Anda di halaman 1dari 4

Ni Mad e Dwi Su ryan in g sih (XII IPA 5 /3 0 )

Putu Amelya Gita Cah yani (XII IPA 5/3 5 )

Persatuan dan K esatuan Bangsa pada Masa D emo kra s i


Lib eral ( 17 Agustus 1950-5 Juli 1959)
PENGERTIAN DEMOKRASI
secara etimologis kata demokrasi berasal dari bahasa yunani, yaitu
demos yangberarti rakyat dan kratos atau cratein
yang berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Sementara liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada
pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
demokrasi liberal adalah sistem politik yang menganut kebebasan individu. Secara konstitusional hak-hak individu
dari kekuasaan pemerintah. Dalam demokrasi liberal, keputusan-keputusan mayoritas diberlakukan pada sebagian
besarbidang-bidang kebijakan pemerintah yang tunduk pada pembatasan-pembatasan agar keputusan pemerintah
tidak melanggar kemerdekaan dan hak-hak individu seperti tercantum dalam konstitusi. Demokrasi liberal
pertama kali dikemukakan pada abad pencerahan oleh penggagas teori kontrak sosial seperti Thomas Hobbes,
John Locke, dan Jean-JacquesRousseau.

Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI melaksanakan demokrasi parlementer yang liberal dengan
mencontoh sistem parlementer barat, dan masa ini disebut masa demokrasi liberal. Indonesia dibagi 10 provinsi
yang mempunyai otonomi dan berdasarkan UUD 1950 yang juga bernafaskan liberal. Akibat pelaksanaan
konstitusi tersebut, pemerintahan RI dijalankan oleh suatu dewan menteri (cabinet) yang dipimpin oleh seorang
perdana menteri dan bertanggung jawab kepada parlemen (DPR). Sistem politik pada masa demokrasi liberal
telah mendorong untuk lahirnya partai-partai politik, karena dalam sistem kepartaian menganut sistem multipartai.
Demokrasi liberal berlangsung selama hampir 9 tahun, dalam kenyataannya rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS
1950 dengan sistem demokrasi liberal tidak cocok dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Pada tanggal 5
Juli 1959 Presiden Soekarno mengumumkan dektrit mengenai pembubaran konstituante dan berlakunya kembali
UUDS 1945 serta tidak berlakunya UUDS 1950 karena dianggap tidak cocok dengan keadaan ketatanegaraan
Indonesia.

Menurut Herbert Feith, selama berlakunya sistem parlementer, terdapat hal-hal negatif yang terjadi, antara lain
sebagai berikut.

a.Kebijakan pemerintahan jangka panjang banyak yang tidak dapat terlaksana akibat masa kerja
kabinet rata-rata pendek.
b.Meningkatnya ketegangan sosial di masyarakat akibat masa kegiatan kampanye pemilu yang
berlangsung lama, yaitu sejak tahun 1953 hingga tahun 1955.
c.Kebijaksanaan beberapa perdana menteri yang cenderung menguntungkan partainya sendiri.

Herbert Feith juga mencatat beberapa hal positif dalam pelaksanaan demokrasi liberal pada masa 1950-1959,
antara lain sebagai berikut.
a.Pemerintah berhasil melaksanakan program-programnya seperti dalam bidang pendidikan,
peningkatan produksi, peningkatan tingkat ekspor, dan mengendalikan inflasi.
b.Kabinet dan ABRI berhasil mengatasi pemberontakan-pemberontakan, seperti Republik
Maluku Selatan (RMS) dan DI/TII di Jawa Barat.
c.Pesatnya jumlah pertumbuhan sekolah-sekolah.
d.Indonesia mendapat nama baik di dunia internasional karena berhasil menyelenggarakan
Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada April 1955.
e.Pers menikmati kebebasan yang cukup sehingga banyak variasi dalam pemberitaan,serta hadirnya
kritik dari pers, terutama dalam kolom kartun dan pojok.
f.Badan-badan pengadilan menikmati kebebasan yang besar dalam menjalankan
fungsinya.
g.Hanya terdapat sedikit ketegangan diantara umat beragama.
h.Minoritas Tionghoa mendapat perlindungan dari pemerintah

Demokrasi Liberal Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 di Indonesia


Sistem politik pada periode ini, Indonesia menggunakan UUDS RI 1950, yang merupakan
perubahan dari Konstitusi RIS yang diselenggarakan sesuai dengan piagam persetujuan antara
pemerintah RIS dengan pemerintah RI (Yogyakarta) pada tanggal 19 Mei 1950.

1) Bentuk Negara dan Bentuk Pemerintahan


Pasal 1 UUDS RI 1950 menyatakan:
a) RI yang merdeka dan berdaulat ialah suatu negara hukum yang demokratis dan berbentuk
kesatuan,
b) kedaulatan RI adalah di tangan rakyat dan dilakukan oleh pemerintah bersama-sama DPR.
Berdasarkan pasal 1 ayat (1) UUDS 1950 tersebut, negara Indonesia berbentuk kesatuan, artinya
di dalam negara Indonesia tidak ada negara-negara bagian dan hanya mengenal satu pemerintah
yakni pemerintah pusat. Kepada daerah diberikan otonomi seluas-luasnya oleh pemerintah pusat
untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Dengan demikian, negara RI adalah negara kesatuan
yang menggunakan sistem desentralisasi. Dalam pasal itu pula ditegaskan bentuk pemerintahan
republik.

2) Sistem Pemerintahan
Alat-alat perlengkapan negara yakni presiden, menteri-menteri, DPR, MA, dan Dewan Pengawas
Keuangan. Sistem pemerintahan yang dianut oleh UUDS 1950 adalah parlementer dengan
menggunakan Kabinet Parlementer yang dipimpin oleh seorang perdana menteri. Para menteri
bertanggung jawab kepada DPR (parlemen). Presiden tidak dapat diganggu gugat artinya tidak
dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Pada saat mulai berlakunya UUDS 1950 badan legislatif yang ada adalah DPR sementara yang
terdiri dari gabungan DPR RIS ditambah dengan anggota dan ketua BPKNIP ditambah dengan
anggota atas penunjukan presiden.
Pemilu yang pertama kali di Indonesia diselenggarakan berdasarkan UU No. 7 Tahun 1953.
Pemungutan suara dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR.
Dalam melaksanakan tugasnya, DPR mempunyai hak bertanya, hak interpelasi, hak angket, hak
inisiatif, hak amandemen, dan hak budget. Hak interpelasi adalah hak untuk meminta keterangan
kepada pemerintah. Apabila keterangan pemerintah tidak memuaskan DPR, maka DPR akan
mengajukan mosi tidak percaya kepada pemerintah yang dapat mengakibatkan jatuhnya kabinet,
sehingga kabinet harus menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden. Pada periode ini
sering terjadi pergantian kabinet, sehingga program pembangunan terhambat dan pemerintahan
tidak stabil.
Pemilu yang berlangsung pada tanggal 15 Desember 1955 diadakan untuk memilih anggota
Konstituante yang bertugas membuat UUD untuk menggantikan UUDS. Kekuasaan kehakiman
dipegang oleh MA sebagai pengadilan negara tertinggi, yang dapat memberi kasasi terhadap
putusan pengadilan di bawahnya.

3) Dekrit Presiden 5 Juli 1959


Pada akhirnya aspirasi politik di dalam Keanggotaan Badan Konstituante yang dipilih dalam
pemilu 1955 terbagi dalam dua kelompok, yakni golongan nasionalis dan golongan agama.
Karena perbedaan di antara mereka tidak dapat diatasi, Presiden Soekarno mengajukan usul
dalam sidang Konstituante untuk kembali ke UUD 1945. Sesudah ada pembicaraan, kedua belah
pihak dapat menerima.
Akan tetapi golongan agama ingin menerima UUD 1945 dengan amandemen, yaitu bahwa
rumusan Piagam Jakarta dicantumkan di dalamnya, sedangkan golongan nasionalis menerimanya
tanpa amandemen. Setelah diadakan pemungutan suara, hasilnya tidak seperti yang ditentukan
dalam UUDS 1950, bahkan Badan Konstituante tidak melanjutkan sidang-sidangnya. Untuk
menyelamatkan negara, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit itu
berisi antara lain:
a) Pembubaran Konstituante
b) Berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
c) Pembentukan MPR Sementara dan DPA Sementara.
Dengan adanya dekrit inilah yang kemudian menjadi sumber hukum dan penyelenggaraan
pemerintahan.
Penutup

Dapat disimpulkan pada periode III (1950 – 1959) merupakan periode yang masih menjalankan
sistem parlementer namun sudah mulai menjalankan parlementer kabinet secara penuh, namun
karena merupakan masa peralihan (kembali) dari RIS 1949 ke UUDS 1950 maka terjadi instabilitas
politik di parlemen (DPR). Instabilitas ini disebabkan oleh sistem demokrasi liberal yang menjadikan
perdana menteri merupakan pimpinan terhadap dewan perwakilan rakyat (DPR) , sehingga bila
perdana menteri diganti maka DPR akan ikut dirombak. Sehingga anggota DPR mengikuti
pemimpinnya (perdana menteri).

Namun pada akhirnya sistem yang diberlakukan pada periode III ini yakni UUDS 1950 tidak
menemukan solusi yang tepat untuk bangsa , maka Presiden mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang
menetapkan kembali UUD 1945 sebagai dasar negara.