Anda di halaman 1dari 3

BAB III

PEMBAHASAN KASUS

Berdasarkan kasus, pasien diduga menderita ensefalitis TB berdasarkan beberapa faktor


dan gejala yang ditemukan pada pasien. Pasien datang dengan keluhan kejang seluruh badan.
Kejang berlaku sekali dalam jangka waktu kurang dari 5 menit dan berulang setiap harinya.
Pasien mempunyai riwayat kejang tanpa demam sejak usia 2 tahun. Pasien sadar saat kejang
dan merasa lemas dan lemah setelah kejang berhenti. Sampai saat masuk ke rumah sakit, kejang
tidak kambuh.
Terdapat berbagai faktor yang boleh menjadi penyebab kejang yaitu :
 Circulation : gangguan vaskularisasi dan sirkulasi misalnya pada stroke dan perdarahan
otak akibat trauma kepala dan lain-lain.
 Ensephalomeningitis : gejala meningitis dan ensefalitis muncul bersamaan disebabkan
infeksi
 Metabolic : kejang disebabkan gangguan metabolic misalnya gagal ginjal hingga
mengganggu hemodinamik tubuh
 Electrolyte : gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh seperti kalium,natrium dan
klorida mempengaruhi aktifitas sel-sel dalam tubuh sehingga bisa menyebabkan kejang.
 Neoplasma : adanya tumor atau massa dalam tubuh adalah sesuatu yang tidak normal
sehingga apabila tumor ini membesar dan mengganggu aktifitas dan proses sel-sel lain.
 Trauma : trauma kepala akibat benturan yang kuat hingga mengganggu aktifitas sel-sel
otak
 Epilepsy : bangkitan berulang yang disebabkan adanya gangguan fungsi otak sehingga
terjadi lepas muatan listrik yang berlebihan dan abnormal. Sering terjadi bangkitan
berulang yang serupa minimal 2x setahun.
 Drugs intoxication : pengambilan obat-obatan tertentu atau narkoba dalam dosis tinggi
untuk jangka waktu yang lama sehingga merusak sel-sel di otak.

Pada pasien ini yang penyebab yang lebih mendekati adalah meningoensefalitis TB
karena di pemeriksaan rongen thorax didapatkan hasilnya TB, hal tersebut memungkinkan
kuman Mycobacterium tuberculosa menyebar hingga mencapai ke selaput otak dan otak.
Dikarenakan keluarga tidak pernah membawa pasien untuk mengobati batuknya menyebabkan
kuman berada dalam tubuh dan menyebar ke organ tubuh yang lain. Kaku kuduk pada pasien
ini positif dan sehingga kuman TB sudah masuk ke meningen. Riwayat sering demam yang

1
jarang sekali namun hilang timbul sejak 2 minggu yang lalu menguatkan diagnosis bahwa pasien
sedang dalam proses infeksi yang kronis. Namun dari hasil pemeriksaan Leukosit darah tidak
meningkat. Tindakan lumbal pungsi untuk menilai LCS pada pasien ini tidak dapat dilakukan
karena tidak adanya fasilitas yang lengkap ada RSUD. Sedangkan pemeriksaan CT Scan Kepala
dalam batas normal, sedangkan rongen thorax diduga TB.
Hasil pemeriksaan fisik abnormal pada pasien yaitu terdapat kaku kuduk, pemeriksaan
patologis positif, dan tonus otot spastik. Pemeriksaan PCR TB darah pasien ini tidak dapat
dilakukan karena keterbatasan, tetapi tetap tidak menolak kemungkinan penyebab
meningoensefalitis adalah dari TB selagi tidak ditegakkan dengan lumbal pungsi. Pemeriksaan
PITC dilakukan untuk menolak diagnosis adanya infeksi dari HIV. Hasil laboratorium
menunjukkan anti-HIV bersifat non-reaktif.
Pengobatan pasien ini diketahui memiliki berat badan 15 kg, sehingga memperoleh
terapi berupa 3 tablet pada fase intensif selama 2 bulan dan 2 tablet pada fase lanjutan selama 7-
10 bulan. Pengobatan pasien yang diberikan bersifat adjuvant. Dengan pemberian OAT
diharapkan infeksi di selaput otak dapat disembuhkan. Setelah 2 minggu pengobatan,pasien
seharusnya dilakukan CT scan kepala sekali lagi untuk menilai perjalanan penyakitnya dan
apakah dengan pemberian OAT mempunyai reaksi yang baik sehingga gejala
meningoensefalitisnya membaik. Pasien diharapkan untuk terus mengkonsumsi OAT dengan
patuh pada jadwal pengobatan supaya penyebaran kuman di parenkim otak dapat disekat dan
dihilangkan sepenuhnya.
Selain pengobatan OAT pasien dengan meningoencephalitis pasien ini diberikan terapi
antibiotik. Menurut rekomendasi WHO baiknya diberikan pengobatan antibiotik empirik bisa
diganti dengan antibiotik yang lebih spesifi k jika hasil kultur sudah ada. Panduan pemberian
antiobiotik spesifik. Durasi terapi antibiotik bergantung pada bakteri penyebab, keparahan
penyakit, dan jenis antibiotik yang digunakan. Meningitis meningokokal epidemik dapat diterapi
secara efektif dengan ceftriaxone sesuai dengan rekomendasi WHO (Van De, 2006).
Penggunaan Kortikosteroid menekan fungsi imun normal dengan menurunkan ekspresi
limfosit T, monosit, makrofag, eosinofi l, mastosit, dan sel endotelial. Supresi sitokin bukan
satusatunya efek kortikosteroid pada respons imun dan antiinfl amasi normal. Kortikosteroid
juga dipercaya mengeksitasi produksi sitokin antiinfl amasi TGF-s (Transforming Growth
Factor-β). Kortikosteroid juga mengganggu ekspresi molekul pengikat pada antigenprecenting
cell serta menginduksi apoptosis pada limfosit T matur dan monosit (Fernandes, 2014).

2
Pengguna kortikosteroid jangka panjang rentan terhadap infeksi karena kortikosteroid
dapat menghambat kerja sistem imun normal dan menekan proses infl amasi. Gejala infeksi pada
pengguna kortikosteroid jangka panjang dapat menunjukkan gejala yang tidak khas karena
adanya inhibisi pelepasan sitokin dan reduksi respons infl amasi. Untuk mencegah infeksi
oportunistik pada pengguna kortikosteroid jangka panjang, beberapa pakar menganjurkan
memulai terapi kortikosteroid dengan dosis dan potensi serendah mungkin tanpa mengabaikan
efi kasi.14 Sebelum memulai terapi kortikosteroid jangka panjang, pemeriksaan darah lengkap
harus dilakukan sebagai data dasar. Selanjutnya, pemeriksaan darah lengkap harus dilakukan
setiap 3 bulan (Liu, 2013).