Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Proses keperawatan merupakan lima tahap yang konsisten sesuai dengan


perkembangan Profesi perawatan. Tahap tersebut pertama kali dijabarkan oleh Hall
(1995). Pada tahun 1967, Yura dan Walsh menjabarkan menjadi empat tahap, yaitu
pengkajian, perncanaan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahun yang sama, edisi
pertama proses keperawatan dipublikasikan dalam empat tahap yang meliputi
pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Kemudian pada edisi kedua
(1973), proses keperawatan yang semakin meningkat dipublikasikan.

Saat ini, hampir buku keperawatan selalu mencantumkan lima tahap proses
keperawatan tersebut dan digunakan sebagai kerangka kerja, dasar, dan pengantar dari
kajian ilmu keperawatan. Dengan berkembangnya waktu, proses keperawatan telah
dianggap sebagai suatu dasar hukum dalam praktik keperawatan. Pada tahun 1973,
American Nursing Association (ANA) menggunakan proses keperawatan sebagai
pedoman dalam pengembangan standar praktik keperawatan dan digunakan sebagai
suatu kerangka konsep kurikulum pendidikan keperawatan.

Di Indonesia, definisi dan tahap - tahap proses keperawatan telah digunakan


sebagai dasar pengembangan definisi dan standar legal praktik keperawatan dan juga
sebagai kriteria dalam 8 program sertifikasi. Kurikulum pendidikan keperawatan pada
setiap jenjang pendidikan (D3, S1, S2, maupun S3) saat ini telah menggunakan proses
keperawatan sebagai kerangka kerjanya.

Kontribusi yang optimal dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang


berkualitas akan terwujud apabila sistem pemberian asuhan keperawatan yang
digunakan mendukung terjadinya praktik keperawatan profesional dan berpedoman
pada standar yang telah ditetapkan serta dikelola oleh manajer dengan kemampuan
dan ketrampilan yang memadai. Di antara tingkatan manajer keperawatan yang ada,
Kepala Ruang adalah manajer operasional yang merupakan pimpinan yang secara
langsung mengelola seluruh sumber daya di unit perawatan untuk menghasilkan
pelayanan yang bermutu. Kepala Ruang merupakan jabatan yang cukup penting dan
strategis, karena secara manajerial kemampuan Kepala Ruang ikut menentukan
keberhasilan pelayanan keperawatan. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan
mutu pelayanan keperawatan, maka perlu dibuat suatu mekanisme pendokumentasian
yang mudah dan cepat berkaitan dengan dokumentasi proses keperawatan.

2. Rumusan Masalah
Selama ini, Sistem Informasi Keperawatan di Indonesia

3. Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan

Pendokumentasian Keperawatan merupakan hal penting yang dapat


menunjang pelaksanaan mutu asuhan keperawatan. (Kozier,E. 1990). Selain itu
dokumentasi keperawatan merupakan bukti akontabilitas tentang apa yang telah
dilakukan oleh seorang perawat kepada pasiennya. Dengan adanya pendokumentasian
yang benar maka bukti secara profesional dan legal dapat dipertanggung jawabkan.

Pendokumentasian pada pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan


secara manual atau berbasis komputer. Menurut Holmas (2003) terdapat beberapa
keuntungan utama dari dokumentasi berbasis komputer yaitu:

1. Standarisasi, terdapat pelaporan data klinik yang standar yang mudah dan cepat
diketahui

2. Kualitas, meningkatkan kualitas informasi klinik dan sekaligus meningkatkan


waktu perawat berfokus pada pemberian asuhan

3. Accessibility & legibility, mudah membaca dan mendapat informasi klinik


tentang semua pasien dan suatu lokasi (Ratna Sitorus, 2006)

1.2. Sistem Informasi Manajemen Keperawatan

Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu
keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi
dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan
(Gravea & Cococran,1989 dikutip oleh Hariyati, RT., 1999)

Sedangkan menurut ANA (Vestal, Khaterine, 1995 dikutip oleh Hariyati, RT., 1999) system
informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data,
informasi dan pengetahuan tentang standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses
pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru,
meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan
pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi
pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat
dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail,
cepat, relevan untuk suatu organisasi.

Selanjutnya pendokumentasian keperawatan yang menggunakan Sistem Informasi


Manajemen Keperawatan, dimana fasilitas yang dibuat menjadi lebih lengkap, bahkan
menurut Jasun (2006) Sistem Informasi Manajemen Keperawatan merupakan “papper less”
untuk seluruh dokumen keperawatan
1.3. Program-Program Yang Dirancang Dalam SIM Keperawatan

Menurut Jasun (2006) beberapa program yang dirancang dalam SIM


Keperawatan antara lain

1. a. Standar Asuhan Keperawatan

Standar Asuhan Keperawatan menggunakan standar Internasional


dengan mengacu pada Diagnosa Keperawatan yang dikeluarkan oleh North
American Nursing Diagnosis Association, standar outcome keperawatan
mengacu pada Nursing Outcome Clasification dan standar intervensi
keperawatan mengacu pada Nursing Intervention Clasification (NIC) yang
dikeluarkan oleh Iowa Outcomes Project. Standar Asuhan Keperawatn ini juga
telah dilengkapi dengan standar pengkajian perawatan dengan mengacu pada 13
Divisi Diagnosa Keperawatan yang disusun oleh Doenges dan Moorhouse dan
standar evaluasi keperawatan dengan mengacu pada kriteria yang ada dalam
Nursing Outcome Clasification (NOC) dengan model skoring.

1. b. Standart Operating Procedure (SOP)

Standart Operating Procedure (SOP) adalah uraian standar tindakan


perawatan yang terdapat dalam standar asuhan keperawatan. SOP merupakan
aktifitas detail dari NIC.

1. c. Discharge Planning

Discharge Planning adalah uraian tentang perencanaan dan nasihat


perawatan setelah pasien dirawat darii rumah sakit. Dalam sistem, discharge
planning sudah tersedia uraian dimaksud, perawat tinggal print out yang
selanjutnya hasil print out tersebut dibawakan pasien pulang.

1. d. Jadwal dinas perawat

Jadwal dinas perawat dibuat secara otomatis oleh program komputer,


sehingga penanggung jawab ruang tinggal melakukan print.

1. e. Penghitungan angka kredit perawat.

Masalah yang banyak dikeluhkan oleh perawat adalah pembuatan


angka kredit, dikarenakan persepsi yang berbeda antara Urusan Kepegawaian
dengan tenaga perawat. Disamping itu, kesempatan perawat untuk menghitung
angka kredit sangat sedikit. Sehingga penghitungan angka kredit banyak yang
tertunda dan tidak valid. Sistem yang dibuat dalam SIM Keperawatan, angka
kredit merupakan rekapan dari aktifitas perawat sehari-hari, yang secara
otomatis akan dapat diakses harian, mingguan atau bulanan.
Daftar diagnosa keperawatan terbanyak.

Daftar diagnosa keperawatan direkapitulasi oleh sistem berdasar input perawat


sehari-hari. Penghitungan diagnosa keperawatan bermanfaat untuk pembuatan standar
asuhan keperawatan.

1. a. Daftar NIC terbanyak

Adalah rekap tindakan keperawatan terbanyak berdasarkan pada


masing-masing diagnosa keperawatan yang ada.

1. b. Laporan Implementasi

Laporan implementasi adalah rekap tindakan-tindakan perawatan pada


satu periode, yang dapat difilter berdasar ruang, pelaksana dan pasien. Laporan
ini dapat menjadi alat monitoring yang efektif tentang kebutuhan pembelajaran
bagi perawat. Laporan implementasi juga dapat dijadikan alat bantu operan
shift.

1. c. Laporan statistik

Laporan statistik yang di munculkan dalam sistem informasi manajaman


keperawatan adalah laporan berupa BOR, LOS, TOI dan BTO di ruang tersebut.

1. d. Resume Perawatan

Dalam masa akhir perawatan pasien rawat inap, resume keperawatan harus
dicantumkan dalam rekam medik. Resume perawatan bermanfaat untuk melihat
secara global pengelolaan pasien saat dirawat sebelumnya, jika pasien pernah
dirawat di rumah sakit. Dalam sistem, resume perawatan dicetak saat pasien akan
keluar dari perawatan. Komputer telah merekam data-data yang dibutuhkan untuk
pembuatan resume perawatan.

1. e. Daftar SAK

Standar Asuhan Keperawatan yang ideal adalah berdasarkan evidance based


nursing, yang merupakan hasil penelitian dari penerapan standar asuhan
keperawatan yang ada. Namun karena dokumen yang tidak lengkap, SAK banyak
diadopsi hanya dari literatur yang tersedia. Dalam sistem informasi manajemen
keperawatan, SAK berdasarkan rekapan dari sistem yang telah dibuat.

1. f. Presentasi Kasus On Line

Sistem dengan jaringan WiFi memungkinkan data pasien dapat diakses dalam
ruang converence. Maka presentasi kasus kelolaan di ruang rawat dapat dilakukan
on line ketika pasien masih di rawat
1. g. Mengetahui Jasa Perawat

Dengan system integrasi dengan SIM RS, memugkinkan perawat mengetahui


jasa tindakan yang dilakukannya.

1. h. Monitoring Tindakan Perawat & Monitoring Aktifitas Perawat

Manajemen perawatan dapat mengakses langsung tindakan-tindakan yang


dilakukan oleh perawat, dan mengetahui pula masing-masing perawat telah
melakukan aktifitas keperawatan apa

1. i. Laporan Shift

Laporan shift merupakan rekapan dari aktifitas yang telah dilakukan dan yang
akan dilakukan oleh perawat, tergantung item mana yang akan dilaporkan pada
masing-masing pasien.

1. j. Monitoring Pasien oleh PN atau Kepala Ruang saat sedang Rapat

Monitoring pasien oleh PN atau Kepala Ruang dapat dilakukan ketika PN atau
Kepala Ruang sedang rapat di ruang converence. Akan diketahui apakah seorang
pasien telah dilakukan pegkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan
evaluasi atau belum

1. 4. Hal Hal Yang Disiapkan Dalam Penerapan SIM Keperawatan

Menurut Jasun (2006) hal-hal yang harus dipersiapkan dalam penerapan SIM
Keperawatan ialah :

1. a. Hard Ware

1. Perangkat keras berupa PC / CPU pada masing-masing ruang implementasi,


yang terhubung dengan jaringan.

2. Printer digunakan untuk mencetak dokumen yang telah dibuat..

3. Note Book atau Laptop digunakan untuk memasukan data-data saat


penglkajian di samping pasien. Dengan menggunakan Note Book diharapkan
pengkajian menjadi valid.

4. WiFi adalah perangkat keras untuk menghubungkan Note Book dengan


jaringan, sehingga tidak mengunakan kabe, tapi dengan wireless.

1. b. Soft Ware

Program yang dibuat sesuai dengan kebutuhan perawat.

1. c. Brain Ware
Pembentukan Mind Set bukan sesuatu yang mudah bagi perawat. Istilah gagap teknologi,
tidak percaya diri dengan membawa Note Book ke hadapan pasien, merasa repot dan lain-lain
akan menjadi faktor penentu yang cukup signifikan bagi keberhasilan penerapan SIM
Keperawatan.

1. d. Skill

Ketrampilan perawat juga merupakan factor penting yang tidak bisa diabaikan, mengingat
standar yang dipakai adalah standar internasional. Bahasa label dalam NIC adalah sesuatu
yang baru, belum popular disamping membutuhkan pemahaman yang cukup mendalam.

Pendokumentasian keperawatan sudah saatnya untuk dikembangkan dengan berbasis


komputer, walaupun perawat umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis.
Padahal pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus
menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak
untuk mengisinya. Permasalahan lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form
mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia. Pendokumentasian secara
tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Selain itu
pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan
menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut
diperlukan.

Oleh karena itu pendokumentasian keperawatan yang menggunakan Sistem Informasi


Manajemen Keperawatan perlu diterapkan, dimana fasilitas yang dibuat menjadi lebih
lengkap, karena memuat berbagai aspek pendokumentasian yaitu standart operating
procedure (SOP), discharge planning, jadwal dinas perawat, penghitungan angka kredit
perawat, daftar diagnosa keperawatan terbanyak, daftar NIC terbanyak, laporan
implementasi, laporan statistik, resume perawatan, daftar SAK, presentasi kasus on line,
mengetahui jasa perawat, monitoring tindakan perawat & monitoring aktifitas perawat
laporan shift dan monitoring pasien oleh PN atau kepala ruang saat sedang rapat

Namun dalam penerapan sistem pendokumentasian manajemen keperawatan ini perlu


mempertimbangkan kendala yang ada. Menurut Jasun (2006) kendala yang dapat muncul
antara lain : Pengadaan hardware membutuhkan dana yang cukup banyak. Dengan
seperangkat hardware untuk satu ruang (PC, Notebook, WiFi, Printerdan PDA) minimal
membutuhkan dana sebesar Rp. 21.000.000,- Maka solusi yang dapat diambil adalah dengan
pengadaan secara bertahap. Kemudian masalah system baru dimana softare yang dibuat
relative baru dan sangat teoritis. Dengan demikian membutuhkan sosialisasi yang terus
menerus dan komunikasi yang berkesinambungan. Disamping itu, dorongan secara psikologis
juga diperlukan, agar perawat percaya diri menggunakan notebook di hadapan pasien.

Dengan memperhatikan hal-hal yang terkait dengan penerapan SIM Keperawatan, maka
“Komunitas Perawatan” menjadi kelompok yang sangat berperan, yang merupakan motor
penggerak profesi keperawatan di rumah sakit.