifikasi dan Kualifikasi PT. Sukses Gilang Perkasa


Mempunyai klasifikasi bangunan sipil dan mempunyai kualifikasi menengah, PT.
Sukses Gilang Perkasa juga mempunyai Subklasifikasi antara sebagai berikut:
1. Jasa pelaksana untuk kontruksi saluran air, pelabuhan, dan prasarana suber daya air lainnya.
2. Jasa pelaksana untuk kontruksi jalan raya (kecuali jalan layang), jalan rel kereta api dan landas
pacu bandara.
3. Jasa pelaksana kontruksi pekerjaan jembatan, terowongan dan Subways
4. Jasa pelaksana untuk kontruksi perpipaan air minum lokal
5. Jasa pelaksana kontruksi banguna stadion untuk olahraga outdoor

2.3 Struktur Organisasi PT. Sukses Gilang Perkasa


Adapun struktur organisasi yang di buat dalam proyek
pembuatanFillet Untuk Turning Area Di Dermaga Batulicin adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT. Sukses Gilang Perkasa

2.3.1 Uraian Jabatan


Untuk mengetahui tugas pada masing-masing bagian yang ada di PT. Sukses Gilang
Perkasa, berikut ini akan penulis uraikan tugas dari masing-masing bagian yaitu sebagai berikut:
1. Direktur
a. Sebagai pimpinan tertinggi yang bertanggung jawab atas kelancaran dan pelaksanaan kegiatan
perusahaan, mengkordinir serta membimbing kegiatan perusahaan sehari-hari.
b. Mempertanggungjawabkan semua kewajiban yang menyangkut rugi laba perusahaan, produksi,
keuangan dan pemasaran.
2. Site Manager
Site Manager proyek adalah orang atau seseorang yang dipilih dengan kemampuan
tertentu untuk memimpin orang-orang dalam proyek yang berbagai karakteristik, latar belakang
budaya, dengan tujuan tertentu dari proyek tersebut.
a. Tugas-tugas dari Site Manager bertanggung jawab pada pelaksanaan pembangunan keseluruhan
baik biaya, waktu dan mutu, dapat diberikan dalam beberapa bagian, tugas Perencanaan yaitu
merencanakan “Time Schedule” pelaksanaan proyek sesuai dengan kewajiban dari perusahaan
terhadap pemilik proyek atau kepentingan perusahaan sendiri dan merencanakan pemakaian
bahan dan alat dan pekerjaan instalasi untuk setiap proyek yang ditangani sesuai dengan volume
dan waktu penggunaannnya.
3. Logistik
Logistik adalah yang mengatur dan mengontrol barang, informasi dan sumber daya
lainnya, sperti produk, jasa dan manusia, pembangunan akan sulit di lakukan tampa dukungan
bagian logistik.
a. Uraian tugas seorang staf logistik proyek adalah :
1) Mempelajari spesifikasi material dan jadwal penggunaan material
2) Membuat jadwal pengadaan material, berdasarkan jadwal penggunaannya.
3) Melakukan pengadaan material secara jadwal yang di tentukan.
4. Keuangan
Sebuah proyek konstruksi akan berjalan dengan baik jika didukung oleh seorang
administrasi dan keuangan proyek dengan berbagai macam tugasnya.
Peran administrasi proyek dimulai dari masa persiapan pelaksanaan pembangunan
sampai dengan pemeliharaan dan penutupan kontrak kerja
Tugas bagian keuangan adalah sebagai berikut :
a. Bertanggung jawab atas penerimaan dan pembayaran yang terjadi.
b. Melakukan data dan membuat laporan perhitungan pajak
5. Pengawas Lapangan
Orang yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pekerjaan apakah sesuai
dengan ketentuan yang telah di pastikan agar dapat memberikan laporan kepada pimpinan
proyek menegenai kualitas material dan peralatan yang di gunakan sesuai dengan rencana atau
belum.
Tugas dan tanggung jawab pengawas lapangan yaitu antara lain :
a. Melaksanakan pengawasan pekerjaan di lapangan, sehingga tetap terlaksana dengan baik sesuai
dengan rencana kerja.
b. Menampug segala persoalan di lapangan dan menyampaikannya kepada pimpinan proyek.
c. Membantu survey dan mengumpulkan data di lapangan.
d. Menjaga hubungan baik dengan instansi serta masyarakat setempat yang berhubungan dengan
pekerjaan.
e. Meneliti laporan bulanan yang di serahkan oleh kontraktor.
f. Bertangung jawab atas hasil pekerjaan kepada owner /pemilik proyek.

2.4 Aspek-Aspek kegiatan Perusahaan


Perusahaan tempat penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan berperan Suplayer,
Developer dan sebagai kontraktor pada sebuah proyek yang sedang dilaksanakan.
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Kegiatan Peraktek Kerja Lapangan


Dari pelaksanaan proyek pembangunan pembuatan Fillet UntukTurning Area di
dermaga Batulicin Tanah Bumbu Kalimantan Selatan, yang ikut serta dalam Praktek Kerja
Lapangan ( PKL) dalam kurun waktu 8 Minggu 2 Bulan.
Menurut Bowles, 1991 Tiang Pancang dapat dibagi kedalam beberapa kategori yaitu
Tiang Pancang Kayu, Tiang Pancang Beton, Tiang baja dan Tiang Bor Pile dan dalam proyek ini
menggunakan Tiang Pancang Baja.Banyak kegiatan-kegiatan yang di kerjakan selama Praktek
Kerja Lapangan meliputi ruang lingkup pekerjaan Tiang Pancang, penyambungan dan
pemotongan Tiang Pancang, Dinamic Load Test ( PDA TEST ), beton isi tiang, perancah ,
pembuatan Pile Cap, balok dan lantai.

1. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini yang perlu dilaksanakan terlebih dahulu adalah pengukuran yaitu
menentukan titik pertama yang akan di pancang, memberi tanda ukuran per meter pada Tiang
Pancang dan persediaan pengadaan air kerja, listrik pada tahap ini juga harus di perhatikan
adalah lokasi tempat perakitan besi tulangan untuk Tiang Pancang, Pile Cap, balok dan lantai.
Penempatan material tersebut agar tidak terlalu jauh dengan lokasi proyek agar
mempermudah pekerjaan dan tidak terlalu memakan banyak waktu.
a. Material-Material untuk pekerjaan sepatu tiang pancang, pengecoran Tiang Pancang, Pile Cap,
balok dan lantai antara lain :
1) Plat besi tebal 1 cm utuk sepatu Tiang Pancang
Berfungsi sebagai penahan bagian bawah Tiang Pancang agar lebih mempermudah Tiang
Pancang masuk kedalam tanah setiap di lakukannya pemukulan.

2) Besi tulangan
Berfungsi sebagai penguat beton terhadap gaya tarik yang terjadi.
3) Kayu bekisting Berfungsi sebagai cetakan yang dibentuk untuk mendapatkan hasil cetakan yang
diinginkan.
4) Kayu perancah adalah tiang-tiang atau gelagar yang difungsikan sebagai penahan agar cetakan
tidak berubah bentuk dan tidak berpindah posisi dan sebagai alat bantu untuk menopang orang-
orang yang sedang bekerja.
5) Paku berfungsi sebagai sebagai pengunci kayu satu dengan kayu yang lainnya.
6) Kawat benrat berfungsi sebagai pengikat antar baja tulangan agar dapat membentuk struktur
seperti yang dikehendaki.
7) Semen, split, pasir dan air untuk memnbuat beton sesuai yang diinginkan.
a. Peralatan-peralatan untuk pekerjaan sepatu Tiang Pancang, pengecoran Tiang Pancang dan Pile
Cap antara lain :
1) Vibrator
Alat yang berfungsi untuk memadatkan adonan beton yang dimasukan ke dalam bekisting.
2) Cangkul
Berfungsi untuk mengangkut agregat kedalam wadah yang sudah di siapkan.
3) Arco
Berfungsi untuk mengangkut adonan beton.
4) Mesin molen
Untuk mebuat adukan, baik untuk keperluan pasangan maupun plesteran, pasir dan semen diaduk
sampai merata menurut campuran tertentu dengan menggunakan cangkul atau pengaduk beton.
5) Palu
Untuk memukul paku dan sebagainya yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
6) Ember untuk mengangkut air.
7) Keranjang pasir dan batu
Berfungsi untuk mempermudah mengangkut agregat yang sesuai dengan yang telah ditentukan.
8) Gragaji mesin untuk memotong besi dan gragaji tangan untuk memotong kayu
9) Las listrik untuk menyambung Tiang Pancang
10) Las acetlin untuk memotong Tiang Pancang
b. Pembuatan sepatu untuk Tiang Pancang dan tanda per meter untuk Tiang Pancang.
Dalam tahap ini merupakan sala satu hal yang penting karena sepatu inilah yang
melindungi ujung tiang selama pemancangan, sepatu Tiang Pancang harus kuat agar tidak lepas
ketika berhadapan dengan tanah keras dan untuk mempermudah perhitungan penumbukan maka
diberilah tanda per meter pada Tiang Pancang berupa cat yang sudah disediakan.
50 cm
48 cm
20 cm

17 cm

5 cm

Gambar 3.1 Sepatu Tiang Pancang


Sepatu Tiang Pancang mengunakan bahan dari plat besi dengan tebal 1 cm yang dibentuk
seperti gambar 3.1 di atas.
Gambar 3.2 Pemberian Tanda Per Meter Pada Tiang Pancang
Tiang Pancang harus diberi tanda dengan cat putih untuk keperluan pemantauan pada
saat pemancangan dilakukan, adapun tahap pengerjaannya adalah sebagai berikut :
1) Tiap jarak 0,5 m atau 1 m dari ujung Tiang Pancang sampai ke pangkalnya.
2) Diberi angka pada tiap meternya dari ujung bawah ke pangkal tiang.
3) Untuk tiang sambungan, angka harus melanjutkan angka dari tiang yang disambung.
4) Tiang sambungan harus selalu diposisikan didekat titik pancang yang sedang dikerjakan supaya
tidak terlalu lama mengambil tiang sambungan jika diperlukan penyambungan.

2. Pemancangan Tiang Pancang Di Ameter 50 cm


Pondasi Tiang Pancang (pile foundation) adalah bagian dari struktur yang digunakan
untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas ke tanah penunjang
yang terletak pada kedalaman tertentu, Tiang Pancang bentuknya panjang dan langsing yang
menyalurkan beban ke tanah yang lebih dalam. Penggunaan pondasi Tiang Pancang sebagai
pondasi bangunan apabila tanah yang berada dibawah dasar bangunan tidak mempunyai daya
dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan beban yang bekerja
padanya (Sardjono HS, 1988).
Dalam pembuatan fillet untuk turning area di dermaga Batulicin mengunakan Tiang
Pancang pipa besi dengan diameter 50 cm dan panjang 12 meter yang diankat dengan kren,
pemancangan dilakukan dengan alat Diesel Hammer yang berbentuk silinder dengan piston atau
ram yang berfungsi untuk menekan Tiang Pancang, adapun pekerjaannya dapat dilihat pada
gambar 3.3 dibawah ini.
Gambar 3.3 Pekerjaan Pemancangan Pondasi Tiang Pancang
Sebelum melakukan penekanan dengan Hammer, hal yang harus di perhatiakan adalah
tegak lurusnya pipa baja dan sejajarnya tiang dengan yang lainnya agar pada saat melakukan
pekerjaan balok, balok tersebut lurus dan tidak miring.

3. Penyambungan Tiang Pancang


Pekerjaan penyambungan Tiang Pancang dilakukan pada saat Tiang Pancang pertama
telah masuk ke dalam tanah dan belum mencapai tanah yang keras, penyambungannya pun tidak
mudah yaitu dengan mengunakan alat bantu kren seperti halnya melakukan pemancangan
penyambungan ini harus benar-benar sejajar rata dengan Tiang Pancang yang sebelumnya telah
masuk ke dalam tanah agar pada saat melakukan pengelasan sambungan tersebut tidak miring,
adapun pengerjaan dapat dilihat pada gambar 3.4 di bawah.
Gamabar 3.4 Penyambungan Dengan Alat Las
Penyambungan dilakukan dengan cara mengunakan alat las yang mana pengelasan
tersebut harus kuat agar pada saat pemukulan dilakukan Tiang Pancang Tersebut tidak patah
dibagian sambungan tersebut.

Gambar 3.5 Pemberian Cat Pada Sambungan


Setelah pengelasan selesai sambungan las tersebut di beri cat kusus yang bertujuan agar
hasil pengelasan pada sambungan Tiang Pancang cepat kering dan hasil sambungan las tersebut
tidak cepat berkarat seperti pada gambar 3.5 diatas.
Gambar 3.6 Lapisan Anti Karat ( Denso Paste s-105 )
Pemberian Lapisan Anti Karat ( Denso Paste s-105) yang juaga bertujuan untuk
melindungi cat tersebut agar pada saat sambungan tersebut masuk ke dalam tanah cat tersebut
tidak hilang yang diakibatkan oleh gesekan tanah, pengerjaannya seperti pada gambar 3.6 diatas.

Gambar 3.7 Proses Kalendering


Pemancangan selesai ketika beberapa tiang masuk dan sampai ditanah yang keras dan
pada saat itulah dilakukannya kalendering yaitu denga cara seperti gambar 3.7 diatas, adapun alat
yang disediakn cukup spidol/pensil, kertas milimeterblock, selotip dan kayu pengarah
spidol/pensil agar selalu pada posisinya, alat tersebut biasanya juga telah disediakan oleh subkon
pancang dan pelaksanaannya pun merupakan bagian dari kontrak pemancangan, pelaksanaannya
dilaksanakan pada saat 10 pikulan terakhir, pelaksanaan kalendring pada saat hampir top pile
yang disyaratkan. Final Set 2 cm untuk 10 pukulan terakhir atau biasa dilihat dari data bor log.
Pekerjaan ini di lakukan hingga mencapai titik yang telah ditentukan yaitu 27 titik
pondasi Tiang Pancang.

4. Pengerjaan PDA Test


PDA Test adalah singkatan dari Pile Dynamic Analyzer Test yang merupakan sebuah
test untuk mengukur kapasitas tiang tekan secara dinamik pada pondasi dalam baik itu Tiang
Pancang maupun tiang bor. Alat ini berupa komputer khusus yang telah dibuat untuk mampu
mengukur variabel yang di butuhkan dalam perhitungan dinamik tersebut.

Gambar 3.8 Pemasangan PDA Test Setelah Pipa Di Bor


Sebelum pemasangan alat penghubung ke komputer PDA pipa tersebut dibor pada
bagian pipa baja agar ada tempat untuk memasang alat penghubung
yaitu accelerometer dan transducer agar bisa terhubung dengan komputer PDA seperti gambar
3.8 diatas.
Gambar 3.9 Pengecekan pada Layar Komputer PDA
Pengecekan dilayar komputer PDA dilakukan setelah persiapan selesai dan setelah itu
Tiang Pancang dipukul Lima kali atau lebih untuk melihat hasilnya seperti pada gambar 3.9
diatas.
Umumnya PDA digunakan untuk menentukan daya dukung jangka Panjang tiang
pondasi, untuk tujuan ini pengujian PDA sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah
pemancangan, setelah daya lengketan tanah mulai bekerja.

5. Pemasangan Perancah
Perancah adalah merupakan kontruksi pembantu pada pekerjaan bangunan untuk
mempermudah manusia dalam melakukan pekerjaannya seperti pengerjaan pembesian dan
pengecoran yang di lakukan di atas laut seperti pada gambar 3.10 dibawah.
Gambar 3.10 Pemasangan Perancah Kayu Galam
Perancah yang di gunakan pada proyek ini adalah kayu galam yang di pasang ketika
air laut surut dan memakai besi ulir diameter 16 sebagai pengaitnya agar lebih kuat untuk
menahan beban dan besi polos diameter 10 sebagai sambungannya untuk mengikat kayu tersebut
agar lebih kuat dan tidak kendor.

6. Pemotongan Tiang Pancang


Pemotongan mengunakan alat las acetlin, hal yang paling di perhatikan dalam pekerjaan
pemotongan ini adalah tinngi sisa Tiang Pancang satu dengan yang lainnya sama agar pada saat
melakukan pekerjaan Pile Cap, balok dan lantainya tidak terlalu miring.

Gambar 3.11 Pemotongan Sisa Tiang


Adapun cara yang di lakukan agar supaya Tiang Pancang satu dengan yang lainnya rata
yaitu dengan cara mengunakan selang air setelah itu diberi tanda berupa cat agar lebih
memudahkan ketika memotong.
7. Pekerjaan Perakitan Tulangan Tiang Pancang Dan Pile Cap
Pada pekerjaan perakitan tulangan ini dilakukan diawal dan sampai selesai, pekerjaan
perakitan tulangan ini meliputi pekerjaan perakitan tulangan Tiang Pancang dan Tulangan Pile
Cap.
a. Tualangan pipa Tiang Pancang
Ada beberapa bentuk tulangan yang berada di dalam pipa Tiang Pancang yaitu
tualangan utama yang berbentuk memanjang dengan bengkokan diujung dan tulangan spiral
yang berbentuk melingkar seperti pada gambar 3.12 detail tulangan di dalam Tiang Pancang

0,5 m

2m

Kayu bekisting

Bentuk tulangan utama D 16

Bentuk tulangan besi spiral Ø 10


Gambar 3.12 Detail Tulangan Tiang Pancang
Adapun cara membuat tulangan utama yaitu dengan cara memotong tulangan diameter
19 yang di sediakan sepanjang 2,4 Meter lalu bengkokkan besi sekitar 30° sepanjang 40 cm dan
buat benkokan di ujung sepanjang 10 cm, tulangan ini di buat sebanyak 8 buah sesuai yang
digambar kerja.

Gambar 3.13 Pembuatan Tulangan Spiral


Sedangkan cara membuat tulangan spiral yaitu siapkan tulangan diameter 8 lalu pasang
tulangan tersebut dialat manual yang sudah dibuat berbentuk lingkaran memanjang lalu putar
sehingga tulanagn tersebut berbentuk tulangan spiral, seperti gambar 3.13 diatas.
Gambar 3.14 Tulangan Untuk Isi Tiang Pancang
Setelah tulangan utama dan spiral jadi maka perakitan untuk tulangn isi Tiang Pancang
dikerjakan yaitu dengan cara memasukkan tulangan utama kedalam tulangan spiral dan ikat
dengan kawat bendrat supaya terbentuk jarak 10 cm sesuai digambar kerja seperti pada gambar
3.14 di atas.
b. Tulangan Pile Cap
Ada Tiga bagian bentuk dalam pekerjaan tulangan ini yaitu antara lain sebagai berikut :
1) Tualangan geser pertama yang berada didalam ini mempunyai bentuk memanjang dengan
dengan bengkokan dibagian ujung ke ujung, jumlah tulangan ini sebanyak 10 buah tulangan
diameter 19 dengan jarak 15 cm dengan ukuran yang sama dan arah pemasangannya yaitu
memanjang dan melintang seperti gambar 3.15 di bawah ini.

`
Gambar 3.15 Tulangan Geser Bagian paling Dalam
Tulangan ini mempunyai fungsi untuk menahan Pile Cap agar pada saat selesai
penngecoran Pile Cap tersebut tidak mengalami penurunan.
2) Tulangan geser kedua mempunyai bentuk seperti huruf “n” dengan bengkokan ujung
menjulur kedalam, jumlah tulangan ini sebanyak 14 buah tulangan besi ulir diameter 19, dengan
bentuk dan ukuran seperti gambar 3.16 dibawah ini.
10 cm

Gambar 3.16 Tulangan Geser Bagian Ke Dua


Tulangan geser ini berfungsi untuk memperkuat beton terhadap gaya yang datang.
3) Tulangan pokok bagian paling luar yaitu tulangan ketiga berbentuk seperti kotak dengan ukuran
panjang 86 cm, lebar 66 cm dan jumlahnya sebanyak 6 buah tulngan besi ulir dengan diameter
19 dan dipasang menyelimuti tulangan geser seperti pada gambar 3.17 dibawah ini.
Gambar 3.17 Tulangan Pokok 1 Bagian Luar
Tulangan ini berfungsi untuk lebih memperkuat beton agar tidak mudah hancur atau
retak karena selain Pondasi Tiang Pancang bagian paling bawah bagian ini lah yang juga
membantu menahan struktur bagian atas.
Jika semua tulangan Pile Cap yaitu tulangan geser 1, tulangan geser 2, dan tulangan
pokok telah dipasang maka akan menjadi seperti gambar 3.18 dibawah ini.

Tulangan geser 1 Ø19-150

Tiang Pancang Ø50 cm

Tulangan geser 2 Ø19-150

Tulangan pokok D19-150

Tulangan geser 1 Ø19-150


gambar 3.18 Susunan Pembesian Pile Cap
Pile Cap merupakan suatu cara untuk mengikat Pondasi sebelum didirikan balok
dibagian atasnya, Pile Cap tersusun atas tulangan besi ulir baja berdiameter 19 mm yang
membentuk suatu bidang dengan ketinggian 80, cm, lebar 100 cm, panjang 100 cm dan selimut
beton 7 cm dengan jumlah tergantung dari jumlah tiang yang tertanam.
Fungsi dari Pile Cap adalah untuk menerima beban dari balok yang kemudian akan
terus disebarkan ke Tiang Pancang .
4) Tualangan pokok 2 untuk sambungan kebalok ini bebentuk tegak lurus dengan bengkokan
bagian ujung yang mengarah kedalam dan keluar, tulangan yang dipakai adalah besi ulir
diameter 19 dengan jumlah tulangan ini 8 buah berdiameter 25 seperti pada gambar 3.19 di
bawah ini.
Gambar 3.19 Tulangang Pokok 2 Tertanam Dalam Pile Cap
Tulangan ini berfungsi untuk mengikat balok pada saat dilakukanya perakitan balok
diatas Pile Cap agar balok tersebut tidak mengalami pergeseran ketika menerima beban yang
datang.

8. Proses Pemasangan Bekisting Dan Pelaksanaan Pengecoran


a. Pemasangan bekisting Pile Cap
Bekisting adalah kontruksi bersipat sementara yang merupakan cetakan untuk
menentukan bentuk dari kontruksi beton pada saat beton masih segar, bekisting harus kuat agar
pada saat melakukan penuangan cor bekisting tidak terbuka agar cor-corannya tidak keluar.
Tahap pengerjaan bekisting ini menggunakan treiplek yang tebal (kayu lapis) karena
triplek mempunyai ukuran yang lebih lebar dibandingkan dengan kayu papan, adapun ukuran
bekisting yang telah di tentukan sesuai digambar kerja yaitu panjang 1 meter lebar 1 meter dan
tinggi 0,8 meter.
Gambar 3.20 Pembuatan Bekisting Pile Cap
Pembuatan bekisting ini dilakuka di dekat pekerjaan proyek yang mana di kerjakan oleh
beberapa orang dengan tugas masing-masing seperti pada gambar 3.20 diatas.

Gambar 3.21 Pemasangan Bekisting Pile Cap


Pekerjaan pemasangan bekisting yang pertama kali dipasang adalah bekisting bagian bawah
dengan perancah kayu balok sebagai penahannya, Setelah itu perakitan tulangan dikerjakan
setelah selesai baru lah pemasangan bekisting dilakukan seperti gambar 3.21 diatas.
b. Pengerjaan pengecoran beton bertulang untuk Pile Cap mutu k-300
Pada tahap pengerjaan ini penegcoran dilakukan dengan menggunakan molen untuk
mengaduk agregat yang telah dicampurkan dan dimasukkan kedalam molen tersebut agar
tercampur rata.
Pengecoran ini mengunakan agregat campuran yaitu:
1) 1 sag semen
2) 2 ember air
3) 5 keranjang pasir
4) 7 keranjang split

Gambar 3.22 Pengecoran Pile Cap Barisan Ke Dua


Pada pengecoran Pile Cap bagian ke Dua ini menggunakan alat bantu seperti jembatan
karena bangunan tersebut berada di atas laut, agar bisa mengisi Pile Cap yang berada dibarisan
ke Dua seperti pada gambar 3.22 distas.
Gambar 3.23 Pemadatan mengunakan vibrator
Pada saat pengecoran berlangsung untuk meratakan dan memadatkan pengeceron
tersebut di lakukanlan penggetaran didalam cor-coran terbut mengunakan alat vibrator secara
merata dan bertahap agar mendapatkan hasil yang baik sperti pada gambar 3.23 diatas.

Gambar 3.24 Pengujian Dengan Slump Test


Test Slump dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang digunakan apakah sesuai
dengan perencanaan, slump test dilakukan pada saat sebelum pengecoran berlangsung, hasil dari
slump test akan diambil sampelnya untuk diuji kembali di labolatorium.
Slump test tidak menggunakan kubus akan tetapi menggunakan alat yang berbentuk
tabung yang pada dasarnya sama dan biasanya disebut uji silinder, tabung tersebut berukuran 15
x 30 x 15 cm dan batang pengocok dari besi tulangan diameter 16 dengan panjang 50 cm.
Setelah selesai tabung tersebut ditarik dengan tegak lurus secara perlahan dan akan
diukur seperti gambar pada 3.24 diatas apakah sesuai atau tidak, apabila sesuai maka
penurunannya tidak lebih dari 10 cm.

Gambar 3.25 Pembuatan Sampel Kubus


Pembuatan sampel ini dilakukan setelah pengecoran dikerjakan dan akan diambil
beberapa sampel untuk dijadikan beton berbentuk kubus yang mana sampel kubus tersebut akan
di bawa ke lab untuk diuji apakah memang benar sesuai mutu atau tidak. Pengambilan sample
dan pembuatan benda uji di lapangan harus sesuai dengan ketentuan SNI, boleh dilakukan
asal :
1) Disetujui oleh Pengawas Lapangan.
2) Analisa desain/perencanaan struktur berdasar SNI 03-2847-2002.
3) Perancangan campuran adukan beton (desain mix) dan evaluasi penerimaannya mengikuti
aturan SNI 03-2847-2002
Proyek ini mengunakan mutu beton k-300 sesuai dengan kontrak kerja, adapun sampel
yang dibuat seperti pada gambar 3.25 diatas.

3.2 Perhitungan Volume Pekerjaan Beton Untuk Tiang Pancang Dan Pile Cap
Gambar 3.26 Detail Tulangan Tiang Pancang dan Pile Cap

3.2.1 Perhitungan Volume Beton Dan Tulangan Untuk Isi Tiang Pancang
1. Volume Beton Isi Tiang Pancang
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume beton isi Tiang Pancang adalah
sebagai berikut :
a. V1 = ¼.л.d².t.n (3.1)
Dimana : л = 3,14
d = Diameter pipa Tiang Pancang 0,50 m
t = Tinggi pipa Tiang Pancang yang di cor 1,7 m
n = Jumlah titik Tiang Pancang 27
V = ¼ x 3,14 x 0,50² x 1,7 m x 27
V = 9,007 mᶟ
b. V2 = ¼.л.d².t.n (3.2)
Dimana : л = 3,14
d = Diameter pipa Tiang Pancang 0,50 m
t = Tinggi pipa Tiang Pancang yang di dalam Pile Cap 0,30 m
n = Jumlah titik Tiang Pancang 27
V = ¼ x 3,14 x 0,50² x 0,30 m x 27
V = 1,589 mᶟ
Jadi total volume isi Tiang Pancang V1+V2 adalah 9,007+1,589 = 10,596 mᶟ

2. Perhitungan Volume Tulangan Isi Tiang Pancang


a. Tulangan Pokok 10 D19
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume tulangan pokok 10 D19 isi Tiang
Pancang adalah sebagai berikut :
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi (3.3)
Dimana : л = 3,14
d²= Diameter tulangan (0,019²)
p = Panjang tulangan (2,40 m)
n = Jumlah tulangan (10 buah)
m = Banyak Tiang Pancang (27 buah)
BJ = Berat jenis besi (7850 kg/mᶟ)
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 2,40 x 10 x 27 x 7850
= 1.441,52 Kg
c. Tulangan geser (spiral) Ø8 - 100
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume tulangan geser (spiral) Ø8 - 100l isi
Tiang Pancang adalah sebagai berikut :

Berat besi = (л x Ø Tiang Pancang) x ( ) x Berat besi/m x n…(3.4)


Dimana : л = 3,14
Ø Tiang Pancang = 0,50 m

= Dua dibagi dengan jarak tulangan spiral


Berat besi/m Ø 8 = 0,359 kg/m
n = 27 buah

V = (3,14 x 0,5 ) x ( ) x 0,359 x 27


= 304,36 Kg
Jadi Volume Tulangan Tiang Pancang, Volume tulangan pokok + Volume tulangan geser adalah
1.441,52 Kg + 304,36 Kg = 1.745,88 Kg

3.2.2 Perhitungan Volume Beton DanTulangan Pile Cap


1. Volume Beton Pile Cap
1m
0,8 m Pile cap 1 m x 1 m
x0,8 m
0,3 m

1,7 m Tiang Pancang Ø 50

Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume isi beton untuk Pile Cap adalah
sebagai berikut :
V= P X L X t x n (3.5)
Dimana : P = Panjang Pile Cap (1 m)
L = Lebar Pile Cap (1 m)
t = Tinggi Pile Cap (0,8 m)
n = Jumlah Pile Cap (27 buah)
V = 1 m x 1 m x 0,8 m x 27 = 21,6 mᶟ
Jadi Volume Cor Pile Cap – Volume Tiang Pancang yang berada di dalalam Pile Cap adalah
21,6 – 1,589 = 20,01 mᶟ

2. Perhitungan Volume Tulangan Pile Cap


Adapun rumus yang di pakai untuk menghitung volume tulangan Pile Cap adalah sebagai
berikut :
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi (3.6)
Dimana : л = 3,14
d²= Diameter tulangan pangkat dua (0,019²)
p = Panjang tulangan
n = Jumlah tulangan
m = Banyak Pile Cap
BJ = Berat jenis besi (7850 kg/mᶟ)
1. Tulangan geser 1 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 0,9 m x 10 x 27 x 7850
V = 540,57 Kg
2. Tulangan geser 2 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 2,86 m x 14 x 27 x 7850
V = 2.404,94 Kg
3. Tulangan pokok 1 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 019² x 3,14 m x 6 x 27 x 7850
V = 1.131,59 Kg
4. Tulangan pokok 2 Diameter 25
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,025² x 1,6 m x 8 x 27 x 7850
V = 1.331,04 Kg
Jadi Total Volume Tulangan Pile Cap adalah :
540,57 Kg + 2.404,94 Kg + 1.131,59 Kg + 1.331,04 Kg = 5.408,14 Kg Berfungsi sebagai
penguat beton terhadap gaya tarik yang terjadi.
3) Kayu bekisting Berfungsi sebagai cetakan yang dibentuk untuk mendapatkan hasil cetakan yang
diinginkan.
4) Kayu perancah adalah tiang-tiang atau gelagar yang difungsikan sebagai penahan agar cetakan
tidak berubah bentuk dan tidak berpindah posisi dan sebagai alat bantu untuk menopang orang-
orang yang sedang bekerja.
5) Paku berfungsi sebagai sebagai pengunci kayu satu dengan kayu yang lainnya.
6) Kawat benrat berfungsi sebagai pengikat antar baja tulangan agar dapat membentuk struktur
seperti yang dikehendaki.
7) Semen, split, pasir dan air untuk memnbuat beton sesuai yang diinginkan.
a. Peralatan-peralatan untuk pekerjaan sepatu Tiang Pancang, pengecoran Tiang Pancang dan Pile
Cap antara lain :
1) Vibrator
Alat yang berfungsi untuk memadatkan adonan beton yang dimasukan ke dalam bekisting.
2) Cangkul
Berfungsi untuk mengangkut agregat kedalam wadah yang sudah di siapkan.
3) Arco
Berfungsi untuk mengangkut adonan beton.
4) Mesin molen
Untuk mebuat adukan, baik untuk keperluan pasangan maupun plesteran, pasir dan semen diaduk
sampai merata menurut campuran tertentu dengan menggunakan cangkul atau pengaduk beton.
5) Palu
Untuk memukul paku dan sebagainya yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia.
6) Ember untuk mengangkut air.
7) Keranjang pasir dan batu
Berfungsi untuk mempermudah mengangkut agregat yang sesuai dengan yang telah ditentukan.
8) Gragaji mesin untuk memotong besi dan gragaji tangan untuk memotong kayu
9) Las listrik untuk menyambung Tiang Pancang
10) Las acetlin untuk memotong Tiang Pancang
b. Pembuatan sepatu untuk Tiang Pancang dan tanda per meter untuk Tiang Pancang.
Dalam tahap ini merupakan sala satu hal yang penting karena sepatu inilah yang
melindungi ujung tiang selama pemancangan, sepatu Tiang Pancang harus kuat agar tidak lepas
ketika berhadapan dengan tanah keras dan untuk mempermudah perhitungan penumbukan maka
diberilah tanda per meter pada Tiang Pancang berupa cat yang sudah disediakan.
50 cm
48 cm

20 cm

17 cm

5 cm
Gambar 3.1 Sepatu Tiang Pancang
Sepatu Tiang Pancang mengunakan bahan dari plat besi dengan tebal 1 cm yang dibentuk
seperti gambar 3.1 di atas.

Gambar 3.2 Pemberian Tanda Per Meter Pada Tiang Pancang


Tiang Pancang harus diberi tanda dengan cat putih untuk keperluan pemantauan pada
saat pemancangan dilakukan, adapun tahap pengerjaannya adalah sebagai berikut :
1) Tiap jarak 0,5 m atau 1 m dari ujung Tiang Pancang sampai ke pangkalnya.
2) Diberi angka pada tiap meternya dari ujung bawah ke pangkal tiang.
3) Untuk tiang sambungan, angka harus melanjutkan angka dari tiang yang disambung.
4) Tiang sambungan harus selalu diposisikan didekat titik pancang yang sedang dikerjakan supaya
tidak terlalu lama mengambil tiang sambungan jika diperlukan penyambungan.

2. Pemancangan Tiang Pancang Di Ameter 50 cm


Pondasi Tiang Pancang (pile foundation) adalah bagian dari struktur yang digunakan
untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur atas ke tanah penunjang
yang terletak pada kedalaman tertentu, Tiang Pancang bentuknya panjang dan langsing yang
menyalurkan beban ke tanah yang lebih dalam. Penggunaan pondasi Tiang Pancang sebagai
pondasi bangunan apabila tanah yang berada dibawah dasar bangunan tidak mempunyai daya
dukung (bearing capacity) yang cukup untuk memikul berat bangunan beban yang bekerja
padanya (Sardjono HS, 1988).
Dalam pembuatan fillet untuk turning area di dermaga Batulicin mengunakan Tiang
Pancang pipa besi dengan diameter 50 cm dan panjang 12 meter yang diankat dengan kren,
pemancangan dilakukan dengan alat Diesel Hammer yang berbentuk silinder dengan piston atau
ram yang berfungsi untuk menekan Tiang Pancang, adapun pekerjaannya dapat dilihat pada
gambar 3.3 dibawah ini.

Gambar 3.3 Pekerjaan Pemancangan Pondasi Tiang Pancang


Sebelum melakukan penekanan dengan Hammer, hal yang harus di perhatiakan adalah
tegak lurusnya pipa baja dan sejajarnya tiang dengan yang lainnya agar pada saat melakukan
pekerjaan balok, balok tersebut lurus dan tidak miring.

3. Penyambungan Tiang Pancang


Pekerjaan penyambungan Tiang Pancang dilakukan pada saat Tiang Pancang pertama
telah masuk ke dalam tanah dan belum mencapai tanah yang keras, penyambungannya pun tidak
mudah yaitu dengan mengunakan alat bantu kren seperti halnya melakukan pemancangan
penyambungan ini harus benar-benar sejajar rata dengan Tiang Pancang yang sebelumnya telah
masuk ke dalam tanah agar pada saat melakukan pengelasan sambungan tersebut tidak miring,
adapun pengerjaan dapat dilihat pada gambar 3.4 di bawah.

Gamabar 3.4 Penyambungan Dengan Alat Las


Penyambungan dilakukan dengan cara mengunakan alat las yang mana pengelasan
tersebut harus kuat agar pada saat pemukulan dilakukan Tiang Pancang Tersebut tidak patah
dibagian sambungan tersebut.
Gambar 3.5 Pemberian Cat Pada Sambungan
Setelah pengelasan selesai sambungan las tersebut di beri cat kusus yang bertujuan agar
hasil pengelasan pada sambungan Tiang Pancang cepat kering dan hasil sambungan las tersebut
tidak cepat berkarat seperti pada gambar 3.5 diatas.

Gambar 3.6 Lapisan Anti Karat ( Denso Paste s-105 )


Pemberian Lapisan Anti Karat ( Denso Paste s-105) yang juaga bertujuan untuk
melindungi cat tersebut agar pada saat sambungan tersebut masuk ke dalam tanah cat tersebut
tidak hilang yang diakibatkan oleh gesekan tanah, pengerjaannya seperti pada gambar 3.6 diatas.

Gambar 3.7 Proses Kalendering


Pemancangan selesai ketika beberapa tiang masuk dan sampai ditanah yang keras dan
pada saat itulah dilakukannya kalendering yaitu denga cara seperti gambar 3.7 diatas, adapun alat
yang disediakn cukup spidol/pensil, kertas milimeterblock, selotip dan kayu pengarah
spidol/pensil agar selalu pada posisinya, alat tersebut biasanya juga telah disediakan oleh subkon
pancang dan pelaksanaannya pun merupakan bagian dari kontrak pemancangan, pelaksanaannya
dilaksanakan pada saat 10 pikulan terakhir, pelaksanaan kalendring pada saat hampir top pile
yang disyaratkan. Final Set 2 cm untuk 10 pukulan terakhir atau biasa dilihat dari data bor log.
Pekerjaan ini di lakukan hingga mencapai titik yang telah ditentukan yaitu 27 titik
pondasi Tiang Pancang.

4. Pengerjaan PDA Test


PDA Test adalah singkatan dari Pile Dynamic Analyzer Test yang merupakan sebuah
test untuk mengukur kapasitas tiang tekan secara dinamik pada pondasi dalam baik itu Tiang
Pancang maupun tiang bor. Alat ini berupa komputer khusus yang telah dibuat untuk mampu
mengukur variabel yang di butuhkan dalam perhitungan dinamik tersebut.

Gambar 3.8 Pemasangan PDA Test Setelah Pipa Di Bor


Sebelum pemasangan alat penghubung ke komputer PDA pipa tersebut dibor pada
bagian pipa baja agar ada tempat untuk memasang alat penghubung
yaitu accelerometer dan transducer agar bisa terhubung dengan komputer PDA seperti gambar
3.8 diatas.
Gambar 3.9 Pengecekan pada Layar Komputer PDA
Pengecekan dilayar komputer PDA dilakukan setelah persiapan selesai dan setelah itu
Tiang Pancang dipukul Lima kali atau lebih untuk melihat hasilnya seperti pada gambar 3.9
diatas.
Umumnya PDA digunakan untuk menentukan daya dukung jangka Panjang tiang
pondasi, untuk tujuan ini pengujian PDA sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah
pemancangan, setelah daya lengketan tanah mulai bekerja.

5. Pemasangan Perancah
Perancah adalah merupakan kontruksi pembantu pada pekerjaan bangunan untuk
mempermudah manusia dalam melakukan pekerjaannya seperti pengerjaan pembesian dan
pengecoran yang di lakukan di atas laut seperti pada gambar 3.10 dibawah.
Gambar 3.10 Pemasangan Perancah Kayu Galam
Perancah yang di gunakan pada proyek ini adalah kayu galam yang di pasang ketika
air laut surut dan memakai besi ulir diameter 16 sebagai pengaitnya agar lebih kuat untuk
menahan beban dan besi polos diameter 10 sebagai sambungannya untuk mengikat kayu tersebut
agar lebih kuat dan tidak kendor.

6. Pemotongan Tiang Pancang


Pemotongan mengunakan alat las acetlin, hal yang paling di perhatikan dalam pekerjaan
pemotongan ini adalah tinngi sisa Tiang Pancang satu dengan yang lainnya sama agar pada saat
melakukan pekerjaan Pile Cap, balok dan lantainya tidak terlalu miring.

Gambar 3.11 Pemotongan Sisa Tiang


Adapun cara yang di lakukan agar supaya Tiang Pancang satu dengan yang lainnya rata
yaitu dengan cara mengunakan selang air setelah itu diberi tanda berupa cat agar lebih
memudahkan ketika memotong.
7. Pekerjaan Perakitan Tulangan Tiang Pancang Dan Pile Cap
Pada pekerjaan perakitan tulangan ini dilakukan diawal dan sampai selesai, pekerjaan
perakitan tulangan ini meliputi pekerjaan perakitan tulangan Tiang Pancang dan Tulangan Pile
Cap.
a. Tualangan pipa Tiang Pancang
Ada beberapa bentuk tulangan yang berada di dalam pipa Tiang Pancang yaitu
tualangan utama yang berbentuk memanjang dengan bengkokan diujung dan tulangan spiral
yang berbentuk melingkar seperti pada gambar 3.12 detail tulangan di dalam Tiang Pancang

0,5 m

2m

Kayu bekisting

Bentuk tulangan utama D 16

Bentuk tulangan besi spiral Ø 10


Gambar 3.12 Detail Tulangan Tiang Pancang
Adapun cara membuat tulangan utama yaitu dengan cara memotong tulangan diameter
19 yang di sediakan sepanjang 2,4 Meter lalu bengkokkan besi sekitar 30° sepanjang 40 cm dan
buat benkokan di ujung sepanjang 10 cm, tulangan ini di buat sebanyak 8 buah sesuai yang
digambar kerja.

Gambar 3.13 Pembuatan Tulangan Spiral


Sedangkan cara membuat tulangan spiral yaitu siapkan tulangan diameter 8 lalu pasang
tulangan tersebut dialat manual yang sudah dibuat berbentuk lingkaran memanjang lalu putar
sehingga tulanagn tersebut berbentuk tulangan spiral, seperti gambar 3.13 diatas.
Gambar 3.14 Tulangan Untuk Isi Tiang Pancang
Setelah tulangan utama dan spiral jadi maka perakitan untuk tulangn isi Tiang Pancang
dikerjakan yaitu dengan cara memasukkan tulangan utama kedalam tulangan spiral dan ikat
dengan kawat bendrat supaya terbentuk jarak 10 cm sesuai digambar kerja seperti pada gambar
3.14 di atas.
b. Tulangan Pile Cap
Ada Tiga bagian bentuk dalam pekerjaan tulangan ini yaitu antara lain sebagai berikut :
1) Tualangan geser pertama yang berada didalam ini mempunyai bentuk memanjang dengan
dengan bengkokan dibagian ujung ke ujung, jumlah tulangan ini sebanyak 10 buah tulangan
diameter 19 dengan jarak 15 cm dengan ukuran yang sama dan arah pemasangannya yaitu
memanjang dan melintang seperti gambar 3.15 di bawah ini.

`
Gambar 3.15 Tulangan Geser Bagian paling Dalam
Tulangan ini mempunyai fungsi untuk menahan Pile Cap agar pada saat selesai
penngecoran Pile Cap tersebut tidak mengalami penurunan.
2) Tulangan geser kedua mempunyai bentuk seperti huruf “n” dengan bengkokan ujung
menjulur kedalam, jumlah tulangan ini sebanyak 14 buah tulangan besi ulir diameter 19, dengan
bentuk dan ukuran seperti gambar 3.16 dibawah ini.
10 cm

Gambar 3.16 Tulangan Geser Bagian Ke Dua


Tulangan geser ini berfungsi untuk memperkuat beton terhadap gaya yang datang.
3) Tulangan pokok bagian paling luar yaitu tulangan ketiga berbentuk seperti kotak dengan ukuran
panjang 86 cm, lebar 66 cm dan jumlahnya sebanyak 6 buah tulngan besi ulir dengan diameter
19 dan dipasang menyelimuti tulangan geser seperti pada gambar 3.17 dibawah ini.
Gambar 3.17 Tulangan Pokok 1 Bagian Luar
Tulangan ini berfungsi untuk lebih memperkuat beton agar tidak mudah hancur atau
retak karena selain Pondasi Tiang Pancang bagian paling bawah bagian ini lah yang juga
membantu menahan struktur bagian atas.
Jika semua tulangan Pile Cap yaitu tulangan geser 1, tulangan geser 2, dan tulangan
pokok telah dipasang maka akan menjadi seperti gambar 3.18 dibawah ini.

Tulangan geser 1 Ø19-150

Tiang Pancang Ø50 cm

Tulangan geser 2 Ø19-150

Tulangan pokok D19-150

Tulangan geser 1 Ø19-150


gambar 3.18 Susunan Pembesian Pile Cap
Pile Cap merupakan suatu cara untuk mengikat Pondasi sebelum didirikan balok
dibagian atasnya, Pile Cap tersusun atas tulangan besi ulir baja berdiameter 19 mm yang
membentuk suatu bidang dengan ketinggian 80, cm, lebar 100 cm, panjang 100 cm dan selimut
beton 7 cm dengan jumlah tergantung dari jumlah tiang yang tertanam.
Fungsi dari Pile Cap adalah untuk menerima beban dari balok yang kemudian akan
terus disebarkan ke Tiang Pancang .
4) Tualangan pokok 2 untuk sambungan kebalok ini bebentuk tegak lurus dengan bengkokan
bagian ujung yang mengarah kedalam dan keluar, tulangan yang dipakai adalah besi ulir
diameter 19 dengan jumlah tulangan ini 8 buah berdiameter 25 seperti pada gambar 3.19 di
bawah ini.
Gambar 3.19 Tulangang Pokok 2 Tertanam Dalam Pile Cap
Tulangan ini berfungsi untuk mengikat balok pada saat dilakukanya perakitan balok
diatas Pile Cap agar balok tersebut tidak mengalami pergeseran ketika menerima beban yang
datang.

8. Proses Pemasangan Bekisting Dan Pelaksanaan Pengecoran


a. Pemasangan bekisting Pile Cap
Bekisting adalah kontruksi bersipat sementara yang merupakan cetakan untuk
menentukan bentuk dari kontruksi beton pada saat beton masih segar, bekisting harus kuat agar
pada saat melakukan penuangan cor bekisting tidak terbuka agar cor-corannya tidak keluar.
Tahap pengerjaan bekisting ini menggunakan treiplek yang tebal (kayu lapis) karena
triplek mempunyai ukuran yang lebih lebar dibandingkan dengan kayu papan, adapun ukuran
bekisting yang telah di tentukan sesuai digambar kerja yaitu panjang 1 meter lebar 1 meter dan
tinggi 0,8 meter.
Gambar 3.20 Pembuatan Bekisting Pile Cap
Pembuatan bekisting ini dilakuka di dekat pekerjaan proyek yang mana di kerjakan oleh
beberapa orang dengan tugas masing-masing seperti pada gambar 3.20 diatas.

Gambar 3.21 Pemasangan Bekisting Pile Cap


Pekerjaan pemasangan bekisting yang pertama kali dipasang adalah bekisting bagian bawah
dengan perancah kayu balok sebagai penahannya, Setelah itu perakitan tulangan dikerjakan
setelah selesai baru lah pemasangan bekisting dilakukan seperti gambar 3.21 diatas.
b. Pengerjaan pengecoran beton bertulang untuk Pile Cap mutu k-300
Pada tahap pengerjaan ini penegcoran dilakukan dengan menggunakan molen untuk
mengaduk agregat yang telah dicampurkan dan dimasukkan kedalam molen tersebut agar
tercampur rata.
Pengecoran ini mengunakan agregat campuran yaitu:
1) 1 sag semen
2) 2 ember air
3) 5 keranjang pasir
4) 7 keranjang split

Gambar 3.22 Pengecoran Pile Cap Barisan Ke Dua


Pada pengecoran Pile Cap bagian ke Dua ini menggunakan alat bantu seperti jembatan
karena bangunan tersebut berada di atas laut, agar bisa mengisi Pile Cap yang berada dibarisan
ke Dua seperti pada gambar 3.22 distas.
Gambar 3.23 Pemadatan mengunakan vibrator
Pada saat pengecoran berlangsung untuk meratakan dan memadatkan pengeceron
tersebut di lakukanlan penggetaran didalam cor-coran terbut mengunakan alat vibrator secara
merata dan bertahap agar mendapatkan hasil yang baik sperti pada gambar 3.23 diatas.

Gambar 3.24 Pengujian Dengan Slump Test


Test Slump dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang digunakan apakah sesuai
dengan perencanaan, slump test dilakukan pada saat sebelum pengecoran berlangsung, hasil dari
slump test akan diambil sampelnya untuk diuji kembali di labolatorium.
Slump test tidak menggunakan kubus akan tetapi menggunakan alat yang berbentuk
tabung yang pada dasarnya sama dan biasanya disebut uji silinder, tabung tersebut berukuran 15
x 30 x 15 cm dan batang pengocok dari besi tulangan diameter 16 dengan panjang 50 cm.
Setelah selesai tabung tersebut ditarik dengan tegak lurus secara perlahan dan akan
diukur seperti gambar pada 3.24 diatas apakah sesuai atau tidak, apabila sesuai maka
penurunannya tidak lebih dari 10 cm.

Gambar 3.25 Pembuatan Sampel Kubus


Pembuatan sampel ini dilakukan setelah pengecoran dikerjakan dan akan diambil
beberapa sampel untuk dijadikan beton berbentuk kubus yang mana sampel kubus tersebut akan
di bawa ke lab untuk diuji apakah memang benar sesuai mutu atau tidak. Pengambilan sample
dan pembuatan benda uji di lapangan harus sesuai dengan ketentuan SNI, boleh dilakukan
asal :
1) Disetujui oleh Pengawas Lapangan.
2) Analisa desain/perencanaan struktur berdasar SNI 03-2847-2002.
3) Perancangan campuran adukan beton (desain mix) dan evaluasi penerimaannya mengikuti
aturan SNI 03-2847-2002
Proyek ini mengunakan mutu beton k-300 sesuai dengan kontrak kerja, adapun sampel
yang dibuat seperti pada gambar 3.25 diatas.

3.2 Perhitungan Volume Pekerjaan Beton Untuk Tiang Pancang Dan Pile Cap
Gambar 3.26 Detail Tulangan Tiang Pancang dan Pile Cap

3.2.1 Perhitungan Volume Beton Dan Tulangan Untuk Isi Tiang Pancang
1. Volume Beton Isi Tiang Pancang
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume beton isi Tiang Pancang adalah
sebagai berikut :
a. V1 = ¼.л.d².t.n (3.1)
Dimana : л = 3,14
d = Diameter pipa Tiang Pancang 0,50 m
t = Tinggi pipa Tiang Pancang yang di cor 1,7 m
n = Jumlah titik Tiang Pancang 27
V = ¼ x 3,14 x 0,50² x 1,7 m x 27
V = 9,007 mᶟ
b. V2 = ¼.л.d².t.n (3.2)
Dimana : л = 3,14
d = Diameter pipa Tiang Pancang 0,50 m
t = Tinggi pipa Tiang Pancang yang di dalam Pile Cap 0,30 m
n = Jumlah titik Tiang Pancang 27
V = ¼ x 3,14 x 0,50² x 0,30 m x 27
V = 1,589 mᶟ
Jadi total volume isi Tiang Pancang V1+V2 adalah 9,007+1,589 = 10,596 mᶟ

2. Perhitungan Volume Tulangan Isi Tiang Pancang


a. Tulangan Pokok 10 D19
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume tulangan pokok 10 D19 isi Tiang
Pancang adalah sebagai berikut :
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi (3.3)
Dimana : л = 3,14
d²= Diameter tulangan (0,019²)
p = Panjang tulangan (2,40 m)
n = Jumlah tulangan (10 buah)
m = Banyak Tiang Pancang (27 buah)
BJ = Berat jenis besi (7850 kg/mᶟ)
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 2,40 x 10 x 27 x 7850
= 1.441,52 Kg
c. Tulangan geser (spiral) Ø8 - 100
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume tulangan geser (spiral) Ø8 - 100l isi
Tiang Pancang adalah sebagai berikut :

Berat besi = (л x Ø Tiang Pancang) x ( ) x Berat besi/m x n…(3.4)


Dimana : л = 3,14
Ø Tiang Pancang = 0,50 m

= Dua dibagi dengan jarak tulangan spiral


Berat besi/m Ø 8 = 0,359 kg/m
n = 27 buah

V = (3,14 x 0,5 ) x ( ) x 0,359 x 27


= 304,36 Kg
Jadi Volume Tulangan Tiang Pancang, Volume tulangan pokok + Volume tulangan geser adalah
1.441,52 Kg + 304,36 Kg = 1.745,88 Kg

3.2.2 Perhitungan Volume Beton DanTulangan Pile Cap


1. Volume Beton Pile Cap
1m
0,8 m Pile cap 1 m x 1 m
x0,8 m
0,3 m

1,7 m Tiang Pancang Ø 50

Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung volume isi beton untuk Pile Cap adalah
sebagai berikut :
V= P X L X t x n (3.5)
Dimana : P = Panjang Pile Cap (1 m)
L = Lebar Pile Cap (1 m)
t = Tinggi Pile Cap (0,8 m)
n = Jumlah Pile Cap (27 buah)
V = 1 m x 1 m x 0,8 m x 27 = 21,6 mᶟ
Jadi Volume Cor Pile Cap – Volume Tiang Pancang yang berada di dalalam Pile Cap adalah
21,6 – 1,589 = 20,01 mᶟ

2. Perhitungan Volume Tulangan Pile Cap


Adapun rumus yang di pakai untuk menghitung volume tulangan Pile Cap adalah sebagai
berikut :
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi (3.6)
Dimana : л = 3,14
d²= Diameter tulangan pangkat dua (0,019²)
p = Panjang tulangan
n = Jumlah tulangan
m = Banyak Pile Cap
BJ = Berat jenis besi (7850 kg/mᶟ)
1. Tulangan geser 1 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 0,9 m x 10 x 27 x 7850
V = 540,57 Kg
2. Tulangan geser 2 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,019² x 2,86 m x 14 x 27 x 7850
V = 2.404,94 Kg
3. Tulangan pokok 1 Diameter 19

V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 019² x 3,14 m x 6 x 27 x 7850
V = 1.131,59 Kg
4. Tulangan pokok 2 Diameter 25
V = ¼ x л x d² x p x n x m x BJ besi
V = ¼ x 3,14 x 0,025² x 1,6 m x 8 x 27 x 7850
V = 1.331,04 Kg
Jadi Total Volume Tulangan Pile Cap adalah :
540,57 Kg + 2.404,94 Kg + 1.131,59 Kg + 1.331,04 Kg = 5.408,14 Kg

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil kegiatan Peraktek Kerja Lapangan ( PKL ) yang telah penulis laksanakan di
lapangan selama 3 bulan ini, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam melaksanakan suatu proyek melibatkan beberapa unsur organisasi antara lain pemilik
proyek, konsultan pengawas dan pelaksana proyek.
2. Tahap pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang dan Pile Cap meliputi pekerjaan persiapan,
pemancangan, pemasangan perancah dengan kayu galam, pembesian Tiang Pancang, Pile Cap,
pemasangan bekisting dan pengecoran.
3. Dari perhitungan yang penulis lakukan mendapatkan volume beton yang diperoleh adalah
sebanyak untuk Tiang Pancang adalah 10,596 mᶟsedangkan untuk volume Pile Cap adalah 20,01
mᶟ. Dan untuk perhitungan volume tulangan yang diperoleh adalah sebnyak untuk Tiang
Pancang adalah 1.745,88 Kg, sedangkan untuk volume tulangan Pile Cap adalah5.408,14 Kg.

3.2 Saran
Adapun saran-saran penulis yang akan ditulis kedalam laporan ini adalah sebagai
berikut :
1. Pada proyek pekerjaan Pembuatan Fillet Untuk Turning Area Didermaga Batulicin Tanah
Bumbu-Kalimantan Selatan diharapkan agar membuat tanda batas aman apabila memasuki
pelabuhan tempat pekerjaan tersebut dilaksanakan.
2. Agar lebih memperhatikan keamanan pekerja yaitu dengan memakai peralatan keamanan
( Safety ) yang telah disediakan.
3. Kepada pihak pelaksana sebaiknya meminta persetujuan terlebih dahulu kepada konsultan
pengawas untuk melaksanakan pekerjaan selanjutnya.
4. Kepada Mahasiswa/Mahasiswi yang khususnya jurusan Teknik Sipil menyarankan agar ketika
melaksanakan PKL dengann sungguh-sungguh dan tidak segan bertanya apabila ada yang tidak
dimengerti.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2002), SNI 03-2847-2002 Analisa Desain/Perencanaan Struktur. Departemen Pekerjaan


Umum
Anonim (2002), SNI 03-2847-2002 Perancangan Campuran Adukan Beton (Desain Mix) dan Evaluasi
Penerimaannya. Departemen Pekerjaan Umum
Bowles, J. E, 1991. Kategori Ponadasi Tiang Pancang. Erlangga, Jakarta
Braja M.Das, 1941. Pengertian Pondasi. Erlangga, Jakarta,
Kusuma, Gideon dan Vis, W.C, dan Andriaano, Takim, 1993. Grafik dan Tabel Perhitungan Beton
Bertulang. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sardjono, H.S., 1998. Pondasi Tiang Pancang Jilid 1, Surabaya : Sinar Jaya Wiaya
v