Anda di halaman 1dari 5

A.

Peran Fisioterapi pada Kasus Meningiomas


Peran Fisioterapi dalam manajemen kasus menurut Aras tahun 2013 ialah sebagai
berikut:
1. Pemeriksaan Fisioterapi (Model CHARTS)
CHARTS merupakan akronim singkatan dari tindakan fisioterapi yang
mengusung makna yang akan diungkap dari sebuah kondisi patofisiologi terapan
fisioterapi. Adapun makna akronim dari CHARTS tersebut ialah sebagai berikut33:
a. C (Chief of complaint) merujuk pada keluhan yang pertama kali diungkapkan oleh
penderita ketika fisioterapis melakukan anamnesis awal, pertanyaan yang dapat
diajukan misalnya apa keluhan utama yang pasien rasakan33.
b. H (History taking). Merujuk pada uraian singkat dari seluruh masalah yang
dirasakan dan atau dialami oleh penderita yang didapatkan dari hasil wawancara
berupa pertanyaan yang sistematis yang dikemukakan oleh fisioterapis yang
dijawab oleh penderita33.
Dalam kasus Tumor Spinal utamanya kasus Intermedular spinalbeberapa poin
pertanyaan yang perlu digali diantaranya:

c. A (Assymetry), tujuan dari assymetry ini ialah untuk mengetahui dan memahami
bentuk model dan bangunan fisik/jaringan yang letak dan topiknya tidak simetris
berkaitan dengan adanya perubahan patofisiologi fisik karena gangguan gerak dan
fungsi gerak. Teknik pelaksanaan asymmetry ini mencakup observasi atau inspeksi
statis dan dinamis, palpasi, dan melakukan pemeriksaan fungsi gerak dasar aktif,
pasif serta isometrik melawan tahanan33.
d. R (restriktif), tujuannya untuk mengungkap makna tentang berbagai jenis limitasi
yang dialami penderita akibat patofisiologi tertentu. Restriktif mencakup limitasi
lingkup gerak sendi, limitasi activity daily living (ADL), limitasi rekreasi, dan
limitasi pekerjaan33.
e. T (Tissue impairment and psychogenic prediction), mengungkap makna tentang
jaringan apa yang mengalami gangguan, jenis gangguannya, aktualitas
gangguannya, serta faktor penyebabnya dan juga berkaitan dengan gangguan
psikosmatis yang dialami penderita33.
f. S (Spesific test) atau pemeriksaan spesifik fisioterapi, sebagai pemeriksaan terminal
dari berbagai pemeriksaan-pemeriksaan fisioterapi yang bersifak spesifik atau
khusus yang akan mengungkap dan memperjelas makna dari berbagai ungkapan
prediksi yang ditemukan pada pemeriksaan yang dilakukan.
2. Diagnosis Fisioterapi
Setelah melakukan pemeriksaan fisioterapi maka langkah selanjutnya ialah
menegakkan diagnosis fisioterapi. Diagnosis fisioterapi adalah penentuan jenis kelainan
atau gangguan gerakan dan fungsi gerak tubuh yang disusun berdasarkan pengkajian
berupa pemeriksaan fisioterapi yang ilmiah dan berbasis bukti yang bertujuan
mengambarkan keadaan pasien, menuntun menentukan prognosis dan menuntun
menyusun program dan intervensi fisioterapi. Adapun pertimbangan dalam
merumuskan diagnostik fisioterapi adalah gangguan atau kelemahan (impairment),
limitasi fungsi (functional limitation), keridakmampuan (disabilities), dan sindroma
(syndromes). Penyusunan diagnosis fisioterapi paling tidak memuat beberapa hal seperti
gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot dan Range of Motion (ROM),
gait dan locomotion, balance, sensory integration dsb33.
3. Problem Fisioterapi
Setelah dilakukan pemeriksaan fisioterapi dan penegakkan diagnosis fisioterapi
maka sebelum melakukan intervensi fisioterapi perlu lebih dahulu menentukan
problem-problem fisioterapi pasien berdasarkan hasil pemeriksaan. Penyusunan
problem fisioterapi berdasarkan skala prioritas sebab akibat, dimana ditentukan problem
yang pertama kali harus diatasi sehingga problem yang lain ikut teratasi. Problem
fisioterapi dipandang secara holistik, yaitu tidak hanya memandang terkait gerak dan
fungsi gerak sebagai problem utama tetapi juga melihat masalah psikis dan sosial yang
bila tidak diatasi akan mempengaruhi perkembangan problem utama pasien.
Berdasarkan urutan pengentasan masalah maka problem dibagi menjadi jangka pendek
dan jangka panjang. Sedangkan bila ditinjau dari segi kausa sebab akibat maka problem
fisioterapi dibedakan atas 3 yaitu problem primer yang pertama kali terjadi akibat
stressor terhadap jaringan tertentu, problem sekunder yang merupakan masalah
fisioterapi yang muncul berkaitan dengan penyebab problem prmer, dan problem
kompleks yang bersifat kompleks mencangkup ADL, pekerjaan dan rekreasi
penderita33.
4. Program Fisioterapi
Program fisioterapi adalah suatu rencana tindakan fisioterapi yang tersusun secara
sistematis yang diambil dari karakter-karakter problem fisioterapi yang terkait dengan
gangguan gerak dan fungsi gerak suatu kondisi atau suatu patofisiologi tertentu yang
susunannya terdiri atas problem primer, sekunder dan kompleks. Adapun komponen-
komponen program fisioterapi ialah problem primer, sekunder dan kompleks; modalitas
terpilih dan desain dosis fisioterapi berdasarkan rumus FITT (Frekuensi, Intensitas,
Teknik, Time)33.
5. Intervensi Fisioterapi
Intervensi fisioterapi adalah implementasi program yang diaktualisaikan dalam
praktek yang dilakukan secara sistematis. Sebelum melakukan praktek yang perlu di
perhatikan adalah persiapan pasien, persiapan alat/fasilitas yang berkenaan dengan
pelaksanaan praktek, aplikasi pelaksanaan praktik dengan memperhatikan desain dosis
yang telah ditentukan pada program, dan evaluasi sesaat dan berkala untuk melihat
reaksi dan hasil terapi33.
6. Evaluasi Fisioterapi
Evaluasi fisioterapi adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara antara lain
membandingkan kondisi patologis sebelum dan setelah intervensi program berdasarkan
parameter sebagai berikut33 :
a. Perubahan fisik, berupa perubahan gejala patofisologi klinis antara sebelum dan
setelah diintervensi berdasarkan program yang telah ditetapkan misalnya nyeri,
edema dan tonus.
b. Perubahan kualitas dan kuantitas gerak dan fungsi gerak berkaitan dengan kajian
fisioterapi, misalnya perubahan lingkup gerak sendi dan perubahan kekuatan otot.
c. Perubahan psikosomatis atau perilaku penderita berkaitan dengan body image,
atensi dan perubahan persepsi penderita.
d. Perubahan kognitif bagi penderita berkaitan dengan rasionalisasi tanggapan
penderita terhadap kondisinya.
7. Modifikasi Fisioterapi
Modifikasi fisioterapi adalah suatu upaya pelaksanaan tindakan fisioterapi
selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi dalam rangka menyusun tindakan fisioterapi
yang efektif dan efisien berdasarkan perubahan patofisiologi tertentu33.
8. Dokumentasi Fisioterapi
Dokumentasi fisioterapi adalah sekumpulan data dari pelaksanaan proses
fisioterapi yang tersusun secara sistematis sesuai kepentingannya yang dijadikan bukti
terhadap adanya suatu kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai peruntukannya, sebagai
bentuk pertanggungjawaban ilmiah dan moral, sebagai instrumen untuk mengukur
perkembangan proses pelaksanaan fisioterapi, dan sebagai sumber data dalam penelitian
dan pengembangan fisioterapi33.
9. Pengembangan Kemitraan Fisioterapi
Pengembangan kemitraan fisioterapi adalah suatu model sosialisasi yang
bermuara kepada terwujudnya kerja sama dalam bentuk kemitraan dan kolaborasi antar
profesi yang terkait. Kemitraan adalah kesejajaran dalam hal tanggung jawab
kompetensi sedangkan kolaborasi adalah kerja sama dalam hal kesembuhan dan
keamanan penderita yang melibatkan seluruh komponen mulai dari direktur rumah sakit
sampai kepada cleaning service33.

Fisioterapi merupakan tenaga kesehatan yang berkompetensi dalam bidang gerak dan
fungsi sehingga peran fisioterapi pada kondisi tumor cervical difokuskan pada aspek
pemulihan fisik khususnya dalam meminimalkan dekondisioning akibat tirah baring, selain
itu, dampak dari tumor cervical seperti kelemahan otot juga dapat diintervensi oleh
fisioterapi. Jurnal penelitian di inggris dalam latar belakangnya menyatakan, tingkat
kelangsungan hidup pasien di intensive care unit (ICU) meningkat namun banyak pasien
mengalami gejala seperti kelemahan otot dan kehilangan keseimbangan setelah periode
penyakit kritisnya. Hal ini tidak diperhatikan karena dianggap cukup beristirahat dengan
tidur saja (Denehy, 2007).

Bed rest atau tirah baring yang cukup lama dapat memberikan dampak terhadap
penurunan fungsi seperti menurunnya kekuatan otot (muscle weakness), menurunnya
lingkup gerak sendi (Range Of Motion), menurunnya fungsi ADL (Activity Daily Living),
kehilangan keseimbangan dan bahkan jika berlangsung sangat lama dapat mempengaruhi
fungsi respirasi dimana paru-paru tidak dapat mengembang secara maksimal. Untuk
meminimalkan dampak dari tirah baring tersebut fisioterapi dapat memberikan intervensi
berupa strengthening untuk mengatasi kelemahan otot, PROMEX (Passive Range Of
Motion Exercise) untuk menambah lingkup gerak sendi, ADL Exercise untuk memperbaiki
fungsi ADL, latihan koordinasi untuk mengatasi hilangnya keseimbangan pasien, dan
fisioterapi juga dapat memberikan breathing exercise untuk mencegah terjadinya
penurunan fungsi respirasi. Dosis dari intervensi yang diberikan kepada pasien
meningioma akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan selalu memperhatikan vital sign
serta zona latihan pasien. Fisioterapi juga dapat melakukan modifikasi terhadap latihan
yang diberikan apabila efek atau hasil latihan tidak maksimal.

Selain itu fisioterapis juga berperan dalam mengawasi proses ambulasi pasien
seperti berpindah dari posisi baring ke duduk, duduk ke berdiri, menaiki tangga dan
aktivitas lainnya dengan memberikan edukasi kepada pasien atau keluarga pasien tentang
bagaimana cara melakukan proses ambulasi dengan baik dan benar sehingga tidak akan
menimbulkan dampak negatif terhadap pasien.