Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS RISIKO : ANALISIS RASIO

Analisis risiko merupakan pasangan kembar analisis profitabilitas. Keduanya dipakai


untuk menentukan daya tarik suatu perusahaan.

10.1 ANALISIS SUMBER RISIKO


Sumber-sumber dan tipe-tipe risiko bisa dilihat pada bagan berikut ini :
Sumber Contoh resiko yang timbul

Internasional Ketidakstabilan pemerintah local (setempat)


Ketidakstabilan kebijakan pemerintah setempat
Pengambilalihan perusahaan oleh pemerintah setempat
Risiko perubahan kurs mata uang
Resesi dunia
Domestik Resesi
Inflasi atau deflasi
Perubahan tingkat bunga
Perubahan demografis
Perubahan kebijakan dalam negeri
Perubahan politik dalam negeri
Industri Perubahan teknologi
Persaingan
Perubahan kekuatan tawar menawar dalam industry
Peraturan pemerintah yang berkaitan dengan industry
Perusahaan Perubahan manajemen
Perubahan strategi
Risiko terkena bencana
Risiko terkena tuntutan hukum

Meskipun risiko-risiko diatas secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi


perusahaan, tetapi perusahaan harus memperhatikan risiko-risiko yang mempunyai
konsekuensi keuangan perusahaan.
Tabel dibawah ini menggambarkan kegiatan-kegiatan perusahaan dan kaitannya
dengan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan kas. Oleh karena

1
itu analisis aliran kas sering dipakai sebagai alat analisis untuk melihat kemampuan
perusahaan sekaligus untuk menganalisis risiko perusahaan. Perusahaan kadang-kadang
mengalami kebangkrutan atau tidak bisa membayar kewajiban-kewajibannya karena tidak
mempunyai kas yang cukup, meskipun perusahaan tersebut cukup menguntungkan.

Tabel 10.2 Kegiatan perusahaan dan aliran kas yang dihasilkan atau dibutuhkan

Kegiatan Kemampuan Kebutuhan yang Analisis yang


Perusahaan Perusahaan menggunakan kas digunakan
menghasilkan kas
Operasi Profitabilitas Kebutuhan modal Likuiditas jangka
perusahaan kerja pendek
Investasi Penjualan asset Kebutuhan investasi Likuiditas jangka
perusahaan pada aktiva baru panjang
Pendanaan Kapasitas meminjam Membayar hutang Likuiditas jangka
dengan bunga dan panjang
kewajiban lainnya

Analisis risiko biasanya dibagi menjadi dua bagian yaitu analisis risiko jangka pendek
dan analisis risiko jangka panjang. Analisis risiko jangka pendek memfokuskan pada
kemampuan perusahaan memenuhikewajiban jangka pendeknya (kurang dari satu tahun)
sedangkan analisis risiko jangka panjang memfokuskan pada kemampuan
perusahaanmemenuhi kewajiban jangka panjangnya (lebih dari satu tahun)
Risiko bisa dikelompokkan menjadi dua: (1) Risiko perusahaan spesifik, dan (2)
Risiko sistematis atau risiko pasar. Ide risiko sistematis datang dari teori portofolio yang
mengatakan bahwa diversifikasi bisa menurunkan risiko suatu portofolio. Tetapi apabila
jumlah investasi ditambah sampai tidak terbatas, ada risiko yang tetap tidak bisa dihilangkan
melalui diversifikasi. Risiko tersebut dinamakan sebagai risiko sistematis, yang akan
mempengaruhi semua perusahaan atau investasi yang ada di perusahaan. Contoh sumber
risiko sistematis adalah resesi nasional.

2
Berikut skema analisis risiko jangka pendek dan jangka panjang
Tabel 10.3 Skema Analisis Risiko
Likuiditas jangka pendek Kemampuan Kebutuhan
- Rasio lancar Aktiva lancar Hutang lancar
- Rasio quick Aktiva lancar persediaan Hutang lancar
- Rasio aliran kas operasional Aliran kas dari operasi Hutang lancar
terhadap hutang lancar
- Analisis rasio aktivitas modal kerja Perputaran piutang Perputaran hutang
dagang dan persediaan dagang
- Rasio Interest Coverage Pendapatan sebelum Biaya bunga
bunga dan pajak
- Rasio aliran kas operasional Aliran kas dari operasi Total hutang
terhadap total hutang
- Rasio aliran kas operasional Aliran kas dari operas Pengeluaran modal
terhadap pengeluaran modal

10.2 RISIKO LIKUIDITAS JANGKA PENDEK


Ada enam rasio yang bisa dipakai untuk memperkirakan kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kebutuhan jangka pendeknya. Tiga rasio berkaitan dengan besarnya sumber
daya yang tersedia untuk memenuhi kewajiban jangka pendek, yaitu: rasio lancar,rasio quick
dan rasio aliran kas operasional terhadap hutang lancar.
Tiga rasio lainnya berkaitan dengan besarnya modal kerja yang diperlukan untuk
tingkat penjualan yang tertentu: perputaran piutang, perputaran persediaan, dan perputaran
hutang dagang. Ketiga perputaran tersebut bisa dipakai untuk mengukur rata-rata lamanya
dana tertanam dalam aktiva-aktiva tersebut. Semakin lama hari terikatnya dana, berarti
semakin besar dana yang dibutuhkan.
10.2.1 Rasio Lancar
Rasio lancar dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio ini
menunjukkan besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah aset-aset yang bisa berubah
menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap besarnya hutang-hutang yang jatuh
tempo dalam jangka waktu dekat (tidak lebih dari satu tahun), pada tanggal tertentu seperti
tercantum pada neraca.

3
Rasio lancar dipengaruhi beberapa hal. Apabila perusahaan menjual surat-surat
berharga yang diklasifikasikan sebagaiaktiva lancar dan menggunakan kas yang diperolehnya
untuk membiayai akuisisi perusahaan tersebut terhadap beberapa perusahaan lain atau untuk
aktivitas lain, rasiolancar bisa mengalami penurunan. Apabila penjualan naik, sementara
kebijakan piutang tetap, piutang akan naik dan memperbaiki rasio lancar. Apabila supplier
melonggarkan kebijakan kredit mereka, missal dengan memperpanjang jangka waktu hutang,
hutang akan naik dan ini akan mengurangi rasio lancar. Satu-satunya komponen dalam aktiva
lancar yang dinyatakan dalam harga perolehan adalah persediaan. Persediaan terjual dengan
harga jual yang biasanya lebih besar dibandingkan dengan harga perolehan. Dengan demikian
kas yang bisa diharapkan masuk akan lebih besar dibandingkan dengan angka yang dipakai
untuk menghitung rasio lancar. Perubahan prinsip akuntansi juga akan mempunyai pengaruh
terhadap rasio lancar.
Perubahan prinsip akuntansi juga akan mempunyai pengaruh terhadap rasio lancar.
Perubahan dari metode FIFO ke LIFO untuk persediaan akan cenderung memperkecil rasio
lancar. Dalam FIFO, harga pokok penjualan mempunyai kecenderungan lebih kecil, dan
persediaan akan mempunyai kecenderungan lebih besar. Harga barang dagangan yang masuk
kemudian akan cenderung mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga
barang dagangan yang masuk terlebih dahulu. Dalam LIFO, harga pokok penjualan akan
cenderung lebih besar, dan persediaan akan mempunyai kecenderungan lebih kecil.
Penggunaan LIFO akan cenderung memperkecil rasio lancar.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang bisa menyulitkan interpretasi rasio
lancar:
1. Jika rasio lancar lebih besar dari 1, kenaikan aktiva lancar dan hutang lancar dalam
jumlah yang sama akan menurunkan rasio lancar.
2. Rasio lancar yang tinggi barangkali justru mencerminkan kondisi bisnis yang kurang
menguntungkan, sementara penurunan rasio lancar barangkali akan mencerminkan
kondisi bisnis yang menguntungkan.
3. Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pihak manajemen bisa membuat rasio
lancar lebih baik.

10.2.2 Rasio Quick


Rasio ini menggunakan asset-aset yang akan berubah menjadi kas dengan lebih cepat.
Karena persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang paling lama untuk berubah menjadi
kas, maka dalam perhitungan rasio quick persediaan dikeluarkan dari angka yang dibagi.
4
Meskipun demikian, analisis harus berhati-hati juga dengan klasifikasi semacam ini. Pada
beberapa industry barangkali persediaan akan berubah cepat menjadi kas, lebih cepat
dibandingkan piutang dari industry lain.

Rasio quick bisa mengalami penurunan. Penurunan ini bisa disebabkan karena
penjualan surat-surat berharga. Secara umum rasio lancar dengan rasio quick mempunyai
korelasi yang tinggi. Analis akan memperoleh informasi yang sama (searah) dari kedua rasio
tersebut. Kecuali apabila terjadi perubahan-perubahan pada persediaan, maka kedua rasio
tersebut mungkin akan menghasilkan informasi yang berbeda.

10.2.3 Rasio Aliran Kas terhadap Hutang Lancar


Rasio ini bisa digunakan untuk melengkapi rasio-rasio sebelumnya (rasio lancar dan
rasio quick), sekaligus untuk mengatasi kelemahan-kelemahan rasio-rasio diatas. aliran kas
dari operasi dilaporkan dalam laporan aliran kas (analisis sumber dan penggunaan dana). Kas
tersebut merupakan kelebihan kas yang diperoleh dari operasi setelah semua kebutuhan
modal kerja dan pembayaran hutang lancar telah dipenuhi. Karena angka yang dibagi dalam
persamaan ini adalah aliran kas dalam suatu periode, maka pembagi, agar konsisten, yang
dipakai adalah rata-rata hutang lancar pada periode tersebut.
Rasio Aliran Kas Aliran Kas dari operasi (sebelum item-item luar biasa)
terhadap =
hutang lancar Rata-rata hutang lancer
studi empiris di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa rasio liran kas terhadap
utang lancar untuk kondisi bisnis yang sehat adalah sekitar 0,4 atau lebih. Pada industri yang
relatif sudah memasuki tahap kedewasaan, seperti makanan, aliran kas biasanya positif, dan
perusahaan-perusahaan secara umum tidak akan sulit memperoleh surplus dari kas operasi
mereka.

10.2.4 Rasio Aktivitas Modal Kerja


Siklus suatu bisnis bisa digambarkan sebagai berikut

Kas keluar Kas masuk


untuk membayar dari pembeli
bahan mentah

5
Pertama kali perusahaan mengeluarkan kas utuk membayar bahan mentah dan
membayar karyawan. Pembelian bisa dilakukan dengan kas, tetapi juga bisa dilakukan
dengan kredit yang berarti perusahaan memperoleh subsidi dari supplier. Setelah itu barang
diproduksi dan kemudian disimpan dalam persediaan. Apabila terjadi dan penjualan tersebut
dalam bentuk kredit, maka timbul piutang. Setelah piutang tersebut dibayar, perusahaan
menerima kas kembali.

Siklus kas = Rata-rata umur piutang + Rata-rata umur persediaan - Rata-rata umur utang

Utang dipakai sebagai pengurang karena dengan menggunakan utang perusahaan


tidak perlu membayar kas terlebih dahulu, dan ini akan memperpendek siklus kas.
Untuk melihat rata-rata umur piutang, hutang, dan persediaan, kita harus menghitung
perputaran aktiva-aktiva tersebut. Berikut ini perhitungan perputaran aktiva-aktiva tersebut.
Penjualan
Perputaran Piutang =
Rata − rata piutang

Harga Pokok Penjualan


Perputaran Persediaan =
Rata − rata persediaan

Pembelian
Perputaran Hutang =
Rata − rata hutang

Pembelian = Harga Pokok Penjualan + Persediaan Akhir - Persediaan Awal

Setelah perputaran aktiva dihitung, langkah selanjutnya adalah meghitung jangka


waktu rata-rata untuk tiap aktiva atau hutang tersebut. Ini dilakukan dengan membagi satu
tahun (yang terdiri dari 365 hari) dengan perputaran masing-masing aktiva atau hutang
tersebut.

65
Rata − rata Umur Piutang =
Perputaran piutang

365
Rata − rata Umur Persediaan =
Perputaran Persediaan

6
365
Rata − rata Umur Hutang =
Perputaran Hutang
Misalkan dua perusahaan mempunyai siklus kas sebagai berikut :
Keterangan Perusahaan A Perusahaan B
Siklus Piutang 30,9 hari 32,6 hari
Siklus Persediaan 68,9 hari 89,0 hari
Siklus Utang (43,5 hari) (41,5 hari)
Siklus Kas 56,3 hari 80,1 hari

Siklus perusahaan A lebih pendek dibanding siklus perusahaan B. Perusahaan A


dalam hal ini mempunyai risiko likuiditas jangka pendek yang lebih kecil dibandingkan
perusahaan B. Misalkan dengan data historis kedua perusahaan tersebut mempunyai data
keuangan dan rasio-rasio dalam tiga tahun terakhir ini sebagai berikut.

Perusahaan A Perusahaan B
Th. 1 Th.2 Th.3 Th. 1 Th.2 Th.3
Kas Operasi 400 410 450 600 610 650
Kas Investasi
Penjualan (pembelian) Pabrik 200 250 240 300 320 340
Utang Lancar 667 661 692 1.224 1.173 1.300

Perusahaan A Perusahaan B
Th. 1 Th.2 Th.3 Th. 1 Th.2 Th.3
Rasio lancar 1,75 1,74 1,72 1,55 1,55 1,51
Rasio Quick 0,7 0,6 0,55 0,69 0,65 0,61
Rasio aliran kas terhadap
Utang Lancar 0,6 0,62 0,65 0,49 0,52 0,5

Dari data diatas nampak bahwa perusahaan A mempunyai kemampuan likuiditas yang lebih
baik diabndingkan perusahaan B. Secara umum kedua perusahaan mengalami penurunan
pada rasio lancarnya, meskipun tidak begitu besar penurunannya. Rasio quick untuk kedua
perusahaan tersebut mengalami penurunan yang cukup berarti. Hal ini barangkali disebabkan
karena kedua perusahaan tersebut menjual surat berharga mereka untuk membiayai program
ekspansi mereka. Secara umum penurunan rasio quick menunjukkan meningkatnya risiko
likuiditas mereka, apalagi kalau program ekspansi tersebut masih berlangsung lama. Tetapi
rasio aliran kas terhadap utang lancar kedua perusahaan tersebut masih stabil, bahkan
menunjukkan kecenderungan meningkat. Meningkatnya risiko likuiditas yang diimbangi oleh

7
kemampuan menghasilkan aliran kas yang stabil, menunjukkan risiko likuiditas tidak terlalu
menjadi masalah bagi kedua perusahaan tersebut.

10.3 RISIKO LIKUIDITAS JANGKA PANJANG


Risiko Likuiditas jangka panjang mencerminkan ketidakmampuan perusahaan
memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Jika perusahaan tidak mampu
memenuhi kebutuhan jangka panjangnya, perusahaan bisa dinyatakan bangkrut dan harus
direorganisasi. Bagan ini akan membicarakan rasio-rasio:

1.Rasio hutang (debt ratio)


2.Rasio interst coverage (kemampuan membayar bunga)
3.Rasio aliran kas operasional terhadap total hutang
4.Rasio aliran kas terhadap pengeluaran modal
Kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan mencerminkan kemampuan
perusahaan menghasilkan aliran kas masuk. Profitabilitas yang bagus mencerminkan
kemampuan perusahaan memperoleh aliran kas yang baik dan risiko yang lebih kecil.
Tabel 10.5. Rasio Likuiditas Jangka Panjang
Perusahaan A Perusahaan B
Th. 1 Th.2 Th.3 Th. 1 Th.2 Th.3
Utang Jangka Panjang 200 250 220 270 300 290
Modal sendiri 800 750 780 730 700 710
Total Aset 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000

Rasio Utang jangka panjang 20% 25% 22% 26% 30% 29%
Rasio Utang modal saham 25% 33,30% 28% 37% 43% 41%
Rasio utang jangka panjang
total Aset 10% 12,50% 11% 13,50% 15% 14,50%

10.3.1 Rasio Hutang


Untuk mengukur besarnya hutang jangka panjang dalam struktur modal suatu
perusahaan. Ada beberapa variasi perhitungan rasio hutang.
Hutang Jangka Panjang
Rasio Hutang Jangka Panjang =
Hutang Jangka Panjang + Modal saham

Hutang jangka panjang


Rasio Hutang Modal Saham =
Modal saham
8
Hutang Jangka Panjang
Rasio Hutang Jangka Panjang total aset =
Total aset

Total Hutang
Rasio Total Hutang Total Aset =
Total Aset

Keempat rasio tersebut akan memberikan informasi yang sama mengenai kondisi
hutang jangka panjang suatu perusahaan.
Tabel 10.5 menunjukkan contoh hipotesis rasio likuiditas perusahaan A dan B. Rasio-
rasio menunjukkan bahwa perusahaan A dan B mempunyai tingkat utang yang hampir sama,
kecuali untuk rasio utang modal saham yang menunjukkan angka yang lebih tinggi untuk
perusahaan B. Rasio utang modal kedua perusahaan relatif tidak begitu besar, karena rasio
utang modal lebih dari 100% utang jangka panjang lebih besar dibandingkan dengan modal
saham.
Ada beberapa item yang bisa dihilangkan dari neraca. Penghilangan semacam ini
membuat neraca nampak lebih baik, total kewajiban bisa berkurang dan perusahaan nampak
akan lebih kecil risikonya. Contoh item semacam itu adalah sewa aset (leasing). Leasing bisa
dimasukkan ke dalam neraca (dikapitalisasi), apabila masuk dalam kategori capital lease.
Tetapi dalam kategori operating lease, biaya sewa masuk dalam laporan rugi laba dan
kewajiban leasing tidak masuk dalam neraca. Pada dasarnya meskipun tidak masuk dalam
neraca, biaya merupakan biaya yang bersifat tetap, sama seperti biaya bunga, dan karenanya
merupakan beban bagi perusahaan. Item lain yang mirip dengan leasing adalah pembayaran
untuk cadangan pensiun karyawan. Apabila perusahaan mempunyai kebijakan untuk
menyisihkan sejumlah uang tertentu sebagai cadangan pembayaran pensiun, maka kewajiban
tersebut akan bersifat tetap yang harus dipenuhi oleh perusahaan.
Untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai kewajiban perusahaan yang
bersifat tetap, item-item diatas bisa dimasukkan ke dalam analisis. Misalkan pada tahun 1
kewajiban yang bersifat tetap ( sewa dan pensiun) berjumlah 75 untuk perusahaan A dan
berjumlah 25 untuk perusahaan B. Informasi tersebut bisa dipakai untuk menghitung kembali
rasio-rasio di atas sebagai berikut.

9
Perusahaan A Perusahaan B
Keterangan
Th.1. Th.1.
Kewajiban sewa 75 25
Utang jangka panjang 200 270
modal sendiri 800 730
Total aset 2.000 2.000

Rasio utang 200 +75 270+25


jangka panjang 200+800+75 270+730+25
25,60% 28,90%

Rasio utang modal 200+75 270+25


Saham 800+75 730+25
31,40% 39,00%

Rasio utang jangka panjang 200+75 270+25


Total aset 2.000+75 2.000+25
13,25% 14,50%

Dengan memasukkan item-item off balance sheet, nampak likuiditas jangka panjang
kedua perusahaan semakin tinggi. Meskipun demikian kesimpulan mengenai perbandingan
antara perusahaan A dan B tetap sama yaitu kedua perusahaan tersebut mempunyai risiko
likuiditas jangka panjang yang hampir sama.

10.3.2 Rasio Interest Coverage


Rasio ini mengukur berapa kali pendapatan sebelum bunga dan pajak bisa menutup
bunga (EBIT). EBIT dipakai karena bunga dibayar dengan menggunakan EBIT (bunga
dikurangkan dari EBIT). Rumus untuk menghitung Rasio Interest Coverage adalah:

Laba Bersih + Biaya Bunga + Pajak Penghasilan


Rasio Interest Coverage =
Biaya Bunga

Apabila rasio lebih kecil dari sekitar 2 dipandang sebagai situasi yang cukup beresiko.

10.3.3 Rasio Aliran Kas terhadap Total Hutang

Aliran kas ini merupakan angka yang sama dengan aliran kas pada rasio yang
digunakan untuk menganalisis risiko likuiditas jangka pendek. Bedanya sekarang digunakan
total hutang sebagai pembaginya. Berikut ini perhitungan rasio aliran kas terhadap total
hutang:

10
Aliran kas dari operasi kas
Rasio Aliran Kas terhadap total hutang =
Rata − rata total hutang
Aliran kas dari operasi bisa dilihat dari laporan aliran kas, komponen operasi dalam laporan
aliran kas, ada tiga komponen yaitu operasi, pendanaan, dan investasi. Rata-rata utang bisa
dihitung sebagai (utang tahun lalu/utang tahun ini)/2. Unuk rasio ini, angka sekitar 20%
merupakan hal yang biasa untuk perusahaan yang sehat keuangannya.

10.3.4 Analisis Rasio Aliran Kas terhadap Pengeluaran Modal (Investasi)


Analisis ini member informasi besarnya aliran kas untuk menutup pengeluaran modal
yang diperlukan untuk investasi memelihara dan membangun pabrik dan bangunan.
Kelebihan kas tersebut bisa dipakai untuk membayar hutang dengan bunganya. Rasio tersebut
bisa dihitung sebagai berikut:
Aliran kas dari operasi
Rasio aliran kas operasional terhadap pengeluaran modal =
Pengeluaran modal
Alternatif lain adalah aliran kas bisa didekati dengan rumus semacam ini:
Aliran kas = laba bersih + depresiasi

11
DAFTAR PUSTAKA
Halim, Abdul, dan M.Hanafi, Mamduh. 2009. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta : UPP
STIM YKPN

12