Anda di halaman 1dari 7

Nama : Ines Camilla Putri

PPDS – 1 THT – KL Universitas Gajah Mada


“Take Home Assignment Filsafat Ilmu (Science)”

1. Jelaskan perbedaan Epistemologis bidang ilmu (sciene) antara aliran : Rasionalis dengan
empiris serta kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk membuat penelitian ilmiah
(thesis) aliran manakah yang anda pakai?

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Episteme yang berarti pengetahuan dan
Logos yang berarti Teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang ilmu filsafat
yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya)
pengetahuan

Epistemologi disebut juga teori pengetahuan yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan
hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta
pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. .[2]

Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh


pengetahuan. Istilah Epistemologi untk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh
J.F.Ferrier pada tahun 1854.

EMPIRISME
Kata Empirisme berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari
kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan
melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang
dimaksud ialah pengalaman inderawi. John locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman
modern mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya
ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya
mengisi jiwa yang kosong itu.
John Locke adalah tokoh pembawa gerbong aliran empirisme dalam filsafat.
Sebuah aliran yang mengimani bahwa semua pikiran dan gagasan manusia berasal dari
sesuatu yang didapatkan melalui panca indera. Melalui pengalaman. Karena itu
menurutnya, ide bawaan (innate idea) yang diyakini Descartes adalah omong kosong
belaka. Locke sangat percaya bahwa benak manusia sewaktu ia dilahirkan kosong
melompong bagaikan tabula rasa (kertas putih). Ide yang terdapat dibenak manusia,
menurut locke sesungguhnya berasal dari pengalaman. Pengenalan manusia terhadap
seluruh pengalaman yang dilaluinya (mencium, merasa, megecap, medengar) menjadi
dasar bagi hadirnya “gagasan-gagasan sederhana”. Kemudian gagasan-gagasan yang
datang dari indera pikiran diolah dengan cara berpikir, bernalar, mempercayai, meragukan
dan dengan demikian memunculkan apa yang dinamakannya dengan perenungan.
Dari pengertian diatas, Dapat disimpulan bahwa yang dimaksud dengan
Epistemologi Empirisme adalah sebuah cara atau metode untuk memperoleh pengetahuan,
dan pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman
(empiris) baik melalui pengalaman indera (rasa) atau pengalaman pikiran.

RASIONALISME
Sedangkan dalam pandangan rasionalis manusia terbagi dalam dua bagian. Pertama
pengetahuan yang mesti atau intuitif. Akal mesti mengakui suatu proposi tertentu tanpa
mencari bukti kebenarannya. Kedua informasi dan pengetahuan teoritis. Akal tidak akan
mempercayai kebenaran beberapa proposisi. Jadi doktrin rasional adalah landasan
pengetahuan menginformasikan primer. Karena pengalaman primer itu dianggap
“sebab à “pertama pengetahuan”. Dan sebab pengatahuan ada dua. Pertama kondisi
pokok pengetahuan manusia pada umumnya. Kedua, sebab bagi sebagian informasi.

Intinya, dasar pengetahuan itu diperoleh melalui secara rasional, terlepas dari
pengalaman manusia (pasti). Namun dari manakah kita mendapatkan kebenaran bila
kebenaran itu terlapas dari pangalaman manusia. Kalau kita mengambil gagasan Bung
Hatta “Pengetahuan yang di dapat dari pengalaman disebut pengetahuan pengalaman atau
pengetahuan. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu.[2] Dari
sinilah kita dapat menggambarkan bahwa pengetahuan yang didapat tanpa ada bukti yang
empiris maka pengetahuan pantas dipertanyakan.

KOMBINASI ANTARA RASIONALISME DAN EMPIRIS


Rasionalisme memberikan kerangka berfikir yang koheren dan logis, sedangkan
empirisme adalah kerangka pengujian dalam menghasilkan suatu kebenaran. Kedua
metode ini apabila dipergunakan secara dinamis maka akan menghasilkan pengetahuan
yang konsisten dan sisematis serta dapat diandalkan. Karena pengetahuan itu melewati
pengujian yang empiris. Oleh sebab itulah muncul “Metode eksperimen” yang merupakan
jembatan antara penjelasan teoritis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yan
dilakukan secara empiris.
Metode ini dikembangkan oleh sarjana-sarjaan muslim pada masa keemasan
islam ketika ilmu-ilmu yang sudah mencapai kulminasi antara abad IX dan XII Masehi.
Pengembangan metode ini mempunyai pengaruh penting tehadap cara berpikir manusia.
Sebab dengan demikian maka dapat diuji berbagai penjelasan teoritis. Apakah sesuai
dengan kenyataan empiris atau tidak?
Dalam bagan logika ilmiah yang merupakan pertemuan antara rasionalisme dan
empirisme, misalnya Galiko (1564-1642) dan Norton (1642-1727) yang merupakan
pioner yang mempergunakan gabungan berpikir deduktif dan induktif.

Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat
konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Penjelasan rasional
ini[5] bukan berarti bersifat final. Oleh sebab itu, maka dipergunakan pula cara berfikir
yang induktif sebagai contoh, “Mobil itu bermerek Inova”. Tapi bagi yang tidak tahu,
maka pengkajian secara empiris mempunyai sebuah makna lain. Dari sinilah pendekatan
rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah yang disebut metode
ilmiah.

penjelasan rasional hanyalah bersifat sementara yang disebut hipotesis. Hipotesis


adalah merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi.
Jujun S., mengatakan sering ditemui kesalahpahaman dimana analisis ilmiah berhenti
pada hipotesis ini tanpa ada upaya selanjutnya untuk melakukan verifikasi, apakah
hipotesis itu benar atau tidak. Ini semua dipengaruhi oleh paham rasionalisme da
merupakan metode ilmiah yang merupakan gabungan dari rasionalisme dan empirisan.[6]

Menurut Hadiwijono (1992) yang dikutip oleh Profesor Ida Bagoes Muntaru,
mengadakan empirisme sma sekali tidak menolak rasiolisme. sepanjang dipergunakan
dalam rangka empirisme dan rasionalisme dilihat dalam rangka empirisme. Dan Haryono
Sumangun (1992) mengumumkan ahli-ahli yang bersifat rasionalis mengatakan bahwa
pengamatan indrawi itu penting. Namun faktor-faktor hanya akan berarti bila diberi arti
oleh manusia dengan memekai rasionya. Tejoyowana (1991) mengemukakan, kerangka
pemikiran Einstein menunjukkan bahwa fakta membentuk pengelunan (empirisme
induktif) dan pada gilirannya pengertian menghasilkan fakta (rasionalisme deduktif).[7]
Berdasarkan pemaparan di atas perbandingan antara teori empiris dan ilmiah,
maka untuk membuat penelitian ilmiah (thesis) aliran yang saya pakai adalah kombinasi
antara aliran ilmiah dan rasional, karena keduanya saling melengkapi, walau awalnya
kedua aliran ini saling bertentangan, namun kedua aliran ini dapat dijadikan teori untuk
dalam mendapatkan sebuah pengetahuan, karena dengan jalan itulah ilmu bisa
berkembang sampai saat ini dan lebih baik.

2. Jelaskan manfaat “memahami” lebih dahulu filsafat ilmu sebelum mempelajari suatu
bidang keilmuan.

Beberapa manfaat yang dapat dirasakan jika kita mempelajari filsafat ilmu, antara lain :
 Dengan mempelajari filsafat ilmu mahasiswa akan semakin kritis dalam sikap
ilmiahnya dan dalam mengambil keputusan. Mahasiswa akan mampu bersikap
kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun
dari sumber-sumberlainnya.
 Menurut penulis mempelajari filsafat ilmu tentu mendatangkan banyak kegunaan
bagi mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk
melakukan penelitian ilmiah. Dengan mempelajarifilsafat ilmu
diharapkan mahasiswa memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu
menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran
dan penelitian ilmiah.
 Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam Opini dan argumentasi yang
dikemukakan.
 Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai
masalah dalam pekerjaannya. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan
berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah
yang dihadapi. Dalam konteks inilah pengalaman mempelajari filsafat
ilmu diterapkan.
 Mengembangkan toleransi dalam perbedaan pandangan. Banyak pendapat yang
membahas tenteng filsafat untuk itu filsafat mengajarkan untuk saling menghargai
pendapat.
 Filsafat ilmu mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah karena
ilmu pengetahuan yang berasal dari filsafat akan selalu berkembang.
Dengan menerapkan pemikiran ilmiah manusia dapat dengan tepat mengambil
keputusan dalam hidup. Filsafat merupakan sumber dari ilmu-ilmu pengetahuan saat ini.
Bisa disimpulkan bahwa filsafat berpengaruh besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi pada saat ini

3. Diantara dua jenis disabilitas indera manusia : penglihatan dan pendengaran, menurut anda
mana yang lebih sukses untuk berkarya di masyarakat? Jelaskan serta beri contoh
Diantara dua jenis disabilitas indera penglihatan dan pendengaran manusia yang
tersebut diatas, menurut saya yang lebih suskes untuk berkarya di masyarakat adalah yang
dengan gangguan penglihatan.
Orang dengan gangguan pendengaran akan sulit melakukan komunikasi, meskipun
secara tampak fisik tidak ditemukan kelainan. Kesulitan dalam komunikasi ini akan
menghambat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk fungsi kognitifnya, mulai dari berbaur
ke masyarakat hingga mencari pekerjaan. Sedangkan dalam masyarakat, orang dengan
gangguan penglihatan akan lebih dihargai karena keterbatasan fisik yang terlihat dari luar,
akan membuat semua iba dan simpati.
Orang dengan gangguan penglihatan tidak punya masalah dengan komunikasi,
sehingga bisa terus meningkatkan skill dan kemampuan dalam hidupnya. Dengan kata lain,
orang dengan gangguan penglihatan akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Banyak
diantaranya menjadi artis, pemain musik, karyawan hingga pengemis yang penghasilannya
tinggi dan sukes di hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ahmad Tafsir, op.cit hal.24

2. ^ Suchting, Wal. "Epistemology". Academic Search Premier: 331–345.


3. Bakhtiar, Amsal, Prof. Dr. Filsafat Ilmu, Edisi Revisi, PT. RajaGrapindo Persada,
Jakarta, 2007
4.
5. Tafsir, Ahmad, Prof. Dr., Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai
Capra, Penerbit; PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007
6.
7. Q-Anees, Bambang, Filsafat untuk Umum, Penerbit; Prenada Media, Jakarta,
8.
9. Mudji, Sutrisno, FX, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, Penerbit; Kanisius,
Pustaka Filsafat, Yogyakarta,
10. M. Nor Mufid bin Ali. Terjemah Filsafat. cet 10. MIKAN. Bandung. 2001. hlm 29
11. [2] H. M. Yustan. Dirasah Islamiah. cet 2. PT. Raya Grafindo. Jakarta. 2003. hlm 36
12. [3] Ibid. hlm 30
13. [4] Ibid. hlm 30
14. [5] Suria Sumantri, Juju S. Ilmu dalam Perspektif. cet 13. Yayasan Obor Indonesia.
Jakarta 1997. hlm. 11
15. [6] Suria Sumantri, Juju S. Ilmu dalam Perspektif. cet 17. Yayasan Obor Indonesia.
Jakarta 2003. hlm. 120
16. [7] Ibid. hlm 124-125
17. [8] Ida Bagoes Mantra. Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial. cet I Pusta
Pelajar. Yogyakarta. 2004. hlm 20-21
18.

19.
20. [1] Amsal Bahtiar, filsafat ilmu, (Jakarta, grafindo persada) hal.3
21. [2] Op.cit hal. 148
22.
23. [3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, akal dan hati sejak Thales sampai Chapra,
Penerbit, Remaja Rosdakarya, Bandug, hal.23
24. [4] Ahmad Tafsir, op.cit hal.24
25.
26. [5]Bambang, Q-Anees,Filsafat untuk Umum, Penerbit; Prenada
Media, Jakarta hal.334
27. [6]Bambang, op.cit. hal 333-334
28. [7]A.Tafsir, op.cit. h.175-176
29. [8]A.Tafsir op.cit h. 180
30.
31. [9]FX.Mudji Sutrisno, Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, penerbit;Kanisius pustaka
Filsafat, Yogyakarta, h.61
32. [10] A.Tafsir op.cit h. 180-183
33. [11]Bambang Q-Anees, op.cit h.344-345
34.